Anda di halaman 1dari 8

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak adalah individu yang mempunyai eksistensi yang mewakili jiwa

sendiri, serta mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal

sesuai dengan iramanya masing-masing yang khas. Mereka adalah individu yang

utuh, yang bukan sekedar miniatur dari orang dewasa. Mereka hidup dalam

dunianya yang indah, yaitu dunia bermain (Wahyudi, 2003

http://www.Anak.com).

Bermain merupakan salah satu aktifitas yang paling menyenangkan, dan

kesenangan akan bermain selalu ada pada setiap orang termasuk anak-anak.

Bermain dapat dilakukan dengan menggunakan fasilitas dan alat sederhana

ataupun dengan alat yang komplit dan lengkap. Fertobhades (2006)

mengemukakan bermain merupakan upaya manusia untuk mengeluarkan ekspresi

dalam dirinya dengan cara membuat dirinya senang dan nyaman (http:

//www.bermain.htm).

Aktifitas bermain yang dilakukan anak-anak merupakan cerminan

kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial. Bermain juga merupakan

media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak-anak akan berkata-

kata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan

apa yang dapat dilakukannya, mengenal waktu, jarak, serta suara (Wong, 2000)
Dari sudut pandang psikologi, bermain dipandang sebagai aktifitas yang

baik untuk anak, dan bukan hanya sebagai ekspresi dari kelebihan energi yang

dimiliki anak-anak. Seiring perkembangan waktu, pandangan para ahli tentang

bermain berubah dan bermain dipandang sebagai perilaku yang bermakna. Groos

(dalam Schaefer, et al., 1991) mengatakan bermain dipandang sebagai ekspresi

insting untuk berlatih peran di masa mendatang yang penting untuk bertahan

hidup, dan Hall (dalam Schaefer, et al., 1991) melihat bermain sebagai

rekapitulasi perkembangan suatu ras dan merupakan media yang penting untuk

menyatakan kehidupan dalam diri (inner life) anak (http://www.tabloid-

nakita.com).

Champbell dan Glaser (1995) mengemukakan bermain pada anak sama

dengan bekerja pada orang dewasa, dan merupakan salah satu cara yang efektif

untuk menurunkan stress pada anak, dan juga penting untuk kesejahteraan mental

dan emosional anak. Bermain diyakini mampu untuk menghilangkan berbagai

batasan, hambatan dalam diri, stress dan frustasi. Karena bermain memiliki efek

healing (penyembuhan) dengan adanya sifat katarsis dan kompensasi, menjadikan

aktifitas bermain kini berkembang menjadi metoda terapi. Terapi bermain telah

digunakan secara luas di Eropa dan Amerika dan 10 tahun terakhir ini mulai

dikembangkan di Indonesia (Fitri A. Abidin, 2008. http:www.klik-auladi.com).

Terapi bermain digunakan bagi anak yang mempunyai masalah emosi, khususnya

pada anak usia 3 – 12 tahun, dengan tujuan mengubah tingkah laku anak yang

tidak sesuai menjadi tingkah laku yang diharapkan. Nurjaman (2006)

mengemukakan setelah melewati usia balita, anak yang sering diajak bermain
akan lebih kooperatif dan mudah diajak bekerjasama. Sebaliknya kalau anak

kurang diajak bermain, anak akan kurang memiliki stimulasi, menjadi seperti

ditelantarkan, kurang peka terhadap sekitarnya, sulit percaya pada orang lain, dan

suka curiga kalau memasuki lingkungan baru.

Fokus utama dalam pelaksanaan keperawatan anak adalah peningkatan

kesehatan dan pencegahan penyakit, dengan falsafah yang utama yaitu asuhan

keperawatan yang terapeutik. Tindakan yang dilakukan dalam mengatasi masalah

anak apapun bentuknya, harus berlandaskan pada prinsip asuhan yang terapeutik

yaitu menciptakan/membina hubungan saling percaya antara klien dan perawat

sebelum melakukan tindakan keperawatan (Yupi Supartini, 2002). Dasar

pemikiran pentingnya asuhan terapeutik ini adalah bahwa walaupun ilmu

pengetahuan dan tekhnologi di bidang pediatric telah berkembang pesat, tindakan

yang dilakukan pada anak tetap menimbulkan trauma, rasa nyeri, cemas dan takut.

Sangat disadari bahwa sampai saat ini belum ada tekhnologi yang dapat mengatasi

masalah yang timbul sebagai dampak perawatan. Hal ini memerlukan perhatian

khusus dari tenaga kesehatan, khususnya perawat dalam melaksanakan tindakan

pada anak.

