Anda di halaman 1dari 11

TEORI-TEORI TENTANG HUKUM PIDANA

A. Pengertian
Istilah Hukuman Pidana dalam bahasa Belanda sering disebut yaitu Straf. Hukuman adalah
istilah umumuntuk segala macam sanksi baik perdata, adminstratif, disiplin dan pidana.
Sedangkan dalam arti sempit pidana diartikan sebagai Hukum pidana.

B. Tujuan Pidana
Dalam Rancangan KUHP Nasional, telah diatur tentang tujuan penjatuhan pidana, yaitu:
1. Mencegah dilakukannya tindak pidana menegakan norma hukum demi pengayoman
masyrakat.
2. Mengadakan koerksi terhadap terpidana dan dengan demikian menjadikannya orang
yang baik dan berguna.
3. Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan
dan mendatangkan rasa damai dalam masyrakat.
4. Membebaskan rasa bersalah pada terpidana (Pasal 5).

Dalam literatur bahasa inggris tujuan pidana bisa disebutkan sebagai berikut:
a) Reformation berarti memperbaiki atau merehabitasi penjahat menjadi orang baik dan
berguna bagi masyrakat.
b) Restraint maksudnya mengasingkan pelanggaran dari masyarakat, dengan tersingkirnya
pelanggaran hukum dari masyrakat berarti masyrakat itu akan menjadi lebih aman.
c) Restribution adalah pembalasan terhadap pelanggaran karena telah melakukan
kejahatan.
d) Deterrence, adalah menjera atau mencegah sehingga baik terdakwa sebagai individual
maupun orang lain yang potensial menjadi penjahat akan jera atau takut untuk melakukan
kejahatan, melihat pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa.

RUANG LINGKUP KEKUATAN BERLAKUNYA HUKUM PIDANA :

A. ASAS LEGALITAS
Asas ini tercantum didalam pasal 1 ayat 1 KUHP dirumuskan didalam bahasa latin: ”Nullum
Delictum nulla poena sine legipoenali” yang artinya. Tidak ada delik, tidak ada pidana tanpa
ketentuan pidana yang mendahuluinya.
Ada kesimpulan dari rumus tersebut:

1) Jika sesuatu perbuatan yang dilarang atau pengabaian sesuatu yang diharuskan dan
diancam dengan pidana, maka perbuatan atau pengabdian tersebut harusdtercantum didalam
undang-undang.
2) Ketentuan tersebut tidak boleh berlaku surut, dengan satu kekecualian yang tercantum
didalam pasal 1ayat 2 KUHP.

B. Penerapan Anologi
Utrecht menarik garis pemisah antara imterprestasi eksetensi dan penerapan analogi sebagai
berikut:

I. Interfrestasi : Menjalankan undang-undangan setelah undang-undang tersebut


dijelaskan.
Anologi : Menjelaskan suatu perkara dengan tidak menjalankan undang-
undanag.
II. Interfrestasi : Menjalankan kaidah yang oleh undang-undang tidak dinyatakan
dengan tegas.
Anologi : Menjalankan kaidah tersebut untuk menyelsaikan suatu perkara
yang tidak disingung oleh kaidah,tetapi yang mengandung kesamaan dengan perkara yang
disinggung oleh kaidah, tetapi yang mengandung kesamaan dengan perkara yang disinggung
kaidah tersebut.

C. Hukum Transitoir (Peralihan)


Yang menjadi masalah dalam hal ini.adalahketentuan perundang-undangan yang mana
apakah ketentuan hukum pidana saja ataukah ketentuan hukum yang lain, masih
dipermasalahkan oleh para pakar sarjana hukum pidana.Menurut Memorie van Toelichting
(Memori penjelasan) WvSN (yang dapat dipakai oleh KUHP), perubahan perundang-
undangan berarti semua ketentuan hukum material yang secara hukum pidana
“Mempengaruhi penilaian perbuatan”.

