Anda di halaman 1dari 173

RPS DAN BAHAN AJAR

MATAKULIAH
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
54236142

Oleh:
R. Eka Murtinugraha, MPd.
NIP 19670316 20011 2 1001

M. Agphin Ramadhan, MPd.

RPS INI DIBIAYAI OLEH DANA BLU


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
TAHUN ANGGARAN 2017
BERDASARKAN SURAT KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
NOMOR : 482/SP/2017
TANGGAL: 5 MEI 2017
PRODI S1 PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
TAHUN 2017
HALAMAN PENGESAHAN

MATAKULIAH
KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
54236142

Penyusun :
Ketua : R.Eka Murtinugraha, M.Pd
Anggota : M. Agphin Ramadhan, M.Pd

Jakarta, November 2017


Penyusun,

R.Eka Murtinugraha, MPd.


NIP. 19670316 200112 1001

Mengetahui,

Ketua KBI _________________

_________________________
NIP. ……………………………..

Wakil Dekan I FT UNJ

Dr. Moch. Sukardo, M.Pd


NIP. 195807201985031003
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER
(RPS)

PROGRAM STUDI : S1 PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN


MATA KULIAH : K3
BOBOT : 2 SKS
DOSEN PENGAMPU : Anisah, M.T/
R. Eka Murtinugraha, M.Pd

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
2017
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER
(RPS)

Universitas : Universitas Negeri Jakarta


Fakultas : Teknik
Program Studi : S1 Pendidikan Teknik Bangunan
Mata Kuliah : K3
Bobot/Sks : 2 SKS
Kode Mata Kuliah : 54236142
Sifat : (1) Teori (2) Seminar (3) Praktikum
Pra-Syarat (jika ada) : -
Semester : Ganjil 2017-2018 (107)
Periode Kuliah : September – Desember 2017
Jumlah Pertemuan tatap muka : Teori 14x 100 menit
Jadwal Kuliah :
Ruang :
Dosen Pengampu : Anisah, M.T/
R. Eka Murtinugraha, M.Pd

࿿࿿࿿࿿࿿࿿࿿࿿135 DESKRIPSI
Mata kuliah ini membahas kosep dasar-dasar K3, K3 Pekerjaan Konstruksi yang meliputi: K3
Pekerjaan Tanah, K3 Pekerjaan Struktur, K3 Pekerjaan Pembongkaran, dan K3 Pekerjaan
Konstruksi Baja, K3 Angkat dan Agkut, K3 Penanggulangan Kebakaran, K3 Listrik, Kesehatan Kerja,
Investigasi Kecelakaan Kerja, Manajemen Risiko K3, dan Penilaian Risiko

࿿࿿࿿࿿࿿࿿࿿࿿136 CAPAIAN PEMBELAJARAN LULUSAN (CPL)

Ranah Capaian Pembelajaran Lulusan


Sikap 1. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas
berdasarkan agama,moral, dan etika;
2. Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan kemajuan
peradaban berdasarkan Pancasila;
3. Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, agama, dan
kepercayaan, serta pendapat atau temuan orisinal orang lain;
4. Bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial serta kepedulian
terhadap masyarakat dan lingkungan;
5. Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara;
6. Menginternalisasi nilai, norma, dan etika akademik;
7. Menunjukkan sikap bertanggungjawab atas pekerjaan di bidang
keahliannya secara mandiri;
8. Menginternalisasi semangat kemandirian, kejuangan, dan
kewirausahaan;
Pengetahuan 1. konsep teoritis kependidikan dan perancangan konstruksi
bidang teknik sipil serta terapannya di sekolah;
2. konsep pembelajaran praktik di laboratorium dan di bengkel;
3. prinsip-prinsip dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
dan cara penerapannya dalam pembelajaran praktik dan
dalam pekerjaan konstruksi di industri;
Keterampilan umum 1. Mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis, dan
inovatif dalam konteks pengembangan atau implementasi ilmu
pengetahuan dan teknologi yang memperhatikan dan
menerapkan nilai humaniora yang sesuai dengan bidang
keahliannya;
2. Mampu menunjukkan kinerja mandiri, bermutu, dan terukur;
3. Mampu mengkaji implikasi pengembangan atau implementasi
ilmu pengetahuan teknologi yang memperhatikan dan
menerapkan nilai humaniora sesuai dengan keahliannya
berdasarkan kaidah, tata cara dan etika ilmiah dalam rangka
menghasilkan solusi, gagasan, desain atau kritik seni;
4. Mampu mengambil keputusan secara tepat dalam konteks
penyelesaian masalah di bidang keahliannya, berdasarkan hasil
analisis informasi dan data;
5. Mampu memelihara dan mengembangkan jaringan kerja
dengan pembimbing, kolega, sejawat baik di dalam maupun di
luar lembaganya;
6. Mampu bertanggungjawab atas pencapaian hasil kerja
kelompok dan melakukan supervisi dan evaluasi terhadap
penyelesaian pekerjaan yang ditugaskan kepada pekerja yang
berada di bawah tanggungjawabnya;
7. Mampu melakukan proses evaluasi diri terhadap kelompok
kerja yang berada dibawah tanggung jawabnya, dan mampu
mengelola pembelajaran secara mandiri; dan
8. Mampu mendokumentasikan, menyimpan, mengamankan,
dan menemukan kembali data untuk menjamin kesahihan dan
mencegah plagiasi.
Keterampilan Khusus 1. mampu melaksanakan pembelajaran praktik bidang teknik sipil
di laboratorium dan bengkel sekolah dengan menerapkan
standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) untuk
membudayakan K3 bagi peserta didik;

C. CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH (CPMK)


CPMK SUB-CPMK
1. Mampu memahami prinsip dasar K3 1.1 Mampu menjelaskan dasa-dasar K3
2. Mampu menguasai konsep K3 pekerjaan 2.1 Mampu mendeskripsikan K3 Pekerjaan
konstruksi bangunan Tanah
2.2 Mampu mendeskripsikan K3 Pekerjaan
Struktur
2.3 Mampu menjelaskan K3 Pekerjaan
Pembongkaran
2.4 Mampu menjelaskan K3 Pekerjaan
Konstruksi Baja
3. Mampu menguasai konsep K3 pendukung 3.1 Mampu menjelaskan K3 Angkat dan Angkut
pekerjaan konstruksi dan manajemen risiko 3.2 Mampu menjelaskan K3 Listrik
K3 3.3 Mampu menjelaskan kesehatan kerja
3.4 Mampu menjelaskan investigasi
kecelakaan kerja
3.5 Mampu menjelaskan manajemen risiko K3

D. MATERI
POKOK MATERI SUB-MATERI
1. RPS dan Dasar-Dasar K3 Filosofi K3, Jenis-jenis potensi bahaya; tindakan
pencegahan berdasarkan potensi bahaya; dan
tugas dan profesi yang berkaitan dengan K3
2. K3 Pekerjaan Konstruksi Penyelenggaraan pekerjaan konstruksil;
masyarakat jasa konstruksi; alat pelindung diri;
K3 pekerjaan tanah; K3 pekerjaan struktur; K3
pekerjaan pembongkaran; K3 pekerjaan
konstruksi baja
3. K3 Angkat dan Angkut Jenis pesawat angkat dan angkut; potensi
bahaya pekerjaan angkat dan angkut; dan
tindakan pengendaliannya
4. K3 Penanggulangan Kebakaran Dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan K3
penanggulangan kebakaran; manajemen
penanggulangan kebakaran; masalah-masalah
kebakaran pada gedung
5. K3 Listrik Potensi bahaya listrik; proteksi bahaya listrik;
landasan peraturan K3 listrik; dan pengawasan
K3 listrik
6. Kesehatan Kerja Regulasi yang berkaitan dengan kesehatan kerja;
tujuan kesehatan kerja; dan P3K serta proses
evakuasi
7. Investigasi Kecelakaan Kerja Tujuan dan manfaat penyelidikan kecelakaan
kerja; contoh penyelidikan kasus-kasus
kecelakaan; metode dan kegunaan analisis
kecelakaan
8. Manajemen Risiko K3 Pengertian identifikasi bahaya; kegiatan
identifikasi bahaya; analisis kemungkinan
bahaya; dan tindakan pengendalian
9. Penilaian Risiko Langkah umum penilaian risiko; dan contoh
penilaian risiko

0 KEGIATAN PEMBELAJARAN (METODE)


Pembelajaran akan dilakukan dengan strategi student active learning. Dosen akan mendorong
dan memfasilitasi mahasiswa untuk aktif mencari dan menemukan berbagai konsep yang harus
dikuasai. Untuk memenuhi kondisi tersebut, ada beberapa kegiatan utama yang akan
dilaksanakan dalam perkuliahan:
0 Presentasi (penyajian) materi oleh dosen. Dosen mempresentasikan materi di pertemuan
pertama. Materi yang dipresentasikan adalah kontrak kuliah, garis besar keseluruhan
konsep/materi yang akan dipelajari dalam satu semester. Pembagian tugas (individu dan
kelompok) juga diinformasikan dan disepakati pada pertemuan ke-1. Pertemuan selanjutnya
kelompok mahasiswa menyajikan materi sesuai pembahasan yang telah disepakati.
1 Penugasan. Mencakup penugasan individu, kelompok, studi kasus, dan tugas besar.
2 Diskusi kelas. Setiap kelompok mendapat kesempatan untuk presentasi paper kelompok
dalam diskusi kelas. Pada setiap akhir diskusi kelas, dosen harus memberikan presentasi
untuk mengklarifikasi materi yang dibahas dalam diskusi.

0 TUGAS (TAGIHAN)
Ada beberapa tugas (sebagai tagihan) yang harus dikerjakan dan diserahkan oleh mahasiswa,
selama mengikuti perkuliahan, yaitu:
0 Tugas Individu. Soal berkaitan dengan kasus-kasus sesuai dengan materi yang diajarkan.
1 Tugas Kelompok. Pada pertemuan ke-3 sampai ke pertemuan ke-13, kelompok mahasiswa
menyajikan materi sesuai dengan pembahasan materi yang telah ditetapkan. Penyajian
disampaikan dalam bentuk slide dan makalah
2 Tugas Observasi. Pada pertemuan ke-2 mahasiswa melakukan observasi ke lingkungan proyek untuk
mengenal deskripsi kerja bagian K3 di lingkungan industri konstruksi, kecelakaan kerja yang
pernah/sedang terjadi, dan tindakan/upaya pengendalian/pencegahan kecelakaan kerja
3 Tugas Akhir. Melakukan dan membuat laporan observasi yang berkaitan tentang penilaian risiko
pada dunia kerja industri konstruksi.
0 PENILAIAN
 Metode:
Tes tulis

 Instrumen
Lembar/soal tes

 Komponen dan proporsi penilaian


1. Tugas (Individu, Kelompok, dan Observasi) 20%
2. Tugas Akhir 25%
3. UTS 25%
4. UAS 30%

0 Kriteria Kelulusan
TINGKAT PENGUASAAN (%) HURUF ANGKA KETERANGAN
86– 100 A 4 Lulus
81– 85 A- 3,7 Lulus
76– 80 B+ 3,3 Lulus
71– 75 B 3,0 Lulus
66– 70 B- 2,7 Lulus
61– 65 C+ 2,3 Lulus
56– 60 C 2,0 Lulus
51– 55 C- 1,7 Belum Lulus
46 – 50 D 1 Belum Lulus
0 – 45 E 0 Belum Lulus

← PERATURAN (TATA TERTIB)


← Hadir dalam perkuliahan tatap muka minimal 80% dari jumlah pertemuan ideal
← Setiap mahasiswa harus aktif dan partisipatif dalam perkuliahan.
← Hadir di kelas tepat waktu sesuai dengan waktu yang ditetapkan/disepakati.
← Toleransi keterlambatan adalah adalah 10 menit. Jika melewati batas waktu toleransi maka
mahasiswa dianggap tidak hadir.
← Ada pemberitahuan jika tidak hadir dalam perkuliahan tatap muka.
← Selama perkuliahan berlangsung, Handphone dalam posisi off atau silent.
← Meminta izin (dengan cara mengangkat tangan) jika ingin berbicara, bertanya, menjawab,
meninggalkan kelas atau keperluan lain.
← Saling menghargai dan tidak membuat kegaduhan/gangguan/ kerusakan dalam kelas.
← Tidak boleh ada plagiat dan bentuk-bentuk pelanggaran norma lainnya.
← Berpakaian rapih dan sopan. Masiswa wajib memakai kemeja, atau kaos berkerah, celana
panjang, dan bersepatu. Mahasiswi wajib berpakaian menutup dada, lengan, betis, dan
tidak ketat.

← SUMBER (REFERENSI)
← Reese, Charles D. 2004. Office Building Safety and Health. Washington DC: CRC Press.
← Glismann, Peter J. 2013. Systems Engineering and Safety: Building The Bridge. Boca Raton:
CRC Press.
← Ridley, John. 2008. Ikhtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Erlangga.
← Boedi Rijanto. 2010. Pedoman Praktis Keselematan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L)
Industri Konstruksi. Jakarta: Mitra Wacana Media.
← Tarwaka. 2016. Dasar-dasar Keselamatan Kerja Serta Pencegahan Kecelakaan di Tempat
Kerja. Surakarta: Harapan Press.
← I Gede Widayana dan I Gede Wiratmaja. 2014. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Singaraja:
Graha Ilmu.
← Rudi Suardi. 2005. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: PPM
← Paimin Napitupulu, dkk. 2014. Evaluasi Sistem Proteksi Kebakaran Perusahaan. Jakarta: PT.
ALUMNI Bandung.
← Toriq A. Ghuzdewan. 2015. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Proyek Konstruksi. Yogyakarta:
Biro Penerbit KMTS FT UGM

← RINCIAN RENCANA KEGIATAN (SATUAN ACARA PERKULIAHAN)


………………………………………………………………………………………………………………………………………………..…….
(ditulis dalam bentuk matrik. Lihat halaman berikut)
RINCIAN RENCANA KEGIATAN (SATUAN ACARA PERKULIAHAN)
Capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK):
← Mampu memahami prinsip dasar K3
← Mampu menguasai konsep K3 pekerjaan konstruksi bangunan
← Mampu menguasai konsep K3 pendukung pekerjaan konstruksi dan manajemen risiko K3

Pert.ke Capaian Materi Indikator Kegiatan Alokasi Sumber dan Penilaian/


(tgl.) Pembelajaran Pembelajaran waktu Media Tagihan
(Metode)
1 Mahasiswa RPS dan Dasar-Dasar K3 Filosofi K3, Jenis-jenis Dosen menyajikan 100’  RPS.
Tgl...... memiliki potensi bahaya; tindakan dan mendiskusikan  Laptop, LCD
pemahaman pencegahan berdasarkan kontrak kuliah (RPS)  Literatur yang
tentang tujuan, potensi bahaya; dan tugas bersama mahasiswa. akan digunakan
ruang lingkup dan profesi yang berkaitan
materi, strategi dengan K3 RPS dibagikan kepada
dan evaluasi mahasiswa.
perkuliahan
(memahami dan Membagi dan
menyepakati menyepakati tugas.
kontrak kuliah).
Presentasi oleh dosen
Mampu
menjelaskan dasa-
dasar K3
2 Mampu mengenal Observasi K3 (pertama) Mengenal deskripsi kerja 100’
Tgl...... profesi K3 di bagian K3 di lingkungan
lingkungan industri industri konstruksi,
konstruksi kecelakaan kerja yang
pernah/sedang terjadi,
7
dan tindakan/upaya
pengendalian/pencegahan
kecelakaan kerja
3 Mampu K3 Pekerjaan Konstruksi I Penyelenggaraan  Presentasi dan 100’  Bahan Ajar
Tgl...... mendeskripsikan pekerjaan konstruksi, klarifikasi materi  Laptop, LCD
K3 Pekerjaan masyarakat jasa oleh dosen  PPT
Konstruksi. konstruksi, Alat Pelindung  Diskusi kelas
Diri, dan K3 Pekerjaan
Tanah
4 Mampu K3 Pekerjaan Konstruksi II K3 Pekerjaan Konstruksi,  Presentasi dan 100’  Bahan Ajar
Tgl...... mendeskripsikan yang terdiri dari: klarifikasi materi  Laptop, LCD
K3 Pekerjaan pekerjaan bekisting, oleh dosen  PPT
Konstruksi. pekerjaan pembesian,  Diskusi kelas
pekerjaan beton,
pekerjaan shotcrete, dan
pekerjaan di ketinggian.
5 Mampu K3 Pekerjaan Konstruksi III K3 Pekerjaan  Presentasi dan 100’  Bahan Ajar
Tgl...... mendeskripsikan Pembongkaran dan K3 klarifikasi materi  Laptop, LCD
K3 Pekerjaan Pekerjaan Konstruksi Baja oleh dosen  PPT
Konstruksi  Diskusi kelas

6 Mampu K3 Angkat dan Angkut Jenis pesawat angkat dan  Presentasi dan 100’  Bahan Ajar
Tgl...... menjelaskan K3 angkut, potensi bahaya, klarifikasi materi  Laptop, LCD
Angkat dan Angkut dan tindakan oleh dosen  PPT
pengendaliannya.  Diskusi kelas

8
7 Mampu K3 Penanggulangan Dasar-dasar hukum K3  Presentasi dan 100’  Bahan Ajar
Tgl...... menjelaskan K3 Kebakaran penanggulangan klarifikasi materi  Laptop, LCD
Penanggulangan kebakaran, manajemen oleh dosen  PPT
Kebakaran. penanggulangan  Diskusi kelas.
kebakaran, dan masalah
kebakaran pada gedung.
8 Ujian Tengah 100’
Tgl..... Semester

9 Mampu K3 Listrik Potensi bahaya listrik;  Presentasi dan 100’  Bahan Ajar
Tgl...... menjelaskan K3 proteksi bahaya listrik; klarifikasi materi  Laptop, LCD
Listrik. landasan peraturan K3 oleh dosen  PPT
listrik; dan pengawasan K3  Diskusi kelas
listrik
10 Mampu Kesehatan Kerja Regulasi yang berkaitan  Presentasi dan 100’  Bahan Ajar
Tgl...... menjelaskan dengan kesehatan kerja; klarifikasi materi  Laptop, LCD
kesehatan kerja. tujuan kesehatan kerja; oleh dosen  PPT
dan P3K serta proses  Diskusi kelas
evakuasi
11 Mampu Investigasi Kecelakaan Tujuan dan manfaat  Presentasi dan 100’  Bahan Ajar
Tgl...... menjelaskan Kerja penyelidikan kecelakaan klarifikasi materi  Laptop, LCD
investigasi kerja; contoh penyelidikan oleh dosen  PPT
kecelakaan kerja. kasus-kasus kecelakaan;  Diskusi kelas
metode dan kegunaan
analisis kecelakaan
12 Mampu Manajemen Risiko K3 Pengertian identifikasi  Presentasi dan 100’  Bahan Ajar
Tgl...... menjelaskan bahaya; kegiatan klarifikasi materi  Laptop, LCD
identifikasi bahaya; oleh dosen  PPT
9
manajemen risiko analisis kemungkinan  Diskusi kelas
K3. bahaya; dan tindakan
pengendalian

13 Mampu Penilaian Risiko Langkah umum penilaian  Presentasi dan 100’  Bahan Ajar
Tgl...... menjelaskan risiko; dan contoh klarifikasi materi  Laptop, LCD
penilaian risiko penilaian risiko oleh dosen  PPT
 Diskusi kelas
14 Mampu Observasi K3 (kedua) Melaksanakan praktik Observasi mandiri 100’
Tgl...... melaksanakan penilaian risiko pada
penilaian risiko dunia kerja industri
konstruksi.

15 Mampu Presentasi Tugas Akhir Menjelaskan hasil  Presentasi dan 100’  Bahan Ajar  Pemaparan
Tgl...... mempresentasikan penilaian risiko K3 pada klarifikasi materi  Laptop, LCD dalam bentuk
hasil penilaian pertemuan sebelumnya oleh dosen  PPT PPT
risiko K3 di salah  Diskusi kelas  Laporan
satu proyek Tugas Akhir
16 Ujian Akhir Semester 100’
Tgl......
Mengetahui: mengetahui/menyetujui: Jakarta, Agustus 2017

Ketua Program Studi reviewer (jika ada) Dosen,


R. Eka Murtinugraha, M.Pd …………………………………………… Anisah, M.T

10
PETUNJUK TUGAS AKHIR

Mata kuliah : K3
Semester : 107
Sks : 2
Tugas ke : -
Tujuan tugas : Melaksanakan praktik penilaian risiko di dunia kerja industri konstruksi
Waktu Pelaksanaan : Pertemuan ke-14
tugas
Waktu penyerahan Pertemuan ke-16 (UAS)
tugas
Uraian tugas : Mahasiswa diminta untuk mengobservasi proyek konstruksi, kemudian
melaksanakan praktik penilaian risiko di beberapa pekerjaan pada proyek
tersebut

Kriterian penilaian : Kesesuaian langkah-langkah 30%


Struktur Laporan 20%
Presentasi 25%
Ketepatan waktu 25%

CATATAN:
Jika tugas membutuhkan uraian atau prosedur yang lebih rumit, maka dapat dituangkan ke
dalam panduan atau pedoman pelaksanaan tugas. Misalnya “pedoman tugas praktikum”,
‘pedoman tugas studi kasus’, ‘pedoman tugas observasi’ dan

11
Kesehatan dan
Keselamatan
Kerja
Bidang Konstruksi
Bangunan

Student Edition
Teaching Materials_only used in Faculty of Engineering
Universitas Negeri Jakarta
M. Agphin
Ramadhan
Kesehatan dan
Keselamatan Kerja
Bidang Konstruksi Bangunan

Program Studi S1 Pendidikan Teknik Bangunan

Fakultas Teknik

Universitas Negeri Jakarta

© Hak cipta dilindungi undang-undang, 2017


“Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau keseluruhan

isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotocopy, merekam

atau dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari penulis.”

Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 12 Tahun
1997 Pasal 44 Tentang Hak Cipta Pasal 72 :
← Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu
ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)
bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah), atau pidana
penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.5.000.000.000,- (lima
miliar rupiah).
← Barangsiapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau
menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak
terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
KATA PENGANTAR

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Bidang Konstruksi Bangunan

merupakan salah satu aspek penting dalam kegiatan pembangunan di suatu proyek.

Belum banyak buku yang fokus membahas bidang ini. Buku ajar yang ada di tangan

Anda ini merupakan kompilasi dari beberapa literatur, baik dari buku maupun

beberapa tulisan dari internet. Secara khusus, buku Ir. B. Boedi Rijanto, M.M yang

berjudul “Pedoman Praktis Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L)

Industri Konstruksi” menjadi sumber rujukan utama kami. Begitu pula dengan buku

“Ikhtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja” karya John Ridely. Oleh karena itu

kami mengharapkan kepada mahasiswa agar memiliki kedua buku sumber tersebut.

Selain itu, nantinya pada proses belajar mengajar mahasiswa setelah

mendapatkan teori mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja di bidang

Konstruksi Bangunan dapat langsung menerapkan kegiatan dan tugas yang

berkaitan dengan K3 di proyek pembangunan. Tentunya hal ini bertujuan agar teori-

teori yang didapatkan dapat lebih dirasakan manfaatnya.

Pada akhirnya, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

membantu penyelesaian buku ajar ini. Pengantar ini juga termasuk permohonan izin

kami kepada kedua penulis dan penerbit dari dua buku sumber di atas karena telah kami

jadikan sebagai sumber rujukan utama. Demikian, terima kasih.

Jakarta, Oktober 2017

Penulis
DAFTAR ISI
Bab I Dasar-Dasar K3..........................................................................................................................1
A. Filosofi K3...........................................................................................................................................1
B. Jenis-jenis Potensi Bahaya...........................................................................................................3
C. Tindakan Pencegahan....................................................................................................................6
D. Tugas dan Profesi............................................................................................................................8
Bab II K3 Pekerjaan Konstruksi...................................................................................................11
A. Penyelenggaraan Pekerjaan Konstruksi................................................................................11
B. Masyarakat Jasa Konstruksi......................................................................................................13
C. Alat Pelindung Diri..........................................................................................................................14
D. K3 Pekerjaan Tanah......................................................................................................................19
E. K3 Pekerjaan Struktur.................................................................................................................. 27
a. Pekerjaan Bekisting............................................................................................................... 27
b. Pekerjaan Pembesian...........................................................................................................30
c. Pekerjaan Beton......................................................................................................................30
d. Pekerjaan Shotcrete..............................................................................................................31
e. Pekerjaan di Ketinggian........................................................................................................31
F. K3 Pekerjaan Pembongkaran....................................................................................................33
G. K3 Pekerjaan Konstruksi Baja...................................................................................................38
H. K3 Pekerjaan Ruang Terbatas dan Di atas Air.....................................................................39
Bab III K3 Angkat dan Angkut.......................................................................................................43
A. Jenis Pesawat Angkat dan Angkut...........................................................................................43
B. Potensi Bahaya Pekerjaan Angkat dan Angkut....................................................................52
C. Tindakan Pengendalian Pekerjaan Angkat dan Angkut.....................................................53
Bab IV K3 Penanggulangan Kebakaran...................................................................................63
A. Dasar Hukum...................................................................................................................................63
B. Manajemen Penanggulangan Kebakaran..............................................................................63
C. Proteksi Kebakaran pada Bangunan.......................................................................................67
Bab V K3 Listrik...................................................................................................................................73
A. Potensi Bahaya Listrik..................................................................................................................73
B. Proteksi Bahaya Listrik.................................................................................................................75
C. Landasan Peraturan......................................................................................................................76
D. Pengawasan K3 Listrik.................................................................................................................77
Bab VI Kesehatan Kerja...................................................................................................................87
A. Hygiene dan Kesehatan Kerja...................................................................................................87
B. Penyakit Akibat Kerja....................................................................................................................91
C. Pengawasan Kesehatan Kerja..................................................................................................99
Bab VII Investigasi Kecelakaan Kerja.....................................................................................103
A. Konsep Dasar Investigasi Kecelakaan.................................................................................103
B. Perencanaan Investigasi...........................................................................................................104
C. Metoda-metoda Investigasi......................................................................................................107
Bab VIII Manajemen Risiko K3...................................................................................................117
A. Pra syarat Manajemen Risiko..................................................................................................120
B. Gambaran Manajemen Risiko.................................................................................................121
C. Proses Manajemen Risiko........................................................................................................123
D. Pengendalian Risiko...................................................................................................................131
Bab IX Penilaian Risiko.................................................................................................................139
A. Langkah Umum Penilaian Risiko............................................................................................140
B. Contoh Penilaian Risiko............................................................................................................140
Dasar-Dasar K3 – 1

BAB I
DASAR-DASAR K3

Bab ini berisi penjelasan mengenai dasar-dasar K3. Setelah mempelajari bab ini,
mahasiswa diharapkan mampu:
←Mengetahui filofosi K3
←Mengetahui jenis-jenis potensi bahaya
←Mengetahui tindakan pencegahan berdasarkan potensi bahaya
←Mengetahui tugas dan profesi yang berkaitan dengan K3

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat
kerja, bahan dan proses pengolahan, landasan kerja, dan lingkungan kerja serta cara-cara
melakukan pekerjaan dan proses produksi (UU No.1/1970). Keselamatan kerja juga dapat
diartikan sebagai suatu kemerdekaan atas risiko celaka yang tidak dapat diterima.
Keselamatan kerja bukanlah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh pegawai saja,
melainkan tugas seluruh individu yang berada di perusahaan atau tempat kerja. Dengan
demikian, keselamatan kerja dari, oleh, dan untuk setiap tenaga kerja dan orang lain yang
berada di perusahaan serta masyarakat sekitar perusahaan yang mungkin terkena dampak
akibat suatu proses produksi industri. Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan
bahwa keselamatan kerja merupakan sarana utama untuk mencegah terjadinya kecelakaan
kerja yang dapat menimbulkan kerugian berupa luka/cidera, cacat atau kematian, kerugian
harta benda dan kerusakan peralatan/mesin dan lingkungan secara luas.

A. Filosofi K3

Pengertian K3 adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapan guna mencegah


kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan
lingkungan kerja. Menurut America Society of Safety Engineering (ASSE) K3 diartikan
sebagai bidang kegiatan yang ditujukan untuk mencegah semua jenis kecelakaan yang ada
kaitannya dengan lingkungan dan situasi kerja.
Filosofi dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah melindungi keselamatan
dan kesehatan para pekerja dalam menjalankan pekerjaannya, melalui upaya-upaya
pengendalian semua bentuk potensi bahaya yang ada di lingkungan tempat kerjanya. Bila
semua potensi bahaya telah dikendalikan dan memenuhi batas standar aman, maka akan
memberikan kontribusi terciptanya kondisi lingkungan kerja yang aman, sehat dan proses
produksi menjadi lancar, yang pada akhirnya akan dapat menekan risiko kerugian dan
berdampak terhadap peningkatan produktivitas.
2 – Dasar-Dasar K3

Dari segi keilmuan, K3 berarti suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan penyakit akibat kerja.
Dari sisi hukum, K3 merupakan himpunan ketentuan yang mengatur tentang pencegahan
kecelakaan untuk melindungi tenaga kerja agar tetap selama dan sehat. K3 merupakan
ketentuan perundangan dan K3 wajib dilaksanakan. Pelanggarannya terhadap K3 dapat
dikenakan sanksi pidana, baik denda maupun kurungan. Hal ini bertujuan untuk melindungi
tenaga kerja, aset, dan lingkungan hidup.UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal
86 “pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan
kesehatan kerja”. Pasal 87 “setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan”.
Melalui pendekatan kemanusiaan, K3 merupakan bagian dari HAM. Kecelakaan kerja
menimbulkan penderitaan bagi si korban atau keluarganya sehingga secara tidak langsung
K3 melindungi pekerja dan masyarakat. Melalui pendekatan ekonomi K3 mencegah
kerugian dan meningkatkan produktivitas kerja.
K3 secara praktis diartikan sebagai upaya perlindungan agar tenaga kerja selalu dalam
keadaan selamat dan sehat selama melakukan pekerjaan ditempat kerja termasuk orang
lain yang memasuki tempat kerja maupun proses produk dapat secara aman dan efisien
dalam produksinya
Menurut International Association of Safety Professional, Filosofi K3 dibagi menjadi delapan
filosofi yaitu (1) Safety is an ethical responsibility, K3 adalah tanggung jawab moral/etik.
Masalah K3 hendaklah menjadi tanggung awab moral untuk menjaga keselamatan sesama
manusia. K3 bukan sekedar pemenuhan perundangan atau kewajiban.
← Safety is a culture, not a program, K3 bukan sekedar program yang dijalankan
perusahaan untuk sekedar memperoleh penghargaan dan sertifikat. K3 hendaklah menjadi
cerminan dari budaya dalam organisasi. (3) Management is responsible, Manajemen
perusahaan adalah yang paling bertanggung jawab mengenai K3. Sebagian tanggung jawab
dapat dilimpahkan secara beruntun ke tingkat yang lebih bawah. (4) Employee must be
trained to work safety, Setiap tempat kerja, lingkungan kerja dan jenis pekerjaan memiliki
karakteristik dan persyaratan K3 yang berbeda. K3 harus ditanamkan dan dibangun melalui
pembinaan dan pelatihan. (5) Safety is a condition of employment, Tempat kerja yang baik
adalah tempat kerja yang aman. Lingkungan kerja yang menyenangkan dan serasi akan
mendukung tingkat keselamatan. Kondisi K3 dalam perusahaan adalah pencerminan dari
kondisi ketenagakerjaan dalam perusahaan (6) All injuries are preventable, Prinsip dasar dari
K3 adalah semua kecelakaan dapat dicegah karena kecelakaan ada sebabnya. Jika sebab
kecelakaan dapat dihilangkan maka kemungkinan kecelakaan dapat dihindarkan (7) Safety
program must be site specific, Program K3 harus dibuat berdasarkan kebutuhan kondisi dan
kebutuhan nyata di tempat kerja sesuai dengan potensi bahaya sifat kegiatan,
Dasar-Dasar K3 – 3

kultur, kemampuan finansial dll. Program K3 dirancang spesifik untuk masing-masing


organisasi atau perusahaan. (8) Safety is good business, Melaksanakan K3 jangan
dianggap sebagai pemborosan atau biaya tambahan. Melaksanakan K3 adalah sebagai
bagian dari proses produksi atau strategi perusahaan. Kinerja K3 yang baik akan
memberikan manfaat terhadap bisnis perusahaan.

B. Jenis-Jenis Potensi Bahaya

Setiap proses produksi, peralatan/mesin dan tempat kerja yang digunakan untuk
menghasilkan suatu produk, selalu mengundang potensi bahaya tertentu yang bila tidak
mendapat perhatian secara khusus dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Secara umum
penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut: 1) kelelahan (fatigue), 2) kondisi
tempat kerja (environmental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe working
condition), 3) kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab awalnya
adalah kurangnya pelaihan/training, 4) karakteristik dari pekerjaan itu sendiri.
Pada pekerjaan konstruksi, penyebab kecelakaan kerja antara lain: 1) jatuh, 2) benda-
benda yang jatuh dan roboh, 3) kecelakaan akibat listrik, dan 4) alat berat yang bergerak.
Sebagai upaya untuk mengantisipasi kecelakaan kerja maka sebelum memulai suatu
pekerjaan,harus dilakukan identifikasi bahaya guna mengetahui potensi bahaya dalam
setiap pekerjaan. Identifikasi bahaya dilakukan bersama pengawas pekerjaan dan Safety
Departement. Mengidentifikasi bahaya dapat menggunakan teknik yang sudah baku seperti
Check List, JSA, JSO,What If, Hazops, dan sebagainya. Semua hasil identifikasi bahaya
harus didokumentasikan dengan baik dan dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan
setiap kegiatan.
Secara teoretis istilah-istilah bahaya yang sering ditemui dalam lingkungan kerja meliputi:
← Hazard (sumber bahaya). Suatu keadaan yang memungkinkan/dapat menimbulkan
kecelakaan, penyakit, kerusakan atau menghambat kemampuan pekerja yang ada.
← Danger (tingkat bahaya). Peluang bahaya sudah tampak, kondisi bahaya sudah ada
tetapi dapat dicegah dengan berbagai tindakan preventif.
← Risk. Prediksi tingkat keparahan bila terjadi bahaya dalam siklus tertentu.
← Insident. Munculnya kejadian yang bahaya (kejadian yang tidak diinginkan, yang
dapat/telah mengadakan kontak dengan sumber energy yang melebihi ambang batas
badan/struktur.
← Accident. Kejadian bahaya yang disertai adanya korban dan atau kerugian
(manusia/harta/benda). Accident atau kecelakaan dapat juga diartikan sebagai kejadian
yang tidak dikehendaki dan tidak diduga /tiba-tiba yang dapat menimbulkan korban
manusia dan atau harta benda. Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian tidak diduga
4 – Dasar-Dasar K3

(incident) yang mengakibatkan kacaunya proses pekerjaan / produksi yang


direncanakan sebelumnya. Kecelakaan kerja tidak selalu diukur adanya korban
manusia cidera atau mati.
← Safe adalah suatu kondisi sumber bahaya telah teridentifikasi dan telah dikendalikan ke
tingkat yang memadai.
Potensi bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja dapat berasal dari berbagai
kegiatan atau aktivitas dalam menjalankan operasi atau juga berasal dari luar proses kerja.
Adapun jenis-jenis potensi bahaya secara umum, yaitu: 1) physical hazards, 2) chemical
hazards, 3) electrical hazards, 4) mechanical hazards, 5) physiological hazards, 6)
biological hazards, dan 7) ergonomic.
Physical hazards adalah potensi bahaya yang disebabka oleh faktor fisik dari seseorang
yang sedang melakukan pekerjaan. Managemen kegiatan adalah salah satu cara untuk
mengendalikan hazard yang muncul ini.
Chemical hazards adalah potensi bahaya yang disebabkan oleh sifat dan karakteristik
kimia yang dimiliki bahan tersebut. Hazard kimia ini sangat berbahaya jika kita tidak
menggetahuinya secara detail seperi apa sifat dari bahan tersebut. Perlunya penanganan
yang intensif terhadap potensi bahaya ini. Contoh dari chemical hazards adalah amoniak
yang bercampur di udara karena sifatnya yang berbahaya bagi THT pada manusia. MSDS
adalah salah satu cara melakukan penanganan dini terhadap potensi bahaya yang
ditimbulkan oleh bahan kimia.
Electrical hazard merupakan potensi bahaya yang berkaitan dengan listrik, seperti: arus
listrik dan percikan bunga api listrik.
Mechanical hazards merupakan potensi bahaya yang berkaitan dengan mesin dan alat-
alat bergerak.
Biological hazard adalah potensi bahaya yang ditimbulkan dari faktor makluk hidup.
Biasanya biological hazard ini berada di lingkungan-lingkungan yang tidak bersih. Contoh
dari hazard biologi adalah seperti cacing tambang,cacing tambang dapat membuat kaki kita
berlubang seperti dimakan oleh cacing tersebut. Maka dari itu,dipertambangan diharapkan
selalu menggunakan APD sepatu safety agar sebagai pencegahan terhadap biological
hazard.
Physiological hazards adalah potensi bahaya yang disbabkan terjadinya suatu konfik
dalam lingkungan kerja tersebut. Konflik yang terjadipun sudah terbagi menjadi langsung
dan tidak langsung. Psikologi ini juga merupakan hal penting karena dapat mempengaruhi
juga bagaimana orang tersebut bekerja,semakin banyak konflik maka pekerjaan yang
dikerjakan semakin tidak efisien dan malah banyak menimbulkan masalah yang terjadi.
Pengendaliannya biasaya mengunakan managemen konflik dan ketetapan disiplin.
Dasar-Dasar K3 – 5

Ergonomic hazard adalah potensi bahaya yang disebabkan terjadi karena tidak
efisiennya hubungan alat kerja dengan manusianya, biasanya berhubungan dengan prilaku
kerja manusia dengan alatnya. Potensi bahaya dapat pula berasal dari berbagai kegiatan
atau aktivitas dalam pelaksanaan operasi atau berasal dari luar proses kerja. Identifikasi
potensi bahaya di tempat kerja.
Kerugian kecelakaan kerja diilustrasikan sebagaimana gunung es di permukaan laut
dimana es yang terlihat di permukaan laut lebih kecil dari pada ukuran es sesungguhnya
secara keseluruhan. Begitu pula kerugian pada kecelakaan kerja kerugian yang
"tampak/terlihat" lebih kecil dari pada kerugian keseluruhan.
Dalam hal ini kerugian yang "tampak" ialah terkait dengan biaya langsung untuk
penanganan/perawatan/pengobatan korban kecelakaan kerja tanpa memperhatikan
kerugian-kerugian lainnya yang bisa jadi berlipat-lipat jumlahnya daripada biaya langsung
untuk korban kecelakaan kerja. Kerugian kecelakaan kerja yang sesungguhnya ialah jumlah
kerugian untuk korban kecelakaan kerja ditambahkan dengan kerugian-kerugian lainnya
(material/non-material) yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja tersebut. Kerugian-kerugian
(biaya-biaya) tersebut, yaitu: biaya langsung dan biaya tidak langsung.
Biaya langsung, seperti: biaya pengobatan & perawatan korban kecelakaan kerja dan
biaya kompensasi (yang tidak diasuransikan). Sedangkan biaya tidak langsung, contohnya:
kerusakan bangunan, kerusakan alat dan mesin, kerusakan produk dan bahan/material,
gangguan dan terhentinya produksi, biaya administratif, pengeluaran sarana/prasarana
darurat, sewa mesin sementara, waktu untuk investigasi, pembayaran gaji untuk waktu
hilang, biaya perekrutan dan pelatihan, biaya lembur (investigasi), biaya ekstra
pengawasan, waktu untuk administrasi, penurunan kemampuan tenaga kerja yang kembali
karena cedera, kerugian bisnis dan nama baik.

