Anda di halaman 1dari 36

PROPOSAL TUGAS AKHIR

PEMILIHAN PERALATAN CUBICLE GARDU


DISTRIBUSI DI KAWASAN BISNIS MEGAMAS

SELECTION OF CUBICLE DISTRIBUTION SUBSTATION


EQUIPMENT IN THE MEGAMAS BUSINESS AREA

Oleh:
GIDIONI BARTHEN RUNTU
16 021 049

D3 TEKNIK LISTRIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MANADO
2019

i
ii
ABSTRAK PROPOSAL

Sebagai penyedia listrik terbesar di manado dan indonesia


PT.PLN(persero) ingin tetap selalu mendistribusikan tenaga listrik yang
mempunyai continuetas,handal dan juga memuaskan disisi pelanggan,terlebih
pelanggan di kawasan bisnis karena mempunyai permintaan daya listrik yang
sangat besar.Untuk terjaminnya penyaluran energi listrik diperlukan juga
peralatan yang handal serta sesuai dengan keadaan saluran distribusi yang
ada.Salah satu permasalahan yang ada adalah pemilihan peralatan-peralatan
cibicle di gardu distribusi yang tidak sesuai dengan sistem pendistribusian yang
ada dan dapat mengakibatkan permasalahan dalam pendistribusian tenaga listrik
terlebih di kawasan bisnis terlebih khusus di kawsan bisnis megamas yang
seharusnya mempunyai suplai tenaga lisrik yang baik,stabil dan
handal.Permasalahan ini juga dapat menimbulkan kerugian baik dari sisi penyedia
maupun disisi penerima/pelanggan.Oleh karena itu dengan pemilihan peralatan-
peralatan ini bertujuan untuk mengetahui peralatan-peralatan cubicle yang tepat
dan sesuai dengan kawasan bisnis di Megamas.Dengan adanya pemilihan
peralatan-peralatan ini kiranya dapat membantu penyedia listrik agar mempunyai
penyaluran tenaga listrik yang handal dan memiliki continuetas,juga dapat
menjadi referensi untuk pemilihan peralatan cubucle di kawsan atau daerah bisnis
lainnya.
Kata Kunci – PT.PLN Rayon Manado Selatan,Cubicle,Transformator Distribusi

iii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam penyuplaian energi listrik yang ada di area manado sekarang ini ada
banyak Kawasan bisnis,kawasan industri,kota mandiri diantaranya kawasan
megamas,manado town square,bahu mall yang memiliki suplay energi listrik yang
sangat besar dan salah satunya adalah kawasan bisnis Megamas
Kawasan Megamas merupakan salah satu kawasan bisnis yang sedang
berkembang dikota manado.Daerah reklamsi seluas 36 Ha ini terletak diruas jalan
Piere Tendean(Boulevard Manado).Kawasan ini dikelola oleh PT.Megasurya
Nusalestari yang merupakan perusahaan properti dan konsumsi terkemuka di
sulawesi.dikelilingi dengan gedung-gedung besar dan ruko-ruko yang sangat
banyak tidak heran kawasan ini memiliki penggunaan energi listrik terbesar di
kota manado.
Melihat dari latar belakang tersebut dapat dilihat bahwa kawasan megamas
merupakan kawasan dengan salah satu pengguna listrik terbesar di PT.PLN Area
Manado.Karena itu PT.PLN sebagai salah satu penyedia tenaga listrik di kawasan
tersebut ingin menyediakan pasokan listrik yang continuetas dan stabil juga
handal.Dan untuk menjaga agar kestabilan dan kehandalan penyaluran listriki
pada kawasan ini diperlukan peralatan-peralatan listrik yang sangat baik juga
handal.salah satunya peralatan-peralatan yang menyangkut dengan cubicle.Oleh
karena itu penulis tertarik untuk membuat Tugas Akhir dengan judul
PEMILIHAN PERALATAN CUBICLE GARDU DISTRIBUSI DI KAWASAN
BISNIS MEGAMAS.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang,penulis merumuskan permasalahan dalam
tugas akhir ini yaitu: Pemilihan Peralatan Cubicle yang disesuaikan dengan sistem
tenaga listrik Gardu Distribusi di Kawasan Industri Megamas.

1
1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penyususan TA ini adalah untuk mengetahui pemilihan
peralatan yang tepat cubicle pada gardu distribusi di kawasan bisnis megamas.
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk menjamin continuetas dan
keahandalan dalam penyaluran tenaga listrik juga agar dapat menjadi referensi
atau acuan dari pemasangan cubicle pada kawasan megamas dan ditempat lainnya

