Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan merupakan proses perubahan secara progress baik secara
fisik maupun non fisik menuju kesempurnaan. Perkembangan secara fisik
merupakan perkembangan yang terjadi pada aspek-aspek biologis seorang
individu. Sedangkan perkembangan non fisik didalamnya terdapat
perkembangan emosi, perkembangan kognitif, dan perkembangan pada aspek
sosial peserta didik. Peserta didik sebagai makhluk sosial membutuhkan peran
lingkungannya atau bantuan dari orang lain untuk dapat tumbuh kembang
menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap
peserta didik dapat berubah karena interaksi dan saling berpengaruh antar
sesama peserta didik maupun dengan proses sosialisasi dan menambah
pengetahuan pada bayi dan balita.
Proses perkembangan sudah dimulai sejak anak di dalam kandungan,
biasanya sembilan bulan lamanya. Jadi perkembangan bukan dimulai sejak dari
lahirnya. Pada waktu lahir kemampuan otak telah terbentuk 50% dan
kemampuan itu akan terus bertambah sampai dengan umur 5 tahun.
Pertumbuhan otak sangan bergantung pada kondisi kesehatan anak, untk anak
berumur 2 tahun berat badan yang ideal 10kg dan anak berumur 3 tahun berat
badan ideal 11,5 kg. Pertumbuhan berat badan dipengaruhi oleh keadaan gizi
yang terkadang dalam kebutuhan makanan.
Pada saat lahir yang dilakukan bayi adalah menggerakkan bibir dan
lidahnya berupa gerakan mengisap dan meludah. Pertumbuhan fisik
berlangsung pada tingkat yang mengejutkan dalam usia 2 tahun pertama dan
bayi semakin mampu mengendalikan keberfungsian fisiknya, khususnya
keterampilan motorik kasar dan halus. Pengendalian motorik ini
memungkinkan bayi untuk mulai menjelajahi lingkungannya, pada akhirnya
membantu perkembangan keterampilan-keterampilan kognitif.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian masa bayi ?
2. Bagaimana perkembangan biologis pada masa bayi ?
3. Bagaimana perkembangan motorik pada bayi ?
4. Bagaimana perkembangan kognitif pada bayi ?
5. Bagaimana perkembangan sosioemosional pada bayi ?
C. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian masa bayi.
2. Mahasiswa dapat mengetahui perkembangan biologis pada masa bayi.
3. Mahasiswa dapat mengetahui perkembangan motorik pada masa bayi.
4. Mahasiswa dapat mengetahui perkembangan kognitif pada masa bayi.
5. Mahasiswa dapat megetahui perkembangan sosioemosional pada bayi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Masa Bayi


Masa bayi atau masa vital (0-2) tahun menurut Fatimah (2006) adalah masa
perubahan jasmani yang tercepat. Pada umumnya bila anak itu normal dan
sehat selama enam bulan pertama, bertambah kurang lebih dua kali lipat dari
berat pada waktu lahir. Ahli psikologi perkembangan membatasi periode masa
bayi dalam 2 tahun pertama dari periode pascanatal. Pada saat bayi dilahirkan
bayi berada dalam kondisi yang sangat lemah dan tidak berdaya. Selama
beberapa bulan masa bayi, ketidak berdayaan itu berangsur-angsur menurun.
Dari hari ke hari, minggu ke minggu sehingga pada saat masa bayi berakhir,
yaitu kira-kira pada usia 2 tahun, ia telah menjadi seorang manusia yang
berbeda dengan kondisi awal bayi. Dan penyelidikan yang dilakukan oleh para
ahli psikologi dalam hubungannya antara anak dan orang tua terutama ibunya
sangat penting artinya bagi perkembangan keperibadian pada masa-masa yang
akan datang.
Inteligensi bayi mulai berfungsi sejak tahun pertama yang ditandai dengan
perkembanagan sejumlah perilaku jasmaniah seperti duduk, merangkak dan
berdiri serta mengucapkan kata-kata. Bayi yang normal apalagi cerdas akan
mulai mampu berjalan pada usia sekitar 12 - 15 bulan, sedangkan yang
berkecerdasan jauh dibawah rata-rata baru akan bias berjalan pada usia 30
bulan meskipun organ kakinya tampak normal.
B. Perkembangan Biologis Pada Masa Bayi
Makna pertumbuhan pada hakikatnya berbeda dengan makna
perkembangan. Istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan
kuantitatif mengenai aspek fisik atau biologis.
Pertumbuhan fisik manusia pada dasarnya merupakan perubahan fisik dari
kecil atau pendek menjadi besar dan panjang, yang prosesnya terjadi sebelum
lahir hingga ia dewasa.

