Anda di halaman 1dari 41

PROPOSAL KUANTITATIF

“PENGARUH LIFESTYLE ARTIS TERHADAP SIKAP REMAJA”

PROPOSAL PENELITIAN Dibuat Sebagai Tugas Untuk Menempuh Ujian Akhir


Semester Genap.

Guru Pembimbing:
Siti Fatimah M. Pd

Disusun Oleh:
Nada Islami
NIS : 001687186

MADRASAH ALIYAH AL – ISTIQAMAH


BANJARMASIN
2018 - 2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat kepada
penyusun, sehingga proposal ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Proposal
penelitian ini berjudul “Pengaruh Lifestyle Artis Terhadap Sikap Remaja”.
Proposal ini dibuat dalam rangka untuk memenuhi kewajiban dalam penyelesaian
tugas akhir semester genap. Proposal ini memberikan definisi serta pembahasan
mengenai “Pengaruh Lifestyle Artis Terhadap Sikap Remaja”.
Dengan segala kerendahan hati, penyusun ingin menyampaikan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan dan penulisan makalah ini, baik keluarga maupun teman-teman. Serta
bimbingan dari Ibu Siti Fatimah M. Pd yang telah memberikan arahan selama
proses pembuatan makalah ini. Dan penyusun pun mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari teman-teman maupun guru pembimbing.
Semoga tugas ini dapat bermanfaat di kemudian hari bagi siapapun pembaca
yang menginginkan informasi-informasi di dalamnya. Dan sekaligus bisa menjadi
contoh atau pedoman pada masa yang akan datang.``

Banjarmasin, 26 Mei 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul............................................................................................. i
Kata Pengantar ............................................................................................ ii
Daftar Isi ..................................................................................................... iii

BAB I – Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 3
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................... 3
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................. 3

BAB II – Tinjauan Pustaka


2.1 Studi Terdahulu ..................................................................................... 4
2.2 Tinjauan Teori ....................................................................................... 9
2.3 Kerangka Berpikir ................................................................................. 27
2.4 Hipotesis Penelitian............................................................................... 27

BAB III – Metode Penelitian

3.1 Objek Penelitian .................................................................................... 28


3.2 Rancangan dan Metode Penelitian ........................................................ 29
3.3 Operasional Konsep .............................................................................. 30
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian ............................................................ 31
3.5 Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 32
3.6 Teknik Analisis Data ............................................................................. 33
3.7 Reabilitas dan Validitas......................................................................... 35

Daftar Pustaka

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Teknologi pada zaman sekarang memang sudah berkembang dengan
sangat pesat. Ternyata perkembangan teknologi ini juga mempengaruhi
perkembangan media massa. Di Indonesia, teknologi dan media massa dapat
diakses oleh segala kalangan usia, mulai dari balita bahkan sampai lanjut usia.
Pada dunia remaja, teknologi dan media massa sangatlah berperan penting
bagi pembentukan karakter seorang remaja. Karena remaja merupakan usia
peralihan dari usia anak-anak menuju usia dewasa, dan pada usia ini remaja
mengalami perubahan baik secara fisik maupun psikis. Perubahan ini berlangsung
begitu cepat dan sangat dipengaruhi oleh trend dan mode yang sedang
berkembang. Pada usia ini, pilihan-pilihan konsumsi para remaja biasanya
dipengaruhi oleh aktivitas-aktivitas yang ditekuninya, teman-temannya dan
penampilan generasi itu sendiri.
Dalam hal ini, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa sebagian
remaja berkembang dengan meniru kebiasaan seorang “public figure” yang sering
mereka lihat di layar televisi ataupun akun-akun media sosial. Tentu intensitas
remaja menggunakan media massa dan media sosial berpengaruh pada perubahan
sikap remaja. Seperti yang dibahas oleh Korean Culture and Information Service
2011, bahwa media massa seperti surat kabar, buku, radio, film, musik, konten
televisi, video streaming, game dan internet dapat mengubah gaya hidup dan cara
konsumsi seseorang. Dan saat ini, semua akses media yang digunakan oleh para
remaja sangat bebas mempertontonkan dan memperlihatkan gaya hidup para artis
dari mulai gaya berpakaian, gaya berpacaran dan perilaku lainnya.
Gaya berpakaian bagi manusia merupakan bagian dari gaya hidup yang
paling penting, terutama untuk para public figure. Kaum wanita maupun kaum
pria membutuhkan fashion sebagai nilai penting untuk penampilan. Tetapi fashion
yang digunakan oleh para remaja saat ini dinilai terlalu mengarah ke barat-baratan
dan hampir meninggalkan gaya fashion milik Indonesia. Gaya kebarat-baratan

1
2

tersebut diketahui oleh remaja melalui televisi, internet dan media lainnya yang
memperlihatkan beberapa artis yang memadu padankan beberapa pakaian mereka
sehingga menjadi sebuah trend fashion terkini.
Beberapa studi dan penelitian pun sudah membuktikan hal itu, seperti
survey yang dilakukan oleh Mutiara Ayu Banjarsari, mahasiswi Universitas
Lambung Mangkurat (UNLAM) Banjarbaru pada seluruh mahasiwa dan
mahasiswi Fakultas MIPA, seperti grafik dibawah ini :

Grafik I. Persentase Pakaian (Atasan) Yang Sering


Mahasiswa FMIPS UNLAM Pakai Saat Berada Dikampus

SUMBER: Mutiara Ayu Banjarsari, Pengaruh Perkembangan Fashion Bagi


Mahasiswa, 2015.

Pada grafik di atas, membuktikan bahwa hampir 90% dari seluruh


mahasiswa FMIPA UNLAM dalam kesehariannya menggunakan gaya fashion
barat (sumber: jurnal Mutiara Ayu Banjarsari (2015) – Pengaruh Perkembangan
Fashion Bagi Maahasiswa). Berdasarkan survey dan kuesioner yang dilakukan
3

oleh peneliti juga dibuktikan bahwa gaya fashion barat tersebut di dapat dari
meniru gaya fashion yang digunakan oleh sederet artis yang muncul ditelevisi
maupun di media sosial seperti instagram dan youtube yang disebut dengan seleb
instagram dan youtubers. Maka, berdasarkan latar belakang tersebut peneliti akan
membahas lebih lanjut dalam skripsi makalah dengan judul “Pengaruh Lifestyle
Artis Terhadap Sikap Remaja” yang akan dituturkan secara menyeluruh pada bab-
bab berikutnya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengaruh lifestyle artis terhadap sikap remaja?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahui pengaruh lifestyle artis terhadap sikap remaja.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara
teoritis, sekurang-kurangnya dapat berguna sebagai sumbangan
pemikiran bagi dunia pendidikan.
1.4.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini secara khusus diharapkan dapat menyumbangkan
pemikiran terhadap dampak dari intensitas penggunaan media
massa dan media sosial yang mempertontonkan dan
memperlihatkan gaya hidup para selebiriti terhadap perubahan
gaya hidup remaja.
1.4.3 Manfaat Akademis
Penelitian ini diharap mampu memberikan informasi di bidang
akademis terutama Ilmu Komunikasi tentang pengaruh lifestyle
artis terhadap sikap remaja.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu


Penyusun menggunakan beberapa jurnal terkait perubahan gaya hidup remaja
akibat pengaruh gaya hidup para selebriti agar mempermudah penulis dalam
memfokuskan penelitian. Dari penelitian terdahulu, penulis mengadobsi beberapa
hal. Pada artikel penelitian Eristia Lidia Paramitra (2015) yang meneliti tentang
Pengaruh Budaya Populer Korea dan Selebriti Endorser Korea Terhadap Gaya
Fashion Remaja Korea Remaja 18-21 Tahun. (studi eksperimen tentang pengaruh
gaya rambut Selebriti Korea terhadap gaya rambut remaja usia 18-21 tahun),
penulis mengadobsi definisi Budaya Populer Korea dan nalar konsep pada
hipotesis pertama yaitu pengaruh budaya popular korea terhadap gaya fashion
remaja yang disebutkan bahwa budaya populer telah menciptakan sekelompok
penggemar yang saling bertukar informasi dan mengikuti perkembangan budaya
sehingga dapat menimbulkan perilaku konsumtif untuk memuaskan keinginannya,
seperti mengikuti gaya fashion yang sedang diikuti oleh kelompok penggemar.
Bahkan di beberapa tempat dan komunitas, terdapat orang-orang yang sengaja
mewarnai dan membentuk rambutnya sama persis dengan aktris dan aktor di
beberapa episode drama Korea. Trend fashion Korea sangat terasa di Indonesia,
ini terbukti dengan banyaknya produk fashion berupa baju Korea yang
mendominasi model baju anak remaja yang tak terlepas dari pengaruh drama-
drama, boyband, dan girlband dari Korea yang tampil dengan busana atau fashion
yang unik dan terlihat menarik (Yuanita, 2012:129).
Selanjutnya, pada artikel Chau-kiu Cheung and Xiao Doung Yue (2003) yang
berjudul Identity Achievement and Idol Worship among Teenagers in Hong Kong
atau Prestasi Diri / Perilaku dan Menyembah Idola antara Remaja di Hong Kong
(studi eksperimen 872 orang remaja penggemar idola yang berumur 12-19 tahun
di Hong Kong). Penulis mengadobsi hasil dari penelitian tersebut yang
mengatakan bahwa mengidolakan artis dengan terlalu menyembah dapat

