Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

CAD (CORONARY ARTERY DISEASE) STEMI ANTEROSEPTAL

Disusun oleh :
Seto Adi Nugroho
4006180031

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

( ) ( )

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA BANDUNG
2019
LAPORAN PENDAHULUAN
CAD (CORONARY ARTERY DISEASE) STEMI ANTEROSEPTAL

I. DEFINISI
Coronary Artery Disease (CAD) adalah penyakit arteri koroner yang meliputi
berbagai kondisi patilogi yang menghambat aliran darah dalam arteri yang mensuplai
jantung, biasanya disebabkan oleh arterosklerosis yang menyebab kan insufisiensi suplay
darah ke miokard (Sjamsuhidayat, R., & Jong, W. d. (2010).
AMI adalah kerusakan atau nekrosis sel jantung yang terjadi mendadak karena
terhentinya aliran darah koroner yang sebagian besar disebabkan oleh thrombus yang
menyumbat arteri koronaria di tempat rupture plak aterosklerosis (Pedoman Tata
Laksana Miokardium Akut, 2000). AMI adalah nekrosis miokard yang disebabkan oleh
tidak adekuatnya pasokan darah akibat sumbatan arteri koroner (Pedoman Perhimpunan
Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia, 2004
ST Elevasi Miokard Infark (STEMI) adalah rusaknya bagian otot jantung secara
permanen akibat insufisiensi aliran darah koroner oleh proses degeneratif maupun di
pengaruhi oleh banyak faktor dengan ditandai keluhan nyeri dada, peningkatan enzim
jantung dan ST elevasi pada pemeriksaan EKG (Subagjo et al., 2011; Sylvana, 2005).
STEMI adalah cermin dari pembuluh darah koroner tertentu yang tersumbat total
sehingga aliran darahnya benar-benar terhenti, otot jantung yang dipendarahi tidak dapat
nutrisi-oksigen dan mati (Sylvana, 2005). STEMI Inferior di tandai dengan adanya
segmen ST yang mengalami elevasi pada lead II, III, dan AVF.

II. ETIOLOGI
Menurut Sylvana (2005) STEMI terjadi jika trombus arteri koroner terjadi secara cepat
pada lokasi injuri vascular, dimana injuri ini dicetuskan oleh faktor seperti merokok,
hipertensi dan akumulasi lipid.
1. Penyempitan arteri koroner nonsklerolik
2. Penyempitan aterorosklerotik
3. Trombus
4. Plak aterosklerotik
5. Lambatnya aliran darah didaerah plak atau oleh viserasi plak
6. Peningkatan kebutuhan oksigen miokardium
7. Penurunan darah koroner melalui yang menyempit
8. Penyempitan arteri oleh perlambatan jantung selama tidur
9. Spasme otot segmental pada arteri kejang otot.

III. MANISFESTASI KLINIK


Klinis
a. Nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan terus - menerus tidak mereda,
bagian bawah sternum dan abdomen bagian atas, ini merupakan gejala utama.
b. Keparahan nyeri dapat meningkat secara menetap sampai nyeri tidak tertahankan
lagi.
c. Nyeri yang tajam dan berat yang dapat menjalar ke bahu dan terus ke bawah
menuju lengan (biasanya lengan kiri).
d. Nyeri muncul secara spontan (bukan setelah kegiatan / bekerja atau gangguan
emosional), menetap selama beberapa jam atau hari, dan tidak hilang dengan
istirahat atau nitrogliserin (NTG).
e. Nyeri dapat menjalar ke arah rahang dan leher.
f. Nyeri sering disertai dengan sesak nafas, pucat, dingin, diaforesis berat, pusing
atau kepala ringan dan mual muntah.
g. Pasien dengan diabetes melitus tidak akan mengalami nyeri yang hebat karena
neuropati yang menyertai diabetes dapat mengganggu neuroreseptor
(menyimpulkan pengalaman nyeri)

