Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PENGGANGU-A

SAMPLING TELUR DAN LARVA NYAMUK

Mata Kuliah : Pengendalian Vektor dan Binatang Penggangu-A

Materi : Sampling Telur dan Larva Nyamuk

Hari/tanggal : Jumat, 22 Maret 2019

Waktu : 08.00 WITA-selesai

Tempat : Lingkungan Perumahan Masyarakat

Pembimbing : I Wayan Sali, S.KM, M.Si

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Nyamuk (Diptera: Culicidae) merupakan vektor beberapa penyakit baik pada
hewan mau pun manusia. Banyak penyakit pada hewan dan manusia dalam penularannya
mutlak memerlukan peran nyamuk sebagai vektor dari agen penyakitnya, seperti filariasis
dan malaria. Sebagian pesies nyamuk dari genus Anopheles dan Culex yang bersifat
zoofilik berperan dalam penularan penyakit pada binatang dan manusia, tetapi ada juga
spesies nyamuk antropofilik yang hanya menularkan penyakit pada manusia..

Sampai saat ini, Indonesia masih menghadapi permasalahan zoonosis yaitu


penyakit yang secara alami dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya.
Nyamuk berperan sebagai pembawa vektor penyakit zoonosis yang dapat mengakibatkan
penyakit chikungunya, demam berdarah dengue, malaria dan japanese encephalitis (JE).
Untuk membantu proses identifikasi morfologi telur dan larva nyamuk pembawa vektor
penyakit zoonosis maka dibuatlah sistem yang diharapkan dapat membantu mempercepat
pengendalian zoonosis dengan pemusnahan sumber zoonosis dan memutus rantai

1
penularan nya salah satunya adalah dengan menggunakan ovitrap sebagai penangkap
telur dan larva nyamuk untuk mengetahui jenis dan populasi nyamuk di suatu wilayah.

B. Tujuan
1. Agar mahasiswa mampu memahami cara pengendalian nyamuk dengan cara
sederhana
2. Agar mahasiswa dapat melakukan sampling telur dan larva nyamuk, serta mengukur
kepadatan nyamuk di suatu wilayah

C. Alat dan Bahan


1. Alat :
a) Senter
b) Gelas plastik
c) Kuas
d) Stik/Paddle
e) Cawan petri
f) Mikroskop
g) Cover glass dan objek glass
h) Mikroskop
i) APD (masker dan handscoon)

2. Bahan :
a) Air hujan
b) Cat hitam
c) Dupa
d) Kloroform
e) Balsem canada
f) Jentik

II. Cara Kerja


Adapun cara kerja dari praktikum adalah sebagai berikut:
A. Pembuatan Ovitrap
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Mengecat gelas plastik dengan cat hitam kurang lebih sampai ½ ukuran gelas, lalu
menunggu cat hingga kering
3. Melubangi bagian batas cat pada gelas plastik menggunakan dupa, selanjutnya
meletakkan stik atau paddle kedalam gelas dengan posisi miring
4. Mengisi gelas dengan air hujan sampai batas lubang, ovitap siap digunakan
B. Sampling Telur dan Larva Nyamuk
1. Meletakkan ovitrap di wilayah yang akan diukur kepadatan telur dan nyamuk (diluar
dan didalam ruangan)

2
2. Meninggalkan ovitrap selama 1-7 hari sampai terlihat ada telur menempel pada
stik/paddle, dalam kegiatan ini harus diusahakan untuk mengamati perkembangan
ovitrap setiap harinya
3. Setelah hari ke-7, lanjutkan dengan mengambil ovitrap kemudian dituangkan ke
wadah bening
4. Mengamati jika ditemukan telur maupun larva nyamuk
5. Mencatat hasil yang didapat lalu menyiapkan larva untuk diidentifikasi

III. Hasil dan Pembahasan


Adapun hasil pembahasan yang didapatkan dari praktikum ini adalah sebagai
berikut:
Tabel Pengamatan

NO Tempat Peletakkan Ovitrap Jumlah Telur Keterangan


1. Dalam Ruangan 0 (nol) Tidak ditemukan telur, larva
maupun nyamuk
2. Luar Ruangan 0 (nol) Tidak ditemukan telur, larva
maupun nyamuk

Berdasarkan tabel pengamatan diatas, didapatkan hasil bahwa ovitrap yang


terpasang atau diletakkan di luar dan di dalam ruangan tidak terdapat telur, larva, maupun
nyamuk. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor seperti cat yang masih berbau
kimia pada gelas plastik, ataupun stik/paddle berisi pengawet didalamnya sehingga membuat
nyamuk enggan untuk bertelur didalamnya.

