Anda di halaman 1dari 19

Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag.

1)
Ahmad Zarkasih, Lc Mon 17 February 2014 08:33 | 6115 views

Bagikan via
Harta bersama suami dan istri punya banyak penyebutan. Dalam bahasa Jawa sering disebut
sebagai gono-gini. Lain lagi dengan orang Aceh, mereka menyebutnya dengan istilah
hareuta syareukat. Dan berbeda lagi dengan budaya Bugis dan Makassar yang mengenal harta
bersama dengan istilah cakkara.
Sementara di Kalimantan harta macam ini disebut dengan nama perpantangan. Lalu orang
Sunda menyebutnya guna kaya dan di Bali namanya berubah menjadi druwe gabro.
Itulah beberapa nama untuk 'harta bersama' yang dikenal di beberapa daerah Indonesia. Intinya,
harta bersama yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.
Bagaimana kedudukan harta bersama ini dalam syariat Islam?
Dalam syariah Islam sebenarnya ada juga harta bersama, tetapi sifatnya tidak terjadi secara
otomatis. Harta bisa dimiliki secara bersama dengan syarat memang ada kesepakatan untuk
memilikinya secara bersama. Di luar itu, pada dasarnya harta hasil keringat suami mutlak
kepemilikannya dipegang oleh suami dan harta hasil keringat istri mutlak untuk istri.
Penghasilan suami asalnya mutlak milik suami dan tidak secara otomatis menjadi milik istri.
Namun memang suami berkewajiban memberikan nafkah untuk istri dan keluarganya, dengan
besaran tertentu yang disepakati tentunya. Begitu suami memberikan sebagiannya kepada
istrinya sebagai nafkah, berpindah pula statusnya menjadi milik istri.
Dalam hal harta itu berupa asset seperti rumah, kendaraan, tanah dan sejenisnya, bila suami
memberikan sebagian hak kepemilikannya kepada istrinya, barulah terjadi yang namanya harta
milik bersama.
Undang-Undang Perkawinan Indonesia
Kemunculan wacana harta bersama dalam masyarakat Indonesia memang sudah digariskan
dalam Undang-undang resmi Negara Republik Indonesia. Berarti keberadaannya sudah
dilegalkan dan punya kekuatan hukum dalam peradilan Indonesia.
Dalam Undang-Undang no. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, pada Bab VII: Harta Dalam
Perkawinan, pasal 35 ayat 1:
“Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama”
Kemudian ini diperkuat lagi dengan pasal-pasal yang ada pada kitab ‘suci’-nya pengadilan
agama di seluruh Indonesia, yaitu KHI (Kompilasi Hukum Islam) yang dikeluarkan tahun 1991.
Pada pasal 96 dalam KHI disebutkan:
“Apabila terjadi cerai mati, maka separuh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup
lebih lama”
Konsekuensinya yang berkaitan dengan masalah syariah pada pasal-pasal ini ialah ketika ada
salah seorang yang meninggal dunia, entah itu suami atau istri, maka pembagian harta waris
tidak bisa dilaksanakan sebelum harta si pewaris itu dipecah dua, setengah untuk pasangan yang
hidup dan setengahnya untuk para ahli waris.
Jadi, jika si suami meninggal, maka istrinya mendapat setengah harta suami dulu, baru nanti
akan mendapatkan lagi harta waris dari harta suami yang sudah dipotong setengah itu. Begitu
juga sebaliknya dengan suami.
Car pembagian yang sama juga berlaku ketika terjadi perceraian. Karena ada harta bersama,
maka sebagian harta dibagi dahulu menjadi 50:50 untuk kedua belah pihak.
Semua cara ini sesungguhnya menjadi aneh jika dilihat dari persfektif syariah yang tidak
mengenal adanya percampuran harta karena pernikahan. Dan selama lebih dari 13 abad, tidak
kita temukan ada ulama dan para fuqaha yang membahas ini. Harta yang dihasilkan oleh suami
adalah mutlak milik suami dan apa yang diperoleh istri pun mutlak milik istri. Pernikahan tidak
menjadikan status harta menjadi harta yang dimiliki bersama.
Dari Mana Dasarnya?
Tapi, kalau kita teliti di beberapa studi yang dilakukan oleh para sarjana muslim di Indonesia
melalui beberapa tesis dan disertasi, ternyata kemunculan pasal tersebut tidak muncul begitu
saja. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi kemunculan pasal-pasal tentang harta bersama.
Mereka mendapati memang sebelum pasal itu muncul, budaya orang-orang Indonesia sejak lama
telah menjalankan praktek harta bersama. Adat inilah yang kemudian memunculkan pasal-pasal
tersebut dalam Undang-Undang resmi Negara. Diantara argumen mereka tentang harta bersama
ialah:
1. ‘Urf Atau Kebiasaan
Yang pertama kali mereka jadikan argumen ialah bahwa memang tidak ada dalil syar’i baik dari
nash Al-Quran maupun Hadits Nabi saw yang melarang untuk menjadikan harta suami-istri itu
harta bersama.
Bahwa para ulama dan ahli fiqih tidak membicarakan harta bersama dalam kitab-kitab mereka,
itu didasari oleh budaya dan kultur mereka (timur tengah). Budayanya suamilah yang menafkahi
seluruh kebutuhan keluarga dan istri hanya berdiam di rumah melayani suami. Demikian juga
ketika memulai pernikahan, suami sudah punya harta untuk keluarga dan istri dalam status tak
berharta.
Berbeda dengan budaya Indonesia yang kedua pihak; suami dan istri, masing-masing berangkat
memulai perkawinan dari nol harta. Sama sekali tidak punya harta, barulah setelah mereka
bersama, mereka memulai mencari dan berpenghasilan.
Menurut mereka tidak ada dalil syar’i baik dari nash Al-Quran maupun Hadits Nabi saw yang
melarang untuk menjadikan harta suami-istri itu harta bersama. Karena tidak ada dalilnya, maka
ini termasuk perkara yang didiamkan oleh syariah atau amrun maskuutun ‘anhu [ ‫]أمر مسكوت عنه‬.
Karena perkara ini didiamkan oleh syariah, maka hukumnya dikembalikan kepada 'urf dan
kebiasaan setempat. Artinya mengambil hukum adat setempat yang mana syariah membolehkan,
sebagaimana kaidah fiqih:
‫العادة محكمة‬
“Kebiasaan/adat (bisa) menjadi hukum”
Jadi menurut mereka tidak ada masalah mempraktekkan hukum harta bersama dalam masyarakat
Indonesia yang memang sejak dahulu telah mengamalkannya sebagai budaya yang tidak
ditinggalkan.
2. Syirkah Abdan
Dalam muamalah dikenal adanya akad syirkah (koperasi) antara dua pihak atau lebih dalam
sebuah usaha, yang kemudian hasil dari usaha tersebut menjadi milik mereka dan dibagi sesuai
hasil kesepakatannya.
Menurut mereka, dalam hal kepemilikan harta, status suami dan istri itu merupakan koperasi dua
badan yang dikenal dalam syariah dengan istilah syirkah abdan.
Hal itu tejadi karena sumber keuangan keluarga bukan cuma suami, tetapi istri pun punya andil
yang signifikan dalam mendatangkan sumber keuangan keluarga, dalam satu jenis pekerjaan
yang sama.
Misalnya para petani di desa yang hidup dari hasil pertanian. Ternyata yang bekerja di ladang itu
bukan hanya suami, tetapi para wanita atau para istri pun ikut juga ke ladang, membantu
pekerjaan suami. Oleh karena itu 'jasa' para istri tidak bisa diabaikan begitu saja.
Dalam kehidupan para nelayan pun terjadi hal yang sama. Yang turun melaut mencari ikan
memang suami. Tetapi yang kemdian menjual ikan-ikan itu di pasar pelelangan ikan justru para
istri. Maka pemasukan yang mereka dapat itu tidak lain merupakan pemasukan bersama.
Bentuknya ialah sang suami bekerja menghasilkan uang dari usahanya dan sang istri membantu
melayaninya dan memenuhi segala kebutuhannya di rumah. Dengan tugas melayani dan
memenuhi kebutuhan suami di rumah, itu akan menunjang kinerja baik untuk sang suami dalam
menghasilkan penghasilan dari usahanya itu.
Jadi sejatinya istri punya andil besar dalam usaha yang dihasilkan oleh suaminya tersebut.
Mungkin saja, kalau tidak ada istri yang memenuhi kebutuhan suaminya di rumah, kinerja sang
suami bisa menurun atau bahkan memburuk.
Begitulah kurang lebih beberapa argumen mereka tentang adanya harta bersama dalam budaya
masyarakat Indonesia. Sehingga kemudian lahirlah istilah harta milik bersama alias gono-gini.
Tapi bagaimana syariah memandang harta bersama ini, dan apakah yang menjadi argument para
sarjana-sarjana muslim Indonesia ini bisa diterima oleh kententuan syariah?

