Anda di halaman 1dari 11

RURAL COMMUNITIES

Arneta Tasya (1705075), Dandung Gusty Priyoga (1703370), Dhea Wihda Amalia
(1705497),
Euis Sumarni (1705745)
Program Studi Pendidikan Geografi, Departemen Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu
Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia

ABSTRAK
Komunitas desa selama ini hanya kita kenal sebagai orang-orang yang tinggal
di pedesaan dengan segala kesederhanaannya. Namun ternyata di balik itu semua,
masyarakat desa saat ini juga banyak menghadapi permasalahan-permasalahan yang
mulai menghampiri kehidupan mereka. Permasalahan-permasalahan itu beraneka
ragam, mulai dari permasalahan ekonomi, sosial, pemanfaatan sumberdaya, dan lain-
lain. Permasalahan-permasalahan tersebut timbul dikarenakan adanya persinggungan
antara komunitas atau masyarakat perdesaan yang tradisional dengan kehidupan
modern yang membuat adanya ketimpangan di antara keduanya. Oleh karena itu,
perlu pembahasan lebih detail mengenai hal tersebut. Dalam artikel ini, akan dibahas
mengenai hal-hal tersebut, dimulai dari sederet permasalahan yang dihadapi oleh
komunitas atau masyarakat desa hingga solusi yang kami tawarkan guna
mengentaskan permasalahan-permasalahn tersebut.
ABSTRACT
The village community has only been known to us as people who live in the
countryside with all its simplicity. But it turns out that behind it all, the village
community today also faces many problems that begin to approach their lives. The
problems are diverse, ranging from economic, social, resource use, and others. These
problems arise because of the intersection between communities or traditional rural
communities with modern life which makes the gap between the two. Therefore, it is
necessary to discuss in more detail about this matter. In this article, we will discuss
these matters, starting from a series of problems faced by the community or village
community to the solutions we offer to alleviate these problems.
PENDAHULUAN
Kehidupan bermasyarakat yang ada disebuah negara tidaklah bersifat
homogen. Dikarenakan berbagai macam faktor yang membuat masyarakat hidup
dengan caranya masing-masing. Contohnya adalah masyarakat yang memilih tempat
tinggal berdekatan dengan kegiataan sehari-harinya untuk memenuhi kebutuhan.
Adapun objek yang akan menjadi bahasan kali ini adalah masyarakat pedesaan.
Kehidupan sosial masyarakat pedesaan umumnya masih berkaitan dengan
kegiatan adat istiadat, sehingga rasa kekeluargaan dan kekompakkan masyarakat akan
selalu dijunjung tinggi demi menjaga keutuhan adat istiadat yang sudah di wariskan
nenek moyang terdahulu. Terbatasnya kehidupan di pedesaan membuat masyarakat
pedesaan semaksimal mungkin dalam memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia
untuk dapat bertahan hidup. Dari hal tersebut juga mengakibatkan berbagai macam
permasalahan muncul dalam kehidupan sosial masyarakat pedesaan cenderung dapat
menghambat SDM masyarakat pedesaan untuk bisa berkembang. Beberapa
permasalahan tersebut dapat menjadi rujukan bagi pemerintah untuk dapat melakukan
pemerataan bagi kehidupan masyarakatnya yang masih bertempat tinggal dalam
negara tersebut, baik yang tinggal di perkotaan ataupun pedesaan. Karena potensi
yang dimiliki masyarakat tidak hanya terdapat di perkotaan saja, pedesaan juga
memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Rural Communities (Masyarakat Desa)
Menurut Poerwadarminta (1976) Rural Communities atau masyarakat
desa adalah sekelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan,
kampung (di luar kota); dusun;... 2 dusun atau udik (dalam arti daerah
pedalaman sebagai lawan dari kota);...”.
