Anda di halaman 1dari 9

Sya’ir Hikmah Zuhair Bin Ibnu Abi Sulma

Tugas ini diajukan untuk memenuhi tugas pra makalah mata kuliah Dirasat Syi’riyah

Disusun oleh :
Tria Nurlaela
11170210000031

Dosen Pembimbing :
Titi Farhanah M.Ag, Phd

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Fakultas Adab dan Humaniora
Bahasa dan Sastra Arab
2019

.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Puisi (syair) pada masa jahiliah mempunyai kedudukan sangat tinggi dalam peradaban
mereka, tidak hanya pada masa jahiliah tetapi pada masa Islam, pada masa khalifah dan daulah
islamiah sampai sekarang kepada kita puisi mempunyai tempat yang teramat special dihati
masyarkat arab secara global. Bisa dikatakan bahwa puisilah menjadi identitas kemurniaan sastra
arab yang diwariskan dari pendahulu mereka. Lebih dari itu puisi arab terutama puisi pada masa
jahiliah dijadikan rujukan sejarah bagi masyarakat dan perabadan terdahulu bangsa arab yang
paling utama dan di jadikan sumber otentik untuk mengetahui dan meneliti bukti sejarah
(disamping al quran dan kitab injil umat nasrani) karena bisa diasumsikan bahwa puisi-puisi pada
masa jahiliah adalah bukti sejarah yang riil yang sampai kepada kita melihat dari itu banyak bukti-
bukti sejarah seperti bangunan-bangunan, prasasti-prasasti mereka cepat rusak dimakan zaman.
Tidak sedikit dari para pakar sejarah merujuk kepada puisi-puisi klasik untuk mencari sumber
bangsa arab terdahulu terutama pada puisi-puisi arab jahiliyah.

Kendati pada masa ini disebut masa jahiliah, tetapi mereka mempunyai kebudayaan dan
peradaban tinggi. Bersyair merupakan sebuah karya yang sangat orisinil bangsa Arab pada masa
itu menjadi sumber hukum, yang pertama. Baru setelah datangnya masa Islam semua itu berobah
total. Islam sebagai rahmatan lil alamin dengan quran dan hadis sebagai sumber hukumnya,
menyeru kepada kebaikan, menghormati sesama jenis, saling mencintai dan saling mengenal, yang
bertitik beratkan kepada aspek moral yakni makarimal akhlak. pada masa islamlah bangsa arab
menjadi bangsa besar yang telah menaklukan emperium bangsa romawi dan emperium bangsa
persia yang menjadi sumber peradaban dunia.

Puisi adalah untaian kata-kata berirama yang terikat pada wazan, bahr dan qafiah tertentu.
Pada masa ini puisi haruslah mempunyai pemilihan kata (diksi) dan imajinasi yang kuat supaya
terciptanya suatu karya puisi yang abadi, mempunyai bentuk ungkapan yang mengesankan dan
mendalam bagi mereka. disamping itu puisi harus mencerminkan keaadan masyarkat pada waktu

.
itu supaya ada nilai yang melekat di hati mereka dan menjadi puisi yang popular dikenang
sepanjang masa.

Melihat dari totalitas esensi puisi pada masa jahiliah puisinya singkat, bahasanya padat,
dan ketika membuat suatu perumpamaan dalam berpuisi mereka selalu membuat perumpamaan
yang langsung di lihat dengan mata telanjang, jauh dari uslub yang berlebihan ini sesuai dengan
tabiat mereka, tabiaat mayarakat pada masya jahiliah yang hidupnya simple. seluruh syair arab
jahili berbentuk hurufnya muqofa (huruf ujungnya sama) bahkan qafiayah ini bukan hanya pada
syair saja, tetapi kalimat-kalimat keagamaan dan kalimat-kalimat lainnya yang dianggap penting
yang tidak terikat oleh kaidah-kaidah syair dalam arti sempit seperti ungkapan peramal, para ahli
hikmah, orasi kadang berbentuk muqofa.

