Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN

PROJECT BASED LEARNING MELALUI FOOD BANK DI DESA


KEMUNING LOR, RT 03/RW 07, KECAMATAN ARJASA,
KABUPATEN JEMBER
(Untuk Memenuhi Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Pendidikan Pancasila yang
Diampu Oleh Dra. Yayuk Mardiati, M.A.)

Disusun oleh :
Kelompok 2-Sadewa/ Kelas Pancasila 01
Alfiano Setya Wardana (161710101003)
Wardatus Sholihah (161710101033)
Annisafitri (161710101053)
Mulyati Rahmawati (161710101059)
Nadia Ika Oktaviana (161710101066)
Adelia Dwi Enjelina (161710101079)
Nur Rahmawati Ramadhani (161710101109)

BIDANG STUDI MATA KULIAH UMUM


UNIVERSITAS JEMBER
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-
Nya sehingga penulis dapat menyusun laporan pertanggungjawaban sesuai dengan
waktu yang ditentukan. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW. yang telah memberi suri tauladan yang baik dan menantikan
syafaat di akhir kelak.
Setelah mendapat inspirasi akan pentingnya berbagi bersama kami sebagai
mahasiswa Universitas Jember, khususnya yang menempuh Mata Kuliah Umum
Pendidikan Pancasila, memiliki inisiatif untuk melakukan kegiatan sosial yang
dinamakan Project-Based Learning/PjBL sesuai dengan arahan dosen
pengampu Mata Kuliah Umum Pendidikan Pancasila yang telah membimbing
kami dan betapa mulianya jika kita dapat berbagi kebahagiaan dengan sesama,
dengan hati yang tulus dan jiwa sosial yang tinggi serta rasa tanggung jawab
untuk menyukseskan kegiatan ini.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang senantiasa membantu
kami baik dalam hal materi maupun non materi sehingga semua dapat berjalan
dengan lancar. Kami memohon maaf apabila selama proses kegiatan terdapat
kekurangan dan beberapa kendala. Laporan ini ditulis untuk menjadi bahan
evaluasi terhadap kegiatan Food Bank tahun depan dan menjadi akhir dari
serangkaian acara Food Bank di desa Kemuning Lor RT 03/ RW 07 kecamatan
Arjasa. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya
pada setiap usaha yang telah dilakukan. Atas perhatian dan kerjasamanya kami
ucapkan terima kasih.

Panitia pelaksana
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Kemiskinan merupakan hal yang kompleks karena menyangkut berbagai
macam aspek seperti hak untuk terpenuhinya pangan, kesehatan, pendidikan,
pekerjaan, dan sebagainya. Agar kemiskinan di indonesia dapat menurun
diperlukan dukungan dan kerja sama dari pihak masyarakat dan keseriusan
pemerintah dalam menangani masalah ini.
Perguruan tinggi tidak hanya sebagai sarana kita untuk belajar tetapi juga bisa
menjadi salah satu agent of change. Melalui matakuliah Pendidikan Pancasila
yang diampu oleh Dra. Yayuk Mardianti M.A. mengajak untuk melakukan suatu
program kerja dengan berbasis pembelajaran (PjBL). Manfaat dari kegiatan ini
dilakukan agar dapat menjadi salah satu wahana pendidikan mahasiswa dalam
hidup bermasyarakat sesuai Pancasila serta menjadikan sarana untuk membantu
masyarakat.
Selain tugas yang telah diberikan di matakuliah Pendidikan Pancasila kami
tergugah untuk melaksanakan kegiatan PjBL ini dikarenakan kesadaran kami akan
banyaknya masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Keunggulan kegiatan
ini mampu membuat kami mahasiswa Kelas Pancasila 01 dapat memberikan
bantuan secara door to door kepada masyarakat desa Kemuning Lor RT 03/ RW
07 kecamatan Arjasa yang membutuhkan bantuan.
Di daerah provinsi Jawa Timur khususnya daerah kabupaten Jember sendiri
banyak sekali penduduk yang berada di garis kemiskinan, salah satunya di desa
Kemuning Lor RT 03/ RW 07 kecamatam Arjasa yang masih tertinggal
dibandingkan dengan desa-desa yang lain, salah satu faktornya yaitu keterbatasan
pendidikan yang dapat mempengaruhi perekonomian mereka. Keadaan
masyarakat disana sangat membutuhkan peran pemerintah untuk meningkatkan
kesejahteraan sosial masyarkat yang adil dan merata agar mereka mampu bertahan
di era globalisasi ini. Sehingga kami termovasi untuk melaksanakan kegiatan
PjBL di desa Kemuning Lor RT 03/ RW 07 kecamatan Arjasa.
.
Adanya perwujudan nyata kepedulian kita sebagai agent of change, kami
menyelenggarakan kegiatan project based learning melalui food bank dengan
membagikan berbagi bahan makanan kepada masyarakat yang lebih
membutuhkan. Harapnnya dengan adanya bantuan tersebut akan mengurangi
tingkat kemiskinan di negara indonesia secara otomatis.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan project based learning melalui food
bank dapat mengurangi masalah kemiskinan yang ada di Kabupaten Jember
khususnya di Desa Kemuning Lor RT 03/ RW 07 kecamatan Arjasa.
Project based learning melalui food bank yang telah dibimbing oleh dosen
mata kuliah kami yaitu Dra Yayuk Mardianti M.A mampu menggali potensi yang
ada dimasyarakat sekitar dan mengembangkan potensi tersebut sehingga dapat
menghasilkan produk nyata yang menjadi perhatian dari masyarakat lain sehingga
mempunyai nilai yang tinggi.