Terdapat istilah lain yang mirip dengan rural, yaitu village. Sedangkan
menurut The Random House Dictionary (1968), village adalah “a smaal
community or group of house in a rural area usually smaller than a town and
sometimes incorporated as amunicipality”
Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa yang dimaksud dengan
masyarakat kecil merupakan masyarakat yang berada di daerah pedesaan,
selain itu masyarakat kecil dapat disebut juga dengan rural community dimana
dapat diartikan sebagai suatu mayarakat yang anggotanya hidup pada suatu
lokalitas tertentu, memiliki kehidupan yang diliputi dengan urusan-urusan
yang menjadi tangungjawab bersama dan setiap anggota merasa terikat pada
norma-norma yang berlaku di masyarakt tersebut.
B. Karakteristik Masyarakat Desa
Soemarjan (1993) dalam Muta’ali (2013:49) menyatakan bahwa
kehidupan “ruralisme” masih berlaku kental pada masyarakat pedesaan,
walaupun diakui bahwa ada kecenderungan pergeseran ke arah “urbanisme”.
Ruralisme merupakan tata hidup masyarakat di daerah pedesaan (rural areas)
yang memiliki tata hidup agraris, berpegangan teguh pada adat yang telah
diturunkan dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya tanpa adanya
perubahan pada adat tersebut. Dalam “ruralisme” terdapat unsur-unsur yang
menjadi ciri khas dari masyarakat desa yaitu adanya sikap kekeluargaan,
gotong royong dan sikap pada kekuatan-kekuatan alam yang ada disekitarnya
serta adat dan agama yang merupakan sumber inovasi bagi kehidupan
masyarakat sehingga mampu menjaga dan melestarikan solidaritas yang kuat.
Terdapat berbagai pendapat yang menyebutkan mengenai perbedaan
antara kehidupan masyarakat kota dengan desa. Roucek (1984:102-111),
menyebutkan karakteristik tertentu yang membedakan kehidupan masyarak
desa dengan kota yaitu:
1. Pentingnya kelompok inti dan peranan kelompok inti di kalangan
penduduk desa.
2. Masyarakat desa saling kenal secara akrab.
3. Adanya homogenitas dalam hal mata pencaharian, kelas sosial, latar
belakang etnik dan ideologi.
4. Mobilitas sosial rendah.
5. Keluarga sebagai unit produksi ekonomi.
6. Tingginya jumlah anak pada rumah tangga petani.
7. Merupakan masyarakat agraris.
Selain Roucek (1984:102-111), Sorokin dan Zimmerman dalam Smith
dan P.E Zpo (1970), mengatakan bahwa terdapat sejumlah faktor yang
membedakan masyarakat desa dengan kota yaitu faktor mata pencaharian,
ukuran komunitas, tingkat kepadatan penduduk, diferensiasi sosial, stratifikasi
sosial, interaksi sosial dan solidaritas sosial.
1. Pekerjaan (Occupation)
Pada umumnya pekerjaan yang terdapat di masyarakat pedesaan masih
sangat bergantung kepada alam dan kurang bervariasi. Lynn Smith
(1951:44), mengemukakan bahwa desa memiliki obyek tentang
tanaman dan hewan.
2. Ukuran Masyarakat Pedesaan (Size of Rural Community) relatif kecil
Sifat pekerjaan pada bidang pertanian yang meuntut adanya tanah
tertentu bagi per orangnya, sehingga menimbulkan perbandingan rasio
yang tinggi antara tanah dan manusia merupakan realita yang
membuat besarnya komunitas menjadi hampir tidak mungkin
3. Kepadatan Penduduk (Density of population)
Kepadatan penduduk yang terdapat di pedesaan cenderung rendah,
perbandingan antara jumlah penduduk dengan luas tanah cenderung
besar sehingga menyebabkan rendahnya kepadatan penduduk di desa.
Hal itu menyebabkan hubungan sosial antara masyarakat pedesaan
menjadi lebih erat.
4. Lingkungan (Environment)
Memiliki karakteristik sebagai masyarakat yang agraris, masyarakat
pedesaan hidup dilingkungan yang berbeda dengan masyarakat kota.
