Anda di halaman 1dari 48

PENGARUH KONSENTRASI PADA PENAMBAHAN MEDIA

DAN NUTRISI ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN


DAN HASIL JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus)

USULAN PENELITIAN

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Melaksanakan Penelitian


pada Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas
Singaperbangsa Karawang

Oleh :
SITI ZAHROTUNNISA
NPM. 1510631090099

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT Karena berkat

rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun usulan penelitian

dengan judul “Pengaruh Konsentrasi pada Penambahan Media dan Nutrisi

Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus

ostreatus)”.

Penelitian ini disusun sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan Usulan

Percobaan pada Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas

Singaperbangsa Karawang.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada

pihak- pihak yang telah banyak membantu baik moril, material maupun semangat

yang tiada henti sehingga dapat menyelesaikan usulan penelitian ini. Ucapan

terimakasih penulis sampaikan kepada :

1. Muharam, Ir., MP. Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Singaperbangsa

Karawang.

2. Darso Sugiono S.P., M.P Koordinator Program Studi Agroteknologi,

Fakultas pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang sekaligus

Pembimbing Pendamping

3. Hj. Kuswarini Sulandjari, Ir., MP. Dosen Pembimbing Utama.

4. Dosen dan Staf Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa Karawang.

i
5. Kedua orangtua tercinta Bapak Naslim dan Ibu Siti Hoeriyah yang menjadi

motivasi dalam hidup saya dan selalu memberikan dukungan moral dan

materil.

6. Sahabat yang telah membantu dalam penyusunan penelitian ini.

7. Rekan-rekan Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Singaperbangsa

Karawang angkatan 2015.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan

usulan penelitian ini maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun agar dapat meningkatkan kualitas usulan penelitian ini.

Karawang, April 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR .............................................................................. i


DAFTAR IS ............................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ..................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ................................................................................ vi
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. vii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................. 1


1.1 Latar Belakang ................................................................... 4
1.2 Identifikasi Masalah ........................................................... 4
1.3 Maksud dan Tujuan ............................................................ 4
1.4 Kegunaan penelitian ........................................................... 5
1.5 Kerangka Pemikiran ........................................................... 5
1.6 Hipotesis ............................................................................. 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................... 8


2.1 Klasifikasi dan Morfologi Jamur Tiram Putih ................... 9
2.1.1 Klasifikasi Jamur Tiram Putih .............................. 9
2.1.2 Morfologi Jamur Tiram ......................................... 10
2.1.3 Syarat Pertumbuhan Jamur Tiram......................... 11
2.1.4 Siklus Hidup Jmur Tiram ...................................... 13
2.1.5 Manfaat Jamur Tiram ............................................ 13
2.2 Media Tanam ..................................................................... 15
2.2.1 Serbuk Kayu Sengon ............................................. 15
2.2.2 Ampas Tahu Sebagai Alternatif Media ................. 16
2.2.3 Nutrisi.................................................................... 17

BAB III METODE PENELITIAN ................................................... 21


3.1 Tempat dan Waktu Percobaan .......................................... 21

iii
3.2 Bahan dan Alat Percobaan ................................................ 21
3.3 Metode Penelitian ............................................................. 22
3.4 Analisa Data Hasil ............................................................. 23
3.5 Pelaksanaan Percobaan ...................................................... 23
3.5.1 Persiapan Kumbung Jamur Tiram......................... 24
3.5.2 Pembuatan Media .................................................. 24
3.5.3 Pengomposan ........................................................ 24
3.5.4 Pembuatan Baglog ................................................ 25
3.5.5 Sterilisasi ............................................................... 25
3.5.6 Pendinginan ........................................................... 25
3.5.7 inokulasi ................................................................ 25
3.5.8 inkubasi ................................................................. 26
3.5.9 Pembuatan Nutrisi ................................................. 26
3.5.10 Aplikasi Nutrisi ................................................... 27
3.5.11 Pemeliharaan ....................................................... 27
3.5.12 Pemanenan .......................................................... 28
3.6 Pengamatan ........................................................................... 28
3.6.1 Pengamatan Penunjang ......................................... 28
3.6.2 Pengamtan Utama ................................................. 29

DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 21
LAMPIRAN .............................................................................................. 34

iv
DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman

1 Kandungan Nutrisi Tiap 100 G Jamur Tiram……..................... 12


2 Perlakuan Konsentrasi Penambahan Media Organik dan
Konsentrasi Nutrisi Organik…………………………................. 19
3 Analisis Ragam Rancangan Acak Kelompok Faktor Tunggal…. 20
4 Komposisi Campuran Media Baglog…………………………… 21
5 Kebutuhan Konsentrasi Nutrisi Kulit Kentang…………………. 23

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman

1 Morfologi Jamur Tiram Putih ....................................


2 Siklus Hidup Jamur Tiram Putih ................................

vi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Judul Halaman

1 Tata Letak Percobaan………………………. 32

vii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jamur adalah tanaman yang tidak bisa menyediakan makanannya sendiri

karena tidak berklorofil. Di alam, zat-zat nutrisi tersebut biasanya telah tersedia dari

proses pelapukan oleh aktivitas mikroorganisme. Oleh karena itu, di dalam

pertumbuhannya jamur memerlukan zat-zat makanan yang siap untuk diserapnya.

(Muchroji dan Cahyana, 2008).

Jamur tiram putih memiliki cita rasa relatif netral dan memiliki tekstur yang

lembut sehingga mudah untuk dipadukan dengan berbagai jenis masakan. Karena

nilai gizi yang tinggi dapat meningkatkan ketahanan tubuh, jamur tiram juga dapat

dipadukan sebagai bahan pangan yang bersifat sebagai nutrisi untuk kesehatan.

Selain itu jamur merupakan salah satu komoditas sayuran organik karena tidak

menggunakan pupuk sintetik dan pestisida sehingga dapat menjaga kelestarian

lingkungan (Siddhant dan Singh, 2009).

Jamur tiram putih banyak mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh,

dalam 100 gram jamur tiram mengandung protein (10,5 – 30,4%), air (73,7-90,8%),

lemak (1,6-2,2%), karbohidrat (57,6-81,8%), asam amino dan beberapa mineral-

mineral yang dibutuhkan oleh tubuh seperti zat besi, kalium,fosfor,kalsium, natrium

dan zink. Maka dari itu jamur tiram putih merupakan jamur yang paling banyak

diminati oleh masyarakat (Piryadi, 2013).

1
2

Prospek pasar jamur tiram ini cukup tinggi, minat masyarakat untuk

mengonsumsi jamur terus meningkat sebagai bahan makanan yang lezat dan bergizi.

Permintaan jamur semakin meningkat dan meyakinkan masyarakat bahwa usaha

tani jamur merupakan peluang bisnis yang realistis, sehingga diberbagai daerah

banyak terbentuk usaha pertanian yang khusus membudidayakan dan

memproduksikan taaman jamur (Setyawati, 2011). Jamur tiram dapat tumbuh

optimal di area dataran tinggi karena tingkat kelembaban yang sesuai untuk

budidaya jamur tiram. Tetapi pada dataran rendah pun jamur tiram dapat di

budidayakan, asalkan tingkat kelembaban hampir sama dengan habitat aslinya.

Karawang merupakan salah satu daerah yang memproduksi jamur tiram di provinsi

Jawa Barat, selain daerah Karawang yang memproduksi jamur tiram yaitu Bogor,

Bandung, dan Sukabumi yang menyuplai produksi jamur tiramnya ke pasar di

Jakarta (Chazali dan Pratiwi, 2009).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa

Barat (2018), produksi jamur tahun 2015 sebesar 18.139.833 kg, pada tahun 2016

produksi jamur sebesar 23.188.908 kg, tahun 2017 produksi jamur sebesar 1.811.

