Anda di halaman 1dari 13

HASTHALAKU: Delapan Perilaku, Sebagai Identitas Karakter

Pemuda Solo Berwawasan Global


Oleh: M. Farid Sunarto

Jika dilihat dari aspek geografis dan sosial kota Solo yang terkenal dengan budaya jawa, maka
hal tersebut yang akan diangkat dijadikan pedoman untuk mengajarkan masyarakat Solo
untuk memberi arah dan orientasi dalam berperilaku.

Ungkapan tradisional merupakan bagian dari khasanah folklor. Menurut Danandjaja (1984:
17) folklor perlu dipelajari sebab folklor mengungkapkan baik secara sadar maupun tidak,
bagaimana folk pendukungnya itu berpikir. Selain itu folklor juga mengabadikan apa-apa yang
dirasakan penting (dalam suatu masa) oleh folk pendukungnya. Carvantes mendevinisikan
ungkapan tradisional sebagai kalimat pendek yang disarikan dari pengalaman yang panjang.
Sedangkan Berttrand Russel membatasinya sebagai kebijaksanaan orang banyak yang
merupakan kecerdasan seorang. Berdasarkan kedua pendapat tersebut Brunvand
(Danandjaja, 1984: 28) menyatakan bahwa ungkapan tradisional mempunyai 3 sifat hakiki
yang perlu mendapat perhatian, yakni:

a. Harus berupa satu kalimat, ungkapan tidak cukup hanya satu kata tradisional saja
b. Berbentuk standar
c. Harus mempunyai daya hidup tradisi lisan yang dapat dibedakan dari (sekedar)
kalimat klise, tulisan yang berbentuk syair, iklan, reportase olah raga, dan
sebagainya.

Menurut Bascom (Danandjaja, 1984: 19) kalimat-kalimat stereotipik yang telah membeku itu
merupakan kebijaksanaan kolektif yang, disamping mencerminkan angan-angan kolektif, juga
berfungsi sebagai alat pendidikan, maupun sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-
norma masyarakat selalu dipatuhi anggota kolektifnya.

Dalam hal ungkapan tradisional Jawa, menurut Suprayitna (1986: 448), sekalipun dewasa ini
sudah tidak produktif lagi, tetapi jelas merupakan warisan rokhani yang telah melembaga
dalam kehidupan seluruh lapisan folk pendukungnya. Ungkapan tradisional Jawa dibedakan
menjadi tiga kelompok, yakni paribasan, bebasan dan saloka. Namun dalam kehidupan
sehari-hari, untuk mudahnya hanya disebut paribasan.

1
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, yang dimaksud dengan ungkapan tradisional Jawa
yakni semacam paribasan, yang bagi masyarakat Jawa merupakan kebijaksanaan lokal (local
wisdom) warisan yang dapat dipergunakan sebagai patokan bagi tingkah laku pribadi dan
kontrol sosial.

Seiring dengan perubahan dan perkembangan jaman, sering kali ungkapan tradisional tidak
relevan lagi untuk diterapkan. Namun demikian sebagai kebijaksanaan (wisdom), ungkapan
tradisional mestinya dimaknai secara positif.

Saat ini sering kali muncul penggunaan ungkapan tradisional yang disikapi secara negatif
sehingga maknanya tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Hal yang demikian inilah yang
sebenarnya perlu ditinjau ulang pemaknaannya, meskipun tidak dapat berlaku bagi semua
ungkapan tradisional.

Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya jawa banyak yang mengandung nilai-nilai positif
kehidupan. Delapan nilai yang dikembangkan ini disebut sebagai “Hasthalaku Solo” (Hastha =
delapan, Laku = nilai perilaku) yakni: Gotong Royong, Grapyak Semanak (ramah tamah),
Guyub Rukun (kerukunan), Lembah Manah (rendah hati), Ewuh pekewuh (saling
menghormati), Pangerten (saling menghargai), Andhap Asor (berbudi luhur), dan Tepa Slira
(tenggang rasa). Delapan nilai tersebut berkaitan erat terhadap nilai-nilai dalam kehidupan
yang harmonis dan toleran.