IV. PATOFISIOLOGI
Penyebab paling sering Akut Miokard Infark adalah penyempitan pembuluh
darah yang disebabkan oleh karena atheromatous. Pecahnya plak menyebabkan
terjadinya agregasi trombosit, pembentukan thrombus dan akumulasi fibrin, perdarahan
dalam plak dan beberapa tingkatan vasospasm. Keadaan ini akan mengakibatkan
sumbatan baik parsial maupun total, yang berakibat iskemi miokard. Sumbatan total
pembuluh darah yang lebih dari 4-6 jam berakibat nekrosis miokard yang irreversible
tetapi reperfusi yang dilakukan dalam waktu ini dapat menyelamatkan miokardium dan
menurunkan morbiditas dan mortalitas.
Infark miokard atau nekrosis iskemik pada miokardium, diakibatkan oleh iskemia
pada miokard yang berkepanjangan yang bersifat irreversible. Waktu diperlukan bagi
sel-sel otot jantung mengalami kerusakan adalah iskemia selama 15-20 menit. Infark
miokard hampir selalu terjadi di ventrikel kiri dan dengan nyata mengurangi fungsi
ventrikel kiri, makin luas daerah infark, makin kurang daya kontraksinya.
Secara fungsional, infark miokard menyebabkan : berkurangnya kontraksi dengan
gerak dinding abnormal, terganggunya kepaduan ventrikel kiri, berkurangnya volume
denyutan, berkurangnya waktu pengeluaran dan meningkatnya tekanan akhir diastole
ventrikel kiri.
Gangguan fungsi tidak hanya tergantung luasnya infark, tetapi juga lokasinya
karena berhubungan dengan pasokan darah. Infark juga dinamakan berdasarkan tempat
terdapatnya seperti infark subendokardial, infark intramural, infark subepikardial, dan
infark transmural. Infark transmural meluas dari endokardium sampai epikardium.
Semua infark miokard memiliki daerah daerah pusat yang nekrotik/infark, dikelilingi
daerah cedera, diluarnya dikelilingi lagi lingkaran iskemik. Masing-masing menunjukkan
pola EKG yang khas. Saat otot miokard mati, dilepaskan enzim intramiokard, enzim ini
membantu menentukkan beratnya infark. Jaringan otot jantung yang mati, diganti
jaringan parut yang dapat mengganggu fungsinya (Dr. Jan Tambayong, 2007)
V. GAMBAR

Aterosklerosis, thrombosis, kontraksi arteri koronaria

Penurunan aliran darah kejantung

Kekurangan oksigen dan nutrisi

Iskemik pada jaringan miokard

Nekrosis

Suplay dan kebutuhan oksigen kejantung tidak seimbang

Suplay oksigen ke Miokard menurun

Resiko
penurunan
Metabolism anaerob Seluler hipoksia curah
jantung
Gangguan Timbunan asam
pertukaran Nyeri
laktat meningkat
gas Integritas membrane sel berubah

Kelemahan
Kecemasan Kontraktilitas turun
n

Intoleransi
aktifitas
COP turun Kegagalann pompa
jantung

Gangguan perfusi
Gagal jantung
jaringan

Resiko kelebihan volume


cairan ekstravaskuler
VI. PENATALAKSANAAN
a. Istirahat total dalam waktu 24 jam pertama atau masih ada keluhan nyeri atau keluhan
lainnya. Hal ini berguna untuk mengurangi beban kerja jantung dan membantu
membatasi luas permukaan infark.
b. Oksigen 2-4 liter/menit, untuk meningkatkan oksigenasi darah sehingga beban kerja
jantung berkurang dan perfusi sistematik meningkat.
c. IVFD Dextrose 5% atau NaCL 0,9% untuk persiapan pemberian obat intravena.
d. Pemberian morfin 2,5-5 mg IV atau petidin 25-50 mg IV, untuk menghilangkan rasa
nyeri . Bila dengan pemberian ISDN nyeri tidak berkurang atau tidak hilang.
e. Sedatif seperti Diazepam 3-4x, 2 mg per oral.
f. Diet
g. Diet yang diberikan adalah diet jantung I-IV sesuai dengan keadaan klien.
1.Diet Jantung I : makanan saring
2.Diet Jantung II : bubur
3.Diet Jantung III : nasi tim
4.Diet Jantung IV : nasi
h. Antikoagulan seperti heparin
i. Sebelum pemberian heparin harus diperiksa APTT sebagai base line, Dosis heparin
pertama diberikan secara bolus dengan dosis 60 U/KgBB, dilanjutkan dengan heparin
drip 121 U/KgBB/jam. Hasil heparin yang diberikan dievaluasi dengan pemeriksaan
APTT tiap 12 jam, target pencapaian APTT yaitu 1,5-2x APTT base line.