4
5

memberikan dampak dalam perubahan sikap yaitu misalnya remaja yang tiba-tiba
berubah jadi bersikap sombong dan arogan atau bahkan bersikap romantis karena
melihat artis yang digemarinya bersikap seperti itu kepadanya. Ada pula yang
berubah perilakunya karena merasa sakit hati lantarann tidak di respon oleh
idolanya ataupun menjadi terlalu berhura-hura karena kedekatannya dengan sang
idola. Namun dibalik itu ada pula dampak positif dari hal ini, sebagian remaja
yang mengisi kuesioner dari hasil penelitian tersebut mengakui bahwa dengan
kegiatan mereka menggemari idolanya dapat menambah wawasan serta menjadi
motivasi untuk masa depan mereka.
Dari segi persamaan antara penelitian penyusun dengan penelitian terdahulu
pada artikel pertama menunjuk pada dampak dari gaya fashion korea terhadap
gaya fashion remaja yang berkaitan untuk menjawab sub-bab pertama yang
peneliti tuangkan pada bab rumusan masalah yaitu bagaimana pengaruh style
fashion artis korea dan budaya popular korea terhadap sikap remaja dalam
memilih fashion yang bergaya kebarat-baratan? Dan persamaan pada artikel kedua
yang membahas mengenai dampak dari mengidolakan selebriti di Hong Kong
terhadap perilaku remaja di Hong Kong, menunjuk pada perubahan sikap dan
perilaku remaja yang disebabkan karena terlalu mengidolakan seorang artis.
Penelitian selanjutnya adalah C. Suprapti Dwi Takariani (2013) yang berjudul
Pengaruh Sinetron Remaja di Televisi Swasta Terhadap Sikap Mengenai Gaya
Hidup Hedonis (studi eksperimen tentang intensitas menonton televisi terhadap
sikap remaja pada siswa di SMA 4 Cimahi, Jawa Barat). Pada artikel ini, penulis
mengadobsi definisi teori Media Televisi, Sinema dan Drama di Televisi. Serta
mempelajari struktur penulisan penelitian, susunan kerangka pemikiran, dan
hipotesis pertama yaitu Intensitas menonton tayangan sinteron remaja di televisi
swasta berpengaruh terhadap sikap remaja mengenai gaya hidup hedonis karena
intensitas tersebut ditunjukkan dengan frekuensi dan durasi menonton sinetron
remaja di televisi swasta yang menurut penelitian bisa menghabiskan waktu
sekitar 4 jam bahkan lebih. Dan tema sinetron yang menunjukan gaya hidup
remaja yang selalu glamor dan penuh kemewahan itu pun mempengaruhi para
6

remaja di Cimahi untuk merubah style dan mengikuti trend yang ada disinetron
tersebut.
Penelitian selanjutnya adalah John Maltby, David C. Giles , Louise Barber
and Lynn E (2005) yang berjudul Intense-Personal Celebrity Worship and Body
Image: Evidence of a Link among Female Adolescents atau Intensitas Pribadi
Penyembah Idola dan Bentuk Tubuh : Bukti Hubungan antara Remaja Wanita
(studi eksperimen pada remaja wanita dan pria dari usia sekolah sampai
universitas yang melakukan program pembentukan tubuh karna pengaruh
mengidolakan selebriti). Pada artikel ini, penulis mengadobsi hasil penelitian yang
menyebutkan bahwa beberapa remaja di inggris membentuk tubuh mereka agar
menjadi mirip seperti artis yang mereka idolakan. Hal itu dipengaruhi karena
terlalu menyembah sang idola.
Dilanjutkan dengan penelitian Wahyu Satria Utama (2013) yang berjudul
Pengaruh Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri Korea di Televisi Terhadap
Perilaku Berpakaian Pada Remaja Putri Usia 17-22 Tahun (studi eksperimen
remaja putri {mahasiswi Fisip Undip} yang sangat mengimitasi gaya berpakaian
artis Korea yang ada di dalam drama seri Korea televisi). Pada artikel ini, penulis
mengadobsi definisi Gaya Hidup dan Remaja dan hasil dari penelitian tersebut
yang menyebutkan bahwa faktor intensitas menonton tayangan seri drama korea
sangat mempengaruhi ketertarikan remaja putri mengikuti gaya berpakaian artis
Korea.
Dari segi persamaan antara penelitian penyusun dengan penelitian terdahulu
pada ketiga artikel diatas menunjuk pada sub bab rumusan masalah yang ditulis
oleh penyusun pada bagian 1.2.1.b yaitu bagaimana pengaruh intensitas menonton
/ melihat kehidupan artis di dalam sinema elektronik dan drama televisi terhadap
perilaku remaja? Dengan demikian semua artikel yang ditulis oleh peneliti
terdahulu dapat membantu penyusun menjawab semua rumusan masalah yang
dituangkan oleh penyusun pada makalah ini.
7

Tabel 1. Penelitian Terdahulu


No Nama / Judul / Tahun Penelitian Kajian Teori / Metode Penelitian Hasil
Penelitian Keterkatian/Hubungan dengan Penelitian Saya

1. Eristia Lidia Paramitra / Pengaruh Budaya Populer Korea dan Selebriti


Endorser Korea Terhadap Gaya Fashion Remaja Korea Remaja 18-21 Tahun /
2015 Perilaku Konsumen Schiffman dan Kanuk (2007), Budaya Popular
Korea (Storey, 1994), Selebriti Endorser Korea (Belch dan Belch, 2004), Gaya
Fashion Korea (Wakidi, 2013), dan Remaja /teknik analisis kuantitatif dengan
menggunakan analisis regresi berganda. Berdasarkan hasil pengujian yang
didasarkan pada hipotesis diketahui bahwa untuk variabel budaya populer
korea dan selebriti endorser korea berpengaruh terhadap gaya fashion remaja
berusia 18-21 tahun. Dari hasil jurnal tersebut, kaitannya dengan jurnal saya
adalah terbukti bahwa life style artis sangat mempengaruhi sikap remaja
terutama dalam gaya berpakaian. Seperti yang tertera pada penelitian tersebut
yaitu remaja usia 18-21 tahun pada saat ini mengikuti gaya trend fashion
budaya popuer korea dan selebriti endorser korea.
2. Chau-kiu Cheung and Xiao Doung Yue / Identity Achievement and Idol
Worship among Teenagers in Hong Kong / 2003 Adegan di Hong Kong dan
Model Kausal / Metode analisis ini mneggunakan system kuesioner dari
telepon. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh peneliti bahwa dari 872
orang remaja yang berumur 12-19 tahun di Hong Kong, sekitar 95,5% nya atau
833 orang remaja adalah penggemar para selebriti atau disebutdengan bintang
pop. Dan menyembah idola merubah sikap, perilaku dan segi pendidikan
remaja. Melihat kenyataan dari penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
remaja di Hong Kong berubah sikap, perilaku dan akademiknya karena terlalu
menyembah atau menggemari sang idola, sehingga kehidupan idola tersebut
memberi pengaruh besar terhadap perubahan sikap, perilaku dan akademik
para remaja di Hong Kong. Dapat dikaitkan dengan penelitian saya bahwa
memang benar lifestyle artis dapat memberikan dampak atau pengaruh bagi
perubahan sikap remaja.
8

3. C. Suprapti Dwi Takariani / Pengaruh Sinetron Remaja di Televisi Swasta


Terhadap Sikap Mengenai Gaya Hidup Hedonis / 2013 Media Televisi,
Sinetron di Televisi, Sikap Remaja dan Gaya Hidup Hedonis. / Teori Belajar
Sosial (Social Learning Theory) dari Bandura. / Penelitian ini menggunakan
Metode Survei Penjelasan (Explanatory Survey Method).
Penelitian ini menggunakan Metode Survei Penjelasan (Explanatory Survey
Method). Berdasarkan hasil intensitas, menonton sinetron di televise swasta
berpengaruh secara signifikan terhadap sikap mengenai gaya hidup hedonis
ramaja di Cimahi. Tema sinetron yang menunjukan gaya hidup remaja yang
glamor dan penuh kemewahan itu pun mempengaruhi para remaja di Cimahi
untuk merubah style dan mengikuti trend yang ada disinetron tersebut.
Efek dari intensitas menonton sinema elektronik di televisi sangat besar,
faktanya beberapa remaja mengikuti style dan trend yang dibawa di dalam
sinetron tersebut. Kehidupan yang ditunjukan oleh pemeran sinetron tersebut
berpengaruh besar pada sikap dan gaya hidup remaja.
4. John Maltby, David C. Giles , Louise Barber and Lynn E. / Intense-personal
celebrity worship and body image: Evidence of a link among female
adolescents / 2005 Skala Sikap Selebriti, Perhatian Untuk Skala Bentuk
Tubuh, Perbaikan Bentuk Tubuh/Metode analisis yang digunakan untuk
menjawab persoalan penelitian adalah teknik analisis kuantitatif dengan
menggunakan analisis regresi berganda. Penelitian ini menunjukkan bahwa
pada remaja perempuan, memiliki interaksi antara intensitas menyembah idola
dan citra bentuk tubuh antar remaja, dan beberapa bukti tentatif telah
ditemukan yang menunjukkan hal seperti ini akan muncul pada awal masa
dewasa, yaitu usia 17 sampai 20 tahun. Hubungan penelitian ini dengan judul
saya adalah jelas bahwa didalam jurnal tersebut dibenarkan jika lifestyle artis
sangat berpengaruh terhadap sikap remaja. Diambil contoh kasus dari
penelitian ini adalah para remaja yang menyembah idolnya akan melakukan
segala macam cara untuk merubah bentuk tubuhnya seperti idola yang
disembahnya.
9