Sebagaimana telah dipaparkan diatas, puisi memiliki kedudukan penting dalam khazanah
perdaban bangsa arab terutama masyarakat jahiliah pada waktu itu sangat menyukai puisi, itu
brimbas kepada para penyair sebagai pencipta puisi yang otomatis dalam kehidupan masyarakat
pada waktu itu mendapatkan posisi yang tinggi derajatnya. Para penyair pada masyarakat jahiliah
merupakan kaum intelektual yang otomatis menguasai ilmu bahasa terutama baca tulis yang
kebanyakan dari bangsa arab adalah ummi/buta huruf. Disamping itu sebagian besar para penyair
pada waktu itu menguasai ilmu-ilmu yang notabene penting dan sangat dibutuhkan pada masanya
seperti ilmu perbintangan, nasab, perdukunan, tanda jajak dan lain – lain.

Seni paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah
sekian lama tersumbat. Oleh karena itu, seni untuk seni adalah sebuah rekayasa cerdas dari
kebobrokan yang mengecoh dan menipu agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan
kekuatan.
Seni harus menghayati manusia dan segala kehidupannya. Di samping memberi rasa
nikmat, seni harus dapat memandu pikiran manusia. Oleh karena itu, tak disangsikan bahwa seni
ekspresi estetik paling hulu adalah puisi. Induk segala bentuk ekspresi sastrawi, dan belum ada
yang melampauinya. Itu sebabnya, penyair Arab pada masa jahiliyah mempunyai posisi sosial
yang tinggi. Mereka termasuk para elite yang sangat diperhitungkan dalam kabilah. Dengan puisi,
mereka mengungkapkan kebesaran kabilah. Dengan puisi, mereka sanggah dan mereka lawan tipu
daya musuh.

.
Kekuatan puisi bisa mengobarkan semangat juang di masa perang, tetapi sekaligus dapat
menciptakan suasana teduh dalam masyarakat. Karena posisi penyair yang demikian itu, maka
kabilah-kabilah sangat bangga dan sangat menghormati para penyair yang muncul di kabilahnya.
Penjamuan bagi para penyair sangat besar. Sebagai elit, mereka mempunyai kelebihan, baik dalam
segi pengetahuan, wawasan maupun dalam segi pengaruh di tengah-tengah masyarakat.
Dalam makalah ini akan dibahas syair dari salah satu penyair pada masa jahiliyyah yang
terkenal dengan syiir-syiirnya yang bertemakan al-Hikam (kata-kata hikmah / kata-kata mutiara).
Dia adalah Zuhair bin Abi Sulma, merupakan salah satu dari tujuh pujangga Muallaqat yang
terkenal itu.

1.2 Rumusan Masalah


1. Siapakah Zuhair bin Ibnu Abi Sulma?
2. Bagaimana syiir hikmah Zuhair bin Ibnu Abi Sulma serta analisisnya ?

1.3 Tujuan Pembahasan


1. Untuk mengetahui siapakah Zuhair bin Ibnu Abi Sulma
2. Untuk mengetahui bagaimana syiir hikmah Zuhair bin Ibnu Abi Sulma

1.4 Teori dan Metodelogi


1.4.1 Teori
Pada makalah ini saya memaparkan salah satu aghrad ( tema ) Syair Zuhair bin Ibnu Abi
Sulma yaitu, Syair hikmah, syair hikmah bisa didefinisikan sebagai syair kebijaksaan atau
puisi petuah bijak. jenis puisi seperti ini biasanya berisi tentang pelajaran kehidupan yang
baik pada masa jahiliah.
1.4.2 Metodelogi
Dengan makalah yang saya buat mengenai Syair hikmah Zuhair bin Ibnu Abi Sulma maka
berikut beberapa literatur yang saya gunakan :
 Zuhair bin Ibnu Abi Sulma Hayatuhu Wa Syi’ruhu karangan Muhammad Yusuf
Farran
 Tarikh Al Adab Al Arobi karya Syauqi Dhaif

