Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

GESEKAN PADA BIDANG MIRING

Disusun Oleh :

1. Reky Mamola Saputra (0531 18040)


2. Fadlan Naufan F (0531 18042)
3. Sudarman (0531 18060)

Kelas : B

Tanggal Praktikum : 27, Oktober 2018

Asisten Praktikum :

1. Anggun F
2. Fitria M S, S.Farm
3. Tia Lestari, S.Farm
4. Vira M

LABORATORIUM FISIKA DASAR


PROGRAM STUDY TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR

2018
Bab I
Pendahuluan
a. Tujuan Praktikum
Mencari koefisien gesekan statis dan kinetis, percepatan dan kecepatan
benda yang bergerak meluncur pada bidang miring.
b. Dasar Teori
1. Gaya Gesek
Gaya gesek merupakan akumulasi interaksi mikro antar kedua
permukaan yang saling bersentuhan. Gaya-gaya yang bekerja antara
lain adalah gaya elektrostatik pada masing-masing permukaan.
Konstruksi mikro (nano tepatnya) pada permukaan benda dapat
menyebabkan gesekan menjadi minimum, bahkan cairan tidak lagi
dapat membasahinya (efek lotus) pada permukaan daun (misalnya
setetes air di atas daun keladi). Terdapat dua jenis gaya gesek antara
dua buah benda yang padat saling bergerak lurus, yaitu gaya gesek
statis dan gaya gesek kinetis, yang dibedakan antara titik-titik sentuh
antara kedua permukaan yang tetap atau saling berganti (menggeser).
Untuk benda yang dapat menggelinding, terdapat pula jenis gaya gesek
lain yang disebut gaya gesek menggelinding (rolling friction). Untuk
benda yang berputar tegak lurus pada permukaan atau ber-spin,
terdapat pula gaya gesek spin (spin friction). Gaya gesek antara benda
padat dan fluida disebut sebagai gaya Coriolis-Stokes atau gaya viskos
(viscous force). Berikut 4 contoh kemungkinan yang terjadi pada
benda yang bergerak di atas permukaan bidang tertentu.

 Benda yang memiliki permukaan kasar bergerak pada permukaan


yang kasar, contohnya mendorong balok di atas karpet.
 Benda yang memiliki permukaan kasar bergerak pada permukaan
yang halus, contohnya ban sepeda yang bergerak di atas lantai
keramik.
 Benda yang memiliki permukaan halus bergerak pada permukaan
yang kasar, contohnya es balok yang bergerak sesaat setelah
didorong di atas jalan yang berkerikil.
 Benda yang memiliki permukaan halus bergerak pada permukaan
yang halus, contohnya gelas yang menggelinding di atas kaca.

