Anda di halaman 1dari 14

Inseminasi Intra Uterin

Batasan
Inseminasi intra uterin adalah salah satu tehnik inseminasi semen yang dilakukan intra
uterin, sebagai bagian dari ruang lingkup inseminasi artifisial yang dapat juga dilakukan
intra vaginal, intra servikal dan intra peritoneal. IUI di Rumah Sakit Sanglah hanya
dilakukan dengan semen suami (Tidak boleh donor).
Seleksi Penderita
Inseminasi termasuk pada tindakan “pengobatan” sehingga sebelumnya harus di
dahului dengan pemeriksaan infertilitas dasar meliputi faktor suami (AS), faktor
serviks (UPS), faktor uterus, tuba dan peritoneum (HSG/histeroskopi dan atau
Laparoskopi), serta faktor ovulasi.
Kontra Indikasi IUI
1) Patologi Tuba.
2) Infeksi traktus genitalia.
3) Abnormalitas semen yang berat.
4) Abnormalitas genetik suami.
5) Perdarahan-perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya.
6) Massa pelvis.
7) Wanita tua.
8) Infertilitas dengan penyebab multipel.
9) Pelvic surgery.
10)Keadaan dimana kehamilan merupakan kontra indikasi.
11) Penyakit berat pada pasangan/keduanya.
12)Mendapat Kemoterapi/Radioterapi.
13)Kegagalan IUI yang berulang (lebih dari 6 siklus).
Indikasi IUI
1) Faktor serviks.
2) Gangguan Ovulasi.
3) Endometriosis ringan.
4) Faktor Imunologi.
5) Faktor suami.
6) Unexplained Infertility.

HCG(malam) Inseminasi Support Iuteal II

Induksi Ovulasi Support Iuteal I


34-36 Jam

1 2 3 12 Haid hari 14
“0” “+4” “+7” “+16”
TVS
Lab : LH, FSH,E 2, & PRL
Lab hormon:
TVS
 hCG, E 2
Lab. : E 2 (pagi)
Tambahan :

PENDAHULUAN

Sekitar 10% pasangan yang sudah menikah belum hamil dalam satu tahun
pertama perkawinan walaupun mereka melakukan senggama secara teratur tanpa
kontrasepsi. Di antara pasangan usia subur ini, sekitar 10-15% memiliki masalah
fertilitas yang mendapat kesulitan untuk hamil dan memerlukan penanganan medik.
Perkembangan teknologi rekayasa reproduksi saat ini telah banyak memberi harapan
kepada pasangan infertil, salah satu yang sederhana adalah melalui inseminasi buatan.
(2)
Istilah inseminasi buatan mencakup teknik inseminasi yang dapat dilakukan
intravaginal, intraservikal, intraperitoneal atau intrauterine. Inseminasi buatan telah
dikerjakan bertahun-tahun terhadap berbagai indikasi dan menggunakan baik sperma
suami maupun donor. Hampir 200 tahun, sejak John Hunter melakukan injeksi cairan
semen laki-laki yang menderita hipospadia ke vagina istrinya dengan menggunakan
siring, menghasilkan kehamilan normal. Pada abad ke-19, Sims melakukan inseminasi
buatan terhadap enam wanita dengan uji pasca senggama negatif, menggunakan
cairan semen suami yang didapat dari vagina setelah senggama; satu kehamilan
dihasilkan. Kasus inseminasi donor manusia pertama kali dilaporkan oleh William
Pankhurst pada tahun 1984 di Philadelphia, USA.(1)
Inseminasi intrauterin adalah metode yang paling umum digunakan diantara
prosedur inseminasi buatan dan relatif lebih sederhana dan murah dibandingkan
prosedur fertilisasi invitro. Metode ini dilakukan dengan menempatkan secara langsung
sperma yang telah dicuci dan dipreparasi kedalam kavitas uterus, sekitar waktu ovulasi
spontan atau yang diinduksi. Inseminasi intrauterin memiliki angka keberhasilan lebih
tinggi daripada inseminasi intravagina atau intraservikal, karena penempatan sperma
motil dekat dengan tuba fallopii dan bila dikombinasikan dengan stimulasi ovarium,
menghasilkan lebih dari satu oosit yang diinseminasi dan terfertilisasi.(3)
Manfaat penggunaan inseminasi intrauterin adalah untuk mengurangi pengaruh
faktor-faktor seperti sifat tidak bersahabat dari keasaman vagina dan mukus serviks
serta memberi keuntungan dalam menempatkan sperma yang secara morfologi dan
motilitas normal sedekat mungkin dengan oosit.(1) Meskipun demikian, prosedur
inseminasi buatan bukanlah tanpa masalah. Mulai dari komplikasi, kegagalan dan
aspek etik-medikolegal yang membuat prosedur ini harus dikerjakan dengan
memperhatikan multi-aspek.

