Anda di halaman 1dari 30

KONSELING KELUARGA

Pengertian Konseling Keluarga

Family counseling atau konseling keluarga adalah upaya bantuan yang diberikan kepada individu
anggota keluarga melalui sistem keluarga (pembenahan komunikasi keluarga) agar potensinya
berkembang seoptimal mungkin dan masalahnya dapat diatasi atas dasar kemauan membantu
dari semua anggota keluarga berdasarkan kerelaan dan kecintaan terhadap keluarga (Willis,
2008). Menurut Golden dan Sherwood (dalam, Latipun, 2001) konseling keluarga adalah metode
yang dirancang dan difokuskan pada keluarga dalam usaha untuk membantu memecahkan
masalah perilaku klien. Sehingga konseling keluarga merupkan proses bantuan yang diberikan
kepada individu anggota keluarga dalam memecahkan masalah kelurga yang dihadapinya.

Tujuan Konseling Keluarga

Tujuan konseling keluarga oleh para ahli dirumuskan secara berbeda. Seperti dikatakan Bowen
(Latipun, 2008) tujuan konseling keluarga adalah membantu klien (anggota keluarga) untuk
mencapai individualitas sebagai dirinya sendiri yang berbeda dari system keluarga, hal ini
relevan dengan pandangannya tentang masalah keluarga yang berkaitan dengan hilangnya
kebebasan anggota keluarga akibat dari aturan-aturan dan kekuasaan dalam keluarga tersebut.
Pada saat yang sama Satir (Latipun, 2008) menekankan dengan konseling keluarga diharapkan
dapat mempermudah komunikasi yang efektif dalam kontak hubungan antar anggota keluarga.
Oleh karena itu anggota keluarga perlu membuka inner experience atau pengalaman dalamnya
dengan tidak membekukan interaksi antar anggota keluarga.

Sedangkan Minuchin (Latipun, 2008) mengemukakan bahwa tujuan konseling keluarga adalah
mengubah struktur dalam keluarga, dengan cara menyusun kembali kesatuan dan
menyembuhkan perpecahan antara dan sekitar anggota keluarga. Diharapkan keluarga dapat
menantang persepsi untuk dapat melihat realitas, mempertimbangkan alternative sedapat
mungkin dan pola transaksional. Anggota keluarga dapat mengembangkan pola hubungan baru
dan struktur yang mendapatkan self-reinforcing.

Dari beberapa uraian tersebut maka tujuan konseling keluarga dapat dibedakan menjadi tujuan
umum dan tujuan khusus.
Tujuan umum konseling keluarga antara lain:

1. Membantu, anggota keluarga belajar menghargai secara emosional bahwa dinamika keluarga
adalah kait-mengait diantara anggota keluarga.

2. Untuk membantu anggota keluarga agar menyadari tentang fakta, jika satu anggota keluarga
bermasalah, maka akan mempengaruhi kepada persepsi, ekspektasi dan interaksi anggota-
anggota lain.

3. Agar tercapai keseimbangan yang akan membuat pertumbuhan dan peningkatan setiap
anggota.

4. Untuk megembangkan penghargaan penuh sebagai pengaruh dari hubungan

parental.

Tujuan khusus konseling keluarga

1. Untuk meningkatkan toleransi dan dorongan anggota-anggota keluarga terhadap cara-cara


yang istimewa (idiocyncratic ways) atau keunggulan-keunggulan anggota lain.

2. Mengembangkan toleransi terhadap anggota-anggota keluarga yang mengalami


frustasi/kecewa, konflik dan rasa sedih yang terjadi karena factor system keluarga atau diluar
system keluarga.

3. Mengembangkan motif dan potensi-potensi, setiap anggota keluarga dengan cara mendorong
(men-support), memberi semangat, dan mengingatkan anggota tersebut.

4. Mengembangkan keberhasilan persepsi diri orang tua secara realistik dan sesuai dengan
anggota-anggota lain.

Prinsip-prinsip konseling keluarga

1. Bukan metode baru untuk mengatasi human problem.

2. Setiap anggota adalah sejajar, tidak ada satu yang lebih penting dari yang lain.
3. Situasi saat ini merupakan penyebab dari masalah keluarga dan prosesnyalah yang harus
diubah.

4. Tidak perlu memperhatikan diagnostik dari permasalahan keluarga, karena hal ini hanya
membuang waktu saja untuk ditelusuri.

5. Selama intervensi berlangsung, konselor/terapist merupakan bagian penting dalam dinamika


keluarga, jadi melibatkan dirinya sendiri.

6. Konselor/terapist memberanikan anggota keluarga untuk mengutarakan dan berinteraksi


dengan setiap anggota keluarga dan menjadi “intra family involved”.

7. Relasi antara konselor/terapist merupakan hal yang sementara. Relasi yang permanen
merupakan penyelesaian yang buruk.

8. Supervisi dilakukan secara riil/nyata (conselor/therapist center) (Perez,1979)

Etika Konseling

Etika konseling berarti suatu aturan yang harus dilakukan oleh seorang konselor dan hak-hak
klien yang harus dilindungi oleh seorang konselor. Ada empat etika yang penting:

1. Profesional Responsibility. Selama proses konseling berlangsung, seorang konselor harus


bertanggung jawab terhadap kliennya dan dirinya sendiri.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

a. Responding fully, artinya konselor harus bertanggung jawab untuk memberi perhatian
penuh terhadap klien selama proses konseling.
b. Terminating appropriately. Kita harus bisa melakukan terminasi (menghentikan proses
konseling) secara tepat.
c. Evaluating the relationship. Relasi antara konselor dan klien haruslah relasi yang
terapeutik namun tidak menghilangkan yang personal.
d. Counselor’s responsibility to themselves. Konselor harus dapat membangun
kehidupannya sendiri secara sehat sehingga ia sehat secara spiritual, emosional dan
fisikal.

2. Confidentiality. Konselor harus menjaga kerahasiaan klien.


Ada beberapa hal yang perlu penjelasan dalam etika ini, yaitu yang dinamakan previleged
communication.Artinya konselor secara hukum tidak dapat dipaksa untuk membuka
percakapannya dengan klien, namun untuk kasus-kasus yang dibawa ke pengadilan, hal seperti
ini bisa bertentangan aturan dari etika itu sendiri. Dengan demikian tidak ada kerahasiaan yang
absolute.

3. Conveying Relevant Information to The Person In Counseling. Maksudnya klien berhak


mendapatkan informasi mengenai konseling yang akan mereka jalani.

Informasi tersebut adalah:

a. Counselor qualifications: konselor harus memberikan informasi tentang kualifikasi atau


keahlian yang ia miliki.
b. Counseling consequences : konselor harus memberikan informasi tentang hasil yang
dicapai dalam konseling dan efek samping dari konseling
c. Time involved in counseling: konselor harus memberikan informasi kepada klien berapa
lama proses konseling yang akan dijalani oleh klien. Konselor harus bisa
memprediksikan setiap kasus membutuhkan berapa kali pertemuan. Misalnya konselor
dan klien bertemu seminggu sekali selama 15 kali, kemudian sebulan sekali, dan setahun
sekali.
d. Alternative to counseling: konselor harus memberikan informasi kepada klien bahwa
konseling bukanlah satu-satunya jalan untuk sembuh, ada faktor lain yang berperan
dalam penyembuhan, misalnya: motivasi klien, natur dari problem, dll.