1.4 Batasan Masalah


Dibatasi pada sisi busbar tegangan menengah pada gardu distribusi

2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Distibusi Listrik
Sistem Distribusi merupakan bagian dari sistem tenaga listrik. Sistem
distribusi ini berguna untuk menyalurkan tenaga listrik dari sumber daya listrik
besar (Bulk Power Source) sampai ke konsumen. Jadi fungsi distribusi tenaga
listrik adalah; 1) pembagian atau penyaluran tenaga listrik ke beberapa tempat
(pelanggan), dan 2) merupakan sub sistem tenaga listrik yang langsung
berhubungan dengan pelanggan, karena catu daya pada pusat-pusat beban
(pelanggan) dilayani langsung melalui jaringan distribusi.
Tenaga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit tenaga listrik besar dengan
tegangan dari 11 kV sampai 24 kV dinaikkan tegangannya oleh gardu induk
dengan transformator penaik tegangan menjadi 70 kV ,154kV, 220kV atau 500kV
kemudian disalurkan melalui saluran transmisi. Tujuan menaikkan tegangan ialah
untuk memperkecil kerugian daya listrik pada saluran transmisi, dimana dalam hal
ini kerugian daya adalah sebanding dengan kuadrat arus yang mengalir (I2.R).
Dengan daya yang sama bila nilai tegangannya diperbesar, maka arus yang
mengalir semakin kecil sehingga kerugian daya juga akan kecil pula.
Dari saluran transmisi, tegangan diturunkan lagi menjadi 20 kV dengan
transformator penurun tegangan pada gardu induk distribusi, kemudian dengan
sistem tegangan tersebut penyaluran tenaga listrik dilakukan oleh saluran
distribusi primer. Dari saluran distribusi primer inilah gardu-gardu distribusi
mengambil tegangan untuk diturunkan tegangannya dengan trafo distribusi
menjadi sistem tegangan rendah, yaitu 220/380Volt. Selanjutnya disalurkan oleh
saluran distribusi sekunder ke konsumen-konsumen..Dengan ini jelas bahwa
sistem distribusi merupakan bagian yang penting dalam system tenaga listrik
secara keseluruhan.Pada sistem penyaluran daya jarak jauh, selalu digunakan
tegangan setinggi mungkin, dengan menggunakan trafo-trafo step-up. Nilai
tegangan yang sangat tinggi ini (HV, UHV, EHV) menimbulkan beberapa
konsekuensi antara lain: berbahaya bagi lingkungan dan mahalnya harga
perlengkapan- 7 perlengkapannya, selain menjadi tidak cocok dengan nilai
tegangan yang dibutuhkan pada sisi beban. Maka, pada daerah-daerah pusat beban
3
tegangan saluran yang tinggi ini diturunkan kembali dengan menggunakan trafo-
trafo stepdown. Akibatnya, bila ditinjau nilai tegangannya, maka mulai dari titik
sumber hingga di titik beban, terdapat bagian-bagian saluran yang memiliki nilai
tegangan berbeda-beda. Sistem distribusi terdiri atas system distribusi primer dan
sekunder.(Anonim,2004)

2.1.1 Pengelompokan Jaringan Distribusi Tenaga Listrik


Untuk kemudahan dan penyederhanaan, lalu diadakan pembagian serta
pembatasan-pembatasan sebagai berikut:
1. Daerah I : Bagian pembangkitan (Generation)
2. Daerah II : Bagian penyaluran (Transmission) , bertegangan tinggi
(HV,UHV,EHV)
1. Daerah III : Bagian Distribusi Primer, bertegangan menengah (6
atau20kV).
2. Daerah IV : (Di dalam bangunan pada beban/konsumen), Instalasi,
bertegangan rendah.Berdasarkan pembatasan-pembatasan tersebut,
maka diketahui bahwa porsi materi Sistem Distribusi adalah
Daerah III dan IV, yang pada dasarnya dapat dikelasifikasikan
menurut beberapa cara, bergantung dari segi apa klasifikasi itu
dibuat.(Anonim,2004)
Sistem JTM 20 KV PLN
a. Pasokan daya distribusi 20 KV
Pasokan daya listrik pada sistem distribusi 20 KV PLN didapat dari sitem
penyaluran 150 KV atau 70 KV melalui trafo tenaga yang berfungsi sebagai trafo
step down 150/20 KV atau 70/20 KV yang terpasang di Gardu Induk dengan
kapasitas yang bervariasi antara 5, 10, 20, 30 s/d 60 MVA. Dengan
berkembangnya sistem kelistrikan, sistem penyaluran 150 KV PLN menjadi sudah
besar sekali terinterkoneksi antara area satu dengan area lainnya. Khusus di pulau
Jawa, kapasitas saluran 150 KV sudah sampai pada level 1000 s/d 2000 A per
sirkit dan kapasitas hubung singkat di Bus 150 KV sudah mencapai ribuan
MVA.(wahyudin,2006)
4
2.1.2 Bagian – bagian jaringan distribusi
Untuk jaringan didstribusi pada umumnya terdiri dari dua bagian yang paling
utama, yaitu sebagai berikut:
 Jaringan distribusi primer Jaringan distribusi primer yaitu jaringan tenaga
listrik yang menyalurkan daya listrik dari gardu induk sub transmisi ke
gardu distribusi. Jaringan ini merupakan jaringan tegangan menengah atau
jaringan tegangan primer. Biasanya, jaringan ini menggunakan enam jenis
jaringan yaitu system radial dan system tertutup atau loop, ring, network
spindle dan cluster.(Abdul Kadir, 2006)
 Jaringan distribusi sekunder Jaringan ini menggunakan tegangan rendah.
Sebagaimana halnya dengan ditribusi primer, terdapat pula pertimbangan
perihal keadaan pelayanan dan regulasi tegangan, distribusi sekunder
yaitu jaringan tenaga listrik yang menyalurkan daya listrik dari gardu
distribusi ke konsumen. Jaringan ini sering jaringan tegangan rendah.
Sistem distribusi sekunder digunakan untuk menyalurkan tenaga listrik
dari gardu distribusi ke beban-beban yang ada di konsumen. (Abdul
Kadir, 2006) Pada sistem distribusi sekunder bentuk saluran yang paling
banyak digunakan ialah sistem radial. Sistem ini dapat menggunakan
kabel yang berisolasi maupun konduktor tanpa isolasi. Sistem ini biasanya
disebut system tegangan rendah yang langsung akan dihubungkan kepada
konsumen/pemakai tenaga listrik dengan melalui peralatan-peralatan
sebagai berikut:
- Panel Hubung Bagi (PHB) pada trafo distribusi,
- Hantaran tegangan rendah (saluran distribusi sekunder).
- Saluran Layanan Pelanggan (SLP) (ke konsumen/pemakai)
- Alat Pembatas dan pengukur daya (kWH. meter) serta fuse atau
pengaman pada pelanggan.
Untuk distribusi sekunder terdapat bermacam-macam sistem
tegangan distribusi sekunder menurut standar; (1) EEI : Edison
Electric Institut, (2) NEMA (National Electrical Manufactures
Association). Pada dasarnya tidak berbeda dengan system
5
distribusi DC, factor utama yang perlu diperhatikan adalah besar
tegangan yang diterima pada titik beban mendekati nilai nominal,
sehingga peralatan/beban dapat dioperasikan secara optimal.
Ditinjau dari cara pengawatannya, saluran distribusi AC dibedakan
atas beberapa macam tipe, dan cara pengawatan ini bergantung
pula pada jumlah fasanya, yaitu:
1. Sistem satu fasa dua kawat 120 Volt
2. Sistem satu fasa tiga kawat 120/240 Volt
3. Sistem tiga fasa empat kawat 120/208 Volt
4. Sistem tiga fasa empat kawat 120/240 Volt
5. Sistem tiga fasa tiga kawat 240 Volt
6. Sistem tiga fasa tiga kawat 480 Volt
7. Sistem tiga fasa empat kawat 240/416 Volt
8. Sistem tiga fasa empat kawat 265/460 Volt
9. Sistem tiga fasa empat kawat 220/380 Volt. (Abdul Kadir, 2006)

