Anda di halaman 1dari 13

A.

KONSEP DASAR TERAPI KOMPLEMENTER


Konsep dasar luka Luka merupakan kejadian yang sering kita jumpai dalam kehidupan
seharihari. Luka adalah kerusakan pada fungsi perlindungan kulit disertai hilangnya
kontinuitas jaringan epitel dengan atau tanpa adanya kerusakan pada jaringan lainnya
seperti otot, tulang dan nervus yang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: tekanan,
sayatan dan luka karena operasi (Ryan, 2014). Menurut Arisanty Luka merupakan
gangguan atau kerusakan dari keutuhan kulit (Arisanty, 2013). Luka adalah gangguan
pada struktur, fungsi dan bentuk kulit normal yang dapat dibedakan menjadi 2 jenis
menurut waktu penyembuhannya yaitu luka akut dan luka kronis (Granic & Teot, 2012).
Ketika luka timbul ada beberapa efek yang akan muncul yaitu:

1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ Luka merupakan kejadian yang sering
ditemui di kehidupan sehari-hari yang menyebabkan hilangnya seluruh atau
sebagian fungsi organ. Luka merupakan kerusakan secara seluler maupun anatomis
pada fungsi kontinuitas jaringan hidup (Nalwaya ,et al. 2009).

2. Respon stres simpatis Reaksi pada respon stres simpatis dikenal juga sebagai alergi
terkait sistem imun tubuh. Reaksi yang sering muncul dapat diklasifikasikan menjadi
empat tipe. Tipe satu yaitu reaksi segera atau reaksi vasoaktif substansi sel mast
ataubasofil yang diikuti dengan reaksi spesifik antigen atau atibody. Tipe dua yaitu
reaksi 10 sitotoksik berupa reaksi merusak sel, fagositosis, dan mekanisme bula. Tipe
tiga yaitu reaksi imun kompleks berupa sirkulasi antigen atau antibodi ke jaringan
inflamasi, trombosit rusak, vasoaktif menurun, dan pemearbelitas vaskuler meningkat.
Tipe empat yaitu raksi hipersensitif (Arisanty, 2013).

B. DEFINISI

Diabetes Melitus (DM) merupakan keadaan hiperglikemia


kronik yang disertai dengan berbagai kelainan metabolik yang
diakibatkan oleh gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai
macam komplikasi kronik pada organ mata, ginjal, saraf, pembuluh
darah disertai lesi padda membran basalis dalam dengan menggunakan
pemeriksaan dalam mikroskop (Arief Mansjoer dkk, 2005).
Menurut Arif Mansjoer (2005), Klasifikasi pada penyakit
diabetes mellitus ada dua antara lain: Diabetes Tipe I (Insulin
Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)). Diabetes tipe ini juga jenis
diabetes yang sering disebut DMTI yaitu Diabetes Mellitus tergantung
Pada Insulin. Pada tipe ini yaitu disebabkan oleh distruksi sel beta
pulau langerhans diakibatkan oleh proses autoimun serta idiopatik.
Diabetes Mellitus Tipe II, diabetes tipe II atau Non Insulin Dependent
Diabetes mellitus (NIDDM) atau jugu DMTTI yaitu Diabetes Mellitus
Tak Tergantung Insulin. Diabetes tipe II ini disebabkan karena adanya
kegagalan relativ sel beta dan resistensi insulin. Resistensi
insulin merupakan turunnya kemampuan insulin dalam merangsang
pengambilan glukosa oleh jaringan perifer, untuk menghambat
produksi glukosa oleh hati. Sel beta tersebut tidak dapat mengimbangi
resistensi insulin ini seutuhnya, yang dapat diartikan terjadi nya
defensiensi insulin, adanya ketidakmampuan ini terlihat dari
berkurangnya sekresi insulin terhadap rangsangan glukosa maupun
glukosa bersama perangsang sekresi insulin yang lain, jadi sel beta
pancreas tersebut mengalami desentisisasi terhadap glukosa.