4. The Counselor Influence. Konselor mempunyai pengaruh yang besar dalam relasi konseling,
sehingga ada beberapa hal yang perlu konselor waspadai yang akan mempengaruhi proses
konseling dan mengurangi efektifitas konseling.

Hal-hal tersebut adalah:

a. The counselor needs : kebutuhan-kebutuhan pribadi seorang konselor perlu dikenali dan
diwaspadai supaya tidak mengganggu efektifitas konseling.
b. Authority: pengalaman konselor dengan figur otoritas juga perlu diwaspadai karena akan
mempengaruhi proses konseling jika kliennya juga figur otoritas.
c. Sexuality: konselor yang mempunyai masalah seksualitas yang belum terselesaikan akan
mempengaruhi pemilihan klien, terjadinya bias dalam konseling, dan resistance atau
negative transference.
d. The counselor `s moral and religius values: nilai moral dan religius yang dimiliki
konselor akan mempengaruhi persepsi konselor terhadap klien yang bertentangan dengan
nilai-nilai yang ia pegang.

Tahapan Konseling

1. Konseling tahap awal

Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan
konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Untuk lebih
jelasnya, berikut akan disampaikan beberapa jenis teknik umum, diantaranya:

a. Perilaku Attending (Menghampiri Klien)

Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup perilaku non verbal,
komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Perilaku attending yang baik yang
ditampilkan konselor akan mempengaruhi kepribadian klien, yaitu:

1. Meningkatkan harga diri klien, sebab sikap dan perilaku attending memungkinkan konselor
mengahargai klien karena dia dihargai, maka merasa harga diri ada atau meningkat.

2. Menciptakan suasana yang aman bagi klien, karena klien merasa ada orang yang bisa
dipercayai, teman untuk berbicara, dan merasa terlindungi secara emosional.

3. Memberikan keyakinan pada klien bahwa konselor adalah tempat dia mudah untuk
mencurahkan segala isi hati dan perasaannya (klien mengekspresikan perasaannya dengan
bebas).

Latihan mikro perilaku attending (penampilan) bertujuan agar calon konselor dapat
memperlihatkan penampilan yang attending di berbagai situasi hubungan interpersonal secara
umum, khususnya dalam relasi konseling dengan klien.

Contoh perilaku attending yang baik:


Kepala: melakukan anggukan jika setuju

Ekspresi wajah: tenang, ceria, senyum

Posisi tubuh: agak condong ke arah klien, jarak antara konselor dengan klien agak dekat, duduk
akrab berhadapan atau berdampingan.

Tangan: variasi gerakan tangan/ lengan spontan berubah-ubah, menggunakan tangan sebagai
isyarat, menggunakan tangan untuk menekankan ucapan.

Mendengarkan: aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam (menanti
saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada lawan bicara.

Contoh perilaku attending yang tidak baik:

Kepala: kaku

Muka: kaku, ekspresi melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat saat klien sedang bicara,
mata melotot.

Posisi tubuh: tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang
akrab dan berpaling. Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk
memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara.

Perhatian: terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.

Prosedur atau proses latihan

Sebelum dilakukan latihan, prosedur latihan harus dipahami oleh semua peserta.

1) Pelatihan atau pembimbing memberikan informasi tentang latihan secara rinci, dan
kemudian memberikan motivasi kepada para peserta agar mengikuti latihan dengan minat
dan perhatian yang sungguh-sungguh.
2) Membentuk pasangan-pasangna peserta, untuk mengadakan permainan peran dalam
konseling mikro.
3) Setiap pasangan tadi melakukan kegiatan-kegiatan yang diinstruksikan oleh pelatih,
yaitu:
a. Duduk saling membelakangi, kemudian seorang berbicara dan lainnya mendengarkan
dengan perhatian. Kemudian dilakuakn latihan sebaliknya (memperhatikan keadaan
muka, kepala, keadaan kontak mata, tangan, dan bagaimana perhatiannya).
b. Duduk berhadapan. Seorang berbicara dan lainnya mendengarkan dengan perhatian
dan memperhatikan hal-hal di atas tadi.
c. Duduk menyamping. Seorang berbicara dan lainnya mendengarkan dengan perhatian
dan memperhatikan hal-hal di atas tadi.
d. Duduk berhadapan, sedangkan peserta yang lainnya memalingkan mukanya.
e. Duduk berhadapan, saling melakukan kontak mata.
f. Duduk berhadapan, peserta pertama berbicara melakukan kontak mata, dan yang
lainnya mendengarkan dan memperhatikan
4) Mengadakan diskusi yang dipimpin oleh pembimbing dengan materi masalah yang
ditemukan oleh masing-masing peserta yang ditemukan tadi.
5) Mengadakan evalusi apakah manfaat latihan bagi peserta untuk tugas dan pergaulannya.
6) Membentuk kelompok tiga orang, konselor-klien-pengamat. Konselor memerankan posisi
duduk, ekspresi muka, gerakan tangan, kontak mata, perhatian, mendengarkan, dan
berbicara.
7) Pengamat dan penonton berdiskusi dan menilai penampilan calon konselor.

Empati

Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan
berpikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan dengan
perilaku attending, tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Konselor yang empati
mudah memasuki dunia dalam klien sehingga klien tersebut mudah tersentuh dengan konselor.
Akhirnya, klien akan terbuka dengan jujur pada konselor. Terdapat dua macam empati, yaitu:

1. Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan, pikiran dan
keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka. Contoh ungkapan empati
primer: ”Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. ” Saya dapat memahami pikiran
Anda”. ”Saya mengerti keinginan Anda”.

2. Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran
keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut
dengan perasaan tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk
mengemukakan isi hati yang terdalam, berupa perasaan, pikiran, pengalaman termasuk
penderitaannya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi: “Saya dapat merasakan apa yang Anda
rasakan, dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”.

Refleksi

Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan
pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Refleksi
sebagai upaya untuk menangkap perasaan, pikiran, dan pengalaman klien kemudian
merefleksikan kepada klien kembali. Hal ini harus dilakukan konselor sebab klien sering tidak
menyadari akan perasaan, pikiran dan pengalamanya yang mungkin menguntungkan atau
merugikanya.

Jika dia menyadari akan perasaanya, maka klien akan segera mengubah prilakunya kearah
positif, namun tidaklah mudah bagi calon kenselor untuk menangkap dan memahami perasaan
dan pikiran serta pengalaman, lalu mengungkapkanya kembali kepada klien dengan bahasa calon
kenselor sendiri. Oleh karena itu calon kenselor harus berlatih secara terus – menurus dan
bertahap.

Eksplorasi

Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini
penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak
mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas
berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam. Perlu diingat bahwa factor budaya sebagai
bangsa bekas terjajah banyak anggita masyarakat yang takut dan malu atau kurang berani bicara
terbuka untuk mengeluarkan isi hati dan perasaanya terhadap orang lain termasuk keluarga
sendiri. Disamping itu kepemimpinan yang otoriter dimasyarakat, keluarga dan sekolah membuat
seseorang merasa takut dan malu untuk menyatakan pendapat atau perasaanya sendiri. Hubungan
konseling seharusnya dapat mengatasi semua kendala diatas. Yaitu berupaya untuk membuat
klien terbuka, merasa aman, dan berpartisipasi didalam dialog. Salah satu upaya untuk konseling
adalah tehnik eksplorasi untuk membuat klien mengatakan semua perasaan, pikiran dan
pengalaman kepada konselor secara jujur.