356 kg dari data yang diperoleh tampak bahwa produksi jamur di Kabupaten

Karawang mengalami penurunan dari tahun 2016 sampai 2017.

Permasalahan yang sering dihadapi dalam budidaya jamur tiram yaitu

pertumbuhan miselium yang masih relatif lama dan perkembangan badan buah yang

kerdil atau tidak berkembang. Hal ini disebabkan salah satunya karena kurang atau

tidak efisiennya nutrisi pada baglog jamur, sumber nutrisi penting bagi

pertumbuhan jamur khususnya perkembangan miselium, karena nutrisinya

diperoleh langsung dari media (Moerdiati., 1999).


3

ketersediaan serbuk kayu sengon saat ini semakin sukar diperoleh petani

jamur, khususnya petani jamur di Kabupaten Karawang. Oleh sebab itu, perlu

dilakukan kajian tentang substrat yang dapat dijadikan media alternatif untuk

meminimalisir penggunaan serbuk kayu. Bahan alternatif yang digunakan

sebaiknya memiliki kriteria dan karakteristik yang hampir sama dengan serbuk kayu

serta memiliki kandungan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan jamur tiram putih.

Guna meningkatkan produksi jamur tiram diantaranya dengan penambahan

nutrisi dari luar dalam bentuk nutrisi yang digunakan sebagai bahan penunjang

untuk media tumbuh, nutrisi yang ditambahkan sebaiknya yang aman dikonsumsi.

Limbah organik sebagai alternatif nutrisi tambahan yang aman dikonsumsi dan

meningkatkan nilai tambah (Zuhriyah, 2014). Salah satu limbah organik yang dapat

dimanfaatkan sebagai media tanam jamur tiram adalah limbah ampas tahu dan

limbah kentang.

Limbah kentang tergolong limbah organik dan mudah dicerna, karena

limbah kentang memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi sehingga mudah

diuraikan. Limbah yang dimaksudkan adalah limbah umbi kentang yang terdiri dari

sisa-sisa irisan kentang dan kulit kentang yang tidak layak diproses (Efridayanti,

2014).

Ampas tahu merupakan hasil samping dari proses pengolahan tahu.

Bentuknya berupa padatan berasal dari bubur kedelai yang diperas. Ampas tahu

mengandung protein, karbohidrat lemak, mineral dan vitamin (Anonymous, 1997).

Menurut Supriati (2005) dalam Mulia, Maryanto dan Purbomartono (2014),

kandungan yang terdapat pada ampas tahu dari 100 gram tahu mengandung protein

17, gram, lemak 5,9 gram, fosfos 29 gram dan mineral 29 gram. Lebih lanjut
4

Rohmiyatul dkk., (2010) juga menambahkan bahwa kandungan nutrisi ampas tahu

adalah protein 21,3-27%, serat kasar 16-23% dan lemak 4,5- 17%. Ervina (2000)

menjelaskan bahwa ampas tahu dapat memberikan jumlah badan buah lebih banyak

dan menambah berat badan buah jamur tiram, sehingga hasil panen lebih awal dan

lebih baik serta menguntungkan.

Berdasarkan latar belakang masalah, maka perlu dilakukan penelitian

mengenai uji daya hasil jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) dengan penambahan

aplikasi jenis nutrisi organik.

1.2 Identifikasi masalah

Berdasarkan pada uraian latar belakang diatas, dapat didentifikasi permasalahan

sebagai berikut :

a. Adakah pengaruh nyata pada penambahan media ampas tahu dan

konsentrasi nutrisi kulit kentang terhadap pertumbuhan dan hasil jamur tiram

putih (Pleurotus ostreatus).

b. Penambahan media ampas tahu dan konsentrasi nutrisi kulit kentang

manakah yang memberikan pertumbuhan dan hasil tertinggi jamur tiram

putih (Pleurotus ostreatus).

1.3 Maksud dan Tujuan

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi

penambahan media ampas tahu dan nutrisi kulit kentang terhadap hasil jamur tiram

putih (Pleurotus ostreatus).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi

penambahan media ampas tahu dan nutrisi kulit kentang yang memberikan hasil

tertinggi terhadap hasil jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus).


5

1.4 Kegunaan Penelitian

Diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi kepada semua

pihak, khususnya kepada petani jamur tiram tentang konsentrasi penambahan media

ampas tahu dan nutrisi kulit kentang pada budidaya jamur tiram putih (Pleurotus

ostreatus).

1.5 Kerangka Pemikiran

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) memiliki tekstur yang lembut dan

cita rasa yang relatif netral sehingga mudah dipadukan dengan berbagai jenis

makanan. Jamur tiram putih termasuk golongan jamur yang dapat dikonsumsi dan

hidup pada kayu yang sudah lapuk (Zuhriyah, 2014).

Jamur tiram putih banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena

sifatnya yang adaptif terhadap perubahan lingkungan dan memiliki produktifitas

tinggi. Selain itu jamur tiram juga memiliki kandungan air yang tinggi yaitu 86,6%

(Djarijah dan Djarijah, 2001). Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan

jamur tiram putih adalah suhu, kelembaban, udara, cahaya, tingkat keasaman, dan

kadar air (Meina, 2007).

Nutrisi merupakan salah satu unsur yang dibutuhkan tanaman dalam

pertumbuhan dan perkembangan (Arma dkk, 2013). Penambahan nutrisi yang di

butuhkan oleh jamur dapat meningkatkan pertumbuhan, perkembangan dan

produksi jamur. Pemberian nutrisi tambahan pada media jamur akan mempengaruhi

perkembangan, pertumbuhan serta pemunculan tubuh buah pada jamur. Jamur

memerlukan makanan dalam bentuk unsur-unsur kimia misalnya nitrogen, kalium,

fosfor, belerang dan karbon yang telah tersedia pada jaringan kayu dalam jumlah

sedikit untuk kehidupan dan perkembangannya (Kalsum dkk, 2011).


6

Hasil penelitian Ervina Dian Wahyuni (2000) tentang pengaruh bekatul dan

ampas tahu pada media serbuk gergaji kayu jati terhadap pertumbuhan jamur tiram

merah, menunjukkan penambahan bekatul 10% dan ampas tahu 15% memberikan

hasil yang optimal untuk pertumbuhan dan produksi jamur tiram putih.

Menurut penelitian Riapsari Romdhon (2012) bahwa dengan penambahan

ampas tahu 10% dalam media serbuk kayu 1 kg merupakan hasil yang terbaik untuk

waktu penyebaran miselium rata-rata (47,5) hari, jumlah badan buah (19) buah,

berat segar jamur tiram putih (85,4) g.

Dalam penelitian Stiagama (2014), hasil terbaik menunjukan bahwa

kecepatan pertumbuhan miselium jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) paling

cepat selama 28,33 hari pada perlakuan R0 (tanpa TKKS + ampas tahu) + serbuk

gergaji sengon 1000 g.

Hasil penelitian Mufarrihah (2009) memperlihatkan bahwa pemberian

berbagai konsentrasi jenis nutrisi pada jamur tiram berpengaruh baik terhadap berat

basah jamur tiram, diameter badan buah, jumlah badan buah, pertumbuhan

miselium jamur dan waktu kemunculan primordia.

Ketika mengolah kentang tidak banyak yang menyertakan kulitnya karena

dianggap sebagai suatu bagian yang tidak menarik dan kotor dan harus dibuang.

Sedangkan kulit kentang tersebut masih banyak menyimpan nutrisi, karbohidrat

dan juga serat (Efridayanti, 2014).

