Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia adalah termasuk negara yang memasuki era penduduk yang
berstruktur lanjut usia, dengan jumlah lanjut usia di Indonesia pada tahun2004
sebesar 16.522.311 jiwa, tahun 2006 sebesar 17.478.282 jiwa dan pada tahun
2008 sebesar 19.502.355 jiwa (8,55% dari total penduduk sebesar 228.018.900
jiwa), sedangkan pada tahun 2020 diperkirakan jumlah lanjut usia sekitar 28 juta
jiwa. (Menkokesra, 2008).

Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur tidak
tiga kali kesempatan yang berbeda. Secara umum seorang dianggap mengalami
hipertensi apabila tekanannya lebih tinggi dari 140/90 mmHg (Elisabeth J.
Corvin, 2009 dalam Brunner & Suddarth, 2012). Hipertensi juga sering diartikan
sebagai suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik lebih dari 10 mmHg dan
tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg (Smeltzer dan Bare 2002 dalam Azizah
2015).

Insiden hipertensi mulai sering terjadi seiring bertambahnya usia. Pada populasi
umum, pria lebih banyak yang menderita penyakit ini dari pada populasi wanita
(pria 39% dan wanita 31%). Prevalensi hipertensi primer pada wanita sebesar 22-
39% yang dimulai dari umur 50 - lebih dari 80 tahun, sedangkan pada wanita
berumur kurang dari 85 tahun prevalensinya sebesar 22% dan meningkatnya
sampai 52% pada wanita berumur lebih dari 85 tahun. Sekitar 60% lansia akan
mengalami hipertensi setelah berusia 75 tahun. Lansia adalah periode dimana
organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah
menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu (Dalimartha, 2008). Semua
hipertensi adalah tekanan darah tinggi, tetapi bukan semua tekanan darah tinggi
itu adalah hipertensi. Tekanan darah tinggi mencakup semua tekanan darah di

1
2

atas 120/80 mmHg, sedangkan hipertensi mencakup tekanan darah 140/90


mmHg dan diatasnya (Casey dan Benson, 2012).

Penyakit hipertensi telah membunuh 9,4 juta warga di dunia setiap tahunnya.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah penderita hipertensi
akan terus meningkat seiring dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah
banyak. Pada tahun 2025 mendatang diperkirakan sekitar 29% warga menderita
hipertensi. Persentase penderita hipertensi saat ini paling banyak terdapat
dinegara berkembang. Data Global Status Respon Noncommunicable 2010 dari
WHO menyebutkan 40% negara ekonomi berkembang memiliki penderita
hipertensi, sedangkan negara maju hanya 35%, kawasan Afrika memegang posisi
puncak penderita hipertensi sebanyak 46%, sementara kawasan Amerika
menempati posisi buncit dengan 35%. Di kawasan Asia Tenggara 36% orang
dewasa menderita hipertensi (Brunner & Suddarth, 2012).

Berdasarkan laporan dari dinas kesehatan Provinsi Jawa Timur, kasus tertinggi
hipertensi essensial sebanyak 554.771 kasus. Prevalensi kasus hipertensi esensial
di Kabupaten Jember pada tahun 2015 sebesar 42,4%. Data kasus hipertensi
esensial pada tahun 2007 sebesar 48,3%, mengalami penurunan di tahun 2008
sebesar 42,9%, kemudian mengalami kenaikan di tahun 2009 sebesar 44,9% dan
naik kembali pada tahun 2010 sebesar 46,8% (Profil Dinas Keseha tan Jawa
Timur, 2016).

