Anda di halaman 1dari 4

KERANGKA ACUAN KERJA

SURVEILANS PENYAKIT TIDAK MENULAR

UPT PUSKESMAS PURWOSARI

A. Pendahuluan
Indonesia mengalami transisi epidemiologi penyakit dan kematian yang
disebabkan oleh gaya hidup, meningkatnya social ekonomi dan bertambahnya
harapan hidup. Pada awalnya, penyakit didominnasi oleh penyakit menular,
namun saat ini penyakit tidak menular (PTM) terus mengalami peningkatan dan
melebihi penyakit menular

B. Latar belakang
Prevalensi PTM di Indonesia berdasarkan Riskesdas 2013, hipertensi usia >18
tahun (25,8%),PJK umur ≥15 tahun (1,5%), gagal jantung (0,3%), gagal ginjal
kronik (0,2%), batu ginjal (0,6%), rematik (24,7%), stroke (12,1%), cedera semua
umur (8,2%), dan cedera akibat transportasi darat (47,7%). Sedangkan beberapa
factor risiko PTM, obesitas sentral (26,6%), konsumsi tembakau usia ≥15 tahun
(36,3%), kurang konsumsi sayur buah (93,5%).
Tingginya permasalahan PTM di Indonesia memerlukan upaya pengendalian yang
memadai dan komprehensif melalui promosi, deteksi dini, pengobatan, dan
rehabilitasi. Upaya tersebut perlu didukung oleh penyediaan data dan informasi
yang tepat dan akurat secara sistematis dan terus menerus melalui system
surveilans yang baik. Hal ini sesuai dengan amanat UU no 36 tahun 2009 pasal
158 tentang Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Dengan surveilans PTM yang
baik maka program pencegahan dan pengendalian PTM belangsung lebih efektif
baik dalam hal perencanaan, pengendalian, monitoring dan evaluasi program serta
sebagi ide awal penelitian.
Surveilans PTM dan factor risikonya merupakan salah satu strategi upaya
pencegahan dan pengendalian penyakit yang dilakukan tepat dan terpadu oleh
pemerintah, swasta dan masyarakat.
C. Tujuan umum dan tujuan khusus
Umum :
Tersedianya data dan informasi epidemiologi PTM sebagai dasar pengambilan
keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi program PTM,
gangguan akibat kecelakaan dan tindak kekerasan serta upaya peningkatan
kewaspadaan serta respon yang cepat dan tepat.
Khusus :
1. Tersedianya data factor resiko PTM manajemen PTM
2. Tersedianya data kasus PTM
3. Tersedianya informasi PTM secara terus menerus sebagai dasar penentuan
strategi pengendalian PTM
4. Tersedianya informasi PTM sebagai dasar untuk menetapkan prioritas
penanggulangan PTM di masyarakat
5. Tersedianya informasi PTM sebagai dasar perencanaan, pemantauan,
penilaian dan evaluasi program PTM
6. Terselenggaranya kewaspadaan dini dan tanggap darurat PTM

D. Kegiatan pokok dan rincian kegiatan


Deteksi factor risiko dan kasus PTM
Surveilans PTM dikembangkan untuk mendeteksi factor risiko dan kasus PTM,
termasuk kematian akibat PTM di suatu wilayah. Dengan deteksi dini maka
intervensi pengendalian dapat dilaksanakan sesuai kondisi yang ada.
Pelaporan
Surveilans PTM berfungsi sebagai pelaporan kepada pihak – pihak yang
berkepentingan terhadap data dan informasi PTM.
Analisis dan Interpretasi
Surveilans PTM juga berfungsi untuk analisis dan interpretasi tentang
perkembangan factor risiko dan kasus PTM. Analisis ini akan menunjukan
perubahan, trend, kaitan denga kondisi di suatu wilayah, dan informasi lain yang
diperlukan.
Tindakan atau Respon
Setelah data dan informasi diperoleh, maka surveilans PTM akan berfungsi
sebagai dasar untuk melakukan tindakan atau respon yang diperlukan.
E. Cara melaksanakan kegiatan
Surveilans PTM dilaksanakan dengan langkah – langkah sebagai berikut :
1. Pengumpulan Data
 Data dikumpulkan dari hasil survey, Posbindu PTM dan survey rutin yang
merupakan data agregat/kelompok.
 Data dikumpulkan menggunakan sistim informasi yang sudah ada seperti
Sistem Informasi Manajemen PTM untuk data Posbindu PTM
2. Pengolahan dan Analisis Data
 Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan bantuan software (data
Posbindu) seperti MS Excel.
 Data yang diolah adalah factor risiko PTM dengan memperhitungkan jumlah
penduduk di suatu wilayah
 Berdasarkan hasil pengolahan data, maka dilakukan penyajian dalam bentuk
narasi, tabel, grafik, spot map dan lainya.
 Analisis data dilakukan secara deskriptif menurut variable orang (umur, jenis
kelamin, pendidikan dan lainnya), tempat (antar wilayah)dan waktu.
3. Interpretasi Data
Hasil analisis diinterpretasikan berdasarkan situasi di suatu wilayah, apakah
prevalensi menunjukan besaran masalah factor risiko PTM di wilayah setempat.
Desiminasi Informasi
 Hasil analisis dan interpretasi dibuat dalam bentuk laporan dan atau presentasi.
 Deseminasi informasi ditujukan kepada seluruh stakeholder yang terkait,
seperti jajaran kesehatan, LSM dan masyarakat pada umumnya.

F. Sasaran
1. Pengelola Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Pusat, Provinsi,
Kabupaten/Kota, Puskesmas)
2. Penaggung jawab surveilans di :
 Rumah sakit
 Puskesmas
 Unit Pelaksana Teknis (UPT)
 Laboratorium
 Organisasi Profesi
G. Jadwal pelaksanaan kegiatan
Terlampir

H. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan


Evaluasi pelaksanaan kegiatan di dokumentasikan dan dilaporkan kepada kepala
puskesmas.

I. Pencatatan, pelaporan dan evaluasi kegiatan


1. Pencatatan: Semua kegiatan didokumentasikan dengan baik .Pencatatan
dilakukan oleh petugas yang bersangkutan
2. Pelaporan: pelaksanaan kegiatan, hasil dan rencana tindak lanjut dilaporkan
dalam bentuk tertulis disertai dokumentasi kegiatan dan dilaporkan kepada
kepala puskesmas sebelum dilaporkan ke tingkat Kabupaten
3. Evaluasi kegiatan: dilakukan tiap bulan.
4. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan dilakukan tiap bulan dan
dilaporkan sesuai dengan format yang ada.

Kepala Petugas
UPT Puskesmas Purwosari Surveilans PTM

Sumartana SKM Setya Kuncara, AMAK


NIP: 19670327 199003 1 004 NIP : 19741001 199403 1 003