Anda di halaman 1dari 34

10 Penyimpangan Pembagian Waris di Indonesia

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Ustadz yang dirahmati Allah SWT.

Mohon izin untuk bertanya. Sungguh sedih kalau melihat fenomena semakin jauhnya umat Islam
dari penerapan syariatnya. Salah satunya adalah masih banyaknya penyimpangan pembagian
waris yang dilakukan oleh umat Islam di Indonesia.

1. Mohon ustadz berkenan untuk menjelaskan pada titik mana saja penyimpangan itu
terjadi.
2. Dan apa yang bisa kita lakukan dengan semua penyimpangan ini?

Demikian pertanyaan saya, terima kasih sekali atas perhatian dan jawabannya.

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Meskipun mayoritas penduduk negeri ini memeluk agama Islam, dan meskipun Indonesia adalah
negara muslim terbesar di dunia, namun bukan berarti hukum waris dijalankan dengan benar
oleh umat Islam.

Dalam kenyataannya, hukum waris yang menjadi salah satu ciri khas agama ini justru banyak
ditinggalkan oleh pemeluk agama Islam sendiri. Persis dengan sabda Nabi SAW bahwa ilmu
waris itu akan dilupakan orang, dan termasuk yang pertama kali akan dicabut dari umat beliau
SAW.

‫ع ِم ْن أ ُ َّمتِي‬ َ ‫ف ال ِع ْل ِم َو ِإنَّهُ يُ ْن‬


ُ َ‫سى َوه َُو أ َ َّو ُل َما يُ ْنز‬ َ ِ‫تَعَلَّ ُموا الفَ َرائ‬
ْ ‫ض َو َع ِل ُم ْوهَا فَإِنَّهُ ِن‬
ُ ‫ص‬

Pelajarilah ilmu faraidh dan ajarkanlah. Karena dia setengah dari ilmu dan dilupakan orang.
Dan dia adalah yang pertama kali akan dicabut dari umatku". (HR. Ibnu Majah, Ad-
Daruquthuny dan Al-Hakim)

Kalau pun masih ada sisa-sisa dari umat Islam yang menjalankannya, sayangnya hukum waris
dijalankan dengan cara-cara yang sebenarnya sudah tidak sejalan lagi sebagaimana yang
seharusnya. Disana sini kita menemukan begitu banyak penyimpangan hukum waris dilakukan
oleh mayoritas umat Islam.

Suka atau tidak suka, memang demikian itulah kenyataannya. Syariat Islam runtuh bukan karena
dirusak oleh musuh-musuh Allah SWT, tetapi runtuh dengan sendirinya akibat keawaman dan
kebodohan umat Islam sendiri terhadap ilmu syariah dalam agamanya.
Di antara begitu banyak kekeliruan dalam memandang hukum waris di dalam syariat Islam
antara lain :

1. Menyamakan Bagian Anak Laki-laki dan Perempuan

Menyamakan bagian antara anak laki-laki dengan bagian buat anak perempuan adalah masalah
yang klasik dan paling sering terjadi di tengah masyarakat yang mengaku agamis dan islamis.

Padahal ketentuan bahwa bagian untuk anak perempuan itu separuh dari bagian anak laki-laki
bukan sekedar karangan atau ciptaan manusia, melainkan sebuah ketetapan yang langsung Allah
SWT turunkan dari langit kepada kita.

Kalau mau protes dan keberatan, silahkan langsung ajukan kepada Allah SWT. Kalau di masa
pensyariatan dulu, bisa saja keberatan itu direspon langsung oleh Allah, sehingga hukumnya
diubah atau minimal diringankan.

Tetapi kita sekarang ini hidup di luar era pensyariatan, maka semua yang sudah ditetapkan itu
adalah ketetapan yang tidak bisa diprotes lagi. Protes berart kafir dan menentang hukum-Nya.
Dan untuk itu Allah SWT sudah menegaskan ketentuan-Nya yang sudah baku tidak boleh
diubah-ubah :

‫ف‬ ْ ِ‫احدَةً فَلَ َُها الن‬


ُ ‫ص‬ ِ ‫َْت َو‬ َ ِ‫ُوصي ُك ُم ّللاُ فِي أ َ ْولَ ِد ُك ْم ِللذَّك َِر ِمثْ ُل َح ِظ األُنثَ َيي ِْن فَإِن ُك َّن ن‬
ْ ‫ساء فَ ْوَقَ اْثْنَتَي ِْن فَلَ ُُه َّن ْثُلُثَا َما ت ََرَكَ َوإِن كَان‬ ِ ‫ي‬

Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu : bagian seorang
anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya
perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika
anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. (QS. An-Nisa' : 11)

Saayngnya meski ayat ini sering dibaca berulang-ulang, namun dalam pelaksanannya cenderung
hampir semua keluarga menjalankan cara-cara yang bertentangan dengan aturan syariah Islam
ini.

Alasnnya bisa bermacam-macam. Bisa saja karena memang tidak tahu adanya aturan tersebut,
lantaran selama ini lebih terdidik dengan sistem waris versi Belanda atau adat. Jadi selama ini
memang sama sekali tidak pernah tahu menahu urusan pembagian waris.

Namun alasannya kadang bisa juga bukan karena tidak tahu, tetapi menganggap enteng urusan
seperti ini. Dikiranya melanggar ketentuan syariah dalam masalah ini tidak mengapa, karena
memang selama ini agama yang dijalankannya hanya sebatas masalah ritual dan syiar-syiar
belaka.

Kalau urusan shalat, puasa, haji, perayaan hari-hari besar agama, serta hal-hal yang secara umum
berbau agama, mungkin tidak pernah lepas dan selalu diupayakan. Tetapi giliran membagi
warisnya dilakukan dengan cara yang menyimpang, tidak sadar kalau hal itu pada hakikatnya
termasuk perbuatan menentang hukum-hukum Allah SWT, dan ancaman hukumannya bukan hal
yang main-main.
Dan kenyataannya, tidak sedikit orang-orang yang setiap tahun bolak-balik pergi haji sekeluarga,
tetapi tidak benar cara membagi harta warisan, karena mungkin dianggap urusan waris tidak ada
kaitannya dengan agama yang dianutnya.

2. Membagi Waris Ketika Masih Hidup

Kasus seorang yang masih hidup sudah diributkan hartanya untuk dibagi-bagi sebagai warisan,
sudah cukup sering kita dengar. Kadang yang meributkannya adalah sang pemilik harta itu
sendiri, tetapi tidak jarang yang meributkannya adalah para calon ahli waris.

Padahal secara syariah, tidak ada pembagian harta warisan selama pemilik harta itu masih hidup.
Sebab salah satu syarat dalam pembagian waris adalah matinya pewaris.

Kalau pewarisnya masih hidup, maka tidak ada urusan dengan pembagian waris. Yang bisa
dilakukan hanyalah hibah atau wasiat, tetapi bukan bagi waris.

Hibah : Hibah adalah pemberian harta kepada siapa saja yang dikehendaki, tanpa ada ketentuan
siapa yang boleh dan tidak boleh untuk menerimanya.

Jadi bisa saja yang diberi hibah itu calon ahli waris atau bukan ahli waris. Dan tidak ada
pembatasan jumlah maksimal dalam kasus hibah harta. Berapa pun harta yang mau diberikan,
maka si pemilik harta berhak memberikan kepada orang yang dikehendakinya. Asalkan pemilik
harta itu masih hidup dan sama sekali belum ada tanda-tanda menjelang kematian.

Wasiat : Sedangkan wasiat, hanya dilakukan ketika seseorang telah merasa hampir mendekati
kematiannya. Dimana orang yang boleh diberi wasiat itu tidak boleh sekalian menjadi calo ahli
waris. Jadi hanya boleh mereka yang bukan ahli waris saja. Dan untuk wasiat, ada pembatasan
jumlah maksimal yang boleh diberikan, yaitu hanya 1/3 dari jumlah total harta. Sisanya yang 2/3
adalah hak para calon ahli waris.

Kesalahan yang sering terjadi, si pemilik harta sejak masih hidup sudah membagi-bagi harta
kepada calon ahli warisnya, dengan menyebut sebagai pembagian warisan. Bahkan yang lebih
fatal lagi, ahli waris yang haram menerima wasiat pun diberi wasiat.

Sebuah keawaman yang akut dan merata, tetapi sayangnya dibiarkan saja. Tidak ada satu pun
orang yang merasa ikut bertanggung-jawab. Naudzubillah min zalik.

3. Harta Bersama Suami Istri

Kasus harta bersama milik suami istri adalah warisan dari sistem hukum barat (baca:Belanda).
Tetapi akibat perang pemikiran yang panjang, bahkan bangsa kita sangat lekat dengan sistem
kepemilikan harta seperti ini, yang kita kenal dengan istilah harta gono-gini.

Dengan adanya sistem harta milik bersama atau gono-gini, maka pelaksanaan pembagian
warisan menjadi rancu, karena misalnya begitu seorang suami meninggal dunia, harta tidak bisa
dibagi waris. Mengapa?
Karena mempertimbangkan bahwa harta yang mau dibagi waris itu ternyata masih harta milik
bersama antara suami dan istri. Dan karena istri saat itu masih hidup, biasanya pembagian waris
ditunda-tunda, karena harus menunggu dulu istrinya meninggal juga.

Inilah kekeliruan fatal yang selama ini didiamkan saja, bahkan oleh mereka yang mengerti
hukum Islam. Padahal kalau kita menggunakan sistem yang berlaku di dalam syariah Islam,
sebenarnya kita tidak mengenal istilah harta bersama atau harta gono-gini.

Di dalam syariat Islam, ketika sepasang suami istri menikah, harta mereka tidak perlu dijadikan
satu dan tiba-tiba menjadi harta milik bersama. Cara seperti itu adalah asli merupakan hukum
buatan orang-orang kafir Eropa yang terbawa-bawa kepada kehidupan kita.

