Anda di halaman 1dari 7

J. Akad. Kim.

2(4): 215-221, November 2013


ISSN 2302-6030

PENGGUNAAN QR CODE DALAM PEMBELAJARAN POKOK


BAHASAN SISTEM PERIODIK UNSUR PADA KELAS X SMA
LABSCHOOL UNTAD

The Use of QR Code in Learning of Periodic Table Subject on the Class X


SMA Labschool Tadulako University

*Sartika Mustakim, Daud K. Walanda dan Siang Tandi Gonggo


Pendidikan Kimia/FKIP - Universitas Tadulako, Palu - Indonesia 94118
Recieved 18 October 2013, Revised 19 November 2013, Accepted 20 November 2013

Abstract
Utilization of information technology in particular a QR Code in education is still lacking. Therefore
the reseacher is examining the QR code in the chemistry learning. Teaching and learning activities in
the classroom are still dominated by teachers, meanwhile students seem expect more aids from their peers
in performing the task. which due to a number of student are still lack of confidence in completing their
tasks. In this study, the researchers use the QR code in the learning of periodic table topics regarding
properties of elements. The problem statement is wether the learning outcomes of student who involved
in the learning using QR code are better than student who take lessons without involving the use of
QR code. The number of student in class X science Labschool Untad for 2013/2014 academic year are
22 student in experimental classroom and 22 student in control classroom which are determined by
purposive sampling. Based on the results, it is colcluded that the learning outcomes of students who took
lessons with the use of QR code is higher than the nlearning outcome of students who took the lessons
without involving the use of QR code for student in class X SMA Labschool Tadulako University.

Keywords: QR code, learning chemistry, periodic table, properties of elements

Pendahuluan
Mengajar sebagai suatu proses memerlukan akhir-akhir ini siswa lebih banyak menyukai
perencanaan yang seksama dan sistematis dunia teknologi dibandingkan belajar secara
agar dapat dilaksanakan secara realistis. konvensional. Hal ini menyebabkan motivasi
Perencanaan tersebut dibuat oleh guru sebelum belajar siswa menjadi menurun (Diah, 2006).
melaksanakan proses mengajar. Langkah yang Pelajaran kimia di sekolah dianggap sebagai
sistematis dalam proses mengajar merupakan pelajaran yang sulit dan menakutkan bagi para
bagian penting dari strategi mengajar. Upaya siswa. Hal ini karena banyaknya konsep-konsep
pengembangan strategi mengajar bertolak yang sulit dipahami oleh siswa, khususnya dalam
dari pengertian mengajar sebagai upaya pembelajaran pokok bahasan sistem periodik
memberikan bimbingan kepada siswa untuk unsur. Konsep-konsep dalam sistem periodik
melaksanakan kegiatan belajar (Diah, 2006). unsur seperti jari-jari atom, keelektronegatifan
Dengan pengajaran secara tradisional di dan kemiripan unsur lainnya masih membuat
sekolah-sekolah ternyata amat banyak waktu siswa bingung. Kesulitan inilah yang membuat
yang digunakan oleh siswa untuk mendengarkan siswa menjadi kurang termotivasi belajar (Diah,
dan mencatat. Sedangkan proses belajar itu 2006).
sendiri berjalan dengan kekurangan waktu Pembelajaran menurut definisi Hamalik
bahkan banyak kegiatan yang sebenarnya (2001) adalah suatu kombinasi yang tersusun
terjadi di luar pengawasan guru. Apalagi meliputi unsur-unsur manusiawi, internal
* Korespondensi: material fasilitas perlengkapan dan prosedur
S. Mustakim yang saling mempengaruhi untuk mencapai
Program Studi Pendidikan kimia, Fakultas Keguruan dan tujuan pembelajaran. Pembelajaran dapat
Ilmu Pendidikan, Universitas Tadulako
email: sartikamustakim@ymail.com melibatkan dua pihak, yaitu guru dan peserta
© 2013 - Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Tadulako didik yang didalamnya mengandung dua