Data di Unit Pelayanan Sosial Tresna Werdha Jember dalam tahun 2018 terdapat
163 lanjut usia. Peringkat lanjut usia dengan diagnosa hipertensi memasuki
urutan lima besar , dimana 30,1% Artritis, hipertensi 26,5%. Asma 6,6%,
dermatitis 9,6%, riwayat DM 0,7%, riwayat Dekom cordis 1,4%, post stroke
4,3%, psikotik 7,9%, epilepsi 0,7%, glukoma 0,7%, oesteoporosis 0,7%, gastritis
3,6%, ISPA 3,6%, post hemoroid 0,7% dan komplikasi sebesar 2,9%
3

Peran perawat pada kausini merupakan sebagai pemberi asuhan keperawatan


langsung pada klien yang mengalami gangguan ansietas. Asuhan keperawatan
yang diberikan dapat mengkaji penyebab ansietas yang dialami klien dan
menentukan intervensi keperawatan yang sesuai dengan keadaan klien untuk
mengurangi atau mengalihkan penyebab cemas yang selama ini dialami klien.

Adanya keterkaitan peran perawat dalam memberi asuhan keperawatan klien


dengan ansietas, maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang
masalah keperawatan pada klien yang mengalami ansietas. Penulis juga tertarik
untuk mengetahui cara mengatasi masalah tersebut dan membandingkan masalah
keperawatan yang muncul pada tiga klien dengan masalah ansietas.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Mendapatkan gambaran secara nyata dan mengembangkan pola pikir ilmiah
dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah
keperawatan gangguan rasa aman dan nyaman (ansietas) di UPT PSTW
Jember sesuai dengan standart asuhan keperawatan melalui pendekatan
proses keperawatan.

2. TujuanKhusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian data keperawatan klien
dengan gangguan rasa aman dan nyaman (ansietas) di UPT PSTW
Jember
b. Mahasiswa mampu menetapkan masalah keperawatan utama pada klien
dengan gangguan rasa aman dan nyaman (ansietas) di UPT PSTW
Jember
c. Mahasiswa mampu menetapkan perencanaan keperawatan pada klien
dengan gangguan rasa aman dan nyaman (ansietas) di UPT PSTW
Jember
4

d. Mahasiswa mampu melaksanakan tidakan keperawatan pada klien


dengan gangguan rasa aman dan nyaman (ansietas) di UPT PSTW
Jember
e. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi pelaksanaan asuhan
keperawatan klien dengan gangguan rasa aman dan nyaman (ansietas) di
UPT PSTW Jember
f. Mahasiswa mampu melakukan pembahasan masalah keperawatan klien
dengan gangguan rasa aman dan nyaman (ansietas) di UPT PSTW
Jember
g. Mahasiswa mampu menarik kesimpulan dan saran dari masalah
keperawatan pada klien dengan gangguan rasa aman dan nyaman
(ansietas) di UPT PSTW Jember.

C. Manfaat
Laporan asuhan keperawatan ini bermanfaat bagi:
1. Klien
Pemberian aroma terapi lavender menjadi salah satu pilihan bagi klien yang
mengalami cemas agar bisa mengurangi kecemasan yang dirasakan
2. Masyarakat
Evidence Based Practice ini dapat digunakan pendidikan kesehatan dasar
pada masyarakat dalam melakukan kegiatan sehari-hari untuk mengurangi
kecemasan.
3. Profesi Keperawatan
Evidence Based Practice ini sebagai salah satu bentuk alternatif lain dari
tindakan pencegahan pada umumnya dalam upaya tindakan kemandirian
perawat dalam mengurangi kecemasan pada lansia.
4. Rumah Sakit
Evidence Based Practice ini bermanfaat memberikan tambahan pengetahuan
bagi institusi pelayanan kesehatan dalam memberikan asuhan keperawatan
pada lansia yang mengalami ansietas, sehingga dalam aplikasinya benar-benar
5

memberikan pelayanan kesehatan secara holistik, mencakup pelayanan


biopsikososial dan spiritual.
5. Institusi Pendidikan
Evidence Based Practice ini dapat memberikan masukan bagi institusi
pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik
dalam memberikan asuhan keperawatan pada lansia yang mengalami
ansietas, sehingga kualitas hidup lansia menjadi meningkat.