Anda di halaman 1dari 19

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kacang hijau merupakan komoditas potensial yang memiliki kelebihan

baik dari segi agronomis maupun ekonomis. Cara budidayanya mudah, dapat

ditanam pada tanah yang kurang subur, lebih tahan kekeringan, dapat dipanen

umur 60 hari, dan harga jual relatif tinggi dan stabil. Indonesia merupakan

penghasil kacang hijau terbesar ke empat di dunia setelah India, Thailand, dan

Cina, dengan luas panen sekitar 300.000 ha/tahun. Kacang hijau di Indonesia

menempati urutan ketiga terpenting sebagai tanaman pangan legum, setelah

kedelai dan kacang tanah. Karena sangat pentingnya kacang hijau, kebutuhan akan

kacang hijau pun terus meningkat. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan

kacang hijau di Indonesia, tentunya peningkatan kuantitasnya pun sangat

diharapkan.

Kemudian kacang hijau merupakan salah satu tanaman Leguminosae yang

cukup penting di Indonesia. Sampai saat ini perhatian masyarakat sangat kurang,

kurangnya perhatian ini di antaranya disebabkan oleh hasil yang dicapai per

hektarnya masih sanagat rendah.

Kacang hijau atau (Vigna radiata) berasal dari famili pabaceae alias

polong-polongan, kacang hijau dan kecambahnya banyak manfaat bagi

kesehatan. Kandungan proteinnya cukup tinggi dan merupakan sumber mineral

penting seperti kalsium dan foepor dan sangat diperlukan tubuh. Sementara itu

kandungan lemaknya merupakan asam lemak tak jenuh sehingga aman

dikonsumsi oleh orang-orang dengan masalah obesitas.


2

Kacang hijau termasuk jenis tanaman yang relatif muda termasuk

tanaman yang relatif mudah untuk ditanam tanaman tidak tergantung pada iklim

tertentu dengan memperhatikan kecukupan faktor-faktor ekternal seperti air dan

mineral,kelembaban, suhu serta cahaya kacang hijau dapat tumbuh dengan baik.

Tanaman kacang hijau diduga berasal dari kawasan India dan telah lama

dikenal dan ditanam oleh petani di Indonesia. Kacang hijau memiliki beberapa

kelebihan jika dibandingkan dengan tanaman kacang-kacangan yang lain yaitu :

lebih tahan terhadap kekeringan, hama dan penyakit relative sedikit, panen

relative cepat, pada umur 55-60 hari, cara tanam dan pengelolaan dilapangannya

serta perlakuan pasca panen relative mudah, kegagalan panen total relatif kecil,

harga jual tinggi dan stabil, dapat dikonsumsi langsung dengan pengolahan yang

mudah. Peningkatan produksi kacang hijau dilakukan dengan cara memperbaiki

kultur teknis petani, mendapatkan varietas-varietas yang produksinya tinggi dan

masak serempak, serat peningkatan usaha pengelolaan lepas panennya.

B. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini ialah :

1. Untuk mengetahui pengaruh pupuk kandan terhadap pertumbuhan dan hasil

produksi tanaman kacang hijau.

2. Untuk mengetahui pengaruh pupuk kascing terhadap pertumbuhan dan hasil

produksi kacang hijau.

3. Untuk mengetahui pengaruh interaksi pupuk kandang dan kascing terhadap

pertumbuhan dan hasil produksi kacang hijau.


3

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kacang Hijau (Vigna radiata L.) Merupakan salah satu tanaman legum

yang berumur pendek lebih kurang 60 hari. Tanaman ini dapat diklasifikasikan

sebagai berikut:

Kingdom: Plantae

Divisi: Spermatophyta

Sub-divisi: Angiospermae

Kelas: Dicotyledonae

Ordo: Rosales

Famili: Papilonaceae

Genus: Vigna

Spesies: Vigna radiata L. (Soeprapto, 2000).

Kacang hijau (Vigna radiata. L) termasuk tanaman pangan dan tergolong

dalam keluarga kacang-kacangan ini sudah lama dibudidayakan di Indonesia.