D. Berlakunya Hukum Pidana Menurut Ruang Tempat dan Orang

I. Asas Teritorialitas atau Wilayah


Asas wilayah atau teritorialitas ini tercantum didalam pasal 2 KUHP, yang berbunyi :
“peraturan hukum pidana Indonesia berlaku terhadap tiap-tiap orang yang di dalam nilai
Indonesia melakukan delik (straftbaar feit) disini berarti bahwa orang yang melakukan delik
itu tidak mesti secara fisik betul-betul berada di Indonesia tetapi deliknya straftbaar feit
terjadi di wilayah Indonesia

II. Asas Nasionalitas Pasif atau Asas Perlindungan


Asas ini menentukan bahwa hukum pidana suatu negara (juga Indonesia) berlaku
terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukan di luar negeri, jika karena itu kepentingan
tertentu terutama kepentingan negara dilanggar diluar wilayah kekuasaan itu. Asas ini
tercantum didalam pasal 4 ayat 1, 2 dan 4 KUHP. Kemudian asas ini diperluas dengan
undang-undang no. 4 tahun 1976 tentang kejahatan penerbangan juga oleh pasal 3 undang-
undang no. 7 (drt) tahun 1955 tentang tindak pidana ekonomi.

III. Asas Personalitas atau Asas Nasional Aktif


Inti asas ini tercantum dalam pasal 5 KUHP, asas personalitas ini diperluas dengan
pasal 7 yang disamping mengandung asas nasionalitas aktif (asas personalitas) juga asas
nasional pasif (asas perlindungan).

IV. Asas Universalitas


Jenis kejahatan yang diancam pidana menurut asas ini sangat berbahaya bukan saja
dilihat dari kepentingan Indonesia tapi kepentingan dunia secara universal kejahatan ini
dipandang perlu dicegah dan diberantas. Demikianlah, sehingga orang jerman menamakan
asas ini welrechtsprinhzip (asas hukum dunia) disini kekuasaan kehakiman menjadi mutlak
karena yuridiksi pengadilan tidak tergantung lagi pada tempat terjadinya delik atau
nasionalitas atau domisili terdakwa.
ASAS DALAM HUKUM PIDANA :

- Asas Legalitas

Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu
belum dinyatakan dalam undang-undang.

“Tiada suatu perbuatan dapat dipidana, kecuali berdasarakan kekuatan ketentuan


perundang-undangan pidana yang telah ada sebelumnya” (Pasal 1 Ayat 1 KUHP).

- Asas Equality Before the Law

Yaitu asas yang menjamin persamaan di mata hukum tanpa kecuali pada setiap orang.

“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan perlindungan, dan kepstian hukum yang adil
serta perlakuan yang sama dihadapan hukum” (UUD 1945 Pasal 28 D ayat 1)

- Asas Praduga Tak Bersalah

Seseorang dianggap tidak bersalah sebelum adanya keputusan hakim yang bersifat tetap yang
menyatakan ia bersalah.

“Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut dan atau dihadapkan di muka
sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang
menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap.” (Penjelasan Umum
KUHAP butir ke 3 huruf c)

- Asas teritorial

Ketentuan hukum pidana Indonesia berlaku di wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik
Indonesia, termasuk pula di kapal berbendera Indonesia, pesawat terbang Indonesia, gedung
kedutaan, dan konsul Indonesia di negara asing.

“Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia diterapkan bagi setiap orang


yang melakukan sesuatu delik di Indonesia“ (Pasal 2 KUHP)

Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia berlaku bagi setiap orang yang
diluar wilayah indonesia melakukan delik di dalam perahu atau pesawat udara Indonesia.
(Pasal 3 KUHP)

- Asas nasionalitas aktif

Yakni aturan-aturan hukum pidana Indonesia berlaku untuk semua warga negara Indonesia
(WNI) yang melakukan tindak pidana, di mana pun mereka berada.

(1) Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia diterapkan bagi warga negara
yang di luar Indonesia melakukan:

1. salah satu kejahatan tersebut dalam Bab I dan II Buku Kedua dan pasal-pasal
160, 161, 240, 279, 450, dan 451.
2. salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan pidana dalam perundang-
undangan Indonesia dipandang sebagai kejahatan, sedangkan menurut
perundang-undangan negara dimana perbuatan dilakukan diancam dengan
pidana.

