Anda di halaman 1dari 110

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI RUMAH SAKIT ANAK DAN BUNDA HARAPAN KITA
PERIODE 14 APRIL – 9 MEI 2014

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

MUTIA EKA NURIANI, S.Farm.


1306343864

ANGKATAN LXXVIII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JUNI 2014

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI RUMAH SAKIT ANAK DAN BUNDA HARAPAN KITA
PERIODE 14 APRIL – 9 MEI 2014

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker

MUTIA EKA NURIANI, S.Farm.


1306343864

ANGKATAN LXXVIII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JUNI 2014

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014
Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014
Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas akhir pada Praktek
Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita,
Periode 14 April – 9 Mei 2014. Pelaksanaan PKPA di rumah sakit menjadi
sangat penting bagi mahasiswa Profesi Apoteker agar dapat mempelajari dan
memahami berbagai peran apoteker di rumah sakit. Laporan ini disusun untuk
memenuhi salah satu syarat mencapai kelulusan pada Program Profesi Apoteker
Fakultas Farmasi UI. Penulis menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak, dari masa perkuliahan hingga penyusunan laporan ini, sangatlah
sulit bagi penulis untuk menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya. Oleh
karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Mahdi Jufri, M.Si, selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia.
2. Dr. Hayun, MSi, selaku Ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi
Universitas Indonesia yang telah memberikan dukungan dan motivasi selama
penulis menempuh pendidikan di Farmasi UI.
3. Dr. Retnosari, M.S., Ph.D, Apt., Dra. Azizahwati, M.S., Apt., dan Nadia F.,
M. Farm, Apt., selaku pembimbing dalam yang telah bersedia meluangkan
waktunya membimbing penulis selama penyusunan laporan ini.
4. Heny Safarini, M.Si., Apt. selaku kepala Instalasi Farmasi RSAB. Harapan
Kita atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk dapat menggali
ilmu sebanyak-banyaknya selama PKPA
5. Dian Puji A. P., S. Farm., Apt. selaku Apoteker di RSAB. Harapan Kita dan
pembimbing penulis atas saran dan ilmu pengetahuan yang diberikan selama
pelaksanaan hingga penyusunan laporan praktek kerja profesi apoteker.
6. Seluruh apoteker dan staf di Instalasi Farmasi RSAB. Harapan Kita yang
telah banyak berbagi ilmu kepada penulis selama pelaksanaan PKPA di
RSAB Harapan Kita .

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


7. Seluruh staf pengajar dan tata usaha Program Profesi Apoteker Fakultas
Farmasi UI yang telah banyak memberikan bekal ilmu, berbagi pengalaman,
dan pengetahuan kepada penulis selama masa studi di Fakultas Farmasi.
8. Seluruh teman-teman Apoteker UI angkatan 78 yang telah mendukung dan
bekerja sama selama perkuliahan hingga pelaksanaan Praktek Kerja Profesi
Apoteker.
9. Dan akhirnya, tak henti penulis mengucap syukur dan berterima kasih kepada
keluarga yang telah memberikan dukungan moral dan material yang tidak
terhingga kepada penulis.
10. Semua pihak yang turut membantu dan memberikan dukungan selama
penulis melaksanakan Praktek Kerja Profesi Apoteker dan penyusunan
laporan yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan laporan ini masih
jauh dari kesempurnaan, karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca yang bersifat membangun dan dapat memacu penulis untuk berkarya
lebih baik dimasa yang akan datang.
Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya, dan dapat memberikan kontribusi ilmu pengetahuan bagi semua pihak.
Penulis

2014

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014
ABSTRAK

Nama : Mutia Eka Nuriani


NPM : 1306343864
Program Studi : Profesi apoteker

Judul : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Rumah Sakit


Anak dan Bunda Harapan Kita periode 14 April 2014 – 9 Mei 2014 dan Rumah
Sakit Ibu dan Anak Bunda Periode 12 Mei 2014 – 4 Juni 2014

Praktek Kerja Profesi Apoteker di Rumah Sakit (RSAB Harapan Kita dan RSIA
Bunda) bertujuan untuk mengetahui gambaran umum di Rumah Sakit (RSAB
Harapan Kita dan RSIA Bunda), mengetahui struktur dan pembagian kerja di
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (RSAB Harapan Kita dan RSIA Bunda), dan
mengetahui peran dan tanggung jawab apoteker dalam peran lintas farmasi.
Tujuan khusus berjudul Analisa Prescribing Error pada Resep Pasien Rawat Jalan
di Depo Farmasi 1 (Alamanda) RSAB Harapan Kita Jakarta dan Analisa Resep
Pasien Rawat Jalan di Apotek ―C‖ Dan ―D‖ RSIA Bunda Jakarta Periode 1-30
April 2014

Kata Kunci : Praktek Kerja Profesi Apoteker, RSAB Harapan Kita dan RSIA
Bunda, Prescribing Error, Analisa Resep
Tugas umum : x + 135 halaman; 27 lampiran
Tugas khusus : v + 92 halaman; 16 tabel; 2 grafik; 3 lampiran
Daftar Acuan : Tugas umum 11 (2004-2012)
Tugas khusus 21 (2004-2014)

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


ABSTRACT

Name : Eka Mutia Nuriani


NPM : 1306343864
Study Program : Profession pharmacist
Title : Report of the Working Practice Pharmacist at Children's
Hospital and Harapan Bunda We period 14 April 2014 - May 9, 2014 and the
Women's and Children's Hospital Mother Period May 12, 2014 - June 4, 2014

Practice Pharmacist in Hospital (RSAB Harapan Kita and RSIA Mother) aims to
determine the general picture in the Hospital (RSAB Harapan Kita and RSIA
Mother), knowing the structure and division of labor in the installation of Hospital
Pharmacy (RSAB RSIA We Hope and Mother) , and know the roles and
responsibilities of pharmacists in the role of cross pharmacy. Specific objectives
prescribing titled Error Analysis on Outpatient Prescription Pharmacy Depo 1
(Alamanda) RSAB Harapan Kita Jakarta and Analysis of Outpatient Prescriptions in
Pharmacy "C" and "D" Mother RSIA Jakarta period 1-30 April 2014

Keywords : Practice Pharmacist, RSAB Harapan Kita and RSIA Mother,


prescribing error, Recipe Analysis
Common tasks : x + 135 pages; 27 attachments
Specific tasks : v + 92 pages; 16 tables; 2 graphs; 3 attachments
References : public task 11 (2004-2012)
special task 21 (2004-2014)

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ........................................................................................... i


HALAMAN JUDUL ............................................................................................. ii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... iii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iv
DAFTAR ISI .......................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. vii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... viii
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Tujuan .......................................................................................................... 2
BAB 2 TINJAUAN UMUM RUMAH SAKIT ................................................... 3
2.1 Rumah Sakit .............................................................................................. 3
2.2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit ................................................................... 6
2.3 Panitia Farmasi dan Terapi ......................................................................... 23
2.4 Panitia Pengendalian Infeksi Rumah Sakit ................................................ 27
2.5 Centralized Sterile Supply Departement (CSSD) atau Instalasi Pusat
Sterilisasi .................................................................................................... 27
2.6 Pengelolaan Limbah Rumah sakit .............................................................. 30
BAB 3 TINJAUAN KHUSUS RUMAH SAKIT ANAK DAN BUNDA
HARAPAN KITA .................................................................................... 38
3.1 RSAB Harapan Kita ................................................................................. 38
3.2 Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita ..................................................... 45
3.3 Centralized Sterile Supply Departement (CSSD)RSAB Harapan
Kita ............................................................................................................. 59
3.4 Pengelolaan Limbah RSAB Harapan Kita ................................................. 62
BAB 4 PEMBAHASAN ........................................................................................ 66
4.1 Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi RSAB Harapan Kita ............. 67
4.2 Kegiatan Farmasi Klinik RSAB Harapan Kita ......................................... 73
4.3 Panitia Farmasi dan Terapi RSAB Harapan Kita ..... ................................ . 73
4.4 Centralized Sterile Supply Departement (CSSD)RSAB Harapan
Kita ............................................................................................................. .74
4.5 Pengelolaan Limbah RSAB Harapan Kita ................................................. 75
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 76
5.1 Kesimpulan ................................................................................................. 76
5.2 Saran .......................................................................................................... 76
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 79
LAMPIRAN

ii
Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Struktur Organisasi IFRS.......................................................... 8


Gambar 2.2. Sistem Distribusi Obat Resep Individual Sentralisasi...............13
Gambar 2.3. Alur Pelayanan Resep dan Dispensing Obat.............................16

iii
Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi RSAB Harapan Kita................................. 81


Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita...... 82
Lampiran 3. Surat Pesanan Barang............................................................. 83
Lampiran 4. Bukti Penerimaan Barang....................................................... 84
Lampiran 5. Alur Sistem Distribusi Obat Unit Dosis Secara
Desentralisasi......................................................................... 85
Lampiran 6. Kartu Pasien UDD.................................................................. 86
Lampiran 7. Formulir Pemberian Informasi Obat Pasien Pulang................. 87
Lampiran 8. Alur Pelayanan Resep Rawat Jalan......................................... 88
Lampiran 9. Alur Pelayanan Resep Rawat Inap......................................... 90
Lampiran 10. Surat Pesanan Narkotika........................................................ 91
Lampiran 11. Surat Pesanan Psikotropika.................................................... 92
Lampiran 12. Etiket...................................................................................... 93
Lampiran 13. Salinan resep.......................................................................... 94
Lampiran 14. Alur Pelayanan Sterilisasi Sentral (CSSD)............................... 95
Lampiran 15. Bon Penerimaan Pensterilan CSSD......................................... 96
Lampiran 16. Buku Pensterilan CSSD........................................................... 97

iv
Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual
maupun yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomi (Republik Indonesia, 2009). Kesehatan sebagai salah satu unsur
kesejahteraan umum ini, harus diwujudkan melalui berbagai upaya kesehatan
secara menyeluruh dan terpadu.
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan memelihara dan meningkatkan
kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan,
peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan
penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan
secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan (Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia, 2004). Konsep kesatuan upaya kesehatan ini menjadi
pedoman dan pegangan bagi semua fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia
termasuk rumah sakit. Rumah sakit yang merupakan salah satu dari fasilitas
pelayanan kesehatan, merupakan rujukan pelayanan kesehatan dengan fungsi
utama menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan
pemulihan bagi pasien.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah
sakit yang menunjang upaya pelayanan kesehatan yang bermutu. Hal tersebut
diperjelas dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1333/Menkes/SK/XII/1999
tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan
farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan
kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan
obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinis yang terjangkau bagi
semua lapisan masyarakat (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2004).
Bagian yang berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan obat di
rumah sakit adalah Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS). Kegiatan yang
dilakukan oleh IFRS meliputi pengelolaan perbekalan farmasi seperti produksi,

1 Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


2

pemilihan, perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian


serta pelayanan kefarmasian terkait penggunaan obat dan alat kesehatan. Untuk
memaksimalkan pelayanan obat di rumah sakit, sangat diperlukan profesionalisme
apoteker. Apoteker bertanggung jawab dalam menjamin penggunaan obat yang
rasional, efektif, aman, dan terjangkau oleh pasien dengan menerapkan
pengetahuan, keterampilan, dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya.
Apoteker merupakan tenaga kefarmasian yang memiliki kewenangan dan
tanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan kefarmasian. Seiring
perkembangan zaman, profesionalisme apoteker semakin diperlukan, karena
pekerjaan kefarmasian tidak lagi hanya berorientasi pada produk (product
oriented), tetapi cenderung berorientasi pada pasien (patient oriented). Perubahan
orientasi pekerjaan tersebut menuntut apoteker untuk memiliki pengetahuan yang
luas dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian, baik dalam pengelolaan
perbekalan farmasi maupun pelayanan farmasi klinis. Salah satu upaya untuk
meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan dan kemampuan bekerja
sama dengan profesi kesehatan lainnya, maka Fakultas Farmasi Universitas
Indonesia menyelenggarakan program Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)
bagi mahasiswa Program Pendidikan Apoteker yang bekerja sama dengan Rumah
Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita yang berlangsung selama satu bulan.

1.2 Tujuan
Tujuan pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker Universitas
Indonesia di RSAB Harapan Kita adalah :
a. Membandingkan teori dengan kegiatan di lapangan mengenai pelayanan
farmasi profesional dari aspek manajemen maupun klinik yang berorientasi
pada tercapainya hasil pengobatan yang optimal bagi pasien dan berperan serta
dalam program pelayanan kesehatan di rumah sakit.
b. Mampu melaksanakan teknik aseptik dan Centralized Sterile Supply
Departement (CSSD).

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


BAB 2
TINJAUAN UMUM

2.1 Rumah Sakit


2.1.1 Definisi Rumah Sakit
Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan
rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Rumah sakit diselenggarakan
berdasarkan Pancasila dan nilai kemanusiaan, etika dan profesionalisme, manfaat,
keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan
keselamatan pasien, serta memiliki fungsi (Republik Indonesia, 2009).
2.1.2 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
Menurut UU No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, rumah sakit
mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna,
untuk menjalankan tugas sebagaimana yang dimaksud, rumah sakit mempunyai
fungsi sebagai berikut :
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai
dengan standar pelayanan rumah sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan
kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka
peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi
bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan
memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.
2.1.3 Klasifikasi Rumah Sakit
Suatu sistem klasifikasi rumah sakit diperlukan untuk memberi
kemudahan mengetahui identitas, organisasi, jenis pelayanan yang diberikan
pemilik serta evaluasi golongan rumah sakit. Rumah sakit dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa golongan berdasarkan jenis pelayanan, kepemilikan, dan rumah
sakit pendidikan.

3 Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


4

2.1.3.1 Berdasarkan Jenis Pelayanan


a. Rumah Sakit Umum
Rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan
kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit. Berdasarkan fasilitas dan
kemampuan pelayanan, rumah sakit umum digolongkan menjadi :
1. Rumah Sakit Tipe A
Rumah sakit umum kelas A harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit empat pelayanan medik spesialis dasar,
lima pelayanan spesialis penunjang medik, duabelas pelayanan medik
spesialis lain, dan tiga belas pelayanan medik subspesialis.
2. Rumah Sakit Tipe B
Rumah sakit umum kelas B harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit empat pelayanan medik spesialis dasar,
empat pelayanan spesialis penunjang medik, delapan pelayanan medik
spesialis lainnya dan dua pelayanan medik subspesialis dasar.
3. Rumah Sakit Tipe C
Rumah sakit umum kelas C harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit empat pelayanan medik spesialis dasar dan
empat pelayanan spesialis penunjang medik.
4. Rumah Sakit Tipe D
Rumah sakit umum kelas D harus mempunyai fasilitas dan kemampuan
pelayanan medik paling sedikit dua pelayanan medik spesialis dasar.
b. Rumah Sakit Khusus
Rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan
utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu,
golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya. Berdasarkan
fasilitas dan kemampuan pelayanan, rumah sakit khusus digolongkan menjadi :
1. Rumah Sakit khusus kelas A
2. Rumah Sakit khusus kelas B
3. Rumah Sakit khusus kelas C

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


5

2.1.3.2 Berdasarkan Pengelola


a. Rumah Sakit Publik
Rumah sakit publik adalah rumah sakit yang dapat dikelola oleh
pemerintah, pemerintah daerah, dan badan hukum yang bersifat nirlaba. Rumah
sakit publik yang dikelola pemerintah dan pemerintah daerah diselenggarakan
berdasarkan pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU) atau Badan Layanan
Umum Daerah (BLUD) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
b. Rumah Sakit Privat
Rumah sakit privat adalah rumah sakit yang dikelola oleh badan hukum
dengan tujuan profit yang berbentuk Persero Terbatas (Persero).
2.1.3.3 Rumah Sakit Pendidikan
Rumah sakit pendidikan merupakan rumah sakit yang menyelenggarakan
pendidikan dan penelitian secara terpadu dalam bidang pendidikan profesi
kedokteran, pendidikan kedokteran berkelanjutan, dan pendidikan tenaga
kesehatan lainnya.
2.1.4 Sumber Daya Manusia dan Struktur Organisasi Rumah Sakit
Setiap rumah sakit harus memiliki organisasi yang efektif, efisien, dan
akuntabel agar dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Menurut UU No.44
tahun 2009 tentang rumah sakit, organisasi rumah sakit paling sedikit terdiri atas
kepala rumah sakit atau direktur rumah sakit, unsur pelayanan medis, unsur
keperawatan, unsur penunjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal,
serta administrasi umum dan keuangan. Kepala rumah sakit harus seorang tenaga
medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan.
Pemilik rumah sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala rumah sakit.
Menurut UU No.36 tahun 2009, tenaga kesehatan merupakan setiap orang
yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan
atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis
tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Tenaga
kesehatan juga harus memiliki kualifikasi minimum, memenuhi ketentuan kode
etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan
standar prosedur operasional. Kode etik dan standar profesi diatur oleh organisasi
profesi masing-masing.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


6

Menurut Peraturan Pemerintah RI No.32 tahun 1996 tentang Tenaga


Kesehatan, tenaga kesehatan terdiri dari :
a. Tenaga medis yang meliputi dokter dan dokter gigi.
b. Tenaga keperawatan yang meliputi perawat dan bidan.
c. Tenaga kefarmasian yang meliputi apoteker, analis farmasi, dan asisten
apoteker.
d. Tenaga kesehatan masyarakat yang meliputi epidemiolog kesehatan,
entomolog kesehatan, mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan,
administrator kesehatan, dan sanitarian.
e. Tenaga gizi yang meliputi nutrisionis dan dietisian.
f. Tenaga keterapian medik yang meliputi fisioterapis, okupasiterapis, dan terapi
wicara.
g. Tenaga keteknisian teknis yang meliputi radiographer, radioterapis, teknisi
gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis, optisien, ototik
prostetik, teknisi transfusi darah, dan perekam medis.

2.2 Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)


2.2.1 Definisi IFRS
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah suatu bagian atau unit atau
divisi atau fasilitas di rumah sakit, tempat penyelenggaraan semua kegiatan
pekerjaan kefarmasian yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri
(Siregar, 2003). Menurut Kepmenkes No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang
Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, IFRS (Instalasi Farmasi Rumah
Sakit) dipimpin oleh Apoteker.
2.2.2 Tugas dan Fungsi IFRS
Tugas utama IFRS adalah pengelolaan mulai dari perencanaan, pengadaan,
penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada penderita sampai
dengan pengendalian semua perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan
dalam rumah sakit baik untuk penderita rawat inap, rawat jalan, maupun untuk
semua unit termasuk poliklinik rumah sakit (Siregar, 2008).
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 1197/Menkes/SK/X/2004
fungsi instalasi farmasi rumah sakit adalah sebagai tempat pengelolaan perbekalan

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


7

farmasi serta memberikan pelayanan kefarmasian dalam penggunaan obat dan alat
kesehatan.
2.2.3 Struktur Organisasi dan Sumber Daya Manusia IFRS
Personalia pelayanan farmasi rumah sakit adalah sumber daya manusia
yang melakukan pekerjaan kefarmasian di rumah sakit. IFRS harus dipimpin oleh
seorang apoteker yang secara professional kompeten dan memenuhi persyaratan
hukum. Jabatan kepala IFRS berada setingkat dengan jabatan kepala staf medik
fungsional dalam struktur rumah sakit (Siregar, 2008).
Menurut Kepmenkes RI No. 1197/MENKES/SK/X/2004, IFRS terdiri dari
beberapa personil tenaga kerja yaitu:
a. Untuk pekerjaan kefarmasian dibutuhkan tenaga:
1. Apoteker
2. Sarjana Farmasi
3. Asisten Apoteker (AMF, SMF)
b. Untuk pekerjaan administrasi dibutuhkan tenaga:
1. Operator komputer atau teknisi yang memahami kefarmasian
2. Tenaga administrasi

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


8

c. Pembantu pelaksana

Kepala Instalasi Farmasi


Rumah Sakit

Administrasi
IFRS

Pengelolaan Pelayanan Manajemen


Mutu
Perbekalan Farmasi

Gudang Rawat Inap TDM

Produksi Rawat Jalan TPN

Gambar 2.1Struktur Organisasi IFRS


Personalia Pelayanan Farmasi Rumah Sakit adalah sumber daya manusia
yang melakukan pekerjaan kefarmasian di rumah sakit yang termasuk dalam
bagan organisasi rumah sakit dengan persyaratan :
a. Terdaftar di Departemen Kesehatan.
b. Terdaftar di Asosiasi Profesi.
c. Mempunyai izin kerja.
d. Mempunyai Surat Keputusan (SK) penempatan.
Dalam perhitungan beban kerja perlu diperhatikan faktor-faktor yang
mempengaruhi pada kegiatan yang dilakukan, yaitu :
a. Kapasitas tempat tidur dan BOR.
b. Jumlah resep atau formulir per hari.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


9

c. Volume perbekalan farmasi.