Gaya gesek statis adalah gesekan antara dua benda padat yang
tidak bergerak relatif satu sama lainnya. Seperti contoh, gesekan statis
dapat mencegah benda meluncur ke bawah pada bidang miring.
Koefisien gesek statis umumnya dinotasikan dengan μs, dan pada
umumnya lebih besar dari koefisien gesek kinetis. Gaya gesek statis
dihasilkan dari sebuah gaya yang diaplikasikan tepat sebelum benda
tersebut bergerak. Gaya gesekan maksimum antara dua permukaan
sebelum gerakan terjadi adalah hasil dari koefisien gesek statis
dikalikan dengan gaya normal f = μs Fn. Ketika tidak ada gerakan yang
terjadi, gaya gesek dapat memiliki nilai dari nol hingga gaya gesek
maksimum. Setiap gaya yang lebih kecil dari gaya gesek maksimum
yang berusaha untuk menggerakkan salah satu benda akan dilawan
oleh gaya gesekan yang setara dengan besar gaya tersebut namun
berlawanan arah. Setiap gaya yang lebih besar dari gaya gesek
maksimum akan menyebabkan gerakan terjadi. Setelah gerakan terjadi,
gaya gesekan statis tidak lagi dapat digunakan untuk menggambarkan
kinetika benda, sehingga digunakan gaya gesek kinetis. Gaya gesek
kinetis (atau dinamis) terjadi ketika dua benda bergerak relatif satu
sama lainnya dan saling bergesekan. Koefisien gesek kinetis umumnya
dinotasikan dengan μk dan pada umumnya selalu lebih kecil dari gaya
gesek statis untuk material yang sama. Yang memperngaruhi gaya
gesek adalah sebagai berikut :
1) Koefisien gesekan ( μ ) adalah tingkat kekasaran permukaan
yang bergesekan. Makin kasar kontak bidang permukaan yang
bergesekan makin besar gesekan yang ditimbulkan.
Jika bidang kasar sekali , maka μ = 1.
Jika bidang halus sekali , maka μ = 0.
2) Gaya normal (N) adalah gaya reaksi dari bidang akibat gaya
aksi dari benda. Makin besar gaya normalnya makin besar
gesekannya.
Cara merumuskan gaya normal adalah dengan memakai
persamaan hukum I Newton, yaitu ;
 Benda di atas bidang datar ditarik gaya mendatar
N = w = m.g
 Benda di atas bidang datar ditarik gaya membentuk sudut
 Benda di atas bidang miring membentuk sudut
2. Hubungan antara Gaya Gesek dengan Hukum Newton 1 dan
Hukum Newton 2
Hukum pertama Newton menyatakan bahwa sebuah benda
dalam keadaaan diam atau bergerak dengan kecepatan konstan akan
tetap diam atau akan terus bergerak dengan kecepatan kostan kecuali
ada gaya eksternal yang berkerja pada benda itu. Kecenderungan yang
digambarkan dengan mengatakan bahwa benda mempunyai
kelembaman. Pada Hukum pertama dan kedua Newton dapat dianggap
sebagai definisi gaya. Gaya adalah suatu pengaruh pada sebuah benda
yang menyebabkan benda mengubah kecepatannya, artinya,
dipercepat. Arah gaya adalah percepatan yang disebabkan jika gaya itu
adalah satu-satunya gaya yang bekerja pada benda tersebut. Besaran
gaya adalah hasil kali massa benda dan besaran percepatan yang
dihasilkan gaya. Sedangkan Massa adalah sifat instrinsik sebuah benda
yang mengukur resistansinya terhadap percepatan. (F = m.a)
Hukum kedua Newton menetapkan hubungan antara besaran
dinamika gaya dan massa dan kinematika percepatan, kecepatan dan
perpindahan. Hal ini bermanfaat karena memungkinkan
menggambarkan aneka gejala fisika yang luas dengan menggunakan
sedikit hukum gaya yang relative mudah.
Bab II
Alat dan Bahan
a. Alat
1) Papan luncur
2) Mistar ukur
3) Stopwatch
b. Bahan
1) 2 buah Balok kayu
Bab III
Metode Percobaan
1. Diletakkan balok diatas bidang luncur pada tempat yang sudah diberi
tanda. Diukur panjang lintasan yang akan dilalui oleh benda (St).
2. Diangkat bidang luncur perlahan-lahan hingga balok pada kondisi akan
meluncur. Diukur posisi vertikal (y) dan horizontal (x).
3. Diangkat bidang luncur sedikit keatas lagi hingga balok meluncur. Dengan
menggunakan stopwatch diukur waktu yang diperlukan balok selama
meluncur sepanjang lintasan tadi.
4. Diulangi percobaan nomor 1 sampai 3 lima kali, kemudian dihitung
koefisien gesek statis (μs), percepatan (a), koefisien gesek kinetis (μk) dan
kecepatan benda pada saat mencapai ujung bawah bidang luncur (Vt).
5. Dilakukan percobaan di atas dengan menggunakan benda yang lain.
Bab IV
Data Pengamatan Dan Perhitungan
a. Data Pengamatan
Berdasarkan pengamatan dan percobaan yang telah dilakukan pada
hari Sabtu 27 Oktober 2018, maka didapatkan hasilnya sebagai berikut.
Keadaan ruangan P(cm) Hg Temperature(0C) C(%)

Sebelum percobaan 75,55 cmHg 24,5 0C 50%

Sesudah percobaan 75,55 cmHg 24,5 0C 47%

 Balok A
Massa : 145,5 gr
No. x Y R sin cos μs μk a v α t
1. 57,7 25,6 63,12 0,40 0,91 0,44 0,40 33,22 64,78 23,58 1,95
2. 54,2 25,8 60,03 0,43 0,90 0,48 0,42 52,66 79,52 25,47 1,51
X 55,95 25,7 61,575 0,415 0,905 0,46 0,41 42,94 72,15 24,525 1,73
Δx 1,75 0,1 2,39 0,015 0,005 0,02 0,01 9,72 7,37 0,22
 Balok B
Massa : 149 gr
No. x Y R sin cos μs μk a v α t
1. 49,6 25 55,54 0,45 0,89 0,50 0,43 66,91 86,31 26,74 1,29
2. 53,1 25,5 58,90 0,43 0,90 0,48 0,40 69,70 90,61 25,47 1,30
X 51,35 25,25 57,22 0,44 0,895 0,49 0,42 68,305 88,46 26,105 1,295
Δx 1,75 0,24 1,68 0,01 0,005 0,01 0,01 1,40 2,15 0,005
b. Perhitungan Lengkap
1. Balok A
 Percobaan pertama
R = √𝑥² + y²