5. Wahyu Satria Utama / Pengaruh Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri


Korea di Televisi Terhadap Perilaku Berpakaian Pada Remaja Putri Usia 17-22
Tahun / 2013 Kajian teori didalam penelitian ini adalah Gaya Hidup, Remaja,
Televisi, dan Teori Modelling./Jenis penelitian yang dilakukan adalah
eksplanatif. Berdasarkan hasil penelitian pengaruh antara intensitas
menonton tayangan drama seri korea di televisi (X) terhadap perilaku
berpakaian pada remaja putri usia 17-22 tahun (Y). Remaja putri atau
mahasiswi Fisip Undip sangat mengimitasi gaya berpakaian artis Korea dalam
drama seri Korea televisi. Faktor intensitas sangat mempengaruhi ketertarikan
remaja putri mengikuti gaya berpakaian artis Korea. Melihat dari penelitian
ini, dapat diambil kesimpulan bahwa remaja yang berpakaian mengikuti trend
budaya korea dikarenakan oleh minat dan ketertarikan dari dalam diri remaja
tersebut. Mengingat bahwa remaja adalah masa yang mudah menerima
masukan dan perubahan, maka kehidupan para selebriti yang dipertunjukan
melalui teknologi yang semakin berkembang ini sangatlah mempengaruhi
sikap remaja masa kini.
Sumber: Diolah peneliti tahun 2016

2.2 Tinjauan Teori


2.2.1 Teori Komunikasi
Menurut Karlfried Knapp Komunikasi merupakan interaksi antar
pribadi yang menggunakan sistem simbol linguistic, seperti sistem symbol
verbal (kata-kata) dan nonverbal. Sistem ini dapat disosialisasikan secara
langsung/tatap muka atau melalui media lain (tulisan, oral, dan visual).
Sehingga dapat disimpulkan dari definisi diatas, bahwa komunikasi
merupakan proses hubungan interaksi antara dua orang atau lebih yang
dilakukan secara verbal atau pun dengan non verbal baik melalui saluran
komunikasi massa atau pun secara langsung/tatap muka. Komunikasi dalam
bahasa Inggris yaitu Communication, berasal dari kata Latin communication
bersumber dari kata communis yang berarti sama maksudnya adalah sama
makna atau arti. Komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna
10

mengenai suatu peran yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh
komunikan (Effendy, 2001 : 09). Proses komunikasi bisa diartikan sebagai
“transfer informasi” yang berupa pesan (message) dari komunikator yaitu
pengirim pesan kepada komunikan yaitu penerima pesan yang memiliki
tujuan mencapai saling pengertian (mutual understanding) antara
komunikator dan komunikan.
Komunikasi memilik 5 unsur-unsur penting di dalamnya, yang pertama yaitu
Komunikator atau orang menyampaikan pesan, yang kedua adalah pesan atau
informasi yang disampaikan dari Komunikan kepada penerima, unsur ketiga
adalah Komunikan atau orang yang menerima pesan, yang keempat yaitu
saluran atau media yang digunakan dalam penyampaian pesan tersebut, yang
kelima adalah efek atau feedback yang terjadi setelah penyampaian pesan itu
selesai, dapat berbentuk perubahan sikap si komunikan, perubahan persepsi,
pemikiran dan lainnya yang disebabkan oleh pengaruh pesan yang
disampaikan.
Menurut para ahli, komunikasi memiliki beberapa tingkatan, seperti :
1. Komunikasi Intrapersonal, yaitu komunikasi dengan diri sendiri
dan berusaha mengenal diri sendiri, dan segala konsep diri yang
melingkupinya, menanyakan kepada diri sendiri entang seala hal
yang ingin dia ketahui terkait dengan keinginan, kebutuhan dan
lain-lain.
2. Komunikasi Interpersonal, yaitu komunikasi dengan orang lain
secara face to face maupun dalam kelompok.
3. Komunikasi Kelompok, yaitu komunikasi yang melibatkan lebih
dari tiga orang dan biasanya dalam bentuk diskusi dan saling
mengenal.
4. Komunikasi Publik, adalah proses komunikasi yang dilakukan
dihadapan orang banyak, baik secara aktif maupun pasif.
5. Komunikasi Organisasi, adalah komunikasi yang terjadi didalam
organisasi maupun antar organisasi yang dapat bersifat formal
maupun nonformal.
11

6. Komunikasi Massa, adalah menyampaikan informasi umum kepada


khalayak dengan menggunakan media, baik itu media cetak
maupun media elektronik yang dikelola oleh suatu lembaga, seperti
misalnya televisi, koran, majalah.

2.2.2 Prinsip-prinsipKomunikasi
Prinsip-prinsip komunikasi seperti halnya fungsi dan definisi
komunikasi mempunyai uraian yang beragam sesuai dengan konsep yang
dikembangkan oleh masing-masing pakar. Istilah prinsip oleh William B.
Gudykunst disebut asumsi-asumsi komunikasi. Larry A.Samovar dan Richard
E.Porter menyebutnya karakteristik komunikasi. Deddy Mulyana, Ph.D
membuat istilah baru yaitu prinsip-prinsip komunikasi. Terdapat 12 prinsip
komunikasi yang dikatakan sebagai penjabaran lebih jauh dari definisi dan
hakekat komunikasi yaitu :
1. Prinsip 1 : Komunikasi adalah suatu proses simbolik
Komunikasi adalah sesuatu yang bersifat dinamis, sirkular dan
tidak berakhir pada suatu titik, tetapi terus berkelanjutan. Menurut
Susanne K. Langer kebutuhan pokok manusia adalah simbolisasi
dan penggunaan lambang. Artinya, dalam kehidupan sehari-
seharinya, setiap manusia tidak pernah luput dari simbolisasi dan
penggunaan lambang dalam hal apapun.
2. Prinsip 2 : Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi
Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang tersebut tidak
bermaksud mengkomunikasikan sesuatu, tetapi dimaknai oleh
orang lain maka orang tersebut sudah terlibat dalam proses
berkomunikasi. Gerak tubuh, ekspresi wajah (komunikasi non
verbal) seseorang dapat dimaknai oleh orang lain menjadi suatu
stimulus. Sering sekali manusia bertindak dan berperilaku seolah
tidak sedang melakukan proses komunikasi, padahal setiap gerakan
yg dilakukannya memiliki potensi untuk ditafsirkan, misalnya pada
12

saat seseorang tersenyum dapat menafsirkan bahwa ia sedang


bahagia.
3. Prinsip 3 : Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan
Setiap pesan komunikasi mempunyai dimensi isi dimana dari
dimensi isi tersebut kita bisa memprediksi dimensi hubungan yang
ada diantara pihak-pihak yang melakukan proses komunikasi.
Percakapan diantara dua orang sahabat dan antara penjual dan
pembeli memiliki dimesi isi yang berbeda.
Dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan
disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukkan muatan (isi)
komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi
hubungan menunjukkan bagaimana cara mengatakannya yang juga
mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu
dan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. Dalam komunikasi
massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan.
4. Prinsip 4 : Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat
kesengajaan.
Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh seseorang bisa
terjadi mulai dari tingkat kesengajaan yang rendah artinya tindakan
komunikasi yang tidak direncanakan (apa saja yang akan dikatakan
atau apa saja yang akan dilakukan secara rinci dan detail), sampai
pada tindakan komunikasi yang betul-betul disengaja (pihak
komunikan mengharapkan respon dan berharap tujuannya
tercapai).
5. Prinsip 5 : Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
Pesan komunikasi yang dikirimkan oleh pihak komunikan baik
secara verbal maupun non-verbal disesuaikan dengan tempat,
dimana proses komunikasi itu berlangsung, kepada siapa pesan itu
dikirimkan dan kapan komunikasi itu berlangsung.
6. Prinsip 6 : Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek
13