d. Idealnya 30 tempat tidur dilayani oleh satu apoteker untuk
pelayanan kefarmasian.
2.2.4 Kegiatan IFRS
Kegiatan pada instalasi ini terdiri dari pelayanan farmasi minimal yang
meliputi perencanaan, pengadaan, penyimpanan perbekalan farmasi, dispensing
obat berdasarkan resep bagi penderita rawat inap dan rawat jalan, pengendalian
mutu, pengendalian distribusi pelayanan umum dan spesialis, pelayanan langsung
pada pasien serta pelayanan klinis yang merupakan program rumah sakit secara
keseluruhan (Siregar dan Amalia, 2004).
2.2.4.1 Pengelolaan Perbekalan Farmasi
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1197/MENKES/SK/X/2004, pengelolaan perbekalan farmasi merupakan suatu
siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan, penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, penghapusan, administrasi dan
pelaporan, serta evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan.
a. Pemilihan
Merupakan proses kegiatan mulai dari meninjau masalah kesehatan yang
terjadi di rumah sakit, indentifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis,
menentukan kriteria dan pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial,
standarisasi hingga menjaga dan memperbaharui standar obat. Penentuan seleksi
obat merupakan peran aktif apoteker dalam Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)
untuk menetapkan kualitas dan efektifitas, serta jaminan purna transaksi
pembelian.
b. Perencanaan
Merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga
perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran untuk
menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat
dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


10

Terdapat tiga metode perencanaan sediaan farmasi dan alat kesehatan,


yaitu:
1. Metode konsumsi, dibuat berdasarkan data konsumsi periode sebelumnya.
2. Metode epidemiologi atau morbiditas, dibuat berdasarkan pola penyakit di
rumah sakit periode sebelumnya maupun pola penyakit di sekitar rumah sakit
yang diperkirakan akan terjadi.
3. Metode kombinasi konsumsi dan epidemiologi (morbiditas).
Pedoman perencanaan berdasarkan dari acuan buku-buku seperti Daftar
Obat Esensial Nasional (DOEN), formularium rumah sakit, standar terapi rumah
sakit, ketentuan setempat yang berlaku yang terdiri dari data catatan medik,
anggaran yang tersedia, penetapan prioritas, siklus penyakit, sisa persediaan, data
pemakaian periode yang lalu dan rencana pengembangan.
Sebelum perencanaan diadakan, perlu dievaluasi terlebih dahulu apakah
perencanaan sudah mendekati benar atau belum. Untuk itu ada beberapa
mekanisme evaluasi, diantaranya :
2. Analisa ABC (Pareto)
Analisis ABC adalah analisis yang digunakan dalam beberapa sistem
persediaan untuk menganalisis pola konsumsi dan jumlah dari total konsumsi
untuk semua item. Analisa ABC merupakan pembagian konsumsi obat dan
pengeluaran untuk perencanaan dengan membagi obat yang dikonsumsi
menjadi tiga kategori, yaitu :
a) Golongan A (always)
10-20 % item obat yang disediakan, tapi dana yang dikeluarkan untuk
pengadaan obat-obat ini sangat besar yaitu mencapai 70-80 % dari
keseluruhan dana.
b) Golongan B (better)
20-40% item obat yang disediakan, dana yang dikeluarkan untuk pengadaan
obat-obat ini cukup besar yaitu mencapai 10-15% dari keseluruhan dana.
c) Golongan C (control)
Ketersediaannya sangat banyak yaitu mencapai 60% dari keseluruhan item
obat, namun kebutuhan dana yang dikeluarkan dalam pengadaannya rendah
yaitu hanya 5-10% dari keseluruhan dana.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


11

3. Analisis VEN
Analisa VEN merupakan analisa yang digunakan untuk menetapkan prioritas
pembelian obat serta menentukan tingkat stok aman dan harga penjualan obat.
Kategori obat-obat sistem VEN yaitu :
a) V (Vital) adalah obat- obat yang termasuk dalam potensial life saving drug,
mempunyai efek samping withdrawl secara signifikan (pemberian harus
secara teratur dan penghentiannya tidak tiba-tiba) atau sangat penting dalam
penyediaan pelayanan kesehatan dasar.
b) E (Essensial) adalah obat-obat yang efektif untuk mengurangi kesakitan,
namun demikian sangat signifikan untuk bermacam- macam penyakit tetapi
tidak vital secara absolut (penting tetapi tidak vital), untuk penyediaan
sistem kesehatan dasar.
c) N (Non Essensial) merupakan obat-obat yang digunakan untuk penyakit
minor atau penyakit tertentu yang efikasinya masih diragukan termasuk
terhitung mempunyai biaya tinggi untuk memperoleh keuntungan
terapeutik.
c. Pengadaan
Merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah
direncanakan dan disetujui, melalui:
1. Pembelian, ada dua metode pembelian yaitu:
a) Secara Tender (oleh Panitia Pembelian Barang Farmasi)
b) Secara Langsung dari pabrik atau distributor atau pedagang besar farmasi
2. Produksi atau pembuatan sediaan farmasi, terbagi menjadi dua yaitu
produksi steril dan non steril
3. Sumbangan (Droping)
d. Produksi
Merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk, dan pengemasan kembali
sediaan farmasi steril atau non steril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
kesehatan di rumah sakit. Kriteria obat yang diproduksi, antara lain:
1. Sediaan farmasi dengan formula khusus.
2. Sediaan farmasi dengan harga murah.
3. Sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


12

4. Sediaan farmasi yang tidak tersedia dipasaran.


5. Sediaan farmasi untuk penelitian.
6. Sediaan nutrisi parenteral.
7. Rekonstruksi sediaan obat kanker.
e. Penerimaan
Merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah
diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian, melalui pembelian langsung, tender,
konsinyasi atau sumbangan. Pedoman dalam penerimaan perbekalan farmasi,
yaitu:
1. Pabrik harus mempunyai sertifikat analisa.
2. Barang harus bersumber dari distributor utama.
3. Harus mempunyai Material Safety Data Sheet (MSDS).
4. Khusus untuk alat kesehatan atau kedokteran harus mempunyai Certificate
of Origin (COO).
5. Expire Date minimal 2 tahun.
f. Penyimpanan
Merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasi menurut persyaratan
yang ditetapkan, yaitu:
1. Dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya.
2. Dibedakan menurut suhu, kestabilan.
3. Mudah meladak atau terbakar.
4. Tahan atau tidaknya terhadap cahaya.
Disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan
farmasi sesuai kebutuhan.
g. Pendistribusian dan Dispensing Sediaan Farmasi.
1. Sistem Distribusi Obat
Sistem distribusi obat di rumah sakit adalah tatanan jaringan sarana,
personel, prosedur, dan jaminan mutu yang serasi, terpadu dan berorientasi
penderita dalam kegiatan penyampaian sediaan obat beserta informasinya kepada
penderita. Sistem distribusi obat mencakup penghantaran sediaan yang telah di-
dispensing IFRS ke daerah tempat perawatan penderita dengan keamanan dan
ketepatan obat, ketepatan penderita, ketepatan jadwal, tanggal, waktu dan metode

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


13

pemberian, dan ketepatan personel pemberi obat kepada penderita serta keutuhan
mutu obat. Berdasarkan ada atau tidaknya satelit (depo farmasi) sistem distribusi
obat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sistem pelayanan terpusat (sentralisasi)
dan sistem pelayanan terbagi (desentralisasi).
Secara umum terdapat empat sistem distribusi sediaan farmasi di rumah
sakit, yaitu :
a) Sistem distribusi resep individual.
Resep individual adalah order atau resep yang ditulis dokter untuk tiap
penderita, sedangkan sentralisasi adalah semua order atau resep tersebut yang
disiapkan dan didistribusikan dari IFRS sentral. Sistem distribusi obat resep
individual sentralisasi adalah tatanan kegiatan penghantaran sediaan obat oleh
IFRS sentral sesuai dengan yang ditulis pada order atau resep atas nama pasien
rawat inap tertentu melalui perawat ke ruang penderita tersebut.
Dalam sistem ini, semua obat yang diperlukan untuk pengobatan di-
dispensing dari IFRS. Resep orisinil oleh perawat dikirim ke IFRS, kemudian
order atau resep itu diproses sesuai kaidah ―cara dispensing yang baik dan obat
disiapkan untuk didistribusikan kepada penderita tertentu‖.

Keterangan : ARS = Apoteker Rumah Sakit


Gambar 2.2 Sistem distribusi obat resep individual sentralisasi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


14

b) Sistem distribusi obat persediaan lengkap di ruang.


Sistem distribusi obat persediaan lengkap di ruang merupakan tatanan
kegiatan penghantaran sediaan obat sesuai yang ditulis dokter pada order obat,
yang disiapkan dari persediaan di ruang oleh perawat dan dengan mengambil
dosis atau unit obat dari wadah persediaan yang langsung diberikan kepada
penderita di ruang itu.
c) Sistem distribusi obat kombinasi resep individu dan persediaan di ruang.
Rumah sakit yang menerapkan sistem ini selain menerapkan distribusi
resep atau order individual sentralisasi juga menerapkan distribusi persediaan di
ruangan yang terbatas. Jenis dan jumlah obat yang tersedia di ruangan (daerah
penderita) ditetapkan oleh Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) dengan masukan dari
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) dan dari pelayanan keperawatan. Sistem
kombinasi biasanya diadakan untuk mengurangi beban kerja IFRS. Obat yang
disediakan di ruangan adalah obat yang obat yang diperlukan oleh banyak
penderita, setiap hari diperlukan, dan biasanya adalah obat yang harganya relative
murah, mencakup obat resep atau obat bebas.
d) Sistem distribusi obat dosis unit.
Pengobatan dosis unit didefinisikan sebagai pengobatan yang pengadaan,
pengemasan, pengawasan, pemberian berupa unit dosis tunggal atau ganda yang
mengandung sejumlah obat yang telah ditentukan atau pemberian yang sesuai
untuk penggunaan satu dosis biasa.
Pemberian obat menggunakan sistem dosis unit ditujukan agar lebih aman
dan ekonomis. Sistem dosis unit dapat berbeda bentuknya bergantung pada
kebutuhan, sumber daya, dan karakteristik dari tiap rumah sakit namun ada empat
hal yang sama dalam pemberian sistem dosis unit:
1. Pengobatan dibuat dan diberikan dalam bentuk dosis unit tunggal atau
ganda.
2. Pengobatan dibuat dalam bentuk siap digunakan.
3. Untuk sebagian obat-obatan, penyediaan obat tidak disediakan setiap saat.
4. Status pengobatan tiap-tiap pasien harus selalu diperhatikan.
Pengobatan harus diberikan hanya dengan permintaan tertulis (resep) yang
diberikan oleh dokter atau orang-orang yang diperbolehkan untuk membuat resep.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


15

Pengecualian yang diperbolehkan misalnya permintaan obat melalui telepon atau


permintaan langsung harus ditulis langsugn dan ditandatangani oleh perawat atau
farmasis yang telah memiliki izin praktek.Resep harus ditulis dengan jelas dan
mencantumkan hal-hal berikut:
a) Nama dan tempat pasien.
b) Nama obat.
c) Dosis yang diberikan.
d) Rute pemberian.
e) Tanda tangan dokter.
f) Waktu dan tanggal pembuatan resep.
Setiap singkatan yang digunakan di dalam resep harus disepakati bersama
oleh tenaga medis, perawat, apoteker, dan staf rekam medik. Apabila ada
pertanyaan menyangkut resep termasuk interpretasi dari penulisan yang tidak jelas
harus dirujuk atau ditanyakan pada dokter yang memberikan resep.
Apoteker harus menerima resep dari dokter sebelum obat dibuat kecuali
dalam keadaan gawat (emergency). Hal ini memungkinkan apoteker untuk
menyelesaikan masalah terkait resep sebelum obat dibuat dan diberikan pada
pasien. Permintaan khusus seperti permintaan obat dalam keadaan gawat
(emergency) harus diproses berdasarkan prosedur khusus yang telah disesuaikan
dengan peraturan yang berlaku.
2. Dispensing sediaan farmasi.
Alur atau tahapan dalam pelayananresep dan dispensing sediaan farmasi
yangbaik dan berdasarkan keamanan untuk pasien adalah sebagai berikut Gambar
2.3 :
a) Penerimaan resep dan pemeriksaan klinis.
Resep diberikan kepada petugas farmasi oleh pasien, kemudian dilakukan
screaning resep yang meliputi skriningadministrasi, farmasetika dan interaksi
obat.
b) Pembuatan label atau etiket obat.
Etiket dibuat berdasarkan resep yang diterima berdasarkan nama pasien lalu
dimasukkan dalam keranjang.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


16

c) Penyiapan obat.
Obat disiapkan berdasarkan resep dan diberi etiket.
d) Pengecekan secara akurat obat yang telah diberi etiket.
e) Penyimpanan sementara obat yang sudah dikemas.
f) Pengecekan akhir dan pemberian obat kepada pasien.
g) Konseling pasien oleh apoteker di ruang khusus.

Gambar 2.3 Alur pelayanan resep dan dispensing obat


[sumber : NHS.2007]
2.2.4.2 Pengelolaan Obat Narkotika
1. Pengadaan atau Pemesanan Narkotika
Apoteker hanya dapat memesan narkotika melalui Pedagang Besar
Farmasi (PBF) yang telah ditunjuk khusus oleh menteri, yaitu PT. Kimia Farma
dengan tujuan untuk memudahkan pengawasan peredaran narkotika. Pemesanan
narkotika dilakukan dengan membuat surat pesanan narkotika asli yang
ditandatangani oleh apoteker yang dilengkapi dengan nama, nomor Surat Izin
Praktek Apoteker (SIPA), tanggal dan nomor surat, alamat lengkap, dan stempel .
Satu surat pesanan hanya untuk satu jenis narkotika.
2. Penyimpanan Narkotika
Berdasarkan Permenkes Nomor 28/MENKES/PER/V/1978 tentang
penyimpanan narkotika, apotek harus memiliki tempat khusus untuk penyimpanan
narkotika yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


17

a. Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat.
b. Harus mempunyai kunci yang kuat.
c. Dibagi dua masing-masing dengan kunci yang berlainan; bagian pertama
dipergunakan untuk menyimpan morfina, petidina, dan garam-garamnya
serta persediaan narkotika; bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan
narkotika lainnya yang dipakai sehari-hari.
d. Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40 x
80 x 100 cm, maka lemari tersebut harus dibaut pada tembok atau lantai.
e. Lemari harus dikunci dengan baik.
f. Lemari khusus tidak boleh dipergunakan untuk menyimpan barang lain
selain narkotika.
g. Anak kunci lemari khusus harus dikuasai oleh penanggung jawab atau
pegawai lain yang dikuasakan.
h. Lemari khusus harus ditaruh di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh
umum.
3. Pelayanan atau Penyerahan Narkotika
Menurut Undang-undang nomor 35 tahun 2009 pasal 43, penyerahan
narkotika hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, pusat kesehatan
masyarakat, balai pengobatan dan dokter. Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan
masyarakat, dan balai pengobatan hanya dapat menyerahkan narkotika kepada
pasien berdasarkan resep dokter. Apotek dilarang mengulangi menyerahkan
narkotika atas dasar resep yang sama dari seorang dokter atau atas dasar salinan
resep dokter (Undang-Undang Nomor 9 tahun 1976 Pasal 7). Pada resep narkotika
yang baru dilayani sebagian, apotek boleh membuat salinan resep tetapi salinan
resep tersebut hanya boleh dilayani di apotek yang menyimpan resep asli.
4. Pemusnahan Narkotika
Tujuan dilakukannya pemusnahan narkotika adalah untuk menghapus
pertanggungjawaban apoteker terhadap pengelolaan narkotika, menjamin
narkotika yang sudah tidak memenuhi persyaratan dikelola sesuai dengan standar
yang berlaku, dan mencegah penyalahgunaan bahan narkotika serta mengurangi
resiko terjadinya penggunaan obat yang substandar (Departemen Kesehatan RI,

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


18

2008). Berdasarkan Undang-undang nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika


Pasal 60, pemusnahan narkotika dilakukan dalam hal diproduksi tanpa memenuhi
standar dan persyaratan yang berlaku dan/atau tidak dapat digunakan dalam
proses produksi, kadaluarsa, tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada
pelayanan kesehatan dan/atau berkaitan untuk pengembangan ilmu pengetahuan
atau berkaitan dengan tindak pidana. Pemusnahan yang dilakukan oleh apotek
dengan membuat berita acara pemusnahan narkotika dan dilaporkan kepada
pihak-pihak yang terkait.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.28/MENKES/PER/I/1978 Tentang Penyimpanan Narkotika dan Undang-
Undang nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika, berita acara pemusnahan
memuat:
a. Keterangan tempat, hari, tanggal, bulan, dan tahun pemusnahan.
b. Nama pemegang izin khusus, apoteker pimpinan apotek dan dokter
pemilik narkotika.
c. Nama seorang saksi dari pemerintah dan seorang saksi dari perusahaan
atau badan tersebut.
d. Nama dan jumlah narkotika yang dimusnahkan.
e. Cara pemusnahan.
f. Tanda tangan penanggung jawab apotek atau pemegang izin khusus,
dokter pemilik narkotika dan saksi-saksi.
Berita acara pemusnahan tersebut dikirimkan kepada dibuat rangkap
empat untuk ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota,
Kepala Dinas Kesehatan Propinsi, Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan,
dan satu disimpan sebagai arsip di apotek.
5. Pencatatan dan Pelaporan Narkotika
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika,
apotek wajib membuat, menyampaikan, dan menyimpan laporan berkala
mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran narkotika yang berada dalam
penguasaannya. Pelaporan penggunaan narkotika telah dikembangkan dalam
bentuk perangkat lunak atau program Sistem Pelaporan Narkotika dan
Psikotropika (SIPNAP) sejak tahun 2006 oleh Kementerian Kesehatan. Sistem

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


19

Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) adalah sistem yang mengatur


pelaporan penggunaan Narkotika dan Psikotropika dari Unit Layanan (Puskesmas,
Rumah Sakit dan Apotek) ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan
menggunakan pelaporan elektronik selanjutnya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
melaporkan ke tingkat yang lebih tinggi (Dinkes Provinsi dan Ditjen Binfar dan
Alkes) melalui mekanisme pelaporan online yang menggunakan fasilitas internet.
2.2.4.3 Pengelolaan Psikotropika (Undang-undang No. 5 tahun 1997)
1. Pemesanan Psikotropika
Pemesanan psikotropika dilakukan dengan menggunakan surat pesanan
psikotropika yang ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nomor SIK,
SIA, dan stempel apotek. Surat pesanan tersebut dibuat rangkap tiga dan setiap
surat dapat digunakan untuk memesan beberapa jenis psikotropika.
2. Penyimpanan Psikotropika
Penyimpanan psikotropika belum diatur di dalam perundang-undangan
atau peraturan lainnya. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika
maka sebaiknya obat golongan psikotropika disimpan pada rak atau lemari
khusus.
3. Penyerahan Psikotropika
Penyerahan psikotropika oleh rumah sakit, balai pengobatan, dan
puskesmas, hanya dapat dilakukan kepada pengguna atau pasien berdasarkan
resep dokter.
4. Pemusnahan Psikotropika
Pada Undang-undang No. 5 tahun 1997 pasal 53 disebutkan bahwa
pemusnahan psikotropika dilaksanakan dalam hal berhubungan dengan tindak
pidana, diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku
dan/atau tidak dapat digunakan dalam proses produksi psikotropika, kadaluarsa,
dan tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau
untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Setiap pemusnahan psikotropika wajib
dibuatkan berita acara.
5. Pelaporan Psikotropika
Apotek berkewajiban menyusun dan mengirimkan laporan bulanan
melalui perangkat lunak atau program Sistem Pelaporan Narkotika dan

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


20

Psikotropika (SIPNAP). Mekanisme pelaporan psikotropika sama dengan


pelaporan narkotika.
2.2.4.4 Pelayanan Kefarmasian dalam Penggunaan Obat dan Alat Kesehatan
Pelayanan kefarmasian dalam penggunaan obat dan alat kesehatan adalah
pendekatan profesional yang bertanggung jawab dalam menjamin penggunaan
obat dan alat kesehatan sesuai indikasi, efektif, aman, dan terjangkau oleh pasien
melalui penerapan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan perilaku apoteker
serta bekerja sama dengan pasien dan profesi kesehatan lainnya.
Adapun tujuan dari pelayanan kefarmasian dalam penggunaan obat dan
alat kesehatan, antara lain:
a. Meningkatkan mutu dan memperluas cakupan pelayanan farmasi di rumah
sakit.
b. Memberikan pelayanan farmasi yang dapat menjamin efektifitas, keamanan
dan efisiensi penggunaan obat.
c. Meningkatkan kerjasama dengan pasien dan profesi kesehatan lain yang terkait
dalam pelayanan farmasi.
d. Melaksanakan kebijakan obat di rumah sakit dalam rangka meningkatkan
penggunaan obat secara rasional.
Kegiatan dalam pelayanan kefarmasian ini, meliputi pengkajian resep,
dispensing, pemantauan dan pelaporan efek samping obat, pelayanan informasi
obat, konseling, pemantauan kadar obat dalam darah, penanganan obat sitostatika,
penyiapan Total Parenteral Nutrition(TPN), ronde, pemantauan dan pengkajian
penggunaan obat.
2.2.4.5 Evaluasi dan Pengendalian Mutu
Hal ini perlu dilakukan agar pelayanan farmasi yang tersedia dapat
memenuhi standar pelayan yang ditetapkan dan dapat memuaskan pelanggan
(Kementerian Kesehatan RI, 2004).
Berdasarkan waktu pelaksanaan, evaluasi dibagi menjadi tiga jenis yaitu:
a. Prospektif, adalah program yang dijalankan sebelum pelayanan dilaksanakan,
misalnya pembuatan standar dan perizinan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