Tabel Pengamatan Jentik

N Nama KK Positif Jentik Negatif Jentik Keterangan


O
1. Andre Poulta √ Ditemukan larva di ban bekas,
letaknya diluar rumah
2. Made Dharmayasa √ Ditemukan larva ditempat
penampungan air hujan
3. Made Parsua √ Tidak ditemukan larva di container
yang ada
4. Made Sudartha √ Tidak ditemukan larva di container
yang ada

3
5. Ngurah Sujana √ Tidak ditemukan larva di container
yang ada
6. Made Andrik √ Tidak ditemukan larva di container
yang ada
7. Nyoman Patra √ Tidak ditemukan larva di container
yang ada
8. Gede Bayu √ Ditemukan larva pada jading,
letaknya diluar rumah
9. Nyoman Artawa √ Tidak ditemukan larva di container
yang ada
10. Ketut Jedit √ Tidak ditemukan larva di container
yang ada

Dari data diatas, dapat diukur kepadatan nyamuk dengan rumus :

a. House Index (HI) : Jumlah rumah positif jentik x 100%


Rumah yang diperiksa

= 3 x 100% = 30%
10

b. Container Index (CI) : Container positif jentik x 100%


Container yang diperiksa

= 8 x 100% = 7,7%
103

c. Breteau Index (BI) : Jumlah container positif jentik x 100%


Rumah yang diperiksa

= 8 x 100% = 80%
10

d. Angka Bebas Jentik : Jumlah rumah negatif jentik x 100%


Jumlah rumah yang diperiksa

= 7 x 100% = 70%
10

Tabel : Larva Index (Sumber : WHO, 1972)

4
Density Figure (DF) House Index (HI) Container Index (CI) Breteau Index (BI)
1 1-3 1-2 1-4
2 4-7 3-5 5-9
3 8-17 6-9 10-19
4 18-28 10-14 20-34
5 29-37 15-20 35-49
6 38-49 21-27 50-74
7 50-59 28-31 75-99
9 60-76 31-40 100-199
10 >77 >41 >200

Berdasarkan hasil yang didapat maka nilai Density Figure pada House Index
adalah 5, sedagkan container Index adalah 3, Breteau Index adalah 7, dan Angka Bebas
Jentik 70%.

IV. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan dan praktikum ini, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat telur,
jentik, maupun nyamuk pada ovitrap yang diletakkan selama 1-7 hari (hasil negatif). Pada
sampling larva ditemukan 8 container positif jentik dan 95 container negatif jentik.
Sedangkan ada 3 rumah yang positif jentik dan 7 rumah negatif jentik. Dengan hasil Density
Figure (DF) dari HI = 5, CI = 3, BI = 7, dan Angka Bebas Jentik adalah 70%.
V. Lampiran Gambar