2.2 Pengertian dan Fungsi Kubikel 20 Kv

Kubikel 20 kV adalah seperangkat peralatan listrik yang dipasang pada gardu


distribusi yang berfungsi sebagai pembagi, pemutus, penghubung pengontrol dan
proteksi sistem penyaluran tenaga listrik tegangan 20 kV kubikel 20 kV biasa
terpasang pada gardu distribusi atau gardu hubung yang berupa beton maupun
kios.

6
2.3 Jenis-jenis Kubikel
Berdasarkan fungsi dan nama peralatan yang terpasang kubikel dibedakan
menjadi beberapa jenis yaitu :
 Kubikel Pemutus Tenaga ( PMT = CB )
 Kubikel PMS ( Pemisah )
 Kubikel LBS ( Load Break Sswitch )
 Kubikel CB Out Metering ( PMT CB )
 Kubikel TP ( Transformer Protection)
 Kubikel PT ( Potential Transformer )



2.4 Fungsi Kubikel
2.4.1 Kubikel PMS(pemisah)

Berfungsi sebagai membuka dan menutup aliran listrik 20 kV tanpa ada


beban, karena kontak penghubung tidak dilengkapi alat peredam busur listrik.

2.4.2 Kubikel PMT(pemutus tenaga)

7
Berfungsi untuk membuka dan menutup aliran listrik dalam keadaan
berbeban atau tidak berbeban, termasuk memutus pada saat terjadi gangguan
hubung singkat.

Kubikel PMT terdiri dari :


 Satu set busbar fase tiga 400 A, 630 A atau 1250 A
 Dua pemisah tiga kutub dengan arus pengenal 400 A, 630 a atau 1250 A
yang dioperasikan secara manual, peisahan dilakukan dengan penarikan /
pencabutan (sistem laci) peutus tenaga yang ditempatkan dalam
kompartemen.
 Sebuah pemutus tenaga kutub jenis SF6 atau hampa udara dengan
pengoperasian melalui energi pegas yang pengisiannya dilakukan secara
manual atau motor listrik.
 Pemutus tenaga tersebut dilengkapi kumparan pelepas (trip) dan indikator
yang menunjukan posisi buka / tutup secara mekanis. Spesifikasi alat
hubungnya adalah sebagai berikut:
a) Arus pengenal 400 A, 630 A atau 1250 A
b) Kapasitas pemutus 12,5 Ka
c) Kapasitas penyambungan 31,5 kA.
d) Kapasitas pemutusan transformator dalam keadaan tanpa beban :
16 A
e) Kapasitas pemutusan pengisian kabel 50A

8
 Tiga buah transformator arus dengan dua inti yang ditempatkan disaluran
keluaran
a) Arus primer :sesuai kebutuhan (50, 100, 150, 200 dan seterusnya)
b) Arus sekunder : 5-5A
c) Kapasitas ketahanan arus hubung singkat : 12,5 kA ( 1 detik)
d) Beban pengenal
Kapasitas transformator arus tersebut harus dapat memenuhi
kebutuhan rele yaitu :
- Satu inti 30 VA, kelas 0,5 untuk pengukuran
- Satu inti lainnya 15 VA kelas 10-P-10 untuk proteksi

 Tiga buah transformator tegangan


 Rasio 20/√3 𝑘𝑉//100/√3 𝑉𝑜𝑙𝑡
 Beban pengenal : 50 VA
Kelas ketelitian : 0,5

 Rele
- Satu set rele untuk beban lebih dan gangguan ke bumi, rele harus
disambungkan dengan transformator arus diatas. Arus dan waktu
dapat diatur terpisah.
- Karakteristik rele beban lebih
Arus Pengenal(In) Waktu Pemutusan

1,05 In Sesudah 60 menit


1,02 In Sebelum 20 menit
1,5 In Sebelum 5 menit
4 In Trip sesaat
- Rele harus dirancang sehingga melepas sumber tenaga dengan atau
tanpa memerlukan suatu daya dari luar

9
- Rele harus dilengkapi fasilitas untuk pengetesan arus dan
pengetesan untuk melepas kontak (trip release)
 Tiga buah ammeter kebutuhan maksimum dipasang pada panel penunjuk
(metering panel)
 Sistem interlock.

2.4.3 Kubikel LBS

Berfungsi untuk membuka dan menutup aliran listrik dalam keadaan


berbeban atau tidak .

Kubikel LBS terdiri dari :


 Satu set busbar tiga fase 400 A atau 630 A.
 Sebuah sakelar beban tiga kutub jenis udara, SF6 atau hampa udara
dengan operasi secara manual.
- Arus pengenal 400 A
- Kapasitas penyambung (puncak) 31,5 kA (making capacity)
- Kapasitas pemutusan beban aktif (pf ; 0,7) 400 A
10
- Arus pemutusan pengisian beban 25 A
- Sakelar beban harus dapat dipasang mekanis kontrol elektris
(electric control mechanism) tanpa modifikasi yang besar terhadap
sakelar tersebut.
- Kapasitas ketahanan arus hubung singkat (1 detik) ;  12,5 Ka
 Sebuah sakelar pembumian 3 kutub dengan pengoperasian secara manual
 Tiga buah gawai kontrol tegangan
 Sistem interlok
 Busbar pembumian
 Harus ada ruang yang cukup dan penunjang kabel bagian bawah kubikel
untuk melakukan pemasangan terminasi kabel berisolasi padat, penghantar
dari bahan aluminium yang dipilin denganluas penampang sampai dengan
240 mm2
 Satu set lengkap terminal kabel (jika diperlukan)
2.4.4 Kubikel CB Out Metering ( PMT )
Berfungsi sebagai pemutus dan penghubung arus listrik dengan cepat
dalam keadaan normal maupun gangguan kubikel ini disebut juga istilah kubikel
pmt (pemutus tenaga) kubikel ini dilengkapi degan relay peroteksi circuit breaker
(PMT,CB) kubikel ini bisa di pasang sebagai alat pembatas, pengukuran dan
pengaman pada pelanggan tegangan menengah curent transformer yang terpasang
memiliki double secunder satu sisi untuk mensuplai arus ke alat ukur kwh dan
satu sisi lagi untuk menggerakan relai proteksi pada saat terjadi gangguan.