21

b. Konkuren, adalah program yang dijalankan bersamaan dengan


dilaksanakannya pelayanan, misalnya memantau kegiatan konseling apoteker
dan peracikan resep oleh asisten apoteker.
c. Retrospektif, adalah program pengendalian yang dijalankan setelah pelayanan
dilaksanakan, misalnya survey konsumen dan laporan mutasi barang.
d. Evaluasi dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan empat metode, yaitu:
1. Audit (pengawasan), dilakukan terhadap proses hasil kegiatan apakah sudah
sesuai standar.
2. Review (penilaian), terhadap pelayanan yang telah diberikan, penggunaan
sumber daya, penulisan resep.
3. Survei, untuk mengukur kepuasan pasien, dilakukan dengan angket atau
wawancara langsung.
4. Observasi, terhadap kecepatan pelayanan antrian, ketepatan penyerahan
obat.
Pengendalian mutu merupakan kegiatan pengawasan, pemeliharaan dan
audit terhadap perbekalan farmasi untuk menjami mutu, mencegah kehilangan,
kadaluarsa, rusak dan mencegah ditarik dari peredaran serta keamanannya sesuai
dengan Kesehatan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3 RS), yang meliputi:
a. Melaksanakan prosedur yang menjamin keselamatan kerja dan lingkungan
b. Melaksanakan prosedur yang mendukung kerja tim pengendalian infeksi rumah
sakit.
2.2.5 Pengembangan Staf dan Program Pendidikan
2.2.5.1 Pendidikan dan Pelatihan
Pendidikan dan pelatihan adalah suatu proses atau upaya peningkatan
pengetahuan dan pemahaman di bidang kefarmasian atau bidang yang berkaitan
dengan kefarmasian secara kesinambungan untuk meningkatkan pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan di bidang kefarmasian.
Pendidikan dan pelatihan merupakan kegiatan pengembangan sumber daya
manusia Instalasi Farmasi Rumah Sakit untuk meningkatkan potensi dan
produktifitasnya secara optimal,serta melakukan pendidikan dan pelatihan bagi
calon tenaga farmasi untuk mendapatkan wawasan, pengetahuan dan keterampilan
di bidang farmasi rumah sakit.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


22

Adapun tujuan dari pendidikan dan pelatihan ini, yaitu:


a. Tujuan Umum:
1. Mempersiapkan sumber daya manusia farmasi untuk dapat melaksanakan
rencana strategi IFRS di waktu mendatang.
2. Menghasilkan calon Apoteker, Ahli Madya Farmasi, Asisten Apoteker yang
dapat menampilkan potensi dan produktifitasnya secara optimal di bidang
kefarmasian.
b. Tujuan Khusus:
1. Meningkatkan pemahaman tentang farmasi rumah sakit
2. Memahami tentang pelayanan farmasi klinik
3. Meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan kemampuan dibidang
kefarmasian.
Pendidikan dan pelatihan ini data diperoleh melalui kegiatan sebagai berikut:
a. Pendidikan formal
b. Pendidikan berkelanjutan (internal dan eksternal)
c. Pelatihan
d. Pertemuan ilmiah (seminar, simposium)
e. Studi banding
f. Praktek kerja lapangan
2.2.5.2 Penelitian dan Pengembangan
Penelitian yang dilakukan apoteker di rumah sakit, yaitu:
a. Penelitian farmasetika, termasuk pengembangan dan menguji bentuk sediaan
baru, formulasi, metode pemberian (konsumsi) dan system pelepasan obat
dalam tubuh.
b. Berperan dalam penelitian klinis yang diadakan oleh praktisi klinis, terutama
dalam karakterisasi terapetik, evaluasi, pembandingan hasil outcomes dari
terapi obat dan regimen pengobatan.
c. Penelitian dan pengembangan pelayanan kesehatan, termasuk penelitian
perilaku dan sosioekonomi seperti penelitian tentang biaya keuntungan cost-
benefit dalam pelayanan farmasi.
d. Operational research seperti studi waktu, gerakan, dan evaluasi program dan
pelayanan farmasi yang baru dan yang ada sekarang.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


23

IFRS di rumah sakit pemerintah kelas A dan B (terutama rumah sakit


pendidikan) dan rumah sakit swasta sekelas harus mulai meningkatkan mutu
perbekalan farmasi dan obat-obatan yang diproduksi serta mengembangkan dan
melaksanakan praktek farmasi klinik.

2.3 Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)


2.3.1 Definisi dan Tujuan
Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) adalah organisasi yang mewakili
hubungan komunikasi antara para staf medis dengan staf farmasi sehingga
anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili spesialisasi-spesialisasi yang ada di
rumah sakit dan Apoteker wakil dari farmasi rumah sakit, serta tenaga kesehatan
lainnya. Tujuan Panitia Farmasi dan Terapi yaitu :
a. Menerbitkan kebijakan-kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat
serta evaluasinya.
b. Melengkapi staf profesional bidang kesehatan dengan pengetahuan terbaru
yang berhubungan dengan obat dan penggunaan obat sesuai dengan kebutuhan.
2.3.2 Organisasi dan Kegiatan
Susunan organisasi PFT serta kegiatan yang dilakukan bagi tiap rumah
sakit dapat bervariasi sesuai dengan kondisi rumah sakit setempat :
a. PFT harus sekurang-kurangnya terdiri dari 3 (tiga) dokter, Apoteker, dan
perawat. Untuk rumah sakit yang besar, tenaga dokter bisa lebih dari 3 (tiga)
orang yang mewakili semua staf medis fungsional yang ada.
b. Ketua PFT dipilih dari dokter yang ada di dalam kepanitiaan dan jika rumah
sakit tersebut mempunyai ahli farmakologi klinik, maka sebagai ketua berasal
dari bidang Farmakologi. Sekretarisnya adalah Apoteker dari instalasi farmasi
atau Apoteker yang ditunjuk.
c. PFT harus mengadakan rapat secara teratur, sedikitnya 2 (dua) bulan sekali dan
untuk rumah sakit besar rapatnya diadakan sebulan sekali. Rapat PFT dapat
mengundang pakar-pakar dari dalam maupun dari luar rumah sakit yang dapat
memberikan masukan bagi pengelolaan PFT.
d. Segala sesuatu yang berhubungan dengan rapat PFT diatur oleh sekretaris,
termasuk persiapan dari hasil-hasil rapat.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


24

e. Membina hubungan kerja dengan panitia di dalam rumah sakit yang sasarannya
berhubungan dengan penggunaan obat.
2.3.3 Fungsi dan Ruang lingkup PFT
Berikut adalah beberapa fungsi PFT, yaitu:
a. Mengembangkan formularium di rumah sakit dan merevisinya. Pemilihan obat
untuk dimasukan dalam formularium harus didasarkan pada evaluasi secara
subjektif terhadap efek terapi, keamanan serta harga obat dan juga harus
meminimalkan duplikasi dalam tipe obat, kelompok, dan produk obat yang
sama.
b. Mengembangkan formularium di rumah sakit Panitia Farmasi dan Terapi
harus mengevaluasi untuk menyetujui atau menolak produk obat baru atau
dosis obat yang diusulkan oleh anggota staf medis.
c. Menetapkan pengelolaan obat yang digunakan di rumah sakit dan yang
termasuk dalam kategori khusus.
d. Membantu instalasi farmasi dalam mengembangkan tinjauan terhadap
kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan mengenai penggunaan obat di
rumah sakit sesuai peraturan yang berlaku secara lokal maupun nasional.
e. Melakukan tinjauan terhadap penggunaan obat di rumah sakit dengan mengkaji
medical record dibandingkan dengan standar diagnosa dan terapi. Tinjauan ini
dimaksudkan untuk meningkatkan secara terus menerus penggunaan obat
secara rasional.
f. Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping obat.
g. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang menyangkut obat kepada staf medis
dan perawat.
2.3.4 Kewajiban Panitia Farmasi dan Terapi
Kewajiban PFT antara lain :
a. Memberikan rekomendasi pada pemimpin rumah sakit untuk mencapai budaya
pengelolaan dan penggunaan obat secara rasional.
b. Mengkoordinir pembuatan pedoman diagnosis dan terapi, formularium rumah
sakit, pedoman penggunaan antibiotika dan lain-lain.
c. Melaksanakan pendidikan dalam bidang pengelolaan dan penggunaan obat
terhadap pihak-pihak yang terkait.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


25

d. Melaksanakan pengkajian pengelolaan dan penggunaan obat dan memberikan


umpan balik atas hasil pengkajian tersebut.
2.3.5 Peran dan Tugas Apoteker dalam PFT
Peran apoteker dalam panitia ini sangat strategis dan penting karena semua
kebijakan dan peraturan dalam mengelola dan menggunakan obat di seluruh unit
di rumah sakit ditentukan dalam panitia ini. Agar dapat mengemban tugasnya
secara baik dan benar, para apoteker harus secara mendasar dan mendalam
dibekali dengan ilmu farmakologi, farmakologi klinik, farmakoepidemiologi, dan
farmakoekonomi disamping ilmu-ilmu lain yang sangat dibutuhkan untuk
memperlancar hubungan profesionalnya dengan petugas kesehatan lain di rumah
sakit.
Tugas apoteker dalam panitia farmasi dan terapi antara lain:
a. Menjadi salah seorang anggota panitia (wakil ketua/sekretaris).
b. Menetapkan jadwal pertemuan.
c. Mengajukan acara yang akan dibahas dalam pertemuan.
d. Menyiapkan dan memberikan semua informasi yang dibutuhkan untuk
pembahasan dalam pertemuan.
e. Mencatat semua hasil keputusan dalam pertemuan dan melaporkan pada
pimpinan rumah sakit.
f. Menyebarluaskan keputusan yang sudah disetujui oleh pimpinan kepada
seluruh pihak yang terkait.
g. Melaksanakan keputusan-keputusan yang sudah disepakati dalam pertemuan.
h. Menunjang pembuatan pedoman diagnosis dan terapi, pedoman penggunaan
antibiotika, dan pedoman penggunaan obat dalam kelas terapi lain.
i. Membuat formularium rumah sakit berdasarkan hasil kesepakatan PFT.
j. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan.
k. Melaksanakan pengkajian dan penggunaan obat.
l. Melaksanakan umpan balik hasil pengkajian pengelolaan dan penggunaan obat
pada pihak terkait.
2.3.6 Formularium Rumah Sakit
2.3.6.1 Definisi dan Komposisi Formularium Rumah Sakit

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


26

Formularium adalah himpunan obat yang diterima atau disetujui oleh


Panitia Farmasi dan Terapi untuk digunakan di rumah sakit dan dapat direvisi
pada setiap batas waktu yang ditentukan. Komposisi formularium terdiri dari
halaman judul, daftar nama anggota Panitia Farmasi dan Terapi (PFT), daftar isi,
informasi mengenai kebijakan dan prosedur di bidang obat, produk obat yang
diterima untuk digunakan, dan lampiran. Sistem yang dipakai adalah suatu sistem
dimana prosesnya tetap berjalan terus, dalam arti kata bahwa sementara
formularium itu digunakan oleh staf medis, di lain pihak Panitia Farmasi dan
Terapi mengadakan evaluasi dan menentukan pilihan terhadap produk obat yang
ada di pasaran, dengan lebih mempertimbangkan kesejahteraan pasien.
2.3.6.2 Pedoman Penggunaan Formularium Rumah Sakit
Pedoman penggunaan yang digunakan akan memberikan petunjuk kepda
dokter, apoteker, perawat serta petugas administrasi di rumah sakit dalam
menerapkan sistem formularium meliputi :
a. Membuat kesepakatan antara staf medis dari berbagai disiplin ilmu dengan
Panitia Farmasi dan Terapi dalam menentukan kerangka mengenai tujuan,
organisasi, fungsi dan ruang lingkup. Staf medis harus harus mendukung
Sistem Formularium yang diusulkan oleh Panitia Farmasi dan Terapi.
b. Staf medis harus dapat menyesuaikan sistem yang berlaku dengan kebutuhan
tiap-tiap institusi.
c. Staf medis harus menerima kebijakan-kebijakan dan prosedur yang ditulis oleh
Panitia Farmasi dan Terapi untuk menguasai sistem Formularium yang
dikembangkan oleh Panitia Farmasi dan Terapi.
d. Nama obat yang tercantum dalam formularium adalah nama generik.
e. Membatasi jumlah produk obat yang secara rutin harus tersedia di Instalasi
Farmasi.
f. Membuat prosedur yang mengatur pendistribusian obat generik yang efek
terapinya sama, seperti :
1. Apoteker bertanggung jawab untuk menentukan jenis obat generik yang
sama untuk disalurkan kepada dokter sesuai produk asli yang diminta.
2. Dokter yang mempunyai pilihan terhadap obat paten tertentu harus
disasarkan pada pertimbangan farmakologi dan terapi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


27

3. Apoteker bertanggung jawab terhadap kualitas, kuantitas, dan sumber obat


dari sediaan kimia, biologi dan sediaan farmasi yang digunakan oleh dokter
untuk mendiagnosa dan mengobati pasien.

2.4 Panitia Pengendalian Infeksi Rumah Sakit


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1197/MenKes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit,
Panitia pengendalian infeksi rumah sakit adalah organisasi yang terdiri dari staf
medis, apoteker yang mewakili farmasi rumah sakit dan tenaga kesehatan lainya.
Tujuan panitia pengendalian infeksi rumah sakit :
a. Menjunjang pembuatan pedoman pencegahan infeksi.
b. Memberikan informasi untuk menetapkan disinfektan yang akan digunakan di
rumah sakit.
c. Melaksanakan pendidikan tentang pencegahan infeksi nosokomial di rumah
sakit.
d. Melaksanakan penelitian (surveilans) infeksi nosokomial di rumah sakit.

2.5 Centralized Sterile Supply Departement (CSSD) atau Instalasi Pusat


Sterilisasi
Instalasi Pusat Sterilisasi adalah unit pelayanan non struktural yang
berfungsi memberikan pelayanan sterilisasi yang sesuai standar atau pedoman dan
memenuhi kebutuhan barang steril di rumah sakit. Instalasi Pusat Sterilisasi
ditetapkan oleh pimpinan rumah sakit sesuai kebutuhan rumah sakit. Instalasi
Pusat Sterilisasi dipimpin oleh seorang kepala yang diangkat dan diberhentikan
oleh pimpinan rumah sakit. Kepala Instalasi Pusat Sterilisasi dalam melaksanakan
tugasnya dibantu oleh tenaga-tenaga fungsional dan atau non medis (Departemen
Kesehatan RI,2009)
Dilihat dari jumlah volume alat dan bahan yang harus disterilkan di
rumah sakit sangat besar, maka rumah sakit dianjurkan untuk mempunyai suatu
instalasi pusat sterilisasi tersendiri dan mandiri yang berada dibawah dan
bertanggung jawab langsung kepada Direktur atau Wakil Direktur Rumah Sakit.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


28

Instalasi Pusat Sterilisasi ini bertugas untuk memberikan pelayanan


terhadap semua kebutuhan rumah sakit seperti alat kesehatan, alat kedokteran, alat
operasi dan lain-lain agar bebas dari semua mikroorganisme (termasuk endospora)
secara tepat dan cepat. Adapun fungsi utama dari CSSD adalah menyiapkan alat-
alat bersih dan steril untuk keperluan perawatan pasien di rumah sakit. Fungsi
CSSD secara lebih rinci adalah menerima, memproses, memproduksi,
mensterilkan, menyimpan serta mendistribusikan peralatan medis ke berbagai
ruangan di rumah sakit untuk kepentingan perawatan pasien.
2.5.1 Tujuan dan Tugas Utama CSSD
Tujuan CSSD :
a. Membantu unit lain di rumah sakit yang membutuhkan kondisi steril untuk
mencegah terjadinya infeksi.
b. Menurunkan angka kejadian infeksi dan membantu mencegah serta
menanggulangi infeksi nosokomial.
c. Efisiensi tenaga medis/paramedic untuk kegiatan yang berorientasi pada
pelayanan terhadap pasien.
d. Menyediakan dan menjamin kualitas hasil sterilisasi terhadap produk yang
dihasilkan. (Departemen Kesehatan RI, 2009)
Tanggung jawab CSSD bervariasi tergantung dari besar kecilnya rumah
sakit, struktur organisasi dan proses sterilisasi. Tugas utama CSSD :
1. Menyiapkan peralatan medis untuk perawatan pasien.
2. Melakukan proses sterilisasi alat/bahan.
3. Mendistribusikan alat-alat yang dibutuhkan oleh ruangan perawatan, kamar
operasi maupun ruangan lainnya.
4. Berpartisipasi dalam pemilihan peralatan dan bahan yang aman dan efektif
sereta bermutu.
5. Mempertahankan stock inventory yang memadai untuk keperluan perawatan
pasien.
6. Mempertahankan standar yang telah ditetapkan.
7. Mendokumentasikan setiap aktivitas pembersihan, disinfeksi maupun
sterilisasi sebagai bagian dari program upaya pengendalian mutu.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


29

8. Melakukan penelitian terhadap hasil sterilisasi dalam rangka pencegahan dan


pengendalian infeksi bersama dengan panitia pengendalian infeksi
nosokomial.
9. Memberikan penyuluhan tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah
sterilisasi.
10. Menyelenggarakan pendidikan dan pengembangan staf instalasi pusat
sterilisasi baik yang bersifat intern maupun ekstern.
11. Mengevaluasi hasil sterilisasi (Departemen Kesehatan RI, 2009).
2.5.2 Sarana Fisik Instalasi Pusat Sterilisasi
Sarana fisik di pusat sterilisasi sangat mempengaruhi efisiensi kerja dan
pelayanan di pusat sterilisasi rumah sakit. Berdasarkan tugas dan fungsinya yaitu
mendistribusikan alat-alat steril kepada unit lainnya di rumah sakit, maka dalam
menentukan lokasi pusat sterilisasi perlu diperhatikan beberapa hal sebagai
berikut :
2.5.2.1 Bangunan Instalasi Pusat Sterilisasi
Pembangunan Instalasi Pusat Sterilisasi harus sesuai dengan kebutuhan
bangunan pada saat ini serta kemungkinan perluasan sarana pelayanan dimasa
datang dan didesain menurut tipe/kapasitas rumah sakit dengan ketentuan untuk
rumah sakit:
a. 200 TT, luas bangunan ± 130m2
b. 400 TT, luas bangunan ± 200 m2
c. 600 TT, luas bangunan ± 350 m2
d. 800 TT, luas bangunan ± 400 m2
e. 1000 TT, luas bangunan ± 450 m2
2.5.2.2 Lokasi Instalasi Pusat Sterilisasi
Lokasi instalasi pusat sterilisasi sebaiknya berdekatan dengan ruangan
pemakai alat atau bahan steril terbesar di rumah sakit. Hal ini dilakukan dengan
tujuan agar resiko terjadinya kontaminasi silang serta mengurangi lalu lintas
transportasi alat steril sehingga efisiensi kerja dan pengendalian infeksi dapat
meningkat. Untuk rumah sakit yang berukuran kecil, lokasi pusat sterilisasi
sebaiknya berada dekat atau di wilayah kamar operasi sesuai fungsinya, dan
diupayakan lokasinya dekat dengan laundry.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


30

2.6 Pengelolaan Limbah Rumah Sakit


2.6.1 Definisi
Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan
rumah sakit dalam bentuk padat, cair, dan gas. Untuk mengoptimalkan upaya
penyehatan lingkungan Rumah Sakit dari pencemaran limbah yang dihasilkannya
maka Rumah Sakit harus mempunyai fasilitas pengelolaan limbah sendiri yang
ditetapkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004
tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit yaitu:
a. Fasilitas Pengelolaan Limbah padat — Setiap Rumah sakit harus melakukan
reduksi limbah dimulai dari sumber dan harus mengelola dan mengawasi
penggunaan bahan kimia yang berbahaya, beracun dan setiap peralatan yang
digunakan dalam pengelolaan limbah medis mulai dari pengumpulan,
pengangkutan, dan pemusnahan harus melalui sertifikasi dari pihak yang
berwenang.
b. Fasilitas Pengolahan LimbahCair — Limbahcairharusdikumpulkandalam
kontainer yang sesuaidengankarakteristikbahankimiadanradiologi, volume,
danprosedurpenanganandanpenyimpanannya.
RumahsakitharusmemilikiInstalasiPengolahan Air Limbahsendiri.
2.6.2 Jenis Limbah dan Cara Pengolahannya
2.6.2.1 Limbah Medis Padat
a. Minimisasi Limbah
1. Menyeleksi bahan-bahan yang kurang menghasilkan limbah sebelum
membelinya.
2. Menggunakan sedikit mungkin bahan-bahan kimia.
3. Mengutamakan metode pembersihan secara fisik daripada secara kimiawi.
4. Mencegah bahan-bahan yang dapat menjadi limbah seperti dalam kegiatan
perawatan dan kebersihan.
5. Memonitor alur penggunaan bahan kimia dari bahan baku sampai menjadi
limbah bahan berbahaya dan beracun.
6. Memesan bahan-bahan sesuai kebutuhan
7. Menggunakan bahan-bahan yang diproduksi lebih awal untuk menghindari
kadaluarsa.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