Gono-Gini Antara Syariah dan Hukum Adat (Bag. 2)


Ahmad Zarkasih, Lc Tue 18 February 2014 09:24 | 4511 views

Bagikan via
sebelumnya telah disebutkan bahwa tidak ada istilah harta bersama dalam syariah, para
ulama dan fuqaha pun tidak membahas itu sebagai bagian dari syariah dalam kitab-kitab
mereka. Dan mereka juga telah bersepakat bahwa perkawinan tidak bisa merubah status
kepemilikan harta salah satu pasangan menjadi harta bersama. Sama sekali tidak ada.
Dalam syariah, kepemilikan harta itu bisa berubah atau berpindah kepemilikan dengan satu dari
4 cara, yaitu:
[1] Waris,
[2] Wasiat,
[3] Hibah,
[4] Jual beli.
Dan perkawinan tidak ada dalam 4 cara ini, jadi memang tidak bisa kemudian hanya karena
perkawinan harta menjadi dimiliki bersama. Selain itu, sebagian dari ulama ini juga berdalil
dengan ayat 32 surat an-Nisa’ yang menyebutkan bahwa bagi masing-masing laki dan wanita
hanya memiliki apa yang ia usahakan.
‫ضللله إلان ا‬
ً‫اع عكاًعن بلككلل عشييءء ععلليِمما‬ ‫ب لماماً ايكتععسيبعن عوايسأ عكلوا ا‬
‫اع لمين فع ي‬ ‫ب لماماً ايكتععسكبوا عولللنلعساًلء نع ل‬
‫صيِ ب‬ ‫للللرعجاًلل نع ل‬
‫صيِ ب‬
“bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para
wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah
sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
Hadits Hindun, Istri Abu Sufyan
Selain dengan ayat di atas, para ulama juga berdalil dengan hadits Hindun binti ‘Utbah, istri Abu
Sufyan, dan hadits ini masyhur (terkenal), hampir semua orang muslim pernah mendengar hadits
ini.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh syaikhoni (Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim) ini,
sayyidah ‘Aisyah bercerita bahwa Hindun pernah mendatangi Nabi saw dan mengadukan apa
yang diperbuat oleh Abu Sufyan;
‫ت لمين عماًللله بلعغييِلر لعيللمله فعهعيل ععلع ا‬
‫ي لفي عذلل ع‬
‫ك لمين كجعناًحء‬ ‫ي إلال عماً أععخيذ ك‬
‫إلان أععباً كسيفعيِاًعن عركجبل عشلحيِبح عل يكيعلطيِلني لمين النافعقعلة عماً يعيكلفيِلني عويعيكلفي بعنل ا‬
‫ك عويعيكلفي بعلنيِ ل‬
‫ك‬ ‫اك ععلعييِله عوعسلاعم كخلذيِ لمين عماًللله لباًيلعميعكرو ل‬
‫ف عماً يعيكلفيِ ل‬ ‫صالىَّ ا‬ ‫فععقاًعل عركسوكل ا‬
‫ال ع‬
“Ya Rasulullah! Abu Sufyan, suamiku itu orang pelit, ia tidak memberikanku nafkah yang
mencukupiku dan anakku, kecuali apa yang aku ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya.
Apakah itu boleh wahai Nabi? Kemudian Rasulullah saw menjawab: ‘ambilah dari hartanya
dengan baik sekedar yang mencukupimu dan anakmu’” (Muttafaq ‘alayh)
Kesimpulan hukum dari hadits ini, bahwa memang seorang istri tidak punya kepemilikan atas
harta yang dihasilkan oleh suaminya, karena memang itu punya suami bukan punya istri, dan
pernikahan tidak menjadikan kepemilikan harta berpindah atau menjadi milik bersama.
Kalau seandainya harta itu bisa menjadi milik bersama dengan perkwainan, tentulah Hindun ini
tidak akan bertanya kepada Nabi saw untuk mengambil harta Abu Sufyan. Datangnya Hindun
kepada Nabi saw itu bukti bahwa seoran istri tidak punya kepemilikan dalam harta suaminya.
Untuk apa takut dan bertanya tentang harta yang memang sudah menjadi milik?
Tapi memang bukan begitu, sejak dulu semua sadar bahwa harta tidak bisa pindah
kempilikannya hanya karena pernikahan. Kalau memang bisa begitu, tentu Hindun tidak akan
bertanyan status hukum mengambil harta suaminya itu kepada Nabi saw.
Gono-Gini Cerai Hidup
Terkait dengan pasal 97 KHI (Kompilasi Hukum Islam) tentang perceraian yang mengharuskan
membagi harta 50:50;
“Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang
tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.”
Sebelumnya kita sudah bahwa bahwa memang syariah tidak mengenal istilah harta bersama,
kemudian muncul dalam pasal ini tentang kehatusan membagi harta untuk masing-masing
pasangan seperdua dari harta bersama. Sepertinya ada kedzaliman di sini.
Karena dengan ditentukan harus membagi seperti itu, tentu ini tidak adil, karena bisa saja dalam
perkawinan tersebut, suamilah yang paling banyak menghasilkan uang dibanding istri, atau bisa
saja sebaliknya, istri yang paling punya peran. Dengan ditentukan masing-masing seperdua,
pastilah ada pihak yang dirugikan, karena mengambil haknya untuk diberikan kepada yang tidak
berhak. Karena itu praktek-praktek dzalim seperti ini tidak dilegalkan dalam syariah.
Kompromi Dengan Shulhu (Perdamaian)
Sejatinya masalah ini bisa saja dikompromikan dalam syariah, artinya praktek ini bisa menjadi
legal dalam pandangan syariah jika memang menuruti apa yang telah ditentukan dalam syariah.
