Anda di halaman 1dari 13

RUANG LINGKUP SANITASI RUMAH SAKIT

A. Penyehatan Ruang Bangunan dan Halaman Rumah Sakit

Ruang bangunan dan halaman rumah sakit adalah semua ruang atau unit
halaman yang ada di dalam batas pagar rumah sakit (Bangunan fisik dan
kelengkapannya) yang di pergunankan untuk berbagai keperluan dan kegiatan
rumah sakit.

a. Persyaratan Lingkungan Bangunan Rumah Sakit

1. Lingkungan bangunan rumah sakit harus mempunyai batas yang jelas,


dilengkapi dengan pagar yang kuat dan tidak memungkinkan orang atau binatang
peliharaan keluar masuk dengan bebas.

2. Luas bahan bangunan dan halaman harus disesuaikan dengan luas lahan
keseluruhan, sehingga tersedia tempat arkir yang memadai dan dilengkapi dengan
rambu parkir.

3. Lingkungan bangunan rumah sakit harus bebas dari banjir. Jika


berlokasi di daerah banjir harus menyediakan fasilitas atau teknologi untuk
mengatasinya.

4. Lingkungan rumah sakit harus merupakan kawasan bebas rokok.

5. Lingkungna bangunan rumah sakit harus di lengkapi penerangan dengan


intensitas cahaya yang cukup.

6. Lingkungan rumah sakit harus tidak berdebu, tidak becek atau tidak
terdapat genangan air dan di buat landai menuju kesaluran terbuka atau tertutup,
tersedia lubang penerima air masuk dan disesuaikan dengan luas halaman.

7. Saluran air limbah domestik dan limbah medis harus tertutup dan
terpish, masing-masing di hubungkan langsung dengan instalasi pengolahan air
limbah.

8. Di tempat parkir, ruang tunggu dan tempat-tempat tertentu yang


menghasilkan sampah harus disediakan tempat sampah.
9. Lingkungan, ruang, dan bangunan ruamah sakit harus selalu dalam
keadaan bersih dan tersedia fasilitas sanitasi secara kualiatan dan kuantitas yang
memenuhi persyaratan kesehatan, sehingga tidak memungkinkan sebagai tepat
bersarang dan berkembangbiaknya serangga, binatang pengerat, dan binatang
pengganggu lainnya.

b. Kontruksi Banguanan Rumah Sakit

1. Lantai
1). Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata,
tidak licin, warna terang, dan mudah dibersihkan.
2). Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan
yang cukup ke arah saluran pembuangan air limbah.
3). Pertemuan lantai denagan dinding harus berbentuk konus atau
lengkung agar mudah dibersihkan.
2. Dinding
Permukaan dinding harus kuat, rata, berwarna terang, dan menggunakan
cat yang tidak luntur serta tidak mengguanakan cat yang mengandung
logam berat.
3. Ventilasi
1). Ventilasi alamiah harus dapat menjamin aliaran udara di dalam kamar
atau ruang dengan baik.
2). Luas ventilasi alamiah minimum 15% dari luas latai.
3). Bila ventilasi alamiah tidak dapat menjamin adanya pergantian udara
dengan baik, kamar atau ruangan harus dilengkapi dengan penghawaan
buatan atau mekanis.
4). Pengguana ventialasi buatan atau mekanis harus disesuaikan dengan
peruntukan ruangan.
4. Atap
1). Atap harus kuat, tidak bocor, dan tidak menjadi tempat perindukan
seranga, tikus, dan binatang penggangu lainya.
2). Atap yang lebih tinggi dari 10m harus dilengkapi penangkal petir.

5. Langit- Langit
1). Langit-langit harus kuat, berwarna terang, dan mudah di bersihkan.
2). Langit-langit tingginya minimal 2,70m dari lantai.
3). Kerangka langit-langit harus kuat dan bila terbuat dari kayu harus anti
rayap.
6. Kontruksi
Balkon, beranda, dan talang harus sedemikian sehingga tidak terjadi
genangan air yang dapat menjadi tempat perinduakan nyamuk aedes.
7. Pintu
Pintu harus kuat, cukup tinggi, cukup lebar, dan dapat mencegah
masuknya serangga, tikus,dan binatang pengganggu lainnya.
8. Jaringan Istalasi
1). Pemasangan jaringan istalasi air minum, air bersih, air limbah, gas
listrik, sistem penghawaan, sarana komunikasi, dan lain-lain harus
memenuhi persyaratan teknis kesehatan agar aman diguakan untuk
tujuan pelayanan kesehatan.
2). Pemasangan pipa aiar minum tidak boleh bersilang dengan pip air
limbah dan tidak boleh bertekanan negatif untuk menghindari
pencemaran air minum.

