Anda di halaman 1dari 25

CARA II

PENGUJIAN KADAR AIR BENIH


A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Benih merupakan alat perkembangbiakan tanaman yang berasal dari pembiakan
generatif antara induk jantan dan betina yang merupakan salah satu faktor penting dalam
budidaya tanaman. Mutu benih terbagi atas mutu genetik, mutu fisik dan mutu fisiologis.
Mutu benih sangat tergantung oleh beberapa hal, salah satunya adalah kadar air benih.
Kadar air benih ialah berat air yang “dikandung” dan yang kemudian hilang karena
pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan dalam persentase terhadap
berat awal contoh benih. Penetapan Kadar Air adalah banyaknya kandungan air dalam benih
yang diukur berdasarkan hilangnya kandungan air tersebut & dinyatakan dalam % terhadap
berat asal contoh benih. Tujuan penetapan kadar air diantaranya untuk untuk mengetahui
kadar air benih sebelum disimpan dan untuk menetapkan kadar air yang tepat selama
penyimpanan dalam rangka mempertahankan viabilitas benih tersebut.
Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah contoh
kerja yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang
kedap udara. Karena untuk penetapan kadar air, jika contoh kerja yang digunakan telah
terkontaminasi udara luar maka kemungkinan besar kadar air benih yang diuji bukan
merupakan kadar air benih yang sebenarnya karena telah mengalami perubahan akibat
adanya kontaminasi udara dari lingkungan. Yang kedua adalah untuk pengujian kadar air ini
harus dilakukan sesegera mungkin, selama penetapan diusahakan agar contoh benih sesedikit
mungkin berhubungan dengan udara luar serta untuk jenis tanaman yang tidak memerlukan
penghancuran, contoh benih tidak boleh lebih dari 2 menit berada di luar wadah.
Prinsip metode yang digunakan untuk penentuan kadar air ada dua macam yaitu metode
dasar dan metode praktis. Yang termasuk metode dasar anatara lain metode oven, metode
destilasi, metode karl fisher. Sedangkan metode praktis terdiri dari metode calcium carbide
dan metode electric moisture meter.
Pengujian kadar air benih dilakukan untuk mengetahui kadar air dalam biji atau benih
untuk menentukan waktu panen yang tepat dan penyimpanan benih. Benih yang bermutu
sangat diinginkan pasar dan petani, baik sebagai komoditi perdagangan maupun bahan tanam
untuk produksi pertanian. Kualitas benih dapat dilihat dari beberapa variabel atau nilai, salah
satunya adalah kadar air benih.
2. Tujuan Praktikum
1. Menguji kadar air benih dengan metode dasar.
2. Menguji kadar air benih dengan metode praktis.