Ulkus diabetik merupakan permasalahan yang sudah sering


muncul sekarang dimana luka pada kaki penderita diabetes melitus
yang diakibatkan karena suatu infeksi yang menyerang sampai ke
dalam jaringan subkutan. Apabila luka ulkus diabetik ini tidak
dilakukan perawatan yang baik maka proses penyembuhan akan lama,
dan faktor-faktor resiko infeksi semakin tinggi bahkan apabila infeksi
sudah terlalu parah seperti terjadi neuropati perifer maka dapat juga
dilakukan amputasi guna mencegah adanya pelebaran infeksi ke
jaringan yang lain. adapun tindakan lain seperti debridement, dan
nekrotomi.
Debridemen merupakan sebuah tindakan pembedahan lokal
yang dilakukan pada penderita ulkus diabetik dengan cara
pengangkatan jaringan mati dari suatu luka, jaringan mati tersebut
dapat dilihat, warna lebih terlihat pucat, cokelat muda bahkan
berwarna hitam basah atau kering.

2. Anatomi fisiologi Anatomi fisiologi pada pasien dengan post debridement ulkus dm antara lain dari
anatomi fisiologi pankreas dan kulit.

a. Anatomi Fisiologi Pankreas Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang panjangnya kira-kira 15
cm, lebar 5 cm, mulai dari duodenum sampai ke limpa dan beratnya rata-rata 60-90 gram. Terbentang
pada vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung. Pankreas merupakan kelenjar endokrin terbesar
yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan (kepala) kelenjar pankreas
terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan
yang merupakan bagian utama dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya
menyentuh atau terletak pada alat ini. 7 Dari segi perkembangan embriologis, kelenjar pankreas
terbentuk dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus. Pankreas terdiri dari dua
jaringan utama, yaitu Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum, pulau Langerhans yang tidak
tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah. Pulau-
pulau Langerhans yang menjadi sistem endokrinologis dari pamkreas tersebar di seluruh pankreas
dengan berat hanya 1-3 % dari berat total pankreas.Pulau langerhans berbentuk ovoid dengan besar
masing-masing pulau berbeda. Besar pulau langerhans yang terkecil adalah 50 m, sedangkan yang
terbesar 300 m, terbanyak adalah yang besarnya 100-225 m. Jumlah semua pulau langerhans di
pancreas

b. Anatomi Fisiologi Kulit Kulit merupakan pembungkus yang elastis yang melindungi tubuh dari
pengaruh lingkungan kulit juga merupakan alat tubuh yang terberat dan terluas ukurannya, yaitu
15%dari berat tubuh dan luasnya 1,50-1,75 m2 . Rata-rata tebal kulit 1-2 mm. paling tebal (6mm)
terdapat di telapak tangan dan kaki dan yang paling tipis Gambar 1. 1 anatomi fisiologi pankreas 8
(0,5mm) terdapat di penis. Bagian-bagian kulit manusia sebagai berikut : 1) Epidermis :Epidermis
terbagi dalam empat bagian yaitu lapisan basal atau stratum germinativium, lapisan malphigi atau
stratum spinosum, lapisan glanular atau stratum gronulosum, lapisan tanduk atau stratum korneum.
Epidermis mengandung juga: kelenjar ekrin, kelenjar apokrin, kelenjar sebaseus, rambut dan kuku.
Kelenjar keringat ada dua jenis, ekrin dan apokrin. Fungsinya mengatur suhu, menyebabkan panas
dilepaskan dengan cara penguapan. Kelenjar ekrin terdapat disemua daerah kulit, tetapi tidak terdapat
diselaput lendir. Seluruhnya berjulah antara 2 sampai 5 juta yang terbanyak ditelapak tangan. Kelenjar
apokrin adalah kelenjar keringat besar yang bermuara ke folikel rambut, terdapat diketiak, daerah
anogenital. Puting susu dan areola. Kelenjar sebaseus terdapat diseluruh tubuh, kecuali di telapak
tangan, tapak kaki dan punggung kaki. Terdapat banyak di kulit kepala, muka, kening, dan dagu.
Sekretnya berupa sebum dan mengandung asam lemak, kolesterol dan zat lain. 2) Dermis : dermis atau
korium merupakan lapisan bawah epidermis dan diatas jaringan sukutan. Dermis terdiri dari jaringan
ikat yang dilapisan atas terjalin rapat (pars papilaris), sedangkan dibagian bawah terjalin lebih longgar
(pars reticularis). Lapisan pars tetucularis mengandung pembuluh darah, saraf, rambut, kelenjar keringat
dan kelenjar sebaseus. 3) Jaringan subkutan, merupakan lapisan yang langsung dibawah dermis. Batas
antara jaringan subkutan dan dermis tidak tegas. Sel-sel yang terbanyak adalah limposit yang
menghasilkan banyak lemak. Jaringan sebkutan mengandung saraf, pembuluh darah limfe. Kandungan
rambut dan di lapisan atas jaringan 9 subkutan terdapat kelenjar keringan. Fungsi dari jaringan subkutan
adalah penyekat panas, bantalan terhadap trauma dan tempat penumpukan energi.