VII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/PENUNJANG


a. Pemeriksaan Laboratotium Pemeriksaan Enzim jantung :
- CK (Creatini Kinase) : Isoenzim yang ditemukan pada otot jantung meningkat
pada 3-6 jam memuncak dalam 12-24 jam, kembali normal dalam 36-48 jam (3-5
hari).
- CK-MB: meningkat antara 2-4 jam, memuncak pada 12-20 jam dan kembali
normal pada 48-72 jam
- LDH(laktat dehidrogenase), LDH1, dan LDH2: Meningkat dalam 24 jam dan
memakan waktu lama untuk kembali normal
- AST (/SGOT : Meningkat
b. Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan EKG digunakan untuk mencatat aktivitas elektrik jantung.
Melalui aktivitas elektrik jantung dapat diketahui irama jantung, besarnya jantung,
dan kondisi otot jantung, kondisi otot jantung inilah yang memiliki kaitanya dengan
PJK.
c. Tes Treadmill Atau Exercise Stress Testing (uji latih jantung dengan bebean)
Exercise testing merupakan salah satu tes yang paling sering dilakukan untuk
mendiagnosis apakah seseorang terkena menderita penyakit jantung dan juga untuk
menstratifikasi berat ringannya penyakit jantung. Selain itu tes treadmill juga dapat
dipakai untuk mengukur kapasitas jantung, gangguan irama, dan lain-lain.
d. Echocardiography (Ekokardiografi)
Ekokardiografi adalah prosedur yang menggunakan gelombang suara ultra
untuk mengamati struktur jantung dan pembuluh darah, juga dapat menilai fungsi
jantung.
e. Angiografi korener
Merupakan cara dengan menggunakan sinar X dan kontras yang disuntikan
kedalam arteri koroner melalui kateter untuk melihat adanya penyempitan diarteri
koroner.
f. Multislice Computed Tomograpy Scanning (MSCT)
CT menghasilkan tampilan secara tomografi (irisan) digital dari sinar X yang
menembus organ. Sinar X yang menembus diterima oleh detektor yang mengubahnya
menjadi data elektrik dan diteruskan ke sistem komputer untuk diolah menjadi
tampilan irisan organ-organ tubuh.
g. Cardiac Magnetic Resonance Imaging (Cardiac MRI)
Merupakan salah satu teknik pemeriksaan diagnostik dalam ilmu kedokteran,
yang menggunakan interaksi proton-proton tubuh dengan gelombang radio-frekuensi
dalam medan magnet (sekitar 0,64-3 Tesla) untuk menghasilkan tampilan penampang
(irisan) tubuh.
h. Radionuclear Medicine
Dengan menggunakan radio aktif dimasukan kedalamtubuh pasien, kemudian
dideteksi dengan menggunakan kamera gamma atau kamera positron, sehingga pola
tampilan yang terjadi berdasrkan pola organ yang memancarkan sinar gamma. (Kabo,
2008).
VIII. ASUHAN KEPEERAWATAN
1. Data fokus pengkajian
a. Anamnesa.
1. Biodata : terdiri dari nama lengkap, jenis kelamin, umur, penanggung jawab,
pekerjaan, pendidikan, agama, alamat, suku bangsa.
2. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
2) Riwayat kesehatan sekarang
3) Riwayat kesehatan masa lalu : Penyakit (masa kanak-kanak, penyakit yang
terjadi secara berulang-ulang, operasi yang pernah dialami)
Alergi : Kebiasaan (merokok, minum kopi, dll).
4) riwayat kesehatan keluarga Orang tua, Saudara kandung, Anggota
keluarga lain. Faktor resiko terhadap kesehatan (kanker hypertensi, DM,
penyakit jantung, TBC, Epilepsi, dll.
5) Keadaan psikologis Perilaku, Pola emosional, Konsep diri, Penampilan
intelektual, Pola pemecahan masalah, Daya ingat.
b. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan Umum.
2) Tanda-tanda vital : Tekanan Darah, Suhu, Nadi, Respirasi.
3) Sistem Pencernaan Bentuk bibir, lesi mukosa mulut, kelengkapan gigi,
muntah, kemampuan menelan, mengunyah, bentuk peut, BU, distensi
abdomen, dll.
4) Sistem Pernafasan Kesimetrisan hidung, pernafasan cuping hidung,
deformitas, bersin, warna mukosa, perdarahan, nyeri sinus, bentuk dada,
kesimetrisan, nyeri dada, frekwensi pernafasan, jenis pernafasan, bunyi nafas,
dll.
5) Sistem cardiovaskuler Konjungtiva anemis/tidak, akral dingin/hangat, CRT,
JVP, bunyi jantung, tekanan darah, pembesaran jantung, Cyanosis, dll.
6) Sistem integumen Warna kulit, turgor kulit, temperatur, luka/lesi,
kebersihannya, integritas, perubahan warna, keringat, eritema, kuku, rambut
(kebersihan, warna, dll.)
7) Sistem persyarafan Tingkat kesadaran, kepala ukuran, kesimetrisan, benjolan,
ketajaman mata, pergerakan bola mata, kesimetrisan, reflek kornea, reflek
pupil, nervus 1 s.d. 12, kaku kuduk, dll.
8) Sistem endokrin Pertumbuhan dan perkembangan fisik, proporsi dan posisi
tubuh, ukuran kepala dan ekstremitas, pembesaran kelaenjar tyroid, tremor
ekstremitas, dll.
9) Sistem muskuloskeletal Rentang gerak sendi, gaya berjalan, posisi berdiri,
ROM, kekuatan otot, deformitas, kekakuan pembesaran tulang, atrofi, dll.
10) Sistem reproduksi Laki-laki: penis skrotum, testis, dll. Perempuan:
pembengkakan benjolan, nyeri, dll.
11) Sistem perkemihan Jumlah, warna, bau, frekwensi BAK, urgensi, dysuria,
nyeri pinggang, inkontinensia, retensi urine, dll.