B. Tinjauan Pustaka
Benih berukuran besar atau benih berkulit keras harus digiling atau dipotong lebih
kecil sebelum penimbangan dan pengeringan. Kalau tidak, kulit benih akan menahan
penguapan air dari benih. Air akan tetap berada di dalam benih setelah pengeringan sehingga
kadar air benih hasil pengujian menjadi terlalu rendah. Berat contoh kerja setelah digiling
atau dipotong sekurang-kurangnya per ulangan 5 - 10 gram (Darori 2007).
Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik untuk
tujuan pengolahan, maupun penyimpanan benih. Telah diketahui bahwa kadar air memiliki
dampak besar terhadap benih selama penyimpanan. Menyimpan benih ortodok pada kadar air
tinggi berisiko cepat mundurnya benih selama dalam penyimpanan. Kadar air benih
merupakan salah satu komponen yang dinilai oleh BPSB dalam sertifikasi benih sehingga uji
ini merupakan satu pengujian rutin para analisis benih di laboratorium benih. (Amira 2010).
Makin tinggi kandungan air benih makin tidak tahan benih tersebut untuk disimpan
lama. Untuk setiap kenaikan 1 % dari kandungan air benih maka umur benih akan menjadi
setengahnya. Hukum ini berlaku untuk kandungan air benih antara 5 dan 14 %. Karena
dibawah 5 % kecepatan menuanya umur benih dapat meningkat disebabkan oleh
autoksidasilipid di dalam benih. Sedangkan diatas 14 % akan terdapat cendawan gudang yang
merusak kapasitas perkecambahan benih (Hong dan Ellis 2005).
Kadar air benih adalah jumlah air yang terkandung dalam benih. Tinggi rendahnya
kandungan air dalam benih memegang peranan yang sangat penting dan berpengaruh
terhadap vialibitas benih. Oleh karena itu pengujian terhadap kadar air benih perlu dilakukan
agar benih memiliki kadar air terstandar berdasarkan kebutuhannya (Sutopo 2006) .
Kadar air merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi daya simpan benih.
Prinsip dari metode pengukuran kadar air benih adalah mengukur seluruh jenis air yang ada
di dalam benih. Pengukuran kadar air benih dapat dilakukan dengan metode oven suhu tinggi
konstan dan metode suhu rendah konstan maupun dengan menggunakan metode cepat. Saat
mengerjakan penetapan kadar air benih, kelembapan udara nisbi laboratorium harus kurang
dari 70%. Metode yang digunakan untuk menentukan kadar air benih padi yaitu metode oven
suhu tinggi konstan
130 – 133 ˚C (Kuswanto 2007).
Pengeringan dimaksudkan untuk mengurangi kadar air benih sehingga benih aman
diproses lebih lanjut, terhindar dari serangan hama dan penyakit serta tidak berkecambah
sebelum waktunya. Dalam pengeringan benih perlu diketahui sifat benih apakah ortodoks
atau rekalsitran. Pada benih ortodoks kadar air saat pembentukan benih seitar 35-80 % dan
pada saat tersebut benih belum cukup masak dipanen. Pada kadar air 18-40 % benih telah
mencapai masak fisiologis, laju respirasi benih masih tinggi dan benih peka terhadap
detiorasi, cendawan, hama, dan kerusakan mekanis (Heuver 2006).
Metode pengukuran kadar air benih secara langsung, kadar air benih dihitung secara
langsung dari berkurangnya berat benih akibat hilangnya air dalam benih dan ini yang sering
disebut dengan metode oven, sedangkan pengukuran kadar air secara tidak langsung kadar air
di ukur tanpa mengeluarkan air dari benih, tetapi dengan menggunakan hambatan listrik
dalam benih yang kemudian dikorelasikan dengan kadar air biaanya dengan menggunakan
alat yang bernama Steinlete Moisture Tester (Hasanah 2006).
Benih adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau
mengembangkan tanaman. Benih siap dipanen apabila telah masak fisiologis. Ada beberapa
fase untuk mencapai suatu tingkat kemasakan benih, yaitu fase pembuahan, fase penimbunan
zat makanan dan fase pemasakan. Fase pertumbuhan dimulai sesudah terjadi proses
penyerbukan, yang ditandai dengan pembentukan-pembentukan jaringan dan kadar air yang
tinggi. Fase penimbunan zat makanan ditandai dengan kenaikan berat kering benih, dan
turunnya kadar air. Pada fase pemasakan, kadar air benih akan mencapai keseimbangan
dengan kelembaban udara di luar dan setelah mencapai tingkat masak fisiologis, benih berat
kering benih tidak akan banyak mengalami perubahan
(Prasetyo 2004).
C. Metodologi Praktikum
1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara pengujian kadar air benih ini dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal
15 November pukul 08.40-10.00 dan bertempat di Laboratorium Ekologi Manajemen dan
Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Alat dan Bahan


a. Alat :
1. Timbangan
2. Oven
3. Alat penguji kadar air benih
4. Cawan porselin
b. Bahan :
1. Benih padi (Oryza Sativa)
3. Cara Kerja
a. Metode Dasar :
a) Menimbang cawan porselin yang telah dipanaskan terlebih dahulu. (W1 g)
b) Menimbang cawan porselin+contoh benih (W2 g).
c) Memanaskan cawan dan contoh benih dalam oven selama 50 menit pada suhu 136 derajat
Celcius.
Menghitung presentase air yang dilepaskan dengan rumus :

S= X 100%

b. Metode Praktis :
a) Mengambil contoh benih padi secukupnya
b) Memasukkan dalam silinder tempat benih pada seed moisture tester.
c) Mengencangkan penutup untuk menutup silinder wadah benih, penutupan harus
memperhatikan dan menjaga agar benih tidak sampai pecah.
d) Menghidupkan seed moisture tester, lalu menghitung persentase kadar benihnya.
e) Melakukan ulangan sebanyak 5 kali.
4. Pengamatan yang dilakukan
a. Pengujian kadar air benih dengan metode dasar.
b. Pengujian kadar air benih dengan metode praktis.

D. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil Pengamatan
Tabel 2.1 Pengamatan Kadar Air dengan Metode Dasar
UL W1 W2 W3 W2-W3 W2-W1 KA(%)
1 (11) 5,5 37,5 37,07 0,43 2 1,34 %
2 (12) 5,52 40,05 39,58 0,47 34,53 1,36 %
3 (13) 6,05 39,92 39,45 0,47 33,87 1,39 %
4 (14) 14,14 46,25 45,86 0,39 32,11 1,22 %
5 (15) 5,88 39,61 39,25 0,31 33,73 1,06 %
7,42 40,67 40,24 0,42 33,24 1,27 %
Sumber : Laporan sementara
S =

= 1,29 %
Keterangan : W1 = berat cawan
W2 = berat cawan ditambah berat benih
W3 = berat cawan ditanbah berat benih yang sudah didinginkan
S = Kadar Air

Tabel 2.2 Pengamatan Kadar air dengan Metode Praktis


Ulangan Kadar Air (%)
1 (11) 14,9 %
2 (12) 14,6 %
3 (13) 14,6 %
4 (14) 13,9 %
5 (15) 13,9 %
14,38 %
Sumber : Laporan sementara

Analisa Data:

= 1,34%

= 1,36%
= 1,39%

= 1,22%

= 1,06%
2. Pembahasan
Kadar air benih merupakan berat air yang dikandung dan yang kemudian hilang karena
pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan dalam prosentase terhadap
berat awal contoh benih. Penetapan Kadar Air adalah banyaknya kandungan air dalam benih
yang diukur berdasarkan hilangnya kandungan air tersebut dan dinyatakan dalam prosentase
(%) terhadap berat asal contoh benih. Tujuan penetapan kadar air diantaranya untuk untuk
mengetahui kadar air benih sebelum disimpan dan untuk menetapkan kadar air yang tepat
selama penyimpanan dalam rangka mempertahankan viabilitas benih tersebut.
Pengujian kadar air ini menggunakan dua metode yaitu metode dasar dengan
menggunakan oven dan metode praktis dengan menggunakan alat yang disebut Balance
Moisture tester. Pada metode dasar disini menggunakan benih padi. Sebelum di oven, yang
harus dilakukan adalah menimbang cawan porselin terlebih dahulu yang beratnya dinyatakan
dengan W1 dengan berat 5,5 gram. Kemudian menimbang cawan yang berisi benih yang
dinyatakan dengan W2 dengan berat 37,5. Setelah itu benih dipanaskan dalam oven dalam
waktu 15 menit dengan suhu 130°C untuk mendapatkan benih kering. Selanjutnya
didinginkan dalam eksikator sampai dingin dan kemudian ditimbang beratnya (W3) dan
diperoleh berat sebesar 37,07 gram. Berat benih setelah dioven sebesar 0,43 diperoleh dari
selisih antara berat benih sbelum dipanaskan dan berat benih sebelum dipanaskan (w2-w3),
sedangkan berat benih sebelum dipanaskan adalah 32 diperoleh dari selisih antara berat
cawan dan benih didalamnya dikurangi berat cawan tanpa benih (w2-w1). Dari situ, dapat
dihitung kadar air yang terkandung dalam benih jagung tersebut dengan perhitungan rumus :
S= dan dengan hasil 1,29 %. Jadi kadar air yang terkandung dalam benih

padi ini sebesar 1,29 %. Hal ini menunjukkan bahwa pengukuran kadar air dengan
menggunakan metode praktis ini cukup akurat.
Metode kedua dengan menggunakan alat yang disebut Balance Moisture tester. Dengan
cara mengambil contoh benih padi secukupnya kemudian memasukkan dalam silinder tempat
benih pada seed moisture tester. Mengencangkan penutup untuk menutup silinder wadah
benih, penutupan harus memperhatikan dan menjaga agar benih tidak sampai pecah.
Selanjutnya menghidupkan seed moisture tester, lalu menghitung persentase kadar
benihnya.Pada metode ini menggunakan benih padi. Pada penggunaan alat ini dilakukan
ulangan sebanyak 5 kali untuk memperoleh hasil yang akurat. Hasilnya bisa dilihat langsung,
kadar air yang terkandung dalam biji padi tersebut sebesar 14,38 %. Hal ini menunjukkan
keakuratan hasil perhitungan kadar air dengan metode praktis atau menggunakan alat.
Manfaat dari pengujian kadar air benih adalah untuk mengetahui seberapa besar
kandungan air yang terkandung di dalam benih tersebut. Dengan pengujian ini tentu tidak
lepas dari kualitas perkecambahan, viabilitas, dan vigor benih saat perkecambahan. Karena
sebelum proses imbibisi air ke dalam benih sebelum perkecambahan benih ditentukan
terlebih dahulu oleh kandungan awal air yang ada di dalam benih tersebut.

E. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan hal sebagai berikut:
a. Pada metode dasar hasil menimbang cawan porselin terlebih dahulu yang beratnya
dinyatakan dengan W1 dengan berat 5,5 gram.
b. Pada metode dasar hasil menimbang cawan porselin terlebih dahulu yang beratnya
dinyatakan dengan W2 dengan berat 37,5.
c. Pada metode dasar setela didinginkan dalam eksikator sampai dingin dan kemudian
ditimbang beratnya (W3) dan diperoleh berat sebesar 37,07 gram.
d. Berat benih setelah dioven sebesar 0,43 diperoleh dari selisih antara berat benih sbelum
dipanaskan dan berat benih sebelum dipanaskan (w2-w3).
e. Berat benih sebelum dipanaskan adalah 32 diperoleh dari selisih antara berat cawan dan
benih didalamnya dikurangi berat cawan tanpa benih (w2-w1).
f. Kadar air yang terkandung dalam benih jagung tersebut dengan perhitungan rumus : S =
dan dengan hasil 1,29 %.

g. Metode kedua dengan menggunakan alat yang disebut Balance Moisture tester dilakukan
ulangan sebanyak 5 kali menghasilkan kadar air yang terkandung dalam biji padi tersebut
sebesar 14,38 %.
2. Saran
Saran untuk pada praktikum tentang pengujian kadar benih ini, lebih serius dan teliti lagi
dalam melakukan praktikum agar menghasilkan data yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Amira 2010. Pengukuran Kadar Air. http://www.ramadhan. Diakses pada tanggal 28 Desember
2010 pukul 22.00 WIB.