.
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Zuhair bin Abi Sulma

Nama lengkapnya adalah Zuhair bin Abi Sulma Rabi’ah bin Rayyah al-Muzani. Zuhair
ibnu Abi Sulma termasuk ke dalam tokoh sastrawan Arab Jahiliyah periode awal. Ia adalah salah
seorang dari tiga serangkai dari penyair Jahiliyyah setelah Umru al-Qais dan An-Nabighah az-
Zibyani. Ayahnya bernama Rabi’ah yang berasal dari kabilah Muzainah. Pada zaman Jahiliyyah
kabilah ini hidup berdekatan dengan kabilah bani Abdullah Ghatafaniyyah, yang dimana mereka
menghuni di daerah Hajir, Nejed, sebelah timur kota Madinah. Kabilah ini juga bertetangga
dengan kabilah Bani Murrah bin Auf bin Saad bin Zubyan, saudara-saudara ayahnya1. Zuhair amat
terkenal karena kesopanan kata-kata puisinya. Pemikirannya banyak mengandung hikmah dan
nasehat. Sehingga banyak orang yang menjadikan puisi-puisinya itu sebagai contoh hikmah dan
nasehat yang bijaksana.
Rabi’ah bersama isteri dan anak-anaknya tinggal dalam lingkungan kabilah Bani Murrah
(kabilah Zubyan) dan kabilah Bani Abdullah Ghatafaniyyah. Setelah ayahnya meninggal, ibunya
menikah lagi dengan Aus bin Hujr, seorang penyair terkenal dari Bani Tamim. Sementara Zuhair
dan saudara-saudaranya, Sulma dan al-Khansa`, diasuh oleh Basyamah bin al-Ghadir, paman
mereka yang juga seorang penyair. Dengan demikian Zuhair adalah keturunan kabilah Muzainah
yang dibesarkan di tengah-tengah kabilah Bani Ghatafaniyyah.
Buku-buku sejarah sastra klasik, maupun penelitian-penelitian terbaru tidak banyak
menceritakan tentang kehidupan Zuhair kecil, selain bahwa ia hidup dan tinggal di lingkungan
Bani Abdillah ibnu Ghathfan dan paman-pamannya dari Bani Murrah kabilah Dzubyan. Zuhair
tumbuh berkembang di bawah pemeliharaan pamannya yang bernama Basyamah ibnu al-Ghadîr
seorang penyair hebat sekaligus pemimpin yang dihormati lagi kaya. Saat meninggal dunia,
Basyamah mewariskan kemuliaan dan akhlak yang baik kepada Zuhair, di samping keahlian dalam
menggubah syair. Selain dari pamannya Basyamah, kepandaian Zuhair dalam menggubah syair
juga diperoleh dari suami ibunya yang bernama Aus ibnu Hajar seorang penyair yang sangat
terkenal dan menjadi guru sejumlah penyair pada masa itu seperti al-Nabighah al-Dzubyani. Bakat
dan kecerdasan yang dimiliki Zuhair menarik perhatian Aus, sehingga ia memberikan perhatian
lebih pada Zuhair, dan Zuhair banyak mengambil pelajaran syair yang bagus darinya. (Yusuf
Farran, 1990: 33-34)

1 Syauqi Dlaif, Târikh al-Adab al-Arabi; al-‘Ashr al-Jâhili, (tp: Dâr al-Ma’ârif, 1965), hlm. 300.

.
C. Syair Hikmah Zuhair Bin Abi Sulma

Zuhair tumbuh di sebuah rumah yang diliputi aura syair. Ayahnya yang bernama Rabi’ah
ibnu Rabah adalah seorang penyair. Demikian pula pamannya yang bernama Basyamah ibnu al-
Ghadir dan juga suami ibunya yang bernama Aus ibnu Hajar, keduanya merupakan penyair
Jahiliyah yang terkenal. Selain itu, kedua saudara perempuannya, yaitu Salma dan al-Khansa,
keduanya penyair perempuan yang terkenal saat itu. Zuhair juga dikaruniai dua orang anak laki-
laki yang juga menjadi penyair terkenal hingga masa Islam, yakni Ka’ab dan Bajirah. Dan
lingkungan seperti ini tidak dimiliki penyair lain semasanya (Hasan al-Zayyat, 2005: 42).
Adapun yang disebut dengan syair hikmah adalah puisi petuah bijak. jenis puisi seperti ini
biasanya berisi tentang pelajaran kehidupan yang baik pada masa jahiliah.

