Anda di halaman 1dari 10

POROS MARITIM DUNIA DAN BENCANA TSUNAMI :

PENGEMBANGAN AIR INFLATED STRUCTURE


SEBAGAI FASILITAS TANGGAP BENCANA
M. Ikhsan Setiawan1, Hery Budiyanto2, Fredy Kurniawan3, Sri Wiwoho M4 dan
Ronny D. Nasihien5
1
Universitas Narotama, ikhsan01@yahoo.com
2
Universitas Merdeka Malang, budiyantohery@yahoo.com
3
Universitas Narotama, fredy.success@yahoo.com
4
Universitas Narotama, sriwiwoho.ubraw@gmail.com
5
Universitas Narotama, dnash.arsitek@gmail.com

ABSTRAK
Visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia harus memperhatikan potensi bencana
tsunami. Sepanjang tahun 1629-2014, Indonesia dilanda 174 tsunami dimana 60 persen
di kawasan Indonesia Timur. UNDP PBB menyatakan kesiapan menghadapi bencana
akan meminimalisir dampak merugikan melalui pencegahan yang efektif, rehabilitasi
dan pengiriman bantuan tepat waktu. Solusi tepat menyelesaikan problem penampungan
korban bencana dalam waktu cepat, biaya murah dan dapat menampung dalam jumlah
banyak adalah air inflated structure. Air inflated structure sebelum dan sesudah bencana
disimpan dengan volume penyimpanan kecil, bahan struktur (0.55mm PVC Terpaulin)
mudah dilipat dan cepat diangkut ke daerah bencana menggunakan truk/pickup. Tujuan
Penelitian adalah merencanakan, membuat dan menguji protitipe tenda air inflated
structure sebagai fasilitas tanggap bencana guna memenuhi aspek kekuatan, kecepatan,
efektifitas dan kenyamanan penampungan korban bencana. Metode Penelitian
menggunakan Metode Eksperimen, diawali dengan perancangan, pembuatan dan
pengujian prototipe tenda meliputi (1) uji kekuatan dan ketahanan bahan terhadap cuaca
(2) uji meterial yang paling efektif guna komponen struktur (3) uji kecepatan
pembuatan, pengangkutan, perakitan, pemasangan, pembongkaran (4) uji kenyamanan
korban bencana. Pengujian dilakukan di Lab Universitas Narotama dan Lab Universitas
Merdeka Malang serta Uji Lapangan Kabupaten Blitar, terbukti memberikan hasil yang
handal dan memuaskan meliputi kuat uji tarik hingga 218,3 kg, daya tahan bahan
hingga >700C, kecepatan instalasi pemasangan dan pembongkaran menjadi lebih efektif
1Kode BidangJudul Makalah
Instansi/Institusi
Penulis 1
Penulis 2
Penulis 3
Penulis 4
Penulis 5
3
STRUKTUR
POROS MARITIM DUNIA DAN BENCANA TSUNAMI : PENGEMBANGAN AIR INFLATED STRUCTURE SEBAGAI
FASILITAS TANGGAP BENCANA
UNIVERSITAS NAROTAMA
M. Ikhsan Setiawan
Hery Budiyanto
Fredy Kurniawan
Sri Wiwoho M.
Ronny D. Nasihien
dan efisien serta kenyamanan dalam ruangan suhu maksimum 350C. Air inflated
structure diharapkan menjadi prototipe tenda korban bencana skala nasional, dapat juga
berfungsi sebagai Rumah Sakit Darurat dan Sekolah Darurat.