Piramida Kecelakaan Kerja


Para ahli keselamatan kerja menyimpulkan bahwa suatu kecelakaan yang berakibat
fatal biasanya terjadi tidak begitu saja datang dengan tiba-tiba. Ternyata kasus kecelakaan
mempunyai bentuk seperti piramida. Suatu kejadian kecelakaan fatal , biasanya didahului
dengan adanya 10 kali kecelakaan ringan. Dan 10 kecelakaan ringan itupun sebelumnya
juga didahului oleh adanya 30 kecelakaan yang mengakibatkan rusaknya peralatan
(equipment damage) . Sedangkan dari 30 kecelakaan yang berakibat rusaknya peralatan
muncul setelah andanya 600 kejadian nyaris celaka (near miss). Near miss ini sendiri
terjadi karena adanya 10.000 sumber bahaya yang ada di sekitar pekerja .
6 – Dasar-Dasar K3

Bilamana Piramida kecelakaan kita gambarkan sebagai suatu bangunan, maka lantai
dasar dari piramida tersebut adalah 10.000 sumber bahaya. Lalu lantai kedua adalah 600
kejadian nyaris celaka , lantai ketiga adalah 30 kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan
alat, lantai keempat 10 kecelakaan ringan dan lantai teratas adalah 1 kecelakaan fatal .
Pola perbandingan rumus piramida itu adalah 1 : 10 : 30 : 600 : 10.000 .
Adanya rumus piramida kecelakaan ini, para ahli keselamatan kerja berpendapat bahwa
puncak daripada piramida tersebut dapat dihilangkan dengan cara mengurangi atau
menghilangkan beberapa kasus kecelakaan yang terjadi sebelumnya atau yang berada di
bawahnya. Dengan kata lain, bila kita hilangkan semua kasus nyaris celaka maka bentuk
bangunan piramida hanya sampai pada lantai keempat saja. Atau bilamana kita kurangi
angka kecelakaan yang berakibat rusaknya peralatan dari angka 30 menjadi 20, maka
kecelakaan ringan tidak akan mencapai angka 10. Dan kecelakaan ringan yang tidak
mencapai angka 10 ini maka tidak akan menjadikan munculnya 1 kejadian kecelakaan fatal.

C. Tindakan Pencegahan

Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan mempelajari risiko yang akan timbul
pada suatu pekerjaan. Risk atau risiko adalah ukuran kemungkinan kerugian yang akan
timbul dari sumber bahaya (hazard) tertentu yang terjadi. Risk management adalah adalah
proses menganalisa tingkat risiko, pertimbangan tingkat bahaya, dan mengevaluasi apakah
sumber bahaya dapat dikendalikan, memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi di
tempat kerja. Risk management dalam K3 meliputi: proses mengidentifikasi sumber bahaya,
penilaian resiko, dan tindakan untuk menghilangkan serta mengurangi resiko secara terus
menerus.
Risk Analysis adalah perkiraan kuantitatif dengan teknik matematik menggabungkan
konsekuensi dan frekuensi insiden. The development of a quantitative estimate of risk
based on mathematical techniques for combining estimates of incident consequences and
Dasar-Dasar K3 – 7

frequencies. Level of risk (tingkat risiko) adalah perhitungan antara konsekuensi/ dampak
yang mungkin timbul dan probabilitas. Adapun klasifikasi risiko diukur dan diberi peringkat:
rendah, medium, atau tinggi. Risiko dapat ditentukan oleh faktor-faktor berikut ini: sifat
pekerjaan, lokasi kerja, potensi bahaya di tempat kerja, potensi/kualifikasi kontraktor,
pekerjaan simultan, lamanya pekerjaan, pengalaman dan keahlian kontraktor
Berdasarkan teori domino effect penyebab kecelakaan kerja (H.W. Heinrich), maka dapat
dirancang berbagai upaya untuk mencegah kecelakaan kerja di tempat kerja, antara lain:
← Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja melalui Pengendalian Bahaya Di Tempat Kerja
Pemantauan dan Pengendalian Kondisi Tidak Aman di tempat kerja.
Pemantauan dan Pengendalian Tindakan Tidak Aman di tempat kerja.
← Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja melalui Pembinaan dan Pengawasan :
Pelatihan dan Pendidikan K3 terhadap tenaga kerja.
Konseling dan Konsultasi mengenai penerapan K3 bersama tenaga kerja.
Pengembangan Sumber Daya ataupun Teknologi yang berkaitan denga peningkatan
penerapan K3 di tempat kerja.
← Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja melalui Sistem Manajemen
Prosedur dan Aturan K3 di tempat kerja.
Penyediaan Sarana dan Prasarana K3 dan pendukungnya di tempat kerja.
Penghargaan dan Sanksi terhadap penerapan K3 di tempat kerja kepada tenaga kerja.
Pada industri konstruksi, tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
← Menugaskan personil khusus yang bertanggung jawab memanajemen kecelakaan,
kesehatan dan kebersihan lingkungan kerja atau biasa disebut sebagai K3.
← Memasang rambu-rambu peringatan seperti awas benda jatuh, awas lubang void, awas
listrik, dan rambu proyek lainya.
← Memakai alat keselamatan kerja sebagai pelindung diri seperti sepatu safety, sabuk
pengaman, helm proyek dan penutup kuping sebagai pelindung dari suara bising mesin.
← Mengadakan penyuluhan sesering mungkin dengan mengumpulkan seluruh tenaga
kerja sehingga dapat mengarahkan dan mengingatkan tentang bahaya kecelakaan
proyek dan himbauan agar berhati-hati dalam bekerja.
← Merencanakan dengan baik setiap metode pelaksanaan konstruksi, misalnya
menghitung benda berat yang akan diangkat tower crane apakah masih dalam batas
kapasitas kemampuan beban angkat.
← Menutup lubang void dan memberi ralling sementara dipinggirnya, pemasangan ralling
juga dipasang pada area tepi struktur gedung agar pekerja aman dari bahaya jatuh dari
ketinggian.
← Mewajibkan dan menugaskan personil khusus untuk mengontrol pekerja apakah sudah
menggunakan alat pengaman diri dan bekerja tanpa terkena resiko kecelakaan.
← – Dasar-Dasar K3

← Membersihkan area proyek sesering mungkin, karena selain menimbulkan susana


proyek menyenangkan juga terhindar dari resiko terkena benda-benda berserakan.
← Pada pekerjaan pengecoran beton harus dilakukan pengecekan terlebih dahulu apakah
bekisting sudah terpasang kuat, dan sambungan besi tulangan sudah benar.
← Membuat area khusus merokok agar pekerja tidak merokok sembarangan yang dapat
menyebabkan bahaya kebakaran proyek.
← Memasang tabung APAR alat pemadam api ringan di lokasi proyek yang berpotensi
muncul kebakaran.
← Meletakan kabel sementara proyek dengan rapi dan aman tidak berserakan.
← Berdoa, memohon, dan bertawakal kepada Allah Subhana wa ta’ala agar kegiatan
pelaksanaan proyek dapat berlangsung dengan aman dan selesai sesuai target yang
direncanakan sebelumnya.

← Tugas dan Profesi

Para profesional dalam bidang K3, konsen dengan sumber daya manusia dan sumber
daya perusahaan. Mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
melalui pendidikan formal dan atau pengalaman di lapangan khususnya dalam bidang
K3. Banyak profesional atau ahli memiliki sertifikat setelah puluhan tahun bekerja dan
baru mengikuti pelatihan sertifikasi ahli K3. Sertifikat Ahli K3 berdasarkan peraturan
perundangan wajib dimiliki oleh setiap profesional ahli keselematan kerja. Jenis
sertifikat tergantung dari bidang keselamatan kerja yang ditangani di perusahaan, mulai
dari Ahli Keselamatan Kerja Umum (AK3U) sampai ahli K3 spesialis.
Terdapat banyak nama yang diberikan terhadap individu yang melakukan pekerjaan
dalam bidang K3. Di bawah ini beberapa nama jabatan dalam bidang K3 industri
← Ahli Higiene Industri (Industrial Hygienist). Meskipun secara umum mereka telah
mendapat pelatihan dalam bidang engineering, fisika, kimia, atau biologi, tetapi
jabatan ini juga memiliki keahlian melalui studi dan pengalaman pengetahuan
tentang efek-efek pada kesehatan bahan kimia dan agen-agen fisika dari berbagai
tingkat pemaparan. Ahli higieni industri harus terlibat di dalam monitoring dan anlisa
yang diperlukan untuk mendeteksi pemaparan dan mengetahui metode-metode yang
digunakan untuk mengendalikan faktor bahaya di tempat kerja.
← Profesional Keselamatan Kerja (Safety Professional). Merupakan seseorang
dengan spesialisasi pengetahuan dan keterampilan tertentu dan atau memiliki
pendidikan tertentu yang sesuai dengan bidang keselamatan kerja, telah mencapai
status profesional atau ahli dalam bidang keselamatan kerja. Dan mereka juga harus
telah memiliki sertifikat ahli keselamatan kerja sesuai bidang yang ditangani.
Dasar-Dasar K3 – 9

← Ahli Teknik Keselamatan Kerja (Safety Engineering). Merupakan seseorang


dengan pendidikan, lisensi, dan atau pengalaman, meluangkan sebagian besar atau
seluruh waktu kerjanya untuk menangani atau mengapikasikan prinsip-prinsip
keilmuan dan metode keselamatan kerja dalam upaya mengendalikan dan
memodifikasi tempat kerja dan lingkungan kerja guna mencapai proteksi optimum
baik terhadap pekerja maupun properti perusahaan.
← Manajer Keselamatan Kerja (Safety Manager). Seseorang yang mempunyai
tanggung jawab untuk menyelenggarakan dan memelihara organisasi keselamatan
kerja dan pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan keselamatan kerja di dalam
suatu perusahaan. Pada dasarnya, seorang safety manager merupakan
administrator program keselamatan kerja dan mengatur fungsi-fungsi kelembagaan
keselamatan kerja di bawahnya, termasuk koordinator pencegahan dan
penanggulangan kebakaran.
← Ahli Keselamatan Kerja (Safety Expert). Seorang tenaga teknis yang berkaitan
khusus dari luar Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja
untuk mengawasi ditaatinya Undang-Undang Keselamatan Kerja.
← Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Occupational Health and Safety
Expert). Seorang tenaga teknis berkeahlian khusus dari luar Departemen Tenaga
Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja dan berfungsi membantu pimpinan
perusahaan atau pengurus untuk menyelenggarakan dan meningkatkan usaha
keselamatan kerja, higiene perusahaan dan kesehatan kerja, membantu
pengawasan ditaatinya ketentuan-ketentuan peraturan perundangan bidang
keselamatan dan kesehatan kerja.
10 – Dasar-Dasar K3
K3 Pekerjaan Konstruksi - 11

BAB II
K3 PEKERJAAN KONSTRUKSI

Bab ini berisi penjelasan mengenai k3 Pekerjaan Konstruksi. Setelah mempelajari bab ini,
mahasiswa diharapkan mampu:
←Mengetahui penyelenggaraan pekerjaan konstruksi
←Mengetahui masyarakat jasa konstruksi
←Mengetahui alat pelindung diri
←Mengetahui K3 pekerjaan tanah
←Mengetahui K3 pekerjaan struktur
←Mengetahui K3 pekerjaan pembongkaran
←Mengetahui K3 pekerjaan konstruksi baja
←Mengetahui K3 pekerjaan ruang terbatas dan di atas air

Industri konstruksi merupakan penyumbang terbesar dalam hal angka kecelakaan


kerja di Indonesia. Bahkan berdasarkan data Badan Penyelenggara Jasa Sosial (BPJS)
Ketenagakerjaan, konstruksi tercatat sebagai jawara nasional kecelakaan kerja dari tahun ke
tahun. Secara nasional, angka kecelakaan kerja sektor konstruksi versi BPJS
Ketenagakerjaan berada di angka 32%, bersaing ketat dengan industri manufaktur sekitar
31%. Pada 2016 (hingga November) tercatat 101.367 kasus kecelakaan, korban meninggal
dunia mencapai 2.382 orang, sedangkan pada 2015 tercatat 110.285 dengan korban
meninggal dunia 2.375 orang.
Sebenarnya pemerintah telah mengeluarkan regulasi untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 01/ Men/ 1980
tentang K3 pada Konstruksi Bangunan. Perlunya regulasi ini adalah karena belum
ditanganinya pengawasan K3 secara baik dan menyeluruh pada pekerjaan konstruksi
bangunan. Peraturan ini secara tegas menyatakan bahwa pada setiap pekerjaan konstruksi
bangunan harus diusahakan pencegahan atau dikurangi terjadinya kecelakaan atau sakit
akibat kerja terhadap tenaga kerjanya. Lalu, bagaimana pelaksanaan teknis usaha K3 pada
bidang konstruksi bangunan? Paparan di bawah ini menjawab pertanyaan tersebut.

A. Penyelenggaraan Pekerjaan Konstruksi


Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi diatur dalam PP Nomor 29 Tahun 2000
tentang penyelenggaraan jasa konstruksi. Lingkup pengaturan penyelenggaraan
pekerjaan konstruksi meliputi pemilihan penyedia jasa, kontrak kerja konstruksi,
12 – K3 Pekerjaan Konstruksi

penyelenggaraan pekerjaan konstruksi, kegagalan bangunan, penyelesaian sengketa,


larangan persekongkolan, dan sanksi administratif.
Selain regulasi di atas, peraturan yang mengatur jasa konstruksi antara lain sebagai
berikut: 1) UU No. 18/1999 Tentang Jasa Konstruksi; 2) PP No. 28/2000 Tentang Usaha
dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi; 3) PP No. 30/2000 Tentang Penyelenggaraan
Pembinaan Jasa Konstruksi; 4) PP No. 4/2010 Tentang Perubahan Atas PP No. 28/2000
Tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi; 5) PP No. 59/2010 Tentang
Perubahan Atas PP No. 29/2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi; dan 6) PP
No. 92/2010 Tentang Perubahan Kedua Atas PP No. 28/2000 Tentang Usaha dan Peran
Masyarakat Jasa Konstruksi.
Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi wajib dimulai dengan tahap perencanaan
yang selanjutnya diikuti dengan tahap pelaksanaan beserta pengawasannya yang
masing-masing tahap dilaksanakan melalui kegiatan penyiapan, pengerjaan, dan
pengakhiran (Pasal 24 PP 29/2000 Tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi). Lingkup
tahap perencanaan pekerjaan konstruksi meliputi prastudi kelayakan, studi kelayakan,
perencanaan umum, dan perencanaan teknik. Dalam perencanaan pekerjaan konstruksi
dengan pekerjaan risiko tinggi harus dilakukan prastudi kelayakan, studi kelayakan,
perencanaan umum, dan perencanaan teknik. Dalam perencanaan pekerjaan konstruksi
dengan pekerjaan risiko sedang harus dilakukan studi kelayakan, perencanaan umum,
dan perencanaan teknik. Dalam perencanaan pekerjaan konstruksi dengan pekerjaan
risiko kecil harus dilakukan perencanaan teknik. (Pasal 26 PP 29/2000 Tentang
Penyelenggaraan Jasa Konstruksi)
Kriteria yang digunakan pasal 26 adalah Kriteria Resiko Tinggi – Sedang – Kecil. Oleh
karena itu, Pengguna Jasa selain melakukan Identifikasi Kebutuhan pada pekerjaan
konstruksi haruslah dibreakdown lebih dalam lagi menjadi identifikasi resiko. Identifikasi
Resiko berupa melakukan penetapan kriteria resiko sebagaimana diatur pada pasal 10
← No. 28/2000 Tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi. Kriteria risiko
pada pekerjaan konstruksi terdiri dari: (1) kriteria risiko kecil mencakup pekerjaan
konstruksi yang pelaksanaannya tidak membahayakan keselamatan umum dan harta
benda; (2) kriteria risiko sedang mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya
dapat berisiko membahayakan keselamatan umum, harta benda, dan jiwa manusia; (3)
kriteria risiko tinggi mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya berisiko
sangat membahayakan keselamatan umum, harta benda, jiwa manusia, dan
lingkungan. Tahapan penyelenggaraan konstruksi selanjutnya dibahas lebih rinci pada
mata kuliah Manajemen Konstruksi.
K3 Pekerjaan Konstruksi - 13

← Masyarakat Jasa Konstruksi


Masyarakat jasa konstruksi adalah masyarakat yang mempunyai kepentingan yang
berhubungan dengan usaha dan pekerjaan konstruksi, yaitu: pengguna jasa, penyedia
jasa, dan pekerja.
Pekerjaan jasa konstruksi mencakup: layanan jasa konsultasi perencanaan, layanan
jasa pelaksanaan, dan layanan jasa konsultasi pengawasan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran
Masyarakat Jasa Konstruksi pasal 2 menyatakan bahwa lingkup pengaturan usaha dan
peran masyarakat jasa konstruksi meliputi usaha jasa konstruksi, tenaga kerja
konstruksi, peran masyarakat jasa konstruksi, dan penerapan sanksi.
Masyarakat dapat berperan dalam forum jasa konstruksi. Sebagaimana yang tercantum
pada pasal 20, yaitu forum jasa konstruksi merupakan sarana komunikasi, konsultasi,
dan informasi antara masyarakat jasa konstruksi dan Pemerintah dalam bentuk
pertemuan tetap yang sifatnya independen dan mandiri untuk membahas secara
transparan berbagai hal yang berhubungan dengan jasa konstruksi.
Masyarakat memiliki hak-hak dalam jasa konstruksi, antara lain:
← Masyarakat berhak melakukan pengawasan untuk mewujudkan ketertiban dalam
pelaksanaan jasa konstruksi.
← Memperoleh pergantian yang layak atas kerugian yang dialami secara langsung
akibat penyelenggaraan konstruksi.
← Menjaga ketertiban dan memenuhi ketentuan yang berlaku dibidang pelaksanaan
jasa konstruksi
← Turut mencegah terjadinya pekerjaan konstrusi yang dapat membahayakan
kepentingan umum
Penyelenggaraan sengketa pada jasa konstruksi dapat dilakukan dengan cara:
Jasa konstruksi yang bersengketa dapat diselesaikan dengan cara pengadilan ataupun
diluar berdasarkan pilihan dari para pihak.
Penyelesaian sengketa diluar pengdilan tidak berlaku terhadap tindak pidana dalam
penyelenggaraan konstruksi.
Jika dipilih upaya penyelesaian sengketa diluar pengadilan maka gugatan pengadilan
hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut tidak berhasil.
Masyarakat yang dirugikan akibat penyelenggaraan konstruksi berhak mengunakan
gugatan kepengadilan secara orang perorangan, atau kelompok orang dengan
pemberian kuasa, atau kelompok orang tidak dengan kuasa namun melalui gugatan
perwakilan.
14 – K3 Pekerjaan Konstruksi

Beberapa peran masyarakat diatas merupakan suatu hal penting yang harus diketahui
penyelenggara konstruksi baik penyedia jasa konstruksi maupun pengguna jasa
konstruksi dengan demikian penyelenggaraan konstruksi lancar dan aman.

← Alat Pelindung Diri


Hampir semua APD yang dipakai pada bidang industri dan jasa lain dipakai dan
digunakan juga dalam dunia konstruksi, karena dunia konstruksi bukan hanya
membangun fasilitas baru tetapi juga memelihara dan memperbaiki suatu fasilitas yang
masih berjalan.
Jenis-jenis APD menurut bagian tubuh antara lain:
1. Alat Pelindung Kepala
Topi Keselamatan (Safety Helmet) untuk bekerja di tempat berisiko karena benda jatuh atau
melayang dari suatu anjungan kerja, bahan yang runtuh saat pekerjaan galian, atau bagian
perancah yang jatuh saat membangun atau membongkarnya. Topi keselamatan dilengkapi
dengan ikatan ke dagu untuk menghalangi terlepasnya helmet dari kepala akibat menunduk
atau kena benda jatuh. Syarat umum Safety Helmet adalah:
← Bagian dari luarnya harus kuat dan tahan terhadap benturan atau tusukan benda-
benda runcing.Cara mengujinya dengan menjatuhkan benda seberat 3 kg dari
ketinggian 1 meter-topi tidak boleh pecah atau benda tak boleh menyentuh kepala.
← Jarak antara lapisan luar dan lapisan dalam di bagian puncak 4-5 cm.
← Tidak menyerap air
Cara pengujian: diuji dengan merendam topi di dalam air selama 24 jam.
← Tahan terhadap api
Cara pengujian: topi dibakar selama 10 detik dengan bunsen atau propan dan api
harus padam selama 5 detik.

Penggunaan topi keselamatan diwajibkan untuk seluruh area kerja, kecuali area
akomodasi, kantor, dan sebagainya.
K3 Pekerjaan Konstruksi - 15

2. Alat Pelindung Muka dan Mata


Alat pelindung muka dan mata berfungsi untuk melindungi muka dan mata dari
lemparan benda-benda kecil, lemparan benda-benda panas, pengaruh cahaya, dan
pengaruh radiasi tertentu.
Kaca Mata Pelindung (Protective Goggles) untuk melindungi mata dari percikan logam
cair, percikan bahan kimia, serta kacamata pelindung untuk pekerjaan menggerinda dan
pekerjaan berdebu.
Masker Pelindung Pengelasan yang dilengkapi kaca pengaman (Shade of Lens) yang
disesuaikan dengan diameter batang las (Welding Rod). Untuk welding rod 1/16”
sampai 5/32” gunakan shade nomor 10. Untuk welding rod 3/16” sampai ¼” gunakan
shade nomor 13

Alat pelindung mata dipakai pada semua area perusahaan dimana diketahui ada
bahaya untuk mata, termasuk: workshop/bengkel, laboratorium, pengangkatan bahan
berbahaya, pengelasan/gerinda, dan lain-lain yang ditentukan.

3. Alat Pelindung Tangan


Alat Pelindung tangan berfungsi untuk melindungi tangan dan jari-jari dari suhu ekstrim
(panas dan dingin) dan radiasi. Sarung Tangan untuk pekerjaan yang dapat
menimbulkan cedera lecet atau terluka pada tangan seperti pekerjaan pembesian
fabrikasi dan penyetelan, pekerjaan las, membawa barang-barang berbahaya dan
korosif seperti asam dan alkali. Bentuk sarung tangan bermacam-macam, seperti:
sarung tangan (gloves), mitten, dan hand pad, melindungi telapak tangan dan sleeve,
melindungi pergelangan tangan dampai lengan
16 – K3 Pekerjaan Konstruksi

Ada berbagai sarung tangan yang dikenal antara lain :


← Sarung Tangan Kulit, digunakan untuk pekerjaan pengelasan, pekerjaan
pemindahan pipa dll. Berfungsi untuk melindungi tangan dari permukaan kasar.
← Sarung Tangan Katun, digunakan pada pekerjaan besi beton, pekerjaan bobokan
dan batu, pelindung pada waktu harus menaiki tangga untuk pekerjaan ketinggian.
← Sarung Tangan Karet, digunakan untuk pekerjaan listrik yang dijaga agar tidak ada
yang robek supaya tidak terjadi bahaya kena arus listrik.
← Sarung Tangan Asbes/Katun/Wool, digunakan untuk melindungi tangan dari panas
dan api.
← Sarung Tangan poly vinil chloride dan neoprene, digunakan untuk melindungi
tangan dari zat kimia berbahaya dan beracun seperti asam kuat dan oksidan.
← Sarung Tangan Paddle Cloth, melindungi tangan dari ujung yang tajam, pecahan
gelas, kotoran dan vibrasi.
← Sarung Tangan latex disposable, melindungi tangan dari germ dan bakteri dan hanya
untuk sekali pakai.
Pemakaian alat pelindung tangan digunakan pada semua area perusahaan dimana ada
penanganan bahan-bahan, penggunaan bahan-bahan berbahaya, penggunaan
peralatan dan alat ringan.

4. Alat Pelindung Kaki


Alat pelindung kaki berfungsi untuk melindungi kaki dari: tertimpa benda-benda berat,
terbakar karena logam cair,bahan kimia korosif, dermatitis/eksim karena zat-zat kimia,
tersandung, dan tergelincir.
Sepatu Keselamatan (Safety Boots) untuk menghindari kecelakaan yang diakibatkan
tersandung bahan keras seperti logam atau kayu, terinjak atau terhimpit beban berat
atau mencegah luka bakar pada waktu mengelas. Sepatu boot karet bila bekerja pada
pekerjaan tanah dan pengecoran beton.
Sepatu Keselamatan disesuaikan dengan jenis resiko, seperti:
← untuk mencegah tergelincir,dipakai sol anti slip luar dari karet alam atau sintetik
dengan bermotif timbul ( permukaanya kasar)
← untuk mencegah tusukan dari benda-benda runcing,sol dilapisi logam.
← terhadap bahaya listrik, sepatu seluruhnya harus dijahit atau direkat,tak boleh
menggunakan paku.
← sepatu atau sandal yang beralaskan kayu, baik dipakai pada tempat kerja yang
lembab,lantai yang panas. dan sepatu boot dari karet sintetis,untuk pencegahan
bahan-bahan kimia.
K3 Pekerjaan Konstruksi - 17

5. Alat Pelindung Pernafasan


Alat pelindung pernafasan berfungsi untuk memberikan perlindungan terhadap sumber-
sumber bahaya udara di tempat kerja. Masker Gas dan Masker Debu adalah alat
perlindungan untuk melindungi pernafasan dari gas beracun dan debu. Ada tiga jenis
alat pernafasan berupa respirator yang berfungsi untuk memurnikan udara, yaitu:
respirator dengan filter bahan kimia, respirator dengan filter mekanik dan respirator
dengan filter mekanik dan bahan kimia

Pemakaian alat pelindung pernafasan saat: masuk ke dalam bejana/ ruang tertutup,
masuk ke dalam saluran, penanganan bahan kimia, area dengan penumpukan debu,
dan regu penyelamat pemadam kebakaran.

6. Alat Pelindung Telinga


Alat pelindung telinga digunakan untuk mencegah rusaknya pendengaran akibat suara
bising di atas ambang aman seperti pekerjaan plat logam. Terdapat dua jenis alat
pelindung telinga, yaitu:
a. Sumbat Telinga (ear plug)
Sumbat telinga yang baik adalah menahan frekuensi tertentu saja,sedangkan frekuensi
untuk bicara biasanya(komunikasi) tak terganggu.
Sumbat telinga biasanya terbuat dari karetplastic keras, plastic lunak,lilin,dan kapas.
Daya lindung (kemampuan attenuasi):25-30 dB.
b. Tutup Telinga (ear muff)
18 – K3 Pekerjaan Konstruksi

Attenuasi (daya lindung) pada frekuensi 2800-4000Hz (35-45 dB), namun pada
frekuensi biasa ( 25 s.d 30 Hz )

Pemakaian alat pelindung telinga digunakan pada semua area perusahaan yang
dianggap bising (lebih dari 85 desibel)

7. Alat Pelindung Tubuh


Alat pelindung tubuh berupa pakaian kerja. Pakaian kerja yang digunakan pekerja harus
sesuai dengan lingkup pekerjaannya. Pakaian tenaga kerja pria yang melayani mesin
harus sesuai dengan pekerjaanya. Pakaian kerja wanita sebaiknya berbentuk celana
panjang,baju yang pas,tutup rambut dan tidak memakai perhiasan-perhiasan. Terdapat
pakain kerja khusus sesuai dengan sumber bahaya yang dapat dijumpai, seperti:
← Terhadap radiasi panas, pakaian yang berbahan bias merefleksikan panas,
biasanya aluminium dan berkilat.
← Terhadap radiasi mengion, pakaian dilapisi timbal (timah hitam).
← Terhadap cairan dan bahan-bahan kimiawi, pakaian terbuat dari plastik atau karet.
← Sabuk Pengaman (Safety Belt) untuk mencegah cedera yang lebih parah pada
pekerja yang bekerja di ketinggian > 2M

Di samping alat pelindung diri di atas, pekerja harus berpakaian yang komplit sesuai
dengan jenis pekerjaan yang ditanganinya seperti tukang las harus dilengkapi
jaket/rompi kulit atau minimal harus memakai kaos dan celana panjang.
K3 Pekerjaan Konstruksi - 19

Kemampuan perlindungan APD tidak sempurna disebabkan karena memakai APD yang
tidak sesuai, cara pemakaian yang salah, dan APD tidak memenuhi persyaratan. APD
akan berfungsi dengan sempurna apabila telah sesuai dengan standar yang ditentukan
dan dipakai secara baik dan benar. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
← Sediakanlah APD yang sudah teruji dan telah memiliki SNI atau standar
Internasional lainnya yang diakui.
← Pakailah APD yang sesuai dengan jenis pekerjaan walaupun pekerjaan tersebut
hanya memerlukan waktu yang singkat.
← APD harus dipakai dengan tepat dan benar.
← Jadikanlah kebiasaan memakai APD menjadi budaya. Ketidaknyamanan dalam
memakai APD jangan dijadikan alasan untuk menolak memakainya.
← APD tidak boleh diubah-ubah pemakainya, kalau memang terasa tidak nyaman
dipakai harus dilaporkan kepada atasan atau pemberi kewajiban pemakaian alat
tersebut.
← APD dijaga agar tetap berfungsi dengan baik.
← Semua pekerja, pengunjung dan mitra kerja yang ada di lokasi proyek konstruksi
harus memakai APD yang diwajibkan, seperti topi keselamatan.
Pilihlah APD dengan seksama. Tentukan peralatan APD dengan kualitas yang baik.
Jelaskan pada pengguna mengapa harus memakainya dan melindungi terhadap
bahaya apa saja. Awasi pengguna untuk memastikan bahwa APD dipakai dan
digunakan dengan benar. Perlihara APD secara periodik dan periksa kerusakan yang
terjadi. Simpan di tempat yang kering dan bersih, siapkan APD cadangan. Pastikan APD
tidak tergelatak atau dibiarkan di tempat kerja.

D. K3 Pekerjaan Tanah
Pembangunan gedung atau konstruksi lainnya memerlukan penggalian, mulai dari
parit dangkal untuk memasang pipa, hingga fondasi dalam untuk bangunan besar.
Setiap tahun pekerja meninggal atau cidera berat pada pekerjaan penggalian. Banyak
yang meninggal atau cidera karena runtuh dan jatuhnya bahan galian. Sebagian lagi
karena berhubungan dengan sarana bawah tanah. Pekerjaan tanah harus direncanakan
dan dilaksanakan dengan benar untuk mencegah kecelakaan. Secara umum jenis
pekerjaan tanah antara lain: galian, timbunan, pemadatan, dan bawah tanah. Aspek K3
pada pekerjaan tanah menyesuaikan dengan karakteristik tanah, apakah tanah lempung
basah, tanah lempung kering, tanah cadas, tanah pasir basah, tanah pasir kering, tanah
kerikil, atau tanah lumpur
20 – K3 Pekerjaan Konstruksi

PENGGALIAN
Penggalian dengan kedalaman kurang dari 1,2 m tidak menimbulkan risiko serius
bagi orang yang bekerja di dalamnya. Penggalian dengan kedalaman lebih dari 1,2 m
perlu perencanaan yang matang. Sebelum menggali saluran, lubang, terowongan, atau
penggalian lainnya, putuskan penahan sementara jenis apa yang dibutuhkan dan
rencanakan apa yang akan dilakukan terhadap: 1) runtuhnya dinding samping, 2)
jatuhnya bahan-bahan mengenai pekerja yang berada di galian, 3) terperosoknya orang
dan kendaraan pada galian, 4) pengaruhnya pada struktur lain di dekatnya, dan 5)
fasilitas atau sarana bawah tanah.
Pastikan peralatan dan tindakan pencegahan yang diperlukan seperti: penutup,
penyangga parit dan sebagainya tersedia di tempat sebelum pekerjaan dimulai. Bila
informasi tentang hasil tes tanah atau percobaan pada lubang tersedia, maka akan
dapat membantu memberikan data kondisi seperti apa yang akan ditemukan di
lapangan, yang dapat membantu perencanaan.

Runtuhnya Tanah
Cegah robohnya dinding samping dengan membentuk kemiringan yang aman atau
menahannya dengan papan pengaman atau sistem penahan lainnya yang sesuai. Buat
pencegahan yang sama pada bagian depan.
Pasang penahan tanpa menundanya begitu penggalian dilakukan. Jangan bekerja di
atas penahan. Pekerja harus dipimpin oleh seorang supervisor yang ahli. Berikan
petunjuk yang jelas pada pekerja.
Contoh dinding penahan runtuhnya tanah untuk galian lebih dari 1,8 m dalamnya.
K3 Pekerjaan Konstruksi - 21

Seorang yang ahli yang mengetahui tentang bahaya dan pencegahan yang diperlukan
harus memeriksa penggalian pada awal akhir setiap giliran pekerja (shift). Penggalian
juga harus diperiksa setelah terjadinya sesuatu yang mungkin berdampak pada
kekuatan dan stabilitasnya, atau setelah jatuhnya sebuah batu atau tanah. Diperlukan
catatan pemeriksaan. Perbaiki setiap kekeliruan yang ditemukan.
22 – K3 Pekerjaan Konstruksi

Pemasangan penahan tanah dengan alat sehingga tidak memerlukan


orang masuk ke dalam lubang
JATUH KE LUBANG
Bahan Jatuh ke Dalam Galian
← Jangan meletakkan bahan galian dan bahan-bahan lain, atau memarkir kendaraan
atau peralatan dekat dengan lubang galian. Tambahan beban dari bahan galian,
kendaran dan sebagainya dapat menyebabkan dinding galian lebih mudah roboh.
Bahan-bahan galian yang terlepas dapat terjatuh kembali dari timbunannya ke
dalam lubang galian. Untuk itu, suatu papan perancah dapat digunakan sebagai
papan penahan sepanjang galian yang akan memberikan perlindungan terhadap
kemungkinan jatuhnya bahan-bahan galian ke dalam lubang galian.
← Gunakan topi pengaman untuk melindungi kepala terhadap kejatuhan bahan-bahan
galian dari samping atau dari atas lubang galian.

Orang atau Kendaraan Terjatuh ke Lubang Galian


← Cegah orang terjatuh dengan pelindung galian. Pinggiran lubang galian > 2 m
dalamnya harus dilindungi dengan penghalang yang kokoh agar orang tidak terjatuh
K3 Pekerjaan Konstruksi - 23

ke dalamnya. Semua penggalian di tempat umum harus di pagar dengan cukup


untuk mencegah orang-orang mendekatinya.
← Cegah kendaraan terjatuh ke dalam lubang galian dengan menyingkirkannya ke luar
dari lokasi galian. Kendaraan yang lewat dekat pinggiran lubang galian juga akan
memberikan beban lebih pada dinding lubang galian, dapat mengakibatkan rubuh.
← Bila perlu, gunakan pembatas atau penghalang untuk tetap menjauhkan kendaraan
dari pinggiran lubang galian. Pembatas atau penghalang dicat dengan sebaik-
baiknya untuk dipastikan terlihat oleh para pengemudi kendaraan.
← Bila kendaraan harus mengambil bahan galian, gunakan pengganjal untuk
mencegah kendaraan terlalu dekat ke pinggir lubang galian. Dan dinding lubang
galian memerlukan penguat tambahan.

Pengaruh terhadap Struktur di Dekatnya


Pastikan penggalian tidak mempengaruhi kedudukan perancah, pondasi bangunan atau
dinding di dekatnya. Banyak bangunan yang mempunyai pondasi dangkal yang mudah
terpengaruh meskipun hanya oleh parit yang kecil, dapat menyebabkan dinding rubuh
menimpa mereka yang sedang bekerja di parit. Sebelum mulai menggali, putuskan apakah
diperlukan tambahan pengaman untuk struktur. Pada kasus lain, turap runtuh karena
kurangnya penopang, pondasi rumah memberikan tekanan ke arah retaining wall.

Gambar.
Solusi atas kejadian tersebut adalah dengan mengurangi tekanan ke arah retaining wall
dan daya dorong yang akan terjadi, beri penopang horizontal (shoring) yang kuat.
24 – K3 Pekerjaan Konstruksi

ASPEK LAINNYA
Pastikan adanya tangga atau jalan lain untuk masuk atau keluar dari lubang galian
dengan aman. Pertimbangkan adanya uap-uap berbahaya, jangan menggunakan mesin
bensin atau diesel dalam penggalian tanpa membuat perencanaan penyaluran uap
keluar dengan aman, atau penyediaan ventilasi untuk membuang uap keluar. Jangan
menempatkan peralatan dengan mesin bensin atau diesel seperti generator atau
kompresor di dalam, atau dekat pinggiran suatu lubang galian, gas buangannya dapat
mengumpul dan berakumulasi.

Fasilitas Bawah Tanah


Fasilitas bawah tanah dapat rusak dengan mudah sebagai dampak pekerjaan
penggalian. Apabila tidak dilakukan pencegahan dengan baik, pekerja akan mudah
mengenai fasilitas bawah tanah, yang mengakibatkan risiko terhadap merekan sendiri
dan orang lain didekatnya berupa panas, api, logam mencair saat kabel listrik terkena,
gas bila terkena pipa gas, atau air yang membanjir bila pipa air rusak.
Gunakan rencana fasilitas untuk melihat apakah tempat yang hendak digali akan
berhubungan dengan fasilitas bawah tanah. Lihat tanda-tanda fasilitas seperti lubang
masuk ke tanah, penutup keran, lampu jalan, dan sebagainya. Periksa pipa-pipa dan
kabel-kabel sebelum memulai menggali. Kontak dengan fasilitas bawah tanah dapat
dihindari melalui perencanaan dan pelaksanaan. Suatu sitem kerja yang aman
tergantung pada penggunaan: kabel dan perencanaan fasilitas lainnya, kabel dan
petunjuk lokasi fasilitas, dan cara penggalian yang aman. Apabila mungkin, upayakan
penggalian jauh dari fasilitas bawah tanah yang ada.

Sebelum penggalian pastikan bahwa


← Orang yang akan memimpin penggalian di lapangan memiliki gambar perencanaan
fasilitas bawah tanah dan tahu bagaimana membacanya.
← Semua pekerja yang berkaitan dengan penggalian tahu tentang cara penggalian
yang aman, prosedur darurat, dan mereka dipimpin dengan baik.
← Petunjuk lokasi digunakan untuk melacak seakurat mungkin jalur yang sebenarnya
setiap pipa atau kabel, atau mengisyaratkan bahwa tidak ada pipa atau kabel di
jalur yang telah ditandai.
← Ada perencanaan darurat untuk mengatasi bila terjadi kerusakan pada kabel atau
pipa. Mempunya sistem untuk menandai perusahaan dari fasilitas bawah tanah
yang ada. Pada kasus rusaknya pipa gas, larangan untuk merokok dan api terbuka.
K3 Pekerjaan Konstruksi - 25

Melakukan evakuasi bila diperlukan. Pasang tanda-tanda yang sesuai untuk


memperingatkan setiap orang akan adanya bahaya.