1. Gotong Royong

Gotong royong berasal dari bahasa Jawa dari kata gotong yang artinya memikul atau
mengangkat dan royong yang artinya bersama-sama. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, gotong royong adalah bekerja bersama-sama secara tolong menolong, bantu
membantu. Dalam bahasa Inggris, gotong royong disebut sebagai mutual assistance.

Gotong royong merupakan istilah asli Indonesia yang menjadi landasan semangat
membangun bangsa. Melalui pidatonya kepada peserta sidang BPUPKI, Presiden Soekarno
menyampaikan makna gotong royong sebagai pembantingan tulang bersama, pemerasan
keringat bersama, dan perjuangan bantu-membantu bersama. Pada Pancasila, semangat
gotong royong tertuang terutama dalam sila ketiga dan sila keempat.

2
Gotong royong sesuai dengan definisi Aristoteles tentang manusia sebagai makhluk sosial
yang tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan manusia lain. Interaksi yang terjadi antara
manusia tersebut diantaranya berbentuk kegotongroyongan.

Gotong royong saat ini jarang digunakan masyarakat untuk menyebut kerja sama, mereka
lebih sering menggunakan istilah cooperate, sharing, dan lain sebagainya. Padahal, semua
kegiatan tersebut merupakan bentuk gotong royong. Sehingga dapat dikatakan bahwa
gotong royong tidak lekang oleh perubahan jaman. Kegiatan penggalangan dana (fundraising)
untuk membantu korban bencana alam misalnya, merupakan istilah modern yang
menggunakan konsep gotong royong. Nilai-nilai gotong royong sebagai budaya Indonesia
merupakan bentuk solidaritas sosial. Sebagai contoh adalah kegiatan bersih desa, kerja bakti,
kirab budaya merupakan bentuk kegotongroyongan masyarakat yang sudah dikenal sejak
jaman dahulu. Bahkan hal itu menjadi karakter bangsa yang turun-temurun diwariskan yang
didalamnya kaya akan nilai edukatif.

Koentjaraningrat membagi gotong royong menjadi dua jenis, gotong royong tolong menolong
dan gotong royong kerja bakti. Gotong royong tolong menolong terjadi pada aktivitas
pertanian, rumah tangga, hajatan atau pesta, perayaan, serta peristiwa bencana. Gotong
royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu yang untuk kepentingan
umum seperti bersih desa.

Gotong royong mustahil dilakukan jika di dalam diri masyarakat tidak ada rasa empati atau
saling mengasihi. Gotong royong perlu tetap dipupuk dan dipelihara sebagai nilai kekayaan
bangsa meskipun zaman berkembang secara cepat. Nilai gotong royong ada dalam Pancasila
yang didalamnya terkandung nilai kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan, serta keadilan
sosial.

Sejarah gotong royong tidak terlepas dari sejarah Indonesia yang sebagian besar
penduduknya petani dan sering melibatkan banyak saduara atau tetangga pada saat
menanam padi maupun panen. Beberapa daerah di Jawa misalnya, dikenal istilah sambatan
yang sering dijumpai pada orang yang memiliki hajat. Sambatan berasal dari kata sambat
yang maknanya meminta pertolongan sehingga melibatkan banyak orang. Ferdinand Tonnies
menyebut istilah gotong royong sebagai gemeinschaft karena masyarakat secara bersama-

3
sama dan sukarela melakukan kegiatan untuk tujuan bersama, meskipun kini sudah banyak
berubah menjadi tidak lagi secara sukarela.

2. Grapyak Semanak

Menurut Baosastra Djawa karya Poerwodarminto, Grapyak artinya seneng aruh-aruh


(menyapa) dan semanak berarti hangat dan mudah akrab 1939: 162, 351). Sikap grapyak
semanak dapat mencerminkan nilai Pancasila yaitu Sila ke-2 Kemanusiaan yang Adil dan
Beradab. Grapyak dan semanak ditunjukkan dengan kebiasaan untuk menyapa kepada
kenalan atau orang yang ditemui. Sikap grapyak semanak adalah sikap pada diri seseorang
yang akrab dalam pergaulan seperti suka senyum, sopan serta hormat dalam berkomunikasi,
suka menyapa, serta suka membantu tanpa pamrih.

