Anda di halaman 1dari 5

BEST PRACTICES PENYUSUNAN HASIL

MONITORING SEKOLAH OLEH PEMERINTAH DAERAH


(MSPD)

OLEH

Drs. SYAMSUDDIN
PENGAWAS TK-SD KECAMATAN PRAYA
KABUPATEN LOMBOK TENGAH
PENDAHULUAN

Peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu pilar pokok pembangunan


pendidikan. Pendidikan yang bermutu akan menghasilkan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang cerdas dan kompetitip sesuai dengan visi Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. Untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan upaya peningkatan mutu
pendidikan secara berkelanjutan oleh semua pihak.
Mutu pendidikan mengacu pada standar yang telah ditetapkan dalam Pearaturan
Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendididkan
(SNP). Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem
pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
berfungsi sebagai dasar bagi perencanan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan
pada setiap satuan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang
bermutu. Satndar Nasional Pendidikan berisi ketentuan tentang delapan standar
yang dicita-citakan dapat terwujud di semua satuan pendidikan pada kurun waktu
tertentu.
Mengingat bahwa kondisi satuan pendidikan saat ini masih sangat beragam dan
sebagian besar masih di bawah SNP, maka perlu dicari strategi untk mencapai SNP
secara bertahap. Upaya ini dilakukan dengan menetapkan Standar Pelayanan
Minimal (SPM) yang merupakan tingkat layanan minimal yang harus dipenuhi oleh
setiap satuan pendidikan.
Dalam rangka membantu sekolah menyiapkan diri memenuhi SPM dan SNP,
Lembaga Pemjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Nusa Tenggara Barat
telah mengembangkan program Evaluasi Diri Sekolah (EDS). EDS merupakan
suatu proses penilaian terhadap kinerja satuan pendidikan dalam pencapaian
standar, baik SPM maupun SNP. Berangkat dari kepercayaan terhadap sekolah,
EDS dilakukan oleh tim pengembang yang terdiri dari kepala sekolah, guru, komite
sekolah, peserta didik, dan pengawas sekolah sebagai pembimbing.
Untuk dapat mencapai acuan mutu pendidikan tersebut di atas, setiap satuan
pendidikan perlu menyusun Rencana Kerja Sekolah (RKS) yang memuat upaya
peningkatan mutu secara berkelanjutan. RKS disusun secara partisipatif dengan
melibatkan semua stakeholder termasuk kepala sekolah, guru, komite sekolah, dan
peserta didik. RKS akan menjadi acuan untuk melaksanakan perbaikan dalam
proses pembelajaran, manajemen sekolah, sarana-prasarana dan sebagainya.
PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
Berdasarkan Permendiknas RI No. 63 Tahun 2009 Tentang Sistem Penjaminan
Mutu Pendidikan (SPMP) pada pasal 5 mengharuskan setiap satuan pendidikan
melaksanakan kegiatan penjaminan mutu pendidikan secara internal. Salah satu
program yang dilaksanakan pada setiap satuan pendidikan dalam rangka
penjaminan mutu pendidikan adalah Evaluasi Diri Sekolah (EDS). Selanjutnya
dalam pasal 10 dijelaskan pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan yang
dilaksanakan oleh satuan pendidikan dalam bentuk kegiatan EDS ditujukan untuk
memenuhi tiga tingkatan acuan mutu, yaitu SPM, SNP, dan standar mutu
pendidikan di atas SNP. Tim Pengembang Sekolah (TPS) melaksanakan EDS
dengan mengisi instrumen EDS pada setiap indikator dari setiap komponen dan
setiap standar. Dalam pengisian intrumen EDS, TPS merujuk kepada Peraturan
Menteri atau Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan SPM dan SNP.
Harapan yang ingin dicapai melalui program EDS ini adalah terkumpulnya data
yang valid yang dapat dipertanggungjawabkan tentang keadaan setiap satuan
pendidikan. Melalui EDS ini, setiap satuan pendidikan dapat merumuskan
rekomendasi secara tepat sesuai dengan data (bukti fisik dan deskripsi indikator
berdasarkan bukti fisik), serta berdasarkan tahapan pengembangan pencapaian
indikator setiap komponen dalam SNP/SPM. Berdasarkan rekomendasi ini, sekolah
dapat menyusun RKS dan RKAS. Di samping itu, Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota) melalui pengawas sekolah
juga dapat memanfaatkan hasil EDS ini untuk mengumpulkan data Monitoring
Sekolah oleh Pemerinah Daerah (MSPD). Hasil MSPD ini akan dijadikan sebagai
bahan pertimbangan dalam menyusun program peningkatan mutu pendidikan pada
tingkat Kabupaten/Kota.
MSPD merupakan kegiatan lanjutan EDS sebab MSPD akan memakai hasil EDS
dalam laporannya ke tingkat kabupaten/kota. Data dan informasi yang dikumpulkan
melalui format MSPD sangat ditentukan oleh mutu data laporan EDS. Oleh karena
itu, para Pengawas Sekolah berkepentingan untuk melakukan bimbingan teknis
dalam pelaksanaan EDS, agar dia juga dapat melakukan verifikasi data saat dia
terlibat dalam proses EDS untuk memperoleh data dan informasi yang handal.
BEST PRACTICES PENYUSUNAN MSPD
Pengawas Sekolah sebagai pendamping Tim Pengembang Sekolah (TPS) sejak
awal kegiatan EDS harus terlibat secara langsung dalam melakukan bimbingan
sehingga data yang diperoleh benar-benar valid. Beberapa hal yang dilakukan oleh
Pengawas Sekolah dalam melaksanakan bimbingan antara lain :
1. Pengawas Sekolah harus memahami tentang pengertian, proses, prinsip dan
instrumen EDS serta cara pengisiannya.
2. Pengawas Sekolah pendamping mempunyai komitmen yang tinggi terhadap
pelaksanaan EDS.
3. Memberikan pemahaman kepada Tim Pengembang Sekolah tentang
pelaksanaan EDS.
4. Menciptakan hubungan yang baik dengan Kepala UPT Dikpora Kecamatan,
Tim Pengembangan Sekolah dan Pengawas Sekolah lainnya dengan maksud
agar proses pelaksanaan EDS berjalan sesuai rencana.
5. Koordinasi antar pengawas sekolah pendamping (SD-SMP-SMA-SMK) dalam
hal penyusunan MSPD
6. Setiap satuan pendidikan memiliki petugas khusus (oprator komputer) untuk
mengentri data yang diperoleh dari responden yang telah ditetapkan.
7. Dalam penyusunan MSPD dilibatkat 2 (dua) operator komputer sekolah untuk
masing-masing binaan pengawas sekolah.
8. Selama proses penyusunan MSPD pengawas sekolah tetap melakukan
pembimbingan.