Tanaman ini merupakan tanaman kacang-kacangan ketiga yang banyak

dibudidayakan setelah kedelai dan kacang tanah. Tanaman kacang hijau dapat

tumbuh baik pada tanah dengan pH tanah antara 5,5 sampai 6,5. Pemberian

pupuk yang dianjurkan untuk kacang hijau adalah 50 kg Urea/ha, SP-36 75

kg/ha dan 50 kg KCl/ha (Purnomo dan Hartono, 2005).

Tanaman kacang hijau sudah lama dikenal dan ditanam oleh masyarakat

tani di Indonesia. Asal usul tanaman kacang hijau diduga dari kawasan India.

Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani Soviet, menyebutkan bahwa

India merupakan daerah asal sejumlah besar suku Leguminosae. Salah satu bukti

yang mendukung pendapat Vavilov adalah ditemukannya plasma nutfah kacang


4

hijau jenis Phaseolus mungo di India atau disebut kacang hijau India (Rukmana,

1997: 15).

Tanaman kacang hijau berbatang tegak dengan cabang menyamping pada

batang utama, berbentuk bulat dan berbulu warna batang dan cabangnya ada

yang hijau dan ada yang ungu ( Andrianto dan Indiarto, 2004).

Kacang hijau merupakan tanaman legum yang cukup penting di

Indonesia dan posisinya menduduki tempat ketiga setelah kedelai dan kacang

tanah. Bila dibandingkan dengan kacang-kacangan lain, kacang hijau memiliki

kelebihan antara lain berumur genjah, lebih toleran kekeringan, dapat ditanam

dilahan kurang subur dan sekaligus bisa sebagai penyubur tanah karena mampu

bersimbiosis dengan bakteri rhizobium, budidaya mudah dan hama yang

menyerang relatif sedikit. Namun demikian, produksi kacang hijau di Indonesia

masih rendah dan belum mampu memenuhi kebutuhan domestik (Rukmana,

2006).

Kacang hijau dapat tumbuh pada semua jenis tanah sepanjang

kelembaban dan tersedianya unsur hara yang cukup. Untuk itu lahan yang akan

dipergunakan harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Pada lahan sawah setelah

panen padi, tidak perlu dilakukan pengolahan tanah (tanpa olah tanah=TOT)

(Atman, 2007). Pada umumnya petani melakukan penanaman benih kacang hijau

sesudah padi dengan cara sebar benih sebelum atau sesudah padi dipanen. Sebar

benih kacang hijau setelah padi dipanen dilakukan dengan atau tanpa

pembabatan jerami, dan benih yang diperlukan berkisar 50-75 kg/ha (Hilman

et.al., 2004).

Dalam proses pertumbuhannya, tanaman kacang hijau memerlukan tanah

yang tidak terlalu banyak mengandung partikel liat. Tanah dengan kandungan
5

bahan organik tinggi sangat cocok untuk tanaman kacang hijau. Tanah berpasir

pun dapat digunakan untuk menanam tanaman kacang hijau, asalkan kandungan

air tanahnya tetap terjaga dengan baik. Adapun tanah yang dianjurkan, yaitu

tanah latosol dan regosol. Kedua jenis tanah ini akan lebih baik bila digunakan

setelah ditanami tanaman padi terlebih dahulu. Keasaman tanah (pH) yang

diperlukan untuk pertumbuhan optimal, yaitu antara 5,5- 6,5. Pada tanah dengan

pH di bawah 5,5 perlu diberi pengapuran untuk meningkatkan pH dan

menetralisir keracunan aluminium. Sedangkan untuk pH tanah di atas 6,5 tidak

diperlukan perlakuan tersebut. Kacang hijau (Vigna radiata L.) dapat

dibudidayakan pada ketinggian 5-700 dpl. Di daerah dengan ketinggian di atas

700 dpl produktivitas kacang hijau menurun dan umur panennya pun menjadi

lebih panjang. Tanaman akan tumbuh dengan baik pada suhu optimal 25- 270 C

dan tumbuh dengan baik di daerah yang relatif kering dengan kelembaban udara

50-90% (Purwono dan Hartono, 2005: 21).

Tanaman kacang hijau dapat tumbuh di daerah yang curah hujannya

rendah dengan memanfaatkan sisa – sisa kelembaban pada tanah bekas tanaman

yang diairi, misalnya padi. Tanaman ini tumbuh baik diwaktu musim kemarau.

