Anda di halaman 1dari 2

Abstrak

Gangguan Panik adalah sindrom yang sering bersifat kronis dan mengganggu
kecemasan manusia, yang sering menyebabkan kejiwaan yang serius dan komorbiditas medis.
Meskipun, sampai saat ini, ada banyak kemajuan dalam diagnosis dan pengobatan gangguan
panic, patofisiologinya masih harus dijelaskan. Dalam ulasan ini, bukti terbaru untuk dasar
neurobiologis gangguan panik ditinjau dengan perhatian khusus pada faktor-faktor risiko seperti
kerentanan genetik, stres kronis, dan temperamen. Sebagai tambahan,data neuroimaging telah
ditinjau yang memberikan dukungan untuk konsep gangguan panik sebagai gangguan sistem
ketakutan. Dampak potensial dari Institut Nasional Kesehatan Jiwa dari penelitian kesehatan
mental bagian yang membangun respon pengobaan akut dan kronik dan implikasinya terhadap
neurobiologi gangguan panik juga dibahas.

Kata kunci : Gangguan panik, patofisiologi, ketakutan akut, stres kronis, genetika, temperamen
cemas, pencitraan otak, neuroanatomi fungsional, Kriteria Domain Penelitian

Pendahuluan
Gangguan panik adalah sindrom kecemasan dramatis yang dikarakteristik dengan episode
berulang rasa takut akut, adalah kondisi kejiwaan umum dengan prevalensi 12 bulan 1–2% dan
prevalensi seumur hidup 4% atau lebih besar. Fenomenologinya kompleks, mencakup aspek
ketakutan akut (panik spontan dan isyarat), kecemasan kronis (ketakutan antisipatif), sensasi
interoseptif dan 30-50% kasus adalah agoraphobia. Dan itu tentu saja sering kronis, disertai
dengan komorbiditas psikiatrik yang serius(khususnya dengan gangguan deprsi mayor (MDD)
gangguan cemas yang lain dan penyalahgunaan zat dan yang berhubungan dengan peningkatan
kasus bunuh diri. Di luar kesulitan dan gangguan pribadi yang disertai dengan gangguan panic,
ada biaya tidak langsung untuk masyarakat, secara umum, termasuk permanfaatan berlebih pada
sumber perawatan kesehatan dan produktivitas kehilangan pekerjaan. Gangguan panic juga telah
dihubungkan untuk merugikan kesehatan fisik yang mencakup angka penyakit kardiovaskular
yang lebih tinggi dan pernafasan. Dengan demikian, gangguan panic adalah
masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, sering datang ke perawatan primer dan
perawatan psikiatris.
A neurobiological
basis for PD is strongly suggested by a range of
clinical features, such as heritability (estimated at 43%),15
presence of nocturnal panics (in 1/4 patients), symptoms
of autonomic overactivity, behavioral sensitivity to a
variety of pharmacologic challenge agents (e.g., caffeine,
lactate, CO2, cholecystokinin-4 (CCK-4), yohimbine, and
m-chlorophenylpiperazine), and robust response to
pharmacotherapies that enhance brain serotonin
(5-HT), norepinephrine (NE), and g-amino-butyric
(GABA) neurotransmission. However, improvements in
the accuracy of our neurobiological models of panic are
expected to lead to refinements in diagnosis, and more
strategic and personalized therapies.

Meskipun ada banyak kemajuan dalam epidemiologi, diagnosis, dan pengobatan gangguan
panik, yang mendasarinya patofisiologi masih membutuhkan klarifikasi