INSEMINASI BUATAN
Definisi
Inseminasi buatan adalah istilah untuk penempatan sperma pada atau dekat
traktus reproduksi wanita. Sperma dapat ditempatkan dalam vagina (inseminasi
intravagina), serviks (inseminasi intraservikal), kavum uterus (inseminasi intrauterin),
folikel ovarium (inseminasi intrafolikel), tuba fallopii (inseminasi intratubal), dalam pelvis
dekat tuba dan ovarium (intraperitoneal) dengan menggunakan alat bantu.
2.2. Sejarah
Prosedur ini awalnya dilakukan pada peternakan-peternakan sapi dalam upaya
membuat sapi hamil dengan menggunakan sperma banteng dengan tujuan
meningkatkan produksi susu. Meskipun penggunaannya secara komersial pada
binatang baru pada tahun 1937, inseminasi buatan berawal dari penemuan
spermatozoa melalui mikroskop oleh Leeuwenhoek pada tahun 1677 dan pada tahun
1780 Spallanzani di Italia menemukan bahwa seekor anjing menjadi hamil dengan
bagian seluler dari cairan semen. Pada tahun 1900 di Rusia, Ivanov mengembangkan
prosedur inseminasi buatan pada kuda dan pada tahun 1933 ia berhasil
mengembangkan metode untuk pengumpulan semen untuk diinseminasikan pada
kuda, ternak, biri-biri dan babi.(4) Pada manusia, teknik ini dikerjakan pertama kali
sekitar 200 tahun yang lalu oleh John Hunter pada seorang wanita dengan
menggunakan sperma suaminya yang menderita hypospadia sehingga mendapatkan
kehamilan normal. Pada abad ke-19, Sims melakukan inseminasi buatan terhadap
enam wanita dengan uji pasca senggama negatif, menggunakan cairan semen suami
yang didapat dari vagina setelah senggama; dan satu kehamilan dihasilkan. Kasus
inseminasi donor manusia pertama kali dilaporkan oleh William Pankhurst pada tahun
1984 di Philadelphia, USA.(1)
2.3. Teknik Inseminasi
Terdapat berbagai cara untuk meletakkan sperma ke dalam genitalia wanita
sesuai perkembangan dan kemajuan teknik monitoring pertumbuhan folikel, penentuan
saat ovulasi dan kemajuan dalam persiapan sperma untuk inseminasi. Secara garis
besar teknik inseminasi dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
1. Prosedur in-vitro (ekstrakorporeal), misalnya pada inseminasi invitro dengan
tandur alih zigot
2. Prosedur in-vivo:
a. Inseminasi intravaginal. Teknik ini sangat jarang dilakukan tetapi masih
mempunyai tempat bagi pasangan dengan pasangan wanita memiliki siklus
ovulasi yang teratur. Waktu inseminasi ditentukan sekitar ovulasi yang
diprediksi dengan metode clear plan untuk menentukan puncak LH urine
yang lebih akurat daripada pemeriksaan suhu basal badan atau mukus
serviks. Inseminasi dilakukan 24 jam setelah LH surge. Ejakulat total atau
split ejakulat dikumpulkan pada wadah (pot) steril dan dimasukkan kedalam
syringe steril, kemudian didisposisikan ke vagina pada forniks posterior. Pada
prosedur ini banyak sperma akan hilang. Keuntungan cara ini adalah dapat
dengan self insemination, dikerjakan sendiri di rumah dengan biaya relatif
tidak mahal (3)
b. Inseminasi intraservikal. Prosedur ini direkomendasikan bila pasangan wanita
memiliki siklus ovulasi yang tidak teratur dan memerlukan obat pemicu
ovulasi. Kondisi lendir serviks harus bersahabat dan dikerjakan bila pasangan
tidak sanggup mengikuti prosedur inseminasi intrauterin. Teknik ini
memerlukan pemantauan perkembangan folikel dan kesiapan endometrium
dengan ultrasonografi dan pemeriksaan hormonal. Inseminasi dikerjakan bila
folikel mencapai diameter 18 mm atau lebih dengan endometrium
berkembang baik. Injeksi hCG dilakukan 36-44 jam sebelumnya. Setelah
spekulum dipasang, sekitar 0,3-0,5 ml semen diinjeksikan pelan pada kanalis
serviks dengan kateter plastik khusus dan sisa semen dapat diletakkan pada
forniks intravagina. Jadi merupakan kombinasi intraservikal dan intravaginal.