11
Kubikel terdiri dari :
 Satu set busbar tiga fase 400 A atau 630 A
 Dua pemisah tiga kutub dengan arus pengenal 400A atau 630 A yang
dioperasikan secara manual atau pemisahan dilakukan dengan penarikan /
pencabutan pemutus tenaga yang ditempatkan dalam kompartemen (sistem
laci)
 Sebuah pemutus tenaga tiga kutub jenis SF6 atau hampa udara, dengan
pengoperasian melelui energi pegas yang pengisiannya dilakukan secara
manual atau dengan motor listrik. Pemutus tenaga tersebut dilengkapi
kumparan pelepas (trip) dan indikator yang menunjukan posisi, buka/tutup
secara mekanis.
- Arus pengenal 400 A atau 630 A
- Kapasitas pemutusan pada 24 Kv : 12,5 Ka
- Kapasitas pemutusan transformator dalam keadaan tenpa beban :
16 A
- Kapasitas pemutsan pengisian kabel : 50 A
 Tiga buah transformator arus dengan dua inti yang ditempatkan disaluran
keluaran
- Arus primer : sesuai kebutuhan (50, 100, 150, 200 atau 400 A)
- Arus sekunder :5A
- Kapasitas keahanan arus hubung singkat (1 detik) : 12,5 Ka
- Beban pengenal
- Kapasitas transformator arus tersebut harus dapat memenuhi
kebutuhan rele yaitu :
 Satu inti 30 VA kelas 0,5 untuk pengukuran
 Satu inti lainnya 15 VA kelas 10-P-10 untuk proteksi.
 Rele
Satu set rele untuk arus lebih, beban lebih dan gangguan ke bumi. Rele harus
dihubungkan dengan transformator di atas. Arus dan waktu dapat diatur secara
terpisah.

12
Karakteristik dari rele beban lebih
Arus Pengenal(In) Waktu Pemutusan

1,05 In Sesudah 60 menit


1,02 In Sebelum 20 menit
1,5 In Sebelum 5 menit
4 In Trip sesaat

Rele harus dirancang sehingga melepas pemutus tenaga dengan atau tanpa
memerlukan sumber daya dari luar.
Rele harus dilengkapi fasilitas untuk pengetesan arus dan pengetesan untuk
melepas kontak (trip release)
Tiga buah amperemeter kebutuhan maksimum (maximum demand ammeter),
dipasang pada panel penunjuk (metering panel) dan ditempatkan diatas pengaman
lebur.
Sistem interlok

2.4.5 Kubikel TP (Transformer Protection)

Berfungsi sebagai alat pengaman transformator distribusi, dikenal juga dengan


istilah kubikel PB (Pemutus Beban) kubikel ini berisi lbs dan fuse pengaman trafo
dengan ukuran beragam dari 25A, 32 A, 43 A tergantung kapasitas trafo yang
akan diamankan.
Ada dua jenis kubikel TP yaitu :
 Kubikel TP dilengkapi shunt trip, jika fuse tm putus ada pin pada fuse
yang menggerakkan mekanik untuk melepas LBS
 Tidak dilengkapi shunt trip, jika fuse tm putus LBS tidak membuka
sehingga trafo masih mendapat gangguan dari fuse lain yang tidak putus

13
2.4.6 Kubikel PT (Potensial Transformer)

Berfungsi sebagai kubikel pengukuran, didalam kubikel ini terdapat pms dan
transformator tegangan yang menurunkan tegangan dari 20.000 Volt menjadi 100
Volt untuk mensuplai tegangan pada alat ukur kwh kubikel ini kadang kala
disebut juga dengan istilah kubikel VT (Voltage Transformer). handle kubikel PT
harus selalu dalam keadaan masuk dan tersegel. Untuk pengamanan trafo
tegangan terhadap gangguan hubung singkat maka dipasanglah fuse TM

Kubikel terdiri dari :


 Satu set busbar fase tiga 400 A atau 630 A
 Satu pemisah tiga kutub dengan arus pengenal, 100 A yang dioperasikan
secara manual
 Tiga pengaman lebur dengan kapasitas pemutus arus yang tinggi :
- Arus pengenal 6,3 A
- Kapasitas pemutus 12,5 A

14
 Tiga buah transformator tegangan
- Beban pengenal 50 VA
- Kelas ketelitian 0,5
 Satu buah pengaman lebur tegangan rendah pada setiap fase, pengaman
lebur tersebut harus dapat dicapai dari luar kubikel
 Sistem saling mengunci (interlock) harus berfungsi baik
 Busbar pembumian

2.4.7 Kubikel Terminal Out Going (B1)


`Berfungsi sebagai terminal penghubung kabel ke pemakaian (pelanggan)
berisi pms, dan bila mana posisi membuka maka kontak gerak terhubung dengan
pentanahan.

Kubikel terdiri dari :


 Satu set busbar fase tiga 400 A atau 630 A
 Satu sakelar pembumian tiga kutub dan penghubung singkat yang
dioperasikan secara manual.
 Tiga buah gawai kontrol tegangan
 Busbar pembumian
15
 Disediakan ruang yang cukup dibagian bawah kompartemen dan
disediakan penunjang kabel untuk pemasangan terminasi kabel tiga inti
berisolasi padat. Konduktor dari aluminium dengan luas penampang
sampai dengan 150 mm2.