Pada musim hujan, pertumbuhan vegetatifnya sangat cepat sehingga mudah

rebah. Hambatan utama dalam proses penanaman pada musim hujan adalah

penyakit yang menyerang daun dan polong (Mazuki dan Soeprapto, 2001).

Danarti dan Najiyanti (2000), menyatakan bahwa tanah yang ideal bagi

tanaman kacang hijau adalah tanah gembur yang berdrainase baik dan

mempunyai pH 5,8 – 6,5. Pada pH kurang dari 5, sebaiknya tanah tersebut diberi

kapur terlebih dahulu. Ketinggian tempat pun menjadi faktor pembatas bagi

pertumbuhan kacang hijau.


6

Pupuk adalah semua bahan yang diberikan kedalam tanah baik yang

organik maupun yang anorganik dengan maksud untuk mengganti kehilangan

unsur tanah dari dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi

tanaman dalam keadaan factor keliling atau keadaan yang baik (Sutejo dan

Kartasapoetra, 1987).

Pupuk organik ialah zat organik yang digunakan sebagai pupuk organik

dalam pertanian. Pupuk kandang berperan dalam kesuburan tanah dengan

menambahkan zat dan nutrien, seperti nitrogen yang ditangkap bakteri dalam

tanah. Organisme yang lebih tinggi kemudian hidup dari jamur dan bakteri

dalam rantai kehidupan yang membantu jaring makanan tanah (Hsieh. 1990).

Pupuk kandang merupakan salah satu contoh pupuk organik yang berasal

dari kandang ternak, baik berupa kotoran padat (faeces) yang bercampur sisa

makanan maupun air kencing (urine), sehingga kualitas pupuk kandang beragam

tergantung pada jenis, umur serta kesehatan ternak, jenis dan kadar

sertakandungan haranya (Sangatanan dan Sangatanan, 1989).

Pupuk organik yang dikembalikan melalui pupuk kandang selain sebagai

sumber bahan organik tanah juga sebagai sumber hara bagi pertumbuhan

tanaman (Ende dan Taylor, 1969).

Bahan organik memegang peranan penting pada tanah tropis, karena

hampir semua unsur terdapat didalamnya (Agboola, 1974) Pupuk kandang

biasanya terdiri atas campuran 0,5% N; 0,25 P2O5 dan 0,5 K2O (Allison, 1973).

Pupuk kandang sapi padat dengan kadar air 85% megandung 0,4% N;

0,2% P2O5 dan 0,5% K2O dan yang cair dengan kadar 95% mengandung 1% N;

0,2% P2O5 dan 0,1% K2O. proses perombakan bahan organik pada tahap awal

bersifat hidrolisis karena proses ini berlangsung dengan adanya air dan enzim
7

hidrolisa ekstra selluler yang menghasilkan senyawa yang lebih sederhana dan

mudah larut dalam air sehingga mikrooragnisme dapat memanfaatkannya

terutama dalam kondisi aerobik. Perombakan selanjutnya dalam kondisi aerobik

dengan hasil akhir CO2 dan H2O. Dalam kondisi anaerobik hasil samping adalah

asam asetat, asam pripionat, asam laktat, asam butirat dan asam format serta

alcohol dan gas CO2, H2O dan methan (CH4) (Sugito, et al, 1995).

Kascing atau vermicompost adalah kotoran cacing tanah yang diperoleh

dari proses budidaya cacing dengan memberikan makanan kompos nabati

sehingga didapat hasil kascing, kascing yang digunakan dari produsen cacing

yang bertempat poduksi disalatiga, dengan komposisi kandungan unsur C

Organik 20,4%, N Total 1,8%, P2O5 1,93%, K2O 1,33%, C:N Rasio 11,33.

Kascing yang berkualitas baik ditandai dengan warna hitam kecoklatan hingga

hitam, tidak berbau, bertekstur remah dan matang (Mulat, 2003).

Unsur-unsur kimia didalam kascing siap diserap tanaman dan sangat

berguna bagi pertumbuhan dan produktifitasnya. Disamping itu kascing

mengandung mikroba dan hormon perangsang pertumbuhan tanaman seperti

giberelin, sitokinin dan auxsin serta sejumlah (Mashur, 2001).