= √57,7² + 25,6²

= √3329,29 + 655,36 = √3984,65 = 63,12 cm


𝑦 25,6
Sin α = 𝑟 = 63,12 = 0,40
𝑥 57,7 2. 𝑠
Cos α = 𝑟 = 63,12 = 0,91 a= 𝑡²
sin 𝛼 0,40 2 . 63,12
μs = cos 𝛼 = 0,91 = 0,44 = 1,95²
g . sin 𝛼 −𝑎 126,24
μk = = = 33,22 cm /s
𝑔 . cos 𝛼 3,80
980 . 0,40 −33,22 358,78
= = = 0,40
980 . 0,91 891,8

V = a x t = 33,22 x 1,95 = 64, 78 cm/s


α = sinˉ¹ 0,40 = 23,58°
 Percobaan Kedua
R = √𝑥 2 + y 2

= √54,22 + 25,82

= √2937,64 + 665,64 = √3603,28 = 60,03 cm


𝑦 25,8
Sin α = 𝑟 = 60,03 = 0,43
𝑥 54,2 2. 𝑠
Cos α = = = 0,90 a=
𝑟 60,03 𝑡²
sin 𝛼 0,43 2 . 60,03
μs = cos 𝛼 = 0,90 = 0,48 = 1,51²
g . sin 𝛼 −𝑎 120,06
μk = = = 52,66 cm /s
𝑔 . cos 𝛼 2,28
980 . 0,43 −52,66 368,74
= = = 0,42
980 . 0,90 882

V = a x t = 52,66 x 1,51 = 79,52 cm/s


α = sinˉ¹ 0,43 = 25,47°
 Δx
(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (x) = √ 2 (2−1)

(55,95 – 57,7)2 + (55,95 – 54,2)2


=√ 2

3,06+ 3,06 6,12


=√ =√ = √3,06 = 1,75
2 2
(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (y) = √ 2 (2−1)

(25,7 – 25,6)2 + (25,7 – 25,8)2


=√ 2

0,01+ 0,01 0,02


=√ =√ = √0,01 = 0,1
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (R) = √ 2 (2−1)

(61,575 – 63,12)2 + (61,575 – 60,03)2


=√ 2

2,39+ 2,39 4,78


=√ =√ = √0,01 = 2,39
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (sin) = √ 2 (2−1)

(0,415 – 0,40)2 + (0,415 – 0,43)2


=√ 2

0,000225+0,000225 0,00045
=√ =√ = √0,000225 = 0,015
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (cos) = √ 2 (2−1)

(0,905 – 0,91)2 + (0,905 – 0,90)2


=√ 2

0,000025+ 0,000025 0,00005


=√ =√ = √0,000025 = 0,005
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅− 𝑋2 )2
Δx (μs) = √ 2 (2−1)

(0,46 – 0,44)2 + (0,46 – 0,48)2


=√ 2

0,0004 + 0,0004 0,0008


=√ =√ = √0,0004 = 0,02
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (μk) = √ 2 (2−1)

(0,41 – 0,40)2 + (0,41 – 0,42)2


=√ 2
0,0001 + 0,0001 0,0002
=√ =√ = √0,0001 = 0,01
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (a) = √ 2 (2−1)

(42,94 – 33,22)2 + (42,94 – 52,66)2


=√ 2

94,48 + 94,48 188,96


=√ =√ = √94.48 = 9,72
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (v) = √ 2 (2−1)

(72,15 – 64,78)2 + (72,15 – 79,52)2


=√ 2

54,32 + 54,32 108,64


=√ =√ = √54,32 = 7,37
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (t) = √ 2 (2−1)