31

8. Menghabiskan bahan dari setiap kemasan


9. Mengecek tanggal kadaluarsa bahan-bahan pada saat diantar oleh
distributor.
b. Pemilahan, Pewadahan, Pemanfaatan Kembali dan Daur Ulang
1. Dilakukan pemilahan jenis limbah medis padat mulai dari sumber yang
terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah
farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah
kontainer bertekanan, dan limbah dengan kandungan logam berat yang
tinggi.
2. Tempat pewadahan limbah medis padat :
a) Terbuat dari bahan yang kuat, cuup ringan, tahan karat, kedap air, dan
mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya, misalnya
fiberglass.
b) Di setiap sumber penghasil limbah medis harus tersedia tempat
pewadahan yang terpisah dengan limbah padat non-medis.
c) Kantong plastik diangkat setiap hari atau kurang sehari apabila 2/3
bagian telah terisi limbah.
d) Untuk benda-benda tajam hendaknya ditampung pada tempat khusus
(safety box) seperti botol atau karton yang aman.
e) Tempat pewadahan limbah medis padat infeksius dan sitotoksik yang
tidak langsung kontak dengan limbah harus segera dibersihkan dengan
larutan disinfektan apabila akan digunakan kembali, sedangkan untuk
kantong plastik yang telah dipakai dan kontak langsung dengan limbah
tersebut tidak boleh digunakan lagi.
3. Bahan atau alat yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasi
meliputi pisau bedah (scalpel), jarum hipodermik, syringes, botol gelas, dan
container.
4. Alat-alat lain yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasi
adalah radionukleida yang telah diatur tahan lama untuk radioterapi seperti
puns, needles,atau seeds.
5. Apabila sterilisasi yang dilakukan adalah sterilisasi dengan ethylene oxide,
maka tangki reaktor harus dikeringkan sebelum dilakukan injeksi ethylene

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


32

oxide. Oleh karena gas tersebut sangat berbahaya, maka sterilisasi harus
dilakukan oleh petugas yang terlatih. Sedangkan sterilisasi dengan
glutaraldehydelebih aman dalam pengoperasiannya tetapi kurang efektif
secara mikrobiologi.
6. Upaya khusus harus dilakukan apabila terbukti ada kasus pencemaran
spongiform encephalopathies.
c. Tempat Penampungan Sementara
1. Bagi rumah sakit yang mempunyai insinerator di lingkungannya harus
membakar limbahnya selambat-lambatnya 24 jam.
2. Bagi rumah sakit yang tidak mempunyai insinerator, maka limbah medis
padatnya harus dimusnahkan melalui kerjasama dengan rumah sakit lain
atau pihak lain yang mempunyai insinerator untuk dilakukan pemusnahan
selambat-lambatnya 24 jam apabila disimpan pada suhu ruang.
d. Transportasi
1. Kantong limbah medis padat sebelum dimasukkan ke kendaraan pengangkut
harus diletakkan dalam containeryang kuat dan tertutup.
2. Kantong limbah medis padat harus aman dari jangkauan manusia maupun
binatang.
3. Petugas yang menangani limbah, harus menggunakan alat pelindung diri
yang terdiri :
a) Topi atau helm
b) Masker
c) Pelindung mata
d) Pakaian panjang (coverall)
e) Apron untuk industri
f) Pelindung kaki atau sepatu boot
g) Sarung tangan khusus (disposable gloves atauheavy duty gloves)
e. Pengolahan, Pemusnahan, dan Pembuangan Akhir LimbahPadat
1. Limbah Infeksius dan Benda Tajam
a) Limbah yang sangat infeksius seperti biakan dan persediaan agen
infeksius dari laboratorium harus disterilisasi dengan pengolahan panas

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


33

dan basah seperti dalam autoclavesedini mungkin. Untuk limbah


infeksius yang lain cukup dengan cara disinfeksi.
b) Benda tajam harus diolah dengan insinerator bila memungkinkan, dan
dapat diolah bersama dengan limbah infeksius lainnya. Kapsulisasi juga
cocok untuk benda tajam.
c) Setelah insinerasi atau disinfeksi, residunya dapatdibuang ke tempat
pembuangan B3 atau dibuang ke landfilljika residunya sudah aman.
2. Limbah Farmasi
a) Limbah farmasi dalam jumlah kecil dapat diolah dengan insinerator
pirolitik (pyrolytic incinerator), rotary kiln, dikubur secara aman,
sanitary landfill, dibuang ke sarana air limbah atau inersisasi. Tetapi
dalam jumlah besar harus menggunakan fasilitas pengolahan yang
khusus seperti rotary kiln,kapsulisasi dalam drum logam, dan inersisasi.
b) Limbah padat farmasi dalam jumlah besar harus dikembalikan kepada
distributor, sedangkan bila dalam jumlah sedikit dan tidak
memungkinkan dikembalikan, supayadimusnahkan melalui insinerator
pada suhu diatas 1.000°C.
3. Limbah Sitotoksis
a) Limbah sitotoksis sangat berbahaya dan tidak boleh dibuang dengan
penimbunan (landfill) atau ke saluran limbah umum.
b) Pembuangan yang dianjurkan adalah dikembalikan ke perusahaan
penghasil atau distribusinya, insinerasi pada suhu tinggi, dan degradasi
kimia. Bahan yang belum dipakai dan kemasannya masih utuh karena
kadaluarsa harus dikembalikan ke distributor apabila tidak ada
insinerator dan diberi keterangan bahwa obat tersebut sudah kadaluarsa
atau tidak lagi dipakai.
c) Insinerasi pada suhu tinggi sekitar 1.200°C dibutuhkan untuk
menghancurkan semua bahan sitotoksik. Insinerasi pada suhu rendah
dapat menghasilkan uap sitotoksik yang berbahaya ke udara.
d) Insinerator dengan 2 (dua) tungku pembakaran pada suhu 1.200°C
dengan minimum waktu tinggal 2 detik atau suhu 1.000°C dengan waktu

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


34

tinggal 5 detik di tungku kedua sangat cocok untuk bahan ini dan
dilengkapi dengan penyaring debu.
e) Insinerator juga harus dilengkapi dengan peralatan pembersih gas.
Insinerasi juga memungkinkan dengan rotary kilnyang didesain untuk
dekomposisi panas limbah kimiawi yang beroperasi dengan baik pada
suhu diatas 850°C.
f) Insinerator dengan 1 (satu) tungku atau pembakaran terbuka tidak tepat
untuk pembuangan limbah sitotoksis.
g) Metode degradasi kimia yang mengubah senyawa sitotoksik menjadi
senyawa tidak beracun dapat digunakan tidak hanya untuk residu obat
tapi juga pencucian tempat urin, tumpahan dan pakaian pelindung.
h) Cara kimia relatif mudah dan aman meiputi oksidasi oleh Kalium
Permanganat (KMnO4) atau asam sulfat (H2SO4), penghilangan nitrogen
dengan asam bromida, atau reduksi dengan nikel dan aluminium.
i) Insinerasi maupun degradasi kimia tidak merupakan solusi yang
sempurna untuk pengolahan limbah. Tumpahan atau cairan biologis yang
terkontaminasi agen antineoplastik. Oleh karena itu, rumah sakit harus
berhati-hati dalam menangani obat sitotoksik.
j) Apabila cara insinerasi maupun degradasi kimia tidak tersedia,
kapsulisasi atau inersisasi dapat dipertimbangkan sebagai cara yang dapat
dipilih.
4. Limbah Bahan Kimiawi
a) Pembuangan Limbah Kimia Biasa
Limbah kimia biasa yang tidak bisa didaur seperti gula, asam amino, dan
garam tertentu dapat dibuang ke saluran air kotor. Namun demikian,
pembuangan tersebut harus memenuhi persyaratan konsentrasi bahan
pencemar yang ada seperti bahan melayang, suhu, dan pH.
b) Pembuangan Limbah Kimia Berbahaya Dalam Jumlah Kecil
Limbah bahan berbahaya dalam jumlah kecil seperti residu yang terdapat
dalam kemasan sebaiknya dibuang dengan insinerasi pirolitik,
kapsulisasi, atau ditimbun (landfill).
c) Pembuangan limbah kimia berbahaya dalam jumlah besar

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


35

Tidak ada cara pembuangan yang aman dan sekaligus murah untuk
limbah berbahaya. Pembuangannya lebih ditentukan kepada sifat
berbahaya yang dikandung oleh limbah tersebut. Limbah tertentu yang
bisa dibakar seperti banyak bahan pelarut dapat diinsinerasi. Namun,
bahan pelarut dalam jumlah besar seperti pelarut halogenida yang
mengandung klorin atau florin tidak boleh diinsinerasi kecuali
insineratornya dilengkapi dengan alat pembersih gas.
d) Cara lain adalah dengan mengembalikan bahan kimia berbahaya tersebut
ke distributornya yang akan menanganinya dengan aman, atau dikirim ke
negara lain yang mempunyai peralatan yang cocok untuk mengolahnya.
2.6.2.2 Limbah Padat Non-Medis
a. Pemilahan Limbah Padat Non-Medis
1. Dilakukan pemilahan limbah padat non-medis antara limbah yang dapat
dimanfaatkan dengan limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali.
2. Dilakukan pemilahan limbah padat non-medis antara limbahbasah dan
limbah kering.
b. Tempat Pewadahan Limbah padat Non-Medis
1. Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan
mempunyai permukaan yang mudahdibersihkan pada bagian dalamnya,
misalnya fiberglass.
2. Mempunyai tutup yang mudah dibuka dan ditutup tanpamengotori tangan.
3. Terdapat minimal 1 (satu) buah untuk setiap kamar atau sesuai dengan
kebutuhan.
4. Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 3 x 24 jam atau
apabila 2/3 bagian kantong sudah terisi oleh limbah, maka harus diangkut
supaya tidak menjadi perindukan vektor penyakit atau binatang
pengganggu.
c. Pengangkutan
Pengangkutan limbah padat domestik dari setiap ruangan ke tempat
penampungan sementara menggunakan troli tertutup.
d. Tempat Penampungan Limbah Padat Non-Medis Sementara

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


36

1. Tersedia tempat penampungan limbah padat non-medis sementara


dipisahkan antara limbah yang dapat dimanfaatkan dengan limbah yang
tidak dapat dimanfaatkan kembali. Tempat tersebut tidak merupakan sumber
bau, dan lalat bagi lingkungan sekitarnya dilengkapi saluran untuk cairan
limbah.
2. Tempat penampungan sementara limbah padat harus kedap air, bertutup dan
selalu dalam keadaan tertutup bila sedang tidak diisi serta mudah
dibersihkan.
3. Terletak pada lokasi yang muah dijangkau kendaraan pengangkut limbah
padat.
4. Dikosongkan dan dibersihkan sekurang-kurangnya 1 x 24 jam.
e. Pengolahan Limbah Padat
Upaya untuk mengurangi volume, mengubah bentuk atau memusnahkan
limbah dapatdilakukan pada sumbernya.Limbah yang masih dapat
dimanfaatkan hendaknya dimanfaatkan kembali untuk limbah padat organik
dapat diolah menjadi pupuk.
f. Lokasi Pembuangan Limbah Padat Akhir
Limbah padat umum (domestik) dibuang ke lokasi pembuangan akhir yang
dikelola oleh pemerintah daerah, atau badan lain sesuai dengan peraturan
perundangan yangberlaku.
2.6.2.3 Limbah Cair
Limbah cair harus dikumpulkan dalam kontainer yang sesuai dengan
karakteristik bahan kimia dan radiologi, volume, dan prosedur penanganan dan
penyimpanannya.
a. Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistemsaluran tertutup, kedap
air, dan limbah harus mengalir dengan lancar, serta terpisah dengan saluran air
hujan.
b. Rumah sakit harus memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri atau
bersama-sama secara kolektif dengan bangunan disekitarnya yang memenuhi
persyaratan teknis, apabila belum ada atau tidak terjangkau sistem pengolahan
air limbah perkotaan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


37

c. Perlu dipasang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit harian
limbah yang dihasilkan.
d. Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air
limbah harus dilengkapi/ditutupdengan gril.
e. Air limbah yang berasal dari laboratorium harus diolah di Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL), bilatidak mempunyai IPAL harus dikelola sesuai
kebutuhan yang berlaku melalui kerjasam dengan pihak lain atau pihak yang
berwenang.
f. Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (effluent) dilakukan setiap
bulan sekali untuk swapantau danminimal 3 bulan sekali uji petik sesuai
dengan ketentuan yangberlaku.
g. Rumah sakit yang menghasilkan limbah cair yang mengandung atau terkena
zat radioaktif, pengelolaannya dilakukan sesuai ketentuan BATAN.
h. Parameter radioaktif diberlakukan bagi rumah sakit sesuai dengan bahan
radioaktif yang dipergunakan oleh rumah sakit yang bersangkutan.
2.6.2.4 Limbah Gas
a. Monitoring limbah gas berupa NO2, SO2, logam berat, dan dioksin dilakukan
minimal 1 (satu) kali setahun.
b. Suhu pembakaran minimum 1.000°C untuk pemusnahan bakteri patogen, virus,
dioksin, dan mengurangi jelaga.
c. Dilengkapi alat untuk mengurangi emisi gas dan debu.
d. Melakukan penghijauan dengan menanam pohon yang banyak memproduksi
gas oksigen dan dapat menyerap debu.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


BAB 3
TINJAUAN KHUSUS

3.1 RSAB Harapan Kita


3.1.1 Sejarah
Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita berdiri dengan nama
Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita dibawah yayasan Harapan Kita
yang diketuai oleh Alm. Ibu Tien Soeharto. Pada tanggal 22 Desember 1979
RSAB. Harapan Kita diresmikan oleh Bapak Soeharto selaku Presiden Republik
Indonesia dan sekaligus dilakukan penyerahan pemilikan RSAB Harapan Kita
dari ketua yayasan kepada pemerintah Republik Indonesia dengan tujuan agar
seluruh aset RSAB Harapan Kita baik tanah maupun bangunannya untuk
seterusnya akan dimiliki bangsa dan negara Republik Indonesia.
Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi kesehatan dan
tuntutan masyarakat akan pelayanan diperlukan perluasan cakupan pelayanan,
khususnya dalam pengembangan pelayanan sekunder dan tersier kesehatan ibu,
maka berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
271/MENKES/SK/II/2005 tanggal 23 Februari 2005 terjadi perubahan nama
Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita menjadi Rumah Sakit Anak dan
Bunda Harapan Kita.
Mengacu pada surat menteri kesehatan No.861/MENKES/VI/2005 tanggal
16 Juli 2005 RSAB.Harapan Kita berubah status menjadi Rumah Sakit Unit
Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Kesehatan yang menetapkan Pola
Pengelolaan Keungan – Badan Pelayanan Umum (PPK-BLU).
3.1.2 Visi dan Misi
Visi RSAB Harapan Kita adalah menjadi rumah sakit anak, remaja dan
bunda yang terkemuka di tingkat nasional.
Misi RSAB. Harapan Kita yaitu :
a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang terlengkap, terpadu, unggul, dan
mutakhir bagi anak, remaja dan bunda melalui kerjasama tim dan sistem
jejaring.

38 Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


39

b. Menyelanggarakan pendidikan, pelatihan, dan penelitian dibidang kesehatan


anak, remaja, dan bunda untuk kalangan internal dan institusi lain.
3.1.3 Struktur Organisasi RSAB Harapan Kita
RSAB Harapan Kita dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang
membawahi empat direktorat, yaitu :
a. Direktorat Medik dan Keperawatan
Direktorat Medik dan Keperawatan dipimpin oleh seorang direktur yang
berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Utama. Visi Direktorat
Medik dan Keperawatan adalah terciptanya pelayanan medik yang unggul sejak
konsepsi hingga dewasa guna mewujudkan RSAB Harapan Kita menjadi rumah
sakit anak, remaja dan bunda yang terkemuka di tingkat nasional. Misi Direktorat
Medik dan Keperawatan :
1. Mewujudkan pelayanan medik yang berkualitas dan berpihak pada rakyat.
2. Mewujudkan SDM pelayanan medik yang profesional dan akuntabel.
3. Meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi tepat guna untuk pelayanan
dan informasi kesehatan.
4. Menyediakan sumber daya sarana, prasarana dan alat untuk peningkatan dan
pengembangan pelayanan medik.
Tugas Direktorat Medik dan Keperawatan melaksanakan pengelolaan
pelayanan medis dan pelayanan keperawatan. Dalam melaksanakan tugasnya
Direktorat Medik dan Keperatawatan memiliki fungsi :
1. Penyusunan rencana sistem pelayanan medis, keperawatan, penunjang dan
rekam medik.
2. Koordinasi pelaksanaan pelayanan medis, keperawatan, utilisasi peralatan
medis dan keperawatan, penunjang dan rekam medik.
3. Pengendalian, pengawasan dan evaluasi mutu pelayanan medis,
keperawatan, penunjang dan rekam medik secra berkesinambugan.
Direktorat Medik dan Keperawatan terdiri dari bidang medik keperawatan,
unit-unit non struktural dan kelompok jabatan fungsional. Salah satu unit non
struktural yaitu instalasi farmasi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


40

b. Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan


Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan dipimpin oleh seorang
direktur yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada direktur Utama.
Visi Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan adalah terwujudnya SDM
profesional dalam semua bidang untuk mendukung visi dan misi RSAB Harapan
Kita. Misi Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan sebagai berikut :
1. Penyusunan kebutuhan dan penyediaan tenaga kesehatan serta tenaga non
kesehatan rumah sakit.
2. Penyusunan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia, pendidikan
dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan.
3. Pelaksanaan kegiatan pengembangan sumber daya manusia, pendidikan dan
pelatihan serta penelitian dan pengembangan.
4. Pengendalian dan evaluasi kegiatan penyediaan dan pengembangan sumber
daya manusia, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan.
Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan terdiri dari bagian
Sumber Daya Manusia, bagian Pendidikan dan Penelitian, unit-unit non struktural
dan kelompok jabatan fungsional.
c. Direktorat Keuangan
Direktorat keungan dipimpin oleh seorang direktur yang berada dibawah
dan bertanggung jawab kepada Direktur Utama. Visi direktorat keuangan adalah
menjadi pusat kelola informasi dan data keuangan rumah sakit yang modern. Misi
direktorat keuangan sebagai berikut :
1. Menyelenggarakan pengelolaan anggaran rumah sakit yang profesional.
2. Menyediakan informasi keuangan rumah sakit yang komprehensif secara
cepat, tepat dan akurat.
3. Mewujudkan pengelolaan keuangan rumah sakit sesuai praktek bisnis yang
sehat.
4. Meningkatkan kepuasan pelanggan internal dan eksternal rumah sakit.
5. Peningkatan daya guna sumber daya manusia dan sumber daya keuangan
untuk mencapai nilai tambah yang maksimal.
Tugas direktorat keuangan yaitu melakukan pengelolaan keuangan rumah
sakit yang meliputi penyusunan dan evaluasi anggaran, perbendaharaan dan

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


41

mobilisasi dana serta akuntansi dan verifikasi. Dalam melaksanakan tugasnya


direktorat keuangan memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Penyusunan rencana kegiatan perbendaharaan dan mobilisasi dana,
penyusunan dan evaluasi anggaran serta akuntansi dan verifikasi.
2. Koordinasi pelaksanaan kegiatan perbendaharaan dan mobilisasi dana,
penyusunan dan evaluasi anggaran serta akuntansi dan verifikasi.
3. Pengendalian, pengawasan dan evaluasi pelaksanaan kegiatan
perbendaharaan dan mobilisasi dana, penyusunan dan evaluasi anggaran
serta akuntansi dan verifikasi.
Direktorat keuangan terdiri dari bagian penyusunan dan evaluasi anggaran,
bagian perbendaharaan dan mobilisasi dana, bagian akuntansi dan verifikasi dan
kelompok jabatan fungsional. Masing-masing bidang memiliki tugas dan fungsi
masing-masing serta terbagi atas beberapa seksi.
d. Direktorat Umum dan Operasional
Direktorat Umum dan Operasional dipimpin oleh seorang direktur yang
berada dibawah dan bertanggungjawab kepada direktur utama. Visi direktorat
umum dan operasional yaitu menjadi direktorat penyedia fasilitas yang memenuhi
standar mutu secara efektif dan efisien. Misi direktorat umum dan operasional
sebagai berikut :
1. Menyelenggrakan pelayanan fasilitas rumah sakit yang memenuhi standar
mutu.
2. Mendayagunakan fasilitas rumah sakit secara efektif dan efisien.
3. Mewujudkan SDM profesional dan komitmen.
4. Menjalin kemitraan dengan instansi luar.
5. Mewujudkan efisiensi dan efektifitas biaya.
Direktorat umum dan operasional memiliki tugas melaksanakan
pengelolaan layanan umum, perencanaan dan pemasaran. Dalam melaksanakan
tugasnya direktorat ini memiliki fungsi sebagai berikut :
1. Penyusunan rencana kegiatan ketatausahaan rumah sakit, rumah tangga,
perlengkapan, perencanaan dan evaluasi serta pemasaran rumah sakit.
2. Pelaksanaan kegiatan ketatausahaan rumah sakit, rumah tangga,
perlengkapan, perencanaan dan evaluasi serta pemasaran rumah sakit.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


