Anda di halaman 1dari 11

TUGAS TEKNOLOGI PENGOLAHAN REMPAH

Disusun Oleh :

Anisa Mawarni 240210160062


Dinar Zhafira 240210160067
Jefry Harianto 240210160069
Fajar Abhirama 240210160076
Bella Amalia 240210160077
Jafar Syidik 240210160095

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI INSUSTRI PERTANIAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2019
1. Minyak Daun Cengkeh
Minyak daun cengkeh merupakan minyak yang diekstrak dari daun cengkeh.
Ekstraksi minyak atsiri dari daun cengkeh umumnya dilakukan dengan metode
distilasi uap. Hal ini karena minyak atsiri dari daun cengkeh maupun dari komoditas
rempah lainnya banyak mengandung senyawa volatil. Menurut Nurhadianty, et. al.
(2017), prosedur distilasi uap yang dilakukan untuk mengekstrak minyak atsiri daun
cengkeh dilakukan dengan menggunakan seperangkat alat distilasi uap yang dapat
dilihat pada gambar 1. Daun cengkeh dimasukkan ke dalam bak penampung pada
distilasi uap. Di bagian lain, air digunakan sebagai sumber uap yang mana uap
merupakan sumber panas dalam distilasi uap. Proses distilasi uap berlangsung selama
6 jam terhitung dari tetesan pertama. Distilat ditempatkan dalam botol kaca dan
ditutup rapat untuk menjaga kualitasnya. Proses pemisahan air dan minyak daun
cengkeh dilakukan dengan corong pisah.

Gambar 1. Perangkat Distilasi Uap


(Sumber: Nurhadianty, et. al. 2017)
Menurut Arrijani, et. al. (2017), karakteristik dari minyak daun cengkeh
dipengaruhi oleh tempat diambilnya daun tersebut terutama ketinggian di mana
tanaman cengkeh ditanam. Minyak atsiri yang diekstrak dari daun cengkeh yang
ditanam pada ketinggia 100-200 m diatas permukaan laut memiliki rendemen
sebanyak 2,8%. Pada ketinggian 301-400 m, rendemen minyak atsiri yang dihasilkan
adalah 3,08%. Sementara pada ketinggian 701-800 m rendemen minyak atsiri yang
dihasilkan adalah 1,27%.
Analisis terhadap kandungan senyawa fitokimia pada minyak atsiri daun
cengkeh dapat dilakukan dengan metode Gas Chromatography atau GC. Analisis
terhadap senyawa fitokimia ini sudah dilakukan oleh Jirovetz, et. al. (2006). Hasil
analisis dapat dilihat pada gambar 2. Kandungan senyawa fitokimia pada minyak
atsiri daun cengkeh didominasi senyawa eugenol yang memiliki aroma pedas seperti
cengkeh mirip kayumanis.