215
Volume 2, No. 4, 2013: 215-221 Jurnal Akademika Kimia

unsur sekaligus, yaitu mengajar dan belajar sehingga membuat hidup dan pembelajaran
(teaching dan learning) (Aguston, 2005). Jadi kita jauh lebih mudah daripada sebelumnya
istilah pembelajaran merupakan perubahan (Al-Khalifa, 2011). Olehnya itu diperkenalkan
istilah yang sebelumnya dikenal dengan istilah penggunaan Quick Response Code (QR Code)
proses mengajar belajar (PBM) atau kegiatan pada pembelajaran yang lebih memberdayakan
belajar mengajar (KBM) (Ismail, 2008). Jadi siswa agar dapat berperan aktif dalam proses
pembelajaran didefinisikan sebagai interaksi belajar mengajar di sekolah. QR Code adalah
antara peserta didik dengan lingkungannya image dua dimensi yang merepresentasikan
sehingga terjadi perubahan secara relatif suatu data, terutama data berbentuk teks. QR
permanen di dalam tingkah laku yang tampak Code merupakan evolusi dari barcode yang
sebagai hasil pengalaman. awalnya satu dimensi menjadi dua dimensi.
Saat ini, pengetahuan dapat dianggap QR Code berisi informasi baik diarah vertikal
sebagai kekuatan yang datang dari informasi. dan horizontal, sedangkan bar code berisi data
Informasi meliputi penggunaan yang berbeda dalam satu arah saja. QR Code memegang jauh
saluran komunikasi atau teknologi-teknologi volume yang lebih besar informasi dari bar code
yang disebut informasi, yang memiliki (Narayanan, 2012). QR Code bebas untuk
efektivitas dan akses yang sama. Teknologi menghasilkan dan mengakses data dengan
informasi dapat memperluas pengetahuan cepat, dan dapat dibaca dengan smartphone.
yang melampaui batas-batas geografis suatu QR Code sudah populer di beberapa negara
negara atau negara menyediakan informasi lain dan mendapatkan popularitas di Amerika
relevan kepada masyarakat sepanjang waktu. Serikat (Jackson, 2011). QR Code memiliki
Teknologi Informasi adalah alat berbasis kemampuan menyimpan data yang lebih jauh
komputer yang digunakan orang untuk bekerja besar daripada barcode. Saat ini penggunaan
dengan informasi dan dukungan informasi QR Code sudah cukup luas. Banyak negara
serta pengolahan informasi kebutuhan suatu di dunia, terutama Jepang, telah menerapkan
organisasi. Ini termasuk komputer terkait teknologi QR Code pada perindustriannya. Di
dengan teknologi, www.videoconferencing Indonesia penggunaan QR code belum terlalu
dll (Haag,1998). Teknologi informasi dapat populer. Akan tetapi aplikasi QR reader untuk
digunakan untuk mempromosikan peluang berbagai macam tipe ponsel cukup banyak
penyebaran pengetahuan. Hal ini dapat tersedia untuk diunduh secara gratis melalui
membantu guru dan siswa memiliki informasi Internet (Ridwan, dkk. 2010).
dan pengetahuan yang terbaru. “Informasi yang Sementara di Indonesia, QR Code sudah
akurat dan tepat diperlukan untuk pengajaran diterapkan pada beberapa perusahaan. Salah
dan pembelajaran yang efektif, serta teknologi satunya adalah pada surat kabar Kompas,
informasi adalah seperangkat alat yang dapat yang mengklaim sebagai pelopor penggunaan
membantu memberikan orang yang tepat QR Code di Indonesia, yang diterbitkan oleh
dengan informasi yang tepat pada waktu yang Kelompok Kompas Gramedia, Contoh sebuah
tepat” (Haag, 1998). QR Code dapat dilihat pada Gambar 1 (Taufik,
Adapun contoh TIK dalam pembelajaran 2009).
yaitu pembelajaran melalui ponsel. Sampai
sekarang penggunaan ponsel di sekolah atau
lembaga pendidikan masih dibatasi dan diawasi
atau bahkan dilarang apabila dioperasikan
selama proses pembelajaran. Hal itu dilakukan
kebanyakan karena aktivitas berponsel
yang mengganggu lingkungan sekolah dan
mengganggu konsentrasi jalannya pembelajaran.
Akibatnya sering terjadi perampasan ponsel, Gambar 1 Contoh QR Code untuk alamat
razia ponsel atau operasi ponsel yang berisi web :http//www. i_nigma.com/barcodes.html.
materi melanggar UU Pornografi. Namun
di sisi lain, apabila kita jeli dan kreatif tentu Beberapa aplikasi dari QR code dalam
ponsel bisa menjadi alat yang berguna bagi pendidikan adalah: (i) manajemen kelas:
siswa dan gurunya. Yang dimaksudkan adalah menyediakan kontak informasi dari pendidik
ponsel sebagai media pembelajaran (Nasiri & terhadap peserta didik, membuat jadwal ujian,
Deng, 2009). Ponsel dan internet telah menjadi menandai identitas peralatan dalam kelas; (ii)
aspek penting dari kehidupan kita. Mereka aktivitas pembelajaran: membuat buku yang
menyediakan kenyamanan dan kemudahan mengandung QR code, menghubungkan