perilaku komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga


terikat oleh aturan atau tatakrama. Artinya , orang-orang memilih
strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang yang menerima
pesan akan merespons. Prediksi ini tidak selalu disadari dan sering
berlangsung cepat. Kita dapat memprediksi perilaku komunikasi
orang lain berdasarkan peran sosialnya.
7. Prinsip 7 : Komunikasi itu bersifat sistemik
Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang dipengaruhi
oleh latar belakang budaya, nilai, adat, pengalaman dan pendidikan.
Bagaimana seseorang berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa
hal internal tersebut. Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan
lingkungan dimana dia bersosialisasi mempengaruhi bagaimana dia
melakukan tindakan komunikasi.
8. Prinsip 8 : Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin
efektiflah komunikasi.
Jika dua orang melakukan komunikasi berasal dari suku yang sama,
pendidikan yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak tersebut
mempunyai bahan yang sama untuk saling dikomunikasikan.
Kedua pihak mempunyai makna yang sama terhadap simbol-
simbol yang saling dipertukarkan.
9. Prinsip 9 : Komunikasi bersifat nonsekuensial
Proses komunikasi bersifat sirkular dalam arti tidak berlangsung
satu arah. Melibatkan respon atau tanggapan sebagai bukti bahwa
pesan yang dikirimkan itu diterima dan dimengerti.
10. Prinsip 10 : Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan
transaksional
Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi adalah sebuah proses
adalah komunikasi itu dinamis dan transaksional. Ada proses saling
memberi dan menerima informasi diantara pihak-pihak yang
melakukan komunikasi.
14

11. Prinsip 11 : komunikasi bersifat irreversible


Setiap orang yang melakukan proses komunikasi tidak dapat
mengontrol sedemikian rupa terhadap efek yang ditimbulkan oleh
pesan yang dikirimkan. Komunikasi tidak dapat ditarik kembali,
jika seseorang sudah berkata menyakiti orang lain, maka efek sakit
hati tidak akan hilang begitu saja pada diri orang lain tersebut.
12. Prinsip 12 : Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan
berbagai masalah
Dalam arti bahwa komunikasi bukan satu-satunya obat mujarab
yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah. Banyak
persoalan dan konflik antar manusia disebabkan oleh masaalh
komunikasi. Namun komunikasi bukanlah panasea (obat mujrab)
untuk menyelesaikan persoalan atau konflik itu, karena konflik atau
persoalan tersebut mungkin berkaitan denagn masalah struktural.

2.2.3 Komunikasi Massa


Komunikasi bersifat dinamis. Manusia sebagai makhluk komunikasi
juga dinamis, sehingga komunikasi senantiasa mengikuti perubahan
kebutuhan dan dinamika kehidupan manusia. Komunikasi menjadi sebuah
sistem untuk berhubungan, berdialog dengan diri sendiri (intrapersonal) dan
dengan orang lain (interpersonal). Seiring perkembangan zaman, komunikasi
menjadi sebuah kebutuhan mutlak bagi setiap individu, tanpa mengenal usia,
jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, dan lain-lain. Tidak mengherankan,
setelah kita melewati zaman industrialisasi, kini kita menghadapi zaman
informasi (information age). Kebutuhan akan informasi terus meningkat
seiring dengan pesatnya perkembangan dan kemajuan inovasi dan teknologi,
demi mencapai kesejahteraan hidup manusia. Hal inilah yang
melatarbelakangi munculnya berbagai media yang mampu menyebarkan
informasi kepada khalayak luas, dimulai dari media cetak (surat kabar,
brosur, leaflet, dll), media elektronik (telepon, radio, televisi), hingga media
hybrid (internet).
15

Komunikasi Massa adalah salah satu tipe Komunikasi. Menurut Rakhmat


(2011), definisi yang paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan
Bittner (1980:10) yaitu, “Mass communication is messages communicated
through a mass medium to a large number of people” (Komunikasi massa
adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah
besar orang). Berdasarkan definisi tersebut, dapat diartikan bahwa
komunikasi massa merujuk pada “pesan”, namun menurut Wiryanto (2000)
“komunikasi massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human
communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat
mekanik, yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi”. Dengan
demikian, dapat kita simpulkan bahwa komunikasi massa adalah sebuah
bentuk komunikasi yang memanfaatkan media massa untuk menyebarkan
pesan kepada khalayak luas pada saat yang bersamaan.

2.2.4 Teori Depedensi Komunikasi Massa


Teori ini menyebutkan bahwa kepercayaan individu pada media
berkembang, saat kebutuhan informasional seseorang pada hal tertentu tidak
dapat dijumpai melalui pengalaman langsung. Dalam teori ini terdapat
anggapan bahwa audience bergantung pada informasi media untuk memenuhi
dan mencapai tujuan, sebuah pendekatan yang konsisten dengan gagasan
dasar dari model penggunaan. Menurut Little John ada dua sumber
variasi tingginya ketergantungan yang dialami seseorang, yakni : Jumlah dan
sentralitas dari fungsi-fungsi informasi yang disajikan dan stabilitas sosial.
Dependensi dimaksud terhubung dengan pengaruh media yaitu semakin
penting bagi seorang individu, semakin berpengaruh media yang digunakan
tersebut. Masyarakat percaya, informasi media baik itu hiburan, norma dan
nilai sebagai suatu komoditas berharga, sehingga teori ini mengakui
dependensi sangat berbeda dari individu satu dengan yang lain, dari satu
kelompok dan bahkan dari suatu budaya ke budaya lain.
Menurut Infantes, berikut adalah sejumlah asumsi kunci tentang media
dan masyarakat dan dependensi :
16

a. Jika media mempengaruhi masyarakat, hal itu karena media


memenuhi kebutuhan dan keinginan audience, bukan karena media
menggunakan beberapa pengawasan pada individu.
b. Orang menggunakan media dalam bagian yang besar menentukan
berapa banyak media akan mempengaruhi mereka, misalnya,
semakin audience tergantung pada informasi dari media, semakin
besar kemungkinan media akan mempengaruhi sikap, kepercayaan,
dan bahkan tingkah laku audience.
c. Karena peningkatan kompleksitas masyarakat modern, kita
bergantung banyak pada media untuk membantu memahami dunia
kita, membantu kita membuat keputusan yang memperkenankan
kita menanggukangi kehidupan dengan lebih baik.
d. Individu yang memiliki kebutuhan yang lebih banyak akan
informasi, pelarian atau fantasi akan lebih dipengaruhi oleh media
dan mempunyai ketergantungan media yang lebih besar.
Penjelasan dari teori ini bahwa kita akan memahami dan bahkan
mengalami dunia luas melalui media. Apa yang seseorang pelajari
mengenai dunia melalui pengalaman langsung mereka akan
dipengaruhi oleh media, dan dibentuk oleh isi media. Singkatnya ,
dependensi (media) dimaksud berhubungan dengan kompleksitas
masyarakat dimana seseorang tinggal, dengan menyediakan
sejumlah fungsi esensial informasi yang berguna. Atau semakin
penting seorang individu pada media bagi kebutuhannya, semakin
terikat indivud tersebut.

2.2.5 Media Massa


Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-
pesan dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan alat-
alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, TV (Cangara, 2002).
Media massa adalah faktor lingkungan yang mengubah perilaku khalayak
melalui proses pelaziman klasik, pelaziman operan atau proses imitasi
17

(belajar sosial). Dua fungsi dari media massa adalah media massa memenuhi
kebutuhan akan fantasi dan informasi (Rakhmat, 2001).
Media menampilkan diri sendiri dengan peranan yang diharapkan, dinamika
masyarakat akan terbentuk, dimana media adalah pesan. Jenis media massa
yaitu media yang berorentasi pada aspek :

1. Penglihatan (verbal visual) misalnya media cetak


2. Pendengaran (audio) semata-mata (radio, tape recorder) verbal
vokal
3. Pada pendengaran dan penglihatan (televisi, film, video) yang
bersifat ferbal visual vokal (Liliweri, 2001).
Effendy (2000), media massa digunakan dalam komunikasi apabila
komunikasi berjumlah banyak dan bertempat tinggal jauh. Media
massa yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari
umumnya adalah surat kabar, radio, televisi, dan film bioskop,
yang beroperasi dalam bidang informasi, edukasi dan rekreasi, atau
dalam istilah lain penerangan, pendidikan, dan hiburan.
Keuntungan komunikasi dengan menggunkan media massa adalah
bahwa media massa menimbulkan keserempakan artinya suatu
pesan dapat diterima oleh komunikan yang jumlah relatif banyak.
Jadi untuk menyebarkan informasi, media massa sangat efektif
yang dapat mengubah sikap, pendapat dan prilaku komunikasi.
Media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang bisa
menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada audience yang
luas dan heterogen. Kelebihan media massa dibanding dengan jenis
komunikasi lain adalah ia bisa mengatasi hambatan ruang dan
waktu. Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan hampir
seketika pada waktu yang tak terbatas (Nurudin, 2007).
Media massa memberikan informasi tentang perubahan, bagaimana
hal itu bekerja dan hasil yang dicapai atau yang akan dicapai.
Fungsi utama media massa adalah untuk memberikan informasi
18

pada kepentingan yang menyebarluas dan mengiklankan produk.