Kadang-kadang sebuah kap ditempatkan ke dalam vagina sebelum
mengangkat spekulum untuk menjaga sperma dekat serviks dan diangkat 6
jam kemudian seperti pada metode inseminasi periservikal(3)
c. Inseminasi periservikal. Sebuah kap serviks yang telah diisi dengan
untreated sperm atau washed sperm dipasang pada porsio serviks dan
dibiarkan insitu selama 6 jam. Prosedur ini memberikan waktu lebih lama
pada kontak antara semen dan mukus serviks tanpa banyak dipengaruhi sifat
keasaman mukus serviks
d. Inseminasi intrauterin. Pada inseminasi buatan, teknik ini paling sering
dikerjakan. Menggunakan 0,3-0,5 ml sperma yang telah dicuci dan
dipreparasi dan diinjeksikan langsung ke dalam kavum uteri. Jika digunakan
untreated sperm atau volume washed sperm yang lebih banyak dari 0,5 ml
sering menyebabkan kram(3)
e. Inseminasi transtubal. Prosedur ini lebih rumit karena merupakan prosedur in-
vivo yang lebih tinggi dari uterus dan memerlukan peralatan khusus serta
lebih invasif. Pada cara ini, sperma langsung dideposisikan ke dalam tuba
fallopii dengan menggunakan kateter plastik khusus. Teknik lainnya adalah
DIPI (Direct Intra Peritoneal Insemination), dimana 0,5 ml washed sperm
diinjeksikan langsung melalui forniks posterior ke dalam rongga peritoneum
kavum douglasi menggunakan jarum khusus dengan tuntunan ultrasonografi.
(3)
Sedangkan berdasarkan asal gamet, inseminasi buatan membedakan antara
inseminasi buatan dengan sperma suami (AIH, artificial insemination husband) dan
inseminasi buatan dengan sperma donor (AID, artificial insemination donor).(3) Apapun
teknik yang digunakan, tujuan inseminasi buatan adalah untuk meningkatkan
kemungkinan kontak antara spermatozoa dengan oosit terhadap faktor-faktor yang
menghalanginya seperti sifat tidak bersahabat dari keasaman vagina dan mukus
serviks. Perkembangan metode preparasi sperma seperti teknik pencucian dan renang
atas (wash and swim-up) serta penggunaan Percoll bertingkat, telah menjadikan para
ahli infertilitas menggunakan cara ini sebagai pilihan utama dalam menjalankan
teknologi rekayasa konsepsi terhadap para wanita infertil dengan tuba fallopii yang
paten. Dengan menggunakan sperma preparasi pada prosedur inseminasi buatan,
dapat menurunkan efek samping seperti kram, kollaps dan infeksi. (1)

PROSEDUR INSEMINASI INTRAUTERIN

Syarat, Indikasi dan Kontraindikasi


Tentang pasangan infertil yang pantas menjalani prosedur inseminasi intrauterin
tidaklah mudah untuk dijawab, beberapa persyaratan sebaiknya dipenuhi:
Umum
a. Pasangan suami istri dari perkawinan yang sah