Syair Hikmah Zuhair bin Abi Sulma:

‫ ثمانين حوال الأبالك يسأم‬# ‫سئمت تكاليف الحياة ومن يعش‬


‫ ولكننى عن علم ما في غد عم‬# ‫واعلم ما في اليوم وألمس قبله‬
‫ تمته ومن تهتئ يعمرفيهرم‬# ‫رأيت المنايا خبط عشواء من تصب‬
‫ يفره ومن اليتق الشتم يشتم‬# ‫ومن يجعل المعروف من دون عرضه‬
‫ اء لى مطمئن البراليتجمجم‬# ‫ومن يوف ال يذمم ومن يهد قلبه‬
‫ واء ن يرق اسباب السماء بسلم‬# ‫ومن هاب اسباب المنايا ينلنه‬
‫ يكن حمده ذما عليه ويندم‬# ‫ومن يجعل المعروف في غير أهله‬
‫ اء ذا هو أبد ما يقول من الفم‬# ‫ألن لسان مرء مفتاح قلبه‬
‫ فلم يبق اءال صورة اللحم والدم‬# ‫لسان الفتى نصف ونصف فؤاده‬

Artinya : “Aku telah jemu dengan beban hidup, dan barang siapa yang berumur sampai delapan
puluh tahun, pasti ia akan jemu dengan beban hidupnya, aku dapat mengetahui segala yang terjadi
pada hari ini dan kemarin tetapi aku tetap tak tahu akan hari esok, aku melihat maut itu datang
tanpa permisi terlebih dahulu barang siapa yang didatangi pasti mati dan siapa yang luput diakan
lanjut usia, barang siapa yang selalu menjaga kehormatannya maka di akan terhormat dan siapa
yang tidak menghindari cercaan orang di akan tercela, barang siapa yang menempati janji akan

.
tercela barang siapa yang terpimpin hatinya maka ia akan selalu berbuat baik, barang siapa yang
takut mati pasti dia akan bertemu juga dengan maut walaupun ia naik ke langit dengan tangga
(melarikan diri), barang siapa orang yang menolong tidak berhak ditolong maka dia akan
menerima resikonya dan akan menjadikan penyesalan baginya.”

C. Analisis Syair Hikmah Zuhair


Dalam syair diatas jelas sekali nas yang menunjukkan ciri khas syi’ir jahili, semi tabiat-
tabiat jahili. Hal itu terlihat bagaimana caranya menggambarkan keadaan sesuatu dalam bentuk
kata-kata dalam syairnya. Sangat jelas penggambaran Zuhair tentang datangnya kematian yang

tanpa permisi dengan kalimat ‫شواء‬ َ ‫(خَب‬unta buta yang berjalan tanpa arah tujuan), barang
َ ‫ط َع‬
siapa yang didatangi pasti akan mati, dan barang siapa yang luput dia akan mengalami lanjut usia.
Selain itu juga terlihat dalam ajakanya untuk mengkhususkan / memilah-milah dalam melakukan
kebaikan. Padahal kita tahu bahwa dalam syiar islam dianjurkan melakukan kebaikan pada
siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Kemudian terlihat juga ciri kejahiliyahanya syi’ir ini
pada kalimat yang menunjukkan ajakanya menggunakan pedang/senjata untuk membela
kemuliaan dan kehormatan kabilahnya, hal ini menunjukkan tidak adanya hukum, tidak adanya
aturan, tidak adanya undang-undang. Bahkan iya menguatkan dengan ungkapanya bahwa barang
siapa yang tidak bisa menindas orang lain, maka ialah yang akan ditindas nantinya. Hal ini
berlawanan sekali dengan syariat islam yang menganjurkan untuk saling tolong menolong dan
saling mengasihi.
Semua itu memang merupakan hal yang lumrah yang terjadi dalam kalangan masyarakat
jahiliyah yang sangat berlawanan dengan syariat-syariat islam yang mengagungkan akhlak yang
mulia. Selain itu juga terlihat sifat jahiliyah dari syi’ir ini dalam penggambaranya tentang tangga
untuk naik menuju langit.
Dari sisi uslub bahasanya syi’ir ini juga menunjukkan seperti apa ciri khas syi’ir-syi’ir
jahiliy. Dari pemilihan kata, cara penyusunanya, dan maknanya yang tidak memiliki keruntutan.
Dari segi maknanya yang menjelaskan cara bagaimana berperang, tidak menjelaskan bagaimana
cara hidup berbudaya, berfikir, dan memahami hakikat kehidupan serta kehormatan yang miulia.
Semua itu menunjukkan pada ciri-ciri syair jahiliy, menunjukkan uslub bahasa zuhair yang seorang