Hasil penelitian Laksono dkk., (2018) pengaplikasian nutrisi ekstrak kulit

kentang sebanyak 40% memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah rumpun buah,

jumlah tudung buah per rumpun, dan diameter tudung buah maksimal jamur tiram

putih.
7

Hasil penelitian imanudin, (2016) menyatakan bahwa dengan pemberian air

rebusan kentang sebanyak 300 ml/l ke dalam media memberikan pengaruh nyata

terhadap pertumbuhan jati emas secara in vitro.

Hasil penelitian Hadi, (2013) menyatakan bahwa peningkatan jumlah akar

pisang mencapai 4,33 cm akibat penambahan air rebusan kentang dengan

konsentrasi 30% kedalam media.

Medium biakan murni jamur tiram putih yang paling sering digunakan yaitu

Medium Potato Dekstrose agar (PDA) (Chang dan Quimio, 1989), mediumini

berasal dari rebusan kentang yang mengandung nutrisi untuk mempercepat

pertumbuhan miselium, sehingga air limbah rebusan kulit kentang berpotensi

mengandung karbohidrat, protein, mineral dan vitamin yang dapat memenuhi nutrisi

untuk pertumbuhan jamur tiram putih, dengan ini pemanfaatan air ekstrak kulit

kentang juga digunakan sebagai sebagai nutrisi alternatif karena air ekstrak tersebut

merupakan sumber karbon organik berupa gula, pati, NPK, dan mineral (Daqu,

2016).

1.6 Hipotesis

Dari kerangka pemikiran diatas, maka dapat diajukan hipotesis sebagai berikut :

a. Terdapat pengaruh nyata konsentrasi penambahan media ampas tahu dan

konsentrasi nutrisi kulit kentang terhadap hasil jamur tiram putih (Pleurotus

ostreatus).
8

b. Terdapat salah satu konsentrasi penambahan media ampas tahu dan

konsentrasi nutrisi kulit kentang yang memberikan hasil tertinggi jamur

tiram putih (Pleurotus ostreatus).


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Jamur Tiram Putih.

2.1.1 Klasifikasi Jamur Tiram Putih

Jamur Tiram Putih adalah salah satu jenis jamur yang banyak tumbuh pada

media kayu, baik kayu gelondongan ataupun serbuk kayu. Pada limbah hasil hutan

dan hampir semua kayu keras, produk samping kayu, tongkol jangung dan lainnya,

jamur dapat tumbuh secara luas pada media tersebut. Di Indonesia jamur tiram

putih merupakan salah satu jenis jamur yang banyak dibudidayakan, karena bentuk

yang membulat, lonjong, dan agak melengkung serupa cakra tiram maka jamur

kayu ini disebut jamur tiram.

Klasifikasi jamur tiram putih, dalam (Ayu, 2016) yaitu sebagai berikut :

Kingdom : Fungi

Division : Basidiomycota

Kelas : Agaricomycetes

Ordo : Agaricales

Familia : Pleurotaceae

Genus : Pleurotus

Species : Pleurotus ostreatus

9
10

2.1.2 Morfologi Jamur Tiram

Sumber: Sugiarto, 2012

Gambar 1 Morfologi Jamur Tiram

jamur tiram putih memiliki mofrologi secara umum yaitu, tudung, tangkai

dan miselium (Utami, 2017).

a. Tudung

Tudung (pileus) berbentuk mirip dengan cangkang tiram atau telinga dengan

ukuran diameter 5-15 cm, berwarna putih dan lunak yang berisi basidopspora

(Rakhmawati, 2012). Jamur tiram putih memiliki tudung berwarna putih susu atau

putih kekuning-kuningan (Djarijah dan Djarijah, 2001).

Permukaan bagian bawah tudung jamur muda terdapat bilah-bilah (lamela).

Lamela tubuh menurun dan melekat pada tangkai. Pada lamela terdapat sel-sel

pembentuk spora (basidium) yang berisi basidiospora. Basidiospora biasanya

dibentuk pada saat tubuh buah telah dewasa (mengalami kematangan). Selama tepi

tudung masih berlipat-lipat. Tubuh buah dikatakan belum dewasa. Tepi tudung

yang merekah penuh pada tubuh buah mencapai fase dewasa yang dapat dipanen.

Tubuh buah yang matag biasanya rapuh dan spora dapat diperas (Riyanto, 2010).
11

b. Tangkai

Jamur tiram putih memiliki tangkai yang tumbuh menyamping atau tidak

tepat berada ditengah tudung. Tangkainya dapat pendek atau panjang dengan

ukuran 2-6 cm, tergantung pada kondisi lingkungan dan iklim yang mempengaruhi

pertumbuhannya. Tangkai ini yang menyangga tudung agak lateral (d bagian tepi)

atau eksentris (agak ke tengah) (Djarijah dan Djarijah, 2001). Tubuh buahnya

membentuk rumpun yang memiliki banyak percabangan dan menyatu dalam satu

media (Parjimo dan Agus, 2007).

c. Miselium

Jamur sebagai tanaman memiliki inti, spora dan merupakan sel-sel lepas

atau bersambung membentuk benang yang bersekat atautidak bersekat yang disebut

hifa (sehelai benang). Hifa jamur menyatu membentuk jaringan yang disebut

miselium (kumpulan hifa). Miselium berwana putih yang bisa tumbuh dengan

cepat. Miselium jamur bercabang-cabang dan pada titik-titik pertemuannya

membentuk bintik kecil yang disebut sporangium yang akan tumbuh menjadi tunas

atau calon tubuh buah jamur (pin head) (Djarijah dan Djarijah, 2001)

2.1.3 Syarat Pertumbuhan Jamur Tiram

Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan jamur antara lain:

a) Air

Kandungan air dalam substrat sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan

dan perkembangan miselium jamur. Kandungan air yang terlalu rendah

menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan miselium jamur terganggu,

sebaliknya bila kandungan air terlalu tinggi menyebabkan miselium jamur akan

membusuk dan mati (Suriawiria, 2006).


12

b) Sumber Nutrisi

Untuk kehidupan dan perkembangan jamur memerlukan makanan dalam

bentuk unsur-unsur kimia misalnya nitrogen, fosfor, belerang, kalium, karbon yang

telah tersedia dalam jaringan kayu, walaupun dalam jumlah sedikit. Oleh karena

itu, diperlukan penambahan dari luar dalam bentuk pupuk yang digunakan sebagai

bahan campuran pembuatan substrat tanaman atau media tumbuh jamur

(Suriawiria, 2006).

c) Temperatur

Pada umumnya jamur akan tumbuh dengan baik pada kisaran temperatur

antara 22°C – 28°C. Pada siang hari, temperatur di atas 28°C jamur masih dapat

tumbuh dengan pertumbuhan agak terhambat dan hasil yang kurang maksimal

(Suriawiria, 2006).

d) Kelembaban

Secara umum jamur memerlukan kelembaban yang cukup tinggi,

kelembaban antara 95-100% menunjang pertumbuhan yang maksimum pada

kebanyakan jamur (Suriawiria, 2006).

e) Cahaya

Jamur sangat peka terhadap cahaya matahari secara langsung. Tempat-

tempat yang teduh sebagai pelindung seperti di dalam ruangan merupakan tempat

yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan jamur (Suriawiria, 2006).


13

Stevani (2011)

Gambar 2 Siklus Hidup Jamur Tiram Putih

2.1.4 Siklus hidup jamur tiram

Siklus hidup jamur tiram putih hampir sama dengan siklus hidup jenis

jamur dari kelas Basidiomycetes. Tahap-tahap pertumbuhan jamur tiram adalah

sebagai berikut:

a. Spora (basidiospora) yang sudah masak atau dewasa jika berada di tempat

lembab akan tumbuh dan membentuk serat-serat menyerupai serat kasar

disebut miselium.

b. Jika keadaan lingkungan tempat miselium baik, dalam arti temperatur,

kelembaban, substrat tempat tumbuh memungkinkan, maka kumpulan

miselium akan membentuk bakal tubuh buah jamur.

c. Bakal tubuh buah jamur kemudian membesar dan pada akhirnya membentuk

tubuh buah jamur yang kemudian dipanen.

d. Tubuh buah jamur dewasa akan membentuk spora, jika spora sudah matang

atau dewasa akan jatuh dari tubuh buah jamur (Suriawiria, 2006).