Berbagai penelitian dalam pemberian kascing yang sesuai dosis dapat

meningkatkan perbedaan yang nyata dalam luas daun dan bobot kering tanaman

dengan dosis optimum 7,5 ton/ha pada tanaman tomat (Farida, 1995 dalam

Paramita, 2009). Hal itu juga sama pada penelitian Hidayat (2002) menunjukan

tanaman buncis memberikan hasil maksimal apabila diberi kascing sebanyak

60g/tanaman.
8

III. BAHAN DAN METODE

A. Tempat Dan Waktu

Praktikum ini telah dilaksanakan dilahan kompos Fakultas Pertanian

Universitas Islam Riau, jalan Kaharudin Nasution Km. 11, No. 113 Marpoyan

Kelurahan Air Dingin, Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru. Praktikum ini

berlangsung selama 3 bulan terhitung dari bulan Februari sampai April 2017.

B. Bahan Dan Alat

Adapun bahan dan alat yang digunakan dalam praktukum ini yaitu:

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas jilid, biji tanaman,

pupuk kandang, pupuk kascing, dolomit, urea, tali, seng, paku dan spidol.

Sedangkan alat yang digunkan dalam praktikum adalah cangkul, gembor, garu,

penggaris dan parang.

C. Pelaksanaan Praktikum

1. Penyiapan Lahan

Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tumbuhan penggangu (gulma) dan sisa-

sisa tanaman. Selanjutnya dilakukan pengolahan tanah dengan menggemburkan

tanah dan membentuk bedengan dengan ukuran 2m x 2m. Selanjutnya dilakukan

pemberian pupuk kandang untuk memperbaiki struktur dan tekstur tanah serta

mengaktifkan mikroorganisme tanah.

2. Pemupukan

Dalam hal ini pemupukan dilakukan setelah pembuatan bedengan selesai.

Pemupukan dilakukan dengan menaburkan diatas bedengan kemudian diratakan

sampai merata. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk kandang dan pupuk kascing

dengan dosis pupuk kandangnya 1 karung untuk 1 plot dan pupuk kascingnya 6
9

kg. Pertama pemupukan yang digunakan yaitu pupuk kandang dengan

menaburkanya diatas bedengan kemudian dibolak-balik hingga merata. Kemudian

baru diberi pupuk kascing diatasnya dan dibolak-balik hingga merata sehingga

tidak ada yang tersisa pupuk diatas bedengan.

3. Penanaman

Pada kegiatan ini penanaman dilakukan setelah tanah dan pupuk kandang

yang diinkubasi mencapai satu minggu lalu dilakukan penanaman. Penanaman

dilakukan dengan sistem tugal kemudian dalam 1 lubang ditanam 2 butir biji

kacang hijau. Dengan jarak tanam 40 cm x 20 cm dan varietas yang digunakan

adalah varietas perkutut.

4. Pemeliharaan

Dalam pemeliharaan kegiatan yang dilakukan adalah mencabut tumbuhan

pengganggu (gulma) hingga perakarannya secara hati-hati, agar tidak

mengganggu perakaran tanaman utama. Keberadaan gulma akan menjadi pesaing

bagi tanaman utama dalam mendapatkan air dan unsur hara yang ada di dalam

tanah atau bahkan menjadi tempat hama atau penyakit. Oleh sebab itu gulma

harus secara rutin disiangi. Gulma yang telah dicabut sebaiknya dibuang agar

tidak menyemak.

5. Penyiraman

Kegiatan penyiraman dilakukan agar tanaman tidak kekurangan terhadap

air yang mengakibatkan tanaman layu, kebanyakan tanaman mengalami stress

karena kekurangan asupan air. Apabila tanaman tidak disiram maka bisa jadi

tanaman akan mengalami kelayuan dan mati karena unsur hara yang kurang

sebagai sumber nutrisi dan makananya. Air adalah bagian yang penting bagi

tanaman oleh sebab itu penyiraman harus sering dilakukan.


10

6. Panen

Pelaksanaan praktikum yang terakhir adalah pemanenan. Dimana

pemanenan dilakukan 79 hari setelah tanam dengan kriteria pemanenan yaitu

polong pada tanaman kacang hijau telah berwarna coklat sampai hitam, tekstur

polong mudah dihancurkan, banyak daun yang telah menguning,

D. Parameter Pengamatan

1. Tinggi Tanaman (Cm)

Pengukuran tinggi tanaman dilakukan beberapa minggu setelah tanam.