5
LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, 23 Maret 2019


Mengetahui, Mahasiswa

I Wayan Sali, S.KM., M.Si Ni Komang Della Trisna Dewi


Nip. 196404041986031008 Nim. P07133217021

6
LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PENGGANGU-A

IDENTIFIKASI LARVA NYAMUK

Mata Kuliah : Pengendalian Vektor dan Binatang Penggangu-A

Materi : Identifikasi Larva Nyamuk

Hari/tanggal : Selasa, 2 April 2019

Waktu : 08.00 WITA-selesai

Tempat : Laboratorium Parasitologi

Pembimbing : I Wayan Sali, S.KM, M.Si

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Jentik merupakan tahap larva dini nyamuk. Jentik hidup di air dan memiliki
prilaku mendekat atau menggantung pada permukaan air untuk bernapas. Nama jentik
berasal dari gerakannya ketika bergerak di air. Dikenal pula dalam Bahasa local sebagai
(en) cuk atau uget-uget.
Jentik menjadi sasaran dalam pengendalian populasi nyamuk yang berperan
sebagai vector penyakit menular melalui nyamuk, seperti malaria dan demam berdarah
dengue.
Jentik akan melalui 4 tahap pertumbuhan (instar) selama kurun waktu 7 sampai
dengan 10 hari hingga akhirnya masuk ke dalam tahapan metamorphosis nyamuk
selanjutnya yaitu menjadi pupa.
B. Tujuan
1. Agar mahasiswa dapat melakukan cara kerja identifikasi nyamuk
2. Agar mahasiswa dapat mengidentifikasi nyamuk
3. Agar mahasiswa mengetahui perbedaan ciri-ciri jentik
C. Alat dan Bahan
1. Alat :
a) Objek glass
b) Cover glass
c) Pipet tetes

7
d) Beaker glass
e) Mikroskop
f) Cawan petri
g) Jarum seksi
h) APD
2. Bahan :
a) Jentik
b) Alkohol
c) Kapas
d) Balsam kanada
e) Tissue
f) Chloroform

II. Cara Kerja


A. Identifikasi Jentik
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Memipet air yang berisi jentik nyamuk, meletakkan di cawan petri
3. Menghilangkan air yang berada di cawan petri dengan tissue, jangan sampai
terkena jentik yang berada di cawan petri
4. Meneteskan chloroform ke cawan petri yang berisi jentik, jangan meneteskan
chloroform di atas jentik
5. Menunggu jentik mati
6. Mengambil jentik, lalu meletakkan jentik di onjek glass (posisi jentik tengkurap).
Merapikan bentuk jentik dengan jaruk seksi agar jelas terlihat di mikroskop
7. Mengamati preparat jentik di bawah mikroskop dengan pembesaran 10x
8. Mengidentifikasi jentik yang diamati
9. Mencatat hail yang di dapat
B. Preparat Permanen
1. Preparat yang telah dibuat dilapisi balsam kanada pada pinggir cover glass
2. Menunggu 1-2 hari hingga balsam kanada kering
3. Preparat permanen dapat digunakan

III. Hasil dan Pembahasan


Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan jentik nyamuk Aedes Aegypti
yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Larva mempunyai sifon seperti terompet atau corong udara pada segmen VIII
b. Sifon dengan satu berkas rambut di seberang distal pekten
c. Memiliki sisir pada ruas ke 8 abdomen mempunyai gigi-gigi yang bergerigi (duri
lateral)

8
Ada 4 tingkatan (instar) larva nyamuk, masing-masing tingkatan mempunyai ciri-ciri
dan ketahanan yang berbeda. Tingkatan larva tersebut adalah :
a. Larva instar I berukuran paling kecil, yaitu 1-2mm atai 1-2 hari setelah telur menetas,
duri-duri (spinae) pada dada belum jelas dan corong pernafasan pada siphon belum
jelas.
b. Larva instar II berukuran 2,5-3,5mm atau 2-3 hari setelah telur menetas, duri-duri
belum jelas, corong kepala mulai menghitam
c. Larva instar III berukuran 4-5mm atau 3-4 hari setelah telur menetas, duri-duridada
mulai jelas dan corong pernafasan berwarna coklat kehitaman
d. Larva IV berukuran paling besar yaitu 5-6mm atau 4-6 hari setelah telur menetas,
dengan warna kepala gelap
Jentik yang diidentifikasi pada saat praktikum didapatkan larva instar IV. Di dalam
pelaksanaan praktikum biasanya digunakan larva instar III dan IV dikarenakan pada tingkatan ini
anatomi dari larva nyamuk sudah terlihat jelaas.

IV. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa hasil dari praktikum yang telah
dilaksanakan, didapatkan larva Aedes Aegypti dengan ciri-ciri memiliki sifon seperti
terompet, sisir yang berduri lateral. Larva nyamuk biasanya berada di air yang bersih, dan
pada saat istirahat larva akan membentuk sudut. Untuk identifikasi jentik biasanya
digunakan larva instar III atau instar IV.

LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, 4 April 2019


Mengetahui, Mahasiswa

9
I Wayan Sali, S.KM., M.Si Ni Komang Della Trisna Dewi
Nip. 196404041986031008 Nim. P07133217021

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PENGGANGU-A

PENANGKAPAN NYAMUK DI DALAM DAN DI LUAR RUMAH

Mata Kuliah : Pengendalian Vektor dan Binatang Penggangu-A

Materi : Penangkapan Nyamuk Di Luar dan Di Dalam Rumah

Hari/tanggal : Senin, 15 April 2019

Waktu : 14.00 – 15.00 WITA

Tempat : Kampus Poltekkes Kemenkes Denpasar

Pembimbing : I Wayan Sali, S.KM, M.Si

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Nyamuk selalu dapat menemukan sasarannya dengan tepat karena mereka melihat
dengan gerakan, panas tubuh, dan bau tubuh. Sewaktu nyamuk hinggap di tubuh dia
menempelkan mulutnya yang mirip sedotan disebut juga probosis. Lalu terdapat pisau
yang merobek kulit kamu maju mundur, hingga menemukan urat darah, setelah itu baru
darah yang ada di hisap. Dalam prosesnya nyamuk juga mengeluarkan air liur yang
mengandung antikoagulan untuk mencegah darah yang dia hisap membeku. Proses ini
berlangsung cepat dan seolah-olah proses yang terjadi adalah nyamuk menusuk tubuh
padahal tidak begitu, nyamuk membedah kita seperti layaknya dokter bedah yang cepat
dan akurat. Setelah nyamuk kenyang dia akan mencabut probiosis dan terbang. Air liur
yang tertinggal di kulit kita akan merangsang tubuh layaknya ada benda asing yang
10
mengganggu, terjadilah proses yang dikenal dengan alergi, dan yang terjadi adalah
bentol-bentol dan gatal.
Alat yang dapat digunakan untuk menangkap nyamuk salah satunya adalah
aspirator. Alat ini memungkinkan pengguna untuk menghisap dan menangkap nyamuk
tanpa menelannya. Aspirator sering digunakan oleh ahli entomologi di lapangan maupun
di laboratorium dalam hal penelitian penyakit yang ditularkan oleh vektor (vector borne
disease).

B. Tujuan
1. Agar mahasiswa mampu melakukan penangkapan nyamuk menggunakan aspirator
2. Agar mahasiswa mampu membandingkan jenis dan morfologi nyamuk, serta
menghitung kepadatan nyamuk di suatu wilayah
C. Alat dan Bahan
1. Alat :
a) Aspirator
b) Gelas platik
c) APD

2. Bahan :
a) Kapas
b) Karet gelang
c) Kain kasa
d) Air gula

II. Cara Kerja


A. Pembuatan Cup Wadah Nyamuk
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, membasahi kapas dengan air gula
lalu memasukkannya kedalam gelas plastik
2. Menutup gelas plastik dengan kasa yang telah dilubangi
3. Mengikat kain dengan karet gelang, cup wadah nyamuk siap digunakan

B. Pengecatan gram

1. Menyiapkan alat aspirator dan cup wadah nyamuk


2. Melakukan penangkapan nyamuk dengan aspirator, dimana orang yang menjadi
umpan menggulung lengan dan celana untuk menarik perhatian nyamuk selain itu
cari nyamuk yang berada di dinding atau di beberapa pohon.

11
3. Apabila terdapat nyamuk yang menggigit atau hinggap maka di hisap menggunakan
aspirator dan ujung telunjuk memegang bibir aspirator. Untuk lebih efektifnya
aspirator berada di bagian belakang nyamuk agar tidak mengganggu nyamuk yang
sedang mengigit umpan.
4. Umpan yang masuk pada aspirator segera ditutup dengan jari telunjuk.
5. Memasukkan nyamuk pada cup, tiup lalu tutup wadah dengan kapas yang telah diberi
larutan gula.
6. Mencatat hasil yang didapatkan