b. Usia istri kurang dari 45 tahun
c. Sudah mendapatkan penjelasan dari tim konseling mengenai prosedur, biaya,
kemungkinan kegagalan dan komplikasi kehamilan
d. Pasangan suami istri sudah menandatangani formulir informed consent sebelum
memulai program
Medis
a. Tidak ada kontraindikasi untuk hamil
b. Siklus haid berovulasi atau dapat berovulasi sebagai respon terhadap obat
pemicu ovulasi
c. Kedua tuba harus normal (paten) berdasarkan pemeriksaan histerosalpingografi
(HSG) atau laparoskopi dalam 2 tahun terakhir (pasien dengan 1 tuba normal
harus didiskusikan mengenai kemungkinan kehamilan ektopik)
d. Istri tidak merokok
e. Jika pada pemeriksaan imunologi terhadap rubella menunjukkan belum ada
kekebalan (Ig-G) maka harus diberikan imunisasi rubella 3 bulan sebelum
program dimulai
f. Bebas dari infeksi hepatitis B, C, sifilis dan HIV. Jika belum ada kekebalan
terhadap hepatitis (anti HBs-/HbsAg/HBc-) maka harus segera diberikan
imunisasi
g. Pemeriksaan analisa sperma harus dilakukan 2 kali selang 3 minggu dan 1 kali
pemeriksaan percobaan preparasi sperma dalam kurun waktu 6 bulan terakhir
pada pasien dengan masalah utamanya ada pada sperma
h. Harus diperoleh sperma motil 5 x 10 6 / ejakulat atau minimal 2 x 10 6 / ejakulat
setelah dilakukan preparasi
i. Jumlah morfologi sperma normal harus lebih besar dari 10% berdasarkan 2 kali
pemeriksaan sperma dengan selang waktu 3 minggu
j. Tidak ditemukan adanya antibodi antisperma pada hasil analisa sperma dengan
uji MAR atau immunobead.
Syarat lain untuk dilakukan inseminasi intrauterin adalah tidak adanya hambatan
mekanik pada fungsi organ reproduksi wanita seperti tuba buntu atau adanya faktor
peritoneum dan lain sebagainya. Faktor tuba dapat diketahui dengan beberapa metode
pemeriksaan seperti tes Rubin, histerosalpingografi (HSG) atau laparoskopi. Tes Rubin
sudah jarang dikerjakan karena mempunyai manfaat dan ketepatan diagnosa yang
rendah, yaitu hanya mengetahui patensi tuba. HSG dan laparoskopi merupakan
prosedur pemeriksaan yang saling mengisi karena HSG selain mengetahui patensi tuba
juga unggul dalam mengetahui patologi intraluminal, tetapi lemah dalam mengetahui
patologi dalam rongga abdomen seperti endometriosis, perlekatan, patologi anatomi
tuba seperti fimosis, dan sebagainya, sedangkan dengan laparoskopi dapat diketahui
anatomi tuba secara, keadaan patologi genitalia interna dan adanya perlekatan, tetapi
lemah dalam mengetahui patologi intraluminal (tuba dan uterus). Selain dengan HSG
maka kelemahan laparoskopi dapat dibantu dengan pemeriksaan histeroskopi dan
falloposkopi.
