Anda di halaman 1dari 21

1

I. PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI

A. Tata Ketik
1. Format
Laporan penelitian diketik (dengan komputer) pada kertas HVS (70-80
gram) berukuran A4 (21 cm x 29.7 cm).
File > Page Setup, pada tab Paper pilih Paper Size = A4.
2. Pengetikan
a. Laporan penelitian diketik 1,5 spasi dengan menggunakan kalimat
pasif.
”Ctrl + 5”
b. Huruf yang digunakan adalah Times New Roman 12 pt atau
persamaannya.
Format > Font, pada tab Font pilih Font = Times New Roman dan
Size = 12.
3. Jarak Tepi
a. Batas atas 4 cm, batas bawah 3 cm, batas kiri 4 cm, batas kanan 3 cm.
 File > Page Setup, pada tab Margins pilih Margins : top = 4 cm,
bottom = 3 cm, left = 4 cm dan right = 3 cm.
b. Setiap alinea baru, dimulai pada jarak 1,5 cm dari margin kiri.
Format > Paragraph, pada tab Indents and Spacing pilih
Indentations : Special = first line dan By = 1,5 cm.
4. Nomor, Halaman
a. Mulai dari Bab I hingga akhir laporan penelitian, diberi nomor
halaman urut dengan angka Arab dimulai dengan angka 1.
b. Semua nomor halaman diketik di sebelah kanan atas, dengan jarak 3
cm dari tepi kanan maupun tepi atas kertas (kecuali untuk halaman
judul bab, ditulis di tengah bawah 2 cm dari tepi bawah kertas).
2

 Insert > Page Numbers, Position = Top of page (header),


Alignment = right.
Untuk memilih jenis nomor, klik Format, Number format = 1,2,3,...
Untuk mengatur jarak nomor halaman, klik File > Page Setup, pada
tab Layout pilih From edge : Header = 3 cm, Footer = 2 cm.
Untuk mengatur agar nomor halaman judul bab berada di bawah
(formatnya berbeda), gunakan Insert > Break
c. Hal-hal yang bersifat pengantar pada halaman depan (sebelum Bab I)
diberi nomor dengan angka Romawi huruf kecil, seperti:i, ii, iii, dan
seterusnya.
5. Sistem penomoran pada Isi Laporan
Penomoran menggunakan pola tata urutan sebagai berikut :
a. Tingkat pertama, menggunakan angka Romawi besar: I, II, III, dst.
b. Tingkat ke 2, menggunakan huruf latin besar: A. , B. , C. , dst.
c. Tingkat ke 3, menggunakan angka Arab: 1. , 2. , 3. , dst.
d. Tingkat ke 4, menggunakan huruf latin kecil: a. , b. , c. , dst.
e. Tingkat ke 5, menggunakan angka Arab dengan satu kurung: 1), 2), 3),
dst.
f. Tingkat ke 6, menggunakan huruf latin kecil dengan satu kurung: a),
b), c), dst.
g. Tingkat ke 7, menggunakan angka Arab dengan dua kurung: (1), (2),
(3), dst.
h. Tingkat ke 8, menggunakan huruf latin kecil dengan dua kurung: (a),
(b), (c), dst.
Format > Bullets and Numbering, pada tab Outline Numbered
pilih salah satu style dan edit dengan meng-klik Customize.
6. Tabel dan Gambar/Grafik/Bagan
a. Semua bentuk tabel dan gambar kecuali tabel kerja dalam analisis
statistik diberi nomor urut dengan angka Arab (1, 2, 3, ..).
3

b. Judul tabel harus ditulis di atas tabel dengan huruf besar pada setiap
awal kata, kecuali kata sambung.
Cara membuat tabel :
 Table > Insert > Table, untuk menambahkan caption, sebelumnya
seleksi dulu semua kolom, lalu pilih Caption dan buat new label =
Tabel dan pilih Position = Above selected item.
Tabel 1. Percobaan

Tabel 2. Test

Untuk membuat daftar tabel, klik Insert > Reference > Index and
Tables, pada tab Table of Figure, pilih Caption Label= “Tabel”.
Hasilnya seperti di bawah ini :
Tabel 1. Percobaan ................................................................................ 3
Tabel 2. Test .......................................................................................... 3

c. Judul gambar ditulis di bawah gambar, dengan huruf besar pada setiap
awal kata, kecuali kata sambung.
Cara menyisipkan gambar :
 Insert > Picture, kemudian klik kanan pada area gambar, pilih
Caption. Buat new label, yaitu “Gambar”.

