Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia, sehat

secara jasmani dan rohani. Tidak terkecuali anak-anak, setiap orang tua

menginginkan anaknya bisa tumbuh dan berkembang secara optimal, hal ini dapat

dicapai jika tubuh mereka sehat. Kesehatan yang perlu diperhatikan selain kesehatan

tubuh secara umum, juga kesehatan gigi dan mulut, karena kesehatan gigi dan mulut

dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Dengan kata lain bahwa

kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan tubuh secara

keseluruhan yang tidak dapat dipisahkan dari kesehatan tubuh secara umum.

Gigi merupakan bagian terpenting dalam mulut yang dapat berfungsi untuk

makan dan berbicara. Kerusakan gigi merupakan salah satu penyakit yang disebabkan

oleh kurangnya kebersihan gigi dan mulut. Anak usia sekolah merupakan usia dimana

mereka lebih cenderung untuk memilih makanan yang manis seperti cokelat dan

permen. Hal ini menjadi faktor utama meningkatnya anak usia sekolah dengan

masalah kerusakan gigi. Oleh karena itu, perlu dilakukan pendidikan kesehatan

terhadap anak usia sekolah tentang pentingnya kesehatan gigi dan mulut.

Karies sering pada umumnya terjadi pada anak-anak karena anak-anak

cenderung menyukai makanan yang manis-manis. Gigi-gigi susu yang rusak karena

karies pastinya menyebabkan anak sedikit kesulitan mengunyah, atau bahkan malas

makan. Hal ini akan diperparah jika kurangnya perhatian orang tua pada kebersihan

1
2

dan kesehatan yang mempengaruhi status gizinya. Maka dari itu, survei kesehatan

gigi dan mulut sangat penting dilakukan.

Survei kesehatan gigi dan mulut adalah survey yang bertujuan untuk

mengumpulkan informasi tentang status penyakit gigi dan mulut serta kebutuhan

perawatan yang diperlukan untuk perencanaan atau pemantauan program kesehatan

gigi dan mulut. Disisi lain, survei ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran

pendahuluan secara lengkap tentang status kesehatan gigi dan mulut serta kebutuhan

perawatannya dari suatu populasi kemudian memantaunya untuk melihat perubahan

tingkat dan pola kepenyakitannya (Kunto Sariamerta, 1999).

Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang telah berdiri sejak tahun 1951

merupakan suatu kegiatan yang sangat relevan dalam pelaksanaan upaya

penanggulangan penyakit gigi dan mulut. Program UKGS adalah usaha pencegahan

penyakit gigi dan mulut terutama ditujukan kepada murid-murid sekolah, antara lain

dengan pemberian fluor guna mencegah atau mengurangi karies gigi atau penyakit

gigi lainnya. Namun sejuah ini, implementasi UKGS di sekolah-sekolah masih belum

berjalan dengan baik sehingga prevalensi karies masih tinggi pada anak usia sekolah.

Oleh karena itu, survei dan penyuluhan sangat penting dilakukan untuk meningkatkan

kesadaran siswa-siswa mengenai kesehatan gigi dan mulut, sehingga mengarah pada

penurunan prevalensi karies.

Kesehatan gigi anak sangat penting dalam menunjang peningkatan kualitas

sumber daya manusia di masa yang akan datang, Survei ini mengambil tempat di SD

Negeri Catur Kintamani Bangli, untuk mengetahui kondisi kesehatan gigi dan mulut

di SD tersebut.
3

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah

sebagai berikut: berapakah prevalensi karies, frekuensi karies, rerata karies, RTI, dan

PTI pada murid di SD Negeri Catur Kintamani Bangli?”

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk

mengetahui prevalensi karies, frekuensi karies, rerata karies, RTI, dan PTI murid di

SD Negeri Catur Kintamani Bangli.

1.1 Manfaat

Dapat menambah pengetahuan murid tentang pentingnya kesehatan gigi dan

mulut serta memberikan informasi kepada tenaga kesehatan untuk membuat rencana

program kesehatan gigi dan mulut yang lebih efektif dan efisien dalam pencegahan

dan penanganan terhadap penyakit gigi dan mulut pada murid di SD Negeri Catur

Kintamani Bangli.
4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Gigi

Gigi manusia terdiri dari 3 bagian utama yang penting yaitu email, dentin, dan

pulpa. Email merupakan bagian terluar gigi yang paling tipis, berwarna putih

mengkilap namun agak transparan (translucent) itu sebabnya gigi tidak berwarna

putih sempurna tetapi menjadi agak kekuningan dimana warna kuning tersebut

didapat dari warna dentin dibawahnya. Walaupun merupakan bagian tertipis dari gigi,

email merupakan bagian terkeras dari gigi bahkan merupakan bagian terkeras dari

tubuh. Kekerasan email gigi ini dimungkinkan oleh bahan pembentuk email itu

sendiri yang berupa struktur kristalin (kristal hidroksiapatit) dimana 96% terdiri dari

bahan anorganik, 1% organik dan sisanya adalah air. Email merupakan bagian yang

paling sering dan rentan terhadap serangan asam karena posisinya yang merupakan

bagian terluar dari gigi. Hal tersebut menyebabkan email gigi sering berlubang dan

menjadi rapuh apabila gigi tidak terawat dengan baik. Bagian kedua gigi setelah

email adalah dentin. Berbeda dengan email, dentin berwarna kekuningan dan

merupakan bagian terbesar dari gigi. Komposisi dentin juga berbanding terbalik

dengan email dimana dentin terdiri dari 85% material organik, ini sebabnya dentin

bersifat sedikit lebih lunak dari email. Bentuk dentin yang “berpori” karena tersusun

dari tubuli dentin menyebabkan dentin lebih sensitif terhadap rangsang suhu (panas

maupun dingin) maupun kimia. Inilah sebabnya dentin menjadi lapisan kedua gigi

dan memiliki pelapis sekaligus pelindung. Pada bagian mahkota gigi, dentin dibatasi
5

dan dilapisi oleh email, sedangkan pada bagian akar gigi maka dentin dibatasi oleh

lapisan tipis sementum.

Emain

Mahkota
Dentin

Pulpa

Sementum
Akar
Ligamen
Periodontal
Saraf dan
Pembulu darah

Gambar 1. Anatomi Gigi

Bagian paling penting gigi yang terakhir adalah pulpa. Pulpa merupakan

sebuah ruangan di tengah-tengah gigi. Pada ruang pulpa ini terdapat pembuluh darah

kecil serta syaraf-syaraf gigi.

2.2 Jenis-Jenis Gigi

Secara umum gigi dapat dibagi menjadi empat jenis:

1. Gigi insisif atau gigi seri

Gigi ini berbentuk persegi panjang, dan berfungsi untuk memotong makanan.

Gigi insisif terletak di bagian paling depan di tengah lengkung gigi, ada empat

buah di rahang atas maupun di rahang bawah.

2. Gigi kaninus atau gigi taring


6

Gigi taring berada di sebelah gigi insisif.Gigi ini berbentuk lebih panjang

dengan ujung yang runcing.Gigi taring berfungsi untuk mengoyak atau

menyobek dan memotong makanan.Gigi taring berjumlah empat buah, dua di

rahang atas dan dua di rahang bawah.

3. Gigi premolar atau gigi geraham kecil

Di belakang gigi kaninus terdapat gigi premolar. Bentuk gigi premolar di

rahang atas berbeda dengan premolar di rahang bawah. Premolar rahang atas

mempunyai dua cusp, sedangkan premolar rahang bawah hampir mirip

dengan kaninus namun cuspnya tidak runcing dan bentuknya juga lebih besar

dari gigi kaninus. Totalnya gigi premolar ada delapan buah, empat di rahang

atas dan empat di rahang bawah.Gigi premolar berfungsi untuk menyobek dan

membantu menghaluskan makanan.

4. Gigi molar atau gigi geraham besar

Gigi molar berada di belakang gigi premolar. Bentuknya seperti kotak dan

ukurannya besar. Gigi molar merupakan gigi yang paling berperan dalam

proses penghalusan makanan. Totalnya ada dua belas buah yaitu enam di

rahang atas dan enam di rahang bawah.

A B C D

Gambar 2.2 Jenis-jenis gigi. A. Gigi insisif, B. Gigi caninus,


C. Gigi premolar, D. Gigi molar
2.3 Fungsi Gigi

1. Pengunyahan
7

Gigi berperan penting untuk menghaluskan makanan agar lebih mudah ditelan

serta meringankan kerja proses pencernaan.

2. Berbicara

Gigi sangat diperlukan untuk mengeluarkan bunyi ataupun huruf-huruf

tertentu seperti huruf T, V, F, D, dan S. Tanpa gigi, bunyi huruf-huruf ini tidak

akan terdengar dengan sempurna.

3. Estetik

4. Menjaga kesehatan rongga mulut dan rahang


Banyak hal yang terjadi apabila gigi hilang. Di antaranya gangguan

pengunyahan makanan, susunan gigi yang menjadi gak teratur (disebut

maloklusi), tulang alveolar yang berkurang (resorpsi), gangguan pada sendi

rahang, dan penyakit pada jaringan periodontal.Apabila gigi terpaksa harus

dicabut, akan lebih baik bila gigi tersebut diganti dengan gigi palsu agar

kesehatan mulut tetap terjaga.