(2) Penuntutan perkara sebagaimana dimaksud dalam butir 2 dapat dilakukan juga jika
tertuduh menjadi warga negara sesudah melakukan perbuatan. (Pasal 5 KUHP.)

- Asas nasionalitas pasif

Yakni ketentuan-ketentuan hukum pidana berlaku bagi segala tindak pidana yang merugikan
kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketentuan pidana dalam perundang-undangan Indonesia diterapkan bagi setiap orang yang
melakukan di luar Indonesia:

1. salah satu kejahatan berdasarkan pasal-pasal 104, 106, 107,108,dan 131.

2. suatu kejahatan mengenai mata uang atau uang kertas yang dikeluarkan oleh negara atau
bank, ataupun mengenai meterai yang dikeluarkan dan merek yang digunakan oleh
Pemerintah Indonesia.

3. pemalsuan surat hutang atau sertifikat hutang atas tanggungan Indonesia, atas tanggungan
suatu daerah atau bagian daerah Indonesia, termasuk pula pemalsuan talon, tanda dividen
atau tanda bunga, yang mengikuti surat atau sertifikat itu, dan tanda yang dikeluarkan sebagai
pengganti surat tersebut, atau menggunakan surat-surat tersebut di atas, yang palsu atau
dipalsukan, seolah-olah asli dan tidak dipalsu;

4. salah satu kejahatan yang tersebut dalam pasal-pasal 438, 444 sampai dengan 446 tentang
pembajakan laut dan pasal 447 tentang penyerahan kendaraan air kepada kekuasaan bajak
laut dan pasal 479 huruf j tentang penguasaan pesawat udara secara melawan hukum, pasal
479 huruf I, m, n, dan o tentang kejahatan yang mengancam keselamatan penerbangan sipil.
(Pasal 4 KUHP).

ASAS HUKUM ACARA PIDANA :

1. Asas Legalitas
Legalitas berasal dari kata legal (latin), aslinya legalis, artinya sah menurut undang-undang.
Asas legalitas di kenal sebagai berikut:
a. Dalam hukum pidana mengatakan “ tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali
berdasarkan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada ’’. ( Nullum Delictum
Nulla Poena Sine Previa Lege Poenali ). Asas ini terdapat dalam pasal 1 ayat 1 KUHP.
b. Setiap perkara pidana harus diajukan ke depan hakim. ( Lihat Konsideran KUHAP huruf
‘a’. kemudian selain asas ini juga ada asas Oportunitas yaitu seseorang tidak dapat dituntut
oleh jaksa karena dengan alasan dan pertimbangn Demi Kepenringan Umum jadi dalam hal
ini dideponer (dikesampingkan). Walaupun asas ini dianggap bertolak belakang dengan asas
legalitas namun dalam UU Pokok Kejaksaan Agung Nomor 15 Tahun 1961, pasal 8 memberi
kewenangan kepada Kejaksaan Agung untuk mendeponer/ menyampingkan suatu perkara
berdasarkan ‘’Demi Kepentingan Umum’’. Hal ini dipertegas lagi dalam pejelasan KUHAP
pasal 77 yang berbunyi: yang dimaksud ‘’penghentian penuntutan’’ tidak termasuk
penyampingan perkara untuk kepentingan umum yang menjadi wewenang Jaksa Agung.

2. Asas Perlakuan Yang Sama Di Muka Hukum ( Equality Before The Law )
Asas ini sesuai dengan UU Pokok Kekuasaan Kehakiman, Pasal 5 Ayat 1 yang berbunyi:
Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang. Terdapat juga
dalam penjelasan umum KUHAP butir 3 a yang berbunyi: perlakuaan yang sama atas diri
setiap orang di muka hukum dengan tidak mengadakan pembedaan perlakuan.