Jirovetz, et. al. (2016) juga melakukan pengujian terhadap aktivitas


antioksidan dari minyak atsiri daun cengkeh. Hasilnya, aktivitas antiradikal terhadap
DPPH dari minyak atsiri daun cengkeh lebih tinggi dibanding eugenol, BHT, dan
BHA. Minyak atsiri daun cengkeh juga memiliki kemampuan menghambat radikal
bebas OH* serta mengkelat Fe3+ dengan konsentrasi yang lebih sedikit dibanding
eugenol dan quercetin. Hal ini menunjukkan potensi minyak atsiri daun cengkeh
sebagai antioksidan.
1.1 Karakteristik Minyak Daun Cengkeh
Minyak daun cengkih berwarna kuning pucat, bila kena cahaya matahari
berubah menjadi coklat. Minyak dapat larut dalam etanol 70-90% dan eter, berat jenis
(25°C) 1,014-1,054, putaran optik (20°C) 0-15, dan indeks bias (20°C) 1,528-1,537.
Menurut Djasula Wangi Indonesia (2011), minyak daun cengkih kasar asal Indone-sia
memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) warna coklat kehitaman dan bau aromatik kuat, rasa rempah dan pedas
2) berat jenis (20°C) 1,025-1,0609
3) indeks bias (20°C) 1,527-1,541
4) kandungan eugenol minimum 78% (cara basah)
5) kelarutan dalam etanol 70% (v/v) 1:2, dan
6) dapat disimpan hingga 2 tahun.
Komponen utama minyak cengkih adalah eugenol (70-80%), asetil eugenol,
beta-kariofilen, dan vanilin. Juga me-ngandung tanin, asam galatonat, metil salisilat,
asam krategolat, senyawa flavo-noid eugenin, kaemferol, rhamnetin, dan eugenitin
serta senyawa triterpenoid asam oleanolat, stigmasterol, dan kam-pesterol (Anonim
2010a)
Eugenol (C10H12O2) merupakan tu-runan guaiakol yang mendapat tambahan
rantai alil, dengan nama 2-metoksi-4-(2-propenil) fenol dan dapat dikelompokkan
dalam keluarga alil benzena dari senyawa fenol (Anonim 2010b). Warnanya bening
hingga kuning pucat, kental seperti minyak, mudah larut dalam pelarut organik,
sedikit larut dalam air, berat molekul 164,20, dan titik didih 250-255°C. Aromanya
segar dan pedas seperti bunga cengkih kering. Bahan baku eugenol selain minyak
cengkih adalah pala, kulit kayu manis, dan salam (Anonim 2010b).
1.2 Pohon Industri Minyak Daun Cengkeh

Sediaan
Farmasi
Pohon Daun Minyak
Cengkeh Cengkeh
Kosmeti
ka

Gambar 2. Pohon Industru Minyak Daun Cengkeh

Masyarakat Maluku telah menggunakan cengkih untuk menyembuhkan luka


se-jak abad ke-18 (Rumphius 1941 dalam Nurdjannah 2004). Minyak cengkih
mempunyai efek farmakologi sebagai stimulan, anastetik lokal, karminatif,
antiseptik, dan antipasmodik (Perry dan Metzger 1990 dalam Nurdjannah 2004).
Daun, gagang bunga, minyak cengkih, dan eugenol dapat menekan bahkan memati-
kan pertumbuhan miselium jamur, koloni bakteri, dan nematoda sehingga dapat
digunakan sebagai fungisida, bakterisida, nematisida, dan insektisida.
Minyak cengkih dapat pula digunakan sebagai obat anestesi dalam penang-
kapan, penanganan, dan transportasi ikan hias sebagai alternatif larutan sianida
(Erdman 2004 dalam Nurdjannah 2004). Keunggulan eugenol dibandingkan de-ngan
bahan kimia lain yang biasa dipakai untuk anestesi ikan, seperti MS.222, quinaldin
dan benzokain, antara lain adalah sangat efektif walaupun dalam dosis rendah, mudah
proses induksinya, waktu pemulihan kesadarannya lebih lama, dan harganya jauh
lebih murah (Munday dan Wilson 1997; Keene et al. 1998).
Eugenol dari minyak cengkih banyak dipakai dalam industri kesehatan dalam
bentuk obat kumur, pasta, bahan penambal gigi, balsam, dan penghambat pertum-
buhan jamur patogen (Tombe et al. 1995; Anonim 2008). Turunan dari eugenol
seperti isoeugenol dan vanilin diman-faatkan dalam industri parfum, wewangian,
penyedap makanan, penyerap ultraviolet, stabilisator, dan antioksidan dalam pem-
buatan plastik dan karet (Anonim 2010b). Metil eugenol mempunyai aroma khas
serangga betina (feromon seks), sebagai atraktan untuk menarik lalat jantan dalam
pengendalian lalat buah (Kardinan 1999; Anonim 2010b).
2. Limbah Daun Cengkeh
2.1 Limbah Daun Cengkeh Untuk Bahan Bakar (Biofuel)