Menangkap Pesan Utama (Paraphrasing)


Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau inti
ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang
mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal: adakah atau nampaknya, dan
mengamati respons klien terhadap konselor.

Sering terjadi klien sulit mengarahkan pembicaraan dan menekankan tentang pokok – pokok
permasalahanya, hal ini karena ia terlampau emosional atau memang kurang pengetahuan
bagaimana cara memechkan persoalnya sendiri. Tujuan paraphrasing adalah:

(1) Untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk
memahami apa yang dikatakan klien;

(2) Mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan;

(3) Memberi arah wawancara konseling, dan

(4) Pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien

Bertanya Membuka Percakapan

Pertanyaan Terbuka (Opened Question)

Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan
perasaan, pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened
question). Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa
sebabnya. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien, jika dia tidak tahu alasan atau sebab-
sebabnya. Oleh karenanya, lebih baik gunakan kata tanya apakah, bagaimana, adakah, dapatkah.

Contoh: ”Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan?”

Pertanyaan Tertutup (Closed Question)

Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka, dalam hal-hal tertentu
dapat pula digunakan pertanyaan tertutup, yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau
dengan kata-kata singkat.

Tujuan pertanyaan tertutup untuk:


(1) mengumpulkan informasi;

(2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu; dan

(3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh.

Contoh dialog:

Klien: ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama
ini belum pernah saya lakukan”.

Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa?”.

Dorongan Minimal

Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat
terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Misalnya dengan menggunakan ungkapan: oh…,
ya…., lalu…, terus….dan... Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat
mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan
mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan
pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien.

Contoh dialog:

Klien: ”Saya putus asa… dan saya nyaris…” (klien menghentikan pembicaraan)

Konselor: ”ya…”

Klien: ”nekad bunuh diri”

Konselor: ”lalu…

2. Tahap Pertengahan

Tahap pertengahan konseling dapat disebut juga sebagai tahap kerja, yang bertujuan untuk
mengolah/mengerjakan masalah klien (bersama klien).

a) Menyimpulkan Sementara (Summarizing)


Agar pembicaraan maju secara bertahap dan arah pembicaraan makin jelas, maka setiap periode
waktu tertentu konselor bersama klien perlu menyimpulkan pembicaraan. Oleh karena itu
kebersamaan sangat diperlukan agar klien dapat memahami bahwa keputusan mengenai dirinya
menjadi tanggung jawab klien, sedangkan tugas konselor hanyalah membantu. Akan tetapi
kesimpulan dari pembicaraan/permasalahan tetap tergantung kepada feeling konselor.

Tujuan menyimpulkan sementara (summarizing) ialah sebagai berikut:

1. memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik (feed back) dari hal-hal
yang dibicarakan

2. untuk menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap

3. untuk meningkatkan kualitas diskusi

4. mempertajam atau memperjelas focus pada wawancara konseling.

b) Memimpin (leading)

Agar pembicaraan dalam wawancara konseling tidak melantur atau menyimpang, seorang
konselor harus mampu memimpin arah pembicaraan sehingga nantinya mencapai tujuan. Tujuan
dari memimpin disini ialah 1) agar klien tidak menyimpang dari fokus pembicaraan, 2) agar arah
pembicaraan lurus kepada tujuan konseling

c) Memfokuskan

Konselor yang efektif harus mampu membuat fokus melalui perhatiannya yang terseleksi
terhadap pembicaraan dengan klien. Fokus membantu klien untuk memusatkan perhatian pada
pokok pembicaraan. Ada beberapa focus yang dapat dilakukan seorang konselor yaitu:

1. fokus pada diri klien

2. fokus pada orang lain

3. fokus pada topik

4. fokus mengenai budaya


Dalam hal mewawancarai klien pastinya akan timbul masalah-masalah yang berkembang, oleh
karena itu konselor harus membantu klien agar dia menentukkan fokus pada masalah apa.

d) Konfrontasi

Konfrontasi adalah suatu teknik konseling yang menantang klien untuk melihat adanya
diskrepansi atau inkonsistensi antara perkataan dengan bahasa badan (perbuatan), ide awal
dengan ide berikutnya, dengan senyum kepedihan, dan sebagainya.

Adapun tujuan teknik ini adalah untuk:

1. mendorong klien mengadakan penelitian secara jujur

2. meningkatkan potensi klien

3. membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi, konflik, atau kontradiksi dalam dirinya.

Namun seorang konselor harus melakukan dengan teliti yaitu dengan:1) memberi komentar
khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara tepat waktu;2) tidak menilai apa lagi
menyalahkan;3) dilakukan konselor dengan perilaku attending dan empati.

e) Mengarahkan

Suatu keterampilan konseling yang mengatakan kepada klien agar dia berbuat sesuatu. Sering
klien kurang mampu melakukan sesuatu tanpa petunjuk orang lain. Hal ini karena faktor
emosional, kurang konsentrasi, atau terlalu banyak ngawur sehingga menyimpang dari pokok
pembicaraan. Mengarahkan (directing) merupakan teknik konseling yang akan membuat klien
terarah kepada tujuan konseling.

f) Mengambil Inisiatif

Mengambil inisiatif perlu dilakukan konselor manakala klien kurang bersemangat untuk
berbicara, sering diam, dan kurang partisipasif. Konselor mengucapkan kata-kata yang mengajak
klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Tujuan teknik ini ialah:

a) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat

b) jika klien lambat berpikir untuk mengambil keputusan


c) jika klien kehilangan arah pembicaraan

g) Memberi Informasi

Dalam hal informasi yang diminta klien, sama halnya dengan pemberian nasehat. Jika konselor
tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakana bahwa tidak mengetahui hal itu. Akan
tetapi, jika konselor mengetahui informasi, sebaiknya upayakan agar klien tetap
mengusahakannya. Misalnya klien menanyakan memasuki sekolah pelayaran. Karena konselor
kurang menguasai informasi itu, sebaiknya klien langsung saja mencari informasi tersebut ke
sumbernya seperti Sekolah Perairan/Pelayaran.

h) Menafsirkan

Setelah tahap awal dilaksanakan dengan baik, proses konseling selanjutnya adalah memasuki
tahap inti atau tahap kerja. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan,
diantaranya :

1) Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. Penjelajahan masalah


dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang
sedang dialaminya.
2) Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali), bersama-sama klien meninjau
kembali permasalahan yang dihadapi klien.
3) Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara.

3. Konseling Tahap Akhir

Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu :

1. Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling.

2. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah
terbangun dari proses konseling sebelumnya.

3. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).

4. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya

Pada tahap akhir ditandai beberapa hal, yaitu :


a. Menurunnya kecemasan klien.
b. Perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif, sehat dan dinamis.
c. Pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya.
d. Adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas.