2.4 Karies

Karies gigi adalah sebuah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi.

Penyakit ini menyebabkan gigi berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat

menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, infeksi, berbagai kasus berbahaya, dan bahkan

kematian.

2.4.1 Faktor penyebab karies

Pada umumnya, ada dua faktor penyebab karies, yaitu faktor langsung dan

faktor tidak langsung.

1. Faktor langsung
8

Ada beberapa faktor tidak langsung penyebab karies. Faktor-faktor tersebut

adalah sebagai berikut.

a. Faktor Host (Tuan Rumah)

Ada beberapa hal yang dihubungkan dengan gigi sebagai tuan rumah terhadap

karies gigi (ukuran dan bentuk gigi), struktur enamel (email), faktor kimia dan

kristalografis, saliva. Kawasan-kawasan yang mudah diserang karies adalah pit dan

fisure pada permukaan oklusal dan premolar. Permukaan gigi yang kasar juga dapat

menyebabkan plak yang mudah melekat dan membantu perkembangan karies gigi.

Kepadatan kristal enamel sangat menentukan kelarutan enamel. Semakin banyak

enamel mengandung mineral maka kristal enamel semakin padat dan enamel akan

semakin resisten. Gigi susu lebih mudah terserang karies dari pada gigi tetap, hal ini

dikarenakan gigi susu lebih banyak mengandung bahan organik dan air dari pada

mineral, dan secara kristalografis mineral dari gigi tetap lebih padat bila

dibandingkan dengan gigi susu. Alasan mengapa susunan kristal dan mineralisasi gigi

susu kurang adalah pembentukan maupun mineralisasi gigi susu terjadi dalam kurun

waktu 1 tahun sedangkan pembentukan dan mineralisasi gigi tetap 7-8 tahun. Saliva

mampu meremineralisasikan karies yang masih dini karena banyak sekali

mengandung ion kalsium dan fosfat. Kemampuan saliva dalam melakukan

remineralisasi meningkat jika ada ion fluor. Selain mempengaruhi komposisi

mikroorganisme di dalam plak, saliva juga mempengaruhi pH (Rasinta, 1990).

b. Faktor Agent (Mikroorganisme)

Plak gigi memegang peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies.

Plak adalah suatu lapisan lunak yang terdiri atas kumpulan mikroorganisme yang
9

berkembang biak di atas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada

permukaan gigi yang tidak dibersihkan.

Komposisi mikroorganisme dalam plak berbeda-beda, pada awal

pembentukan plak, kokus gram positif merupakan jenis yang paling banyak dijumpai

seperti Streptococcus mutans, Streptococcus sanguis, Streptococcus mitis,

Streptococcus salivarus, serta beberapa strain lainnya, selain itu dijumpai juga

Lactobacillus dan beberapa beberapa spesies Actinomyces. Plak bakteri ini dapat

setebal beratus-ratus bakteri sehingga tampak sebagai lapisan putih. Secara

histometris plak terdiri dari 70% sel-sel bakteri dan 30% materi interseluler yang

pada pokoknya berasal dari bakteri (Rasinta, 1990).

c. Pengaruh Substrat atau Diet

Faktor subtrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena

membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada

permukaan enamel. Selain itu, dapat mempengaruhi metabolisme bakteri dalam plak

dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi asam serta

bahan lain yang aktif yang menyababkan timbulnya karies.

Dibutuhkan waktu minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat yang

menempel pada gigi untuk membentuk asam dan mampu mengakibatkan

demineralisasi email. Karbohidrat ini menyediakan substrat untuk pembuatan asam

bagi bakteri dan sintesa polisakarida ekstra sel.

Orang yang banyak mengkonsumsi karbohidrat terutama sukrosa cenderung

mengalami kerusakan gigi, sebaliknya pada orang dengan diet banyak mengandung

lemak dan protein hanya sedikit atau sama sekali tidak memliki karies gigi. Hal ini
10

dikarenakan adanya pembentukan ekstraseluler matriks (dekstran) yang dihasilkan

karbohidrat dari pemecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Glukosa ini

dengan bantuan Streptococcus mutans membentuk dekstran yang merupakan matriks

yang melekatkan bakteri pada enamel gigi. Oleh karena itu sukrosa merupakan gula

yang paling kariogenik (makanan yang dapat memicu timbulnya kerusakan/karies

gigi atau makanan yang kaya akan gula). Sukrosa merupakan gula yang paling

banyak dikonsumsi, maka sukrosa merupakan penyebab karies yang utama.

Makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan pH

plakdengan cepat sampai pada level yang dapat menyebabkan demineralisasi email.

Plak akan tetap bersifat asam selama beberapa waktu. Untuk kembali ke pH normal

sekitar 7, dibutuhkan waktu 30-60 menit. Oleh karena itu, konsumsi gula yang sering

dan berulang-ulang akan tetap menahan pH plak di bawah normal dan menyebabkan

demineralisasiemail (Rasinta, 1990).


11

d. Faktor Waktu

Secara umum, karies dianggap sebagai penyakit kronis pada manusia yang

berkembang dalam waktu beberapa bulan atau tahun.4 Adanya kemampuan saliva

untuk mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses karies,

menandakan bahwa proses karies tersebut terdiri atas perusakan dan perbaikan yang

silih berganti. Adanya saliva di dalam lingkungan gigi mengakibatkan karies tidak

menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau

tahun. Lamanya waktu yang dibutuhkan karies untuk berkembang menjadi suatu

kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6-48 bulan. Dengan demikian sebenarnya

terdapat kesempatan yang baik untuk menghentikan penyakit ini (Rasinta, 1990).

e. Kebiasaan Makan

Pada zaman modern ini, banyak kita jumpai jenis-jenis makanan yang bersifat

manis, lunak dan mudah melekat misalnya permen, coklat, bolu, biscuit dan lain-lain.

Di mana biasanya makanan ini sangat disukai oleh anak-anak. Makanan ini karena

sifatnya yang lunak maka tidak perlu pengunyahan sehingga gampang melekat pada

gigi dan bila tidak segera dibersihkan maka akan terjadi proses kimia bersama dengan

bakteri dan air ludah yang dapat merusak email gigi (Rasinta, 1990)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan makan pada dasarnya adalah:

1. Faktor ekstrinsik (yang berasal dari luar manusia) seperti lingkungan alam,

lingkungan sosial, lingkungan budaya serta lingkungan ekonomi.


2. Faktor intrinsik (yang berasal dari dalam diri manusia), seperti: asosiasi

emosional, keadaan jasmani dan kejiwaan yang sedang sakit serta penilaian

yang lebih terhadap mutu makanan juga merupakan faktor intrinsik.


12

Penelitian Nizel (1981) pada anak umur 6 tahun di Inggris yang dikutip oleh

Kosasih (2007) menguraikan bahwa makanan yang berbentuk lunak dan lengket

dapat berpengaruh terhadap terjadinya penyakit karies gigi. Beliau juga menguraikan

tentang adanya hubungan antara zat gizi seperti vitamin dan mineral, protein hewani

dan nabati, serta karbohidrat yang terkandung dalam makanan sehari-hari dapat

mempengaruhi terjadinya penyakit karies gigi. Hal ini yang perlu mendapat perhatian

tidak hanya nutrisi saja, tetapi cara mengonsumsi jenis makanan dan waktu

pemberian, karena semua ini akan mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut. Sukrosa

adalah salah satu jenis karbohidrat yang terkandung dalam makanan lainnya yang

merupakan substrat untuk pertumbuhan bakteri yang pada akhirnya akan

meningkatkan proses terjadinya karies gigi (Rasinta, 1990).

2. Faktor tidak langsung

Selain faktor langsung (etiologi), juga terdapat faktor-faktor tidak langsung

yang disebut sebagai faktor resiko luar, yang merupakan faktor predisposisis dan

faktor penghambat terjadinya karies yaitu umur, jenis kelamin, sosial ekonomi,

penggunaan fluor, jumlah bakteri, dan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan

gigi. Perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan mulut khususnya karies tidak

terlepas dari kebiasaan merokok/penggunaan tembakau, konsumsi alkohol,

kebersihan rongga mulut yang tidak baikdan diet makanan (Rasinta, 1990).

a. Umur
13

Hasil studi menunjukkan bahwa lesi karies dimulai lebih sering pada umur

yang spesifik. Hal ini berlaku terutama sekali pada umur anak-anak namun juga pada

orang dewasa. Kelompok umur berisiko tersebut adalah:

1. Umur 1-2 tahun

Studi oleh Kohler et all (1978,1982), bahwa pada ibu-ibu dengan saliva yang

mengandung banyak Streptococcus mutans sering menularkannya kepada bayi

mereka segera setelah gigi susunya tumbuh, hal ini menyebabkan tingginya

kerentanan terhadap karies.

2. Umur 5-7 tahun

Studi oleh Carvalho et all (1989) menunjukkan bahwa pada masa ini

permukaan oklusal (kunyah) gigi molar pertama sedang berkembang, pada masa ini

gigi rentan karies sampai maturasi kedua (pematangan jaringan gigi) selesai selama 2

tahun.