Daun dan Daun Minyak Atsiri Bahan Bakar


Cengkeh

Ekstraksi Penyulinga
n
Tanaman cengkeh adalah tanaman rempah, dimana bagian utama tanaman
cengkeh yang paling komersial adalah bunga cengkeh, sementara untuk daun cengkeh
belum termanfaatkan secara maksimal dan masih dianggap limbah yang kurang
berguna. Padahal daun cengkeh memiliki kandungan minyak atsiri 1- 4%. Dengan
kandungan tersebut memungkinkan untuk dilakukan penyulingan minyak yang
terkandung didalamnya, sehingga limbah tersebut memiliki nilai ekonomis yang
tinggi (Nuryoto, dkk,. 2011).
Selama ini, tanaman cengkeh di Indonesia hanya digunakan untuk bahan baku
rokok, yaitu pada bagian bunganya. Padahal pada batang dan daunnya terdapat
minyak atsiri yang dapat dimanfaatkan sehingga menambah nilai guna tanaman
cengkeh. Menurut Nurdjannah (2004) pohon cengkeh memiliki bau yang khas yang
berasal dari minyak atsiri yang terdapat bunga (10-20%), gagang (5- 10%) dan daun
(1-4%). Komponen terbesar yang terdapat dalam minyak atsiri cengkeh adalah
eugenol sebesar 70-80%.
Beberapa metode yang telah dilakukan untuk mendapatkan minyak cengkeh
antara lain ekstraksi, penyulingan (distilasi) dan lain- lain. Berdasarkan segi ekonomi
dan rendemen yang dihasilkan, cara yang paling banyak digunakan saat ini adalah
distilasi. Teknik distilasi ini terdiri dari 3 macam, yaitu steam distillation, hydro
distillation dan steam- hydro distillation. Steam distillation dapat menghasilkan
rendemen lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan hydro distillation.
Namun steam distillation membutuhkan waktu yang lebih lama (Santoso, Hutama,
Lystyoarti, & Nilatari, 2004). Penyulingan minyak atsiri dapat dilakukan dengan 3
cara, namun yang digunakan pada penelitian ini yaitu penyulingan dengan air dan uap
(water and steam distillation). Destilasi ini cocok digunakan untuk bahan kering
maupun segar yang dapat rusak apabila dididihkan. Pada destilasi dengan cara ini
bahan tidak kontak langsung dengan air sehingga yang kontak dengan bahan bukan
air melainkan uap air .Bahan diletakkan di atas piring yang berupa ayakan (angsang),
yang diletakkan beberapa sentimeter di atas permukaan air dalam ketel penyuling
(Nurjannah, 2016). Namun dari hasil penyulingan akan diperoleh sisa daun cengkeh
yang berpotensi digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan bahan bakar
yang terbarukan. Bahan bakar yang dimaksud berupa bahan bakar cair,bahan bakar
gas dan bahan bakar padat ( char ). Metode yang biasa digunakan untuk
menghasilkan bahan bakar dari biomassa yaitu dengan metode pirolisis. Pirolisis
merupakan proses dekomposisi termal dimana oksidatornya adalah berupa gas inert.
Dalam prosesnya, bahan baku yang akan dikonversi menjadi bahan bakar alternatif
nanti berasal dari sumber daya yang terbarukan seperti biomass. Dari penelitian yang
sudah dilakukan, biomass dapat dikonversi dalam bentuk bahan bakar padat
(arang/char), bahan bakar cair (tar), dan bahan bakar gas. Disamping itu dengan
pemanfaatan sisa daun tersebut juga menjadi solusi untuk penanggulangan limbah
(Wijayanti, 2013).