Metode CEA dalam melakukan Konseling Keluarga

1. Catharsis / Pembersihan

Semua yang tersebut di atas adalah alasan mengapa dalam model "CEA", "C" singkatan catharsis /
katarsis. Maka awalnya harus ada beberapa penyucian emosi, suatu cara untuk membiarkan perasaan
tersembunyi tentang rasa takut atau kecemasan pasien. Yang terbaik dapat dilakukan dengan
menggunakan keterampilan mendengarkan aktif untuk membawa keluar emosi pasien yang biasanya
tetap tersembunyi. Setelah perasaan telah diungkapkan, maka keterampilan mendengarkan aktif dapat
digunakan untuk mengidentifikasi ECMs di balik perasaan. Pelepasan perasaan juga memungkinkan
pasien untuk berpikir lebih jernih dan membuatnya lebih mudah menerima langkah berikutnya dalam
model CEA, yaitu adalah untuk mengedukasi.

Catatan, bagaimanapun juga, bahwa mengedukasi pasien dalam model ini tidak berarti
memberinya kuliah standar tentang penyakitnya. Kadang-kadang sangat menarik untuk memberikan
pasien penjelasan ilmiah panjang tentang penyakit dan pengobatannya, yang akan lebih baik jika ada
waktu, tetapi biasanya tidak ada. Oleh karena itu edukasi harus terlebih dahulu diarahkan menuju
kesalahan persepsi yang menyebabkan emosional terbesar. Waktu terbatas, terutama jika ada lebih
banyak pasien menunggu di luar, dan berfokus pada ECMs yang memberikan "luapan terbesar untuk
uang Anda". Penjelasan lebih lengkap dapat diberikan nanti jika waktu memungkinkan, atau dapat
diberikan dalam kunjungan berikutnya. Hal ini tidak perlu dan pada kenyataannya kontra-produktif-untuk
membombardir pasien dengan informasi yang bahkan mungkin ia tidak meminta. Minimal, apa yang
diperlukan adalah untuk memberikan dia dengan data yang cukup sehingga kecemasan akan
disembuhkan dan sehingga ia akan bersedia untuk mematuhi resep dokter.

Untuk mempromosikan katarsis, dokter dapat fokus pada empat langkah dasar, dengan
menggunakan keterampilan mendengarkan aktif untuk memperoleh informasi yang diperlukan dan
untuk menuju pada pembicaraan tentang emosi/ perasaan:

Apa yang ada di pikiran Anda ketika Anda mulai merasakan gejala Anda?
Perasaan apa yang keluar saat pikiran-pikiran itu muncul di benak Anda?

Konsekuensi apa dari penyakit Anda yang membuat Anda merasa seperti ini?

Dalam kebanyakan kasus, jawaban atas pertanyaan ini adalah ECM yang akan menjadi fokus untuk
mengedukasi pasien nantinya

Ringkaslah ECM dan emosi yang terkait dengan itu.

2. Edukasi

Mudah-mudahan, pada titik ini, dua hal akan terjadi pada pasien. Pertama, ia akan
menyampaikan dan mengutarakan emosinya. Kedua, karena ia tidak lagi disibukkan dalam mencoba
untuk tetap tertutup pada perasaannya, ia sekarang memiliki cukup ruang dalam pikirannya untuk dapat
mendengarkan apa yang dokter harus sampaikan tentang penyakitnya. Ini adalah saat yang tepat untuk
mengedukasi emosional, bukan sebelumnya.

Setelah mengidentifikasi ECM, tugas dokter menggunakan metode CEA akan segera mengatasi
terlebih dahulu sebelum menangani masalah lainnya. ECM adalah persepsi yang menyebabkan gangguan
emosi terbesar. ini adalah persepsi yang telah menciptakan kekuatan emosional yang telah membawa
pasien ke dokter. Karena itu patut menjadi perhatian prioritas. Jika, misalnya, ketakutan pasien adalah
bahwa ia akan mati karena penyakitnya, tetapi kenyataannya adalah bahwa kematian adalah
kemungkinan yang jauh, maka pernyataan/ penjelasan langsung terhadap hal itu, diikuti oleh penjelasan
sederhana mengapa kematian tidak mungkin, akan memberikan bantuan emosional terbesar dalam
waktu singkat. Mengatasi ECM dengan segera berkomunikasi kepada pasien bahwa dokter telah
mendengarkan dia dan memahami keprihatinan itu, dan "hubungan" emosional ini yang membawa ke
dalam hubungan dokter-pasien bisa sangat signifikan.

Dalam menjelaskan aspek biologi penyakit, beberapa petunjuk yang berguna :

Pertama, dokter harus berbicara dalam bahasa klien - yang jelas tidak ditandai dengan jargon
ilmiah. Penjelasan harus sesederhana mungkin untuk pencapaian edukasial pasien. Sebagai aturan
umum, istilah ilmiah harus dihindari, kecuali bagi yang pasien sudah akrab dengan hal itu yang mutlak
diperlukan untuk memahami penyakit.

Kedua, kekuatan analogi dalam menjelaskan konsep yang rumit tidak boleh dianggap remeh.
Misalnya, semua orang tahu bagaimana balon meledak saat diisi dengan udara terlalu banyak.
Menjelaskan hubungan antara hipertensi dan perdarahan intrakranial menjadi lebih mudah dipahami
bila menggunakan analogi balon. Sebagai dokter, kita semua tahu bahwa patofisiologi ini jauh lebih rumit
daripada hal itu, tapi untuk pasien, jika penjelasan sederhana memotivasi dia untuk mematuhi
pengobatannya, maka analogi akan memfasilitasi tujuan.

Ketiga, saat ini adalah masa kedokteran berbasis bukti, dan juga semua intervensi kita harus
berbasis bukti, pasien kita umumnya tidak berbicara bahasa EBM. Bahkan mengedukasi pasien
terpengaruh oleh anekdot dan kesaksian pribadi dan banyak yang sebenarnya dimatikan oleh kesulitan
dengan mencoba untuk memahami prinsip di balik uji coba terkontrol secara acak. Bahkan, para
pendukung obat herbal dan alternatif mahal yang tidak rasional, dan belum terbukti sebenarnya
merupakan segmen "edukasi" dari kalangan masyarakat ini. Ini adalah apa yang orang-orang di industri
periklanan yang sejak waktu dahulu - bahwa kecerdasan dan rasionalitas jarang berargumen mengapa
orang membeli produk atau pengobatan itu. Dalam memotivasi pasien untuk mematuhi rencana
pengobatan, penting untuk memberikan bukti ilmiah, tetapi pada saat yang sama, dokter tidak perlu
malu untuk menggunakan anekdot dan kesaksian. Misalnya, dia bisa memberitahu pasien kanker
payudara yang takut operasi tentang pasien yang lain yang juga menderita kanker payudara yang selamat
post-mastektomi/kemoterapi, dan kemudian mendorongnya untuk bertemu dan berbicara dengan
pasien ini untuk mendengar kesaksiannya. Pendekatan gabungan seperti ini jauh lebih efektif.