3. Umur 11-14 tahun

Merupakan usia pertama kali dengan gigi permanen keseluruhan. Pada masa

ini gigi molar kedua rentan terhadap karies sampai maturasi kedua selesai.

4. Umur 19-22 tahun


Adalah kelompok umur berisiko pada usia remaja. Pada masa ini gigi molar

ke tiga rentan karies sampai maturasi keduanya selesai. Di usia ini pula biasanya

orang-orang meninggalkan rumah untuk belajar atau bekerja di tempat lain, yang

selanjutnya dapat menyebabkan perubahan tidak hanya gaya hidup tapi juga pada

kebiasaan makan dan menjaga kebersihan mulut (Rasinta, 1990).

b. Jenis Kelamin
14

Dari pengamatan yang dilakukan Milhann-Turkeheim pada gigi M1, didapat

hasil bahwa persentase karies gigi pada wanita adalah lebih tinggi dibanding pria.

Selama masa kanak-kanak dan remaja, wanita menunjukkan nilai DMF yang lebih

tinggi dari pada pria. Walaupun demikian, umumnya oral higiene wanita lebih baik

sehingga komponen gigi yang hilang (M=Missing) lebih sedikit (Rasinta, 1990).

c. Sosial Ekonomi

Karies dijumpai lebih rendah pada kelompok sosial ekonomi rendah dan

sebaliknya. Hal ini dikaitkan dengan lebih besarnya minat hidup sehat pada kelompok

sosial ekonomi tinggi.

Menurut Tirthankar (2002), ada dua faktor sosial ekonomi yaitu pekerjaan dan

pendidikan. Pendidikan adalah faktor kedua terbesar yang mempengaruhi status

kesehatan. Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi akan memiliki

pengetahuan dan sikap yang baik tentang kesehatan sehingga akan mempengaruhi

perilakunya untuk hidup sehat. Dalam penelitiannya, Paulander, Axelsson dan Lindhe

(2003) melaporkan jumlah gigi yang tinggal di rongga mulut pada usia 35 tahun

sebesar 26,6% pada pendidikan tinggi sedangkan pada pendidikan rendah sebesar

25,8%. Hasil penelitian Sondang Pintauli dkk, dijumpai DMF-T rata-rata sebesar 7,63

dengan DMF-T rata-rata lebih rendah pada ibu-ibu rumah tangga dengan tingkat

pendidikan tinggi bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan menengah dan tingkat

pendidikan rendah (Rasinta, 1990).

d. Penggunaan Fluor

Menurut Rugg-Gunn (2000) di Inggris menyatakan bahwa penggunaan fluor

sangat efektif untuk menurunkan prevalensi karies, walaupun penggunaan fluor


15

tidaklah merupakan satusatunya cara mencegah gigi berlubang. Demikian halnya

penelitian yang dilakukan Dr. Trendly Dean dilaporkan bahwa ada hubungan timbal

balik antara konsentrasi fluor dalam air minum dengan prevalensi karies. Penelitian

epidemiologi Dean ditandai dengan perlindungan terhadap karies secara optimum dan

terjadinya mottled enamel (keadaan email yang berbintik-bintik putih, kuning, atau

coklat akibat kelebihan fluor/fluorosis) yang minimal apabila konsentrasi fluor

kurang dari 1 ppm (Rasinta, 1990).

e. Pola Makan

Setiap kali seseorang mengkonsumsi makanan dan minuman yang

mengandung karbohidrat, maka beberapa bakteri penyebab karies di rongga mulut

akan mulai memproduksi asam sehingga pH saliva menurun dan terjadi

demineralisasi yang berlangsung selama 20-30 menit setelah makan. Di antara

periode makan, saliva akan bekerja menetralisir asam dan membantu proses

remineralisasi. Namun, apabila makanan berkarbonat terlalu sering dikonsumsi, maka

email gigi tidak akan mempunyai kesempatan untuk melakukan remineralisasi

dengan sempurna sehingga terjadi karies. Misalnya, derajat penderita karies gigi di

Palembang relatif tinggi. Salah satu penyebabnya adalah makanan yang berpotensi

menimbulkan kerusakan gigi, yaitu empekempek. Empek-empek terbuat dari sagu,

sehingga mengandung karbohidrat dan zat gula. Karbohidrat yang tinggi akan

membuat karang gigi menjadi tebal. Kandungan cuka dalam cairan yang ditambahkan

pada empek-empek juga tidak bagus untuk gigi, khususnya juga untuk anak di bawah

usia delapan tahun. Kandungan fluor dalam gigi anak usia di bawah delapan tahun

belum kuat menahan cuka (Rasinta, 1990).


16

f. Kebersihan Mulut (Oral Higiene)

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu komponen dalam pembentukan

karies adalah plak. Telah dicoba membandingkan insidens karies gigi selama 2 tahun

pada 429 orang mahasiswa yang menyikat giginya dengan teratur setiap habis makan

dengan mahasiswa yng menyikat giginya pada waktu bangun tidur dan malam pada

waktu sebelum tidur, ternyata bahwa golongan mahasiswa yang menyikat giginya

secara teratur rata-rata 41% lebih sedikit kariesnya dibandingkan dengan golongan

lainnya (Rasinta, 1990).

g. Merokok

Nicotine yang dihasilkan oleh tembakau dalam rokok dapat menekan aliran

saliva, yang menyebabkan aktivitas karies meningkat. Dalam hal ini karies ditemukan

lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok (Rasinta, 1990).

2.4.2 Proses terjadinya karies

Penyebab utama karies adalah adanya proses demineralisasi pada email.

Seperti kita ketahui bahwa email adalah bagian terkeras dari gigi, bahkan paling keras

dan padat di seluruh tubuh. Sisa makanan yang bergula (termasuk karbohidrat) atau

susu yang menempel pada permukaan email akan bertumpuk menjadi plak, dan

menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri. Bakteri yang menempel pada

permukaan bergula tersebut akan menghasilkan asam dan melarutkan permukaan

email sehingga terjadi proses demineralisasi. Demineralisasi tersebut mengakibatkan

proses awal karies pada email. Bila proses ini sudah terjadi maka terjadi progresivitas

yang tidak bisa berhenti sendiri, kecuali dilakukan pembuangan jaringan karies dan
17

dilakukan penumpatan (penambalan) pada permukaan gigi yang terkena karies oleh

dokter gigi (Joyston, 2002).


1. Tahap-tahap terjadinya karies
a. Gigi yang sehat
Email adalah lapisan luar yang keras seperti kristal luar. Dentin adalah lapisan

yang lebih lembut di bawah email. Kamar pulpa berisi nerves dan pembuluh

darah. Merupakan bagian hidup dari gigi.


b. Lesi putih
Bakteri yang tertarik kepada gula dan karbohidrat akan membentuk asam.

Asam akan menyerang crystal apatit proses ini dikenal dengan proses

demineralisasi. Tanda yang pertama ini ditandai dengan adanya suatu noda

putih atau lesi putih. Pada tahap ini, proses terjadinya karies dapat

dikembalikan.
c. Karies email
Proses demineralisasi berlanjut email mulai pecah. Sekali ketika permukaan

email rusak, gigi tidak bisa lagi memperbaiki dirinya sendiri. Kavitas harus

dibersihkan dan direstorasi oleh dokter gigi.


d. Karies dentin
Karies sudah mencapai ke dalam dentin, dimana karies ini dapat menyebar

dan mengikis email.


e. Karies Mencapai Pulpa
Jika karies dibiarkan tidak dirawat, akan mencapai pulpa gigi. Disinilah

dimana saraf gigi dan pembuluh darah dapat ditemukan. Pulpa akan terinfeksi

dan abses atau fistula (jalan dari nanah) dapat terbentuk dalam jaringan ikat

yang halus (Joyston, 2002).


2. Tanda dan gejala
Dental explorer adalah salah satu alat diagnostik karies. Seseorang sering

tidak menyadari bahwa ia menderita karies sampai penyakit berkembang lama. Tanda

awal dari lesi karies adalah sebuah daerah yang tampak berkapur di permukaan gigi
18

yang menandakan adanya demineralisasi. Daerah ini dapat menjadi tampak coklat

dan membentuk lubang. Proses sebelum ini dapat kembali ke asal (reversibel), namun

ketika lubang sudah terbentuk maka struktur yang rusak tidak dapat diregenerasi.

Sebuah lesi tampak coklat dan mengkilat dapat menandakan karies. Daerah coklat

pucat menandakan adanya karies yang aktif (Joyston, 2002).


Bila enamel dan dentin sudah mulai rusak, lubang semakin tampak. Daerah

yang terkena akan berubah warna dan menjadi lunak ketika disentuh. Karies

kemudian menjalar ke saraf gigi, terbuka, dan akan terasa nyeri. Nyeri dapat

bertambah hebat dengan panas, suhu yang dindin, dan makanan atau minuman yang

manis. Karies gigi dapat menyebabkan nafas tak sedap dan pengecapan yang buruk.

Dalam kasus yang lebih lanjut, infeksi dapat menyebar dari gigi ke jaringan lainnya

sehingga menjadi berbahaya (Joyston, 2002).


3. Diagnosis
Diagnosis pertama memerlukan inspeksi atau pengamatan pada semua

permukaan gigi dengan bantuan pencahayaan yang cukup, kaca gigi, dan eksplorer.