216
S. Mustakim Penggunaan QR Code Dalam Pembelajaran Pokok Bahasan.............

dengan sumber multimedia pendidikan di tempat tertentu subjek (Lee, dkk. 2011). Kode
internet (url) atau Youtube, memberikan QR juga memungkinkan pelaksanaan sistem
informasi nutrisi pada produk makanan, yang inovatif berbasis pada paradigma just-in-
menandai informasi bagian-bagian kerangka time belajar dan pembelajaran kolaboratif (De
manusia, serta mengisi informasi setiap unsure Pietro & Frontera, 2012). Dengan kode QR
dalam sistem periodik dalam pembelajaran juga memungkinkan untuk menghubungkan
kimia; (iii) asesmen: membuat kuis sumber daya digital untuk teks tercetak. Ini
menggunakan QR code; (v) dalam penelitian; berarti potensi untuk memperkaya materi
melacak literature pada internet (Walanda, pembelajaran berbasis kertas. Bahan-bahan
2012). pembelajaran diperkaya dapa t melayani dan
Penggunaan teknologi QR code dapat memotivasi siswa dengan kebutuhan belajar
diterapkan pada pelajaran kimia khususnya yang berbeda (Chen, Teng & Lee, 2010).
dalam pembelajaran pokok bahasan sistem Hingga saat ini hanya beberapa saja institusi
periodik unsur. Perangkat mobile sangat pendidikan yang menggunakan teknologi
cocok untuk aplikasi konteks-sadar karena QR code seperti Bath University (Ramsden,
perangkat mobile yang tersedia dalam konteks 2008), Hongkong Institute of Education, Mie
yang berbeda dan mampu memperpanjang University (Susono & Shimomura, 2006),
lingkungan belajar dalam konteks nyata. serta IPB-Bogor. Selain dimanfaatkan dalam
Perangkat mobile dapat memberikan informasi pembelajaran, beberapa literatur menunjukan
tambahan berdasarkan, misalnya, pada lokasi aplikasi QR code dalam administrasi dan juga
dan membuat kegiatan yang tersedia yang personal diantaranya: pembelajaran sejarah
relevan dengan lingkungan (Naismith, dkk. menggunakan QR codes (Chen & Choi,
2004). 2010), catalog perpustakaan dan pemasukan
Potensi mobile learning tergantung pada tugas perkuliahan (Ramsden, 2008), dan
penyediaan dan pengembangan peluang dan pembelajaran bahasa Inggris (Liu, Tan, &
lingkungan yang meningkatkan pembelajaran. Chu, 2007). Informasi dan komunikasi (TIK)
Tujuannya harus untuk mempromosikan telah sangat besar merambah dalam dunia
pembelajaran yang lebih berpusat pada peserta pendidikan dan kebanyakan memberikan
didik, tidak mengikat mengajar dan belajar pengaruh yang positif dalam membantu proses
untuk perangkat mobile (Zhang et al., 2010). pembelajaran di kelas ataupun di ruang kuliah.
Dalam literatur kami menemukan bahwa Beberapa contohnya adalah penggunaan
kode QR dapat mendukung pembelajaran teknologi mobile/selular pada pembelajaran di
siswa ketika bergerak di lapangan (misalnya pendidikan tinggi (Wexler, et al., 2008) serta
dalam kegiatan jejak dan lapangan). Dengan pengajaran berbasis-sms (short message service)
kode QR tertanam dalam lingkungan, siswa (Markett, et al., 2006; So, 2009).
dapat memperoleh informasi kontekstual Berdasarkan uraian tersebut maka
(Osawa et al., 2007). QR code adalah jenis penulis tertarik untuk mencoba menerapkan
dua dimensi barcode matriks dirancang oleh penggunaan QR Code pada mata pelajaran
sebuah perusahaan Jepang bernama Denso kimia yaitu pada pokok bahasan sistem periodik
Gelombang pada bulan September 1994 (Qi, unsur di kelas XC SMA LABSCHOOL
2004). Kode ini terdiri dari modul hitam UNTAD. Dengan melaksanakan penelitian
diatur dalam pola persegi dengan fungsi seperti yang berjudul “Penggunaan QR Code Dalam
encoding, pencarian gambar, decollating, Pembelajaran Pokok Bahasan Sistem Periodik
alokasi gambar dan revisi gambar. Keuntungan Unsur Pada Kelas X SMA LABSCHOOL
dari QR Code termasuk kapasitas besar UNTAD”.
untuk penyimpanan data, ruang lingkup yang
luas untuk encoding, mini-ukuran cetakan, Metode
membaca hypervelocity, kemampuan koreksi Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di
kesalahan (Zhu, 2006). Studi tentang Cepat SMA LABSCHOOL UNTAD.
Tanggap (QR) Kode di bidang pendidikan Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa
dapat ditempatkan dalam konteks mobile kelas X SMA Labschool Untad yang berjumlah
learning. Kode QR adalah barcode yang terdiri 94 siswa. Kelas X hanya terdiri dari 4 kelas,
dari modul hitam pada latar belakang putih. untuk itu sampel penelitian terdiri dari Kelas
Kode-kode pola persegi dapat berisi informasi XC dan XD. Teknik pengambilan data adalah
seperti teks, link URL, atau data lain yang purposive sampling yaitu dengan mengambil
dapat mengarahkan pengguna ke sumber- dua kelas yang memilki rata-rata nilai ulangan
sumber untuk informasi lebih lanjut tentang harian materi struktur atom yang hampir