1.3 Acara Kegiatan


Hari / Tanggal : Sabtu / 2 Juni 2018
Tempat : Gedung MKU (Show Case) dan Desa Kemuning Lor
RT 03/RW 07
Waktu : 08.00 – 13.15 WIB

1.4 Rumusan masalah


1. Faktor apa saja yang menjadi penyebab kemiskinan?
2. Apa tantangan dalam menghadapi kemiskinan di desa Kemuning Lor?
3. Bagaimana cara mengatasi kemiskinan?
4. Bagaimana Project Based Learning (PBL) melalui Food Bank?
5. Kendala yang dihadapi selama kegiatan Project Based Learning (PBL)
melalui Food Bank?
1.5 Manfaat
Permasalahan kemiskinan yang ada di desa Kemuning Lor RT 03/RW 07
dilakukan dengan memberikan beberapa sembako sehingga dapat membantu serta
meringankan beban hidup mereka. Salah satu bentuk bantuan yang dapat
dilakukan oleh mahasiswa yakni dengan berbagi bahan pangan kepada masyarakat
yang kurang mampu dan lebih membutuhkan bahan makanan, secara otomatis
dapat mengurangi tingkat kemiskinan. Banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukan
untuk mengatasi kemiskinan, salah satunya dengan kegiatan sosial berbasis Food
Bank. Oleh karena itu kami akan mepaparkan dalam pembahasan yang dapat
dijadikan referensi untuk mengatasi kemiskinan yang ada di Indonesia ini.
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan


Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu kemiskinan
alami dan kemiskinan buatan. Kemiskinan alami terjadi akibat sumber daya alam
(SDA) yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam.
Kemiskinan buatan diakibatkan oleh imbas dari para birokrat kurang berkompeten
dalam penguasaan ekonomi dan berbagai fasilitas yang tersedia, sehingga
mengakibatkan susahnya untuk keluar dari kemelut kemiskinan tersebut.
Dampaknya, para ekonom selalu gencar mengkritik kebijakan pembangunan yang
mengedepankan pertumbuhan ketimbang dari pemerataan.
Di bawah ini beberapa penyebab kemiskinan menurut pendapat Karimah
Kuraiyyim, yang antara lain adalah:
a. Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita secara
global.Yang penting digaris bawahi di sini adalah bahwa standar pendapatan
per-kapita bergerak seimbang dengan produktivitas yang ada pada suatu
sistem. Jikalau produktivitas berangsur meningkat maka pendapatan per-
kapita pun akan naik. Begitu pula sebaliknya, seandainya produktivitas
menyusut maka pendapatan per-kapita akan turun beriringan. Berikut
beberapa faktor yang mempengaruhi kemerosotan standar perkembangan
pendapatan per-kapita:
- Naiknya standar perkembangan suatu daerah.
- Politik ekonomi yang tidak sehat.
- Faktor-faktor luar negeri, diantaranya:
1) Rusaknya syarat-syarat perdagangan
2) Beban hutang
3) Kurangnya bantuan luar negeri, dan
4) Perang
b. Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat.Terlihat jelas faktor ini
sangat urgent dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan. Oleh karena itu,
untuk menaikkan etos kerja dan produktivitas masyarakat harus didukung
dengan SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan
yang bisa dipertanggungjawabkan dengan maksimal.
c. Biaya kehidupan yang tinggi.Melonjak tingginya biaya kehidupan di suatu
daerah adalah sebagai akibat dari tidak adanya keseimbangan pendapatan
atau gaji masyarakat. Tentunya kemiskinan adalah konsekuensi logis dari
realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga kerja
ahli, lemahnya peranan wanita di depan publik dan banyaknya
pengangguran.
d. Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata.Hal ini selain
menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan keamanan
untuk para warga miskin, juga secara tidak langsung mematikan sumber
pemasukan warga. Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh
pajak negara.Selain itu, ada juga penyebab utama lain dari timbulnya
kemiskinan:
- Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan
- Terbatasnya akses serta rendahnya mutu layanan kesehatan, pendidikan,
dan sempitnya lapangan pekerjaan
- Kurangnya pengawasan serta perlindungan terhadap asset usaha
- Kurangnya penyesuaian terhadap gaji upah yang tidak sesuai dengan
pekerjaan yang dilakukan seseorang
- Memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumberdaya alam
- Besarnya beban kependudukan yang disebabkan oleh besarnya
tanggungan keluarga.
- Tata kelola pemerintahan yang buruk yang menyebabkan inefisiensi dan
inefektivitas dalam pelayanan publik, meluasnya korupsi dan rendahnya
Kemiskinan Kultural. Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang
atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat
kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya. Khususnya
daerah panti kemiskinan yang terjadi akibat kebiasaan masyarakat yang enggan
berusaha dan enggan mengerjakan suatu pekerjaan dengan temuan yang ada di
lapangan dan keterangan yang di peroleh dari narasumber, hal ini yang menjadi
mengapa kemiskinan yang terjadi di daerah tersebut semakin terpuruk kebiasaan
tersebut jika semakin di biarkan akan menjadi kemiskinan yang terus menerus.

