Anda di halaman 1dari 30

PROPOSAL TUGAS AKHIR

INSPEKSI PEMELIHARAAN JARINGAN


TEGANGAN MENENGAH 20 KV PADA
PENYULANG SM5 TATAARAN
DI PT.PLN (PERSERO) ULP TONDANO

MAINTENANCE INSPETION OF 20 KV MEDIUM VOLTAGE


NETWORK ON FEEDER SM5 TATAARAN
AT PT.PLN (PERSERO) ULP TONDANO

Oleh:
JULIANDO ROMMY GERUNG
16021056

D3 TEKNIK LISTRIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MANADO
2019
ABSTRAK PROPOSAL

Kontinuitas dan kualitas penyaluran listrik adalah suatu bagian penting dalam
menjaga pelayanan kepada pelanggan agar tetap baik. Hal ini dilakukan untuk
menekan kerugian bukan hanya bagi pelanggan tapi juga bagi PLN. Dalam
beberapa tahun belakangan ini ada begitu banyak kasus yang menyebabkan
kontinuitas dan kualitas penyaluran listrik menurun. Antara lain karena faktor
konstruksi, alam, manusia, dll. Atas dasar itulah maka harus dilakukan inspeksi
dan pemeliharaan terhadap jaringan, untuk mencega lebih awal kerugian yang
berpotensi dialami berbagai pihak. Inspeksi pemeliharaan pada jaringan tegangan
menengah 20 KV adalah 2 hal yang sulit untuk dipisahkan. Inspeksi adalah
langkah awal sebelum dilaksanakan pemeliharaan, dimana inspeksi merupakan
proses pemeriksaan dengan metode pengamatan atau observasi menggunakan
panca indra untuk mendeteksi masalah. Dan pemeliharaan merupakan suatu
proses untuk merawat atau memperbaiki suatu alaat sampai pada kondisi yang
dapat diterima. Supaya proses ini dapat berjalan dengan baik, kita harus
mengetahui faktor penyebab, langkah-langkah yang akan diambil dan kendala saat
pelaksanaan. Lewat analisis ini penulis mengharapkankan, agar PT.PLN
(PERSERO) ULP Tondano dapat mencegah lebih awal gangguan pada penyulang
SM5 Tataaran, untuk menjaga kontinuitas penyaluran dan pelayanan kepada
pelanggan.

Kata Kunci – Inspeksi Pemeliharaan, Jaringan Tegangan Menengah 20 KV,


Penyulang SM5 Tataaran

ii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah kelistrikan menjadi polemik di berberapa tahun terakhir ini, dan
banyak memunculkan dampak dalam berbagai aspek kehidupan, antara lain :
sosial, ekonomi, keuangan, politik, budaya, dan lain-lain. Kondisi tersebut
mengindikasikan bahwa betapa pentingnya ketersediaan listrik bagi umat
manusia. Maka bisa dikatakan listrik sebagai salah satu kebutuhan utama untuk
menunjang dan memenuhi kebutuhan hidup umat manusia. PT.PLN (persero)
merupakan perusahaan listrik negara yang bergerak dalam bidang penyediaan
tenaga listrik mulai dari pembangkitan, transmisi, sampai distribusi. Dalam proses
pendistribusian listrik kepada pelanggan, terlebih khusus pada jaringan listrik
tegangan menengah 20 KV penyulang SM5 Tataaran sudah beberapa kali terjadi
gangguang dalam 3 bulan terakhir, yang menyebabkan kontinuitas penyaluran dan
pelayanan kepada pelanggan menurun.

Tabel I.1 Total Gangguan penyulang SM5 Bulan september,Oktober,November


September Okboter Desember
Total Gangguan Penyulang SM5 3 kali 4 kali 4 kali

Pada jaringan tengangan menengah (JTM) 20 KV penyulang SM5


Tataaran ada beberapa foktor yang menyebabkan terjadinya gangguan, yaitu :
faktor kontruksi, faktor alam, faktor manusia. Gaguan yang terjadi karena faktor
konstruksi seperti : tiang roboh, penghantar putus, alat proteksi rusak, dll.
Gangguan yang sering terjadi karena faktor alam : tanah longsor, pohon roboh,
angin kencang, dll. Gangguan yang sering terjadi karena manusia : kelalaian
operator, ketidaktelitian, dll. Untuk mencegah gangguan lebih awal maka perlu di
lakukan inspeksi dan pemeliharaan terhadap jaringan tegangan menengah 20 KV
penyulang SM5 Tataaran, untuk menjaga kontinuitas penyaluran dan pelayanan
kepada pelanggan.

