Anda di halaman 1dari 22

REFERAT

MEI 2019

LARYNGEAL CYST

OLEH :
Ery Prayudi
N 111 17 065

Pembimbing :
Kompol dr. Benjamin F.L. Sitio M.sc, Sp.THT-KL

BAGIAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN


DAN KEPALA LEHER
PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2019

BAB I

1
PENDAHULUAN

Disfonia merupakan istilah umum untuk setiap gangguan suara yang


disebabkan kelainan pada organ-organ fonasi, terutama laring, baik yang bersifat
organik maupun fungsional. Disfonia bukan penyakit, tetapi merupakan gejala
penyakit atau kelainan laring.1
Kista laring biasanya jinak dan jarang terjadi, sekitar 5% dari semua lesi
laring jinak. Secara klinis, kista laring tampak sebagai benjolan sferis yang
dibatasi oleh epitel tipis. Gejala yang ditimbulkan meliputi parau, sensasi benda
asing dan sesak, tetapi jarang menimbulkan situasi yang mengancam jiwa, kecuali
pada bayi baru lahir dengan kista laring obstruksi. Normalnya kista laring mudah
didiagnosis dan ditatalaksana secara sederhana dengan laringoskopi mikroskopik.
Kista laring bisa terjadi secara kongenital atau acquired (didapat). Kejadian kista
laring kongenital adalah jarang. Perkiraan insidensi tahunan kista laring
kongenital adalah 1,82 per 100.000 kelahiran hidup pada populasi oriental.
Sebagian besar dilaporkan berkaitan dengan sesak napas obstruktif. Kista laring
acquired terdiri dari kista duktal dan kista sakular. Kista duktal terbentuk karena
obstruksi duktus dalam kelenjar seromusinus. Kista saccular muncul dari saccula
laryngis, sehingga lokasinya supraglotis. Kista saccular mungkin berisi cairan atau
udara. 1
Gejala kista laring kongenital pada neonatus tidak spesifik dan mirip
dengan kelainan lain yang juga menyebabkan obstruksi laring. Diagnosis dini dan
perawatan kelainan ini sangat penting karena tingginya angka kematian bila tidak
terdiagnosis dengan benar. Sedangkan gejala klinis kista laring pada orang dewasa
biasanya timbul suara parau, sengau seperti orang berkumur (muffled) atau hot
potato voice, disertai disfagi, rasa mengganjal dan kesulitan bernapas pada posisi
tertentu. 1

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Laring
1. Embriologi Laring
Faring, laring, trakea dan paru merupakan derivat foregut embrional yang
terbentuk sekitar 18 hari setelah terjadi konsepsi. Tidak lama sesudahnya
terbentuk alur faring median yang berisi petunjuk-petunjuk pertama sistem
pernafasan dan benih laring. Sulkus atau alur laringotrakeal mulai nyata
sekitar hari ke 21 kehidupan embrio. Perluasan alur ke kaudal merupakan
primaordial paru. Alur menjadi lebih dalam dan berbentuk kantung dan
kemudian menjadi dua lobus pada hari ke 27 atau 28. Bangian yang paling
proksimal dari tuba akan menjadi laring. Pembesaran aritenoid dan lamina
epitelial dapat dikenali pada hari ke 33. Sedangkan kartilago, otot, dan
sebagian besar pita suara terbentuk dalam 3-4 minggu berikutnya. Hanya
kartilago epiglotis yang tidak terbentuk hingga masa midfetal. Banyak
struktur merupakan derivat aparatus brankialis. 2
2. Anatomi Laring
Laring berada di depan dan sejajar dengan vetebre cervical 4 sampai 6,
bagian atasnya yang aka melanjutkan ke faring berbentuk seperti bentuk
limas segitiga dan bagian bawahnya yg akan melanjutkan ke trakea
berbentuk seperti sirkular.Laring dibentuk oleh sebuah tulang yaitu tulang
hioid di bagian atas dan beberapa tulang rawan. Tulang hioid berbentuk
seperti huruf ‘U’, yang permukaan atasnya dihubungkan dengan lidah,
mandibula, dan tengkorak oleh tendon dan otot-otot. Saat menelan,
konstraksi otot-otot (M.sternohioid dan M.Tirohioid) ini akan
menyebabkan laring tertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka
otot-otot ini bekerja untuk membantu menggerakan lidah. 2
Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago tiroid, krikoid,
aritenoid, kornikulata, kuneiform, dan epiglotis. Kartilago tiroid,
merupakan tulang rawan laring yang terbesar, terdiri dari dua lamina yang
bersatu di bagian depan dan mengembang ke arah belakang. Tulang rawan