2.2 Tantangan dalam Menghadapi Kemiskinan Di Desa Kemuning Lor


Kecamatan Arjasa
Tantangan dalam mengatasi kemiskinan tersebut adalah terkendala oleh akses
ke dalam desaKemuningLor RT 3 / RW 07 tersebut di karenakanberada di daerah
pinggiransehinggadapat menyebabkan kurangnya sosialisasi pemerintah akan
program-program pengentasan kemiskinan dan kurangnya warga sekitar yang
mengerti bahasa indonesia terlebih beberapa tantangan dalam pengentasan
kemiskinan antaralain:
1. Terbatasnya Kecukupan dan Mutu Pangan
Hal ini berkaitan dengan rendahnya daya beli, ketersediaan pangan yang
tidak merata, dan kurangnya dukungan pemerintah bagi petani untuk
memproduksi beras sedangkan masyarakat Indonesia sangat tergantung pada
beras. Permasalahan kecukupan pangan antara lain terlihat dari rendahnya
asupan kalori penduduk miskin dan buruknya status gizi bayi, anak balita,
dan ibu.
2. Terbatas dan Rendahnya Mutu Layanan Kesehatan
Hal ini mengakibatkan rendahnya daya tahan dan kesehatan masyarakat
miskin untuk bekerja dan mencari nafkah, terbatasnya kemampuan anak
dari keluarga untuk tumbuh kembang, dan rendahnya kesehatan para ibu.
Salah satu indikator dari terbatasnya akses layanan kesehatan adalah angka
kematian bayi. Data Susenas (Survai Sosial Ekonomi Nasional) menunjukan
bahwa angka kematian bayi pada kelompok pengeluaran terendah masih di
atas 50 per 1.000 kelahiran hidup.
3. Terbatasnya dan Rendahnya Mutu Layanan Pendidikan
Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya pendidikan, terbatasnya
kesediaan sarana pendidikan, terbatasnya jumlah guru bermutu di daerah,
dan terbatasnya jumlah sekolah yang layak untuk proses belajar-mengajar.
Pendidikan formal belum dapat menjangkau secara merata seluruh lapisan
masyarakat sehingga terjadi perbedaan antara penduduk kaya dan penduduk
miskin dalam masalah pendidikan.
2.3 Cara Mengatasi Kemiskinan
Dua langkah penting menurut Noor (2014) yang harus dilakukan dalam
mengatasi kemiskinan di Indonesia anatara lain:
a. Pembangunan yang Berorientasi Kerakyatan
Maksud dari pembangunan yang berorientasi kerakyatan adalah pembangunan
yang berpusat pada manusia, memandang manusia sebagai warga masyarakat,
menjadi fokus utama maupun sumber utama pembangunan, hal ini dapat
dipandang sebagai suatu strategi alternatif pembangunan masyarakat yang
menjamin komplementaritas dengan pembangunan bidang-bidang lain, khususnya
bidang ekonomi. Landasan berpijak pendekatan pembangunan ini bukan birokrasi
dan program serta proyek yang dirancang dan dikelola secara terpusat, tetapi
program serta proyek yang dirancang masyarakat itu sendiri, berdasarkan
kebutuhannya, kemampuannya dan penguasaan atas sumberdaya dan nasib
mereka sendiri yang merupakan suatu keberanian untuk berkomitmen dengan
menempatkan secara langsung tiga tantangan pusat pembangunan, yaitu :
(1). pengurangan kemiskinan,
(2). perlindungan kapasitas produksi berdasarkan sumber daya lingkungan,
(3). pemberdayaan manusia melalui peningkatan partisipasi di dalam proses
pembangunan.
Peranan pemerintah dalam hal ini ialah menciptakan lingkungan sosial yang
memungkinkan untuk berkembang yaitu lingkungan sosial yang mendorong
perkembangan manusia dan aktualisasi potensi manusia secara lebih besar.
b. Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan Masyarakat adalah upaya untuk memampukan dan
memandirikan masyarakat dalam skala yang luas, tidak semata-mata mampu
memenuhi kebutuhan dasar, tetapi membangun mekanisme untuk mencegah
pemiskinan lebih lanjut. Sejalan dengan konsep ini, pemerintah sebagai agen
perubahan dalam melaksanakan kebijakan pemberdayaan masyarakat bertumpu
pada tiga arah tujuan, yaitu :
(1). Menciptakan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang,
(2). Memperkuat potensi yang dimiliki masyarakat melalui penerapan langkah
nyata,
(3). Melindungi dan membela kepentingan masyarakat.
Konsep Pemberdayaan Masyarakat lahir sebagai antithesis terhadap model
pembangunan yang kurang memihak pada mayoritas rakyat yang dibangun
sebagai kerangka logis seperti, proses pemusatan pembangunan dan penguasaan
faktor produksi, pemusatan kekuasaan faktor produksi akan melahirkan
masyarakat pekerja dan masyarakat pengusaha pinggiran, Kekuasaan akan
membangun system pengetahuan, sistem hukum untuk mempercepat legitimasi,
dan kooperasi sistem pengetahuan, sistem hukum, sistem politik secara sistematik
akan menciptakan kelompok masyarakat yang berdaya.
Selain hal-hal diatas, yang perlu menjadi catatan adalah bahwa apa pun
kebijakan pengentasan kemiskinan yang diambil tetap harus memperhatikan
karakteristik kemiskinan yang ada. Kemiskinan di Indonesia masih terkonsentrasi
di pedesaan yang notabene penduduknya sebagian besar bermatapencaharian
petani dan memiliki pendidikan yang tidak cukup tinggi. Mengingat hal tersebut,
maka akan menjadi suatu langkah tepat jika pembangunan sektor pertanian
menjadi langkah yang strategis dalam pengentasan kemiskinan. Pengalaman
keberhasilan Cina mengentaskan kemiskinan melalui pembangunan sektor
pertanian (disamping manufaktur) setidaknya dapat semakin meyakinkan bahwa
jalan yang harus segera ditempuh oleh Indonesia adalah merencanakan
pembangunan dengan fokus sektor pertanian dan manufaktur. Tentu banyak
strategi dan kebijakan yang dilakukan China untuk mengurangi kemiskinan
bahkan menghapus kemiskinan. Namun, salah satu strategi China yang perlu
digaris bawahi adalah upaya kerasnya dalam menciptakan lapangan kerja secara
masif dan berkelanjutan. China mengawali pembangunan dengan membangun
desa khususnya sektor pertanian. Dengan konsentrasi orang miskin di pedesaan
maka pembangunan pertanian menjadi solusi tepat karena tidak mensyaratkan
SDM dengan pendidikan dan keterampilan yang tinggi. Saat ini 65 persen
penduduk miskin Indonesia juga berada di pedesaan dan sebagian besar di
pertanian. Perlu diingat bahwa sektor pertanian juga merupakan sektor penyerap
tenaga kerja terbesar setelah industri dan sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang
bekerja di sektor pertanian.