Pada masyarakat pedesan terdapat kepentingan utama yang terkait
dengan kenyataan bahwa semua aspek kehidupan yang terdapat
dipedesaan dipengaruhi langsung oleh lingkungan fisik. Petani yang
berada dipedesan harus bekerja diluar rumah sehingga secara langsung
telah terpengaruh oleh cuaca. Karenanya masyarakat pedesaan jauh
lebih dipengaruhi oleh lingkungan fisik dibandingan dengan
masyarakat kota
5. Diferensiasi Sosial
Diferensiasi sosial sangat dipengaruhi oleh banyaknya jumlah
kelompok sosial yang ada. Di masyarakat pedesaan, jumlah kelompok
sosial yang ada tidak sebanyak seperti masyarakat kota. Wilayah
pedesaan pada dasarnya memiliki sifat yang homogen, karena hampir
semua anggota masyarakatnya memiliki keseragaman dalam hal mata
pencaharian, bahasa, adat sitiadat dan lainnya. Hal tersebut mungkin
saja dipengaruhi oleh adanya faktor generasi yang telah terjadi secara
turun temurun di desa tersebut, sehingga warisan sosial budaya (Social
Culture Heritage) hanya menjadi transfer of culture bagi generasi
berikutnya.
6. Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial yang ada pada masyarakat pedesaan berbeda dengan
stratifikasi yang terdapat pada masyarakat perkotaan. Diantaranya:
a. Jumlah kelas sosial yang terdapat pada masyarakat pedesaan jauh
lebih sedikit.
b. Perbedaan antar kelasnya tidak terlalu besar.
c. Jarak antar kelas sosial pada masyarakat pedesaan jauh lebih kecil.
d. Prinsip kasta tidak berlaku bagi masyarakat pedesaan.
7. Mobilitas Sosial
Mobilitas yang ada pada masyarakat pedesaan umumnya berbentuk
mobilitas horizontal, artinya mobilitas tersebut tidak memberikan
peningkatan dalam strata sosial yang ada
8. Solidaritas Sosial
Emile Durkheim mengatakan bahwa solidaritas sosial pada
masyarakat perdesaan merupakan kesatuan (unity) yang didasarkan
atas persamaan-persamaan, yaitu kesatuan yang dihasilkan dari sifat-
sifat atau ciri-ciri yang sama (common traits), tujuan yang sama, serta
pengalaman yang relatif sama. Solidaritas semacam ini disebut
solidaritas mekanis.
9. Kontrol Sosial
Kontrol sosial yang terdapat pada masyarakat pedesaan masih
tergolong sangat kuat terkait dengan pranata-pranata berupa norma-
norma dan nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat pedesaan.
Menurut Dwight Sanderson kuat atau tidaknya kontrol sosial
depengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a. Stabilitas dan solidaritas yang kuat di kalangan keluarga petani, dan
adanya kenyataan bahwa para anggotanya hampir semuanya
mempunyai usaha yang sama.
b. Besarnya kekuatan kelompok kekerabatan, umumnya petani tidak
bergerak jauh dari tempat tinggalnya, dan mereka lebih dipengaruhi
oleh ikatan desa mereka.
c. Besarnya stabilitas hubungan komunitas diantara mereka, karena
memiliki tempat tinggal yang lebih permanen.
d. Saling mengenal di antara sesama penduduk desa
10. Tradisi Lokal Masyarakat Pedesaan Masih Kuat
Kehidupan pada masyarakat pedesaan banyak kaitannya dengan
tradisi, nilai, dan norma adat yang telah berkembang secara turun
temurun menjadikan masyarakat pedesaan cenderung kurang dinamis,
kurang rasional, dan kurang kritis.
Selain beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan karakteristik masyarakat
desa dan kota yang telah di jelakan menurut Sorokin dan Zimmerman diatas,
terdapat beberapa karakteristik umum yang menjadi ciri dari kehidupan
masyarakat desa yaitu:
1. Sederhana
Kehidupan masyarakat pedesaan sebagian besar hidup dalam
kesederhanaan yang terjadi karena dua hal yaitu karena secara ekonomi
masyarakat desa masih tergolong tidak mampu dan secara budaya,
masyarakat desa tidak memiliki sifat untuk menyombongkan diri.