Di dalam sistem syariah Islam, prinsipnya bahwa semua harta suami tetap selalu menjadi harta
suami. Dan bahwa semua harta istri juga akan tetap selalu harta milik istri sepenuhnya.

Namun sebagian dari harta suami, memang ada yang menjadi hak istri, tetapi harus lewat akad
yang jelas, misalnya lewat pemberian mahar, atau nafkah yang memang hukumnya wajib, atau
lewat hibah, atau hadiah. Tanpa penyerahan yang menggunakan akad yang pasti, harta suami
tidak secara otomatis jadi harta istri.

Memang kalau istrinya cuma satu, masih bisa dinalar. Tetapi bayangkan bila seorang suami
punya dua atau tiga istri sekaligus, siapa dari istri itu yang secara otomatis menjadi pemilik harta
suami? Tentu akan jadi rancu kan?

Nah, oleh karena itulah, harta istri dari suami harus diberikan lewat akad pemberian, bukan
terjadi secara otomatis.

4. Harta Almarhum Dikuasai Istri

Salah satu kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh umat Islam di negeri ini adalah bahwa
ketika suami meninggal dunia, istrinya otomatis menjadi penguasa tunggal atas harta milik
suaminya itu. Apalagi bila anak-anak masih kecil-kecil, boleh dibilang harta suami sudah pasti
jadi milik istri seluruhnya.

Padahal hak istri atas harta suaminya hanya 1/8 atau ¼ saja. Bila suami punya anak misalnya,
maka istri hanya berhak mendapat 1/8 dari total harta milik suaminya. Sisanya yang 7/8 bagian
menjadi hak anak-anaknya yang kini sudah menjadi anak yatim.

Dasarnya adalah firman Allah SWT :

‫صونَ بِ َُها أ َ ْو دَي ٍْن‬ ِ ‫الربُ ُع ِم َّما ت ََر ْكت ُ ْم إِن لَّ ْم يَ ُكن لَّ ُك ْم َولَد ٌ فَإِن َكانَ لَ ُك ْم َولَد ٌ فَلَ ُُه َّن الث ُّ ُمنُ ِم َّما ت ََر ْكتُم ِمن بَ ْع ِد َو‬
ُ ‫صيَّ ٍة تُو‬ ُّ ‫َولَ ُُه َّن‬

Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai
anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang
kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar utang-
utangmu. (QS. An-Nisa' : 12)
Kalau pun anak-anak almarhum masih kecil-kecil, bukan berarti anak kecil tidak boleh
menerima warisan. Mereka tetap berhak atas harta warisan dari ayahnya. Namun istri boleh
menyimpan dan memelihara harta dari anak-anaknya itu, untuk suatu hari harus diserahkan harta
itu kepada mereka.

Kalau pun harus terpakai harta itu demi kepentingan anak-anak, maka istri harus secara amanat
membelanjakannya dan tidak membuang-buang harta itu, apalagi menguasainya untuk
kepentingan diri sendiri.

Dan apabila si janda ini menikah lagi dengan laki-laki lain, ada anggapan di tengah masyarakat
bahwa si laki-laki yang menikahi janda kaya menjadi orang yang paling beruntung.

Kenapa?

Karena seolah-olah si suami baru ini merasa mendapat hak dan bagian dari harta peninggalan
almarhum. Padahal seharusnya tak secuil pun harta almarhum yang tiba-tiba berubah menjadi
haknya. Harta itu milik anak-anak almarhum dan istrinya saja, sedangkan suami baru bukan
pihak yang berhak atas harta almarhum.

Demikian juga yang terjadi bila istri yang meninggal dunia, maka suami seolah-olah menjadi
pewaris tunggal, dan mengangkat diri dirinya sebagai satu-satunya orang yang berhak atas
seluruh harta peninggalan istrinya. Maka dia merasa bebas untuk kawin lagi dan memberikan
seluruh harta milik almarhumah istrinya kepada istri barunya.

Padahal seharusnya, suami hanya mendapat 1/4 bagian saja dari harta istrinya. Bagian lainnya
yang 3/4 bukan miliknya tetapi milik ahli waris yang lain.

5. Bagi Waris Menunggu Salah Satu Pasangan Meninggal Dunia

Dengan alasan untuk menghormati ibu yang telah hidup sendiri karena ditinggal mati oleh ayah
yang menjadi suaminya, seringkali pembagian waris tidak dilaksanakan.

Tindakan ini kalau didasarkan pada kesalahan sebelumnya, yaitu bahwa harta milik seorang
suami secara otomatis dan pasti menjadi harta milik istrinya juga.

Pandangan ini jelas tidak sejalan dengan hukum Islam yang memandang bahwa tiap orang punya
hak atas harta masing-masing. Dan meskipun seorang laki-laki punya istri, harta miliknya tidak
secara otomatis menjadi harta istrinya. Dan demikian juga berlaku sebaliknya, harta milik istri
tidak secara otomatis menjadi harta suami.

Maka kalau ada salah satu yang meninggal, harta harus segera dibagi waris, tanpa harus
menunggu pasangannya meninggal terlebih dahulu.

Keharusan segera membagi warisan itu dikecualikan, misalnya bila ada pertimbangan yang
bersifat teknis semata, bukan karena harus menunggu kematian. Misalnya karena ada
pertimbangan karena harta itu sulit untuk dijual, jadi untuk sementara dibiarkan saja dulu. Kalau
demikian tentu bisa dimaklumi bila sedikit tertunda.

Namun begitulah yang terjadi di tengah masyarakat kita, umumnya pembagian harta warisan
tidak segera dilaksanakan secepatnya, alasannya semata-mata karena masih menghormati ibu
mereka.

Dan yang lebih parah, para ibu yang posisinya sebagai istri almarhum pun tidak lebih baik cara
berpikirnya. Biasanya karena kurang ilmu dan ikut-ikutan kebiasaan yang ada di tengah
masyarakatnya, juga merasa tersinggung kalau ketika masih hidup, harta peninggalan suami
sudah dibagi-bagi kepada putera puteri almarhum.

6. Bukan Ahli Waris Tetapi Merasa Paling Berhak

Di antara bentuk kekeliruan dalam pembagian waris yang sering terjadi adalah diberikannya
harta peninggalan almarhum kepada orang yang bukan ahli waris, dengan mengatas-namakan
pembagian waris.

Di antara mereka yang sebenarnya tidak berhak atas harta warisan namun seringkali ikut
diberikan harta waris ada beberapa jenis :

a. Tidak Terdaftar Dalam Sturuktur Ahli Waris

Orang yang tidak termasuk di dalam daftar ahli waris tapi sering menuntut agar mendapat bagian
waris antara lain mereka yang hubungannya pakai istilah angkat, tiri dan mantan.

 Jalur Keluarga Berstatus Angkat

Yang dimaksud dengan keluarga yang menggunakan istilah ‘angkat’ antara lain adalah anak
angkat, ayah angkat, ibu angkat, saudara angkat, paman angkat, bibi angkat dan seterusnya.

Pengangkatan saudara atau anak tidak dikenal di dalam syariat Islam.

 Jalur Kelurga Berstatus Tiri

Selain jalur keluar yang berstatus angkat, yang bukan termasuk ahli waris adalah jalur keluarga
yang berstatus tiri. Misalnya anak tiri, ibu tiri, ayah tiri, saudara tiri lain ayah lain ibu, dan
seterusnya.

 Jalur Keluarga Berstatus Mantan

Selain itu yang juga bukan termasuk ahli waris adalah jalur keluarga yang berstatus mantan.
seperti mantan suami atau mantan istri.

 Memang Bukan Ahli Waris


Selain itu yang bukan termasuk ahli waris adalah menantu, mertua dan sebagian keponakan,
saudara ipar, cucu dari jalur anak perempua, sebagian paman.

b. Terdaftar Dalam Ahli WAris Tetapi Terhijab dan Terlarang

Tidak semua orang yang termasuk di dalam daftar ahli waris pasti mendapatkan jatah bagian dari
harta warisan. Mereka yang terhijab oleh keberadaan ahli waris yang lain yang lebih dekat, tentu
juga tidak mendapat harta warisan.

Dari 22 pihak ahli waris yang terdaftar, hanya 6 pihak saja yang pasti tidak akan pernah terhijab,
yaitu anak laki-laki, anak perempuan, suami, istri, ayah dan ibu. Selebihnya, masih sangat besar
kemungkinan terhijab dan gugur haknya.

Mereka yang sudah termasuk di dalam daftar ahli waris dan tidak terhijab, tetapi pada dirinya
ada mawani’ (pencegah), seperti yang sudah Penulis sebutkan di awal. Di antara pencegah
seorang ahli waris dari menerima harta waris adalah perbedaan agama, pembunuhan dan
perbudakan.

7. Bagi Waris Berdasarkan Kesepakatan

Kesalahan yang paling fatal dalam pembagian harta waris adalah pembagian berdasarkan
kesepakatan dengan sesama ahli waris, tanpa mengindahkan ketentuan yang ada di dalam Al-
Quran, As-Sunnah dan juga apa yang telah ditetapkan syariah Islam.

Alasan yang biasanya digunakan adalah asalkan para pihak sama-sama ridha dan tidak menuntut
apa-apa. Sehingga dianggap sudah tidak perlu lagi dibagi berdasarkan ketentuan syariah.

Perumpamaan keharaman tindakan ini ibarat laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri
sepakat dan rela sama rela untuk melakukan hubungan badan di luar nikah, alias berzina. Meski
sama-sama suka dan tidak merasa dirugikan, tetapi bukan berarti berzina itu dibolehkan. Sebab
di luar mereka, ada Allah SWT yang telah menetapkan keharaman berzina.

Demikian juga dengan pembagian harta waris yang melanggar ketentuan Allah SWT. Para ahli
waris mungkin secara suka rela membaginya, namun di sisi lain mereka telah sepakat untuk
meninggalkan ketentuan Allah SWT.