217
Volume 2, No. 4, 2013: 215-221 Jurnal Akademika Kimia

sama. Adapun rata-rata nilai ulangan harian 2, data tersebut memenuhi kriteria data yang
dari setiap kelas yaitu kelas Xa = 80,12 Xb = berdistribusi normal yaitu χ2hitung < χ2tabel, sebab
81,39 Xc = 75,16 dan Xd = 75,20. Dari data data yang diperoleh χ2hitung lebih kecil dari χ2tabel
tersebut Kelompok eksperimen dan kontrol (5,37 < 5,99) sehingga data untuk kelas kontrol
diperoleh dari dua kelas yaitu kelas Xc dan Xd. juga merupakan sampel berdistribusi normal.
Dimana kelas Xc sebagai kelas eksperimen dan Hasil uji normalitas data hasil post test dapat
Xd sebagai kelas kontrol. dilihat pada Tabel 2.
Instrumen Penelitian Tabel 2. Hasil uji normalitas data hasil post test
Instrumen yang digunakan pada penelitian
ini adalah Tes Hasil Belajar kimia. Tes Kelas χ2hitung χ2tabel Kriteria
hasil belajar siswa disusun dengan maksud Eksperimen 5,53 5,99 Normal
untuk memperoleh data hasil belajar siswa Kontrol 5,37 5,99 Normal
kelas X dalam pembelajaran kimia di SMA
LABSCHOOL UNTAD.
Tes ini akan dibuat dalam bentuk pilihan Karena χ2hitung < χ2tabel untuk kelas eksperimen
ganda (multiple choice) sebanyak 20 item, maupun kelas kontrol dengan dk = 2 taraf
dimana pemberian skor untuk tiap item akan signifikasi α = 0,05 sehingga H0 diterima.
didasarkan pada benar atau salahnya jawaban. Dengan demikian dapat disimpulkan data yang
Jawaban yang benar akan memperoleh skor 1 diperoleh berdistribusi normal.
(satu) dan jawaban yang salah akan memperoleh
skor 0 (nol). Tes ini digunakan sebagai tes akhir Pengujian Homogenitas
untuk mengetahui hasil belajar siswa yang Sampel yang digunakan dalam penelitian
menggunakan QR Code dan hasil belajar siswa harus homogen, oleh karena itu perlu diuji
yang menggunakan metode konvensional. homogenitas data yang diperoleh dengan
menggunakan uji F. Harga yang dibutuhkan
Hasil dan Pembahasan untuk uji ini adalah varians terbesar (S22) =
Tabel 1. Perbandingan hasil belajar tes akhir siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Nilai
Sampel Jumlah Nilai Skor Nilai Skor Nilai Standar
Minimum Maksimum Rata-Rata Deviasi
Kelas Eksperimen 22 60 89 80,86 6,53
Kelas Kontrol 22 65 84 75,40 7,46