2.4 Kendala yang dihadapi selama kegiatan Project Based Learning (PjBL)
Kendala utama pada pelaksanaan kegiatan Project Based Learning (PjBL)
ini adalah sulitnya penggalian informasi kepada warga yang akan mendapatkan
bantuan dikarenakan keterbatasan penguasaan bahasa kami dengan bahasa
masyarakat di desa Kemuning Lor. Keterbatasan bahasa ini dapat diminimalisir
dan dibantu oleh ketua RW dan ketua RT desa setempat untuk validasi data
warga yang membutuhkan bantuan sehingga pelaksanaan dan data yang diperoleh
dapat sesuai dengan keadaan masyarakat setempat.
Kurangnya koordinasi panitia penyelenggara sehingga banyak terjadi miss
communication dalam perencanaan dan pelaksanaan PjBL melalui Food Bank
yang dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2018. Banyak anggota tidak mengerti
teknis acara yang akan dilakukan sehingga banyak anggota yang hanya mengikuti
intruksi dari koordinator pelaksanaan acara. Sehingga acara pembagian sembako
tidak berjalan sesuai teknis yang direncanakan panitia.
Kendala selanjutnya adalah keterlambatan pelaksanaan acara showcase
yang berada di ruang kelas MKU pada hari pelaksanaan dikarenakan masih harus
menunggu kedatangan tamu undangan sebagai bentuk perwakilan dari desa
Kemuning Lor RT 03/ RW 07 kecamatan Arjasa.
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang telah diuraikan dapat
disimpulkan bahwa masalah kemiskinan bermula dari sikap pemaknaan kita
terhadap kemiskinan itu sendiri. Kemiskinan adalah suatu hal yang alami dalam
kehidupan yangbearti bahwa semakin meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi maka kebutuhan pun akan semakin banyak. Tingginya tingkat
masalah kemiskinan ini bukan hanya kewajiban dari pemerintah, melainkan
masyarakat pun harus menyadari bahwa penyakit sosial ini adalah tugas dan
tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan mengurangi tingkat kemiskinan di Indonesia,
dengan meningkatkan potensi di daerah sekitar terlebih dahulu.

3.2 Saran
Adapun saran yang diberikan pada laporan pertanggungjawaban ini antara
lain:
Sebagai warga negara Indonesia yang baik, perlu adanya pemahaman dan
pengamalan butir Pancasila agar terciptanya keseimbangan kesenjangan sosial.
Perlunya peningkatkan kepedulian dan kepekaan sosial untuk membantu saudara
kita yang masih mengalami kemiskinan dengan mengadakan dan meningkatkan
berbagai event berbasis project based learning melalui kegiatan sosial.

3.3 Kendala
 Kurangnya koordinasi panitia penyelenggara sehingga banyak terjadi miss
communication dalam perencanaan dan pelaksanaan Project Food Bank
yang dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2018 sehingga terjadi
ketidaksesuaian acara dengan rundown.
 Susah mengadakan koordinasi dengan Kepala Desa karena agenda rapat
yang dimiliki Kepala Desa cukup padat.
 Sulitnya menentukan tanggal pelaksanaan karena tidak adanya keputusan
resmi dari Kepala Desa setempat.
 Sulit menetukan desa yang akan dituju karena keterbatasan panitia.