Maka yang seharusnya dilakukan, sebelumnya harus dibagi sesuai dengan ketentuan syariat
Islam. Bahwa setelah itu masing-masing pihak ingin menghadiahkan sebagian jatahnya atau
seluruhnya buat saudaranya, itu terserah mereka masing-masing.

Dalam hal ini ada ancaman yang serius dari Allah SWT bagi keluarga yang tidak menggunakan
hukum mawaris dalam pembagian harta peninggalan almarhum.

‫ين‬ ً ‫سولَهُ َويَت َ َعدَّ ُحدُودَهُ يُد ِْخ ْلهُ ن‬


ٌ ‫َارا خَا ِلدًا فِي َُها َولَهُ َعذَابٌ ُّم ُِه‬ ُ ‫ص ّللاَ َو َر‬
ِ ‫َو َمن يَ ْع‬
Dan siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya
(hukum waris), niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di
dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. An-Nisa' : 14)

Di ayat ini Allah SWT telah menyebutkan bahwa membagi warisan adalah bagian dari hudud,
yaitu sebuah ketetapan yang bila dilanggar akan melahirkan dosa besar. Bahkan di akhirat nanti
akan diancam dengan siksa api neraka.

Sayangnya, tidak ada pihak yang berhak untuk mencegah cara-cara jahiliyah ini, baik dari pihak
para ulama apalagi dari pihak pemerintah, baik ulama atau pun pemerintah, keduanya hanya
menjadi penonton pasif belaka. Sayang sekali mereka seringkali tidak pernah merasa
berkewajiban untuk meluruskan umat dari berbagai penyimpang yang dilakukan.

Dan dalam banyak kasuk, kedua belah pihak lebih sering menyerahkan urusan ini kepada rapat
dan kesepakatan keluarga. Yang penting semua sama-sama ikhlas dan menerima, masalah
dianggap selesai. Apakah Allah SWT menerima atau tidak, sama sekali tidak ada yang peduli.

8. Bagi Waris Menggunakan Aturan Adat

Salah satu bentuk kekeliruan yang amat fatal adalah membagi waris dengan tata cara adat yang
bertentangan dengan hukum mawaris.

Turunnya ayat-ayat tentang waris ini di masa Rasulullah SAW justru untuk menggantikan tata
cara pembagian waris secara adat. Di antara adat yang bertentangan dengan hukum mawaris di
masa Rasulullah SAW antara lain :

 Anak perempuan tidak mendapatkan harta warisan. Ketika syariat tentang mawaris ini
turun, anak perempuan ditetapkan mendapat bagian dari warisan.
 Anak laki-laki yang belum mampu memanggul senjata juga tidak mendapat harta
warisan. Sehingga anak-anak kecil, bila ayah mereka meninggal dunia, sudah dipastikan
tidak akan mendapat warisan. Yang dapat warisan hanya khusus anak-anak laki-laki yang
sudah dewasa, dan ukurannya adalah kemampuan dalam berperang dan memanggul
senjata. Ketika syariat Islam turun, semua anak baik besar maupun masih kecil, pasti
mendapat harta warisan.
 Anak angkat atau anak adopsi menerima warisan kalau menggunakan hukum jahiliyah di
masa sebelum turunnya syariat Islam. Dengan semakin sempurnanya syariat Islam, anak
angkat bukan hanya tidak mendapat harta warisan, tetapi hukum mengangkat anak itu
sendiri pun dibatalkan dan dilarang.
 Anak Mewarisi Ibu Tirinya. Bila seorang ayah yang punya banyak istri meninggal dunia,
maka anak laki-laki pertama berhak mewarisi para mantan istri ayahnya, alias ibu tiri
mereka. Dengan turunnya syariat Islam, ibu tiri menjadi haram untuk dinikahi, apalagi
diwariskan kepada anak tiri.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh hukum waris adat jahiliyah yang bisa kita sebutkan.
Semua itu kemudian dihapus dan terlarang untuk dijalankan oleh umat Islam.
Di negeri kita, tiap suku punya ketentuan hukum waris yang mereka pelihara sejak zaman nenek
moyang. Terkadang ketentuan-ketentuannya sejalan dengan hukum mawaris, namun seringkali
justru bertentangan 180 derajat.

Maka bila memang ketentuan hukum adat bertentangan dengan hukum mawaris yang datang dari
Allah SWT, hukum adat itu harus ditinggalkan, karena hukumnya haram untuk dijalankan.

9. Menunda Bagi Waris Sampai Para Ahli Waris Meninggal

Contohnya adalah seorang kakek yang ketika wafat meninggalkan harta berupa sebidang tanah.
Tanah itu dibiarkan saja tidak dibagi waris, sampai salah satu atau beberapa ahli waris pun
meninggal dunia. Padahal seharusnya tanah itu segera dibagi waris, agar para ahli waris yang
berhak memilikinya bisa segera menikmatinya.

Entah bagaimana dan entah karena alasan apa, ternyata bertahun-tahun dibiarkan saja tanah itu
tanpa kejelasan siapa pemiliknya. Lalu lahirlah anak-anak dari ahli waris, yang sebenarnya
bukan ahli waris langsung dari sang kakek.

Di level mereka inilah kemudian muncul pertentangan atau perebutan atas tanah warisan dari
kakek. Tiap-tiap cucu merasa sebagai ahli waris, sehingga masing-masing mengklaim sebagai
pihak yang berhak atas tanah tersebut.

Sayangnya, generasi yang seharusnya menjadi ahli waris langsung justru sudah banyak yang
wafat.

10. Ahli Waris Pengganti

Istilah ahli waris pengganti yang dimaksud adalah bila seorang anak yang seharusnya menjadi
ahli waris, meninggal lebih dulu sebelum ayahnya yang menjadi pewaris wafat.

Dalam syariat Islam, yang namanya bagi waris itu hanya terbatas memindahkan harta warisan
dari pewaris yang wafat kepada ahli waris yang syaratnya adalah orang yang masih hidup.

Meski seorang anak biasanya jadi ahli waris dari ayahnya, tetapi kalau si anak ini meninggal
duluan, maka statusnya bukan ahli waris dari ayahnya. Yang terjadi malah sebaliknya, justru
ayahnya itulah yang menjadi ahli waris dari anaknya yang meninggal. Kalau si anak ini punya
harta, maka ayahnya adalah salah satu dari ahli waris.

Sayangnya, justru di dalam Kompilasi Hukum Islam, ketentuan syariah ini, entah dengan alasan
apa yang kita tidak paham, malah dilanggar. Posisi si anak yang meninggal duluan ini kemudian
digantikan olah anaknya lagi, yang tidak lain adalah cucu dari almarhum.

Ketentuan ini jelas-jelas melanggar hukum syariah, karena cucu yang dikatakan menggantikan
posisi ayahnya itu sebenarnya terhijab (mahjub) dengan adanya ahli waris yang lain, yaitu
pamannya, atau kalau dari sisi si kakek disebut anak-anak kakek yang lain.
Konon alasan adanya kedudukan pengganti ahli waris ini didasarkan pada niat baik, agar anak-
anak almarhum calon ahli waris yang meninggal duluan itu tetap bisa mendapatkan bagian dari
harta yang diwariskan kakek.

Sayangnya, solusi yang digunakan tidak benar, karena malah mengubah hukum waris itu sendiri.
Prinsipnya, tujuan yang baik tidak boleh dijalankan dengan cara yang tidak baik.

Yang seharusnya dilakukan adalah bukan mengubah hukum waris, tetapi gunakan cara lain yang
masih dibenarkan dalam syariat Islam. Salah satunya adalah syariat wasiyat atau hibah.

a. Wasiat

Ketika sang kakek pemilik harta mengetahui salah satu anaknya ada yang wafat dan
meninggalkan anak, dimana anak itu tidak lain adalah cucunya juga, maka si kakek boleh saja
berwasiat. Isinya bila nanti dirinya berpulang ke rahmatullah, sebagian dari hartanya itu
diwasiatkan agar diberikan kepada cucunya.

Sebab cucu itu sudah dipastikan tidak akan mendapat harta warisan dari sang kakek. Maka
wasiat dari kakek bisa berlaku agar si cucu tetap mendapatkan bagian dari harta.

Cara inilah yang dilakukan oleh Pemerintah Mesir dan Suriah, ketika menghadapi masalah
seperti ini. Pemerintah berinisiatif untuk mewajibkan sang kakek membuat wasiat. Istilahnya
adalah wasiyah wajibah. Jadi wasiat itu bukan semata-mata inisiatif si kakek, tetapi negara
mewajibkan kepada kakek untuk mewasiatkan harta kepada si cucu.

Cara ini 100% sesuai dengan syariah, dan tujuan untuk memberikan keadilan kepada cucu juga
tercapai.

b. Hibah

Selain dengan jalan wasiat, bisa saja si kakek langsung memberi harta kepada si cucu on the
spot, tanpa harus menunggu dirinya meninggal dunia.

Ketika tahu salah satu anaknya wafat dan meninggalkan anak yang juga menjadi cucunya, si
kakek langsung ke bank mencairkan uang. Lalu uang itu langsung diserahkan kepada si cucu,
nilainya terserah saja. Dan boleh saja bila nilainya kurang lebih sama dengan yang nantinya
bakalan diterima oleh anak atau cucu lainnya.

Tindakan seperti ini baik sekali dilakukan, karena sejak dini sudah diantisipasi urusan keadilan
harta.

Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

Semua fenomena ini berangkat dari semakin asingnya umat Islam terhadap ilmu syariah,
khususnya ilmu mawaris yang telah diajarkan oleh Nabi SAW.
Maka kuncinya adalah bagaimana kita kembali menggalakkan pengajaran dan sosialisasi ilmu
mawaris ini ke tengah-tengah umat dengan tindakan yang nyata.

Kita sebenarnya punya banyak majelis ilmu. Bahkan setiap masjid punya pengajian yang rutin
dilaksanakan. Tidak ada salahnya kalau kita mulai dari menyisipkan pengajian di berbagai
majelis taklim dengan materi yang terkait dengan maslah mawaris.