Pengkajian Emergency
a. Primery Survey
1) Circulation
- Nadi lemah/tidak teratur.
- Takikardi.
- TD meningkat/menurun.
- Edema.
- Gelisah.
- Akral dingin.
- Kulit pucat atau sianosis.
- Output urine menurun.
2) Airway
- Sumbatan atau penumpukan secret.
- Gurgling, snoring, crowing.
3) Breathing
- Sesak dengan aktivitas ringan atau istirahat.
- RR lebih dari 24 kali/menit, irama ireguler dangkal.
- Ronki,krekels.
- Ekspansi dada tidak maksimal/penuh
- Penggunaan obat bantu nafas
4) Disability
- Penurunan kesadaran.
- Penurunan refleks.

5) Eksposure
- Nyeri dada spontan dan menjalar.
b. Secondary Survey.
1. TTV
a. Tekanan darah bisa normal/naik/turun (perubahan postural di catat dari
tidur sampai duduk/berdiri.
b. Nadi dapat normal/penuh atau tidak kuat atau lemah/kuat kualitasnya
dengan pengisian kapiler lambat, tidak teratur (disritmia).
c. RR lebih dari 20 x/menit.
d. Suhu hipotermi/normal.
2. Pemeriksaan fisik
a. Pemakaian otot pernafasan tambahan.
b. Nyeri dada.
c. Peningkatan frekuensi pernafasan, nafas sesak, bunyi nafas (bersih,
krekels, mengi), sputum.
d. Pelebaran batas jantung.
e. Bunyi jantung ekstra; S3 atau S4 mungkin menunjukkan gagal jantung/
penurunan kontraktilitas atau komplain ventrikel.
f. Odem ekstremitas.
3. Pemeriksaan selanjutnya
a. Keluhan nyeri dada.
b. Obat-obat anti hipertensi.
c. Makan-makanan tinggi natrium.
d. Penyakit penyerta DM, Hipertensi
e. Riwayat alergi
c. Tersier
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. CPKMB, LDH, AST
b. Elektrolit, ketidakseimbangan (hipokalemi).
c. Sel darah putih (10.000-20.000).
d. GDA (hipoksia).
2. Pemeriksaan Rotgen Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran
jantung di duga GJK atau aneurisma ventrikuler.
3. Pemeriksaan EKG T inverted, ST elevasi, Q patologis.
4. Pemeriksaan lainnya
a. Angiografi koroner Menggambarkan penyempitan atau sumbatan arteri
koroner.
b. Pencitraan darah jantung (MVGA) Mengevaluasi penampilan ventrikel
khusus dan umum, gerakan dinding regional dan fraksi ejeksi (aliran
darah).