Sedangkan indikasi untuk dilakukan prosedur inseminasi intrauterin
dikelompokkan menjadi indikasi inseminasi dengan sperma segar suami, inseminasi
dengan sperma beku suami dan inseminasi dengan sperma donor, yang di Indonesia
tidak dikerjakan.(5)
Indikasi inseminasi dengan sperma segar suami
A. Faktor laki-laki
1. Ejakulasi retrograde
2. Impotensia dan disfungsi ejakulasi
3. Hipospadia
4. Hipospermia
5. Semen tanpa likuifaksi atau terlalu kental
6. Parameter semen abnormal (oligoasthenoteratozoospermia)
B. Faktor wanita
1. Vaginismus
2. Faktor serviks (inspisasi mukus serviks seperti pada fibrosis kistik, defisiensi atau
absen produksi mukus serviks, tumor endoserviks seperti leiomyoma atau polip,
stenosis serviks berat, mukus serviks tidak bersahabat seperti tingkat keasaman,
viskositas, selularitas, antibodi antisperma dan endoservisitis kronis)
3. Disfungsi ovulasi
4. Alergi cairan semen
5. Respon folikuler jelek terhadap superovulasi untuk fertilisasi invitro
6. Endometriosis
C. Faktor laki-laki dan wanita
1. Infertilitas imunologis
2. Infertilitas yang tidak terjelaskan (unexplained infertility)
Indikasi inseminasi dengan sperma beku suami
1. Absentia suami (pekerjaan, perjalanan)
2. Terapi antineoplasma
3. Vasektomi
4. Parameter semen abnormal
5. Pemakaian obat-obat/bahan kimia lain (alkohol, kokain, colchicine, methadone,
heroin, niridazole, sulphasalazine, amantadine, antiepileptik, calcium channel
blocker, propranolol)
Indikasi inseminasi dengan sperma donor
1. Azoospermia dari kelainan testis primer
2. Parameter semen abnormal berat
3. Kegagalan FIV/ICSI persisten
4. Penyakit herediter
5. Isoimunisasi rhesus
6. Wanita single
7. Pasangan lesbian
Beberapa kontraindikasi dilakukan inseminasi diajukan oleh Anwar dan Jaman, 2002
antara lain:
 Patologi tuba
 Infeksi traktus genitalia
 Kelainan semen yang berat
 Kelainan genetik pada suami
 Perdarahan traktus genitalia yang tidak terjelaskan
 Tumor pada pelvik
 Wanita tua
 Penyebab infertilitas multipel bersamaan
 Pembedahan pelvik
 Terdapat kontraindikasi untuk hamil
 Sakit berat pada satu atau kedua pasangan
 Baru menjalani kemoterapi atau radioterapi
 Kegagalan multipel IUI
3.2. Penerimaan dan Seleksi Penderita
Walaupun inseminasi intrauterin merupakan prosedur sederhana, tetapi tanpa
seleksi pasangan yang ketat maka hasilnya akan mengecewakan. Penelusuran riwayat
penyakit medis sangat penting dilakukan. Beberapa center hanya menerima pasangan
untuk menjalani prosedur inseminasi bila didapatkan hasil negatif terhadap
pemeriksaan skrining HIV, hepatitis B dan hepatitis C. Pasangan wanita juga diperiksa
imunitas terhadap rubella. Pemeriksaan infertilitas dasar diperlukan untuk mengetahui
kemungkinan penyebab infertilitas pasangan tersebut. Pemeriksaan dasar ini meliputi
pemeriksaan faktor suami (analisa sperma termasuk uji MAR), faktor serviks (uji pasca
senggama), faktor uterus, tuba dan peritoneum / perlekatan (histerosalpingografi /
histeroskopi dan atau laparoskopi) dan faktor ovulasi (riwayat siklus haid, pemeriksaan
suhu basal badan dan ultrasonografi transvaginal).(5) Pada saat yang sama, identifikasi
adanya kontraindikasi baik alasan medis maupun karena adanya faktor prognostik
buruk, sangat diperlukan. Sebaliknya, pemeriksaan yang tidak perlu hanya akan
menambah biaya terhadap pasangan dan sistem pelayanan kesehatan. Pada tahap
seleksi pasangan, harus diketahui pula mengapa pasangan ini menjadi infertil dan
berdasarkan penyebab yang telah diketahui, pasangan diberikan pilihan berbagai
pengobatan yang layak. Pendapat bahwa penelusuran infertilitas umumnya mulai
dilakukan setelah satu tahun berlangsung mulai ditinggalkan, karena beberapa faktor
seperti meningkatnya usia pasangan wanita, siklus menstruasi yang tidak teratur,
riwayat bedah pelvis dll, sehingga investigasi dapat dilakukan pada tahap dini. Akhirnya,
semua prosedur pada tahap ini adalah hasil proses pembuatan keputusan dari
pasangan setelah mereka diberikan informasi yang jelas.(6)
3.3. Superovulasi Terkontrol
Kebutuhan utama kebanyakan prosedur rekayasa konsepsi adalah stimulasi
perkembangan folikel multipel dan menghasilkan banyak oosit matur karena hal ini
berkaitan dengan peningkatan kesempatan konsepsi. Berbagai istilah digunakan oleh
para ahli antara lain superovulasi, induksi superovulasi, hiperstimulasi ovarium
terkontrol, hiperstimulasi ovarium, induksi ovulasi dan superovulasi ovarium terkontrol.