Penggalian Dengan Cara Aman


← Letakkan tanah galian setidaknya 0,5 m dari pinggiran lubang galian kecuali sudah
dipasang penahan jatuhnya kembali ke lubang.
← Jangan sampai tumpukkan tanah galian menumpuk di lokasi kerja atau jalanan
harus segera diangkut dari lokasi bangunan.
← Berikan berikade atau pelindung dan tanda di lokasi penggalian untuk mencegah
orang terperosok atau jatuh ke lubang galian. Jika diperlukan gunakan penjaga.
← Berikan penerangan atau tanda-tanda lampu pada malam hari.
← Tetap waspada terhadap kemungkinan munculnya pipa atau kabel selama
penggalian dan ulangi pemeriksaan dengan penunjuk lokasi. Bila ditemukan
fasilitas yang tidak diketahui, hentikan pekerjaan sampai dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut untuk memastikan bahwa pekerjaan dapat dilanjutkan.
← Menggali dengan tangan untuk memastikan letak pipa atau kabel. Cara ini penting
untuk pipa-pipa plastik yang tidak dapat dideteksi dengan peralatan pelacak biasa.
← Menggali dengan tangan di dekat pipa atau kabel yang tertanam. Gunakan cangkul
dan skop dari pada beliung dan garpu yang dapat menceraiberaikan kabel.
← Periksa semua pipa atau kabel sebagai layaknya pipa atau kabel yang berfungsi
sampai terbukti sebaliknya. Apa yang terlihat seperti pipa berkarat mungkin
merupakan saluran berisi kabel yang hidup jangan memecahkan atau memotong
fasilitas apapun sampai dapat diketahui bahwa kondisinya aman.
← Jangan menggunakan peralatan tangan berkekuatan pada jarak sampai 0,5 m dari
posisi tanda kabel listrik.
← Jangan menggunakan mesin untuk menggali dalam jarak 0,5 m dari pipa gas.
← Berikan ganjal pada jaringan fasilitas begitu terlihat untuk mencegah kerusakan.
← Laporkan setiap kerusakan yang terjadi pada fasilitas bawah tanah.
← Timbun kembali sekitar pipa atau kabel dengan bahan galian yang baik. Timbunan
dipadatkan dengan baik, khususnya di bawah pipa yang lemah, untuk mencegah
kerusakan di kemudian hari.
← Begitu fasilitas baru telah ditanam, perbaharui gambar perencanaannya.
Ringkasan metode-metode pencegahan setiap bahaya-bahaya di atas meliputi:
← Keruntuhan
← Membuat teras
← Pelerengan sisi
26 – K3 Pekerjaan Konstruksi

← Penopangan
(i) Jika membuat penopang kayu yang digunakan harus diperiksa dan dalam
keadaan baik
(ii) Jika membuat penopang harus didirikan oleh pekerja yang berpengalaman
di bawah kendali orang yang berkompeten dalam teknik-teknik ini
(iii) Jika membuat penopang harus diperiksa sebelum lubang galian digunakan
(iv) Penopang dapat pula berupa: kotak parit (trench boxes) dengan batang-
desak hidrolik, atau dinding tiang-turap logam
← Material jatuh ke dalam lubang galian
← Meletakkan tanah hasil galian, tanaman, atau material jauh dari tepian lubang
galian
← Memasang pijakan kaki (toe board) di sepanjang tepian bukaan galian untuk
mencegah material gembur jatuh
← Orang jatuh ke dalam lubang galian
← Jika kedalaman lubang melebihi 2 m, pasang pembatas yang kokoh
(substantial barrier)
← Pagari sekelilingnya jika masyarakat umum mendekati lubang
← Kendaraan jatuh ke dalam lubang galian
← Pasang penghalang atau kayu stopan (stop-log) yang sesuai, dicat khusus
agar tampak menonjol
← Jika perlu mencurahkan sesuatu ke dalam lubang galian, pasanglah balok
stopan (stop-block) pada jarak yang cukup dari bibir galian
← Struktur yang bersebelahan
← Periksa fondasi atau footing struktur
← Jika risikonya dapat melemahkan struktur tersebut, pasang batang-topang
sebelum penggalian
← Fasilitas layanan publik
← Meliputi gas, air, listrik, dan telepon
← Tetapkan jalur publik dengan: (a) mencari dari denah wilayah setempat, (b)
menggunakan detektor pipa/kabel (alat ini tidak dapat mendeteksi pipa plastik)
← Laporkan kepada penyedia jasa layanan jika terjadi kerusakan
← Gas dan Uap
← Dari mesin, ketel uap, tabung elpiji, zat pelarut, dan sebagainya
← Periksalah atmosfer di lubang galian sebelum pergantian giliran kerja
← Alirkan uap menjauhi lubang galian, atau
← Sediakanlah ventilasi udara segar yang memadai
K3 Pekerjaan Konstruksi - 27

Uap masih dapat berada di dalam lubang galian beberapa saat setelah
sumbernya dimatikan/dipindahkan
Genangan Air
Menyediakan tangga yang sesuai untuk keluar
Menyediakan pompa dengan kapasitas yang memadai untuk menjaga lubang
galian tetap kering
Inspeksi atau pengawasan memegang peranan penting dalam mencegah kecelakaan.
Inspeksi dapat dilakukan untuk: (a) seluruh lubang galian (dilakukan sebelum
digunakan dan setiap hari ketika digunakan); (b) lubang galian dengan kedalaman
lebih dari 1,98 m (dilakukan setiap awal pergantian giliran kerja)

K3 Pekerjaan Struktur a.
Pekerjaan Bekisting
Anjungan Kerja yang Aman
Anjungan kerja adalah bagian dari struktur, dimana orang berdiri untu bekerja. Selain
didukung dengan baik dan diberi pagar pengaman atau pelindung, anjungan kerja harus:
Cukup lebar supaya pekerja dapat berjalan maju dan mundur dengan aman dan
menggunakan peralatan atau bahan yang diperlukan untuk bekerja, paling tidak
lebarnya 60 cm.
Bebas dari bagian terbuka dan lubang yang dapat menyebabkan kaki terperosok,
jatuh atau cedera lainnya.
Dibuat untu mencegah bahan-bahan yang terjatuh. Juga dibuat papan pengaman
atau sejenis pada pinggiran anjungan.
Dijaga dari bahaya tersandung dan terpeleset. Jika memungkinkan sediakan
pegangan tangan dan penahan kaki. Jaga anjungan tetap bersih dan rapi.
Ketentuan Umum Keamanan Perancah
Sediakan perancah untuk semua pekerjaan kecuali bila dapat dilakukan dengan
aman dari lantai atau tanah
Perancah dirancang, dibangun, diubah dan dibongkar oleh petugas yang ahli dan
dipimpin oleh supervisor yang ahli
Semua perancah harus dirancang, dibangun, dan dipelihara sesuai dengan petunjuk
dari produsennya dan standar industri
Bagian-bagian dari perancah yang rusak atau lemah harus segera diperbaiki atau
diganti
Jangan menggabungkan bagian-bagian perancah dari produsen yang berbeda
28 – K3 Pekerjaan Konstruksi

Perancah diletakkan pada pondasi yang kuat dan rata. Tanah atau pondasinya
harus mampu menahan berat perancah dan berbagai beban yang akan
diletakkan di atasnya. Hati-hati terhadap rongga-rongga seperti ruang bawah
tanah atau timbunan tanah lembek yang mengakibatkan anjungan dapat roboh
bila memperoleh beban. Berikan pendukung tambahan bila diperlukan
Jangan menggunakan kotak, drum, batu bata, atau blok beton untuk mengganjal
atau mendukung perancah
Perletakkan perancah harus datar
Diatahan dan diikat pada suatu struktur permanen atau lainnya yang stabil. Rangka
ini akan stabil bila ditahan dan ditegakkan dengan baik. Letakkan penghubung
rangaka pada tempatnya saat perancah ditegakkan
Perancah harus mampu menahan beban yang akan diletakkan di atasnya.
Perancah biasanya tidak dirancang untuk memikul beban berat di atas anjungan
kerjanya. Rancangan perancah adalah untuk dapat menahan setidaknya 4 kali
beban yang mungkin ada dari beban kerja dan bahan-bahan bangunannya
Rangka, lantai kerja, tangga naik, lantai dasar perancah harus bersih dari minyak,
gemuk, lumpur, dan bahan-bahan lain yang dapat membahayakan
penggunaannya
Lebar perancah lantai kerja harus cukup untuk bekerja dan meletakkan bahan-
bahan. Lebarnya jangan kurang dari 46 cm.
Papan-papan perancah didukung penuh dan tidak menggantung
Bila di atas perancah ada orang yang bekerja maka perancah harus diberi pelindung
untuk pekerja yang sedang menggunakannya. Pelindung ini jangan
lebih tinggi dari 3 m di atas lantai kerja perancah. Terbuat dari papan atau bahan
lain yang cukup kuat.
Manajemen pekerjaan bekisting antara lain:
Rute aman harus disediakan pada tiap bagian dari bangunan
Bagian bentuk perancah dari pendukung rangkanya bekisting yang menyebabkan
tergelincir harus ditutup rapat dengan papan.
Bentuk sambungan rangka bekisting menara harus direncanakan mampu
menerima beban eksternal dan faktor keselamatan harus diperhitungkan,
Titik-titik penjangkaran perancah gantung yang mendukung bekisting harus
terpancang dan mempunyai daya tahan yg kuat.
Perancah gantung yang digunakan pada bagian luar bangunan yang berbentuk
cerobong harus dijangkarkan untuk menahan kekuatan angin.
(sumber: http://sipilworld.blogspot.co.id/2013/02/k3-pekerjaan-struktur_3054.html)
K3 Pekerjaan Konstruksi - 29

Perancah Menara
Perancah menara dapat dipasang dengan cepat dan dapat memberikan sarana yang
aman dan baik. Namun alat ini menyebabkan sejumlah kecelakaan setiap tahunnya.
Kecelakaan-kecelakaan ini terjadi dikarenakan perancah dipasang dengan tidak benar
atau digunakan secara tidak benar. Bila suatu perancah menara akan digunakan maka:
Ikuti petunjuk produsen dalam pemasangan, penggunaan, dan pembongkarannya.
Miliki salinan dari instruksi penggunaan yang tersedia bila perancah disewa.
Perusahaan harus menyediakan informasi ini.
Menara harus tegak lurus dan kakinya duduk dengan baik pada tanah yang keras dan
rata
Kuncilah setiap roda penyangga, alat plat akan memberikan stabilitas yang lebih besar
bila menara tidak harus dipindahkan
Sediakan sarana yang aman untuk mencapai dan meninggalkan anjungan kerja di
atasnya, contohnya tangga dalam. Memanjat dari bagian luar dapat
mengakibatkan menara terguling.
Pasang pelindung pinggiran (pagar pengaman atau pelindung lain yang sesuai dan
papan pelindung) pada anjungan dari tempat dimana orang dapat terjatuh dari
ketinggian 2 m atau lebih
Ikatlah menara dengan kuat pada struktur yang sedang dilayani atau buat pendukung
tambahan yang lain bila:
Menara bertingkat
Kelihatannya ada angin yang kuat
Digunakan untuk penyemprotan udara atau air bertekanan
Bahan yang berat diangkut dari bagian bawah menara
Dasar menara terlalu kecil untuk memberikan stabilitas pada ketinggian menara
Bila diperlukan penyangga periksa letaknya, apakah sudah sesuai setelah perancah
berdiri. Pastikan bahwa perancah diperiksa dari waktu ke waktu
Jangan menggunakan tangga berdiri pada anjungan kerjanya atau memberikan beban
horizontal lainnya yang dapat menggoyangkan menara
Jangan memberikan beban yang lebih kepada anjungan kerja
30 – K3 Pekerjaan Konstruksi

Pekerjaan Pembesian
Manajemen Pekerjaan Pembesian antara lain:
Pemasangan besi beton yang panjang harus dikerjakan oleh pekerja yang cukup
jumlahnya, terutama pada tempat yang tinggi, untuk mencegah besi beton
tersebut meliuk / melengkung dan jatuh.
Pada waktu memasang besi beton yang vertikal, pekerja harus berhati-hati agar
besi beton tidak melengkung misalnya dengan cara mengikatkan bambu atau
kayu sementara.
Memasang besi beton di tempat tinggi harus memakai perancah, dilarang keras
naik / turun melalui besi beton yang sudah terpasang.
Ujung-ujung besi beton yang sudah tertanam harus ditutup dengan potongan
bambu atau lainnya, baik setiap besi beton masing-2 atau secara kelompok
batang besi, untuk mencegah kecelakaan fatal.
Bila menggunakan pesawat angkat ( kran / crane ) untuk mengangkat atau
menurunkan sejumlah besi beton, harus menggunakan alat bantu angkat yang
terbuat dari tali kabel baja ( sling ) untuk mengikat besi beton menjadi satu dan
pada saat pengangkatan atau penurunan harus dipandu oleh petugas (misal
dengan memakai peluit).
Pengangkatan atau penurunan ikatan besi beton harus mengikuti prosedur operasi
pesawat angkat (crane).
Semua pekerja yang bekerja di tempat tinggi harus dilengkapi dan menggunakan
sabuk pengaman, sarung tangan, sepatu lapangan , helm dan alat pelindung
diri lain yang diperlukan

Pekerjaan Beton
Pada pekerjaan beton, baik pencetakan dan pengecoran beton, risiko utama yang
dialami pekerja antara lain: orang jatuh selama merangkai besi dan mendirikan
cetakan beton, robohnya cetakan beton, atau cetakan beton yang salah, bahan-
bahan yang jatuh, debu silika dari pekerjaan pembersihan, lengan dan punggung
terkilir karena mengencangkan baja.
Adapun pengamanan yang dapat dilakukan:
Ketentuan tentang metode keselamatan dan kesehatan kerja telah disetujui
sebelum pekerjaan dimulai dan diikuti
Pagar pengaman atau penghalang lain yang sesuai untuk mencegah terjatuh
dipasang sesuai rencana kerja
Para pekerja mempunyai jalan ke tempat kerja yang aman
K3 Pekerjaan Konstruksi - 31

Tangga atau perancah digunakan untuk sarana sebagaimana seharusnya.


Peralatan dalam kondisi baik sebelum digunakan
Rangka, cetakan, dan pendukung sementara telah diperika, terikat, berdiri,
ditahan, dan didukung dengan baik sebelum dimuati beban, dan sebelum
dinding atau kolom dicor.
Pekerja terlindung dari beton yang basah (dengan sarung tangan dan sepatu)
dan debu silica (dengan respirator)
Sedapat mungkin beban dibuat merata pada struktur sementara, jangan
meletakkan beban yang berat seperti: kayu, balok-balok jadi, atau beton cair
pada area terbatas.

Pekerjaan Shotcrete
Pekerja yang bertugas mengoperasikan alat penyemprot harus memakai APD
yang cukup antara lain : masker pelindung pernafasan, kaca mata
pelindung debu, sarung tangan dan sepatu karet.
Campuran semen dapat menyebabkan penyakit kulit. Iritasi dan alergi dapat
disebabkan oleh adanya kontak langsung dengan semen basah, dan
apabila paparan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kulit terbakar.

Pekerjaan di Ketinggian
Pekerjaan di ketinggian memiliki risiko jatuh lebih besar. Tercatat 50% kecelakaan
yang menyebabkan kematian dalam industri konstruksi adalah jatuh. Kecelakaan
jatuh dapat dicegah bila peralatan yang benar disediakan dan digunakan dengan
benar. Secara khusus pencegahan perlu dilakukan jika ada kemungkinan jatuh
dengan ketinggian lebih dari 2 meter. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam
merencanakan pekerjaan di tempat ketinggian adalah menyediakan tambahan
strukur yang memungkinkan adanya jalan yang aman dan penyediaan tempat kerja
yang aman.
Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan akibat jatuh adalah
dengan memeriksa lantai karena akan menyangga beban dari pekerja, bahan, dan
peralatan yang digunakannya, apakah lantai stabil atau tidak akan terguling?,
contohnya, perancah, biasanya perlu diikat pada struktur penyangga. Selain itu,
dipasang pagar pengaman dan pelindung pada tepainnya, termasuk tepian lantai-
lantai, lubang-lubang pada lantai, tepian atap, dan tepian lantai kerja.
Pagar pengaman, papan pelindung, dan pelindung sejenis lainnya memiliki
persyaratan, antara lain:
32 – K3 Pekerjaan Konstruksi

Terbuat dari bahan yang cukup kuat untuk mencegah orang jatuh dan mampu
mendukung muatan-muatan lainnya yang diletakkan di atasnya.
Terikat pada struktur, atau bagian dari struktur yang mampu menahannya.
Termasuk:
Pagar pengamanan utama setinggi 91 cm di atas setiap pinggiran dimana
orang dapat jatuh
Papan pelindung setinggi 15 cm
Pagar pengaman perantara dalam jumlah yang cukup, atau penempatan
alternatif yang sesuai sehingga bagian antara yang tak terlindung tidak
melebihi 47 cm
Penghalang lain selain pagar pengaman dan papan pelindung juga dapat
digunakan, asalkan tingginya 91 cm, terikat, dan dapat memberikan
standar pengamanan yang sesuai terhadap kemungkinan kejatuhan
dan tergulingnya bahan-bahan atau tersepak dari pinggiran laintai.
Upaya pengamanan bekerja di tempat tinggi, yaitu:
Periksa apakah sudah ada metode yang aman untuk memasuki atau keluar dari
lokasi kerja.
Tentukan peralatan apa yang sesuai dan tersedia di tempat kerja serta
kondisinya.
Pastikan bahwa peralatan atau anjungan kerja dan setiap pinggiran lantai
dimana orang mungkin jatuh telah diberi pagar pengaman dan papan
pelindung, atau penghalang lainnya.
Pastikan bahwa alat-alat yang diperlukan telah diletakkan di lapangan pada
waktunya dan lapangan juga telah disiapkan untuk itu.
Periksa apakah peralatan dalam keadaan baik dan pastikan pula bahwa orang
yang bersama dengan peralatan tersebut telah dilatih dan mengetahui apa
yang dikerjakannya.
Berikan pelindung untuk sabuk mesin, puli, roda gigi, rantai, piringan, dan
bagian yang berputar dari mesin-mesin. Jangan melepas atau membuang
pengaman, alat keselamatan dari peralatan yang ada, kecuali untuk
perbaikan atau keperluan penyetelan, dan juga setelah sumber dayanya
dimatikan.
Pasang kembali pengaman dan alat keselamatannya setelah pekerjaan
perbaikan atau penyetelah selesai.
Salurkan dengan baik gas-gas buang berbahaya
K3 Pekerjaan Konstruksi - 33

F. K3 Pekerjaan Pembongkaran
Pembongkaran adalah salah satu konstruksi yang paling berbahaya dibanding
dengan kegiatan lain. Oleh sebab itu banyak peraturan-peraturan yang di terapkan di
pembongkaran konstruksi, untuk meminimalkan cedera ataupun kematian. Ada
beberapa potensi kecelakaan yang dapat terjadi antara lain: 1) Jatuh dari ketinggian
atau pada tingkat yang berbahaya; 2) Kejatuhan puing runtuhnya struktur yang sedang
dibongkar; dan 3) Kebakaran dan ledakan dari penggunaan bahan mudah terbakar.
Sebelum pekerjaan dimulai harus dilakukan penyelidikan yang kompeten untuk
menentukan bahaya dan risiko terkait yang dapat mempengaruhi pekerja
pembongkaran dan anggota masyarakat yang berada di dekat lokasi pembongkaran.
Penyelidikan yang dilakukan meliputi antara lain :
Beban daya dukung tanah
Resiko terhadap penduduk sekitar pembongkaran
Kehadiran zat radioaktif
Keselamatan publik termasuk penyediaan pagar tinggi atau papan
Bentuk pembongkaran ada 2 macam yaitu: 1) Alat mekanis, yang terdiri dari: Bor
Pneumatik Crane, Bola Pembongkaran, Lengan pusher Hidrolik; 2) Bahan peledak Hal-
hal yang harus dilakukan sebelum pembongkaran antara lain :
Mengembangkan sistem kerja yang aman
Menghapus kaca dari semua jendela untuk menghindari kaca pecah
Melindungi masyarakat dengan membatasi akses ke tempat pembongkaran
Membuat peraturan dan menjamin keselamatan bagi pembongkar

Pekerjaan pembongkaran mencakup :


Jenis dan ukuran bangunan atau struktur
Ruang lingkup dan skala waktu kerja
Resiko kesehatan yang mungkin timbul
Kondisi tanah yang kemungkinan terkontaminasi (seperti debu)

Syarat pembongkaran dengan bahan peledak antara lain :


Rencanakan jarak dari struktur yang akan dibongkar
Area aman dari sisa puing-puing peledakan
Zona eksklusif untuk terhindar dari bahaya peledakan

Ada beberapa tindakan untuk memperkecil resiko bahaya :


Disconnecting layanan ke tempat pembongkaran
Memastikan tidak ada percikan api atau sumber nyala
34 – K3 Pekerjaan Konstruksi

Memastikan pemisahan antara publik dan pembongkaran kegiatan


Menggunakan teknik runtuhnya dikendalikan orang yang bekerja di ketinggian

Selain itu diwajibkan menggunakan alat pelindung diri atau APD :


Pemakaian helm (Diharuskan oleh undang-undang)
Pemakaian sepatu
Kaos tangan
Kacamata
Respirator
Pelindung pendengaran

Tanda-tanda yang digunakan di sekitar lokasi pembongkaran antara lain :


Garis utama bahaya yang mungkin hadir selama pembongkaran bangunan
Garis faktor untuk pertimbangan ketika survei pra pembongkaran
Garis area utama yang akan dibahas dalam pernyataan metode pembongkaran

(Sumber: http://www.ilmutekniksipil.com/keselamatan-dan-kesehatan-kerja/k3-bahaya-
pembongkaran-pekerjaan)

Keselamatan Kerja dalam perobohan gedung


Dalam industri kontruksi, yang memiliki catatan keselamatan kerja yang buruk, salah
satu oprasi kerja yang paling berbahaya adalah perobohan gedung. Akan tetapi, pekerjaan
tersebut dapat dilakukan dengan cara yang relative aman jika mengikuti praktik-praktik dan
aturan-aturan tertentu.
Perundang-undangan yang mencangkup perobohan gedung sangatlah singkat dan
dicantumkan dalam r.10 pada Contruction (Health, Safety, and Welfare) Regulations
1996 yang mengatakan:

Perobohan gedung atau pembongkaran


Langkah-langkah yang sesuai dan cukup perlu diambil untuk memastikan bahwa
perobohan atau pembongkaran setiap struktur, atau bagian mana pun dari setiap
struktur, yang merupakan perobohan atau pembongkaran yang menimbulkan risiko
bagi setiap orang, harus direncanakan dan dilaksanakan dengan cara sedemikian
rupa untuk mencegah bahaya tersebut, sepanjang dapat dilakukan.
Perobohan atau pembongkaran yang padanya berlaku paragraph (1) harus
direncanakan dan dilaksanakan hanya dibawah penyeliaan orang yang berkompeten.
K3 Pekerjaan Konstruksi - 35

Perlu dicatat bahwa tuntutan untuk mencegah bahaya tersebut, sepanjang dapat dilakukan,
yaitu pertanyaan tentang kepraktisan dan biaya pengambilan tindakan pencegahan tidak
termasuk ke dalam pertimbangan.
Pekerjaan perobohan gedung tunduk pada CDM dan harus direncanakan dan
dilaksanakan dengan baik, Ada tiga fase yang menjadi pertimbangan:
Merencanakan Pekerjaan
Bahaya terhadap kesehatan
Metode kerja.

Merencanakan Pekerjaan
Pada tahap awal, pertimbangan diberikan kepada:
Jenis struktur atau gedung
Kondisinya
Keberadaan layanan - baik berjalan maupun tidak
Adanya sisa substansi-substansi berbahaya dari pemakai sebelumnya, seperti
asbes, material yang mudah terbahakar dan beracun
Pengaruh dari atau terhadap bangunan yang berdekatan
Akses ke tempat konstruksi untuk peralatan
Penyimpanan material hasil pembongkaran
Pembuangan puing-puing dan sisa galian
Program kerja:
Urutan pekerjaan
Metode kerja:
Mempersiapakan pernyataan metode
Sistem kerja termasuk ijin kerja
Pemilihan kontraktor
Yang kompeten
Berpengalaman dalam jenis perobohan tersebut
Menyediakan penyeliaan yang kompeten

Bahaya terhadap kesehatan


Bahaya terhadap kesehatan dapat muncul dari keberadaan:
Gas, asap, uap dan debu yang dapat berupa asfiksian (asphyxiant) racun, material
korosif, atau karsiogenik dan dapat mengganggu kesehatan melalui:
hirup nafas
asupan makanan
36 – K3 Pekerjaan Konstruksi

- penyerapan melalui kulit atau luka yang terbuka


Cairan dan material yang dapat menyala.

Sustansi-substansi umum yang dijumpai dalam perobohan gedung meliputi:


Timbal
Asbes
Debu semen
Silika
Residu dari proses-proses di tapak konstruksi
- manufaktur, penggunaan, penanganan, penyimpanan dan sebagainya,
material-material yang diketetahui maupun tidak.
Kita harus mengambil tindakan pencegahan yang sesuai dan menyediakan alat pelindung
diri (PPE)

Metode perobohan gedung


Metode perobohan meliputi:
Perobohan dengan tangan:
mengikuti urutan terbalik dari urutan pembangunanya
bahaya dari puing-puing yang jatuh sehingga tidak boleh ada pekerjaan yang dilakukan
dibawah bagian-bagian yang sedang dirobohkan
mengurangi akses ke atas robohan dan kebagian-bagian yang akan dirobohkan
Jika menggunakan cerobong untuk meluncurkan puing, bersihkan dasarnya secara
teratur
Perobohan secara mekanik:
bola perobohan (demolition ball):
* secara vertical harus menggunakan
* berayun segaris dengan lengan kran kran tugas
* memutar lengan derek berat
lengan pedorong (pusher arm)
palu hidrolik (hydraulic hammer)
jangkar-kait dan kaki-sangga bermesih (power grapple and shears)
ember-cengkram (grabs)
Jika menggunakan peroboh mekanik:
kontruksi atap trus dirobohkan dengan tangan hingga ke pelat peletakan
perobohan dengan tangan dilakukan untuk jarak 1 m dari gedung terdekat
stabilitas gedung terdekat perlu diperiksa dan dipelihara
K3 Pekerjaan Konstruksi - 37

Hanya mesin dan kernet yang boleh berada disekitar 6 m dari gedung yang dirobohkan
mesin harus memiliki ruang bebas (clear working space) 6 m dari gedung
gedung tidak boleh dimasuki ketika perobohan dimulai
Peruntuhan secara bertahap
strukturnya diperlemah terlebih dahulu kemudian gunakan bahan peledak atau tali
penarik (wire rope pulling)
Catatan: teknik ini memerlukan pengetahuan tentang kekuatan sturktur bangunan dan
hanya boleh dilakukan oleh pihak yang berkompeten dibawah penyeliaan yang ketat.
Peledakan
digunakan hanya oleh tenaga ahli yang memiliki pengetahuan tentang:
isian dan ukuran pemicu
perlindungan ledakan yang diperlukan
area zona pengecualian/eksklusi
program pemicu ledakan
cara menangani kegagalan ledak
tindakan pencegahan peledakan terlalu awal akibat gangguan radio dan yang
sejenisnya
tanda peringatan dan menjaga zona eksklusi
pengaturan keamanan untuk tempat penyimpanan bahan peledak
Penarikan dengan tali (wire rope pulling)
tidak boleh digunakan pada struktur dengan ketinggian lebih dari 21 m
menggunakan kawat baja dengan diameter minimum 38 mm
jarak kendaraan penarik atau wins dari gedung sedikitnya dua kali tinggi gedung
kendaraan penarik atau wins memiliki kabin atau kurungan baja untuk melindungi
operator
zona eksklusi diperluas dari gedung dan di setiap sisi tali pada jarak sedikitnya tiga
perempat jarak wins atau kendaraan penarik dari gedung
jika penarikan gagal:
* gedung atau struktur tersebut tidak boleh didekati atau dimasuki
alat-alat mekanik lainnya perlu digunakan untuk menyelesaikan perobohan

Pembakaran jangan pernah digunakan sebagai metode perobohan. Teknik-teknik khusus


harus dijelaskan dalam ketentuan pernyataan metode kerja untuk:
Atap lereng (pitched roof)
Balok-lantai isian (filler joist floor)
Lantai yang disangga tiang baja
38 – K3 Pekerjaan Konstruksi

Busur gepeng (jack arches)


Lantai betob bertulang
Struktur kerangka
Beton bertulang cor di-tempat:
balok
kolom
dinding
lantai dan atap gantung
Struktur beton, lantai, dan panel dinding pracetak
Beton pra-tegang
Perobohan merupakan proses yang sangat berbahaya dan harus dilakukan hanya oleh
tenaga ahli dengan kualifikasi dan pengalaman yang sesuai.

G. K3 Pekerjaan Konstruksi Baja

Dalam pekerjaan struktur baja, pada tahap erection hal-hal yang perlu mendapatkan
perhatian pada saat melakukan pemindahan material menggunakan pesawat angkat
adalah : Beban yang diangkat dan kestabilan pengangkatan termasuk pesawat angkatnya.
Pada pekerjaan ereksi struktur baja, banyak menggunakan penyambungan antar beam dan
kolom dengan menggunakan baut tegangan tinggi.
Yang perlu diperhatikan pada pemasangan baut tersebut adalah :
Terjadinya gaya berlebihan pada gaya eksternal dan gaya geser (bearing force)
Batasan kekuatan pengunci mur baut (torque control)
Step/tahap penguncian mur-baut (sequence)

K3 PEKERJAAN STRUKTUR BAJA : YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM ERECTION


DENGAN ALAT ANGKAT
Beban yang diangkat
Kestabilan alat angkat
Alat angkat laik pakai ( SIA )
Kompetensi operator ( SIO )
Tahapan kerja
Pekerjaan struktur baja meliputi semua jenis pekerjaan merangkai, merakit. Dan mendirikan
semua jenis kerangka baja, seperti tower, rangka batang crane, dsb
Klasifikasi struktur baja dibagi 2 jenis, konstruksi rangka baja saja (murni), atau rangka baja
beton. Unuk merangkai diperlukan sistem dan metode penyambungan
K3 Pekerjaan Konstruksi - 39

Sistem sambungan dan bentuk rangka baja terdiri dari :


Tipe penyambungan antara kolom dan beam
Tipe pengikat (bracket), las di tempat, dengan plat gusset
Tipe sambungan antar kolom
Tipe splice, pengelasan & dasar kolom

Metode penyambungan:
Metode penyambungan baut
Metode penyambungan baut tegangan tinggi dan
Metode penyambungan las.

Bentuk-bentuk perakitan dan erection struktur baja:


Metode horisontal
Metode vertikal
Metode lainnya.

Pencegahan bahaya kecelakaan dilakukan selama proses perakitan dan erection


Karakteristik struktur baja bahaya kecelakaan ambruk:
Bahaya dengan ketinggian > 20 m,
Kurangnya persiapan rangka baja di lingkungan kerja,
Mempunyai bentang dengan rasio 1:4, dan
Lokasi sambungan las.
(Sumber: https://imtad.wordpress.com/2016/04/12/beberapa-faktor-yang-mempengaruhi-
kecelakaan-kerja-konstruksi-k3-pada-pengerjaan-struktur-baja/)

H. Pekerjaan Di Ruang Terbatas Dan Di Atas Air

Ketidak tahuan tentang bahaya-bahaya dalam ruang terbatas telah menyebabkan


banyak kematian pada pekerja. Sering kali kematian itu tidak hanya terjadi pada orang yang
bekerja di ruangan terbatas saja, tetapi juga terjadi pada orang yang tanpa perlengkapan yang
baik mencoba menyelamatkan korban. Bekerja diruang ini membutuhkan orang yang cakap dan
terlatih demi keselamatannya. Bila pekerjaan di ruang terbatas tidak dapat dihindarkan, akan
sering kali lebih aman bila menggunakan seorang spesialis untuk pekerjaan itu.
Demikian pula pekerjaan yang dilakukan diatas air, baik laut, danau atau sungai,
mempunyai resiko yang tinggi bagi pekerjauntuk terjatuh dan tenggelam. Untuk itu diperlukan
40 – K3 Pekerjaan Konstruksi

persiapan pengamanan yang baik untuk mencegah terjadinya akibat yang fatal bila terjatuh
ke air.

Ruang Terbatas
Udara didalam ruang terbatas menjadi tidak dapat digunakan untuk bernafas oleh gas-gas
dan uap-uap beracun, atau oleh kurangnya oksigen. Ventilasi alami yang ada tidak cukup
guna menjaga udara yang baik untuk bernafas. Dalam beberapa kasus gas-gas itu mungkin
mudah terbakar, dengan demikian ada resiko kebakaran atau peledakan.
Ruang kerja mungkin terbatas, menyebabkan pekerja dekat dengan bahaya-bahaya
lainnya seperti mesin-mesin yang bergerak, listrik, ventilasi dan pipa uap air. Pintu masuk
ruang terbatas, sebagai contoh, suatu lubang, mungkin dapat lebih menyulitkan
penyelamatan atau pertolongan dalam suatu keadaan darurat.

Bahaya Didalam Ruang Terbatas


Beberapa ruang terbatas secara alami berbahaya, sebagai contoh desebabkan karena:
Gas muncul di saluran air kotor dan lubang masuk dan parit berhubungan dengannya
Gas-gas bocor ke saluran-saluran dan parit-parit pada tanah yang tercemar seperti
pekerjaan gas yang lama
Karat didalam tangki dan bejana yang memakan oksigen cairan dan endapan yang
dapat secara tiba-tiba mengisi ruangan atau melepaskan gas-gas saat diganggu
Reaksi kimia antara beberapa campuran dan udara menyebabkan oksigen menipis atau
akibat air tanah pada kapur dan batu gamping yang memproduksi karbon dioksida.

Beberapa tempat menjadi berbahaya karena uap dari pekerjaan yang dilakukan.
Upayakan bahaya-bahaya dikeluarkan dari ruang terbatas. Jangan menggunakan
mesin-mesin bensin atau diesel karena gas buangnya beracun. Cat, lem, dsb dapat
memberikan uap-uap berbahaya. Pastikan bahwa ruang terbatas memiliki ventilasi
yang cukup untuk membuat udara sehat untuk bernafas. Ventilasi mekanis mungkin
di perlukan.

Masuk Ke Ruang Terbatas


Bekerja Secara Aman di Ruang Terbatas
Harus ada suatu sistem yang aman untuk bekerja di ruang terbatas. Setiap orang
harus mengetahui dan menuruti sistem. Diperlukan suatu sistem ijin kerja. Untuk bekerja
K3 Pekerjaan Konstruksi - 41

dengan aman, pertama-tama mencoba suatu cara mengerjakan pekerjaan tersebut tanpa
harus memasuki ruang terbatas.

Ketentuan Masuk Ruang Terbatas


Identifikasi pekerjaan apa yang harus dikerjakan di dalam ruang terbatas itu, dan bahaya-
bahaya yang terkait
Pertimbangkan bila ruang dapat dirubah untuk membuatnya aman secara permanen atau
bila pekerjaan dapat dirubah sehingga tidak perlu memasuki area berbahaya.
Pastikan bahwa para pekerja telah dilatih didalam bahaya dan tindakan pencegahannya,
termasuk prosedur penyelamatan.
Pastikan bahwa jalan masuk ke dalam ruangan cukup besar bagi pekerja yang mengenakan
seluruh peralatan yang diperlukan, untuk masuk dan keluar dengan mudah.
Sebelum masuk, ventilasikan ruangan sebanyak mungkin, periksa udara didalam ruangan
dan boleh masuk bila hasil pemeriksaan memperlihatkan keadaan aman.
Setelah masuk, lanjutkan pemeriksaan udara untuk kondisi racunnya, gas-gas mudah
terbakar, dan kekurangan oksigen sesuai keperluannya.
Bila ada resiko kebakaran, ruangan harus di-ventilasi sampai aman. Waktu memilih
peralatan, ingat panas atau percikan dari listrik atau peralatan lain yang dapat menyulut
uap mudah terbakar, dengan demikian mungin diperlukan peralatan bertenaga tekanan
udara. Resiko dari uap mudah terbakar sangat tinggi sewaktu pekerjaan dilakukan pada
tangki bensin di stasiun pengisi bahan bakar dan lokasi lain yang serupa.
Menggangu endapan dan lumpur dalam pipa-pipa dan tangki-tangki dapat menimbulkan
tambahan uap, mengakibatkan bertambahnya resiko, untuk itu sedapat mungkin
amankan dulu endapan sebelum masuk.
Bila udara didalam ruangan tidak dapat dibuat aman untuk bernafas karena adanya resiko
racun atau kekurangan oksigen, pekerja harus mengenakan alat bernafas (breathing
apparatus).
Jangan mencoba untuk memperbaiki udara didalam ruang terbatas dengan oksigen karena
dapat menimbulkan resio kebakaran dan peledakan.
Pekerja didalam ruang terbatas harus mengenakan harness penyelamat, berikut talinya
yang dihubungkan dengan suatu titik diluar ruang terbatas.
Seseorang harus berada diluar yang terus mengawasi dan berkomunikasi dengan
seseorang didalam, bunyikan alarm dalam keadaan darurat dan lakukan prosedur
penyelamatan. Adalah penting bagi mereka yang berada diluar untuk mengetahui apa
yang harus dilakukan dalam suatu keadaan darurat. Mereka perlu mengetahui
bagaimana menggunakan alat bernafas bila mereka harus melakukan penyelamatan.
42 – K3 Pekerjaan Konstruksi

Mencegah Tenggelam
Ada resiko tenggelam di samping, di atas, lewat didekat, menyebrangi air, berupa laut,
danau atau sungai saat bekerja atau menuju ked an dari tempat kerja. Orang juga dapat
tenggelam dalam cairan lainnya seperti lumpur, campuran kimia di pabrik, dsb.
Untuk mencegah tenggelam, sediakan:
Pengaman untuk mencegah orang terjatuh ke air atau cairan lainnya. Pada kebanyakan
kasus pagar pengaman dan papan penahan atau penghalang sejenis diperlukan
pada pinggiran terbuka. Di pabrik dan beberapa lokasi lain memungkinkan untuk
menutup permukaan cairannya.
Jaket pelampung dan alat pelampung, perlengkapan pelindung diri harus dikenakan bila ada
kemungkinan terjatuh atau bila resikonya besar. Pastikan bahwa orang yang perlu
mengenakan perlengkapan pelindung telah diberikan latihan penggunaannya dan apa
yang dilakukan dalam keadaan darurat. Pada sungai yang mengalir, tali yang
akan ditangkap orang yang terjatuh di air dapat dibentangkan dari kedua sisi sungai.
Orang-orang juga dalam resiko tenggelam sewaktu melakuakan perjalanan dengan kapal
untuk mencapai tempat kerja, sebagai contoh pekerjaan pada di kapal, di sungai, di
bendungan dan di pulau-pulau. Setiap kapal yang digunakan untuk mengangkut orang ke
dan dari tempat kerja harus:
Konstruksi kapalnya sesuai
Dirawat dengan baik
Dibawah pengawasan seseorang yang mampu
Jangan terlalu penuh atau kelebihan muatan.
K3 Angkat dan Angkut – 43

BAB III
K3 PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

Bab ini berisi penjelasan mengenai K3 Angkat dan Angkut. Setelah mempelajari bab ini,
mahasiswa diharapkan mampu:
Mengetahui jenis pesawat angkat dan angkut
Mengetahui potensi bahaya pekerjaan angkat dan angkut
Mengetahui tindakan pengendalian pekerjaan angkat dan angkut

Pada industri konstruksi, pesawat angkat dan angkut sudah lumrah digunakan. Pesawat
angkut dan angkat digunakan untuk mengangkat atau memindahkan sebuah barang dengan
jarak, besar dan berat tertentu yang sulit untuk dilakukan ataupun tidak mungkin dilakukan
dengan tenaga manusia. Pesawat pengangkat juga dapat diartikan sebagai kelompok mesin
yang bekerja secara periodik yang didesain alat pengangkat dan pemindah muatan yang
dapat digantungkan secara bebas atau diikat pada crean. Peraturan tentang alat angkat
angkut dapat dilihat pada Permenaker No 05 Tahun 1985 Tentang Pesawat Angkat Angkut.
Disempurnakan dengan Permenaker No. 09 Tahun 2010. Namun pada kenyataannya masih
ditemukan penyedia belum memiliki pengesahan pemakaian, termasuk operator yang belum
memiliki sertifikat/ lisensi. Dilihat dari aspek K3, pesawat angkat dan angkut merupakan
sumber bahaya yang dapat mengakibatkan timbulnya kecelakaan kerja apabila tidak
memenuhi syarat/ standar K3 dan atau operatornya tidak berkompeten. Oleh karena itu,
perlunya pemeriksaan, pembinaan dan teguran agar pengurus dan operator mematuhi
syarat-syarat K3 dalam pemakaian sesuatu pesawat angkat dan angkut.