3. Asas Praduga Tak Bersalah ( Presumption Of Innocent )


Asas ini dapat di jumpai dalam penjelasan umum KUHAP butir 3 huruf c. juga dirumuskan
dalam UU Pokok kekuasaan Kehakiman Nomor 14 Tahun 1970, Pasal 8 yang berbunyi: “
setiap orang yang sudah disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, dan atau dihadapkan di muka
sidang pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang
menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum tetap”.
Menurut M. Yahya Harahap, asas praduga tak bersalah di tinjau dari segi teknis penyidikan
dinamakan “ Prinsip Akusator “. Prinsip Akusator menempatkan kedudukan tersangka /
terdakwa dalam setiap tingkat pemeriksaan adalah sebagai subyek bukan sebagai obyek
pemeriksaan. Oleh karena itu tersangka / terdakwa harus didudukkan dan diperlakukan dalam
kedudukan manusia yang mempunyai harkat dan martabat harga diri. Yang menjadi obyek
pemeriksaan dalam prinsip akusator adalah kesalahan ( tindak Pidana ) yang dilakukan oleh
tersangka atau terdakwa, maka kea rah itulah pemeriksaan ditujukan.

4. Asas Penangkapan, Penahanan, Penggeledahan, Dan Penyitaan Dilakukan


Berdasarkan Perintah Tertulis Pejabat Yang Berwenang.
Asas ini terdapat dalam penjelasan umum KUHAP butir 3 b. Penangkapan diatur secara rinci
dalam pasal 15 sampai pasal 19 KUHAP. Dalam peradilan Militer diatur dalam pasal 75
sampai 77 UU No. 31 Tahun 1997. Penahanan diatur dalam pasal 20 sampai 31 KUHAP.
Dalam peradilan Militer diatur dalam pasal 78 sampai 80, dan pasal 137 dan pasal 138 UU
No. 31 Tahun 1997. Dalam KUHAP dan Peradilan Militer juga mengatur mengenai
Pembatasan penahanan. Penggeledahan diatur dalam pasal 32 sampai pasal 37 KUHAP.
Dalam peradilan Militer diatur dlam pasal 82 samapi pasal 86 UU No. 31 Tahun 1997.
Tentang Penyitaan diatur dalam pasal 38 sampai pasal 46 KUHAP. Dalam peradilan Militer
diatur dalam pasal 87 sampai pasal 95 UU No. 31 Tahun 1997.

5. Asas Ganti Kerugian Dan Rehabilitasi


Asas ini juga terdapat dalam penjelasan umum KUHAP butir 3 d. Pasal 9 UU Pokok
Kekuasaan Kehakiman No. 14 Tahun 1970 yang juga mengatur ganti rugi. Secara rinci
mengenai ganti rugi dan rehabilitasi diatur dalam pasal 95 sampai pasal 101 KUHAP.
Kepada siapa ganti rugi ditujukan, memang hal ini tidak diatur secara tegas dalam pasal-pasal
KUHAP. Namun pada tanggal 1 Agustus 1983 dikeluarkan peraturan pelaksananya pada bab
IV PP No. 27 / 1983. Dengan peraturan ini ditegaskan bahwa ganti kerugian dibebankan
kepada negara ( depertemen keuangan ). Dengan tata cara pembayarannya Menteri keuangan
juga mengeluarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 983 / KMK. 01 / 1983 pada tanggal 31
Desember 1983. Selain itu juga terdapat penggabungan pidana dengan ganti rugi yang
terdapat dalam pasal 98 sampai pasal 101 KUHAP.
6. Asas Peradilan Cepat, Sederhana Dan Biaya Ringan.
Tidak bertele-tele dan berbelit-belit. Mengenai asas ini terdapat beberapa ketentuan dalam
KUHAP diantaranya pada pasal 50 yang berbunyi: Tersangka atau terdakwa berhak segera
mendapat pemeriksaan penyidik, segera diajukan ke penuntut umum oleh penyidik, segera
diajukan ke pengadilan oleh penuntut umum, segera diadili oleh pengadilan. Juga pasal-pasal
lain yaitu pasal 102 ayat 1, pasal 106, pasal 107 ayat 3 dan pasal 140 ayat 1.
Tentang asas ini juga dijabarkan oleh KUHAP dalam pasal 98.