Syukur nanti kalau bisa lebih disosialisasikan secara masif dan nasional. Entah lewat kurikulum
resmi di sekolah, atau pun juga lewat berbagai terobosan yang bisa dilakukan oleh para ustadz,
da'i dan juga para penceramah. Setelah tentunya mereka juga mendapatkan kuliah khusus dalam
masalah seperti ini.

Dan tidak ada salahnya kalau hukum-hukum waris ini disosialisasikan lewat berbagai media,
baik cetak maupun elektronik. Tentu semua semata-mata hanya mengharap ridha Allah SWT.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA


Suami Wafat Meninggalkan 1 Isteri, 3 Anak Laki dan 2
Anak Perempuan
https://www.eramuslim.com/mawaris/suami-wafat-meninggalkan-1-isteri-3-anak-laki-dan-2-
anak-perempuan.htm#.XK8jRkjgp1s

Assalamu’alaikum Wr Wb.

Tolong di hitungkan pembagian warisan ayah saya, dengan anggota keluarga kami yang masih
hidup adalah:
1. 1 (satu ) orang isteri
2. 3 (tiga ) orang anak laki – laki
3. 2 (dua ) orang anak perempuan

Pak ustadz, saya minta jawaban yang sejelas-jelasnya, bagaimanakah pembagian waris yang
benar.

Wassalam,

Fitri

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apabila seorang laki-laki wafat dan meninggalkan seorang isteri, 3 anak laki-laki dan 2 orang
anak perempuan, maka pembagian warisannya cukup sederhana.

Kita mulai dari ahli waris yang sudah pasti memiliki bagian tertentu, yang disebut dengan istilah
ashhabul furudh. Dalam hal ini yang menjadi ashhabul furudh adalah isteri.Besar nilai bagiannya
sudah langsung ditetapkan di dalam Al-Quran.

Ada dua kemungkinan nilai yang akan diterima seorang isteri. Kemungkinan pertama, bila
almarhum punya fara’ waris. Mereka adalah keturunan yang berhak menerima warisan seperti
anak atau cucu, maka isteri menerima 1/8 bagian dari total harta yang dibagi waris. Angka 1/8 ini
sama dengan 12, 5% kalau kita desimalkan.

Kemungkinan kedua, bila almarhum tidak punya fara’ waris, yaitu keturunan yang berhak
menerima warisan. Misalnya tidak punya anak. Maka bagian untuk isteri akan menjadi lebih
besar dua kali lipatnya, yang tadinya hanya 1/8 aka bertambah menjadi 1/4. Atau 25% dari
semua harta yang dibagi waris.

Nah, dalam kasus yang anda tanyakan, nampaknya isteri hanya mendapat 1/8 saja. Kenapa?

Karena almarhum punya keturunan yang mendapat warisan juga. Yaitu anak-anaknya.
Maka kalau kita anggap harta yang dibagi waris itu adalah 1 (satu) bulatan penuh, kita belah
menjadi 8 bagian yang sama besar. Satu dari delapan bagian itu kita serahkan kepada isteri.
Sisanya masih ada 7 bagian atau 7/8 bagian atau 87, 5%.

Harta sebesar itu menjadi hak ahli waris ashabah. Mereka adalah ahli waris yang tidak ditetapkan
bagiannya secara tertentu, kecuali hanya mendapat sisa pembagian yang didahulukan untuk para
ashhabul furudh.

Anak-anak almarhum bila ada yang laki-laki selalu menjadi ashabah. Tetapi bila tidak ada yang
laki-laki, hanya perempan saja, kedudukanya bukan ashabah melainkan ashhabul furudh. Kalau
perempuan hanya satu-satunya, bagianya adalah 1/2 atau 50% dari total harta yang dibagi waris.
Kalau lebih dari satu anak perempuan, maka bagian mereka adalah 2/3 atau 66, 66% dari total
harta yang dibagi waris. Tinggal dibagi rata di antara mereka.

Sedangkan anak laki-laki selalu berstatus sebagai ashabah. Dan keberadaan anak laki-laki akan
membuat status anak semua anak perempuan akan berubahmenjadi ashabah juga. Hanya
bedanya, mereka menerima 1/2 dari yang menjadi hak anak laki-laki.

Karena itu kita tidak membagi sisa warisan itu menjadi 5 bagian sama besar, tetapi kita akan
menghitung bahwa seorang anak laki harus mendapat bagian 2 kali lipat lebih besar dari seorang
anak perempuan. Bagaimana caranya?

Caranya dengan menganggap tiap satu anak laki-laki itu 2 orang perempuan. Sehingga seolah-
oleh jumlah anak itu bukan 3 laki dan 2 perempuan, melainkan 6 perempuan dan 2 perempuan.
Jumlahnya jadi 8 bagian. Nanti tiap anak laki-laki mendapat 2 bagian dan tiap anak perempuan
mendapat 1 bagian.

Jadi kini kita tinggal membagi 7/8 atau 87, 5% itu menjadi 8 bagian sama besar. Berapa
hasilnya?

Hasilnya adalah 7/8 x/18 = 7/64. Sedangkan secara desimal adalah 87, 5%: 8 = 10, 93%. Maka
tiap anak laki-laki berhak mendapat 2 kali lipat dari 10, 93%, yaitu sebesar 10.93 x 2= 21, 87%.
Sedangkan tiap anak perempuan mendapat 10, 93% saja.

Walhasil, kita bisa buat tabel untuk semua ahli waris sebagai berikut:

Ahli Waris Status Bagian Nilai Hasil


Isteri Ashhabul Furudh 1/8 12, 5% 12, 5%
Anak laki-laki [1] Ashabah 2 x 7/8 x 1/8 2 x 7/64 = 14/64 21, 87%
Anak laki-laki [2] Ashabah 2 x 7/8 x 1/8 2 x 7/64 = 14/64 21, 87%
Anak laki-laki [3] Ashabah 2 x 7/8 x 1/8 2 x 7/64 = 14/64 21, 87%
Anak perempuan [1] Ashabah 7/8 x 1/8 7/64 1093%
Anak perempuan [2] Ashabah 7/8 x 1/8 7/64 1093%

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Warisan Dibagi Tidak Berdasarkan Hukum


Islam
Assalammualaikum,

Saya ingin menanyakan bagaimana hukumnya jika warisan tidak dibagikan sesuai hukum Islam,
melainkan dibagikan secara merata antara anak perempuan dan anak laki-laki yang sebelumnya
sudah disepakati oleh semua anak yang akan mendapatkan warisan. Mohon penjelasan untuk
menghilangkan keraguan kami, karena pada dasarnya saya mengetahui bahwa kita sebagai umat
Islam harus berpedoman pada Al-Quran (termasuk dalam hal pembagian warisan), tetapi ketika
pembagian harta warisan, keluarga suami tidak mengikuti hukum warisan dalam Islam, padahal
sebelumnya suami telah mengingatkan mengenai hukum pembagian ini agar sesuai dengan Al-
Quran. Terima kasih.

Wassalammualaikum,

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang anda yakini memang benar, bahwa kita sebagai muslim terikat pada hukum Allah
SWT dalam banyak hal yang terkait dengan masalah harta. Salah satunya dalam cara membagi
warisan.

Setiap harta yang kita terima, nanti di hari kiamat akan dipertanyakan. Tiap rupiah yang kita
terima harus kita pertanggung-jawabkan di hadapan mahkamah tertinggi. Manakala ada serupiah
saja yang kita miliki itu ternyata didapat dari cara-cara yang melanggar ketentuan Allah, maka
pasti akan ketahuan juga.

Di antara harta yang haram adalah harta warisan yang kita dapat bukan dengan cara pembagian
warisan yang telah ditetapkan Allah SWT. Katakanlah seharusnya seorang anak wanita hanya
mendapat 1/2 dari yang didapat anak laki-laki, namun entah karena tidak tahu atau pura-pura
tidak tahu, dimakannya harta warisan yang haram, maka harta yang bukan jatahnya itu harus
dipertanggung-jawabkan di sisi Allah SWT.
Sebab di dalam Al-Quran Al-Karim, melanggar hukum warisan memang diancam masuk neraka.
Bukan berhenti di situ saja, bahkan Allah SWT menegaskan bahwa pelakunya akan dikekalkan
di dalamnya. Na’uzu billahi min zalik.

Ya Allah, kami berlindung dari neraka-Mu hanya gara-gara makan harta haram yang telah
Engkau jelaskan dalam kitab-Mu.

Allah SWT telah mewajibkan umat Islam untuk membagi warisan sesuai dengan petunjuknya.
Sebagaimana yang telah Allah syariatkan di dalam Al-Quran Al-Kariem Itu adalah ketentuan-
ketentuan dari Allah.

Di dalam Al-Quran surat An-Nisa, setelah Allah SWT menjelaskan siapa saja yang berhak
mendapat harta waris dan berapa besar hak masing-masing, lalu Allah yang menjanjikan buat
orang yang taat kepada aturan hukum waris untuk masuk surga. Tapi sebaliknya, buat mereka
yang tidak mengerjakan aturan pembagian warisan itu, akan dijebloskan ke neraka dan kekal
selama-lamanya.

Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga
yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah
kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan
melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang
ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.(QS. An-Nisa’: 13-14)

Di ayat ini Allah SWT telah menyebutkan bahwa membagi warisan adalah bagian dari hudud,
yaitu sebuah ketetapan yang bila dilanggar akan melahirkan dosa besar. Bahkan di akhirat nanti
akan diancam dengan siska api neraka. Tidak seperti pelaku dosa lainnya, mereka yang tidak
membagi warisan sebagaimana yang telah ditetapkan Allah SWT tidak akan dikeluarkan lagi
dari dalamnya, karena mereka telah dipastikan akan kekal selamanya di dalam neraka sambil
terus menerus disiksa dengan siksaan yang menghinakan.