3
Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan dari
pertumbuhan sebelum lahir. Dalam tahun pertama pertumbuhannya, ukuran
panjang badan bertambah sekitar sepertiga dari panjang badan semula,
sedangkan berat badannya bertambah sekitar tiga kalinya.
Berikut adalah gambaran lebih rinci tentang beberapa aspek dari
pertumbuhan fisik yang terjadi selama masa bayi.
a. Tinggi dan Berat badan
Menurut Sandtrock (1995) dalam (Syah, 2014) pada saat dilahirkan
panjang rata-rata bayi adalah 20 inci atau 50 cm, dengan berat 3,4 kg.
Selama bulan-bulan pertama kehidupan, berat badan bayi bertambah
sekitar 263 ons perminggu. Pada tahun ke 2 kehidupannya, rata-rata
pertumbuhan bayi mengalami perlambatan. Pada usian 2 tahun, berat bayi
mencapai sekitar 13-16 kg, dengan tinggi sekitar 32-35 inci.
b. Perkembangan Refleks
Pada masa bayi, terlihat gerak-gerak spontan yang disebut
“refleks-refleks” adalah gerakan-gerakan bayi yang bersifat otomatis
yang tidak terkoodinir sebagai reaksi terhadap rangsangan tertentu serta
memberi bayi respon penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Diantara
refleks-refleks yang muncul pada bayi itu adalah:
1) Refleks menganalisa dan mencari
Pada awal setelah bayi dilahirkan, respon atau reaksi terhadap
rangsangan dari luar dilakukan secara refleks. Apabila pipinya
disentuh, bayi akan menggerakkan kepalanya kearah sentuhan secara
reflektif dengan mulut terbuka dan kepalanya terus berputar hingga
mulutnya mencapai rangsangan yang diberikan. Respon yang
bersifat refleks ini akan berakhir atau menjadi lebih terarah pada saat
bayi berumur empar sampai lima bulan.
2) Refleks moro
Refleks moro adalah sesuatu respon tiba-tiba dari bayi yang
baru lahir sebagai akibat adanya suara atau gerakan yang
mengejutkannya. Belakangan ini, refleks moro dianggap sangat