Syariah tidak mengenal istilah harta bersama, akan tetapi syariah punya praktek legal jika
memang terjadi percekcokan antara suami dan istri terkait harta bersama atau pembagian gono-
gini ketika perceraian, yaitu dengan Shulhu [ ‫( ]الصلح‬perdamaian).
Shulhu [ ‫ ]الصلح‬ialah perjanjian untuk melakukan perdamaian antara kedua belah pihak (suami
istri) setelah mereka berselisih. Allah SWT berfirman:
‫ت ايلعينفكشش ك‬
‫س الششششاح‬ ‫صششيلكح عخييِششبر عوأكيح ل‬
‫ضششعر ل‬ ‫صيلمحاً عوال ش‬ ‫ضاً فععل كجعناًعح ععلعييِلهعماً أعين يك ي‬
‫صللعحاً بعييِنعهكعماً ك‬ ‫ت لمين بعيعللعهاً نككشومزا أعيو إليععرا م‬
‫عوإللن ايمعرأعةب عخاًفع ي‬
‫عوإلين تكيحلسكنوا عوتعتاكقوا فعإ لان ا‬
‫اع عكاًعن بلعماً تعيععمكلوعن عخلبيِمرا‬
“ Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka
tidak mengapa bagi keduanya untuk mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan
perdamaian itu lebih baik (bagi mereka)” (An-Nisa’ 128)
Ayat di atas menerangkan tentang perdamaian yang diambil oleh suami istri setelah mereka
berselisih. Biasanya di dalam perdamaian ini ada yang harus merelakan hak-haknya, pada ayat di
atas, istri merelakan hak-haknya kepada suami demi kerukunan antar keduanya. Hal ini
dikuatkan dengan sabda Rasulullah saw :
‫صششيلمحاً عحششارعم‬
‫صيلكح عجاًئلبز بعييِعن ايلكميسلللميِعن إلال ك‬
‫اك ععلعييِله عوعسلاعم عقاًعل ال ش‬
‫صالىَّ ا‬ ‫ف ايلكمعزنلشي ععين أعلبيِله ععين عجلدله أعان عركسوعل ا‬
‫ال ع‬ ‫ععين ععيملرو يبلن ععيو ء‬
ً‫عحعلمل أعيو أععحال عحعرامما‬
Dari Amru’ bin Auf al Muzani dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Perdamaian adalah boleh di antara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan
yang halal dan perdamaian yang menghalalkan yang haram“ (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
Jadi ketika memang ada perceraian, kedua belah pihak; suami dan istri melakukan perundingan
damai terkait harta bersama yang masing-masing merasam memiliki dengan praktek shulhu,
tentu dilihat kadar usaha masing-masing, tiddak mesti sama rata 50:50, tapi tergantung peran
masing-masing dalam menghasilkan uang ketika masih dalam ikatan suami dan istri.
Dengan jalan ini tentu lebih selamat, tidak ada aturan syariah yang dilanggar dan tidak ada juga
salah satu pihak yang dirugikan.
Tapi sayangnya, cara ini hanya bisa dilakukan jika terjadi cerai hidup, karena keduanya masih
hidup maka sangat mungkin untuk melakukan perdamain. Tapi tidak bisa ini dilakukan jika
terjadi cerai mati, kalau salah satu mati, siapa yang mau diajak berdamai?
Maka ketika mati, harta si mayyit yang ditinggal itu menjadi harta warisan yang harus dibagikan
kepada ahli waris dengan nilai-nilai faroidh yang sudah ditentukan oleh syariah.
Jawaban ‘Urf
Sebelumnya telah dipaparkan bahwa para sarjana muslim Indonesia menggunakan ‘urf terkait
adanya harta bersama ini. akan tetapi argument dengan ‘urf itu ternyata lemah, bahkan tidak bisa
diterima Karen ada nash syariah yang menentang itu. Kaidahnya bahwa memang ‘urf itu bisa
dijalankan jika memang tidak ada nash syar’I, tapi nyatanya ada nash yang menerangkan bahwa
tidak ada harta bersama sebagaimana telah dikemukakan di atas.
Jawaban Syirkah
Juga terkait syirkah (koperasi) yang dijadikan argument oleh para sarjana muslim itu juga sangat
tidak bisa dijadikan sandaran. Mereka telah salah emngartikan syirkah. Dalam fiqih Muamalat,
yang namanya koperasi yang kemudian menghasilkan dan hasilnya milik bersama itu, itu terjadi
jika kedua belah pihak bekerja dalam satu bidang usaha.
Sedangkan yang dilakukan oleh suami dan istri itu tidak begitu, mereka justru tidak bekerja
dalam satu bidang usaha yang sama. Yang ada bahwa suami bekerja menghasilkan uang dari
salah satu kantor atau perusahaan, dan istri hanya bekerja membantu di rumah. Mereka tidak
bersatu dalam satu usaha. Suami usaha di kantor sedangkan istri hanya di rumah, apakah begini
yang dinamakan syirkah yang menjadikan hasilnya milik bersama?
Syirkah yang dikenal dalam fiqih muamalat ialah jika ada dua pihak atau lebih yang bekerja
sama dalam satu bidang usaha yang sama. Contohnya ialah si A dan si B mendirikan kelompok
usaha yang bekerja mengerjakan renovasi rumah atau sejenisnya.
Ketika ada order merenovasi salah satu rumah, mereka; si A dan si B bekerja berdua merenovasi
rumah tersebut, kemudian setelah selesai dan mendapat bayaran atas usahanya tersebut, hasil
yang didapatkan itu adalah milik bersama, karena mereka berdua telah melakukan syirkah
(koperasi) dalam usaha. Dan suami istri tidak melakukan itu.
Penerapan Adat/Urf dalam Islam
23 Mei 2016 08:04 Diperbarui: 23 Mei 2016 08:27 398 0 0