Adapun daftar perbandingan hasil belajar 7,46 dan varians terkecil (S12) = 6,53 diperoleh
tes akhir siswa kelas eksperimen dan kelas nilai Fhitung = 1,31 dan Ftabel = 2,09 dengan α =
kontrol. Pada Tabel 1 Terdapat jumlah nilai 0,05 dan dk (22, 22). Karena kriteria pengujian
rata-rata untuk kelas eksperimen yaitu 80,86 ini adalah Fhitung < Ftabel (1,31 < 2,09) maka
dan jumlah nilai rata-rata untuk kelas control sampel yang dipergunakan dalam penelitian ini
yaitu 75,40 dan standar deviasi untuk kelas bersifat homogen antara kelas kontrol dan kelas
eksperimen yaitu 6,53 dan standar deviasi eksperimen. Hasil uji kesamaan dua varians data
untuk kelas control yaitu 7,46. hasil post test antara kelompok eksperimen dan
Pengujian Normalitas kelompok kontrol dapat dilihat pada Tabel 3.
Dari hasil perhitungan diperoleh data Tabel 3. Hasil uji kesamaan dua varians data
χ2hitung = 5,53 sedangkan untuk χ2 tabel = 5,99 hasil post test
dengan taraf signifikan (α) = 0,05 dan dk =
2, data tersebut memenuhi kriteria data yang Data Fhitung Ftabel Kriteria
berdistribusi normal yaitu χ2hitung < χ2tabel, sebab Post 1,31 2,09 Tidak ada
data yang diperoleh χ2hitung lebih kecil dari test perbedaan varians
χ2tabel (5,53 < 5,99) sehingga data untuk kelas (Homogen)
eksperimen merupakan sampel berdistribusi
normal. Dari hasil perhitungan diperoleh data
χ2 hitung = 5,37 sedangkan untuk χ2 tabel = 5,99 Karena harga Fhitung < Ftabel maka dapat
disimpulkan bahwa kedua kelompok
dengan taraf signifikan (α) = 0,05 dan dk = mempunyai varians yang sama (homogen).