A. JENIS PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

Pesawat angkat dan angkut ialah suatu pesawat atau alat yang digunakan untuk
memindahkan, mengangkat muatan baik bahan atau barang atau orang secara vertikal dan
atau horizontal dalam jarak yang ditentukan. Peralatan angkat ialah alat yang dikonstruksi
atau dibuat khusus untuk mengangkat naik dan menurunka muatan. Pita Transport ialah
suatu pesawat atau alat yang digunakan untuk memindahkan muatan secara continue
dengan menggunakan bantuan pita. Pesawat angkutan diatas landasan dan diatas
permukaan ialah pesawat atau alat yang digunakan untuk memindahkan muatan atau orang
dengan menggunakan kemudi baik di dalam atau di luar pesawat dan bergerak di atas suatu
landasan maupun permukaan.
44 – K3 Angkat dan Angkut

Pesawat pengangkut dapat dipisahkan menjadi tiga sesuai cara pengangkutannya :


1. Hydraulic Handling Device
Cara pengangkutan dengan menggunakan media berupa cairan atau liquid sebagai media
pengangkutan.

Gambar. Forklift
2. Pneumatic Handling Device
Cara pengangkutan dengan menggunakan media berupa udara, gas sebagai sarana
pengangkutannya

Gambar. Pneumatic Convey


3. Mechanical Conveyor
Pesawat angkat dan angkut ini memiliki banyak jenis sesuai dengan keadaan dan
kegunaannya antara lain:
Belt Conveyor
Fungsi belt conveyor adalah untuk mengangkut berupa curah dengan kapasitas yang cukup
besar, dan sesuai dengan namanya maka media yang digunakan berupa ban.
K3 Angkat dan Angkut – 45

Konstruksi dari belt conveyor adalah :


Konstruksi arah pangangkutan horizontal
Konstruksi arah pengangkutan diagonal atau miring
Konstruksi arah pengangkutan horizontal dan diagonal

Gambar. Horizontal Conveyor

Gambar. Diagonal Conveyor

Macam-macam Crane
1. Overhead travelling crane.
Overhead travelling crane merupakan salah satu jenis crane, yang berupa jembatan
melintang diatas kepala yang umumnya terbuat konstruksi rangka batang yang ditutup atau
dilapis plat baja. Mekanisme ini sering disebut troli yang juga dilengkapi dengan alat-alat
hingga sedemikian rupa untuk menghasilkan beberapa gerakan antara lain pengangkatan
benda (hoisting sistem) dan jalan melintang pada jembatan.
46 – K3 Angkat dan Angkut

Gambar. Overhead Travelling Crane


2. Gantry Crane
Gantry crane adalah jenis crane portal tinggi berkaki tegak yang mengangkat benda
dengan hoist yang dipasang di sebuah troli hoist dan dapat bergerak secara horizontal
pada rel atau sepasang rel dipasang di bawah balok atau lantai kerja.

Gambar. Gantry Crane


3. Tower crane
Tower crane adalah salah satu jenis alat berat yang sering digunakan untuk membangun
gedung bertingkat atau jembatan. Fungsi tower crane ini adalah untuk mengangkut material
atau bahan maupun konstruksi bangunan dari bawah menuju bagian yang ada di atas.
K3 Angkat dan Angkut – 47

Gambar. Tower Crane


4. Truck crane
Truck crane adalah merupakan salah satu jenis pesawat angkat modern pada saat ini. Truck
crane dipergunakan untuk memindahkan bahan-bahan, alat- alat ataupun beban di lapangan
pada industri-industri atau pabrik-pabrik, areal pembangunan dan sebagainya.

Gambar. Truck Crane


5. Mobile crane
Mobile crane adalah mesin yang memiliki struktur lengkap sebuah crane dan dapat
dipindahkan dengan mudah karena dukungan roda penggerak. Berdasarkan roda
penggeraknya dibedakan menjadi dua, yaitu: crane beroda crawler (kelabang) dan beroda
ban
48 – K3 Angkat dan Angkut

Gambar. Mobile Crane


6. Crawler Crane
Crawler Crane atau disebut crane beroda rantai, merupakan crane yang menggunakan
crawler (kelabang), umumnya dipakai bila diperlukan gesekan antara roda dan permukaan
tanah (agar tidak slip) karena bidang kontak yang luas sehingga tenaga yang diperoleh
dapat maksimum..

Gambar. Crawler Crane


Jenis-jenis Pita Transport
1. Escalator
Escalator atau tangga jalan adalah salah satu transportasi vertikal berupa konveyor untuk
mengangkut orang, yang terdiri dari tangga terpisah yang dapat bergerak ke atas dan ke
bawah mengikuti jalur yang berupa rail atau rantai yang digerakkan oleh motor.
K3 Angkat dan Angkut – 49

Gambar. Escalator
2. Screw conveyor
Screw conveyor adalah conveyor yang berfungsi untuk mengangkut bahan padat berbentuk
halus. Alat ini terdiri dari baja yang memiliki spiral atau helical fin yang terpasang pada shaft
dan berputar dalam suatu saluran berebentuk U (through) tanpa bersentuhan sehingga
helical fin mendorong material.

Gambar. Screw Conveyor


3. Belt conveyor
Conveyor yang berfungsi untuk mengangkut berupa curah dengan kapasitas yang cukup
besar, dan sesuai dengan namanya maka media yang digunakan berupa ban.
50 – K3 Angkat dan Angkut

Gambar. Belt Conveyor

Jenis Pesawat angkutan diatas landasan


1. Forklift
Forklift adalah mobil berjalan atau kendaraan yang memiliki 2 garpu yang bisa digunakan
untuk mengangakat pallet. Garpu forklift pada umumnya kompatibel dengan pallet yang
beredar di pasaran. Biasanya barang diletakkan di atas pallet, baru kemudian barang
dipindahkan atau diangkat.

Gambar. Forklift
2. Loader
Loader atau wheel loader adalah alat yang digunakan untuk mengangkat material yang
akan dimuat kedalamdumptruck atau memindahkan material ke tempat lain. Saat loader
menggali, bucket didorongkan pada material, jika bucket telah penuh maka traktor mundur
dan bucket diangkat ke atas untuk selanjutnya dipindahkan.
K3 Angkat dan Angkut – 51

Gambar. Loader
3. Excavator
Excavator adalah alat berat yang biasa digunakan dalam industri konstruksi, pertanian atau
perhutanan. Mempunyai belalai yang terdiri dari dua tungkai; yang terdekat dengan body
disebut boom dan yang mempunyai bucket (ember keruk) disebut dipper.

Gambar. Excavator
4. Aerial Platform Truck
52 – K3 Angkat dan Angkut

Gambar. Aerial Platform Truck

B. POTENSI BAHAYA PEKERJAAN ANGKAT DAN ANGKUT

Potensi bahaya pada pekerjaan angkat dan angkut, yaitu: kejatuhan benda dari ketinggian,
terpukul ayunan hoke/ beban, jatuh dari ketinggian, bahaya sentuh langsung / tidak langsung
listrik, dan terjepit.
Potensi penyebab:
Bahan tidak memenuhi syarat, misal: kesalahan bahan baku, penuaan/ kerapuhan bahan,
dan deformasi
Konstruksi, misal: gambar desain, detail sambungan, dan perhitungan kekuatan
Peralatan pengaman, apakah tidak lengkap, tidak sesuai dengan standar, atau tidak
berfungsi
Pemeriksaan tidak lengkap
Perawatan/ pelayanan, misalnya kerusakan yang kurang diperhatikan, sling tidak dirawat,
pengikatan yang tidak memenuhi standar, atau steel wire rope (SWR) cacat.
Kurangnya ketrampilan, misalnya tidak mampu memperkirakan berat beban, pengangkatan
beban tidak sentris, komunikasi terganggu, mengangkat beban tanpa tagline,
pengikatan salah, atau tidak mematuhi perundang-undangan
Faktor lain, misalnya: sling putus tiba-tiba, sambaran petir, sabotase, dan force major
K3 Angkat dan Angkut – 53

C. TINDAKAN PENGENDALIAN PEKERJAAN ANGKAT DAN ANGKUT

Tindakan pengendalian dapat dilakukan dengan memenuhi persyaratan K3 pada pekerjaan


angkat dan angkut. Tiga pertanyaan mendasar: konstruksi seperti apa?; apa saja
perlengkapan dan pengaman yang digunakan?, apakah berfungsi?; bagaimana kualifikasi
operator?, terlatih atau SIO?

Tata Cara Pemeriksaan oleh Pengawas Spesialis

Riksa-Uji Tahap Fabrikasi


Verifikasi dokumen
Pemeriksaan material
Pemeriksaan visual dari awal hingga selesai.
Pengujian.
Pembuatan data teknik dan laporan pengawasan pembuatan
Tahap perakitan/pemasangan
Verifikasi dokumen.
Pemeriksaan unit komponen/ bahan baku.
Pemeriksaan visual menyeluruh pada awal,sedang, akhir.
Pengujiam-pengujian.
Pembuaan laporan riksa-uji pertama.
Tahap pemakaian (riksa pertama/ berkala)
Riksa isi Buku Pengesahan pemakaian.
Pemeriksaan visual.
Pengujian-pengujian.
Pembuatan laporan
Pencatatan pd lembar pengesahan pemakaian.
Pemeriksaan khusus (Reparasi/ modifikasi)
Pemeriksaan visual PAA.
Pemeriksaan visual material pengganti.
Pemeriksaan pada saat & akhir repair/modifikasi
Pengujian-pengujian
Pencatatan pada Buku Pengesahan.
Pembuatan Laporan hasil riksa/uji.
Tata Laksana Teknis
54 – K3 Angkat dan Angkut

Tindakan pengendalian kecelakaan pada pesawat angkat dan angkut yang berkaitan
dengan operator dan petugas telah diatur oleh Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 09
Tahun 2010.

Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan pada saat proses lifting pada tower crane

Periksa kelayakan alat angkat, sesuaikan SWL (Safety Weight Load) dengan beban
yang akan diangkat.
Mintalah operator crane menunujukan safety device crane yang ada dan mintalah
penjelasan mengenai fungsinya, berikut contoh safety device minimum yang ada di
crane.

Boom limit switch : pengaman pada crane untuk mencegah berlebihnya derajat angkat
sehingga beam dari crane tersebut menabrak ke body utama dari crane dan dapat
berakibat hilangnya ke stabilan saat proses lifting dan beban dapat jatuh atau menabrak
pada beam crane itu sendiri (terdiri dari penunjuk derajat / pointer dan angle plate).

Hook Latch :pengaman pada hook crane yang berguna untuk mengunci beban yang
dikaitkan pada hook agar tidak terlepas dari hook itu sendiri.

Over hoist Limit switch : Pengaman pada crane yang berfungsi untuk menahan ketika
terjadi over height pada saat lifting yang dapat berakibat terlepasnya hook dan beban
menjadi tidak stabil.

Cocokan foto yang ada di SIO operator dan rigger, periksa kembali data-data yang
diperlukan dalam proses pengangkatan.
Data-data yang diperlukan pada saat sebelum dilakukan proses lifting adalah:
Dimensi dari peralatan (tinggi dan panjang)
Berat Beban yang akan di angkat : berat peralatan + lifting tackle (pengait / hook) +
Hook block pengunci hook) + wire rope yang berada di bawah boom + fly jib dan
hook block yang terpasang pada nya.
Radius dari peralatan yang akan diangkat
Derajat kemiringan dari peralatan yang akan di angkat, di mana crane tersebut juga
bergerak atau berpindah tempat saat proses pengangkatan dengan membawa
beban
Counter Weight (beban penyeimbang)
Arah angin secara spesifik
Kondisi ruang kemudi
Jarak antara boom dengan peralatan yang akan diangkat
Kekuatan tanah pijakan Crane (Lembut / berair, berlumpur atau tanah keras
K3 Angkat dan Angkut – 55

SWL (Safety Weight Load) dari Lifting Tackles


Tempat yang akan dijadikan lay down atau tempat penurunan peralatan yang akan di
pasang atau di pindahakan telah dalam kondisi aman dan sesuai dengan
peralatan tersebut (untuk pemasangan pipa, beam,dll dipastikan apakah
ukurannya telah sesuai dan dapat dilakukan pemasangannya

Perhatikan juga kondisi sling. Sling merupakan alat bantu dalam pekerjaan lifting, terbuat
dari material seperti rantai, kawat, baja atau bahan sistetis, yang diikatkan dan dieratkan
pada benda atau beban yang akan diangkat dan dikaitkan pada hook crane pada saat
proses lifting. Lakukanlah inspeksi singkat terhadap kelayakan crane terutama pada bagian
sling, shackle (jika menggunakan), hook, pulley, dan periksa system hydroliknya pastikan
tidak ada bocor dan rembesan oli, untuk memastikan SWL sling kita bisa menggunakan
rumus sederhana berikut ini:

SWL = D X D X 8

Dimana ; D = Diameter sling (inch) SWL = beban angkat aman (tons)

Banyak pekerja kontruksi meninggal atau menderita cedera serius karena


kecelakaan seperti:
Derek terbalik
Bahan terjatuh dari kerekan

Lebih banyak lagi yang menderita cedera dalam waktu lama karena mereka terbiasa
mengangkat atau membawa benda-benda yang berat atau canggung.
Rencanakan semua pekerjaan penanganan bahan untuk menghindari resiko cedera.
Bila memungkinkan, hindarkan orang mengangkat barang samasekali. Bila memungkinkan,
sediakan alat bantu penanganan mekanis, untuk menghindari cedera akibat penanganan
secara manual. Pastikan semua peralatan yang digunakan untuk pengamanan bahan selalu
dalam kondisi baik dan digunakan oleh pekerja yang terlatih dan mampu.

PENANGANAN BARANG
Rencana Penanganan
Sebelum pekerjaan dimulai, putuskan cara penanganan bahan semacam apa yang
digunakan dan peralatan apa yang akan diperlukan.
Hindarkan penanganan ganda karena akan meninggalkan ressiko dan tidak efisien.
Pastikan bahwa setiap peralatan tepat waktu dikirim ke lokasi dan lokasinya juga telah
dipersiapkan.
56 – K3 Angkat dan Angkut

Pastikan bahwa peralatan telah diatur dan dioprasikan hanya oleh pekerja yang terlatih
dan berpengalaman.
Koordinasikan kegiatan dilokasi sedemikian rupa sehingga operasi pengangkatan tidak
membahayakan pekerjalainnya, dan/atau sebaliknya.
Upayakan pemeriksaan peralatan dilakukan secara teratur dan bila perlu priksa dan diuji
oleh seseorang yang mengerti sepenuhnya tentang keselamatan peralatan. Pastikan
bahwa semua kegiatan daicatat.

Penanganan Bahan Secara Manual


Mengangkat dan memindahkan beban dengan tangan adalah salah satu dari
penyebab yang paling banyak menyebabkan cedera ditempat kerja. Banyak cedera dalam
penanganan bahan secara manual merupakan akibat tindakan yang dilakukan secara
berulang-ulang. Tetapi meskipun dilakukan sekalimsaja jika salah caranya, akan dapat
menyebabkan kesakitan dan ketidak mampuan yang lama.

Pencegahan Cedera
Hindarkan tindakan penanganan yang tidak perlu
Sebelum pekerjaan dimulai, identifikasi oprasi yang menyangkut pengangkatan berat
atau sedang, atau pengangkatan berulang. Cari pemecah, apakah dapat
menggunakan bantuan mekanis untuk meminimalkan jumlah penanganan secara
manual.
Menyamakan ukuran beban yang berat dan yang sedang, yang harus diangkat dengan
tangan. Ingat beberapa pekerja lebih kuat dari lainnya dan tidak ada yang kebal
terhadap cedera.
Rencanakan penempatan muatan untuk mengurangi ketinggian dari mana harus
diangkat dan jarak dari mana harus dibawa.
Melatih pekerja dalam teknik pengangkatan yang aman.
Mencegah setiap orang dengan caranya sendiri mengangkat bahan bangunan yang
beratnya melebihi 20kg.
Sedapat mungkin memesan bahan-bahan berkantung dalam ukuran yang kecil dan
mudah ditangani; misalkan produk untuk bangunan dengan ukuran 25kg setiap
kantung.
K3 Angkat dan Angkut – 57

Peralatan Kecil Pengangkat Bahan


Roda kerekan dan peralatan sejenis memberikan cara yang mudah untuk mengangkat
beban. Melihat bahwa peralatan ini sederhana, bila hendak mencegah kecelakaan terjadi
maka pemasangan dan penggunanya harus secara hati-hati. Pastikan bahwa:
Kerekan terpasang dengan kuat pada dudukannya, agar tidak tergeser.
Suatu kaitan yang kuat dirancang untuk mencegah terlepasnya muatan, atau kaitan
dilengkapi dengan pengaman. Pengaman tersebut akan menahan muatan bila terjadi
halangan.
Sediakan suatu anjungan kerja yang aman, tempat dimana kaitan dapat dimuati dan
dilepas dari muatan.

Kerekan Mekanis
Pilihlah kerekan yang sesuai dengan lokasi dan mampu mengangkat muatan yang
dperlukan, juga pasanglah pengendalinya sedemikian rupa sehingga:
Kerekan dapat dioprasikan hanya dari satu tempat, misalnya lantai dasar.
Operatornya dapat melihat dari tempat pengendalian seluruh tempat berhentinya
kerekan pada setiap lantai.
Untuk mencegah-mencegah terkena anjungan atau bagian bergerak lainnya:
Tutuplah jalur kerekan ditempat dimana orang mungkin terkena, misalnya anjungan atau
bagian terbuka dari lantai.
Pasang pagar pada semua tempat berhentina kerekan dan pada lantai dasar.

Derek Bergerak
Derek bergerak adalah peralatan mengangkat di lapangan yang fungsinya serbaguna
dan dapat diandalkan. Peralatan ini mudah menjadi suatu kepuasan tersendiri dalam hal
penggunaan secara aman. Kepuasan dapat menjadi awal dari kecelakaan yang serius.
Tidak ada pengangkatan sekecil apapun yang terlepas dari kemungkinan celaka. Setiap
pengangkatan harus direncanakan dan dilakukan oleh orang yang terlatih dan mampu. Bila
tidak ada seseorang yang mahir, lakukan kontrak dengan pihak yang mampu. Bila suatu
pengangkatan akan dilaksanakan, kecelakan dapat dihindarkan dengan menunjuk
seseorang (bukan pengemudinya) yang mahir untuk memimpin, yang akan merencanakan
dan mengkoordinasikan pengangkatan.

Jenis-jenis Derek
Berbagai jenis derek (crane) digunakan untuk pengangkatan barang, baik dalam kegiatan
oprasional maupun konstruksi.
58 – K3 Angkat dan Angkut

Jenis-jenis Crane:
Overhead Crane
Gantry Crane
Cantilever Gantry Crane
Semi-Gantry Crane
Hammerhead Crane
Wall Crane

Perencanaan Pekerjaan Pengangkatan


Pilih derek yang benar untuk pekerjaannya. Hal ini diperlakukan untuk:
Mampu mengangkat muatan terberat pada radius yang dikehendaki dengan
tersedia kapasitas cadangan. Maksimum beban yang dapat diangkat sebuah
derek akan berkurang dengan semangkin jauhnya letak beban dari derek.
Sekecil mungkin untuk masuk dan keluar lokasi pengoprasian.
Periksa sertifikat testnya derek apa sudah diperbarui. Pemeriksaan secara teliti (dalam
14 bulan terakhir), test dan pemeriksaan dereknya (dalam 4 tahun terakhir), dan
pemeriksaan teliti pada perlengkapan angkatnya (dalam 6 bulan terakhir)
Pastikan Indikator Beban Aman Otomatis terpasang (bila derek mampu mengangkat
lebih dari 1 ton), dan dalam keadaan bekerja dengan baik.
Pastikan pengemudinya terlatih dan berpengalaman mengoprasikan jenis derek yang
sedang digunakan.
Tempelkan derek pada tempat yang aman, sehingga:
Pengemudi mempunyai bidang pandang yang bebas.
Jauh dari penggalian, dan jalur kabel listrik diatasnya.
Pada permukaan tanah yang rata dapat menompang berat dan muatan (papan
kayu mungkin diperlukan sebagai alas) periksa bahwa tidak ada rongga
ditanahnseperti saluran-saluran atau ruang bawah tanah yang dapat
menyebabkan derek roboh secara tiba-tiba.

Koordinasi Pekerjaan Pengangkatan


Pastikan bahwa:
Muatan harus tergantung dengan benar. Rantai dan sling dapat merusak muatan
sehingga mungkin diperlukan pengepakan. Titik berat muatan mungkin tidak
berada ditengah-tengah muatan, dapat menyebabkan terguling atau bergeser
dari sling saat diangkat. Penting untuk mengupayakn agar muatan
K3 Angkat dan Angkut – 59

tergantung sedemikian rupa sehingga terdapat keseimbangan dari pusat titik


beratnya dibawah kaitan derek.
Harus ditunjuk orang yang mampu untuk melaksanakan pengangkatan. Bila
terhalang pengelihatannya, gunakan pembantu untuk member tanda.
Cukup ruang bebas yang disediakan untuk mencegah orang terkena atau
terjebak oleh muatan, penyeimbang atau badan derek.
Derek dan perlengkapannya telah dicheck dan dipelihara sesuai dengan
rekomendasi pabrik.
Pemeriksaan mingguan untuk derek dan dibuat catatannya.

Kendaraan-Kendaraan Di Lokasi
Banyak pekerja yang meninggal setiap tahun di lokasi kontruksi akibat kendaraan
yang berjalan atau akibat kendaraan terguling, disamping banyak lagi yang mengalami
cedera. Resiko dapat dikurangi bila penggunaan kendaraan diatur dengan baik.
Rencanakan tata letak lokasi untuk mengurangi resiko:
Sediakan titik yang aman untuk masuk dan keluar lokasi dengan ruang yang cukup
untuk memutar dan pandangan yang bebas bagi pengemudi. Pandangan dan
penerangan yang baik sangat penting dimana kendaraan harus mendekati
pedestrian. Bila perlu sediakan petugas pemberi tanda.
Dengan maksud untuk membuat tempat jalan kaki terpisah dari kendaraan, misalnya
dengan memisahkan titik-titik masuk dan keluar lokasi dan tempat jalan kaki /
pedestrian yang berpagar.
Pastikan bahwa pedestrian memiliki pandangan yang baik terhadap kendaraan di pintu-
pintu gerbang dan persimpangan jalan yang lainnya.
Pertimbangkan sistem jalan satu arah dan hindari sedapat mungkin kebutuhan untuk
berjalan mundur.
Bila diperlukan mundur, pasanglah alarm tanda mundur pada kendaraan.
Gunakan pembantu untuk mengontrol situasi beresiko tinggi, misalnya saat kendaraan
harus mundur atau pengelihatan terbatas. Pastikan pembantu atau pemberi tanda
terlatih dan mengenakan pakaianyang menyolok.
Seluruh pengemudi harus dilatih, dan pastikan bahwa pengemudi tamu diberi tahu
tentang ketentuan-ketentuan tentang peraturan-peraturan transportasi di lapangan.
Lakukan pengamanan berupa balok pengganjal pada saat membongkar muatan pada
lokasi penggalian.
60 – K3 Angkat dan Angkut

Lakukan pemeliharaan dengan baik. Pastikan hal ini dilakukan dengan cara yang aman.
Jangan menggunakan dongkrak untuk menompang kendaraan saat sedang
diperbaiki.
Pastikan bahwa lumpur atau tanah tidak berjatuhan dari kendaraan yang dapat
menimbulkan bahaya di jalan raya.
Pilihlah yang memiliki pandangan sekitar yang baik.
Pastikan bahwa kendaraan tidak kelebihan muatan yang dapat membuatnya tidak stabil,
sulit untuk dikendalikan atau mengganggu efisiensi pengereman.
Persiapkan area pembuatan dan pembongkaran untuk menyakinkan agar orang tidak
tetap berada diatas kendaraannya. Bila diperlukan seseorang untuk tetap berada
diatas kendaraan, maka diperlukan tempat yang aman.
Jangan membiarkan seseorangpun ikut naik diatas kendaraan kecuali memang
disediakan suatu tempat duduk atau tempat menumpang lainnya yang aman.
Pastikan muatan berada diatas kendaraan dengan baiksehingga tidak ada yang
berjatuhan keluar.
Sediakan area yang rata untuk parker kendaraan. Pastikan rem parkir digunakan dan
gunakan ganjal roda.
Jangan mengeluarkan atau mengisi tangki bahan bakar saat peralatan masih dalam
keadaan panas, mesin sedang berjalan atau didalam ruangan tertutup.
Siapkan dan gunakan sistem pengisi bahan bakar yang mudah mengerjakannya,
misalnya dengan pompa tangan.

Truk dan Peralatan Bergerak


Kontraktor yang bekerja baik didalam maupun diluar instalasi harus sangat berhati-
hatiuntuk mencegah truk dan peralatan bergerak lainnya terkena pipa-pipa, kabel jaringan
listrik, dan peralatan lainnya. Dengan demikian tidak mengganggu oprasi atau proses.
Sebelum peralatan bergerak dipindahkan, kontraktor harus melakukan survai lokasi
pekerjaan untuk melihat adanya kabel-kabel diatas, pipa-pipa, galian, kondisi dalam tanah,
dan bahaya-bahaya lainnya. Mungkin juga perlu menggunakan bantalan kayu.
Peralatan yang tinggi seperti derek, jangan masuk atau keluar, atau dioprasikan didekat
lokasi yang mempunyai jaringan kabel listrik sebelum mendapat ijin dari pimpinan
lokasi.
Jangan sampai ada bagian dari peralatan, termasuk muatannya, mencapai jarak 3 meter
dari kabel listrik dengan arus diatas 50 kv, dan jaraknya bertambah 1 meter setiap
kenaikan 10 kv diatas 50 kv, kecuali arus listriknya dimatikan. Pastikan pembatas,
pagar pengaman dn tanda-tanda pengamanan terpasang.
K3 Angkat dan Angkut – 61

Bila truk bulldozer, dan peralatan mekanis lainnya dioprasikan didalaminstalasi, maka
manajemen kontraktor dan manajemen instalasi harus membuat kesepakatan dalam
menentukan arus lalu – lintasnya. Untuk itu lokasi dimana peralatan kontruksi akan
beroprasi harus diketahui, dan apabila memungkinkan diisolasi. Personil kunci dari
kontraktor dan instalasi harus mendaptkan gambar lokasinya.
Untuk mencegah pergerakan dan penanganan tambahan kendaraan, maka
kontraktor harus memberitahukan lokasi yang benar kepada para pemasok bahan
untuk mengirimnya.
Kadang diperlukan untuk mengangkut personil dengan menggunakan truk dari suatu
tempat ketempat lain didalam lokasi kerja. Kegiatan ini dapat menjadi sumber utama
penyebab cedera serius, kecuali bila dikontrol.
Jangan diijinkan untuk berdiri diatas bak atau dek truk yang sedang berjalan, atau duduk
dipinggiran samping atau belakang dek suatu trailer.
Sediakan sabuk pengaman bagi personil yang menumpang di kabin kendaraan bersama
pengemudi. Jangan mengijinkan orang menumpang pada truk bermuatan atau
peralatan lainnya, yang tidak dilengkapi dengan srana untuk itu.
Bila orang sedang naik atau turun, maka truk harus dalam keadaan berhenti. Dilarang
melompat turun dari kendaraan yang sedang bergerak. Sediakan tangga naik. Bila
diperlukan, sediakan kendaraan angkutan khusus penumpang untuk pekerja menuju
kelokasi pekerjaan.
Kendaraan yang harus berjalan lebih pelan dari lalu-lintas normal pada malam hari harus
dilengkapi dengan lampu peringatan atau lampu berputar kuning, yang dapat terlihat
dari segala arah.
Peralatan yang ditinggalkan pada malam hari dekat jalan raya, atau dekat lokasi
konstruksi dimana pekerjaan sedang dilakukan, harus dilengkapi dengan lampu atau
reflektor, atau pembatas pengaman yang dilengkapi dengan lampu atau reflektor,
untuk memberitahu letak peralatan tersebut.
Bila peralatan sedang diparkir, rem parker harus terkunci. Peralatan yang diparkir
ditempat yang menurun, rodanya harus diganjal dan rem parker terpasang.
Bilah pendorong pada buldoser, buket dari loader, bak dumptruck, dan peralatan
sejenis lainnya harus diturunkan serendah mungkin saat sedang diperbaiki atau tidak
sedang digunakan.
Tidak seorangpun boleh bekerja, berada atau melintas dibawah suatu buket atau tangkai
loader saat sedang beroprasi.
62 – K3 Angkat dan Angkut

Tidak boleh dilakukan modifikasi atau tambahan yang berdampak pada kapasitas atau
oprasi yang aman dari peralatan-peralatan tanpa persetujuan tertulis dari
produsennya.
K3 Penanggulangan Kebakaran – 63

BAB IV
K3 PENANGGULANGAN KEBAKARAN

Bab ini berisi penjelasan mengenai K3 Penanggulangan Kebakaran. Setelah mempelajari


bab ini, mahasiswa diharapkan mampu:
Mengetahui dasar-dasar hukum yang berkaitan dengan K3 penanggulangan kebakaran
Mengetahui manajemen penanggulangan kebakaran
Mengetahui masalah kebakaran pada gedung
Kebakaran merupakan musibah yang kadang tidak dapat diprediksi kapan terjadinya. Oleh
karena itu harus diciptakan sistem dan prosedur yang dapat meminimalisasi bahaya
kebakaran

A. DASAR HUKUM
Dasar hukum yang berkaitan dengan K3 Penanggulangan Kebakaran
UU Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
Permanakertrans No. 04/Men/1980 tentang Syarat-syarat Pemasangan dan
Pemeliharaan APAR
Kepmenaker No.186/Men/1999 tentang Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja
Permanakertrans No. 02/Men/1983 tentang Instalasi Kebakaran Alarm Automatik
Kepmenaker No. 186/Men/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat
Kerja
Instruksi Menaker No. 11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan
Kebakaran.
SNI 03-1745-2000 Tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Pipa Tengah dan Selang
Untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Rumah Dan Gedung

Syarat-syarat K3 penanggulangan kebakaran sesuai pasal 33 ayat 1 UU No. 1 tahun 1970:


Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
Memberikan kesempatan jalan untuk menyelamatkan diri pada
Mengendalikan penyebaran panas, asap dan gas
Sedangkan pada pasal 9 ayat (3),mengatur kewajiban pengurus menyelenggarakan latihan
penanggulangan kebakaran

B. MANAJEMEN PENANGGULANGAN KEBAKARAN


Manajemen penanggulangan kebakaran dilakukan pada sebelum kebakaran, saat
kebakaran, dan sesudah kebakaran.
64 – K3 Penanggulangan Kebakaran

Manajemen penanggulangan kebakaran sebelum terjadi, yaitu dengan sistem pencegahan


yang meliputi: penyediaan sarana evakuasi (pasif), penyediaan alat pemadam (aktif), fire
emergency response plan, pembinaan dan pelatihan. Sarana evakuasi adalah bagian dari
konstruksi bangunan yang dirancang aman untuk digunakan pada waktu keadaan darurat,
sedangkan evakuasi adalah tindakan menyelamatkan diri sendiri masing masing tanpa
dibantu orang lain. Syarat sarana evakuasi:
Aman sementara, terjamin kedap asap dan panas;
Mudah dijangkau (pajang jarak tempuh sependek mungkin)
Lebar Unit Exit sesuai standar
Tidak dikunci;
Tidak terhalang oleh benda apapun;
Memiliki lampu darurat;
Bukaan pintu kearah pelarian;
Ada petunjuk arah yang dapat dilihat dalam keadaan gelap.

Manajemen saat kebakaran meliputi: deteksi alarm, pemadaman, lokalisir, evakuasi dan rescue,
serta pengamanan. Saat terjadi kebakaran seluruh penghuni diperintahkan untuk tetap tenang.
Beritahukan pimpinan dan pihak-pihak terkait. Hubungi dan MINTA BANTUAN pasukan
pemadam kebakaran yang paling dekat, Berupaya memadamkan dengan sarana pemadam
yang ada. Terutama mereka yang telah ditunjuk dan telah terlatih dengan memperhitungkan
keselamatan dirinya. Jika api tidak terkendalikan, segera mengintruksikan untuk mengungsi
melalui jalan keluar, tangga atau pintu yang paling dekat dan aman menuju area aman yang
ditentukan. Pastikan rute penyelamatan tidak terhalang /tidak dikunci. Tidak meninggalkan area
yang aman tanpa memberitahu pemimpin sampai api dikendalikan dan dinyatakan aman.
Sedapat mungkin membantu apa saja sebatas dalam kelompoknya.

Manajemen sesudah kebakaran meliputi: investigasi, analisis, rekomendasi, dan rehabilitasi.


Secara umum manajemen penanggulangan kebakaran terdiri dari:
Fire Safety Policy
Pre-fire planning
Pengorganisasian Fire Teams
Pembinaan dan latihan
Fire Emergency Respons Plan
Perencanaan penanganan dalam menghadapi keadaan darurat kebakaran meliputi:
organisasi, sarana/peralatan dan prosedur yang harus dilakukan untuk mencegah
atau meminimalkan kerugian akibat kebakaran.
K3 Penanggulangan Kebakaran – 65

Lapis I Petugas Peran Kebakaran


Lapis II Fire Men
Lapis III Bantuan dari lingkungan
Lapis IV Fire Department
Fire drill/Gladi terpadu
Inspection & Testing berkala
Preventive maintenance
Fire safety Audit
System informasi /komunikasi
POSKO Pengendalian darurat

Manajemen Penanggulangan Bahaya Kebakaran adalah suatu sistem penataan dini dalam
rangka mencegah dan mengendalikan bahaya kebakaran sehingga kerugian berupa
meterial dan jiwa manusia dapat dicegah atau diminimalkan, yang diwujudkan baik berupa
kebijakan dan prosedur yang dikeluarkan perusahaan, seperti inspeksi peralatan, pemberian
pendidikan dan pelatihan bagi penghuni/pekerja, penyusunan rencana tindakan darurat
kebakaran, maupun penyediaan sarana pemadam kebakaran (Kartoadmodjo, 1989).
Program Penanggulangan Kebakaran
Program penanggulangan kebakaran adalah segala upaya yang dilakukan untuk
mencegah atau memberantas kebakaran. Tindakan untuk menanggulangi kebakaran
antara lain:
Mengendalikan setiap perwujudan energi panas, seperti listrik, rokok, gesekan mekanik,
api terbuka, sambaran petir, reaksi kimia dan lain-lain.
Mengendalikan keamanan setiap penanganan dan penyimpanan bahan yang mudah
terbakar.
Mengatur kompartemenisasi ruangan untuk mengendalikan penyebaran/penjalaran api,
panas, asap dan gas.
Mengatur lay out proses, letak jarak antar bangunan, pembagian zone menurut jenis dan
tingkat bahaya.
Menerapakan sistim deteksi dini dan alarm.
Menyediakan sarana pemadam kebakaran yang handal.
Menyediakan sarana evakuasi yang aman.
Membentuk regu atau petugas penanggulangan kebakaran.
Melaksanakan latihan penanggulangan kebakaran.
Mengadakan inspeksi, pengujian, Perawatan terhadap sistem proteksi kebakaran secara
teratur.
(Depnaker, 1997)
66 – K3 Penanggulangan Kebakaran

Rencana Tindakan Darurat Kebakaran


Rencana tindakan darurat kebakaran seperti yang tercantum dalam Peraturan Daerah
DKI Jakarta No 8 Tahun 2008 tentang penanggulangan bahaya kebakaran dalam wilayah
DKI Jakarta adalah menetapkan metode tindakan keselamatan yang sistematis dan
perintah evakuasi bila terjadi kebakaran.
Rencana tindak darurat kebakaran antara lain :
Pembentukan tim pemadam kebakaran.
Pembentukan tim evakuasi.
Pembentukan tim P3K.
Penentuan satuan pengamanan.
Penentuan tempat berhimpun.
Penyelamatan orang yang perlu dibantu (orang tua, orang sakit, orang cacat dan anak
– anak).
Rencana tindak darurat ini berlaku pada saat kondisi darurat kebakaran.
Pembentukkan petugas penanggulangan kebakaran
Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. 186 tahun 1999 tentang unit
penanggulangan kebakaran ditempat kerja dalam pasal 5 meyebutkan bahwa unit
penanggulangan kebakaran terdiri dari : Petugas peran kebakaran, regu
penanggulangan kebakaran, koordinator unit penanggulangan kebakaran dan ahli K3
spesialis penanggulangan kebakaran sebagai penanggung jawab teknis.
Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Kebakaran
Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. 186 tahun 1999 tentang unit
penanggulangan kebakaran ditempat kerja tujuan dari latihan evakuasi untuk
menetapkan suatu prosedur untuk bertindak bila terjadi kebakaran dan untuk
mengembangkan kebiasaan para karyawan terhadap situasi api pada masa yang akan
datang.
Adapun frekuensi latihan dan pendidikan evakuasi untuk setiap perusahaan akan selalu
tergantung kepada berat ringan bahaya kebakaran dari masing – masing perusahaan.
Pada umumnya latihan dilakukan sebagai berikut :
Bahaya kebakaran ringan : 1 – 2 kali / tahun
Bahaya kebakaran sedang : 3 – 4 kali / tahun
Bahaya kebakaran berat : 6 – 8 kali / tahun

Inspeksi sarana penanggulangan kebakaran


Untuk mengetahui kelayakan sarana penanggualangan kebakaran yang ada, baik
peralatan pendeteksi, pemadam, evakuasi dan sarana penunjang kebakaran lainnya,
maka perlu diadakan pemeriksaan secara berkala.
K3 Penanggulangan Kebakaran – 67

Kegiatan pemeriksaan dan pemeliharaan ini merupakan unsur penting guna menjamin
segi keandalan peralatan proteksi bila terjadi kebakaran. Pemeriksaan yang disertai
pengetesan, pemeliharaan dan pemeriksaan terhadap :
Sistem deteksi dan alarm kebakaran
Sistem sprinkler otomatis
Sistem hydrant
Sitem pemadaman api
(Suma’mur, 1996)
Perencanaan Keadaan Darurat kebakaran
Keadaan darurat kebakaran adalah situasi dalam kejadian kebakaran pada suatu
bangunan yang terbakar, semua orang yang merasa terancam dalam bahaya dan ingin
menyelamatkan diri masing – masing. Dalam mengatasi situasi tersebut harus
melakukan latihan yang berulang – ulang dan mengikuti skenario yang baku. Sistem
tanggap darurat penanggulangan kebakaran tertuang dalam buku panduan yang
berisikan siapa dan berbuat apa. Penyusunan rencana tindakan keadaan darurat harus
dikerjakan oleh tim yang melibatkan semua unsur manajemen.
Tahap perencanaan darurat keadaan darurat, adalah sebagai berikut :
Identifikasi bahaya dan penafsiran risiko
Penakaran sumber daya yang dimiliki
Tinjauan ulang rencana yang telah ada
Tentukan tujuan dan lingkup
Pilih tipe perencanaan yang akan dibuat
Tentukan tugas – tugas dan tanggung jawab
Tentukan konsep operasi
Tulis dan perbaiki
Penanggulangan Kebakaran pada Gedung Bertingkat
Pelatihan atau fire drilling yang dilakukan secara berkala diharapkan dapat mengedukasi
pengguna gedung mampu mengidentifikasi

C. PROTEKSI KEBAKARAN PADA BANGUNAN


Dalam Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum No.10/KPST/2000 tentang Ketentuan
Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada gedung dan Lingkungan disebutkan
tentang sarana penanggulangan kebakaran yaitu berupa alat atau sarana yang dipersiapkan
untuk mendeteksi, mengendalikan dan memadamkan kebakaran. Sistem proteksi kebakaran
pada bangunan terdiri dari:

1. Sistem Tanda Bahaya Kebakaran ( Fire Alarm System)


68 – K3 Penanggulangan Kebakaran

Sistem Hidran Kebakaran (Fire Hydrant System )


Sistem Pemercik Otomatis ( Fire Automatic Spinkler System )
Alat Pemadam Api Ringan ( Portable Fire Extinguisher )

Sistem Tanda Bahaya Kebakaran ( Fire Alarm System)

Sistem Tanda Bahaya Kebakaran adalah komponen dan sub –sub komponen yang dirangkai
untuk suatu tujuan memberi peringatan secara dini baik kepada penghuni maupun kepada
petugas, bila di suatu bagian tertentu terjadi kebakaran atau setidaknya-tidaknya adanya
indikasi kebakaran. Sistem alarm kebakaran dapat digolongkan berdasarkan luas
jangkauannya, yaitu: (1) Sistem Alarm Kebakaran Kota dan (2) Sistem Alarm Kebakaran
pada Gedung.