3
ini berbentuk seperti kapal, bagian depannya mengalami penonjolan
membentuk “adam’s apple” dan di dalam tulang rawan ini terdapat pita
suara, dihubungkan dengan kartilago krikoid oleh ligamentum krikotiroid.
Kartilago krikoid terbentuk dari kartilago hialin yang berada tepat dibawah
kartilago tiroid berbentuk seperti cincin signet, pada orang dewasa
kartilago krikoid terletak setinggi dengan vetebra C6 sampai C7 dan pada
anak-anak setinggi vetebra C3 sampai C4. Kartilago aritenoid mempunyai
ukuran yang lebih kecil, bertanggung jawab untuk membuka dan menutup
laring, berbentuk seperti piramid, terdapat 2 buah (sepasang) yang terletak
dekat permukaan belakang laring dan membentuk sendi dengan kartilago
krikoid, sendi ini disebut artikulasi krikoaritenoid. 2
Sepasang kartilago kornikulata atau bisa disebut kartilago santorini
melekat pada kartilago aritenoid di daerah apeks dan berada di dalam
lipatan ariepiglotik. Sepasang kartilago kuneiformis atau bisa disebut
kartilago wrisberg terdapat di dalam lipatan ariepiglotik, kartilago
kornikulata dan kuneiformis berperan dalam rigiditas dari lipatan
ariepiglotik. Sedangkan kartilago tritisea terletak di dalam ligamentum
hiotiroid lateral. 2

Gambar anatomi laring

4
Epiglotis merupakan Cartilago yang berbentuk daun dan menonjol keatas
dibelakang dasar lidah. Epiglottis ini melekat pada bagian belakang
kartilago thyroidea. Plica aryepiglottica, berjalan kebelakang dari bagian
samping epiglottis menuju cartilago arytenoidea, membentuk batas jalan masuk
laring. Membrana mukosa di Laring sebagian besar dilapisi oleh epitel
respiratorius, terdiri dari sel-sel silinder yang bersilia. Plica vocalis dilapisi
oleh epitel skuamosa. 2
Plica vocalis adalah dua lembar membrana mukosa tipis yang terletak di
atas ligamenturn vocale, dua pita fibrosa yang teregang di antara bagian
dalam kartilago thyroidea di bagian depan dan cartilago arytenoidea di
bagian belakang. Plica vocalis palsu adalah dua lipatan membrana mukosa
tepat di atas plica vocalis sejati. Bagian ini tidak terlibat dalarn produksi
suara. 2

Gambar Plica Vocalis


Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan
otot-otot instrinsik, otot-otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara
keseluruhan , sedangkan otot-otot instrinsik menyebabkan gerakan bagian-
bagian laring sendiri. Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak diatas
tulang hyoid (suprahioid), dan ada yang terletak dibawah tulang hyoid
(infrahioid). Otot ekstrinsik yang supra hyoid ialah M. Digastricus,
M.Geniohioid, M.Stylohioid, dan M.Milohioid. Otot yang infrahioid ialah

5
M.sternohioid dan M.Tirohioid. Otot-otot ekstrinsik laring yang suprahioid
berfungsi menarik laring kebawah, sedangkan yang infrahioid menarik
laring keatas. Otot-otot intrinsik laring ialah M. Krikoaritenoid lateral.
M.Tiroepiglotica, M.vocalis,M. Tiroaritenoid, M.Ariepiglotica, dan
M.Krikotiroid. Otot-otot ini terletak di bagian lateral laring.Otot-otot
intrinsik laring yang terletak di bagian posterior, ialah M.aritenoid
transversum, M.Ariteniod obliq dan M.Krioaritenoid posterior. 2

Gambar otot pada laring dan Rongga laring.