Pengukuran dilakukan dengan menggunakan penggaris dimulai dari pangkal

tanaman sampai ke helai daun yang tertinggi. Data yang diperoleh dianalisis dan

ditampilkan dalam bentuk tabel.

2. Umur Berbunga (Cm)

Pengamatan umur berbunga diamati ketika tanaman berumur 28-35 hari

setelah tanam. Hal ini disebabkan karena kurang serentaknya pertumbuhan

tanaman yang terjadi oleh sebab itu pengamatan ini dilakukan setelah tanaman

berbunga sampai mencapai batasya untuk tumbuh atau bisa dikatakan hingga

tanaman serentak untuk berbunga.

3. Umur Panen (HST)

Pengamatan umur panen dilakukan ketika tanaman mulai menua dan

setelah diamati umur panennya yaitu 79 hari setelah tanam. Pemanenan dilakukan

dengan memilih polong yang sudah kecoklatan dan hitam karena dari semua

polong yang matang hanya sebagian dan ada juga yang masih hijau dan yang

masih hijau dipanen kemudian harinya. Setelah polong sudah matang semua

barulah pemanenan terakhir dilakukan yaitu dengan menghabis seluruh polong

yang ada pada tanaman.


11

4. Jumlah Polong Pertanaman (Buah)

Pengamatan jumlah polong pertanaman dilakukan ketika polong telah

matang, kemudian polong yang matang dipanen karena takut hama dan penyakit

menyerah. pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah polong pertiap

tanaman. dan pada tiap tanaman ada yang memiliki polong tiga, empat dan ada

yang tidak memiliki polong atau bisa jadi tanaman tersebut belum berbuah.

jumlah polong pada tiap minggunya bertambah atau polong yang sebelumnya

membesar, hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembanganya. Data yang

diperoleh dianalisis dan ditampilkan dalam bentuk tabel.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. PERTUMBUHAN BIJI KAKAO


12

1. Umur Muncul Tunas (HST)

Tabel 1. Pengamatan umur muncul tunas (hst)

Biji
Hari, Tgl/Bln/Thn
I II III IV
Senin, 28 November 2016 18 hst 17 hst 16 hst 15 hst
Jumlah 18 hst 17 hst 16 hst 15 hst
Rata-rata 18 hst 17 hst 16 hst 15 hst

Setelah hasil pengamatan yang dilakukan, bahwa umur muncul tunas yang

terlebih dahulu muncul yaitu pada biji yang ke iv : 15 hst. Hanya saja biji kakao

yang lain terlambat muncul itu disebabkan tingkat persentasi tumbuhnya kurang

baik. Kemudian berbeda dengan biji kakao yang tumbuh terlebih dahulu mungkin

bisa jadi itu disebabkan oleh ketipisan kulit luarnya atau bijinya baik.

2. Jumlah Daun (Helai)

Tabel 2. Pengamatan jumlah daun (helai)

Biji
Hari, Tgl/Bln/Thn
I II III IV
Senin, 28 November 2016 - - - 4
Senin, 05 Desember 2016 - - 4 4
Selasa, 13 Desember 2016 - 3 4 6
Jumlah - 3 8 14
Rata-rata - 3 4 4,67

Pengamatan jumlah daun ini dilakukan seminggu sekali. Karena

pertumbuhan dari tanaman tersebut tiap minggu jumlah daunya bertambah.

Pengamatan ini juga dilakukan agar mengetahui bagaimana perkembangan dari

tanaman tersebut. Dilihat dari banyak atau tidaknya daun yang ada pada tanaman

memungkinkan tanaman tersebut baik atau tidak perkembanganya.