Radiografi gigi dapat membantu diagnosis, terutama pada kasus karies

interproksimal. Karies yang besar dapat langsung diamati dengan mata telanjang.

Karies yang tidak ekstensif dulu dibantu dengan menemukan daerah lunak pada gigi

dengan eksplorer (Joyston, 2002).


Beberapa peneliti gigi telah memperingatkan agar tidak menggunakan

eksplorer untuk menemukan karies. Pada kasus dimana sebuah daerah kecil pada gigi

telah mulai untuk demineralisasi namun belum membentuk lubang, tekanan pada

eksplorer dapat merusak dan membuat lubang.


Teknik yang umum digunakan untuk mendiagnosis karies awal yang belum

berlubang adalah dengan tiupan udara melalui permukaan yang disangka, untuk
19

membuang embun, dan mengganti peralatan optis. Hal ini akan membentuk sebuah

efek "halo" dengan mata biasa. Transiluminasi serat optik direkomendasikan untuk

mendiagnosis karies kecil (Joyston, 2002).

2.4.3 Klasifikasi Karies

Secara umum, karies diklasifikasikan berdasarkan stadium karies, dan

keparahan atau kecepatan berkembangnya. (Iyod, 1997).

1. Berdasarkan Stadium Karies (dalamnya karies)


a. Karies Superfisialis, di mana karies baru mengenai enamel saja, sedang dentin

belum terkena.
b. Karies Media, di mana karies sudah mengenai dentin, tetapi belum melebihi

setengah dentin.
c. Karies Profunda, di mana karies sudah mengenai lebih dari setengah dentin

dan kadang-kadang sudah mengenai pulpa.


2. Berdasarkan Keparahan atau Kecepatan Berkembangnya
a. Karies Ringan
Kasusnya disebut ringan jika serangan karies hanya pada gigi yang paling

rentan seperti pit (depresi yang kecil, besarnya seujung jarung yang terdapat

pada permukaan oklusal dari gigi molar) dan fisure (suatu celah yang dalam

dan memanjang pada permukaan gigi) sedangkan kedalaman kariesnya hanya

mengenai lapisan email(iritasi pulpa)


b. Karies Sedang
Kasusnya dikatakan sedang jika serangan karies meliputi permukaan oklusal

dan aproksimal gigi posterior. Kedalaman karies sudah mengenai lapisan

dentin (hiperemi pulpa)

c. Karies Berat/Parah
Kasusnya dikatakan berat jika serangan juga meliputi gigi anterior yang

biasanya bebas karies. Kedalaman karies sudah mengenai pulpa, baik pulpa
20

tertutup maupun pulpa terbuka (pulpitis dan gangren pulpa). Karies pada gigi

anterior dan posterior sudah meluas ke bagian pulpa.


Menurut Parkin dalam G.V. Black bahwa klasifikasi karies gigi dapat dibagi atas

5, yaitu:

a. Kelas I adalah karies yang mengenai permukaan oklusal gigi posterior.

b. Kelas II adalah karies gigi yang sudah mengenai permukaan oklusal dan

bagian aproksimal gigi posterior.

c. Kelas III adalah karies yang mengenai bagian aproksimal gigi anterior.

d. Kelas IV adalah karies yang sudah mengenai bagian aproksimal dan meluas

ke bagian insisal gigi anterior

e. Kelas V adalah karies yang sudah mengenai bagian servikal gigi (Iyod 1997).

2.4.4 Pencegahan dan Perawatan Karies

a. Pencegahan Primordial

Tindakan ini ditujukan pada kesempurnaan struktur enamel dan dentin atau

gigi pada umumnya. Seperti kita ketahui yang mempengaruhi pembentukan dan

pertumbuhan gigi kecuali protein untuk pembentukan matriks gigi, vitamin (vitamin

A, vitamin C, vitamin D) dan mineral (Calcium, Phosfor, Fluor, dan Magnesium) juga

dibutuhkan. Pada ibu-ibu yang sedang mengandung sebaiknya diberikan kalsium

yang diberikan dalam bentuk tablet, dan air minum yang mengandung fluor karena

hal ini akan berpengaruh terhadap pembentukan enamel dan dentin bayi yang akan

dilahirkan (Sihotang 2010).

b. Pencegahan Primer
21

1. Upaya meningkatkan kesehatan (health promotion)


Upaya promosi kesehatan meliputi pengajaran tentang cara menyingkirkan

plak yang efektif atau cara menyikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung fluor

dan menggunakan benang gigi (dental floss) (Sihotang 2010).

2. Memberikan perlindungan khusus (spesific protection)

Upaya perlindungan khusus yaitu untuk melindungi host dari serangan

penyakit dengan membangun penghalang untuk melawan mikroorganisme. Aplikasi

pit dan fisurre sealant merupakan upaya perlindungan khusus untuk mencegah karies

(Sihotang 2010).

c. Pencegahan Sekunder

Yaitu untuk menghambat atau mencegah penyakit agar tidak berkembang atau

kambuh lagi. Kegiatannya ditujukan pada diagnosa dini dan pengobatan yang tepat.

Sebagai contoh melakukan penambalan pada gigi dengan lesi karies yang kecil dapat

mencegah kehilangan struktur gigi yang luas (Sihotang 2010).


22

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan

pendekatan survei.

3.2. Identifikasi Variabel

Identifikasi variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah prevalensi karies,

frekuensi karies, rerata karies, RTI, dan PTI.

3.3. Definisi Operasional

1. Frekuensi karies gigi adalah banyaknya riwayat karies pada gigi berdasarkan

kriteria def-t/ DMF-T yang didalamnya terdapat pengukuran RTI dan PTI.

2. Prevalensi karies merupakan bagian dari suatu kelompok masyarakat yang

terkena suatu penyakit dalam hal ini adalah karies atau suatu keadaan pada

kurun waktu tertentu.

3. Rerata karies adalah hasil perhitungan dari pengalaman kerusakan seluruh gigi

yang rusak, yang dicabut dan ditambal (DMF-T) ditambah dengan jumlah gigi

sulung seluruhnya yang telah terkena karies (def-t) dibagi jumlah responden

yang diperiksa.
4. RTI adalah tingkat kebutuhan akan perawatan tumpatan gigi yang karies.

5. PTI adalah tingkat untuk mengetahui motivasi perawatan gigi.


23

6. Indeks karies gigi adalah angka yang menunjukan klinis penyakit karies

gigi.

3.4. Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi di SD Negeri Catur Kintamani

Bangli sejumlah 30 orang.

3.5. Instrumen Penelitian

1. Gigi sulung menggunakan indeks def-t, yaitu :


a) d (decay) : gigi sulung yang mengalami karies dan tumpatan sementara

tapi masih bisa ditambal tetap.


b) e (exfoliated) : gigi sulung yang telah atau akan dicabut oleh karena

karies.
c) f (filling) : gigi sulung yang telah ditumpat karena karies dan tumpatannya

masih baik.
2. Gigi permanen menggunakan indeks DMF-T, yaitu :
a) D (Decay) : gigi permanen yang mengalami karies dan tumpatan tapi

masih bisa ditambal tetap.


b) M (Missing): gigi permanen yang telah atau akan dicabut oleh karena

karies.
c) F (Filling) : gigi permanen yang telah ditumpat karena karies dan

tumpatannya masih baik.


3. Indikator keberhasilan kesehatan gigi dan mulut anak usia sekolah di

Indonesia adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Indikator keberhasilan kesehatan gigi dan mulut anak usia sekolah di

Indonesia

Indikator Target tahun 2000 Target tahun 2010


DMF-T <3 1
24

OHI-S < 2 ( Kriteria baik) < 2 ( Kriteria baik)


PTI (F/DMF-T) > 50% > 50%
RTI < 20% < 20%
Sumber : Depkes (2007)

Keterangan :

DMF-T : ( D = Decay, M = Missing, F = Filling, T = Tooth ),

OHI-S : Oral Hygiene Indeks-Simplified, PTI : Performance Treatment

Indeks

Tabel 2. Indikator Frekuensi Karies, RTI, dan PTI

Kategori Frekuensi Karies RTI PTI


Rendah 0 – 1,67 0,01 – 0,33 1–2
Sedang 1,68 – 3,35 0,34 – 0,66 3 – 10
Tinggi 3,36 – 5 0,67 – 1,00 > 10
Sumber : Depkes (2007)

3.6. Alat dan Bahan Penelitian

1. Alat :
a. Alat oral diagnosa (kaca mulut, sonde, pinset, excavator)
b. Masker
c. Handscoon
d. Nierbeken
e. Lap putih
f. Gelas kumur
g. Alat tulis
h. Formulir Penelitian
2. Bahan:
a. Alkohol 70%
b. Kapas
c. Betadine
d. Kasa Steril
e. Detol
f. Aquadest
25

3.7. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Hari /Tanggal : Rabu, 6 September 2017


2. Waktu : 09.00 – 13.00 WITA
3. Tempat : SD Negeri Catur Kintamani Bangli

3.8. Jalannya Penelitian

1. Mendramakan materi penyuluhan kesehatan gigi dan mulut.


2. Melaksanakan sikat gigi bersama.
3. Mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk penelitian

terlebih dahulu.
4. Sampel yang telah dikumpulkan dilakukan pemeriksaan giginya dengan

dengan menggunakan alat diagnosa.