Ciri khas dari media massa yaitu tidak ditujukan pada kontak
perseorangan, mudah didapatkan, isi merupakan hal umum dan
merupakan komunikasi satu arah. Peran utama yang diharapkan
dihubungkan dengan perubahan adalah sebagai pengetahuan
pertama. Media massa merupakan jenis sumber informasi yang
disenangi oleh petani pada tahap kesadaran dan minat dalam proses
adopsi inovasi (Fauziahardiyani, 2009).

2.2.6 Televisi sebagai Media Massa


Televisi merupakan sistem elektronik yang mengirimkan gambar diam
dan gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang. Sistem ini
menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan suara ke dalam
gelombang elektronik dan mengonversinya kembali ke dalam cahaya yang
dapat dilihat dan suaranya dapat didengar (Effendy, 2003).
Televisi adalah media yang di gunakan oleh Komunikasi Massa untuk
menyampaikan pesan kepada khalayak. Contohnya dengan menonton
tayangan di televisi, audience dapat melihat gambar yang lebih jelas daripada
media massa lainnya, sehingga pesan yang disampaikan lebih detail dan jelas.
Menurut Effendy (2003) daya tarik seperti ini selain melebihi radio juga
melebihi film bioskop, karena dengan menonton televisi, program acara dapat
dinikmati di rumah dengan aman dan nyaman.
Mulyana (2001) mengatakan dewasa ini, televisi boleh dikatakan telah
mendominasi hampir semua waktu luang setiap orang. Televisi memiliki
sejumlah kelebihan, terutama kemampuannya dalam menyatukan antara
fungsi audio dan fungsi visual, ditambah dengan kemampuannya dalam
memainkan warna. Selain itu, televisi juga mampu mengatasi jarak dan
waktu, sehingga penonton yang tinggal di daerah terpencil dapat menikmati
siaran televisi. Sebagai media elektronik, televisi memiliki ciri-ciri, seperti
yang disebutkan Effendy (2003), yakni berlangsung satu arah,
komunikatornya melembaga, pesannya bersifat umum, sasarannya
19

menimbulkan keserempakan dan komunikannya heterogen.


Adapun dampak yang ditimbulkan dari media televisi adalah sebagai berikut:
(Wawan, 1996: 100)
1. Dampak kognitif, yaitu kemampuan seorang individu atau pemirsa
menyerap dan memahami acara yang ditayangkan televisi yang
melahirkan pengetahuan bagi pemirsa. Contoh, acara kuis di
televisi.
2. Dampak peniruan, yaitu pemirsa dihadapkan pada trendi aktual
yang ditayangkan televisi. Contoh, model pakaian, model rambut,
dari bintang televisi yang kemudian digandrungi atau ditiru secara
fisik.
3. Dampak prilaku, yakni proses tertananmya nilai-nilai social budaya
yang telah ditayangkan acara televisi yang diterapkan dalam
kehidupan pemirsa sehari-hari. Contoh, tayangan Rahasia Ilahi
yang mengimplementasikan kehidupan religi bagi masyarakat.
Dari teori ini dapat ditarik kesimpulan bahwa, media massa secara
pasti dapat mempengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak. Media
membentuk opini publik untuk membawanya kepada perubahan.

2.2.7 Program Televisi


Pengaruh televisi terhadap sistem komunikasi tidak pernah lepas dari
pengaruh terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Menurut
Prof. Dr. R. Mar’at acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap,
pandangan, persepsi, dan perasaan bagi para penontonnya. Hal ini disebabkan
oleh pengaruh psikologis dari televisi itu sendiri, dimana televisi seakan-akan
menghipnotis pemirsa, sehingga mereka telah hanyut dalam keterlibatan akan
kisah atau peristiwa yang disajikan olehtelevisi (Effendy, 2004 : 122). Acara
televisi atau program televisi merupakan acara-acara yang ditayangkan oleh
stasiun televisi. Secara garis besar, Program TV dibagi menjadi program
berita dan program non-berita. Jenis program televisi dapat dibedakan
berdasarkan format teknis atau berdasarkan isi. Format teknis merupakan
20

format-format umum yang menjadi acuan terhadap bentuk program televisi


seperti talk show, dokumenter, film, kuis, musik, instruksional dan lainnya.
Berdasarkan isi, program televisi berbentuk berita dapat dibedakan antara lain
berupa program hiburan, drama, olahraga, dan agama. Sedangkan untuk
program televisi berbentuk berita secara garis besar dikategorikan ke dalam
"hard news" atau berita-berita mengenai peristiwa penting yang baru saja
terjadi dan "soft news" yang mengangkat berita bersifat ringan. Dalam hal ini,
program yang dibahas adalah tentang program hiburan yang mengusung
tentang acara drama dan sinetron yang isinya berkaitan dengan kehidupan
para selebriti remaja yang berkehidupan hedonis dan bergaya ke barat-baratan
seperti yang ditayangkan pada sinetron Ganteng-Ganteng Serigala di SCTV
dan Anak Jalanan di RCTI, atau drama korea yang tayang di RTV, RCTI, dan
Indosiar.
Menurut Frank Jefkins (Jefkins, 2003 : 105), televisi memiliki sejumlah
karakteristik khusus dan program acara, yaitu :
1. Selain menghasilkan suara, televisi juga menghasilkan gerakan,
visi dan warna.
2. Pembuatan program televisi lebih mahal dan lama.
3. Karena menghandalkan tayangan secara visual, maka segala
sesuatu yang tampak haruslah dibuat semenarik mungkin.
Sedangkan program acara televisi, terdiri dari :
a. Buletin berita nasional, seperti : siaran berita atau bulletin
berita regional yang dihasilkan oleh stasiun-stasiun televisi
swasta lokal.
b. Liputan-liputan khusus yang membahas tentang berbagai
masalah aktual secara lebih mendalam.
c. Program-program acara olahraga, baik olahraga di dalam
atau di luar ruangan, yang disiarkan langsung atau tidak
langsung dari dalam negeri atau luar negeri.
21

d. Program acara mengenai topik khusus yang bersifat


informatif, seperti : acara memasak, berkebun, dan acara
kuis.
e. Acara drama, terdiri dari : sinetron, sandiwara, komedi,
film, dan lain sebagainya.
f. Acara musik, seperti konser musik pop, rock, dangdut,
klasik, dan lain sebagainya.
g. Acara bagi anak-anak, seperti : film kartun.
h. Acara keagamaan, seperti : siraman rohani, acara ramadhan,
acara natal, dan lain sebagainya.
i. Program acara yang membahas tentang ilmu pengetahuan
dan pendidikan.
j. Acara bincang-bincang atau sering disebut talkshow.

2.2.8 Sinetron di Televisi


Istilah sinetron pertama kali diperkenalkan oleh Soemardjono, salah
satu pendiri Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sinetron adalah sinema
elektronik. Saat ini, perkembangan sinetron di Indonesia semakin meningkat
dan sangat mendominasi dibandingkan acara lainnya. Secara umum, hampir
sebagian besar slot waktu stasiun TV didominasi oleh sinetron. Mulai dari
primetime atau waktu yang menjadi waktu utama hingga pagi hari ketika
aktivitas luar rumah tinggi.
Paket sinetron cukup banyak digemari pemirsa dan berbagai lapisan sosial.
Tampilnya paket sinetron televisi mempunyai unsur yang salah satunya,
cerita sinetron umumnya sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat.
Sebagai contoh, penayangan materi siaran sinetron saat ini, secara umum
seakan sudah lepas dari “akar budaya” kita. Tema yang diangkat bahwa
berputar-putar pada lingkaran saja yakni polemic kehidupan keluarga,
percintaan, persahabatan, perselingkuhan, warisan dll. Itulah gambaran yang
telah terjadi pada materi sinetron di televisi saat ini.
Waktu utama tayangan televisi pun semakin lebar. Jika beberapa tahun yang
22

lalu waktu utama siaran televisi sekitar pukul 19.00 s.d 21.00 tetapi sekarang
menjadi 18.00 s.d 23.00. Seperti yang dikutip dari ungkapan Marketing and
Communication Execuitve AGB Nielsen, Andini dalam Yagami (2011),
indikasi utama adalah acara-acara yang memiliki rating tinggi berada di
waktu utama tersebut. Sebuah stasiun televisi swasta nasional ada yang
memiliki slot waktu tayang sinetron dalam sehari mencapai 7 jam. Waktu
penayangannya pun berada di waktu utama, yakni pukul 18.00 s.d 22.00
malam. Jika didefinisikan waktu utama sebagai waktu potensi paling besar
pemirsa menyaksikan tayangan, maka demikian tinggi penghargaan terhadap
sinetron.