Sikap grapyak semanak dapat menjadikan orang yang baru saja ditemui merasa nyaman dan
tidak merasa terasing serta dapat membunuh kejenuhan dan memecahkan kekakuan dan
kebuntuan komunikasi. Sebagai pribadi yang senang berkelompok dan bersahabat manusia
Jawa tidak bisa hidup menyendiri. Mereka bersosialisasi dengan orang lain untuk menjaga
kenyamanan hidup. Oleh karena itu, mereka selalu mencoba menambah kerabat atau
kenalan dan berusaha mempertahankan kekerabatannya dengan membentuk diri sebagai
pribadi yang grapyak dan semanak.

Masyarakat yang memegang tradisi yang mengandung etika moral, nilai-nilai kesopanan, dan
mau menghargai orang lain sebagai bagian dari dirinya. Untuk menjalin kekerabatan dan
keakraban hubungan antarsesama, sangat diperlukan aruh-aruh atau sapa aruh (atau tegur
sapa). Hal itu sesuai dengan pribadi manusia Jawa yang terkenal sebagai pribadi grapyak dan
semanak. Oleh karena itu, manusia Jawa sebaiknya terus membiasakan diri bertegur sapa
terhadap sesama meskipun baru berjumpa atau belum saling kenal. Selain itu, sapa aruh
menjadikan rasa dekat, akrab, dan bersaudara antarorang yang bertegur sapa.

Sapa aruh terhadap sesama tersebut selain sebagai sarana menjalin eratnya hubungan, juga
sebagai sarana untuk menjaga keharmonisan hubungan antarsesama. Kata-kata sederhana
yang biasanya diucapkan sebagai bentuk sapa aruh oleh masyarakat Jawa dalam kehidupan
sehari-hari bila bertemu dengan kenalan adalah kata mangga. Kata mangga biasanya
diucapkan bukan sekadar berupa ucapan saja, melainkan disertai dengan senyuman,
anggukkan, dan gerakan badan berhenti barang sejenak dari aktivitas sebelumnya dengan

4
pandangan mata terarah pada orang yang disapa. Meskipun mengucapkan kata mangga,
bukan berarti bahwa orang yang aruh-aruh bermaksud mengajak orang yang disapa untuk
ikut pergi bersama. Selain kata mangga, orang Jawa biasanya menggunakan kata sapa aruh
badhe tindak pundi atau piyambakan anggenipun tindak. Kata badhe tindak pundi diucapkan
bila bertemu atau melihat kenalan yang sedang akan bepergian. Pilihan kata dalam sapa aruh
tersebut bukan menunjukkan bahwa orang Jawa adalah orang yang bodoh karena sudah tahu
orang mau pergi masih ditanya apakah akan pergi dan bukan pula menunjukkan bahwa orang
Jawa adalah pribadi yang sok ingin tahu kepentingan orang lain.

Budaya jawa membiasakan diri membuka komunikasi dengan orang yang belum dikenal
dengan mohon permisi terlebih dahulu dilanjutkan dengan bertanya tentang asal daerah.
Andai yang diaruhi juga merupaka pribadi yang hangat dan mampu berbahasa Jawa, tidak
mustahil komunikasi akan mengalir lancer. Kehati-hatian dalam berkomunikasi ditunjukkan
dengan maksud tidak ingin menyakiti hati atau menyinggung perasaan orang lain hanya
karena salah ucap.

3. Guyub Rukun

Guyub rukun secara bahasa berasal dari kata berguyub yang bermakna berkumpul,
berkelompok, yang dapat bermakna pula sebagai rukun (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Guyub sendiri dapat bermakna kebersamaan sedangkan rukun bermakna keselarasan,
kehidupan tanpa adanya perselisihan, pertikaian, dan konflik. Apabila digabungkan maka
istilah guyub rukun merupakan sebuah kondisi situasi yang damai, selaras tanpa adanya
pertikaian yang dijaga secara bersama-sama. Konsep guyub rukun dalam Jawa yang
dipaparkan oleh Suseno merujuk pada kata rukun yang berarti keselarasan, keadaan yang
damai, suka bekerja sama, saling membantu, saling menerima, dalam suasana tenang dan
sepakat.