4
penting, karena dapat membantu dokter dalam mendiagnosa
perkembangan sistem normal bayi. Bayi yang sehat akan
menunjukkan respon tersebut apabila terkejut.
3) Refleks Menggenggam
Refleks menggenggam terjadinya ketika sesuatu menyentuh
telapak tangan bayi, dan bayi akan merespon dengan cara
menggenggam dengan kuat. Pada bulan ketiga, refleks
menggenggam ini berkurang dan bayi memperlihatkan suatu
genggaman yang lebih spontan, yang sering dihasilkan oleh
rangsangan visual.
c. Rangkaian Tingkah Laku dan Keadaan Bayi
Kapasitas syaraf sensoris bayi amat terbatas. Pada saat baru lahir,
pendengarannya amat baik. Ia mampu membedakan antara suara lembut
dan yang kasar, dan lebih senang pada suara yang lebih lembut dari pada
yang kasar. Penglihatannya masih lemah dan terbatas. Walaupun bayi
sudah dapat melihat, hanya dalam waktu singkat saja dan jaraknya pun
tidak lebih dari 1,25 meter. Dalam perkembangannya, bayi segera dapat
membedakan terangnya cahaya, warna, serta mampu mengikuti
rangsangan yang bergerak dengan pandangan matanya. Demikian pula
syaraf sensoris yang lain, seperti syaraf perabaan, penciuman, dan
pencernaaan berkembang sejalan dengan syaraf penglihatannya.
Setelah umur 3 bulan, ia mulai mampu berguling (memutar
badannya), pada umur 5 bulan, ia mulai telungkup, merangkak pada umur
7 bulan, duduk dengan sedikit bantuan, duduk sendiri (tanpa bantuan),
berdiri, dan melangkah satu atau dua langkah. Pola dan urutan
pertumbuhan dan perkembangan fungsi fisik ini diikuti oleh
perkembangan kemampuan mental dan sosialnya.
C. Perkembangan Motorik Pada Masa Bayi
Perkembangan motorik adalah proses yang relatif lamban dan hingga
akhir usia dua tahun pertama, bayi hanya mencapai penguasaan mobilitas dan
koordinasi dasar. Perkembangan motorik dibagi menjadi dua yaitu motorik

5
kasar dan motorik halus, berikut adalah tabel perbandingan perkembangan
keterampilan motorik kasar dan motorik halus pada tahun pertama :

Motorik Kasar Motorik Halus


Keterampilan motorik kasar Keterampilan motorik halus
melibatkan otot-otot besar tubuh dan melibatkan otot kecil yang
mencangup fungsi-fungsi lokomotor memungkinkan fungsi-fungsi seperti
seperti duduk tegak, berjalan, menggenggam dan memanipilasi
menendang, dan melempar bola. objek-objek kecil.
Keterampilan motorik kasar Keterampilan motorik halus
bergantung pada kekerasan dan mencangkup fungsi-fungsi seperti
kekuatan otot. Perkembangan motorik menulis, menggambar, dan
ini berlanjut dari kepala kebawah dari mengenakan pakaian.
tengan ke arah luar.
Aktivitas motorik kasar melibatkan Keterampilan-keterampilan ini
kepala dan ekstremitas atar melibatkan kekuatan, pengendalian
berkembang sebelum aktivitas yang motorik halus dan kecekatan.
melibatkan ekstremitas bawah, dan
aktivitas yang melibatkan batang
tubuh dan bahu berkembang sebelum
aktivitas yang melibatkan tangan dan
jari.
Keterampilan motorik berkembang Kemampuan bayi untuk meraih dan
dalam urutan pasti, dan norma-norma memanipulasi objek berkembang
kerap digunakan untuk mengukur pesat dalam tahun pertama usianya.
kemajuan perkembangan bayi.

D. Perkembangan Kognitif Pada Masa Bayi


Perkembangan kognitif pada masa bayi adalah perkembangan lebih
lanjut tentang perkembangan intelek yang ditunjukkan pada perilakunya,
yaitu tindakan menolak atau memilih sesuatu. Pada periode pertama dalam