5. Hasil penelitian dicatat dalam formulir penelitian.
6. Data yang diperoleh kemudian diolah sehingga menjadi suatu informasi.

3.9. Analisis Data

Untuk menghitung prevalensi karies, frekuensi karies, rerata karies, RTI, PTI

pada siswa-siswi di SD Negeri Catur Kintamani Bangli, digunakan rumus sebagai

berikut :
1. Prevalensi Karies (P) = jumlah responden dengan riwayat karies
X 100%
2. Frekuensi karies = (D + M + F) + Jumlah
(d + e +responden
f)
3. Rerata Karies ( x ) = def + DMF

4. Required Treatment Index (RTI)responden


Jumlah = D+d
X 100%
(DMF-T) + (def-t)
5. Performent Treatment Index (PTI) = F+f
X 100%
(DMF-T) + (def-t)
26

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada siswa-siswi di SD Negeri

Catur Kintamani Bangli maka diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Karies Pada Siswa-Siswi SD Negeri Catur Kintamani

Bangli

Umur Range
N P L D M F d E F total P X RTI PTI
(Tahun) x
30 12 18 5-13 th 0–7 13 0 0 9 14 0 36 36,6% 1,2 61,1% 0%

Keterangan :
P = Perempuan
L = Laki – Laki
Range x = Rentang karies terendah sampai tertinggi siswa-siswi SD Negeri Catur
Kintamani Bangli
D = Gigi permanen yang mengalami karies tetapi masih bisa ditambal tetap
M = Gigi permanen yang telah atau akan dicabut karena karies
F = Gigi permanen yang telah ditumpat karena karies dan tumpatannya
masih baik
d = Gigi sulung yang mengalami karies tetapi masih bisa ditambal tetap
e = Gigi sulung yang telah atau akan dicabut oleh karena karies
f = Gigi sulung yang telah ditumpat karena karies dan tumpatannya masih
baik
total = banyaknya gigi dengan riwayat karies
P = Prevalensi karies
X = Rerata karies
RTI = Kebutuhan perawatan khususnya untuk penambalan gigi
PTI = Motivasi seseorang untuk menumpat gigi yang berlubang

Berdasarkan tabel di atas maka dapat diuraikan distribusi frekuensi karies

pada siswa-siswi SD Negeri Catur Kintamani Bangli sebagai berikut:


27

a. Dari 30 responden yang diteliti, responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 18

orang dan responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 12 orang.


b. Dari 30 responden tersebut, jumlah anak yang menderita karies adalah sebesar

36,6%. Jumlah anak yang menderita karies sebanyak 11 orang dan yang tidak

mengalami karies sebanyak 19 orang. Jumlah gigi sulung yang mengalami karies

adalah sebesar 9 gigi. Jumlah gigi sulung yang mengalami karies dan indikasi

untuk dicabut adalah sebanyak 14 gigi dan tidak ada gigi sulung yang sudah

ditumpat. Gigi permanen yang mengalami karies sebanyak 13 gigi, tidak ada gigi

permanen yang telah dicabut, dan tidak ada gigi permanen yang telah ditumpat.
c. Range karies berkisar antara 0 – 7 dengan rerata karies yang diperoleh adalah 1,2

yang termasuk kategori tinggi (Depkes 2010) yang berarti bahwa setiap siswa

mempunyai riwayat karies sebanyak 1 gigi (dibulatkan ke atas).


d. Required Treatment Indeks (RTI) yang didapat adalah sebesar 61,1%. Hal ini

menunjukkan tingkat kebutuhan perawatan khususnya untuk penambalan gigi

tinggi.
e. Performance Treatment Indeks (PTI) yang didapat adalah 0%. Hal ini berarti

siswa tidak memiliki motivasi untuk merawat giginya.


28

BAB V

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 30 siswa-siswi di SD Negeri Catur

Kintamani Bangli pada hari Rabu tanggal 6 September 2017, didapatkan hasil bahwa

prevalensi karies sebesar 73,33% dan tergolong tinggi. Gigi siswa yang masih dapat

dirawat (RTI) sebesar 87,44% serta gigi anak yang sudah mendapatkan perawatan

(PTI) sebesar 0,23%.

Prevalensi karies pada siswa-siswi kelas 4,5, dan 6 SDN 4 Yangapi yang

tergolong tinggi menunjukkan bahwa kesadaran untuk menjaga kesehatan gigi dan

mulut seperti kesadaran untuk menyikat gigi masih kurang, cara menyikat gigi yang

masih salah dan tentunya masih kurangnya mendapatkan informasi dan pendidikan

tentang kesehatan gigi dan mulut, sehingga gigi yang memerlukan perawatan masih

cukup tinggi (RTI = 87,44%), dan gigi yang sudah menjalani perawatan sangat

rendah (PTI = 0,23%) yang menandakan bahwa kesadaran siswa untuk secara

periodik ke dokter gigi ataupun ke tempat pelayanan kesehatan masih sangat minim.

Hasil survei ini sejalan dengan hasil evaluasi evaluasi yang dilakukan oleh

Budayani dkk (2010) pada siswa SD pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut yang

menunjukkan bahwa prevalensi karies gigi mencapai 62,16% dan tergolong tinggi.

Indek DMF-T rata-rata adalah 2,12 sedangkan target nasional untuk tahun 2010 < 2.

Indeks OHI-S rata-rata adalah 1,46 sedangkan target nasional untuk tahun 2010 < 1,2.
29

Besar kecilnya faktor resiko terhadap timbulnya karies gigi dipengaruhi oleh

pengetahuan, kesadaran dan kebiasaan mereka dalam merawat kesehatan gigi.

Pengetahuan yang perlu dimiliki oleh siswa-siswi antara lain yang berkaitan dengan

cara membersihkan gigi dan merawat gigi, serta jenis makanan yang dikonsumsi.

Pengetahuan yang diperoleh siswa biasanya didapatkan dari orang tua masing-

masing. Kebiasaan orang tua yang tidak melarang anaknya untuk mengurangi makan

makanan yang manis menyebabkan konsumsi yang berlebihan akan makanan

tersebut. Selain itu, faktor pengetahuan orang tua mengenai apa itu gigi berlubang,

bagaimana cara mencegah serta cara menyikat gigi yang benar belum seratus persen

diketahui secara baik oleh orang tua siswa dan juga tidak diajarkan sejak dini kepada

anaknya masing-masing.

Jika karies tidak ditangani akan menghancurkan sebagian besar gigi dan

menyebarkan kejaringan sebelahnya sehingga menyebabkan sakit dan infeksi. Selain

itu, karies juga bisa mengganggu asupan gigi anak karena susah mengkonsumsi

makanan berserat.

Secara teoritis ada 3 cara untuk mencegah karies yaitu menghilangkan

substrat karbohidrat (mengurangi frekuensi konsumsi gula dan membatasinya pada

saat makan saja), meningkatkan ketahanan gigi (email dan dentin yang terbuka dapat

dibuat lebih resisten terhadap karies dengan pemakaian fluor dan pemakaian resin

pada pit dan fissure yang dalam), serta menghilangkan plak (menyikat gigi dan

pembersihan karang gigi) (Dharmawati, Dwiastuti dan Ratmini, 2007).


30

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada siswa-siswi kelas 4,5, dan 6 SDN 4

Yangapi menunjukkan bahwa siswa-siswa tersebut memiliki tingkat kebutuhan

perawatan yang tinggi, dan motivasi mereka untuk melakukan perawatan gigi masih

rendah. Hal ini dilihat dari prevalensi karies atau jumlah anak yang menderita karies

adalah sebanyak 56 orang dan yang tidak mengalami karies sebanyak 14 orang, rerata

karies yang diperoleh sebesar 4,78 yang termasuk kategori tinggi yang berarti bahwa

setiap siswa mempunyai riwayat karies sebanyak 5 gigi, required treatment index

yang didapat sebesar 73,33%, yang menunjukkan tingkat kebutuhan perawatan

khususnya untuk penambalan gigi tinggi, dan performance treatment index sebesar

0,23% yang berarti siswa memiliki motivasi yang rendah dalam merawat giginya.

5.2. Saran

1. Disarankan agar siswa-siswi kelas 4,5,dan 6 SDN 4 Yangapi dapat

meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan cara

memberikan contoh-contoh penyakit gigi.

2. Disarankan kepada petugas kesehatan gigi dan mulut agar mempersiapkan

program sikat gigi massal setiap minggunya.

3. Kepada guru dan orang tua siswa, disarankan agar ikut memperhatikan dan

membantu anak-anaknya dalam menjaga kesehatan gigi dan mulutnya.


31

LAPORAN SURVEI KESEHATAN GIGI DAN MULUT

I. PENDAHULUAN

A. Batasan / Definisi

1. Survei Kesehatan Gigi dan Mulut

Survei kesehatan gigi dan mulut dilaksanakan untuk mengumpulkan data yang

diperlukan untuk mendiagnosis keadaan kesehatan gigi dan mulut yang terjadi di

masyarakat. Dari hasil diagnosis, kita akan memperoleh gambaran tentang kebutuhan

yang dirasakan oleh masyarakat sehingga kita dapat merencanakan Program

Kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut. Pengertian survei adalah

mengambil data pada sebagian orang yang akan diamati atau diukur dengan teknik

sampel (drg. Eliza Herijulianti, drg. Tati Svasti Indirani, drg. Sri Artini, M.Pd,

Pendidikan Kesehatan Gigi 2001, EGC, Jakarta).