42

3. Pengendalian dan evaluasi kegiatan ketatausahaan rumah sakit, rumah


tangga, perlengkapan, perencanaan dan evaluasi serta pemasaran rumah
sakit.
Selain empat direktorat tersebut, terdapat tiga unit fungsional, yaitu :
1. Satuan Pemeriksaan Intern
Satuan pemeriksaan intern adalah satuan kerja fungsional yang bertugas
melaksanakan pemeriksaan intern rumah sakit. Unit ini berada dibawah dan
bertanggungjawab kepada direktur utama.
2. Komite Medik
Komite medik merupakan wadah nonstruktural kelompok profesional
medis yang keanggotaannya terdiri dari ketua kelompok staf medis atau yang
mewakili dan dipimpin oleh seorang ketua yang diangkat dan diberhentikan
oleh direktur utama. Pembentukan komite medik ditetapkan oleh direktur
utama untuk masa kerja tiga tahun. Komite medik mempunyai tugas
memberikan pertimbangan kepada direktur utama dalam hal menyusun standar
pelayanan medis, pengawasan dan pengendalian mutu pelayanan medis, hak
klinis khusus kepada staf medis fungsional, program pelayanan, pendidikan
dan pelatihan, serta penelitian dan pengembangan.
3. Komite Hukum
Merupakan wadah nonstruktural yang beranggotakan para sarjana hukum
dan dipimpin oleh seorang ketua yang diangkat dan diberhentikan oleh
direktur utama. Pembentukan komite hukum ditetapkan oleh direktur utama
untuk masa kerja tiga tahun. Komite hukum mempunyai tugas memberikan
pertimbangan kepada direksi dalam hal menyusun, merumuskan medikolegal
yang terkait dengan hospital by laws dan medical staff by laws serta konsultasi
dan bantuan hukum bagi seluruh pegawai, sosialisasi peraturan perundang-
undangan yang terkait dengan pelayanan rumah sakit.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


43

3.1.4 Kegiatan Pelayanan RSAB Harapan Kita


a. Pelayanan Unggulan
Saat ini RSAB Harapan Kita memiliki enam pelayanan unggulan dalam
memberikan pelayanan terhadap masyarakat, meliputi :
1. Poliklinik Terpadu Anak Sehat (POTAS)
2. Klinik Senyum Sehat Anak Indonesia (SEHATI)
3. Klinik Khusus Tumbuh Kembang (KKTK)
4. Klinik Infertilitas dan Teknologi Reproduksi Berbantu atau klinik Melati
(Melahirkan Anak Tabung Indonesia)
5. Klinik pendidikan orang tua
6. Pelayanan Perinatal Resiko Tinggi (PERISTI)
b. Pelayanan Rawat Jalan
1. Spesialis kesehatan anak dan subspesialis
a. Sub spesialis paru (respirologi) anak
b. Sub spesialis hepato – gastro – enterologi
c. Sub spesialis saraf anak
d. Sub spesialis endokrinologi anak
e. Sub spesialis ginjal anak
f. Sub spesialis alergi dan imunologi
g. Sub spesialis jantung anak
h. Sub spesialis hemato – onkologi anak
i. Sub spesialis nutrisi dan penyakit metabolik
j. Sub spesialis spesialis neonatologi
2. Spesialis bedah
a. Spesialis bedah anak
b. Spesialis bedah saraf
c. Spesialis bedah tulang
d. Spesialis bedah plastik
e. Spesialis bedah urologi
3. Spesialis kebidanan dan penyakit kandungan
a. Sub spesialis endokrin dan reproduksi
b. Klinik feto maternal

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


44

c. Perawatan Rawat Inap


RSAB Harapan Kita memiliki kapasitas 355 tempat tidur meliputi :
1. Kamar perawatan anak (VIP, utama, kelas 2 dan kelas 3)
2. Kamar perawatan bunda (super VIP, VIP, kelas 1, kelas 2 dan kelas 3)
3. Kamar rawat sehari
4. Perawatan intensif
a. Pediatric Intensive Care Unit (PICU)
b. Neonatal Intensive Care Unit (NICU)
c. Intensive Care Unit (ICU)
d. Pelayanan 24 jam
1. Gawat darurat anak dan bunda
2. Kamar operasi
3. Kamar bersalin
4. Laboratorium dan bank darah
5. Radiologi
6. Farmasi
e. Pelayanan Penunjang Medik
1. Laboratotium klinik
2. Bank darah
3. Radiologi
4. Fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara
5. Tunjangan nutrisi terpadu
f. Pelayanan penunjang diagnostik
1. Spirometri
2. Treadmil
3. EEG Digital
4. CTG
5. Endoskopi
6. UJI
7. EKG
8. USG 2D, 3D, 4D dan intervensional
9. Densitometri

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


45

10. Tes Bera


11. OEA (Oto Acoustic Emision)
12. RETCAM
g. Pelayanan farmasi
h. Sistem informasi rumah sakit
i. Pelayanan pemulasaraan jenazah
j. Pusat sterilisasi dan laundry
k. Fasilitas pendidikan dan pelatihan
3.1.5 Panitia Farmasi danTerapi
Tugas panitia farmasidanterapi RSAB Harapan Kita :
a. Menyusun formularium obat RSAB Harapan Kita
b. Mengusulkan formularium obat RSAB Harapan Kita kepada direktur utama
RSAB Harapan Kita
Anggota panitia farmasidanterapi RSAB. Harapan Kita terdiri dari kepala
direktorat medik dan keperawatan, perwakilan dari instalasi farmasi, staf medik
fungsional dan kepala bidang medik.
3.1.6 Akreditasi RSAB Harapan Kita
RSAB Harapan Kita merupakan rumah sakit khusus milik pemerintah
dengan tipe A. Akreditasi RSAB Harapan Kita masih mengikuti akreditasi yang
dierapkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Penghargaan dan
akreditasi yang telah dicapai oleh RSAB Harapan Kita :
a. Lulus akreditasi rumah sakit untuk pelayanan pada tahun 1999.
b. Lulus akreditasi rumah sakit untuk pelayanan pada tahun 2001.
c. Lulus akreditasi rumah sakit untuk pelayanan pada tahun 2005.
d. ISO 9001-2000:2005.
e. ISO 9001-2001 untuk semua aspek pelayanan pada 2005.
f. ISO 9001-2008 untuk seluruh aspek pelayanan pada tahun 2009.

3.2 Instalasi Famasi RSAB Harapan Kita


3.2.1 Sejarah
Dimulai pada tahun 1979, pelayanan kefamasian di RSAB Harapan Kita
dilakukan 2 pihak, yaitu Instalasi Farmasi dan Apotek Kimia Farma. Apotek

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


46

Kimia Farma beperan dalam menyediakan semua kebutuhan perbekalan farmasi


dan instalasi farmasi hanya mendistribusikan. Pada bulan maret tahun 1988
didirikan sebuah apotik yang dikelola oleh instalasi farmasi dengan penanggung
jawab Direktur RSAB Harapan Kita. Tahun 1992 kontrak dengan Apotek Kimia
Farma tidak dilanjutkan sehingga pelayanan farmasi RSAB Harapan Kita
seluruhnya dikelola oleh Instalasi Farmasi dan Instalasi Apotek yang berada di
bawah Koordinasi Bagian Pasokan Sentral yang dikepalai oleh Apoteker. Pada
tahun 2006 sesuai dengan Struktur Organisasi dan Tata Kerja RSAB Harapan Kita
No. HK.00.06.198, maka terwujud instalasi farmasi yang merupakan
penggabungan dari instalasi farmasi dan instalasi apotek.
3.2.2 Visi dan Misi
a. Visi
Visi Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita adalah pelayanan farmasi
professional berorientasi kepada pelanggan.
b. Misi
Misi Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita adalah :
1. Menyelenggarakan pelayanan farmasi berorientasi pelanggan
2. Meningkatkan mutu pelayanan farmasi dengan peningkatan profesionalisme
melalui pendidikan, pelatihan, dan penelitian secara berkesinambungan
3. Meningkatkan kerjasama yang baik dengan pengguna jasa pelayanan
farmasi di rumah sakit, guna mencapai defisiensi pemakaian dan
pengawasan perbekalan farmasi berdasarkan peraturan yang berlaku.
4. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang kefarmasian bagi
tenaga kesehatan atau lainnya yang memerlukan.
3.2.3 Struktur Organisasi dan Sumber Daya Manusia
Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita bertanggung jawab kepada Direktur
Medik dan Keperawatan. Instalasi farmasi dipimpin oleh seorang Apoteker yang
dibantu oleh tuga Apoteker Pengelola Urusan (PU) yaitu Pengelola Urusan
Penyiapan Fasilitas dan SDM (Sumber Daya Manusia), Pengelola Urusan
Pelayanan Farmasi dan Pengelola Urusan Produksi Sediaan Non Steril.
Pengelolaan Urusan Penyiapan Fasilitas dan SDM memimpin beberapa ketua tim
(Ka. Tim) yaitu Ka. Tim Perencanaan, Ka. Tim Gudang Terminal, Ka. Tim

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


47

Administrasi dan Pelaporan Farmasi. Pengelola Urusan Pelayanan Farmasi


memimpin Ka. Tim Depo Farmasi 1 (Utama) dan Depo Farmasi 4 atau Poli
Terpadu Anak Sehat (POTAS), Ka. Tim Depo Farmasi 2 atau Unit Gawat Darurat
(UGD) dan Depo Farmasi 3 (Anyelir/ kebidanan) Ka. Tim Depo Farmasi 5
(Rawat Inap Anak), serta Ka. Tim Depo Farmasi 6 (Rawat Inap Bunda).
Pengelola Urusan Produksi Sediaan Farmasi Non Steril memimpin Ka. Tim
Produksi Sediaan Non Steril.
3.2.4 Tugas dan Fungsi Instalasi Famasi RSAB Harapan Kita
a. Tugas Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita
Instalasi Farmasi adalah unit pelayanan yang menyediakan fasilitas dan
menyelenggarakan kegiatan pelayanan peracikan, penyimpanan, penyediaan dan
penyaluran obat-obatan, bahan kimia, penyimpanan dan penyaluran alat
kedokteran, alat keperawatan, dan alat kesehatan.
Tugas lain yang dilakukan RSAB Harapan Kita :
1. Farmasi klinik.
2. Perencanaan perbekalan farmasi.
3. Berkontribusi dalam pemilihan (obat).
4. Pengadaan gas medik.
b. Fungsi Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita
Fungsi Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita, antara lain :
1. Melaksanakan perencanaan pengadaan perbekalan farmasi meliputi obat,
alat kesehatan, alat kedokteran, reagensia, obat narkotik, obat persediaan
ruangan dan gas medik.
2. Melaksanakan penyimpanan perbekalan farmasi.
3. Melaksanakan pendistribusian perbekalan farmasi.
4. Melaksanakan pelayanan farmasi klinik.
5. Melaksanakan monitoring, evaluasi dan pelaporan kegiatan farmasi rumah
sakit.
6. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi.
3.2.5 Fasilitas
Fasilitas yang dimiliki Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita adalah :
a. Ruang Kepala Instalasi Farmasi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


48

b. Ruang administrasi farmasi, merupakan tempat untuk melaksanakan kegiatan


perencanaan, pengadaan, pelaporan atau aadministrasi dan personalia.
c. Ruang gudang, yang meliputi gudang terminal farmasi obat, gudang terminal
farmasi alat kesehatan, gudang bahan mudah terbakar.
d. Ruang produksi steril (dalam tahap persiapan) dan non steril, ruang cuci dan
dapur.
e. Depo pelayanan resep rawat jalan di Poli Kebidanan (Anyelir), Poli Terpadu
Anak Sehat (POTAS), UGD dan Utama (Alamanda).
f. Depo pelayanan resep rawat inap, yaitu Depo Rawat Inap Anak dan Depo
Rawat Inap Bunda.
3.2.6 Ruang Lingkup Kegiatan Instalasi Farmasi
a. Pemilihan.
Pemilihan dilakukan untuk menetapkan jumlah dan jenis sediaan farmasi
dan alat kesehatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan di rumah sakit agar
penggunaan obat yang rasional dapat tercapai. Proses pemilihan perbekalan
farmasi di rumah sakit pada awalnya dilakukan oleh panitia standarisasi obat
melalui penyusunan, pengembangan, dan evaluasi daftar obat standar rumah sakit
yang dilakukan secara berkala. Pada tahun 2011, RSAB Harapan Kita kepanitiaan
ini diubah menjadi Komite Farmasi dan Terapi (KFT) dengan salah satu tugasnya
adalah membuat formularium rumah sakit. Namun, saat ini formularium rumah
sakit masih dalam proses pembuatan dan untuk sementara masih menggunakan
daftar standar obat yang dibuat pada tahun 2012. Penyusunan daftar standar obat
atau formularium menggunakan pola 1:2:1 (1 original : 2 me too : 1 generik).
b. Perencanaan.
Kegiatan perencanaan perbekalan farmasi di RSAB Harapan Kita
dilakukan oleh Ketua Tim perencanaan di bawah Pengelola Urusan Penyiapan
Fasilitas dan SDM. Metode yang digunakan dalam perencanaan perbekalan
farmasi adalah metode kombinasi konsumsi dan morbiditas. Metode konsumsi
dilaksanakan dengan cara merencanakan jumlah dan jenis perbekalan farmasi
yang digunakan berdasarkan data sebelumnya yaitu data penggunaan obat tiga
bulan sebelumnya. Sedangkan metode morbiditas dilakukan berdasarkan pada

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


49

pola penyakit. Pemilihan perbekalan farmasi di RSAB mengacu pada Daftar Obat
Standar RSAB Harapan Kita yang dibentuk oleh Komite Farmasi dan Terapi.
Kegiatan perencanaan perbekalan farmasi dilakukan sesuai dengan
kebutuhan dan anggaran. Anggaran tersebut tertuang dalam Rencana Bisnis dan
Anggaran (RBA) yang disusun oleh kepala instalasi farmasi yang dibantu
pengelola urusan setiap tahun dengan mempertimbangkan rencana strategis RSAB
Harapan Kita. Rencana bisnis dan anggaran digunakan menjadi dasar dalam
penyusunan Rencana Kerja Operasional (RKO) untuk tiga bulan. Rencana kerja
operasional berlaku untuk pemenuhan kebutuhan farmasi selama periode tiga
bulan berdasarkan data penggunaan obat selama tiga bulan terakhir, stok
persediaan dari gudang sentral dan gudang terminal dan pola penyakit pasien yang
melakukan pengobatan di RSAB Harapan Kita. Usulan perbekalan farmasi yang
telah disetujui oleh kepala instalasi farmasi selanjutnya diajukan ke bidang medik
dan keperawatan untuk dipelajari. Usulan yang telah disetujui oleh bidang medik
dan keperawatan diubah menjadi kartu kendali untuk diajukan ke direktur utama
untuk permohonan izin prinsip. Setelah izin prinsip dikeluarkan maka instalasi
farmasi dapat melakukan kegiatan pengadaan.
c. Pengadaan.
Kegiatan pengadaan perbekalan farmasi yang dilakukan di RSAB Harapan
Kita antara lain :
1. Pembelian
a) Lelang
Pengadaan perbekalan farmasi secara lelang dilakukan oleh panitia
pengadaan barang dengan membuat daftar Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang
bersedia dikontrak. Lelang dilakukan oleh panitia pengadaan kepada PBF untuk
kontrak harga satuan selama enam bulan. Kemudian dibuat Surat Perjanjian
Kontrak (SPK) atau kontrak harga satuan untuk PBF yang bersedia dikontrak.
Selanjutnya instalasi farmasi membuat SPK menjadi permintaan dalam bentuk
Surat Permintaan Pengiriman Barang (SPPB). SPPB diserahkan ke pejabat
pembuat komitmen untuk ditandatangani. Setelah itu usulan tersebut akan
diajukan kepada kepala bidang medik.
b) Pembelian langsung

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


50

Pembelian langsung dilakukan oleh PBF yang tidak bersedia dikontrak.


Ketua tim perencanaan membuat usulan pembelian langsung kemudian
diserahkan kepada Pengelola Urusan Penyiapan Fasilitas dan SDM dan disetujui
oleh kepala instalasi farmasi. Kemudian pejabat pengadaan barang farmasi
membuat Surat Pesanan Barang (SPB).
c) Pembelian dengan kas kecil
Pembelian dilakukan dengan menggunakan kas kecil yang dimiliki
instalasi farmasi untuk perbekalan farmasi yang persediaan barang di gudang
habis, perbekalan farmasi yang dibutuhkan segera (cito), jarang dipakai,
pembelian mahal, persediaan obat kosong karena blokir PBF atau persediaan dari
PBF kosong, serta obat baru. Nilai pembelian kas kecil dibatasi maksimal Rp
3.000.000, 00 untuk satu PBF dalam satu kali pembelian dan paling besar Rp
20.000.000,00 dalam satu periode.
2. Donasi atau hibah
Donasi atau hibah ini merupakan obat-obat yang diperoleh dari
sumbangan pemerintah yang merupakan obat-obat program pemerintah. Obat-
obat tersebut antara lain obat HIV dan vaksin dasar. Obat HIV diperoleh dari
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL)
sedangkan vaksin dasar diperoleh dari suku dinas kesehatan. Selain sumbangan
dari pemerintah, perbekalan farmasi dapat diperoleh dari sumbangan PBF dengan
cara pengelola urusan penyiapan fasilitas dan SDM membuat proposal dan
menghubungi PBF tersebut.
d. Penerimaan
Perbekalan farmasi yang dikirim oleh pemasok atau pemegang kontrak
diserahkan ke instalasi logistik (gudang sentral). Kemudian perbekalan farmasi
tersebut diterima oleh panitia penerima barang dan kepala instalasi logistik.
Barang yang datang dicek kesesuaian faktur dengan Surat Permintaan Barang
(SPB) baik dari bentuk, nama, jumlah, nomor batch, expired date dan kadar.
Setelah dicek barang masuk ke instalasi logistik (gudang sentral). Barang yang
diterima gudang sentral yaitu perbekalan farmasi dengan kontrak harga satuan
maupun perbekalan farmasi tanpa kontrak harga satuan. Untuk perbekalan farmasi

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


51

yang dibutuhkan segera (cito) langsung diterima oleh bagian farmasi namun
secara prosedural prosesnya tetap melalui gudang sentral.
e. Produksi
Kegiatan produksi yang dilakukan di Instalasi Farmasi RSAB Harapan
Kita untuk memenuhi pelayanan kesehatan di RSAB Harapan Kita hanya untuk
sediaan non steril saja. Untuk kegiatan produksi steril belum dilakukan secara
mandiri karena masih dalam tahap perbaikan dan persiapan sarana dan prasarana,
maka untuk sediaan steril dilakukan kerjasama dengan RS Dharmais untuk obat
sitostatika dan RSUP Cipto Mangunkusumo untuk repacking sediaan injeksi
steril. Kegiatan produksi non steril yang dilakukan di Instalasi Farmasi RSAB
Harapan Kita meliputi pembuatan, pengeceran dan pengemasan kembali sediaan
farmasi (repacking). Kriteria obat yang diproduksi adalah sediaan farmasi yang
dengan formula khusus yang tidak tersedia di pasaran, sediaan farmasi dengan
harga murah dan sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil. Kegiatan
produksi non steril ini dilakukan oleh tim produksi non steril di bawah tanggung
jawab Pengelola Urusan Produksi sediaan non steril. Tim ini bertugas membuat
permintaan bahan baku obat kepada gudang terminal, memproduksi sediaan
farmasi non steril atas permintaan dari gudang terminal, menyerahkan hasil
produksi ke gudang terminal dan melakukan kegiatan pelaporan. Kriteria obat
yang diproduksi adalah sediaan farmasi yang dengan formula khusus yang tidak
tersedia di pasaran, sediaan farmasi dengan harga murah dan sediaan farmasi
dengan kemasan yang lebih kecil.
f. Penyimpanan
Perbekalan farmasi yang diterima RSAB Harapan Kita disimpan di
Gudang Sentral. Kemudian Gudang Terminal Farmasi menerbitkan SPPB ke
Gudang Sentral agar dapat dilakukan mutasi perbekalan farmasi ke Gudang
Terminal Farmasi. Penyimpanan perbekalan farmasi di Instalasi Farmasi RSAB
Harapan Kita dilakukan oleh tim Gudang Terminal Farmasi dibawah tanggung
jawab PU Penyiapan Fasilitas dan SDM. Tim ini bertanggung jawab dalam
membuat permintaan ke farmasi dan ruang perawatan atau poliklinik serta
meyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan persyaratan. Pengendalian untuk