1
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan di atas, maka penulis tertarik
melakukan penelitian dan pengkajian dengan judul “INSPEKSI
PEMELIHARAAN JARINGAN TEGANGAN MENENGAH 20 KV PADA
PENYULANG SM5 TATAARAN PT.PLN (PERSERO) ULP TONDANO”

1.2 Perumusan Masalah


Pemasalahan yang akan dijadikan objek pengujian dalam proyek akhir ini
adalah :
1. Apakah faktor yang menyebabkan sehingga harus dilakukan inspeksi
dan pemeliharaan terhadap JTM 20 KV penyulang SM5 ?
2. Apa dan bagaimana bentuk-bentuk inspeksi dan pemeliharaan terhadap
JTM 20 KV penyulang SM5 ?
3. Apa saja kendala yang ditemui saat melakukan inspeksi dan
pemeliharaan terhadap JTM 20 KV penyulang SM5 ?

1.3 Tujuan dan Manfaat


Tujun dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui faktor apakah yang menyebabkan diharuskannya
dilakukan inspeksi dan pemeliharaan terhadap JTM 20 KV penyulang
SM5
2. Untuk mengetahui apa dan bagaimana bentuk-bentuk inspeksi dan
pemeliharaan terhadap JTM 20 KV penyulang SM5
3. Untuk mengetahui apa saja kendala pada saat dilakukannya
inspeksi dan pemeliharaan terhadap JTM 20 KV penyulang SM5

Manfaat dari penelitian ini adalah dapat mencegah lebih awal gangguan
pada penyulang SM5, untuk menjaga kontinuitas penyaluran dan
pelayanan kepada pelanggan.

2
1.4 Batasan Masalah
Dalam pembahasan dan penulisan ini , penulis membatasi permasalahan
hanya seputar inspeksi dan pemeliharaan Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 20
KV Pada Penyulang SM5 Di PT.PLN (PERSERO) ULP TONDANO

3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Distribusi Tenaga lsitrik


Sistem distribusi tenaga listrik meliputi semua Jaringan Tegangan
Menengah (JTM) 20 KV dan semua Jaringan Tegangan Rendah (JTR) 380/220
Volt hingga ke meter-meter pelanggan. Pendistribusian tenaga listrik dilakukan
dengan menarik kawat – kawat distribusi melalui penghantar udara. Penghantar
bawah tanah dari mulai gardu induk hingga ke pusat – pusat beban. pada sistem di
ranting Galang ada terpasang jaringan bawah tanah karena keadaan kota atau
daerahnya belum memungkinkan untuk dibangun jaringan tersebut. jadi untuk
daerah ini tetap disuplai melalui hantaran udara 3 phasa 3 kawat.
Setiap elemen jaringan distribusi pada lokasi tertentu dipasang trafo-trafo
distribusi, dimana tegangan distribusi 20 KV diturunkan ke level tegangan yang
lebih rendah menjadi 380/220 Volt. Dari trafo-trafo ini kemudian para pelanggan
listrik dilayani dengan menarik kabel-kabel tegangan rendah menjelajah ke
sepanjang pusat-pusat pemukiman, baik itu komersial maupun beberapa industri
yang ada disini. Tenaga listrik yang lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari
untuk mengoperasikan peralatan-peralatan tersebut adalah listrik dengan tegangan
yang rendah (380/220 Volt). Sedangkan tenaga listrik yang bertegangan
menengah (sistem 20 KV) dan tegangan tinggi (sistem 150 KV) hanya
dipergunakan sebagai sistem penyaluran (distribusi dan transmisi) untuk jarak
yang jauh. Hal ini bertujuan untuk kehandalan sistem karena dapat memperkecil
rugirugi daya dan memliki tingkat kehandalan penyaluran yang tinggi, disalurkan
melalui saluran transmisi ke berbagai wilayah menuju pusat-pusat pelanggan.

Keterangan gambar dibawah (Gambar II:I) :


1. Saluran distribusi adalah saluran yang berfungsi untuk menyalurkan
tegangan dari gardu distribusi ke trafo distribusi ataupun trafo
pemakaian sendiri bagi konsumen besar.
2. Trafo distribusi berfungsi untuk menurunkan tegangan 20 KV dari
Jaringan Tegangan Menengah (JTM) menjadi tegangan rendah

4
380/220 Volt. Tegangan rendah inilah yang kemudian didistriibusikan
ke pelanggan kecil melalui jaringan tegangan rendah (JTR) yang
berupa sistem 3 phasa empat kawat.
3. Konsumen besar adalah konsumen yang menggunakan energi yang
besar yang biasanya langsung mengambil sumber listrik dari gardu
terdekat untuk kemudian disalurkan ke Gardu Induk (GI ) pemakaian
sendiri.
4. Konsumen biasa adalah konsumen-konsumen yang menggunakan
tenaga istrik dengan level tegangan rendah (380/220 Volt) seperti
rumah tangga, industri kecil, perkantoran, pertokoan dan sebagainya.