2.1.5 Manfaat Jamur Tiram

Manfaat dan Kandungan Gizi Jamur Tiram Jamur tiram terdiri dari beberapa

jenis yaitu jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus), jamur tiram abu-abu (Pleurotus

cystidius), jamur tiram raja (Pleurotus umbellatus) atau dikenal juga sebagai King
14

Oyster. Kandungan protein jamur tiram rata-rata 3,5-4% dari berat basah, dan

jumlah ini dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan asparagus dan kubis. Bila

dihitung dari berat kering jamur tiram kandungan proteinnya adalah 19-35%,

sementara beras 7,3%, gandum 13,2%, kedelai 39,1% dan susu sapi 25,2%. Pada

(tabel 1) Jamur tiram juga mengandung sembilan asam-asam amino esensial yang

tidak bisa disintesis dalam tubuh yaitu lisin, metionin, triptofan, threonin, valin,

leusin, isoleusin, histidin dan fenilalanin (Suriawiria, 1986).

Tabel 1 . Kandungan Nutrisi Tiap 100 G Jamur Tiram


Zat gizi Satuan Kandungan
Protein g 13,8
Serat g 3,5
Lemak g 1,41
Abu g 3,6
Karbohidrat g 61,7
Kalori g 0,41
Kalsium g 32,9
Zat besi g 4,1
Forfor g 0,31
Vitamin B1 g 0,12
Vitamin B2 g 0,64
Vitamin C g 5
Niacin g 7,8
Sumber : Suriawiria (1986)

Jamur tiram banyak mengandung asam lemak tidak jenuh, yaitu 72% dari

total asam lemak yang ada. Jamur tiram juga mengandung sejumlah vitamin penting

terutama kelompok vitamin B, vitamin C dan provitamin D yang akan diubah

menjadi vitamin D dengan bantuan sinar matahari. Kandungan vitamin B1

(tiamin), B2 (riboflavin), niasin dan provitamin D2 (ergosterol)-nya cukup tinggi

(Suriawiria, 1986).
15

Jamur tiram merupakan sumber mineral yang baik, Kandungan mineral

utama yang tertinggi adalah kalium (K), kemudian fosfor (P), natrium (Na),

kalsium (Ca) dan magnesium (Mg). Namun, jamur tiram juga merupakan sumber

mineral minor yang baik karena mengandung seng, besi, mangan, molibdenum,

kadmium, dan tembaga. Konsentrasi K, P, Na, Ca, dan Mg mencapai 56-70 persen

dari total abu, dengan kandungan kalium sangat tinggi mencapai 45 persen.

(Suriawiria, 1986). Jamur tiram bermanfaat untuk menekan kolesterol jahat di

dalam darah, menyerap kelebihan kadar gula dalam darah dan menyeimbangkan

metabolisme tubuh (Suriawiria, 1986).

2.2 Media Tanam

Miselium dan badan buah dapat berkembang pada bahan yang mengandung

lignoselulosa dengan nisbah C/N tinggi adalah kayu gergajian, bagas (ampas tebu),

tongkol dan batang jagung, jerami, sekam, alang-alang, kertas, kayu gelonggongan,

limbah potongan kayu, kulit kacang-kacangan. Sementara itu contoh bahan yang

mempunyai nilai C/N relatif rendah adalah bekatul, limbah sayuran, blotong

(limbah lumpur pabrik gula), bungkil kelapa, bungkil kacang-kacangan, danampas

tahu (Sumarsih, 2010).

Umumnya jamur tiram dalam kondisi yang cocok dapat tumbuh pada kayu

yang sudah lapuk. Untuk proses budidaya jamur tiram, Media tanam yang

digunakan disebut Baglog.

2.2.1. Serbuk Kayu Sengon

Serbuk kayu merupakan tempat tumbuh jamur kayu yang mengandung serat

organik (selulosa, hemiselulosa, dan lignin) sebagai sumber makanan jamur

(Suriawiria, 2006). Serbuk kayu sengon merupakan bahan substrat lignoselulosa


16

yang mengandung bahan organik sangat tinggi. Bahan organik yang terkandung

pada serbuk gergaji kayu sengon tidak dapat diserap secara langsung oleh jamur

tiram, sehingga diperlukan penguraian bahan organik dengan cara pengomposan

(Pasaribu, 1987 dalam Ervina, 2000). Agus (2006) menambahkan serbuk gergaji

kayu yang tidak terlalu keras, misalkan kayu sengon karena kayu yang tidak terlalu

keras lebih baik digunakan sebagai media.

2.2.2 Ampas Tahu Sebagai Alternatif Media

Industri tahu bersekala kecil dan menegah semakin berkembang. Namun

semakin berkembangnya indusri tersebut pengolahan limbah masih belum baik

yang berpotensi mencemari lingkungan. Limbah yang dihasilkan oleh industri tahu

merupakan limbah organik yang mudah diuraikan mikroorganisme secara ilmiah.

Di dalam limbah industri tahu masih mengandung komponen organik seperti

karbohidrat (25-50%), lemak (10%), dan protein (40-60%) (Rossiana dan Manfaati,

2010) dapat dimanfaatkan sebagai kearifan lokal untuk melestarikan ekosistem

sekitar jika di kelola secara tepat dan berkesinambungan.

Limbah Ampas Tahu Sebagai Sumber Nutrisi Ampas tahu merupakan

limbah dalam bentuk padatan dari bubur kedelai yang diperas dan tidak berguna

lagi dalam pembuatan tahu dan cukup potensial dipakai sebagai bahan makanan

karena ampas tahu masih mengandung gizi yang baik. Penggunaan ampas tahu

masih sangat terbatas bahkan sering sekali menjadi limbah yang tidak

termanfaatkan secara optimal (Rakhmat dan Rosad, 2011). Auliana (2012), juga

menambahkan pemanfaatan limbah padat (ampas tahu) selama ini hanya digunakan

sebagai pakan ternak, namun pembuatan produk makanan berupa tempe gembus,

dan kecap masih sangat terbatas. Bila produksi berlebihan ampas tahu ini sering
17

dibuang begitu saja, sehingga akan dapat menambah beban pencemaran lingkungan

(Wilarso, 1999). Menurut Mufarrihah (2009), dalam ampas tahu terkandung zat-zat

antara lain karbohidrat, protein, mineral dan vitamin. Lebih lanjut Setiagama

(2014), menyatakan dimana komposisi kimia ampas tahu sebagai sumber protein

8,66%, lemak 3,79%, air 51,63% dan abu 1,21%. Menurut Rahayu (2012) dalam

Wati (2013) ampas tahu basah dalam per 100 gram mengandung karbohidrat

11,07%, protein 4,71%, lemak 1,94% dan abu 0,08%. Sedangkan menurut

Adiyuwono (2000) dalam Mufarrihah (2009), protein yang terkandung di dalam

ampas tahu berfungsi untuk merangsang pertumbuhan miselia.

