Anda di halaman 1dari 3

BIOINDIKATOR

adalah organisme yang dapat menunjukkan kualitas lingkungan atau ekosistem dimana
organisme tersebut berada.

Jenis-jenis bioindikator :
1. Bioindikator Hewan
Bentos merupakan organisme yang melekat di permukaan substrat dasar sungai Sedangkan
makrozoobhentos adalah bentos yang dapat terlihat dengan mata biasa. Biasanya menempati
ruang kecil antara batuan di dasar dalam runtuhan bahan organik, di atas batang kayu dan
tanaman air atau di dalam sedimen halus.
Contoh : Hewan makrozoobentos invertebrata merupakan hewan yang tidak bertulang
belakang yang dapat dilihat oleh mata biasa dengan ukuran lebih besar dari 200μm – 500μm.

2. Bioindikator Tumbuhan
Tumbuhan dapat hidup dengan baik di lingkungan yang menguntungkan. Suatu tumbuhan
atau komunitas tumbuhan dapat berperan sebagai pengukur kondisi lingkungan tempat
tumbuhnya, disebut indikator biologi atau bioindikator atau fitoindikator
Contoh :
 Tumbuhan Lamun dapat digunakan sebagai bioindikator logam berat Pb di wilayah
pesisir, di mana kandungan logam Pb adalah sebesar (biomass lamun/m2 x kandungan
Pb mg/kg)/1000 dengan mangakumulasi dari sedimen.
 Bunga sepatu memang sudah dikenal dapat digunakan sebagai indikator asam basa.

Ciri-ciri Bioindikator :
a. Mudah diidentifikasi
b. Tersebar secara kosmopolit
c. Jumlah dan keberadaannya terpengaruh oleh zat pencemar dan/atau patogen
d. Kelimpahan dapat dihitung

Contoh Bioindikator

1. Mikroorganisme Perairan
Contoh: koliform, streptococcos, clostridium. Sebagai bioindikator kualitas perairan. Pada
keadaan normal, mikroorganisme terdapat di air dalam jumlah standar. Namun bila terjadi
pencemaran air, jumlah mikroorganisme akan menjadi banyak dan dapat melebihi jumlah
bakteri patogen lain.

2. Makrozoobentos
Terdiri dari: larva Insecta, Crustacea, Mollusca, Oligochaeta, dan Arachnidae. Sebagai
bioindikator kualitas lingkungan air tawar. Ketika diversitas dan kelimpahannya cukup tinggi
dalam suatu perairan tawar, maka dapat disimpulkan bahwa perairan tawar tersebut belum
tercemar.

3. Insecta
Contoh:
 Capung Jumlah capung dewasa yang banyak di sekitar perairan atau komunitas tertentu
menunjukkan bahwa lingkungan tersebut masih alami.
 Kupu-kupu Hilangnya salah satu jenis kupu-kupu menunjukkan berkurangnya diversitas
tumbuhan, karena diduga satu jenis kupu-kupu hanya akan mendekati satu jenis tumbuhan
tertentu.

4. Lichen (Lumut Kerak)


Sebagai bioindikator pencemaran udara. Pada daerah yang mempunyai kadar polusi udara
yang berat, keberadaan lichen sangat jarang. Hal ini karena lichen dapat menyerap dan
mengendapkan mineral dari air hujan dan udara. Tetapi tidak dapat mengeluarkannya, sehingga
konsentrasi senyawa yang mematikan sangat mudah masuk dan mematikan jaringan tubuhnya.

5. Dugong (Ikan Duyung)


Sebagai bioindikator air laut yang masih bersih. Makanan utama dugong adalah rumput laut
(lamun), sehingga dapat disimpulkan tempat dimana dugong berada adalah tempat padang
lamun berada.

6. Berang – berang
Sebagai bioindikator ekosistem lahan basah yang belum terganggu. Karena berang-berang
hanya hidup di lahan basah yang masih belum tercemar, selain itu pada ekosistem dimana
berang-berang berada ia menjadi predator puncak sehingga ia merupakan pengendali
ekosistem. Pada suatu penelitian juga dibuktikan bahwa berang-berang memakan keong mas
yang berperan sebagai hama padi.

7. Terumbu Karang
Sebagai bioindikator perairan laut yang bersih. Karena terumbu karang adalah tempat
berlindung banyak biota laut. Dengan adanya teumbu karang, artinya di laut tersebut
keragaman biota masih tinggi. Selain itu manfaat terumbu karang adalah sebagai penghasil
oksigen. Sehingga dapat dipastikan keberdaan terumbu karang akan membuat kehidupan laut
bersih dan sehat.