Kata Kunci : Bencana Tsunami, Mitigasi Bencana, Air Inflated Structure, Penampungan
Korban Bencana

1. PENDAHULUAN
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bencana alam di
Indonesia selama ini lebih banyak terjadi dan terkonsentrasi di Jawa. Sejak tahun 2002
hingga sekarang, lebih dari 50 persen bencana terjadi di Jawa. Pada tahun 2011, dari
2.066 kejadian bencana, sekitar 827 bencana (40%) terjadi di Jawa. Tahun 2012, Kantor
Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana melakukan press realease
yang menyatakan beberapa lokasi di pulau Jawa sangat beresiko mengalami bencana
alam, sehingga sangat patut mempersiapkan mitigasi bencana secara benar dan baik.
Antara lain potensi gempa di Selat Sunda, Selatan Jawa Barat, serta gempa di sesar
Cimandiri, sesar Lembang Jawa Barat dan Bali. Kemudian aktivitas Krakatau serta 23
gunung lain yang berstatus Waspada dan Siaga. Potensi banjir longsoran material erupsi
Merapi mencapai 120 juta kubik. Bencana lumpur Porong Sidoarjo yang masih belum
selesai, serta belum adanya kepastian penghitungan volume sumber lumpur yang masih
terus keluar dari dalam bumi. Namun bencana pada tahun 2011 didominasi oleh
aktivitas hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan,
puting beliung, dan gelombang pasang. BNPB mencatat setidaknya sepanjang 2011
telah terjadi 1.598 bencana, dan 1.598 di ataranya (75 persen) adalah hidrometeorologi
dengan prosentase banjir (403 kejadian), kebakaran (355), dan puting beliung (284).
Bencana itu telah menimbulkan korban meninggal dan hilang 834 orang, dan 325.361
orang lainnya dilaporkan menderita dan harus mengungsi. Selain merenggut nyawa
ratusan orang, bencana yang terjadi selama 2011 itu juga menyebabkan kerugian
material. Tercatat, 15.166 unit rumah penduduk rusak berat, 3.302 rusak sedang, dan
41.795 unit rusak ringan. Sedangkan bencana geologi seperti gempa bumi terjadi 11 kali
atau 0,7 persen, tsunami (1 kali atau 0,7 persen) dan gunung meletus (4 kali atau 0,2
persen). Dampak yang ditimbulkan oleh gempa bumi 5 orang meninggal dan rumah
rusak sebanyak 7.251 unit. Tingginya intensitas bencana tersebut khususnya di Jawa
memerlukan mitigasi bencana secara benar, baik, cepat dan efektif. UNDP dalam
Program Pelatihan ”Kesiapan Tanggap Bencana” memberikan arahan bahwa kesiapan
menghadapi bencana akan meminimalisir akibat-akibat yang merugikan melalui
tindakan pencegahan yang efektif, rehabilitasi dan pemulihan serta pengiriman bantuan
dan pertolongan secara tepat waktu. Bantuan dan pertolongan antara lain dimaksudkan
agar korban bencana yang jumlahnya cukup banyak segera dapat ditampung dalam
bangunan yang layak huni dan nyaman. Penampungan penduduk korban bencana dan
penempatan fasilitas darurat banyak menggunakan tenda dan bangunan darurat yang
dibangun menggunakan sistem struktur dan teknologi konvensional antara lain tenda
dengan rangkan terbuat dari baja yang memerlukan waktu lama serta biaya yang besar.
Salah satu solusi tepat untuk memecahkan masalah penampungan penduduk korban
bencana yang dapat dibangun dengan waktu yang cepat (kurang dari 1 hari), biaya yang
murah dan dapat menampung penduduk dengan jumlah banyak (50 orang) adalah
bangunan air inflated structure. Bangunan air inflated structure sebelum dan sesudah
bencana dapat disimpan pada gudang dengan volume penyimpanan yang kecil, karena
bahan strukturnya (membran – kain) dapat dilipat dan sewaktu-waktu dapat diangkut ke
daerah bencana menggunakan truk atau pickup. Bangunan air inflated structure ini
diharapkan menjadi prototipe struktur yang dapat digunakan untuk penampungan
penduduk korban bencana dalam skala nasional. Terdapat 5 aspek utama yang menjadi
masalah dalam penelitian ini, yaitu:
a. Perancangan dan desain air inflated structure.
b. Pembuatan prototipe bangunan air inflated structure untuk penampungan korban
bencana dilanjutkan uji material bangunan
c. Kecepatan dan efektivitas dalam proses pengangkutan, perakitan, pemasangan
serta pembongkaran bangunan air inflated structure.
d. Tingkat kenyamanan termal dalam bangunan air inflated structure sebagai
penampungan darurat di kawasan bencana.
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka dapat dirumuskan masalah-
masalah sebagai berikut
a. Bagaimana perancangan dan desain air inflated structure?
b. Bagaimana pembuatan prototipe air inflated structure untuk penampungan
korban bencana dilanjutkan uji material bangunan?
c. Bagaimana kecepatan dan efektivitas dalam proses pengangkutan, perakitan,
pemasangan serta pembongkaran air inflated structure?
d. Bagaimana tingkat kenyamanan termal dalam air inflated structure sebagai
penampungan darurat di kawasan bencana?