2.2.3 Nutrisi

Untuk kehidupan dan perkembangan jamur memerlukan makanan dalam

bentuk unsur-unsur kimia misal nitrogen, fosfor, belerang, kalium, karbon yang

telah tersedia dalam jaringan kayu, walaupun dalam jumlah sedikit. Oleh karena

itu, diperlukan penambahan dari luar misal dalam bentuk pupuk yang digunakan

sebagai bahan campuran pembuatan substrat tanaman atau media tumbuh jamur

(Suriawiria, 2006). Pertumbuhan jamur tiram membutuhkan nutrisi untuk

metabolisme dalam tubuh. Nutrisi atau hara yang dibutuhkan diantaranya adalah:

a. Bekatul

Bekatul merupakan hasil sisa penggilingan padi yang kaya vitamin,

terutama vitamin B komplek, merupakan bagian yang berperan dalam pertumbuhan

dan perkembangan miselium jamur serta berfungsi sebagai pemicu untuk

pertumbuhan tubuh buah jamur (Suriawiria, 2006). Kandungan mineral yang

dimiliki bekatul antara lain besi, fosfor, magnesium dan kalium.


18

b. Tepung jagung

Tepung jagung merupakan salah satu hal yang penting bagi media tumbuh

jamur. Tepung jagung berfungsi sebagai nutrisi tambahan yang banyak

mengandung karbohidrat, nitrogen dan thiamin yang dapat meningkatkan

pertumbuhan jamur.

c. Kapur

Kapur berfungsi sebagai pengontrol pH media tanam agar sesuai dengan

syarat tumbuh jamur. Selain itu, kapur juga merupakan sumber kalsium. Kapur

yang digunakan sebagai bahan campuran media adalah kapur pertanian yaitu

kalsium karbonat (CaCO3) (Parjimo, 2007).

d. Air

Air merupakan salah satu faktor untuk melancarkan pertumbuhan miselium,

agar dapat membentuk tubuh buah jamur. Bila kelebihan air maka pertumbuhan

miselium akan terhambat dan mati karena miselium jamur membutuhkan air dalam

jumlah sedikit (Suriawiria, 2006).

e. Tepung Beras

Tepung beras merupakan salah satu varian nutrisi dari pengolahan beras.

Kandungan gizi tepung beras didominasi oleh kandungan karbohidrat yang

mencapai 80% hingga 90% dari total beratnya (Kusnan dan Basori, 2011).

Kandungan karbohidrat dapat menjadi sumber nutrisi tanmbahan bagi jamur tiram

putih. Menurut penelitian Lesmana dkk, (2016), menunjukan bahwa penambahan

tepung beras putih 20% (B2) pada media dapat mempercepat pertumbuhan jamur

tiram sebesar 4,2 mm/hari.


19

f. Bubuk Glukosa

Bubuk glukosa berfungsi untuk menyediakan energi untuk kebutuhan

metabolisme atau pertumbuhan dan perkembangan jamur tiram (Sitompul., dkk,

2017). Agustiawati (2010), menyatakan bahwa sukrosa (glukosa dan fruktosa)

memiliki kemampuan dalam meningkatkan daya kecambah konidia dan

pertumbuhan jamur.

g. Pupuk Triple Super Phosphate (TSP)

Pupuk yang biasa dugunakan yaitu TSP murni. Pemberian pupuk TSP

dimaksudkan sebagai nutrisi pertumbuhan jamur dan dapat mempercepat

pemanenan. Penambahan pupuk TSP memberikan hasil terbaik untuk pertumbuhan

miselium. Selain itu, ukuran jamur rata-rata lebih besar (Patra, 2000).

f. Kulit Kentang Nutrisi Alternatif

Kentang (Solanum tuberosum) merupakan tanaman dari suku solanacceae

dan memiliki umbi batang yang dapat dikonsumsi. Kentang terkenal dengan

kandungan karbohidratnya. Pada saat mengolah kentang banyak yang tidak

menyertakan kulitnya, karena dianggap sebagai bagian yang tidak berguna

(Efridayanti, 2014). Kebanyakan masyarakat Indonesia hanya memanfaatkan

bagian dagingnya saja dan membuang bagian kulitnya karena dianggap tidak

menarik dan kotor akibat warnanya yang coklat.

Kulit kentang masih banyak mengandung karbohidrat dan serat. Pada

bagian lapisan daging kentang sebelah luar dan kulit kentang masih banyak

mengandung vitamin dan mineral lainnya, seperti Cu, Mg, K, Fe, Thiamin, Folacin

serta asam pantotenat (Manuel dkk, 2006).


20

Kandungan serat pada bagian kulit kentang mencapai 11.7%. jika dilihat

dari kandungan gizi tinggi yang terkandung membuat kulit kentang berpotensi

untuk diolah kembali menjadi produk atau dimanfaatkan untuk hal lain

dibandingkan hanya dibuang begitu saja ke lingkungan dan menjadi limbah.


BAB III

METODE PENLITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Percobaan

Percobaan akan dilaksanakan di kumbung pembudidaya jamur tiram putih

yang berlokasi di Cibalongsari, Desa Kopel, Kecamatan Klari, Kabupaten

Karawang. Lokasi percobaan berada pada titik kordinat 6° 21’ 17.0622” S dan

107° 21’ 42.9937” E pada ketinggian 18 hingga 23 meter diatas permukaan laut

(dpl). Percobaan akan dilaksanakan pada bulan April 2019 sampai bulan Juni 2019.

3.2 Bahan dan Alat percobaan

Bahan yang akan digunakan dalam percobaan ini terdiri dari : Bibit F2 jamur

tiram putih, serbuk kayu sengon, dedak, tepung jagung, tepung beras, glukosa,

kapur, bubuk ampas tahu, kulit kentang, majun, aquades, alkohol 70% dan

desinfektan.

Alat yang akan digunakan dalam percobaan ini terdiri dari : Rak

penyimpanan baglog, sekop, spatula, hand sprayer, thermo hygrometer, gelas ukur

50ml dan 100 ml, meteran, alat tulis, timbangan digital, plastik ukuran 18 cm x 30

cm dengan kapasitas 1000 g, tali rafia, ayakan, fiber plastik, blander, saringan,

semawar, drum, terpal, jangka sorong, cutter, gayung, dan baki plastik.

21
22

3.3 Metode Penelitian


Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan

Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal, terdiri dari 3 ulangan dan 10

perlakuan. Dari masing – masing perlakuan terdapat 5 sampel yang diulang

sebanyak 3 kali. Total keseluruhan baglog yang digunakan sebanyak 150 buah.

Perlakuan konsentrasi penambahan media ampas tahu dan konsentrasi nutrisi kulit

kentang dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Perlakuan Konsentrasi Penambahan Media Ampas Tahu dan Konsentrasi


Nutrisi Kulit Kentang
Kode Perlakuan Media Tanam Konsentrasi Nutrisi Kulit Keterangan
Ampas Tahu (%) Kentang (%)

A Tanpa Ampas Aquades 100% Kontrol


Tahu
B 15% 20%
C 15% 40%
D 15% 60%
E 25% 20%
F 25% 40%
G 25% 60%
H 35% 20%
I 35% 40%
J 35% 60%

Data hasil percobaan dianalisis dengan analisis ragam berdasarkan model

linier dari rancangan acak kelompok sebagai berikut :

𝒀𝒊𝒋 = 𝝁 + 𝒓ᵢ + 𝒕𝒋 + 𝜺𝒊𝒋

Keterangan:

𝑌𝑖𝑗 = respon terhadap ulangan ke-i perlakuan ke-j

𝜇 = Rata-rata umum respon

𝑟𝑖= Pengaruh ulangan ke-i


23

𝑡𝑗= Pengaruh perlakuan ke-j

𝜀𝑖𝑗= Pengaruh galat ulangan ke-i dan perlakuan ke-j

i = 1,2,3 (Ulangan) j = 1,2,....10 (Perlakuan)

Dari model linier rancangan penelitian dapat disusun analisis ragam sebagai berikut

(Tabel 3).