Pengertian Urf
Urf ialah sesuatu yang uang telah dikenal oleh masyarakat dan mertpakan kebiasaan
dikalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Oleh sebagian ulama ushul.
Urfdisebut adat (adat kebiasaan)[1]. Menurut istilah ahli syara tidak ada perbedaan di antara ‘urf
dan adat. Maka ‘urf yang bersifat perbuatan adalah saling pengertian manusia tentang jual beli
dengan pelaksanaan tanpa shighot yang diucapkan. Sedangkan ‘urf yang bersifat ucapan adalah
saling mengerti mereka tentang kemutlakan lafal al walad( ‫ ) الو لد‬atas anak laki-laki bukan anak
perempuan, dan juga saling mengerti mereka agar tidak mengitlakkan lafal al lahm ( ‫ )اللحم‬yang
berarti daging atas al samak(‫ )السمك‬yang bermakna ikan tawar. Jadi ‘urf adalah terdiri dari saling
pengertian manusia atas perbedaan tingkatan mereka, keumumannya dan kekhususannya[2].
Perbedaan ‘Urf dengan ijma’
‘urf terbentuk oleh kesepakatan mayoritas manusia terhadap suatu perkataan atau perbuatan,
berbaur di dalamnya orang awam dan kaum elite, yang melek dan buta huruf, mujtahid dan
bukan mujtahid. Sedangkan ijma hanya terbentuk dengan kesepakatan mujtahid saja terhadap
hukum syara’ yang amali, tidak termasuk di dalamnya selain mujtahid baik kelompok pedagang,
pegawai atau pekerja saja.
‘urf terwujud dengan persepakatan semua orang dan kesepakatan sebagian terbesarnya, di
mana keinginan beberapa orang tidak merusak terjadinya ‘urf. Sedangkan ijma hanya terwujud
dengan kesepakatan bulat seluruh mujtahid kaum muslimin di suatu masa trejadinya peristiwa
hukum, penolakan seorang atau beberapa orang mujtahid membuat ijma itu tidak terjadi.
‘Urf yang dijadikan landasan ketentuan hokum apabila berubah membuat ketentuan hukumnya
berubah pula tidak mempunyai kekuatan hokum seperti yang berlandaskan nash dan ijma/
sedangkan ijma shaikh yang dijadikan landasan ketentuan hukum ,kekuatan hukum yang
berdasarkan naskh dan tidak ada lagi peluang untuk berijtihad terhadap ketentuan hukum yang
ditetapkan ijma.[3]
Macam-macam ‘urf
‘Urf dapat dibagi atas beberapa bagian. Ditinjau dari sifatnya ‘urf terbagi kepada:
‘Urf Qauli ialah ‘urf yang berupa perkataan, seperti perkataan walad menurut Bahasa berarti
anak, termasuk didalamnya laki-laki dan anak perempuan. Tetapi dalam percakapan sehari-hari
bisa diartikan anak laki-laki saja.
‘urf amali ialah ‘urf berupa perbuatan, seperti kebiasaan jual beli dalam masyarakat tanpa
mengucapkan shighat akad jual beli. Padahal menurut syara shighat jual beli merupakan rukun
jual beli. Tetapi telah menjadi kebiasaan dalam masyarakat tidak mengunakan shighat dan tidak
terjadi hal-hal yang diinginkan. Maka syara membolehkannya.
Ditinjau diterima atau tidaknya ‘urf terbagi atas:
‘urf shahih ialah ‘urf yang baik dan dapat diterima karena tidak bertentangan dengan syara.
Seperti mengadakan pertunangan sebelum melakukan akad nikah, di pandang baik, telah menjadi
kebiasaan dalam masyarakat dan tidak bertentangan dengan syara’.
‘Urf fasid ialah ‘urf yang tidak baik dan tidak dapat diterima karena bertentangan dengan
syara. Seperti kebiasaan mengadakan sesajian untuk sebuah patung atau suatu tempat yang
dipandang keramat. Hal ini tidak dapat di terima, karena berlawanan dengan ajaran tauhid yang
diajarkan agama Islam.