Keempat, kita harus ingat bahwa persepsi yang menyebabkan kecemasan terbesar mungkin
hanya sedikit yang berkaitan dengan patofisiologi atau farmakologi. Saya ingat seorang ibu yang
membawa putranya yang berusia 3 tahun ke klinik saya mengeluh bahwa anaknya berberat badan terlalu
rendah dan memerlukan perangsang nafsu makan lebih. Pada saat dievaluasi, berat badan anak berada
dalam ukuran normal, tetapi tidak ada edukasi kesehatan yang bisa meredakan kecemasan ibu yang
terus meminta perangsang nafsu makan. Tapi ketika saya akhirnya mencoba untuk mendengarkan
emosinya, saya menemukan bahwa sebenarnya dia tidak merasa takut sesuatu yang akan terjadi pada
anaknya, melainkan takut bahwa mertuanya akan berpikir bahwa dia adalah ibu yang buruk karena
anaknya "underweight". Penyelidikan selanjutnya mengungkapkan bahwa anak-anak di sisi keluarga
suaminya itu, pada kenyataannya semua berbadan besar dan kuat, kelebihan berat badan (overweight).
Saya meyakinkannya bahwa pada kenyataannya dia adalah seorang ibu yang baik, dan bahwa mertuanya
adalah orang-orang yang lalai tentang kesehatan anak-anak mereka. Hanya dengan jaminan ini adalah ia
akhirnya bisa mendengarkan semua penjelasan saya tentang apa berat badan yang "normal" untuk usia
itu. Dalam situasi ini, faktor-faktor psikososial terkait dengan patofisiologi jelas melebihi faktor biologis,
dan perhatian yang cukup untuk faktor psikososial muncul hanya sebagai akibat dari mendengarkan lebih
sensitif terhadap perasaan (dan mispersepsi emosional kritis) dari ibu.

Akhirnya, sebuah kata yang mampu menenangkan kecemasan: Sementara pasien sangat cemas
membutuhkan hiburan, tidak adanya kecemasan sama sekali juga tidak baik baik. Harus ada sedikit
kecemasan bagi pasien untuk mematuhi protokol pengobatan. Oleh karena itu tanggung jawab ada pada
dokter untuk mengeliminasi jumlah kecemasan ke tingkat di mana pasien tidak terlumpuhkan oleh
ketakutan tapi sementara pada saat yang sama memastikan bahwa ada kecemasan yang cukup untuk
memberikan energi pasien untuk mengambil langkah-langkah yang tepat terhadap kesehatan. Kadang-
kadang, mungkin perlu untuk meningkatkan kecemasan pasien, terutama jika pasien cenderung untuk
meminimalkan gejala dan tidak cukup termotivasi untuk mematuhi pengobatan. Dalam kasus tersebut,
penggunaan sistem keluarga mungkin manuver yang bisa dilakukan, tapi itu adalah topik untuk panduan
selanjutnya.

3. Tindakan / Aksi

Setelah mengedukasi pasien tentang penyakitnya, dokter sekarang harus mengusulkan


tindakan / aksi untuk meringankan pasien dari sakitnya. Sekali lagi, waktu emosional yang tepat untuk
menjelaskan pengobatan yang diusulkan adalah setelah ECM telah ditangani - bukan sebelumnya. Jika
tidak, pasien hanya akan terus kembali ke ECM dan tidak ada gerakan maju yang dapat dicapai dalam
menjelaskan pengobatan.

Dengan asumsi ini telah dilakukan, namun harus diingat bahwa pasien juga mungkin memiliki
ECMs tentang pengobatan, terutama ketika intervensi melibatkan operasi atau ketika obat yang
diberikan memiliki "reputasi" untuk efek samping. Sekali lagi, keterampilan mendengarkan aktif dapat
digunakan untuk memperoleh ECMs tersebut, dan ECMs dapat segera diatasi. Mendengarkan,
mengungkapkan, dan kemudian berurusan dengan ECMs segera mengirim pesan kepada pasien bahwa
dokter mendengarkan dan memahami keprihatinannya. Sekali lagi “koneksi” emosional dapat terbukti
sangat berharga dalam memotivasi pasien untuk mematuhi pengobatan.

Tak perlu dikatakan bahwa prinsip berbasis bukti harus digunakan dalam merekomendasikan
pengobatan. Namun, seperti yang dibahas sebelumnya, dokter juga harus tahu kapan menggunakan
analogi, anekdot, dan kesaksian untuk memotivasi pasien untuk mematuhi.

Teori - Teori Konseling Keluarga


Ada beberapa teori tentang konseling keluarga yang dikemukakan para ahli, diantaranya adalah
sebagai berikut:

1. Teori Konseling Psikoanalisa

Psiokoanalisa merupakan suatu metode penyembuhan yang lebih bersifat psikologis.


Psikoanalisa diciptakan oleh Sigmund Freud pada tahun 1986. Pada kemunculannya, teori Freud
ini mengundang kontroversi, eksplorasi, penelitian dan dijadikan landasan berpijak bagi aliran
lain yang muncul kemudian.

Mulanya Freud menggunakan teknik hypnosis untuk menangani pasiennya. Tetapi teknik ini
ternyata tidak dapat digunakan pada semua pasien. Dalam perkembangannya, Freud
menggunakan teknik asosiasi bebas (free as-sociation) yang kemudian menjadi dasar dari
psikoanalisa. Adapun hal-hal yang perlu dibicarakan mengenai pendekatan psikoanalisa ini
adalah bagaimana psikoanalisa memandang dinamika kepribadian manusia, perkembangan
kepribadian, kesadaran dan ketidaksadaran, peran dan fungsi konselor, dan teknik-teknik terapi
yang digunakan dalam psikoanalisa.

a. Dinamika Kepribadian Manusia

Freud memandang kepribadian manusia tersusun atas tiga system yang terpisah fungsinya antara
satu dan yang lain, tetapi tetap saling mempengaruhi. ketiga system itu dikenal sebagai id, ego,
dan superego.

1) Id

Id adalah aspek biologis yang merupakan system kepribadian yng asli. Id merupakan dunia
subyektif manusia yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif, dan
berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir seperti insting. Ciri-ciri id menurut Lesmana (2009)
adalah bekerja di luar kesadaran manusia, irasional, tidak terorganisasi, berorientasi pada
kesenangan, primitive, berperan sebagai sumber libido atau tenaga hidup dan energy, terakhir
merupakan sumber dari dorongan dan keinginan dasar untuk hidup dan mati. Pemenuhan id tidak
dapat ditunda, karena itulah id dianggap seperti anak manja yang tidak berpikir logis dan
bertindak hanya untuk memuaskan kebutuhan naluriah.
2) Ego

Ego adalah aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan
dengan dunia kenyataan. Ego merupakan eksekutif dari kepribadian yang memerintah,
mengendalikan, dan mengatur. sebagai “polisi lalu lintas” bagi id, superego dan dunia eksternal,
tugas utama ego adalah mengantarkan naluri-naluri dengan lingkungan sekitar. Ego
mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor dengan diatur asas kenyataan ego berlaku
realistis dan berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan bagi pemuasan
kebutuhan- kebutuhan

3) Superego.

Superego merupakan aspek sosiologis yang mencerminkan nilai-nilai tradisional serta cita-cita
masyarakat yang ada di dalam kepribadian individu. Superego mengutamakan kesempurnaan
dari kesenangan dan yang pokok apakah sesuatu itu salah, pantas atau tidak, susila atau tidak,
dengan demikian pribadi bertindak sesuai dengan moral masyarakat. fungsi superego dalam
hubungannya dengan fungsi id, dan ego adalah:

a) Merintangi impuls-impuls id, terutama impuls seksual dan agresif yang pertanyaannya sangat
ditentukan oleh masyarakat.

b) Mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal moralitas dari pada realitas

c) Mengejar kesempurnaan

b. Perkembangan Kepribadian

Secara berurutan fase perkembangan tersebut meliputi fase oral, fase anal, fase phalik, fase laten,
fase pubertas dan fase genital. Secara singkat penulis akan menguraikannya satu persatu.