218
S. Mustakim Penggunaan QR Code Dalam Pembelajaran Pokok Bahasan.............

Pengujian Hipotesis digunakan dalam tes akhir ini sudah tervalidasi


Berdasarkan hipotesis dalam penelitian ini sehingga untuk reliabilitas dan validitasnya
yaitu antara pembelajaran dengan penggunaan tidak diragukan lagi.
QR Code dan pembelajarn konvensional Pengujian normalitas dan homogenitas
bahwa “Terdapat perbedaan hasil belajar siswa merupakan uji prasyarat untuk statistik uji-t
pada materi sistem periodik unsur melalui dalam hal ini digunakan uji pihak kanan atau
penggunaan QR Code dan konvensional pada uji satu pihak. Berdasarkan uji normalitas
siswa kelas X SMA LABSCHOOL UNTAD” data tes hasil belajar untuk kelas eksperimen
maka pengujian hipotesis ini dilakukan diperoleh nilai χ2hitung < χ2tabel (5,53, < 5,99)
dengan menggunakan uji pihak kanan atau dan uji normalitas data untuk kelas kontrol
uji satu pihak (uji-t). Secara matematis dapat diperoleh χ2hitung < χ2tabel (5,37 < 5,99). Hasil
dinyatakan sebagai berikut: tersebut menunjukan baik kelas eksperimen
maupun kelas kontrol mempunyai data yang
Tabel 4. Hasil uji perbedaan rata-rata berdistribusi normal. Ini berarti bahwa data
post test yang diperoleh mempunyai sebaran merata
Data thitung ttabel Kriteria antara hasil belajar siswa yang rendah, sedang,
dan tinggi yaitu memenuhi kurva normal.
Post test 2,65 2,02 Ada Perbedaan Berdasarkan uji homogenitas data tes hasil
belajar diperoleh nilai Fhitung­ < Ftabel 1,31< 2,09
dengan α = 5% maka H0 diterima. Sehingga
H1 : µ1 > µ2 adalah Hasil belajar siswa dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat
yang mengikuti pembelajaran dengan perbedaan varians antara kelas kontrol dan
menggunakan QR Code lebih baik dari pada kelas eksperimen maka data bersifat homogen.
hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran Homogennya data menunjukkan bahwa
konvensional. tingkat kemampuan antara kedua kelas yang
Kriteria pengujiannya adalah: Terima H0 telah dipilih sebagai sampel sama. Data yang
jika thitung > ttabel dan tolak H0 jika thit < ttabel. diperoleh berdistribusi normal dan bersifat
Berdasarkan penelitian diperoleh thitung = 2,65 homogeny. Variabel bebas dalam penelitian
dan ttabel = 2,02. Hal ini menunjukan bahwa ini adalah pembelajaran dengan penggunaan
thitung berada di daerah penolakan H0. Maka, QR Code dan pembelajaran konvensional,
H0 ditolak dan H1 diterima. Sehingga dapat sedangkan variabel terikatnya adalah hasil
disimpulkan bahwa Penggunaan QR Code belajar siswa materi sistem periodik unsur.
lebih baik dari pada pembelajaran tanpa Pembelajaran dengan penggunaan QR Code
penggunaan QR Code. dan pembelajaran konvensional dapat diketahui
Pada pelaksanaan penelitian, jumlah waktu berpengaruh terhadap hasil belajar kimia
pembelajaran yang diberikan pada kelompok siswa materi sistem periodik unsur digunakan
eksperimen dan kelompok kontrol adalah uji pihak kanan: uji satu pihak. Data yang
sama yaitu 4 jam pelajaran. Dengan rincian 3 digunakan untuk menganalis uji pihak kanan
jam digunakan untuk pembelajaran dan 1 jam adalah data nilai post test materi sistem periodik
pelajaran digunakan untuk post test. Selain unsur yang diberikan pada akhir pembelajaran.
jumlah waktu pembelajaran yang sama, pokok Rumus yang digunakan adalah uji-t. Hal ini
materi yang disampaikan pada kelompok disebabkan karena kelompok eksperimen dan
eksperimen dan kelompok kontrol juga sama kelompok kontrol mempunyai varians yang
yaitu sistem periodik unsur dengan urutan sama. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh
penyampaian materi yang sama pula. Jadi, harga thitung sebesar 2,65 sedangkan harga
perlakuan yang berbeda hanya pada pendekatan t(0,975),(53) sebesar 2,02. Karena thitung > ttabel maka
pembelajaran yang digunakan. Pada kelompok hasil uji hipotesis ini diperoleh kesimpulan
eksperimen dengan pembelajaran QR bahwa dengan penggunaan QR Code lebih
Code sedangkan kelompok kontrol dengan baik daripada pembelajaran konvensional.
pembelajaran konvensional. Pembelajaran dengan menerapkan
Setelah melaksanakan proses pembelajaran penggunaan QR Code adalah salah satu
sesuai dengan RPP, diakhir pembelajaran upaya yang baik yang dilakukan dalam
dilakukan post test dengan tujuan untuk proses pembelajaran kimia khususnya pada
mengetahui perbedaan hasil belajar siswa pokok bahasan sistem periodik unsur.
pada kelas yang diberi perlakuan dan tidak Setelah dilakukan pembuktian antara dua
diberi perlakuan. Tes disusun dalam bentuk sampel dengan uji-t dapat diketahui bahwa
pilihan ganda sebanyak 20 soal. Soal-soal yang pengujian hipotesis penelitian ini adalah
219
Volume 2, No. 4, 2013: 215-221 Jurnal Akademika Kimia