B. Standar Baku Mutu dan Persyaratan Kesehatan Pangan Siap Saji

Pangan siap saji di ruamh sakit adalah semua makanan dan minuman yang
di sajikan dari dapur ruamh sakit untuk pasien dan karyawan, serta makanan dan
minumn yang dinjual di dalam lingkungan rumah sakit. Pengelolaan pangan siap
saji di rumah sakit merupakan pengelolaan jasaboga golongan B. Jasaboga
golongan B adalah jasaboga yang melayani kebutuhan kusus rumah sakit, asrama
jemaah haji, asrama transito, pengeboran lepas pantai, perusahaan serta angkutan
umum dalam negeri dengan pengolahan yang menggunakan dapur kusus dan
memperkerjakan tenaga kerja.Standar baku mutu dan persyaratan kesehatan untuk
pangan siap saji sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan yang mengatur
mengenai stradar baku mutu dan persyratan kesehatan untuk pangan siap saji.
Selain itu, rumah makan atau restoran dan kantin yang berada di dala lingkungan
ruamah sakit harus memgikuti ketentuan mengenai standar baku mutu dan
persyaratan kesehatan untuk pangan siap saji.

C. Penyediaan Air Bersih

Air bersih merupakan kebutuhan yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan
di rumah sakit. Namun mengingat bahwa rumah sakit merupakan tempat tindakan
dan perawatan rumah sakit maka kualitas dan kuantitasnya perlu dipertahankan
setiap saat agar tidak mengakibatkan sumber infeksi baru bagi penderita.
Tergantung pada kelas rumah sakit dan berbagai jenis pelayanan yang diberikan
mungkin beberapa rumah sakit harus melakukan pengolahan tambahan terhadap
air minum dan air bersih yang telahmemenuhi standar nasional, misalnya bila air
bersih digunakan sebagai bahan baku air untuk dianalisa pada proses mesin
pencuci ginjal (Depkes RI, 1992).

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 492 Tahun 2010 Tentang


“Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air”, air bersih adalah air yang
digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat
keehatan dan dapat diminum apbila telah dimasak. Adapun syarat-syarat
kesehatan air bersih adalah:

a. Persyaratan Biologi

Persyaratan biologis berarti air bersih itu tidak mengandung


mikroorganisme yang nantinya menjadi infiltran tubuh manusia. mikroorgansma
itu dapat dibagi menjadi 4 grup, yaini parasit, bakteri, virus, dan kuman. Dari
keempat jenis mikroorganisme tersebut umurnya yang menjadi parameter kualitas
air adalah bakteri seperti Eschericia Coli.

b. Persyaratan Fisik

Persyaratan fiik air bersih terdiri dari kondisi fisik air pada umumnya,
yakni derajat keasaman, suhu, kejernihan, warna, bau, aspek fisik ini
sesungguhnya penting untuk aspek kesehatan langsung yan terkait dengan kualitas
fisik seperti suhu dan keasaman tapi juga penting untuk menjadi indikator tidak
langsung pada persyaratan biologis dan kimiawi, seperti warna air dan bau.

c. Persyaratan Kimia

Persyaratan kimia menjadi penting karena banyak sekali kandungan


kimiawi air yang memberi akibat buruk pada kesehatan karena tidak sesuai
dengan proses biokimiawi tubuh. Bahan kimiawi seperti nitrat, arsenic, dan
berbagai macam logam berat tubuh dan berubah menjadi racun.
Berbagai sumber untuk menyediakan air bersih antara lain sungai, danau,
mata air, air tanah dapat digunkan untuk kepeningan kegiatan rumah sakit dengan
ketentuan harus memenuhi persyaratan, baik dari segi konstruksi sarana,
pengolahan, pemeliharaan, pengawasan kualitas dan kuantitas.