1) Fase oral: 0-1 tahun, pada fase ini mulut merupakan daerah pokok dari pada aktivitas dinamis.

2) Fase anak: 1-3 tahun, pada fase ini kateksis dan anti kateksis berpusat pada anal (pembuangan
kotoran).

3) Fase phallis: 3-5 tahun, pada masa ini alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting
4) Fase latent: 5-13 tahun, pada masa ini impuls-impuls cenderung untuk ada dalam keadaan
tertekan.

5) Fase pubertas: 12-20 tahun, pada fase ini impuls-impuls yang selama fase latent seakan-akan
tertekan, menonjol dan membawa aktivitas-aktivitas dinamis kembali. Apabila aktivitas dinamis
ini dapat dipindahkan dan disublimasikan oleh ego dengan berhasil maka sampailah orang
kepada fase kematangan terakhir.

6) Fase genital: pada fase ini individu telah berubah dari mengejar kenikmatan, menjadi orang
dewasa yang telah disosialisasikan dengan realitas. Fungsi yang pokok fase genital ialah
reproduksi.

c. Kesadaran dan ketidaksadaran

Kesadaran dan ketidaksadaran adalah bagian terpenting yang dikemukakan oleh Freud.
Keduanya sangat menentukan tingkah laku dan permasalahan yang berhubungan dengan
kepribadin manusia. Freud membagi kesadaran menjadi tiga bagian utama, yaitu alam sadar
(conscious), alam prasadar (preconscious), dan alam bawah sadar (unconscious), penjelasannya
sebagai berikut:

1) Alam Sadar (conscious)

Alam sadar merupakan bagian yang berfungsi untuk mengingat, menyadari, dan merasakan
sesuatu secara sadar atau nyata (Latipun, 2001). Alam sadar inilah yang selalu dimunculkan
individu ketika berhadapan dengan orang lain. Freud mengibaratkan mengenai kesadaran ini
seperti gunung es yang mengapung di permukaan laut. Dalam hal ini, alam sadar dalah puncak
yang kelihatan dari gunung es tersebut.

2) Alam prasadar (preconscious)

Alam bawah sadar adalah bagian kesadaran yang menyimpan ide, ingatan, dan perasaan dan
berfungsi mengantarkan ide, ingatan, dan perasaan tersebut ke alam sadar jika individu berusaha
mengingatnya kembali.

3) Alam bawah sadar (unconscious)


Alam bawah sadar adalah bagin dari dunia kesadaran yang paling menentukan terbentuknya
tingkah laku atau kepribadian individu. Alam bawah sadar menyimpan semua ingatan atas
peristiwa-peristiwa tertentu yang telah direpresi individu. Alam bawah sadar juga menyimpan
ingatan tentang keinginan yang tidak tercapai oleh individu.

d. Peran dan Fungsi Konselor

Dalam melakukan praktik psikoanalisis, seorang konselor akan bersikap anonim (konselor
berusaha tidak dikenal klien) dan hanya sedikit pengalaman dan perasaannya agar klien dapat
memproyeksikan dirinya dengan konselor. Proyeksi inilah yang selanjutnya ditafsirkan dan
dianalisis. Dalam tulisan lesmana anonym diartikan dengan istilah blank screen. Ia
menambahkan bahwa fungsi anonym juga agar dapat mempertahankan netralitas supaya terjadi
transferensi (klien bereaksi terhadap konselor sebagaimana klien bereaksi terhadap ayah dan
ibunya.

Corey (2009) mengatakan bahwa fungsi utama konselor dalam psikoanalisis adalah membantu
klien mencapai kesadaran dirinya, jujur, mampu melakukan hubungan personal yang efektif,
mampu menangani kecemasan secara realistis dan mampu mengendalikan tingkah laku yang
impulsive dan irasional. Dalam melakukan proses konselingnya, konselor lebih banyak
mendengarkan dan berusaha mengetahui kapan ia harus membuat penafsiran yang layak untuk
mempercepat proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari.

e. Teknik Konseling

Ada lima teknik dasar dari Konseling Psikoanalisis yaitu:

1) Asosiasi Bebas

Yaitu klien diupayakan untuk menjernihkan atu mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman
dan pemikiran sehari-hari sekarang ini, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa
lalunya. Tujuan teknik ini adalah untuk mengungkapkan pengalaman masa lalu dan
menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lampau.

2) Interpretasi
Adalah teknik yang digunakan oleh konselor untuk menganalisis sosiasi bebas, mimpi, resistensi,
dan transferensi klien. Konselor menetapkan, menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang
makna perilaku yang termanifestasi dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi, dan transferensi
klien. Tujuannya adalah agar ego klien dapat mencerna materi baru dan mempercepat proses
penyadaran

3) Analisis Mimpi

Yaitu suatu teknik untuk membuka hal-hal yang tak disadari dan memberi kesempatan klien
untuk memilih masalah- masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi adalah
karena di waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesakpun muncul ke
permukaan. Oleh Freud mimpi itu ditafsirkan sebagai jalan raya terhadap keinginan-keinginan
dan kecemasan yang tak disadari yang diekspresikan.

4) Analisis Resistensi

Analisis Resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya


resistensinya. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi.

5) Analisis transferensi

Konselor mengusahakan agar klien mengembangkan transferensinya agar terungkap neurosisnya


terutama pada usia selama lima tahun pertama dalam hidupnya. Konselor menggunakan sifat-
sifat netral, obyektif, anonym, dan pasif agar terungkap transferensi tersebut.

2. Teori Client Centered

Carl R. Rogers mengembangkan terapi client centered sebagai reaksi terhadap apa yang
disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan
client centered adalah cabang khusus dari terapi humanistic yang menggaris bawahi tindakan
mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenalnya.

Terapis berfungsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi kliennya dengan jalan
membantu kliennya itu dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan
masalah-masalah. Pendekatan client centered menaruh kepercayaan yang besar pada
kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.
Ciri-ciri terapi ini adalah:

1) Ditujukan kepada klien yang sanggup memecahkan masalahnya agar tercipta kepribadian
klien yang terpadu.

2) Sasaran konseling adalah aspek emosi dan perasaan (feeling), bukan segi intelektualnya

3) Titik tolak konseling adalah keadaan individu termasuk kondisi social psikologis masa kini,
dan bukan pengalaman masa lalu.

4) Proses konseling bertujuan untuk menyesuaikan antara ideal-self dengan actual-self.

