Anda di halaman 1dari 4

Nama : Ricki Herdian Bata

NPM : 030958025

1. Sebutkan dan jelaskan upaya-upaya penolakan resiko?

Jawab :

Agar resiko yang dihadapi bila terjadi tidak akan menyulitkan bagi yang terkena, maka resiko-
resiko tersebut harus selalu diupayakan untuk diatasi / ditanggulangi, sehingga ia tidak
menderita kerugian atau kerugian yang diderita dapat diminimumkan.

Sesuai dengan sifat dan obyek yang terkena resiko, ada beberapa cara yang dapat dilakukan
(perusahaan) untuk meminimumkan resiko kerugian, antara lain:

a. Mengadakan pencegahan dan pengurangan terhadap kemungkinan terjadinya peristiwa


yang menimbulkan kerugian, misalnya: membangun gedung dengan bahan-bahan yang anti
terbakar untuk mencegah bahaya kebakaran, memagari mesin-mesin untuk menghindari
kecelakaan kerja, melakukan pemeliharaan dan penyimpanan yang baik terhadap bahan dan
hasil produksi untuk menghindari resiko kecurian dan kerusakan, mengadakan pendekatan
kemanusiaan untuk mencegah terjadinya pemogokan, sabotase dan pengacauan.

b. Melakukan retensi, artinya mentolerir terjadinya kerugian, membiarkan terjadinya kerugian


dan untuk mencegah terganggunya operasi perusahaan akibat kerugian tersebut disediakan
sejumlah dana untuk menanggulanginya (contoh: pos biaya lain-lain atau tak terduga dalam
anggaran perusahaan).

c. Melakukan pengendalian terhadap resiko, contoh: melakukan hedging (perdagangan


berjangka) untuk menanggulangi resiko kelangkaan dan fluktuasi harga bahan baku /
pembantu yang diperlukan.

d. Mengalihkan / memindahkan resiko kepada pihak lain, yaitu dengan cara mengadakan
kontrak pertanggungan (asuransi) dengan perusahaan asuransi terhadap resiko tertentu,
dengan membayar sejumlah premi asuransi yang telah ditetapkan, sehingga perusahaan
asuransi akan mengganti kerugian bila betul-betul terjadi kerugian yang sesuai dengan
penjanjian.

2. Jelaskan yang dimaksud dengan moral hazard?

Jawab :

Dalam bidang ekonomi, risiko moral (bahasa Inggris: moral hazard) terjadi ketika seseorang
meningkatkan paparan mereka terhadap risiko ketika tertanggung. Hal ini dapat terjadi,
misalnya, ketika seseorang mengambil lebih banyak risiko karena orang lain menanggung
biaya dari risiko-risiko tersebut. Moral hazard dapat terjadi dimana tindakan salah satu pihak
dapat berubah menjadi kerugian pada pihak yang lain setelah transaksi keuangan telah terjadi.

Satu pihak membuat keputusan tentang berapa banyak risiko yang harus diambil, sementara
pihak lain yang menanggung biaya jika hal-hal buruk terjadi, dan pihak yang terhindar dari
risiko berperilaku berbeda dengan jika dia sepenuhnya terpapar risiko.

Moral hazard dapat terjadi dalam jenis asimetri informasi di mana pihak pengambil risiko yang
bertransaksi tahu lebih banyak tentang niatnya daripada pihak yang membayar konsekuensi
dari risiko. Secara lebih luas, moral hazard bisa terjadi ketika pihak dengan informasi yang
lebih banyak tentang tindakan atau niatnya memiliki kecenderungan atau dorongan untuk
berperilaku tidak sepatutnya dari perspektif pihak dengan informasi yang lebih sedikit.

Moral hazard juga muncul di masalah agen-prinsipal atau principal-agent problem, di mana
salah satu pihak, yang disebut agen, bertindak atas nama pihak lain, yang disebut prinsipal.
Agen biasanya memiliki informasi lebih banyak tentang tindakan atau niatnya daripada
prinsipal, karena prinsipal biasanya tidak bisa benar-benar memantau agen. Agen mungkin
memiliki insentif untuk bertindak tidak sepatutnya (dari sudut pandang prinsipal) jika
kepentingan agen dan prinsipal tidak sejalan.