Sistem alarm kebakaran gedung adalah suatu alat untuk memberikan peringatan dini
kepada penghuni gedung atau petugas yang ditunjuk, tentang adanya kejadian atau indikasi
kebakaran di suatu bagian gedung. Dengan adanya peringatan secara dini tersebut akan
memungkinkan penghuni/petugas dapat mengambil langkah/tindakan berikut pemadaman
atau bila mungkin melaksankan evakuasi jiwa maupun harta benda.

Cara kerja alarm kebakaran gedung: (1) Sistem Manual, dengan menggunakan titik panggil
manual (Manual call box), yang dapat berbentuk tombol tekan, tombol tarik, atau handle
tarik, atau sesuai dengan petunjuk pemakaian pada titik panggil tersebut. (2) Sistem
Otomatis, melalui alat pendeteksi kebakaran (fire detector) yang dapat berupa: Detektor
Asap (Smoke Detector), Detektor Panas (Heat Detector), Detektor Nyala Api (Flame
Detector), dan Detektor Gas (Gas Detector)

Sistem Hidran Kebakaran (Fire Hydrant System)

Hidran kebakaran adalah suatu sistem instalasi/jaringan pemipaan berisi air bertekanan
tertentu yang digunakan sebagai sarana untuk memadamkan kebakaran. Menurut
tempat/lokasinya, sistem hidran kebakaran dapat dibagi menjadi 3 macam, yakni :

(1) Sistem Hidran Gedung

Hidran gedung ialah hidran yang terletak atau dipasang di dalam bangunan dan sistem serta
peralatannya disediakan serta dipasang oleh pihak bangunan/ gedung tersebut/

(2) Sistem Hidran Halaman

Hidran halaman ialah hidran yang terletak diluar/lingkungan bangunan, sedangkan instalasi
dan peralatan serta sumber air disediakan oleh pihak pemilik bangunan

(3) Sistem Hidran Kota


K3 Penanggulangan Kebakaran – 69

Sistem Hidran kota ialah hidran yang terpasang ditepi/sepanjang ialah jalan pada daerah
perkotaan yang dipersiapkan sebagai prasarana kota oleh pemerintah daerah setempat
guna menanggulangi bahaya kebakaran. Persedian air untuk jenis ini dipasok oleh
perusaahaan air minum (PDAM) setempat.

Sistem Pemercik Otomatis (Fire Automatic Spinkler System)

Sistem pemercik (sprinkler) adalah suatu jaringan instalasi pemipaan yang dapat
memancarkan air bertekanan tertentu, secara otomatis berdasarkan sensor panas, ke
segala arah dalam suatu ruangan. Lebih detai di bahas pada mata kuliah plambing.

Alat Pemadam Api Ringan (Portable Fire Extinguisher)

Sebagian besar kebakaran berawal dari api yang sangat kecil. Pada kondisi ini kebakaran
masih dapat ditangani dan dipadamkan dengan mudah. Saat seperti itulah dibutuhkan alat
pemadam yang ringan dan praktis dipakai. Alat pemadam api ringan (APAR) adalah alat
pemadam yang dapat dibawa dan mampu dipakai oleh satu orang. APAR berguna sekali
untuk pemadaman awal dari segala situasi.

1). Jenis-jenis Apar

Apar dibuat amat beragam sehingga jenis APAR bisa ditinjau dari segi apa saja.
Jenis APAR berdasarkan beratnya dibedakan 2 yaitu :
APAR dengan berat kurang dari 25 kg sehingga mudah diangkat
APAR dengan berat lebih dari 25kg, dilengkapi dengan roda seperti ditunjukkan
dalam Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Jenis-jenis APAR


Sedangkan jenis APAR ditinjau dari tenaga dorongnya yaitu :
Storage pressure, media disimpan dalam tabung dengan diberi tekanan.
Gas Cartridge, ke dalam tabung ditambahkan gas bertekanan untuk mendorong
media bila APAR dipakai. Gas yang dipakai umumnya CO2.
70 – K3 Penanggulangan Kebakaran

Keberadaan tenaga dorong ini bisa didalam tabung atau diluar tabung sehingga
konstruksi APAR juga berbeda-beda.

2). Teknik Pemadaman dengan APAR

Untuk menjamin pengamanan terhadap kebakaran, pengetahuan cara pemakaian


atau penerapan APAR sangat diperlukan. Berikut ini adalah teknik pemadaman
dengan APAR:
Turunkan APAR dari tempatnya
Cabut/lepaskan pen pengaman dan bebaskan selang
Uji di tempat dengan mengarahkan semburan ke atas agar tidak membahayakan
orang lain. Langkah ini tidak perlu dilakukan bila anda sudah dekat sekali dengan
tempat kebakaran
Menuju lokasi kebakaran. Ambil posisi di atas angin dan jarak sekitar 3 meter dari api
Sikap posisi kuda-kuda. Arahkan alat penyembur ke pangkal api. Tekan tuas
penyemprot (handle) semprotkan APAR dengan cara dikibas-kibaskan/disapukan
ke arah kiri dan kanan sampai apinya padam seperti ditunjukkan dalam Gambar
4.3.

Gambar 4.3. Pemadaman dengan APAR

3). Cara Menempatkan APAR

Posisi meletakkan APAR sangat menentukan kecepatan pemadaman awal.


Menyimpan APAR ditempat tersembunyi akan sangat merugikan. Cara menempatkan
APAR yang benar adalah :
Tempatkan APAR pada tempat yang bisa cepat diambil bila terjadi kebakaran. Bisa
diletakkan dekat pintu atau tangga darurat.
Tempatkan APAR pada lokasi yang akan dilindungi
Tempatkan APAR sehingga mudah dilihat dari jauh oleh orang yang lewat. Warna
APAR yang menyolok juga membantu mempercepat menemukan APAR.
K3 Penanggulangan Kebakaran – 71

Usahakan kondisi sekitar tidak bersifat merusak sehingga APAR bisa tahan lama.
Jika terdapat kondisi luar yang bisa merusak seperti tetesan air, hujan, debu,
sinar matahari dan suhu panas, masukkan APAR ke dalam kotak tembus
pandang yang dirancang khusus sesuai dengan APAR yang bersangkutan.
Apabila lokasi yang dilindungi cukup luas, tempatkan APAR secara merata.
APAR bisa dipasang pada dinding atau tiang dengan ketentuan:
Setinggi 120 cm dari puncak APAR ke lantai atau
Setinggi 15 cm dari alas APAR ke lantai seperti dalam Gambar 4.4.

Gambar 4.4. Cara Menempatkan APAR

Contoh menempatkan APAR dapat dilihat pada tabel 4.3

Tabel 4.3 Contoh Menempatkan APAR


LOKASI PENEMPATAN YANG BENAR

Dapur, Garasi Dekat pintu

Mobil Mudah dijangkau sopir, dibawah bangku

Kapal boat Dekat pintu dan dekat sopir

Kebakaran besar tidak bisa lagi diatasi dengan APAR dan sistem pemadam api tetap. Jenis
kebakaran ini memerlukan media pemadam lebih banyak dan bisa menuju lokasi
kebakaran. Peralatan semacam itu disebut pemadam api bergerak. Pemadam berupa
kendaraan yang dilengkapi dengan sirine dan alat-alat untuk keperluan pemadaman seperti
dalam Gambar 4.6.
72 – K3 Penanggulangan Kebakaran

Gambar 4.6. Mobil Pemadam Kebakaran

Kendaraan pemadam banyak diciptakan dengan kapasitas dan fungsi berbeda.


Berdasarkan kapasitasnya kendaraan pemadam bisa dibedakan menjadi 4 yaitu :
Kendaraan pemadam kecil, berupa kendaraan jenis jeep dengan kapasitas tangki
450 liter
Kendaraan pemadam menengah, juga berupa jeep dengan kapasitas tangki 600-
1000 liter
Kendaraan pemadam besar, berupa truk dengan kapasitas tangki 1500 – 4000 liter.
Kendaraan pemadam sangat besar, disebut tanker truck dengan kapasitas lebih dari
10.000 liter.

Kendala memadamkan kebakaran menurut Zaini (1998) adalah sebagai berikut :

mobil pemadam terlambat datang karena jalan macet atau jalan sempit.
lokasi sempit atau semrawut misalnya pasar tradisional atau rumah kampung yang
sempit.
peralatan pemadam tidak berfungsi atau tidak sesuai.
adanya asap tebal dan hitam sehingga petugas akan kesulitan mengarahkan
semprotan air.
kurangnya sumber air untuk pemadaman. Pasokan air untuk kelanjutan pemadaman
bisa diperoleh dari hidran, sumur, sungai dan danau. Namun sumber pasokan air
tersebut belum tentu menyediakan air dalam jumlah yang memadai, tidak bisa
digunakan atau dimanfaatkan.
partisipasi masyarakat yang salah seperti memperlambat kerja petugas pemadam.
K3 Listrik – 73

BAB V
K3 LISTRIK

Bab ini berisi penjelasan mengenai K3 Listrik Bangunan. Setelah mempelajari bab ini,
mahasiswa diharapkan mampu:
Mengetahui potensi bahaya listrik
Mengetahui proteksi bahaya listrik
Mengetahui landasan peraturan K3 listrik
Mengetahui pengawasan K3 listrik
Tujuan penerapan K3 listrik adalah: menjamin keselamatan manusia dari bahaya kejut listrik,
keamanan instalasi listrik & perlengkapannya, keamanan gedung beserta isinya dari
kebakaran akibat listrik, perlindungan lingkungan. Oleh karena itu yang dijadikan sebagai
objek pengawasan adalah setiap tempat dimana listrik dibangkitkan, ditransmisikan, dibagi-
bagikan, disalurkan dan digunakan.

A. POTENSI BAHAYA LISTRIK


Bahaya listrik terhadap manusia disebabkan oleh menyentuh langsung atau tidak langsung
pada bagian aktif perlengkapan atau instalasi listrik.
Potensi bahaya listrik akibat menyentuh listrik secara langsung dapat menimbulkan kerugian,
antara lain: (1) Kecelakaan Manusia, arus listrik antara 15 – 30 mA dapat mengakibatkan
kematian, tetapi tergantung dari tahanan dari kulit manusia antara kulit kering dan kulit basah
akibat keringat. (2) Kerusakan instalasi serta perlengkapannya, misalnya: kabel terbakar, panel
terbakar, kerusakan isolasi, kerusakan peralatan dan terjadinya kebakaran bangunan.
(3) Kerugian materi, terhentinya proses produksi dan mengurangi kenyamanan.

Bahaya listrik dibedakan menjadi: (1) Bahaya Primer, adalah bahaya-bahaya yang
disebabkan oleh listrik secara langsung, contohnya bahaya sengatan listrik dan bahaya
kebakaran/ ledakan. (2) Bahaya Sekunder, adalah bahaya-bahaya yang disebabkan oleh
listrik secara tidak langsung, contohnya jatuh dari suatu ketinggian
74 – K3 Listrik

Besar arus yang melewati Akibat yang timbul


tubuh

A 1 mA, atau kurang Tidak ada akibat, tidak terasa


M
A 1 – 8 mA Sengatan terasa tetapi tidak sakit dan tidak
N mengganggu kesadaran

B 8 – 15 mA Sengatan terasa sakit, tetapi masih bisa melepaskan


E diri, kesadaran tidak hilang
R
B 15 – 20 mA Sengatan sakit kesadaran bisa hilang dan tidak bisa
melepaskan diri
A
H 20 – 50 mA Kesakitan, susah bernafas, terjadi konstraksi pada otot
A & kesadaran hilang
Y
A 100 – 200 mA Kondisi mematikan langsung dan susah ditolong

200 mA atau lebih Terbakar dan jantung berhenti berdetak

Potensi bahaya listrik dapat mengakibatkan kebakaran, hal ini disebabkan: pembebanan
lebih, sambungan tidak sempurna, perlengkapan tidak standar, pembatas arus tidak sesuai,
kebocoran isolasi, dan sambaran petir.
Dampak Sengatan Listrik

—Sengatan listrik terjadi ketika arus listrik melalui tubuh

—Seseorang akan tersengat listrik jika salah satu bagian tubuhnya :

Menyentuh sebuah kabel bertegangan dan ground /pentanahan dari listrik


Menyentuh sebuah kabel bertegangan dan kabel bertegangan lain pada tegangan yang
berbeda

Tingkat keparahan dari sengatan listrik tergantung pada: (a) jenis arus yang melalui tubuh,
(b) besarnya arus yang mengalir melalui tubuh, (c) lamanya arus melalui tubuh, (d)
resistansi atau tahanan, (e) bagian tubuh yang teraliri arus listrik.
K3 Listrik – 75

Dampak sengatan listrik bagi manusia: (a) gagal kerja jantung (Ventricular Fibrillation), yaitu
berhentinya denyut jantung atau denyutan yang sangat lemah sehingga tidak mampu
mensirkulasi darah dengan baik. (b) Gangguan pernafasan akibat kontraksi hebat
(suffocation) yg dialami paru-paru. (c) Kerusakan sel tubuh akibat energi listrik yg mengalir
dalam tubuh. (d) Terbakar akibat efek panas dari listrik

Cara listrik menyengat tubuh kita melalui sentuhan langsung, yaitu anggota tubuh
bersentuhan langsung dengan bagian yang bertegangan. Melalui sentuhan tak langsung
merupakan adanya tegangan yang terhubung ke bodi/ selungkup alat yang terbuat dari
logam (bukan bagian yang bertegangan) sehingga apabila tersentuh akan mengakibatkan
sengatan listrik. Contoh badan lemari es dalam keadaan normal tidak menyetrum kita tetapi
suatu saat dapat menyetrum apabila ada arus bocor ke badan lemari es.

B. PROTEKSI BAHAYA LISTRIK

Pada prinsipnya proteksi bahaya listrik untuk mencegah mengalirnya arus listrik melalui
tubuh manusia, membatasi nilai arus listrik dibawah arus kejut listrik, dan memutuskan
suplai secara otomatis pada saat terjadi gangguan.
Bahaya sentuh langsung adalah sentuh langsung pada bagian aktif perlengkapan atau
instalasi listrik. Bahaya sentuh langsung dapat diatasi dengan cara; a. Proteksi dengan
isloasi bagian aktif
b. Proteksi dengan penghalang atau selungkup
c. Proteksi dengan rintangan
d. Proteksi dengan penempatan di luar jangkauan
e. Proteksi tambahan dengan Gawai Pengaman Arus Sisa (GPAS)

Gambar. Contoh Proteksi dengan Rintangan Gambar. Penempatan Di Luar Jangkauan

Sedangkan proteksi dari sentuh tidak langsung (dalam kondisi gangguan) dapat dengan cara;
76 – K3 Listrik

a. Proteksi dengan pemutusan suplai secara otomatis


– Pemasangan gawai proteksi yang secara otomatis memutus suplai ke sirkuit
– Pembumian
– Sistem Pembumian Pengaman
– Membumikan titik netral system listrik di sumbernya
– Membumikan BKT perlengkapan dan BKT Instalasi listrik
b. Proteksi dengan penggunaan perlengkapan kelas II atau dengan isolasi ekivalen
– Perlengkapan kelas O
Perlengkapan proteksinya dari kejut listrik mengandalkan isolasi dasar.
– Perlengkapan kelas I
Perlengkapan proteksi kejut listrik tidak hanya mengandalkan isolasi dasar tetapi juga
mencakup tindakan pencegahan keselamatan tambahan
– Perlengkapan kelas II
Seperti halnya kelas I tetpai diperkuat ganda dan harus dilengkapi dengan perlengkapan listrik
yang mempunyai isolasi ganda atau diperkuat (perlengkapan kelas II) dan rakitan perlengkapan
listrik buatan pabrik yang mempunyai isolasi total dengan lambing ® (IEC 439)
– Perlengkapan kelas III
Perlengkapan yang proteksi kejut listriknya mengandalkan pada suplai tegangan ekstra
renda (SELV) dan tegangan yang lebih tinggi dari SELV tidak dibangkitkan. c. Proteksi
dengan lokasi tidak konduktif
d. Proteksi dengan ikatan penyama potensial local bebas bumi e. Proteksi
dengan separasi listrik Jarak aman atau di luar jangkauan
Tegangan kV Jarak cm
1 50
12 60
20 75
70 100
150 125
220 160
500 300

C. LANDASAN PERATURAN

Listrik selain bermanfaat juga mengandung bahaya yang harus dikendalikan sesuai amanat
Undang-undang No.1 Tahun 1970. Standar teknik perencanaan, pemasangan,
K3 Listrik – 77

pengoperasian, pemeliharaan dan pemeriksaan/pengujian instalasi listrik, adalah mengikuti


perkembangan penerbitan Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL), edisi terakhir dari PUIL
yaitu tahun 2000 ditetapkan dengan Kepmenakertrans No. Kep 75/Men/2002. PUIL berdiri
sendiri atau bersifat netral, sebagai panduan yang tidak mengikat secara hokum. Biasanya
standar digunakan sebagai rujukan dalam suatu kontrak kerja, antara kontraktor/instalatir
dengan pemberi kerja. Oleh karena itu PUIL telah ditetapkan dan diberlakukan secara utuh
dengan Peraturan dan Keputusan Menteri, maka semua persyaratan teknis maupun
administratif, menjadi bersifat wajib. Didalam PUIL juga memuat persyaratan khusus
instalasi listrik untuk lift dan instalasi proteksi bahaya sambaran petir, yang kemudian diatur
secara lebih teknis melalui peraturan;
Permenaker No. Per 02/Men/1989, mengenai persyaratan instalasi penyalur petir
Permenaker No. Per 03/Men.1999, mengatur persyaratan Lift
Kepmenaker No Kep 407/M/BW/1999, mengatur lebih lanjut tentang kompetensi teknisi lift
Keputusan Dirjen Binawas No Kep 311/BW/2002, mengatur lebih lanjut mengenai sertifikasi
Kompetensi K3 bagi teknisi listrik.

No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan UU


No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
Kepmenakertrans No. Kep. 75/Men/2002 tentang Pemberlakuan Standar Nasional
Indonesia (SNI) No. SNI-04-0225-2000 Mengenai Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000
(PUIL 2000) di Tempat Kerja
Kepdirjen No. Kep. 311/BW/2002 tentang Sertifikasi Kompetensi Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Teknisi Listrik
Kepdirjen No. Kep. 89/PPK/XII/2012 tentang Pembinaan Calon AK3 Spesialis Listrik

D. PENGAWASAN K3 LISTRIK
Objek pengawasan K3 listrik adalah setiap tempat dimana listrik dibangkitkan,
ditransmisikan, dibagi-bagikan, disalurkan dan digunakan (UU No. 1/1970 pasal 2 ayat 1
huruf q). Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2000 terbaru adalah SNI 04-0225-2000
ditetapkan sebagai standar wajib. Pengawasan K3 listrik (termasuk K3 lift dan system
proteksi petir) pada dasarnya mengawasi pelaksanaan syarat-syarat K3, baik secara
administratif ketentuan teknik dan disesuaikan dengan standar yang berlaku,bertujuan untuk
menjamin kehandalan dan keamanan operasi.

Peralatan listrik yang digunakan di lokasi bangunan terutama adalah peralatan tangan
berkekuatan dan berbagai peralatan portable, dengan penggunaannya yang terkadang keras
sehingga dapat mengakibatkan rusak dan menjadi berbahaya. Peralatan modern dengan
78 – K3 Listrik

isolasi ganda memberikan perlindungan yang baik tetapi plug kabelnya memerlukan
pengecekan secara teratur karena rawan rusak.
Peralatan tanpa kabel atau peralatan yang dioperasikan dengan tegangan 110 Volt yang
dengan pelindung massa sehingga tekanan maksimum ke massa tidak lebih dari 55
Volt akan efektif menghilangkan risiko terhadap kematian dan mengurangi cidera
pada kecelakaan akibat listrik. Untuk keperluan lainnya seperti penerangan tetap
dapat menggunakan tegangan rendah yang lebih aman.
Bila menggunakan tegangan utama risiko cedera akan tinggi bila peralatan-peralatan
ringan dalam kondisi buruk. Pemutus arus diperlukan untuk memastikan bahwa
aliran akan terputus dengan segera bila terhubung dengan suatu bagian bermuatan.
Peralatan pemutus arus harus dipasang dan dirawat. Peralatan ini harus bebas dari
kotoran dan debu serta terlindung dari getaran dan kerusakan mekanis.
Bila jaringan sedang ditingkatkan kemampuannya sebagai bagian dari pekerjaan,
pastikan bahwa jaringannya permanen. Biasanya dipasang alat pemutus arus pada
suplai arus masuk yang baru.
Sistem kelistrikan harus diperiksa dan dirawat secara teratur. Pemeriksaan secara visual
dapat mendeteksi 95% dari kekurangan atau kerusakan peralatan.
Sebelum menggunakan peralatan tangan dengan tegangan 220 Volt maka perlu
diperiksa bahwa:
Tidak ada kabel yang terbuka
Penutup kabel tidak rusak, tidak terpotong atau tergores
Tidak ada sambungan pada kabel yang tidak standar
Bagian luar kotak peralatan tidak rusak atau lepas dan semua sekrup terpasang
dengan baik
Tidak ada tanda bekas terbakar atau terlalu panas pada plug, kabel atau peralatan
Pemutus arus bekerja dengan efektif
Para pekerja diinstruksikan untuk melaporkan dengan segera setiap kerusakan dan
hentikan penggunaan peralatan ketika kerusakan terlihat
Program inspeksi dan test perlu dilakukan oleh pertugas yang terlatih pada
peralatan-peralatan yang kerusakannya tidak dapat dilihat secara visual.
Misalnya suatu peralatan kehilangan hubungan massa akibat pencemaran di
dalam (debu-debu yang masuk ke dalam peralatan)
K3 Listrik – 79
Pemeriksaan pada peralatan-peralatan listik

Peralatan Tegangan Pemeriksaan Pemeriksaan Pemeriksaan


oleh Pengguna Visual Resmi dan Test

Peralatan Kurang dari 25V Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu
dengan tenaga
batera

Lampu tangan Gulungan Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu


portable – 25V sekunder dari
transformator

Lampu tangan Pusat gulungan Tidak perlu Tidak perlu Tahunan


potable – 50V sekunder ke
massa (25V)

Peralatan Pusat gulungan Mingguan Bulanan Sebelum


tangan dan sekunder ke penggunaan
portable, lampu massa (50V) pertama di
lapangan, lapangan, dan
sistem jaringan kemudian per 3
yang dapat bulan
dipindah – 110V

Peralatan Suplai utama – Harian/ setiap Mingguan Sebelum


tangan dan 230V, melalui periode kerja penggunaan
portable, lampu pemutus arus (shift) pertama di
lapangan, 30 mA lapangan, dan
sistem jaringan kemudian
yang dapat bulanan
dipindah – 230V

Peralatan Pemutus arus Mingguan Bulanan Sebelum


seperti lift, derek atau sekering – penggunaan
– 230V 230V pertama di
lapangan, dan
kemudian per 3
bulanan

Pemutus arus Harian/ setiap Mingguan Sebelum


portable periode kerja penggunaan
(shift) pertama di
lapangan, dan
80 – K3 Listrik

kemudian
bulanan

Pemutus arus Harian/ setiap Mingguan Sebelum


terpasang periode kerja penggunaan
(shift) pertama di
lapangan, dan
kemudian per 3
bulanan

Peralatan di Peralatan Bulanan 6 Bulanan Sebelum


kantor lapangan kantor – 230V penggunaan
pertama di
lapangan, dan
kemudian per 3
bulanan

Pada sistem penerangan, berikan perlindungan terhadap kabel-kabel, sama seperti untuk
peralatan
Pastikan ada sistem pemeriksaan bola-bola lampu untuk keselamatan listrik dan untuk
menjaga penerangan agar tetap baik. Peralatan dan perlengkapan harus sesuai untuk
kondisi di lapangan.
Bila pekerjaan dilakukan di area dimana ada risiko kebakaran uap mudah terbakar seperti
misalnya pada pekerjaan di petrokimia, maka harus dipilih peralatan dengan desain
khusus untuk mencegah timbulnya sumber penyalaan api yang disebabkan percikan
dan panas berlebihan. Perlindungan harus tercakup di dalam rancangan keselamatan
dan kesehatan proyek.

Jaringan Kabel Di atas


Kontak dengan jaringan kabel listrik diatas adalah penyebab cedera dan kematian yang
sering terjadi. Setiap pekerjaan didekat kabel distribusi listrik atau jaringan kereta listrik
harus direncanakan dengan hati-hati untuk mencegah kecelakaan disebabkan kontak.
Operasi umum yang sering terjadi kontak dengan kabel diatas:
Menangani perancah yang panjang
Menangani lembaran atap logam yang panjang
Menangani tanggan panjang
Mengoprasian derek dan peralatan angkat lainnya
K3 Listrik – 81

Apabila mungkin, lakukan pekerjaan yang tidak berpotensi kontak dengan kabel diatas,
ditempat yang aman dari kabel tersebut.
Dalam beberapa hal, dapat dilakukan cara alternatif untuk mengurangi resiko, misalnya
dengan mengurangi panjang pipa perancah, tangga atau lembaran atap dan memastikan
bahwa tidak akan terkena kabel.
Ketentuan umum untuk kendaraan, peralatan dan perangkat yang tinggi adalah jangan
membawanya kurang dari:
15 meter dari kabel diatas yang menjulur dari menara besi
9 meter dari kabel diatas yang disangga oleh tiang kayu

Dalam hal dimana diperlukan jarak lebih dekat, perlu dilakukan pemutusan arus
listriknya atau membuat penghalang untuk menghindarkan terkena kontak. Bila pekerjaan
akan dilakukan dekat dengan jaringan kabel diatas, maka perlindungan secara detil harus
didiskusikan dengan pihak yang bertanggung jawab dengan jaringan kabel tersebut
(misalnya dengan kabel kereta listrik).

Teknik-teknik penggunaan yang aman


Subbab ini tidak menyangkut instalasi perlengkapan listrik – yang harus dilakukan oleh teknisi
listrik yang terlatih dan kompeten – namun tentang penggunaan kelistrikan ditempat kerja.
Kegagalan:
Jika terjadi kegagalan, jangan mengutak-atik perlengkapan listrik
Carilah teknisi listrik yang cakap
Pelindung sirkuit:
Fungsi sekering atau pemutus arus adalah mencegah sirkuit hilir agar tidak teraliri
arus yang di luar kapasitasnya
Sekering memungkinkan sedikit arus – berlebih mengalir sebelum akhirnya putus
Pemutus – arus memutus arus pada besaran arus yang ditentukan
Seluruh sirkuit listrik harus dilindungi dengan sekering atau pemutus arus
Sekering/pemutus arus harus ditentukan rating kapasitasnya untuk melindungi
perlengkapan yang akan dilindunginya
Sekering/pemutus-arus tidak boleh ditingkatkan kapasitasnya kecuali oleh teknisi
yang cakap
Saklar pengisolasi:
Setiap perlengkapan yang menggunakan daya listrik harus memiliki saklar
pengisolasi sendiri
82 – K3 Listrik

Saklar pengisolasi harus memiliki sarana untuk menguncinya dalam kedudukan


OFF
Saklar pengisolasi harus diberi etiket untuk mengidentifikasi perlengkapan yang akan
diisolasi
Saklar pengisolasi harus mudah dijangkau dari lantai kerja
Pemeliharaan:
Jika sedang bekerja pada perlengkapan listrik, jangan mengandalkan diri pada
saklar OFF normal – matikan dan kuncilah pada saklar isolatornya
Menguncinya harus dengan kunci gembok pribadi
Gunakanlah multi gembok khusus jika pengerjaan dilakukan oleh beberapa orang
Aturan yang ketat perlu diberlakukan terhadap prosedur penguncian lihat dibawah ini
Pembumian:
Seluruh perlengkapan listrik, kecuali yang memiliki insulasi ganda, harus dibumikan
Sirkuit pembumian harus disambung langsung ke bumi dan tidak melalui saklar
Ruang akses:
Lebar ruang akses di depan pemutus-sambung-arus (switchgear) sedikitnya 1 m
dan rimbat-tanga yang dipasang di depan yang berjarak 1 meter dari pemutus-
sambung-arus ini akan mempertahankan ruang ini bebas dari rintangan
Perlindungan:
Instalasi-instalasi baru dan perlengkapan-perlengkapan yang ada yang bekerja
dalam lingkungan yang rawan (basah) harus memiliki perlindung kebocoran bumi
(earth leakage protection) seperti alat arus residu (residual current device-
RSD)
Seluruh mesin bertenaga listrik harus memiliki saklar penghenti darurat
(emergency stop switch) yang:
telah diberi identifikasi
mudah dijangkau oleh operator
Saklar-saklar saling-kunci harus merupakan saklar pembatas (bukan mikro-saklar)
Aktuasi saklar saling-kunci tunggal harus positif, yaitu sirkuit pengaman yang dibuat
haruslah ketika saklar berada pada kedudukan (tidak beroprasi)
Seluruh konduktor harus diinsulasi – tidak diperbolehkan ada kawat telanjang atau
sambungan yang tersingkap
Perlengkapan mampu-jinjing harus menggunakan pasokan listrik 110 volt dengan
terminal tengah yang dibumikan
Tempelkan plakat:
K3 Listrik – 83

yang merangkum Electricity at Work Regulations 1989


yang menunjukkan sarana member napas buatan (resusitasi)

Aturan-aturan Penguncian
Seluruh permesinan listrik harus memiliki saklar pengasing/isolator dengan fasilitas
penguncian.
Sebelum memulai pemeliharaan, perbaikan, atau pekerjaan lain yang memerlukan
akses ke dalam permesinan, isolatornya harus dikunci dengan gembok dan
digantungi kartu identifikasi.
Setiap gembok seharusnya hanya memiliki satu kunci. Tidak boleh ada kunci duplikat
atau kunci induk.
Hanya petugas yang memasang gembok yang boleh membukanya. Pengaturan perlu
dibuat untuk menyerahterimakan gembok (atau kuncinya) pada saat pergantian
giliran kerja.
Jika lebih dari satu orang bekerja pada perlengkapan tersebut, kokot dengan beberapa
gembok perlu digunakan dan setiap orang memasang gembok masing-masing.
Pada pemeliharaan besar, gembok tunggal dapat digunakan di gang yang dalam hal ini,
penyelia/mandor bertanggung jawab terhadap keselamatan di seluruh gang dan
untuk memastikan gang seluruhnya telah bersih dari perlengkapan sebelum
membuka gembok.
Sebelum membuka gembok terakhir setelah penyelesaian pekerjaan, perlengkapan
harus diperiksa untuk memastikan seluruh perkakas kerja telah diambil, pengaman
telah dipasang kembali, dan perlengkapan sudah aman dioprasikan.
Gembok perlu disediakan untuk setiap orang atau disimpan secara bersamaan dan
diparaf untuk setiap penggunaan.
Kehilangan kunci gembok harus dilaporkan kepada penyelia dan izin tertulis dari
manajer yang bertanggung jawab harus dimintakan sebelum gemboknya dibuka
paksa.
Dalam keadaan darurat, jika ‘pemilik’ gembok tidak berada ditempat, izin dari manajer
yang bertanggung jawab harus dimintakan sebelum gembok dibuka.
Setiap pekerja yang menggembok saklar pengasing isolator secara tidak sengaja pada
akhir giliran kerja harus kembali ke pekerjaan untuk membukannya.
Pelanggaran terhadap aturan-aturan ini harus tunduk pada tindakan disipliner.

Dengan mengikuti berbagai aturan dan praktik aman yang sudah terbukti ini,
manfaat penuh dan keamanan dapat diperoleh dari pemakaian listrik.
84 – K3 Listrik

Penggunaan perlengkapan listrik genggam secara aman


Subbab ini membahas setiap bagian perlengkapan listrik yang digunakan secara
normal dan yang memakai sumber tegangan utama. Perlengkapan tipikal meliputi lampu
tangan (hand lamp), berbagai perkakas listrik genggam (hand-held power tools),
mesing pengulir-pipa (portable pipe threading), kipas angin, dan sebagainya.

Tindakan Pencegahan
Tindakan-tindakan pencegahan berikut ini perlu diambil untuk berbagai jenis
perlengkapan listrik mampu-jinjing:
Pasokan daya :
110 volt dengan terminal tengah yang dibumikan
dapat berupa pasokan daya yang sudah terpasang, atau
dari pasokan daya 220 volt melalui transformator mampu-jinjing yang sesuai
Jika menggunakan sumber daya 220 volt, harus memasang alat arus residu (residual
current device – RSD)
Di kedua kasus tersebut, pasokan dayanya harus menyertakan sambungan pembumian
Perlengkapan :
Dapat berupa:
perlengkapan yang dibumikan, atau
menggunakan insulasi ganda (double-insulated)
Steker :
Sesuai untuk stop-kontak listrik
Perkabelannya baik, termasuk penjepit selubung kabel
Kawat pembumian perlu dikendurkan di dalam steker sehingga kawat terakhir yang
dikeluarkan dari terminal akan mempertahankan sambungan pembumian
Dalam kondisi baik
Dipasangi sekering yang tepat
Kabel
Memiliki kapasitas yang sesuai dengan alat, baik tegangannya maupun arusnya
Jenisnya fleksibel
Dalam kondisi baik tanpa cacat di selubung kabelnya
Memiliki konduktor pembumian kecuali dalam kasus perlengkapan yang berinsulin
ganda
Diinspeksi secara teratur
Alat-alat :
K3 Listrik – 85

Dalam kondisi dan keadaan baik


Perkabelannya baik
Sesuai dengan tegangan pasokannya
Selubung kabel tegangan dijepit dengan kukuh
Dibumikan dengan baik kecuali menggunakan insulin ganda
Inspeksi :
Seluruh perlengkapan listrik mampu-jinjing seperti steker, kabel, dan alat-alat listrik,
harus diperiksa secara teratur dan memiliki kartu riwayat (tag) yang digantungkan.

Kemungkinan gangguan
Gangguan-gangguan berikut ini dapat saja terjadi dan relatif mudah diperbaiki:
Kerusakan kabel
Ganti atau sisipkan konektor di titik kerusakan
Kehilangan cincin-lubang (grommet) pada titik masuk kea lat-alat
Gantilah cincin-lubang tersebut
Selubung kabel tertarik keluar dari penjepitnya, kabel-kabelnya pun nampak
Buka dan jepitlah dengan aman pada selubungnya
Steker pecah
Ganti.
Tindakan-tindakan pencegahan ini sederhana dan mudah dilakukan namun
memberikan perlindungan tingkat tinggi dalam penggunaan perlengkapan mampu-jinjing.
Pengerjaannya pun bagaikan pekerjaan-pekerjaan di rumah.
Petunjuknya dicantumkan dalam publikasi HSE, HSG 107: ‘Maintaining portable
and transportable electrical equipment’.
86 – K3 Listrik
Kesehatan Kerja – 87

BAB VI
KESEHATAN KERJA

Bab ini berisi penjelasan mengenai kesehatan kerja. Setelah mempelajari bab ini,
mahasiswa diharapkan mampu:
Mengetahui regulasi yang berkaitan dengan kesehatan kerja
Mengetahui tujuan kesehatan kerja
Mengetahui jenis-jenis penyakit akibat kerja dan tindakan pengendaliannya

Kesehatan merupakan unsur penting agar kita dapat menikmati hidup yang berkualitas, baik
di rumah maupun dalam pekerjaan. Kesehatan juga menjadi faktor penting dalam menjaga
kelangsungan hidup sebuah organisasi. Fakta ini dinyatakan oleh Health and Safety
Executive (HSE) atau pelaksana kesehatan dan keselamatan kerja sebagai Good Health is
Good Business kesehatan yang baik menunjang bisnis yang baik. Beberapa situasi dan
kondisi pekerjaan baik tata letak tempat kerja atau material-material yang digunakan
menghadirkan risiko yang lebih tinggi dari keadaan normal terhadap kesehatan. Dengan
memahami karakteristik material-material yang digunakan dan kemungkinan reaksi tubuh
terhadapnya, kita dapat meminimalkan risikonya bagi kesehatan.