3.4 Solusi
 Meningkatkan koordinasi antara panitia agar tidak terjadi miss
communication dengan cara rapat internal serta kordinasi melalui chat dan
sosial media.
 Mengingatkan dan menghubungi kembali perangkat desa agar mendapat izin
untuk melakukan kegiatan project tersebut.
 Mencari informasi mengenai desa yang akan dituju melalui mahasiswa yang
bertempat tinggal di Jember untuk pencapaian target project.
 Mengkordinasikan dan mempersiapkan jauh-jauh hari pelaksanaan acara
agar tidak terjadi benturan jadwal antara dosen, mahasiswa dan jajaran
pengurus desa.
.
DAFTAR PUSTAKA

Noor, M., 2014. PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI INDONESIA (Studi


Tentang Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
Perkotaan Di Kota Semarang). Serat Acitya, 3(1), p.130
Effendi.Sofyan, 1993. Membangun Martabat Manusia, Peranan Ilmu-ilmu Sosial Dalam
Pembangunan. Gadjah Mada Univesity Press, Yogyakarta
LAMPIRAN 1. HASIL WAWANCARA

Sewaktu kegiatan pembagian bahan pangan kami sempat berinteraksi dengan


salah satu warga. Berikut kutipan percakapannya.
Rahma : “Ini bu kami maasiswa UNEJ ingin memberi sedikit
bantuan kepada kelurga berupa sembako Monggo
diterima “
Penerima bantuan : “ Iya nak terimakasih atas bantuannya. Telah peduli
kepada kami. Semoga kalian diperlancar kuliahnya dan
dimudahkan segala urusanya”
Annisa : “ aminn. Iya bu terimakasih atas semua doa doanya”
Mulyati : “Semoga keluarga ibu juga selalu diberi kesehatan dan
diperlancar semua urusannya”
Alfiano : “Apakah sebelumnya di daerah ini pernah ada kegiatan
seperti ini ?”
Penerima bantuan :” Acara seperti ini didaerah sini belum pernah ada.
Apalagi datang ke rumah- rumah langsung”
Warda :” Maaf sebelumnya. Biasanya yang pernah mengadakan
bakti sosial seperti ini itu mahasiswa atau dari instansi
lain?”
Penerima bantuan : “ Kalau yang pernah itu biasanya dari pemerintahan dan
oknum politik. Oleh karena itu, melihat mahasiswa turun
ke desa seperti ini saya bangga melihatnya sekelas
mahasiswa sudah bisa memikirkan rakyat terutama dengan
kalangan ekonomi menengah kebawah seperti saya”
Adelia : “Iya bu kami dari mahasiswa juga bersyukur
berpengalaman seperti ini bisa terjun ke masyarakat
langsung. Bisa seidkit merasakan hal yang dialami di
desa”
Nadia : “ Terimakasih atas waktunya ya bu. Insyaallah dengan
kegiatan seperti ini kami mahasiswa dapat tersadarkan
dengan apa yang terjadi desa dan bisa merasakan yang ada
desa”
Penerima bantuan : “ Iya nak. Kalau ada waktu main- main kesini. Pasti akan
disambut baik”
Annisa :” Iya bu kami ijin pamit, masih meneruskan ke beberapa
keluarga lain wassalamualaikum”
Kemudian kami melanjutkan ke beberapa keluarga penerima bantuan lainnya.
LAMPIRAN 2. SUSUNAN PANITIA PROJECT BASED LEARNING
MELALUI FOOD BANK

Pembina : Drs. Yayuk Mardiati, M.A


Penanggung Jawab : Yahya Abdillah (Bagong)
Ketua Panitia : Johanes Kurniawan (Yudhistira)
Wakil Panitia : Nur Lailatul L. (Abimanyu)
Sekertaris : Imtiyaz Budi Raghdhany (Nakula)
Bendahara : Rosa Vinta (Yudhistira)

Sie Acara : Novita Bekti (Arjuna)


Adelia Dwi Enjelina (Sadewa)
Mulyati Rahmawati (Sadewa)
Trianta Karana Putra (Nakula)
Alfiano Setya (Sadewa)
Wardatus Sholihah (Sadewa)
Nadia Ika O. (Sadewa)
Nur Rahmawati R. (Sadewa)
Annisafitri (Sadewa)