7. Asas Tersangka / Terdakwa Berhak Mendapat Bantuan Hukum.


KUHAP pasal 69 sampai pasal 74 mengatur Bantuan Hukum yang mana tersangka atau
terdakwa mendapat kebebasan yang sangat luas. Asas bantuan hukum ini telah menjadi
ketentuan universal di negara-negara demokrasi dan beradab.

8. Asas Pengadilan Memeriksa Perkara Pidana dengan Hadirnya Terdakwa.


Ketentuan mengenai hal ini diatur dalam pasal 154, 155 dan seterusnya dalam KUHAP. Yang
menjadi pengecualiannya ialah kemungkinan dijatuhkan putusan tanpa hadirnya terdakwa
yaitu putusan Verstek atau in Absentia tapi ini hanya dalam pengecualian dalam acara
pemeriksaan perkara pelanggaran lalu lintas. Pasal 214 mengatur mengenai acara
pemeriksaan verstek. Dalam hukum acara pidana khusus seperti UU No. 31 Tahun 1971
Tentang Tindak Pidana Korupsi dan lainnya dikenal pemeriksaan pengadilan secara in
absentia atau tanpa hadirnya terdakwa.

9. Asas Peradilan Terbuka Untuk Umum.


Pasal yang mengatur asas ini adalah pasal 153 ayat 3 dan 4 KUHAP yang berbunyi: Untuk
keperluan pemeriksaan hakim ketua membuka siding dan menyatakan terbuka untuk umum,
kecuali dalam perkara mengadili kesusilaan atau terdakwanya anak-anak.

ASAS DALAM HUKUM PERDATA :

1. Asas kebebasan berkontrak

Merupakan asas yang mengandung makna bahwa setiap orang dapat mengadakan perjanjian
apapun itu, baik yang telah diatur dalam undang-undang, maupun yang belum diatur dalam
undang. Asas ini terdapat dalam pasal 1338 ayat 1 KUH Perdata yang menyatakan bahwa
”semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi yang
membuatnya”.

Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPdt, yang
berbunyi: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka yang membuatnya. Asas ini merupakan suatu asas yang memberikan kebebasan
kepada para pihak untuk:

 Membuat atau tidak membuat perjanjian;


 Mengadakan perjanjian dengan siapa pun;
 Menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya;
 Menentukan bentuk perjanjiannya apakah tertulis atau lisan.
2. Asas konsesualisme

Merupakan asas yang berhubungan saat lahirnya perjanjian. Pada pasal 1320 ayat 1 KUH
Perdata, syarat sahnya perjanjian itu karena adanya kata kesepakatan antara dua belah
pihak. Asas konsensualisme muncul diilhami dari hukum Romawi dan hukum Jerman.
Didalam hukum Jerman tidak dikenal istilah asas konsensualisme, tetapi lebih dikenal dengan
sebutan perjanjian riil dan perjanjian formal. Perjanjian riil adalah suatu perjanjian yang
dibuat dan dilaksanakan secara nyata (dalam hukum adat disebut secara kontan). Sedangkan
perjanjian formal adalah suatu perjanjian yang telah ditentukan bentuknya, yaitu tertulis (baik
berupa akta otentik maupun akta bawah tangan) sebagaimana pada contoh kasus pelanggaran
pemilu .

3. Asas kepercayaan

Yaitu asas yang mengandung makna bahwa setiap orang yang akan mengadakan perjanjian
akan memenuhi setiap prestasi yang diadakan diantara mereka sebagaimana perbedaan
hukum pidana dan perdata dan contohnya .

4. Asas kekuatan mengikat

Yaitu asas yang menyatakan bahwa perjanjian hanya mengikat bagi para pihak yang
mengikatkan diri atau terlibat pada perjanjian tersebut. Pasal 1340 KUHPdt berbunyi:
“Perjanjian hanya berlaku antara pihak yang membuatnya.” Hal ini mengandung maksud
bahwa perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya.
Namun demikian, ketentuan itu terdapat pengecualiannya sebagaimana dalam Pasal 1317
KUHPdt yang menyatakan: “Dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga,
bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain,
mengandung suatu syarat semacam itu.”