Tujuan survei kesehatan gigi adalah menentukan status kesehatan gigi

masyarakat, baik macam penyakit gigi, prevalensi penyakit gigi, dan pola penyakit

gigi dan mulut serta mengumpulkan informasi atau keterangan yang berhubungan

dengan kesehatan gigi sebagai dasar suatu program pencegahan, misalnya kebiasaan

makanan, kebersihan dan kepercayaan (drg. Eliza Herijulianti, drg. Tati Svasti

Indirani, drg. Sri Artini, M.Pd, Pendidikan Kesehatan Gigi 2001, EGC, Jakarta).

2. Sekolah Dasar

Pendidikan Sekolah Dasar (SD) merupakan salah satu pendidikan usia dini

yang berumur 6-13 tahun. Pendidikan SD memiliki peran yang sangat penting untuk

pengembangan kepribadian anak, serta untuk mempersiapkan mereka untuk


32

memasuki jenjang pendidikan selanjutnya, dimana anak-anak SD diberikan

pengetahuan dan pendidikan pada tahap dasar sebagai tumbuh kembang . Tugas

utama SD adalah untuk mempersiapkan pendidikan akademis anak dengan

memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap, perilaku dengan cara yang

menyenangkan (Anis Fitria, 2013, Pendidikan Taman Kanak-Kanak dan SD).

3. Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)

UKGS merupakan bentuk kegiatan pokok kesehatan gigi dan mulut di

puskesmas dan pelaksanaannya terpadu dengan kegiatan pokok Usaha Kesehatan

Sekolah (UKS). Usaha Kesehatan Gigi Sekolah adalah bagian integral dari Usaha

Kesehatan Sekolah (UKS) dimana kegiatannya adalah melakukan pelayanan

kesehatan gigi dan mulut secara terencana kepada para siswa terutama siswa Taman

Kanak-Kanak (TK) dalam kurun waktu tertentu, diselenggarakan secara

berkesinambungan melalui paket UKS (Depkes RI, 1996).

UKGS merupakan upaya kesehatan yang sangat relevan dalam pelaksanaan

upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut. Program ini meliputi promotif, preventif,

kuratif, dan dititikberatkan pada upaya penyuluhan, gerakan sikat gigi masal, serta

pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut pada setiap siswa (Darwita dkk, 2011).

Perubahan perilaku individu dapat terjadi secara alamiah melalui lingkungan atau

masyarakat sekitarnya. Namun ada pula perubahan yang terjadi secara terencana dan

dilaksanakan secara sistematis, yaitu perubahan melalui pendidikan. UKGS

merupakan sarana dalam upaya mengubah perilaku siswa dalam memelihara dan

menjaga kesehatan gigi dan mulut siswa.


33

Tujuan UKGS yaitu:

1. Meningkatkan taraf kesehatan gigi anak-anak sekolah dengan jalan

mengadakan usaha preventif dan promotif.

2. Mengusahakan timbulnya kesadaran dan keyakinan bahwa untuk

meningkatkan taraf kesehatan gigi perlu pemeliharaan kebersihan mulut (oral

hygiene).

3. Mengusahakan agar anak-anak sekolah itu mau memelihara kebersihan

mulutnya dirumah (habit formation).

4. Meningkatkan taraf kesehatan gigi anak-anak sekolah dengan menjalankan

usaha kuratif apabila usaha prevensi gagal melalui sistem selektif.

5. Meningkatkan kesadaran kesehatan gigi dengan suatu sistem pembiayaan

yang bersifat praupaya (prepayment system).

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat suatu rumusan masalah

sebagai berikut :“Berapakah prevalensi karies, rerata karies, RTI, dan PTI pada murid

kelas 4,5,dan 6 SDN 4 Yangapi?”

C. Tujuan Survei Kesehatan Gigi dan Mulut

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi karies,

rerata karies, RTI, dan PTI murid kelas 4,5,dan 6 SDN 4 Yangapi.
D. Manfaat
34

Dapat menambah pengetahuan murid tentang pentingnya kesehatan gigi dan

mulut serta memberikan informasi kepada tenaga kesehatan untuk membuat rencana

program kesehatan gigi dan mulut yang lebih efektif dan efisien dalam pencegahan

dan penanganan terhadap penyakit gigi dan mulut murid kelas 4,5,dan 6 SDN 4

Yangapi.

II. PELAKSANAAN SURVEI KESEHATAN GIGI DAN MULUT

A. Penyuluhan Kesehatan Gigi dan Mulut

Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut ini dilaksanakan di SDN 4 Yangapi pada

hari Selasa, 4 Oktober 2016, dengan rincian sebagai berikut:

1. Kelas

Survei ini dilakukan di kelas 4,5, dan 6 SDN 4 Yangapi.

2. Jumlah Murid

Jumlah murid yang berpartisipasi dalam survei kesehatan gigi dan mulut ini

berjumlah 70 orang.
35

3. Materi Penyuluhan

A. Makanan yang dapat merusak gigi

Makanan sangat berpengaruh terhadap gigi dan mulut, pengaruh ini dapat

dibagi 2 yaitu :

a. Isi makanan yang menghasilkan energi misalnya karbohidrat, protein,

lemak, vitamin, serta mineral-mineral. Unsur-unsur tersebut diatas

berpengaruh pada masa pra-erupsi serta pasca erupsi dari gigi geligi.

b. Fungsi mekanis makanan yang dimakan. Makanan-makanan yang bersifat

membersihkan gigi, jadi merupakan gosok gigi alami, tentu saja akan

mengurangi kerusakan gigi. Makanan yang bersifat membersihkan gigi

adalah apel, jambu air, bengkuang dan lain sebagainya. Sebaiknya

makanan-makanan yang lunak dan melekat pada gigi amat merusak gigi

seperti permen, coklat, biskuit dan lain sebagainya (Tarigan, 1993).

B. Cara menggosok gigi

Menggosok gigi, setelah makan dan sebelum tidur adalah kegiatan rutin

sehari-hari. Tujuannya untuk memperoleh kesehatan gigi/mulut dan nafas

menjadi segar. Ada beberapa cara yang berbeda-beda dalam menggosok gigi,

yang perlu diperhatikan ketika menggosok gigi adalah (Aludia, 2009):

a) Cara menyikat harus dapat membersihkan semua deposit/kotoran pada

permukaan gigi dan gusi secara baik, terutama saku gusi dan ruang interdental

(ruang antar gigi);

b) Gerakan sikat gigi tidak merusak jaringan gusi dan mengabrasi lapisan gigi

dengan tidak memberikan tekanan berlebih;


36

c) Cara menyikat harus tepat dan efisien.

d) Frekuensi menyikat gigi umumnya 3 x sehari (setelah makan pagi, makan

siang dan sebelum tidur malam), atau minimal 2 x sehari (setelah makan pagi

dan sebelum tidur malam).

Cara menyimpan sikat gigi, yaitu sesudah menyikat gigi maka sikat gigi harus

dicuci bersih. Setelah itu digantung dengan kepala dibawah. Bila ditaruh maka

air tidak segera kering dan kuman yang tinggal akan berkembang biak. Tetapi

dengan digantung maka sikat gigi akan segera kering dan bersih dan kuman.

Tempat yang basah memungkinkan kuman menempel dan berkembang biak.

Ada beberapa macam cara menggosok gigi, diantaranya, (Kidd 1992):

a) Gerakan vertikal

Arah gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah dalam keadaan gigi atas dan

bawah bersentuhan. Gerakan ini untuk permukaan gigi yang menghadap ke

pipi (bukal/labial), sedangkan untuk permukaan gigi yang menghadap

lidah/langit-langit (lingual/palatal), gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah

dalam keadaan mulut terbuka. Cara ini terdapat kekurangan, yaitu bila

menggosok gigi tidak benar dapat menimbulkan resesi gingival/penurunan

gusi sehingga akar gigi terlihat.

b) Gerakan horizontal

Arah gerakan menggosok gigi ke depan ke belakang dari permukaan bukal

dan lingual. Gerakan menggosok pada bidang kunyah dikenal sebagai scrub

brush. Caranya mudah dilakukan dan sesuai dengan bentuk anatomi

permukaan kunyah. Kombinasi gerakan vertikal-horizontal, bila dilakukan


37

harus sangat hati-hati karena dapat menyebabkan resesi gusi/abrasi lapisan

gigi.

c) Teknik Stillman

Posisi bulu sikat sama dengan teknik Roll tetapi lebih dekat dengan mahkota

gigi, digerakkan maju mundur. Teknik ini dilakukan delapan kali daerah

interproksimal, membersmkan daan memijat.

d) Gerakan roll teknik/modifikasi Stillman

Cara ini, gerakannya sederhana, paling dianjurkan, efisien dan menjangkau

semua bagian mulut. Bulu sikat ditempatkan pada permukaan gusi, jauh dari

permukaan oklusal/bidang kunyah, ujung bulu sikat mengarah ke apex/ujung

akar, gerakan perlahan melalui permukaan gigi sehingga bagian belakang

kepala sikat bergerak dalam lengkungan. Pada waktu bulu sikat melalui

mahkota gigi, kedudukannya hampir tegak terhadap permukaan email. Ulangi

gerakan ini sampai lebih kurang 12 kali sehingga tidak ada yang terlewat.