6
perkembangan kognitif adalah periode inteligensi sen-somotirik yang dimulai
pada awal kelahiran dan berakhir pada usia 2 tahun dan menjadi 6 tahap yang
berbeda dan dibagi lagi menjadi sub-tahap.
1. Tahap pertama, pelaksanaan skema refleksi (sejak lahir sampai 1 bulan).
Pada waktu lahir bayi sudah memiliki sejumlah skema yang merupakan
berbagai refleksi non-natal seperti menghisap, refleksi menggenggam.
2. Tahap kedua, adaptasi pertama yang dipelajari dan reaksi sirkuler yang
pertama (sejak 1 bulan sampai 4 bulan)
Pada tahap ini skema refleks banyak mengalami perubahan sebagai hasil
interaksi bayi dengan lingkungannya yaitu dalam reaksi sirkular primar
berkaitan dengan kecenderungan bayi untuk mengulangi respon dalam
rangkaian tingkah laku mereka yang memberikan hasil menarik misalnya,
dalam menghisap dan melihat, menggenggam dan menghisap, melihat
dan mendengar.
3. Tahap ketiga, reaksi serkuler (sejak 4 bulan sampai 8 bulan)
Selama tahap ini anak menjadi terorientasi pada dirinya dan sekelilingnya
yaitu yang menunjukkan reaksi serkular sekunder bayi berayun, memukul,
menggosok, dan mengguncang dengan minat yang kuat terhadap
benda-benda yang dilihat dan didengar, dan tindakan-tindakan ini
terungkap. Pada tahap ini terlihat kemajuan pesat dalam hal koordinasi
antara skema-skema yang ada.
4. Tahap keempat, koordinasi skema sirkuler (sejak 8 bulan sampai 12
bulan)
Pada tahap ini orientasi bayi makin terarah kearah dunia luar dirinya.
Reaksi sirkular sekunder yang terbentuk pada tahap ketiga menjadi
terkoordinasi satu dengan yang lainnya, membentuk struktur yang makin
lama makin kompleks yang merupakan dasar bagi rangkaian tingkah laku
baru dan lebih rumit yaitu bayi mulai mengantisipasi apa yang akan
terjadi dan bayi mulai berusaha mempengaruhi masa depannya misalkan
pada waktu ibu mulai memakai selendang dan bayi mulai menangis,
menunjukkan antisipasinya bahwa dengan memakai selendang ibu akan

7
pergi, sehingga dia menangis. Pada tahap ini bayi akan mengalami
kemajuan pesat ke arah objektifitas realitas.
5. Tahap kelima, reaksi sirkuler tersier (sejak 12 bulan sampai 18 bulan)
Pada tahap ini mereka mulai berusaha mencari hal-hal yang baru melalui
kegiatan eksperiment yang menghasilkan efek istimewa.
6. Tahap keenam, penemuan cara baru melalui kombinasi mental (sejak 18
bulan sampai 2 tahun).
Selama tahap akhir periode sensomotorik anak-anak melaksanakan
penelitian yang bersifat primitif sederhana yang bertema kedalam bidang
konseptual-simbolis sehingga muncullah indikasi kemampuan untuk
memandang kemasa yang akan datang dan kemampuan untuk membuat
rencana. Tingkah laku anak pada saat ini merupakan hasil akhir dari
perkembangan pada tahap sebelumnya.
Piaget (1994) dalam (Nurhayati, 2011) meyakini bahwa anak
membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Anak tidak pasif
menerima informasi, melainkan berperan aktif di dalam menyusun
pengetahuannya mengenai realitas. Ia menyakini bahwa pemikiran seorang
anak berkembang melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa bayi hingga
dewasa. Tahap pemikiran pada masa bayi, disebut tahap sensoris-motorik.
Tahap sensorik-motorik berlangsung dari kelahiran hingga kira-kira 2 tahun.
Selama tahap ini, perkembangan mental ditandai dengan kemajuan pesat
dalam kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan
sensai melalui tindakan-tindakan fisik. Dalam hal ini, bayi yang baru lahir
bukan saja menerima secara pasif rangsangan terhadap alat indranya,
melainkan juga aktif memberikan respons terhadap rangsangan tersebut.
Menurut Sandtrock (1994) dalam (Syah, 2014) teori perkembangan
sensorik motorik piaget telah disanggah dari dua sumber, pertama, penelitian
dalam bidang perkembangan persepsi bayi. Menunjukkan bahwa bayi telah
membentuk suatu dunia persepsi yang stabil dan berbeda jauh lebih awal dari
pada yang dibayangkan oleh Piaget, kedua, para peneliti baru-baru ini telah
menemukan bahwa memori dan bentuk-bentuk kegiatan simbolis lainnya