2. Analisa data
No Data Etiologi Masalah
1 DS : Aterosklerosis Nyeri akut
- Klien mengatakan ↓
nyeri di area dada Konstriksi arteri koronaria
DO : ↓
- Skala nyeri Aliran darah ke jantung menurun
meningkat (0-10) ↓
- Klien tampak Oksigen dan nutrisi turun
gelisah ↓
- TTV meningkat Jaringan Miocard Iskemik

Nekrose lebih dari 30 menit

Supply dan kebutuhan oksigen ke jantung
tidak seimbang

Supply Oksigen ke miocard turun

Nyeri
2 DS: Aterosklerosis Gangguan
- Klien mengeluh ↓ pertukaran gas
sesak nafas Konstriksi arteri koronaria
DO : ↓
- RR meningkat Aliran darah ke jantung menurun
- Batuk (+) ↓
- Rhonkhi +/+ Oksigen dan nutrisi turun
- Saturasi O2 turun ↓
Jaringan miocard iskemik pada ventrikel
kiri

Kemampuan pompa ventrikel kiri
menurun

Tekanan dinding ventrikel kiri

Resistensi vaskuler sistemik

Aliran darah balik ke atrium kiri

Tekanan intratrium meningkat

Transudasi ke paru

Edema paru

Gangguan pertukaran gas
3 DS : Aterosklerosis Intoleransi
- Klien mengeluh ↓ aktivitas
lemas Konstriksi arteri koronaria
DO : ↓
- Kondisi umum Aliran darah ke jantung menurun
klien tampak ↓
lemah Oksigen dan nutrisi turun
- Klien beraktivitas ↓
minimal Jaringan Miocard Iskemik
- Kekuatan otot ↓
turun Nekrose lebih dari 30 menit

Supply dan kebutuhan oksigen ke jantung
tidak seimbang

Supply Oksigen ke miocard turun

Metabolisme anaerob

Penurunan fosforilasi energi tinggi

ATP dan asam laktat meningkat

Diassosiasi asam laktat menjadi ion H+
dan laktat

Penurunan pH cairan ekstra dan
intraseluler

2
Ikatan O oleh Hb di paru terhambat

Sintesis ATP terhambat

fatigue

Intoleransi aktivitas
4 DS: Aterosklerosis Cemas
- Klien mengatakan ↓
kurang paham Aliran darah ke jantung menurun
perawatan di rumah ↓
DO: Jaringan miocard iskemik
- Klien menanyakan ↓
tentang pantangan Supply dan kebutuhan oksigen ke jantung
yang harus dihindari tidak seimbang
- Klien menanyakan ↓
kegunaan obat-obat Gagal jantung kiri
yang diminum ↓
- Klien tampak Timbul gejala: sesak, nyeri dada
bingung ↓
Perawatan di rumah sakit

Klien dipulangkan

Kurang informasi tentang perawatan
klien

Cemas
5 DS : - Aterosklerosis Risiko gangguan
DO : ↓ perfusi jaringan
- Urine kuning Konstriksi arteri koronaria
pekat ↓
- Gambaran EKG Aliran darah ke jantung menurun
tidak normal ↓
- TTV tidak stabil Oksigen dan nutrisi turun

Jaringan miocard iskemik

Supply dan kebutuhan oksigen ke jantung
tidak seimbang

Supply Oksigen ke miocard turun

Hipoksia seluler

Integritas membrane sel berubah

Kontraktilitas turun

After load meningkat

Penurunan curah jantung

Suplai darah ke jaringan berkurang

Resiko gangguan perfusi jaringan
3. Masalah keperawatan
a. Nyeri akut
b. Gangguan pertukaran gas
c. Intoleransi aktivitas
d. Cemas
e. Risiko gangguan perfusi jaringan