5. Asas persamaan hukum

Yaitu asas yang mengandung maksud bahwa subjek hukum yang membuat perjanjian
mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dalam hukum sebagaimana juga pada
contoh hukum kebiasaan .

6. Asas keseimbangan

Yaitu asas yang menginginkan kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan perjanjian
yang telah dijanjikan.

7. Asas kepastian hukum (Asas pacta sunt servada)

Yaitu asas yang diakibatkan dari suatu perjanjian dan diatur dalam pasal 1338 ayat 1 dan 2
kuh perdata. Asas tersebut dapat disimpulkan dari kata “……. berlaku sebagai undang-
undang bagi mereka yang membuatnya”. Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam
Pasal 1338 ayat (1) KUHPdt. Asas ini pada mulanya dikenal dalam hukum gereja. Dalam
hukum gereja itu disebutkan bahwa terjadinya suatu perjanjian bila ada kesepakatan antar
pihak yang melakukannya dan dikuatkan dengan sumpah. Hal ini mengandung makna bahwa
setiap perjanjian yang diadakan oleh kedua pihak merupakan perbuatan yang sakral dan
dikaitkan dengan unsur keagamaan. Namun, dalam perkembangan selanjutnya asaspacta sunt
servanda diberi arti sebagai pactum, yang berarti sepakat yang tidak perlu dikuatkan dengan
sumpah dan tindakan formalitas lainnya. Sedangkan istilah nudus pactum sudah cukup
dengan kata sepakat saja.

8. Asas moral

Yaitu asas yang terikat dalam perikatan wajar, artinya perbuatan seseorang yang sukarela
tidak dapat menuntut hak baginya untuk menggugat prestasi dari pihak debitur dalam contoh
hukum positif .

9. Asas Perlindungan

Yaitu asas yang memberikan perlindungan hukum antara debitur dan kreditur. Namun, yang
perlu mendapat perlindungan itu adalah debitur ddikarenakan berada pada posisi yang lemah
sebagaimana fungsi hukum menurut ahli .

10. Asas kepatutan

Yaitu asas yang berkaitan dengan ketentuan tentang isi perjanjian yang diharuskan oleh
kepatutan. Asas kepatutan tertuang dalam Pasal 1339 KUHPdt. Asas ini berkaitan dengan
ketentuan mengenai isi perjanjian yang diharuskan oleh kepatutan berdasarkan sifat
perjanjiannya dalam tujuan hukum acara pidana .

11. Asas kepribadian

Yaitu asas yang mengharuskan seseorang dalam mengadakan perjanjian untuk kepentingan
dirinya sendiri. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUHPdt. Pasal 1315
KUHPdt menegaskan: “Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau
perjanjian selain untuk dirinya sendiri.” Inti ketentuan ini sudah jelas bahwa untuk
mengadakan suatu perjanjian, orang tersebut harus untuk kepentingan dirinya sendiri.

12. Asas itikad baik

Yaitu asas yang berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian, asas ini menyatakan bahwa apa
saja yang harus dilaksanakan dengan memenuhi tuntutan keadilan dan tidak melanggar
kepatutan. Hal ini sesuai dalam pasal 1338 ayat 3. Asas ini merupakan asas bahwa para
pihak, yaitu pihak kreditur dan debitur harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan
kepercayaan atau keyakinan yang teguh maupun kemauan baik dari para pihak. Asas itikad
baik terbagi menjadi dua macam, yakni itikad baik nisbi (relative) dan itikad baik mutlak.
Pada itikad yang pertama, seseorang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari
subjek. Pada itikad yang kedua, penilaian terletak pada akal sehat dan keadilan serta dibuat
ukuran yang obyektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-
norma yang objektif.