Tabel 3. Analisis Ragam Rancangan Acak Kelompok Faktor Tunggal


Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F-hitung F-tabel (0,05)

Keragaman Bebas Kuadrat Tengah

Ulangan r-1 JKU JKU/dbU KTU/KTG (Fα;dbU;dbG)

Perlakuan t-1 JKP JKP/dbP KTP/KTG (Fα;dbP;dbG)

Galat (t-1)(r-1) JKG JKG/dbG

Total Tr-1 JKT

Sumber : Gomez dan Gomez (2010)

3.4 Analisis Data Hasil

Pengaruh perlakuan dianalisis dengan analisis ragam dan apabila uji F taraf

5% signifikan, maka untuk mengetahui perlakuan yang paling baik dilanjutkan

dengan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf nyata 5%

(Gomez dan Gomez, 2010).

3.5 Pelaksanaan Percobaan

Kegiatan ini meliputi persiapan kumbung jamur tiram, pembuatan media,

pengomposan, pembuatan baglog, sterilisasi, pendinginan, inokulasi, inkubasi,

pembuatan nutrisi, aplikasi nutrisi, pemeliharaan, pengamatan dan pemanenan.


24

3.5.1 Persiapan Kumbung Jamur Tiram

Tiga minggu sebelum aplikasi, kumbung di sterilkan dengan cara di steam

menggunakan desinfektan, dimaksudkan agar bersih dari kotoran-kotoran yang

dapat menimbulkan penyakit pada jamur.

3.5.2 Pembuatan media

Ampas tahu dan serbuk gergaji kayu yang telah ditakar pada setiap

perlakuan dicampur dengan campuran bahan-bahan lain seperti kapur, bekatul,

tepung jagung, tepung beras dan glukosa di tempat terpisah pada masing-masing

perlakuan. Adapun komposisi campuran media baglog terdapat pada tabel 4.

Campuran media yang sudah merata selanjutnya diberi air sampai diperoleh kadar

air media campuran 70%. kadar air 70% hingga kenampakan campuran media jika

digenggam, kemudian genggaman dibuka maka campuran media tidak hancur,

tetapi mudah juga di hancurkan oleh tangan.

Tabel 4. Komposisi Campuran Media Baglog

Ampas Serbuk Tepung Tepung


Bekatul Kapur TSP Glukosa
Tahu Gergaji Jagung Beras
0 gr 720 gr 150 gr 50 gr 20 gr 20 gr 20 gr 20 gr
150 gr 570 gr 150 gr 50 gr 20 gr 20 gr 20 gr 20 gr
250 gr 470 gr 150 gr 50 gr 20 gr 20 gr 20 gr 20 gr
350 gr 370 gr 150 gr 50 gr 20 gr 20 gr 20 gr 20 gr

3.5.3 Pengomposan

Setelah media tanam jamur jadi kemudian dikumpulkan diatas terpal kemudian

ditutup kembali dengan terpal selama 2 hari 2 malam.


25

3.5.4 Pembuatan Baglog

Setelah proses fermentasi, kemudian dimasukkan dalam kantong plastik

berukuran 18 cm x 30 cm dengan berat total media tanam yaitu 1000 g. Untuk

perlakuan kontrol dalam media tanam tidak ada campuran ampas tahu. Selanjutnya

media tanam didalam kantong plastik atau yang lebih sering disebut baglog tersebut

dipadatkan dengan cara dipukulkan ke tanah agar media tanam padat dan tidak

mudah hancur. Setelah pemadatan baglog, lalu diberi label sesuai dengan perlakuan

yang telah ditentukan. Selanjutnya, baglog diikat dengan menggunakan tali rafia.

3.5.5 Sterilisasi

Sterilisasi media menggunakan drum yang dipanaskan selama 8 jam atau

sampai mengeluarkan aroma harum dengan suhu 120°C.

3.5.6 Pendinginan

Media tanam yang sudah disetrilisasi kemudian didinginkan. Pendiginan

dilakukan di dalam suatu ruangan yang mempunyai sirkulasi udara yang cukup

supaya panas yang ada media tanam dapat berangsur-angsur menjadi dingin, namun

tetap steril. Pendiginan dilakukan selama 24 jam. Pendiginan media tanam mutlak

dilakukan karena pada prinsipnya pendinginan dilakukan agar pada saat media

tanam diinokulasi (ditanam), bibit jamur tidak akan mati.

3.5.7 Inokulasi

Inokulasi dilakukan di ruang khusus yang sudah di steril dengan

menyemprotkan formalin 1% dan dibiarkan selama 24 jam. Inokulasi dilakukan

dengan cara membuka tali rafia yang ada pada bagian atas baglog, lalu bibit

ditanam dengan teknik taburan menggunakan spatula sampai bibit jamur tersebar

rata diatas baglog. Bibit yang digunakan merupakan bibit F2 inokulasi ini
26

dilakukan pada setiap baglog. Setelah proses penaburan bibit pada baglog lalu

diberi kapas kemudian diikat kembali.

3.5.8 Inkubasi

Inkubasi dilakukan dengan cara menyimpan pada ruang khusus dengan

kondisi ruang yang lembab bertujuan agar miselium jamur tumbuh dengan baik.

Semua baglog ditempatkan di rak dengan posisi horizontal dan dibiarkan sampai

tumbuh miselium jamur tiram putih. Kondisi ruangan inkubasi diatur dengan suhu

25°C - 30°C dengan kelembaban udara kira-kira 70%-80%. Inkubasi dilakukan

selama 1 minggu sebelum pengaplikasian nutrisi.

3.5.9 Pembuatan Nutrisi

Penentuan konsentrasi ekstrak kulit kentang yaitu dengan cara merebus 250

g kulit kentang (sebelumnya kulit kentang dihaluskan menggunakan blander)

hingga mendidih dengan 250 ml aquades. Kemudian disaring dan diambil sebanyak

120 ml untuk setiap kali ulangan. Selanjutnya diencerkan dengan aquades dengan

perbandingan konsentrasi sesuai perlakuan percobaan perhitungan pada tabel 5.

Tabel 5. Kebutuhan Konsentrasi Nutrisi Kulit Kentang


Aquades Ekstrak Kulit Kentang
100 ml 0 ml
80 ml 20 ml
40 ml 60 ml
60 ml 40 ml

3.5.10 Aplikasi Nutrisi

Baglog yang sudah ditumbuhi miselium secara sempurna pada saat

inkubasi, disusun sesuai perlakuan dan ulangan dalam posisi horizontal pada rak-

rak kumbung. Terdiri dari 10 perlakuan dengan masing-masing perlakuan sebanyak


27

5 baglog dan ulangan sebanyak 3 kali, sehingga total baglog jamur yang digunakan

yaitu 150 baglog. Baglog yang sudah tersusun rapih sesuai perlakuan dan ulangan

kemudian dibuka tutupnya menggunakan pisau cutter yang sebelumnya

disemprotkan alkohol 70% untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Selanjutnya

setiap perlakuan diberi sekat menggunakan fiber plastik berukuran 40 x 30 cm.

Pemberian sekat dilakukan karena jarak antar perlakuan yang sangat dekat pada

saat pengaplikasian nutrisi, sehingga pemberian sekat tersebut bertujuan untuk

mencegah terjadinya kontaminasi antar perlakuan pada saat pengaplikasian nutrisi.

Setelah itu nutrisi alternatif yang telah diencerkan sebelumnya mulai dapat

diaplikasikan sesuai dengan masing-masing perlakuan. Adapun cara

pengaplikasiannya yaitu dengan menggunakan hand sprayer yang telah diisi nutrisi

sebanyak 100 ml, kemudian nutrisi disemprotkan ke bagian baglog yang telah

terbuka pada setiap perlakuan (1 perlakuan terdiri dari 5 baglog). Berdasarkan hasil

kalibrasi, penyemprotan dilakukan sebanyak 10 semprot atau setara dengan 5 ml

per baglognya untuk 4 kali penyiraman dalam 2 hari. Pengaplikasian nutrisi

alternatif ini dilakukan 1 minggu sekali selama 8 minggu pada setiap perlakuan.