Gambar 1. Pemandangan
4

Gambar 2. Sunset

Untuk membuat daftar gambar, klik Insert > Reference > Index and
Tables, pada tab Table of Figure, pilih Caption Label= “Gambar”.
Hasilnya seperti di bawah ini :
Gambar 1. Pemandangan ...................................................................... 3
Gambar 2. Sunset .................................................................................. 4

Untuk memperbarui daftar gambar, klik kanan diatas daftar gambar,


pilih Update Field. Ada dua pilihan, update page number only (yang
hanya akan memperbarui nomor halaman saja) atau update entire
table (akan memperbarui nomor halaman dan nama label gambar).
7. Daftar Isi
Untuk membuat daftar isi, klik Insert > Reference > Index and
Tables. Pada tab Table of Content, pilih jumlah level yang akan
ditampilkan dengan mengubah angka pada Show Level sesuai aturan
penulisan skripsi.
I. PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI .................................................................... 1
A. Tata Ketik .......................................................................................................... 1
1. Format ........................................................................................................... 1
2. Pengetikan ..................................................................................................... 1
3. Jarak Tepi ...................................................................................................... 1
4. Nomor, Halaman ........................................................................................... 1
5. Sistem penomoran pada Isi Laporan ............................................................. 2
6. Tabel dan Gambar/Grafik/Bagan .................................................................. 2
7. Daftar Isi........................................................................................................ 4
5

Sumber : Fery Purwantoro


Penggunaan Tanda Baca Menurut Ejaan yang Disempurnakan (EYD) – Dalam menulis tanda
baca merupakan salah satu elemen yang wajib kita perhatikan. Tanda baca berkaitan erat
dengan suara (fonem). Hal ini dikarenakan tanda baca mempengaruhi intonasi ketika
membaca suatu tulisan dan intonasi sangat mempengaruhi intepretasi suatu kalimat (baca
juga : jenis jenis kalimat).

ads

Sering kali, kita masih dibingungkan dengan penggunaan berbagai tanda baca yang ada.
Untuk itu, berikut kami berikan ulasan tentang tanda baca beserta contoh penggunaannya
berdasarkan kaidah ejaan yang disempurnakan (EYD).

Tanda Titik (.)


Seperti yang sudah kita ketahui, tanda titik digunakan untuk mengakhiri suatu kalimat
pernyataan, namun tanda titik sebenarnya masih memiliki berbagai kegunaan lain. Di bawah
ini merupakan kaidah penggunaan tanda titik menurut ejaan yang disempurnakan (EYD):

1. Tanda titik digunakan pada akhir kalimat pernyataan.

Contoh:

· Ani sedang belajar di rumah.


· Toni menolak pernyataan yang disampaikan oleh Budi.

Dalam penggunaan tanda titik di akhir kalimat, terdapat beberapa pengecualian sebagai
berikut,

1.1. Tanda titik tidak digunakan pada akhir judul yang merupakan kepala karangan,
ilustrasi, atau tabel.

Misal:

1. Seminar Nasional Konsumen Cerdas (nama acara)


2. Pembahasan (judul bab)
3. Gambar 3 Struktur Sel Hewan
4. Tabel 6 Keikutsertaan Indonesia di Ajang Olimpiade 1988 s.d. 2012

1.2. Tanda titik tidak digunakan pada akhir alamat penerima dan pengirim surat, serta
tanggal surat.

Misal:

1. Kepala SD Negeri 1 Jayakarta

Jalan Pemuda 36

Jayakarta

Jakarta 10320
2. Kepala Badan Eksekutif Mahasiswa

Kampus IPB Dramaga

Bogor

3. 30 Juni 2015

4. Jakarta, 4 November 2015

2. Tanda titik digunakan di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar,
atau daftar.

Contoh:

· I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan

· III. Kesimpulan dan Saran

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

· Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia

A. Penggunaan Tanda Hubung

B. Penggunaan Tanda Baca

B.1 Penggunaan Tanda Titik (.)