pembelajaran dengan penggunaan QR sistem periodik unsur lebih baik dari pada
Code lebih baik dari pada pembelajaran hasil belajar siswa melalui pembelajaran
konvensional. Ini berarti, hasil belajar siswa konvensional pada siswa kelas X SMA
yang mendapat pembelajaran dengan QR LABSCHOOL UNTAD.
Code lebih baik dari hasil belajar siswa
yang mendapat pembelajaran konvensional, Ucapan Terima Kasih
dengan rata-rata skor hasil belajar siswa kelas Penulis mengucapkan terima kasih kepada
eksperimen sebesar 80,86 dan kelas kontrol Elinawati Hutajulu Kepala sekolah SMA
sebesar 75,40. Ini juga dapat dilihat pada LABSCHOOL UNTAD, Rosida selaku Guru
hasil analisa data, berdasarkan data hasil Kimia di SMA LABSCHOOL UNTAD dan
pengujian hipotesis dengan menggunakan siswa kelas XC dan XD SMA LABSCHOOL
uji-t, dimana diperoleh nilai thitung berada di UNTAD.
daerah penolakan H0 atau dengan kata lain
ada pengaruh positif dari pembelajaran dengan
penggunaan QR Code terhadap hasil belajar Referensi
kimia siswa kelas X. Hasil belajar kimia siswa
yang diajarkan dengan penggunaan QR Code Aguston, M. (2005). Strategi belajar
lebih baik dibandingkan pembelajaran dengan dan pembelajaran. Jakarta: Lembaga
pembelajaran konvensional. Administrasi Negara Republik Indonesia.
Nilai rata-rata hasil belajar yang dicapai siswa
pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada Al-Khalifa, H. S. (2011). Sistem -learning
kelas kontrol, karena siswa tertarik dengan berbasis ponsel dan kode respon cepat.
kegiatan pembelajaran dengan penggunaan Departemen PerguruanTinggi Teknologi
QR Code. Pada saat diskusi kelompok, siswa Informasi Komputer dan Ilmu Informasi
mampu memanfaatkan kerjasama tim dalam Raja Saud University, Riyad, Kerajaan
menjawab soal, memperhatikan intruksi dari Saudi Arabia.
guru, dan mampu memanfaatkan sumber
belajar yang tidak hanya menjadikan guru Chen, X., & Choi, J. (2010). Designing outline
sebagai satu-satunya sumber belajar. collaborative location-ware platform for
Pada pembelajaran konvensional yang history learning. Journal of Educational
dilakukan pada kelas kontrol, keseluruhan proses Technology Development and Exchange, 3(1),
belajar-mengajar lebih didominasi oleh guru. 13-26.
Guru dalam hal ini sepenuhnya memberikan
informasi dan ilmu pengetahuan pada siswa, Chen, N. S., Teng, D. C. E., & Lee, C. H.
peran aktif siswa hanya sekedar mendengarkan (2010). Augmenting paper-based reading
dan memperoleh langsung hasil dari tugas atau Activities with Mobile Technology to
persoalan dari guru. Pada umumnya siswa Enhance Reading Comprehension.
mendapat penuturan secara lisan dan bersifat Proceedings of the 6th IEEE International
pasif, yakni menerima apa yang dijelaskan oleh Conference on Wireless, Mobile, and
guru tanpa berbuat semaksimal mungkin. Ubiquitous Technologies in Education (pp.
Rendahnya nilai rata-rata siswa pada 201-203). doi: 10.1109/WMUTE.2010.39
kelas dengan pembelajaran konvensional
disebabkan karena dalam proses pembelajaran De Pietro, O., & Fronter, G. (2012). Mobile
interaksi yang terjadi antara siswa dengan Tutoring for Situated Learning and
pengajar masih sangat kurang. Hal ini terjadi Collaborative Learning in AIML Application
karena kurangnya rasa tanggung jawab siswa Using QR-Code. 2012 Sixth International
terhadap pembelajaran sendiri, misalnya dalam Conference on Complex, Intelligent, and
pengerjaan soal-soal latihan yang diberikan oleh Software Intensive Systems (pp. 799-805).
pengajar lebih banyak dikerjakan oleh siswa doi: 10.1109/CISIS.2012.154
yang memiliki kemampuan hasil belajar yang
baik, sedangkan yang memiliki kemampuan Diah, A. W. M. (2006). Pendekatan sains,
hasil belajar yang rendah terkesan pasif untuk lingkungan, teknologi dan masyarakat
melesaikan soal-soal latihan pada saat proses dalam pembelajaran sistem periodik dan
belajar mengajar. struktur atom. Makalah disampaikan pada
Kesimpulan Seminar Nasional Kimia. Surabaya.
Hasil belajar siswa melalui pembelajaran
dengan penggunaan QR Code pada materi Hamalik, O. (2001). Kurikulum dan