2. Mudah curiga
Masyarakat pedesaan yang sebagian besar kehidupannya masih sangat
bergantung pada alam dan belum tersentuh oleh hal-hal modern menjadi
sangat mudah curiga terhadap hal-hal baru yang datang dan tidak
dipahami oleh mereka serta orang-orang atau kelompok-kelompok yang
mereka anggap asing.
3. Menjunjung tinggi “unggah-unggah”
Unggah-unggah atau kesopanan merupakan hal yang sangat dijunjung
tinggi oleh masyrakat pedesaaan, beberapa perilaku yang menunjukkan
tingginya masyarakat pedesan menjunjung unggah-unggah yaitu apabila
bertemu dengan tetangga, bertemu dengan pejabat, bertemu dengan orang
yang lebih tua/dituakan, bertemu dengan orang yang lebih mampu secara
ekonomi, dan bertemu dengan orang yang memiliki pendidikan tinggi.
4. Guyub, kekeluargaan
Ikatan kekeluargaan atau guyub yang ada pada masyarakat pedesaan
merupakan karakteristik khas untuk mereka. Karena guyub atau
kekeluargaan tersebut telah “mendarah-daging” dalam kehidupan
masyarakat pedesaan.
5. Lugas
Lugas atau berbicara apa adanya juga merupakan salah salu karakteristik
khas pada masyarakat pedesaan, mereka tidak terlalu mempedulikan
apakah ucapan yang mereka katakan dapat menyakiti orang lain atau
tidak. Hal tersebut karena mereka tidak bermaksud untuk menyakiti orang
lain namun karena mereka sangat mejunjung tinggi nilai kejujuran.
6. Tertutup dalam hal keuangan
Masyarakat pedesaan tidak cukup senang ketika ditanyai mengenai
keuangan, mereka cenderung tertutup dalam hal itu terutama kepada orang
yang belum dikenalnya.
7. Perasaan “minder” terhadap orang kota
Ketika bertemu atau bergaul dengan orang kota, masyarakat pedesaan
cenderung akan lebih banyak diam dan tidak banyak berbicara karena
memiliki perasaan minder yang cukup besar terhadap orang kota.
8. Menghargai (“ngajeni”) orang lain
Masyarakat pedeaan selalu mengingat dan memperhitungkan kebaikan
yang dilakukan orang lain kepadanya sehingga akan berusaha untuk
membalas budi sebesar-besarnya. Selain dalam bentuk material, wujud
balas budi tersebut dapat berupa penghargaan sosial yang apabila dalam
bahasa Jawa disebut dengan “ngajeni”
9. Jika diberi janji, akan selalu diingat
Bagi masyarakat pedesaan, janji yang sudah diucapkan oleh seseorang
atau sekelompok orang tertentu akan selalu diingat terutama yang
berkaitan dengan kebutuhan hidup mereka. Hal tersebut terjadi karena
adanya pengalaman yang telah mereka alami, khususnya janji mengenai
program pembangunan di daerah mereka.
10. Suka gotong-royong
Kegiatan gotong-royong hampir dimiliki oleh seluruh masyarakat
pedesaan di Indonesia. Tanpa dimintai pertolongan pun, masyarakat
pedesaan akan dengan senang hati membantu tetangganya yang sedang
dalam kesusahan atau sedang melaksanakan hajat.
11. Demokratis
Pengambilan keputusan yang ada di masyarakat pedesaan selalu dilakukan
dengan musywarah untuk mufakat.
12. Religius
Salah satu karakteristik yang sellau melekat pada masyarakat pedesaan
adalah sifat religius yang dimiliki mereka. Msyarakat pedesaan dikenal
sangat religius, dimana dalam aktivitas kesehariannya mereka tidap pernah
lupa untuk menjalnkan ibadah agamanya.
C. Masalah Yang Ada Pada Masyarakat Desa
1. Ekonomi
Masalah ekonomi merupakan masalah yang sering terjadi pada
masyarakat pedesaan, karena mata pencaharaian utama masyarakat desa
yang hampir semua anggota masyarakatnya bekerja pada sektor pertanian
dimana keberhasilan panen tidak dapat dipastikan menjadikan kehidupan
perekonomian masyarakat pedesaan pun menjadi tidak pasti. Selain itu
banyak pula para petani di desa yang tidak memiliki lahan sendiri .