B.2 Penggunaan Tanda Koma (,)

Dalam penggunaan tanda titik di belakang angka atau huruf, ada beberapa pengecualian
sebagai berikut,

2.1. Tanda titik tidak dipergunakan pada angka atau huruf yang sudah bertanda
kurung dalam suatu perincian.

Misal:

(BENAR)

Teks Anekdot (baca juga : contoh teks anekdot)memiliki tujuan sebagai berikut,

(1) menyampaikan kritik atas suatu fenomena atau tokoh.


(2) menghibur pembaca.

(SALAH)

Fungsi dari bahasa nasional antara lain,

(1.) lambang nasional

(2.) identitas nasional

(3.) alat pemersatu bangsa

2.2. Tanda titik tidak dipergunakan pada akhir penomoran digital lebih dari satu
angka.

Misal:

(BENAR)

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan

(SALAH)

1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

1.2. Tujuan

2.3. Tanda titik tidak dipergunakan di belakang angka atau angka terakhir dalam
penomoran deret digital yang lebih dari satu angka pada judul tabel, bagan, grafik,
atau gambar.

Misal:

(BENAR)

Bagan 2 Struktur Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa

Grafik 1.1 Distribusi Pendapatan Petani di Desa Karangmuncang

(SALAH)

Gambar 7. Gedung SMP Negeri 2 Wonowari

Tabel 1.1. Kondisi Irigasi di Desa Babakan Jati


3. Tanda titik digunakan untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan waktu atau jangka waktu.

Contoh:

· Pukul 11.25.37 (pukul 11 lewat 25 menit 37 detik atau pukul 1, 25 menit, 37 detik)
· 23.23 (3 jam, 23 menit, 23 detik)
· 34 (pukul 12 malam lewat 34 detik)
· 23.49 jam (23 menit, 49 detik)
· 00.53 jam (53 detik)

4. Tanda titik digunakan dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul
tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit
untuk penulisan daftar pustaka berupa buku. Sedangkan untuk penulisan daftar
pustaka dari artikel, tanda titik digunakan di antara nama penulis, tahun, judul artikel,
nama jurnal, dan edisi.

Contoh:

· Satria A. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor (ID): IPB Pr.
· Sudirman LI. 2010. Partia; purification of antimicrobial compound isolated from
mycelia of tropical Lentinus cladopus LC4. Hayati J Biosci. 17(2)63-67.

5. Tanda titik digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang
menunjukkan jumlah.

Contoh:

· Jumlah buku Raditya Dika yang terjual mencapai 1.000.000 eksemplar.


· Untuk menyelenggarakan acara tersebut, pemerintah menganggarkan dana sebesar
Rp2.789.000.000,00.
· Kapasitas stadion sepak bola baru yang akan dibangun di Kota Bogor diperkirakan
mampu menampung lebih dari 80.000 suporter.

Dalam penggunaan tanda titik untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya, terdapat
beberapa pengecualian sebagai berikut,

5.1.Tanda titik tidak digunakan untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya
yang tidak menunjukkan jumlah.

Misal:

· Ayah saya lahir pada tahun 1956.


· Kata pungtuasi terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa
halaman 1078.
· Pembayaran dapat dilakukan melalui transfer ke nomor rekening 133007693928.

6. Tanda baca titik digunakan untuk singkatan gelar, baik akademik maupun
kebangsawanan.
Contoh:

· Siti Raminah, S.E.


· Otto Iskandar Dijaya, Ph.D.
· R.A. Kartini

Tanda Koma (,)


Berikut ini kaidah penggunaan tanda baca koma menurut ejaan yang disempurnakan:

1. Tanda koma digunakan di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau


pembilangan.