Gambar II.1 Diagram satu garis sistem penyaluran Tenaga Listrik


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

Jaringan distribusi adalah kumpulan dari interkoneksi bagian-bagian


rangkaian listrik dari sumber daya ( Trafo Daya pada GI distribusi ) yang besar
sampai saklar-saklar pelayanan pelanggan. Secara garis besar jaringan distribusi
dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :

1. Distribusi Primer
Distribusi primer adalah jaringan distribusi daya listrik yang
bertegangan menengah (20 KV). Jaringan distribusi primer tersebut
merupakan jaringan penyulang. Jaringan ini berawal dari sisi skunder

5
trafo daya yang terpasang pada gardu induk hingga kesisi primer trafo
distribusi yang terpasang pada tiang-tiang saluran.

2. Distribusi Sekunder
Distribusi skunder adalah jaringan daya listrik yang termasuk dalam
kategori tegangan rendah (sistem 380/220 Volt), yaitu rating yang sama
dengan tegangan peralatan yang dilayani. Jaringan distribusi skunder
bermula dari sisi skunder trafo distribusi dan berakhir hingga ke alat
ukur (meteran) pelanggan. Sistem jaringan distribusi sekunder ini
disalurkan kepada para pelanggan melalui kawat berisolasi. (Magatrika,
2011)

Ruang lingkup jaringan distribusi :


1. SUTM, terdiri dari : Tiang dan peralatan kelengkapannya, konduktor
dan peralatan perlengkapannya, serta peralatan pengaman dan
pemutus.
2. SKTM, terdiri dari : Kabel tanah, indoor dan outdoor termination dan
lain-lain.
3. Gardu trafo, terdiri dari : Transformator, tiang, pondasi tiang, rangka
tempat trafo,panel2, pipa-pipa pelindung, Arrester, kabel-kabel,
peralatan grounding,dan lain-lain.
4. SUTR dan SKTR, terdiri dari: sama dengan perlengkapan/material
pada SUTM dan SKTM. Yang membedakan hanya dimensinya.

2.2 Konstruksi Jaringan Tegangan Menengah


2.2.1 Macam-macam konstruksi jaringan distribusi TM
Berdasarkan Jenis Konduktor :
1. Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM):
Penghantar telanjang (kawat) atau kawat berselubung (AAAC-S)
direntang diatas tiang dan dipasang pada isolator.
2. Saluran Kabel Udara Tegangan Menengah (SKUTM):

6
Penghantar berisolasi (kabel XLPE) dipilin, direntang diudara diikat /
digantung dengan penjepit kabel dan dipasang pada tiang.
3. Saluran Kabel Tegangan Menengah (SKTM):
Penghantar berisolasi (kabel XLPE) digelar dan ditanam di dalam

Berdasarkan Banyak Fasa :


1. JTM 3 fasa - 3 kawat
2. JTM 3 fasa - 4 kawat (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

2.2.2 Lokasi JTM


1. Aman
2. Murah
3. Lintasan JTM merupakan garis lurus dan mudah dijangkau
4. Estetika baik (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

2.2.3 Pemilihan konstruksi JTM


Berdasarkan posisi atau letak dan arah lintasan saluran, terdiri dari:
1. Konstruksi Pada Tiang Awal
2. Konstruksi Pada Tiang Dengan Tarikan Lurus
3. Konstruksi Pada Tiang Dengan Tarikan Sudut Kecil
4. Konstruksi Pada Tiang Dengan Tarikan Sudut Besar
5. Konstruksi Pada Tiang Penegang
6. Konstruksi Pada Tiang Percabangan Saluran
7. Konstruksi Pada Tiang Akhir
8. Konstruksi Penopang Tiang
9. Konstruksi Pembumian
10. Konstruksi Saklar/Switch Pada Tiang
11. Pondasi Tiang (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

2.2.4 Konstruksi SUTM

7
Konstruksi SUTM Sistem 4 Kawat (Jaringan SUTM dengan Penghantar
Netral)
1. Konstruksi SUTM sistem 4 kawat merupakan konstruksi SUTM
dengan ciri-ciri pemakaian panghantar Netral pada sistem Tegangan
Menengah yang dibumikan pada tiap-tiap tiang.
2. Penghantar Netral sisi Tegangan Menengah ini juga merupakan
penghantar Netral sisi Tegangan Rendah, sehingga dinamakan sistem
distribusi dengan Penghantar Netral Bersama (Multi Grounded
Common Netral).