Rukun adalah keadaan ideal yang diharapkan dapat dipertahankan dalam kehidupan sosial.
Masyarakat Jawa memandang, permasalahan tidak terletak pada penciptaan keadaan
keselarasan sosial melainkan lebih kepada tidak mengganggu keselarasan yang sudah ada.
Secara leksikal, kerukunan sepadan dengan kata harmoni yang dalam bahasa Inggris kerap
diasosiasikan dengan inter-religious harmony (kerukunan antar umat beragama).

5
Guyub rukun merupakan bentuk cerminan dari Pancasila. Ketakwaan dan keimanan kepada
Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana sila pertama akan membuat seseorang takut berbuat
radikal, intoleran dan sikap merugikan lain yang merusak kerukunan. Menjunjung tinggi hidup
yang sesuai sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab akan mendorong seseorang
untuk berlaku adil, respect terhadap orang lain apapun latar belakangnya, dan lebih
manusiawi dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga dengan sila ketiga dimana seseorang
yang menjaga kerukunan berarti ia juga mengutamakan terjaganya persatuan, tidak
memaksakan pemikirannya kepada orang lain. Sedangkan sila keempat menjelaskan
pentingnya menjaga kerukunan tidak hanya kepada sesama warga masyarakat tetapi juga
kepada pemerintah. Berusaha menghormati dan melaksanakan perannya sebagai warga
negara dan mendukung program positif pemerintah demi kemaslahatan bersama.

Sila kelima atau terakhir, menjelaskan sikap adil dan beradab yang artinya seseorang dalam
kehidupan yang plural tidak bisa hanya mendukung kelompoknya, ia juga harus menghormati
keputusan-keputusan dan perbedaan kelompok lain dengan cara hidup rukun, tidak saling
mencari kesalahan satu sama lain.

Budaya Jawa mengenal pepatah rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah yang berarti bahwa
kerukunan akan menciptakan kedamaian, keharmonisan dan kesejahteraan, sedangkan
pertikaian akan menciptakan perpecahan dan disharmonisasi antar sesama. Guyub ruku
digambarkan sebagai situasi ideal dimana masyarakat hidup dalam keharmonisan, bukan
karena semua sama tetapi mampu menyelaraskan keberagaman ke dalam satu situasi yang
diperjuangkan bersama. Guyub rukun hanya dapat dicapai jika keseluruhan komunitas
masyarakat menjaga kestabilan dan keharmonisan.

Kerukunan berarti hidup dalam suasana baik dan damai, tidak bertengkar dan bersepakat
antar umat yang berbeda-beda baik suku, agama, ras, etnis, dan lain sebagainya. Kerukunan
sudah sejak lama diperhatikan oleh pemerintah sebagai elemen kunci dalam menjaga
stabilitas politik dan ekonomi karena kondisi masyarakat di Indonesia sangat beragam.
Menurut A. Mukti Ali, Menteri Agama RI 1971-1978, kerukunan hidup beragama adalah suatu
kondisi sosial dimana semua golongan agama bisa hidup bersama-sama tanpa mengurangi
hak dasar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Hal ini terkait jelas
dengan unsur keberagaman yaitu agama. Menurut Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama
RI 2014-2019, bahwa setiap orang yang berasal dari kelompok agama manapun dan apakah
6
negara mengakui keyakinan keagamaannya atau tidak, berhak memperoleh perlindungan
negara, karena yang lebih penting adalah bagaimana negara memenuhi hak-hak sipil dan
melindungi semua kelompok umat beragama.

4. Lembah manah

Sikap lembah manah adalah sikap seseorang yang tidak merasa lebih dari orang lain. Sikap
lembah manah mencerminkan nilai Pancasila pada sila ke-2 yaitu Kemanusiaan yang Adil dan
Beradab. Seseorang yang memiliki sikap lembah manah dapat memposisikan dirinya sama
dengan orang lain, tidak merasa lebih pintar, mahir, baik, atau menyombongkan jabatan yang
dimilikinya sehingga dapat menghargai orang lain. Hal tersebut menjadikan seseorang yang
mempunyai sikap lembah manah tidak akan meremehkan orang lain serta tidak akan bersikap
sombong atas apa yang dimiliki.