2.5 BAGIAN - BAGIAN DARI KONSTRUKSI KUBIKEL


 Kompartemen
 Rel / Busbar
 Kotak Pemutus
 Pemisah Hubung Tanah
 Terminal Penghubung
 Fuse Holder
 Mekanik Kubikel
 Lampu Indikator
 Pemanas (Heater)
 Handle Kubikel (Tuas Operasi)

2.5.1 Kompartemen
Merupakan rumah dari terminal penghubung, LBS, PMT, PMS, Fuse, Trafo ukur,
(CT, PT) peralatan mekanis dan instalasi tegangan rendah, sehingga tidak
membahayakan operator terhadap adanya sentuhan langsung ke bagian - bagian
yang bertegangan.
Berupa lemari / kotak terbuat pelat baja, terbagi menjadi 2 (dua) bagian,
bagian atas untuk busbar dan bagian bawah untuk penyambungan dengan
terminasi kabel.
Komponen bagian bawah, pada bagian depan berupa pintu yang dapat
dibuka tetapi bisa dilakukan apabila tegangan sudah dibebaskan dan terminasi
kabel sudah ditanahkan

16
1. Kompartemen busbar
2. Kompartemen tegangan rendah
3. Pemutus beban dan saklar pentanahan
4. Kompartemen mekanik operasi
5. Kompartemen kabel

2.5.2 Rel / Busbar 20 kV Isolator Tonggak


Sebagai rel penghubung antara kubikel yang satu dengan lainnya, posisi
rel umumnya terletak pada bagian atas kubikel, pada kubikel type RMU (Ring
Main Unit) rel 20 kVterdapat dalam tabung SF 6 vacum bentuk rel ada yang bulat
ada yang pipih.
Busbar harus dari bahan tembaga atau aluminium. Busbar aluinium harus
dilapisi timah pada titik sambungan busbar.
Busbar dapat dilapis karet silikon atau bahan EPDM (heat shrink
insulation material) untuk memenuhi ketahanan tingkat isolasinya. Bahan pelapis

17
tersebut yang dipakai tidak bisa terbakar dan bila dari bahan yang dapat terbakar
tetapi api dapat cepat mati dengan sendirinya (selfextinguishing).
Isolator tonggak dapat dibuat dari bahan porselin atau isolasi lain yang
tidak mudah terbakar. Isolator porselin berdasarkan rekomendasi IEC 168.
Jarak rambat tidak boleh kurang dari 320 mm. Isolator sintetis harus bebas
dari cacat permukaan seperti rongga-rongga (fold blow holes) dan sebagainya,
yang dapat mengganggu operasi isolator selanjutnya ( sesuai rekomendasi IEC
660 ).

2.5.3 Kontak Pemutus


Sebagai pemutus / penghubung aliran listrik kontak pemutus terdiri dari
dua bagian yaitu kontak gerak (moving contact) dan kontak tetap (fixed contact)
sebagai peredam busur api pada kubikel jenis LBS atau PMT digunakan media
minyak, gas SF6, vacum atau dengan hembusan udara, selain itu memperkecil
terjadinya busur api dilakukan dengan pembukaan dan penutupan kontak pemutus
secara cepat secara mekanis

2.5.4 Sirkuit Pembumian

18
Semua bagian logam PHB yang bukan merupakan bagian sirkuit utama
atau sirkuit bantu dan yang dapat bermuatan sehingga membahayakan harus
dihubungkan ke penghantar pembumian .
Penghantar tersebut terbuat dari tembaga dan mampu mengalirkan arus
sebesar 12,5 kA selama 1 detik tanpa menjadi rusak.
Kepadatan arus di sirkuit pembumian tidak boleh melampaui 200 A/mm2
dengan luas penampang penghantar tidak kurang dari 30 mm2
Pada setiap ujung penghantar disambung dengan instalasi sistem
pembumian pembumian melalui baut berukuran M12. Penghantar pembumian
ditempatkan sedemikian sehingga tidak merintangi tangan untuk mencapai
terminal kabel.
Selungkup kompartemen sekurang-kurangnya harus terselubung di satu
titik dengan penghantar bumi. Kontinuitas pembumian antara badan kompartemen
dan sekat atau tutup diyakinkan melalui pemasangan baut dan mur atau cara lain
yang dapat diandalkan.
Kontinuitas pembumian antara bagian bergerak yang berengsel dengan
luas penampang tidak kurang dari 30 mm2 suatu penguat ditambahkan pada pita
tersebut untuk melindungi anyaman pita terhadap tegangan mekanis yang tidak
semestinya.
Bagian sakelar pembumian harus terhubung ke penghantar utama
pembumian melalui penghantar tembaga yang kaku dan fleksibel dengan luas
penampangnya tidak kurang dari 30 mm2 .
Setiap kubikel yang dilengkapi sakelar pembumian harus dipasang
terminal tembaga untuk pembumian yang dihubungkan ke penghantar pembumian
dengan penjepit pembumian sementara.

2.5.5 Pemisah Hubung Tanah (Pemisah Tanah)


Untuk mengamankan kubikel pada saat tidak bertegangan dengan
menghubungkan terminal kabel ketanah (grounding), sehingga bila ada personil
yang bekerja pada kubikel tersebut terhindar terhadap adanya kesalahan operasi
yang menyebabkan kabel terisi tegangan.
19
PMS tanah ini biasanya mempunyai sistem interlock dengan pintu kubikel
dan mekanik LBS pintu tidak bisa dibuka jika PMS tanah belum masuk, LBS
tidak bisa masuk sebelum PMS tanah dibuka.
Posisi buka atau tutup ke tiga pisau sakelar pembumian harus dapat
diperiksa melalui lubang pengamatan terdapat pada PHB. Sebagai alternatif pisau-
pisau sakelar pembumian dapat dipasang indikator untuk menentukan posisi buka
atau tutup.I ndikator tersebut harus sesuai dengan posisi sebenarnya dari pisau-
pisau sakelar pembumian tersebut.
Sakelar pembumian dan penghubung singkat harus mempunyai kapasitas
penyambungan 31,5 kA (puncak), nilai ini dapat dikurangi sehingga 2,5 kA jika
rangkaian diamankan dengan pengaman beban jenis HRC. Sakelar pembumian
umumnya memeiliki kapasitas penyambungan 5,8 kA. Sakelar pembumian harus
dioperasikan manual secara terpisah.