5) Peranan yang aktif dalam konseling dipegang ole klien, sedangkan konselor adalah pasif-
reflektif.

a. Peran dan Fungsi Konselor

Menurut Rogers (dikutip dari Lesmana, 2005), pada hakikatnya konselor dalam client centered
lebih menekankan aspek sikap dari pada teknik konseling, sehingga yang lebih diutamakan
dalam konseling adalah sikap konselor. Sikap konselor inilah yang memfasilitasi perubahan pada
diri klien. Konselor menjadikan dirinya sebagai instrument perubahan. Konselor bertindak
sebagai fasilitator dan mengutamakan kesabaran dalam proses konselingnya. Konselor berfungsi
membangun iklim konseling yang menunjang pertumbuhan klien. Iklim konseling yang
menunjang akan menciptakan kebebasan dan keterbukaan pada diri klien untuk mengeksplorsi
masalahnya. Hal terpenting yang harus ada adalah seorang konselor bersedia untuk memasuki
dunia klien dengan memberikan perhatian yang tulus, kepedulian, penerimaan, dan pengertian.
apabila ini dilakukan, klien diharapkan dapat menghilangkan pertahanan dan persepsinya yang
kaku serta bergerak menuju taraf fungsi pribadi yang lebih tinggi.

b. Tujuan Konseling

Bagi Rogers tujuan Konseling pada dasarnya sama dengan tujuan kehidupan ini, yaitu apa yang
disebut “fully functioning person” yaitu pribadi yang berfungsi secara penuh. Dalam pandangan
Rogers, “fully functioning person” itu lebih kurang sama dengan “self actualization” sekalipun
sedikit ada perbedaan. Fully functioning person merupakan hasil dari proses karena itu lebih
bersifat becoming. Sedangkan aktualisasi diri lebih merupakan keadaan akhir dari kematangan
mental dan emosional, karena itu lebih merupakan self- being. Selanjutnya Sahakian,
menjelaskan secara rinci Fully functioning person sebagai berikut:

1) Klien akan terbuka terhadap pengalamannya dan keluar dari kebiasaan.

2) Seluruh pengalamannya akan dapat disadari sebagai sebuah kenyataan.

3) Seluruh yang dinyatakan secara verbal maupun dalam tindakan adalah akurat sebagaimana
pengalaman itu terjadi.

4) Struktur self nya akan congruence dengan pengalamannya.

5) Struktur self nya akan mampu berubah secara fleksibel sejalan dengan pengalaman barunya.

6) Pengalaman self nya akan dijadikan sebagai pusat evaluasi.

7) Klien akan berperilaku kreatif untuk beradaptasi terhadap peristiwa-peristiwa baru.

8) Klien akan dapat hidup dengan orang lain, dalam keadaan yang mungkin harmonis.

9) Klien akan menemukan nilai terpercaya mengarah pada perilaku yang memuaskan, karena
seluruh pengalamannya akan dapat disadari, tidak ada pengalaman yang ditolak, perilakunya kan
disadari.

c. Teknik Konseling

Penekanan masalah ini adalah hal filosofi dan sikap konselor dari pada teknik, dan
mengutamakan hubungan konseling ketimbang perkataan dan perbutan konselor. Karena itu
teknik konseling Rogers berkisar antara lain pada cara-cara penerimaan pernyataan dan
komunikasi, menghargai orang lain, dan memahaminya. Karena itu dalam teknik amat
diutamakan sifat-sifat konselor sebagai berikut:

1) Acceptance artinya konselor menerima klien sebagaimana adanya dengan segala masalahnya.
Jadi sikap konselor adalah menerima secara netral.

2) Congruence artinya karakteristik konselor adalah terpadu, sesuai kata dengan perbuatan dan
konsisten.
3) Understanding artinya konselor harus dapat secara akurat dan memahami secara empati dunia
klien sebagaimana dilihat dari dalam diri klien itu.

4) Nonjudgemental artinya tidak memberi penilaian terhadap klien, akan tetapi konselor selalu
objektif

3. Teori Gestalt

Terapi Gestalt diciptakan dan dikembangkan oleh Frederick S. Perls (1989-1970). Terapi Gestalt
mengemukakan teori mengenai struktur dan perkembangan kepribadian yang mendasari
terapinya serta serangkaian eksperimen yang dapat dipergunakan langsung oleh pembacanya.
Menurut Perls, Terapi Gestalt sifatnya eksistensial dan bersesuaian dengan ilmu pengetahuan,
ilmu pengetahuan dan alam semesta.

a. Tujuan Terapi Gestalt

Adapun tujuan utama dari terapi Gestalt adalah membantu klien untuk dapat mengembangkan
kepribadiannya secara menyeluruh dan memiliki kemampun untuk memecahkan
permasalahannya sendiri. Dengan terbentuknya kepribadian klien secara menyeluruh, klien dapat
menyadari sepenuhnya kelebihan dan kelemahan dirinya sehingga klien tidak akan lagi
tergantung pada orang lain, tetapi ia dapat berdiri sendiri dan menentukan pilihannya sendiri
sekaligus mampu mengemban tanggung jawab. Hal inilah yang akan membantu klien untuk
menemukan pusat dirinya.

Sasaran utama terapi Gestalt adalah pencapaian kesadaran. Kesadaran dengan dan pada dirinya
sendiri, dipandang kuratif. Tanpa kesadaran, klien tidak memiliki alat untuk mengubah
kepribadiannya. Dengan kesadaran, klien memiliki kesanggupan untuk menghadapi dan
menerima bagian-bagian keberadaan yang diingkarinya serta untuk berhubungan dengan
pengalaman-pengalaman subjektif dan dengan kenyataan. Klien bisa menjadi suatu kesatuan dan
menyeluruh. Apabila klien menjadi sadar, maka urusannya yang tidak selesai akan selalu muncul
sehingga bisa ditangani dalam terapi.

b. Proses Konseling

Proses konseling mengikuti lima hal yang penting sebagai berikut:


1) Pemolaan (patterning) pemolaan terjadi pada awal konseling yaitu situasi yang tercipta setelah
konselor memperoleh fakta atau penjelasan mengenai sesuatu gejalah, atau sesuatu permohonan
bantuan, dan konselor segera memberikan jawaban. Pola bantuan atau teknik selalu disesuaikan
dengan keadaan masalah. Jadi tidak ada satu teknik untuk semua masalah klien.2) Pengawasan
(control) control adalah tindakan konselor setelah pemolaan. Kontrol merupakan kemampun
konselor untuk meyakinkan atau ‘’memaksa” klien untuk mengikuti prosedur konseling yang
telah disiapkan konselor yang mungkin mencakup variasi kondisi. Ada dua aspek penting dalam
control yaitu:

1) motivasi,

2) rapport

3) Potensi yaitu usaha konselor untuk mempercepat terjadinya perubahan perilaku dan sikap
serta kepribadian. Hal ini bisa terjadi dalam hubungan konseling yang bersifat terapeutik. Salah
satu cara adalah mengintegrsikan penyadaran klien secara keseluruan.

4) Kemanusiaan. Kemanusiaan mencakup hal-hal sebagai berikut:

a) Perhatian dan pengenalan konselor terhadap klien.

b) Keinginan konselor untuk mendampingi dan mendorong klien pada respon untuk menjelaskan
pengalamannya.

c) Kemampuan konselor untuk memikirkan perkiraan ke arah kepercayaan klien dan


membutuhkan dorongan.

d) Keterbukaan konselor yang kontinu sehingga merupakan modal bagi klien untuk perubahan
perilaku.