Sungguh berat ancaman yang Allah SWT telah ditetapkan buat mereka yang tidak menjalankan
hukum warisan. Cukuplah ayat ini menjadi peringatan buat mereka yang masih saja
mengabaikan perintah Allah. Jangan sampai siksa itu tertimpa kepada kita semua.

Karena itu wajarlah bila Rasulullah SAW mewanti-wanti kitasecara khusus untuk mempelajari
ilmu pembagian harta warisan. Karena ilmu pembagian warisan itu setengah dari semua cabang
ilmu. Lagi pula Rasulullah SAW mengatakan bahwa ilmu warisan ituyang pertama kali akan
diangkat dari muka bumi.

Rasulullah SAW bersabda, "Pelajarilah ilmu faraidh (bagi waris) dan ajarkanlah. Karena
pengetahuan bagi waris setengah dari ilmu dan dilupakan orang. Dan ilmu bagi waris adalah
ilmu yang pertama kali akan dicabut dari umatku." (HR Ibnu Majah, Ad-Daruquthuny dan Al-
Hakim).
Hikmah kita mempelajari dan mensosialisasikan ilmu bagi waris adalah agar seluruh lapisan
umat Islam tahu dan siap menerapkannya, bila mereka menghadapi persoalan warisan. Mengapa
sekarang ini begitu banyak orang yang enggan membagi harta warisan dengan hukum Allah?

Jawabnya karena ilmu ini tidak pernah secara khusus disosialisasikan di tengah khalayak. Di
tengah berbagai ephoria simbol-simbol ke-Islaman, seperti pemakaian busana muslimah, marak
berdirinya bank-bank syariah, berbagai aktifitas keIslaman di instansi, perkantoran, kampus dan
bahkan juga di televisi, sayang sekali tidak ada satu pun yang mengangkat tema pembagian harta
warisan.

Padahal mempelajari dan mengajarkan ilmu ini justru sudah menjadi wanti-wanti Rasulullah
SAW. Mengapa justru tidak ada yang mengangkatnya?

Sementara korbannya sudah seringkali kita lihat, di antaranyayang sedang anda hadapi sekarang
ini. Ternyata ada di antara ahli waris yang menolak dibaginya warisan dengan hukum Islam.
Sangat boleh jadi sebabnya sederhana, yaitu dia belum pernah kenal dengan hukum waris secara
syariah.

AHLI WARIS DAN BAGIAN WARISAN

Dalam ilmu faraidh (faroidh) ada 2 istilah yang paling dikenal yaitu al-furudh al-muqaddarah
(bagian yang ditentukan) dan asabah atau bagian yang tidak ditentukan.

A. Al-Fardhu al-Muqaddarah (Bagian yang ditentukan).


Yaitu jumlah atau porsi bagian warisan yang ditentukan oleh syariah yaitu 1/2 (setengah), 1/4
(seperempat), 1/8 (seperdelapan), 2/3 (dua pertiga), 1/3 (sepertiga), 1/6 (seperenam).

B. Ashabah (At-Tanshib)
Yaitu orang yang mendapatkan harta warisan yang belum ditetapkan atau ahli waris yang tidak
memiliki bagian tertentu.

AHLI WARIS ADA 3 (TIGA) MACAM


Ahli waris ada 3 macam yaitu ashabul furudh yang memiliki bagian yang sudah ditentukan
seperti 1/2, 1/3, 2/3, dst, ahli waris ashabh yang tidak memiliki bagian yang ditentukan dan ahli
waris gabungan keduanya sesuai dengan kondisi dan situasi ada atau tidak adanya ahli waris
yang lain.

AHLI WARIS ASHABUL FURUDH


(i) Ashabul Furudh/Dzawil Furudh saja yaitu Ahli waris dengan bagian tertentu yaitu ibu,
saudara laki seibu, saudara perempuan seibu, nenek dari ibu atau bapak, suami, istri.

AHLI WARIS ASHABAH


(ii) Ahli waris asabah saja artinya ahli waris yang menerima bagian sisa yaitu anak laki, cucu ke
bawah, saudara laki kandung, saudara sebapak, anak saudara laki kandung, anak saudara laki
sebapak ke bawah, paman kandung dari ayah (‫)العم الشقيق‬, paman kandung dari ayah sebapak ( ‫العم‬
‫ )ألب‬dan ke atas, anak laki paman kandung dari ayah (‫)إبن العم الشقيق‬, anak laki paman dari ayah
sebapak ( ‫ )إبن العم ألب‬dan ke bawah.

AHLI WARIS ASHABUL/DZAWIL FURUDH DAN BAGIANNYA


https://www.alkhoirot.net/2012/09/warisan-dalam-islam.html#3a

Ahli waris dzawil furudh/ashabul furudh dan bagian-bagian yang telah ditentukan untuk mereka
adalah sbb:

A. Bagian 1/2 (setengah)


Ahli waris yang mendapat bagian 1/2 dengan syarat tertentu adalah sbb:

(i) Suami apabila istri tidak punya anak.


(ii) Anak perempuan apabila sendirian (anak tunggal) dan tidak ada anak laki-laki (alias saudara
kandung).
(iii) Cucu perempuan dari anak laki ( ‫ )بنْت إبن‬apabila sendirian serta tidak adanya anak
perempuan atau ahli waris anak laki-laki.
(iv) Saudara perempuan kandung dalam situasi kalalah[1] dan sendirian serta tidak ada anak
perempuan dan cucu perempuan dari anak laki (‫)بنْت اإلبن‬.
(v) Saudara perempaun sebapak dalam situasi kalalah dan sendirian serta tidak adanya anak
perempuan, cucu perempuan dari anak laki (‫)بنْت اإلبن‬, dan saudara perempuan kandung.

B. Bagian 1/4 (seperempat)


Ahli waris yang mendapat bagian 1/4 dengan syarat tertentu adalah sbb:

(i) Suami apabila ada ahli waris anak laki-laki dari istri.
(ii) Istri apabila tidak ada anak laki-laki.

C. Bagian 1/8 (Seperdelapan)


Yaitu istri apabila ada ahli waris anak laki-laki.

D. Bagian 2/3 (Dua Pertiga)

Yang mendapat bagian 2/3 adalah ahli waris yang mendapat bagian 1/2 (setengah) apabila
berkumpul lebih dari satu yaitu
(i) Dua anak perempuan atau lebih.
(ii) Dua cucu perempuan dari anak laki-laki atau lebih.
(iii) Dua saudara perempuan kandung atau lebih
(iv) Dua saudara perempaun sebapak atau lebih.

E. Bagian 1/3 (Sepertiga)

Ahli waris yang mendapat bagian 1/3 dengan syarat tertentu adalah sbb:

(i) Ibu apabila tidak ada anak laki-laki dan saudara laki tidak lebih dari satu.
(ii) Dua atau lebih dari saudara laki-laki atau saudara perempuan yang seibu
apabla tidak ada anak laki dan tidak ada bapak/kakek dari pihak laki-laki.

F. Bagian 1/6 (Seperenam)

Ahli waris yang mendapat bagian 1/6 dengan syarat tertentu adalah sbb:
(i) Bapak apabila ada anak laki-laki.
(ii) Kakek apabila ada anak laki-laki dan tidak ada ayah.
(iii) Ibu apabila ada anak laki-laki atau saudara laki yang lebih dari satu.
(iv) Nenek sebapak atau seibu apabila tidak ada ibu.
(v) Saudara laki atau saudara perempuan seibu apabila tidak ada salah satunya serta tidak adanya
anak atau bapak/kakek dari pihak laki-laki.
(vi) Cucu perempuan dari anak laki (‫ )بنْت اإلبن‬apabila bersamaan dengan anak perempuan yang
mendapatkan bagian 1/2 serta tidak adanya cucu laki-laki dari anak laki (‫)ابن اإلبن‬.
(vii) Saudara perempuan sebapak apabila bersamaan dengan saudara perempuan kandung yang
mendapat bagian 1/2 serta tidak adanya saudara laki sebapak.

Lima Penerima Bagian Pasti Setengah dalam Warisan dan Syaratnya


(http://www.nu.or.id/post/read/86857/lima-penerima-bagian-pasti-setengah-dalam-warisan-dan-
syaratnya)
Bagikan
Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi di dalam kitab Matnur Rahabiyah-nya menuturkan ada 5
(lima) orang yang berhak menerima harta warisan dengan bagian pasti 1/2 (setengah) berikut
dengan syarat-syaratnya. Dalam tiga bait beliau menuturkan:
‫ الزوج واألنثى من األولد‬... ‫والنصف فرض خمسة أفـراد‬
‫ واألخْت في مذهب كل مفتى‬... ‫وبنْت البن عـــند فـقد البــنْت‬
‫ عند انفرادهن عن معصب‬... ‫وبعدها األ خْت التي من األب‬

(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah,


Semarang, Toha Putra, tanpa tahun, hal. 16)

Yang bisa dipahami dari ketiga bait di atas adalah bahwa bagian pasti 1/2 diperuntukan bagi 5
(lima) orang ahli waris, yakni:
1. Suami
2. Anak perempuan
3. Cucu perempuan dari anak laki-laki (selanjutnya disebut cucu perempuan)
4. Saudara perempuan sekandung
5. Saudara perempuan seayah
Kelima ahli waris tersebut dapat menerima bagian warisan 1/2 apabila memenuhi syarat-syarat
yang telah ditentukan. Sebagaimana disebutkan dalam ketiga bait di atas dan juga sebagaimana
dipaparkan oleh Dr. Musthafa Al-Khin dalam kitab al-Fiqhul Manhaji (Damaskus: Darul Qalam,
2013), jil. II, hal. 284-285 syarat bagi kelima ahli waris yang mendapatkan bagian pasti 1/2
adalah sebagai berikut:

1. Seorang suami bisa mendapatkan bagian 1/2 dengan satu syarat bila sang istri yang meninggal
dunia tidak meninggalkan anak atau cucu baik laki-laki maupun perempuan, baik anak atau cucu
dari sang suami tersebut maupun dari suami sebelumnya, dan bahkan meskipun anak atau cucu
tersebut dari hasil zina.

Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 12:
ٌ ‫ف َما ت ََرَكَ أ َ ْز َوا ُج ُك ْم ِإ ْن لَ ْم يَ ُك ْن لَ ُُه َّن َولَد‬ ْ ِ‫َولَ ُك ْم ن‬
ُ ‫ص‬

Artinya: “Dan bagi kalian (para suami) separo dari apa yang ditinggalkan para istri kalian apabila
mereka tidak memiliki anak.”

Bila seorang suami mewarisi harta peninggalan istrinya bersamaan dengan anak atau cucunya
sang istri maka ia hanya mendapatkan bagian 1/4, bukan 1/2 sebagaimana akan dijelaskan pada
Bab Bagian Pasti Seperempat, insya Allah.

2. Anak perempuan bisa mendapatkan bagian 1/2 apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yakni:
a. Sendirian, tidak lebih dari satu orang
b. Tidak bersamaan dengan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (muashshib)-nya, yakni
anak laki-lakinya si mayit.
Berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 11:
‫ف‬ ْ ِ‫احدَة ً فَلَ َُها الن‬
ُ ‫ص‬ ْ ‫َوإِ ْن كَان‬
ِ ‫َْت َو‬
Artinya: “Bila anak perempuan seorang diri maka baginya separo harta warisan.”

Bila seorang anak perempuan mewarisi harta peninggalan orang tuanya bersamaan dengan anak
laki-laki sebagai mu’ashshib-nya maka ia tidak bisa mendapatkan bagian 1/2, ia hanya bisa
mendapatkan bagian sisa (ashabah) bersama dengan anak laki-laki tersebut dengan pembagian
anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan.

3. Cucu perempuan bisa mendapatkan bagian 1/2 bila memenuhi 3 (tiga) syarat:
a. Sendirian, tidak lebih dari satu orang
b. Tidak bersamaan dengan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya, yakni
cucu laki-lakinya si mayit.

c. Tidak bersamaan dengan anaknya si mayit baik laki-laki maupun perempuan.

Dasar seorang cucu perempuan bisa mendapatkan bagian 1/2 adalah ijma’ para ulama di mana
mereka mengatakan bahwa cucu dari anak laki-laki baik perempuan maupun laki-laki dapat
menempati tempatnya anak di dalam mewarisi.

Bila seorang cucu perempuan mewarisi harta waris kakeknya bersamaan dengan cucu laki-laki
yang menjadi mu’ashshib-nya maka ia tidak bisa mendapatkan bagian 1/2, ia hanya bisa
mendapatkan bagian sisa (ashabah) bersama dengan cucu laki-laki tersebut dengan pembagian
cucu laki-laki dua kali bagian cucu perempuan.

Sedangkan bila cucu perempuan bersamaan dengan anaknya si mayit baik laki-laki ataupun
perempuan maka ia tidak bisa mendapatkan bagian 1/2. Bisa jadi ia hanya mendapatkan bagian
1/6 atau tidak mendapatkan apa-apa alias mahjûb.
4. Saudara perempuan sekandung bisa mendapatkan bagian 1/2 bila memenuhi 4 (empat) syarat,
yakni:
a. Sendirian, tidak lebih dari satu orang.
b. Tidak adanya anak atau cucu dari anak laki-lakinya si mayit, baik laki-laki maupun
perempuan.
c. Tidak adanya orang tua laki-lakinya si mayit, yakni bapak atau kakek.
d. Tidak ada ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya, yakni saudara laki-laki
sekandungnya si mayit.

Berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 176:

َ‫ف َما ت ََرَك‬ ْ ‫ْس لَهُ َولَدٌ َولَهُ أ ُ ْخْتٌ فَلَ َُها ِن‬
ُ ‫ص‬ َ ‫ِإ ِن ا ْم ُر ٌؤ َه َلكَ لَي‬

Artinya: “Bila seseorang yang tidak memiliki anak meninggal dunia dan ia memiliki seorang
saudara perempuan maka bagi saudara perempuannya itu separo dari apa yang ditinggalkannya.”

Bila saudara perempuan sekandung mewarisi bersamaan dengan anak, cucu dari anak laki-laki,
bapak atau kakeknya si mayit maka ia tidak mendapatkan bagian waris 1/2. Bisa jadi ia hanya
mendapat bagian sisa (ashabah) atau bahkan tak mendapat bagian berapapun alias mahjûb.

Sedangkan bila ia bersamaan dengan saudara laki-laki sekandungnya si mayit yang menjadi
mu’ashshib-nya maka ia tidak bisa mendapatkan bagian 1/2, ia hanya bisa mendapatkan bagian
sisa (ashabah) bersama dengan mu’ashshib-nya itu dengan pembagian saudara laki-laki
sekandung mendapat dua kali bagian saudara perempuan sekandung.

5. Saudara perempuan seayah bisa mendapatkan bagian 1/2 dengan 5 (lima) syarat yang harus
dipenuhi, yakni:
a. Sendirian, tidak lebih dari satu orang.
b. Tidak bersamaan dengan anak atau cucu dari anak laki-lakinya si mayit, baik laki-laki maupun
perempuan.
c. Tidak bersamaan dengan orang tua laki-lakinya si mayit, yakni bapak atau kakek.
d. Tidak bersamaan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya, yakni saudara
laki-laki sekandungnya si mayit.
e. Tidak adanya saudara laki-laki sekandung dan saudara perempuan sekandungnya si mayit.
Dasar saudara perempuan seayah bisa mendapatkan bagian 1/2 adalah sama dengan dasarnya
seorang saudara perempuan sekandung bisa mendapatkan bagian 1/2, yakni ayat 176 Surat An-
Nisa. Menurut ijma’ para ulama yang dimaksud ukhtun (saudara perempuan) dalam ayat tersebut
adalah saudara perempuan sekandung dan seayah.

Demikian ketentuan yang mesti dipenuhi bagi orang-orang yang berhak mendapatkan bagian
pasti 1/2. Tidak terpenuhinya salah satu dari persyaratan di atas menjadikan yang bersangkutan
gugur haknya untuk mendapatkan bagian pasti 1/2. Bisa jadi ia menerima warisan dengan bagian
pasti yang lain, dengan bagian ashabah, atau bahkan sama sekali tidak mendapatkan bagian alias
mahjûb.

Sebagai contoh misalnya, seorang suami yang bersamaan dengan anaknya si mayit maka ia
hanya mendapat bagian 1/4. Anak perempuan, cucu perempuan, saudara perempuan sekandung,
dan saudara perempuan seayah yang lebih dari satu orang maka kesemuanya mendapat bagian
2/3. Atau bila mereka bersamaan dengan orang yang mengashabahkannya (mu’ashshib) maka
mereka hanya mendapat bagian ashabah saja. Tentang hal ini akan dijelaskan kemudian pada
babnya, insya Allah.

Wallallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi di dalam kitab Matnur Rahabiyah-nya menuturkan ada 5
(lima) orang yang berhak menerima harta warisan dengan bagian pasti 1/2 (setengah) berikut
dengan syarat-syaratnya. Dalam tiga bait beliau menuturkan:
‫ الزوج واألنثى من األولد‬... ‫والنصف فرض خمسة أفـراد‬
‫ واألخْت في مذهب كل مفتى‬... ‫وبنْت البن عـــند فـقد البــنْت‬
‫ عند انفرادهن عن معصب‬... ‫وبعدها األ خْت التي من األب‬

(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah,


Semarang, Toha Putra, tanpa tahun, hal. 16)

Yang bisa dipahami dari ketiga bait di atas adalah bahwa bagian pasti 1/2 diperuntukan bagi 5
(lima) orang ahli waris, yakni:

1. Suami
2. Anak perempuan
3. Cucu perempuan dari anak laki-laki (selanjutnya disebut cucu perempuan)
4. Saudara perempuan sekandung
5. Saudara perempuan seayah
Kelima ahli waris tersebut dapat menerima bagian warisan 1/2 apabila memenuhi syarat-syarat
yang telah ditentukan. Sebagaimana disebutkan dalam ketiga bait di atas dan juga sebagaimana
dipaparkan oleh Dr. Musthafa Al-Khin dalam kitab al-Fiqhul Manhaji (Damaskus: Darul Qalam,
2013), jil. II, hal. 284-285 syarat bagi kelima ahli waris yang mendapatkan bagian pasti 1/2
adalah sebagai berikut:
1. Seorang suami bisa mendapatkan bagian 1/2 dengan satu syarat bila sang istri yang meninggal
dunia tidak meninggalkan anak atau cucu baik laki-laki maupun perempuan, baik anak atau cucu
dari sang suami tersebut maupun dari suami sebelumnya, dan bahkan meskipun anak atau cucu
tersebut dari hasil zina.

Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 12:
ٌ ‫ف َما ت ََرَكَ أ َ ْز َوا ُج ُك ْم ِإ ْن لَ ْم َي ُك ْن لَ ُُه َّن َولَد‬ ْ ‫َولَ ُك ْم ِن‬
ُ ‫ص‬

Artinya: “Dan bagi kalian (para suami) separo dari apa yang ditinggalkan para istri kalian apabila
mereka tidak memiliki anak.”

Bila seorang suami mewarisi harta peninggalan istrinya bersamaan dengan anak atau cucunya
sang istri maka ia hanya mendapatkan bagian 1/4, bukan 1/2 sebagaimana akan dijelaskan pada
Bab Bagian Pasti Seperempat, insya Allah.

2. Anak perempuan bisa mendapatkan bagian 1/2 apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yakni:

a. Sendirian, tidak lebih dari satu orang


b. Tidak bersamaan dengan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (muashshib)-nya, yakni
anak laki-lakinya si mayit.

Berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 11:


‫ف‬ ْ ِ‫احدَة ً فَلَ َُها الن‬
ُ ‫ص‬ ْ ‫َوإِ ْن كَان‬
ِ ‫َْت َو‬

Artinya: “Bila anak perempuan seorang diri maka baginya separo harta warisan.”
Bila seorang anak perempuan mewarisi harta peninggalan orang tuanya bersamaan dengan anak
laki-laki sebagai mu’ashshib-nya maka ia tidak bisa mendapatkan bagian 1/2, ia hanya bisa
mendapatkan bagian sisa (ashabah) bersama dengan anak laki-laki tersebut dengan pembagian
anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan.

3. Cucu perempuan bisa mendapatkan bagian 1/2 bila memenuhi 3 (tiga) syarat:
a. Sendirian, tidak lebih dari satu orang

b. Tidak bersamaan dengan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya, yakni
cucu laki-lakinya si mayit.
c. Tidak bersamaan dengan anaknya si mayit baik laki-laki maupun perempuan.
Dasar seorang cucu perempuan bisa mendapatkan bagian 1/2 adalah ijma’ para ulama di mana
mereka mengatakan bahwa cucu dari anak laki-laki baik perempuan maupun laki-laki dapat
menempati tempatnya anak di dalam mewarisi.

Bila seorang cucu perempuan mewarisi harta waris kakeknya bersamaan dengan cucu laki-laki
yang menjadi mu’ashshib-nya maka ia tidak bisa mendapatkan bagian 1/2, ia hanya bisa
mendapatkan bagian sisa (ashabah) bersama dengan cucu laki-laki tersebut dengan pembagian
cucu laki-laki dua kali bagian cucu perempuan.

Sedangkan bila cucu perempuan bersamaan dengan anaknya si mayit baik laki-laki ataupun
perempuan maka ia tidak bisa mendapatkan bagian 1/2. Bisa jadi ia hanya mendapatkan bagian
1/6 atau tidak mendapatkan apa-apa alias mahjûb.

4. Saudara perempuan sekandung bisa mendapatkan bagian 1/2 bila memenuhi 4 (empat) syarat,
yakni:
a. Sendirian, tidak lebih dari satu orang.
b. Tidak adanya anak atau cucu dari anak laki-lakinya si mayit, baik laki-laki maupun
perempuan.
c. Tidak adanya orang tua laki-lakinya si mayit, yakni bapak atau kakek.
d. Tidak ada ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya, yakni saudara laki-laki
sekandungnya si mayit.

Berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 176:

َ‫ف َما ت ََرَك‬ ْ ِ‫ْس لَهُ َولَدٌ َولَهُ أ ُ ْخْتٌ فَلَ َُها ن‬
ُ ‫ص‬ َ ‫ِإ ِن ا ْم ُر ٌؤ َهلَكَ لَي‬

Artinya: “Bila seseorang yang tidak memiliki anak meninggal dunia dan ia memiliki seorang
saudara perempuan maka bagi saudara perempuannya itu separo dari apa yang ditinggalkannya.”

Bila saudara perempuan sekandung mewarisi bersamaan dengan anak, cucu dari anak laki-laki,
bapak atau kakeknya si mayit maka ia tidak mendapatkan bagian waris 1/2. Bisa jadi ia hanya
mendapat bagian sisa (ashabah) atau bahkan tak mendapat bagian berapapun alias mahjûb.
Sedangkan bila ia bersamaan dengan saudara laki-laki sekandungnya si mayit yang menjadi
mu’ashshib-nya maka ia tidak bisa mendapatkan bagian 1/2, ia hanya bisa mendapatkan bagian
sisa (ashabah) bersama dengan mu’ashshib-nya itu dengan pembagian saudara laki-laki
sekandung mendapat dua kali bagian saudara perempuan sekandung.

5. Saudara perempuan seayah bisa mendapatkan bagian 1/2 dengan 5 (lima) syarat yang harus
dipenuhi, yakni:
a. Sendirian, tidak lebih dari satu orang.
b. Tidak bersamaan dengan anak atau cucu dari anak laki-lakinya si mayit, baik laki-laki maupun
perempuan.
c. Tidak bersamaan dengan orang tua laki-lakinya si mayit, yakni bapak atau kakek.
d. Tidak bersamaan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya, yakni saudara
laki-laki sekandungnya si mayit.
e. Tidak adanya saudara laki-laki sekandung dan saudara perempuan sekandungnya si mayit.

Dasar saudara perempuan seayah bisa mendapatkan bagian 1/2 adalah sama dengan dasarnya
seorang saudara perempuan sekandung bisa mendapatkan bagian 1/2, yakni ayat 176 Surat An-
Nisa. Menurut ijma’ para ulama yang dimaksud ukhtun (saudara perempuan) dalam ayat tersebut
adalah saudara perempuan sekandung dan seayah.
Demikian ketentuan yang mesti dipenuhi bagi orang-orang yang berhak mendapatkan bagian
pasti 1/2. Tidak terpenuhinya salah satu dari persyaratan di atas menjadikan yang bersangkutan
gugur haknya untuk mendapatkan bagian pasti 1/2. Bisa jadi ia menerima warisan dengan bagian
pasti yang lain, dengan bagian ashabah, atau bahkan sama sekali tidak mendapatkan bagian alias
mahjûb.

Sebagai contoh misalnya, seorang suami yang bersamaan dengan anaknya si mayit maka ia
hanya mendapat bagian 1/4. Anak perempuan, cucu perempuan, saudara perempuan sekandung,
dan saudara perempuan seayah yang lebih dari satu orang maka kesemuanya mendapat bagian
2/3. Atau bila mereka bersamaan dengan orang yang mengashabahkannya (mu’ashshib) maka
mereka hanya mendapat bagian ashabah saja. Tentang hal ini akan dijelaskan kemudian pada
babnya, insya Allah.

Hukum Waris: Diskriminasi Islam Terhadap Perempuan?

Sempat marak polemik seputar Islam di tanah air dengan munculnya sekelompok golongan yang
menyerukan kesetaraan antar laki-laki dan perempuan, tak sedikit pula protes yang mereka
lontarkan terhadap hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan wanita, seperti pada hukum
hijab, poligami, dan hukum waris yang dianggap sebagai wujud diskriminasi Islam terhadap
kaum hawa. Dalam permasalahan hukum waris, mereka berdalih bahwa ayat 11 dalam surat An-
Nisa’ merupakan penyebab atas unsur ketidakadilan terhadap wanita, karena pada konteks
kehidupan saat ini wanita sudah berhak mendapatkan kedudukan dan status yang sama dalam
segala bidang. Bahkan ada yang menganggap bahwa ayat ini sudah tidak relevan lagi dengan
praktek kehidupan modern. Mereka berdalih bahwa ayat 11 dalam surat An-Nisa’ yang berbunyi
:
{‫} ِللذَّك َِر ِمثْ ُل َح ِظ األُنثَيَ ْي ِن‬

bagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan (An-Nisa: 11)

merupakan penyebab atas diskriminasi antar gender [1].

Ironisnya, para pegiat kesetaraan gender ini tak melirik kepada dalil lain yang mempunyai
korelasi terhadap aplikasi hukum waris. Hal ini menyebabkan desakralisasi terhadap ayat Allah
terutama pada beberapa hukumnya yang bersifat mutlak seperti pembagian hak waris.

Menarik untuk dikaji, bahwa sebenarnya hukum waris tidak berdiri hanya dengan satu redaksi
potongan dari ayat di atas saja, sehingga dalam fakta praktek penghitungannya justru akan
banyak kita temukan bahwa pihak wanita justru lebih banyak diuntungkan. Berikut fakta
pembagian hak waris untuk wanita:

1. Hanya ada 5 kasus dimana wanita mendapat separuh bagian laki-laki.


2. Ada 7 kasus dimana wanita mendapat jatah yang sama dengan laki-laki.
3. Ada 10 kasus dimana wanita mendapat bagian lebih banyak dari laki-laki.
4. Ada 7 kasus dimana wanita mendapatkan hak waris dan laki-laki tidak dapat bagian.

berikut perinciannya:

1. Hanya ada lima kondisi atau kasus, di mana bagian waris perempuan separuh dari
bagian waris laki-laki. Yaitu:

 Yakni apabila mayyit hanya meninggalkan anak lelaki dan perempuan.


 Mayyit hanya meninggalkan ayah dan ibu tanpa ada siapa lagi selain mereka berdua.
 Dalam kasus suami mewarisi harta istri, jumlahnya dua kali lipat lebih banyak daripada
kasus istri mewarisi harta suami. Yakni ½ untuk suami dan ¼ untuk istri bila tidak ada
anak, dan ¼ untuk suami dan 1/8 untuk istri apabila ada anak.
 Apabila mayyit hanya meninggalkan saudara kandung laki-laki dan perempuan.
 Bapak mewarisi dua kali lipat jatah ibu apabila anaknya mati meninggalkan satu anak
perempuan. Maka untuk anak perempuan 1/2, untuk ayah 1/3, dan untuk ibu 1/6
2. ada tujuh kasus, perempuan mendapatkan bagian waris yang persis sama dengan
bagian waris laki-laki. Yaitu:

 Apabila ada saudara laki-kali se ibu dan saudara perempuan se-ibu maka bagiannya 1/3
dibagi rata antara laki-laki dan perempuan.
 Ibu dan bapak sama-sama mendapatkan 1/6 dengan adanya anak lelaki.
 Ibu dan bapak sama-sama mendapatkan 1/6 apabila mayyit masih meninggalkan anak
perempuan lebih dari dua. Masih sesuai dengan redaksi lengkap pada surat An-Nisa’ ayat
11.
 Nenek dari pihak ibu mendapatkan 1/6 sama seperti bapak apabila bersama mereka
berdua ada anak laki-laki.
 Apabila istri meninggalkan suami dan saudara kandung perempuan, maka keduanya
sama-sama mendapatkan ½ dari harta waris.
 Apabila mayyit meninggalkan dua anak perempuan (2/3) dan satu saudara kandung laki-
laki (sisa, atau 1/3), maka sebenarnya jatah mereka bertiga masing-masing adalah 1/3
 Dalam salah satu masalah musytarokah, apabila mayyit meninggalkan suami, ibu, saudari
se-ibu lebih dari satu, dan saudara kandung. maka sebenarnya bagi suami 1/2, ibu 1/6,
saudaari se-ibu 1/3, dan saudara kandung mendapat sisa, namun setelah dihitung tidak
dapat apapun. Maka Sayyiduna Umar R.A memutuskan saat itu bahwa suami mewarisi
½, ibu mewarisi 1/6, dan saudari se-ibu dan saudara kandung menikmati 1/3 harta dibagi
rata.