220
S. Mustakim Penggunaan QR Code Dalam Pembelajaran Pokok Bahasan.............

pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Multimedia and Hypermedia, 16(4), 411-
428.
Haag. (1998). Teknologi informasi komunikasi.
Jakarta: Depertemen Pendidikan Dan Qi Jinyue. (2004). 2D barcode generation and
Kebudayaan RI. recognition. Harbin: Harbin Engineering
University.
Ismail, S. M. (2008). Strategi pembelajaran
agama islam berbasis PAIKEM. Semarang: Ramsden, A. (2008). The use of or codes
Rasail Media Group. in education: A getting started guide for
academics. University of Bath. Bath-United
Jackson, D. W. (2011). Standard bar codes Kingdom.
beware-smartphone users may prefer QR
codes. Law Library Journal, 103(1), 153. Ridwan, F. Z. Santoso, H., & Agung, W. P.
(2010). Mengamankan single identity
Lee, J.-K., Lee, I.-S., & Kwon, Y.-J. (2011). number (SIN) menggunakan QR code dan
Scan & Learn! Use of Quick Response sidik jari. Internet Working Indonesia Journal,
Codes & Smartphones in a Biology Field 2(2), 17-20.
Study. The American Biology Teacher, 73,
8, 485-492. doi: 10.1525/abt.2011.73.8.11 So, W. W. S. (2009). The development of a SMS-
based teaching and learning system. Journal
Liu, T., Tan, T., & Chu, Y. (2007). 2D barcode of Educational Technology Development and
and augmented reality supported English Exchange, 2(1), 113-124.
learning system. Paper presented at the
6th IEEE/ACIS International Conference Susono, H., & Shimomura, T. 2006. Using
on Computer and Information Science, mobile phones and QR code for formative
Melbourne Australia. class assessment. Paper presented at the
Current Development in Technology-
Markett, C., Arnedillo Sanchez, I., Weber, S., Assisted Education, Badajoz.
& Tangney, B. (2006). Using short message
service to encourage interactivity in the Taufik. (2009). Penggunaan QR code. Jakarta:
classroom. Computers & Education, 46, Depertemen Pendidikan.
280-293.
Walanda, D. K. (2012). Aplikasi quick response
Nasiri, A. & G. Deng, (2009). Faktor QR code dalam dunia pendidikan. Seminar
lingkungan mempengaruhi pada bisnis mobile Nasional Sains dan Matematika I. Palu.
learning. Jakarta: Lembaga Administrasi
Negara Republik indonesia. Wexler, S., Brown, J., Metcalf, M., Rogers, D.,
Naismith, L., Lonsdale, P., Vavoula, G., & & Wagner, E. (2008). 3600Report: Mobile
Sharples, M. (2004). Literature review in learning. Santa Rosa, USA: eLearning
mobile technologies and learning. Bristol, Guild.
UK: NESTA Futurelab
Zhang, B.H., Looi, C. K., Seow, P., Chia, G.,
Narayanan, A.S.(2012) QR code and security Wong, L. H., Chen, W., So, H. J., Soloway,
solution. International Journal of Computer E., & Norris, C. (2010). Deconstructing
Science and Telecommunications, 3(7), 69- and reconstructing: Transforming primary
71. science learning via a mobilized curriculum.
Computers & Education, 55(4), 1504-1523.
Osawa, N., Noda, K., Tsukagoshi, S., Noma, doi: 10.1016/j.compedu.2010.06.016
Y., Ando, A., Shinuya, T., & Kondo, K.
(2007). Outdoor education support system Zhu , M. (2006). 2D code bar code recognition
with location awareness using RFID and applications. Xi’an: Xi’an University of
symbology tags. Journal of Educational Electronic Science and Technology.

221