.
penyair baduiy jahiliy. Ia mengambil ungkapan-ungkapan untuk menyusun syairnya dari jiwa

baduinya seperti kalimat-kalimat : ‫ء‬


َ ‫شوا‬
َ ‫َع‬ َ ‫خَب‬, ‫ َي ِفره‬, ‫ َال َيت َ َجم َج ِم‬, dan lainnya.
‫ط‬
1. Manusia itu berada pada misteri kehidupan yang membingungkan, ia bisa mengetahui hal yang
sedang dan telah terjadi, namun ia buta terhadap apa yang akan terjadi dimasa depan.
2. Kematian adalah misteri yang amat besar, ia menghampiri manusia dengan tanpa permisi,
barang siapa yang didatanginya pasti akan mati, dan barang siapa yang luput dari kehadiranya
maka ia akan hidup sampai lanjut usia.
3. Manusia itu harus mampu memahami watak orang lain, bila ia berbuat kebaikan kepada orang
untuk menjaga kehormatanya, maka ia akan dijaga kehormatan dan kemuliaanya, dan bila ia
buruk dalam pergaulanya, maka ia juga akan dicerca kehormatanya.
4. Sungguh seseorang yang memiliki harta kekayaan, jika ia tidak mau membagikan untuk
kaumnya karena ia bakhil, maka ia tidak akan dianggap oleh kaumnya dan mereka akan
mencercanya.
5. Orang yang menjaga dirinya dari keburukan, sungguh ia tidak akan mendapat celaan dan
cercaan, dan barang siapa yang berpegang teguh pada jalan kebenaran dan kebaikan maka ia
akan tetap pada jalanya. Dalam syiir ini seakan-akan Zuhair berkata bahwa sesungguhnya
pengetahuan itu adalah sebuah keutamaan. Setiap orang yang tahu akan kebenaran dan
kebaikan, ia harus berada pada jalan kebaikan itu.
6. Orang yang takut akan datangnya kematian meskipun ia bersembunyi ke atas langit dengan
menaiki tanggapun, maka tetap saja ia akan menemui kematian itu.
7. Sesungguhnya orang yang meletakkan kebaikan tidak pada tempat yang berhak, ia malah akan
berbalik mendapat cacian dan hinaan. Disini seakan-akan ia mengajak untuk memilah-milah
dalam berbuat kebaikan.
8. Orang yang tidak membawa senjata / pedangnya untuk membela kehormatan dan
kemulyaanya, maka ia nantinya yang akan dihancurkan oleh orang lain. Dan barang siapa yang
tidak mau menzalimi orang lain, maka ialah yang akan dizalimi. Disini ia mengajak untuk
menjunjung tinggi kekuatan dan kekuasaan. Hal ini jelas berbeda dengan syiar islam yang
mengajak untuk berbuat kebenaran, keadilan dan kebaikan.

.
9. Meskipun seseorang itu telah merahasiakan tabiat dan tingkah laku / akhlaknya dari orang lain
dan ia telah mengira bahwa orang-orang pasti tidak akan mengetahuinya, tetapi pastilah semua
rahasia yang ia sembunyikan itu akan dapat terbuka entah dalam waktu dekat atau jauh.

BAB III
PENUTUP
3.1 Hasil
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Syauqi Dlaif, Târikh al-Adab al-Arabi; al-‘Ashr al-Jâhili, (tp: Dâr al-Ma’ârif, 1965), hlm. 300.

Muhammad Yusuf Farran, Zuhair ibnu Abi Sulma Hayatuhu wa Syi’ruhu,

( mager ngelengkapin )