Ditinjau dari segi ruang lingkup berlakunya . ‘urf terbagi kepada:

‘urf ‘aam ialah ‘urf yang berlaku pada semua tempat, masa dan keadaan, seperti memberi hadiah
(tip) kepada orang yang telah memberikan jasanya kepada kita, mengucapkan trimakasih ke pada
orang yang telah membantu kita dan sebagainya.‘Urf khash ialah ‘urf yang hanya berlaku pada
tempat, masa atau keadaan tertentu saja. Seperti mengadakan halal bi halal yang biasa dilakukan
oleh bangsa Indonesia yang beragama islam pada setiap selesai melaksanakan ibadah puasa
bulan Ramadhan sedang pada negara-negara islam lain tidak dibiasakan.[4]

Dasar Hukum ‘Urf

Para ulama sepakat bahwa ‘Urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah selama tidak bertentangan
dengan syara. Ulama Malikiyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama Madinah
dapat di jadikan hujjah, demikian ulama Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah
dapat dijadikan dasar hujah. Imam Syafi’I terkenal dengan qaul qodim dan qaul jadidahnya. Ada
suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau berada di
Makkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid). Hal itu mwnunjukkan
bahwa ketiga madzab itu berhujjah dengan ‘urf[5].

Sesuai dengan Firman Allah :


‫كخلذ ايلععيفعو عويأكمير عباً يلكعيد ل‬
(199 ‫ف )ال عراف‬
Yang menurut Al Qarafy bahwa setiap yang diakui adat, ditetapkan hokum menurutnya,
karena zohir ayat ini
Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Abdullah bin Mas’ud :
‫عماً عرا هك ايلكميسللكميوعن عحعسمناً فعهكعو لعينعدال اعيمبرعحعسبن‬.

Yang menunjukkan bahwa hal yang sudah berlaku menurut adat kaum muslimin dan
dipandangnya baik adalah pula baik di sisi Allah.[6]

Argument Penerimaan ‘Urf

‘Urf (adat kebiasaan) yang benar yang tidak menyalahi syara’ hendaknya menjadi bahan
pertimbangan seorang ahli Ijtihad dalam melakukan ijtihadnya dan bagi seorang hakim dalam
mengeluarkan keputusannya.

Alasan pengambilan ‘Urf tersebut ialah:

Syari’atIslam dalam mengadakan hukum juga memperhatikan kebiasaan (‘Urf) yang berlaku
pada bangsa Arab, seperti syarat seimbang (kafa’ah) .[7]
Argumen Penolakan ‘Urf
‘Urf yang mendapat penolakan apabila ‘Urf itu rusak, maka tidak harus memeliharanya,
karena memeliharanya itu berarti menentang dalil syara’ atau membatalkan hukum syara’. Maka
apabila manusia telah saling mengerti akad di antara akad-akad yang rusak, seperti akad riba,
atau akad gharar dan khathar (tipuan dan membahayakan) maka bagi ‘urf ini tidak mempunyai
pengaruh dalam membolehkan akad ini[8].
[1] Muin Umar dan Asyumuni A. Rahman. Ushul Fiqih 1 cet. 2 (Jakarta, Kemenag RI, 1986) hal
150

[2] Abdul Wahhab Khallaf. Kaidah-Kaidah Hukum Islam cet 6 (Jakarta, PT Raja Grafindo
Persada,1996) hal 134

[3] Sulaiman Abdullah, Sumber Hukum Islam(Jakarta, Sinar Grafik,1995) hal 77-78

[4] Muin Umar dan Asyumuni A. Rahman. Ushul Fiqih 1 cet. 2 hal 152

[5] ibidhal 152-153

[6] Sulaiman Abdullah, Sumber Hukum Islamhal 79

[7] A Hanafie Usul Fiqh cet 11 (jakarta, widjaya 1989) hal 146

[8] Abdul Wahhab Khallaf. Kaidah-Kaidah Hukum Islam hal 136


Harta Gono Gini Dalam Islam
‫صيلمحاً عحارعم‬
‫صيلكح عجاًئلبز بعييِعن ايلكميسلللميِعن إلال ك‬
‫اك ععلعييِله عوعسلاعم عقاًعل ال ش‬
‫صالىَّ ا‬
‫ال ع‬ ‫ف ايلكمعزنلشي ععين أعلبيِله ععين عجلدله أعان عركسوعل ا‬
‫ععين ععيملرو يبلن ععيو ء‬
ً‫عحعلمل أعيو أععحال عحعرامما‬

Dari Amru’ bin Auf al Muzani dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Perdamaian adalah boleh di antara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan
yang halal dan perdamaian yang menghalalkan yang haram “

Akhir-akhir ini banyak dari masyarakat yang menanyakan status harta gono-gini, bahkan terakhir
ada seorang muslimah yang dicerai oleh suaminya, kemudian muslimah tersebut meminta harta
gono gini dari suaminya 50%, suaminya-pun merasa keberatan dengan permintaan tersebut,
akhirnya mereka berdua sepakat untuk pergi ke pengadilan. Bagaimana sebenarnya kedudukan
harta gono gini ini dalam pandangan Islam?