8
terjadi pada kedua tahun pertama. Kalau piaget menyakini bahwa
perkembangan kognitif bayi baru tercapai pada pertengahan tahun kedua,
maka pakar psikologi pemrosesan informasi percaya bahwa perkembangan
kognitif, seperti kemampuan dalam memberikan perhatian, menciptakan
simbolis, meniru dan kemampuan konseptual telah dimiliki bayi lebih awal.
E. Perkembangan Sosioemosional Pada Masa Bayi
Aspek emosional perlu stimulasi untuk mengembangkan emosi agar
bervariasi dalam berbagai intensitas pada awal kehidupan, bayi sudah
mempunyai dua jenis emosi yang berhubungan erat dengan rangsangan fisik.
Bayi akan merasa senang bila bayi merasa kenyang dan nyaman, maka bayi
akan menampilkan keadaan dalam bentuk tertawa, bercelotek atau tidur
nyenyak. Sebaliknya bayi merasa tidak senang bila dalam keadaan lapar,sakit
atau kepanasan yang ditampilkan dalam bentuk menangis, gelisah dan rewel.
Sebagai bayi yang sedang tumbuh menjadi lebih dewasa. Mereka memiliki
kedekatan dan keterkaitan emosional dengan orang-orang yang penting dari
hidupnya. Bayi mempelajari apa yang diharapkan dari orang-orang yang
penting dalam hidupnya. Mereka mengembangkan suatu perasaan mengenai
siapa yang mereka senangi atau tidak dan makanan apa yang mereka sukai atau
tidak. Ada beberapa hal yang berkaitan dengan perkembangan sosioemosional
pada masa bayi, diantaranya emosi dan temperamen.
1. Perkembangan Emosi
Para ahli telah lama mempercayai bahwa kemampuan untuk bereaksi
secara emosional sudah ada pada bayi yang baru lahir seperti menangis,
tersenyum dan frustasi. Bahkan beberapa peneliti percaya bahwa beberapa
minggu setelah lahir bayi dapat memperlihatkan bermacam-macam
ekspresi dari semua emosi dasar.
2. Perkembangan Temperamen
Beberapa ahli perkembangan berpendapat bahwa temperamen adalah
karakteristik bayi yang baru lahir yang akan dibentuk dan dimodifikasi oleh
pengalaman-pengalaman masa kecil yang ditemui dalam lingkungannya.
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa terdapat interaksi antara keturunan

9
dan lingkungan dalam terjadinya perkembangan. Sejak lahir bayi
memperlihatkan berbagai aktifitas individual yang berbeda-beda. Beberapa
bayi sangat aktif menggerakkan tangan, kaki dan mulutnya tanpa henti,
tetapi bayi yang lain terlihat tenang. Semua gaya perilaku ini merupakan
temperamen seorang bayi.
3. Perkembangan Rasa Percaya (Trust)
Menurut Eriksson (1989) dalam (Nurhayati, 2011) tahun-tahun pertama
kehidupan ditandai oleh perkembangan rasa percaya (trust) dan rasa
tidak percaya (mistrust). Keadaan percaya pada umumnya mengandung
tiga aspek,yaitu:
a. Bahwa bayi belajar percaya pada kesamaan dan kesinambungan dari
pengasuh di luarnya.
b. Bahwa bayi belajar percaya diri dan dapat percaya pada
kemampuan organ-organnya sendiri untuk menanggulangi
dorongan-dorongan.
c. Bahwa bayi menggangap dirinya cukup dapat dipercaya sehingga
pengasuh tidak perlu waspada dirugikan.
4. Perkembangan Otonomi
Menurut Eriksson (1989) dalam (Nurhayati, 2011) otonomi atau
kemandirian merupakan tahap kedua perkembangan psikososial yang
berlangsung pada akhir masa bayi dan masa baru pandai berjalan. Otonomi
dibangun diatas perkembangan kemampuan mental dan kemampuan
motorik. Pada tahap ini, juga dapat memanjat, membuka, dan menutup,
serta menolak dan menarik, memegang dan melepaskan. Bayi merasa
bangga dengan prestasi ini dan ingin melakukan segala sesuatu sendiri.