III. Hasil
Adapun hasil dan pembahasan yang didapatkan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

Tabel Pengamatan

N Anggota yang Tempat Jumlah Jenis Waktu Keterangan


O Menangkap Penangkapan Nyamuk yang Nyamuk Penangkapa
Ditangkap yang n
Ditangkap
1. Putra Wardhana Dalam - - 10 menit

Luar 1 ekor Aedes 10 menit


Aegypti
2. Ari Widya Dalam - - 10 menit
Luar 1 ekor Aedes 10 menit
Aegypti
3. Della Trisna Dalam 1 ekor Aedes 10 menit
Aegypti
Luar 1 ekor Aedes 10 menit
Aegypti
4. Cristin Parwasih Dalam - - 10 menit
Luar 1 ekor Aedes 10 menit
Aegypti
5. Gus Putra Dalam 1 ekor Aedes 10 menit
Aegypti
Luar 1 ekor Aedes 10 menit
Aegypti
6. Astiti Rahayu Dalam 1 ekor Aedes 10 menit
Aegypti
Luar 1 ekor Aedes 10 menit
Albopictus

12
Jumlah nyamuk yang ditangkap = 9 ekor 1 ekor nyamuk Aedes Albopictus
8 ekor nyamuk Aedes Aegypti
Lokasi : Kampus Poltekkes Denpasar
Berdasarkan tabel diatas didapatkan 9 ekor nyamuk, dimana 8 nyamuk berjenis
Aedes Aegypti dan 1 Aedes Albopictus yang ditangkap selama 1 jam dengan pembagian
waktu 10 menit/orang. Penangkapan dilakukan di dalam dan di luar ruangan.
Perhitungan Kepadatan Nyamuk :
Man Hour Density (MHD) : jumlah nyamuk hinggap di dinding
MHD : Jumlah nyamuk tertangkap x
Jumlah jam penangkapan x jumlah penangkap

= 3 x= 3 x = 1,33 nyamuk/orang/hari → 1
45/60 x 3 2,25

Man Biting Rate (MBR) : jumlah nyamuk mengigit per orang per hari
MHD : Jumlah nyamuk tertangkap pada umpan manusia x
Jumlah jam penangkapan x jumlah penangkap

= 6 x= 6 x = 1,33 nyamuk/orang/hari → 1
45/60 x 6 4,5

IV. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan dan praktikum ini, dapat disimpulkan bahwa nyamuk yang
ditangkap sebanyak 9 ekor dengan 8 ekor jenis Aedes Aegypti dan 1 ekor jenis Aedes
Albopictus yang ditangkap di lingkungan Kampus Poltekkes Denpasar pada pukul 14.00-
15.00 WITA, nilai MHD = 1 dan MBR = 1.

V. Lampiran Gambar

13
LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, 16 April 2019


Mengetahui, Mahasiswa

I Wayan Sali, S.KM., M.Si Ni Komang Della Trisna Dewi


Nip. 196404041986031008 Nim. P07133217021

14
LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PENGGANGU-A

IDENTIFIKASI NYAMUK DEWASA

Mata Kuliah : Pengendalian Vektor dan Binatang Penggangu-A

Materi : Identifikasi Nyamuk Dewasa

Hari/tanggal : Selasa, 23 April 2019

Waktu : 08.00 WITA-selesai

Tempat : Laboratorium Parasitologi

Pembimbing : I Wayan Sali, S.KM, M.Si

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Nyamuk merupakan vektor beberapa penyakit baik pada hewan mau pun
manusia. Banyak penyakit pada hewan dan manusia dalam penularannya mutlak
memerlukan peran nyamuk sebagai vektor dari agen penyakitnya, seperti filariasis dan
malaria. Sebagian pesies nyamuk dari genus Anopheles dan Culex yang bersifat zoofilik
berperan dalam penularan penyakit pada binatang dan manusia, tetapi ada juga spesies
nyamuk antropofilik yang hanya menularkan penyakit pada manusia..