(1,73 – 1,95)2 + (1,73 – 1,51)2


=√ 2

0,048 + 0,048 0,096


=√ =√ = √0,048 = 0,22
2 2

2. Balok B
 Percobaan pertama
R = √𝑥² + y²

= √49,6² + 25²

= √2460,16 + 625 = √3085,16 = 55,54 cm


𝑦 25 2. 𝑠
Sin α = 𝑟 = 55,54 = 0,45 a= 𝑡²
𝑥 49,6 2 . 55,54
Cos α = 𝑟 = 55,54 = 0,89 = 1,29²

sin 𝛼 0,45 111,08


μs = cos 𝛼 = 0,89 = 0,50 = = 66,91 cm /s
1,66

g . sin 𝛼 −𝑎 980 . 0,45 −66,91 374,09


μk = = = = 0,43
𝑔 . cos 𝛼 980 . 0,89 872,2

V = a x t = 66,91 x 1,29 = 86,31 cm/s


α = sinˉ¹ 0,45 = 26,74°
 Percobaan Kedua
R = √𝑥 2 + y 2

= √53,12 + 25,52

= √2819,61 + 650,25 = √3469,86 = 58,90 cm


𝑦 25,5
Sin α = 𝑟 = 58,90 = 0,43
𝑥 53,1 2. 𝑠
Cos α = 𝑟 = 58,90 = 0,90 a= 𝑡²
sin 𝛼 0,43 2 . 58,90
μs = cos 𝛼 = 0,90 = 0,48 = 1,30²
g . sin 𝛼 −𝑎 117,8
μk = = = 69,70 cm /s
𝑔 . cos 𝛼 𝑖,69
980 . 0,43 −69,70 351,7
= = = 0,40
980 . 0,90 882

V = a x t = 69,70 x 1,30 = 90,61 cm/s


α = sinˉ¹ 0,43 = 25,47°
 Δx
(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (x) = √
2 (2−1)

(51,35 – 49,6)2 + (51,35 –53,1)2


=√ 2

3,06+ 3,06 6,12


=√ =√ = √3,06 = 1,75
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (y) = √ 2 (2−1)

(25,25 – 25)2 + (25,25 – 25,5)2


=√ 2

0,06+ 0,06 0,12


=√ =√ = √0,06 = 0,24
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (R) = √ 2 (2−1)

(57,22 – 55,54)2 + (57,22 – 58,90)2


=√ 2

2,82+ 2,82 5,64


=√ =√ = √2,82 = 1,68
2 2
(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (sin) = √ 2 (2−1)

(0,44 – 0,45)2 + (0,44 – 0,43)2


=√ 2

0,0001+0,0001 0,0002
=√ =√ = √0,0001 = 0,01
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (cos) = √ 2 (2−1)

(0,895 – 0,89)2 + (0,895 – 0,90)2


=√ 2

0,000025+ 0,000025 0,00005


=√ =√ = √0,000025 = 0,005
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅− 𝑋2 )2
Δx (μs) = √ 2 (2−1)

(0,49 – 0,50)2 + (0,49 – 0,48)2


=√ 2

0,0001 + 0,0001 0,0002


=√ =√ = √0,0001 = 0,01
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (μk) = √ 2 (2−1)

(0,42 – 0,43)2 + (0,42 – 0,40)2


=√ 2

0,0001 + 0,0001 0,0002


=√ =√ = √0,0001 = 0,01
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (a) = √ 2 (2−1)

(68,305 – 66,91)2 + (68,305 – 69,70)2


=√ 2

1,95 + 1,95 3,9


=√ = √ 2 = √1,95 = 1,40
2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (v) = √ 2 (2−1)

(88,46 – 86,31)2 + (88,46 – 90,61)2


=√ 2
4,62 + 4,62 9,24
=√ =√ = √4,62 = 2,15
2 2

(𝑋̅ − 𝑋1 )2 + (𝑋̅ − 𝑋2 )2
Δx (t) = √ 2 (2−1)

(1,295 – 1,29)2 + (1,295 – 1,30)2


=√ 2

0,000025 + 0,000025 0,00005


=√ =√ = √0,000025 = 0,005
2 2
Bab V
Pembahasan

Setelah melakukan praktikum ini, kita tahu bahwa gaya gesek adalah gaya
yang terjadi antara benda dengan permukaan yang saling bersentuhan. Bahkan
walaupun benda tersebut tidak bergerak. Gaya gesek sebagaimana diketahui
arahnya berlawanan dengan gerak benda.

Permukaan bidang yang kasar akan membuat gesekan semakin besar


sehingga kecepatan laju balok sedikit lambat atau lebih cepat balok yang
permukaannya licin atau halus, pada saat mendorong benda secara terus-menerus
maka akan muncul fs (arah gaya gesek) yang membesar sampai benda itu tepat
bergerak, setelah benda bergerak, gaya gesek menurun sampai mencapai nilai
yang tepat, keadaan itu dikenal dengan gaya gesek kinetis. Maka gesekan kinetis
akan besar ketika sedut kemiringan itu rendah, sedang semakin tinggi gaya gesek
semakin kecil. Maka percepatannya akan berbeda antara balok yang beratnya
ringan dengan yang lebih berat. Sebab massa juga mempengaruhi kecepatan dan
gaya. Seperti pada Hukum Newton 2 (F = m. A).