Sejumlah preparat obat dan protokol stimulasi telah dicoba dengan masing-masing
metode, regimen dosis, keunggulan dan hasilnya. Berikut ini adalah jenis obat untuk
superovulasi:(7)
 Anti oestrogens: - Clomiphene citrate (Clomid, Serophene)
- Cyclofenil (Rehibin)
- Tamoxifen (Nolvadex)
 Gonadotrophins : - hMG (Humegon-FSH:LH=1:1, Normegon-FSH:LH=3:1,
Pergonal-FSH:LH=1:1)
- FSH murni (Metrodin, Metrodin High Purity, Orgafol)
- hCG (Gonadotraphon, Pregnyl, Profasi)
- FSH rekombinan (Gonal F, Puregon)
 GnRH agonis: - Buserelin (Suprecur, Suprefact)
- Goserelin (Zoladex)
- Leuprorelin (Prostap SR)
- Naferelin (Synarel)
- Triptorelin (Decapeptyl)
Beberapa metode stimulasi telah dilakukan untuk inseminasi intrauterin sebagai berikut:
(8)
 Siklus alamiah
 CC
 CC + hMG
 CC + FSH
 hMG
 FSH
 hMG + FSH
 GnRHa + hMG
 GnRHa + FSH
 GnRHa + hMG + FSH
Pada pemakaian clomiphene citrate tunggal untuk superovulasi, dosis yang
digunakan adalah antara 100-150 mg diberikan selama 5 hari. Pemberian mulai hari
kelima siklus memberikan hasil terbaik. Pemberian mulai hari ketiga akan meningkatkan
insiden poor response dari 3% menjadi 35%, meskipun lebih banyak folikel dominan
yang didapat. Sebaliknya, pemberian mulai hari ketujuh siklus menyebabkan
peningkatan insiden folikel dominan tunggal sampai 23%. Pemberian kombinasi CC
dengan hMG sudah dimulai sejak era 1980-an. Dosis yang diberikan adalah mulai 50-
100 mg CC selama lima hari mulai hari ke-2, 3, 4 atau 5 tergantung pada panjangnya
siklus haid sebelumnya dan pengalaman klinikus. hMG dimulai pada hari terakhir
pemberian CC atau beberapa hari sebelumnya pada dosis 150-225 IU perhari,
tergantung pada ukuran folikel yang berkembang dan dilanjutkan sampai sekurangnya
satu folikel mencapai diameter 18 mm. hCG diberikan 36-48 jam setelah dosis terakhir
hMG. Metode ini akan meningkatkan angka kehamilan sampai 38% dibandingkan
dengan obat tunggal.
Pemakaian gonadotropin tunggal untuk superovulasi dikerjakan pertama kali
oleh Jones dkk. hMG diberikan mulai hari hari ketiga siklus menstruasi setiap hari dan
pemeriksaan serial konsentrasi estradiol serum dimulai pada hari keenam bersamaan
dengan pemeriksaan ultrasonografi ovarium. hMG dihentikan bila folikel mencapai
diameter 12 mm atau lebih dan 10.000 IU hCG diberikan 50-52 jam kemudian. Interval
antara dosis hMG dan injeksi hCG diperpendek pada keadaan-keadaan: (1) folikel
dominan mencapai diameter 16 mm atau lebih; (2) Kadar estradiol plateau atau
doubling bila dibandingkan kadar pada hari sebelumnya; (3) Mulainya LH surge.
Sedangkan penggunaan FSH tunggal menunjukkan tidak ada perbedaan dalam angka
kehamilan antara protokol menggunakan hMG dan hMG/FSH, meskipun ditemukan
angka cancellation yang lebih rendah bila FSH tunggal dipergunakan.