Seseorang yang telah memiliki sikap lembah manah atau rendah hati memandang orang lain
sama sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki keistimewaan dan keunikan masing-masing
sehingga dapat merasakan pentingnya orang lain di dalam kehidupannya. Perbedaan yang
ada merupakan suatu hal yang seharusnya dihargai. Rendah hati bukan berarti harus
merendahkan diri dan menutup diri, akan tetapi dapat mendengarkan, berbagi, serta
berempati dengan orang lain sehingga akan terjalin hubungan dua arah yang harmonis. Setiap
manusia diciptakan Tuhan dengan berbeda, maka setiap orang harus dapat menghormati dan
menghargai hal tersebut dengan cara rendah hati. Sikap lembah manah sudah mulai hilang
pada saat sekarang ini. Orang-orang lebih mementingkan dirinya sendiri tanpa mau melihat
kepentingan orang lain. Seharusnya sikap lembah manah ini perlu dimiliki oleh seseorang
untuk dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Sikap lembah manah merupakan suatu sikap yang sangat perlu untuk dikembangkan dalam
kehidupan, baik di keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Jika sikap lembah manah
senantiasa dikembangkan dalam hidup sehari-hari maka akan memberikan manfaat bagi diri
sendiri maupun orang lain.

Lembah manah menjadi penting bagi seseorang karena akan memberikan manfaat bagi orang
tersebut. Seseorang yang memiliki sikap lembah manah akan mempunyai banyak teman
karena ia dapat menghargai orang lain. Orang lain menganggap bahwa orang yang memiliki
sikap lembah manah dapat memberikan dampak positif dalam pertemanannya. Selain itu,

7
orang lain juga lebih simpatik dan lebih menghormati. Hal itu dikarenakan, seseorang yang
memiliki sikap lembah manah tidak pernah menyombongkan kelebihan yang dimilikinya
karena sikap sombong tidak disukai oleh banyak orang. Sikap lembah manah juga dapat
menjadikan hati seseorang menjadi lebih tentram dan tenang karena tidak menyombongkan
apa yang dimilikinya.

5. Ewuh Pekewuh

Geertz (1961) menyebutkan bahwa ewuh pakewuh terkait dengan perilaku kesopanan
seseorang. Indikator kesopanan orang Jawa adalah tidak melakukan penolakan seperti
mengatakan “tidak” pada perintah atau permintaan seseorang. Tobing (2010) menyatakan
bahwa ewuh pakewuh dapat muncul akibat individu sudah mengenal atau banyak menerima
suatu kebaikan dari orang lain sehingga bagi individu itu akan sulit untuk menolak atau
mengabaikan permintaan orang tersebut. Ewuh pakewuh biasanya cenderung dihadapi orang
yang lebih muda terhadap orang yang lebih tua. Soeharjono (2011) mendefinisikan ewuh
pakewuh sebagai sikap sungkan atau rasa segan serta menjunjung tinggi rasa hormat.
Menurut Tobing (2010), ewuh pakewuh yang merupakan nilai dalam masyarakat Jawa terdiri
dari beberapa prinsip yang sangat erat hubungannya dengan aspek-aspek dalam ewuh
pakewuh, yaitu prinsip kerukunan dan prinsip hormat.

Harry (2013) budaya birokrasi ewuh pakewuh, yaitu pola sikap sopan santun di lingkungan
birokrasi yang dilakukan oleh pegawai atau pejabat selaku bawahan yang segan atau sungkan
menyatakan pendapatnya yang mungkin bersifat bertentangan, demi menghindari konflik
dan menjaga jalinan hubungan baik dengan para atasan atau senior mereka yang dianggap
lebih tinggi kedudukan sosialnya. Perubahan budaya kerja ewuh pakewuh ini hanya
dimungkinkan apabila para pejabat yang menjadi atasan bersedia menerapkan budaya kerja
egaliter (Himawan, 2005; Jufri, 2006; Kurniawan, 2007; Herliany, 2008; Enceng, 2008; Gaffar,
2008; Febrianda, 2009).

6. Pangerten

Dalam budaya Jawa, pangerten adalah kunci utama dari kehidupan bermasyarakat.
Pangerten yang dalam bahasa indonesia berarti pengertian atau peka akan kondisi sesama
merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari diri kita sebagai manusia

8
Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan berbagai perbedaan. Sebagai masyarakat yang
majemuk, masing-masing anggota masyarakat dituntut untuk dapat hidup dengan orang lain
yang memiliki perbedaan tersebut. Perbedaan yang ada di dalam masyarakat hendaknya
dipandang sebagai rahmat Tuhan yang harus disyukuri. Perbedaan yang ada pada diri kita
maupun orang lain dapat dimanfaatkan untuk menyempurnakan diri. Hal semacam ini hanya
mungkin terjadi apabila tiap-tiap manusia memiliki sikap saling menghargai satu sama lain.