Dari rumus tersebut dapat dibuktikan bahwa massa dan percepatan


berbanding lurus. Pada sudut kemiringan bidangnya lebih besar benda yang lebih
berat dikarenakan terjadi tekanan pada bidang miring dengan berat benda yang
menyebabkan hambatan, sedangkan benda yang lebih ringan akan mengalami
tekanan pada bidang lebih kecil, yang menghasilkan sudut kemiringan lebih kecil
pula. Kecepatannya lebih cepat yang ringan, karena berat balok mempengaruhi
tekanan balok ke bidang kasar, sehingga gesekan semakin besar, bisa
dihubungkan dengan W = m x g. jadi ada gravitasi yang mempengaruhi gesekan
dan mempengaruhi terhadap kecepatan.

 Kecepatan pada Balok A, massa = 145,5 gram


 Kecepatan pada Balok B, massa 149 gram
Bab VI
Kesimpulan

Dari percobaan, pengamatan dan perhitungan yang telah dilakukan, maka


dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

 Gaya gesek adalah gaya yang berarah melawan gerak benda atau arah
kecenderungan benda akan bergerak.
 Massa pada balok mempengaruhi kecepatan meluncur balok tersebut
diatas bidang miring
 Sudut kemiringan bidang mempengaruhi kecepatan dan waktu tempuh
balok saat meluncur
 Perhitungan hasil percobaan dilakukan dengan bantuan fungsi SD pada
kalkulator
Daftar Pustaka

Giancoli, Douglas C., 2001, Fisika Jilid I (terjemahan), Jakarta : Penerbit


Erlangga

Halliday dan Resnick, 1991, Fisika Jilid I, Terjemahan, Jakarta : Penerbit


Erlangga

Tipler, Paul A. 1991. Fisika Untuk Sains dan Teknik. Erlangga. Jakarta

Buku Penuntun Praktikum Fisika Dasar . Universitas Pakuan. Bogor


Lampiran
TUGAS AKHIR
1. Apa yang anda dapat simpulkan hubungan antara kekasaran balok
(koefisien gesek statis) dengan sudut kemiringan bidang luncur.
2. Jika dua balok yang beratnya berbeda tetapi kekasarannya sama, apa
yang dapat anda simpulkan mengenai:
a. Sudut kemiringan bidangnya.
b. Percepatannya (pada α yang sama).
c. Kecepatannya pada jarak tempuh dan waktu yang sama. Perkuat
pendapat anda dengan rumus-rumus yang berlaku pada teori.

JAWABAN
1. Permukaan bidang yang kasar akan membuat gesekan semakin besar
sehingga kecepatan laju balok sedikit lambat atau lebih cepat balok yang
permukaannya licin atau halus, pada saat mendorong benda secara terus-
menerus maka akan muncul fs (arah gaya gesek) yang membesar sampai
benda itu tepat bergerak, setelah benda bergerak, gaya gesek menurun
sampai mencapai nilai yang tepat, keadaan itu dikenal dengan gaya gesek
kinetis. Maka gesekan kinetis akan besar ketika sedut kemiringan itu
rendah, sedang semakin tinggi gaya gesek semakin kecil.
2.
a. Sudut kemiringan bidangnya lebih besar benda yang lebih berat
dikarenakan terjadi tekanan pada bidang miring dengan berat benda
yang menyebabkan hambatan, sedangkan benda yang lebih ringan
akan mengalami tekanan pada bidang lebih kecil, yang menghasilkan
sudut kemiringan lebih kecil pula.
b. Maka percepatannya akan berbeda antara balok yang beratnya ringan
dengan yang lebih berat. Sebab massa juga mempengaruhi kecepatan
dan gaya. Seperti Hukum Newton II (F = m.a)
Dari rumus tersebut dapat dibuktikan bahwa massa dan percepatan
berbanding lurus.
c. Kecepatannya lebih cepat yang ringan, karena berat balok
mempengaruhi tekanan balok ke bidang kasar, sehingga gesekan
semakin besar, bisa dihubungkan dengan W = m x g. jadi ada
gravitasi yang mempengaruhi gesekan dan mempengaruhi terhadap
kecepatan.

Anda mungkin juga menyukai