Sebaliknya rumah sakit mengambil air PAM karena akan mengurangi


beban pengolahan sehingga tinggal beban pengawasan kualitas airnya. Bila PAM,
tidak tersedia didaerah tersebut, maka harus mengusahakan pengolahan sendiri.
Dari berbagai pilihan yang ada, sebaliknya air tanah menjadi pilihan utama
terutama bila keadaan geologi cukup baik karena air tanah tidak banyak
memerlukan pengolahan dan lebih mudah di desinfeksi dibandingkan air
permukaan disamping juga kualitasnya lebih stabil.

Bila air tanah juga tidak mungki, terpaksa harus menyediakan pengolahan
air permukaan. Untuk mmembangun sistem pengolahan perlu mempertimbangkan
segi ekonomi, kemudahan pengolahan, kebutuhan tenaga untuk mengoprasikan
sistem, biaya operasi dan kecukupan supply baik dari segi jumlah maupun mutu
air yang dihasilakan.

Pengolahan air bervariasi tergantung pada karakteristik air dan kualitas


produk yang diharapkan, mulai dari cara paling sederhana, yaitu dengan chorinasi
sampai cara yang lebih rumit. Makin jauh penyimpangan kualitas air yang masuk
terhadap Permenkes No. 492 tahun 2010 semakin rumit pengolahan yang
dilakukan.

pengolahan-pengolahan yang dipertimbangkan adalah sebagai berikut:

a) Tanpa pengolahan (mata air yang dilindungi)


b) Chlorinasi
c) Pengolahan secara kimiawi dan chlorinasi (landon air)
d) Penurunan kadar besi dan chorinasi (air tanah)
e) Pelunakan dan chorinasi (air tanah)
f) Filtrasi pasir lambat (FPL) dan chlorinasi ( sungai daerah pegunungan)
g) Pra-pengolahan FPLclorinasi ( air danau atau waduk)
h) Koagulasi flokulasisedimen filtrasi chorinasi( sungai)
i) Aerasi  koagulasiflokulasisedimentasifiltrasi chlorinasi(sungai
atau kadar danau dengan kadar oksigen terlarut rendah)
j) Pra-pengolahan koagulasiflokulasi
sedimentasifiltrasichlorinasi ( sungai yang sangat keruh)
k) Koagulasiflokulasisedimentasifiltrasipelunakanchlorinasi
(sungai)

D.Pengelolaan Limbah Rumah Sakit

Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan
rumah sakit dalam bentuk padat,cair dan gas.Limbah padat pada rumah sakit akan
dibahas pada sub pengolahan sampah.Sedangkan untuk sub ini khusus untuk
limbah cair

Air limbah rumah sakit adalah buangan cair yang berasal dari hasil proses
seluruh kegiatan rumah sakit yang meliputi : limbah domestik cair yakni buangan
kamar mandi,dapur,air bekas cucian pakian; limbah cair klinis yakni air limbah
yang berasal dari kegiatan klinis rumah sakit misalnya air bekas cucian
luka,cucian darah dll.;air limbah laboratirium,dan lainnya.Air limbah rumah sakit
yang berasal dari buangan domestik maupun buangan limbah cair klinis umumnya
mengandung senyawa polutan organik yang cukup tinggi.Oleh karena itu,harus
dilakukan pengolahan air limbah di Instalansi Pengolahan Air Limbah
(IPAL).Pengolhan limbah cair mempunyai tujuan untuk menghilangkan unsur-
unsur pencemar dari air limbah dan untuk mendapatkan effluent dari pengolahan
yang mempunyai kualitas yang dapat diterima oleh badan air penerima,tanpa ada
gangguan –gangguan fisik,kimiawi,maupun biologi (Djabu dalam Indar, 2014).

E. Penyehatan Tempat Pencucian Linen ( Laundry )

Laundary rumah sakit adalah tempat pencucian linen yang dilengkapi


dengan sarana penunjangannya berupa mesin cuci, alat dan disenfektan, mesin
uap (sistem boiler), pengering, meja dan mesin setrika.

a. Persayaratan

1. Suhu air panas untuk pencucian 70 OC dalam waktu 25 menit dan 95OC
dalam waktu 10 menit.
2. Penggunaan jenis diterjen dan disenpektan untuk proses pencucian yang
ramah lingkungan agar limbah cair yang dihasilkan mudah terurai oleh
lingkungan.

3. Standar kuman bagi linen bersih setelah keluar dari proses tidak

mengandung 6 103 spora spesies Bacillus per inci persegi.

b. Tata Laksana

1. Di tempat laundry tersedia keran air bersi dengan kualitan dan tekanan
aliran yang memadai, air panas untuk disenfeksi dan tersedia disenfektan.