Hasanah, M dan D Rusmin 2006. Teknologi Pengelolaan Benih Beberapa Tanaman Obat Di
Indonesia. Balai Penelitian Pangan dan Obat. Jurnal Litbang Pertanian. Volume 25 (2) : 68 –
73. Bogor.

Hong T D and R H Ellis 2005. A protocol to determine seed storage behaviour IPGRI Technical
Bulletin No1. Dept. of Agric. The University of Reading, UK.

Heuver M 2006. Introduction to Seed Testing . IAC Wageningen. The Netherlands.

Kuswanto H 2007. Analisis Benih. Kanisius. Yogyakarta

Prasetyo 2004. Evaluasi Mutu Benih Beberapa Genotipe Padi Selama Penyimpanan. Jurnal
Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. Vol 20 (No.3). Halaman 17 – 23.

Sutopo L 2006. Teknologi Benih. Rajawali Pers. Jakarta.

Diposting oleh An najwa di 02.06


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya
An najwa
Welcome to Najwa blog ^_^
Pengarsipan selama menjadi mahasiswi agibisnis Univesitas Sebelas Maret
Bersyukur & berterimakasih ^^ :
*Allah
Always remember Allah
Bukan bagaimana agar kamu mencintai Allah tapi bagaimana kamu bisa dicintaiNya
*ibu
yang sudah mengajarkan bagaimana jadi wanita yg baik, solehah & kuat.
yang sudah memberi contoh kalau wanita itu bisa melakukan apa saja selama tetap
berusha.
*papa
yang sudah mengajarkan tentang entrepreneur & kesetiaan,
yang sudah memberi contoh kesederhanaannya dalam kehidupan.
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog
 ► 2018 (1)

 ▼ 2014 (30)
o ▼ Februari (30)
 UJI VIGOR BENIH
 UJI TETRAZOLIUM
 UJI DAYA DAN KECEPATAN BERKECAMBAH BENIH
 PENGUJIAN KADAR AIR BENIH
 PENGUJIAN BERAT 1000 BENIH DAN KEMURNIAN BENIH
 UJI DAYA DAN KECEPATAN BERKECAMBAH BENIH
 BIJI BERNAS
 MENCANGKOK
 PENYAMBUNGAN
 MERUNDUK (LAYERAGE)
 PEMBIAKAN DENGAN SETEK
 Laporan Kesuburan Tanah dan Pemupukan
 PENGENALAN BUAH DAN SAYUR
 BUDIDAYA TANAMAN
 PENYEMAIAN BENIH SAYURAN
 EKSTRAKSI BENIH
 SAKARIDA
 PROTEIN DAN LEMAK
 KESETIMBANGAN KIMIA
 SIFAT KOLIGATIF LARUTAN
 KINETIKA REAKSI
 SPEKTROFOTOMETER UNTUK PENENTUAN KADAR
PROTEIN
 PEMBUATAN LARUTAN DAN STANDARISASINYA
 Laporan Manajemen Usaha Tani
 Lapoan Manajemen Agribisnis
 PEMBIAKAN DENGAN STEK
 PENYAMBUNGAN TANAMAN
 PERLAKUAN PEMANGKASAN TANAMAN
 PEMUPUKAN LEWAT DAUN
 KEDALAMAN TANAM DAN MEDIA TANAM

Tema Kelembutan. Diberdayakan oleh Blogger.

Being a Plants Doctor

Sabtu, 10 Desember 2016


laporan praktikum uji kadar air benih
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BENIH

UJI KADAR AIR BENIH


Dosen Pembimbing

Ir. Herlinawati, MP

Oleh :

Zefri Nur Zakaria ( A42151805 )

Petrus ( A42151808 )

Wahyu Indra Suseno ( A42151811 )

Veronika Amanda Putri ( A42151817 )

Ida Bagus Prasadana ( A42151870 )

PROGRAM STUDI TEKNIK PRODUKSI TANAMAN PANGAN


PRODUKSI PERTANIAN

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Benih merupakan alat perkembangbiakan tanaman yang berasal dari pembiakan generatif
antara induk jantan dan betina yang merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya tanaman.
Mutu benih terbagi atas mutu genetik, mutu fisik dan mutu fisiologis. Mutu benih sangat tergantung
oleh beberapa hal, salah satunya adalah kadar air benih.

Kadar air benih ialah berat air yang “dikandung” dan yang kemudian hilang karena
pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan dalam persentase terhadap
berat awal contoh benih. Penetapan Kadar Air adalah banyaknya kandungan air dalam benih yang
diukur berdasarkan hilangnya kandungan air tersebut & dinyatakan dalam persentase (%) terhadap
berat asal contoh benih. Tujuan penetapan kadar air diantaranya untuk mengetahui kadar air benih
sebelum disimpan dan untuk menetapkan kadar air yang tepat selama penyimpanan dalam rangka
mempertahankan viabilitas benih tersebut.

Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah contoh kerja
yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap udara.
Karena untuk penetapan kadar air, jika contoh kerja yang digunakan telah terkontaminasi udara luar
maka kemungkinan besar kadar air benih yang diuji bukan merupakan kadar air benih yang
sebenarnya karena telah mengalami perubahan akibat adanya kontaminasi udara dari lingkungan.
Yang kedua adalah untuk pengujian kadar air ini harus dilakukan sesegera mungkin, selama
penetapan diusahakan agar contoh benih sesedikit mungkin berhubungan dengan udara luar serta
untuk jenis tanaman yang tidak memerlukan penghancuran, contoh benih tidak boleh lebih dari 2
menit berada di luar wadah.
Prinsip metode yang digunakan untuk penentuan kadar air ada dua macam yaitu secara
langsung dan tidak langsung. Yang termasuk cara langsung antara lain menggunkana alat Grain
Mousture Meter (GMM), dan alat Grain Mousture Tester (GMM) . Sedangkan cara tidak langsung
yaitu dijemur dibawah terik sinar matahari dan bisa menggunakan oven.

Pengujian kadar air benih dilakukan untuk mengetahui kadar air dalam biji atau benih untuk
menentukan waktu panen yang tepat dan penyimpanan benih. Benih yang bermutu sangat
diinginkan pasar dan petani, baik sebagai komoditi perdagangan maupun bahan tanam untuk
produksi pertanian. Kualitas benih dapat dilihat dari beberapa variabel atau nilai, salah satunya
adalah kadar air benih.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui persentase kadar air pada benih jagung, kedelai, dan kacang panjang.

2. Mengetahui cara menguji benih menggunakan metode langsung.

3. Mengetahui cara menguji benih menggunakan metode tidak langsung.

1.3 Manfaat
1. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang pengukuran kadar air pada suatu benih.

2. Dapat menentukan kadar air benih menggunakan metode langsung dan metode tidak langsung.

3. Dapat memperoleh benih berkualitas melalui uji kadar air benih.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

Benih merupakan material yang higroskopis, memiliki susunan yang kompleks dan
heterogen. Air merupakan bagian yang fundamental terdapat demikian rupa dalam benih, artinya
terdapat di setiap bagian dalam benih. Kadar air benih karena keadaan yang higroskopis itu
tergantung pada lembab relatif dan temperatur. Lembab relatif dan temperatur demikian
menentukan dalam adanya tekanan uap dalam benih dan dalam udara di sekitarnya. Apabila
tekanan uap dalam benih ternyata lebih besar daripada tekanan udara di sekitarnya, maka uap air
akan menerobos dan keluar dari dalam benih. Sebaliknya jika tekanan uap air di luar benih lebih
tinggi, maka uap akan menerobos masuk ke dalam benih. Dan apabila tekanan uap di dalam benih
sama kuatnya dengan tekanan uap di luar benih, maka dalam keadaan demikian tidak akan terjadi
pergerakan uap serta dalam keadaan demikian inilah terjadinya kadar air yang seimbang.
(Kartasapoetra, 1986).

Benih berukuran besar atau benih berkulit keras harus digiling atau dipotong lebih kecil
sebelum penimbangan dan pengeringan. Kalau tidak, kulit benih akan menahan penguapan air dari
benih. Air akan tetap berada di dalam benih setelah pengeringan sehingga kadar air benih hasil
pengujian menjadi terlalu rendah. Berat contoh kerja setelah digiling atau dipotong sekurang-
kurangnya per ulangan 5 - 10 gram (Darori 2007).

Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik untuk tujuan
pengolahan, maupun penyimpanan benih. Telah diketahui bahwa kadar air memiliki dampak besar
terhadap benih selama penyimpanan. Menyimpan benih ortodok pada kadar air tinggi berisiko cepat
mundurnya benih selama dalam penyimpanan. Kadar air benih merupakan salah satu komponen
yang dinilai oleh BPSB dalam sertifikasi benih sehingga uji ini merupakan satu pengujian rutin para
analisis benih di laboratorium benih. (Amira 2010).

Metode pengukuran kadar air benih secara langsung, kadar air benih dihitung secara
langsung dari berkurangnya berat benih akibat hilangnya air dalam benih dan ini yang sering disebut
dengan metode oven, sedangkan pengukuran kadar air secara tidak langsung kadar air di ukur tanpa
mengeluarkan air dari benih, tetapi dengan menggunakan hambatan listrik dalam benih yang
kemudian dikorelasikan dengan kadar air biaanya dengan menggunakan alat yang bernama Steinlete
Moisture Tester (Hasanah, 2006).