2.5.6 Terminal Penghubung


Untuk menghubungkan bagian-bagian kubikel yang bertegangan satu
dengan yang lainnya, ada beberapa terminal antara lain :
1. Terminal busbar
2. tempat dudukan busbar
3. Terminal kabel, tempat menghubungkan kabel incoming dan out going
4. Terminal PT, tempat menyambung transformator tegangan untuk
pengukuran
5. Terminal CT, tempat menyambungkan transformator arus untuk
pengukuran

20
2.5.7 Fuse Holder

Untuk menempatkan fuse pengaman trafo pada kubikel PB atau kubikel PT

2.5.8 Mekanik Kubikel


Berfungsi untuk menggerakkan dan merubah posisi membuka / menutup
kontak LBS PMT dan PMS maupun pemisah hubung tanah dibuat sedemikian
rupa, sehingga pada waktu membuka dan menutup kontak pemutus berlangsung
dengan cepat

2.5.9 Lampu Indikator


Untuk menandai adanya tegangan (20 kV) pada sisi kabel, baik berasal dari sisi
lain kabel tersebut atau berasal dari busbar sebagai akibat alat hubung
dimasukkan, lampu indikator menyala dikarenakan adanya arus kapasitip yang
dihasilkan oleh kapasitor pembagi tegangan.

Kubikel jenis PMT lampu indikator digunakan nuntuk menandai posisi alat-
hubungnya dengan 2 ( dua ) warna yang berbeda untuk posisi masuk atau keluar.
Sumber listrik untuk lampu indikator berasal daris sumber arus searah ( DC ) yang
dihubungkan dengan kontak bantu yang bekerja serempak dengan kerja poros
penggerak alat-hubung utama.

21
2.5.10 Indikator Hubung Singkat Dan Indikator Gangguan Ke Bumi (jika
diperlukan)
a) Perlengkapan ini harus dipasang pada setiap penyulang keluar dan terdiri
dari :
- Transformator arus jenis resin yang dipasang melingkari kabel.
- Satu kotak untuk rele, batere yang dapat dimuati
kembali(rechargeable) dan alat pemberi muatan (changer) yang
dipasang pada dinding di dalam gardu.
- Catu daya sebesar 200 V 50 Hz.

b) Satu indikator luminious yang tahan cuaca yang dapat ditempatkan di
bagian luar bangunan pada dinding
c) Spesifikasi indikator hubung singkat dan indikator gangguan ke bumi.
- Current sensing 3 core type CT or 3 single core
- Fault current threshold : 40, 80, 160 A
- Resetting automatic with LV supply restoration
- Accuracy :  10 %

2.5.11 Pemanas (Heater)


Untuk memanaskan ruang terminal kabel agar kelembabannya terjaga.
keadaan ini diharapkan dapat mengurangi efek corona pada terminal kubikel
tersebut, besarnya tegangan heater 220 V sumber tegangan berasal dari trafo
distribusi

2.5.12 Handle Kubikel


Untuk menggerakkan mekanik kubikel, yaitu membuka atau menutup
posisi kontak hubung : PMT, PMS, LBS, pemisah tanah (grounding) atau

22
pengisian pegas untuk energi membuka / menutup kontak hubung, pada satu
kubikel, jumlah handle yang tersedia bisa satu macam atau lebih

2.5.13 Sistem Interlock (Interlock) Dan Pengunci


Sistem interlock harus dilengkapi untuk mencegah kemungkinan
kesalahan atau kelainan operasi dari peralatan dan untuk menjamin keamanan
operasi.
Gawai interlock harus dari jenis mekanis dengan standar pembuatan yang
paling tinggi, tak dapat diganggu gugat dan mempunyai kekuatan mekanis lebih
tinggi dari kontrol mekanisnya.
Pada kubikel jenis PMT yang dilengkapi dengan motor listrik sebagai
penggerak alat hubung dan dikontrol dengan sistem kontrol listrik arus searah,
maka sistem interlockpun juga diberlakukan pada sistem kontrol listriknya. Yaitu
bila posisi komponen kubikel belum pada posisi siap dioperasikan, maka sistem
kontrol tidak dapat dioperasikan .
Macam- macam sistem interlock pada Kubikel :
a) Interlock pintu
Pintu Kubikel harus tidak dapat dibuka jika :
 Sakelar utama (sakelar tegangan menengah) dalam keadaan
tertutup
 Sakelar pembumian dalam keadaan terbuka.
 Pintu Kubikel harus tidak dapat ditutup jika sakelar pembumian
dalam keadaan terbuka.
b) Interlock sakelar utama
Sakelar utama (sakelar tegangan menengah) harus tidak dapat
dioperasikan jika:
 Pintu Kubikel dalam keadaan terbuka.
 Sakelar pembumian dalam keadaan tertutup.(PT.PLN,2010)