2.2 Limbah Daun Cengkeh Untuk Sintesis Vanili


Daun Cengkeh Limbah Sintesis Vanili

Vanili (Vanilla planifolia Andrews) merupakan tanaman rempah tropis


bernilai ekonomi tinggi karena merupakan rempah termahal kedua yang
diperdagangkan di dunia internasional. Permintaan yang tinggi akan ekstrak vanili
menyebabkan diproduksinya vanillin sintetik yang berasal dari eugenol (minyak
cengkeh), lignin (limbah bubur kertas) dan guaiakol (petrokimia). Limbah daun
cengkeh yang mengandung eugenol bisa dimanfaatkan dalam proses pembuatan
vanillin sintetik. Eugenol merupakan cairan tidak berwarna atau berwarna kuning-
pucat, dapat larut dalam alkohol, eter dan kloroform. Mempunyai rumus molekul
C10H1202, bobot molekulnya adalah 164,20 dan titik didih 250 -255°C. Rumus
bangunnya adalah :

Gambar 3. Struktur eugenol (Ngadiwiyana, 2005)

Teknologi mengenai sintesis vanili dari limbah daun cengkeh ini sudah
banyak dikembangkan. Selain dapat menghasilkan vanili juga dapat menjadi salah
satu solusi pemanfaatan limbah dari daun cengkeh. Pengubahan minyak cengkeh
menjadi vanillin dapat dilakukan melalui rute sintesis yang terdiri dari beberapa tahap
reaksi, yaitu isolasi eugenol dari minyak cengkeh, isomerisasi eugenol menjadi
isoeugenol, asetilasi isoeugenol menjadi isoeugenil asetat, oksidasi isoeugenil asetat
menjadi vanilin asetat, dan hidrolisis vanillin asetat menjadi vanilin. Diagram alir
reaksi pembuatan vanilin dari minyak cengkeh dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 4. Tahapan pembuatan vanillin dari limbah daun cengkeh

Isomerasi Oksidasi Vanilin


•Limbah daun •Isoeugenol •Vanilin
cengkeh •Eugenol •Isoeugenil Asetat
asetat

Isolasi Eugenol Asetilasi Hidrolisis


2.3 Limbah Daun Cengkeh Sebagai Biosensitizer
Pohon Industri Daun Cengkih

Daun Cengkih Limbah Biosensitizer

Limbah pertanian daun cengkih mengandung bahan dasar atau sumber utama
komponen fenolik, flavonoid dan tannin yang melimpah, yang peka/sensitif terhadap
sinar matahari, justru dapat diolah kembali menjadi bahan biosensitizer yang
bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman, dan meningkatkan kesuburan tanah oleh
bantuan cahaya matahari. Pemanfaatan limbah daun cengkih dilakukan dengan cara
mengolah limbah secara kimiawi menjadi bahan organik yang mengandung bahan
sensitizer alami dapat disebut biosensitizer. Bahan biosensitizer dapat diperoleh
dengan mengekstrak daun cengkih dan dianalisis secara fitokimia sehingga
menghasilkan senyawa fenolik, flavonoid dan tanin dengan menggunakan reagen
tertentu dan oleh bantuan sinar ultra violet (UV) dari cahaya matahari (Rorong, 2012).
Bahan sensitizer adalah suatu bahan organik yang mengandung komponen
fenolik yang bersifat sangat peka/sensitif terhadap cahaya sinar UV dari matahari.
Ketika komponen fenolik dikenai sinar UV, komponen fenolik akan mengalami
perubahan sehingga dapat bertindak sebagai donor elektron. Sebuah elektron dapat
disumbangkan kepada ion besi/ion ferri pada reaksi fotoreduksi besi Fe+3 dan Fe+2.
Keberadaan besi di alam dalam bentuk ion ferri sedangkan hanya ion ferro yang dapat
diserap oleh akar tumbuhan untuk kelangsungan hidupnya. Unsur besi adalah unsur
hara mikro namun harus tersedia dalam tanah dan sangat esensial bagi tumbuhan
(Rorong dan Edi, 2014).
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Cengkeh komoditas utama penyulingan di Indonesia.