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


52

kegiatan penyimpanan dilakukan melalui sistem pencatatan arus barang pada


kartu gantung (kartu stok).
Penyimpanan disusun berdasarkan aturan sebagai berikut:
1. Dibedakan menurut jenisnya, yaitu alat kesehatan, sediaan obat, atau
reagensia.
2. Dibedakan menurut bentuk sediaan.
3. Dibedakan menurut golongan obat sesuai undang-undang.
4. Dibedakan menurut stabilitas.
a) Sifat mudah meledak atau terbakar
b) Sifat barang terhadap cahaya
c) Stabilitas sediaan terhadap suhu
5. Disusun secara alfabetis.
6. Obat Look Alike Sound Alike (LASA) diberi label warna kuning yang
bertuliskan ― LASA ―.
7. Obat yang berbahaya atau perlu kehati-hatian dalam penggunaannya harus
diberi label warna merah yang bertuliskan ― High Alert ―
8. Disusun berdasarkan First Expired First Out (FEFO).
9. Disusun berdasarkan First In First Out (FIFO).
g. Pendistribusian
Kegiatan pendistribusian perbekalan farmasi di RSAB Harapan Kita
diawali dari pengajuan SPPB dari Gudang Terminal Farmasi ke Gudang Sentral,
kemudian Gudang Sentral mendistribusikan perbekalan farmasi ke Gudang
Terminal Farmasi sesuai dengan SPPB yang diajukan. Perbekalan farmasi dari
Gudang Terminal Farmasi didistribusikan ke Depo Farmasi sesuai pesanan yang
diminta masing-masing Depo Farmasi setiap hari melalui SPPB yang diajukan ke
Gudang Terminal Farmasi. Gudang Terminal Farmasi menggunakan SPPB
sebagai dasar dalam membuat Bukti Pengeluaran Barang (SPB). Setiap
perbekalan farmasi yang masuk dan keluar dari Gudang Terminal Farmasi
dilakukan pencatatan pada kartu stok. Hal-hal yang perlu dicatat pada kartu stok
antara lain, tanggal masuk dan pengeluaran barang, tempat asal barang masuk
maupun depo tujuan pengiriman barang, nomor batch, expired date, jumlah
barang masuk atau keluar, sisa barang digudang dan paraf petugas gudang. Setiap

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


53

barang yang keluar dari gudang terminal farmasi diberi stempel gudang terminal
farmasi agar ketika terjadi retur dapat dipastikan barang tersebut berasal dari
gudang terminal farmasi.
Pendistribusian perbekalan farmasi di Instalasi Farmasi RSAB Harapan
Kita dilakukan dengan menggunakan sistem yang berbeda antara rawat jalan dan
rawat inap.
a. Rawat Jalan
Pendistribusian perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pasien
rawat jalan, diselenggarakan menggunakan sistem resep individual oleh Depo
Utama, Depo UGD, Depo Anyelir/Kebidanan, Depo POTAS, dan Poli karyawan.
Jenis pelayanan yang diberikan yaitu pelayanan resep pasien rawat jalan tunai dan
tagihan. Alur pelayanan resep rawat jalan tunai, yaitu:
1. Pasien mengambil nomor antrian untuk menaruh resep atau untuk proses
entry di komputer.
2. Petugas farmasi memanggil pasien sesuai no urut.
3. Resep diterima oleh petugas farmasi lalu dilakukan skrining resep berupa
kelengkapan admistrasi (nomor medical record, nama pasien, usia pasien,
tanggal resep, dan nama dokter penulis resep), skrining farmasetika (bentuk
sediaan, dosis, jumlah obat), dan skrining interaksi obat yang mungkin
terjadi. Selain itu dilakukan pengecekan terhadap ketersediaan obat yang
ada di depo, pengecekan ini masih dilakukan secara manual karena dalam
sistem komputer belum dapat melihat jumlah stok persediaan yang ada
ketika menginput item obat ke dalam komputer. Bila terjadi kekosongan
barang di depo farmasi, maka dapat menghubungi ke gudang terminal
farmasi atau depo lainnya yang masih punya barang tersebut, namun jika
perbekalan farmasi yang diminta kosong, maka petugas dapat menghubungi
dokter penulis resep tersebut dan menawarkan untuk diganti dengan obat
yang sama komposisinya atau satu golongan terapinya dengan yang ada di
rumah sakit. Obat dapat diganti dengan persetujuan dokter dan atau pasien.
4. Petugas memberi harga, menginformasikan harga resep yang akan di tebus
kepada pasien. Bila pasien setuju dengan harga tersebut, maka pasien
dipersilahkan untuk ke ruang kasir untuk melakukan pembayaran. Petugas

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


54

yang memberi harga menulis nomor resep pada papan tulis didinding pada
kolom racikan untuk obat-obat yang diracik dan pada kolom non racikan
untuk obat-obat yang tidak diracik. Setelah melakukan pembayaran, kasir
memberi kertas nomor resep kepada pasien, sebagai bukti pengambilan obat
dan menyerahkan resep serta kwitansi lunas lewat jendela yang terdapat
antara ruang kasir dan depo farmasi. Petugas farmasi yang memberi harga
paraf di kolom ―H‖.
5. Resep dan kuitansi yang diperoleh dari kasir, diberi tanda jam masuk
menggunakan mesin ―amano‖ sebagai tanda waktu kapan resep tersebut
mulai di kerjakan.
6. Petugas menyiapkan obat sesuai resep dan kuitansi. Obat diletakkan di meja
pengemasan. Petugas yang mengambil barang paraf di kolom ―A―. Setiap
petugas wajib untuk mengisi kartu stok setiap melakukan pengambilan
barang.
7. Bila terdapat racikan, maka resep diletakkan di meja peracikan untuk
terlebih dahulu di cek kembali perhitungan dosis racikanya. Setelah dicek,
maka petugas membuat etiket racikan dan menyerahkan obat yang akan
diracik ke juru racik untuk diracik. Petugas yang meracik paraf di kolom
―R‖. Obat yang sudah diracik diletakkan di meja pengemasan.
8. Petugas yang berada di meja pengemasan, memberi etiket pada obat-obat
non racikan yang telah disiapkan sesuai resep lalu mengemasnya kedalam
plastik dan menulis copy resep pada lembar belakang kwitansi pasien dan
membuat copy resep bila ada obat ―iter‖ atau resep hanya ditebus sebagian.
Kotak ―K― diisi paraf petugas yang mengemas.
9. Petugas ―penyerahan‖ mengecek kembali nama, jumlah dan etiket obat
disesuaikan dengan resep dan kwitansi. Sebelum diserahkan kepada pasien
petugas memberi tanda waktu penyerahan menggunakan menggunakan
mesin ―amano‖.\
10. Petugas ―penyerahan‖ memanggil nama pasien dan meminta no resep
yang ada pada pasien untuk memastikan bahwa benar pasien. Petugas
―penyerahan‖ memberi informasi obat kepada penerima obat. Penerima obat
mengisi paraf, nama dan nomor telepon pada kolom ―T‖.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


55

Pasien resep tagihan (non tunai) rawat jalan yang ditanggung perusahaan,
asuransi, dan pasien BPJS tidak melakukan pembayaran tunai di kasir namun
kasir melakukan penagihan terhadap perusahaan penanggung biaya pengobatan.
Kasir mengkonfirmasi pada perusahaan penanggung, apakah resep tersebut
ditanggung atau tidak. Bila tidak ditanggung oleh perusahaan, maka pasien dapat
membeli sebara tunai item yang tidak ditanggung atau hanya mengambil obat
yang ditanggung saja. Untuk pasien BPJS harus melengkapi berkas berupa Surat
Jaminan Pelayanan. Setelah kasir memferivikasi resep non tunai, maka resep
dapat diproses penyiapan obat nya oleh petugas farmasi.
b. Rawat Inap
Sistem pendistribusian perbekalan farmasi untuk pasien rawat inap adalah
Unit dose Dispensing (UDD) dan resep individual. Sistem UDD yaitu setiap obat
dalam resep dibagi pada satu wadah untuk tiap satu kali minum dan diberi jam
kapan harus diminum oleh pasien. Selanjutnya obat dalam masing-masing wadah
diserahkan kepada perawat untuk diberikan pada pasien.
1. Pendistribusian perbekalan farmasi untuk pasien Rawat Inap Anak (RIA).
Alur pelayanan resep tagihan rawat inap adalah sebagai berikut, resep
diserahkan oleh perawat ke depo farmasi RIA. Resep masuk diperiksa
kelengkapan berkas, kelengkapan resep, dan ketersediaan atau stok perbekalan
farmasi di depo, kemudian diberikan kepada petugas entry untuk diberi harga
dengan menggunakan layanan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) dan diprint
rangkap dua, satu lembar print out pelayanan SIRS diserahkan ke bagian tata
rekening (keuangan), kemudian petugas distribusi rawat inap mengambil satu
lembar untuk arsip. Selanjutnya pengambilan perbekalan farmasi oleh petugas di
depo, bila terdapat resep racikan, maka resep diberikan kepada asisten apoteker
yang terlebih dahulu menghitung kembali dosis pada resep baru kemudian obat
diracik. Bila tidak terdapat racikan, maka obat langsung diberi etikat dan dikemas.
Tahap terakhir dilakukan pengecekan. Setelah semua resep selesai disiapkan
kemudian dicatat pada buku ekspedisi pengantaran obat ke ruangan, dan diantar
ke ruang perawatan oleh juru resep pengantaran dari depo.
Jenis pasien rawat inap yang dilayani di RSAB Harapan Kita adalah
pasien umum, pasien jaminan perusahaan, asuransi dan pasien BPJS. Pasien

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


56

umum adalah pasien yang melakukan pembayaran secara tunai. Pasien asuransi
perusahan biaya pengobatannya ditanggung oleh perusahaan. Pasien jaminan
sosial terdiri dari pasien jaminan kesehatan (BPJS) baik Penerima Bantuan Iuran
(PBI) maupun non PBI.
2. Pendistribusian perbekalan farmasi untuk pasien Rawat Inap Bunda (RIB).
Pendistribusian perbekalan farmasi untuk pasien Rawat Inap Bunda (RIB)
menggunakan sistem Unit Doses Dispensing (UDD) dan resep individual. Sistem
UDD merupakan pendistribusian obat melalui resep perorangan yang disiapkan,
diberikan atau digunakan dalam unit dosis tunggal atau ganda, yang berisi obat
dalam jumlah yang telah ditetapkan. Obat yang telah disiapkan diserahkan
petugas farmasi kepada perawat untuk diberikan kepada pasien.Sistem unit dosis
ini banyak memberi keuntungan pada pasien yaitu dapat meningkatkan kepatuhan
pasien dalam meminum obat, meringankan beban kerja perawat, menurunkan
biaya pengobatan karena pasien hanya membayar obat yang yang diminum, selain
itu farmasis juga dapat memonitor kerasionalan terapi obat, dan dapat
meningkatkan hubungan komunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya.
3. Unit Gawat Darurat (UGD).
Pendistribusian perbekalan farmasi di UGD dilakukan selama 24 jam
untuk melayani resep pasien UGD dan melayani permintaan kebutuhan farmasi
dari rawat inap ketika depo farmasi RIA dan RIB tutup, yaitu setelah jam 21.00
pada hari kerja atau pada saat hari minggu atau tanggal merah.
h. Administrasi dan Pelaporan.
1. Administrasi Perbekalan Farmasi
a) Laporan penggunaan obat narkotik (dikirim ke Suku Dinas Kesehatan
paling lambat tanggal 10 setiap bulannya).
b) Laporan penggunaan obat psikotropik (dikirim ke Suku Dinas Kesehatan
paling lambat tanggal 10 setiap bulannya).
c) Laporan obat generik (dikirim keSuku Dinas Kesehatan).
d) Laporan obat HIV (dikirim ke Ditjen P2PL paling lambat tanggal 25
setiap bulannya).
e) Laporan pemakaian vaksin (dikirim ke suku dinas kesehatan).

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


57

f) Laporan persediaan perbekalan farmasi (stock opname perbulan, pertiga


bulan dan tahunan).
g) Laporan penggunaan kas kecil setiap triwulan ke bagian keuangan.
h) Laporan pemakaian obat poli karyawan.
i) Laporan evaluasi amprahan.
j) Laporan pencapaian sasaran mutu.
k) Laporan hasil produksi.
l) Laporan kegiatan farmasi klinik, meliputi:
a. Sasaran mutu (pelayanan resep rawat jalan) : laporan penggunaan
antibiotika, laporan kunjungan pasien, laporan obat-obat yang tidak
terlayani, laporan retur perbekalan farmasi untuk rawat inap.
b. Administrasi keuangan : laporan pendapatan rawat jalan umum tunai
per shift yang harus direkonsiliasikan dengan kasir setiap hari serta
laporan pendapatan dan biaya (bulanan, triwulan, dan tahunan).
2. Administrasi Penghapusan
Administrasi Penghapusan dilakukan oleh Tim Penghapusan RSAB
Harapan Kita.
i. Farmasi klinik di RSAB Harapan Kita.
Kegiatan farmasi klinik di RSAB Harapan Kita meliputi, pengkajian
resep, dispensing obat, Pemberian Informasi Obat (PIO) pasien rawat jalan dan
rawat inap, dan pelaporan efek samping obat.
2.2.7 Penanganan Nakotika di RSAB Harapan Kita
Kegiatan penanganan narkotika yang dilakukan di Instalasi Farmasi RSAB
Harapan Kita meliputi :
a. Pemesanan Narkotika
Pemesanan dilakukan dengan menggunakan surat pesanan narkotika yang
dibuat rangkap empat. Surat pesanan ditandatangani oleh Kepala Instalasi Farmasi
RSAB Harapan Kita. Setiap satu surat pesanan narkotika hanya digunakan untuk
memesan satu jenis narkotika yang ditujukan kepada PBF Kimia Farma selaku
penyalur tunggal yang ditunjuk pemerintah untuk melaksanakan pengolahan,
impor dan distribusi narkotika.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


58

b. Penerimaan dan Penyimpanan Narkotika


Narkotika yang diterima dicek kesesuaian barang dengan faktur. Apoteker
atau asisten apoteker menandatangani faktur dengan mencantumkan nama jelas,
nomor Surat Izin Kerja (SIK) atau nomor Surat Izin Kerja Tenaga Teknis
Kefarmasian (SIKTTK), dan memberikan stempel instalasi farmasi RSAB
Harapan Kita. Penyimpanan dilakukan dilemari khusus dan harus terkunci sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan. Pemasukan dan
pengeluaran narkotika dicatat dalam kartu stok narkotika.
c. Pelayanan Narkotika
Pelayanan narkotika yang dilakukan di RSAB Harapan Kita yaitu dengan
melayani resep asli dari dokter dan tidak menerima resep dengan tanda iter.
d. Pencatatan dan Pelaporan Narkotika
Narkotika yang dikelola harus dicatat dalam buku narkotika yang berisi :
1. Persediaan pada awal dan akhir bulan.
2. Penambahannya terdiri dari pembelian atau penerimaan gudang sentral dan
gudang terminal.
3. Pengurangan yang disebabkan penyerahan atas dasar resep, pembuatan
atau pengelolaan, pemusnahan.
e. Pemusnahan Narkotika
Pemusnahan narkotika dilakukan oleh tim pemusnahan dari Instalasi
Farmasi RSAB Harapan Kita dengan ada saksi dari RSAB Harapan Kita dan suku
dinas kesehatan. Kemudian dilanjutkan pembuatan berita acara pemusnahan
narkotika yang ditandatangani oleh apoteker.
2.2.8 Penanganan Psikotropika
Kegiatan penanganan psikotropika yang dilakukan di Instalasi Farmasi
RSAB Harapan Kita meliputi :
a. Pemesanan Psikotropika
Pemesanan dilakukan dengan menggunakan surat pesanan psikotropika
yang dibuat rangkap dua. Surat pesanan ditandatangani oleh Kepala Instalasi
Farmasi RSAB Harapan Kita disertai dengan nomor SIK. Setiap satu surat
pesanan psikotropika dapat digunakan untuk memesan beberapa jenis
psikotropika.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


59

b. Penerimaan dan Penyimpanan Psikotropika


Psikotropika yang diterima dicek kesesuaian barang yang diterima dengan
faktur. Apoteker atau asisten apoteker menandatangani faktur dengan
mencantumkan nama jelas, nomor SIK, dan memberikan stempel Instalasi
Farmasi RSAB Harapan Kita. Psikotropika disimpan terpisah dengan obat-obat
lain dalam suatu rak atau lemari khusus dan terkunci. Pemasukan dan pengeluaran
psikotropika dicatat dalam kartu stok psikotropika.
c. Pelayanan Psikotropika
Pelayanan psikotropika yang dilakukan di RSAB. Harapan Kita yaitu
dengan melayani resep asli dari dokter.
d. Pelaporan Psikotropika
Pelaporan psikotropika dilakukan satu bulan sekali dengan ditandatangani
oleh apoteker ditujukan kepada kepala dinas kesehatan kabupaten atau kota
setempat dengan tembusan kepada kepala dinkes propinsi setempat, balai
pengawas obat dan makanan setempat serta sebagai arsip.
e. Pemusnahan Psikotropika
Pemusnahan psikotropika dilakukan oleh tim pemusnahan dari Instalasi
Farmasi RSAB Harapan Kita sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Pemusnahan dilakukan untuk psikotropika yang telah daluarsa maupun untuk
yang telah rusak. Setelah pemusnahan dilakukan pembuatan berita acara
pemusnahan psikotropika yang ditandatangani apoteker.