Di indonesia sendiri sebagai daerah tropis merupakan tempat yang sangat baik
untuk perindukan nyamuk, hal ini dikarenakan suhu, cuaca serta musim di indonesia
sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk. Sehingga, populasi nyamuk di indonesia
tinggi. Nyamuk yang berkembang biak di indonesia antara lain Nyamuk Anopheles yang
menyebabkan penyakit malaria, Nyamuk Culex yang menyebabkan penyakit filariasi,
dan Aedes Aegypti yang menyebabkan penyakit DBD.

Untuk melakukan pengendalian terhadap vektor nyamuk ini perlu dilakuka


indentifikasi terhadap nyamuk. Identifikasi yang dilakukan yaitu mengenai siklus hidup,

15
resting places, kebiasaan hidup, serta bentuk morfologi nyamuk. Identifikasi ini sangat
penting untuk mengetahui cara pengendalian yang cocok sesuai dengan karakteristik
nyamuk.

B. Tujuan
3. Agar mahasiswa mampu mengamati karakteristik nyamuk
4. Agar mahasiswa mampu membedakan jenis nyamuk

C. Alat dan Bahan


3. Alat :
j) Lup
k) Objek glass
l) Jarum seksi
m) Paer cup
n) Mikroskop

4. Bahan :
g) Kapas
h) Chloroform
i) Air gula
j) Nyamuk

II. Cara Kerja


Adapun cara kerja dari praktikum adalah sebagai berikut:
5. Menyiapkan alat dan bahan
6. Menyiapkan kapas yang telah ditetesi chloform
7. Memasukan kapas kedalam paper cup yang telah berisi nyamuk
8. Menunggu hingga namuk mati
9. Mengeluarkan nyamuk dari paper cup
10. Meletakan nyamuk diatas objek glass dengan posisi tengkurap
11. Mengamati dengan bantuan lup
12. Mengamati kembali dengan mikroskop untuk memperjelas
13. Membandingkan hasil dengan kunci identifikasi
14. Menggambar hasil yang telas diamati

III. Hasil dan Pembahasan


Adapun hasil pembahasan yang didapatkan dari praktikum ini adalah sebagai
berikut:
A. Hasil:

16
B. Pembahasan:
Adapun ciri – ciri nyamuk Aedes Albopictus betina antara lain :
 sisik – sisik sayap simetris
 kaki bergelang warna putih
 probocis seluruhnya gelap
 bentuk palpi sejajar dengan probocis
 warna probocis seluruhnya gelap
 terdapat garis putih bilateral pada bagian thorax
Nyamuk yag ditemukan berjenis Aedes Albopictus betina, penangkapan nyamuk
pada malam hari di belakang Kampus Poltekkes Denpasar dan menggunakan
metode MBR (Man Biting Rate) atau umpan badan.

IV. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan dan praktikum ini, dapat disimpulkan bahwa melalui pengamatan
didapatkan hasil Aedes Albopictus betina dengan ciri – ciri yang mencolok pada palpi yang
sejajar dengan probocis.

LEMBAR PENGESAHAN

17
Denpasar, 24 April 2019
Mengetahui, Mahasiswa

I Wayan Sali, S.KM., M.Si Ni Komang Della Trisna Dewi


Nip. 196404041986031008 Nim. P07133217021

18
LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PENGGANGU-A

PEMERIKSAAN PERUT NYAMUK & UMUR NYAMUK

Mata Kuliah : Pengendalian Vektor dan Binatang Penggangu-A

Materi : Pemeriksaan Perut Nyamuk & Umur Nyamuk

Hari/tanggal : Selasa, 23 April 2019

Waktu : 08.00 WITA - selesai

Tempat : Laboratorium Parasitologi

Pembimbing : I Wayan Sali, S.KM., M.Si

I. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu
infectious agent dari sumber infeksi kepada induk semag yang rentan. Bagi dunia
kesehatan masyarakat, binatang yang termasuk kelompok vector yang dapat merugikan
kehidupan manusia karena disamping mengganggu secara langsung juga sebagai
perantara penularan penyakit. Hewan yang termasuk kedalam vector penyakit yaitu salah
satunya Nyamuk. Vector nyamuk yang terdapat di pemukiman perkotaan dapat
memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat, antara lain nyamuk AedesAegypti
(menyebabkan penyakit demam beradarah dan cikungunya), Anopheles (menyebabkan
penyakit malaria) dan nyamuk Culex (menyebabkan penyakit kaki gajah). Struktur umur
nyamuk dinyatakan dalam perubahan sistem reproduksi nyamuk betina dengan mengikuti
selesainya siklus gonadotropik. Untuk mengetahui umur relative suatau vector (nyamuk)
adalah dengan tingkat dilatasi pada saluran telur (pediculus) atau dengan melihat
parousitas (parity rate) yang dapat dilakukan dengan pembedahan ovarium nyamuk.
(Depkes, 2002)