Prinsip perawatan luka

Tujuan dari peraawatan luka adalah untuk menghentikan perdarahan, mencegah infeksi, menilai
kerusakan yang terjadi pada struktur yang terkena dan untuk menyembuhkan luka.

 Menghentikan perdarahan

o Tekanan langsung pada luka akan menghentikan perdarahan (lihat gambar di bawah).

o Perdarahan pada anggota badan dapat diatasi dalam waktu yang singkat (< 10 menit)
dengan menggunakan manset sfigmomanometer yang dipasang pada bagian proksimal
pembuluh arteri.

o Penggunaan torniket yang terlalu lama bisa merusak ekstremitas.


 Mencegah infeksi

o Membersihkan luka merupakan faktor yang paling penting dalam pencegahan infeksi
luka. Sebagian besar luka terkontaminasi saat pertama datang. Luka tersebut dapat
mengandung darah beku, kotoran, jaringan mati atau rusak dan mungkin benda asing.

o Bersihkan kulit sekitar luka secara menyeluruh dengan sabun dan air atau larutan
antiseptik. Air dan larutan antiseptik harus dituangkan ke dalam luka.

o Setelah memberikan anestesi lokal, periksa hati-hati apakah ada benda asing dan
bersihkan jaringan yang mati. Pastikan kerusakan apa yang terjadi. Luka besar
memerlukan anestesi umum.

o Antibiotik biasanya tidak diperlukan jika luka dibersihkan dengan hati-hati. Namun
demikian, beberapa luka tetap harus diobati dengan antibiotik, yaitu:

 Luka yang lebih dari 12 jam (luka ini biasanya telah terinfeksi).

 Luka tembus ke dalam jaringan (vulnus pungtum), harus disayat/dilebarkan


untuk membunuh bakteri anaerob.
 Profilaksis tetanus

o Jika belum divaksinasi tetanus, beri ATS dan TT. Pemberian ATS efektif bila diberikan
sebelum 24 jam luka

o Jika telah mendapatkan vaksinasi tetanus, beri ulangan TT jika sudah waktunya.

 Menutup luka

o Jika luka terjadi kurang dari sehari dan telah dibersihkan dengan seksama, luka dapat
benar-benar ditutup/dijahit (penutupan luka primer).

o Luka tidak boleh ditutup bila: telah lebih dari 24 jam, luka sangat kotor atau terdapat
benda asing, atau luka akibat gigitan binatang.

o Luka bernanah tidak boleh dijahit, tutup ringan luka tersebut dengan menggunakan kasa
lembap.

o Luka yang tidak ditutup dengan penutupan primer, harus tetap ditutup ringan dengan
kasa lembap. Jika luka bersih dalam waktu 48 jam berikutnya, luka dapat benar-benar
ditutup (penutupan luka primer yang tertunda).

o Jika luka terinfeksi, tutup ringan luka dan biarkan sembuh dengan sendirinya.