Penelitian ini difokuskan pada beberapa kajian sebagai berikut:


a. Perancangan serta pembuatan sistem dan komponen bangunan air inflated
structure
b. Pembuatan prototipe air inflated structure untuk penampungan korban bencana
c. Uji laboratorium dan ujicoba penerapan air inflated structure di lokasi rawan
bencana
d. Peningkatkan kecepatan dan efektivitas dalam pembuatan, pengangkutan,
perakitan, pemasangan serta pembongkaran air inflated structure
e. Peningkatkan tingkat kenyamanan termal dalam air inflated structure untuk
berbagai fungsi darurat di kawasan bencana

2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental berupa pembuatan prototipe struktur,
melakukan aplikasi uji coba terhadap berbagai variabel, antara lain pengujian pengaruh
bahan membran terhadap berbagai kondisi cuaca (variabel kekuatan bahan struktur
terhadap sinar matahari, dan hujan), pengujian terhadap variabel berbagai jenis
sambungan dan variabel kenyamanan termal bagi orang yang menempatinya.
Pelaksanaan penelitian ini pada tahun 2103 telah melakukan melalui kajian literatur,
dilanjutkan dengan pembuatan desain (bentuk struktur, pola dasar lembaran membran,
komponen dan elemen struktur) yang dilaksanakan di Lab. Komputer. Selanjutnya
dirancang dan dibuat prototipe struktur dengan skala dengan pilihan bahan dan sistem
sambungan yang paling efisien. Prototipe ini diuji (selama 1 bulan) terutama aspek
kenyamanan untuk berbagai fungsi darurat, antara lain dengan setting perabot tempat
penampungan sementara dan kantor tim penanggulangan bencana yang dibangun di
Lapangan. Penelitian dan pengujian terhadap sistem struktur pneumatik, antara lain
dalam uji model struktur pneumatik pada tahun 1992 telah dilakukan dalam paper
“Kajian dan Perancangan Bangunan dengan Konsep Struktur Pneumatik yang
Ditekankan pada Aspek Teknik dan Metoda Konstruksi, Kasus Studi: Struktur Atap
Pneumatik Membran Tunggal yang Ditumpu Udara pada Gedung Olah Raga”
(Budiyanto, 1992) Eksperimen model struktur diperlukan untuk mengetahui perilaku
struktur sesungguhnya (prototipe) dengan menggunakan replika (model) struktur yang
skalanya lebih kecil. Salah satu rekomendasi penelitian tersebut adalah struktur
pneumatik memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan struktur bangunan
konvensional, yaitu : investasi awal lebih murah, kecepatan dan kemudahan
pembangunan, pemeliharaan mudah, elemen struktur dapat dilipat (ringkas) sehingga
dapat disimpan dalam gudang dengan ukuran 3x3 m2. Berdasarkan kelebihan tersebut
sistem struktur ini dapat dikembangkan terutama untuk kegunaan sementara seperti
penggunaan untuk menampung korban bencana. Eksperimen dilanjutkan dengan
Penelitian Hibah Bersaing DIKTI Tahun 2008-2010 yang menghasilkan prototipe
struktur pneumatik yang ditumpu oleh udara. Prototipe ini dapat dibangun hanya dalam
waktu 30 menit, bangunan seluas 150 m2 siap menampung 50 orang. Kelemahan dari
prototipe ini adalah penggunaan pintu rigid yang harus kedap udara sehingga
menyulitkan penduduk yang relative awam untuk membiasakan diri keluar masuk dari
tenda gelembung. Hasil riset Purwanto yang dituangkan dalam tulisan berjudul
“Perkembangan Struktur Pneumatik Memperkaya Desain Arsitektur” (Purwanto, 2000)
menyampaikan kemungkinan penerapan dan pengembangan struktur pneumatic di
Indonesia, antara lain kondisi iklim di Indonesia, terutama masalah angin, bukanlah
masalah yang berarti dan dapat diperhitungkan dengan perhitungan tekanan dalam