ASAS HUKUM ACARA PERDATA :

1. Hakim Bersifat Menunggu : maksudnya ialah hakim bersifat menunggu datangnya


tuntutan hak di ajukan kepadanya, kalau tidak ada tuntutan hak atau penuntutan maka
tidak ada hakim. Jadi apakah akan ada proses atau tidak, apakah suatu perkara atau
tuntutan hak itu akan di ajukan atau tidak, sepenuhnya di serahkan kepada pihak yang
berkepentingan.(pasal 118 HIR, 142 Rbg.)
2. Hakim Pasif : hakim di dalam memeriksa perkara perdata bersikap pasif dalam arti kata
bahwa ruang lingkup atau luas pokok sengketa yang di ajukan kepada hakim untuk di
periksa pada asasnya di tentukan oleh para pihak yang berperkara dan bukan oleh hakim.
3. Sifat Terbukanya Persidangan : sidang pemeriksaan pengadilan pada asasnya adalah
terbuka untuk umum, yang berarti bahwa setiap orang di bolehkan hadir dan
mendengarkan pemeriksaan di persidangan. Tujuannya ialah untuk memberi perlindungan
hak-hak asasi manusia dalam bidang peradilan serta untuk lebih menjamin objektifitas
peradilan dengan mempertanggung jawabkan pemeriksaan yang fair (pasal 19 ayat 1 dan
20 UU no.4 tahun 2004). Apabila tidak di buka untuk umum maka putusan tidak sah dan
batal demi hokum.
4. Mendengar Kedua Belah Pihak : dalam pasal 5 ayat 1 UU no.4 tahun 2004 mengandung
arti bahwa di dalam hokum acara perdata yang berperkara harus sama-sama di perhatikan,
berhak atas perlakuan yang sama dan adil serta masing-masing harus di beri kesempatan
untuk memberikan pendapatnya.
5. Putusan Harus Di Sertai Alasan-alasan : semua putusan pengadilan harus memuat alas
an-alasan putusan yang di jadikan dasar untuk mengadili ( pasal 25 UU no 4 tahun 2004,)
184 ayat 1, 319 HIR, 195, 618 Rbg). Alasan-alasan atau argumentasi itu dimaksudkan
sebagai pertanggungan jawab hakim dari pada putusanya terhadap masyarakat, para pihak,
pengadilan yang lebih tinggi dan ilmu hokum, sehingga oleh karenanya mempunyai nilai
objektif.
6. Beracara di Kenakan biaya : untuk beracara pada asasnya di kenakan biaya (pasal 3 ayat
2 UU no 4 tahun 2004, 121 ayat 4, 182,183 HIR, 145 ayat 4, 192-194 Rbg). Biaya perkara
ini meliputi biaya kepaniteraan, dan biaya untuk pengadilan, pemberitahuan para pihak
serta biaya materai.
7. Tidak ada keharusan mewakilkan : pasal 123 HIR, 147 Rbg tidak mewajibkan para pihak
untuk mewakilkan kepada orang lain, sehingga pemeriksaan di persidangan terjadi secara
langsung terhadap para pihak yang langsung berkepentingan.

ASAS DALAM TUN DAN HUKUM ACARA TUN :

1. Asas praduga rechmatig (vermoeden van rechtmatigheid, praesumptio iustae causa).


Dengan asas ini setiap tindakan pemerintahan selalu dianggap rechtmatig sampai ada
pembatalan (Lihat Pasal 67 ayat (1) UU PTUN).

2. Asas gugatan pada dasarnya tidak dapat menunda pelaksanaan keputusan tata usaha
negara (KTUN) yang dipersengketakan, kecuali ada kepentingan yang mendesak dari
penggugat (Pasal 67 ayat 1 dan ayat 4 huruf a).

3. Asas para pihak harus didengar (audi et alteram partem). Para pihak mempunyai
kedudukan yang sama dan harus diperlakukan dan diperhatikan secara adil. Hakim tidak
dibenarkan hanya memperhatikan alat bukti, keterangan, atau penjelasan salah satu pihak
saja.