Sie Humas : Kenzi Kariimi Ghofur (Abimanyu)


Hafidhotul Izzat S. (Yudhistira)
Ulfa Agitasari (Yudhistira)
Della Octaviana Indrasari (Nakula)
Wirtantynia Z. F. S (Yudhistira)

Sie Pubdekdok : Fandy Mustofa (Bagong)


Santi Rahmawati (Sinta)
Robiatun Nisyak (Sinta)
Dyah Istamara (Arjuna)
Sefanya Audisia S. T. H (Yudhistira)
Ayyub Ishlahuddin (Abimanyu)

Sie Konsumsi : Yuyun Windi A. (Bagong)


Ani Suryani (Abimanyu)
Era Nur Maslinda (Nakula)
Wilda Tsani Nuranita (Arjuna)
Siti Faridatul Lailiyah (Nakula)
Raesita Anindiya (Abimanyu)
Julita Nur (Abimanyu)
Eka Apriliana (Arjuna)
Shoffiyahtul Ambarsary (Arjuna)
Khana Alvian (Nakula)

Sie Perlengkapan : Nathanael ( Yudhistira)


Imam S. (Pandawa)
M. Adhi P. (Pandawa)
Nurul Fitriyah (Pandawa)
Firda Indira (Pandawa)
Lailatus S (Pandawa)
Sifa Hayu (Pandawa)
Nindya Wulan (Sinta)
Dinar Aulia (Sinta)
Adhila Nuril (Sinta)
Riyyan Rizquna (Sinta)
Ribut Mursid Rozikin (Arjuna)

Sie Dana Usaha : Yeyen Septiani (Arjuna)


Nige Auliya M. U (Bagong)
Anggi Diah Atikasari (Bagong)
Ayu Intan Nursanjaya (Bagong)
Hanifah Badriah Eka Putri (Bagong)
LAMPIRAN 3. ANGGARAN DANA

A. Pemasukan
NO KETERANGAN JUMLAH HARGA SATUAN TOTAL
Iuran Anggota Kelas
1 Pancasila 01 (Gelombang 50 Orang Rp. 10.000 Rp. 500.000
1)
Iuran Anggota Kelas
2 Pancasila 01 (Gelombang 50 Orang Rp. 40.000 Rp. 2.000.000
2)
Total Jumlah Rp. 2.500.000

B. Pengeluaran
NO URAIAN JUMLAH HARGA SATUAN TOTAL
1 Beras 4 sak @ 25kg/sak Rp. 252.500 Rp 1.010.000
3 dus @ 12
2 Minyak 1 Lt Rp. 137.500 Rp. 412.500
biji/dus
3 Gula 1 Kg 30 biji Rp. 10.500 Rp. 315.000
4 Kantong plastik besar 30 buah Rp. 2.000 Rp. 60.000
5 Kantong plastik kecil 30 buah Rp. 1000 Rp. 30.000
6 Biaya tak terduga Rp. 672.500
Rp.
Total Jumlah
2.500.000
LAMPIRAN 4. RUNDOWN ACARA

NO WAKTU KEGIATAN
1. 08.00 – 08.15 Kumpul untuk acara Showcase
2. 08.15 – 09.00 Persiapan acara Showcase
3. 09.00 – 09.05 Pembukaan oleh MC
4. 09.05 – 09.15 Sambutan Ketua Panitia
5. 09.15 – 09.25 Sambutan Kepala Desa
6. 09.25 – 09.35 Sambutan Dosen Pendidikan Pancasila (Bu Yayuk)
7. 09.35 – 09.45 Penyerahan sembako secara simbolis
8. 09.45 – 09.55 Doa
9. 09.55 – 10.00 Penutup
10. 10.00 – 10.15 Persiapan menuju desa
11. 10.15 – 10.45 Perjalanan menuju desa
12. 10.45 – selesai Membagikan sembako (door to door) tiap kloter
LAMPIRAN 5. DOKUMENTASI

Gambar 1. Foto pembukaan acara “Food Bank”

Gambar 2. Penyerahan sembako Gambar 3. Penyerahan sembako

Gambar 4. Foto bersama dengan penerima sembako