Gambar II.2 SUTM 4 Kawat


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

Konstruksi SUTM Dua Sirkit (Ganda)


Konstruksi sirkit ganda pada saluran udara TM dibagi atas 2 proses :
1. Tambahan saluran pada tiang saluran yang sudah ada
2. Konstruksi saluran ganda yang sama sekali baru

Konstruksi SUTM Tiga Sirkit

8
Konstruksi SUTM 3 sirkit pada 1 tiang sebaiknya dihindari, mengingat
masalah operasi pemeliharaan dan kontinuitas pelayanan (Pusdiklat
PT.PLN Persero, 2018)

2.2.5 Komponen utama konstruksi JTM


1. Peghantar
a. Penghantar Telanjang/ terbuka (BC : Bare Conductor)
b. Penghantar Berisolasi Setengah AAAC-S (half insulated single
core)
c. Penghantar Berisolasi Penuh (Three single core)

2. Isolator
a. Isolator Tumpu : Pin Insulator, Pin-Post Insulator, Line-Post
Insulator
b. Isolator Tarik : Piringan, Long Road

3. Peralatan Hubung (Switching)


a. Fuse Cut Out (FCO)
b. Load Break Switch (LBS)

4. Tiang
a. Tiang kayu
b. Tiang beton
c. Tiang besi (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

2.2.6 Konstruksi SKUTM


a. Konstruksi Kabel Udara AAAC – S
b. Konstruksi Kabel Udara Twisted
c. Konstruksi Tiang Awal
d. Konstruksi Tiang Penumpu ( Live Role )
e. Konstruksi Tiang Sudut Kecil ( 15° s/d 30°)

9
f. Konstruksi Tiang Sudut Sedang ( 30° s/d 45°)
g. Konstruksi Tiang Sudut Besar ( 45° s/d 90°)
h. Konstruksi Tiang Akhir
i. Konstruksi Tiang Peregang dan Sambungan Kabel
j. Konstruksi Sambungan Antara SUTM dan SKUTM pada Kabel
Twisted
k. Konstruksi Tiang Pencabangan
l. Ikatan AAAC – S pada Isolator Tumpu
m. Konstruksi Saklar Tiang dan Peralatan Proteksi (Pusdiklat PT.PLN
Persero, 2018)

1. Penggunaan SKUTM
Saluran Udara Tegangan Menengah yang menggunakan Kabel sebagai
sarana penghantar.
a. Kabel udara dengan ketahanan isolasi 6 kV/half insulated - AAAC
- S . Ø 150 mm² dan 70 mm².
b. Kabel udara dengan ketahanan isolasi penuh/24 kV/Fasa-Fasa )
dari jenis NFA2XSEY-T, berukuran (3 x 150 A1 + 90 SE) dan (3 x
70 A1 + 70 SE). (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

2. Konstruksi SKUTM
Konstruksi SKTM Tanam Langsung
a. Konstruksi Tanam Langsung di halaman rumput / taman /tanah
biasa.
b. Konstruksi SKTM Tanam Langsung di bawah Trotoar atau Jalan
Lingkungan.
c. Konstruksi SKTM Persilangan ( Crossing ) Jalan.
d. Persilangan dengan cara dibor
e. Konstruksi SKTM Persilangan Sungai. (Pusdiklat PT.PLN
Persero, 2018)

10
2.3 Konsfigurasi JTM
Secara umum konfigurasi suatu jaringan tenaga listrik hanya mempunyai 2
konsep konfigurasi :
1. Jaringan radial
yaitu jaringan yang hanya mempunyai satu pasokan tenaga listrik, jika
terjadi gangguan akan terjadi “black‐out” atau padam pada bagian
yang tidak dapat dipasok.

2. Jaringan bentuk tertutup


yaitu jaringan yang mempunyai alternatif pasokan tenaga listrik jika
terjadi gangguan. Sehingga bagian yang mengalami pemadaman
(black‐out) dapat dikurangi atau bahkan dihindari. (Pusdiklat PT.PLN
Persero, 2018)

Gambar II.3 Pola Jaringan Distribusi Dasar


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

Berdasarkan kedua pola dasar tersebut, dibuat konfigurasi‐konfigurasi


jaringan sesuai dengan maksud perencanaannya sebagai berikut :
1. Konfigurasi Tulang Ikan (Fish‐Bone)

11
Konfigurasi fishbone ini adalah tipikal konfigurasi dari saluran udara
Tegangan Menengah beroperasi radial. Pengurangan luas pemadaman
dilakukan denganmeng isolasi bagian yang terkena gangguan dengan
memakai pemisah [Pole TopSwitch (PTS), Air Break Switch (ABSW)]
dengan koordinasi relai atau dengan system SCADA. (Pusdiklat
PT.PLN Persero, 2018)

Gambar II.4 Konfigurasi Tulang Ikan (Fishbone)


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

2. Konfigurasi Kluster (Cluster / Leap Frog)


Konfigurasi saluran udara Tegangan Menengah yang sudah bertipikal
sistem tertutup, namun beroperasi radial (Radial Open Loop). Saluran
bagian tengah merupakan penyulang cadangan dengan luas penampang
penghantar besar. (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