3. Jelaskan bagaimana pajak dan subsidi dapat menginternalisasi eksternalitas agar


inefisiensi berkurang?

Jawab:

Selain menerapkan regulasi, untuk mengatasi eksternalitas, pemerintah juga dapat


menerapkan kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada pendekatan pasar, yang dapat
memadukan insentif pribadi/swasta dengan efisiensi sosial. Sebagai contoh, seperti telah
disinggung diatas pemerintah dapat menginternalisasikan eksternalitas dengan menggunakan
pajak terhadap kegiatan-kegiatan yang menimbulkan eksternalitas negatif, dan sebaliknya
memberi subsidi untuk kegiatan-kegiatan yang memunculkan eksternalitas positif. Pajak yang
khusus diterapkan untuk mengoreksi dampak dari suatu eksternalitas negatif lazim disebut
sebagai Pajak Pigovian (Pigovian tax), mengambil nama ekonom pertama yang merumuskan
dan menganjurkannya, yakni Arthur Pigou (1877-1959).

Para ekonom umumnya lebih menyukai pajak Pigovian dari pada regulasi sebagai cara untuk
mengendalikan polusi, karena biaya penerapan pajak itu lebih murah bagi masyarakat secara
keseluruhan. Andaikan ada dua pabrik-pabrik baja dan pabrik kertas-yang masing-masing
membuang limbah sebanyak 500 ton per tahun ke sungai. EPA menilai limbah itu terlalu
banyak, dan berniat menguranginya. Ada dua pilihan solusi baginya, yakni :

¨ Regulasi: EPA mewajibkan semua pabrik untuk mengurangi limbahnya hingga 300 ton per
tahun.

¨ Pajak Pigovian: EPA mengenakan pajak sebesar $50.000 untuk setiap ton limbah yang
dibuang oleh setiap pabrik.

Regulasi itu langsung membatasi ambang polusi, sedangkan pajak Pigovian memberikan
insentif kepada para pemilik pabrik untuk sebanyak mungkin mengurangi polusinya. Menurut
pendapat Anda, solusi manakah yang lebih baik ?

Para ekonom lebih meyukai penerapan pajak. Mereka yakin penerapan pajak itu sama sekali
tidak kalah efektifnya dalam menurunkan polusi. Untuk mencapai ambang polusi tertentu, EPA
tinggal menghitung tingkat pajak yang paling tepat untuk diterapkannya. Semakin tinggi tingkat
pajaknya, akan semakin banyak penurunan polusi yang akan terjadi. Namun EPA juga harus
hati-hati, karena pajaknya terlalu tinggi, polusi akan hilang, karena semua pabrik bangkrut atau
memilih tidak beroperasi.

Alasan utama para ekonom itu memilih penerapan pajak, adalah karena cara ini lebih efektif
menurunkan polusi. Regulasi mewajibkan semua pabrik mengurangi polusinya dalam jumlah
yang sama, padahal penurunan sama rata, bukan merupakan cara termurah menurunkan
polusi. Ini dikarenakan kapasitas dan keperluan setiap pabrik untuk berpolusi berbeda-beda.
Besar kemungkinan salah satu pabrik (misalkan pabrik kertas), lebih mampu (biayanya lebih
murah) untuk menurunkan polusi dibanding pabrik lain (pabrik baja). Jika keduanya dipaksa
menurunkan polusi sama rata, maka operasi pabrik baja akan terganggu. Namun melalui
penerapan pajak, maka pabrik kertas akan segera mengurangi polusinya, karena hal itu lebih
murah dan lebih mudah dilakukan dari pada membayar pajak, sedangkan pabrik baja, yang
biaya penurunan polusinya lebih mahal, akan memilih membayar pajak saja.