Emory Bogardus (1989) menyatakan bahwa sikap adalah suatu kecenderungan bertindak
kearah atau menolak suatu faktor lingkungan. Secara etimologi menghargai berarti memberi,
menilai, menghormati, mengindahkan, memandang penting (bermanfaat, berguna).
Menghargai orang lain berarti menghargai dan mengindahkan hak asasi diri sendiri dan hak
asasi orang lain. Dapat disimpulkan bahwa sikap menghargai adalah kecenderungan
seseorang untuk bereaksi dalam menghormati atau memandang penting orang lain.

Pentingnya menjalankan hidup penuh toleransi ditengah-tengah kemajemukan, serta mau


mendengar dan menerima pendapat orang lain lalu mempertimbangkannya secara cermat.
Manakala pendapat orang tersebut lebih tepat, benar, mendasar, sementara pendapat kita
sendiri tidak demikian, maka hendaknya mengakui dan menerimanya dengan lapang dada,
apalagi pendapat tersebut didukung dengan fakta dan bukti yang kuat, sehingga tidak ada
alasannya bagi kita untuk tidak menerima argumentasi tersebut, disinilah dibutuhkan
kebesaran hati untuk menerima pendapat orang lain. Konsep pangerten ini berbeda dengan
konsep tepa slira dan ewuh pakewuh. Meskipun serupa, konsep pangerten ini memiliki
karakteristik yang lebih membumi, tulus, dan tidak mengharapkan imbal balik.

7. Andhap asor

Sikap andhap asor saat ini sudah mulai langka dan sulit ditemukan dalam pembelajaran di
sekolah- sekolah. Walaupun sebenarnya masih ada atau diajarkan namun karena memiliki
porsi kecil bahkan terkadang hanya sebagai formalitas dalam format penilaian. Sikap andhap
asor yang sebenarnya merupakan bagian penting dalam rangka melestarikan budaya bangsa
yang luhur yakni pembentuk moral, perilaku, perangai, tabiat serta akhlaq yang baik dan bijak
berdasarkan paduan akal dan perasaan yang baik juga terpuji bahkan menghindarkan diri dari
perilaku tercela dan buruk. Pentingnya sikap andhap asor bagi kita dan generasi penerus kita
agar dapat tetap menjunjung tinggi budaya atau tradisi luhur bangsa kita dan kebaikan hidup

9
bersama. Apabila semua orang sadar dan mau memahami serta mengamalkan nilai-nilai dan
budi luhur dalam kehidupannya sehari-hari dengan baik dan benar sehingga anak akan
menirukan perilaku tersebut maka tidak akan lagi krisis moral dalam negara kita ini. Berbicara
memang mudah dan melakukan tidak semudah berbicara. Manusia sebagai makhluk sosial
harus dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar dengan baik. Sikap andhap asor
diperlukan agar dapat menjadi seseorang yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan
sekitarnya. Karakteristik yang dimiliki oleh orang yang andhap asor yaitu ketika berbicara
dengan orang lain menggunakan bahasa yang baik serta sopan. Dalam berbicara dengan
orang lain harus menekankan tata krama, berbicara dengan nada yang baik dan kata-kata
yang enak didengar. Selain itu juga harus dapat menyesuaikan kondisi dan situasi
pembicaraan dan lawan bicara.

Sikap andhap asor juga dapat terlihat ketika seseorang jujur dan dapat dipercaya. Walaupun
menjadi orang jujur tidak mudah karena terkadang akan mendatangkan orang-orang yang
tidak suka dengan kejujuran tersebut. Kejujuran dapat membuat orang menjadi percaya
sehingga tidak timbul konflik di masa yang akan datang sehingga keharmonisan akan tetap
terjaga.

