Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM DESAIN PERKERASAN

JALAN

MODUL 10
BERAT JENIS DAN PENYERAPAN DARI AGREGAT HALUS

KELOMPOK 6

Jeremia Wicaksono Siagian 1152004031


Mariska J Saaduna Mahulauw 1162004036
Prilanda Kartika Sari 1162004037
Novitryawati Adis Pratiwi MS 1162004039
Muhammad Dwy Prasetya 1162004041

Eunike Trifosa 1162004042

Tanggal Praktikum : 8 Maret 2019


Asisten Praktikum : Raditya Nalaputra
Fadel Rezki Wisudawan

Tanggal Disetujui :
Nilai :
Paraf Asistensi :

LABORATORIUM TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS BAKRIE
JAKARTA 2019
Modul 10
BERAT JENIS DAN PENYERAPAN DARI AGREGAT HALUS

1. TUJUAN PERCOBAAN
Pemeriksaan ini bermaksud untuk menentukan berat jenis (bulk), berat jenis kering
permukaan tanah (SSD), berat jenis semu (apparent) dan penyerapan dari agregrat
halus.
a. Berat jenis (bulk specific gravity) ialah perbandingan antara berat kering dan air
suling yang isinya sama dengan agregat dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
b. Berat kering permukaan jenuh (SSD), yaitu perbandingan antara berat agregat
kering permukaan jenuh dan berat air suling yang isinya sama dengan agregat
dalam keadaan jenuh pada suhu tertentu.
c. Berat jenis semu (apparent specific gravity) adalah perbandingan antara berat
agregat kering dan berat air suling yang isinya sama dengan isi agregat dalam
keadaan kering pada suhu tertentu.
d. Penyerapan adalah presentasi berat air yang dapat diserap pori terhadap berat
agregat kering.

2. TEORI DASAR
Berat jenis agregat adalah perbandingan antara berat volume agregat dan berat
volume air. Berat jenis asal disyaratkan menurut spesifikasi minimum 1, jadi berat
jenis yang digunakan sesuai dengan spesifikasi nilai berat jenis ini digunakan
dalam perencanaan untuk lapisan perkerasan lentur karena dengan berat jenis aspal
ini akan dapat menentukan besar kecilnya volume dari aspal.
Berat jenis suatu agregat adalah perbandingan berat dari suatu satuan volume
bahan terhadap air dengan volume yang sama pada temperatur 20˚C-25˚C (68˚-
77˚F).berat jenis angregat berbeda satu sama lain tergantung dari jenis batuan,
susunan, material, struktur batuan dan porositas batuannya.
Menurut SNI 03-1969-1990 tentang berat jenis penyerapan agregat kasar 3%
sedangkan SNI 03-1970-1990 menjelaskan berat jenis agregat halus minimal 2.5 dan
penyerapan agregat maksimal 5%.
Pengukuran berat jenis agregat diperlukan untuk perencanaan campuran aspal
dengan agregat, campuran ini berdasarkan perbandingan berat karena lebih teliti
dibandingkan dengan perbandingan volume dan juga untuk menentukanbanyaknya
pori agregat.
Berat jenis yang kecil akan mempunyai volume yang besar sehingga dengan berat
sama akan dibutuhkan aspal yang banyak dan sebaliknya. Perhitungan rancangan
campuran dibutuhkan parameter penunjuk berat yakni berat jenis agregat adalah berat
volume agregat adalah berat volume agregat dan volume air. Berat jenis ada beberapa
macam yaitu :
a. Berat jenis bulk adalah berat jenis yang memperhitungkan berat agregat dalam
keadaan kering dan seluruh volume agregat.
b. Berat jenis kering permukaan adalah dengan memperhitungkan berat agregat
dalam keadaan kering permukaan. Jadi berat agregat + berat air yang dapat
meresap kedalam pori agregat dan seluruh volume agregat.
c. Berat jenis semu adalah menghitung berat agregat dalam keadaan kering dan
volume agregat yang tak dapat diresapi oleh air.
d. Berat jenis efektif adalah berat jenis dengan memperhitungkan berat jenis/agregat
dalam keadaan kering. Berat jenis dan volume agregat yang tidak dapat diresapi
oleh aspal.
Dalam berat jenis dibedakan atas hasil yang didapat sesuai dengan untuk agregat
kasar disesuaikan dengan SNI 03-1969-1990 untuk berat jenis dan penyerapan agregat
maksimal 3 ℅ dan untuk agregat halus sesuai dengan SNI 03-1970-1990 untuk berat
jenis agregat halus dan penyerapannya,digunakan maksimal 2.5 ℅ untuk berat jenis
dan 3 ℅ untuk penyerapannya.
Ada juga dari AASHTO T-228-90 yang menyebutkan bahwa pada pemeriksaan
apabila diperoleh berat jenis aspal 1.039. Berat jenis yang disyaratkan menurut
spesifikasi adalah jenis aspal yang digunakan untuk pencampuran suatu lapisan
perkerasan lentur karena dengan berat jenis kita dapat menentukan persentase aspal
atau sebesar kecilnya volume aspal.
Dalam penggunaan berat jenis curah adalah suatu sifat digunakan dalam
menghitung volume yang didapat oleh agregat dalam berbagai campuran yang
mengandung agregat aspal dan campuran lain yang diproporsikan atau dianalisis
berdasarkan volume absolute. Berat jenis curah ditentukan dari kondisi kering oven
digunakan unuk menghitung ketika agregat dalam keadaan kering atau disesuaikan
kering.
Berat jenis semu adalah kepadatan relative dari bahan padat yang membuat
partikel pokok tidak termasuk ruang pori diantara pori/partikel dapat dimasuki oleh
air. Ketika agregat tersebut dianggap telah cukup lama kontak dengan air sehingga
air telah menyerap penuh. Standar labolatorium untuk penyerapan akan diperoleh
setelah merendam agregat kering kedalam air selama (24 ± 4 jam).
Sedangkan menurut SNI-03-2847-2002, agregat adalah material granular,
misalnya pasir, kerikil, batu pecah dan kerak tungku pijar yang dipakai bersama-sama
dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton atau adukan semen
hidraulik. Sedangkan agregat halus adalah pasir alam sebagai hasil disintergrasi
‘alami’ batuan atau pasir yang dihasilkan oleh insdustri pemecah batu dan mempunyai
ukuran butir sebesar 5 mm.
Agregat merupakan komponen utama dari campuran aspal panas (hotmix) yaitu ±
95% dari total berat campuran. Agregat yang biasnya dipakai pada campuran aspal
panas berasal dari batuan.
Menurut Bina Marga (2010), agregat halus untuk campuran aspal panas harus
memenuhi spesifikasi sebagai berikut:
a. Agregat halus dari sumber bahan manapun, harus terdiri dari pasir atau hasil
pengayakan batu pecah dan terdiri dari bahan yang lolos ayakan No.8 (2,36 mm).
b. Fraksi agregat halus pecah mesin dan pasir harus ditempatkan terpisah dari agregat
kasar.
c. Pasir alam dapat digunakan dalam campuran AC sampai suatu batas yang tidak
melampaui 15% terhadap berat total campuran.
d. Agregat halus harus merupakan bahan yang bersih, keras, bebas dari lempung, atau
bahan yang tidak dikehendaki lainnya. Batu pecah halus harus diperoleh dari batu
yang memenuhi ketentuan mutu dalam Pasal 6.3.2.(1). Apabila fraksi agregat
halus yang diperoleh dari hasil pemecah batu tahap pertama (primary crusher),
tidak memenuhi pengujian Standar Setara Pasir sesuai Tabel 6.3.2.(2a), maka
fraksi agregat harus dipisahkan sebelum masuk pemecah batu tahap kedua
(secondary crusher) dan tidak diperkenankan untuk campuran aspal jenis apapun.
e. Agregat pecah halus dan pasir harus ditumpuk terpisah dan harus dipasok ke
instalasi pencampur aspal dengan menggunakan pemasok penampung dingin (cold
bin feeds) yang terpisah sehingga gradasi gabungan dan presentase pasir didalam
campuran dapat dikendalikan dengan baik.
f. Agregat halus harus memenuhi ketentuan sebagaimana ditunjukkan pada Tabel
ketentuan agregat halus.
Tabel Ketentuan Agregat Halus