Tabel Rangkuman Perkembangan Sosioemosional Bayi (6 bulan-24 bulan)


Usia Sosial Emoosional
6 bulan Mampu mengenali diri sendiri baik melalui foto atau cermin,
dan mungkin menjadi gelisah bila ada orang yang tidak
dikenalinya.

10
9 bulan Mulai tertarik dengan bayi lain, bisa turut merasakan emosi
orang lain.
12 bulan Umumnya memiliki keyakinan yang luar biasa pada
kemampuannya sendiri, namun akan merasa frustasi bila
ternyata tidak mampu mencapai sasaran yang diharapkannya.
15 bulan Ingin melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri, mulai
menunjukan iri hati, mulai dapat memberi salam kepada orang
lain, marah bila sedang frustasi.
18 bulan Mulai belajar berbagi kepada orang lain, mungkin akan marah
bila tidak dapat atau tidak boleh melakukan sesuatu seperti yang
diinginkannya.
21 bulan Berusaha mendapat perhatian orang dewasa, mampu memahami
peraturan sederhana meskipun tidak selalu mematuhinya,
menikmati rutinitas.
24 bulan Suka berada bersama teman sebaya, namun belum mampu untuk
berbagi mainannya, menikmati tanggung jawab melakukakan
tugas-tugas sederhana, kadang malu bila bertemu dengan orang
asing.

11
BAB III
PEMBAHASAN

Berikut ini adalah skema tentang perkembangan bayi yang ditinjau dari aspek
biologis/fisik, motorik, kognitif, dan sosioemosional.
Usia/Bulan Perkembangan
Biologis Motorik Kognitif Sosioemosional
6 bulan Mampu Mampu Mampu Mampu
menyangga memalingkan memegang alat mengenali diri
berat badan wajah kearah tulis dan sendiri baik
melalui sumber suara. mencoret-coret. melalui foto
bawah atau cermin,
ketiaknya dan dan mungkin
mampu menjadi gelisah
berguling. bila ada orang
yang tidak
dikenalinya
9 bulan Merangkak Mampu Mengalami Mulai tertarik
dan sedikit memegang kmajuan pesat dengan bayi
duduk dengan benda dengan ke arah lain, bisa turut
bantuan dan erat objektifitas merasakan
tanpa bantuan realitas emosi orang
lain.
12 bulan Sudah bias Mampu Mampu memiliki
berdiri, melempar dan memasukkan keyakinan yang
mula-mula menangkap atau luar biasa pada
nya perlu bola. mengeluarkan kemampuannya
bantuan. benda seperti sendiri, namun
balok-balok akan merasa
kecil, lalu frustasi bila

12
menyusunnya ternyata tidak
menumpuk ke mampu
atas. mencapai
sasaran yang
diharapkannya.
15 bulan Dapat Mampu Mampu Ingin
berjalan menarik membuat melakukan
dengan pijak, mainan untaian segala sesuatu
berjalan misalnya benda-benda dengan caranya
sambil mainan yang seperti sendiri, mulai
berjinjit bersuara. manik-manik, menunjukan iri
menggunakan hati, mulai
tali sepatu atau dapat memberi
sebagainya. salam kepada
orang lain,
marah bila
sedang frustasi.
18 bulan Dapat Mampu Mampu Mulai belajar
berjalan membuka mencari hal-hal berbagi kepada
mundur, dapat bajunya baru melalui orang lain,
menangkap sendiri dan kegiatan mungkin akan
dan melempar dengan eksperimen marah bila tidak
bola ketika bantuan yang dapat atau tidak
bermain menghasilkan boleh
diluar rumah. efek istimewa. melakukan
sesuatu seperti
yang
diinginkannya.
21 bulan Dapat Mampu Mampu Berusaha
melompat berbicara bercerita mendapat