Gambar II.5 Konfugurasi Kluster (Leap Frog)


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

12
3. Konfigurasi Spindel (Spindle Configuration)
Konfigurasi spindel umumnya dipakai pada saluran kabel bawah tanah.
Pada konfigurasi ini dikenal 2 jenis penyulang yaitu pengulang
cadangan (standby atau express feeder) dan penyulang operasi
(working feeder). (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

Gambar II.6 Konfugurasi Kluster (Leap Frog)


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

4. Konfigurasi Fork
Konfigurasi ini memungkinkan 1(satu) Gardu Distribusi dipasok dari 2
penyulang berbeda dengan selang waktu pemadaman sangat singkat
(Short Break Time). Jika penyulang operasi mengalami gangguan,
dapat dipasok dari penyulang cadangan secara efektif dalam waktu
sangat singkat dengan menggunakan fasilitas Automatic Change Over
Switch (ACOS). (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

Gambar II.7 Konfigurasi Fork


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

13
5. Konfigurasi Spotload (Parallel Spot Configuration)
Konfigurasi yang terdiri sejumlah penyulang beroperasi paralel dari
sumber atau Gardu Induk yang berakhir pada Gardu Distribusi.
Konfigurasi ini dipakai jika beban pelanggan melebihi kemampuan
hantar arus penghantar. (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

Gambar II.8 Konfigurasi Spotload (Parallel Spot Configuration).


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

6. Konfigurasi Jala‐Jala (Grid, Mesh)


Konfigurasi jala‐jala, memungkinkan pasokan tenaga listrik dari
berbagai arah ke titik beban. Rumit dalam proses pengoperasian,
umumnya dipakai pada daerah padat beban tinggi dan pelanggan‐

pelanggan pemakaian khusus. (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

Gambar II.9 Konfigurasi Jala‐jala (Grid, Mesh).


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

14
7. Konfigurasi lain‐lain
a. Struktur Garpu dan Bunga
Struktur ini dipakai jika pusat beban berada jauh dari pusat
listrik/Gardu Induk. Jaringan Tegangan Menengah (JTM) berfungsi
sebagai pemasok, Gardu Hubung sebagai Gardu Pembagi, Pemutus
Tenaga sebagai pengaman dengan rele proteksi gangguan fasa‐fasa dan
fasa‐tanah pada JTM yang berawal dari Gardu Hubung. (Pusdiklat
PT.PLN Persero, 2018)

Gambar II.10 Konfigurasi Struktur Garpu.


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

Gambar II.11 Konfigurasi Struktur Bunga.


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

15
b. Struktur Rantai
Struktur ini dipakai pada suatu kawasan yang luas dengan pusat‐
pusat beban yang berjauhan satu sama lain. (Pusdiklat PT.PLN
Persero, 2018)

Gambar II.12 Konfigurasi Struktur Rantai.


[Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018]

2.4 Gardu Distribusi


Pengertian Gardu Distribusi tegangan Listrik yang Paling di kenal adalah
sebuah bangunan Gardu Listrik yang berisi atau terdiri dari instalasi Perlengkapan
Hubung Bagi Tegangan Menengah ( PHB-TM ), Transformator Distribusi, dan
Perlengkapan Hubung Bagi Tegangan Rendah ( PHBTR ) Untuk memasok
kebutuhan tenaga listrik bagi para pelanggan baik dengan tegangan menengah (
TM 20 KV ) maupun Tegangan rendah ( TR 220/380 Volt ).
Dalam Gardu Distribusi ini Biasanya digunakan Transformator distribusi
yang berfungsi untuk menurunkan tegangan listrik dari jaringan distribusi

16
tegangan tinggi menjadi tegangan terpakai pada jaringan distribusi tegangan
rendah (step down 8 transformator); misalkan tegangan 20 KV menjadi tegangan
380 volt atau 220 volt. Sedang transformator yang digunakan untuk menaikan
tegangan listrik (step up transformator), hanya digunakan pada pusat pembangkit
tenaga listrik agar tegangan yang didistribusikan pada suatu jaringan panjang
(long line) tidak mengalami penurunan tegangan (voltage drop) yang berarti; yaitu
tidak melebihi ketentuan voltage drop yang diperkenankan 5% dari tegangan
semula
(Makangiras, 2016)

2.4.1 Gardu beton


merupakan Gardu yang seluruh komponen utama instalasinya seperti
Transformator dan Peralatan Proteksi terangkai di dalam sebuah bangunan sipil
yang di rancang di bangun dan di fungsikan dengan kontruksi pasangan Batu Dan
Beton. Kontruksi Bangunan Gardu ini bertujuan untuk memenuhi persyaratan
terbaik bagi sistem keamanan Ketenagalistrikan.
- Seluruh peralatan berada dalam bangunan beton
- Luas gardu minimal 7 x 4 m2
- Kapasitas trafo maksimum 2 x 630 kVA