19
Apabila ujung-ujung pipa udara (tracheolus) pada ovarium masih menggulung
dan ovarium belum besar, berartinyamuk itu belum pernah bertelur (nulli parous).
Sedangkan, bila pipa-pipa udara sudah terurai atau terlepas gulungannya serta ovarium
membesar maka nyamuk itu sudah pernah bertelur (parous). (Munif, 2007)
Nyamuk betina parous atau kenyang darah yang telah melengkapi satu atau lebih
siklus gonadotropik dan memiliki peluang lebih besar terinfeksi parasite daripada
nyamuk betina yang baru pertama kali menghisap darah.
2. Tujuan
a. Agar mahasiswa mampu menentukan perbedaan nyamuk jantan dan nyamuk betina
b. Agar mahasiswa mampu membedakan nyamuk nulli parous dan parous
c. Agar mahasiswa mampu menentukan umur nyamuk
3. Alat dan Bahan
a. Alat :
a) Mikroskop
b) Onjek glass
c) Jarum seksi
d) Paper cup

b. Bahan :
a) Chloroform
b) Air gula
c) Kapas
d) Garam fisiologis
e) Nyamuk

II. Cara Kerja


Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai
berikut :
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Memasukkan sedikit kapas yang berisi chloroform ke paper cup
3. Memindahkan nyamuk yang telah mati ke objek glass yang berisi garam fisiologis
4. Memisahkan bagian abdomen dan thorax dengan cara memegan 1 jarum seksi dan tusuk
bagian thorax kemudian 1 jarum munusuk bagian abdomen
5. Memisahkan bagian kepala, sayap, dll dan susakan bagian abdomennya saja
6. Mengoyak bagian abdomen sampai ovariumnya keluar
7. Menguraikan ovariumnya sampai tipis
8. Mengamati dengan mikroskop

III. Hasil dan Pembahasan


1. Hasil

20
2. Pembahasan
Jenis nyamuk yang dibedah adalah Aedes Albopictus betina yang sudah pernah bertelur
(parous) karena pada saat pengamatan di mikroskop dapat dilihat ujung-ujung pipa udara
pada ovarium sudah terurai atau terlepas gulungannya dan ovarium tampak besar.
Adapun klarifikasi dari nyamuk yang diidentifikasi adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Diptera
Family : Culicidae
Genus : Aedes
Species : Albopictus
Penangkapan nyamuk dilakukan di halaman belakang kampus Direktorat Poltekkes
Kemenkes Denpasar pada pukul 17.00 WITA.

IV. Kesimpulan

Dari pratikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa nyamuk betina yang
telah bertelur disebut parous dengan ciri-ciri di bawah mikroskop terdapat ovarium yang
telah terurai. Dengan jenis nyamuk Aedes Albopictus.

LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, 24 April 2019


Mengetahui, Mahasiswa

21
I Wayan Sali, S.KM., M.Si Ni Komang Della Trisna Dewi
Nip. 196404041986031008 Nim. P07133217021

22
LAPORAN PRAKTIKUM

PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PENGGANGU-A

IDENTIFIKASI VEKTOR LALAT

Mata Kuliah : Pengendalian Vektor dan Binatang Penggangu-A

Materi : Identifikasi Vektor Lalat

Hari/tanggal : Jumat, 26 April 2019

Waktu : 08.00 WITA-selesai

Tempat : Laboratorium Parasitologi

Pembimbing : I Wayan Sali, S.KM, M.Si

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Lalat merupakan salah satu insekta Ordo diptera yang merupakan anggota kelas
Hexapoda atau insekta mempunyai jumlah genus dan spesies yang terbesar yaitu
mencangkup 60-70 % dari seluruh spesies Anthorpoda. Mulutnya digunakan sebagai alat
untuk menghisap atau menjilat. Lalat merupakan vector mekanis dari berbagai macam
penyakit terutama penyakit-penyakit pada saluran pencernaan.
Lalat juga merupakan spesies yang berperan dalam masalah kesehatan masyarakat
yaitu sebagai vector penularan penyakit saluran pencernaan, seperti kolera, thypus,
disentri, dan lain-lain. Pada saat ini dijumpai ± 60.000-100.000 spesies lalat, tetapi tidak
semua spesies perlu diawasi karena beberapa diantaranya tidak berbahaya terhadap
kesehatan masyarakat.
Penularan penyakit dapat terjadi melalui semua bagan dari tubuh lalat, seperti
bulu badan, bulu pada anggota gerak, muntahan serta faecesnya. Dalam upaya
pengendalian penyakit menular tidak terlepas dari usaha peningkatan kesehatan
lingkungan, salah satu kegiatan adalah pengendalian vector.
Oleh karena itu, makanan yang telah dihinggapi lalat sebaiknya tidak di konsumsi
oleh manusia dan tidak masuk ke dalam pencernaan kita yang sehat, karena lalat
membawa mikroorganisme penyebab penyakit yang ditularkan ke manusia melalui
makanan yang dihinggapi lalat tersebut.

23
B. Tujuan
3. Agar mahasiswa mampu melakukan identifikasi jenis lalat.
4. Agar mahasiswa dapat mengetahui morfologi lalat
C. Alat dan Bahan
4. Alat :
d) Cawan petri
e) Pinset
f) Lup
g) Mikroskop
h) Objek glass
i) Paper cup
j) Jarum seksi

5. Bahan :
a) Chloroform
b) Kapas
c) Lalat
d) APD
II. Cara Kerja
Adapun cara kerja dari praktikum adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Memasukkan kapas yang telah berisi chloroform ke paper cup/ wadah lalat.
3. Menunggu ± 5 menit sampai lalat benar-benar mati.
4. Memindahkan lalat yang telah mati ke cawan petri
5. Mengambil 1 ekor lalat dengan pinset secara berhati-hati.
6. Meletakkannya di atas objek glass.
7. Mengamati lalat menggunakan lup/mikroskop ( posisi lalat tengkurap )
8. Mencatat ciri-ciri lalat yang diamati dan membandingkan dengan kunci identifikasi lalat.

III. Hasil dan Pembahasan

24
Adapun hasil pembahasan yang didapatkan dari praktikum ini adalah sebagai
berikut:

Gambar. Lalat yang sedang diamati di mikroskop

Ciri- ciri lalat yang telah diidentifikasi, yaitu:


1. Berwarna hitam keabu-abuan.
2. Terdapat 4 garis memanjang pada thorax.
3. Ukuran lalat 7 mm.
4. Probosis seperti paruh yang menjalar

Dari ciri- ciri yang telah diidentifikasi dapat diketahui bahwa lalat yang di
tangkap merupakan jenis lalat rumah ( Musca Domestica ). Adapun klasifikasi lalat
rumah adalah sebagai berikut:

 Kingdom: Animalia.

 Phylum : Arthopoda.

 Kelas : Hexapoda.

 Ordo : Diptera.

 Family : Muscidae.

 Genus : Musca.

 Spesies : Musca domestica.

25
IV. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan dan praktikum ini, dapat disimpulkan bahwa lalat
merupakan serangga pembawa penyakit, terutama pada saluran pencernaan. Setelah
diidentifikasi ditemukan lalat spesies Musca domestica atau biasa disebut lalat rumah dengan
ukuran 7 mm, berwarna hitam keabu-abuan, terdapat 4 garis memanjang pada thorax dan
proboscis seperti paruh yang menjalar.

LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, 28 April 2019


Mengetahui, Mahasiswa

I Wayan Sali, S.KM., M.Si Ni Komang Della Trisna Dewi


Nip. 196404041986031008 Nim. P07133217021

26