Anda di halaman 1dari 6

TES ROMBERG

Disusun Guna Memenuhi Tugas


Program Studi Profesi Kedokteran
Bagian Ilmu Penyakit THT-KL
Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong

DISUSUN OLEH :

Dwidian Khresna Risanto


1765050232

Pembimbing :
dr. Dadang Chandra, Sp THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT


PERIODE 1 APRIL – 4 MEI 2019
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIBINONG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

TINJAUAN PUSTAKA
TES ROMBERG

Tujuan Pemeriksaan: Untuk menilai adanya gangguan di susunan vestibular atau di funikulus
dorsalis (atau serebelum).

Prosedur Pemeriksaan:

Tes Romberg dilakukan dengan cara meminta pasien untuk berdiri dengan kedua kaki berdekatan
satu sama lain dengan mata terbuka. Setiap bergoyang signifikan atau kecenderungan untuk jatuh
dicatat. Pasien kemudian diminta untuk menutup matanya, biarkan pada posisi demikian selama
20-30 detik. Selain melihat munculnya goyangan pada pasien, penting juga untuk memperhatikan
berat ringannya goyangan serta posisi timbulnya goyangan (bergoyang dari pinggul atau
pergelangan kaki seluruh tubuh). Demi keamanan pasien, dokter harus berada di sekitar pasien
(dapat menghadap pasien atau di sisinya) dengan tangan direntangkan di kedua sisi pasien untuk
mendukung (tanpa menyentuh pasien). Tes Romberg ini dianggap positif jika ada
ketidakseimbangan yang signifikan dengan mata tertutup atau ketidakseimbangan secara
signifikan memburuk pada saat menutup mata (jika ketidakseimbangan sudah ada mata terbuka).

Interpretasi:

Positif = terjatuh saat menutup mata

Negatif = tidak terjatuh saat menutup mata

Pada umumnya dengan pemeriksaan tes Romberg kita bisa membedakan antara lesi serebellum
dengan gangguan proprioseptik dengan melihat hasil tes sewaktu membuka dan menutup mata.
Pada waktu membuka mata penderita masih sanggup berdiri tegak (pada permulaan terjadi ayunan
beberapa kali masih dianggap wajar/normal) tetapi begitu mata ditutup, penderita langsung
mengalami kesulitan untuk mempertahankam diri dan jatuh kearah yang tidak bisa ditentukan (bisa
kedepan atau kebelakang). Sedangkan pada gangguan serebellum pada waktu membuka mata pun
penderita sudah mengalami kesulitan berdiri tegak dan akan cenderung berdiri dengan kedua kaki
yang lebar (widebase).
TES ROMBERG DIPERTAJAM

Tujuan Pemeriksaan: Menilai adanya disfungsi sistem vestibular

Prosedur Pemeriksaan: Pada tes ini minta pasien berdiri dengan salah satu kaki berada di depan
kaki yang lainnya. Tumit kaki yang satu berada tepat di depan jari-jari kaki yang lainnya (tandem).
Pasien kemudian diminta untuk melipat lengan di dada dan menutup matanya. Pasien orang normal
mampu berdiri dalam posisi ini selama 30 detik atau lebih.

Interpretasi:

Positif = tidak dapat berdiri selama 30 detik atau lebih

Negatif = dapat berdiri selama 30 detik atau lebih


UNTERBERGER’S STEPPING TEST / FUKUDA STEPPING TEST

Tujuan Pemeriksaan: Untuk menilai adanya gangguan pada Cerebellum

Prosedur Pemeriksaan: Pada tes ini pasien diminta berdiri dengan kedua lengan lurus horizontal
ke depan dan kaki di rapatkan serta jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin
selama satu menit atau sampai 50 langkah. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan
menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram; kepala dan
badan berputar ke arah lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun
dan yang lainnya naik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat kea rah lesi
Interpretasi:

Positif = posisi pasien akan berputar sekitar > 30o atau 45o

Negatif = posisi pasien tidak akan berputar


Daftar Pustaka:

1. Lanska DJ, Goetz CG. Romberg’s sign: Development, adoption and adaptation in the 19th

century. Neurology 2000;55:1201-6.

2. Juwono, T. : Pemeriksaan Klinik Neurologi Dalam Praktek. EGC. 77-82.

3. DeJong RN. Sensation. In: Vinken PJ, Bruyn GW, eds. Handbook of Clinical Neurology, 1st

edn. New York: John-Wiley & Sons, Inc.; 1969. Vol. 1. pp. 93-5.