KENDALA DAN MASALAH PENYUSUNAN MSPD


1. Adanya ketidak jujuran dari responden dalam pengisian instrumen EDS
sehingga data yang diperoleh tidak sesuai dengan kenyataan.
2. Informasi yang diperoleh dari responden kadang-kadang kurang valid karena
pemamhaman terhadap instrumen masih kurang.
3. Kurangnya kemampuan Kepala Sekolah dalam memberikan bimbingan
kepada operator sekolah saat mengentri data yang diperoleh dari responden.
4. Adanya pengawas sekolah pendamping kurang mampu mengoperasionalkan
komputer/laptop.
KESIMPULAM
1. Evaluasi Diri Sekolah (EDS) perlu dilakukan oleh masing-masing satuan
pendidikan untuk melihat ketercapaian standar nasional pendidikan yang telah
ditetapkan.
2. Data dan informasi yang diperoleh melalui EDS dapat dijadikan bahan
masukkan dan pertimbangan bagi Pemerintah Daerah (Dinas Pendidikan) dalam
membuat pemetaan mutu pendidikan yang ada di daerah.
3. Pengawas Sekolah selaku pendamping pelaksanaan EDS masih perlu
ditingkatkan kompetensinya terutama yang berkaitan dengan kemampuan
mengoperasionalkan komputer/laptop.

SARAN
1. Dalam menentukan Pengawas Sekolah pendamping perlu ditetapkan kriteria-
kriteria yang dapat mendukung keterlaksaaan EDS
2. Pemerintah Daerah (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota) dapat dijadikan EDS
sebagai salah satu penilaian kinerja kepala sekolah.
3. Program EDS perlu dilaksanakan di semua satuan pendidikan agar dapat
diketahui ketercapaian standar nasional pendidikan.
4. Pelatihan untuk Kepala Sekolah, Operator Sekolah dan Komite Sekolah perlu
ditambah harinya 3 (tiga) hari menjadi 5 (lima) hari.