Contoh:

· Seminar tersebut akan dihandiri oleh menteri, rektor, serta pembiacara-pembiacara


yang tak kalah luar biasa.
· Wati, Indra, dan Siska merupakan tiga bersaudara.
· Lomba ini akan memperebutkan juara pertama, kedua, dan ketiga.

2. Tanda koma digunakan sebelum kata penghubung (konjungsi) yang menunjukkan


pertentangan, seperti tetapi, melainkan, sedangkan, dan lain sebagainya dalam kalimat
majemuk setara (baca : contoh kalimat majemuk setara).

Contoh:

· Anita bekerja di salah satu perusahaan swasta, tetapi gaji yang ia terima jauh dibawah
rata-rata.
· Ayahnya bukan pegawai bank, melainkan manajer di salah satu di perusahaan swasta.
· Ibu bertugas memasak di dapur setiap harinya, sedangkan Ani mencuci peralatan
kotor yang ada.

3. Tanda koma digunakan untuk memisahkan anak kalimat yang dalam penulisannya
mendahului induk kalimat.

Contoh:

· Demi mencegah terjadinya tindak kenjahatan, aparat kepolisian merazia setiap


kendaan bermotor yang lewat di Jalan Juanda siang itu.
· Karena dosen memiliki sebuah urusan, perkuliahan pada hari ini ditiadakan.
· Bila ia datang, maka aku memilih untuk tetap tinggal.

Sebagai catatan, untuk induk kalimat yang ditulis terlebih dahulu dari anak kalimat, maka
tidak perlu ditambahkan tanda baca titik di antara keduanya.

Misal:

· Kelas diliburkan karena dosen yang mengajar sedang ada urusan.


· Dia mendapat nilai tertinggi di ujian karena dia paling rajin ketika di kelas.
4. Tanda koma digunakan di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat,
seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, meskipun
demikian, dan lain sebagainya.

Contoh:

· Rani merupakan murid dari sekolah unggulam. Oleh karena itu, orang tuanya
berharap fokus untuk belajar tanpa terganggu kegiatan lainnya.
· Pak Salhan memang dikenal baik oleh warga sekitar. Jadi, wajar saat warga
mengajukannya menjadi ketua RW di komplek tempat dingga mereka.
· Raihan memang kesulitan dalam hal memahami materi perkuliahan. Meskipun
demikian, ia tidak pernah menyerah untuk terus belajar.

5. Tanda koma digunakan sebelum dan/atau setelah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh,
hai, dan lain sebagainya. Selain itu tanda koma juga digunakan sebelum dan/atau
sesudah kata sapaan, seperti Bu, Dik, Kak, dan lain-lain.

Contoh:

· Selamat siang, Dik! da yang bisa saya bantu?


· Aduh, gue lupa bawa laporan praktikum kedua.
· Ya, Shinta baru menyadari kemiripan kedua tas tersebut.

6. Tanda koma digunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam
kalimat.

Contoh:

· Ayah berpesan, “Empat tahun dari sekarang, Ayah tunggu prestasi yang
membanggakan.”
· “Saya berkenalan dengan Tania sekitar 4 tahun lalu.”, Diska memulai ceritanya,
“Ibunya seoramg guru, sedangkan ayahnya mendekam di perjara.”
· “Kamu sedang apa?”, tanya Toni

7. Tanda koma digunakan di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c)
tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah apabila ditulis secara
berurutan.

Contoh:

· Saudara Arya Hendrata, Jalan Beo Raya 45, Jakarta Utara


· Dr. Ir. Lia Mulia, M.Sc.
· Bukittinggi, 23 April 1987
· Dramaga, Bogor, Jawa Barat

8. Tanda koma digunakan untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya
dalam daftar pustaka. Selain itu tanda koma juga digunakan untuk memisahkan
masing-masing nama apabila suatu buku atau artikel memiliki lebih dari satu penulis
dalam daftar pustaka.
Contoh:

· Satria A. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor (ID): IPB Pr.
· Sudirman LI. 2010. Partia; purification of antimicrobial compound isolated from
mycelia of tropical Lentinus cladopus LC4. Hayati J Biosci. 17(2)63-67.

9. Tanda koma digunakan di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan
akhir.

Contoh:

· Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia,


Jilid 2 (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), 25.
· J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta: UP
Indonesia, 1967), hlm. 4.