Pada dasarnya, pajak Pigovian secara langsung menetapkan harga atas hak berpolusi. Sama
halnya dengan kerja pasar yang mengalokasikan berbagai barang ke pembeli, yang
memberikan penilaian paling tinggi pajak Pigovian ini juga mengalokasikan hak berpolusi
kepada perusahaan atau pabrik, yang paling sulit menurunkan polusinya atau yang
dihadapkan pada biaya paling tinggi untuk menurunkan polusi (misalkan karena biaya alat
penyaring polusinya sangat mahal). Berapapun target penurunan polusi yang diinginkan EPA
akan dapat mencapainya dengan biaya termurah melalui penerapan pajak ini.
Para ekonom juga berkeyakinan bahwa penerapan pajak Pigovian, merupakan cara terbaik
untuk menurunkan polusi. Pendekatan komando dan kontrol tidak akan memberikan alasan
atau insentif bagi pabrik-pabrik pencipta polusi untuk berusaha mengatasi polusi semaksimal
mungkin. Seandainya saja polusinya sudah berada dibawah ambang maksimal (misalkan 300
ton per tahun), maka perusahaan itu tidak akan membuang biaya lebih banyak agar polusinya
dapat ditekan lebih rendah lagi. Sebaliknya, pajak akan memberikan insentif kepada pabrik-
pabrik itu untuk terus mengembangkan teknologi yang ramah terhadap lingkungan. Mereka
akan terus terdorong menurunkan polusi, karena semakin sedikit polusi yang mereka ciptakan,
akan semakin sedikit pula pajak yang harus mereka bayar.

Pajak Pigovian tidaklah sama dengan pajak-pajak lain, dimana kita mengetahui bahwa pajak
pada umumnya akan mendistorsikan insentif dan mendorong alokasi sumber daya menjauhi
titik optimum sosialnya. Pajak umumnya juga menimbulkan beban baku berupa penurunan
kesejahteraan ekonomis (turunnya surplus produsen dan surplus konsumen), yang nilainya
lebih besar dari pada pendapatan yang diperoleh pemerintah dari pajak tersebut. Pajak
Pigovian tidak seperti itu karena pajak ini memang khusus diterapkan untuk mengatasi
masalah eksternalitas. Akibat adanya eksternalitas, masyarakat harus memperhitungkan
kesejahteraan pihak lain. Pajak Pigovian diterapkan untuk mengoreksi insentif ditengah
adanya eksternalitas, sehingga tidak seperti pajak-pajak lainnya, pajak Pigovian itu justru
mendorong alokasi sumber daya mendekati titik optimum sosial. Jadi, selain memberi
pendapatan tambahan pada pemerintah, pajak Pigovian ini juga meningkatkan efisiensi
ekonomi.

4. Jelaskan yang dimaksud dengan barang publik, serta karakteristik barang publik dan
berikan contohnya?

Jawab:

Barang publik adalah barang-barang yang tidak ekskludabel dan juga tidak rival. Artinya siapa
saja tidak bisa mencegah untuk memanfaatkan barang ini, dan konsumsi seseorang atas
barang ini tidak mengurangi peluang orang lain melakukan hal yang sama. Contoh:
pertahanan suatu negara aman karena mampu melawan setiap serangan dari negara lain,
maka siapa saja di negara itu tidak bisa dicegah untuk menikmati rasa aman, peluang bagi
orang lain untuk turut menikmati keamanan sama sekali tidak berkurang.

Karakteristik barang publik :

a. Non-rivalry. Berarti bahwa penggunaan satu konsumen terhadap suatu barang tidak akan
mengurangi kesempatan konsumen lain untuk juga mengkonsumsi barang tersebut. Setiap
orang dapat mengambil manfaat dari barang tersebut tanpa mempengaruhi menfaat yang
diperoleh orang lain. Contoh, dalam kondisi normal, apabila kita menikmati udara bersih dan
sinar matahari, orang-orang di sekitar kita pun tetap dapat mengambil manfaat yang sama.

b. Non-excludable. Berarti bahwa apabila suatu barang publik tersedia, tidak ada yang dapat
menghalangi siapapun untuk memperoleh manfaat dari barang tersebut. Dalam konteks pasar,
maka baik mereka yang membayar maupun tidak membayar dapat menikmati barang
tersebut. Contoh, masyarakat membayar pajak kemudian diantaranya digunakan untuk
membiayai penyelenggaraan jasa kepolisian, dapat menggunakan jasa kepolisian tersebut
tidak hanya terbatas pada yang membayar pajak saja. Mereka yang tidak membayar pun
dapat mengambil menfaat atas jasa tersebut. Singkatnya, tidak ada yang dapat dikecualikan
(excludable) dalam mengambil manfaat atas barang publik.