 Infeksi luka

o Tanda klinis: nyeri, bengkak, berwarna kemerahan, terasa panas dan mengeluarkan
nanah.
o Tatalaksana
 Buka luka jika dicurigai terdapat nanah
 Bersihkan luka dengan cairan desinfektan
 Tutup ringan luka dengan kasa lembap. Ganti balutan setiap hari, lebih sering
bila perlu
 Berikan antibiotik sampai selulitis sekitar luka sembuh (biasanya dalam waktu 5
hari).
 Berikan kloksasilin oral (25–50 mg/kgBB/dosis 4 kali sehari) karena
sebagian besar luka biasanya mengandung Staphylococus.
 Berikan ampisilin oral (25–50 mg/kgBB/dosis 4 kali sehari), gentamisin
(7.5 mg/kgBB IV/IM sekali sehari) dan metronidazol (7.5 mg/kgBB/dosis
3 kali sehari) jika dicurigai terjadi pertumbuhan bakteri saluran cerna.

MANFAAT PERAWATAN LUKA DM:

Penggantian balutan dilakukan sesuai kebutuhan tidak hanya berdasarkan kebiasaan, melainkan
disesuaikan terlebih dahulu dengan tipe dan jenis luka. Penggunaan antiseptik hanya untuk yang
memerlukan saja karena efek toksinnya terhadap sel sehat. Untuk membersihkan luka hanya memakai
normal. Citotoxic agent seperti povidine iodine, asam asetat, seharusnya tidak secara sering digunakan
untuk membersihkan luka karena dapat menghambat penyembuhan dan mencegah reepitelisasi. Luka
dengan sedikit debris dipermukaannya dapat dibersihkan dengan kassa yang dibasahi dengan sodium
klorida dan tidak terlalu banyak manipulasi gerakan. Tujuan Perawatan Luka : 1. Memberikan lingkungan
yang memadai untuk penyembuhan luka 2. Absorbsi drainase 3. Menekan dan imobilisasi luka 4.
Mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis 5. Mencegah luka dari kontaminasi bakteri
6. Meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing 7. Memberikan rasa nyaman mental dan fisik
pada pasien Dalam pelaksanaanya perawatan luka kepada pasien di praktik perawatan luka ini
menggunakan konsep perawatan luka modern dengan prinsip moisture balance dan mengaplikasikan
advance dressing. Namun demikian pasien yang akan menentukan bahan/ dressing yang akan
diaplikasikan karena hal ini terkait dengan pembiayaan. Perawatan luka yang diberikan pada pasien
harus dapat meningkatkan proses perkembangan luka. Perawatan yang diberikan bersifat memberikan
kehangatan dan lingkungan yang moist (lembab) pada luka. Kondisi yang lembab pada permukaan luka
dapat meningkatkan proses perkembangan luka, mencegah dehidrasi jaringan dan kematian sel kondisi
ini juga dapat meningkatkan interaksi antara sel dan faktor pertumbuhan.

2.1 Konsep dasar luka Luka merupakan kejadian yang sering kita jumpai dalam kehidupan seharihari.
Luka adalah kerusakan pada fungsi perlindungan kulit disertai hilangnya kontinuitas jaringan epitel
dengan atau tanpa adanya kerusakan pada jaringan lainnya seperti otot, tulang dan nervus yang
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: tekanan, sayatan dan luka karena operasi (Ryan, 2014).
Menurut Arisanty Luka merupakan gangguan atau kerusakan dari keutuhan kulit (Arisanty, 2013). Luka
adalah gangguan pada struktur, fungsi dan bentuk kulit normal yang dapat dibedakan menjadi 2 jenis
menurut waktu penyembuhannya yaitu luka akut dan luka kronis (Granic & Teot, 2012). Ketika luka
timbul ada beberapa efek yang akan muncul yaitu:

1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ Luka merupakan kejadian yang sering ditemui di
kehidupan sehari-hari yang menyebabkan hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ. Luka
merupakan kerusakan secara seluler maupun anatomis pada fungsi kontinuitas jaringan hidup (Nalwaya
,et al. 2009).