Konsep Harta Dalam Islam


Sebelum berbicara masalah harta gono–gini, sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu tentang
“konsep harta “dalam rumah tangga Islam :

Pertama : Bahwa harta merupakan tonggak kehidupan rumah tangga, sebagaimana firman Allah
SWT :

‫عوعل تكيؤكتوا الشسفععهاًعء أعيمعوالعكككم الالتي عجعععل ا‬


ً‫اك لعككيم قلعيِاًمما‬

“ Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta
kamu yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan” [1]

Kedua : Kewajiban Suami yang berkenaan dengan harta adalah sebagai berikut :

1. Memberikan mahar kepada istri, sebagaimana firman Allah SWT :

‫صكدعقاًتللهان نليحلعةم‬
‫عوآَكتوا النلعساًعء ع‬

“ Berikanlah mas kawin kepada wanita yang kamu nikahi sebagai bentuk kewajiban (yang
harus dilaksanakan dengan ikhlas)” [2]

1. Memberikan nafkah kepada istri dan anak, sebagaimana firman Allah SWT :

‫عوعععلىَّ ايلعميوكلولد لعهك لريزقكهكان عولكيسعوتكهكان لباًيلعميعكرو ل‬


‫ف‬

“ Dan kepada ayah berkewajiban memberi nafkah dan pakaian yang layak kepada istrinya “[3]
Ketiga : Suami tidak boleh mengambil harta istri, kecuali dengan izin dan ridhonya, sebagaimana
firman Allah SWT :

ً‫فعإ لين لطيبعن لعككيم ععين عشييءء لمينهك نعيفمساً فعكككلوهك هعلنيِمئاً عملريمئا‬

“ Jika mereka (istri-istri kamu) menyerahkan dengan penuh kerelaan sebagian mas kawin
mereka kepadamu, maka terimalah pemberian tersebut sebagai harta yang sedap dan baik
akibatnya “[4]

Keempat : Jika terjadi perceraian antara suami istri, maka ketentuannya sebagai berikut :

1. Istri mendapat seluruh mahar jika ia telah melakukan hubungan sex dengan suaminya,
atau salah satu diantara kedua suami istri tersebut meninggal dunia dan mahar telah
ditentukan, dalam hal ini Allah SWT berfirman :

ً‫طاًمرا فععل تعأيكخكذوا لمينهك عشييِمئاً أعتعأيكخكذونعهك بكيهعتاًمناً عوإليثمماً كملبيِمنا‬


‫ج عوآَتعييِتكيم إليحعداهكان قلين ع‬ ‫عوإلين أععريدتككم ايستليبعداعل عزيو ء‬
‫ج عمعكاًعن عزيو ء‬

“ Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah
memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu
mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali
dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? bagaimana kamu
akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang
lain sebagai suami-isteri. “[5]

1. Istri mendapat setengah mahar jika dia belum melakukan hubungan sex dengan suaminya
dan mahar telah ditentukan, sebagaimana firman Allah SWT :

‫ضتكيم‬
‫ف عماً فععر ي‬ ‫ضةم فعنل ي‬
‫ص ك‬ ‫طلايقتككموهكان لمين قعيبلل أعين تععمشسوهكان عوقعيد فععر ي‬
‫ضتكيم لعهكان فعلري ع‬ ‫عوإلين ع‬

“ Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal
sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang
telah kamu tentukan itu. “[6]

1. Istri mendapat mut’ah (uang pesangon) jika dia belum melakukan hubungan sex dengan
suaminya dan mahar belum ditentukan, sebagaimana firman Allah SWT :

ً‫ضةم عوعمتلكعوهكان عععلىَّ ايلكمولسلع قععدكرهك عوعععلىَّ ايلكميقتللر قععدكرهك عمعتاًمعا‬ ‫طلايقتككم النلعساًعء عماً لعيم تععمشسوهكان أعيو تعيفلر ك‬
‫ضوا لعهكان فعلري ع‬ ‫عل كجعناًعح ععلعييِككيم إلين ع‬
‫ي‬ ‫ي‬ ‫ع‬
‫ف عحقاً ععلىَّ الكمحلسلنيِعن‬‫م‬ ‫ق‬ ‫ي‬
‫لباًلعمعكرو ل‬‫ي‬

“ Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu
sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. dan
hendaklah kamu berikan suatu mut'ah (pemberian) kepada mereka. rang yang mampu menurut
kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian
menurut yang patut. yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat
kebajikan.[7]
Bagaimana Status Harta Gono-Gini?
Salah satu pengertian harta gono - gini adalah harta milik bersama suami - istri yang diperoleh
oleh mereka berdua selama di dalam perkawinan, seperti halnya jika seseorang menghibahkan
uang, atau sepeda motor, atau barang lain kepada suami istri, atau harta benda yang dibeli oleh
suami isteri dari uang mereka berdua, atau tabungan dari gaji suami dan gaji istri yang dijadikan
satu, itu semuanya bisa dikatagorikan harta gono- gini atau harta bersama. Pengertian tersebut
sesuai dengan pengertian harta gono-gini yang disebutkan di dalam undang-undang perkawinan,
yaitu sebagai berikut :

“ Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama (pasal 35 UU
Perkawinan)

Untuk memperjelas pengertian di atas, hal-hal di bawah ini perlu menjadi catatan :

Pertama : Barang-barang yang dibeli dari gaji (harta) suami, seperti kursi, tempat tidur, kulkas,
kompor, mobil adalah milik suami dan bukanlah harta gono-gini, termasuk dalam hal ini adalah
harta warisan yang didapatkan suami, atau hadiah dari orang lain yang diberikan kepada suami
secara khusus.