2. Peralatan cuci dipasang permanen dan diletakan dekat denan saluran


pembuangan air limbah serta tersedia mesin cuci yang dapat mencci jenis-jenis
linen yang berbeda.

3. Tersedia ruangan dan mesin cuci yang terpisah untuk linen infeksius dan
nonifeksius.

4. Laundry harus di lengkapi saluran air limbah tertutup yang dilengkapi


dengan pengolahan awal (pri-tretement) sebelum di alirkan ke instalansi
pengolahan air limbah.

5. Laundry harus disediakan ruang-ruang terpisah sesuai kegunaanya yaitu


ruang linen kotor, ruang linen bersih, ruang untuk perlengkapan kebersihan, ruang
perlengkapan cuci, ruang kereta linen, kamar mandi, dan ruang peniris atau
pengering untuk alat-alat termasuk linen.

6. Untuk rumah sakit yang tidak mempunyai laundry tersendiri,


pencucianya dapat berkerjasama dengan pihak lain dan pihak lain tersebut harus
mengikuti persyaratan dan tatalaksana yang telah di tetapkan.

7. Perlakuan terhadap linen

8. Pengumpulan, dilakuakan:
a. Pemilahan antara linen ifeksius dan non infeksius di muali dari
sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong plastik sesuai jenisnya serta
diberi label.

b. Menghitung dan mencatat linen diruangan.

c. Penerimaan

1. Mencatat linen yang diterima dan telah terpilih antara infeksius dan non
ifeksius.

2. Linen di pilih berdasarkan tingkat kekotorannya.

d. Pencucian

1. Menimbang berat linen untuk menyesuaikan dengan kapasitas mesin


cuci dan kebutuhan deterjen dan disenfektan.

2. Membersihkan linen kotor dari tinja, urin, darah, dan muntahan


kemudian merendamnya dengan menggunakan desinfektan.

3. Mencuci dikempokkan berdasarkan tingkat kekotorannya. pengeringan,


penyetrikaan dan penyimpanan

4. Linen harus di pisahkan sesuai jenisnya.

5. Linen baru yang diterima ditempatkan di lemari bagian bawah.

6. Pintu lemari harus selalu tertutup.

e. Distribusi

Distribusi dilakukukan berdasrkan kartu tanda terima dari petugas


penerima, kemudian petugas menyerahkan linen bersih kepada petugas ruangan
sesuai kartu tanda terima.

f. Pengangkutan
1. Kantong untuk membungkus linen bersih harus dibedakan dengan
kantong yang digunakan untuk membungkus linen kotor.

2. Menggunakan kreta dorong yang berbeda dan tertutup antara linen


bersih dan linen kotor. Kreta dorong harus dicuci dengan disenfektan setelah
digunakan mengangkut linen kotor.

3. Waktu pengangkutan linen bersih dan kotor tidak boleh dilakukan


bersamaan.

4. Linen bersih diangut dengan kereta dorong yang bebeda warna.

5. Rumah sakit yang tidak mempunyai laundry tersendiri,


pengangkutannya dari dan ke tempat laundy harus menggunakan mobil kusus.

Petugas yang berkerja dalam pengolaan laundry linen harus menggunakan


pakaian kerja kusus, alat pelindung diri dan dilakuakan pemeriksaan kesehatan
secara berkala, setra dianjurkan memperoleh imunisasi hepatitis B (kemenkes 07,
2019).

F. Pengendalian Serangga, Tikus dan Binatang Pengganggu di Rumah Sakit

Serangga, tikus dan binatag pengganggu (vektor) merupakan masalah rutin


dirumah sakit, karna pengendaliannya harus juga dilakukan secara rutin. Mereka
dapat menjadi pembawa penyakit sekaligus menimbulkan kerugian ekonomi
(Depkes RI,1992).