2. Respon stres simpatis Reaksi pada respon stres simpatis dikenal juga sebagai alergi terkait sistem
imun tubuh. Reaksi yang sering muncul dapat diklasifikasikan menjadi empat tipe. Tipe satu yaitu reaksi
segera atau reaksi vasoaktif substansi sel mast ataubasofil yang diikuti dengan reaksi spesifik antigen
atau atibody. Tipe dua yaitu reaksi 10 sitotoksik berupa reaksi merusak sel, fagositosis, dan mekanisme
bula. Tipe tiga yaitu reaksi imun kompleks berupa sirkulasi antigen atau antibodi ke jaringan inflamasi,
trombosit rusak, vasoaktif menurun, dan pemearbelitas vaskuler meningkat. Tipe empat yaitu raksi
hipersensitif (Arisanty, 2013).
3. Pendarahan dan pembekuan darah Luka dapat menyebabkan reaksi pendarahan dan pembekuan
darah akibat respon imun di dalam tubuh. Lesi kulit dapat terjadi karena gangguan pembuluh darah
arteri dan vena (Arisanty, 2013). Pendarahan dibedakan menjadi dua yaitu pendarahan internal dan
eksternal. Pendarahan internal ditandai dengan nyeri pada area luka, perubahan tanda-tanda vital dan
adanya hematoma yang menyebabkan penekanan jaringan disekitarnya, sehingga dapat menyumbat
aliran darah(Treas dan Wilkinson, 2013).

4. Kontaminasi bakteri Semua luka traumatik cenderung terkontaminasi bakteri serta mikro organisme
lainnya. Bakteri adalah organisme bersel tunggal yang berpotensi menyebabkan infeksi. Bakteri biasanya
juga mampu hidup tanpa bantuan, walaupun beberapa diantaranya bersifat parasit (Boyle, 2009).
Imunitas terhadap bakteri bervariasi tergantung pada organisme yang hidup di dalam atau di luar sel..
Walaupun banyak bekteri dapat ditolak atau bahkan dimusnahkan oleh sistem pertahanan tubuh dasar,
beberapa bakteri telah mengembangkan kemampuannya untuk memperdaya sistem pertahanan tubuh
(Boyle, 2009). 5. Kematian sel Luka dapat menyebabkan kematian sel akibat beberapa faktor. Kerusakan
sel disebabkan beberapa faktor, yaitu shear (lipatan), pressure (tekanan), friction(gesekan), 11 bahan
kimia, iskemia (kekurangan oksigen), dan neuropati (mati rasa). Mekanisme kerusakan pada kulit
menyebabkan terjadinya luka (arisanty, 2013).