Cara ini dapat menghasilkan pemijatan gusi dan membersihan sisa makanan

di daerah interproksimal/antara gigi. Dari sekian cara menggosok gigi,

memilih sikat gigi dan menggunakan pasta gigi, yang tersebar banyak di

pasaran.

e) Teknik Fone

Gigi dalam keadaan oklusi, bulu sikat gigi ditekan kuat-kuat dan digerakkan

melingkar selebar mungkin. Untuk permukaan oklusal lingual disikat dengan


38

gerakan maju mundur. Teknik ini baik untuk gigi yang lengkap dan

mempunyai oklusi yang baik.

f) Teknik Charter

Bulu sikat mengarah ke permukaan oklusal membentuk sudut 45 derajat. Sikat

ditekan sehingga serabutnya melengkung dengan ujung ditekan diantara dua

gigi. Kemudian dengan getaran dari gerakan memutar pada gagangnya, ujung

sikat dipertahankan pada posisi ini. Teknik ini dianjurkan untuk penderita

dengan daerah interdental yang terbuka.

g) Teknik Fisiologik

Menggunakan bulu sikat yang halus digerakkan dari arah sevikal ke oklusal

(dari akar ke mahkota gigi) dengan gerakan halus untuk memijat gusi. Teknik

ini tidak dianjurkan karena menyebabkan penurunan gusi.

h) Teknik Bass

Pada permukaan bukal, labial, dan lingual bulu sikat dimasukkan pada sulkus

gingiva membentuk sudut 45 derajat digerakkan pendek maju mundur. Karena

bulu sikat masuk sulkus maka semus sisa makanan dapat terlepas.
39

Gambar 4. Cara menyikat gigi yang benar

C. Kunjungan ke dokter gigi

Kontrol ke dokter gigi secara teratur diperlukan sebagai salah satu upaya

preventif, karena merekalah ahlinya dan terkadang kita sendiri seringkali

luput mengamati perubahan pada gigi dan gusi yang masih kecil. Bagi mereka

yang pemah menderita penyakit periodontal disarankan untuk control secara

teratur ke dokter gigi setiap 3 sampai 6 bulan sekali (Pintauli dan Hamada,

2008). Mengenai edukasi kebersihan mulut, Elderton dan Mjor (1998),

menyatakan bahwa sebaiknya dilakukan pada setiap kunjungan. Para dokter

gigi seharusnya tidak mengharapkan bahwa dengan sekali nasehat maka

pasien akan melakukan segala sesuatu yang diinstruksikannya. Tentu saja

edukasi ini harus dilakukan bervariasi supaya pasien tidak bosan.

4. Tenaga Pelaksana
40

Dalam pelaksanaan survei ini, tenaga pelaksana merupakan dokter gigi muda

Fakultas Kedokteran Gigi Mahasaraswati Denpasar yang terdiri dari 1 orang yaitu

Komang Wahyu Dwi Suspriyawan, S.KG

5. Hambatan

Dalam pelaksanaan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut, hambatan yang

dihadapi adalah interaksi dengan anak kurang, keterbatasan waktu, bekerja sendiri

memerlukan waktu lebih banyak.

B. Menyikat gigi massal

Menyikat gigi massal dilaksanakan di SDN 4 Yangapi pada hari Selasa, 4

Oktober 2016, dengan rincian sebagai berikut:

1. Kelas

Menyikat gigi massal dilakukan pada siswa-siswi di kelas 4,5 dan 6 SDN 4

Yangapi.

2. Jumlah Murid

Jumlah murid yang berpartisipasi dalam survei kesehatan gigi dan mulut ini

berjumlah 70 orang.

3. Tenaga Pelaksana

Dalam pelaksanaan menyikat gigi massal ini, tenaga pelaksana merupakan

dokter gigi muda Fakultas Kedokteran Gigi Mahasaraswati Denpasar yang terdiri

dari 1 orang yaitu Komang Wahyu Dwi Suspriyawan, S.KG

4. Hambatan
41

Dalam pelaksanaan menyikat gigi massal terdapat beberapa hambatan.

Hambatan-hambatan tersebut meliputi anak-anak menyikat gigi tidak mengikuti

cara yang telah diajarkan dan tidak tertib.

C. Penjaringan dan survei kesehatan gigi dan mulut

Penjaringan dan survei kesehatan gigi dan mulut ini dilaksanakan di SDN 4

Yangapi, Kecamatan Tembuku Kabpuaten Bangli pada hari Selasa, 4 Oktober 2016,

dengan rincian sebagai berikut:

1. Kelas

Survei ini dilakukan di kelas 4,5,dan 6 SDN 4 Yangapi

2. Jumlah Murid

Jumlah murid yang berpartisipasi dalam survei kesehatan gigi dan mulut

ini berjumlah 70 orang.

3. Tenaga Pelaksana

Dalam pelaksanaan survei ini, tenaga pelaksana merupakan dokter gigi

muda Fakultas Kedokteran Gigi Mahasaraswati Denpasar yang terdiri dari 1

orang yakni Komang Wahyu Dwi Suspriyawan, S.KG

4. Hambatan

Dalam pelaksanaan survei, terdapat beberapa hambatan. Hambatan-

hambatan tersebut meliputi keterbatasan waktu dan kurangnya tenaga

pelaksana. Tidak dilakukan survei pada kelas 4,5,dan 6 sebanyak 10 orang

dikarenakan permintaan dari guru untuk tidak dilakukan pemeriksaan dan

siswanya takut.
42

III. HASIL PENGOLAHAN DATA

Diketahui : Jumlah anak dengan riwayat karies = 56 anak


Jumlah sampel = 70 anak
D (Decay) = 2
M (Missing) = 0
F (Filling) = 0
d (decay) = 374
e (exfoliation) = 53
f (filling) = 1
DMF-T = 2
def-t = 428

Perhitungan:

56
1. Prevalensi Karies (P) = x 100% = 73,33%
70

430
2. Rerata Karies = x 100% = 4,78%
70

376
3. Required Treatment Index (RTI) = x 100% = 87,44%
430

1
4. Performent Treatment Index (PTI) = x 100% = 0,23%
430
43

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada siswa-siswi kelas 4,5, dan 6 SDN 4

Yangapi menunjukkan bahwa siswa-siswa tersebut memiliki tingkat kebutuhan

perawatan yang tinggi, namun motivasi mereka untuk melakukan perawatan gigi

masih rendah.

B. Saran

1. Disarankan agar siswa-siswi kelas 4,5, dan 6 SDN 4 Yangapi dapat

meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan gigi dan mulut, dengan cara

menggosok gigi dan meningkatkan peran UKGS di SDN 4 Yangapi.

2. Disarankan kepada petugas kesehatan gigi dan mulut agar mempersiapkan

program sikat gigi masal setiap minggunya.

3. Kepada guru dan orang tua siswa, disarankan agar ikut memperhatikan

dan membantu anak-anaknya sehingga membiasakan diri menjaga

kesehatan gigi dan mulutnya.

RENCANA PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT


44

DI TK 2 SARASWATI DENPASAR

Dari data survei penelitian yang telah dilakukan pada siswa-siswi kelas 4,5,

dan 6 SDN 4 Yangapi diperoleh hasil bahwa rata-rata karies adalah 4,78. Dengan

melihat data tersebut, maka saya mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas

Mahasaraswati Denpasar menyusun suatu langkah dalam upaya menurunkan

frekuensi karies pada anak tersebut. Adapun proses perencanaan program pelayanan

kesehatan gigi dan mulut yang akan diberikan adalah sebagai berikut:
A. Tahap Analisis Situasi
Ditetapkan tujuan program yang akan direncanakan yaitu menurunkan angka

rata-rata frekuensi karies pada siswa-siswi kelas 4,5, dan 6 SDN 4 Yangapi. Data

yang dikumpulkan adalah sebagai berikut :


1. Data dari pihak responden
a. Data kesehatan gigi
Prevalensi karies pada siswa-siswi kelas 4,5,dan 6 SDN 4 Yangapi adalah

sebesar 73,33%, yang disebabkan oleh:


1) Jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi para siswa yang bersifat

kariogenik
2) Kurangnya pengetahuan siswa mengenai Kesehatan Gigi dan Mulut
3) Kurang teraturnya frekuensi menyikat gigi serta kurang tepatnya cara

menyikat gigi para siswa


4) Kurangnya peran orang tua akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan

mulut siswa
b. Data yang berkaitan dengan sekolah
1) Jumlah siswa-siswi kelas 4,5, dan 6 SDN 4 Yangapi sebanyak 70 siswa.
2) Terbatasnya sarana dan prasarana UKGS di SDN 4 Yangapi.
3) Kurangnya peran guru dalam upaya pengawasan makanan dan minuman

yang dikonsumsi siswa.