5. Informasi yang asimetris dapat menurunkan kualitas produk yang dijual di pasar
hingga produk yang berkualitas jelek menyingkirkan produk yang berkualitas baik.
Terkait dengan hal tersebut , bagaimana pendapat anda tentang hal berikut:

Dalam bidang ekonomi, asimetri informasi terjadi jika salah satu pihak dari suatu transaksi
memiliki informasi lebih banyak atau lebih baik dibandingkan pihak lainnya. (Sering juga
disebut dengan istilah informasi asimetrik/informasi asimetris). Umumnya pihak penjual yang
memiliki informasi lebih banyak tentang produk dibandingkan pembeli, meski kondisi
sebaliknya mungkin juga terjadi.
a. Pemerintah seharusnya memberikan subsidi kepada konsumen
Jawab : yang dikhawatirkan adalah, ketika pemerintah memberikan subsidi kepada konsumen,
pemerintah tidak memiliki informasi yang lebih banyak daripada konsumen itu sendiri.
Sehingga terkadang subsidi yang diberikan tidak tepat sasaran dan malah diterima oleh orang-
orang kaya maupun pedagang besar yang kemudian menjual dengan harga lebih tinggi
kepada konsumen yang seharusnya menjadi target subsidi.

b. Pemerintah seharusnya menekankan standar kualitas


Jawab :
Adverse selection merupakan bentuk kegagalan pasar yang terjadi akibat informasi yang
asimetris. Adverse selection penting di bidang ekonomi karena sering menghilangkan
kemungkinan pertukaran yang akan menguntungkan baik konsumen maupun penjual. Adverse
Selection muncul apabila produk dengan kualitas yang berbeda-beda dijual dengan satu harga
karena pembeli atau penjual tidak mempunyai pengetahuan yang cukup untuk menentukan
kualitas yang sebenarnya pada saat membeli. Akibatnya, terlalu banyak produk yang
berkualitas rendah dan terlalu sedikit produk yang berkualitas tinggi dijual dipasar atau dengan
kata lain barang-barang berkualitas rendah menggeser barangbarang yang berkualitas tinggi.
Untuk menangani adverse selection diatas, maka dilakukanlah penetapan atau penekanan
standar kualitas yang seharusnya.

c. Produsen dengan kualitas produk yang baik akan cenderung menawarkan garansi
Jawab :
Dasar dari informasi asimetris adalah ketidakmampuan untuk membedakan yang
baik dari yang buruk. Hal ini dapat merugikan baik bagi penjual yang gagal dalam
mendapatkan nilai yang sebenarnya, dan untuk pembeli yang lebih suka membayar
harga yang lebih tinggi untuk sesuatu yang dikenal baik. Situasi ini akan membaik
jika penjual bisa menyampaikan beberapa informasi yang meyakinkan kualitas
Produk kepada pembeli.
Jaminan juga dapat berfungsi sebagai sinyal dari kualitas barang yang tahan lama.
Informasi tersebut, bisa saling menguntungkan. Perlu dicatat antara perbedaan
antara screening dan signaling. Pengguna informasi yang terbatas menggunakan
screening untuk mencari tau informasi yang lebih baik. Sedangkan pengguna
informasi yang luas menggunakan signaling untuk membantu mengurangi informasi
dan mencari tahu kebenarannya.

d. Pemerintah harusnya mewajibkan semua perusahaan untuk menawarkan


jaminan/garansi
Jawab :
Dengan pembahasan pada poin sebelumnya, intervensi pemerintah dalam hal
memunculkan kewajiban memberikan garansi oleh perusahaan akan mengeliminasi
beberapa informasi asimetris yang kerap kali muncul. Dengan begini perusahaan
akan menciptakan produk yang baik agar jaminan atau garansi dapat
dipertanggungjawabkan sebagaimana mestinya.