Pengendalian Hygiene dan Kesehatan Kerja


Pengendalian kesehatan dan hygiene adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk
melindungi kesehatan pekerja dan yang lainnya dari bahaya yang mungkin timbul
sehubungan dengan operasi perusahaan. Kegiatan ini tidak hanya terbatas pada diagnosis
pengobatan penyakit akibat kerja tetapi juga upaya yang diperlukan untuk melindungi
pekerja dari penyakit.

Identifikasi Bahaya Terhadap Kesehatan


Pekerjaan yang dilakukan untuk mengidentifikasi bahaya terhadap kesehatan di tempat
kerja harus dilakukan dengan resmi, terencana, menyeluruh, dan dengan teknik yang akurat.
Metodenya dapat melalui inspeksi, pengamatan pekerjaan, survei, dan penilaian teknis,
serta pengawasan terhadap pengadaan bahan-bahan dan kontrak-konrak pekerjaan.
Cidera terhadap pekerja dapat diakibatkan oleh bahan-bahan kimia, fisik, biologis,
ergonomi, atau psikologis, atau kombinasi diantaranya. Kondisi lingkungan yang buruk juga
dapat mempengaruhi kesehatan pekerja, seperti suhu yang tinggi atau rendah, penerangan
yang jelek, kebisingan yang menggangu atau pengaturan waktu kerja yang buruk.
88 – Kesehatan Kerja

Pengendalian Bahaya
Apabila diketahui adanya bahaya, tindakan harus segera dilakukan untuk mengendalikan
dampaknya terhadap pekerja, yang terbaik adalah dengan cara menghilangkan sumber
bahayanya. Sebagai contoh, mengganti bahan yang berbahaya dengan bahan yang kurang
berbahaya; menambah penerangan lampu; rekayasa untuk menghilangkan bahaya-bahaya
kebisingan dan getaran.
Sebagai upaya terakhir apabila tidak menghilangkan bahayanya sampai batas aman, maka
harus disediakan alat pelindung diri (APD) yang khusus dirancang untuk melindunginya.

Bahan dan Proses


Setiap bahan berbahaya yang akan digunakaan atau proses yang mungkin menghasilkan
bahan berbahaya harus diidentifikasi. Risiko pekerjaan yang mungkin berdampak pada
pekerja lapangan atau anggota masyarakat harus diperiksa. Perencana dapat mengurangi
bahaya akibat bahan-bahan itu melalui rancangannya. Kontraktor seringkali memiliki
pengetahuan secara detail tentang bahan alternatif yang bahannya kurang berbahaya.
Perencana dan kontraktor dapat saling mengidentifikasi bahan-bahan dan proses berbahaya
serta menyarankan alternatifnya. Apabila para pekerja menggunakan atau terpapar bahan-
bahan berbahaya sebagai dampak pekerjaan mereka, maka perlu upaya mengatasi dan
mengontrolnya. Ada standar-standar prosedur yang dapat digunakan sebagai acuan atau
pedoman.

Identifikasi
Survei kesehatan kerja dilakukan terhadap bahaya di area kerja, seperti bunyi, penerangan,
getaran, suhu, pemaparan bahan kimia, debu, dan kotoran dari sumber radioaktif. Orang-
orang kemungkinan terpapar bahan berbahaya baik karena menangai atau
menggunakannya secara langsung atau karena pekerjaannya sendiri mengakibatkan
terbentuknya bahan-bahan berbahaya. Apabila bahan-bahan berbahay akan digunakan,
pembuat dan penyuplai mempunyai kewajiban untuk memberikan informasi. Bacalah tabel
pada tempat-tempat bahan dan lembaran data keselamatan bahan (MSDS, material safety
data sheet). Bila perlu, hubungi produsen atau penyuplai untuk mendapatkan informasi lebih
lengkap. Selain itu, ada kemungkinan bahan-bahan berbahaya sudah ada di lokasi sebelum
pekerjaan dimulai, contohnya: gas-gas atau pencemar-pencemar tanah. Periksa risiko-risiko
tersebut dengan cara yang sama seperti pada bahan-bahan berbahaya lainnya.

Pemeriksaan
Lihat pada cara bagaimana orang terpapar bahan-bahan berbahaya pada pekerjaan-
pekerjaan khusus yang dikerjakannya. Tentukan apakah kelihatannya merugikan kesehatan
Kesehatan Kerja – 89

seseorang. Kerugian dapat disebabkan karena: (1) bernafas di dalam asap, uap, dan debu,
(2) kontak langsung dengan kulit dan mata, (3) tertelan atau termakan bahan terkontaminasi.

Bernafas di Dalam Asap, Uap dan Debu


Apakah informasi dari produsen mengatakan bahwa ada risiko apabila menghirup bahan-
bahan tersebut?
Apakah bahan-bahan tersebut digunakan dalam jumlah besar?
Apakah pekerjaan dilakukan dengan cara berdampak terkontaminasi berat terhadap udara,
misalnya dengan semprotan?
Apakah pekerjaan dilakukan di area dengan ventilasi yang buruk, misalnya di suatu ruang
bawah tanah?
Apakah pekerjaannya menimbulkan bahaya, misalnya pemotongan logam yang dilapisi
timah dengan api las sehingga menghasilkan uap timah?

Kontak Langsung Dengan Kulit dan Mata


Apakah informasi dari produsen mengatakan adanya risiko akibat kontak langsung?
Seberapakah kuatnya, sebagai contoh apakah alkalis atau asam keras digunakan?
Apakah metode kerjanya membuat kulit sering terkena, sebagai contoh, dari percikan saat
menuangkan dari suatu tempat ke tempat lainnya.

Tertelan Atau Termakan Bahan Terkontaminasi


Beberapa bahan yang berdebu dapat mencemari kulit dan tangan. Pencemaran dapat
melewati mulut saat mereka makan atau merokok. Ini adalah masalah utama saat
menangani timah dan cat berbahan dasar serbuk timah. Pastikan orang tidak makan atau
merokok sebelum mencuci tangannya.
Bahan seperti semen dapat mengakibatkan dermatitis (penyakit kulit). Bahan yang sensitif
seperti isosianat dapat membuat orang yang menggunakannya mendapat reaksi kaget
mendadak meskipun mereka sebelumnya telah sering menggunakannya.

Pencegahan
Bila sering terjadi cedera akibat suatu bahan, maka langkah pertama adalah mencoba atau
menghindari penggunaannya sama sekali. Ini berarti:
Mengerjakan pekerjaan dengan cara lain, sebagai contoh, dari pada menggunakan asam
atau soda keras untuk mengatasi saluran buntu, gunakan saja batang penyolok, atau
Gunakan bahan pengganti, misalnya, daripada menggunakan cat berbahan dasar alcohol,
gunakan saja bahan berbahan dasar air yang pada umumnya bahayanya kurang.
90 – Kesehatan Kerja

Pengendalian
Bila bahan harus tetap digunakan karena tidak ada alternatif lain, atau karena menggunakan
alternatif yang resikonya rendah tetap mempunyai resiko besar, maka langkah yang diambil
adalah dengan cara mencoba dan mengontrol pemaparan. Beberapa dari cara ini dapat
dilakukan termasuk:
Memastikan adanya ventilasi yang baik di area kerja dengan pintu-pintu, jendela dan lubang
cahaya atap yang terbuka. Untuk beberapa kasus diperlukan peralatan ventilasi mekanis.
Gunakan sesedikit mungkin bahan yang berbahaya, jangan tempatkan di area kerja lebih
dari yang dibutuhkan.
Gunakan rol dengan pelindung cipratan atau dengan kuas daripada dengan semprotan.
Memindahkan cairan dengan pompa daripada dengan tangan. Tempatnya harus selalu
ditutup kecuali saat memindahkan isinya.
Gunakan peralatan gerinda atau semprotan pasir (sandblasting) yang dilengkapi ventilasi
pembuangan atau semprotan air untuk mengontrol debunya.

ALAT PELINDUNG DIRI

Bila pemaparan bahan berbahaya tidak cukup dikontrol dengan menggunakan cara yang
sudah disebut diatas, maka perlu digunakan Alat Pelindung Diri (APD). Antara lain jenis:

Respirator, yang melindungi terhadap debu, uap dan gas. Pastikan bahwa jenis
respiratornya benar untuk pekerjaannya; masker debu tidak akan melindungi
terhadap uap atau sejenisnya.

Bila respiratornya mempunyai patrun (catridge/penyaring), pastikan yang


terpasang adalah sesuai untuk jenis pekerjaanya, tidak menjadi sempit atau buntu, dan
masih dalam masa pakai (banyak filter yang mempunyai batas waktu pakai). Adalah penting
bahwa respirator terpasang dengan baik dimuka. Pastikan pengguna mengetahui
bagaimana mengenakan alat ini dan memeriksa kondisinya.

Pakaia pelindung, seperti coverall, sepatu boot, sarung tangan, diperlukan terhadap
adanya bahan-bahan korosif.
Pelindung mata, seperti goggles, kaca mata, atau pelindung muka. Pelindung mata
adalah penting, melindungi terhadap percikan bahan cair korosif dan benda-benda
berterbangan . Pelindung muka untuk melindungi seluruh muka.
Kesehatan Kerja – 91

Pilih APD dengan seksama. Tentukan peralatan dengan kualitas yang baik. Biarkan
pengguna membantu untuk memilih alat, yang dapat membuatnya mau semangkin mau
untuk memakainnya. Jelaskan pada pengguna mengapa harus memakainya dan melindungi
terhadap bahaya apa saja. Pengguna perlu mengetahui bagaimana alat tersebut bekerja
dan pemeliharaan yang harus dilakukan terhadap alat tersebut. Awasi pengguna untuk
memastikan bahwa alat pelindung dipakai dan digunakan dengan benar.

Pelihara alat secara periodik dan periksa kerusakan yang terjadi. Simpan ditempat
yang kering dan bersih, dan ada peralatan pengganti dan cadangannya. Pastikan bahwa
APD tidak menjadi sumber pencemaran dengan menjaga bagian dalam pelindung debu dan
sarung tangan tetap bersih. Simpan didalam kotak atau lemari yang bersih, jangan dibiarkan
tergeletak di tempat kerja

KESEHATAN PRIBADI

Bahan-bahan juga dapat menjadi berbahaya bagi kesehatan apabila disalurkan melalui
tangan pekerja ke makanan, rokok dsb. Masuk kedalam tubuh. Hal ini dapat dicegah melalui
kesehatan pribadi yang baik, seperti misalnya:

Mencuci tangan dan muka sebelum makan, minum dan merokok, dan sebelum
menggunakan toilet.
Makan, minum dan merokok jauh dari lokasi pemaparan
Pastikan sesedikit mungkin orang terpapar oleh bahan-bahan dengan mencegah orang-
orang tidak berkepentingan langsung berada di area.
Pastikan mereka yang berada di area beresiko mengetahui bahaya yang ada.
Sediakan fasilitas pencucian yang baik agar dapat makan dengan bersih.

PENYAKIT AKIBAT KERJA

Penyakit akibat kerja adalah penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh
pekerjaannya, dan yang diperoleh pada masa atau waktu melakukan pekerjaan, dan yang
masyarakat umum biasanya tidak terkena. Penyakit akibat kerja sering disebut juga dengan
penyakit jabatan.

Untuk membuktikan apakah penyakit yang diderita seorang pekerja suatu penyakit jabatan atau
bukan, kadangkala sangat sukar. Perlu pemeriksaan fisik, laboratorium dan kadang diperlukan
pemeriksaan khusus oleh beberapa ahli atau spesialis, juga perlu dilakukan pengukuran-
pengukuran atau penelitian-penelitian keadaan lingkungan kerja dimana pekerja tersebut
bekerja. Juga diperlukan riwayat pekerjaan pekerja itu sebelumnya dan hasil-hasil pemeriksaan
pekerja sebelum bekerja. Kadang-kadang kesehatan pekerja dapat dilindungi
92 – Kesehatan Kerja

melalui gejala awal suatu penyakit. Penyakit akibat kerja pada pekerjaan konstruksi secara
umum antara lain adalah:

Debu

Debu dapat menyebabkan penyakit yang disebut Pneumokoniosis. Pneumokoniosis


adalah segolongan penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh penimbunan debu dalam
paru-paru, termasuk penyakit jabatan yang sering terjadi dalam kegiatan pertambangan,
konstruksi dan sebagainya. Tetapi tidak semua penimbunan debu dalam paru-paru akan
menimbulkan Pneumokoniosis, tergantung dari jenis dan jumlah debu, dan reaksi jaringan
paru-paru terhadap hadirnya debu tersebut.

Gejala umum Pneumokoniosis antara lain:

Batuk kering
Sesak nafas
Kelelahan umum
Berat badan susut
Banyak dahak, dsb.

Beberapa jenis penyebab Pneumokoniosis yang umum antara lain:

1. Asbes

Asbes adalah suatu serat yang sangat tahan lama. Secara luas digunakan pada bahan-
bahan dimana diperlukan ketahanan terhadap panas atau bahan kimia, dan untuk
memberikan kekuatan pada produk-produk semen seperti papan isolasi, atap gelombang
serta talang dan pemipaan semen. Pelapisan dengan semprotan asbes juga digunakan
untuk mengurangi suara/kebisingan.

Asbes sebagai bahan penyebab penyakit telah mengakibatkan kematian lebih


banyak daripada diakibatkan bahan tunggal lainnya. Bahayanya timbul ketika serat asbes
berterbangan dan terhisap kedalam paru-paru.

Penyakit yang diakibatkan oleh asbes adalah Asbestosisi, yaitu penyakit paru-paru
yang disebabkan oleh terhisapnya debu asbes kedalam paru-paru dan dapat menyebabkan
kanker. Asbes adalah mineral yang terdiri dari beberapa senyawa silica terutama
Magnesium dan Besi. Ditemukan dalam bentuk serat, sebagian diantaranya sedemikian
halus sehingga kadang tidak terlihat oleh mata. Ada 3 jenis debu asbes, yaitu:

Chrisotile, berwarna putih atau kehijauan, merupakan jenis yang banyak digunakan
dalam industri.
Kesehatan Kerja – 93

Amosite, berwarna abu-abu atau coklat


Crocidolite, berwarna biru, selain mengakibatkan asbestosis juga dapat menimbulkan
tumor ganas paru-paru, yaitu Mesothelioma selaput paru-paru.

Untuk beberapa pekerjaan, perusahaan bangunan sudah mengetahui dimana bahan asbes
ditemukan didalam bangunan. Pada beberapa kasus bahkan diberikan label peringatan bagi
yang berhubungan dengannya. Tetapi, sering keberadaan asbes tidak ketara. Untuk itu
bangunan atau area bangunan dimana pekerjaan akan dilakukan harus diperiksa untuk
meng-identifikasi lokasi, jenis dan kondisi asbes yang ada yang dapat menggangu selama
pekerjaan berlangsung.

Beberapa bahan biasa yang mengandung asbes antara lain:

Pembungkus atau pembalut boiler dan pipa


Semprotan pelapis untuk isolasi api atau akustik o
Papan isolasi
o Produk-produk papan, lembaran berbahan dasar semen
o Bahan untuk langit-langit
o Produk-produk gasket dan kertas untuk isolasi listrik dan suhu
o Beberapa bahan untuk pelapis permukaan tekstur

Sampai kini orang berpendapat bahwa kematian yang berhubungan dengan penyakit akibat
asbes disebabkan karena terpapar asbes dalam jumlah banyak secara regular, padahal
dengan terpapar asbes dalam jumlah sedikit secara berulang sudah dapat menyebabkan
penyakit kanker. Oleh karena itu harus selalu dilakukan perlindungan untuk mencegah
pemaparan asbes, atau meminimalkan.

Pekeraan seperti tukang pipa, petugas listrik dan petugas pemanasan mungkin tidak
menyadari kalau mereka bekerja dengan asbes saat secara regulermelakukan pengeboran,
pemotongan dan penanganan bahan yang menggandung asbes. Oleh karena itu perlu
dilindungi.

Secara umum, semangkin lunak bahan akan semangkin mudah rusak dan lebih
mudah untuk melepaskan seratnya saat dikerjakan. Semangkin besar jumlah serat yang
terlepas akan semangkin besar resikonya terhadap kesehatan, dan akan memerlukan
standar perlindungan yang lebih tinggi lagi. Banyak bahan-bahan lunak, misalnya pembalut
boiler, dilindungi lagi dengan pelapis luar yang keras.
94 – Kesehatan Kerja

Apabila asbes, atau yang diperkirakan asbes, yang tidak teridentifikasi selama
pemeriksaan pendahuluan tidak ditutup, maka pekerjaan harus dihentikan. Bila ragu-ragu
tentang keberadaan asbes, minta petunjuk dari seorang analis khusus.

Peringatan:

Ada beberapa hal penting untuk diingat bila bekerja dengan bahan keras menggandung
asbes dalam jumlah sedikit:

Tidak ada persyaratan ijin kerja untuk bekerja pada lembaran semen asbes, papan
asbes, atau dengan produk semen asbes seperti saluran dan pemipaan, tetapi
diperlukan penilaian tingkat pemaparannya.
Hindarkan pemaparan terhadap debu di udara dan sediakan alat pelindung yang diperlukan,
termasuk respirator. Penggunaan respirator untuk mengontrol pemeparan dilakukan
hanya setelah semua langkah telah dilakukan untuk mengurangi
pemaparannya.
o Bila pemaparan serat pada tingkat yang rendah, sebagai contoh misalnya
memindahkan sejumlah kecil langit-langit atau mem-bor beberapa lubang sebagai
bagian dari pekerjaan pemipaan dan listrik, maka dengan menggunakan respirator /
masker debu yang dapat dibuang (disposable) cukup dapat memberikan
perlindungan.
Untuk pekerjaan yang lebih luas, termasuk pembongkaran atau menangani bahan-
bahan yang rusak, mungkin diperlukan perlindungan yang lebih, seperti respirator /
masker penutup muka penuh, dan ventilasi yang cukup diruang tertutup saat
menangani pembungkusan atau pelapisan.
Jangan menghancurkan papan atau kepingan asbes; untuk memindahkannya usahakan
berupa suatu bagian yang utuh. Bila mungkin lembaran dibuat menjadi basah
sebelum dikerjakan.
Tangani bahan dengan hati-hati, jangan dijatuhkan ke tanah atau lantai. Bagian yang
terlepas segera diambil. Bila bekerja diluar, misalnya menurunkan lembaran-
lembaran, pastikan kendaraan jangan melintas karena akan mengakibatkan debu.
Upayakan menggunakan peralatan tangan, mem-bor dan memotong lembaran asbes
dengan peralatan mesin akan menghasilkan banyak debu.
Bila bahan asbes dibongkar maka harus dibuang dengan aman.

2.Silikon

Penyakit akibat kerja yang disebabkannya disebut Silicosis, yaitu penyakit akibat kerja
disebabkan karena penimbunan debu yang mengandung Silika bebas (SiO2). Bila partikel-
Kesehatan Kerja – 95

partikel debu mengandung silika bebas masuk kedalam paru-paru maka akan timbul kerusakan
karena jaringan paru-paru secara berangsur-angsur akan diganti oleh jaringan ikat yang tak
mempunyai fungsi dalam pernafasan. Kerusakan ini terjadi perlahan-lahan dan gejalanya mulai
terasa setelah pemaparan bertahun-tahun. Silikosis tidak dapat diobati dan bila penyakit ini
diketahui biasanya sudah terlambat dan akhirnya akan mengakibatkan kematian. Lingkungan
yang mungkin meimbulkan silikosis adalah pada pekerjaan penggalian dan pemecahan batu
granit, usaha bahan-bahan dari karet serta tempat-tempat pekerjaan
Sand-blasting.

Penyakit Kulit Akibat Kerja (Occupational Dermatosis)

Adalah penyakit kulit yang ditimbulkan oleh benda-benda, bahan-bahan atau lingkungan
kerja. Penyakit kulit akibat kerja merupakan 50-60% dari seluruh kasus penyakit jabatan.
Dari bermacam penyakit kulit akibat kerja, yang terbanyak adalah Dermatitis Kontak.

Dermatitis Kontak meliputi tidak kurang dari 40% dari semua penyakit kulit akibat
kerja, dan 25% diantaranya sebagian akibat pekerjaan (Dermatitis Kontak akibat kerja).
Industri atau tempat kerja yang ditemukan Dermatitis Kontak akibat kerja adalah:

Industri Farmasi
Industri Tekstil
Industri Cat
Industri Plastik
Pekerjaan-pekerjaan kayu, semen, dll. Faktor-faktor

penyebab penyakit kulit akibat kerja:

Faktor fisik dan mekanik, yaitu panas, dingin, lembab, sinar matahari, sinar-X dan sinar-
sinar lainnya, tekanan, gesekan dan trauma.
Mikrobiologik:
Bakteri, virus, jamur, cacing serangga, kutu.
Bahan-bahan berasal dari tanaman:
Daun-daunan, kayu getah, akar-akaran, umbi-umbian, sayur-sayuran.
Kimiawi:
Bahan kimia organik atau anorganik

Uap Logam

Penyakit yang istimewa yang terjadi oleh karena menghirup partikel-partikel yang sangat
halus dari logam adalah Demam Uap Logam. Sedemikian halusnya partikel-partikel ini
sehingga bersifat menyerupai gas dan bekerja pada permukaan alveoli, dan mempengaruhi
96 – Kesehatan Kerja

jaringan paru-paru. Penyakit jenis akut, suatu jenis alergi yang disebabkan oleh inhalasi
uap oksidalogam pada konsentrasi tinggi.

Banyak oksida sebagai penyebabnya, antara lain:

Uap seng
Magnesium
Cadmium
Antimon, dsb.

Penyakit ini bukan penyakit yang kronis, tetapi lebih bersifat serangan yang terjadi
secara berulang-ulang sehingga terlihat unik.

Gejala penyakit:

Gejala pertama 4-8 jam setelah pemaparan, biasanya didahului oleh rasa busuk didalam
mulut.
Selanjutnya perangsangan saluran pernafasan bagian atas disertai batuk dan rasa
kering pada selaput lendir. Nyeri otot, menggigil mendadak.
Lemah, capai dan lesu.
Gejala lainnya perut mual, kadang muntah, sakit kepala ringan sampai berat.
Kadang-kadang aktifitas mental berlebihan. Setelah 10-20 jam penderita menggigil dan
demam, kadang-kadang dengan hebatnya sampai 1-3 jam dan dapat diikuti tidur
yang sangat dalam.
Penderita dapat berkeringat banyak, kencing atau bahkan muntah berak mencret
sehingga sering diobati sebagai penyakit malaria atau muntaber biasa. Pada
pemeriksaan laboratorium darah dapat dilihat adanya peningkatan jumlah sel darah
putih. Tidak ada sifat kronik dari penyakit ini, tetapi untu beberapa kasus keadaan
akut tersebut dapat diikuti dengan komplikasi Bronchitis.

Kebisingan

Pemaparan bunyi dengan tingkat yang tinggi secara teratur dapat mengakibatkan ketulian.
Semangkin lama pemaparan dan semangkin tinggi tingkat bunyinya akan berakibat
semangkin tingginya derajat ketuliannya.

Pemaparan dari kegiatan kerja pada seorang harus diukur dan dikontrol. Bila resiko
terhadap pendengaran tidak dapat dikurangi maka harus digunakan pelindung.

Periksa pekerjaan apa yang berhungan dengan peralatan yang menimbulkan kebisingan.
Kesehatan Kerja – 97

Nilai seberapa besar bunyi dari pekerjaan ini berpengaruh terhadap orang yang
bekerja di lokasi dan penduduk sekitarnya. Produsen dan penyalur peralatan mempunyai
kewajiban untuk memberikan informasi tentang peralatan yang diproduksinya, termasuk
cara yang baik mengatasi masalah kebisingannya.

Penilaian

Lihat bagaimana penggunaan peralatan yang sebenarnya dilapangan. Dapatkah orang


menggunakan peralatan dan berbicara dan mengerti dengan orang lain pada jarak 2
meter tanpa berteriak? Bila dian harus berteriak maka mungkin bunyi dari peralatan
tersebut cukup untuk dapat merusak pendengaran, maka harus dilakukan tindakan.
Lakukan pengukuran dan penilaian terhadap bunyi oleh seseorang yang mengerti dan
menentukan apa tindakan yang perlu dilakukan. Pada umumnya adalah
menggunakan penutup telinga atau sumbat telinga.
Beritahukan pada orang-orang yang terpapar bahwa mereka berada pada tingkat resiko
yang tinggi terhadap pendengaran, apa yang sedang dilakukan untuk mengatasi
sampai ketingkat yang aman.

Pencegahan

Dapatkah pekerjaan dilakukan dengan cara lain dengan tidak menggunakan peralatan
yang bising? Apabila tidak, dapatkah menggunakan peralatan yang kurang
bisingnya? Bila membeli atau menyewa peralatan, pilih yang paling tidak bising.
Coba dan lakukan pekerjaan pekerjaan yang bising jauh dari pekerjaan yang lainnya.
Pindahkan orang-orang yang tidak berkepentingan dari lokasi yang bising. Pasang tanda
untuk memperingatkan orang tetap menjauhi lokasi bising tersebut.

Pengendalian

coba untuk mengurangi kebisingan dari sumbernya, misalnya pasang peredam


pada saluran gas buang, melubangi, dan sebagainya. Penutup pada
kompresor harus tetap tertutup. Kebanyakan kompresor modern dirancang
untuk bekerjadengan seluruh penutup yang selalu dalam keadaan tertutup.
Pastikan bahwa peredam bunyi pada peralatan bergerak berfungsi dalam
kondisi baik. Rawat peralatan secara teratur untuk mencegah bunyi lolos dari
pelindung yang lepas dan kebocoran selang dan sambungan saluran udara
bertekanan.
98 – Kesehatan Kerja

Tingkat kebisingan dapat dikurangi dengan memastikan saluran gas buang


kompresor, generator dan peralatan lainnya mengarah keluar area kerja.
Batasi sekitar peralatan dengan bahan penyerap bunyi.
Bila tidak memungkinkan untuk menghilangkan atau mengurangi sumber bunyi,
berikan pekerja pelindung atau sumbat telinga.
Memberikan perlindungan pendengaran bukan sebagai pengganti cara
menghilangkan dan mengendalikan sumber bunyi.
Hati-hati dalam pemilihan sumbat dan pelindung telinga, jaga agar tetap dalam
kondisi baik dan jelaskan. Pastikan bahwa pelindung atau sumbat telinga
yang diperlukan digunakan dengan semestinya.
Periksa juga pelindung pendengaran tidak menghalangi alat pelindung lainnya.
Sebagai contoh, bila pelindung telinga sulit dikenakan bersamaan dengan
pelindung kepala maka digunakan pelindung telinga yang dapat dipasang
pada pelindung kepala.

Getaran

Banyak pekerjaan kontruksi berhubungan dengan peralatan tangan berkekuatan, seperti


alat pemecah pneumatis dan gerinda piringan. Getaran dari peralatan tersebut dapat
berdampak pada jari, tangan dan lengan, dan dalam jangka panjang dapat menjadi cedera
permanent. Bagian dari jari-jari akan memutih dan berkerut, dan kehilangan daya sentuhan.

Bila seseorang akan menggunakan peralatan tangan berkekuatan, maka harus


mengidentifikasi, menilai dan melindungi atau mengendalikan resiko getarannya. Informasi
dari produsen atau pemasok harus menjelaskan bila ada salah getaran pada peralatan. Bila
memungkinkan pilihlah peralatan dengan tingkat getaran yang rendah.

Penilaian

Informasi dari produsen atau penyalur, lamanya peralatan digunakan dan diskusi dengan
pengguna akan mengungkapkan resiko yang paling mungkin ada.

Pencegahan

Dapatkan pekerjaan dilakukan dengan cara lain tanpa menggunakan peralatan tangan
berkekuatan, misalnya menggunakan suatu alat hidrolik untuk memecah kolom beton
dari pada menggunakan peralatan pemecah tangan yang memerlukan waktu lama.
Kesehatan Kerja – 99

Pengendalian

Pelihara peralatan sehingga kondisinya seimbang, tidak ada bagian-bagian yang rusak
atau lepas, dan bilah-bilahnya tajam, dan sebagainya. Rencanakan jeda pekerjaan
untuk mencegah pemaparan getaran terus menerus dalam waktu lama.
Untuk melindungi terhadap getaran, pekerja harus selalu menjaga tangannya tetap
hangat supaya aliran darah sampai ke jari tetap baik, dengan cara:
o Memakai arung tangan
o Makan dan minum yang panas
o Memijat jari-jari
o Tidak merokok (karena dapat mempersempit pembuluh darah)

Pengawasan Kesehatan Kerja


Tujuan Kesehatan Kerja berdasarkan ref. ILO/WHO 1995
Promosi dan pemeliharaan kesehatan fisik, mental dan sosial dari pekerja.
Pencegahan gangguan kesehatan disebabkan oleh kondisi kerja.
Perlindungan pekerja dari resiko faktor-faktor yang mengganggu kesehatan.
Penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam lingkungan kerja yang sesuai
kemampuan fisik dan psikologisnya.
Penyesuaian setiap orang kepada pekerjaannya.

Kesehatan kerja merupakan spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta


prakteknya yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh derajat kesehatan
setinggitingginya, baik fisik, mental, maupun sosial dengan usaha preventif dan kuratif.
Perbedaan kesehatan kerja dengan ilmu ergonomi adalah pada sifatnya, kesehatan kerja
lebih ke arah medis, sedangkan ergonomi ke arah teknik. Sasaran pokok kesehatan kerja
yaitu: Mencegah Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Meningkatkan Produktivitas kerja Faktor-
faktor yang mempengaruhi kesehatan kerja: (1) beban kerja (fisik dan mental); (2)
lingkungan kerja (fisik, kimia, biologi, ergonomi, psikologi); (3) kapasitas kerja (keterampilan,
kesegaran jasmani & rohani, gizi, usia, jenis kelamin, dan ukuran tubuh) Berkaitan
pemeriksaan kesehatan kerja diatur dalam
Pasal 8 UU. No. 1 tahun 1970
Permenakertrans No. Per. 02/Men/1980 (awal, berkala, khusus)
Permenakertrans No. Per.03/Men/1982
Permennaker No. Per. 04/Men/1995 (PJK3)
Pemeriksaan kesehatan kerja berdasarkan Permenakertrans No. Per. 02/Men/1980 pasal 1
dilakukan selama:
100 – Kesehatan Kerja

Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja (awal) meliputi: pemeriksaan fisik lengkap,


kesegaran jasmani, rontgen paru-paru (jika memungkinkan), laboratorium rutin, dan
pemeriksaan lain yang dianggap perlu.
Pemeriksaan meliputi interview tentang:
Riwayat penyakit yg pernah dialami, kondisi yg dirasakan dan kebiasaan-
kebiasaan (merokok, minumankeras,dsb)
Riwayat pekerjaan, berapalama,pernahdiperiksa
Kecelakaan ygpernahdialami
Umur
Pendidikan
Keadaan
keluarga Dll
Interview di atas hanya untuk penyakit-penyakit tertentu saja, seperti: alergi, epilepsi,
kelainan jantung, tekanan darah (rendah/ tinggi), TBC, kencing manis, dll.
Pemeriksaan kesehatan berkala (periodik)
Pemeriksaan kesehatan khusus
Pemeriksaan kesehatan purna bhakti (3 bulan sebelum pensiun)
Seperti pemeriksaan klinis untuk penyakit umum hanya lebih memperhatikan keumungkinan
adanya pengaruh faktor lingkungan kerja
Pemeriksaan mental : keadaan kesadaran, sikap dan tingkah laku, kontak mental,
perhatian, inisiatif, intelegensia danprosesberfikir
Pemeriksaan fisik (fisik diagnosis)
Pemeriksaan laboratorium, untuk membantu menegakan diagnosa (darah, urin, feses)
Pemeriksaan khusus (untuk menilai kondisi kesehatan pekerja dikaitkan dengan jenis
pekerjaan yang akan dikerjakan).

Hasil pemeriksaan kesehatan pekerja pada tingkat awal:


Sehat (tdak didapat kelainan) :boleh bekerja tanpa syarat
Menderita sakit (ada kelainan)
Boleh bekerja pada kondisi kerja tertentu, seperti : ditempat tidak berdebu, tidak ada
kontak dengan bahan kimia, dll
Ditolak untuk bekerja
Ditolak permanen (tetap)
Ditolak sementara (menunggu proses pengobatan)
Pada pasal 3 dijelaskan mengenai pemeriksaan kesehatan berkala:
(1) Mempertahankan derajat kesehatan tenaga kerja
Kesehatan Kerja – 101

Menilai kemungkinan adanya pengaruh dari pekerjaan seawal mungkin


Sekurang-kurangnya satu tahun sekali
Meliputi: pemeriksaan fisik lengkap, kesegaran jasmani, rontgen paru-paru (jika
memungkinkan), laboratorium rutin, dan pemeriksaan lain yang diperlukan
Pengurus wajib mengadakan tindak lanjut hasil pemeriksaan berkala untuk memperbaiki
kelainan jika ditemukan.
102 – Kesehatan Kerja
Investigasi Kecelakaan Kerja – 103

BAB VII
INVESTIGASI KECELAKAAN KERJA

Bab ini berisi penjelasan mengenai investigasi kecelakaan kerja. Setelah mempelajari bab
ini, mahasiswa diharapkan mampu:
Mengetahui konsep dasar investigasi kecelakaan
Mengetahui perencanaan investigasi
Mengetahui metode-metode investigasi

Kecelakaan kerja merupakan Suatu kejadian yang tidak diinginkan yang dapat
berakibat cedera, gangguan kesehatan hingga kematian pada manusia, kerusakan properti,
gangguan terhadap pekerjaan (kelancaran proses produksi) atau pencemaran. Investigasi
kecelakaan kerja harus dilaksanakan oleh personel atau tim investigasi yang kompeten
untuk melaksanakan tugas tersebut. Oleh karena itu, investigator kecelakaan kerja harus
mendapatkan pelatihan tentang prosedur investigasi kecelakaan kerja, teknik investigasi
kecelakaan dan analisa akar penyebab kecelakaan kerja. Sedangkan Team Investigasi
Kecelakaan Kerja (TIK) dapat disusun oleh Investigator, yang dapat terdiri dari ; orang yang
menguasai bidang tertentu (ahli) dan pendamping tim (Satpam, Humas, dan sebagainya).
Investigasi kecelakaan kerja merupakan salah satu upaya untuk mengendalikan dan
mencegah kerugian (termasuk proses produksi) yang timbul akibat kecelakaan kerja.