3.3 Centralized Steril Supply Departement (CSSD)


CSSD Di RSAB Harapan Kita diselenggarakan oleh Instalasi Sarana
Sandang dan CSSD, yaitu instalasi yang memberikan pelayanan sterilisasi kepada
semua bagian rumah sakit yang menggunakan instrument, linen, baju, lain-lain
yang harus dalam keadaan steril saat digunakan. Instalasi Sandang dan CSSD
berdiri secara mandiri sebagai suatu instalasi di bawah Direktur Umum dan
Operasional. Sasaran mutu pelayanan instrument maksimal 150 menit dari
penerimaan.
Dalam menjalankan tugasnya, aturan kerja yang berlaku di CSSD adalah sebagai
berikut:

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


60

a. Bagian penerimaan
Barang yang akan disterilkan dari unit pelayanan atau ruangan yang
diterima, diperiksa dan dicatat dalam buku penerimaan dan dibuat bon rangkap
dua yang berguna untuk arsip dan untuk bukti pengambilan kembali bagi unit
pelayanan atau ruangan tersebut.
b. Bagian pencucian
Barang yang diterima adalah barang yang sudah bersih, namun adakalanya
belum dibersihkan sepenuhnya, sehingga harus dibersihkan terlebih dahulu
sebelum disterilkan. Setelah bersih, barang dikeringkan dengan alat pengering.
c. Bagian pengelolaan
Barang-barang yang telah dibersihkan dan dikeringkan, selanjutnya
dikemas untuk disterilkan. Barang yang dikemas untuk disterilkan tersebut
merupakan barang yang masih layak pakai.
d. Bagian pengemasan atau packing
Setelah barang bersih dan lolos uji, dikemas dahulu sebelum disterilkan.
Ada tiga macam kemasan yang digunakan, yaitu:
1. Kain linen untuk membungkus barang yang terbuat dari linen.
2. Kantong untuk barang yang tidak tahan panas.
3. Kantong wipak untuk barang yang disterilkan dengan pemanasan.
Barang yang telah dikemas kemudian diberi label catatan sterilisasi. Label
catatan sterilisasi merupakan suatu bukti bon Sterilisation Record Form (SRF)
yang isinya terdiri dari dua bagian, masing-masing diberi nomor urut yang sama
untuk tiap-tiap bagian yang berdampingan. Bagian sebelah kiri untuk arsip dan
bagian lainnya ditempel pada barang yang akan disterilkan. Catatan ini memuat
nama instrument atau alat, nama ruangan asal alat tersebut, paraf dan tanggal.
e. Bagian Sterilisasi
Sterilisasi dilakukan berdasarkan sifat dari barang yang akan disterilkan.
Proses sterilisasi yang dilakukan ada dua macam, yaitu:

1. Sterilisasi dengan suhu tinggi

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


61

a) Suhu 135 ⁰C, tekanan 2,2 atm selama 3,5 menit  untuk barang yang
terbuat dari logam.
b) Suhu 135 ⁰C, tekanan 2,2 atm selama 10 menit  untuk linen.
c) Suhu 120 ⁰C, tekanan 1,1 atm selama 10 menit  untuk kassa
2. Sterilisasi dengan suhu rendah
a) Sterilisasi dengan menggunakan formalin 35%, proses dilakukan pada
suhu 60-80 °C, selama 2,5 jam dengan menggunakan uap formalin dari
larutan formalin 35%.
b) Sterilisasi dengan suhu rendah dilakukan untuk barang-barang yang tidak
tahan panas. Walaupun yang dibutuhkan adalah 75 menit pada suhu 15-
30 °C dengan menggunakan sel berisi H2O2.
c) Barang-barang yang disterilkan dengan autoklaf atau formalin 35%,
dibungkus dengan kantong wipak untuk selang, bahan linen untuk sarung
tangan. Untuk sterilisasi dengan sterrad barang yang akan disterilkan
dibungkus dengan pouches.
Untuk menentukan baik atau tidaknya suatu proses sterilisasi, dilakukan tes
dengan menggunakan beberapa indikator, yaitu:
1. Indikator mekanik
Bagian dari instrumen mesin sterilisasi seperti gauze, dan indikator suhu
maupun tekanan yang menunjukkan apakah alat sterilisasinya bekerja dengan
baik.
2. Indikator kimia
Indikator yang menandai terjadinya paparan sterilisasi pada objek yang
disterilisasikan, ditandai dengan adanya perubahan warna.
a) Autoclave tape
Merupakan suatu isolasi bergaris kekuning-kuningan sebagai alat perekat
set dan sekaligus untuk mengetahui bahwa alat sudah melalui proses sterilisasi
ditandai dengan perubahan warna menjadi coklat kehitam-hitaman.
b) Comply 125 ETO dan Comply 1243 Steam
Indikator internal berbentuk strip dan pemakaiannya diletakkan dalam
setiap kemasan.
c) Bowie Dick Test

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


62

Dilakukan untuk mengetahui penetrasi uap apakah dapat meresap ke seluruh


ruangan alat. Alat tersebut dimasukkan ke tengah-tengah sel yang besar, jika
penetrasi baik akan ditandai dengan perubahan warna dari kuning menjadi coklat
kehitam-hitaman.
3. Biological Indicator
Menggunakan bakteri Bacillus stearithermophillus (sterilisasi uap panas)
yang hidup pada suhu 56⁰C dalam ampul yang berwarna ungu yang ikut
dimasukkan bersama dengan alat yang akan disterilkan. Setelah proses sterilisasi,
alat didiamkan selama kurang lebih 10 menit dan kemudian dipecahkan dan
dimasukkan ke dalam inkubator biological. Setelah 48 jam, jika warna ungu
berubah menjadi kuning berarti alat rusak dan jika tetap ungu berarti alat masih
berfungsi dengan baik.
Untuk sterilisasi dengan gas etilen oksid dan panas kering menggunakan
bakteri Bacillus subtilis. Biological indicator Sterrad adalah suatu bakteri yang
hidup pada suhu 37⁰C, yaitu Bacillus subtilis. Setelah proses sterilisasi, alat ini
dipecahkan dan diinkubasi selama 48 jam. Jika ada perubahan warna berarti ada
kerusakan pada mesin.
4. Attest
Attest adalah alat yang dimasukkan di dalam set-set terutama set linen,
untuk mengetahui penetrasi uap dan bila sudah melalui proses steril tanda bulatan
kuning berubah menjadi biru.

3.4 Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Rumah Sakit


Instalasi Kesehatan Lingkungan dan K3 (Keselamatan danKesehatan
Kerja)bertanggung jawab terhadap pengelolaan seluruh limbah rumah sakit,
keamanan dan keselamatan baik untuk pasien maupun anggota rumah sakit lain
seperti petugas kesehatan, karyawan, dan lain-lain. Instalasi kesehatan lingkungan
bertugas mengelola limbah padat maupun cair yang berasal dari seluruh kegiatan
yang dilakukan di rumah sakit.
3.4.1 Limbah Padat
Limbah padat RSAB Harapan Kita merupakan limbah rumah sakit yang
berbentuk padat berasal dari seluruh kegiatan di rumah sakit. Pengelolaan limbah

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


63

padat dilakukan setiap hari oleh petugas kebersihan dan dipisahkan berdasarkan
limbah padat medis, non medis, dan domestik. Limbah padat dari setiap ruangan
dikumpulkan dalam satu kantong plastik dengan warna yang sesuai dengan jenis
limbahnya.
Sumber limbah padat medis RSAB Harapan Kita berasal dari limbah
infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis,
limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan dan limbah
kandungan logam berat tinggi. Limbah padat medis ditampung dalam wadah yang
berbeda berdasarkan kategori limbah yang dihasilkan. Wadah yang digunakan
terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air dan tertutup
dengan dilapisi kantong plastik yang berbeda warna. Untuk kategori limbah
infeksius patologi dan anatomi menggunakan kantong plastik berwarna kuning,
limbah sitotoksis menggunakan kantong plastik kuning yang diberi label
bertuliskan ―limbah sitotoksis‖ dan logo, limbah kimia dan farmasi dengan
kantong plastik warna kuning yang diberi label dan logo dan limbah radioaktif
dengan kantong plastik warna merah, sedangkan untuk limbah benda tajam
ditampung dalam satu wadah yang anti bocor, anti tusuk, dan tidak mudah untuk
dibuka sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak dapat membukanya dan
dilapisi dengan kantong plastik berwarna kuning.
Tahap selanjutnya adalah tahap pengolahan limbah medis padat, seluruh
limbah medis padat yang dihasilkan akan dibakar dengan menggunakan
insenerator. Pengolahan limbah menggunakan insenarator secara mandiri tidak
dilakukan oleh pihak RSAB Harapan Kita karena tidak memenuhi syarat jarak
antara mesin insenarator dengan pemukiman penduduk, dimana seharusnya jarak
minimum antara insenerator dengan pemukiman penduduk adalah 50 m. Oleh
karena itu, pengolahan limbah medis padat dilimpahkan pada pihak ke dua yaitu
PT. Arah yang mengangkut limbah medis padat seminggu tiga kali.
Limbah padat non medis RSAB Harapan Kita ditampung di Tempat
Pembuangan Sementara (TPS) yang selanjutnya limbah akan diangkut ke Dinas
Kesehatan DKI Jakarta setiap harinya.
3.4.2 Limbah Cair

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


64

Limbah cair berasal dari semua kegiatan rumah sakit kecuali kegiatan
yang bersumber dari instalasi gizi, kantin dan gedung asrama. Sistem pengelolaan
air limbah cair di RSAB Harapan Kita menggunakan metode STP (Sewage
Treatmen Plant). Berikut adalah proses pengelolaan limbah cair :
a. Grit Chamber
Air limbah yang berasal dari sewage pertama kali akan masuk ke bak Grit
Chamber. Di bak ini terjadi proses penyaringan. Air limbah di grit chamber akan
disaring pertama kali di screen kasar, screen tersebut menyaring sampah-sampah
ukuran besar, sampah yang masih terbawa dari screen kasar akan dicacah
menggunakan communitor, selanjutnya sampah yang masih lolos akan disaring
kembali menggunakan screen halus.
b. Aeration tank (Bak Aerasi)
Air yang berasal dari grit chamber akan mengalir ke bak aerasi. Di bak aerasi
ini disuplai oksigen dengan menggunakan mesin blower, fungsi O2 yang
dihasilkan adalah untuk metabolisme bakteri aerob, bakteri tersebut digunakan
untuk memecah polutan yang terkandung dalam air limbah tersebut, sehingga di
bak ini terjadi penurunan kadar pencemaran oleh bakteri aerob dan di bakaerasi
terjadi penurunan BOD, COD dan Amoniak.
c. Sedimentation tank
Air limbah dari aeration tank akan mengalir ke sedimentation tank, di bakini
lumpur yang terkandung dalam air limbah akan diendapkan. Pada sedimentation
tank terjadi pembentukan flok yang kemudian akan disatukan oleh mesin
scrapper. Flok-flok yang terbentuk akan diangkat secara manual. Lalu air limbah
akan menuju distribution tank menggunakan air lift.
d. Distribution box
Pada bak distribusi air limbah akan dipecah, air yang tidak mengandung
lumpur akan mengalir ke bak penampungan akhir, sedangkan air yang masih
mengandung lumpur akan mengalir ke stabilitation tank.
e. Stabilitation tank
Stabilitation tank berfungsi sebagai tempat untuk pembibitan bakteri. Air
limbah dari stabilitation tank akan mengalir secara overflow ke aeration tank.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


65

Berfungsi sebagai tempat untuk pembibitan bakteri. Air limbah dari stabilitation
tank akan mengalir secara overflow ke aeration tank.
f. Sand filter
Air limbah yang berasal dari bak penampungan akhir akan dipompa menuju
sand filter. Polutan yang terkandung dalam air limbah akan disaring
menggunakan pasir silika.
g. Carbon filter
Air yang sudah disaring dengan sand filter selanjutnya dialirkan ke carbon
filter. Disini air juga akan disaring kembali, tujuan penyaringan ini adalah untuk
menghilangkan warna dan bau yang terkandung dalam air limbah tersebut, air
limbah kemudian akan mengalir ke outlet.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


BAB 4
PEMBAHASAN

RSAB Harapan Kita merupakan rumah sakit tipe A karena merupakan


rumah sakit rujukan anak dan bunda yang mempunyai fasilitas pelayanan medik
spesialistik dan subspesialitik luas serta berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan.
Instalasi farmasi adalah tempat pengelolaan perbekalan farmasi serta memberikan
pelayanan kefarmasian dalam penggunaan obat dan alat kesehatan. Instalasi
farmasi rumah sakit berada di bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh
beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan perundang-
undangan yang berlaku dan kompeten secara profesional. Instalasi farmasi di
RSAB Harapan Kita dipimpin oleh seorang apoteker dengan dibantu oleh tiga
apoteker pengelola urusan yaitu Pengelola Urusan Fasilitas dan Sumber Daya
Manusia, Pengelola Urusan Pelayanan Farmasi dan Pengelola Urusan Produksi
Sediaan Farmasi. Masing-masing pengelola urusan dibantu oleh ketua tim. Untuk
Pengelola Urusan Fasilitas dan Sumber Daya Manusia dibantu oleh ketua tim
perencanaan, ketua tim gudang terminal, dan ketua tim administrasi dan
pelaporan. Pengelola urusan Pelayanan Farmasi dibantu oleh ketua tim depo
farmasi 1 (utama) dan depo farmasi 4 atau Poli Terpadu Anak Sehat (POTAS),
ketua tim depo farmasi 2 atau Unit Gawat Darurat (UGD) dan depo farmasi 3
(anyelir/kebidanan), ketua tim depo farmasi 5 (rawat inap anak), serta depo
farmasi 6 (rawat inap bunda). Pengelola Urusan Produksi Sediaan Farmasi
dibantu oleh ketua tim produksi sediaan farmasi. Instalasi Farmasi RSAB Harapan
Kita juga terdapat apoteker fungsional yang menjalankan pekerjaan pelayanan
kefarmasian. Tenaga teknis kefarmasian di RSAB yang membantu apoteker
dalam menjalankan pekerjaan kefarmasian antara lain asisten apoteker lulusan
SMF, sarjana farmasi, dan ahli madya farmasi. Di instalasi farmasi RSAB
Harapan Kita ini juga terdapat juru racik yang membantu pekerjaan tenaga teknis
kefarmasian.
Fasilitas yang dimiliki oleh Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita untuk
melakukan pekerjaan kefarmasian antara lain ruang kantor, ruang produksi

66 Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


67

sediaan farmasi, ruang penyimpanan (gudang terminal farmasi), ruang distribusi/


pelayanan, ruang konsultasi, ruang informasi obat dan ruang arsip dokumen.
Ruang produksi yang digunakan hanya untuk sediaan non steril saja. Untuk ruang
produksi sediaan steril masih dalam proses perbaikan. Gudang terminal farmasi
digunakan untuk menyimpang persediaan farmasi sebelum didistribusikan ke
ruang pelayanan atau depo-depo farmasi. Ruang distribusi yaitu ruang dilakukan
pelayanan kefarmasian yang terdiri dari enam depo farmasi.
Kegiatan yang dilakukan oleh Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita yaitu
pengelolaan perbekalan farmasi dan pelayanan farmasi (farmasi klinik).
Pengelolaan perbekalan farmasi meliputi pemilihan, perencanaan, pengadaan,
penerimaan, produksi, penyimpanan, dispensing, pendistribusian, administrasi dan
pelaporan perbekalan farmasi.

4.1 Kegiatan Pengelolaan Perbekalan Farmasi RSAB. Harapan Kita


4.1.1 Pemilihan, Perencanaan dan Pengadaan Perbekalan Farmasi
Kegiatan pemilihan obat di RSAB Harapan Kita dilakukan oleh Komite
Farmasi dan Terapi yang hasil dari pemilihan yaitu buku standarisasi obat.
Kegiatan pemilihan belum mengacu pada formularium karena formularium
sedang dalam proses pembuatan oleh Komite Farmasi dan Terapi. Kegiatan
perencanaan dilakukan oleh ketua tim perencanaan dibawah Apoteker Pengelola
Urusan Fasilitas dan Sumber Daya Manusia. Perencaanan dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan perbekalan farmasi dalam melakukan pekerjaan
kefarmasian. Metode yang digunakan dalam perencanaan yaitu metode konsumsi
dan morbiditas. Metode konsumsi digunakan berdasarkan data penggunaan obat
tiga bulan terakhir. Proses perencanaan meliputi pemilihan jenis, jumlah, dan
harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran.
Kegiatan pengadaan perbekalan farmasi di RSAB Harapan Kita meliputi
pembelian dan secara donasi atau hibah dari pihak lain. Pembelian dilakukan
dengan cara lelang, pembelian langsung dan pembelian dengan kas kecil. Lelang
dilakukan oleh Unit Layanan Pengadaan kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF)
untuk kontrak harga satuan selama enam bulan oleh panitia pengadaan barang
dengan usulan Pedagan Besar Farmasi (PBF) yang bersedia dikontrak. Kemudian

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


68

dibuat Surat Perjanjian Kontrak (SPK) atau kontrak harga satuan untuk PBF yang
bersedia dikontrak. Pembelian langsung dilakukan oleh Pedagan Besar Farmasi
yang tidak bersedia dikontrak. Ketua tim perencanaan membuat usulan pembelian
langsung kemudian diserahkan kepada Pengelola Urusan Penyiapan Fasilitas dan
SDM dan disetujui oleh kepala instalasi farmasi. Sedangkan pembelian dengan
menggunakan kas kecil yang dimiliki instalasi farmasi dilakukan apabila tidak
tersedianya obat digudang farmasi yang disebabkan karena permintaan cito dan
permintaan khusus.
Kendala yang umum terjadi pada proses perencanaan dan pengadaan
perbekalan farmasi adalah terjadi kekosongan stok barang. Hal ini disebabkan
oleh beberapa faktor yaitu proses administrasi yang panjang mulai dari usulan
sampai disetujui oleh bidang medik, ketidaktersediaan obat di PBF, adanya
perubahan harga antara harga kontak dengan harga sekarang.
Untuk menunjang kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi di Instalasi
Farmasi RSAB Harapan Kita didukung dengan Sitem Infomasi Rumah Sakit
(SIRS) yang memudahkan dalam pemberian harga perbekalan farmasi dan
pembuatan permintaan mutasi barang dari gudang terminal ke depo-depo. Namun
SIRS belum dapat digunakan dalam pengecekan stok minimum obat sehingga
dalam pengecekan harus dilakukan secara manual dengan cara mengecek fisik
barang dan kartu stok setiap hari di depo-depo maupun gudang terminal.
4.1.2 Penerimaan Perbekalan Farmasi
Kegiatan penerimaan perbekalan farmasi yang dibeli dari PBF diterima
oleh panitia penerima barang dan kepala instalasi logistik yang kemudian
disimpan di gudang sentral. Barang yang datang dicek kesesuaian faktur dengan
Surat Permintaan Penerimaan Barang (SPPB) baik dari bentuk, nama, jumlah,
nomer batch, expired date dan kadar. Perbekalan farmasi yang ada di gudang
sentral akan diserahkan ke bagian gudang terminal sesuai dengan amprah dari
gudang terminal dan akan didistribusikan ke depo-depo farmasi oleh gudang
terminal. Untuk perbekalan farmasi yang dibutuhkan segera (cito) langsung
diterima oleh bagian farmasi tanpa melalui gudang sentral. Sedangkan untuk
produk sediaan farmasi hasil dari produksi sediaan farmasi RSAB Harapan Kita
langsung diserahkan ke bagian gudang terminal dan diterima oleh petugas gudang

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


69

terminal yang selanjutnya oleh gudang terminal akan didistribusikan ke depo-


depo farmasi sesuai kebutuhan.
4.1.3 Penyimpanan Perbekalan Farmasi
Perbekalan farmasi dan administrasi seperti kwitansi, kartu stok, kartu
pasien pulang, dan lain-lain yang diterima RSAB Harapan Kita disimpan di
gudang sentral, kemudian untuk perbekalan farmasi seperti obat dan alat
kesehatan dimutasikan ke gudang terminal farmasi sesuai dengan surat
permintaan barang (SPB) yang diajukan oleh pihak farmasi. Barang yang telah
diterima dari gudang sentral disimpan berdasarkan jenisnya, yaitu obat dan alat
kesehatan dengan penyususnan berdasarkan beberapa hal antara lain menurut
jenisnya (alat kesehatan, sediaan obat, atau reagensia), bentuk sediaan, golongan
obat sesuai undang-undang, stabilitas (sifat mudah meledak atau terbakar, sifat
barang terhadap cahaya, stabilitas sediaan terhadap suhu), secara alfabetis,
berdasarkan First Expired First Out (FEFO) dan berdasarkan First In First Out
(FIFO), selanjutnya dicatat pada kartu stok dan disesuaikan dengan SPB.
Sistem pencatatan pada kartu stok sudah berjalan sangat baik, setiap
barang yang masuk dan keluar dicatat jumlah dan tempat asalnya, serta tanggal
daluarsanya. Selain itu petugas memberi paraf pada kartu stok ketika barang
masuk dan keluar. Untuk mempermudah pengelolaan tanggal expired perbekalan
farmasi, maka digunakan label pada setiap barang dengan ketentuan sebagai
berikut, label merah untuk barang yang memiliki tanggal expired dibawah satu
tahun dan label hijau untuk barang yang memiliki tanggal expired lebih dari satu
tahun. Dengan adanya label tersebut, petugas farmasi dapat memantau tanggal
expired barang dengan lebih mudah dan apabila ada yang mendekati tanggal
expired dapat segera di distribusikan atau digunakan terlebih dahulu. Namun jika
barang tersebut tergolong slow moving, dan persediaan di gudang masih banyak
maka bagian perencanaan dan pembelian dapat meretur ke distributor,
berdasarkan perjanjian yang telah ada.
Penyimpanan perbekalan farmasi sudah dilakukan sesuai dengan standar
prosedur operasional yang telah ditetapkan, termasuk obat narkotika dan
psikotropika, dan obat high alert. Penyimpanan obat dengan suhu rendah sudah
disimpan dalam Pharmaceutical refrigerator yang setiap hari dicatat dan

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


70

dilaporkan. Namun untuk obat-obat termolabil, kami masih menemukan beberapa


obat yang disimpan tidak sesuai dengan suhu yang ditentukan, seperti obat
Fladystin seharusmya disimpan pada suhu 2-8 ⁰C tetapi pada kenyataannya di
gudang terminal farmasi masih disimpan di suhu ruang. Hal ini bisa disebabkan
karena terbatasnya sarana sehingga ruang penyimpanan untuk obat-obat
termolabil masih belum terpenuhi. Selain itu, masih ditemukannya minuman
dalam botol yang disimpan dalam pharmaceutical refrigerator.
4.1.4 Pendistribusian dan Dispensing
Sistem distribusi yang dilakukan di depo farmasi rawat jalan menggunakan
sistem distribusi peresepan individual, sedangkan untuk depo farmasi rawat inap
menggunakan sistem distribusi kombinasi (peresepan individual dan Unit Dose
Dispensing). Pada sistem distribusi peresepan individual di ruang rawat inap,
dokter menuliskan resep obat secara manual. Resep diantar ke depo rawat inap
bunda untuk pasien wanita pada pukul 07.00 – 14.00 atau depo rawat inap anak
untuk pasien anak-anak pada pukul 07.00 – 21.00 oleh perawat, lebih dari pukul
21.00 resep dilayani di Depo UGD. Depo rawat inap bunda hanya sampai pukul
14.00, jika lebih dari pukul 14.00 maka resep dilayani di depo rawat inap anak.
Petugas depo akan melakukan verifikasi terhadap resep yang diterima. Verifikasi
resep, meliputi verifikasi administratif, farmasetik, dan klinis. Setelah verifikasi,
jumlah obat dan jenis obat dimasukkan melalui sistem IT dan diberi harga.
Setelah itu, obat disiapkan oleh petugas di depo farmasi. Petugas pelaksana
dispensing mengambil obat dengan jenis dan jumlah yang sesuai dengan
permintaan dalam resep, lalu dicatat mutasinya pada kartu stok. Selanjutnya, obat
diberi etiket dan dikemas. Setelah selesai dispensing, petugas depo mengantar
langsung ke masing-masing ruang rawat dan diterima oleh perawat. Berbeda
dengan resep harian, perawat atau dokter yang telah menyerahkan resep cito akan
menunggu obat yang di dispensing untuk segera dibawa ke ruang rawat. Untuk
sistem Unit Dose Dispensing (UDD), petugas di depo farmasi rawat inap
menyiapkan obat dalam kemasan kecil untuk setiap kali waktu minum sehingga
pasien bisa tepat waktu dalam meminum obat. Etiket obat sistem UDD berbeda
dengan etiket pada resep individual. Etiket pada sistem UDD terdapat ruangan,
nama obat, dan terutama jam waktu pasien untuk minum obat. Sistem UDD