2.2.9 Gaya Hidup


Gaya hidup merupakan gambaran bagi setiap orang yang mengenakan
dan menggambarkan seberapa besar nilai dan moral orang tersebut dalam
masyarakat. Menurut Plummer gaya hidup didefinisikan sebagai berikut:
“Gaya hidup adalah cara hidup individu yang diidentifikasikan oleh
bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka
anggap penting dalam hidupnya (ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan
tentang dunia sekitarnya.” (Plummer, 1983) Menurut Chaney (dalam
Subandy, 1997), ada beberapa bentuk gaya hidup antara lain:

a. Industri Gaya Hidup


Dewasa ini, penampilan diri mengalami estetisasi dan bahkan tubuh juga
mengalami estetisasi tubuh. Tubuh dalam kehidupan sehari-hari menjadi
sebuah proyek gaya hidup, industri gaya hidup untuk sebagian besar
adalah industri penampilan.
b. Iklan Gaya Hidup
Dalam masyarakat mutakhir, berbagai perusahaan, politisi, dan juga
individu-individu pada umumnya terobsesi dengan citra. Pada era
globalisasi seperti ini yang berperan besar dalam membentuk budaya
citra dan budaya cita rasa adalah gempuran iklan yang menawarkan gaya
23

visual yang terkadang mempesona dan memabukkan. Iklan


mempresentasikan gaya hidup dengan menanamkan secara halus arti
penting citra diri untuk tampil di muka umum. Iklan juga perlahan tapi
pasti mempengaruhi pilihan cita rasa yang kita buat.
c. Public Relation dan Gaya Hidup Jurnalisme
Di dunia promosi, dimana budaya berbasis selebriti, para selebriti
membantu dalam pembentukan identitas dari para konsumen
kontemporer. Dalam budaya konsumen, identitas menjadi sandaran
aksesori fashion. Wajah generasi baru yang dikenal sebagai anak-anak E-
generation, menjadi seperti sekarang ini dianggap terbentuk melalui
identitas yang diilhami selebriti, cara mereka berselancar di dunia maya
(internet), cara mereka berganti busana untuk jalan-jalan. Ini berarti
bahwa selebriti dan citra mereka digunakan momen demi momen untuk
membantu konsumen dalam parade identitas.
d. Gaya Hidup Mandiri
Kemandirian adalah mampu hidup tanpa bergantung mutlak kepada
sesuatu yang lain. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk mengenali
kelebihan dan kekurangan diri sendiri serta berstrategi dengan kelebihan
dan kekurangan tersebut untuk mencapai tujuan. Nalar adalah alat untuk
menyusun strategi. Bertanggung jawab maksudnya melakukan perubahan
secara sadar dan memahami setiap bentuk resiko yang akan terjadi serta
siap menanggung resiko dan dengan kedisiplinan akan terbentuk gaya
hidup yang mandiri. Dengan gaya hidup yang mandiri, budaya
konsumerisme tidak lagi memenjarakan manusia, dengan kata lain
manusia akan bebas dalam menentukan pilihannya secara bertanggung
jawab, serta menimbulkan inovasi-inovasi yang kreatif untuk menunjang
kemandirian tersebut.
e. Gaya Hidup Hedonis
Gaya hidup hedonis adalah suatu pola hidup yang aktivitasnya untuk
mencari kesenangan hidup, seperti lebih banyak menghabiskan waktu
diluar rumah, lebih banyak bermain, senang pada keramaian kota, senang
24

membeli barang mahal yang disenangi, serta selalu ingin menjadi pusat
perhatian.
Dapat disimpulkan bahwa bentuk dari suatu gaya hidup dapat berupa
gaya hidup dari penampilan melalui media iklan, modelling dari artis
yang diidolakan, gaya hidup yang hanya mengejar kenikmatan semata
sampai dengan gaya hidup mandiri yang menuntut penalaran dan
tanggung jawab dalam pola perilakunya.
Menurut Amstrong (dalam Nugraheni, 2003), gaya hidup seseorang
dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-
kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang dan jasa,
termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan
kegiatan-kegiatan tersebut. Lebih lanjut Amstrong menyatakan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada dua faktor
yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor
yang berasal dari luar (eksternal). Faktor internal yaitu sikap,
pengalaman, pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi
sedangkan faktor eksternal terdiri dari kelompok referensi, keluarga,
kelas sosial dan kebudayaan.
Dari berbagai bentuk gaya hidup tadi, maka gaya hidup yang akan diteliti
adalah bentuk gaya hidup Public Relation dan gaya hidup Jurnalisme,
karena bentuk ini menunjukkan bagaimana gaya hidup selebriti sebagai
public figure dalam masyarakat diimitasi oleh masyarakat itu sendiri
khususnya remaja. Dengan berbagai aksesoris fashion membuat mereka
menjadi produk yang ditiru oleh remaja.

2.2.10 Remaja
Dilihat dari sudut pandang psikologi, remaja adalah suatu periode transisi
dari masa awal anak-anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada
usia kira-kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun.
(Sarwono, 1997).
Monks berpendapat bahwa secara global masa remaja berlangsung antara 12-
25

21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun merupakan masa remaja awal, 15-
18 tahun merupakan masa remaja pertengahan dan usia 18-21 tahun
merupakan masa remaja akhir. (Monks, 2002).
Sedangkan WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia
remaja. Batasan usia tersebut didasarkan pada usia kesuburan atau fertilitas
wanita yang berlaku juga untuk remaja putra, dan kurun usia tersebut dibagi
menjadi dua bagian, yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20
tahun. Perserikatan Bangsa-Bangsa sendiri menetapkan usia 15-24 tahun
sebagai usia pemuda dalam rangka keputusan mereka untuk menetapkan
tahun 1985 sebagai Tahun Pemuda Internasional. Di Indonesia, batasan
remaja yang mendekati batasan PBB adalah kurun usia 11-24 tahun dan
belum menikah. (Anonim, 2011).
Sesuai dengan pembagian usia remaja, menurut Monks dkk. (2002) maka
terdapat karakteristik pada remaja akhir (18-21 tahun): Minat yang makin
mantap terhadap fungsi-fungsi intelek, egonya mencari kesempatan untuk
bersatu dengan orang-orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru,
terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi, egosentrisme
(terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti dengan
keseimbangan antar kepentingan diri sendiri dengan orang lain dan tumbuh
dinding pemisah antara diri sendiri dengan masyarakat umum.
Menurut Hurlock (Hurlock, 1980 : 206-207) Perubahan Perilaku Remaja
terwujud dalam gerakan (sikap) tidak saja badan atau ucapan perilaku dibagi
atas dua yaitu :
1. Perilaku tertutup / terselubung, yaitu aspek-aspek mental seperti
persepsi, ingatan dan perhatian. Perilaku ini terbagi atas :
a. Kognisi yakni penyadaran melalui proses penginderaan terhadap
rangsangan dan interpretasinya. Perilaku meliputi segala hal yang
berupa reaksi terhadap rangsangan, menyadari dan memberi arti
atau belajar dan mengingat apa yang dipelajari.
b. Emosi yakni efek, perasaan, suasana di dalam diri yang
dimunculkan oleh penyadaran terhadap isi perangsangan.
26

c. Konasi yakni pemikiran, pengambilan keputusan untuk memilih


sesuatu bentuk perilaku.
d. Penginderaan, meliputi penyampaian atau mengantar pesan
(rangsangan) sampai ke susunan syaraf pusat.

2. Prilaku terbuka, yaitu prilaku yang langsung dapat dilihat seperti


jalan, lari, tertawa, menulis dan lain-lain. Perilaku ini terdiri atas :

a. Prilaku yang disadari, dilakukan dengan kesadaran penuh,


tergantung dari aksi dalam otak besar
b. Prilaku reflektoris, yakni gerakan refleks yang dalam tahap
pertama berkaitan dengan sumsum tulang belakang, belum
disadari. Baru kemudian tingkah laku refleks disadari, bila
pesan sampai ke pusat syaraf.
c. Prilaku di luar pengaruh kehendak, tidak disadari dan berpusat
pada sumsum penyambung atau gerakan otot karena kepekaan
otot.
Dalam usaha mempelajari dan meneliti prilaku, hal ini selalu
dilihat dalam kaitannya dengan lingkungan – lingkungan
meliputi segala hal diluar dari seseorang maupun di dalamnya,
bersifat fisik maupun ide orang berpengaruh yang menjadi
sumber rangsangan dan bisa menimbulkan suatu reaksi atau
respon. Lingkungan terdiri dari lingkungan dalam pada diri
seseorang dan lingkungan diluar diri seseorang, yakni
lingkungan fisik, lingkungan geografis dan sosial. Masa
remaja dikenal sebagai suatu masa dimana ketegangan emosi
tinggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar.
Meningginya emosi remaja pada masa ini utamanya
disebabkan oleh karena anak laki – laki dan anak perempuan
berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru.
27