4. Diagnosa keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan menurunnya suplai oksigen
miokardial.
b. Gangguan pertukan gas berhubungan dengan oedem paru
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai oksigen
miokard dengan kebutuhan
d. Gangguan rasa aman : cemas berhubungan dengan kurangnya pengtehuan
tentang penyakitnya.
e. Resiko terjadinya gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan
curah jantung
5. Intervensi keperawatan
DIAGNOSA PERENCANAAN
KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
1. Gangguan rasa Tupen : 1. Kaji, dokumentasikan dan laporkan 1. Data tersebut dapat membantu
nyaman: nyeri Setelah dilakukan : menentukan penyebab dan efek nyeri
berhubungan dengan tindakan keperawatan a. Keluhan klien mengenai nyeri dada serta merupakan garis dasar untuk
menurunnya suplai selama 1 x 24 jam klien dada meliputi lokasi, radiasi, membandingkan gejala pasca therapy
oksigen miokardial. tidak mengalami nyeri durasi nyeri dan faktor yg a. Therapy pada berbagai kondisi yang
dengan kriteria : mempengaruhi nyeri berhubungan dengan nyeri dada,
- Klien tidak mengeluh b. Efek nyeri dada pada perfusi terdapat temuan klinik yang khas
nyeri dada hemodinamik kardiovaskuler pada nyeri dada iskemik
- Klien tampak tenang terhadap jantung, otak, ginjal. b. Infark mikard menurunkan
dan dapat beristirahat kontraktilitas jantung dan
- TTV dalam batas komplience ventrikel dan dapat
normal: menimbulkan distritmia (curah
TD : 110-120/60-80 jantung menurun) mengakibatkan
mmHg tekanan darah dan perfusi jaringan
RR : 16-20 x/mnt menurun, frekuensi jantung dapat
HR : 60-100 x/mnt 2. Monitoring EKG meningkat sebagai mekanisme
T : 36,5 –37,5 C 0
kompensasi untuk mempertahankan
- Keluaran urine baik curah jantung.
yaitu 1-2 cc/kg 3. Monitoring TTV 2.Mengetahui adanya perubahan
BB/jam gambaran EKG dan adanya komplikasi
4. Berikan O2 sesuai dengan kondisi AMI
klien 3.
Peningkatan TD, HR, RR,
5. Berikan posisi semi fowler menandakan nyeri yang sangat
dirasakan oleh klien
6. Anjurkan klien untuk bedrest total 4. Therapi O2dapatmeningkatkansuplai
selama nyeri dada timbul O2kejantung
7. Berikan lingkungan yang tenang, 5. Membantu memaksimalkan complience
aktivitas perlahan dan tindakan paru
yang nyaman 6. Menurunkan konsumsi O2
8. Berikan therapy sesuai program : 7. Menurunkan rangsang eksternal
a. Nitrogliserin : ISDN 8. Therapi diberikan untuk
b. Bisoprolol a. Jenis nitrat berguna untuk
mengontrol nyeri dengan efek
vasodilatasi coroner meningkatkan
aliran darah coroner dan perfusi
miokard
b. Merupakan beta bloker yang efektif
untuk angina dengan mengurangi
frekuensi denyut jantung,
kontraktilitas miokard dan tekanan
darah sehingga meningkatklan
suplai oksigen
2. Gangguan pertukan Tupan : 1. Kaji frekuensi, kedalaman 1. Berguna dalam evaluasi derajat distress
gas berhubungan Setelah dilakukan pernapasan, catat penggunaan otot- pernapsan dan atau kronisnya proses
dengan oedem paru tindakan keperawatan otot aksesori, napas bibir, penyakit.
selama 5 x 24 jam ketidakmampuan berbicara. 2. Meminimalkan arus balik vena
masalah pertukaran gas 2. Atur posisi klien head up 30o. 3. Penurunan getaran vibrasi diduga ada
dapat teratasi 3. Lakukan palpasi fremitus pengumpulan cairan atau udara terjebak
Tupen : 4. Awasi tingkat kesadaran atau status 4. Gelisah dan ansietas adalah manifestasi
Setelah dilakukan mental klien umum pada hipoksia. AGD memburuk
tindakan keperawatan 5. Evaluasi tingkat toleransi aktivitas, disertai bingung atau somnolen
klien menunjukan berikan lingkungan tenang dan menunjukan disfungsi cerebral yang
perbaikan ventilasi dan nyaman. Batasi aktivitas pasien, berhubungan dengan hipoksemia
oksigenasi jaringan dorong untuk istirahat atau tidur. 5. Selama distress pernapasan berat atau
adekuat dengan AGD Mungkinkan pasien melakukan akut pasien secara total tidak mampu
dalam rentang normal dan aktivitas secara bertahap dan melakukan aktivitas sehari-hari karena
bebas dari gejala distress tingkatkan sesuai toleransi individu hipoksemia dan dispnea. Istirahat
pernapasan 6. Awasi TTV dan irama jantung diselingi aktivitas perawatan masih
7. Kolaborasi pemeriksaaan AGD penting dari program pengobatan,
8. Berikan O2 tambahan yang sesuai namun program pelatihan ditunjukan
dengan hasil AGD untuk meningkatkan ketahanan dan
kekuatan tanpa menyebabkan dispnea
berat dan dapat meningkatkan
kesehatan
6. Takikardia, disritmia dan perubahan
tanda vital dapat menunjukkan efek
hipoksemia sistem pada fungsi jantung
7. Pa CO2 biasanya meningkat dan Pa O2
biasanya menurun sehingga hipoksia
terjadi dengan derajat lebih kecil atau
lebih besar. Pa CO2 normal atau
meningkat menandakan kegagalan
pernafasan
8. Dapat memperbaiki atau mencegah
hipoksia
3. Intoleransi aktivitas Tupan : 1. Observasi ulang tingkat kelelahan 1. Sebagai data dasar untuk
berhubungan dengan Kebutuhan aktivitas dan kelemahan klien terhadap mengembangkan rencana pada klien.
ketidakseimbangan terpenuhi setelah aktivitas. 2. Mengurangi beban jantung klien
suplai oksigen dilakukan tindakan 2. Anjurkan klien untuk 3. Memaksimalkan istirahat akan
miokard dengan keperawatan selama 4 x mempertahankan bedrest. mengurangi pengunaan energi.
kebutuhan 24 jam 3. Bantu kebutuhan klien yang tidak 4. Mengevaluasi respon terhadap aktivitas
Tupen : boleh dilakukan, melatih aktivitas dan mengatur kebutuhannya.
Setalah dilakukan yang dapat dilakukan seperti makan, 5. Meningkatkan O2 atau tingkatan O2
tindakan keperawatan : minum. selama aktivitas.
- Kelemahan umum (-) 4. Monitoring TTV dan warna kulit 6. Meningkatkan toleransi terhadap
- Tanda-tanda vital tiap jam. aktivitas dimana dengan cepat
dalam batas normal 5. Berikan O2 atau tingkatkan O2 meningkatkan beban jantung.
TD:110-120/60-80 selama aktivitas 7. Indikator dari penurunan suplay O2
mmHg 6. Buat rencana aktivitas secara dikardium seperti takikardi, disritmia,
HR: 60-80 x / menit bertahap sesuai dengan kemampuan diaporesis, membutuhkan penurunan
RR: 16-20 x/menit klien. aktivitas.
S : 36,5 –37,5 0C 7. Monitor takikardi, disritmia, 8. Mengurangi pemakaian energi dan O2
- Tidak terjadi diaporesis atau pucat setelah klien.
perubahan warna kulit melakukan aktivitas. 9. Mengedan pada saat defekasi akan
atau kelembaban 8. Bantu klien dalam melakukan meningkatkan tekanan intra torakal
aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan arteri
9. Kolaborasi dalam pemberian koroner sehingga dapat menyebabkan
laxadine angina dan aritmia.