3. Tinggi Tanaman (Cm)


13

Tabel 3. Pengamatan tinggi tanaman (cm)

Biji
Hari, Tgl/Bln/Thn
I II III IV
Senin, 28 November 2016 1,7 5,6 6,2 11,3
Senin, 05 Desember 2016 4,5 8 12,8 17,5
Selasa, 13 Desember 2016 7 8,5 14,5 18,3
Jumlah 13,2 22,1 33,5 47,1
Rata-rata 4,4 7,37 11,17 15,7

Pengamatan tinggi tanaman juga dilakukan seminggu sekali. Hal ini

dilakukan karena pengukuran tinggi tanaman adalah pengamatan akhir dari

praktikum dan supaya data yang diambil dapat menjadi data pada pembahasan

nantinya. Data-data ini dikumpulkan dan dijumlahkan berapa rata-rata yang

didapat dan merupakan hasil dari akhir pengamatan praktikum.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


14

A. Kesimpulan

Kacang hijau merupakan salah satu komoditas kacang-kacangan yang

banyak dimakan rakyat Indonesia. Tanaman ini selain banyak mengandung zat-zat

gizi juga bermanfaat untuk proses pengobatan. Secara agronomis dan ekonomis,

tanaman kacang hijau memiliki kelebihan dibanding tanaman kacang-kacangan

lainnya. Meskipun tanaman kacang hijau memiliki banyak manfaat, namun

tanaman ini masih kurang mendapatkan perhatian petani untuk dibudidayakan.

Kacang hijau merupakan salah satu bahan pangan yang banyak

dikonsumsi oleh masyarakat luas selain beras. Karena tergolong tinggi

penggunaannya dalam masyarakat, maka kacang hijau ini memiliki tingkat

kebutuhan yang cukup tinggi. Dengan teknik budidaya dan penanaman yang

relatif mudah budidaya tanaman kacang hijau memiliki prospek yang baik untuk

menjadi peluang usaha bidang agrobisnis. Pada umumnya, kacang hijau umumnya

ditanam di lahan sawah pada musim kemarau setelah padi atau tanaman palawija

yang lain.

B. Saran

Pada praktikum kali ini saya menyarankan bahwa dalam kegiatan haruslah

memberi pengarahan yang lebih banyak lagi, agar mahasiswa dapat memahami

dan menekuni bagaimana cara melakukan budidaya tanaman dengan baik. Karena

sebagian dari mahasiswa banyak yang kurang mengerti bagaimana cara dan

metode yang baik dan benar dalam melakukan budidaya tanaman ini.

DAFTAR PUSTAKA
15

Allison, F.E., 1973. Soil Organic Matter and Its Role in Crop Production. Elsevi
er Sientific Publishing Co., Amsterdam VI + 637p.

Andrianto,T.T. dan Indarto ,N,2004.Budidaya dan Analisis Tani Kedelai,


Kacang Hijau, Kacang Panjang, Absolut.Yogyakarta.Hal : 93.

Ende, B. Van den and B. K. Taylor. 1969. Respone of Peach seedling in sand
culture to factorial combination of nitrogen, phsphorus and sheep
manure. Aust. J. Of Exp. Agric. Nn. Husb. 9 : 234-238.

Farida, Aryani. 1995, Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat (Lycopersium


asculantum, mill) Dengan Perlakuan Mikoriza Vesikula Arbuskula
(MVA) dan Pupuk Organik Kascing Pada Tanah Ultisol hal. 65

Hidayat, A. 2002. Pengaruh Pupuk Organik Kascing dan Inokulan CMA


terhadap http:Jurnal/penelitian/bidang/ilmu/pertanian.com.diakses.
12/2/2012.20.00.

Hilman, Y., A. Kasno, dan N. Saleh. 2004. Kacang-kacangan dan umbi-umbian:


Kontribusi terhadap ketahanan pangan dan perkembangan teknologinya.
Dalam Makarim, et al. (penyunting). Inovasi Pertanian Tanaman Pangan.
Puslitbangtan Bogor, 95-132.

Hsieh, S.C. and C. F. Hsieh. 1990. The use of organic matter in crop productin.
Paper Presented at Seminar on “The Use of Organic Fertilizer in Crop Pr
oduction “at Soweon, South Korea, 18-24 June 1990. http://id.wikiped
ia.org/ (Diakses 10 juni 2012).

Mashur. 2001. Vermikompos (Kompos Cacing Tanah). http://kascing.com/artic


le/mashur/vermikompos-komposcacingtanah. Diakses tanggal 2/2/2012.
14.00.