A. Konsep Dasar Investigasi Kecelakaan

Penyelidikan kecelakaan kerja akan efektif, apabila dapat: (1) Menjelaskan apa yang
sebenarnya terjadi; (2) Menentukan sebab-sebab sebenarnya; (3) Menentukan resiko; (4)
Mengembangkan kemampuan supervisi; (5) Menentukan kecenderungan (trend)
kecelakaan; dan (6) Kepatuhan terhadap peraturan perundangan. TIK bertugas untuk
mencoba menentukan semua penyebab dari kecelakaan kerja tersebut, bukan SIAPA untuk
menghukum SIAPA yang melakukannya.
WHICH
Kecelakaan manakah yang harus diinvestigasi dan dilaporkan?
Semua kecelakaan kerja, tidak peduli kecilnya kemungkinan terlihat, harus dilaporkan oleh
korban atau saksi kepada atasan secepatnya.. Keparahan kecelakaan akan menentukan
investigasi yang diperlukan. Dan semua kecelakaan kerja yang diketahui atau dilaporkan
yang mengakibatkan; kerugian harta benda mulai dari yang kecil hingga besar, dan korban
manusia mulai dari cidera ringan hingga fatality (termasuk akibat keracunan pestisida pada
104 – Investigasi Kecelakaan Kerja

manusia), korban manusia dari penyakit akibat kerja, serta kerugian harta benda atau
cidera/ penyakit pada korban manusia,
WHY
Mengapa kecelakaan perlu diinvestigasi dan dilaporkan?
Untuk mencegah terjadinya kecelakaan serupa pada masa yang akan datang.
Untuk menentukan penyebab kejadian tersebut, dimana kemungkinan biasa terjadi dalam
proses kerja atau biasa terjadi di tempat lain.
Menyediakan informasi kejadian tersebut untuk keperluan
analisis HOW
Bagaimana Proses Investigasi dilakukan?
Adapun urutan proses yang dapat dilakukan:
Tanggapi secepatnya secara positif. (Pengawas)
Kumpulkan semua informasi yang berkaitan. (Pengawas & dibantu Petugas K3)
Analisa semua penyebab penting. (Pengawas & dibantu Petugas K3)
Laporkan penemuan-penemuan dan rekomendasikan yang diperlukan. (Pengawas)
Kembangkan dan tuangkan saran-saran perbaikan dan lakukan tindakan. (Manajer,
Petugas K3)
Teruskan untuk proses lebih lanjut. (Manajer dan Petugas K3)

B. Perencanaan Investigasi

Adapun peralatan yang dibutuhkan saat investigasi, antara lain: 1) Perkakas dan
Peralatan Umum; 2) Peralatan khusus; dan 3) Peralatan medis. Sedangkan peralatan
investigasi di lapangan, yaitu: 1) Peralatan PPPK (P3K); 2) Evidence Logbook; 3) Kaca
Pembesar; 4) High-visibility tape; 5) Camera & film; 6) Scotch tape; 7) Penggaris & meteran
100’; 8) Clipboard, kertas & pensil; 9) Audio & video recorders dengan tape; 10) Milimeter
paper; 11) Kantong plastic; 12) Evidence tags; 13) Kompas; dan 14) APD.
Siapa yang harus mengivestigasi dan melaporkan kecelakaan kerja?. Karyawan
harus melaporkan kejadian kecelakaan kepada supervisornya, dan / atau Petugas Safety
perusahaan (dalam waktu 24 jam setelah kejadian kecelakaan). Supervisor harus
memverifikasi kejadian kecelakaan dan mengkoordinir pelaksanaan Pertolongan Pertama
(bilamana korban masih berada ditempat kejadian), serta melaporkan secara lisan dan
disusul dengan “laporan kejadian kecelakaan” secara tertulis kepada Petugas Safety
Perusahaan dan juga Pimpinan Departemen, Personel Administration (PA) untuk proses
pelaporannya kepada pihak Pemerintah.
Petugas Safety Perusahaan (yang kompeten melakukan investigasi) akan melaporkan
kepada pimpinan Perusahaan dan melakukan investigasi dengan melibatkan beberapa
Investigasi Kecelakaan Kerja – 105

personel ahli dibidang masing-masing. Hasil investigasi dan rekomendasi tindakan


perbaikan oleh Investigator atau team Investigator akan dilaporkan kepada Pimpinan unit
perusahaan setempat, dan akan direview terlebih dulu sebelum disetujui untuk dikeluarkan.
Laporan investigasi kecelakaan kerja akan dilaporkan oleh Pimpinan unit
perusahaan kepada Pemerintah dan pihak ketiga yang dipandang sangat membutuhkan
laporan untuk keperluan perbaikan / pencegahan kecelakan kerja.
Tim investigasi berperan sangat penting dalam membenahi situasi setelah terjadinya
chaos yang berulang terkait dengan kecelakaan. Tim terdiri dari: 1) Team Leader (Manajer);
Investigation Coordinator (Pengawas); 3) Specialist investigator (OHS Professional/ special
experts); dan 4) Staf lain yang terkait dengan kasus kecelakaan kerja.
Fungsi Team Leader:
Yakinkan tersedianya semua dokumen yang diperlukan
Mengkoordinir aktivitas bersama dengan anggota team investigasi
Menentukan jabatan yang terlibat dalam investigasi
Melakukan review awalan dari renacan kerja Investigator
Menentukan atau mendelegasikan tugas dan tanggung jawab
Mengkoordinir aktivitas
Menentukan prioritas
Menyetujui permintaan untuk sumber-sumber daya yang diperlukan
Mengkoordinir dan memberi wewenang adanya barang bukti yang boleh dibuang atau
dimusnahkan
Mengkoordinir masukan untuk pelaporan yang diberikan oleh investigator
Memberikan laporan dalam status tertentu kepada senior management

Meyakinkan pemahaman pekerjaan dan masukan yang terkait dgn kasus tsb.
Melakukan supervisi atau mengkoordinir tugas-tugas Technical Specialist, photografi,
pemetaan, analisa laboratori, dll.
Meyakinkan semua area, transportasi dan sumber-sumber daya yang diperlukan oleh
Investigator tersedia
Mengurus untuk ijin dari keluarga tentang laporan medis atau akan dilakukannya otopsi
Mendapatkan laporan dan informasi dari pihak-pihak terkait
Melakukan interview terhadap saksi-saksi
Mengurus persetujuan bisa masuk ke lokasi kejadian

Menentukan anggota team, paperwork


Meyakinkan tempat kejadian perkara tidak diganggu
106 – Investigasi Kecelakaan Kerja

Merencanakan proses investigasi


Memberi tugas kepada anggota team
Saat investigasi
Memberi masukan kepada investigation team-leader tentang klasifikasi dan aturan kebijakan
Memberi nasehat leader gambaran lokasi kejadian
Memberi nasehat leader untuk tugas-tugas investigator awalan dan dilakukannya briefing
Memberi nasehat kepada investigator tentang metoda, teknis dan sumber-sumber daya atau
bantuan internal
Melakukan perolehan bukti-bukti awal dan faktor-faktor penyebab yang potensial
Memberi nasehat kepada team-leader tentang faktor-faktor K3
Memberi nasehat kepada investigator tentang penggunaan PPE dan peralatan yang
disyaratkan
Memantau rekonstruksi kejadian untuk maksud diperolehnya langkah-langkah
pencegahan berikutnya
Staf lain yang terkait dengan kasus kecelakaan, personil Pemeliharaan dan pengawas lain
Menentukan dan melakukan interview pada saksi-saksi
Melakukan photo tempat kejadian dan bukti-bukti
Melakukan pengukuran posisi dan lokasi bukti-bukti
Membuat sket lapangan
Membuat peta dan diagram yang diperlukan untuk evaluasi atau pelaporan
Mengumpulkan catatan-catatan, dokumen, standar dan kertas kerja lainnya
Memantau tidak dihapuskannya barang bukti dan merubah tempat kejadian
Mengevaluasi dan mencatat faktor-faktor lingkungan hidup
Menhubungi special investigator
Mencatat hasil observasi dan menganalisa bukti-bukti

Peran kepemimpinan lapangan


Kepatuhan tergadap standar dan prosedur
Sumber-sumber daya harus tersedia
Dijalankannya sistem yang efektif untuk informasi komunikasi
Investigator yang memberi rekomendasi hendaklah realistik khusunya tindakan pencegahan
yang disarankan harus bisa didukung dan didorong untuktindak lanjutnya
Leaders dan managers harus melihatkan kesunguhan penyelesaiannya
Investigasi kecelakaan perlu melibatkan anda sebagai Pengawas, karena:
1. Anda pengawas orang-orang anda dan proses kerjanya.
Investigasi Kecelakaan Kerja – 107

Secara tidak langsung pengawas juga terlibat dalam kejadian tersebut atau terlibat pada
proses pengambilan tindakan perbaikan.
Pengawas dapat mengambil keuntungan dari investigasi ini.
Pengawas tahu dimana mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Dapatkan gambaran global


Wawancara para saksi
Peragaan ulang
Sketsa dan Peta
Pemeriksaan peralatan
Pemeriksaan catatan pribadi
Photo dan gambar
Analisa material dan peralatan yang rusak

METODA-METODA INVESTIGASI
Secara umum terdapat 5 metode investigasi berdasarkan teorinya, yaitu:
Teori Sebab & Akibat dari ILCI/DNV
Teori SCAT (Systematic Cause Analysis Technique) dari ILCI/DNV
Teori Diagram Tulang Ikan (Fishbone Diagram)
Teori Pohon Penyelidikan
Teori Taproot Analysis

Teori Sebab Akibat


Langkah-langkah dalam menganalisa penyebab kecelakaan:
Tuliskan setiap kerugian
Tentukan hal-hal yang berhubungan dengan kontak energi
Tuliskan Tindakan dan Kondisi Tidak Aman
Sebab dasarnya berupa tindakan dan kondisi tidak aman
Analisa tahap akhir oleh Manajer
108 – Investigasi Kecelakaan Kerja
Investigasi Kecelakaan Kerja – 109
110 – Investigasi Kecelakaan Kerja

Membuat Laporan Kecelakaan


Pengawas & Petugas K3 segera menyelesaikan laporan:

1. Gunakan Formulir Standar


Menjawab apa yang terjadi, dimana dan bagaimana kecelakaan terjadi
Mengumpulkan data yang konsisten
Memuat langkah tindak lanjut dan rencana tindakan perbaikan
Dapat digunakan untuk berbagai jenis kecelakaan

2. Tulis Laporan yang Baik


Dapat memberi informasi secara rinci
Dapat mengevaluasi potensi bahaya
Dapat menguraikan kejadian
Dapat menganalisa penyebab
Dapat menyampaikan rencana-rencana tindakan
Tinjauan Ulang Oleh Manajemen
Melihat apakah rekomendasi ditunjang oleh fakta yang ditemukan
Melihat kelengkapan dan ketetapan
Investigasi Kecelakaan Kerja – 111

Melihat apakah informasi diperoleh dari berbagai pihak secara seimbang


Mengenal apakah ada program, standar, dan pelaksanaan yang tidak sesuai
Menambah pengalaman para manajer dalam meyelesaikan masalah kecelakaan
Meningkatkan mutu penyelidikan bagi Pengawas yang bersangkutan

Teori SCAT (Systematic Cause Analysis Technique)


Metode SCAT yang diperkenalkan pertama kali Internaltional Loss Control Institute (ILCI)
yang mengambil model dari F.Bird & German (1982), seperti gambar dibawah ini.

Dari meodel diatas, akibat dari kecelakaan adalah kerugian dari manusia, properti
perusahaan, berkurangnya produktifitas dan kerugian lingkungan. Penyebab langsung
terdiri dari yaitu substandart condition dan substandart action yang bisanya pada teori
safety yang lain disebut unsafe action and unsafe condition.
Dalam teori invstigasi yang dikemukakan oleh ILCI, setiap faktor penyebab kecelakaan
dibuat ceklis sebagai panduan untuk memudahkan rootcause-nya, seperti dibawah ini :
Kondisi Berbahaya
– Pelindung/pembatas tidak layak
– APD kurang/tidak layak
– Peralatan rusak
– Ruang kerja sempit/terbatas
– Bahaya kebakaran / ledakan
– Kebersihan dan kerapihan kurang
– Paparan gas/cairan kimia berbahaya di lingkungan kerja
– Kebisingan
112 – Investigasi Kecelakaan Kerja

– Paparan radiasi
– Paparan suhu panas / dingin
– Kurang pencahayaan
– Kurang ventilasi

Perilaku berbahaya
– Operasi tanpa otorisasi
– Gagal memperingatkan
– Gagal mengamankan
– Mengoperasikan peralatan pada kecepatan yang tidak layak
– Membuat alat pengaman tidak berfungsi
– Menggunakan alat yang rusak
– Memakai APD yang tidak layak / tidak memakai APD
– Pemuatan yang tidak layak
– Penempatan yang tidak layak
– Pengangkatan yang tidak layak
– Posisi kerja tidak aman
– Memperbaiki peralatan ketika beroperasi
– Bercanda
– Mabuk
– Tidak mengikuti prosedur

Faktor Pribadi / personal


– Kemampuan fisik dan psikologis tidak alayak
– Kurang kemampuan
– Kurang keahlian
– Stress fisik dan spikologi
– Kurang motivasi

Faktor Pekerjaan :
– Kurang pengawasan / kepemimpinan
– Kurang rekayasa / engineering
– Kurang perencanaan pengadaan
– Kurang perawatan
– Kurang standar kerja
– Salah pakai / salah menggunakan
Investigasi Kecelakaan Kerja – 113

Faktor Manajemen / Lemahnya kontrol:


– Program tidak sesuai
– Standar tidak sesuai
– Kurang kepatuhan terhadap standar
Faktor lemahnya kontrol ini dari hasil penelitan serta pengalaman beberapa perusahaan
menunjukkan kurangnya elemen program K3 seperti
– Kepemimpinan dan administrasi
– Rencana Pelatihan
– Rencana inspeksi
– Analisis pekerjaan dan prosedur
– Observasi pekerjaan
– Rencana Tanggap darurat
– Peraturan Perusahaan
– Analisis investigasi kecelakaan
– Kompetensi pekerja
– Alat Pelindung Diri
– Monitoring Kesehatan
– Program evaluasi
– Rekayasa kontrol
– dll

Teori Diagram Tulang Ikan (Fishbone Diagram)


Fishbone diagram atau diagram tulang ikan merupakan diagram yang menggambarkan
hubungan antara karakteristik kualitas/Akibat dengan faktor- faktornya/penyebabnya
sehingga didapatkan suatu hubungan sebab akibat untuk mencari akar dari suatu pokok
permasalahan ditinjau dari berbagai faktor yang ada.
114 – Investigasi Kecelakaan Kerja

Diagram Tulang Ikan ini dikembangkan pertama kali oleh Prof. Kaoru Ishikawa dari
Universitas Tokyo pada tahun 1950. Gambar di atas menunjukan struktur Fishbone.
Karakteristik mutu digambarkan pada kepala ikan sedangkan faktor yang
mempengaruhinya dituliskan di bagian ekor panah-panah yang mewakili tulang ikan yang
ada di bagian kiri diagram. Untuk aktivitas pemecahan masalah (problem solving) yang ada
di kepala ikan adalah masalah yang akan dianalisa penyebabnya, sedangkan penyebab-
penyebab yang berpengaruh terhadap timbulnya masalah dituliskan di bagian ekor panah.
(Eriksson, 2008. P. 395).
Faktor-faktor yang umum digunakan dalam Fishbone yang digunakan untuk
menentukan penyebab hasil produk cacat adalah:
 Man : Manusia
 Material : Material
 Methode : Cara
 Machine : Mesin

Environmet : Lingkungan

Fishbone dibuat dengan cara sumbang saran (mengumpulkan pendapat sebanyak-


banyaknya dari anggota yang hadir), tidak dibuat sendiri. Prinsip sumbang saran :
Jangan mengkritik pendapat orang lain
Jangan menghambat orang lain mengeluarkan pendapat
Makin banyak pendapat makin baik.
Karakteristik mutu (akibat) yang ada di kepala ikan sebaiknya sudah spesifik karena bila
karakteristik mutu (akibat) masih bersifat umum (masih luas), maka faktor-faktor
penyebab yang ada pada diagram juga akan bersifat umum, sehingga Diagram sebab-
akibat menjadi terlalu rumit. Banyak faktor-faktor yang tidak relevan masuk dalam
diagram. Walaupun secara teknis tidak salah, tetapi kurang efektif untuk digunakan
dalam pemecahan masalah.

Langkah-langkah pembuatan diagram Fishbone

Berikut adalah beberapa langkah dalam pembuatan Diagram Fishbone:


Menentukan karakteristik mutu (masalah yang akan diperbaiki)
Menulis karakteristik mutu sebelah kanan. Menggambarkan panah ke-1 (tulang belakang)
dari sisi kiri ke kanan.
Menggambarkan panah ke-2 (tulang besar) dengan arah panah menuju panah ke-1.
Menuliskan di bagian ekor panah tersebut faktor-faktor yang dapat menyebabkan
Investigasi Kecelakaan Kerja – 115

timbulnya masalah tersebut (misalnya Man, Material, Methode, Machine dan


Environment disingkat 4M+1E). Memberi kotak atau elips atau bentuk lainnya pada
faktor-faktor tersebut.
Menggambarkan panah ke-3 (tulang sedang), tanyakan ”WHY” (mengapa) terjadi masalah
pada faktor ”Orang ”.
Mengulangi langkah ke-4 untuk tulang yang lebih kecil untuk mendapatkan penyebab yang
lebih spesifik. Tanyakan ”WHY” berulang-ulang sampai mendapatkan penyebab yang
tidak bisa diurai lagi.
Mengulangi langkah ketiga sampai langkah kelima untuk faktor penyebab yang lain.
Menguji logika hubungan antara penyebab yang paling spesifik dengan akibat yang ada
di kepala ikan. Kalau pada langkah ke-4 faktor penyebab sudah sangat spesifik dan
tidak bias diurai lagi, langkah berikutnya mulai dari langkah ke-1 lagi untuk faktor
penyebab global yang lain, misalnya faktor “CARA”. Jangan karena sekedar ingin
jumlah tulangnya banyak: 1) Menuliskan faktor yang tidak ada hubungannya dengan
faktor penyebab induknya (faktor penyebab pada tulang sebelumnya). 2) Menuliskan
keterangan-keterangan sekedar untuk menambah jumlah tulang.
116 – Investigasi Kecelakaan Kerja
Manajemen Risiko – 117

BAB VIII
MANAJEMEN RISIKO

Bab ini berisi penjelasan mengenai manajemen risiko. Setelah mempelajari bab ini,
mahasiswa diharapkan mampu:
Mengetahui pra syarat manajemen risiko
Mengetahui gambaran manajemen risiko
Mengetahui proses manajemen risiko
Mengetahui pengendalian risiko
Konsep manajemen risiko mulai diperkenalkan di bidang keselamatan dan
kesehatan kerja pada era tahun 1980-an setelah berkembangnya teori accident
model dari ILCI dan juga semakin maraknya isu lingkungan dan kesehatan.
Tujuan dari manajemen risiko adalah minimisasi kerugian dan meningkatkan
kesempatan ataupun peluang. Bila dilihat terjadinya kerugian dengan teori accident
model dari ILCI, maka manajemen risiko dapat memotong mata rantai kejadian
kerugian tersebut, sehingga efek dominonya tidak akan terjadi. Pada dasarnya
manajemen risiko bersifat pencegahan terhadap terjadinya kerugian maupun
‘accident’.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup proses manajemen risiko terdiri dari:
Penentuan konteks kegiatan yang akan dikelola risikonya
Identifikasi risiko,
Analisis risiko,
Evaluasi risiko,
Pengendalian risiko,
Pemantauan dan telaah ulang,
Koordinasi dan komunikasi.

Aplikasi
Pelaksanaan manajemen risiko haruslah menjadi bagian integral dari
pelaksanaan sistem manajemen perusahaan/ organisasi. Proses manajemen risiko
Ini merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk terciptanya perbaikan
berkelanjutan (continuous improvement). Proses manajemen risiko juga sering
dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi.
118 – Manajemen Risiko

Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis
dari suatu rangkaian kegiatan: penetapan konteks, identifikasi, analisa, evaluasi,
pengendalian serta komunikasi risiko.
Proses ini dapat diterapkan di semua tingkatan kegiatan, jabatan, proyek,
produk ataupun asset. Manajemen risiko dapat memberikan manfaat optimal jika
diterapkan sejak awal kegiatan. Walaupun demikian manajemen risiko seringkali
dilakukan pada tahap pelaksanaan ataupun operasional kegiatan.

Beberapa contoh penerapannya dapat dilihat pada lampiran A.

Definisi
Konsekuensi
Akibat dari suatu kejadian yang dinyatakan secara kualitatif atau kuantitatif,
berupa kerugian, sakit, cedera, keadaan merugikan atau menguntungkan.
Bisa juga berupa rentangan akibat-akibat yang mungkin terjadi dan
berhubungan dengan suatu kejadian.
Biaya
Dari suatu kegiatan, baik langsung dan tidak langsung, meliputi berbagai
dampak negatif, termasuk uang, waktu, tenaga kerja, gangguan, nama baik,
politik dan kerugian-kerugian lain yang tidak dinyatakan secara jelas.
Kejadian
Suatu peristiwa (insiden) atau situasi, yang terjadi pada tempat tertentu
selama interval waktu tertentu.
Analisis Urutan Kejadian
Suatu teknik yang menggambarkan rentangan kemungkinan dan rangkaian
akibat yang bisa timbul dari proses suatu kejadian.
Analisis Urutan Kesalahan
Suatu metode sistem teknik untuk menunjukkan kombinasi-kombinasi yang
logis dari berbagai keadaan sistem dan penyebab-penyebab yang mungkin
bisa berkontribusi terhadap kejadian tertentu (disebut kejadian puncak).
Frekuensi
Ukuran angka dari peristiwa suatu kejadian yang dinyatakan sebagai jumlah
peristiwa suatu kejadian dalam waktu tertentu. Terlihat juga seperti
kemungkinan dan peluang.
Bahaya (hazard)
Faktor intrinsik yang melekat pada sesuatu dan mempunyai potensi untuk
menimbulkan kerugian.
Manajemen Risiko – 119

Monitoring/ Pemantauan
Pengecekan, Pengawasan, Pengamatan secara kritis, atau Pencatatan
kemajuan dari suatu kegiatan, tindakan, atau sistem untuk mengidentifikasi
perubahan-perubahan yang mungkin terjadi.
Probabilitas
Digunakan sebagai gambaran kualitatif dari peluang atau frekuensi.
Kemungkinan dari kejadian atau hasil yang spesifik, diukur dengan rasio dari
kejadian atau hasil yang spesifik terhadap jumlah kemungkinan kejadian atau
hasil. Probabilitas dilambangkan dengan angka dari 0 dan 1, dengan 0
menandakan kejadian atau hasil yang tidak mungkin dan 1 menandakan
kejadian atau hasil yang pasti.
Risiko Ikutan
Tingkat risiko yang masih ada setelah manajemen risiko dilakukan.
Risiko
Peluang terjadinya sesuatu yang akan mempunyai dampak terhadap
sasaran. Ini diukur dengan hukum sebab akibat. Variabel yang diukur
biasanya probabilitas, konsekuensi dan juga pemajanan.
Penerimaan Risiko (acceptable risk)
Keputusan untuk menerima konsekuensi dan kemungkinan risiko tertentu.
Analisis risiko
Sebuah sistematika yang menggunakan informasi yang didapat untuk
menentukan seberapa sering kejadian tertentu dapat terjadi dan besarnya
konsekuensi tersebut.
Penilaian risiko
Proses analisis risiko dan evalusi risiko secara keseluruhan. Lihat diagram
3.1
Penghindaran risiko
Keputusan yang diberitahukan tidak menjadi terlibat dalam situasi risiko.
Pengendalian risiko
Bagian dari manajemen risiko yang melibatkan penerapan kebijakan, standar,
prosedur perubahan fisik untuk menghilangkan atau mengurangi risiko yang
kurang baik.
Evaluasi risiko
Proses yang biasa digunakan untuk menentukan manajemen risiko dengan
membandingkan tingkat risiko terhadap standar yang telah ditentukan, target
tingkat risiko dan kriteria lainnya
.
120 – Manajemen Risiko

Identifikasi Risiko
Proses menentukan apa yang dapat terjadi, mengapa dan bagaimana.
Pengurangan Risiko
Penggunaan/ penerapan prinsip-prinsip manajemen dan teknik-teknik yang
tepat secara selektif, dalam rangka mengurangi kemungkinan terjadinya
suatu kejadian atau konsekuensinya, atau keduanya.
Pemindahan Risiko (risk transfer)
Mendelegasikan atau memindahkan suatu beban kerugian ke suatu
kelompok/ bagian lain melalui jalur hukum, perjanjian/ kontrak, asuransi, dan
lain-lain. Pemindahan risiko mengacu pada pemindahan risiko fisik dan
bagiannya ke tempat lain.

(PRA)SYARAT MANEJEMEN RISIKO


Tujuan
Tujuan dari bagian ini adalah untuk menggambarkan proses formal (harus
dilakukan) untuk menjalankan sebuah program manajemen risiko yang sistematik.
Perkembangan dari kebijakan manajemen risiko sebuah organisasi dan
mekanisme pendukungnya diperlukan untuk memberikan pola kerja dalam
menjalankan program manajemen risiko yang rinci dalam sebuah proyek atau tingkat
sub-organisasi.

Kebijakan Manajemen Risiko


Eksekutif organisasi harus dapat mendefinisikan dan membuktikan
kebenaran dari kebijakan manajemen risikonya, termasuk tujuannya untuk apa, dan
komitmennya. Kebijakan manjemen risiko harus relevan dengan konteks strategi dan
tujuan organisasi, objektif dan sesuai dengan sifat dasar bisnis (organisasi) tersebut.
Manejemen akan memastikan bahwa kebijakan tersebut dapat dimengerti, dapat
diimplementasikan di setiap tingkatan organisasi.

Perencanaan Dan Pengelolaan Hasil


Komitmen Manajemen.
Organisasi harus dapat memastikan bahwa:
Sistem manejemen risiko telah dapat dilaksanakan, dan telah sesuai dengan
standar
Hasil/ performa dari sistem manajemen risiko dilaporkan ke manajemen
organisasi, agar dapat digunakan dalam meninjau (review) dan sebagai
dasar (acuan) dalam pengambilan keputusan.
Manajemen Risiko – 121

Tanggung jawab dan kewenangan


Tanggung jawab, kekuasaan dan hubungan antar anggota yang dapat
menunjukkan dan membedakan fungsi kerja didalam manajemen risiko harus
terdokumentasikan khususnya untuk hal-hal sebagai berikut:
Tindakan pencegahan atau pengurangan efek dari risiko.
Pengendalian yang akan dilakukan agar faktor risiko tetap pada batas yang
masih dapat diterima.
Pencatatan faktor-faktor yang berhubungan dengan kegiatan manajemen
risiko.
Rekomendasi solusi sesuai cara yang telah ditentukan.
Memeriksa validitas implementasi solusi yang ada.
Komunikasi dan konsultasi secara internal dan eksternal.
Sumber
Organisasi harus dapat mengidentifikasikan persyaratan kompetensi sumber
daya manusia (SDM) yang diperlukan. Oleh karena itu untuk meningkatkan
kualifikasi SDM perlu untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang relevan dengan
pekerjaannya seperti pelatihan manajerial, dan lain sebagainya.

Implementasi Program
Sejumlah langkah perlu dilakukan agar implementasi sistem manajemen
risiko dapat berjalan secara efektif pada sebuah organisasi. Contoh implementasi
dapat dilihat pada lampiran B. Langkah-langkah yang akan dilakukan tergantung
pada filosofi, budaya dan struktur dari organisasi tersebut.

Tinjauan Manajemen
Tinjauan sistem manajemen risiko pada tahap yang spesifik, harus dapat
memastikan kesesuaian kegiatan manajemen risiko yang sedang dilakukan dengan
standar yang digunakan dan dengan tahap-tahap berikutnya. (lihat klausa 2.2).

GAMBARAN MANEJEMEN RISIKO


Umum
Manajemen risiko adalah bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen
proses. Manajemen risiko adalah bagian dari proses kegiatan didalam organisasi dan
pelaksananya terdiri dari mutlidisiplin keilmuan dan latar belakang, manajemen risiko
adalah proses yang berjalan terus menerus.
122 – Manajemen Risiko

Elemen Utama
Elemen utama dari proses manajemen risiko, seperti yang terlihat pada
gambar 3.1 meliputi:
Penetapan tujuan
Menetapkan strategi, kebijakan organisasi dan ruang lingkup manajemen
risiko yang akan dilakukan.
Identifkasi risiko
Mengidentifikasi apa, mengapa dan bagaimana faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya risiko untuk analisis lebih lanjut.
Analisis risiko
Dilakukan dengan menentukan tingkatan probabilitas dan konsekuensi
yang akan terjadi. Kemudian ditentukan tingkatan risiko yang ada dengan
mengalikan kedua variabel tersebut (probabilitas X konsekuensi).
Evaluasi risiko
Membandingkan tingkat risiko yang ada dengan kriteria standar. Setelah
itu tingkatan risiko yang ada untuk beberapa hazards dibuat tingkatan
prioritas manajemennya. Jika tingkat risiko ditetapkan rendah, maka risiko
tersebut masuk ke dalam kategori yang dapat diterima dan mungkin
hanya memerlukan pemantauan saja tanpa harus melakukan
pengendalian.
Pengendalian risiko
Melakukan penurunan derajat probabilitas dan konsekuensi yang ada
dengan menggunakan berbagai alternatif metode, bisa dengan transfer
risiko, dan lain-lain.
Monitor dan Review
Monitor dan review terhadap hasil sistem manajemen risiko yang
dilakukan serta mengidentifikasi perubahan-perubahan yang perlu
dilakukan.
Komunikasi dan konsultasi
Komunikasi dan konsultasi dengan pengambil keputusan internal dan
eksternal untuk tindak lanjut dari hasil manajemen risiko yang dilakukan.

Manajemen risiko dapat diterapkan di setiap level di organisasi.


Manajemen risiko dapat diterapkan di level strategis dan level operasional.
Manajemen risiko juga dapat diterapkan pada proyek yang spesifik, untuk membantu
Manajemen Risiko – 123

proses pengambilan keputusan ataupun untuk pengelolaan daerah dengan risiko


yang spesifik.

Ruang lingkup

Identifikasi Resiko

Analisa Resiko

Evaluasi Resiko

Pengendalian Resiko

PROSES MANAJEMEN RISIKO


Menetapkan Konteks
Umum
Pada dasarnya urutan kegiatan dalam proses manajemen risiko ini
menggambarkan beberapa konsep dasar sebagai berikut:
a. Urutan tahapan manajemen risiko menggambarkan siklus ‘problem
solving’.
Manajemen risiko bersifat preventif.
Manajemen risiko sejalan dengan konsep ‘continuous improvement’.
Manajemen risiko fokus pada ruang lingkup masalah yang akan dikelola.
124 – Manajemen Risiko

Proses Manajemen Risiko secara rinci terlihat pada gambar 4.1.

Konteks Strategis
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah: mendefinisikan
hubungan antara organisasi dan lingkungan sekitarnya, mengidentifikasi kelebihan,
kekurangan, kesempatan dan rintangan. Konteksnya meliputi bidang keuangan,
bidang operasional, pesaing, bidang politik (persepsi umum), sosial, klien, budaya
dan bidang legal dari fungsi organisasi.
Mengidentifikasi faktor pendukung internal dan eksternal dan
mempertimbangkan tujuan, menjadikannya dalam bentuk persepsi dan menerbitkan
peraturan. Intinya tahapan ini melakukan eksplorasi terhadap semua faktor yang
dapat mendukung dan menghambat jalannya kegiatan manajemen risiko
selanjutnya.

Catatan: Lampiran C menjabarkan daftar faktor-faktor pendukung dan potensi-


potensi yang ada.

Tahap ini berfokus pada lingkungan dimana organisasi itu berada. Sebuah
organisasi seharusnya mencoba menetapkan elemen-elemen penting yang mungkin
mendukung atau menghambat kemampuan untuk mengelola risiko yang dihadapi,
analisa strategis harus dibuat. Hal ini seharusnya didukung pada level eksekutif,
membuat parameter dasar dan memberikan bimbingan lebih rinci bagi proses
manajemen risiko. Dimana seharusnya ada hubungan yang erat antara misi
organisasi atau tujuan organisasi atau tujuan strategis dengan pengelolaan dari
seluruh risiko yang akan dilakukan.

Konteks Organisasi
Sebelum studi manajemen risiko dilakukan, merupakan hal penting untuk
memahami kondisi organisasi dan kemampuannya, seperti halnya pemahaman
terhadap tujuan, sasaran dan strategi yang dibuat untuk manajemen risiko.
Merupakan hal penting memahami alasan-alasan berikut:
Manajemen risiko menempati konteks sebagai tujuan tahap dekat untuk
mencapai tujuan organisasi dan strategi organisasi, karena hasil
manajemen risiko barulah tahap awal untuk terciptanya ‘continuous
improvement’.
Kegagalan pencapaian sebuah objektif dari organisasi bisa dilihat sebagai
salah satu risiko yang harus dikelola.
Manajemen Risiko – 125

c. Jelasnya kebijakan dan pengertian tujuan organisasi akan sangat


membantu dalam menentukan kriteria penilaian terhadap risiko yang ada,
apakah dapat diterima/ tidak, demikian juga dengan penentuan pilihan-
pilihan pengendaliannya.

Konteks Manajemen Risiko


Tujuan, strategi, ruang lingkup dan parameter dari aktifitas, atau bagian dari
organisasi dimana proses manajemen risiko harus dilaksanakan, dan ditetapkan.
Proses itu sebenarnya dilakukan dengan pemikiran dan pertimbangan yang matang
untuk memenuhi keseimbangan biaya, keuntungan dan kesempatan. Prasyarat
sumber risiko dan pencatatannya dibuat secara spesifik.

Isi dan ruang lingkup dari aplikasi proses manajemen risiko, meliputi :
a. Identifikasi tujuan dari proyek yang akan dilakukan (sejalan dengan
manajemen perusahaan).
Penentuan waktu dan tempat pelaksanaan proyek.
Identifikasi studi yang diperlukan lengkap dengan ruang lingkupnya,
prasyarat, dan objektifitasnya.
Menentukan cakupan dan ruang lingkup dari aktifitas manajemen risiko.
Kegiatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
Penentuan wilayah tanggung jawab setiap unit (siapa yang berwenang).
Hubungan antara proyek yang satu dengan yang lainnya dalam
organisasi tersebut (koordinasinya).

Pengembangan Kriteria Dalam Melakukan Evaluasi Risiko


Tentukan kriteria yang diduga akan menghambat evaluasi risiko yang akan
dilakukan. Hal tersebut ditentukan oleh kesesuaian dan perlakuan risiko yang
didasari kegiatan operasional, teknis, dana, hukum, sosial, kemanusiaan atau kriteria
lainnya. Biasanya hal tersebut tergantung dari kebijakan internal, tujuan, objektifitas,
dan kebijakan organisasi perusahaan.
Kriteria dipengaruhi oleh persepsi internal dan eksternal, serta ketentuan
hukum. Sangat penting untuk menyesuaikan kriteria tersebut dengan lingkungan
yang ada. Kriteria risiko harus dibuat sesuai dengan jenis risiko yang ada dan level
risikonya.
126 – Manajemen Risiko

Penentuan konteks
Konteks strategi
Konteks organisasi

Konteks manajemen resiko

Pengembangan kriteria
Struktur kebijakan

Identifikasi risiko

Apa yang bisa terjadi
Bagaimana itu bisa terjadi

Analisa resiko
Penentuan Alternatif-Alternatif Kontrol
konsultasi

Menentukan Menentukan

Pemantauandan review
Kemungkinan Konsekuensi
dan

Perkiraan tingkat resiko


Komunikas
i

Evaluasi Resiko

Membandingkan kembali dengan kriteria standar

Penetapan prioritas resiko

Ya
Resiko diterima

Penilaian risiko Tidak

Penanggulangan resiko
Identifikasi penanggulangan resiko
Evaluasi pilihan penanggulangan
Memilih penanggulangan
Menyiapkan rencana penanggulangan
Implementasi penanggulangan

Mendefinisikan struktur
Termasuk didalamnya yaitu memisahkan aktivitas atau proyek kedalam
elemen-elemen. Elemen-elemen ini menyediakan suatu kerangka logis untuk
Manajemen Risiko – 127

mengidentifikasi dan menganalisis agar dapat disusun urutan risiko yang signifikan.
Struktur yang dipilih tergantung dari risiko dan ruang lingkup aktivitas/ proyek.

Identifikasi Risiko
Umum
Pada tahap ini dilakukan identifikasi terhadap risiko yang akan dikelola.
Identifikasi harus dilakukan terhadap semua risiko, baik yang berada didalam
ataupun diluar organisasi.

Apa Yang Dapat Terjadi


Tujuannya adalah untuk menyusun daftar risiko secara komprehensif dari
kejadian-kejadian yang dapat berdampak pada setiap elemen kegiatan. Perlu juga
dilakukan pencatatan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi risiko yang ada
secara rinci sehingga menggambarkan proses yang terjadi. Pada dasarnya tahap ini
memberikan eksplorasi gambaran permasalahan yang sedang dihadapi. Tahap ini
nantinya akan memberikan besaran konsekuensi yang dapat terjadi. Konsekuensi
merupakan salah satu variabel penting untuk penentuan level risiko nantinya.

Bagaimana Dan Mengapa Itu Terjadi


Pada tahap ini dilakukan penyusunan skenario proses kejadian yang akan
menimbulkan risiko berdasarkan informasi gambaran hasil eksplorasi masalah
diatas. Skenario menjadi penting untuk memberikan rangkaian ‘cerita’ tentang proses
terjadinya sebuah risiko, termasuk faktor-faktor yang adapat diduga menjadi
penyebab ataupun mempengaruhi timbulnya risiko. Tahap ini akan memberikan
rentang probabilitas yang ada. Sebagaimana konsekuensi, maka probabilitas juga
merupakan variabel penting yang akan menentukan level risiko yang ada.

Peralatan Dan Teknik


Pendekatan yang digunakan untuk identifikasi risiko diantaranya, checklist,
penilaian berdasarkan pengalaman dan pencatatan, flowcharts, brainstorming,
analisis sistem, analisis skenario, dan teknik sistem engineering.

Analisis Risiko
Umum
Tujuan dari analisis risiko adalah untuk membedakan risiko minor yang dapat
diterima dari risiko mayor, dan untuk menyediakan data untuk membantu evaluasi
dan penanganan risiko. Analisis risiko termasuk pertimbangan dari sumber risiko,
128 – Manajemen Risiko

dan konsekuensinya. Faktor yang mempengaruhi konsekuensi dapat teridentifikasi.


Risiko dianalisis dengan mempertimbangkan estimasi konsekuensi dan perhitungan
terhadap program pengendalian yang selama ini sudah dijalankan.
Analis pendahuluan dapat dibuat untuk mendapatkan gambaran seluruh
risiko yang ada. Kemudian disusun urutan risiko yang ada. Risiko-risiko yang kecil
untuk sementara diabaikan dulu. Prioritas diberikan kepada risiko-risiko yang cukup
signifikan dapat menimbulkan kerugian.

Menetapkan/ Determinasi Pengendalian Yang Sudah Ada


Identifikasi manajemen, sistem teknis dan prosedur-prosedur yang sudah ada
untuk pengendalian risiko, kemudian dinilai kelebihan dan kekurangannya. Alat-alat
yang digunakan dinilai kesesuainnya. Pendekatan-pendekatan yang dapat dilakukan
misalnya, seperti inspeksi dan teknik pengendalian dengan penilaian sendiri/
professional judgement (Control Self-Assessment Techniques/ CST).
Konsekuensi/ Dampak Dan Kemungkinan
Konsekuensi dan probabilitas adalah kombinasi/ gabungan untuk
memperlihatkan level risiko. Berbagai metode bisa digunakan untuk menghitung
konsekuensi dan probabilitas, diantaranya dengan menggunakan metode statistik.
Metode lain yang juga bisa digunakan jika data terdahulu tidak tersedia,
dengan melakukan ekstrapolasi data-data sekunder secara umum dari lembaga-
lembaga internasional maupun industri sejenis. Kemudian dibuat estimasi/ perkiraan
secara subyektif. Metode ini disebut metode penentuan dengan professional
judgement. Hasilnya dapat memberikan gambaran secara umum mengenai level
risiko yang ada.
Sumber informasi yang dapat digunakan untuk menghitung konsekuensi
diantaranya adalah:
Catatan-catatan terdahulu.
Pengalaman kejadian yang relevan.
Kebiasaan-kebiasaan yang ada di industri dan pengalaman-pengalaman
pengendaliannya.
Literatur-literatur yang beredar dan relevan.
Marketing test dan penelitian pasar.
Percobaan-percobaan dan prototipe.
Model ekonomi, teknik, maupun model yang lain.
Spesialis dan pendapat-pendapat para pakar.
Manajemen Risiko – 129

Sedangkan teknik-tekniknya adalah:


Wawancara yang terstruktur dengan para pakar yang terkait.
Menggunakan berbagai disiplin keilmuan dari para pakar.
Evaluasi perorangan dengan menggunakan kuesioner.
Menggunakan sarana komputer dan lainnya.
Menggunakan pohon kesalahan (fault tree) dan pohon kejadian (event tree).

Tipe Analisis
Analisis risiko akan tergantung informasi risiko dan data yang tersedia.
Metode analisis yang digunakan bisa bersifat kualitatif, semi kuantitatif, atau
kuantitatif bahkan kombinasi dari ketiganya tergantung dari situasi dan kondisinya.
Urutan kompleksitas serta besarnya biaya analisis (dari kecil hingga besar)
adalah: kualitatif, semi kuantitatif, dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk
memberikan gambaran umum tentang level risiko. Setelah itu dapat dilakukan
analisis semi kuantitatif ataupun kuantitatif untuk lebih merinci level risiko yang ada.

Penjelasan tentang karakteristik jenis-jenis analisis tersebut dapat dilihat


dibawah ini:
Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif menggunakan bentuk kata atau skala deskriptif untuk
menjelaskan seberapa besar potensi risiko yang akan diukur. Hasilnya misalnya
risiko dapat termasuk dalam:
Risiko rendah
Risiko sedang
Risiko tinggi

Catatan: Tabel E1 dan E2 dalam lampiran E menggambarkan contoh bentuk kualitatif


yang mudah atau skala deskriptif dari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Tabel
E3 adalah sebuah contoh dari sebuah matriks yang dibuat berdasarkan prioritas
kelas dengan menggambungkan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Tabel tersebut
perlu ditata kembali sesuai kebutuhan dari organisasi yang individu atau subjek
tertentu dari penilaian suatu risiko.

Analisis kualitatif digunakan untuk kegiatan skrining awal pada risiko yang
membutuhkan analisis lebih rinci dan lebih mendalam.
130 – Manajemen Risiko

Analisis Semi-Kuantitatif
Pada analisis semi kuantitatif, skala kualitatif yang telah disebutkan diatas
diberi nilai. Setiap nilai yang diberikan haruslah menggambarkan derajat konsekuensi
maupun probabilitas dari risiko yang ada. Misalnya suatu risiko mempunyai tingkat
probabilitas sangat mungkin terjadi, kemudian diberi nilai 100. setelah itu dilihat
tingkat konsekuensi yang dapat terjadi sangat parah, lalu diberi nilai
Maka tingkat risiko adalah 100 x 50 = 5000. Nilai tingkat risiko ini kemudian
dikonfirmasikan dengan tabel standar yang ada (misalnya dari ANZS/ Australian New
Zealand Standard, No. 96, 1999).
Kehati-hatian harus dilakukan dalam menggunakan analisis semi-kuantitatif,
karena nilai yang kita buat belum tentu mencerminkan kondisi obyektif yang ada dari
sebuah risiko. Ketepatan perhitungan akan sangat bergantung kepada tingkat
pengetahuan tim ahli dalam analisis tersebut terhadap proses terjadinya sebuah
risiko. Oleh karena itu kegiatan analisis ini sebaiknya dilakukan oleh sebuah tim yang
terdiri dari berbagai disiplin ilmu dan background, tentu saja juga melibatkan manajer
ataupun supervisor di bidang operasi.