2.3 Kerangka Berpikir


Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori Televisi sebagai
Media Massa. Menurut Wawan, 1996:100, ada beberapa dampak yang
ditimbulkan dari media televisi bagi khalayak yang menggunakan media tersebut
secara intens. Dampak pertama adalah dampak kognitif, yaitu kemampuan
seorang individu atau pemirsa menyerap dan memahami acara yang ditayangkan
televisi yang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa, contohnya adalah acara kuis
di televisi. Dampak yang kedua adalah dampak peniruan, yaitu pemirsa
dihadapkan pada trendi aktual yang ditayangkan televisi, contohnya adalah model
pakaian, model rambut, dari bintang televisi yang kemudian digandrungi atau
ditiru secara fisik. Dan dampak yang terakhir adalah dampak prilaku, yakni proses
tertananmya nilai-nilai social budaya yang telah ditayangkan acara televisi yang
diterapkan dalam kehidupan pemirsa sehari-hari, contohnya adalah tayangan
Rahasia Ilahi yang mengimplementasikan kehidupan religi bagi masyarakat.
Dengan merujuk pada pendapat Wawan, 1996:100 tersebut, maka kerangka
pemikiran penelitian ini tergambar pada gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Lifestyle Artis Sikap Remaja
Sumber: Diolah peneliti tahun 2016

2.4 Hipotesis Penelitian


Dari kerangka pemikiran tersebut, penulis mencoba membuat hipotesis sebagai
berikut:
H1 : Trendi aktual yang ditayangkan televisi seperti model pakaian, model
rambut, dari bintang televisi berpengaruh terhadap perubahan sikap remaja.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Subjek dan Objek Penelitian


3.1.1 Subjek Penelitian
Subjek Penelitian adalah orang, tempat, atau benda yang diamati
dalam rangka pembumbutan sebagai sasaran (Kamus Bahasa Indonesia,
1989: 862). Adapun subyek penelitian dalam tulisan ini, adalah siswa siswi
MA AL – Istiqamah banjarmasin kelas XI jurusan IPS yang berjumlah 2
kelas. Peneliti memilih tempat tersebut karena pelajar MA Al – Istiqamah
Banjarmasin merupakan responden yang memenuhi syarat dalam penelitian
ini. Menurut peneliti, pelajar MA adalah usia remaja yang sangat mudah
terpengaruh dengan hal yang menjadi ketertarikannya dan sering meniru hal
yang menjadi trend setter disekitarnya.

3.1.2 Objek Penelitian


Objek penelitian merupakan suatu permasalahan yang dijadikan
sebagai topik penulisan dalam rangka menyusun suatu laporan. Penilitian ini
dilakukan untuk memperoleh data-data yang berkaitan dengan objek
penelitian tersebut yang berjudul “Pengaruh Lifestyle Artis Terhadap Sikap
Remaja”.
Obyek Penelitian adalah hal yang menjadi sasaran penelitian (Kamus
Bahasa Indonersia; 1989: 622). Menurut (Supranto 2000: 21) Obyek
Penelitian adalah himpunan elemen yang dapat berupa orang, organisasi
atau barang yang akan diteliti. Kemudian dipertegas (Anto Dayan 1986: 21),
Obyek Penelitian adalah pokok persoalan yang hendak diteliti untuk
mendapatkan data secara lebih terarah.
Menurut Husen Umar (2005:303) pengertian objek penelitian adalah
sebagai berikut : “Objek penelitian menjelaskan tentang apa dan atau siapa
yang menjadi objek penelitian. Juga dimana dan kapan penelitian dilakukan,
bisa juga ditambahkan dengan hal-hal lain jika dianggap perlu.”

28
29

Sedangkan menurut Sugiyono (2009:38) pengertian objek penelitian adalah


sebagai berikut : “Suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau
kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.”
Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa objek penelitian adalah
suatu sasaran ilmiah dengan tujuan dan kegunaan tertentu untuk
mendapatkan data tertentu yang mempunyai nilai, skor atau ukuran yang
berbeda.
Dalam penelitian ini, Objek Penelitian yang digunakan adalah perubahan
gaya rambut dan gaya berpakaian siswa-siswi MA AL – Istiqamah
banjarmasin akibat pengaruh melihat model rambut dan model pakaian para
selebriti.

3.2 Rancangan dan Metode Penelitian Menurut metode penelitian menurut


Sujoko, Stevanus, dan Yuliawati (2007:7) dalam bukunya menyatakan bahwa :
“Metode penelitian merupakan bagian dari metodologi yang secara khusus
mendeskripsikan tentang cara mengumpulkan data dan menganalisis data.”
Berdasarkan pernyataan diatas dapat diketahui bahwa metode penelitian
merupakan suatu cara untuk dapat memahami suatu objek penelitian dengan
memandu peneliti dengan urutan-urutan bagaimana penelitian dilakukan yang
meliputi teknik dan prosedur yang di gunakan dalam penelitian.
Metode yang digunakan penulis adalah metode survey yaitu suatu pengumpulan
informasi dari sejumlah sampel berupa orang melalui pertanyaan-pertanyaan. Jadi
metode penelitian ini akan menggambarkan perubahan sikap pelajar SMKN 3
Tangerang akibat lifestyle artis melalui pertanyaan-pertanyaan yang peneliti
suguhkan kepada responden.
Pengertian metode survey menurut Zikmund (1997) adalah : “metode
penelitian survei adalah satu bentuk teknik penelitian di mana informasi
dikumpulkan dari sejumlah sampel berupa orang, melalui pertanyaan-pertanyaan”.
Sedangkan menurut Gay & Diehl (1992) adalah : “metode penelitian survei
merupakan metode yang digunakan sebagai kategori umum penelitian yang
30

menggunakan kuesioner dan wawancara”. Dan menurut Bailey (1982) adalah :


“metode penelitian survei merupakan satu metode penelitian yang teknik
pengambilan datanya dilakukan melalui pertanyaan – tertulis atau lisan”.

3.3 Operasional Konsep


Operasional variable adalah : “Operasional adalah penentuan contruct
sehingga menjadi variable yang dapat diukur. Sedangkan variabel adalah contruct
yang di ukur dengan berbagai macam nilai untuk memberikan gambaran yang
lebih nyata mengenai fenomena-fenomena.” (Nur Indriantoro dan Bambang
Supomo, 2002:69).
Variabel merupakan alat atau sarana untuk menguji kedudukan hipotesis dalam
sebuah penelitian. Suryabrata (1998, h. 20) menyatakan variabel juga berfungsi
sebagai penghubung antara dunia teoritis dengan dunia empiris, yang terbagi
dalam variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas adalah variabel
yang memengaruhi, yang dalam penelitian ini adalah Dampak peniruan dari
menonton televisi (X), sementara variabel terikat adalah variabel terpengaruh,
yakni prilaku dan gaya hidup remaja (Y).
Tabel 2. Definisi Operasional
Variabel Konsep Variabel Indikator Skala Pengukuran
Dampak dari menonton televise (X) Dampak peniruan yaitu pemirsa dihadapkan
pada trendi aktual yang ditayangkan televise dari bintang televisi yang kemudian
digandrungi atau ditiru secara fisik
- Model Rambut
- Model Pakaian Ordinal
Sikap Remaja (Y) Perubahan Perilaku Remaja terwujud dalam gerakan (sikap)
tidak saja badan atau ucapan perilaku. (Hurlock, 1980 : 206-207)
- Gaya Rambut
- Gaya Berpakaian Ordinal
Sumber: Diolah peneliti tahun 2016
31

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian


Sugiyono dalam Kriyantono (2006, h. 149) menyebutkan populasi sebagai
wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subyek yang mempunyai
kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh periset untuk dipelajari,
kemudian ditarik kesimpulan. Jadi populasi bukan hanya orang, melainkan
melainkan objek atau benda-benda alam lainnya pun bisa disebut sebagai
populasi. Bahkan ternyata satu orangpun bisa periset gunakan sebagai populasi,
karena satu orang tersebut memiliki berbagai karakteristik, misalnya seperti gaya
bicara, disiplin, pribadi, hobi, dan lain sebagainya.
Pada penelitian ini, periset memiliki populasi pelajar MA AL – Istiqamah
Banjarmasin kelas XI jurusan kecantikan yang berjumlah 2 kelas sebanyak 41
orang. Jadi, total populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 41 orang.
Suharsimi Arikunto (1998 :117) mengatakan bahwa : “sampel adalah bagian dari
populasi (sebagian atau wakil populasi yang diteliti). Sampel penelitian adalah
sebagian populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh
populasi.”. Sedangkan Sugiyono (1997 :57) memberikan pengertian bahwa
“sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang di miliki oleh
populasi.”
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut, bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin memepelajari
semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan
waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi
tersebut. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat
diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus
betul-betul representatif (Sugiyono, 2012: 81). Sedangkan menurut Riduwan
(2008: 56) sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau
keadaan tertentu yang akan diteliti. Tidak semua data dan informasi akan diproses
dan tidak semua orang atau benda yang akan diteliti melainkan cukup dengan
menggunakan sampel yang mewakilinya. Dalam hal ini pengambilan sampel
harus representif disamping itu peniliti wajib mengerti tentang besar ukuran
32

sampel dan karakteristik populasi dalam sampel. Untuk pengambilan jumlah


sampel, dalam penelitian ini peneliti menggunakan rumus Slovin, yaitu sebagai
berikut:
Rumus I. Sampel Penelitian

Sumber: Slovin (dalam Riduwan, 2005:65)


Keterangan:
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
e = Batas kesalahan maksimal yang ditolerir dalam sampel (5%)
Berdasarkan rumus Slovin, maka total ukuran sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
n = 120 / 120 (0,05)2 = 91.42
Dari hasil perhitungan diatas, maka jumlah sampel yang akan digunakan sebanyak
91.42 responden dan dibulatkan menjadi 91 responden dengan tingkat kesalahan
pengambilan sampel sebesar 5%.