Sebenarnya, lembah manah dan andhap asor bermakna sama yakni rendah hati. Keduanya
dihadirkan bersama-sama sebagai bentuk penyangatan terhadap pentingnya sikap rendah
hati orang Jawa. Kerendahan hati orang Jawa dapat terefleksi dari sikap dan ucap. Sikap
terkaitan dengan perilaku yang sopan, dan ucap dengan tutur kata yang santun. Pemimpin
menjadi ‘juru bicara” (spokesman) kelompoknya (speaking for the group). Sementara itu, ia
harus dapat merasakan dan menerangkan kebutuhan kelompok ke dunia di luarnya, yaitu
baik mengenai sikap kelompok maupun mengenai harapan, tujuan dan kekhawatiran
kelompok. Untuk dapat menjadi juru bicara dari kelompok itu, ia harus dapat menafsirkan
sendiri dimana letak kebutuhan kelompok secara tepat.

Sikap hidup orang Jawa menjaga hubungan sosial dengan orang lain. Untaian kata tersebut
terdiri atas kata lembah (rendah), manah (hati – bentuk karma dari kata ati (hati) , lan (dan),
andhap (rendah – bentuk karma dari kata cendhek (rendah), dan asor (hina, rendah, bawah,
jelek – bentuk karma dari elek (jelek, hina), ngisor (bawah). Sebagai untaian kata yang sudah
maton (tetep, ajeg), ungkapan itu tidak lazim diubah menjadi bentuk ngoko sehingga menjadi
lembah ati atau cendhek ati, karena tidak pas dan tidak mengungkapkan makna yang
10
semestinya. Ungkapan itu harus tetap diucapkan lembah manah atau andhap asor (rendah
hati).

8. Tepa Selira

Bagi orang Jawa, segala bentuk sikap yang akan disampaikan pada dan untuk orang lain, lebih
dulu dinilai tingkat kebenarannya melalui pertimbangan yang berupa konsekuensi logis yang
akan terjadi bila bentuk sikap yang akan disampaikan itu terjadi pada dirinya sendiri.
Konsekuensi logis, dalam hal ini menyangkut perasaan terhadap apa yang mungkin dirasakan
oleh orang lain. Orang Jawa mengenal konsep ini dengan ungkapan tradisional yang disebut
tepa selira (cermin diri).

Tepa selira merupakan bagian dari konsep tentang rasa dalam kehidupan orang Jawa.
Menurut Mulder (1996: 23), rasa dapat dilukiskan sebagai perasaan dalam atau intuisi. Rasa
dapat berarti cita rasa dan perasaan, namun juga dapat berarti hakikat atau sifat dasar
sesuatu benda. Yang dikategorikan rasa adalah yang bukan sekedar rasional, tetapi lebih dari
itu, ialah yang berhubungan dengan hati. Kata berpikir, dalam bahasa Jawa sering kali
diucapkan dengan istilah penggalih atau manah yang lebih menekankan perasaan hati
sekaligus rasio.

Dengan demikian sikap tepa selira merupakan hasil dari penggalihan atau manah itu, atau
hasil dari logika berpikir sekaligus perasaan hati. Konsep yang mirip dengan tepa selira dalam
bahasa Indonesia dikenal dengan konsep mawas diri. Pada kesempatan ini perlu ditekankan
bahwa konsep tepa selira sedikit berbeda dengan mawas diri. Mawas diri terutama
berimplikasi pada dirinya sendiri. Setiap perbaikan yang dihasilkan oleh sikap mawas diri,
terutama diterima dan dirasakan oleh dirinya sendiri. .Sedang konsep tepa selira lebih
mengarah pada fungsi sosial, yakni diterapkan bagi orang lain. Sikap yang dihasilkan oleh
tindakan yang mengacu pada konsep tepa selira, terutama diterima dan dirasakan oleh orang
lain.

Melalui konsep tepa selira inilah segala sesuatu yang ada pada orang lain dapat dirasakan
seakan-akan sebagai sesuatu yang menjadi miliknya sendiri. Oleh karena itu pula berbagai cap
atau penilaian negatif terhadap segala sesuatu yang ada pada orang lain, akan dithinthingi
atau dicobarasakan sebagai nilai yang menimpa dirinya sendiri. Konsep tepa selira inilah yang
relatif dominan mendasari sikap toleransi. Dalam bentuk yang lain konsep tepa selira sering

11
diucapkan dalam bentuk pengharapan dari orang lain sebagai pelaku, yakni mbok ya sing
tepa-tepa (semestinya kita bersikap tepa selira) atau dengan istilah yen dijiwit iku krasa lara
ya aja njiwit liyan (kalau kita dicubit itu terasa sakit ya jangan mencubit orang lain).