10. Tanda koma digunakan di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang
mengikutinya. Penggunaan tanda koma in bertujuan untuk membedakan gelar
akademis dengan singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

Contoh:

· Ayu Aji Putri Setia Utami, S.E., M.Agribuss.


· Bambang S.H.

Hanya karena sebuah tanda koma, suatu kalimat dapat memiliki arti yang sangat berbeda.

Misal:

Dara Atika, S.H. (sarjana hukum, gelar akademik) berbeda dengan Dara Atika S.H. (Setia
Hasna, singkatan nama)

11. Tanda koma digunakan sebelum angka decimal atau diantara rupiah dan sen yang
dinyatakan dengan angka.

Contoh:

· Jarak kota A ke kota B sekitar 14,2 km.


· Diana membeli gula sebanyak 3.5 kg.
· Ima department store memberikan harga khusus untuk semua rok yang mereka jual,
yakni seharga Rp99.999,99.

12. Tanda koma digunakan untuk mengapit keterangan tambahan atau aposisi.

Contoh:

· Soeharto, Presiden II RI, sering disebut sebagai Bapak Pembangunan.


· Leiden, salah satu kota di Belanda, menawarkan pesona wisata kota tua bagi para
pendatangnya.
13. Tanda koma digunakan di belakang keterangan yang terdapat pasa awal kalimat
untuk menghindari salah baca atau salah pengertian.

Contoh:

· Dalam rangka mengenalkan budaya Sunda ke Indonesia, BEM FEM IPB mengadakan
acara Bogor Art Festival.

Bila tidak menggunakan tanda koma, maka kalimat akan di atas akan menjadi, Dalam rangka
mengenalkan budaya Sunda ke Indonesia BEM FEM IPB mengadakan acara Bogor Art
Festival, yang sulit untuk dibaca dan dimengerti.

Sponsors Link

Tanda Titik Koma (;)


Berikut ini beberapa penggunaan tanda titik koma (;) untuk berbagai tulisan:

1. Tanda titik koma dapat digunakan sebagai pengganti kata penghubung untuk
memisahkan kalimat setara yang satu dengan kalimat setara lainnya dalam kalimat
majemuk.

Contoh:

· Ayah baru saja pulang; anak-anak masih belum tidur.


· Tono bertugas menyiapkan alat dan bahan; Wati bertugas membuat pudding; Cita
bertugas menjual pudding yang sudah dibuat.

2. Tanda titik koma digunakan pada akhir perincian yang berupa klausa.

Contoh:

· Di buka lowongan untuk Management Trainee, dengan kriteria sebagai berikut:

(1) lulusan S-1 dengan IPK minimal 3.00/4.00 (untuk universitas negeri) atau 3.25/4.00
(untuk universitas swasta);

(2) memiliki kemampuan bahasa Inggris yang lancar, baik tertulis maupun lisan;

(3) sehat jasmani dan rohani;

(4) bersedia mengikuti program training selama satu tahun.

3. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam


kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.

Contoh:

· Berikut susunan acara untuk acara pada pagi hari ini:


1. Pembukaan oleh MC;
2. Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne IPB, dan Mars FEM;
3. Sambutan Ketua Panitia; …

· Setiap peserta harus memilih satu barang dari payung, jas hujan, atau topi; kamera,
laptop, atau smartphone; liburan ke Bali, Lombok, atau Yogjakarta.

Tanda Titik Dua (:)


Berikut ini berbagai penggunaan tanda baca titik dua menurut kaidah ejaan yang
disempurnakan (EYD):

1. Tanda titik dua digunakan pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti
pemerincian atau penjelasan.

Contoh:

· Andi dan Sila mengisi rumah baru mereka dengan berbagai perabotan rumah tangga:
sofa, kasur, lemari, dan sebagainya.
· Andi mempertaruhkan segalanya dalam tes ini karena baginya hanya ada dua pilihan:
lolos tes beasiswa ke Belanda atau kembali pulang ke kampung menggarap sawah
milik keluarga.