Peralatannya :
1. Satu ruang untuk pemutus beban arah masuk (incoming)
2. Satu beban untuk pemutus beban arah keluar (outgoing)
3. satu ruang untuk pengukuran
4. satu ruang untuk transformator dan pengamannya
5. Satu ruang untuk pembangi tegangan rendah
6. Cubikel (Makangiras, 2016)

2.4.2 Gardu Distribusi Kios/Metal


gardu yang bangunan keseluruhannya terbuat dari plat besi dengan
konstruksi seperti kios. Ukuran gardu 3 x 4 m, Peralatannya sama dengan gardu

17
beton. Selain untuk pemasangan tetap, gardu kios juga digunakan untuk keperluan
sementara/darurat (bersifat mobile/bergerak) - Seluruh peralatannya terletak
dalam ruangan tertutup dari metal/logam - Ukuran gardu 3 x 4 m (Makangiras,
2016)

2.4.3 Gardu Distribusi Portal


merupakan salah satu dari Jenis Konrtuksi Gardu Tiang, Yaitu Gardu
Distribusi Tenaga Listrik Tipe Terbuka ( Out-door ), dengan memakai kontruksi
dua tiang atau lebih. Tempat kedudukan Transformator sekurang kurangya 3
meter di atas permukaan tanah. Dengan sistem proteksi di bagian atas dan Papan
Hubung Bagi Tegangan di bagian bawah untuk memudahkan kerja teknis dan
pemeliharaan.
1. Seluruh peralatan disanggah oleh dua tiang atau lebih
2. Luas tanah yang dibutuhkan ± 2 x 3 m2
3. Kapasitas transformator maksimum 315 kVA (Makangiras, 2016)

2.4.4 Gardu Distribusi Cantol / Kontrol


merupakan salah satu dari dua Jenis Kontruksi Gardu Tiang. Yaitu Tipe
Gardu Distribusi Tenaga Listrik dengan Transformator, proteksi, dan Papan
Hubung Bagi Tegangan Rendah ( PHBTR ) di cantokan atau dipasang langsung
pada satu tiang yang memiliki kekuatan minimal 500 dAn.
1. Seluruh peralatannya disanggah oleh satu tiang
2. Kapasitas maksimum transformator 50 kVA (Makangiras, 2016)

2.5 Transformator
Salah satu sebab mengapa arus bolak-bolik Alternating Current (AC)
banyak dipakai dalam keperluan sehari-hari adalah kemungkinan
mentransformasikan arus bolak balik tersebut amat mudah, baik menaikkan
maupun menurunkan tegangan.

18
Untuk keperluan mentransformasikan tegangan atau tenaga listrik
digunakan transformator, atau lebih dikenal dengan nama trafo.
Trafo adalah alat listrik yang dapat memindahkan dan merubah energi
listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain, memalui
gandengan magnit dan berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik.
Di dalam bidang eletronika, trafo banyak digunakan antara lain untuk :
1. Gadengan impedansi (input impedansi) antara sumber dan beban
2. Menghambat arus searah/ Direct Current (DC) dan melewatkan arus
bolak balik
3. Menaikkan atau menurunkan tegangan AC

Berdasarkan frekuensi kerja , trafo dikelompokkan menjadi :


1. Trafo daya (50 Hz – 60 Hz)
2. Trafo pendengaran (20 Hz – 20 KHz)
3. Trafo MP (455 KHz)
4. Trafo RF (>455 KHz)

Pengelompokan trafo di dalam bidang tenaga listrik, adalah :


1. Trafo daya
Trafo ini digunakan untuk menaikkan tegangan listrik sampai ratusan
ribu volt
2. Trafo distribusi
Trafo ini digunakan untuk menurunkan tenaga listrik
3. Trafo Pengukuran
- Trafo Arus
- Trafo Tegangan

Di dalam bentuk dasar, inti trafo terdiri dari tiga macam, yaitu :
1. Open Core (inti terbuka)
2. Closed Core (inti tertutup)
3. Shell Core (inti bentuk cangkang) (Rijono : 1997)

19
2.6 Pemeliharaan Jaringan Tegangan Menengah 20 KV
Kegiatan yang meliputi rangkaian tahapan kerja mulai dari:
1. Perencanaan,
2. Pelaksanaan, hingga
3. Pengendalian dan Evaluasi pekerjaan pemeliharaan instalasi & sistem
distribusi yang dilakukan secara terjadwal (schedule) ataupun tanpa
jadwal. (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

2.6.1 Tujuan pemeliharaan


1. Aman ( safe) bagi manusia dan lingkungannya.
2. Andal (Realible).
3. Kesiapan (Avaibility) tinggi.
4. Unjuk kerja (Performance) baik.
5. Umur (Live Time) sesuai desain.
6. Waktu pemeliharaan (Down time) Efektif.
7. Biaya pemeliharaan (Cost) Efisien / Ekonomis (Pusdiklat PT.PLN
Persero, 2018)