http://my.opera. com/ealdorado/blog/cengkeh -komoditi - utama-
penyulingandi-indonesia. [28 Mei 2019]
Anonim. 2010a. Cengkeh tanaman asli Indo-nesia.
http://www.apoteker.com//pojok% 2 0 h e r b a l / c e n g k e h t a n a m a
n _ a s l i _ indonesia.htm. [28 Mei 2019).
Anonim. 2010b. Eugenol. http://id.wikipedia. org/wiki/eugenol. [28 Mei 2019].
Arrijani, Kamaluddin, dan A. Kapahang. 2017. Characteristic of Clove Essential
Oil (Eugenia aromatica o.k.) in Various Range of Elevation. Journal of
Medicinal Plants Studies 5(5): 27-32.
Dianningrum, Laras Wuri. Sintesis Vanilin dari Limbah Daun Cengkeh.
Djasula Wangi Indonesia. 2011. Jual Minyak Daun Cengkeh. PT Djasula Wangi
Indonesia. http://www.indonetwork.co.id/djasula_wangi/ 5 9 8 5 6 3 / c l
ov e - l e a f - o i l - m i n ya k - d a u n - cengkeh. [28 Mei 2019].
Jirovetz, L., G. Buchbauer, I. Stoilova, A. Stoyanova, A. Krastanov, dan E.
Schmidt. 2006. Chemical Composition and Antioxidant Properties of
Clove Leaf Essential Oil. J. Agric. Food Chem. 54: 6303-6307.
Joko Santoso, Fajar Mardhi Hutama, Fatina Anesya Lystyoarti, Lidya Linda
Nilatari. 2014. Ekstraksi Minyak Atsiri Dari Daun dan Batang Cengkeh
Dengan Metode Hydrodistillation dan Steamhydro Distillation Untuk
Meniingkatkan Nilai Tanaman Cengkeh dan Menentukan Proses Ekstraksi
Terbaik. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya
Keene, J.L., D.G. Noakes, R.D. Moccia, and C.G. Soto. 1998. The efficacy of
clove oil as anaestetic for rainbow trout, Oncorhyncus mykiss (Walbaw).
Aquaculture Res. 29: 89- 101.
Ngadiwiyana. 2005. Polimerisasi Eugenol Dengan Katalis Asam Sulfat Pekat. J.
Kim. Sains & Apl. Vol. 8 (2). Nurdjannah, N. 2004. Diversifikasi
penggunaan cengkeh. Perspektif, Review Penelitian Ta-naman Industri
3(2): 61-70.
Nurhadianty, V., C. Cahyani, W.O.C. Nirwana, L.K. Dewi, G. Abdillah, dan A.R.
Pratama. 2017. Peningkatan Yield Minyak Daun Cengkeh (Syzygium
aromaticum) dengan Fermentasi Selulotik Menggunakan Trichoderma
harzianum. Jurnal Rekayana Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan 1(1):
36-41.
Nuryoto, Jayanudin, dan Hartono, 2011. Karakterisasi Minyak Atsiri dari Limbah
Daun Cengkeh. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan”
Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam
Indonesia.Yogyakarta, 22 Februari 2011. ISSN 163 –4393
Nurdjannah, N., 2004. Diversifikasi PenggunaanCengkeh, Perspektif. Vol. 3(2).
61-70.
Rorong, J.A. 2012. Ferro Content in Soil and Mustard Leave (Brassica junjea)
Treated by Agricultural Waste on the Biosensitizer–Iron Production. Jurnal
Tanah Tropika, 17(3) : 211-218
Rorong, J.A. dan Edi S. 2014. Potensi Daun Cengkih sebagai Biosensitizer untuk
Fotoreduksi Besi pada Lahan Pertanian Hortikultura. Prosiding Seminar
Nasional Lahan Suboptimal 2014, 53 : 1-12
Wijayanti, W. (2013). Pengidentifikasian Entalpi Bahan Bakar Padat dan Cair
hasil Proses Pirolisis Biomasa.