4. Gangguan rasa aman : Tupen : 1. Berikan penjelasan tentang faktor- 1. Dengan mengetahui faktor resiko, klien
cemas berhubungan Setelah dilakukan faktor resiko timbulnya CAD : dan keluarga dapat mencegah dan
dengan kurangnya tindakan keperawatan merokok, diit tinggi kolesterol, DM, memodifikasi gaya hidup yang lebih
pengtehuan tentang selama 2x24 jam klien Hipertensi, Stress, sehat.
penyakitnya. menunjukkan : 2. Berikandukunganemosional: 2. Klien akan merasa dihargai
- Klien maupun keluarga sikaphangatdanempati 3. Dengan mengetahui prosedur klien dan
tenang 3. Jelaskansetiapprosedur yang keluarga akan berpartisipasi dalam
- Klien dan keluarga akandilakukanpadakliendankeluarga. melakukan tindakan disamping itu juga
dapat mengetahui dan 4. dapat menurunkan tingkat cemas klien.
menyebutkan kembali Berikanpenjelasantentangperawatankl 4. Meningkatkan pengetahuan klien dan
tentang penyakit yang ien di rumah : keluarga sehingga keluarga dapat
dialami klien serta cara - Pengaruh CAD mengantisipasi serangan ulang
pencegahan dan - Proses penyembuhan 5. Untuk mengetahui dan mengevaluasi
perawatannya. - Jenis-jenispengobatan tingkat keberhasilan dari intervensi
- Pengaruhobat-obatan yang telah dilakukan
- Pembatasandiit : rendahkolesterol
- Olahraga 3 x / minggu : joging,
aerobik
- Merokok stop
- Manajemen stress
- Saat BAB tidakmengedan
5. Kajiulangtingkatcemas