Kedua : Barang-barang yang dibeli dari gaji (harta) suami, kemudian secara sengaja dan jelas
telah diberikan kepada istrinya, seperti suami yang membelikan baju dan perhiasan untuk
istrinya, atau suami membelikan motor dan dihadiahkan untuk istrinya, maka harta tersebut,
walaupun dibeli dengan harta suami, tetapi telah menjadi harta istri, dan bukan pula termasuk
dalam harta gono- gini.

Ketiga : Barang-barang yang dibeli dari harta istri, atau orang lain yang menghibahkan sesuatu
khusus untuk istri, maka itu semua adalah menjadi hak istri dan bukan merupakan harta gono-
gini.

Bagaimana Pembagian Harta Gono- Gini Menurut Islam?


Setelah mengetahui pengertian harta gono gini, timbul pertanyaan berikutnya, bagaimana
membagi harta gono gini tersebut menurut Islam?

Di dalam Islam tidak ada aturan secara khusus bagaimana membagi harta gono – gini. Islam
hanya memberika rambu-rambu secara umum di dalam menyelesaikan masalah bersama,
diantaranya adalah :

Pembagian harta gono-gini tergantung kepada kesepakatan suami dan istri. Kesepakatan ini di
dalam Al Qur’an disebut dengan istilah “Ash Shulhu “yaitu perjanjian untuk melakukan
perdamaian antara kedua belah pihak (suami istri) setelah mereka berselisih. Allah SWT
berfirman:
‫س الششاح‬ ‫ت ايلعينفك ك‬
‫ضعر ل‬ ‫صيلكح عخييِبر عوأكيح ل‬‫صيلمحاً عوال ش‬ ‫ضاً فععل كجعناًعح ععلعييِلهعماً أعين يك ي‬
‫صللعحاً بعييِنعهكعماً ك‬ ‫ت لمين بعيعللعهاً نككشومزا أعيو إليععرا م‬
‫عوإللن ايمعرأعةب عخاًفع ي‬
‫ك‬ ‫ا‬ ‫ك‬ ‫ا‬ ‫ك‬ ‫ك‬
‫عوإلين تيحلسنوا عوتعتقوا فعإ لان اع عكاًعن بلعماً تعيععملوعن عخلبيِمرا‬

“ Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka
tidak mengapa bagi keduanya untuk mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan
perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) “[8]

Ayat di atas menerangkan tentang perdamaian yang diambil oleh suami istri setelah mereka
berselisih. Biasanya di dalam perdamaian ini ada yang harus merelakan hak-haknya, pada ayat di
atas, istri merelakan hak-haknya kepada suami demi kerukunan antar keduanya. Hal ini
dikuatkan dengan sabda Rasulullah saw :

‫صيلمحاً عحارعم‬
‫صيلكح عجاًئلبز بعييِعن ايلكميسلللميِعن إلال ك‬
‫اك ععلعييِله عوعسلاعم عقاًعل ال ش‬
‫صالىَّ ا‬ ‫ف ايلكمعزنلشي ععين أعلبيِله ععين عجلدله أعان عركسوعل ا‬
‫ال ع‬ ‫ععين ععيملرو يبلن ععيو ء‬
ً‫عحعلمل أعيو أععحال عحعرامما‬

Dari Amru’ bin Auf al Muzani dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Perdamaian adalah boleh di antara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan
yang halal dan perdamaian yang menghalalkan yang haram “[9]

Begitu juga dalam pembagian harta gono-gini, salah satu dari kedua belah pihak atau kedua-
duanya kadang harus merelakan sebagian hak-nya demi untuk mencapai suatu kesepakatan.
Umpamanya : suami istri yang sama-sama bekerja dan membeli barang-barang rumah tangga
dengan uang mereka berdua, maka ketika mereka berdua melakukan perceraian, mereka sepakat
bahwa istri mendapatkan 40 % dari barang yang ada, sedang suami mendapatkan 60 %, atau istri
55 % dan suami 45 %, atau dengan pembagian lainnya, semuanya diserahkan kepada
kesepakatan mereka berdua.

Memang kita temukan di dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) dalam Peradilan Agama, pasal
97, yang menyebutkan bahwa :

“ Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang
tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.

Keharusan untuk membagi sama rata, yaitu masing-masing mendapatkan 50%, seperti dalam
KHI di atas, ternyata tidak mempunyai dalil yang bisa dipertanggung jawabkan, sehingga
pendapat yang benar dalam pembagian harta gono gini adalah dikembalikan kepada kesepakatan
antara suami istri.

Kesepakatan tersebut berlaku jika masing-masing dari suami istri memang mempunyai andil di
dalam pengadaan barang yang telah menjadi milik bersama, biasanya ini terjadi jika suami dan
istri sama-sama bekerja. Namun masalahnya, jika istri di rumah dan suami yang bekerja, maka
dalam hal ini tidak terdapat harta gono- gini, dan pada dasarnya semua yang dibeli oleh suami
adalah milik suami, kecuali barang-barang yang telah dihibahkan kepada istri, maka menjadi
milik istri. Wallahu A’lam
RUU Harta Gono Gini
Definisi Perkawinan berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang
Perkawinan, ialah :

“ Ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan
tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa” .

Dalam setiap Perkawinan tidak terlepas oleh adanya harta benda, baik yang diperoleh sebelum
perkawinan, pada saat perkawinan berlangsung maupun yang diperoleh selama menjadi suami-
istri dalam suatu ikatan perkawinan.

Undang-Undang Perkawinan membedakan harta benda dalam perkawinan, yang diatur pada
Pasal 35 bahwa :

1) Harta benda diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.

2) Harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah
pengawasan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.