13
dengan dengan tentang apa perhatian orang
mengenakan kalimat yang telah dewasa, mampu
kedua kakinya pendek, bias dilihatnya memahami
secara menunjuk apa peraturan
bersamaan yang sederhana
diinginkannya. meskipun tidak
selalu
mematuhinya,
menikmati
rutinitas
24 bulan Mampu Mengenal Mampu Suka berada
melatih berbagai mnggambar bersama teman
keseimbangan bentuk dan wajah atau sebaya, namun
berdiri dengan ukuran bentuk,seperti: belum mampu
1 kaki garis, bulatan untuk berbagi
dan laim-lain. mainannya,
menikmati
tanggung jawab
melakukakan
tugas-tugas
sederhana,
kadang malu
bila bertemu
dengan orang
asing.

14
BAB IV
PENUTUP

1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan yaitu:
a. Masa bayi adalah masa perubahan jasmani yang tercepat. Pada umumnya
bila anak itu normal dan sehat selama enam bulan pertama bertambah
kurang lebih dua kali lipat dari berat pada waktu lahir.
b. Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan dari
pertumbuhan sebelum lahir. Dalam tahun pertama pertumbuhannya,
ukuran panjang badan bertambah sekitar sepertiga dari panjang badan
semula, sedangkan berat badannya bertambah sekitar tiga kalinya.
Terdapat dua aspek yaitu, perkembangan refleks dan rangkaian tingkah
laku dan keadaan bayi
c. Perkembangan motorik adalah proses yang relatif lamban dan hingga akhir
usia dua tahun pertama, bayi hanya mencapai penguasaan mobilitas dan
koordinasi dasar. Perkembangan motorik dibagi menjadi dua yaitu motorik
kasar dan motorik halus.
d. Selain itu bayi juga mengalami Perkembangan kognitif dimana pada tahap
ini terjadi perkembangan intelek yang ditunjukkan pada perilakunya, yaitu
tindakan menolak atau memilih sesuatu. Pada periode pertama dalam
perkembangan kognitif adalah periode inteligensi sen-somotirik yang
dimulai pada awal kelahiran dan berakhir pada usia 2 tahun dan menjadi 6
tahap.
e. Adapun aspek emosional yang terjadi pada bayi, aspek tersebut perlu di
stimulasi untuk mengembangkan emosi agar bervariasi dalam berbagai
intensitas. Contohnya Pada awal kehidupan, bayi sudah mempunyai dua
jenis emosi yang berhubungan erat dengan rangsangan fisik, merasa
senang bila bayi merasa kenyang dan nyaman, maka bayi akan
menampilkan keadaan dalam bentuk tertawa, bercelotek atau tidur
nyenyak. Sebaliknya, bayi merasa tidak senang bila dalam keadaan

15
lapar,sakit atau kepanasan yang ditampilkan dalam bentuk menangis,
gelisah dan rewel.

16
DAFTAR PUSTAKA

Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: CV. PUSTAKA


SETIA.
Hartinah, Sitti. 2010. Pengembangan Peserta Didik. Bandung : PT Refika
Aditama
Mustaqim, Abdul Wahib. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: RINEKA CIPTA.

Nurhayati, Eti. 2011. Pendidikan Inovatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Sumantri, Sutjihati. 2012. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: PT. Refika
Aditama.
Syah, Muhibbin. 2014. Telaah Singkat Perkembangan Pesera Didik. Jakarta : PT
RajaGrafindo Persada

Upton, Penney. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Erlangga

Diana, F. M. (2010). Jurnal Kesehatan Masyarakat. Pemantauan Perkembangan


Anak Balita. 04, 116-1

17
18