A. Konsep Dasar Perawatan Luka


Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya cedera
atau pembedahan.
Perawatan Luka adalah merupakan tindakan untuk merawat luka dan melakukan
pembalut dengan tujuan mencegah infeksi silang (masuk melalui luka ) dan
mempercepat proses penyembuhan luka (Delmadafasari,2013)
Berdasarkan proses penyembuhan, dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu:
a. Healing by primary intention
Tepi luka bisa menyatu kembali, permukan bersih, biasanya terjadi karena suatu
insisi, tidak ada jaringan yang hilang. Penyembuhan luka berlangsung dari bagian
internal ke ekseternal.
b. Healing by secondary intention
Terdapat sebagian jaringan yang hilang, proses penyembuhan akan berlangsung
mulai dari pembentukan jaringan granulasi pada dasar luka dan sekitarnya.
c. Delayed primary healing (tertiary healing)
Penyembuhan luka berlangsung lambat, biasanya sering disertai dengan infeksi,
diperlukan penutupan luka secara manual.
Bedasarkan Lama penyembuhan
Berdasarkan klasifikasi berdasarkan lama penyembuhan bisa dibedakan menjadi dua
yaitu: akut dan kronis. Luka dikatakan akut jika penyembuhan yang terjadi dalam jangka
waktu 2-3 minggu. Sedangkan luka kronis adalah segala jenis luka yang tidak tanda-tanda
untuk sembuh dalam jangka lebih dari 4-6 minggu.
Luka insisi bisa dikategorikan luka akut jika proses penyembuhan berlangsung
sesuai dengan kaidah penyembuhan normal tetapi bisa juga dikatakan luka kronis jika
mengalami keterlambatan penyembuhan (delayed healing) atau jika menunjukkan tanda-
tanda infeksi.
Proses Penyembuhan Luka
Luka akan sembuh sesuai dengan tahapan yang spesifik dimana bisa terjadi tumpang
tindih
Fase penyembuhan luka di bagi menjadi 3 fase yaitu :
a. Fase Inflamasi
 Hari ke 0 sampai 5
 Respon segera setelah terjadi injury berupa pembenkuan darah untuk mencegah
kehilangan darah
 Karakteristik : tumor,rubor,dolor,color,function leans
 Fase awal terjadi hemostatis
 Fase akhir terjadi fagositosis
 Lama fase ini bisa singkat jika tidak terjadi infeksi
b. Fase Proliferasi
 Hari ke-3 sampai 14
 Disebut juga fase granulasi karena adanya pembentukan jaringan
granulasi;luka tampak merah segar,mengkilat
 Jaringan granulasi terdiri dari kombinasi : fibroblast,sel inflamasi,pembuluh
darah barufibronektin, dan asam hialuronat
 Epitelisasi terjadi pada 24 jam pertama ditandai dengan penebalan lapisan
epidermis pada tepian luka
 Epitelisasi terjad 48 jam pertama pada luka insisi
c. Fase maturasi atau remodelling
 Berlangsung dari beberapa minggu sampai 2 tahun
 Terbantuknya kolagen baru yang mengubah bentuk luka serta peningkatan
kekuatan jaringan
 Terbentuknya jaringan parut 50-80% sama kuatnya dengan jaringan
sebelumnya
 Pengurangan bertahap aktivitas seluler dan vaskulerisasi jaringan yang
mengalami perbaikan

Faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka


1. Status Imunologi
Penyembuhan luka adalah proses biologis yang kompleks, terdiri dari serangkaian
peristiwa berurutan bertujuan untuk memperbaiki jaringan yang terluka. Peran
sistem kekebalan tubuh dalam proses ini tidak hanya untuk mengenali dan
memerangi antigen baru dari luka, tetapi juga untuk proses regenerasi sel.

2. Kadar gula darah (impaired white cell function)


Peningkatan gula darah akibat hambatan sekresi insulin, seperti pada penderita
diebetes melitus, juga menyebabkan nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel,
akibatnya terjadi penurunan protein dan kalori tubuh.
3. Rehidrasi dan Pencucian Luka
Dengan dilakukan rehidarasi dan pencucian luka, jumlah bakteri di dalam luka
akan berkurang, sehingga jumlah eksudat yang dihasilkan bakteri akan berkurang.
4. Nutritisi
Nutrisi memainkan peran tertentu dalam penyembuhan luka. Misalnya, vitamin C
sangat penting untuk sintesis kolagen, vitamin A meningkatkan epitelisasi, dan
seng (zinc) diperlukan untuk mitosis sel dan proliferasi sel. Semua nutrisi,
termasuk protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral, baik melalui
dukungan parenteral maupun enteral, sangat dibutuhkan. Malnutrisi menyebabkan
berbagai perubahan metabolik yang mempengaruhi penyembuhan luka.
5. Kadar albumin darah (‘building blocks’ for repair, colloid osmotic pressure –
oedema)
Albumin sangat berperan untuk mencegah edema, albumin berperan besar dalam
penentuan tekanan onkotik plasma darah. Target albumin dalam penyembuhan
luka adalah 3,5-5,5 g/dl.
6. Suplai oksigen dan vaskularisasi
Oksigen merupakan prasyarat untuk proses reparatif, seperti proliferasi sel,
pertahanan bakteri, angiogenesis, dan sintesis kolagen. Penyembuhan luka akan
terhambat bila terjadi hipoksia jaringan.
7. Nyeri (causes vasoconstriction)
Rasa nyeri merupakan salah satu pencetus peningkatan hormon glukokortikoid
yang menghambat proses penyembuhan luka.
8. Corticosteroids (depress immune function)
Steroid memiliki efek antagonis terhadap faktor-faktor pertumbuhan dan deposisi
kolagen dalam penyembuhan luka. Steroid juga menekan sistem kekebalan
tubuh/sistem imun yang sangat dibutuhkan dalam penyembuhan luka.