(sumber: Bina Marga, Spesifikasi Umum (2010)

3. PERALATAN
Berikut ini adalah peralatan yang digunakan dalam melakukan percobaan:
a. Timbangan dengan kapasitas minimum 1 kg dengan ketelitian 0,1 gr.
b. Piknometer dengan kapasitas 500 ml.
c. Kerucut terpancung (cone), diameter bagian atas (40+3)mm, diameter bawah
(90+3)mm dan tinggi (75+3)mm dibuat dari logam tebal minimum 0,8 mm.
d. Batang penumbuk yang mempunyai bidang penumbuk rata, berat (340+15) gr,
diameter permukaan penumbuk (25+3) mm.
e. Saringan No. 4
f. Oven yang dilengkapi dengan pengatur suhu untuk memanasi sampai (110+5)ºC.
g. Pengatur suhu dengan ketelitian pembacaan 0,1 C.
h. Talam dan bejana tempat air.

4. BENDA UJI
Benda uji adalah agregat yang lewat saringan No.4 diperoleh dari alat pemisah
contoh atau cara perempat sebanyak kira kira 1000 gr (2 x 500 gr).

5. PROSEDUR
1) Menyiapkan seluruh peralatan dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum
ini.
2) Mengeringkan benda uji dalam oven pada suhu (110+5)ºC sampai berat
tetap yang dimaksud dengan berat tetap adalah keadaan yang diuji
selama 3 kali proses penimbangan dan pemanasan dalam oven dengan
selang waktu 2 jam berturut-turut, tidak akan mengalami perubahan kadar air
lebih besar dari pada 0,1%.
3) Kemudian, membuang air perendam dan menebarkan agregat diatas
talam, lalu memasukan talam tersebut ke dalam oven ±30 menit guna
untuk mengkeringkan agregat. Melakukan pengeringan sampai tercapai
keadaan kering permukaan jenuh.
4) Lalu memeriksa keadaan kering permukaan jenuh dengan mengisikan benda
uji kedalam kerucut teepancung. Keadaan kering jenuh permukaan tercapai
bila benda uji runtuh akan tetapi dalam keadaan tercetak.
5) Setelah tercapai kering permukaan jenuh, memasukkan 500 gr benda uji
kedalam piknometer. Memasukkan air suling mencapai 90% isi piknometer,
memutar sambil diguncang sampai terlihat sampai ada air yang ikut
terhisap, dapat juga dilakukan dengan merebus piknometer.
6) Merendam piknometer dala air dan ukur suhu air untuk penyesuaian
perhitungan kepada suhu standar 25ºC.
7) Menambahkan air sampai mencapai tanda batas.
8) Menimbang piknometer berisi air dan benda uji sampai ketelitian 0,1 gr (Bt).
9) Mengeluarkan benda uji, mengeringkan dalam oven dengan suhu (110+5)ºC
sampai berat tetap, kemudian mendinginkan benda uji dalam desikator.
10) Menimbang setelah benda uji dingin kemudian (Bk).
11) Menentukan berat piknometer berisi air penuh dan ukur suhu air guna
penyesuaian dengan suhu standar 25ºC (B).

6. PENGOLAHAN DATA