23
2.6 Transformator
Transformator merupakan salah satu bagian paling penting dalam suatu sistem
tenaga listrik yang berfungsi untuk mengkonversikan daya tanpa mengubah
frekuensi listrik, namun transformator seringkali menjadi peralatan listrik yang
kurang diperhatikan dan tidak diberikan perawatan yang memadai. Transformator
merupakan peralatan statis untuk memindahkan energi listrik dari satu rangkaian
listrik ke rangkaian lainnya dengan mengubah tegangan tanpa merubah frekuensi.
Transformator disebut peralatan statis karena tidak ada bagian yang bergerak/
berputar. Pengubahan tegangan dilakukan dengan memanfaatkan prinsip induksi
elektromagnetik yang terjadi dalam satu waktu pada transformator adalah induksi
sendiri pada masing-masing lilitan diikuti oleh induktansi bersama yang terjadi
antar lilitan.
Transformator atau sering disingkat dengan istilah Trafo adalah suatu alat
listrik yang dapat mengubah taraf suatu tegangan AC ke taraf yang lain. Maksud
dari pengubahan taraf tersebut diantaranya seperti menurunkan Tegangan AC dari
220VAC ke 12 VAC ataupun menaikkan Tegangan dari 110VAC ke 220 VAC.
Transformator atau Trafo ini bekerja berdasarkan prinsip Induksi Elektromagnet
dan hanya dapat bekerja pada tegangan yang berarus bolak balik
(AC).Transformator (Trafo) memegang peranan yang sangat penting dalam
pendistribusian tenaga listrik. Transformator menaikan listrik yang berasal dari
pembangkit listrik PLN hingga ratusan kilo Volt untuk di distribusikan, dan
kemudian Transformator lainnya menurunkan tegangan listrik tersebut ke
tegangan yang diperlukan oleh setiap rumah tangga maupun perkantoran yang
pada umumnya menggunakan Tegangan AC 220Volt. (Mardansyah.,dkk,2013)

24
GambarII1Transformator
Diatribusi(http://www.indonetwork.co.id/sintra_transformer/3498232/trafo
phase-250-kva-d3-dyn5-teg-20kv-400v-minat-kontak.htm)

2.6.1 Prinsip Kerja Transformator


Saat kumparan primer dihubungkan dengan tegangan bolak-
balik,perubahan arus listrik pada kumparan primermenimbulkan medan magnet
yang berubah.Medan magnet yang berubah diperkuat oleh adanya inti besi dan
dihantarkan inti besi kekumparan sekundersehinggan pada ujung-ujung
kumpaaran sekunder akan timbul GGL induksi.efek ini dinamakan induktansi
timbal balik.ketika arus listrik dari sumber tegangan yang mengalir pada
kumparan primer berbalik arah,medan magnet yang dihasilkan akan berubah arah
sehingga arus listrik yang dihasilkan pada kumparan sekunder akan berubah
polaritasnya.(Muasyaddad,2013)

2.6.2 Klasifikasi transformator

25
Jenis dan macam-macamnya transformator berdasarakan fungsi pemakaiannya
sangat banyak, perbandingan jumlah lilitan maupun berdasarkan penyusun
intinya. Klasifikasi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Berdasarkan perbandingan jumlah lilitan primer dan sekunder
a) transformator step up
transformator step up yaitu transformator yang mengubah tegangan
bolak-balik rendah menjadi tinggi, transformator ini mempunyai
jumlah lilitan kumparan sekunder lebih banyak daripada jumlah
lilitan primer (Ns > Np)
b) Transformator step down
transformator step down yaitu transformator yang mengubah
tegangan bolak-balik tinggi menjadi rendah, transformator ini
mempunyai jumlah lilitan kumparan primer lebih banyak daripada
jumlah lilitan sekunder (Np > Ns).
2. Berdasarkan pemakaianya
a) Transformator elektronik
transformator ini basa digunakan pada peralatan-peralatan
elektronik yang membutuhkan daya DC yang relatif sangat kecil.
Sehingga untuk mensuplai daya tersebut diperlukan adanya
transformator yang mengubah tegangan tinggi dari jala-jala PLN
menjadi tegangan rendah yang dibutuhkan oleh alat tersebut.
b) Transformator tenaga (distribusi)
transformator tenaga adalah suatu peralatan tenaga listrik yang
berfungsi untuk menyalurkan tenaga/daya listrik dari tegangan
tinggi ke tegangan rendah atau sebaliknya (mentransformasikan
tegangan). Dalam operasi umumnya, trafo-trafo tenaga ditanahkan
pada titik netralnya sesuai dengan kebutuhan untuk sistem
pengamanan/proteksi, sebagai contoh transformator 150/70 kV
ditanahkan secara langsung di sisi netral 150 kV, dan transformator
70/20 kV ditanahkan dengan tahanan di sisi netral 20 kV nya.
c) Transformator pengukuran
26
Transformator ini juga dapat digunakan sebagat alat bantu
pengukuran. Dalam hal ini, transformator pengukuran dibagi
kembali menjadi dua jenis, yaitu:
 Transformator pengukuran tegangan
transformator tegangan digunakan untuk mengukur
tegangan. Dengan mengetahui N1 dan N2, membaca
tegangan V2, serta menganggap transformator ideal maka
tegangan V1 adalah : V1 = (N1 / N2)V2

GambarII.2 Transformator tegangan

Pentanahan rangkaian sekunder diperlukan untuk mencegah


adanya beda potensial yang besar antara kumparan primer
dan sekunder (antara titik a dan b) saat isolasi kumparan
primer rusak.
 Transformator pengukuran arus
Transformator arus digunakan untuk mengukur arus beban
suatu rangkaian. Dengan menggunakan transformator arus
maka arus beban yang besar dapat diukur hanya dengan
menggunakan alat ukur (ammeter) yang tidak terlalu besar.

27
GambarII.3 Transformator Arus

Dengan mengetahui perbandingan transformasi N1/N2 dan


pembacaan ammeter (I2) maka arus beban I1 dapat
dihitung. Bila transformator dianggap ideal maka arus
beban: I1 = N2/N1 x I2
Untuk menjaga agar fluks (f) tetap tidak berubah maka perlu diperhatikan
agar rangkaian sekunder selalu tertutup. Dalam keadaan rangkaian sekunder
terbuka, ggm N2I2 akan sama dengan nol (karena I2 = 0) sedangkan ggm N1I1
tetap ada sehingga fluks normal (f) akan terganggu (Darmanto,2014)

2.6.3 Transformator Distribusi


Trafo distribusi adalah merupakan suatu komponen yang sangat penting dalam
penyaluran tenaga listrik dari gardu distribusi ke konsumen. Kerusakan pada trafo
distribusi menyebabkan kontiniutas pelayanan terhadap konsumen akan terganggu
(terjadi pemutusan aliran listrik atau pemadaman). Pemadaman merupakan suatu
kerugian yang menyebabkan biaya-biaya pembangkitan akan meningkat
tergantung harga kwh yang tidak terjual. Pemilihan rating trafo distribusi yang
tidak sesuai dengan kebutuhan beban akan menyebabkan efisiensi menjadi kecil,
begitu juga penempatan lokasi trafo distribusi yang tidak cocok mempengaruhi
drop tegangan ujung pada konsumen atau jatuhnya/turunnya tegangan ujung
saluran/konsumen.

