Anda di halaman 1dari 4

Sekolah, Gerbang Ilmu Bertebaran

Mata Riani berbinar mendapatkan anggukan dari seseorang di hadapannya itu.

"Beneran! Aku boleh ngelanjutkan sekolah!" Kata Riani memastikan.

"Iya, boleh!" Sahut seseorang itu lagi.

Senyum Riani tercipta, seindah seulas senyum senja yang terlukis di cakrawala.
Diciumnya hangat pipi orang itu.

"Alhamdulillah. School, i am come back!" Bisiknya.

***

Matahari masih nyaman berselimut awan. Desiran angin riang berhembus pagi itu.
Riani yang sudah berseragam rapi, segera menyelempangkan tas. Mata bulatnya
memandangi jalanan yang masih lenggang. Dengan nampan di atas kepala, gadis 12
tahun itu mulai melangkah. Sesekali ia berteriak, "kue! Kue! Kue!"

"Bu, mau nanya, jam berapa sekarang?" Kata Riani ketika berhenti di rumah salah
satu pelanggangnya.

Ibu itu melempar seulas senyum, ia sudah hafal gadis kecil itu selalu menanyakan jam
ketika di rumahnya. "Jam tujuh lewat lima belas."

Riani mengangguk pelan, membalas senyuman ibu itu. Lalu kembali meletakkan
nampan di kepalanya, melangkah ke jalanan yang mulai ramai oleh hilir mudik
kendaraan.

Riani disambut oleh belasan anak-anak, mereka tak sabaran menikmati kue-kue
buatan ibunya. Riani dengan sabar melayani teman-teman sekolahnya itu.

Gadis itu menatap kue-kue yang tinggal sedikit, hatinya mengembang riang.
Alhamdulillah, bulir kata yang terucap dari mulut mungilnya.

Ibunya telah janji akan mengizinkan Riani melanjutkan ke sekolah menengah


pertama. Karena itu, Riani bersemangat membantu ibu mencari uang untuk biaya
sekolahnya nanti.
Gambaran sekolah baru memenuhi relung hati Riani. Ia tidak sabar bertualang dengan
banyak hal baru, baik itu tentang alam semesta, tempat-tempat, sejarah, teknologi, dan
lain-lain. Memikirkan tentang yang akan ditemui nanti saja cukup membuat siswi
kelas 6 SD ini bahagia.

Dengan bersekolah, Riani dapat mengenal daerah-daerah lain selain tempat


tinggalnya. Bahkan ia bisa menikmati keindahan alam Indonesia dari buku yang ia
baca. Gadis itu juga bisa menyaksikan peristiwa masa lalu. Ketidaksabaran
menggelayuti gadis itu, bersekolah lebih tinggi, dapatkan pertualangan yang lebih luar
biasa.

Bel berdentang keras, membuatnya membereskan dagangan dan bergegas masuk


kelas. Riani mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Waktunya belajar.

***

Bu Siti diam-diam mengintip kamar anak semata wayangnya itu. Di remang lampu,
didapati Riani sedang membolak-balik buku di hadapannya, sesekali gadis itu melihat
buku lain di sampingnya, lalu jemari lincah menorehkan tinta pada kertas kosong di
dekatnya.

Bu Siti tak kuasa membendung aliran mata yang mulai membasahi pipinya. Dirinya
hanya seorang janda dengan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga miskin. Ia tak
pernah berani bermimpi bisa menyekolahkan putrinya sampai ke perguruan tinggi.
Baginya cukup sang anak bisa membaca dan berhitung sebagai modal menyambung
hidup. Namun sang anak sepertinya melambungkan mimpinya tinggi untuk menjadi
sarjana. Sang anak rela menggadai waktu tidurnya untuk bisa membantu membuat
kue-kue yang kemudian dijual sang anak ke tetangga dan teman sekolahnya.

"Hanya doa hal besar yang bisa ibu berikan nak!" Bisiknya sambil menutup pintu
pelan.