Di dalam batas tertentu, makin rendah kadar air benih makin lama daya hidup benih
tersebut. Kadar air optimum dalam penyimpanan bagi sebagian besar benih adalah antara 6% - 8%.
Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan benih berkecambah sebelum ditanam. Sedang
dalam penyimpanan menyebabkan naiknya aktifitas pernafasan yang dapat berakibat terkuras
habisnya bahan cadangan makanan dalam benih. Selain itu merangsang perkembangan cendawan
patogen di dalam tempat penyimpanan. Tetapi perlu diingat bahwa kadar air yang telalu rendah
akan menyebabkan kerusakan pada embrio (Mugnisjah, 1990).

Makin tinggi kandungan air benih makin tidak tahan benih tersebut untuk disimpan lama.
Untuk setiap kenaikan 1 % dari kandungan air benih maka umur benih akan menjadi setengahnya.
Hukum ini berlaku untuk kandungan air benih antara 5 dan 14 %. Karena dibawah 5 % kecepatan
menuanya umur benih dapat meningkat disebabkan oleh autoksidasilipid di dalam benih. Sedangkan
diatas 14 % akan terdapat cendawan gudang yang merusak kapasitas perkecambahan benih (Hong
dan Ellis , 2005).

BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Dalam praktikum Teknologi Benih pada acara “Uji Kadar Air Benih” ini dilaksanakan pada
hari Rabu, tanggal 16 November 2016, pukul 09.00 s.d. 11.00 wib, di Laboratorium Tanaman
Politeknik negeri Jember.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat :
- Grain Moisture Meter - Grain Moisture Tester
- Cawan Perselin - Blender
- Oven - Nampan
- Timbangan - Label
- Eksikator atau Desikator - Alat tulis menulis
3.2.2 Bahan
- Benih Jagung
- Benih Kedelai
- Benih Kacang Panjang
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Pengukuran Kadar Air dengan Grain Moisture Meter (GMM)
1. Bersihkan alat dan ambil sampel secukupnya.
2. Tempatkan bahan (jagung, kedelai, kacamg panjang) pada blender secara bergantian dan hancurkan
sampai halus.
3. Tempatkan bahan (jagung, kedelai, kacang panjang) pada alat pengepres.
4. Atur knop dan dipres sampai sempurna dan kemudian tekan tombol measure.
5. Amati skala yang ditunjukkan oleh jarum meter dan koreksi dengan skala persentase yang
merupakan angka kadar air bahan.
6. Catat hasil pengukuran pengujian tersebut.
7. Lakukan pengulangan sebanyak 3 kali dan average hasil ( dirata-rata).
8. Catat kembali dan masukkan tabel pengamatan.
3.3.2 Pengukuran Kadar Air dengan Grain Moisture Tester (GMT)
1. Bersihkan alat dan ambil sampel secukupnya.
2. Tempatkan bahan (jagung, kedelai, kacamg panjang) pada blender secara bergantian dan hancurkan
sampai halus.
3. Tempatkan bahan yang sudah hancur kedalam alat GMT
4. Aturlah knop sesuai dengan jenis benih yang akan diuji. Kemudian tekan tombol measure.
5. Amati skala yang diperoleh dan koreksi dengan skala persentase yang merupakan angka kadar air
bahan.
6. Catat hasil pengukuran pengujian tersebut.
7. Lakukan pengulangan sebanyak 3 kali dan average hasil ( dirata-rata).
8. Catat kembali dan masukkan tabel pengamatan.
3.3.3 Pengukuran Kadar Air dengan Pengering (Oven)
Metode ini sering disebut sebagai metode pemanasan dan penimbangan.

1. Mengeringkan cawan timbangan dalam oven bersuhu 1350C selama 1 jam, kemudian dinginkan dalam
eksikator selama 15 menit. Setelah itu cawan ditimbang.................................................................(m1)
2. Cawan yang sudah dingin bisa diisi dengan sampel bahan yang telah dihaluskan dengan perbandingan
¾ dari cawan, kemudian timbang......................................................................................(m2)
3. Kemudian cawan berisi bahan dioven selama 30 menit , lalu didingnkan kedalam eksikator selama
10 menit kemudian timbang kembali.........................................................................................(m3)
Persentase (%) Kadar Air

Keterangan :

- Cawan + tutup .....................................................................................(m1)


- Cawan + tutup + isi ..............................................................................(m2)
- Cawan + tutup + isi setelah dioven ...................................................(m3)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil pengamatan

4.1.1 Hasil pengamatan Uji Kadar Air secara langsung

1. Menggunakan Grain Moisture Meter (GMM)

Tabel 1. Hasil pengukuran Kadar Air

Ulangan (%) Jumlah Rata-


No Nama Sampel
I II III total rata

1. Jagung 11,5 11,9 11,2 34,6 11,53

2. Kedelai 10,5 11,0 11,4 32,9 10,96

3. Kacang panjang 14,1 14,3 14,1 42,5 14,16

2. Menggunakan Grain Moisture Tester (GMT)

Tabel 2. Hasil pengukuran Kadar Air

Ulangan (%) Jumlah Rata-


No Nama Sampel
I II III total rata

1. Jagung 12,9 13,4 12,5 38,8 12,93

2. Kedelai 12,4 11,9 11,9 36,2 12,06

3. Kacang panjang 14,5 - - 14,5 14,5

4.1.2 Hasil pengamatan Uji Kadar Air secara tidak langsung

1. Menggunakan Oven

Tabel 3. Hasil pengukuran Kadar Air

No Nama Sampel Massa (gram) Jumlah Rata-


m1 m2 m3 total rata

1. Jagung 19,37 29,46 29,16 77,99 25,99

2. Kedelai 21,50 28,59 28,30 78,39 26,13

3. Kacang panjang 20,91 31,15 30,83 82,89 27,63

2. Hasil perhitungan Uji Kadar Air menggunakan rumus

Persentase (%)Kadar Air

Tabel 4. Hasil pengukuran Kadar Air

(m2 – m3) (m2 – m1)