struktur pneumatik. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan struktur
pneumatik di Indonesia, antara lain perilaku, kondisi sosial masyarakat Indonesia perlu
ditingkatkan terutama dalam pemeliharaan bangunan. Aspek keisengan masyarakat
dalam memandang dan memperlakukan bangunan/fasilitas umum sering menimbulkan
kerusakan. Namun, masyarakat perlu dibiasakan dan dikenalkan dengan sistem struktur
baru ini sehingga dapat belajar pada satu kondisi, bentuk, perilaku atau peradaban baru.
Alain Chassagnoux dan kawan-kawan dalam “Teaching of Morphology” (Chassagnoux
et.al., 2002) menjelaskan bahwa untuk mempelajari bentuk-bentuk arsitektur
kontemporer yang menggunakan struktur non-konvensional. Para dosen bisa mengajak
mahasiswa untuk melakukan eksperimen model sehingga mendapatkan pengalaman
“membentuk” bangunan menggunakan elemen/komponen yang dirancang sendiri oleh
mahasiswa. Dengan studi bentuk bangunan melalui studi geometri dan sains akan
memberikan pengalaman pembentukan struktur bangunan yang sulit dilakukan dan
hiperhitungkan secara matematis. Penanganan terhadap penduduk yang menjadi korban
bencama alam sangat diperlukan, antara lain dalam bentuk penampungan sementara
sehingga penduduk dapat merasa aman dan nyaman berada. Selama ini penanganan
penampungan penduduk dilakukan dengan menggunakan bangunan-bangunan umum
(misalnya gedung pertemuan, sekolah, dan lain-lain) serta tenda-tenda daruratyang
kemampuan tampungnya hanya sedikit jumlahnya (antara 10 hingga 15 orang).
Pembangunan tenda dan bangunan darurat sering terhambat pelaksanaannya karena
keterbatasan penyediaan dan keterbatasan jumlahnya sehingga tidak seluruh penduduk
korban bencana segera dapat ditampung di tempat yang aman dan nyaman. Oleh karena
itu diperlukan sarana penampungan penduduk korban bencana yang dapat menampung
sejumlah besar penduduk dan dapat dibangun dalam waktu yang singkat. Penggunaan
bangunan air inflated structure merupakan salah satu solusi yang tepat mengingat
sebuah tenda tiup berukuran 6m x 10m dapat menampung 50 orang penduduk dan
perlengkapan darurat lainnya. Bangunan tenda darurat berupa air inflated structure ini
diharapkan dapat mempermudah pemerintah dalam menangani masalah bencana dan
akan menjadi model fasilitas penanggulangan bencana pada skala lokal (Surabaya),
regional (Jawa Timur) maupun nasional bahkan pada taraf internasional yang hingga
kini belum banyak dilakukan penyiapan fasilitas daurat serupa. Penyebarluasan
teknologi dan perlengkapan tenda darurat menggunakan bangunan air inflated structure
ini pada skala nasional akan sangat membantu pihak pemerintah dan masyarakat dimana
sewaktu-waktu terjadi musibah bencana akan cepat dapat teratasi masalah
penampungan penduduk korban bencana tersebut.
Tabel 1: Tahapan, Luaran, dan Indikator Capaian Penelitian
Tahapan Penelitian Luaran Indikator Capaian
2013 Perancangan, Pembuatan Prototipe Air 1 unit Prototipe Air
dan Pengujian Air Inflated Inflated Structure Inflated Structure telah
Structure diuji Lab
2014 Pengujian dan Uji Lapangan dan 1 unit Prototipe Air
Pengembangan Prototipe Pengembangan Inflated Structure yang
Air Inflated Structure di Prototipe Air telah diuji Lab dan
wilayah rawan bencana Inflated Structure diuji di Lapangan
di Kab Blitar
Tabel 2. Variabel Dan Uji Penelitian
Variabel Cara Pengujian Alat Uji
a. Kekuatan dan Pemilihan jenis bahan membran yang Uji tarik >100 kg
ketahanan bahan paling kuat dan tahan Uji bakar >70%
membran struktur  uji kekuatan bahan
 uji ketahanan terhadap cuaca