5) Kepercayaan. Dalam konseling diperlukan kepercayaan termasuk

a) Perhatian dan pengenalan konselor terhadap diri sendiri dalam hal jabatan. b) Kepercayaan
konselor terhadap diri sendiri untuk menangani klien secara individual c) Kepercayaan diri untuk
mengadakan penelitian dan pengembangan. Dalam hal ini dituntut kreatifitas konselor dalam
usaha membantu klien dengan cara pengembangan teori yang ada.
c. Teknik Terapi Gestalt

Terapi Gestalt memiliki cukup banyak teknik yang dapat digunakan untuk membantu klien
mencapai kesadaran. Bahkan, dalam penggunaannya klien tidak menyadari bahwa teknik terapi
telah dilakukan karena dibuat dalam bentuk permainan. Teknik-teknik ini digunakan sesuai
dengan gaya pribadi konselor yng disesuaikan dengan klien.

Gunarsa (1996) mengemukakan teknik terapi Gestalt, antara lain:

1) Pengalaman sekarang

Klien diarahkan untuk merasakan dan melakukan pengalaman masa lalu atau masa yang akan
datang sehingga dijadikan pengalaman sekarang.

2) Pengarahan langsung

Konselor mengarahkan secara terus-menerus hal-hal yang harus dilakukan klien berdasarkan
pernyataan yang diberikan klien.

3) Perubahan bahasa

Klien didorong untuk mengubah bentuk pertanyaan menjadi pernyataan. misalnya, dapatkah saya
bahagia? diganti menjadi sebenarnya saya tidak bahagia.

4) Teknik kursi kosong

Klien diarahkan untuk berbicara dengan orang lain yang dibayangkan sedang duduk di kursi
kosong yang ada di samping atau di depan klien. Setelah itu, klien diminta untuk berganti tempat
duduk dan menjawab pertanyaannya tadi seolah-olah sebelumnya klien adalah orang lain
tersebut. Tugas terapis adalah mengarahkan pembicaraan dan menentukan kapan klien hrus
berganti tempat duduk. Teknik ini juga disebut permainan (role playing).

5) Berbicara dengan bagian dari dirinya

Teknik ini adalah variasi dari teknik kursi kosong. Intinya adalah klien melangsungkan
percakapan antara bagian-bagian yang ada dalam dirinya yang menimbulkan konflik. Misalnya,
percakapan top dog yang suka menuntut dengan under dog yang penurut.
4. Terapi Behavioral

Dilihat dari sejarahnya, konseling behavioral ini tak dapat dipisahkan dari eksperimen-
eksperimen Pavlov (1849-1936) dengan teori classikal conditioning-nya, dan eksperimen-
eksperimen Skinner (1904- 1990) dengan teori Opern Conditioning-nya. Dfan juga percobaan-
percobaan ahli-ahli lainnya yang berupaya mengembangkan teori belajar berdasarkan
eksperimen-eksperimennya. Publikasi dan penelitian- penelitian yang dilakukan Watson (1878-
1958) dan lainnya, secara sistematis mengembangkan dan menyempurnakan prinsip-prinsip
behavioral. Dan akhirnya teori behavioral menjadi popular dan memberikan inspirsi bagi upaya-
upaya pengubahan perilaku, termasuk didalamnya melalui upaya konseling. Sejalan dengan
pendekatan yang digunakan dalam teori behavioral, konseling behavioral menaruh perhatian
pada upaya perubahan perilaku. Sebagai pendekatan yang relative baru, perkembangannya sejak
1960-an, konseling ini telah memberi implikasi yang cukup besar dan spesifik pada tekhnik dan
strategi konseling. Rahman Nata Wijaya menyatakan bahwa terapi behavioral ini dapat
menangani masalah perilaku mulai dari kegagalan individu untuk belajar merespon secara
adaptif, sampai mengatasi gejala neurosis.

a. Konsep pokok

Konselor behavioral membatasi perilaku sebagai fungsi interaksi antara pembawaan dengan
lingkungan. Dalam konsep behavioral perilaku manusia merupakan hasil belajar, sehingga dapat
diubah dengan manipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi belajar mempelajari respons-respons
yang baru yang lebih sehat. Terapi ini berbeda dengan terapi lain, dan pendekatan ini ditandai
oleh:

1) Fokusnya pada perilaku tampak dan spesifik.

2) Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment.

3) Formulasi prosedur treatment khusus sesuai dengan masalah khusus.

4) Penilaian objektif mengenai hasil konseling.

c. Peran Konselor
Konselor behavioral memiliki peran sangat penting dalam membantu klien. Wolpe
mengemukakan peran yang hrus dilakukan konselor yaitu bersikap menerima, mencoba
memahami keadaan klien dan apa saja yang dikemukakan tanpa kritik. Dalam hal ini penciptaan
iklim yang baik sangat membantu dalam rangka memodifikasi perilakunya. Konselor diharapkan
lebih berperan sebagai guru yang membantu klien melakukan teknik-teknik mofifikasi perilaku
sesuai dengan masalah, serta tujuan dilakukannya konseling.43

d. Teknik Konseling

Konseling behavioral memiliki beberapa teknik spesifik yang digunakan untuk memodifikasi
perilaku terkait dengan tujuan konseling. Teknik-teknik tersebut antara lain:

1) Disentisasi Sistematik

Disentisasi Sistematik merupakan teknik relaksasi untuk menghapus perilaku yang diperkuat
secara negative, biasanya berbentuk kecemasan, dan menyertakan respon yang berlwanan
dengan perilaku yang akan dihilangkan.

2) Terapi Impulsive

Terapi impulsive adalah model terapi yang dikembangkan berdasarkan asumsi, bahwa bila
seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada situasi yang menimbulkan kecemasan, akan
tetapi akibat yang menakutkan tidak muncul, maka kecemasannya akan hilang. Atas dasar
asumsi tersebut dalam situasi konseling, klien diminta untuk membayangkan stimulus-stimulus
yang menimbulkan kecemasan secara berulang-ulang, dan bila konsekuensi yang diharapkan
tidak muncul maka akhirnya stimulus yang mengancam tidak lagi memiliki kekuatan dan akan
hilang.

3) Latihan Asertif

Latihan asertif dilakukan untuk melatih individu yang kesulitan untuk menyatakan diri bahwa
tindakannya layak, atau wajar, atau benar. Latihan ini akan bermanfaat untuk membantu individu
yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung,kesulitan menyatakan tidak,
mengungkapkan afeksi dan respons positif lainnya.

4) Pengkondisian Aversi
Teknik ini dilakukan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus
yang tidak menyenangkan (menyakitkan) sehingga perilaku yang tidak dikehendaki terhalang
kemunculannya.

5) Pembentukan Perilaku Model

Perilaku model dipakai untuk membentuk perilaku baru pada klien, memperkuat perilaku yang
telah terbentuk. Perilaku yang berhasil untuk dicontoh diberikan penguat tau ganjaran oleh
konselor. Ganjaran dapat berbentuk pujian sebagai ganjaran social dan juga bentuk yang lain.

6) Kontrak Perilaku

Teknik ini didasarkan atas pandangan bahwa membantu klien membentuk perilaku tertentu yang
diinginkan dan memperoleh penguatan ganjaran tertentu adalah sesuai dengan kontrak yang
disepakati. Konselor dapat memilih perilaku realistic yang dapat diterima oleh kedua pihak.
Setelah perilaku dimunculkan sesuai dengan kesepakatan, ganjaran, atau penguatan diberikan
kepada klien.