3.5 Teknik Pengumpulan Data


Menurut Andi Supangat (2007:2) menyatakan bahwa pengertian data adalah :
“Bentuk jamak dari data, yang dapat diartikan sebagai informasi yang diterima
yang membentuknya dapat berupa, angka-angka, kata-kata, atau dalam bentuk
lisan dan tulisan lainnya.”
Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis untuk mendapatkan dan
mengumpulkan data adalah sebagai berikut :

1. Studi Lapangan (field research)


Studi Lapangan dilakukan dengan cara :
a. Observasi Lapangan Langsung Dengan menggunakan metode
observasi lapangan langsung, penulis melakukan pengamatan secara
langsung mengenai gaya rambut dan gaya berpakaian para pelajar
33

SMKN 3 Tangerang dan mencatat semua informasi


yang mendukung penyusunan Tugas Akhir ini.
b. Wawancara (interview)
Penulis mengadakan tanya jawab secara langsung baik secara formal
maupun non formal dengan pihak-pihak yang terkait dalam
permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan penelitian, yaitu
mengenai asal-usul gaya rambut dan gaya berpakaian para pelajar
tersebut.
c. Dokumentasi (documentation)
Dokumentasi yaitu mengumpulkan bahan-bahan yang tertulis berupa
data-data yang diperoleh seperti data fisik foto-foto style fashion
para pelajar tersebut.

2. Studi Kepustakaan (library research)


Yaitu dengan mendatangi perpustakaan dan mencari buku-buku literatur
yang sesuai dengan masalah yang diangkat, dan informasi yang didapat
digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengaruh
lifestyle artis terhadap sikap remaja. Data yang diperoleh melalui studi
kepustakaan adalah sumber informasi yang telah ditemukan oleh para
ahli yang kompeten dibidangnya masing-masing sehingga relevan
dengan pembahasan yang sedang diteliti, dalam melakukan studi
kepustakaan ini penulis berusaha mengumpulkan data sebagai berikut :
a. Mempelajari konsep dan teori dari berbagai sumber yang
berhubungan dan mendukung pada masalah yang sedang diteliti.
b. Mempelajari materi kuliah dan bahan tertulis lainnya.

3.6 Teknik Analisa Data


Untuk mengetahui bagaimana pengaruh kedua variabel, peneliti
menggunkan teknik Analisis Regresi Linier Sederhana. Analisis regresi linier
digunakan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada variabel dependent
(variabel Y), nilai variabel dependent berdasarkan nilai independent (variabel X)
34

yang diketahui. Dengan menggunakan analisis regresi linier maka akan mengukur
perubahan variabel terikat berdasarkan perubahan variabel bebas. Analisis regresi
linier dapat digunakan untuk mengetahui perubahan pengaruh yang akan terjadi
berdasarkan pengaruh yang ada pada periode waktu sebelumnya.
Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh yang diperkirakan antara Strategi
Komunikasi Persuasif dengan Loyalitas Pelanggan dilakukan dengan rumus
regresi linier sederhana, yaitu sebagai berikut :
Rumus II. Teknik Analisa Data
Y = a + bx
Sumber: Sugiyono, 2009:204
Keterangan :
Y = Subjek variabel dependen yang diprediksikan. (Sikap Remaja)
X = Subjek variabel Independen yang diprediksikan. (Life style Artis)
a = Bilangan konstanta regresi untuk X = 0 (nilai y pada saat x nol)
b = Koefisien arah regresi yang menunjukkan angka peningkatan atau penurunan
variabel Y bila bertambah atau berkurang 1 unit.

Berdasarkan persamaan diatas, maka nilai a dan b dapat diketahui dengan


menggunakan rumus least squeare sebagai berikut :
Rumus untuk mengetahui besarnya nilai a
a = (∑y)(∑x)2-(∑x)(∑xy)
n∑x2 – (∑x)2
Rumus untuk mengetahui besarnya nilai b
b = n∑xy - (∑x)(∑y)
n∑x2 – (∑x)2
Dimana :
n = Jumlah Data Sampel
Setelah melakukan perhitungan dan telah diketahui nilai untuk a dan b, kemudian
nilai tersebut dimasukan kedalam persamaan regresi sederhana untuk mengetahui
perubahan yang terjadi pada variabel Y berdasarkan nilai variabel X yang
diketahui. Persamaan regresi tersebut bermanfaat untuk meramalkan rata-rata
35

variabel Y bila X diketahui dan memperkirakan rata-rata perubahan variabel Y


untuk setiap perubahan X.

3.7 Reabilitas dan Validitas


3.7.1 Uji Reabilitas
Suatu instrument pengukuran dikatakan reliable jika pengukuran
konsisten dan akurat. Jadi uji reliabilitas dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui konsistensi dari instrument sebagai alat ukur, sehingga hasil
suatu pengukuran dapat dipercaya. Untuk mencari reabilitas keseluruhan
item adalah dengan mengoreksi angka korelasi yang diperoleh
menggunakan rumus Koefisiensi Alfa (Cronbach) yaitu:
Rumus III. Uji Reabilitas
r11 = k x { 1 - ∑si }
k–1 St
Sumber: Nunnally:1996
Dimana :
r11 = Nilai reliabilitas
∑Si = Jumlah varians skor tiap-tiap item
St = Varians total
k = Jumlah item

Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : Menghitung varians


skor tiap-tiap item dengan rumus :
Rumus IV. Varians Skor

Sumber: Nunnally:1996

Untuk menentukan tingkat reliabilitas, adapun indikator yang digunakan


adalah:
Tabel 3. Indikator Tingkat Reliabiltas
Nilai Reliabilitas Tingkat reliabilitas
36

0,800 – 1,000 Sangat Tinggi


0,600 – 0,799 Tinggi
0,400 – 0,599 Cukup
0,400 – 0,599 Rendah
0,000 – 0,199 Sangat Rendah
Sumber: Suharsimi, 2002: 245

3.7.2 Uji Validitas


Pengujian validitas instrumen penelitian dilakukan dengan menggunakan
rumus korelasi Product Moment, sebagai berikut:
Rumus V. Uji Validitas
rxy = N ∑XY–(∑X) (∑Y)
√(N∑X2–(∑X)2) (N∑Y2–(∑Y)2)
Sumber: Nunnally:1996
Keterangan :
rxy = koefisien korelasi antara x dan y
X = jumlah skor dari masing-masing (faktor yang mempengaruhi)
Y = jumlah skor dari seluruh (skor total)
n = banyaknya variabel sampel yang dianalisis

Validitas dari masing-masing item diketahui dengan r hitung yang


dibandingkan dengan r tabel. Nilai r tabel untuk 91 responden dengan
tingkat kepercayaan 95% diperoleh nilai sebesar 0,1716. Bila dibandingkan
dengan nilai r hitung lebih besar dari r table, artinya semua item pertanyaan
adalah valid.
DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, kualitatif,


dan R&D). Bandung: Alfabeta.

http://junaidichaniago.wordpress.com
Mutiara Ayu Banjarsari, Pengaruh Perkembangan Fashion Bagi Mahasiswa, 2015.

Eristia Lidia Paramitra, Pengaruh Budaya Populer Korea dan Selebriti Endorser
Korea Terhadap Gaya Fashion Remaja Korea Remaja 18-21 Tahun, 2015.

Chau-kiu Cheung and Xiao Doung Yue , Identity Achievement and Idol Worship
among Teenagers in Hong Kong, 2003.

C. Suprapti Dwi Takariani, Pengaruh Sinetron Remaja di Televisi Swasta


Terhadap Sikap Mengenai Gaya Hidup Hedonis, 2013.

John Maltby, David C. Giles , Louise Barber and Lynn E, Intense-personal


celebrity worship and body image: Evidence of a link among female
adolescents, 2005.

Wahyu Satria Utama / Pengaruh Intensitas Menonton Tayangan Drama Seri


Korea di Televisi Terhadap Perilaku Berpakaian Pada Remaja Putri Usia 17-22
Tahun / 2013.

https://communicationportal.blogspot.co.id/2016/04/contoh-proposal-penelitian-
komunikasi.html

Wawan Kuswandi, 1996. Komunikasi masa: sebuah analisis isi media televise.
https://teorionline.wordpress.com/2010/01/24/uji-validitas-dan
reliabilitas/comment-page-1/