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


71

dilakukan di rawat inap anak dan rawat inap bunda. Sistem UDD di rawat inap
anak hanya dilakukan di ruangan tanjung, teratai dan anggrek.
Obat pasien pulang dapat diretur apabila obat tidak digunakan oleh pasien,
dengan syarat obat masih dalam kondisi layak, berasal dari depo farmasi dan
terdapat cap bahwa obat berasal dari gudang farmasi. Prosedur retur obat yang
dilakukan di depo farmasi yaitu perawat mengecek perbekalan farmasi yang
diretur lalu menuliskan di form retur, menyerahkan obat ke depo, dan melakukan
pembatalan penggunaan obat ke kasir depo rawat inap untuk dilakukan
penyesuaian berdasarkan pemakaian. Prosedur retur obat tidak dilaksanakan
sepenuhnya sesuai dengan standar prosedur operasional yang telah ditetapkan. Hal
ini disebabkan karena sering terjadi kelalaian dari perawat dalam memberikan
informasi kepada petugas farmasi bahwa pasien akan pulang atau sudah tidak
menggunakan obat tersebut padahal pasien yang bersangkutan telah pulang ke
rumah. Salah komunikasi yang terjadi dapat menyebabkan pelayanan obat
menjadi tidak optimum dan proses retur obat pasien sudah pulang dapat memakan
waktu yang cukup lama.
Secara keseluruhan proses pendistribusian dan dispensing di setiap depo
farmasi sudah cukup baik dan mengikuti standar prosedur operasional yang
ditentukan. Namun masih terdapat sedikit kekurangan, yaitu pada saat peracikan
petugas tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dasar seperti masker,
sarung tangan, dan jas laboratorium. Selain itu, juru racik belum membiasakan
untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah meracik obat baik dengan handrub
atau sabun, serta tidak tersedianya tisu atau lap untuk mengeringkan setelah
mencuci tangan dengan sabun.
4.1.5 Produksi Sediaan Farmasi
Instalasi farmasi di RSAB Harapan Kita juga melakukan kegiatan produksi
untuk memenuhi perbekalan farmasi dalam melakukan pelayanan kefarmasian.
Kegiatan produksi yang dilakukan yaitu kegiatan produksi non steril. Produksi
dilakukan jika terdapat permintaan dari gudang terminal. Kriteria obat yang
diproduksi adalah sediaan farmasi yang dengan formula khusus yang tidak
tersedia di pasaran, sediaan farmasi dengan harga murah dan sediaan farmasi
dengan kemasan yang lebih kecil. Kegiatan produksi non steril yang dilakukan di

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


72

Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita meliputi pembuatan, pengeceran dan


pengemasan kembali sediaan farmasi (repacking). Produk sediaan farmasi yang
dibuat/ diracik oleh bagian produksi antara lain obat batuk hitam, obat batuk
putih, supositoria anti kejang dengan expired date enam bulan. Untuk kegiatan
pengemasan kembali antara lain vaselin album dan magnesium sulfat dengan
expired date sesuai dengan expired date dari pabrik sedangkan untuk kegiatan
pengencaran yaitu formalin, asam asetat, hidrogen peroksida dengan expired date
satu tahun. Penentuan tanggal expired belum melalui uji laboratorium. Formulasi
sediaan farmasi yang diproduksi di RSAB. Harapan Kita mengacu pada
formularium nasional, farmakope Indonesia dan resep dokter. Pada saat dilakukan
proses produksi petugas belum menggunakan APD secara lengkap. APD yang
digunakan hanya masker dan sarung tangan tanpa menggunakan jas laboratorium.
Pembuatan supositoria juga belum menggunakan cetakan supositoria karena
belum tersedianya alat pencetak, tetapi menggunakan kerucut terbuat dari kertas.
Kegiatan produksi steril belum dilakukan secara mandiri karena masih
dalam tahap perbaikan dan persiapan sarana dan prasarana, maka untuk sediaan
steril dilakukan kerjasama dengan RS Dharmais untuk obat sitostatika dan
RSUPN. DR. Cipto Mangunkusumo untuk repacking sediaan steril non sitotoksik.
4.1.6 Administrasi dan Pelaporan
Proses pelaporan di RSAB Harapan Kita sudah berjalan cukup baik dan
secara berkala. Laporan yang dibuat di RSAB Harapan Kita yaitu administrasi
perbekalan farmasi, yang meliputi laporan Penggunaan Obat Narkotik (Bulanan
dikirim ke Sudinkes), laporan Penggunaan Obat Psikotropik (Bulanan dikirim ke
Sudinkes), laporan Obat Generik (Bulanan dikirim ke Panitia Farmasi dan Terapi
RSAB Harapan Kita), laporan Obat HIV (per tanggal 25 tiap bulan dikirim ke
Ditjen P2PL), laporan Pemakaian Vaksin (Bulanan dikirim ke Sudinkes), laporan
Persediaan Perbekalan Farmasi (Gudang Terminal Farmasi, Depo Farmasi Rawat
Jalan, Depo Farmasi Rawat Inap dan Depo Produksi) perbulan, pertiga bulan dan
tahunan (stock opname), laporan obat expired, laporan Penggunaan Kas Kecil
setiap triwulan ke bagian keuangan, laporan Pemakaian Obat Poli Karyawan,
laporan Evaluasi Amprahan, laporan Pencapaian Sasaran Mutu, laporan Hasil
Produksi, dan laporan Kegiatan Farmasi Klinik yang meliputi Sasaran mutu

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


73

(pelayanan resep rawat jalan), laporan penggunaan antibiotika, laporan kunjungan


pasien, laporan obat-obat yang tidak terlayani, laporan retur perbekalan farmasi
untuk rawat inap. Laporan administrasi Keuangan meliputi laporan Pendapatan
Rawat Jalan Umum Tunai per shift yang harus direkonsiliasikan dengan kasir
setiap hari dan laporan Pendapatan dan Biaya (Bulanan, Triwulan, dan Tahunan).
Selain itu juga terdapat laporan administrasi Penghapusan yang dilakukan oleh
Tim Penghapusan RSAB Harapan Kita.

4.2 Kegiatan Farmasi Klinik RSAB. Harapan Kita


Pelayanan farmasi klinik di RSAB Harapan Kita meliputi, pemberian
informasi obat kepada tenaga kesehatan dan pasien yang membutuhkan, evaluasi
penggunaan obat dan pelayanan Unit Dose Dispensing (UDD) pada pasien rawat
inap. Beberapa kegiatan farmasi klinik belum dapat berjalan dengan baik di
RSAB Harapan Kita seperti, pengkajian kerasionalan resep, konseling, monitoring
efek samping obat, visite pasien, pengadaan Profil Pengobatan Penderita (P3).
Pemberian informasi obat kepada pasien atau tenaga kesehatan lainya sudah
berjalan, namun sifatnya masih pasif, yaitu informasi diberikan bila ada
permintaan. Keterbatasan jumlah tenaga apoteker dalam menjalankan kegiatan
farmasi klinik menjadi hambatan terbesar, namun IFRS RSAB Harapan Kita
kedepannya akan secara bertahap akan menjalankan dengan penuh kegiatan
farmasi klinik.

4.3 Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)


RSAB Harapan Kita memiliki Kanitia Farmasi dan Terapi (KFT) sebagai
wadah lintas profesi antara dokter, perawat dan apoteker dalam rumah sakit. KFT
mengadakan rapat secara rutin sebulan sekali membahas mengenai penggunaan
obat di dalam rumah sakit. RSAB Harapan Kita belum mempunyai formularium
rumah sakit dan saat ini masih dalam proses pembuatan. Saat ini RSAB. Harapan
Kita masih menggunakan Daftar Standar Obat yang disusun oleh Panitia
Standarisasi Obat sebagai pedoman penggunaan obat di dalam lingkungan rumah
sakit.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


74

4.4 Centralized Sterile Supply Departemen (CSSD)


Centralized Sterile Supply Departemen (CSSD) di RSAB Harapan Kita
telah mengalami perubahan tanggung jawab, dulu CSSD berada dibawah Instalasi
Farmasi tapi saat ini CSSD berada dibawah Instalasi Sandang dan CSSD yang
menurut kebijakan Rumah Sakit, berdiri secara mandiri sejak tahun 2006.
Meskipun penanggung jawab CSSD bukanlah seorang apoteker, namun Instalansi
Sandang dan CSSD dikepalai oleh seorang yang sangat kompeten dalam bidang
sterilisasi alat-alat atau perlengkapan rumah sakit. Kepala CSSD RSAB Harapan
Kita telah mengikuti pelatihan mengenai CSSD dan telah memiliki sertifikat.
Adapun alur kerja dari proses sterilisasi di CSSD sangat terdokumentasi mulai
dari penerimaan, dekontaminasi (pencucian, perendaman, pengeringan),
pengemasan, hingga proses sterilisasi. Distribusi alat kesehatan yang akan atau
telah disterilisasi di CSSD tidak dilakukan oleh petugas CSSD, melainkan oleh
petugas dari masing-masing ruangan dengan menggunakan trolley masing-masing
ruangan. Alat kesehatan dan barang habis pakai dalam kemasan steril yang telah
disterilisasi, diletakkan pada trolley milik masing-masing ruangan dan ditutupi
kain untuk meminimalisir resiko kontaminasi selama trolley dibawa menuju
ruangan. Kerjasama antara CSSD dengan Instalasi Farmasi, saat ini hanya terbatas
penyediaan barang habis pakai yang akan disterilisasi oleh CSSD, dan Gudang
Terminal Farmasi yang akan menyiapkan amprahan yang diminta CSSD. Tata
ruang CSSD sudah cukup sesuai dengan standar prosedur operasional yang telah
ditetapkan, yaitu ruangan tidak boleh bersudut. Namun, hal yang masih perlu
diperhatikan adalah sirkulasi udara di dalam ruangan, yaitu sebaiknya dalam
ruangaan selain harus terdapat exhaust juga harus terdapat High Efficiency
Particulate Air (HEPA) Filter yang dapat membantu agar udara dalam ruangan
CSSD tetap steril sehingga dapat meminimalisir resiko kontaminasi barang-
barang stok yang ada dalam CSSD yang telah disterilisasi. Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD) steril telah digunakan dengan disiplin oleh para personil
yang bekerja di CSSD. Suhu dan kelembapan udara juga terkontrol dengan baik.
Mesin untuk mensterilkan alat kesehatan telah dikalibrasi setiap hari untuk
menjaga kualitas dari pensterilan. Tes sampel dilakukan sebulan sekali, dimana
sampel berupa usapan (swab) dari alat atau mesin yang digunakan untuk sterilisasi

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


75

dikirim ke laboratorium. Selain itu, digunakan indikator yang ditaruh di dalam


barang yang disterilkan untuk menetukan baik atau tidak proses sterilisasi yang
dilakukan.

4.5 Pengolahan Limbah RSAB. Harapan Kita


Instalasi Kesehatan Lingkungan dan K3, sangat penting peranannya dalam
hal penanganan limbah padat dan limbah cair yang dihasilkan rumah sakit agar
tidak membahayakan masyarakat di sekitar rumah sakit. Untuk limbah cair,
pengolahannya dilakukan di IPAL sementara limbah padat, dipilih berdasarkan
asal limbah tersebut, limbah medis akan dimusnahkan dengan incenerator, limbah
organik akan dibuat pupuk kompos, limbah anorganik yang dapat direcycle akan
didaur ulang sementara yang tidak dapat didaur ulang akan dibuang di TPA, dan
limbah radioaktif akan dire-eksport.
Pengelolaan limbah padat dilakukan oleh pihak kedua yaitu PT. Arah. Hal
ini dilakukan untuk menjaga keamanan, efisiensi biaya, dan kerapihan kerja yang
jauh lebih baik dibanding dilakukan oleh pihak rumah sakit.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
a. Pelayanan farmasi profesional dari aspek manajemen yang telah dilakukan di
RSAB Harapan Kita antara lain kegiatan pemilihan, perencanaan, pengadaan,
penerimaan, produksi non steril, penyimpanan, pendistribusian, dan pelaporan.
Pelayanan dari aspek manajemen sebagian besar sudah berjalan dengan baik
dan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1197/MENKES/SK/X/2004 tentang standar pelayanan kefarmasian di rumah
sakit namun masih ada beberapa aspek yang perlu perhatian khusus. Kegiatan
farmasi klinik yang sudah berjalan yaitu, pemberian informasi obat kepada
tenaga kesehatan dan pasien yang membutuhkan, evaluasi penggunaan obat
dan pelayanan Unit Dose Dispensing (UDD) pada pasien rawat inap.
Berdasarkan kegiatan tersebut, pelayanan farmasi klinik di RSAB Harapan
Kita belum dilakukan sepenuhnya seperti yang tercantum dalam Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1197/MENKES/SK/X/2004.
b. Kegiatan teknik aseptik belum dilaksanakan secara mandiri karena sarana dan
prasarana masih dalam proses pengembangan, sehingga dilakukan kerjasama
dengan RS Kanker Dharmais untuk obat sitostatika dan RSUPN Cipto
Mangunkusumo untuk repacking sediaan steril nonsitotoksik.

5.2 Saran
5.2.1 Kegiatan Manajerial dan Farmasi Klinik.
a. Penggunaan SIRS dalam menunjang kegiatan pengelolaan perbekalan
farmasi perlu dilengkapi dengan pengolahan data stok minimum untuk
mempermudah dalam kegiatan perencanaan dan dalam pelayanan
resep.
b. Penyimpanan obat HIV di gudang terminal disusun secara alfabetis,
obat supositoria yang masih disimpan di suhu ruang sebaiknya

76 Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


77

disimpan dalam pharmaceutical refrigerator, serta pegawai tidak lagi


menyimpan minuman dalam pharmaceutical refrigerator.
c. Lemari penyimpanan psikotropika dan narkotika di depo rawat inap
anak dan UGD sebaiknya disesuaikan dengan persyaratan yang
terdapat dalam undang-undang.
d. Pengadaan print label etiket agar dapat mempercepat dan
mempermudah petugas dalam proses dispensing obat sehingga
pelayanan obat ke pasien akan lebih cepat dan meningkatkan patient
safety.
e. Pengadaan sistem peresepan online karena dengan sistem tersebut data
administratif pasien dapat dilakukan secara otomatis, mencegah
terjadinya medication error serta mempercepat pelayanan resep.
f. Sosialisasi alur pelayanan retur barang farmasi di depo rawat inap
kepada perawat untuk mengurangi kesalahan komunikasi dan
mempermudah proses retur obat pasien pulang.
g. Peracikan dilakukan dengan menggunakan APD lengkap dan
dilakukan cuci tangan sebelum dan sesudah proses peracikan.
h. Memasang wash table yang dilengkapi dengan kran air pada depo
UGD untuk mempermudah tenaga farmasi dalam membersihkan alat-
alat yang digunakan untuk meracik.
i. Pada ruang produksi non steril sebaiknya dilengkapi dengan exhaust
dan petugas menggunakan APD lengkap.
j. Pengadaan alat cetak suppsitoria, sehingga dapat mempercepat,
meningkatkan akurasi dosis, mempermudah pembuatan, dan
memperindah bentuk suppositoria yang dihasilkan.
k. Meningkatkan pelayanan farmasi klinik yang belum secara
menyeluruh dilaksanakan di RSAB Harapan Kita dengan cara
menambah jumlah apoteker fungsional serta memisahkan pekerjaan
apoteker managerial dan fungsional, agar apoteker fungsional dapat
fokus pada pelayanan pasien. Idealnya satu apoteker untuk 30 pasien
(Departemen Kesehatan RI.2004). Serta menambah jumlah asisten
apoteker untuk membantu kegiatan apoteker.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


78

l. Optimalisasi pelayanan pada setiap depo farmasi oleh apoteker dimana


yang bertanggung jawab atau yang menjadi kepala tim (kepala depo)
adalah apoteker bukan tenaga teknis kefarmasian.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


79

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2009). Pedoman Instalasi pusat


Sterilisasi (Central Sterile Supply Department/ CSSD) Di Rumah Sakit.
Jakarta: Departemen Kesehatan.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 1204/MenKes/SK/X/2004 tentang
Persyaratan Kesehatan Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri
Kesehatan RI No. 1197/ Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan
Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.
NHS. (2007). Design for patient safety “ a guide to the design of the dispensing
environment”. U.K : National Patient Safety Agency.
Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang No.36 tahun 2009 tentang
Kesehatan. Jakarta : Sekretariat Negara.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


80

LAMPIRAN

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


81

Lampiran 1. Struktur Organisasi RSAB Harapan Kita

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


82

Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi RSAB Harapan Kita

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


83

Lampiran 3. Surat Pesanan Barang

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


84

Lampiran 4. Bukti Penerimaan Barang

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


85

Lampiran 5. Alur Sistem Distribusi Obat Unit Dosis Secara Desentralisasi

Alur UDD

Dokter Pasien

Tim
Resep/Order Obat

Gudang Terminal
Konsumsi Obat

Depo Farmasi
Perawat

Dosis unit siap


P-3 Ruangan
Konsumsi

Apoteker

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


86

Lampiran 6. Kartu Pasien UDD

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


87

Lampiran 7. Formulir Pemberian Informasi Obat Pasien Pulang

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


88

Lampiran 8. Alur Pelayanan Resep Rawat Jalan

2 1 1 7

Keterangan gambar =

= Meja penerimaan resep dan input resep

= Kursi

= Meja peracikan

= Meja penulisan etiket dan pengemasan obat

= Rak obat

= Meja penyiapan obat sediaan tablet dan salep yang akan diracik

= Pharmaceutical refrigerator

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


89

(lanjutan)

= Meja penyerahan obat

= Lemari pengarsipan resep

= Meja komputer

= pintu

= jendela

Keterangan alur =
1
= Pasien mengambil no antrian

2 = Pasien menyerahkan resep untuk skrining resep dan mengecek ketersediaan


obat oleh asisten apoteker. Resep kemudian di input ke komputer untuk
pemberian harga. Untuk pasien jaminan resep diberi nomor dan langsung masuk
ke ruang penyiapan obat. Sedangkan untuk pasien tunai akan diberi nomor
untuk ke kasir terlebih dahulu.

= Pasien tunai membayar obat di kasir kemudian oleh pihak kasir resep beserta
3
kuitansi diletakan di keranjang yang ada pada jendela antara lalu obat disiapkan
oleh pihak farmasi.
4
= Obat racikan akan dicek oleh asisten apoteker terlebih dahulu perhitungan
obatnya, lalu obat disiapkan dan masuk melalui jendela antara untuk diletakan
di meja peracikan. Untuk obat yang tidak diracik langsung akan disiapkan etiket

5 dan dikemas.

= Obat racik diracik di meja peracikan.

6 = Obat yang tidak diracik dan obat racik selanjutnya akan disiapkan etiket dan
kemudian dikemas di dalam plastik.
7
= Obat kemudian diserahkan oleh apoteker.

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


90

Lampiran 9. Alur Pelayanan Resep Rawat Inap

Resep masuk

Pengkajian resep oleh apoteker


(skrining resep) dan mengecek
ketersediaan obat

Entry resep ke komputer oleh AA


kemudian pemberian harga dan cetak
kuitansi

Resep Tunai Resep Jaminan

Obat disiapkan

Pemberian etiket obat

Pengemasan obat

Obat diserahkan ke
ruang perawatan
Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


91

Lampiran 10. Surat Pesanan Narkotika

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


92

Lampiran 11. Surat Pesanan Psikotropika

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


93

Lampiran 12. Etiket

Etiket Putih Etiket UDD

Etiket Biru

Plastik Etiket

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


94

Lampiran 13. Salinan Resep

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


95

Lampiran 14. Alur Pelayanan Sterilisasi Sentral (CSSD)

Bangsal/ Unit Perawatan

Penerimaan Alat

Tidak
Seleksi Alat dan Pencatatan

Ya

Pencucian

Pengeringan

Pengemasan

SRF

Sterilisasi

Tidak

Kontrol Indikator

Gudang Alat Steril

Distribusi
Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


96

Lampiran 15. Bon Penerimaan Pensterilan CSSD

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014


97

Lampiran 16. Buku Catatan Pensterilan CSSD

Universitas Indonesia

Laporan praktek…, Eka Mutia Nuriani, F Far UI, 2014