Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN

Antibiotik merupakan alternatif terapi yang banyak digunakan untuk

menangani permasalahan kesehatan di negara-negara berkembang dan salah

satunya adalah Indonesia. Antibiotik sering digunakan untuk mengatasi

penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri (Zakiya, 2017).

Penyakit infeksi masih menduduki posisi sepuluh penyakit terbanyak yang

melanda penduduk Indonesia (PERMENKES, 2011). Berdasarkan hasil

penelitian yang dilakukan oleh Hidayat et al. (2017) terhadap pasien-pasien di

sebuah rumah sakit di Surabaya yang terdiagnosis infeksi mendapat terapi

antibiotik yang tepat secara keseluruhan. Dilaporkan bahwa ceftriaxone adalah

antibiotik tunggal yang paling banyak digunakan dengan proporsi penggunaan

sebesar 43,48%.

Ceftriaxone adalah antibiotik golongan cephalosporin generasi ketiga

yang lebih stabil terhadap banyak 𝛽-laktamase bakteri sehingga mempunyai

aktivitas spektrum antibakteri yang lebih luas (broad spectrum). Ceftriaxone

mampu menyerang sebagian besar bakteri termasuk beberapa bakteri yang

mengalami resisten pada terapi lini pertama. Antibiotik ini juga mempunyai

waktu paruh yang lebih panjang daripada golongan cephalosporin lain.

Beberapa literatur menyatakan bahwa ceftriaxone adalah antibiotik pilihan

untuk terapi antiinfeksi. Ceftriaxone merupakan antibiotik 𝛽-laktam


semisintetik yang mudah mengalami pembukaan struktur cincinnya

disebabkan oleh hidrolisis. Hal ini mengakibatkan aktivitasnya sebagai

antibakteri berkurang, oleh karena itu untuk memastikan stabilitasnya sangat

penting dilakukan penetapan kadar ceftriaxone dalam suatu sampel farmasi (De

Diego et al., 2010; Fransisca, 2017; Zakiya, 2017).

Ceftriaxone tersedia secara komersial dalam bentuk garam disodium,

ceftriaxone untuk sediaan injeksi harus direkonstitusi dengan air steril untuk

injeksi atau dengan larutan parenteral pada saat digunakan, larutan ini

diberikan melalui infus intravena (IV) atau injeksi intramuskular (IM) (De

Diego et al., 2010). Larutan parental yang digunakan lazimnya adalah larutan-

larutan yang kompatibel dengan bahan aktif, seperti dextrose 5%, dextrose

10% dan sodium chloride 0,9%. Data-data tersebut dapat dilihat dalam acuan

yang digunakan mengenai klasifikasi kompatibilitas suatu campuran yaitu

Handbook on Injectable Drugs edisi 17 (2013).

Menurut hasil penelitian Tippa et al. (2010) ceftriaxone direkonstitusi

dengan air steril untuk injeksi, larutan sodium chloride 0,9% dan larutan

dextrose 5% ditambah larutan sodium chloride 0,9% dalam larutan

berkonsentrasi 40mg/mL akan stabil pada saat disimpan hingga mencapai

periode 3 hari pada temperatur ruangan 25℃ dan 10 hari jika disimpan pada

temperatur lemari pendingin 2℃ sampai 8℃. Dan pada larutan berkonsentrasi

40mg/mL dengan campuran sodium lactate, invert sugar 10%, sodium

bicarbonate 5%, freamine III, mannitol 10% stabil hingga 24 jam pada

penyimpanan di temperatur ruangan 25℃. Adapun hasil penelitian Walker et


al. (2010) yang menyatakan bahwa larutan ceftriaxone dalam pengencer

kehilangan 4,8% dari 100% konsentrasi awal selama 2 hari pada temperatur

ruangan 23℃ dan kehilangan lebih kurang 8,4% dari 100% konsentrasi awal

selama 14 hari pada temperatur 4℃.

Pengontrolan kadar antibiotik adalah hal penting yang harus dilakukan

dengan tujuan untuk menjaga stabilitas zat aktif pada waktu penyimpanan.

Perubahan stabilitas yang ditandai dengan menurunnya kadar zat aktif dapat

diproyeksikan pada resistensi antibiotik (Talogo, 2014). Resistensi terhadap

antibiotik mampu meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas hingga biaya

pengobatan. Menurut salah satu literatur yang terpublikasikan, resistensi

terhadap antibiotik bermula saat antibiotik digunakan secara tidak bijaksana

seperti penggunaan antibiotik yang tidak dihabiskan sehingga masih terdapat

bakteri yang masih bertahan hidup dan mampu untuk menghasilkan bakteri

baru (Asharina, 2017). Selain itu, patut dicurigai pula faktor ketidakstabilan

obat selama penyimpanan maupun pencampuran yang mengakibatkan

hilangnya kadar zat aktif obat dapat menjadi pemicu timbulnya kasus resitensi

terhadap antibiotik.

Banyak faktor yang mempengaruhi stabilitas obat salah satunya

dipengaruhi oleh temperatur. Ketidakstabilan obat disebabkan dari setiap

perubahan fisik, kimia, mikrobiologi dan sifat terapeutik dalam komponen obat

yang meliputi bahan aktif maupun eksipien selama waktu penyimpanan dan

penggunaan oleh pasien (Naveed et al., 2016).


Perubahan fisik, kimia dan mikrobiologi suatu sedaian farmasi sangat

dipengaruhi oleh temperatur. Perubahan kimia seperti

Hampir sebagian besar penelitian terkait stabilitas antibiotik IV

admixture dilakukan pada temperatur tertentu selama penyimpanan.

Sedangkan, penelitian yang sama jarang dilakukan ketika antibiotik IV

admixture tersebut telah dibuka selama 24 jam. Melihat permasalahan terkait

stabilitas antibiotik serta penggunaan antibiotik yang semakin banyak, maka

penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh temperatur ruangan terhadap

stabilitas ceftriaxone IV setelah dibuka selama 24 jam. Pada penelitian ini akan

diamati persentase degradasi kadar ceftriaxone IV setelah dibuka selama 24

jam. Pemilihan temperatur disesuaikan dengan iklim di Indonesia. Berdasarkan

literatur-literatur yang pernah melakukan pengamatan terhadap stabilitas kadar

antibiotik dianalisis dengan metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

(KCKT). Dimana metode KCKT sendiri memiliki tingkat selektivitas dan

sensitifitas yang tinggi (Vella-Brincat, et al., 2004; Talogo, 2014), oleh karena

itu penelitian ini akan menggunakan KCKT sebagai metode analisis.

1.2 PERUMUSAN MASALAH

 Apakah ada pengaruh temperatur ruangan terhadap persentase kadar

ceftriaxone IV setelah dibuka selama 24 jam pada iklim Indonesia?

1.3 HIPOTESIS
Adanya penurunan kadar ceftriaxone IV setelah dibuka selama 24 jam

yang dipengaruhi oleh temperatur ruangan pada iklim Indonesia

1.4 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase penurunan

kadar ceftriaxone IV setelah dibuka selama 24 jam yang dipengaruh temperatur

ruangan pada iklim Indonesia

1.5 MANFAAT PENELITIAN

 Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pengaruh temperatur

ruangan terhadap stabilitas antibiotik ceftriaxone IV setelah dibuka selama

24 jam pada iklim Indonesia

 Menjadi acuan bagi peneliti lain yang ingin meneliti stabilitas antibiotik

pada iklim Indonesia


1.6 KERANGKA KONSEPTUAL