3.5.11 Pemeliharaan

Pemeliharaan baglog yang telah diberi perlakuan dengan menjaga kondisi

iklim mikro kumbung dengan memperhatikan suhu kumbung sekitar 25°C - 30°C

dan kelembabannya sekitar 70% - 80%. Apabila diluar batas itu dilakukan

penembunan dengan aquades pada kumbung jamur menggunakan hand sprayer,

pengkabutan dilakukan dengan cara disemprotkan aquades pada dinding kumbung

yang telah dilapisi dengan karung goni, sehingga akan mengembalikan kondisi

iklim mikro kumbung jamur.


28

3.5.12 Pemanenan

Pemanenan jamur dilakukan setiap hari selama 8 minggu dengan

memperhatikan keberadaan jamur tiram yang siap panen disetiap baglog perlakuan.

Panen dilakukan jika ukuran sudah cukup besar, dengan tepi meruncing tapi belum

mekar penuh (belum pecah) pada kondisi ini jamur tiram sudah berkembang

maksimal. Panen dilakukan dengan mencabut seluruh rumpun jamur yang ada

hingga tidak ada bagian jamur yang tertinggal pada media. cara pengamatan dan

pengambilan data sesuai variabel pengamatan yang ditentukan.

3.6 Pengamatan

Pengamatan adalah kegiatan mengamati setiap perubahan yang terjadi

selama proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pengamatan dilakukan 1

minggu setelah aplikasi (msa) perlakuan pertama. Cara pengamatan dan

pengambilan data sesuai variabel yang ditentukan. Variabel yang diamati meliputi

pengamatan penunjang dan pengamatan utama.

3.6.1 Pengamatan penunjang

Pengamatan penunjang ialah pengamatan yang datanya tidak diuji secara

statistika namun mampu mendukung data utama. Pengamatan penunjang meliputi

iklim mikro kumbung yang terdiri dari suhu maksimal dan minimal, kelembaban

maksimal dan minimal serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

3.6.2 Pengamatan utama

Pengamatan utama adalah pengamatan yang datanya diuji secara statistika.

Pengamatan utama yang dilakukan pada 1- 8 minggu setelah aplikasi (msa)

perlakuan yang meliputi :


29

a. Jumlah rumpun buah pada baglog

Pengamatan dilakukan setiap hari dengan cara menghitung keseluruhan

jumlah rumpun buah yang tumbuh dalam setiap baglog jamur. Perhitungan rata-

rata jumlah rumpun buah per baglog dilakukan setiap minggu selama satu periode

(8 minggu).

b. Jumlah tudung buah per rumpun

Pengamatan dilakukan setiap hari dengan menghitung jumlah tudung dari

buah yang baru saja muncul dalam satu rumpun pada masing-masing perlakuan.

Perhitungan rata-rata jumlah tudung buah per rumpun dilakukan setiap minggu

selama satu periode (8 minggu).

c. Diameter tudung buah maksimal per baglog

Pengamatan pada diameter tudung buah maksimal per baglog dilakukan

pada saat panen dengan cara mengukur diameter tudung buah jamur terbesar

menggunakan jangka sorong pada masing-masing perlakuan.

d. Panjang tangkai buah maksimal per baglog

Pengamatan pada tangkai buah maksimal per baglog dilakukan pada saat

panen dengan cara mengukur panjang tangkai buah jamur yang tertinggi pada setiap

baglog pada masing-masing perlakuan, kemudian data diakumulasikan setiap

minggu. Alat yang digunakan untuk mengukur panjang tangkai buah maksimal per

baglog yaitu penggaris dengan satuan panjang (cm).

e. Intensitas panen per baglog

Intesitas panen per periode merupakan jumlah panen setiap minggu dari ke

lima baglog yang dirata-ratakan dalam satu perlakuan. Pengamatan ini dilakukan

setiap minggu dengan cara menghitung berapa kali jamur tiram dipanen dan
30

menghitung rata-rata panen per baglog yang dilakukan selama satu periode (8

minggu).

f. Bobot segar jamur per baglog

Perhitungan bobot segar jamur per baglog dilakukan pada tiap-tiap

perlakuan saat jamur tiram dipanen dengan menimbang keseluruhan rumpun pada

masing-masing perlakuan dalam satuan berat gram (gr) data diakumulasikan setiap

minggu.
DAFTAR PUSTAKA

Agus, GTK. 2002. Budidaya Jamur Konsumsi. Jakarta : Agro Media Pustaka.

Agustiawati. 2010. Gula Untuk Pertumbuhan Jamur. Online. Melalui


http://respository.usu.ac.id. Diakses pada [05/03/19].

Arma, M.J., Risnawati dan Gusnawati. 2013. Pengaruh FungiMikroriza dan Nutrisi
Organik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Merah Besar (Capsicum
annum L). Jurnal Agroteknos. 3(3) : 133-138.

Auliana, Rizqie. 2012. Pengolahan Limbah Tahu Menjadi Berbagai Produk


Makanan. Disampaikan dalam pertemuan Dasa Wisma Dusun Ngasem
Sindumartani Kecamatan Ngemplak Sleman Yogyakarta Pada Hari
Minggu, 7 Oktober 2012

Ayu, P. 2016. Bertanam Jamur Tiram. Putra Danayu Pubhliser. Jakarta. Hal. 38.

Badan Pusat Statistik. 2018. Tabel Dinamis Subjek Hortikultura. Melalui


https://bps.go.id/site/resultTab [02/12/18]

Cahyana, Muchroji dan M. Bachrun. 1997. Jamur Tiram. Jakarta. Penebar Swadaya

Chang, S.T. and Tricita H. Quimio. 1989. Tropicalmushroom: Biolo-gical Nature


and Cultivation Methods. Hongkong: The Chinese University Press.

Chazali, S dan P.S. Pratiwi. 2009. Usaha Jamur Tiram Skala Rumah Tangga.
Penebar Swadaya. Yogyakarta.

Daqu A. 2018. Kendala dalam Budidaya Jamur Tiram. Online. Tersedia :


htttps://www.daquagrotechno.org/Kendala-dalam-budidaya-jamur-tiram/
[13/01/2019].

Djarijah, N.M., dan A.S Djarijah. 2001. Budidaya Jamur Tiram, Pembibitan,
Pemeliharaan dan Pengendalian Hama Penyakit. Yogyakarta:Kanisius.

Efridayanti. 2014. Pembuatan Oksalat dari Kulit Kentang dengan Variasi


Konsentrasi Asam Nitrat (NHO3) dan Lama Pemanasan pada Proses
Hidrolisis. Skripsi. Politeknik Negeri Sriwijaya.

Ervina, DW.2000. Pengaruh Bekatul dan Ampas Tahu Pada Media Serbuk Gergaji
Kayu Jati Terhadap Pertumbuhan Jamur Tiram Merah. Fakultas Pertanian
UMM.

31
32

Gomez, K.A., dan A.A. Gomez. 2010. Prosedur Statistic untuk Penelitian
Pertanian. Terjemahan Endang Sjamsudin dan Justika S. Baharsjah. Edisi
Kedua. UI Press : Jakarta.

Hadi, S. 2013. Pengaruh Penambahan Air Rebusan Kentang (Solanum tuberosum


L.) Terhadap Pertumbuhan Pisang Ambon (Musa acuminate AAA) dalam
teknik Kultur In Vitro. Program Sarjana Pendidikan Biologi Semarang.