Dengan adanya perbedaan jenis harta benda dalam perkawinan tersebut mempengaruhi cara
melakukan pengurusannya. Harta bersama diurus secara bersama-sama oleh suami-isteri. Dalam
melakukan pengurusan harta bersama tersebut, meraka dapat bertindak dengan adanya
persetujuan kedua belah pihak. Artinya, suami atau isteri jika melakukan perbuatan hukum
terhadap harta bersama berdasarkan kesepakatan bersama. Berbeda dengan harta bawaan,
pengurusannya dilakukan oleh masing-masing pihak, suami atau isteri, kecuali apabila mereka
telah menentukan lain. Masing-masing pihak, suami atau isteri mempunyai hak sepenuhnya
untuk melakukan perbuatan hukum terhadap harta bawaannya masing-masing. Suami atau isteri
dapat bertindak atas persetujuan meraka. Akan tetapi, persetujuan itu bukanlah suatu kewajiban.

Demikan pula dalam penguasaan dan perlekatan hak kepemilikan atas 2 (dua) jenis harta dalam
perkawinan yang telah jelas dipisahkan oleh Undang-Undang Perkawinan.

Hal tersebut di atas dapat dilihat dalam Pasal 36 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang
Perkawinan, yang berbunyi :

1) Mengenai harta bersama, suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah
pihak.

2) Mengenai harta bawaan masing-masing, suami isteri mempunyai hak sepenuhnya untuk
melakukan perbuatan hukum mengenai harta bendanya.
Pembagian Harta Gono-gini Cerai Mat

Harta gono-gini menjadi problem yang harus dihadapi setiap terjadi perceraian. Tidak hanya
perceraian akibat adanya ketidakcocokan dalam hubungan rumah tangga (biasa disebut cerai
hidup), tapi juga perceraian yang terjadi karena suami atau istri meninggal (biasa disebut cerai
mati).

Kedua kasus perceraian itu memiliki perbedaan, demikian pula pada proses pembagian harta
bersama atau harta gono-gini. Namun, dalam artikel ini, kita akan lebih membahas pada cara
pembagian harta bersama ketika terjadi cerai mati.

Harta Apa Saja yang Termasuk Harta Gono-gini?

Perlu diketahui, tidak semua harga yang ditinggalkan oleh suami atau istri termasuk dalam harta
bersama. Anda perlu mengetahui definisi dari harta gono-gini sesuai dengan aturan perundang-
undangan yang berlaku di Indonesia.

Perlu diketahui, tidak ada istilah harta gono-gini dalam aturan perundang-undangan di Indonesia.
Hanya saja, penyebutan jenis harta pada perkawinan ini mengacu pada pemakaian istilah harta
bersama seperti yang tercantum pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Undang-undang tersebut menuliskan, bahwa harta bersama merupakan semua jenis harta benda
yang didapatkan oleh pasangan suami istri selama perkawinan. Dalam pemakaiannya, baik istri
atau suami memiliki hak yang sama. Selain itu, penggunaannya juga harus disertai dengan
persetujuan dari pihak lain.

Selain harta bersama, ada pula jenis harta lain yang tidak termasuk di dalamnya. Jenis harta
tersebut adalah harta bawaan. Harta bawaan merupakan jenis harta yang dibawa oleh seorang
istri atau suami sebelum menjalani perkawinan. Harta bawaan bisa berasal dari berbagai sumber,
misalnya dari, penghasilan ketika masih belum kawin, hadiah, ataupun warisan.

Berbeda dengan harta bersama, kepemilikan jenis harta ini berada pada pihak yang memperoleh
atau membawanya. Oleh karena itu, jenis harta ini tidak termasuk dalam harta gono-gini yang
perlu dibagi ketika terjadi perceraian, baik cerai mati ataupun cerai hidup.

Dasar Hukum Cara Pembagian Harta Gono-gini Cerai Mati di Indonesia

Dasar hukum yang bisa digunakan untuk pembagian harta gono-gini cerai mati bisa dijumpai
pada Pasal 38 Undang-Undang Perkawinan serta Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang
Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam (KHI).
Undang-Undang Perkawinan tidak secara khusus menyebutkan cara pembagian untuk kasus
cerai mati. Aturan ini hanya menyebutkan kalau perpisahan dalam sebuah perkawinan bisa
diakibatkan oleh 3 hal, yakni kematian, perceraian, serta keputusan pengadilan.

Hanya saja, aturan perundang-undangan ini mengatur secara umum pembagian harta bersama
akibat perceraian. Menurut UU Perkawinan, harta bersama harus dibagi secara merata, terlepas
perpisahan itu terjadi akibat kematian, perceraian, atau keputusan pengadilan.

Sementara itu, Inpres KHI lebih mendetail dalam mengatur pembagian harta gono-gini kepada
suami atau istri yang ditinggal mati pasangannya. Pada pasal 96 disebutkan bahwa ketika terjadi
cerai mati, maka setengah dari seluruh harta bersama merupakan hak dari pasangan yang hidup
lebih lama.

Hanya saja, masih menurut Inpres KHI, pembagian harta bersama akibat cerai mati itu tidak bisa
secara langsung dilakukan. Pembagian ini masih harus disertai dengan kepastian kematian yang
hakiki atau kepastian kematian secara hukum berdasarkan putusan pengadilan.

Pembagian harta akibat kematian harus dilakukan secara adil. Pembagian itu tidak hanya
menyangkut harta gono-gini, melainkan juga termasuk harta warisan. Dengan pembagian yang
adil, harta tersebut tidak akan menjadi sumber perpecahan dalam keluarga.

Perpecahan karena masalah harta yang ditinggalkan oleh seorang yang telah meninggal itu tentu
tidak diinginkan oleh siapapun. Baik oleh pihak yang masih hidup, ataupun orang yang telah
meninggal dunia. Setuju, kan?