Penggunaan GnRH agonis selama superovulasi dengan gonadotropin telah
meningkatkan angka kehamilan persiklus. Demikian juga, wanita yang sebelumnya
menunjukkan poor response dengan regimen lain, dengan protokol ini mendapatkan
hasil yang lebih baik. Saat ini GnRHa diberikan dalam 3 cara selama superovulasi yaitu
long, short dan ultrashort protocols. Pada long protocol, GnRHa diberikan mulai hari ke-
21 siklus menstruasi sebelumnya atau hari 1 atau 2 siklus saat ini dan diteruskan
sampai hari pemberian hCG. Bila diberikan pada hari 1 siklus menstruasi, sekurangnya
10-14 hari diberikan kesempatan desensitisasi hipofisis sebelum pemberian injeksi
gonadotropin. Dosis GnRHa dapat diturunkan setengahnya begitu desensitisasi
terkonfirmasi. Pada short protocol, GnRHa diberikan kapan saja dalam 3 hari pertama
siklus menstruasi dan ditambahkan injeksi gonadotropin setelah satu atau dua hari.
GnRHa diteruskan sampai hari pemberian hCG. Sedangkan pada ultrashort protocol,
pemberian GnRHa terbatas sampai 3 hari.(7)
Perkiraan waktu ovulasi adalah penentu penting dalam keberhasilan inseminasi,
karena merupakan saat yang optimal untuk dilakukan inseminasi. Beberapa cara dapat
digunakan untuk mengetahui saat ovulasi dari yang sederhana (pemeriksaan suhu
basal badan dan perubahan mukus serviks) dan yang lebih akurat yaitu pemantauan
dengan USG dan deteksi LH surge. Superovulasi pada inseminasi bertujuan untuk
mendapatkan 3 oosit dan tidak lebih dari 4 oosit matur. Kemampuan untuk memonitor
pertumbuhan folikel dan memperkirakan saat ovulasi sangat menentukan keberhasilan
program konsepsi bantuan karena inseminasi buatan dapat dilakukan pada saat yang
tepat. Metode yang digunakan pada pemantauan perkembangan folikel didasari oleh
hasil penelitian-penelitian secara langsung dan tidak langsung pengukuran aktifitas
ovarium pada siklus alamiah atau setelah stimulasi ovarium. Ini sudah terbukti bahwa
konsentrasi estrogen plasma berhubungan dengan tingkat perkembangan folikel
dominan pada siklus ovarium normal tanpa stimulasi, semakin besar ukuran folikel
maka estrogen yang dihasilkan akan lebih banyak. Sedangkan pada siklus dengan
stimulasi, konsentrasi estrogen plasma menggambarkan hasil total dari seluruh
perkembangan folikel dengan masing-masing ukurannya. Perkembangan folikel
ovarium pertama kali terdeteksi dengan TVS pada saat berdiameter 2-3 mm dan 3-5
mm dengan USG abdomen. Pertumbuhan folikel dominan secara siklus normal terjadi
secara linear sekitar 2-3 mm/hari dan ovulasi terjadi setelah folikel mencapai ukuran 18-
24 mm. Pada pemakaian pemicu ovulasi akan menghilangkan seleksi folikel dominan
dan situasi hormonal diubah untuk mendukung perkembangan lebih banyak folikel dan
akan terjadinya ovulasi diatur dengan pemberian hCG.
Pemantauan atau kontrol superovulasi sangat diperlukan karena bagaimanapun
juga, prosedur superovulasi pada inseminasi intrauterin bukanlah tanpa komplikasi.
Metode superovulasi dapat memicu potensial stress terhadap pasien, karena beberapa
alasan. Penderita akan menerima sejumlah injeksi dan beberapa pemeriksaan berulang
spesimen darah dan penilaian status hormonal. Hal ini juga menimbulkan dampak
sosial dan berpengaruh terhadap jadwal pekerjaan karena harus mendatangi rumah
sakit selama periode pengobatan. Komplikasi medis utama adalah kista ovarium yang
biasanya muncul pada tahap awal pemberian GnRHa. Sindrom hiperstimulasi ovarium
adalah komplikasi sangat serius dari stimulasi ovarium dan insidennya tertinggi pada
siklus yang menggunakan GnRHa. Wanita dengan sindrom ovarium polikistik memiliki
resiko lebih tinggi untuk masalah ini. Kehamilan multipel bukanlah komplikasi langsung
dari superovulasi, tetapi dapat menginduksi perkembangan folikel multipel yang berarti
menambah kemungkinan lebih dari satu embrio berimplantasi. Perkembangan
keganasan ovarium pernah juga dilaporkan oleh para ahli sebagai komplikasi dari
superovulasi.