Macam-macam Dressing
1. Calcium alginate

Berasal dari rumput laut, berubah menjadi gel jika bercampur dengan
cairan luka, adalah jenis balutan yang dapat menyerap jumlah cairan luka yang
berlebihan dan menstimulasi proses pembekuan darah jika terjadi perdarahan
minor serta barier terhadap kontaminasi oleh pseudomonas.dapat digunakan oleh
semua warna dasar luka. (Kaltostat, sorbsan, alginate M, comfell pluss, cura
sorb )
2. Hidrokoloid
Jenis topical therapy yang berfungsi untuk mempertahankan luka dalam
keadaan lembab, melindungi luka dari trauma dan menghindari resiko infeksi,
mampu menyerap eksudate minimal. Baik digunakan untuk luka yang berwarna
merah, abses atau luka yang terinfeksi. Bentuknya ada yang berupa lembaran
tebal dan tipis serta pasta.
3. Hidroaktif gel
Jenis topical therapy yang dapat membantu proses peluruhan jaringan
nekrotik oleh tubuh sendiri ( support autolisis debridement ). Dapat digunakan
terutama pada dasar luka yang berwarna kuning dan hitam (hydroaktif gel
duoderm, interasite gel, hydrophilic wound gel )
4. Transparant Film
Jenis topical therapy yang berfungsi untuk mempertahankan luka akut
atau bersih dalam keadaan lembab, melindungi luka dari trauma dan
menghindari resiko infeksi. Keuntungan topical terapi ini :Waterproof dan gas
permeable, primary / secondary dressing, support autolysis debridement dan
mengurangi nyeri. Adapun kontraindikasi topical ini adalah pada luka dengan
eksudat banyak dan sinus
5. Gammgee
Jenis topical therapy berupa tumpukan bahan balutan yang tebal,
didalamnya terdapat kapas dengan daya serap cukup tinggi dan jika bercampur
dengan cairan luka dapat berubah menjadi gel. Biasanya digunakan sebagai
penutup luka lapisan kedua setelah penggunaan topikal therapi. ( disposable
campers)
6. Foam

Balutan ini adalah berbahan dasar polyurethane foam mempunyai kemampuan yg


sangat besar dalam menyerap cairan luka, cocok untuk luka yang memiliki
eksudat yang banyak.
7. Balutan Anti Bakteri

Balutan ini mempunyai sifat antibacterial, sehingga mampu


membunuh/menghilangkan kuman2 yang ada pada luka, jenisnya pun bermacam-
macam ada yg seperti jaring2 dan mempunyai sifat hydrofobik yang kuat sehingga
mampu menarik kuman pad luka, contoh: sorbach, ada yg berbentuk serbuk
contoh: iodosorb, ada yg berbentuk lembaran yg dicampur dengan alginate,
contoh: seasorb, dll
8. Silver Dressing
Balutan yang mengandung silver, mampu menghancurkan koloni kuman
dgn baik. Cocok untuk luka yang terinfeksi. Contoh: Acticoat