Marzuki, R. dan Soeprapto. 2001. Bertanam Kacang Hijau. PT Penebar


Swadaya. 23 hal.

Mulat, Tri .SP. 2003. Membuat dan Memanfaatkan Kascing Pupuk Organik
Berkualitas. Agro Media Pustaka, Jakarta.

Najiyati,S. Lili,M. I,Nyoman. N,Suryadiputra. 2005. Panduan Pengelolaan


Lahan Gambut untuk Pertanian Berkelanjutan. Bogor.

Paramita, Eka. 2009, Pengaruh Dosis Kascing Terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Tanaman Selada (Luctuca sativa L,.) Varietas Imperial. Skripsi. Fakultas
Pertanian, UKSW, Salatiga.

Purwono dan Hartono, 2005: 5. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul.


Penebar Swadaya. Bogor. 139 hal.
16

Purnomo dan Hartono. 2005: 21. Kacang Hijau. Penebar Swadaya. Jakarta.
Ratmini,N,P,S. 2012. Karakteristik dan Pengelolaaan Lahan Gambut
untuk Pengembangan Pertanian. Jurnal Lahan Suboptimal. Volume 1
Nomor. 2 Halaman 197-206. Oktober 2012.

Rukmana, R. 1999. Kacang Hijau Budidaya dan Pascapanen. Kanisius.


Yogyakarta.106 hal.

Rukmana, 2006. Karakter Hasil Biji Kacang Hijau Pada Kondisi Pemupukan P
dan Intensitas Penyiangan Berbeda. J. Agrivigor 11(2):137-143.

Sangatanan, PD. dan R.L. Sangatanan. 1989. Organic Farming. 3M Book Inc., 2
27p.

Soeprapto. 2000. Bertanam Kacang Hijau. PT Penebar Swadaya. Jakarta. 35 hal.


Sugito, Y., Yulia N, dan Ellis N. 1995. Sistem Pertanian Organik. Fakultas Perta
nian Universitas Brawijaya. Malang. 83p.

Sutedjo. Kartasapoetra, G. Kartasapoetra, AG. M. M. 1987. Konservasi Tanah


dan Air. Bina Aksara, Jakarta.

LAMPIRAN
17

Lampiran 1. Jadwal Praktikum Agronomi Tanaman Perkebunan II

No Hari, Tgl/Bln/Tahun Kegiatan Praktikum

- Pembersihan gulma
1 Senin, 31 Oktober 2016
- Pengisian polybag

- Penyusunan polybag
2 Sabtu, 05 November 2016
- Pemberian pupuk dasar

- Penanaman biji kakao


3 Jum’at, 11 November 2016
- Penanaman stek kopi

- Penanaman biji kopi


4 Senin, 28 November 2016
- Pengamatan parameter

- Pengamatan parameter
5 Senin, 05 Desember 2016
- Penyiraman

- Pengamatan parameter
6 Selasa, 13 Desember 2016 - Penyusunan polybag yang tanaman
hidup

Lampiran 2. Dokumentasi Pelaksanaan Praktikum


18

a b c d e

f g h i j

k l m n o

p q r

a. Pengisian Polybag j. Pengukuran tunas kakao minggu ke I

b. Penyusunan Polybag k. Stek batang kopi

c. ZPT l. Pengarahan Pelaksanaan

d. Pemberian perlakuan m. Foto kelompok

e. Pemberian label n. Pengukuran tunas kakao minggu ke II

f. Buah kakao o. Batang stek tinggal 1 yang hidup

g. Biji kakao p. Penanaman biji kopi

h. Pembungkusan batang stek q. Persentase hidup stek batang kopi

i. Biji kopi r. Pengukuran terakhir

Lampiran 3. Biodata Diri

Nama : M. IHSAN
19

Tempat/tanggal lahir : Lampung, 28 juni 1994

Agama : Islam

NPM : 144110190

Kelas : VC

Asal Sekolah

TK : -

SD : SDN 012 Tambak, Kec. Langgam Kab. Pelalawan

MTs : MTs Manbaul Ma’arif

SMK : SMK Manbaul Ma’arif

Hobi : Sepak Bola & Volly

Alamat : Desa Tambak Kec. Langgam Kab. Pelalawan

No Telp : 0823 8790 1920