b. Efisiensi Sistem Pemilihan terhadap berbagai katagori Kualitatif:


dan Komponen untuk mendapatkan yang paling efektif. Memperhatikan
Struktur  Komponen struktur kemudahan dan
 Jenis sambungan efisiensi dalam
membuat dan
memasang

c. Kecepatan proses  Waktu dan sistem pembuatan Stopwatch


pengangkutan,  Waktu dan sistem pengangkutan
perakitan,
 Waktu dan sistem perakitan
pemasangan,
pembongkaran  Waktu dan sistem pemasangan
 Waktu dan sistem pembongkaran

d. Kondisi termal Kuantitatif:


bangunan dan  Meneliti kondisi bangunan tenda Termometer
kenyamanan termal sebelum dan selama dihuni: suhu dan
pengguna untuk kelembaban di dalam dan luar bangunan
fungsi bangunan  Meneliti aspek kenyamanan termal
Penampungan penghuni selama berada di dalam
Korban Bencana bangunan

3. HASIL PENELITIAN

Gambar 1. Uji Panas dan Uji Tarik terhadap Material Air Inflated Structure di Lab
Gambar 2. Pabrikasi Tenda 21 Hari

Gambar 3. Instalasi 3menit & Pemasangan 3menit

Gambar 4. Bongkar 3menit & Packing 3menit


Gambar 5. Grafik Suhu Ruangan Air Inflated Structure Desember 2013
Pengujian di Lab Teknik Sipil Univ Narotama Surabaya

Gambar 6. Grafik Suhu Ruangan Air Inflated Structure Juli 2014


Pengujian di Lab Bahan Univ Merdeka Malang

Gambar 7. Grafik Suhu Ruangan Air Inflated Structure Agustus 2014


Pengujian Lapangan di Area Kantor BUMD Kab Blitar

4. KESIMPULAN

Bangunan air inflated structure di wilayah rawan bencana sangat sesuai, disebabkan
kecepatan, kemudahan dan kenyamanan dalam menampung korban bencana. Terbukti
dalam Uji Laboratorium dan Uji Lapangan didapatkan hasil yang handal meliputi kuat
uji tarik hingga 218,3 kg, daya tahan material >70 0C, instalasi 3menit, pemasangan
3menit dan pembongkaran 3menit serta suhu dalam ruangan <350C. Bangunan air
inflated structure dapat menjadi prototipe nasional sebagai Rumah Sakit Darurat dan
Sekolah Darurat. Penggunaan bahan tarpaulin dan PVC sangat fleksibel dan kuat
sehingga memudahkan proses pengangkutan, pemasangan dan pembongkaran kembali
di wilayah rawan bencana, dalam packaging yang simpel dan mudah digunakan. Namun
penggunaan bahan tarpaulin dan PVC pada bangunan air inflated structure memerlukan
informasi atau sign agar terhindar dari bahaya kebocoran dan kebakaran akibat barang-
barang yang mudah terbakar, kegiatan merokok maupun mengelas didekat area tenda