6
Batas atas rongga laring (cavum laryngis) ialah aditus laringis, batas
bawahnya ialah bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid.
Batas depannya ialah permukaan belakang epiglottis, tuberkulum
epiglotic, ligamentum tiroepiglotic, sudut antara kedua belah lamina
kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid. Batas lateralnya ialah
membran kuadranagularis, kartilago aritenoid, konus elasticus, dan arkus
kartilago krikoid, sedangkan batas belakangnya ialah M.aritenoid
transverses dan lamina kartilago krikoid.
Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vocale dan
ligamentum ventrikulare, maka terbentuklah plika vocalis (pita suara asli)
dan plica ventrikularis (pita suara palsu). Bidang antara plica vocalis kiri
dan kanan, disebut rima glottis, sedangkan antara kedua plica ventrikularis
disebut rima vestibuli. Plica vocalis dan plica ventrikularis membagi
rongga laring dalam tiga bagian, yaitu vestibulum laring , glotic dan
subglotic. Vestibulum laring ialah rongga laring yang terdapat diatas plica
ventrikularis. Daerah ini disebut supraglotic. Antara plica vocalis dan pita
ventrikularis, pada tiap sisinya disebut ventriculus laring morgagni. Rima
glottis terdiri dari dua bagian, yaitu bagian intermembran dan bagian
interkartilago. Bagian intermembran ialah ruang antara kedua plica
vocalis, dan terletak dibagian anterior, sedangkan bagian interkartilago
terletak antara kedua puncak kartilago aritenoid, dan terletak di bagian
posterioir. Daerah subglotic adalah rongga laring yang terletak di bawah
pita suara (plicavocalis). 2
Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n.laringeus
superior dan laringeus inferior (recurrent). Kedua saraf ini merupakan
campuran saraf motorik dan sensorik. Nervus laryngeus superior
mempersarafi m.krikotiroid, sehingga memberikan sensasi pada mukosa
laring dibawah pita suara. Saraf ini mula-mula terletak diatas m.konstriktor
faring medial, disebelah medial a.karotis interna, kemudian menuju ke
kornu mayor tulang hyoid dan setelah menerima hubungan dengan

7
ganglion servikal superior, membagi diri dalam 2 cabang, yaitu ramus
eksternus dan ramus internus.

Gambar persarafan laring


Pendarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang yaitu a.laringitis
superior dan a.laringitis inferior. Arteri laryngeus superior merupakan
cabang dari a.tiroid superior. Arteri laryngitis superior berjalan agak
mendatar melewati bagian belakang membran tirohioid bersama-sama
dengan cabang internus dari n.laringis superior kemudian menembus
membran ini untuk berjalan kebawah di submokosa dari dinding lateral
dan lantai dari sinus piriformis, untuk memperdarahi mukosa dan otot-otot
laring. Arteri laringeus interior merupakan cabang dari a.tiriod inferior
dan bersama-sama dengan n.laringis inferior berjalan ke belakang sendi
krikotiroid, masuk laring melalui daerah pinggir bawah dari m.konstriktor
faring inferior. Di dalam arteri itu bercabang-cabang memperdarahi
mukosa dan otot serta beranastomosis dengan a.laringis superior.
Pada daerah setinggi membran krikotiroid a.tiroid superior juga
memberikan cabang yang berjalan mendatar sepanjang membrane itu
sampai mendekati tiroid. Kadang-kadang arteri ini mengirimkan cabang

8
yang kecil melalui membran krikotiroid untuk mengadakan anastomosis
dengan a.laringeus superior. 2
Vena laringeus superior dan vena laringeus inferior letaknya sejajar
dengan a.laringis superior dan inferior dan kemudian bergabung dengan
vena tiroid superior dan inferior. 2
3. Fisiologi Laring
Laring berfungsi untuk proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, menelan,
emosi serta fonasi. Fungsi laring untuk proteksi ialah untuk mencegah
makanan dan benda asing masuk kedalam trakea, dengan jalan menutup
aditus laring dan rima glotis secara bersamaan. Terjadi penutupan aditus
laring ialah akibat karena pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi
otot-otot ekstrinsik laring. Dalam hal ini kartilogo aritenoid bergerak ke
depan akibat kontraksi m.tiro-aritenoid dan m.aritenoid. Selanjutnya
m.ariepiglotika berfungsi sebagai sfingter. 2
Penutupan rima glotis terjadi karena adduksi plika vokalis. Kartilago
arritenoid kiri dan kanan mendekat karena aduksi otot-otot intrinsik.Selain
itu dengan reflex batuk, benda asing yang telah masuk ke dalam trakea
dapat dibatukkan ke luar. Demikian juga dengan bantuan batuk, sekret
yang berasal dari paru dapat dikeluarkan. 2
Fungsi respirasi dan laring ialah dengan mengatur besar kecilnya rima
glottis. Bila m.krikoaritenoid posterior berkontraksi akan menyebabkan
prosesus vokalis kartilago aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima
glottis terbuka. Dengan terjadinya perubahan tekanan udara di dalam
traktus trakeo-bronkial akan dapat mempengaruhi sirkulasi darah dari
alveolus, sehingga mempengaruhi sirkulasi darah tubuh. Dengan demikian
laring berfungsi juga sebagai alat pengatur sirkulasi darah. 2
Fungsi laring dalam membantu proses menelan ialah dengan 3
mekanisme, yaitu gerakan laring bagian bawah ke atas, menutup aditus
laring dan mendorong bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak
mungkin masuk kedalam laring. 2