Analisis Kuantitatif
Analisis dengan metode ini menggunakan nilai numerik. Kualitas dari analisis
tergantung pada akurasi dan kelengkapan data yang ada. Konsekuensi dapat
dihitung dengan menggunakan metode modeling hasil dari kejadian atau kumpulan
kejadian atau dengan mempekirakan kemungkinan dari studi eksperimen atau data
sekunder/ data terdahulu.
Probabilitas biasanya dihitung sebagai salah satu atau keduanya (exposure
dan probability). Kedua variabel ini (probabilitas dan konsekuensi) kemudian
digabung untuk menetapkan tingkat risiko yang ada. Tingkat risiko ini akan berbeda-
beda menurut jenis risiko yang ada.
Sensitifitas Analisis
Tingkatan sensitifitas analisis (dimulai dari yang paling sensitif sampai
dengan yang kurang sensitif) adalah:
Analisis Kuantitatif
Analisis Semi-kuantitatif
Analisis Kualitatif

Evaluasi Risiko
Manajemen Risiko – 131

Evaluasi Risiko adalah membandingkan tingkat risiko yang telah dihitung


pada tahapan analisis risiko dengan kriteria standar yang digunakan. Hasil Evaluasi
risiko diantaranya adalah:
Gambaran tentang seberapa penting risiko yang ada.
Gambaran tentang prioritas risiko yang perlu ditanggulangi.
Gambaran tentang kerugian yang mungkin terjadi baik dalam parameter
biaya ataupun parameter lainnya.
Masukan informasi untuk pertimbangan tahapan pengendalian.

D. PENGENDALIAN RISIKO
Pengendalian risiko meliputi identifikasi alternatif-alternatif pengendalian
risiko, analisis pilihan-pilihan yang ada, rencana pengendalian dan pelaksanaan
pengendalian.

Identifikasi Alternatif-Alternatif Pengendalian Risiko


Gambar 4.2 menjelaskan proses pengendalian risiko. Alternatif-alternatif
pengendalian yang dapat dilakukan dapat dilihat di bawah ini:
Penghindaran risiko
Beberapa pertimbangan penghindaran risiko :
Keputusan untuk menghindari atau menolak risiko sebaiknya
memperhatikan informasi yang tersedia dan biaya pengendalian
risiko.
Kemungkinan kegagalan pengendalian risiko.
Kemampuan sumber daya yang ada tidak memadai untuk pengendalian.
Penghindaran risiko lebih menguntungkan dibandingkan dengan
pengendalian risiko yang dilakukan sendiri.
Alokasi sumber daya tidak terganggu.

Mengurangi probabilitas

Mengurangi konsekuensi
Contoh dapat di lihat di Lampiran G
Transfer risiko
Alternatif transfer risiko ini, dilakukan setelah dihitung keuntungan dan
kerugiannya. Transfer risiko ini bisa berupa pengalihan risiko kepada
132 – Manajemen Risiko

pihak kontraktor. Oleh karena itu didalam perjanjian kontrak dengan pihak
kontraktor harus jelas tercantum ruang lingkup pekerjaan dan juga risiko
yang akan ditransfer. Selain itu konsekuensi yang mungkin terjadi dapat
juga di transfer risikonya dengan pihak asuransi.
Manajemen Risiko – 133

Peringkat dan evaluasi Resiko

Resiko yang Ya Diterima


diterima
Tdk

Identifikasi Mengurangi Mengurangi Transfer secara Mencegah


alternatif probabilitas konsekuensi penuh/sebagian
pengendalia
Komunikasi dan Konsultasi

Monitor dan Review


Pertimbangan biaya dan keuntungan yang ada

Menilai
alternatif Merekomendasikan strategi pengendalian
pengendalia

Pemilihan strategi pengendalian

Persiapan
alternatif Persiapan rencana pengendalian
pengendalia

Pelaksanaan Mengurangi Mengurangi Transfer secara Pencegahan


pengendalia probabilitas konsekuensi penuh/sebagian
n terpilih
Bagian yang Bagian

dikembalikan Pengiriman
Risiko yang Ya
Kembali
diterima
Tdk

Gambar ... Proses Pengendalian Risiko

Penilaian Alternatif-Alternatif Pengendalian Risiko


Pilihan sebaiknya dinilai atas dasar/ besarnya pengurangan risiko dan
besarnya tambahan keuntungan atau kesempatan yang ada. Seleksi dari alternatif
yang paling tepat meliputi keseimbangan biaya pelaksanaan terhadap keuntungan.
Walaupun pertimbangan biaya menjadi faktor penting dalam penentuan
alternatif pengendalian risiko, tetapi faktor waktu dan keberlangsungan operasi tetap
menjadi pertimbangan utama.
134 – Manajemen Risiko

Ukuran
penurunan
implement
Tingkatan
tasi
risiko (nilai
risiko)

Penggunaan
peraturan
Tidak
ekonomis

Biaya dari pengurangan risiko ($)

Gambar ... Biaya Dari Ukuran Pengurangan Risiko

Seringkali perusahaan bisa mendapatkan manfaat besar dari pilihan


kombinasi alternatif-alternatif pengendalian yang tersedia. Oleh karena itu
sebenarnya tidak pernah terjadi penggunaan alternatif tunggal dalam proses
pengendalian risiko.

Rencana Persiapan Pengendalian


Setelah ditentukan alternatif pengendalian risiko yang paling tepat, langkah
berikutnya adalah menyusun rencana persiapan. Rencana persiapan ini berkaitan
dengan pertanggungjawaban, jadwal waktu, anggaran, ukuran kinerja, dan tempat.

Untuk lebih jelasnya, tercatat pada bagian H5, Lampiran H.

Implementasi Perbaikan Program


Idealnya, tanggungjawab dari pengendalian risiko seharusnya dilakukan oleh
mereka yang benar-benar mengerti. Tanggung jawab tersebut harus disetujui lebih
awal. Pelaksanaan pengendalian risiko yang baik membutuhkan sistem manajemen
yang efektif, pembagian tanggungjawab yang jelas dan kemampuan individu yang
handal.
Manajemen Risiko – 135

Pemantauan Dan Telaah Ulang


Pemantauan selama pengendalian risiko berlangsung perlu dilakukan untuk
mengetahui perubahan-perubahan yang bisa terjadi. Perubahan-perubahan tersebut
kemudian perlu ditelaah ulang untuk selanjutnya dilakukan perbaikan-perbaikan.
Pada prinsipnya pemantauan dan telaah ulang perlu untuk dilakukan untuk menjamin
terlaksananya seluruh proses manajemen risiko dengan optimal.

Komunikasi Dan Konsultasi


Komunikasi dan konsultasi merupakan pertimbangan penting pada setiap
langkah atau tahapan dalam proses manejemen risiko. Sangat penting untuk
mengembangkan rencana komunikasi, baik kepada kontributor internal maupun
eksternal sejak tahapan awal proses manajemen risiko.
Komunikasi dan konsultasi termasuk didalamnya dialog dua arah diantara
pihak yang berperan didalam proses manajemen risiko dengan fokus terhadap
perkembangan kegiatan.
Komunikasi internal dan eksternal yang efektif penting untuk meyakinkan
pihak manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan.
Persepsi risiko dapat bervariasi karena adanya perbedaan dalam asumsi dan
konsep, isu-isu, dan fokus perhatian kontributor dalam hal hubungan risiko dan isu
yang dibicarakan. Kontributor membuat keputusan tentang risiko yang dapat diterima
berdasarkan pada persepsi mereka terhadap risiko. Karena kontributor sangat
berpengaruh pada pengambilan keputusan maka sangat penting bagaimana
persepsi mereka tentang risiko sama halnya dengan persepsi keuntungan-
keuntungan yang bisa didapat dengan pelaksanaan manajemen risiko.

DOKUMENTASI
Umum
Setiap tingkatan dari proses manajemen risiko harus didokumentasikan.
Dokumentasi harus meliputi asumsi, metode, sumber data dan hasil.

Alasan Pendokumentasian
Alasan untuk pendokumentasian adalah sebagai berikut:
Menggambarkan proses manajemen risiko yang dilaksanakan telah berjalan dengan
tepat.
Memberikan masukan data dan informasi untuk proses identifikasi dan analisis
risiko.
136 – Manajemen Risiko

Menyediakan daftar risiko yang ada dan mengembangkan database organisasi.


Menyediakan informasi untuk proses pengambilan keputusan yang relevan dengan
rencana dan pelaksanaan manajemen risiko.
Menyediakan informasi untuk mekanisme tanggung gugat dan peralatan.
Memfasilitasi pengawasan dan review yang berkelanjutan.
Menyediakan informasi yang diperlukan untuk uji coba audit, dan
Mensosialisasikan dan mengkomunikasikan informasi yang berhubungan dengan
manajemen risiko.

Lampiran B
LANGKAH-LANGKAH DALAM PENGEMBANGAN DAN
PENERAPAN PROGRAM MANAJEMEN RISIKO

TAHAP 1: Dukungan dari senior manajemen


Mengembangkan filosofi dan kesadaran pengorganisasian
manajemen risiko pada tingkat senior manajemen. Hal ini mungkin
dapat difasilitasi dengan pelatihan, pendidikan, dan keterangan
singkat dari eksekutif manajemen.
Dukungan aktif yang berkesinambungan dari Pimpinan Eksekutif
suatu organisasi sangatlah penting.
Seorang senior eksekutif manajer perlu memberikan dukungan
kepada para pekerja untuk berinisiatif melaksanakan
manajemen risiko.
Semua senior eksekutif sebaiknya memberikan dukungan
penuh.
TAHAP 2: Pengembangan kebijakan organisasi
Pengembangan dan dokumentasi kebijakan perusahaan serta
kerangka berfikir untuk mengelola risiko, berisi informasi-informasi
seperti:
Obyektifitas kebijakan dan dasar berfikir untuk mengelola risiko;
Hubungan antara kebijakan dan strategi organisasi/ rencana
perusahaan;
Batasan atau jangkauan dari isu-isu yang ada didalam sebuah
kebijakan;
Pimpinan diharapkan dapat menjadi teladan;
Pembagian tanggungjawab dalam pengelolaan risiko;
Manajemen Risiko – 137

TAHAP 3: Komunikasi Peraturan


Tujuan :
Meningkatkan kesadaran akan manajemen risiko.
Mengkomunikasikan sampai tingkat terendah diorganisasi tentang
manajemen risiko dan peraturan organisasi.
Merekrut ahli manajemen risiko, contohnya konsultan.
Mengembangkan keahlian sampai staf terendah dengan pendidikan
dan pelatihan.
Menjamin terciptanya pelaksanaan sistem penghargaan dan
sangsi.
TAHAP 4: Manajemen Risiko Pada Tingkat Organisasi
Pengaturan pada level organisasi terendah dalam mengaplikasikan
sistem manajemen risiko. Proses manajemen risiko akan berintegrasi
dengan strategi perencanaan dan proses manajemen organisasi
secara keseluruhan. Ini akan melibatkan tehnik pendokumentasian
sbb:
Organisasi dan konteks manajemen risiko.
Identifikasi risiko untuk organisasi.
Analisis dan Evaluasi risiko yang ada.
Pengendalian risiko.
Mekanisme pemantauan dan telaah ulang program.
Strategi peningkatan kesadaran dengan metode pelatihan dan
pendidikan.
TAHAP 5: Pengendalian Risiko
Pengendalian risiko melalui rencana kegiatan program dan tingkatan
tim. Pada tahap ini perlu dilakukan pengembangan sebuah program
untuk pengendalian risiko di masing-masing bagian maupun area
organisasi.
TAHAP 6: Monitoring dan Telaah Ulang
Pengembangan dan pelaksanaan setiap tahapan manajemen risiko
perlu dipantau untuk menjamin terciptanya optimalisasi manajemen
risiko. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menjamin bahwa
implementasi manajemen risiko tetap sejalan dengan kebijakan
perusahaan. Perlu juga dipahami bahwa risiko adalah sesuatu yang
dapat berubah setiap waktu (dinamis tidak statis) dan telaah ulang
langkah-langkah yang diambil merupakan hal yang penting. Pada
138 – Manajemen Risiko

intinya kegiatan pemantauan dan telaah ulang ini akan menjamin


efektifitas dan efisiensi pelaksanaan manajemen risiko agar berjalan
optimal.

(Sumber:
http://staff.ui.ac.id/system/files/users/bian/material/sesi3manajemenrisikok3.doc)
Penilaian Risiko – 139

BAB IX
PENILAIAN RISIKO

Bab ini berisi penjelasan mengenai penilaian risiko. Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa
diharapkan mampu:
Mengetahui langkah umum penilaian risiko
Mengetahui contoh penilaian risiko
Setiap jenis bahaya yang telah diidentifikasi harus dinilai peringkat risikonya untuk
menetapkan bentuk/ program pengendalian risiko. Bentuk/ program pengendalian risiko
dimaksudkan agar risiko besar menjadi kecil atau dapat diterima. Peringkat risiko ditetapkan
melalui analisa peluang timbulnya kecelakaan dan tingkat keparahan bila kecelakaan terjadi.
Peringkat risiko adalah perkalian antara tingkat peluang dan tingkat keparahan sehingga
makin tinggi peringkat risiko, makin tinggi dan ketat bentuk pengendaliannya.

Definisi
Penilaian risiko adalah suatu proses analisis untuk menilai risiko serta mengidentifikasi
tindkan-tindakan kontrol yang diperlukan untuk menghilangkan atau mengurangi risiko yang
ada sehingga kondisi di atas dapat dikategorikan sebagai Acceptable Risk (risiko yang
masih dalam batas-batas toleransi).
Hazard (Bahaya)
Suatu kondisi yang berpotensi untuk terjadinya suatu kecelakaan terhadap pekerja,
perlatan, bahan-bahan atau lingkungan. Contoh: sumber api, bahan mudah terbakar,
bahan berbahaya dan beracun, ativitas menggunakan suhu tinggi, dan sebagainya.
Acceptable Risk (Risiko yang masih dalam batas toleransi)
Suatu tingkatan (level) dari risiko yang berada dalam batas yang masih bisa diterima.
Tindakan-tindakan kontrol tertentu suatu aktivitas atau kondisi yang berisiko tinggi
(high risk) dapat diturunkan menjadi suatu risiko yang dapat diterima.
Risk Analysis (Analisis Risiko)
Suatu proses analisis untuk menilai risiko serta mengidentifikasi tindakan-tindakan
yang diperlukan guna menghilangkan atau mengurangi risiko.
Likehood/ probability (kemungkinan/ P)
Besarnya kemungkinan terjadinya suatu kecelakaan.
Hazard Effect (Tingkat Keparahan/ HE)
Tingkat keparahan dari suatu kecelakaan yang mungkin terjadi akibat adanya
hazard. Penilaian (Assessment)
140 – Penilaian Risiko

Pada suatu aktivitas yang bersifat global yang mencakup berbagai kegiatan, biasanya
ditemukan kesulitan-kesulitan untuk mengidentifikasi bahaya-bahayanya (hazard) dan risiko
(risk) yang mungkin timbul. Sehingga pada akhirnya juga sulit .

A. LANGKAH UMUM PENILAIAN RISIKO


Penilaian risiko menggunakan matriks yang telah ditentukan. Berikut ini metode penilaian
risiko yang paling sederhana

Matriks yang lebih baik menggunakan minimal 5 skala, misalnya: peluang terjadi (tidak
pernah, jarang, kadang, sering, selalu); akibat (fatal, berat, serius, agak serius, dan ringan).
Definisikan dengan jelas agar terhindar dari perbedaan persepsi pada masing-masing skala.
Jika penilaian risiko telah dilakukan, selanjutnya adalah menentukan tindakan pengendalian
yang akan dilaksanakan. Adapun hirarki pengendalian risiko, yaitu:
Eliminasi: Peniadaan kondisi dan tindakan berbahaya
Substitusi: Penggantian suatu kondisi, bahan, alat dan tindakan yang berbahaya, dengan
yang lebih aman dan sehat
Rekayasa : Teknologi/ metode pelindung/ mitigasi bahaya dan risiko, perlengkapan K3
(safety devices)
Administratif: Pelatihan, Sistem/prosedur/ijin kerja yang ketat, rambu-rambu,
Pelindung diri: Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat agar terlindung dari paparan bahaya/
risiko.

CONTOH PENILAIAN RISIKO


Pada pekerjaan galian pipa PDAM, kondisi pekerjaan:
Tanah mengandung pasir dan lumpur
Kedalaman galian tanah = 1,5 s/d 2,5 meter
Penilaian Risiko – 141

Lebar galian 1,5 m


Lokasi galian di tepi jalan raya
Pipa lama diambil dan di ganti baru
Pipa berupa pipa baja galvanized diameter 10”
Identifikasi bahaya:
Jenis tanah pasir berlumpur sangat mudah longsor.
Longsoran akan lebih cepat jika di kedua tepinya didirikan tripod (takel) untuk menaik-
turunkan pipa.
Dengan kedalaman 1,5 -2,5 m, pekerja yang berdiri di lubang galian dapat tertimbun
longsoran.
Lokasi sempit, tidak memungkinkan “Open Cut” dengan tepi galaian landau.

Penilaian risiko:
Bahaya longsoran tanah pasir berlumpur dengan kedalaman = 1,5 s/d 2,5 m, sangat mudah
terjadi
Dari statistik dan analisis teknis, bahaya longsoran tersebut mempunyai tingkat kemunginan
terjadi SERING (C), dan keparahannya serius atau fatal (3), yaitu pekerja dapat mati
terkubur Berdasarkan matriks penilaian risiko, maka peringkat risikonya tertinggi (3C).
Pengendalian risiko
Eliminasi: untuk meniadakan bahaya longsor adalah dengan memasang turap, sesuai
dengan rekomendasi.
Substitusi : untuk mengurangi bahaya, pipa galvanized diganti pipa PVC yg lebih ringan.
Rekayasa : menggunakan metode kerja yang aman-efisien, galian dilakukan bertahap,
akses diberi tangga naik turun.
Administratif : buat prosedur, adakan pelatihan, rambu-rambu, traffic management, dan
sebagainya, APD, berupa helm dan sepatu sesuai standar.
Program pengendalian risiko perlu dibuat metode kerja yang paling aman dan efisien.
Manajer K3 perlu menghitung kebutuhan upah, bahan dan alat bantu untuk pekerjaan
utama, berapa kali bahan/alat bantu bisa dipakai agar hemat. Termasuk kebutuhan sarana
pengamanan/ K3, seperti tangga akses, rambu-rambu, traffic manajemen dsb. Masukkan
komponen biaya dalam bentuk analisa harga satuan, sesuai dengan ketentuan. Sedangkan
untuk kegiatan bersifat umum, biaya dimasukkan sebagai biaya tak langsung (ovehead)
142 – Penilaian Risiko

PEDOMAN CHECKLIST
Tujuan
Dengan checklist ini akan membantu mengidentifikasi kegiatan K3L perusahaan dan
bahaya yang umum pada pekerjaan kontruksi. Pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam
checklist dimaksudkan untuk membantu upaya manajemen dalam perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, dan penilaian pekerjaan yang berhubungan dengan K3L.
Memeriksa apakah program K3L sudah dipersiapakan dengan baik, sesuai dengan tujuan,
khususnya yang berhubungan dengan pekerjaan kontruksi.

Kebijakan K3L Perusahaan


Apakah sudah ada kebijakan tertulis tentang K3L perusahaan?
Apakah kebijakan K3L yang ada sesuai dengan Visi dan Misi perusahaan?
Apakah kebijakan K3L perusahaan ditanda tangani oleh pemimpin tertinggi perusahaan?
Apakah kebijakan K3L sudah diumumkan, dipublikasikan dan disosialisasikan kepada
seluruh pekerja, rekan kerja dan kontraktor perusahaan?

Sistem Manajemen K3L


Apakah sudah ditentukan dan dibuat suatu bentuk system manajemen K3L di
perusahaan?
Apakah system manajemen K3L disahkan oleh pemimpin tertinggi perusahaan?
Apakah K3L sudah dimasukkan kedalam jajaran utama system organisasi
perusahaan?
Apakah sudah dibentuk organisasi K3L perusahaan?
Apakah sudah dibentuk panitia pembinaan K3 (P2K3) sesuai dengan peraturan
pemerintah?
Apakah system manajemen K3L yang terbentuk sudah disosialisasikan kepada
seluruh pekerja?
Apakah sudah dibuat program pelaksanaan kerja perusahaan, termasuk peraturan-
peraturan, pedoman-pedoman, prosedur-prosedur kerja tertulis tentang oprasi
dan K3L, yang berhubungan dengan perencanaan, penerapan, pengawasan,
penilaian dan perbaikannya?
Apakah sudah ada system manajemen oprasional K3L perusahaan berhubungan
dengan kegiatan proyek kontruksi dan kontraktor?
Apakah ada kebijakan perusahaan tentang pengelolaan lingkungan?
Apakah ada program penanganan limbah?
Penilaian Risiko – 143

Apakah sudah ada system pen-dokumentasian secara menyeluruh kegiatan K3L?

Kontraktor dan Kontrak


Apakah perusahaan mempunyai suatu kualifikasi K3L untuk kontraktor?
Apakah dilaksanakan seleksi K3L terhadap para kontraktor berdasarkan persyaratan
dan standar K3L perusahaan?
Apakah kontraktor diberi penjelasan tentang standar K3L perusahaan?
Apakah didalam kontrak disyaratkan bahwa kontraktor harus membuat program K3L
untuk proyek yang akan dikerjakan?
Apakah dibuat suatu rencana kerja untuk proyek, yang meliputi organisasi, program,
pelaksanaan, pengawasan, evaluasi dan penilaian kinerja K3L?

Lokasi Kerja Aman


Dapatkah setiap pekerja mencapai lokasi kerjanya dengan aman, seperti jalan, gang,
jalur, alat angkut pekerja, tangga dan perancah dalam kondisi baik?
Apakah ada pagar pengaman atau sejenisnya yang melindungi dari jatuh dari pinggiran
terbuka perancah, anjungan kerja berpindah, bangunan, gang, penggalian dan
sebagainya?
Apakah lubang-lubang dan bagian-bagian yang terbuka diberi pagar pengaman,
dipasang dengan pengaman standar, atau dipasang penutup yang kuat dan jelas,
untuk mencegah jatuh?
Apakah rancangan cukup stabil, kuat dan tidak berbeban lebih?
Apakah semua lokasi kerja dan jalannya datar, bebas dari halangan, seperti bahan-
bahan dan sampah atau limbah?
Apakah lokasi rapih, dan bahan-bahan tersimpan dengan aman?
Apakah ada perencanaan yang baik dalam pengumpulan dan pembuangan bahan-
bahan limbah?
Apakah cukup penerangan untuk pekerjaan? Apakah tersedia penerangan tambahan yang
cukup bila pekerjaan dilakukan setelah hari gelap atau didalam bangunan?

Perancah
Apakah perancah dipasang, dirubah dan dibongkar oleh petugas yang berwenang?
Apakah tersedia jalan yang aman menuju ke anjungan perancah?
Apakah permukaannya dilengkapi papan alas (dan, bila perlu alas papan) atau
perlindungan lain terhadap kemungkinan terpeleset atau terperosok?
Apakah perancah terikat cukup kuat pada bangunan atau struktur untuk mencegah
roboh?
144 – Penilaian Risiko

Apakah ada pagar pengaman dan papan pelindung kaki atau pengaman standar yang
cukup pada setiap pinggiran dimana orang dapat jatuh dari ketinggian 2 meter atau
lebih?
Bila pagar pengaman dan pelindung kaki terpasang
Apakah tinggi pelindung kaki 15 cm?
Apakah tinggi pagar pengaman 90 cm dari alas kerja?
Apakah ada pengaman tambahan atau pelindung bata yang dipasang untuk
mengisi celah antara pelindung kaki dengan bagian atas pagar pengaman?
Apakah papan alas kerjannya terpasang dengan baik dan dirancang mencegah
terjungkal atau merosot?
Apakah ada penghalang yang baik atau peringatan ditempat untuk mencegah orang
menggunakan perancah yang belum selesai dibangun, misalkan papan kerjanya
belum dipasang?
Apakah perancah telah dirancang dan dibangun untuk menampung bahan atasnya?
Apakah seorang petugas yang berwenang menginspeksi perancah secara teratur,
misalkan seminggu sekali selalu setelah dilakukan perubahan, rusak dan akibat
cuaca yang ekstrim?
Apakah hasil inspeksinya dicatat?

Peralatan Bergerak
Apakah peralatan dipasang oleh orang yang berwenang?
Apakah peralatan yang tetap, terikat dengan kuat pada struktur?
Apakah anjungan kerja yang mempunyai pagar pengaman yang cukup dan pelindung
kaki atau lainnya untuk mencegah orang atau bahan terjatuh?
Apakah telah dilakukan pengamanan seperti pagar pembatas disekitar lokasi dasarnya,
untuk mencegah orang terkena anjungan bergerak, serpihan bangunan atau bahan-
bahan yang terjatuh?
Apakah operatornya terlatih dan berwenang?
Apakah sumber tenaganya diisolasi dan peralatnnya diamankan setelah jam kerja
selesai?

Tangga
Apakah tangga digunakan secara benar dalam pekerjaan?
Apakah tangga dalam kondisi yang baik?
Apakah kedudukannya aman untuk mencegah tergelincir kesamping atau kedepan?
Penilaian Risiko – 145

Apakah tangga terpasang dengan ketinggian yang cukup diatas lantai atas? Bila
tidak apakah tersedia pegangan yang lain?
Apakah tangga diletakan pada alas yang keras dan tidak diatas bahan yang rapuh
atau tidak stabil?

Pekerjaan Atap
Apakah ada penahan atau pengaman pinggiran atap untuk menahan orang atau bahan
terjatuh dari atap?
Apakah pelapis atas mempunyai tempat berpegangan dan berpijak? Bila tidak, apakah
tersedia tangga atau papan untuk merayap untuk digunakan?
Apakah orang-orang dicegah berada dibawah pekerjaan atap? Bila tidak
memungkinkan, apakah dilakukan pengamanan tambahan untuk mencegah puing
jatuh menimpa mereka?

Pekerjaan Penggalian
Apakah cukup tersedia kayu, lembaran penahan, atau bahan pendukung lainnya yang
dibuat sebelum penggalian dilakukan?
Apakah bahan tersebut cukup kuat menahan dinding lubang?
Apakah ada suatu metoda aman untuk menempatkan penahan, tanpa orang harus
mengerjakannya didalam lubang yang belum terlindungi.
Apakah ada akses ketempat penggalian, misalkan menggunakan tangga yang cukup
panjang dan aman?
Apakah ada pagar pengaman atau pengamanan lainnya untuk mencegah orang atau
peralatan lain jatuh ke lubang?
Apakah disediakan blok penahan roda kendaraan untuk mencegahnya terperosok ke
dalam lubang?
Apakah penggalian berdampak kepada stabilitas struktur di sekitarnya?
Apakah bahan-bahan, tanah galian atau tanaman diletakkan jauh dari pinggir lubang
dengan maksud mengurangi kemungkinan runtuhnya tebing lubang?
Apakah penggalian di-inspeksi oleh seorang petugas yang berwenang saat dimulai
setelah setiap shift kerja, dan setelah ada kecelakaan runtuh, atau kejadian yang
berdampak pada stabilitas?

Katrol/ Kerekan
Apakah sudah ada prosedur tertulis pekerjaan pengangkatan?
Apakah katrol dilindungi dengan penutup untuk mencegah orang terantuk oleh bagian
yang bergerak dari katrol?
146 – Penilaian Risiko

Apakah disediakan gerbang pada setiap lantai pemberhentian katrol, termasuk lantai
dasar?
Apakah gerbang selalu dalam keadaan tertutup kecuali bila anjungan katrol berada
disana?
Apakah kendali diatur sedemikian rupa sehingga katrol hanya dapat dioprasikan dari
satu titik saja?
Apakah operator katrol dilatih dan mampu?
Apakah tanda beban aman katrol terpasang dengan jelas?
Bila katrol hanya digunakan untuk bahan saja, apakah ada tanda peringatan pada
anjungannya yang mencegah orang menaikinya?
Apakah katrol diinspeksi sekali seminggu, dan diperiksa secara seksama 6 bulan sekali
oleh petugas yang berwenang?
Apakah hasil inspeksi dicatat?

Derek dan Peralatan Angkat


Apakah sudah ada prosedur tertulis pekerjaan pengangkatan?
Apakah derek diatas dasar yang rata?
Apakah beban kerja yang aman dan radius jangkauan diketahui dan diputuskan sebelum
dimulainya suatu pengangkatan?
Bila derek mempunyai kapasitas angkat lebih dari 1 ton, apakah memiliki suatu indicator
beban aman otomatis yang dijaga dan diperiksa setiap minggu?
Apakah para operatornya terlatih dan mampu?
Sudahkah para pembantunya dilatih untuk memberi tanda-tanda, dan mengatur muatan
dengan benar?
Apakah operator dan pembantunya mencari tahu tentang berat dan letak titik berat
beban sebelum mencoba mengangkatnya?
Apakah derek diinspeksi sekali seminggu, dan diperiksa secara seksama 14 bulan sekali
oleh petugas yang berwenang?
Apakah hasil inspeksi dicatat?
Apakah derek mempunyai sertifikat test yang berlaku?

Rangka dan Permesinan


Apakah rangka dan mesin yang benar yang digunakan untuk pekerjaan?
Apakah bagian yang berbahaya dilindungi, misalkan gerigi terbuka, rantai kendali,
batang penyalur tenaga mesin?
Apakah semua pelindungnya terpasang dan terpelihara?
Penilaian Risiko – 147

Apakah mesin-mesin terpelihara dengan baik dan semua peralatan keamanannya


berfungsi dengan benar?
Apakah semua operatornya terlatih dan mampu?

Lalu-Lintas dan Kendaraan


Sudahkah disedikan tempat pejalan kaki (pedestrian) yang terpisah, jalanan, letak an
arah akses kendaraan sekitar lokasi? Bila tidak, apakah mungkin kendaraan dan
tempat pejalan kaki tetap terpisah?
Apakah tersedia sistem satu arah atau tempat berputar untuk meminimalkan gerakan
mundur kendaraan?
Bila kendaraam harus mundur, apakah dipandu oleh petugas yang terlatih?
Apakah kendaraan terpelihara; kemudi, rem tangan dan rem kaki bekerja dengan baik?
Sudahkah pengemudi mendapat pendidikan yang benar?
Apakah kendaraan dimuati dengan aman?
Apakah penumpang dicegah menaiki kendaraan dengan posisi yang berbahaya?

Kebakaran dan Darurat


Apakah sudah ada prosedur darurat, misalkan evakuasi lokasi bila terjadi kebakaran,
atau penyelamatan dari ruang terbatas?
Apakah orang-orang dilokasi peduli terhadap prosedur?
Apakah ada cara menghidupkan alarm dan apakah ini berfungsi?
Apakah ada jalur penyelamatan yang cukup, dan tetap bersih?
Apakah bahan mudah terbakar di lokasi tetap dalam suatu jumlah minimum?
Apakah ada tempat penyimpanan yang baik untuk bahan gas dan cair mudah terbakar,
misalkan bensin, LPG, Dan Asetilen?
Apakah tempat-tempat penyimpanan bahan-bahan tersebut dikembalikan ke gudang
setelah akhir shift?
Bila bahan cair dipindahkan dari tempat aslinya, apakah tempat yang baru sesuai untuk
bahan mudah terbakar?
Apakah merokok dilarang di lokasi dimana ada penyimpanan dan penggunaan gas atau
bahan cair mudah terbakar? Apakah sumber penyalaan lainnya juga dilarang?
Apakah silinder gas dan perlengkapannya dalam kondisi yang baik?
Bila silinder gas sedang tidak digunakan, apakah katupnya tertutup penuh?
Apakah silinder disimpan diluar?
Apakah tersedia tempat penampungan limbah?
Apakah limbah mudah menyala dan terbakar diambil secara teratur?
148 – Penilaian Risiko

Apakah alat pemadam api tersedia dan mudah diambil dalam jenis dan jumlah yang
sesuai?

Bahan-Bahan Berbahaya
Sudahkah semua bahan yang berbahaya, seperti asbes, timah, pelarut, cat, dsb.
Diidentifikasi?
Sudahkah resiko terhadap orang yang terpapar bahan-bahan berbahaya dianalisis dan
dinilai?
Sudahkah perlindungan diidentifikasi dan diterapkan, misalkan apakah alat pelindung diri
disediakan dan dipakai; apakah pekerja dan yang lainnya yang tidak dilindungi
dijauhkan dari pemaparan bahan?

Bunyi
Apakah instalasi, mesin-mesin terpasang dengan peredam bunyinya?
Apakah dibangun penghalang untuk mengurangi penyebaran bunyi?
Apakah pekerjaan dilakukan bertahap untuk meminimalkan jumlah orang yang terpapar
bunyi?
Apakah orang yang tidak berkepentingan dijauhkan dari lokasi kerja?
Apakah alat pelindung telinga yang sesuai disediakan dan dipakai di lokasi yang bising?

Fasilitas Umum
Sudahkah toilet yang sesuai dalam jumlah yang cukup disediakan, dan apakah
kondisinya tetap bersih?
Apakah ada tempat cuci tangan yang bersih dengan air hangat, sabun dan handuk?
Apakah disediakan pakaian yang sesuai bagi mereka yang bekerja ditempat basah,
kotor atau kondisi buruk lainnya?
Apakah ada fasilitas untuk ganti, mengeringkan dan menyimpan pakaian?
Apakah tersedia air untuk minum?
Apakah ada lokasi atau akomodasi dimana pekerja dapat duduk, minum dan makan?
Apakah ada ketentuan pertolongan pertama yang sesuai?
Apakah fasilitas-fasilitas itu mudah dan aman untuk semua yang perlu
menggunakannya?

Alat Perlindung Diri


Apakah disediakan dengan cukup Alat Pelindung Diri (ADP), seperti topi, sepatu, sarung
tangan, pelindung mata dan masker debu?
Penilaian Risiko – 149

Apakah APD ini dalam kondisi baik dan dipakai oleh semua yang memerlukannya?
Apakah ada prosedur tentang APD yang mengatur pemilihan, distribusi, pemakaian,
pemeriksaan dan pemeliharaan, pengawasan, penilaian penggantian APD?

Perlistrikan
Apakah tegangan suplay untuk alat dan peralatan merupakan yang paling rendah untuk
pekerjaan (dapat berupa alat dengan tenaga baterai dan sistem pengurangan
tegangan. Mis. 110 Volt, atau yang lebih rendah, digunakan)?
Bila menggunakan tegangan utama, apakah perangkat pemutus arus (RCD, Residual
Current Devices) dipasang untuk semua peralatan?
Apakah RCD dilindungi dari kerusakan, debu dan kelembaban dan di-check setiap hari
oleh pemakai?
Apakah semua sambungan ke sistem dibuat dengan baik, dan menggunakan plug yang
sesuai?
Apakah ada suatu sistem check yang tepat dari pemakai, pengamatan secara visual
oleh manajer lapangan dan isnpeksi gabungan, dan pengujian oleh petugas yang
berwenang terhadap semua alat dan peralatan?
Apakah ada perancah, pekerjaan atap, bekerja dengan derek atau kerangka tinggi yang
berada didekat atau dibawah jaringan kabel diatas? Sudahkah suplai arus listrik
dimatikan, atau pengamanan lain?
Sudahkan kabel listrik dibawah tanah ditentukan, ditandai dan pengamanan untuk
penggalian yang aman dilakukan?

Perlindungan Publik
Apakah publik dipagari atau diamankan dari pekerjaan?
Bila [pekerjaan berhenti pada sore hari:

Apakah gerbang ditutup?


Apakah pagar keliling tertutup dan tidak rusak?
apakah semua tangga diambil atau anak tangganya dilepas sehingga tidak dapat
digunakan orang?
Apakah lubang galian dan lubang-lubang terbuka ditutup dengan baik atau dipagari?
Apakah semua peralatan tinggi dimatikan untuk mencegah digunakan oleh yang
tidak berwenang?
Apakah bahan-bahan berbahaya dan mudah terbakar dikunci ditempat
penyimpanan yang aman?
150 – Penilaian Risiko
DAFTAR PUSTAKA

Reese, Charles D. 2004. Office Building Safety and Health. Washington DC:
CRC Press.
Glismann, Peter J. 2013. Systems Engineering and Safety: Building The
Bridge. Boca Raton: CRC Press.
Ridley, John. 2008. Ikhtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta:
Erlangga.
Boedi Rijanto. 2010. Pedoman Praktis Keselematan, Kesehatan Kerja dan
Lingkungan (K3L) Industri Konstruksi. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Tarwaka. 2016. Dasar-dasar Keselamatan Kerja Serta Pencegahan Kecelakaan
di Tempat Kerja. Surakarta: Harapan Press.
I Gede Widayana dan I Gede Wiratmaja. 2014. Kesehatan dan Keselamatan
Kerja. Singaraja: Graha Ilmu.
Rudi Suardi. 2005. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Jakarta: PPM
Paimin Napitupulu, dkk. 2014. Evaluasi Sistem Proteksi Kebakaran Perusahaan.
Jakarta: PT. ALUMNI Bandung.
Dan beberapa sumber internet di website yang berkaitan dengan pembahasan.
Industri konstruksi merupakan penyumbang terbesar dalam hal angka
kecelakaan kerja di Indonesia. Bahkan berdasarkan data Badan
Penyelenggara Jasa Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, konstruksi tercatat
sebagai jawara nasional kecelakaan kerja dari tahun ke tahun. Secara
nasional, angka kecelakaan kerja sektor konstruksi versi BPJS
Ketenagakerjaan berada di angka 32%, bersaing ketat dengan industri
manufaktur sekitar 31%. Pada 2016 (hingga November) tercatat 101.367
kasus kecelakaan, korban meninggal dunia mencapai 2.382 orang,
sedangkan pada 2015 tercatat 110.285 dengan korban meninggal dunia
2.375 orang.
Butuh kerja sama yang baik antar semua pihak dalam mengatasi
permasalahan tersebut. Bagi dunia pendidikan tinggi mempelajari K3
Bidang Konstruksi Bangunan merupakan salah satu langkah yang
diharapkan menjadi solusi atas permasalahan tingginya kasus kecelakaan
di industri konstruksi

Pembahasan pada buku ini meliputi:


Bab I Dasar-Dasar K3
Bab II K3 Pekerjaan Konstruksi
Bab III K3 Angkat dan Angkut
Bab IV K3 Penanggulangan Kebakaran
Bab V K3 Listrik
Bab VI Kesehatan Kerja
Bab VII Investigasi Kecelakaan Kerja
Bab VIII Manajemen Risiko
Bab IX Penilaian Risiko