Anak usia 3-6 tahun (anak prasekolah) merupakan anak yang berada

diantara tahap sensoris-motoris dan praoperasional, dimana anak mulai

mengembangkan sebab-akibat, trial and error, dan menginterpretasi benda atau

kejadian. Anak prasekolah berasumsi bahwa orang lain berpikir seperti mereka

sehingga perlu menggali pengertian mereka dengan pendekatan yang baik. Anak
yang dirawat di rumah sakit akan merasa tidak aman dan nyaman, tidak mengerti

mengapa harus dirawat berpisah dengan orang-orang terdekat. Oleh karena itu,

rumah sakit berfungsi untuk melengkapi suatu lingkungan dimana anak yang sakit

dapat dibantu

Permainan yang terapeutik didasari oleh pandangan bahwa bermain bagi

anak merupakan aktifitas yang sehat dan diperlukan untuk kelangsungan tumbuh-

kembang dan memungkinkan untuk dapat menggali dan mengekspresikan

perasaan dan pikiran anak, mengalihkan perasaan nyeri, dan relaksasi. Aktifitas

bermain dapat dilakukan sebelum menjalankan prosedur pada anak, hal ini

dilakukan untuk mengurangi rasa tegang dan emosi yang dirasakan anak selama

prosedur. Dengan demikian kegiatan bermain harus menjadi bagian integral dari

pelayanan kesehatan anak di rumah sakit (Brennan, 1994 dalam Supartini, 2004

hal. 145).

Hospitalisasi adalah suatu proses karena suatu alasan darurat atau

berencana mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan

perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah. Selama proses tersebut, anak

dan orang tua dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa

penelitian ditunjukkan dengan pengalaman yang sangat traumatic dan penuh

dengan stress (Supartini, 2004). Beberapa bukti ilmiah menunjukkan bahwa

lingkungan rumah sakit merupakan penyebab stress bagi anak, baik lingkungan

fisik rumah sakit seperti bangunan/ruang rawat, alat-alat, bau yang khas, pakaian

putih petugas kesehatan maupun lingkungan sosial, seperti sesama pasien anak,
ataupun interaksi dan sikap petugas kesehatan itu sendiri. Perasaan, seperti takut,

cemas, tegang, nyeri, dan perasaan yang tidak menyenangkan lainnya, sering kali

dialami anak (Brennan, 1994 dalam Supartini 2004 hal. 144).

Sakit dan hospitalisasi menimbulkan krisis pada kehidupan anak. Di

rumah sakit, anak harus menghadapi lingkungan yang asing, pemberi asuhan yang

tidak dikenal, dan gangguan terhadap gaya hidup mereka. Seringkali, anak harus

menghadapi prosedur yang menimbulkan nyeri, kehilangan kemandirian, dan

berbagai hal yang tidak diketahui (Wong, 2003). Reaksi anak terhadap sakit

adalah dalam bentuk kecemasan, stress dan perubahan perilaku. Reaksi anak pra

sekolah ketika mengalami perawatan di rumah sakit adalah dengan menunjukkan

reaksi perilaku seperti protes, putus asa, dan regresi. Sikap regresi merupakan

fenomena yang umum terjadi pada anak yang menjalani rawat inap. Sikap regresi

pada kasus yang lebih ringan muncul dalam bentuk menangis, bersandar pada ibu,

menghisap jari, serta yang lebih berat anak bias menolak makan (Wong, 2003).

Perawat memegang posisi kunci untuk membantu orang tua menghadapi

permasalahan yang berkaitan dengan perawatan anaknya di rumah sakit karena

perawat berada di samping pasien selama 24 jam. Fokus intervensi keperawatan

adalah meminimalkan stressor, memaksimalkan manfaat hospitalisasi,

memberikan dukungan psikologis pada anak dan anggota keluarga selama anak

dirawat di rumah sakit (Supartini, 2004 hal. 195).

Studi pendahuluan yang dilakukan di ruang perawatan anak Rumah Sakit

Polpus R.S. Sukanto pada bulan Oktober 2008 menunjukkan anak yang menjalani
6

perawatan tidak kooperatif atau menolak perawatan yang diberikan yang ditandai

dengan menangis ketika akan dilakukan tindakan, bersandar pada orang tuanya,

tidak mau menjawab pertanyaan perawat atau orang baru yang ditemuinya, serta

terlihat takut pada perawat yang datang karena trauma dengan tindakan invasif

yang dilakukan pada hari sebelumnya. Hal ini membuat perawat kesulitan dalam

melakukan prosedur pada anak.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan hal tersebut, masalah penelitian yang dapat dirumuskan

adalah “Apakah ada pengaruh bermain terhadap perilaku anak prasekolah


masa hospitalisasi diruang “Y” rumah sakit “X” di Bandung
C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum :

Membuktikan pengaruh bermain terhadap perilaku anak prasekolah


masa hospitalisasi diruang “Y” rumah sakit “X” di Bandung

2. Tujuan Khusus :

a. Mengetahui pengaruh bermain terhadap perilaku anak prasekolah


masa hospitalisasi diruang “Y” rumah sakit “X” di Bandung

b. Mengidentifikasi pengaruh bermain terhadap perilaku anak


prasekolah masa hospitalisasi diruang “Y” rumah sakit “X” di Bandung

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi

pengembangan ilmu keperawatan, khususnya Ilmu Keperawatan Anak


8

dalam mempersiapkan tenaga keperawatan yang profesional dan handal

dalam melaksanakan tugasnya.