5. Resiko terjadinya Tupen : 1. Pertahankan tirah baring selama fase 1. Posisi terlentang meningkatkan filtrasi
gangguan perfusi Setelah dilakukan akut ginjal dan menurunkan produksi ADH
jaringan tindakan keperawatan sehingga meningkatkan dieresis
berhubungan dengan selama 2x24 jam, curah 2. Laporkan adanya tanda – tanda 2. Pada GJK dini, sedang atau kronis TD
penurunan curah jantung membaik/stabil, penurunan TD dapat meningkatkan sehubungan
jantung dengan kriteria : dengan SVR. Pada HCF lanjut tubuh
- Tidak ada edema tidak mampu lagi mengkompensasi
- Jumlah urine normal tidak dapat normal lagi.
- TTV dalam batas 3. Monitor haluaran urin. Catat intake 3. Oliguria menunjukkan adanya
normal output. Laporkan adanya edema penurunan CO. Kelebihan cairan dapat
- Tidak ada disritmia 4. Pantau TTV tiap jam menimbulkan edema.
4. Hipotensi ortostatik dapat terjadi
dengan aktifitas karena efek obat
(vasodilasi), perpindahan secara
5. Berikan oksigen sesuai kebutuhan diuretic atau pengaruh fungsi jantung
5. Meningkatkan jumlah oksigen yang
ada untuk pemakaian miokardia dan
6. Pantau EKG tiap hari juga mengurangi ketidaknyamanan
sehubungan dengan iskemia jaringan.
6. Mengetahui aktivitas listrik jantung,
dan penunjang thd terapi yang akan
7. Pertahankan cairan parenteral dan diberikan bila ditemukan kelainan-
obat-obatan sesuai advis (Aspilet, kelainan pada gambaran EKG
Captopril) 7. Aspilet adalah obat untuk mencegah
platelet, captopril sebagai ace-inhibitor
8. Hindari valsava manuver dan yang mencegah angiotensin I berubah
defekasi (gunakan Laxadine) menjadi angiotensin II yang
menyebabkan TD meningkat
8. Valsasa manuver dan defekasi dapat
merangsang saraf simpatis yang akan
menyebabkan bradikardi
IX. DAFTAR PUSTAKA
Elizabeth, C. J. (2008). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Herdman, T. H. (2012). NANDA internasional. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan
Klasifikasi 2012-2014. alih bahasa Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Estu Tiar,
editor bahasa Indonesia Monica Ester. Jakarta : EGC.
Kabo, P. 2008. Penyakit jantung koroner. Jakarta :Gramedia
Rokhaeni, H. (2003). Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler edisi pertama. Jakarta:
Bidang Diklat Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan
Kita.
Sjamsuhidayat, R., & Jong, W. d. (2010). Buku Ajar Ilmu Bedah (3 ed.). Jakarta: EGC.
Subagjo, A., Achyar, & Ratnaningsih, E. (2011). Bantuan Hidup Jantung Dasar. Jakarta:
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia.
Sylvana, F. (2005). Infark Miokard Akut. (Skripsi), Universitas Wijaya Kusuma,
Surabaya.
Tambayong. J.(2007). Patofisiologi Keperawatan editor Monica Ester, S.Kep. Jakarta:
EGC.
Price and Wilson. (2005). Patofisiologi. Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit. Edisi 6.
Volume 2. Jakarta : EGC.