2.6.2 Proses pemeliharaan yang baik


1. Sistem Pemeliharaan harus direncanakan dengan baik
2. Memakai bahan / peralatan sesuai standar
3. Sistem distribusi yang baru dibangun harus diperiksa secara teliti
4. Staf / petugas pemeliharaan harus terlatih dengan baik dan jumlahnya
memadai
5. Mempunyai peralatan kerja yang memadai
6. Mempunyai buku / brosur peralatan pabrik pembuat peralatan
7. Gambar (peta) dan catatan pelaksanaan pemeliharaan dibuat dan di
pelihara
8. Jadwal yang telah dibuat sebaiknya dibahas ulang untuk melihat
kemungkinan penyempurnaan

20
9. Harus diamati tindakan pengamanan dalam pelaksanaan pemeliharaan
dan gunakan peralatan keselamatan kerja (Pusdiklat PT.PLN Persero,
2018)

2.6.3 Macam-macam pemeliharaan


1. Berdasarkan Waktu Pelaksanaannya
a. Pemeliharaan terencana ( Planned maintenance) : preventif dan
korektif.
b. Pemeliharaan tidak direncanakan (Unplanned Maintenance)
2. Berdasarkan Metodanya
a. Pemeliharaan berdasarkan waktu (Time Base Maintenance)
b. Pemeliharaan berdasarkan kondisi (On Condition Base
Maintenance)
c. Pemeliharaan darurat / Khusus ( Break Down Maintenace ).
(Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

2.6.4 Bentuk-bentuk pemeliharaan


1. Pemeliharaan Rutin
a. Pemeriksaan / inspeksi rutin
b. Pemeliharaan rutin
c. Pemeriksaan prediktif
d. Perbaikan / penggantian peralatan
e. Perubahan / penyempurnaan jaringan

2. Pemeliharaan korektif
a. Pemeliharaan dengan maksud untuk memperbaiki kerusakan
hingga kembali kepada kondisi / kapasitas semula
b. Perbaikan untuk meningkatkan / penyempurnaan jaringan dengan
cara mengganti / mengubah jaringan agar dicapai daya guna atau
keandalan yang lebih baik dengan tidak mengubah kapasitas
semula.

21
3. Pemeliharaan darurat
Pemeliharaan ini sifatnya mendadak, tidak terencana ini akibat gangguan
atau kerusakan atau hal-hal lain di luar kemampuan kita sehingga perlu
dilakukan pemeriksaan / pengecekan perbaikan maupun penggantian
peralatan, tetapi masih dalam kurun waktu pemeliharaan (Pusdiklat
PT.PLN Persero, 2018)

2.6.5 Jadwal pemeliharaan


1. Pemeliharaan Mingguan
2. Pemeliharaan Bulanan
3. Pemeliharaan TriwulanPemeliharaan Semesteran
4. Pemeliharaan Tahunan (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

2.6.6 Pemeliharaan dalam keadaan bebas tegangan


1. Instalasi dilengkapi dengan sistem cadangan
2. Jaringan yg akan dipelihara secara ekonomis tidak terlalu
mengguntungkan dan secara sosial tidak berdampak negatif.
3. SDM dan sarana yg diperlukan untuk pemeliharaan dengan PDKB
belum tersedia.

Keuntungannya
a. Terjadinya kecelakaan terhadap sentuhan tegangan listrik dapat
dihindarkan.
b. Pekerjaan dimungkinkan dapat dilaksanakan dengan kondisi cuaca
hujan.
c. Peralatan kerja, alat bantu kerja dan peralatan K3 harganya lebih
murah.
d. Biaya pekerjaan pemeliharaan lebih murah.

Kerugiannya

22
a. Akibat pemadaman berarti energi tidak tersalurkan / terjual menjadi
lebih besar sebanding dengan lamanya pekerjaan (Pusdiklat PT.PLN
Persero, 2018)

2.6.7 Pemeliharaan dalam keadaan bertegangan


Pemeliharaan peralatan / perlengkapan jaringan distribusi (TR/TM) yang
dilaksanakan dimana obyeknya dalam keadaan aktif bekerja atau bertegangan
Contoh :
1. Pemeriksaan rutin kondisi gardu yang sedang beroperasi
2. Pengukuran beban dan tegangan gardu (Pusdiklat PT.PLN Persero,
2018)

2.6.8 Pengujian
1. Tahanan Isolasi
untuk mengetahui ketahanan Isolasi terhadap tegangan kerja

𝐶𝑥𝐸
𝑅𝑖𝑠 𝑡𝐶 = 𝐾𝑉𝐴 𝑥 𝑘𝑠 …. MG (II.1)