28
Transformator atau trafo adalah komponen elektromagnet yang dapat merubah
tegangan tinggi ke rendah atau sebaliknya dalam frekuensi sama. Trafo
merupakan jantung dari distribusi dan transmisi yang diharapkan beroperasi
maksimal (kerja terus menerus tanpa henti). Agar dapat berfungsi dengan baik,
makan trafo harus dipelihara dan dirawat dengan baik menggunakan sistem dan
peralatan yang tepat. Trafo dapat dibedakan berdasarkan tenaganya, trafo 500/150
kv dan 150/70 kv biasa disebut trafo interbus transformator (ibt) dan trafo 150/20
kv dan 70/20 kv disebut trafo distribusi.
Trafo pada umumnya ditanahkan pada titik netral sesuai dengan kebutuhan untuk
sistem pengamanan atau proteksi. Sebagai contoh trafo 150/20 kv ditanahkan
secara langsung di sisi netral 150 kv dan trafo 70/20 kv ditanahkan dengan
tahanan rendah atau tahanan tinggi atau langsung di sisi netral 20 kv.
INTI BESI
Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluksi, magnetik yang ditimbulkan
oleh arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari lempengan-lempengan besi
tipis yang berisolasi, untuk mengurangi panas (sebagai rugi-rugi besi) yang
ditimbulkan oleh Eddy Current.(Azhar,2013)

29
BAB III METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
1. Tempat Penelitian
PT.PLN(Persero) Rayon Manado Selatan
2. Waktu Penelitian
Waktu Penelitian ini dimulai sejak bulan januari 2019 sampai bulan
juni 2019
3.2 Bahan dan Alat
Laptop
3.3 Prosedur Penelitian
3.3.1 Metode
1. Wawancara
proses ini adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
berkomunikasi secara langsung kepada orang yang berkepentingan
dengan sistem distribusi terutama dibagian cubicle dan gardu distribusi
2. Studi Literatur
Proses ini untuk mendapatkan data-data atau teori, maka penulis
melakukan pengumpulan data dengan membaca serta mempelajari
buku-buku , makalah ataupun referensi lain yang berhubungan dengan
masalah yang akan dibahas,yaitu cubicle
3. Studi Kasus
Metode penelitian ini bertujuan untuk memahami objek yang
ditelitinya. Meskipun demikian, berbeda dengan penelitian yang lain,
penelitian studi kasus bertujuan secara khusus menjelaskan dan
memahami objek yang ditelitinya sebagai suatu “kasus”.
4. Metode Analisa
Metode analisa yang digunakan pada penelitian yang menggunakan
pendekatan kualitatif tidak menggunakan alat statistik, namun
dilakukan dengan menginterpretasi data-data,tabel-tabel, grafik-grafik,
atau angka-angka yang ada kemudia melakukan uraian dan penafsiran

30
5. Metode Komparatif
Metode Komparatif adalah metode yang digunakan dalam penelitian
yang diarahkan untuk mengetahui apakah antara dua variabel ada
perbedaan dalam suatu aspek yang diteliti. Dalam penelitian ini tidak
ada manipulasi dari peneliti. Penelitian dilakukan secara alami, dengan
mengumpulkan data dengan suatu instrument. Hasilnya dianalisis
secara statistic untuk mencari perbedaan variabel yang diteliti.

3.3.2 Kerangka konseptual rancangan (H3-Bagian)

Mulai

Studi Literatur

Pengambilan data dari PT.PLN


Rayon Manado Selatan/gardu induk
teling

Penentuan peralatan yang tepat pada


cubicle distribusi

Penarikan Kesimpulan

Selesai

Gambar III.1 Flowchart Penelitian

31
3.3.3 Analisis Data
Uraikan proses pengumpulan data hasil pengujian dan analisis data
tersebut
3.4 Jadwal Kegiatan
Tabel 111.1 Jadwal Kegiatan

3.5 Rencana Pembiayaan (Heading 2

Tabel111.1 Rencana Biaya Pembuatan Tugas Akhir


No Alat dan Bahan/Kegiatan Biaya Ket
1 Kertas HVS A4 Rp 100.000 Dua Rim
Hitam dan
2 Tinta Print Rp 150.000
Warna
3 Transport dan Akomodasi Rp 800.000
Pembuatan buku dan fotocopy
4 Rp 300.000
TA
5 Alat Tulis Menulis Rp 50.000
6 Biaya Lain – Lain Rp 400.000
Jumlah Rp1.300.000

32
DAFTAR PUSTAKA

PT.PLN (persero).2010.Buku 5 Standar Konstruksi Jaringan Tegangan Menengah


Kodoati, K.,Lisi, F.,Pakiding, M. 2015. Analisa Perkiraan Umur
Transformator. Jurusan Teknik Elektro-FT, UNSRAT. Tersedia di
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/elekdankom/article/viewFile/8130/7691
Risti, S. 2016. Prinsip Kerja Transformator.
https://www.scribd.com/document/332111199/Perc-7-Prinsip-Kerja-
Transformator
http://eprints.polsri.ac.id/1756/3/BAB%20II.pdf
Prabowo.2016.Study Kelayakan Cubucle 20 Kv Double Incoming
Hendrawan.2010.Pemilihan Peralatan HubungBagi(Kubikel) 20 KV
Pelanggan Besar. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas
Diponegoro.Tersediadi
https://www.academia.edu/10346476/PEMELIHARAAN_PERALATAN_HUBUN
G_BAGI_KUBIKEL_20kV_PELANGGAN_BESAR

33