9
Fungsi laring yang lain ialah untuk fonasi, dengan membuat suara
serta menentukan tinggi rendahnya nada. Tinggi rendahnya nada diatur
oleh peregangan plica vokalis. Bila plica vokalis dalam aduksi, maka
m.krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid kebawah dan kedepan,
menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat yang bersamaan m.krikoaritenoid
posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belakang.
Plika vokalis kini dalam keadaan yang efektif untuk berkontraksi.
Sebaliknya kontraksi m. Krikoaritenoid akan mendorong kartilago
aritenoid ke depan, sehingga plika vokalis akan mengendor. Kontraksi
serta mengendornya plika vokalis akan menentukan tinggi rendahnya
nada. 2

B. Definisi Laryngeal Cyst


Laryngeal Cyst atau Kista Laring merupakan Kista yang terletak di lapisan
lamina propia pada Laring. Terdapat 2 tipe kista, yaitu: kista retensi mukus (mucous
retention cyst) dan kista epidermoid atau keratin (epidermoid/keratin cysts). Kista ini
terlihat seperti massa berbentuk oval (spheroid masses) dan opak di lapisan epitel.
Sering ditemukan unilateral, dengan atau tanpa edema kontralateral. 3
Kista ini sering ditemukan jika kelenjar mukus berlebihan. Tempat tempat yang
berpotensi terjadi kista antara lain plika ventrikularis, epiglotis, dan ariepiglotika
Secara klinis, kista laring tampak sebagai benjolan yang dibatasi oleh epitel
tipis. Gejala yang ditimbulkan meliputi parau, sensasi benda asing dan sesak,
tetapi jarang menimbulkan situasi yang mengancam jiwa, kecuali pada bayi
baru lahir dengan kista laring obstruksi. 4

C. Etiologi
Nodul pita suara umumnya terjadi karena penyalahgunaan suara (vocal
abuse). Pada awalnya terdapat edema dan vasodilatasi (diatesis prenodular)
pada pita suara, sehingga menyebabkan penambahan massa namun tidak
terlalu memengaruhi ketegangan pita suara. Vocal abuse menjelaskan

10
perlakuan suara (vocal behaviour) yang berhubungan dengan kualitas suara
normal yang seringkali menyebabkan abnormalitas pita suara dan
menghasilkan disfonia. 3
Vocal abuse bercirikan suara yang berangsurangsur menurun, terutama
disebabkan oleh:
1. Latihan suara yang berlebihan
2. Menghabiskan banyak waktu bekerja di studio
3. Bernyanyi terlalu keras
4. Bernyanyi di luar kapasitas suara sang penyanyi. Berteriak atau berbicara di
area dengan suasana berisik (misalnya: restoran atau lapangan terbang) juga
dapat menjadi salah satu penyebab. 3
Masing-masing lesi memiliki potensi penyebab yang berbeda, tetapi ada
faktor umum yang berkontribusi pada perkembangannya. Secara umum, lesi
vokal jinak terjadi sebagai respons terhadap cedera, tetapi juga diketahui
memiliki banyak penyebab. Cedera awal mungkin disebabkan oleh :
- Penggunaan vokal kronis / penyalahgunaan. Misalnya, kenyaringan dan
penggunaan yang berlebihan pada guru, atau bernyanyi berlebihan dengan
dukungan napas yang buruk pada seorang penyanyi
- Penyalahgunaan vokal akut. Misalnya, berteriak pada pertandingan sepak
bola, atau mantra batuk yang tidak terkendali selama infeksi saluran
pernapasan atas.
- Trauma akibat infeksi
- Trauma akibat refluks lambung (GERD) melukai mukosa laring (tutup
pelindung pita suara).
- Faktor-faktor lain yang berkontribusi pada iritasi kronis laring dengan
pembersihan tenggorokan yang berlebihan dapat termasuk
- Tetes hidung setelah akibat rinitis alergi
- Sinusitis kronis
- Paparan terhadap iritasi kimia seperti yang disebabkan oleh penggunaan /
penyalahgunaan tembakau