Meski digunakan dalam pemerincian, namun tanda titik dua tidak digunkan untuk penjelasan
atau pemerincian yang mengakhiri suatu pernyataan.

Misal:

(BENAR)

Untuk mendekorasi kelas, kita membutuhkan balon, gabus warna, dan juga pita hias.

(SALAH)

Untuk mendekorasi kelas, kita membutuhkan: balon, gabus warna, dan juga pita hias.

2. Tanda titik dua digunakan sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

Contoh:

· Ketua : Ramadhan F.N.

Sekretaris : Riana Putri

Bendahara: Sita Novita

3. Tanda titik dua digunakan dalam naskah drama atau lakon sesudah kata yang
menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh:

· Pemuda : “Ini tidak bisa dibiakan begitu saja, Pak Kades!”

Warga desa : “Benar sekali, Pak.”

Pemuda : “Sudah dua orang tewas karena kelakuan dukun santet itu, Pak!”

4. Tanda titik dua digunakan di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat
dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul, serta (d) nama koa dan penerbit dalam daftar
pustaka.

Contoh

· Horizon XLII, No. 8/2008: 8


· Surah Al-Baqarah: 2-5
· Dari Pemburu ke Terapeutik: Analogi Cerpen Nusantara
· Satria A. 2009. Pesisir dan Laut untuk Rakyat. Bogor (ID): IPB Pr.

Tanda Hubung (-)


Berikut ini contoh-contoh pemakaian tanda hubung sesuai EYD:

1. Tanda hubung digunakan untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh
pergantian baris.

Contoh:

· Dalam pelaksanaannya, sering kali terjadi kesalahan-kesalahan yang ti-

dak diinginkan.

· Ketika sedang mencuci di sungai, bawang putih menyelamakan seekor i-

kan mas.

2. Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.

Contoh:

· pura-pura
· bolak-balik
· kemerah-merahan

3. Tanda hubung digunakan untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang ditulis
dengan angka atau menyambung huruf yang telah dieja satu per satu.

· 11-12-2013
· I-n-d-o-n-e-s-i-a
4. Tanda hubung digunakan untuk memperjelas hubungan kata atau ungkapan

Contoh:

· Ber-ganti-an
· Dua-puluh-lima ribuan (25 x 1000)
· Dua-puluh lima-ribuan (20 x 5000)

5. Tanda hubung digunakan untuk merangkai.

Contoh:

· Se-Kabupaten, Se-JawaTengah
· Ke-2, ke-3
· Tahun 2000-an, 1960-an
· Ber-KTP, sinar-X, KTP-mu, SIM-ku
· D-3, S-1, S-2, S-3

Namun, tanda hubung tidak dapat digunakan di antara huruf dan angka, apabila angka
tersebut menunjukkan jumlah huruf, misal BP3K; LP3I; P3K; dan ain sebagainya.

6. Tanda hubung digunakan untuk merangka unsur bahasa Indonesia dengan bahasa
lain, baik bahasa daerah maupun asing.

Contoh:

· Meng-upload
· Di-sowan-i

7. Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek
bahasan.

Contoh:

· Kata pasca- berasal dari bahasa Sansekerta.


· Akhiran –isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi pembetonan.

Tanda Pisah (—)


Berikut ini kaidah penulisan tanda baca pisah (—) yang sesuai dengan EYD,

1 .Tanda pisah dapat digunakan untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang
memberikan penjelasan selain yang telah disebut di bangun kalimat.

Contoh:

· Rani terjatuh—saya yakin dia menangis—dari sepeda kumbangnya dan masuk ke got
depan komplek.
2. Tanda pisah digunakan untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau
keterangan lain.

Contoh:

· Atlet sekelas Taufik Hidayat—penyabet medali emas di Yunani—harusnya mendapat


apresiasi yang pantas dari negera atas usahanya mengharumkan nama bangsa
Indonesia.
· Penemuan teori Big Bang—teori yang menyatakan bahwa semesta terbentuk atas satu
ledakan maha dahsyat—telah merubah pemahaman kita terhadap alam semesta.

3. Tanda pisah digunakan antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti
‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.