C = Faktor belitan yang terendam isolasi minyak =


0,8
E = Tegangan Tertinggi ………. VOLT
KVA = Daya Trafo …………… KVA.
ks = Faktor koreksi suhu belitan
(Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)
2. Polaritas Indeks
untuk mengetahui ketahanan Isolasi terhadap gangguan tegangan lebih
𝑅𝑖𝑠 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 10
𝑃𝐼 = (II.2)
𝑅𝑖𝑠 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 1

23
Tabel II.1 Nilai polaritas indeks
Polaritas Indeks Kondsisi Isolasi
<1 Berbahaya
1.0 – 1.1 Kurang
1,1 – 1.25 Meragukan
1.25 – 2.0 Cukup
>2 Aman

2.6.9 Pemasangan/pemeliharaan saluaran udara


1. Tiang dan penguatnya
2. Travers
3. Isolator
4. Kawat pengikat dan klem penjepit
5. Kawat, Kabel
6. Andongan dan jarak aman
7. Pengujian tahanan isolasi saluran (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

2.6.10 Pemeliharaan kabel saluran udara


Alasan Pemeliharaan / Perbaikan :
1. Kabel rusak / putus
2. Kabel diganti
3. Andongan rendah karena tiang miring
4. Bracket patah
5. Bracket lepas
6. Klem penjepit kabel rusak (Pusdiklat PT.PLN Persero, 2018)

24
BAB III METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu


3.1.1 Tepat Penelitian
PT.PLN (PERSERO) ULP TONDANO

3.1.2 Waktu Penelitian


Waktu pelaksanaan penelitian ini akan dimulai dari bulan januari 2019
sampai dengan buli juni 2019

3.2 Bahan dan Alat


1. Laptop
2. Printer

3.3 Prosedur Penelitian


3.3.1 Metode
1. Metode Konsultasi
Metode ini dilakukan dengan diskusi dengan dosen pembimbing, para
dosen, serta orang yang dianggap memiliki pengetahuan,pengalaman
mengenai topik inspeksi pemeliharan JTM 20 KV.
2. Metode Wawancara
Penulis melakukan beberapa tanya jawab dengan manager PT.PLN
(PERSERO) ULP TONDANO sehubungan dengan topik permasalahan
yang di ambil. Selain dari pada itu, penulis juga mengumpulkan informasi
dari SPV.Jaringan,SPV lainnya dan karyawan yang terjun langsung di
lapangan untuk memverifikasi data-data yang sudah di dapat.
3. Metode Observasi Lapangan
Metode observasi ini dilakukan bersama dengan SPV.Jaringan/Petugas
lapangan setiap dilakukannya inspeksi pemeliharaan pada penyulang SM5
ULP Tondano. Dengan meninjau secara langsung kelapangan untuk
melihat hal-hal yang apa yang terjadi di lapangan.

25
4. Metode Literatur
Ini merupakan metode pengumpulan data dengan cara membaca buku-
buku dan situs-situs internet yang mendukung dan menunjang penulis
dalam pembuatan tugas akhir.

3.3.2 Kerangka konseptual rancangan

Gambar III.1 Flowchart Penelitian

26
3.4 Jadwal Kegiatan
Tabel III.1 Jadwal Kegiatan

3.5 Rencana Pembiayaan


Tabel III.2 Rencana Biaya Pembuatan Tugas Akhir
No Alat dan Bahan/Kegiatan Biaya Ket
1 Kertas HVS A4 Rp. 100.000 Dua Rim
Hitam dan
2 Tinta Print Rp. 150.000
Warna
3 Transport dan Akomodasi Rp. 1.000.000
Pembuatan buku dan fotocopy
4 Rp. 300.000
TA
5 Alat Tulis Menulis Rp. 50.000
6 Biaya Lain – Lain Rp. 500.000
Jumlah Rp. 2.100.00

27
DAFTAR PUSTAKA

Magatrika, (2018) .Pembagian Jaringan Distribusi Dan Sistem Proteksinya.


Tersedia pada: https://ugmmagatrika.wordpress.com/2014/04/26/
pembagian-jaringan-distribusi-dan-sistem-proteksinya/
[diakses : 4 desember 2018]

Makangiras, Ofriandi (2016) Laporan Akhir Pemeliharan Gardu Distribusi.


Tersedia pada :http://repository.polimdo.ac.id/552/1/Ofriadi%20Makang
iras.pdf [diakses : 4 desember 2018]

Pusdiklat, PT.PLN (2018) Konstruksi JTM

Rijono, Y. 1997. Dasar Teknik Tenaga Listrik. Penerbit : Andi Yogyakarta.


Yogyakarta. Hal.1-4

Pusdiklat, PT.PLN (2018) Teknik Pemeliharaan JTM

28