4. Asas kesatuan beracara dalam perkara sejenis baik dalam pemeriksaan di peradilan judex
facti, maupun kasasi dengan Mahkamah Agung sebagai puncaknya. Atas dasar satu kesatuan
hukum berdasarkan wawasan nusantara, maka dualisme hukum acara dalam wilayah
Indonesia menjadi tidak relevan. Sebagaimana yang pernah terjadi pada zaman Hindia
Belanda yang diatur dalam HIR, Rbg, dan Rv yang membagi wilayah Indonesia (Jawa-
Madura dan luar Jawa-Madura) dan memisahkan beracara landraad dan Raad van Justitie.

5. Asas penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan bebas dari segala macam
campur tangan kekuasaan yang lain baik secara langsung maupun tidak langsung bermaksud
untuk mempengaruhi keobjektifan putusan pengadilan. (Pasal 24 UUD 1945 jo Pasal 4 UU
14/1970).

6. Asas Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan (Pasal 4 UU
14/1970). Sederhana adalah hukum acara yang mudah difahami dan tidak berbelit-belit.
Dengan hukum acara yang mudah dipahami peradilan akan berjalan dalam waktu yang relatif
cepat. Dengan demikian biaya perkara juga menjadi ringan.

7. Asas hakim aktif. Sebelum dilakukan pemeriksaan terhadap pokok sengketa hakim
mengadakan rapat permusyawaratan untuk menetapkan apakah gugatan tidak diterima atau
tidak berdasar yang dilengkapi dengan pertimbangan-pertimbangan (Pasal 62 UU PTUN) dan
pemeriksaan persiapan untuk mengetahui apakah gugatan penggugat kurang jelas, sehingga
penggugat perlu untuk melengkapinya (Pasal 63 UU PTUN). Dengan demikian asas ini
memberikan peran kepada hakim dalam proses persidangan guna memperoleh suatu
kebenaran materiil dan untuk itu UU PTUN mengarah pada pembuktian bebas. Bahkan, jika
dianggap perlu untuk mengatasi kesulitan penggugat memperoleh informasi atau data yang
diperlukan, maka hakim dapat memerintahkan badan atau pejabat TUN sebagai pihak
tergugat itu untuk memberikan informasi atau data yang diperlukan itu (Pasal 85 UU PTUN).

8. Asas Sidang terbuka untuk umum. Asas ini membawa konsekuensi bahwa semua putusan
pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang
terbuka untuk umum (Pasal 17 dan Pasal 18 UU 14/1970 jo Pasal 70 UU PTUN).

9. Asas peradilan berjenjang. Jenjang peradilan dimulai dari tingkat yang terbawah yaitu
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), kemudian Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
(PTTUN), dan puncaknya adalah Mahkamah Agung (MA). Dengan dianutnya asas ini, maka
kesalahan dalam putusan pengadilan yang lebih dapat dikoreksi oleh pengadilan yang lebih
tinggi. Terhadap putusan yang belum mempunyai hukum tetap dapat diajukan upaya hukum
banding kepada PTTUN dan kasasi kepada MA. Sedangkan terhadap putusan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap dapat diajukan upaya hukum permohonan peninjauan
kembali kepada MA.

10. Asas Pengadilan sebagai upaya terakhir untuk mendapatkan keadilan. Asas ini
menempatkan pengadilan sebagi ultimum remedium. Sengketa Tata Usaha Negara sedapat
mungkin terlebih dahulu diupayakan penyelesaiannya melalui musyawarah untuk mencapai
mufakat bukan secara konfrontatif. Penyelesaian melalui upaya administratif yang diatur
dalam pasal 48 UUPTUN lebih menunjukkan penyelesaian ke arah itu. Apabila musyawarah
tidak mencapai mufakat, maka barulah penyelesaian melalui PTUN dilakukan.

11. Asas objektivitas. Untuk tercapainya putusan yang adil, maka hakim atau panitera wajib
mengundurkan diri, apabila terikat hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai derajat
ketiga atau hubungan suami atau istri meskipun telah bercerai dengan tergugat, penggugat
atau penasihat hukum atau antara hakim dengan salah seorang hakim atau panitera juga
terdapat hubungan sebagaimana yang disebutkan di atas, atau hakim atau panitera tersebut
mempunyai kepentingan langsung atau tidak langsung dengan sengketanya (Pasal 78 dan
pasal 79 UU PTUN).