11
- Penyakit paru-paru yang dapat menyebabkan dukungan napas yang buruk
selama berbicara atau asma disertai batuk
- Hipotiroidisme yang dapat menyebabkan kompensasi suara dan suara /
pidato dengan nada rendah yang luar biasa untuk nada rendah ini dapat
menyebabkan ketegangan / penyalahgunaan suara
- Kebiasaan vokal yang buruk
- Obat yang dapat memengaruhi suara 5
Kista epidermoid diperkirakan berkembang dari sel bawaan yang terletak
di subepitelium dari lengkungan branchial keempat dan keenam atau dari
penyembuhan luka epitel mukosa yang tertanam. Dimana mengandung
epitel atau akumulasi keratin yang berwarna putih dan dilapisi oleh lapisan
epitel skuamosa. Kedua jenis kista muncul sebagai massa oval di bawah
epitel. kista retensi mukus ukurannya dapat membesar atau mengecil tetapi
pada kista epidermoid jarang terjadi. Membesarnya kista maka semakin
mengganggu gelombang mukosa. 3
D. Epidemiologi
Di Departemen/SMF Ilmu Kesehatan THT-KL FK Unair - RSUD Dr.
Soetomo didapatkan 37 penderita kista laring dalam kurun waktu 5 tahun
mulai Januari 2004 sampai dengan Desember 2008. Lokasi terbanyak
ditemukan di glotis/korda vokalis yaitu 22 (60%), kemudian di pangkal lidah
sebanyak 6 (16%), sisanya di epiglotis sebanyak 4 (11%), supraglotis 3 (8%)
dan ekstralaring 2 (5%). Kista laring dapat terjadi pada semua umur. Angka
kejadian adalah sama antara laki-laki dan perempuan, tetapi Newman et al.1
menemukan angka kejadian perempuan sedikit lebih banyak. Pada penelitian
ini juga didapatkan angka kejadian perempuan lebih banyak yaitu 20 (54%),
sedangkan laki-laki 17 (46%). Gejala yang timbul berkaitan dengan umur
penderita, ukuran dan lokasi kista laring.15 Pada penelitian ini, 71% penderita
mempunyai gejala suara parau, 29% sesak, 16% napas berbunyi (stridor), 8%
mengeluh rasa mengganjal, 8% sulit menelan dan 5% suara ‘muffle’.
Tingginya gejala parau yang ditemukan mungkin berkaitan dengan lokasi
kista laring yang 60% berada di korda vokalis. Dari 37 penderita kista laring

12
di Departemen/SMF Ilmu Kesehatan THT-KL FK Unair - RSUD Dr.
Soetomo, didapatkan 9 penderita kista laring kongenital dan 28 acquired. 6
.
E. Patofisiologi
Bagian pita suara yang berperan dalam vibrasi hanya 2/3 anterior (bagian
membranosa), karena kartilago aritenoidea terdapat pada 1/3 posterior bukaan
glotis (glottic aperture). Vibrasi yang berkepanjangan atau terlalu dipaksakan
dapat menyebabkan kongesti vaskular setempat dengan edema bagian tengah
membranosa pita suara, tempat kontak tekanan paling besar. Akumulasi cairan
pada submukosa akibat vocal abuse menyebabkan pembengkakan submukosa
(terkadang disebut insipien atau nodul awal). Voice abuse yang lama dapat
berbatas tegas pada pita suara. Lesi-lesi ini dapat dibedakan dari pita suara
normal karena warnanya putih dan umumnya ditemukan pada 2/3 posterior
pita suara. Lesi nodul ini tidak timbul secara unilateral, walaupun ukuran yang
satu dapat lebih besar daripada yang lain. 3
Secara histologi, ditemukan jaringan fibrotik dengan penebalan epitel dan
proliferasi jaringan submukosa. Pemeriksaan mikrolaringskopi dilakukan
apabila pada keadaan sebagai berikut:
1. Pada anak yang dicurigai memiliki nodul pita suara tetapi tidak dapat diajak
bekerja sama untuk pemeriksaan lain
2. Pada orang dewasa jika perlu operasi mikro eksisi nodul atau saat diagnosis
masih belum jelas. Nodul dapat dieksisi dengan menggunakan instrumen
operasi mikro yang tepat atau teknik vaporisasi menggunakan laser CO2. 6
Berikut ini merupakan jenis-jenis tumor pita suara non-neoplastik yang
sering dijumpai dan perlu dibedakan dengan nodul pita suara:
1. Reinke’s Edema Tipikal terjadi pada wanita perokok setelah masa
menopause. Umumnya kelainan ini muncul ditandai dengan suara serak yang
makin berat dalam kurun waktu bertahun-tahun.
2. Polip pita suara Polip ini merupakan ekstensi lamina propia, dapat
mempunyai dasar yang luas atau tangkai yang sempit. Kelainan ini bersifat
unilateral dan lokasinya terletak di 1/3 anterior pita suara. Warna polip