DAFTAR PUSTAKA
Arief M, Nur (2010) Gempa Bumi, Tsunami dan Mitigasinya, Jurnal Geografi Vol.7 No.1 ISSN 2085-
191X, Universitas Negeri Semarang
Budiyanto, Hery (1992) Kajian dan Perancangan Bangunan dengan Konsep Struktur Pneumatik yang
Ditekankan pada Aspek Teknik dan Metoda Konstruksi, Kasus Studi: Struktur Atap Pneumatik Membran
Tunggal yang Ditumpu Udara pada Gedung Olah Raga, Tesis S2, Institut Teknologi Bandung
Budiyanto, Hery (2007) Ujicoba Model Dan Prototipe Tenda Pneumatik Sistem Knock Down Sebagai
Bangunan Penampungan Sementara Untuk Korban Bencana, Laporan Penelitian Hibah Kompetisi A2,
Teknik Arsitektur Universitas Merdeka Malang
Budiyanto, Hery (2010) Pembuatan Tenda Pneumatik Sistem Knock Down Yang Ringkas Dan Cepat
Bangun Sebagai Bangunan Penampungan Sementara Untuk Korban Bencana, Laporan Penelitian Hibah
Bersaing Tahun 2008-2010, Teknik Arsitektur Universitas Merdeka Malang
Chassagnoux, Alain, et.al (2002) Teaching of Morphology, International Journal of Space Structures,
Vol.17 No. 2 & 3, Multi Science Publishing Ltd., Brendwood (UK)
Dent, Roger N (1971) Principles of Pneumatic Architecture. London: Elsevier Publishing Company
Departemen Kesehatan, Sekretariat Jenderal (2001) Standar Minimal Penanggulangan Masalah
Kesehatan Akibat Bencana dan Pengungsi, Jakarta: Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan
Herzog, Thomas (1976) Pneumatic Structures, a handbook for the architect and engineer. London:
Crosby Lockwood Staples
Intent (2005) Membran Structures. Kortrijk: Intent Inc
Itek (2005) Air Cell Technology. Pennsylvania: Inflatable Technology-USA Inc
Kent, Rudolph (1994) Kesiapan Bencana: Program Pelatihan Manajemen Bencana. Edisi Kedua.
Jakarta: UNDP
Luchsinger, Rolf H. et.al. (2004) Pressure Indicated Stability: From Pneumatic Structure to Tensairity.
Article No.JBE-2004-025, Journal of Bionic Engineering. Vol.1. No.3, hal.141-148, Jilin University -
Nanling Campus, Changchun PR China
Otto, Frei (1973) Tensile Structures. Cambridge: The MIT Press
Priambodo, Arie (2009) Panduan Praktis Menghadapi Bencana. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Purwanto (2000) Perkembangan Struktur Pneumatik Memperkaya Desain Arsitektur. Jurnal Dimensi Vol
28 No. 1, Universitas Kristen Petra, Surabaya
Salvadori, Mario (1981) Structural Design in Architecture. New Jersey: Prentice Hall Inc
Schodek, Daniel (1980) Structures. New Jersey: Prentice Hall. Inc
Schueller, Wolfgang (1983) Horizontal Span Building Structures. New York : John Wiley & Sons
Sugiantoro R, Purnomo H (2010) Manajemen Bencana: Respon dan Tindakan Terhadap Bencana
Sukawi (2011) Struktur Membran dalam Bangunan Bentang Lebar, Jurnal Modul Vol.11 No.1.
ISSN:0853-2877, Universitas Diponegoro, Semarang
Zuhri, Syaifudin (2010) Dasar-dasar Tektonik: Arsitektur dan Struktur. Klaten: Yayasan Humaniora