Daftar Referensi

Abdullah, I. (2000, 22 Juni). Kondisi Sosial dan Bayangan Disintegrasi Tanpa Ujung dalam
Indonesia Abad XXI. Kompas.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (2018).
Fauzi, I.A., Rafsadi, I., Sila, M.A., Sumaktoyo, N.G., Nuraniyah, N., Maarif, S., Jaffrey, S.,
Solahudin & Bagir, Z.A. (2017). Kebebasan, Toleransi dan Terorisme (Riset dan Kebijakan
Agama di Indonesia). Jakarta: Pusat Studi Agama dan Demokrasi Yayasan Paramadina.
Hamdi, A.Z. & Muktafi. (2017). Wacana dan Praktik Pluralisme Keagamaan di Indonesia.
Jakarta: Daulat Press.
Hayat, B. (2012). Mengelola Kemajemukan Umat Beragama. Jakarta: PT. Saadah Cipta
Mandiri.
Nuh, N.M. (2011). Dimensi-Dimensi Kehidupan Beragama: Studi tentang Paham/Aliran
Keagamaan, Dakwah dan Kerukunan. Jakarta: Kementerian Agama RI, Badan Litbang dan
Puslitbang Kehidupan Keagamaan.
Rahmi, D.H., Wibisono, B.H. & Setiawan, B. (2017). Rukun and gotong royong: Managing
public places in an Indonesian kampung. Public Places in Asia Pacific Cities, 60, pp. 119-134.
Soekanto, S. (2000). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Radja Grafindo Persada.
Suseno, F.M. (1996). Etika Jawa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Baron, R.A., Byrne, D. & Brascombe, R.N. (2006). Social Psychology (11th edition). USA: Allyn
& Bacon.
Bowen, J.R. (1986). On the political construction of tradition: gotong royong in Indonesia. The
Journal of Asian Studies, 45(3), pp. 545-561.
Ciputraceo.com. (2016, Februari 15). Gotong royong dan manfaat gotong royong bagi
kehidupan. Diperoleh pada 16 Mei 2018 dari http://ciputrauceo.net/blog/2016/2/15/gotong-
royong-dan-manfaat-gotong-royong-bagi-kehidupan
Dayakisni, T. & Hudainah. (2003). Psikologi Sosial. Malang: UMM Press.
Irfan, M. (2016). Crowdfunding sebagai pemaknaan energi gotong royong terbarukan. Social
Work Jurnal, 6(1), pp. 30 – 42.
Koentjaraningrat (2000). Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

12
Mussen, P.H., Bieber, S.L., Eichorn, D.H., Honzikm M.P. & Meredith, W.M. (1980). Continuity
and change in women characteristics over four decades. International Journal of Behavioral
Development. 3, pp. 333-347.
Sari, A.M. (2015). Menegakkan tradisi kerja bakti sebagai bentuk revitalisasi nilai gotong
royong. Departemen Pendidikan Sastra Jepang Universitas Airlangga.
Bertens, K (2002). Etika. Gramedia, Jakarta. Endraswara,
Suwardi (2010). Buku Pinter Budaya Jawa: Mutiara Adiluhung Orang Jawa. Yogyakarta:
Gelombang Pasang. Menjadi_Berguna_dan_Berkompeten.
Koentjaraningrat (1974). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Poerwadarminta, W.J.S Baoesastra Djawa. Batavia:
J.B. Wolters Uitgevers Maatschappij. Suseno, F.M Etika Jawa. Jakarta: Gramedia
Widianto, Bambang dan Iwan Meulia Pirous Perspektif Budaya: Kumpulan Tulisan
Koentjaraningrat Memorial Lectures I-V/ Jakarta: Rajawali Pers. 248
Warih Jatirahayu, KEARIFAN LOKAL JAWA SEBAGAI BASIS KARAKTER KEPEMIMPINAN,
Disklus, Edisi XVII, Nomor 1, 2013.

13