13
bervariasi, mulai dari merah hingga translusen. mengakibatkan hialinisasi
Reinke’s space dan penebalan epitelium dasar. Perubahan massa mukosa
mengurangi kemampuan ketegangan pita suara dan penutupan glotis yang
tidak sempurna. 6
Hipotesis terjadinya kista laring kongenital dikemukakan oleh Louys
(1899). Disebutkan bahwa kista kongenital merupakan dysontogenetic dan
diturunkan dari sisa arkus brankial ke-3 dan ke-4 yang terpisah dari laryngeal
pouch selama ontogenesis. Sejak arkus brankial ke-4 tidak didapatkan dalam
laryngeal pouch manusia, kista ini tumbuh di antara jaringan arkus brankial
ke-3 dan ke-5, yaitu struktur supraglotik dan glotik. Kista tumbuh pada batas
kedua arkus dan mengisi sisa celah brankial. 6

F. Manifestasi klinik
Pasien dengan kista vokal mungkin memiliki riwayat yang mirip dengan
pasien dengan nodul vokal. Kista yang besar dapat menyebabkan pasien
mengalami ketegangan vokal atau ketegangan otot untuk mengimbangi
getaran yang buruk dan penutupan pita suara. Juga, pola getaran yang tidak
biasa dengan hadirnya kista dapat menyebabkan "diplophonia" (suara dengan
dua suara). Kista vokal lebih sering terjadi pada wanita, dan dapat bervariasi
dalam ukuran dengan siklus menstruasi pada beberapa pasien. Kista hampir
selalu unilateral (hanya muncul di satu sisi), tetapi kista besar dapat
menyebabkan pembengkakan "reaktif" pada lipatan vokal yang berlawanan
(kontralateral). Kista lipat vokal. Kista terdiri dari dua jenis; mucous retention
cyst dan epidermoid cyst. 5
Kista retensi lendir terjadi ketika saluran kelenjar menjadi terhambat dan
mempertahankan sekresi (biasanya setelah infeksi saluran pernapasan atas
dengan vokal berlebihan). 5
Kista epidermoid dihasilkan dari gangguan minor selama perkembangan
embriologis, atau dari penyembuhan mukosa yang terluka yang mengubur
kulit. Kista yang pecah dapat menyebabkan bekas luka. 5

14
G. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis seperti :
- Waktu timbulnya disfonia (suara abnormal)
- Faktor-faktor yang menyertai timbulnya (seperti infeksi pernapasan atas)
- Apakah suara serak lebih buruk di pagi hari, sore hari atau sepanjang hari?
- Adanya kelelahan vocal
- Nyeri atau tegang karena penggunaan suara yang berkelanjutan
- Keterbatasan rentang bernyanyi.
Pemeriksaan fisik pita suara dengan laringoskopi indirect atau dengan
videostroboscopy (flexibel atau rigid laringoskopi). Dimana dapat melihat letak
lesi pada pita suara. Gambaran lesi pita suara biasanya ditemukan pada daerah
midmembranosa dan juga terdapat pada ruang subepitel atau dekat dengan
ligamentum dari pita suara. Kista pita suara memiliki bentuk yang berbatas seperti
kantung. 4

Gambar : Pemeriksaan Laringoskopi Indirect

15
Gambar : Pencitraan Endoscopy pada Kista Laring Dextra

Sistem klasifikasi baru untuk kista laring kongenital berdasarkan perluasan


anatomi kista terhadap laring dan histopatologi asal jaringan embrional kista
tersebut. Sistem klasifikasi baru dibuat untuk meningkatkan wawasan tentang
asal mula kista dan petunjuk untuk penatalaksanaan bedah yang baik. Sistem
klasifikasi baru kista laring kongenital yaitu tipe I, kista terbatas pada laring,
dinding kistanya hanya memiliki komponen endodermal, dan bisa ditatalaksana
dengan cara endoskopik. Tipe II, kista meluas hingga melampaui batas laring
dan memerlukan pendekatan eksternal. Tipe II disubklasifikasi lagi
berdasarkan asal jaringan embrionalnya yaitu tipe IIa hanya terdiri atas
komponen endodermal dan IIb memiliki komponen endodermal dan
mesodermal (epitel dan kartilago) pada dinding kistanya. 5