No Nama sampel Jumlah Kadar Air (%)
gram gram

1. Jagung 0,3 10,09 2,97

2. Kedelai 0,29 7,09 4,0

3. Kacang panjang 0,32 10,24 3,1

4.2 Pembahasan

Kadar air benih merupakan berat air yang dikandung dan yang kemudian hilang karena
pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan dalam prosentase terhadap
berat awal contoh benih. Penetapan Kadar Air adalah banyaknya kandungan air dalam benih yang
diukur berdasarkan hilangnya kandungan air tersebut dan dinyatakan dalam prosentase (%)
terhadap berat asal contoh benih. Tujuan penetapan kadar air diantaranya untuk untuk mengetahui
kadar air benih sebelum disimpan dan untuk menetapkan kadar air yang tepat selama penyimpanan
dalam rangka mempertahankan viabilitas benih tersebut.

Pengujian kadar air ini menggunakan dua metode yaitu metode langsung dengan
menggunakan alat yang disebut Grain Moisture Meter (GMM) dan Grain Moisture Tester (GMT)
serta metode tidak langsung dengan menggunakan oven. Metode pertama dengan menggunakan
alat yang disebut GMM dam GMT. Pada prinsipnya penggunaan kedua alat ini sama, yang
membedakan hanya bentuk fisiknya saja. Yaitu dengan cara mengambil contoh benih jagung,
kedelai, dan kacang panjang secukupnya kemudian memasukkan dalam silinder tempat benih pada
GMT dan masukkan kedalam pengepres pada GMM. Kemudian mengencangkan penutup untuk
menutup silinder wadah benih, penutupan harus memperhatikan dan menjaga agar benih tidak
sampai tumpah kemana-mana. Selanjutnya menghidupkan alat GMT dan GMM dengan memilih
tombol measure dan lakukan pengulangan seebanyak 3 kali untuk mendapatkan data yang akurat.
Kemudian menghitung persentase kadar benihnya. Hasilnya bisa dilihat langsung, kadar air yang
terkandung dalam jagung, kedelai, dan kacang panjang secara berurutan yaitu sebesar 11, 53%,
10,96%, dan 14,16% (menggunakan alat GMM). Sedangkan untuk menggunakan alat GMT sebesar
12,93%, 12,06%, dan 14,5%. Hal ini menunjukkan keakuratan hasil perhitungan kadar air dengan
metode langsung atau menggunakan alat.

Gbr 1. Grain Moisture Meter Gbr 2. Grain Moisture Tester

Manfaat dari pengujian kadar air benih adalah untuk mengetahui seberapa besar kandungan
air yang terkandung di dalam benih tersebut. Dengan pengujian ini tentu tidak lepas dari kualitas
perkecambahan, viabilitas, dan vigor benih saat perkecambahan. Karena sebelum proses imbibisi air
ke dalam benih sebelum perkecambahan benih ditentukan terlebih dahulu oleh kandungan awal air
yang ada di dalam benih tersebut.

Pada metode tidak langsung disini menggunakan benih jagung, kedelai, dan kacang panjang.
Sebelum di oven, yang harus dilakukan adalah menimbang cawan porselin terlebih dahulu yang
beratnya dinyatakan dalam m1 dengan berat 19,37 gram untuk cawan jagung, 19,37 gram untuk
cawan kedelai, dan 20,91 gram untuk cawan kacang panjang. Kemudian menimbang cawan yang
berisi benih dari masing masing bahan yang dinyatakan dalam m2 dengan berat 10,09 gram untuk
jagung, 7,09 gram untuk kedelai, dan 10,24 gram untuk kacang panjang.

Setelah itu benih dipanaskan dalam oven dalam waktu 30 menit dengan suhu 135°C untuk
mendapatkan benih kering. Selanjutnya didinginkan dalam eksikator sampai dingin dan kemudian
ditimbang beratnya (m3) dan diperoleh berat masing-masing bahan untuk jagung sebesar 29,16
gram, untuk kedelai sebesar 28,30 gram, serta untuk kacang panjang sebesar 30,83 gram.