2. Kebudayaan
Karena banyaknya budaya-budaya yang berasal dari luar masuk ke dalam
masyarakat pedesaan tanpa adanya filterisasi terhadap budaya-budaya
tersebut menjadikan nilai-nilai budaya yang ada lambat laun akan
menghilang.
3. Sosial
Mentalitas merupkan permasalahan sosial yang banyak terjadi pada
masyarakat pedesaan, dimana banyak masyarakat yang kurang peka
terhadap pembangunan yang terjadi pada daerahnya menjadikan desa yang
mereka tempati menjadi kurang berkembang.
4. Sumber Daya Manusia
Masalah sumber daya manusia yang terdapat pada masyarakat umumnya
berakar pada masalah pendidikan yang masih rendah. Masih banyak
sarana dan prasarana pendidikan yang belum optimal pada wilayah
pedesaan menjadikan tingkat dan kualitas masyarakat pedesaan menjadi
rendah.

KESIMPULAN/SARAN
Masyarakat desa yang memiliki adat istiadat yang kuat cukup membuat
masyarakat desa tersebut memiliki ikatan kekeluargaan yang cukup erat dan memiliki
tingkat kekompakan yang membuat masyarakat desa bisa terlihat seragam dan dapat
mengenal antara satu dengan yang lainnya. Walaupun desa memiliki tingkat
kekluargaan yang erat, desa juga memiliki kekurangan yaitu dari SDM yang sulit
berkembang atau bisa disebut monoton, sehingga sulit bersaing dengan wilayah lain.
Selain itu, desa juga memiliki aturan atau norma yang cukup kuat dan
dipegang teguh oleh masyarakatnya, demi kesejahteraan dan kenyamanan bersama.
Selain itu kurangnya kepekaan masyarakat terhadap perubahan wilayahnya, dan
kurangnya filterisasi atau memilih dan memilah budaya yang masuk ke wilayah
pedesaan yang akan membuat budaya asli dari sebuah desa mulai tercampur dengan
budaya asing sehingga sudah tidak murni lagi.
Saran dari penulis untuk desa adalah, meningkatkan kualitas SDM yang ada,
karena apabila SDM yang berkualitas akan membawa desa menjadi lebih berkualitas
juga. Selain itu, tingkatkan juga kepekaan terhadap perubahan yang ada di sekitar
kehidupan desa dan alam sekitar, demi menjaga ekosistem yang ada, dan lebih
memilah lagi budaya yang masuk ke desa agar kebudayaan yang sebelumnya ada dan
hidup di sebuah desa tidak tercampur dengan budaya lain, sehingga budaya tersebut
masih alami, murni dari desa tersebut. Selebihnya pertahankan tingkat kekeluargaan
dan norma-norma yang berlaku, karena hal tersebut merupakan ciri khan yang
menjadi daya Tarik desa ketimbang kota.
DAFTAR PUSTAKA
Suparmini. (2015). Masyarakat Desa Dan Kota (Tinjauan Geografis, Sosiologis Dan
Historis). Buku Ajar. Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.
Yogyakarta.
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://staffnew.uny.ac.id/upload
/198608172014042001/pendidikan/bahan-ajar-masy-kota-
desa.pdf&ved=2ahUKEwiVjJy_v__gAhWa6nMBHatXANUQFjABegQIBBAB&usg=
AOvVaw0GUhuDT3Dpr8QAcjIvkVU7
Waluya, Bagja.tanpa tahun. Masyarakat Pedesaan (Rural Community). Bandung.
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://file.upi.edu/Direktori/FPI
PS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197210242001121-
BAGJA_WALUYA/GEOGRAFI_DESAKOTA/Rural_Comunity.pdf&ved=2ahUKEwi
1kouhkf_gAhXJXSsKHfztCx8QFjAAegQIBRAB&usg=AOvVaw2ivrnuMVZk2J5kGZ2
pdZwW