***

Riani mengusap butiran keringat yang membasahi wajah. Hukuman sepuluh kali
keliling lapangan basket sangat melelahkan. Namun tak ia biarkan semangat sekolah
pecah berkeping-keping. Masih 3 putaran lagi, gadis itu ber-huh memompa semangat
dalam diri.
Riani menghempaskan tubuhnya ke tumpukan rumput di halaman. Lelah. Seseorang
dengan wajah sangar mendekatinya. "Kau itu tuli atau apa sih! Berapa kali dikatakan
harus bawa perlengkapan lengkap. Kamu mengerti!" Kata orang itu.

"Maaf kak. Jujur saya tak punya uang lebih untuk membeli aneka permen, coklat,
balon-balon, macam-macam jenis sayur untuk digantung di badan seperti itu.
Ditambah lagi semua itu tidak digunakan dan dibuang di sore harinya."

"Jadi maumu apa? Kalau nggak bisa beli ya nggak usah sekolah." Kata orang itu
menyakitkan telinga.

"Boleh saya memilih dihukum saja setiap hari?" Kata Riani hati-hati.

"Berlari lapangan setiap hari? Sepuluh keliling?" Orang itu menatap Riani.

Riani mengangguk, membuat orang itu melemparkan senyuman aneh. "Baiklah,


sepertinya menarik! Cepat kembali ke barisan sekarang." Katanya meninggalkan
Riani.

Riani menyapu penat yang hadir. Melangkah mengikuti orang yang tak lain kakak
kelasnya di sekolah menengah pertama. Masa orientasi siswa memang melelahkan,
namun Riani harus menghadapinya. Demi sesuatu luar biasa yang akan ia temui di
sekolah ini. Riani siap berpetualang, menyelam di dalam luasnya lautan ilmu
pengetahuan.

***

"Alhamdulillah, school i am come back!" Seru Riani riang saat menginjakkan kaki di
kampus tempat ia melanjutkan kuliah S1 yang sempat tertunda. Sekolah, gerbang
ilmu yang bertebaran, yang bersedia diambil untuk kehidupan. Dengan wajah
semeringah, mata bening yang berbinar bahagia, ia memasuki ruang belajar. Ia
menemukan beberapa mahasiswa seusianya di dalam kelas, dengan semangat yang
juga menggelorah. Hingga ikut merasuki tiap sendi tubuh Riani.

Riani merasakan bahwa dengan ilmu yang dimiliki, awan hitam akan tersingkap
terang. Ilmu memberi cahaya bagi hati dan kehidupan pada ruh. Tanpa ilmu, umur
akan membusuk karena waktu berlalu tanpa arti dan kehidupan hampa karena jiwa
terasa mati.
Riani menatap dua buah hatinya yang terlelap. Rahmat yang berusia 5 tahun dan
Agung yang baru masuk 3 tahun. Wajah-wajah polos mereka membakar penat dan
lelah yang mendera karena belajar. Menjadi ibu sekaligus istri, wanita karier dan
seorang mahasiswa bukanlah hal mudah. Namun ia menikmati tiap jengkal waktu
yang dihabiskan. Bersekolah, menuntut ilmu adalah mimpi yang tak pernah ia
hapuskan. Fajar sang suami yang melamarnya begitu menyelesaikan gelar ahli madya,
terbuka lapang hati menyizinkan Riani kembali mengejar mimpinya. Bersekolah
sampai sarjana. Ibunya pun dengan senang hati mengasuh ke dua putranya. Riani
benar-benar lega.

Bahkan tiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan adalah ilmu yang dapat dijadikan
pelajaran. Ini bukan akhir, karena Riani akan terus mencari ilmu sampai menutup
mata. Hati kecilnya berkata lantang, "Aku ingin sekolah."

Biodata :

Melda Yudi Ningsih lahir di Curup 24 tahun lalu dan dibesarkan di Lubuklinggau.
Kegemaran membaca Staf Instalasi Farmasi di Rumah Sakit Khusus Jiwa Soeprapto
Bengkulu ini mendorongnya untuk menghasilkan karya. Akun facebooknya Melda
Ciwit Meldepuratum. Bisa dihubungi melalui email meldacajuputi@gmail.com atau
handphone 085268710234.