Berat benih jagung setelah dioven sebesar 0,3 gram diperoleh dari selisih antara berat benih
jagung sebelum dipanaskan dan berat benih sebelum dipanaskan (w2-w3), sedangkan berat benih
kedelai setelah dioven sebesar 0,29 gram, serta berat benih kacang panjang setelah dioven sebesar
0,32 gram. Selepas dari itu, berat benih jagung, kedelai, kacang panjang secara berurutan sebelum
dipanaskan adalah 10,09 gram, 7,09 gram, 10,24 gram. Yang diperoleh dari selisih antara berat
cawan dan benih didalamnya dikurangi berat cawan tanpa benih (w2-w1). Dari sinilah kadar air
benih dapat diketahui melalui sebuah pendekatan yaitu perbandingan antara berat cawan berisi
benih sebelum dioven dikurangi berat cawan berisi benih setelah dioven dengan berat cawan berisi
benih sebelum dioven dikurangi berat cawan tanpa benih (kosong) sebelum dioven dan dikalikan
100%. Atau lebih mudahnya dituliskan sebagai berikut :

Persentase (%)Kadar Air


Pada jumlah kadar air jagung diketahui sebesar 2,97%, sedangkan kedelai sebesar 4,0%, dan
kacang panjang sebesar 3,1 gram. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa benih jagung, kedelai, dan
kacang panjang memiliki kandungan kadar air yang relatif kecil. Menurut Mugnisjah dalam peper nya
menyebutkan bahwa di dalam batas tertentu, makin rendah kadar air benih makin lama daya hidup
benih tersebut. Kadar air optimum dalam penyimpanan bagi sebagian besar benih adalah antara 6%
- 8%. Hal ini disebabkan kurang perhatiannya dari segi waktu, pada awalnya saat pengovenan
menetapkan waktu selama 1 jam. Namun ada kendala secara teknis yang menyebabkan waktu
terpotong hanya 30 menit. Dari sinilah angka pengukuran kadar air pada benih kurang akurat. Pada
dasarnya semakin lama suatu benih diletakkan kedalam oven, maka benih tersebut akan semakin
kering dan akan banyak kehilangan kadar air.

Seperti yang dijelaskan oleh Hong dan Ellis dalam bukunya menyebutkan bahwa makin tinggi
kandungan air benih makin tidak tahan benih tersebut untuk disimpan lama. Untuk setiap kenaikan
1 % dari kandungan air benih maka umur benih akan menjadi setengahnya. Hukum ini berlaku untuk
kandungan air benih antara 5 dan 14 %. Karena dibawah 5 % kecepatan menuanya umur benih
dapat meningkat disebabkan oleh autoksidasilipid di dalam benih. Sedangkan diatas 14 % akan
terdapat cendawan gudang yang merusak kapasitas perkecambahan benih.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Jumlah persentase kadar air benih jagung, kedelai, dan kacang panjang menunjukkan hasil yang
kurang akurat antara menggunakan metode langsung atau menggunakan alat dengan metode tidak
langsung atau menggunkan oven. Hal ini dikarenakan saat menggunakan oven waktu yang
dibutuhkan dalam pengeringan benih kurang maksimal yang mengakibatkan angka persentase yang
keluar berkisar antara 2 sampai 4 persen saja.

2. Pada prinsipnya penggunaan alat GMM dan GMT ini sama, yang membedakan hanya bentuk fisiknya
saja. Yaitu dengan cara mengambil contoh benih jagung, kedelai, dan kacang panjang secukupnya
kemudian memasukkan dalam silinder tempat benih pada GMT dan masukkan kedalam pengepres
pada GMM. Kemudian mengencangkan penutup untuk menutup silinder wadah benih. Selanjutnya
menghidupkan alat GMT dan GMM dengan memilih tombol measure dan lakukan pengulangan
seebanyak 3 kali untuk mendapatkan data yang akurat.

3.

Persentase (%)Kadar Air

Pada dasarnya menghitung jumlah kadar air suatu benih menggunakan oven dapat melalui pedekatan
sebagai berikut :

Dimana m1 merupakan berat cawan dan tutup, sedangkan m2 adalah berat

cawan berisi benih sebelum dioven, serta m3 adalah cawan berisi benih setelah dioven.

5.2 Saran
Sebaiknya mahasiswa melakukan praktikum pengujian kadar air benih dengan baik dan sungguh-
sungguh, demi untuk mendapatkan data yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA

 http://siskannajwa.blogspot.co.id/2014/02/pengujian-kadar-air-benih.html diakses pada tanggal 21


November 2016.

 http://yulfasari.blogspot.co.id/2016/03/laporan-pengukuran-kadar-air-benih.html diakses pada


tanggal 21 November 2016.
 Tim Dosen. 2016. Buku BKPM Teknologi Benih. Jember: Politeknik Negeri Jember

Diposting oleh zefri_nz di 19.18

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Beranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya

zefri_nz

mahasiswa jurusan produksi pertanian polije

Lihat profil lengkapku

Arsip Blog
 ► 2017 (5)

 ▼ 2016 (1)
o ▼ Desember (1)
 laporan praktikum uji kadar air benih

Tema PT Keren Sekali. Diberdayakan oleh Blogger.