16
Gambar : Gambaran histopatologis mucous retention cyst dan
epidermoid cyst
H. Diagnosis Banding
1. Nodul Pita Suara
Nodul pita suara adalah pembengkakan pita suara bilateral dengan ukuran
bervariasi yang ditemukan pada bagian tengah membran pita suara. Nodul
ini memiliki karakteristik berupa penebalan epitel dengan tingkatan reaksi
infl amasi berbeda pada lapisan superfisial lamina propia.
Nodul pita suara umumnya terjadi karena penyalahgunaan suara (vocal
abuse). Pada awalnya terdapat edema dan vasodilatasi (diatesis prenodular)
pada pita suara, sehingga menyebabkan penambahan massa namun tidak
terlalu memengaruhi ketegangan pita suara. 2
2. Laringitis kronis non spesifik
Kelainan radang kronis sering mengenai mukosa laring dan menimbulkan
bermacam-macam manifestasi klinis. Penyebab pasti belum diketahui,
tetapi mungkin ada salah satu atau lebih penyebab iritasi laring yang
menetap, seperti penggunaan suara yang berlebihan, bahan yang dihirup
seperti asap rokok danasap industri, bernapas melalui mulut secara terus
menerus akibat obstruksi hidung mengakibatkan gangguan kelembaban
udara pernapasan dan perubahan mukosa laring. 2

17
3. Polip pita suara
Suara serak juga merupakan keluhan utamanya, tetapi ini bervariasi,
tergantung besar dan lokasi polip. Perubahan suara berkisar dari tak serak
sampai afoni. Bila polip menonjol di antara pita suara, pasien merasakan
ada sesuatu yangm mengganggu di tenggorokannya. Bila polipnya besar
dan dapat bergerak mungkin dapat terjadi seperti serangan tercekik. 2

4. Papilloma laring
Gejala awal penyakit ini adalah suara serak dan karena sering terjadi pada
anak, biasanya disertai dengan tangis yang lemah. Papiloma dapat
membesar kadang-kadang dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas yang
mengakibatkan sesak dan stridor sehingga memerlukan trakeostomi. 2

5. Keratosis laring
Gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini adalah suara serak yang
persisten.Sesak nafas dan stridor tidak selalu ditemukan. Selain itu ada rasa
yang mengganjal di tenggorokan, tanpa rasa sakit dan disfagia.Pada
keratosis laring, terjadi penebalan epitel, penambahan lapisan sel
dengangambaran pertandukan pada mukosa laring. Tempat yang sering
mengalami pertandukan adalah pita suara dan fossa interaritenoid. 2

6. Pachydermia laring.
Merupakan suatu pembentukan hiperplasia lokal dari epitel pada pita
suara,yang terjadi akibat proses yang kronik. Lesi bersifat bilateral simetris,
dan daerah yang terkena pada posterior suara dan interaritenoid. Gejala
yang ditemukan adalah serak yang kronis, rasa kering dan batuk. Masa
bilateral pada pita suara dan interaritenoid, dengan benjolan kemerahan2

I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kista laring adalah mengamankan jalan nafas secepatnya
terutama pada pasien dengan obstruksi berat, dan pengangkatan kista. Pilihan
operasi berupa pendekatan endoskopik dengan cara marsupialisasi atau eksisi
dan pendekatan eksternal. Pengangkatan endoskopi merupakan cara yang lebih
baik dibanding pendekatan eksternal. Sedangkan pungsi - aspirasi kista belum
menyelesaikan masalah dan memungkinkan terjadi rekurensi. 7

18
Pungsi aspirasi sebaiknya tidak dijadikan prosedur primer karena risiko
aspirasi paru, peningkatan angka kekambuhan, dan kesulitan mengidentifikasi
batas kista pada pembedahan berikutnya. 7
Terapi/tindakan aspirasi saja dikaitkan dengan tingginya kejadian
rekurensi. Karena epitel dinding kista aktif memproduksi cairan, maka untuk
mencegah rekurensi dinding kista harus dirusak. Bahan (agent) skleroterapi
pada penderita ini adalah etanol. Beberapa macam bahan dapat digunakan
untuk merusak epitel dinding kista, yaitu minocycline hydrochloride, betadine,
larutan glukosa 50%, etanol, ethanolamine oleate. Dengan menggunakan cara
ini, alkohol menyebabkan inflamasi dan sklerosis lapisan epitel kista, dan
akhirnya terjadi adesi dinding kista. 8
Mekanisme seluler yang terlibat dalam skleroterapi kista belum diketahui
sepenuhnya, tetapi nampaknya sel-sel epitel yang melapisi dinding kista
memegang peranan penting. Hal ini diketahui dari studi pleurodesis bahwa
mesotelium merupakan inisiator primer dari biological cascade yang
menyebabkan pleurodesis. Ketika kondisi mekanis bertemu, yaitu kontak yang
adekuat antara bahan sklerosing dan dinding kista, aktivasi coagulation
cascade dan produksi mediator inflamasi serta fibrosis oleh epitel yang
melapisi sel-sel itu sendiri adalah penting untuk menghasilkan perlekatan
rongga kista secara baik. 8
Pilihan manajemen utama pada kista yaitu operasi pengangkatan kista dengan
bedah mikrolaringoskopi karena kista tidak bisa diatasi dengan manajemen
konservatif. Selain dari pembedahan secara konvensional dapat juga dilakukan
dengan penggunaan Laser. Hal utama yang harus diperhatikan dalam operasi pita
suara adalah melindungi ligamen pita suara, dan memperbaiki fungsi vibrasi dari
pita suara. 9
Laser (Light Amplification by the Stimulating Emision of Radiation) adalah
suatu alat yang berguna untuk memperkuat suatu sinar, sehingga dapat
menghasilkan sinar yang memiliki energi. Sinar yang dihasilkan ini bersifat
terarah, koheren, dan monokromatik. Sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, sekarang laser digunakan untuk tujuan yang lebih bermanfaat bagi