Karna kebiasaan hidupnya, mereka dapat menimbulkan gangguan


kesehatan. mereka dapat memindahkan kuman secara mekanis baik langsung
dalam makanan/pangan atau tidak langsung dengan mengkontaminasi peralatan
pengolahan makanan dan secara biologis dengan menjadi vektor/ reservoir
beberapa penyakit tertentu antara lain demam berdarah, malaria, disentri, pes dan
salmonelosis. Disamping itu, gigitan serangga dapat juga terjadi picu timbulnya
alergi (Depkes RI,1992).
Vektor (serangga dan tikus), dalam program sanitasi rumah sakit adalah
semua jenis serangga dan tikus yang dapat menularkan beberapa penyakit
tertentu,merusak bahan pangan digudang dan peralatan istalasi rumah sakit. Jadi
pengendalian vektor adalah kegiatan yang bertujuan untuk menekan kepadatan
serangga, tikus dan pengganggu lainnya (Depkes RI,1992).

Apabila serangga, tikus atau binatang pengganggu lainnya tidak


dikendalikan maka berakibat gangguan kesehatan dan menimbulkan kerugian
ekonomi. Tempat perindukan serangga, tikus atau binatang pengganggu
diantaranya sebagai berikut:

a. Tempat penampungan sampah.

b. Saluran air limbah.

c. Tempat penyimpatan, pengolahan dan penyajian makanan.

d. Penampungan air bersih

e. Gudang:Farmasi, peralatan dan lain-lain

Jenis serangga dan binatang pengganggu yang dikendaliakan di antaranya


nyamuk, lalat, rayap, kecoa, lipas, pinjal, tikus, kucing ,dan anjing (Depkes RI,
1992).
PENGOLAHAN SAMPAH DI RUMAH SAKIT

Sampah merupakan bahan- bahan yang tidak berguna, tidak digunakan


ataupun yang terbuang. Sampah rumah sakit mulai disadari sebagai bahan
buangan yang dapat disadari dapat menimbulkan gangguan kesehatan lingkungan
karna berbagai bahan yang terkandung didalamnya dapat menimbulkan dampak
kesehatan dan dapat menimbulkan cedera atau penyalah gunaan karena para
pemlung yang telah mulai terlibat didalamnya (Depkes RI,1992).

Salah satu langkah pokok pengolahan sampah adalah menentukan jumlah


sampah yang dihasilkan. Jumlah ini menentukan jumlah dan volume sarana
penampungan lokal yang harus disediakan: Pemilihan incinerator dan
kapasitasnya, bila rumah sakit memiliki tempat pembuangan sendiri jumlah
produksi dan proyeksinya peru dibuat memperkirakan pembiayaan, dan lain-
lain.Penentuan berat sampah dapat mengunakan ukuran berat atau volume
(Depkes RI, 1992).

Setiap ruangan/unit kerja dirumah sakit merupakan penghasil sampah.


jenis sampah dari setiap ruangan berbeda-beda sesuai dengan penggunaan dari
setiap ruangan/unit yang bersangkutan.
Sumber Sampah Menurut Jenisnya

No Sumber/Area Jenis Sampah

1 Kantor/administrasi Sampah

2 Unit Obstreric dan Obstreric Dressing (pembalut/ pakaian), sponge


ruang perawat (spon/ peng osok), placenta,ampul,termasuk
kapsul perak nitrat, jarum syringie (alat semprot),
masker disposible ( masker yang dpat
dibuang ),disposible drapes (tirai/kain yang dapat
dibuang), sanitary napkin (serbet), blood lancet
disposible (pisau bedah), disposible chateter (alat
bedah),disposible unit enam (alat suntik pada
usus) dipossible diaper (pokok) dan underpad
(alas/bantalan),dan sarung dipossible

3 Unit emergency dan Dressing (pembalut/pakeian),sponge


bedah termasuk ruang (spon/penggosok),jaringan tubuh,termasuk
perawatan amputasi ampul bekas,masker dipossible (masker
yang dapet dibuang),jarumsyring (alat
semprot),drapes(tirai/kain),dipossible blood lancet
(pisau bedah),disposible kantong
colosiomy,underpads (alas/bantal),sarung bedah.

4 Unit laboraturium,ruang Gelas terkontaminasi,termasuk pipet petri


mayat,phatology dan dish,wadah specimen,slide specimen (kaca/alat
autopsy sorong),jaringan tubuh,organ dan tulang

5 Unit Isolasi Bahan-bahan ertas yang mengandung buangan


nasal(hidung) dan sputum (dahak/airliur),dressing
(pembalut/pakean), dan bandages(p

6 Unit Perawat

7 Unit Pelayanan

8 Unit gizi/dapur
9 Halaman rumah sakit