Imanudin. 2016. Pengaruh Penambahan Air Rebusan Kentang (Solanum


tuberosum L.) BAP da NAA Terhadap Induksi Tunas Jati Emas (Cordia
subcordata) Secara In Vitro. Naskah Publikasi. Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Kalsum, U, S. Fatimah., dan C. Wasonowati. 2011. Efektivitas Pemberian Air Leri


Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus).
Agrovigor. Vol. 4, hlm 86-92.

Kusnan, B., dan Basori, M.R. 2011. Aneka Tepung dan Cara Membuatnya.
Singkawang. PT Maraga Borneo Trigas.

Laksono Andhika Rommy, Bayfurqon Muhammad Fawzy dan R.K. Bakhrir


Miftakhul. 2018. Uji Efektivitas Berbagai Konsentrasi Jenis Nutrisi
Alternatif Terhadap Produksi Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) di
Kabupaten Karawang. Jurnal Ilmiah Pertanian Paspalum. Vol. 6. No 1
(2018) : 32 -40.

Lesmana Agung, Triyanti Merti dan Widiya Mareta. 2016. Pengaruh Penambahan
Tepung Beras Putih pada Media Potato Dextrose Agar (PDA) Terhadap
Pertumbuhan Miselium Biakan Murni Jamur Tiram Putih (Pleurotus
ostreatus). Skripsi. Lubuklinggau : STKIP PGI Lubuklinggau.

Mayawati MZ, Betty, Rossiana M.S., Nia, PeniWulandari, Asri, “ Pemanfaatan


Sabut Kelapa dan Limbah Tahu Cair Sumedang Terhadap Pertumbuhan
Jamur Lingzhi (Ganoderma lucidum Leyss.Fr).” Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat Universitas Padjajaran Bandung.

Meina, I. 2007. Budidaya Jamur Tiram. Jakarta: Azka Mulia Media.

Moerdiati, E., Ainurrasyid, R, B., & Endah, S. 1999. Pengaruh Berat Media dan
Berat Bibit terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus
florida). Jurnal Habitat 105(10), 44-47.

Muchroji dan Cahyana. 2008. Budidaya Jamur Kuping. Penebar Swadaya: Jakarta
Mufarrihah, L. 2009. Pengaruh Penambahan Bekatul dan Ampas Tahu
Pada Media Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jamur Tiram Putih
33

(Peurotus ostreatus). Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi Universitas


Islam Negeri (UIN) Malang.

Mufarrihah, Lailatul. 2009. Pengaruh Penambahan Bekatul dan Ampas Tahu Pada
Media Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Jamur Tiram Putih (Pleurotus
ostreatus). Jurusan Biologi Fakultas Sain dan Teknologi Universitas Islam
Negeri (UIN) Malang.

Mulia S.D., M. Mudah, H. Maryanto dan C. Purbomartono. 2014. Fermentasi


Ampas Tahu Dengan Aspergillus Niger Untuk Meningkatkan Kualitas
Bahan Baku Pakam Ikan. Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil
Penelitian dan Pengabdian LPPM UMP 2014 ISBN 978602-14930-3-8.

Parjimo. 2007. Budi Daya Jamur. Agromedia Pustaka: Jakarta

Parjimo dan Agus. 2007. Budidaya Jamur. Jakarta : Agromedia Pustaka Piryadi, T.
U. 2013. Bisnis Jamur Tiram. Agro Media Pustaka. jakarta

Patra, I.N. 2000. Pengaruh Pupuk Urea dan TSP Terhadap Pertumbuhan Jamur
Kuping (Hirneola polytricha). Undergraduate thesis, duta wacana Chistian
University. Melalui http://sinta.ukwd.ac.id.

Rakhmat, Ceha. Rosad Ma'ali El Hadi. 2011. Pemanfaatan Limbah Ampas Tahu
Sebagai Bahan Baku Proses Produksi Kerupuk Pengganti Tepung Tapioka.
Makalah Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat
Vol. 2 No.1.

Riyanto, F. 2010. Pembibitan Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) di Balai


Pengembangan dan Promosi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPPTPH)
Ngipiksari Sleman, Yogyakarta. Tugas Akhir. Jurusan Agribisnis
Hortikultura dan Arsitektur Pertanaman Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret Surakarta. Online. Melalui https://core.ac.uk. [10/03/19].

Rohmiyatul, Islamiyati. Jamila dan A.R. Hidayat.2010. Nilai Nutrisi Ampas Tahu
Yang Difermentasi Dengan Berbagai Level Ragi Tempe. Seminar Nasional
Teknologi Peternakan dan Veteriner.

Romdhon, Riapsari. 2006. “Pemanfaatan Ampas Tahu Sebagai Campuran Media


Tanam Terhadap Kecepatan Waktu Tumbuh Jamur Tiram Putih” [Skripsi].
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Biologi. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta.

Setiagama, Rosa. 2014. Pertumbuhan dan Produktivitas Jamur Tiram Putih


(Pleurotus ostreatus) Dengan Komposisi Media Tumbuh Serbuk Gergaji
Kayu Sengon, Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Ampas Tahu Yang
Berbeda. Skripsi. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
34

Setyawati, T. 2011. Analisis Biaya dan Pendapatan Industri Benih (Baglog) Jamur
Tiram Putih (Pleurotus astreatus strain florida) di kecamatan Karangploso,
kabupaten Malang. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa
Timur.
Siddhant., dan C.S. Singh. 2009. Recycling of Spent Oyster Mushroom Substrate
to Recover Additional Value. Journal of Science, Engineering and
Technology. Kathmandu University. 5 (1): 66-71.

Sitompul, T.F., Zuhry, E dan Armaini. 2017. Pengaruh Berbagai Media Tumbuh
dan Penambahan Gula (Sukrosa) Terhadap Pertumbuhan Jamur Tiram Putih
(Pleurotus ostreatus). JOM Faperta. Vol 4. No 2.

Sugiarto. 2012. Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus). Online. Melalui


studylibid.com. diakses pada [05/03/19].

Suriawiria, U., 1986. Pengantar Untuk Mengenal dan Menanam Jamur . Angkasa,
Bandung.

Suriawiria, Unus. 2001. Sukses Beragrobisnis Jamur Kayu : Shiake, kuping, Tiram.
Penebar Swadaya. Jakarta.

Suriawiria, U. 2006. Budidaya Jamur Tiram. Kanisius, Yogyakarta.

Stevani, S. 2011. Pengaruh Campuran Media Tanam Serbuk Sabut Kelapa dan
Ampas Tahu terhadap Diameter Tudung dan Berat Basah Jamur Tiram Putih
(Pleurotus ostreatus). Skripsi. Universitas Sebelah Maret.

Utami, P.C. 2017. Pengaruh Penambahan Jerami Padi pada Media Tanam terhadap
Produktivitas Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Skripsi Sarjana
(Repository USD). Yogyakarta : Fakultas Keguruan dan Pendidikan
Universitas Senata Dharma.

Wati, R. 2013. Pengaruh Penggunaan Tepung Ampas Tahu Sebagai Bahan


Komposit Terhadap Kualitas Kue Kering Lidah Kucing. Skripsi. Jurusan
Teknologi Jasa dan Produksi Fakultas Teknik Universitas Negeri
Semarang.

Zuhriyah, A. 2014. Pengaruh Pemberian Konsentrasi Nutrisi Tambahan Terhadap


Produksi Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus). Skripsi. Fakultas
Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
LAMPIRAN

34
35

Lampiran 1. Tata Letak Percobaan

Ulangan = I, II, dan III

Perlakuan = A, B, ... ,J

Jarak antar perlakuan = 5 cm

Jarak antar rak = 40 cm