19
kehidupan manusia dan kedokteran, dan akan meningkatkan keberhasilan dalam
melakukan pembedahan lesi yang sulit. Jenis-jenis Laser yang digunakan dalam
bidang THT-KL yaitu :
1. Karbon dioksida Laser
2. Nd-YAG laser
3. KTP laser
4. Erbium The YAG (Er: YAG) laser
5. Argon laser
6. Laser Holmium YAG (Ho: YAG)
7. laser Diode
Penggunaan laser mempunyai banyak keuntungan dibandingkan dengan
pembedahan konvensional. Keuntungan laser adalah ketepatan dengan tingkat
keakuratan pembedahan dapat mencapai 0,1 mm, dapat menghentikan perdarahan,
mengurangi edema pasca operasi. Kerugiannya dapat menyebabkan kornea mata
terbakar, dan untuk mengatasinya tenaga medis harus memakai kacamata
pelindung (google), dan pasien memakai kassa basah sebagai pelindung mata. 10

Gambar : Kista Laring Bilateral Pre Op (kiri) dan Post Op setelah


3 bulan dengan penggunaan Laser

J. Prognosis
Berdasarkan studi kasus yang dilakukan Afman F, di RSUP M. Djamil
Padang, Pada kasus Kista Laring dengan ekstirpasi teknik Konvensional, terjadi

20
kekambuhan setelah 3 bulan pasca operasi. Sedangkan pada kasus kedua yang
menggunakan Laser tidak terjadi kekambuhan. Hal ini sesuai dengan literatur
bahwa salah satu keuntungan penggunaan Laser yaitu dapat memperpanjang
periode bebas dari suatu penyakit. Hal ini Karena epitel dinding kista aktif
memproduksi cairan, maka untuk mencegah rekurensi dinding kista harus
dirusak dengan menggunakan Laser. 10

21
DAFTAR PUSTAKA
1. Lalwani AK, eds. Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head and
Neck Surgery. 2nd ed. New York: McGraw-Hill. 2007.
2. Cohen James . Anatomi dan Fisiologi laring. Boies Buku Ajar Penyakit THT.
Edisi ke-6. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran.EGC. 2009. h. 369-376
3. Hsu Cheng Ming,Gian Luca Armas, Chih-Ying Su. Marsupialization of Vocal
Fold 2016
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head and Neck Surgery, 6th ed. Appleton
& Lange Stamfort,Connecticut P. 2009
5. Soepardi, Efiaty Arsyad, and Nurbaiti Iskandar. "Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga,
Hidung, Tenggorok Kepala Leher." Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia (2008).
6. Retention Cysts:Voice Assessment and Surgical Outcomes. Annals of Otology,
Rhinology & Laryngology. 2009; 118(4): p.270-275.
7. Nerurkar Nupur Kapoor, Sunita Chhapola Shukla. Subepithelial Vocal Fold
Cyst: A Pearl on a String?. International Journal of Phonosurgery and
Laryngology. 2012;2(2): p.53-56
8. Martins Regina Helena Garcia et all. Vocal Cysts: Clinical, Endoscopic, and
Surgical Aspects. Journal of Voice Vol. 25, No. 1.2011.p 107-10.
9. Laryngeal Cancer Treatment: PubMed Health; 2002 [updated July 31, 2014].
Availablefrom:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0032515?report=pri
ntable
10. Jensen JB, Rasmussen N. Phonosurgery of vocal fold polyps, cyst and
nodules is benefi cial. Dan Med J. 2013;60(2):A4577.

22