2. Data dari pihak pelaksana
a. Perangkat lunak
45

1) Jumlah dokter gigi muda Fakultas Kedokteran Gigi Universitas

Mahasaraswati Denpasar bagian Ilmu Kesehatan Gigi Komunitas yang

memberikan pelayananan sebanyak 1 orang.


2) Jumlah jam adalah 4 jam per hari, dari jam 09.00 – 13.00 WITA.
3) Rata – rata waktu pemeriksaan yaitu 2 menit untuk setiap siswa.
b. Perangkat keras
1) Sepuluh set alat diagnosa (kaca mulut, sonde, excavator dan

neerbekern) untuk memeriksa 70 orang siswa yang digunakan secara

bergantian.
2) Bahan berupa alkohol untuk sterilisasi, kapas dan tisu untuk

membersihkan dan mengeringkan alat diagnosa.


3) Sarana penunjang seperti transportasi dan lain-lain yang telah tersedia.

B. Analisa Permasalahan
Dari analisa data yang kami peroleh di lapangan, timbul permasalah sebagai

berikut :
1. Terdapat prevalensi karies sebesar 73,33% pada siswa-siswi kelas 4,5,dan

kelas 6 SDN 4 Yangapi.


2. Kurangnya pengetahuan siswa, guru dan orang tua mengenai kesehatan

gigi dan mulut.

Tabel 4. Metode CARL (Capability, Accessability, Readiness, Leverage) dengan


skala prioritas

No. Permasalahan C A R L CxAxRxL Rangking


1 Terdapat prevalensi karies sebesar 4 4 3 4 192 1
73,33% pada siswa-siswi kelas
4,5, dan 6 SD Negeri 4 Yangapi
2 Kurangnya pengetahuan siswa, 4 3 2 2 48 2
guru dan orang tua mengenai
kesehatan gigi dan mulut
Sehingga didapatkan skala prioritas sebagai berikut :
1. Terdapat prevalensi karies sebesar 73,33% pada siswa-siswi kelas 4,5,dan 6

SDN 4 Yangapi.
46

2. Kurangnya pengetahuan siswa, guru dan orang tua mengenai kesehatan gigi

dan mulut.

Kemudian untuk mencari penyebab masalah digunakan diagram tulang ikan

dengan prosedur sebagai berikut :

MONEY MATERIAL MAN

Kurangnya
obat
Prevalensi
Lingkungan karies
sebesar
73,33 %
prasarana Belum ada
belum
protap
memadai

MACHINE METHODE

MAN
MONEY MATERIAL
Cara menyikat gigi
yang kurang tepat

Kurangnya kesadaran
.
siswa untuk menjaga Kurangnya
Lingkungan kesgilut pengetahuan

Kegiatan yang
berhubungan dengan
kesehatan gigi dan
mulut .

MACHINE METHODE

Gambar 4. Diagram Tulang Ikan


47

Ranking 1

Prevalensi karies sebesar 73,33% pada siswa Kelompok B2 dan B4 TK 2 Saraswati

Denpasar dengan rincian menumpat.

Tujuan : Menurunkan prevalensi karies.

Kegiatan :

1. Menumpat 374 gigi dan mencabut 53 gigi


2. Menyediakan sarana yang memadai
3. Membuat protap sehingga kegiatan ini berkelanjutan

Waktu :

Persiapan perjalanan ± 45 menit

1 kasus tumpatan dan cabut diselesaikan dalam 15 menit sehingga untuk

menyelesaikan 427 gigi dibutuhkan waktu 6405 menit. Oleh karena ada 1

operator maka dibutuhkan waktu sekitar 6405 menit (107 jam).

Sasaran : 70 orang anak Kelas 4,5, dan 6 SDN 4 Yangapi

Anggaran :

1. Anggaran untuk tumpat dan cabut

Tang cabut sulung 1 set 4.500.000


Alat OD disposible 70 set @Rp 20.000 1.400.000
Agat spatel 30 buah @Rp 12.000 360.000
Plastic filling 35 buah @Rp 30.000 105.000
Cytojet 15.000.000
Handscoon 3 kotak @Rp 60.000 180.000
Masker 3 kotak @Rp 50.000 150.000
GIC Fuji IX GP mini 10 buah @Rp 320.000 3.200.000
Zeptoccaine 3 kotak @Rp 200.000 600.000
Chlor Ethil 100 ml 2 buah @Rp 95.000 190.000
Alkohol 3 botol @Rp 70.000 210.000
Betadine 2 botol @Rp 100.000 200.000
48

Kapas 5 bungkus @Rp 15.000 65.000


Plastik obat 1 bungkus 8.000
Kasa Steril 4 bungkus @Rp.7.500 x 4 30.000
Konsumsi Rp 25.000 x 4 hari x 5 orang 100.000
Transportasi 200.000
TOTAL Rp 26.398.000

2. Anggaran untuk membuat protap

Kertas HVS 1 rim 50.000


Tinta printer 100.000
Alat tulis 50.000
TOTAL 200.000

Indikator Keberhasilan :

1. Dapat menumpat 374 gigi dan mencabut 53 gigi


2. Terdapat sarana yang memadai
3. Terbentuknya protap sehingga kegiatan berkelanjutan

Prosedur Evaluasi : Observasi sebelum dan setelah kegiatan

Ranking 2

Kurangnya pengetahuan guru, siswa, dan orangtua terhadap kesehatan gigi.

1. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada siswa, guru, dan orang tua siswa.
2. Sikat gigi massal pada siswa.
3. Membuat prosedur tetap mengenai kunjungan tenaga kesehatan untuk

pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.

Tujuan : Meningkatkan pengetahuan guru, siswa dan orang tua terhadap

kesehatan gigi.

Kegiatan :

1. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut bagi siswa, guru dan orang

tua siswa
49

2. Sikat gigi massal pada 70 siswa

Waktu : Jumlah siswa 70 orang

Jumlah orang tua 140 orang

Jumlah guru 3 orang

1x penyuluhan 70 orang siswa dan orang tua siswa masing-masing 30

menit

TOTAL 3 x penyuluhan = 210 menit

1 x sikat gigi massal 70 orang siswa = 60 menit

TOTAL 2 x sikat gigi = 120 menit

Anggaran :

Pasta Gigi 9 buah @Rp 5000 45.000


Sikat Gigi anak 120 buah @Rp 7000 840.000
Gelas kumur 120 buah 30.000
Poster 5 x @100.000 500.000
Pantum 3 x 100.000 300.000
Konsumsi 5 x 6 hari x 20.000 600.000
Transportasi 250.000
TOTAL 2.565.000
Indikator Keberhasilan :

1. Terlaksananya penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada 70

siswa, 140 orang tua dan 3 guru


2. Terlaksananya sikat gigi massal sehingga 70 siswa mampu

menyikat gigi dengan baik dan benar.

Prosedur Evaluasi : Observasi sebelum dan setelah kegiatan

C. Tahap Perencanaan Masalah

1. Perkiraan Waktu
50

a. Total gigi karies yang dapat tumpat dan dicabut sebanyak 427 gigi
1) Perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk perawatan setiap gigi adalah

15 menit.
2) Total waktu yang dibutuhkan untuk perawatan gigi adalah 427 x 15

menit = 6405 menit


b. Penyuluhan dan sikat gigi masal
1) Perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk penyuluhan adalah 90 menit.
2) Total waktu yang dibutuhkan untuk dilakukannya sikat gigi masal

adalah 120 menit.


Total keseluruhan waktu yang diperlukan untuk melakukan perawatan adalah

6405 menit + 90 menit + 120 menit = 6615 menit. Dengan estimasi satu hari

diberikan waktu untuk pelayanan 2 jam, maka akan selesai dalam 55 hari.

Karena terdapat operator sebanyak 1 orang, maka estimasi waktu perawatan

selama 15 hari.

D. Tahap Pembahasan Untuk Menentukan Rencana

Rencana yang telah disusun kemudian dibahas lebih lanjut dengan para

pengambil keputusan (Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Komunitas Fakultas Kedokteran

Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar). Tujuannya adalah agar dana yang

dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan gigi dan mulut dapat terealisasi, selama tidak

mengurangi manfaat dan rencana yang telah disusun jika benar-benar terlaksana.

E. Tahap Pelaksanaan
1. Perawatan gigi
(4x kunjungan tanggal 25 September 2016, 26 September 2016, 27

September 2016, 28 September 2016)


2. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut
(4x kunjungan tanggal 30 september 2016, 1 Oktober 2016, 2 Oktober 2016,

3 Oktober 2016)
3. Sikat gigi massal
51

(2x kunjungan tanggal 1 Oktober 2016, 2 Oktober 2016)

F. Tujuan
1. Menurunkan prevalensi karies.
2. Mengubah perilaku para siswa dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut
3. Melibatkan orang tua dan para guru dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut

anak

G. Sumber Dana
1. Pihak sekolah
2. Bantuan sponsor
3. Instansi terkait

H. Tahap Evaluasi

Evaluasi dilakukan dengan mengobservasi dan membandingkan data

kesehatan gigi anak sebelum dan sesudah program dilaksanakan. Kedua data tersebut

akan diketahui apakah program yang telah dilaksanakan telah berhasil atau gagal

terhadap siswa-siswi kelas 4 SDN 4 Yangapi. Program dikatakan berhasil apabila

harapan sesuai dengan kenyataan.


52