Contoh:

· 23-28 Januari 2016


· Dari tahun 1997-2007
· Jakarta-Bandung

Tanda Tanya (?)


Di bawah ini merupakan contoh penggunaan tanda tanya dalam penulisan,

1. Tanda tanya digunakan di akhir kalimat tanya.

Contoh:

· Kapan hari kemerdekaan Indonesia?


· Berapa jumlah provinsi di Indonesia?

2. Tanda tanya yang dikurung digunakan untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan
yang disangsikan atau kurang terbukti kebenarannya.

Contoh:

· Dimas Kanjeng mampu menggandakan uang (?)


· Ada hantu ‘Satpam Terbang’ yang berkeliaran di asrama (?)

Tanda Seru (!)


Tanda seru digunakan untuk mengakhiri kalimat yang berupa seruan atau perintah yang
menggambarkan emosi yang kuat, kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa takjub.

Contoh:

· Hidup mahasiswa!
· Benar-benar indah pantai ini!
· Deskripsikan gambar tersebut dalam satu kalimat!
Sponsors Link

Tanda Elipsis (…)


Berikut ini beberapa contoh penggunaan tanda elipsi sesuai dengan kaidah EYD.

1. Tanda Elipsis digunakan untuk menunjukan bahwa suatu kalimat atau kutiban ada
bagian yang sengaja dihilangkan.

Contoh:

· Dalam UUD 1945 disebutkan empat tujuan Negara Indonesia, yakni melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, ….
· Menurut … maka diprediksi dunia akan kekurangan pangan dalam kurun waktu
kurang dari 50 tahun lagi.

2. Tanda elipsis digunakan untuk menulis perkataan yang tidak selesai dalam dialog.

Contoh:

· “Bagaimana jika kita … Bukankah itu lebih baik?”


· “ … Ya sudah saya ikuti apa kata mereka saja.”

Dalam penggunaan tanda elipsis, ada beberapa kaidah penulisan yang harus di perhatikan
yakni,

· Tanda elipsis diawali dan diikuti dengan spasi.


· Untuk penggunaan tanda ellipsis di akhir kalimat diikuti dengan tanda titik, sehingga
tanda titik nantinya berjumlah 4 buah.

Tanda Petik (“…”)


Di bawah ini merupakan kaidah penggunaan tanda petik berdasarkan EYD.

1. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan, naskah, dialog, dan sejenisnya.

Contoh:

· “Jam berapa ini?”, tanya Andri pada perempuan di sampingnya.


· Menurut Pasal 31 UUD 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan”.

2. Tanda petik digunakan untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel,
naskah, bab buku, dan lain-lain yang disebutkan dalam suatu kalimat.

Contoh:
· Film “Dr. Strange” yang dibintangi actor Benedict Cumberbatch kini tengah merajai
box office.
· Buatlah resensi dari novel “Laskah Pelangi”!

3. Tanda petik digunakan untuk mengapit istilah dengan arti khusus maupun istilah
ilmiah yang kurang dikenal.

Contoh:

· Di musim Pemilu ini, dikhawatirkan akan banyak “serangan fajar”.


· Praktik memberikan “amplop” kepada petugas masih sering terjadi hingga saat ini.

Tanda Petik Tunggal (‘…’)


Berikut ini kaidah penggunaan tanda pentik tungga sesuai ejaan yang disempurnakan (EYD).

1. Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit petikan di dalam petikan.

Contoh:

· “Sepertinya waktuku cukup untuk membaca novel ‘Edensor’ sembari menunggu


kedatanganmu tadi”, ucap Wati kesal.
· “Andreas, apa kau tadi juga mendengar bunyi ‘pluk’ di belakang pohon sana?”, Rey
berbisik takut pada Andreas.

2. Tanda petik tunggal digunakan untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan
dari suatu kata atau ungkapan.

Contoh:

· terdakwa ‘yang didakwa’


· pungtuasi ‘tanda baca’
· matur nuwun ‘terima kasih’
· policy ‘kebijakan’

Tanda Kurung ((…))


Tanda kurung memiliki beberapa kegunaan dalam penulisan sehari-hari, berikut ini beberapa
kegunaan kegunaan tanda kurung menurut kaidah EYD.

1. Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterangan atau penjelasan.

Contoh:

· Lembaga pengkreditan tersebut menyediakan jasa pengkreditan dengan jaminan surat


bukti kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB).
· Mahasiswa Agribisnis IPB sukses menyelenggarakan Lokakarya (workshop) di tujuh
kecamatan berbeda di Kabupaten Kuningan.
2. Tanda kurung digunakan untuk mengapit keterang atau penjelasan yang bukan
bagian utama kalimat.

Contoh:

· Keterangan tersebut (lihat Tabel 2.4) menunjukan jika tren positif investasi syariah di
Indonesia dari tahun ke tahun.
· Artis asal Singapura itu nampak menawan dalam balutan pakaian tradisional Cina
bercorak naga (mahluk mitologi Cina) di red carpet acara tadi malam.

3. Tanda kurung digunakan untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di
dalam teks dapat dimunculkan maupun dihilangkan.

Contoh:

· Ani pergi berbelanja menggunakan (bus) Kopaja.


· Liburan kali ini, diperkirakan akan banyak wisatawan yang mengunjungi (pulau) Bali.

4. Tanda kurung digunakan untuk mengapit huruf atau angka yang digunakan sebagai
penanda pemerincian.

Contoh:

· Penentuan bauran pemasaran ini mempertimbangkan (a) product, (b) price, (c) place,
dan (d) promotion.
· Berkas lamaran harus melampirkan

(1) Akta kelahiran,

(2) Surat berkelakuan baik dari kepolisian,

(3) Surat keterangan kesehatan yang dikeluarkan rumah sakit, dokter, ataupun puskesmah.

Tanda Kurung Siku ([…])


Tanda kurung siku mungkin jarang ditemui di teks tertulis atau naskah lainny, namun kita
juga perlu tahu penggunaan tanda kurung siku menurut kaidah EYD seperti yang disebutkan
dibawah ini.

1. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata
sebagai tanda koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan naskah asli yang
ditulis oleh orang lain.

Contoh:

· [Kongres Pemuda II] tanggal 28 Oktober merupakan hari yang sangat bersejarah bagi
Republik Indonesia sehingga diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
2. Tanda kurung siku digunakan untuk mengapit keterang dalam kalimat penjelas
yang terdapat dalam tanda kurung.

Contoh:

· Persamaan antara kedua hal tersebut (perbedaannya telah disebutkan di Bab II [lihat
halaman 73-74]) akan dikupas pada bab ini.

Tanda Garis Miring (/)


Berikut ini beberapa contoh penggunaan tanda baca garis miring berdasarkan kaidah EYD.

1. Tanda garis miring digunakan dalam penulisan nomor surat, nomor pada alamat,
dan penandaan masa satu tahun yang terbagi menjadi dua tahun takwim.

Contoh:

· Nomor: 023/A.1/BEMFE/XI/2016
· Jalan Pemuda III/10
· Masa bakti 2015/2016

2. Tanda miring digunakan sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap.

Contoh:

· mahasiswa/mahasiswi ‘mahasiswa dan mahasiswi’


· pisang rebus/goreng/bakar ‘pisang rebus atau goreng atau bakar’
· sebelum dan/atau sesudah ‘sebelum dan sesudah atau sebelum atau sesudah’
· harganya Rp15.000,00/buah ‘harganya Rp15.000,00 untuk setiap buahnya’

3. Tanda garis miring digunakan untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata
sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah asli
yang ditulis orang lain.

Contoh:

· Kong/g/res Pemuda II diselenggarakan pada tanggal 28 Oktober 1928, pada


kesempatan tersebut lagu “Indonesia Raya” untuk pertama kalinya dikumandangkan.

Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)


Tanda penyingkat digunakan untuk menunjukan penghilangan bagian kata atau angka tahun
dalam konteks tertentu.

Contoh:

· Paketnya sudah diterima, ‘kan? (‘kan berarti bukan)


· Libur ‘lah tiba. (‘lah berarti telah)
· 3-3-’14 (’14 berarti 2014)