3. Terdapat sepuluh kasus, di mana bagian waris perempuan lebih banyak dari bagian
waris laki-laki. Yaitu:

 Apabila mayyit meninggalkan anak perempuan, ayah dan ibunya. Maka sang anak
perempuan mendapatkan ½ harta sementara ayah mendapat 1/6 plus sisa, dan ibu
mendapat 1/6.
 Apabila wanita meninggalkan anak perempuan, suami dan ayahnya. Maka sang anak
mendapat ½ harta, suami ¼, dan ayah hanya mendapat 1/6 plus sisa harta yaitu 1/4.
 Apabila laki-laki mati meninggalkan anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-
laki, ayah, dan ibunya. Maka sang anak perempuan dapat ½ dari keseluruhan harta, cucu
mendapat 1/6, ibu 1/6, dan ayah 1/6 plus sisa.
 Apabila laki-laki mati meninggalkan anak perempuan dan cucu laki-laki dan ibu. Maka
anak perempuan mendapatkan ½ dari keseluruhan harta, ibu 1/6, dan cucu laki-laki hanya
sisa saja.
 Laki-laki meninggalkan istri, anak perempuan dan saudara kandung laki-laki. Maka istri
mendapat 1/8, anak perempuan mendapat ½ harta, dan saudara laki-laki hanya mendapat
sisa.
 Perempuan mati meninggalkan suami, ibu, kakek, saudara se-ibu dan 3 saudara se-bapak.
Maka suami mendapat ½, ibu 1/6, kakek 1/6, 3 saudara se-bapak sisa harta, dan saudara
se-ibu tidak dapat harta. Jika kita lihat detail, maka sebenarnya Ibu mendapatkan harta
waris lebih banyak dari harta masing-masing saudara se-bapak.
 Laki-laki mati meninggalkan saudari kandung (1/2), ibu (1/3), dan kakek (1/6)
 Laki-laki mati meninggalkan istri (1/8), anak perempuan (1/2), ibu (1/6), dan saudara
kandung (sisa harta), dua saudari se-ibu (tidak dapat bagian). Maka istri, anak
perempuan, dan ibu mendapatkan harta lebih banyak dari saudara kandung.
 Wanita mati meninggalkan suami (1/4), anak perempuan (1/2), saudari kandung (sisa),
saudari se-bapak (tidak dapat apapun).
 Wanita mati meninggalkan suami (1/4), dua cucu perempuan dari anak laki-laki (2/3),
dan anak laki-laki dari cucu (sisa). Dua cucu perempuan lebih besar hartanya dari suami
dan anak laki-laki dari cucu karena masing-masing akan mendapat 1/3.

4.Terdapat tujuh kasus, perempuan mendapatkan bagian waris yang tidak didapatkan
oleh laki-laki[2].

 Apabila laki-laki mati meninggalkan anak perempuan (1/2), saudari kandung (sisa harta)
dan saudara se-bapak (tidak mendapat harta).
 Apabilaka laki-laki meninggalkan dua anak perempuan (2/3), tiga saudari kandung (sisa
harta), dan saudara se-bapak (tidak dapat harta).
 Laki-laki meninggalkan anak perempuan (1/2), tiga saudari kandung (sisa), paman (tidak
dapat)
 Mayyit meninggalkan cucu perempuan dari anak laki-laki (1/2), saudari kandung (sisa
harta), saudara se-bapak (tidak dapat), saudara se-ibu (tidak dapat)
 Wanita mati meninggalkan suami, ibu, bapak, dan cucu laki-laki dari anak laki-laki. maka
suami (1/4), ibu (1/6), bapak (1/6), anak perempuan (1/2), dan cucu laki-laki dari anak
laki-laki (tidak dapat).
 Mayyit meninggalkan Ibu, dua anak perempuan, dua saudari sebapak, dan saudara seibu.
maka untuk ibu (1/6), dua anak perempuan (2/3), dua saudari se-bapak (sisa), saudara se-
ibu (tidak dapat harta, terhapus oleh dua anak kandung).
 Wanita mati meninggalkan suami (1/4), anak perempuan (1/2), ayah (1/6), ibu (1/6), cucu
laki-laki dan perempuan dari anak laki-laki (sisa harta, tapi pada prakteknya nanti mereka
tidak akan dapat harta karena tidak akan ada sisa).

Dari fakta penghitungan di atas, maka bisa dipastikan setidaknya bahwa tuduhan sejumlah
golongan terhadap quran yang dianggapnya sebagai sumber diskriminasi tidak bisa dibuktikan
secara autentik. Hal ini karena mereka tidak mau melihat kepada ayat-ayat lain yang berkaitan
dengan hak waris, juga kepada riwayat serta Ijma ulama yang punya korelasi serupa, yang jelas-
jelas juga menjadi dalil dan landasan utama dalam agama. Bahkan dari fakta tersebut juga
terungkap bahwa sebenarnya justru wanita lebih banyak diuntungkan dalam pembagian harta
waris dibanding laki-laki dalam sejumlah kasus.

Wallahu a’lam bisshowab


Pasal 35 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan “Harta benda yang
diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama” . jadi dapat dipahami harta bersama
adalah harta yang diperoleh selama perkawinan sehingga antara suami dan isteri punya hak yang
sama atas harta yang dimiliki selama perkawinan tersebut.
Soal pertanyaan Anda, bila suami meninggal apakah harta bersama harus dibagi terlebih dahulu
untuk si janda, lalu sisanya baru dibagikan kepada ahli waris atau tak perlu dibagi terlebih
dahulu? jawabannya harus dibagi lebih dahulu untuk si janda.
Hal ini ditegaskan di dalam Yurisprudensi Mahakamah Agung dan beberapa putusan pengadilan
yaitu, Putusan Mahkamah Agung No. 3764/Pdt/1992 tanggal 30 Maret 1992 yang kaidah
hukumnya menyatakan:
“seorang janda akan mendapat ½ (setengah) bagian dari harta bersama dan ½ (setengah)
bagian lagi selebihnya menjadi harta warisan dari almarhum suaminya, yang akan dibagi
antara janda itu dan anak-anaknya, dan masing-masing mendapatkan bagian yang sama
besarnya”
Beberapa putusan pengadilan yang punya kaidah hukum yang sama dengan Putusan MA di atas
yaitu:
 Putusan Pengadilan Tinggi Aceh No. 24/Pdt/1992/PT.Aceh. tanggal 5 Agustus 1992;
 Putusan Pengadilan Negeri Kuala Simpang No. 5/Pdt/Plw/1991/PN.Ksp. tanggal 7
Desember 1991.
Berdasarkan uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa Harta bersama dibagi setengah dulu (50%)
untuk si janda, kemudian sisanya (50%) baru dibagi lagi sama rata untuk janda dan anak-
anaknya.

https://konsultanhukum.web.id/pembagian-waris-janda-terhadap-harta-bersama-bila-suami-
meninggal/
PEMBAGIAN WARIS JANDA TERHADAP HARTA BERSAMA BILA SUAMI
MENINGGAL

https://konsultanhukum.web.id/pembagian-waris-janda-terhadap-harta-bersama-bila-suami-
meninggal/

Bila suami meninggal, apakah harta bersama (antara suami dan isteri) langsung dibagi kepada
janda dan anak-anaknya, atau si janda berhak mendapat setengah dari harta bersama lebih dulu
kemudian setengah sisanya dibagi untuk janda dan anak-anak (saya beragama kristen)?
Jawab:
Intisari:
Harta bersama dibagi setengah dulu (50%) untuk si janda, lalu sisanya (50%) baru dibagi lagi
sama rata untuk janda dan anak-anaknya.
Pasal 35 ayat (1) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan “Harta benda yang
diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama” . jadi dapat dipahami harta bersama adalah
harta yang diperoleh selama perkawinan sehingga antara suami dan isteri punya hak yang sama
atas harta yang dimiliki selama perkawinan tersebut.
Soal pertanyaan Anda, bila suami meninggal apakah harta bersama harus dibagi terlebih dahulu
untuk si janda, lalu sisanya baru dibagikan kepada ahli waris atau tak perlu dibagi terlebih
dahulu? jawabannya harus dibagi lebih dahulu untuk si janda.
Hal ini ditegaskan di dalam Yurisprudensi Mahakamah Agung dan beberapa putusan pengadilan
yaitu, Putusan Mahkamah Agung No. 3764/Pdt/1992 tanggal 30 Maret 1992 yang kaidah
hukumnya menyatakan:
“seorang janda akan mendapat ½ (setengah) bagian dari harta bersama dan ½ (setengah) bagian
lagi selebihnya menjadi harta warisan dari almarhum suaminya, yang akan dibagi antara janda
itu dan anak-anaknya, dan masing-masing mendapatkan bagian yang sama besarnya”
Beberapa putusan pengadilan yang punya kaidah hukum yang sama dengan Putusan MA di atas
yaitu:

Putusan Pengadilan Tinggi Aceh No. 24/Pdt/1992/PT.Aceh. tanggal 5 Agustus 1992;


Putusan Pengadilan Negeri Kuala Simpang No. 5/Pdt/Plw/1991/PN.Ksp. tanggal 7 Desember
1991.

Berdasarkan uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa Harta bersama dibagi setengah dulu (50%)
untuk si janda, kemudian sisanya (50%) baru dibagi lagi sama rata untuk janda dan anak-
anaknya.