Anda di halaman 1dari 5

[TINJAUAN PUSTAKA]

Pitiriasis Versikolor: Diagnosis dan Terapi


Annisa Shafira Pramono, dr.Tri Umiana Soleha, M.Kes
1Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2 Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Abstrak
Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial umum pada lapisan epidermis. Penyakit ini memiliki distribusi yang luas
di seluruh dunia, namun lebih sering terjadi di negara-negara tropis yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi. Pitiriasis
versikolor disebabkan oleh Malassezia furfur yang merupakan jamur saprofit pada manusia normal, namun dalam beberapa
kondisi, jamur ini dapat berubah menjadi bentuk patogen. Diagnosis pitiriasis versikolor ditegakkan berdasarkan gambaran
klinis, pemeriksaan mikroskopis atau kultur jamur. Lesi khas pitiriasis versikolor berupa makula, plak, atau papul folikular
dengan beragam warna, hipopigmentasi, hiperpigmentasi, sampai eritematosa, berskuama halus di atasnya, dikelilingi kulit
normal. Pada pemeriksaan mikroskopis, spesimen yang digunakan adalah kerokan kulit atau isolat dari kultur jamur.
Pemeriksaan lain yang menunjang diagnosis pitiriasis versikolor adalah pemeriksaan lampu wood dan uji biokimia, namun
kedua pemeriksaan ini hanya digunakan sebagai penunjang bukan untuk mengkonfirmasi diagnosis. Pengobatan pitiriasis
versikolor dapat dilakukan secara oral ataupun topikal. Terapi lini pertama adalah terapi antifungal topikal, termasuk zink
pirition, ketokonazol, dan terbinafin. Antifungal oral dianggap sebagai lini kedua dan digunakan pada kasus berat.
Terbinafin oral dan ketokonazol oral tidak efektif dalam terapi pitiriasis versikolor, antifungal oral seperti itrakonazol dan
flukonazol dianggap sesuai untuk terapi pitiriasis versikolor.

Kata kunci: antifungal oral, antifungal topikal, diagnosa, pitiriasis versikolor.

Pityriasis Versicolor: Diagnosis and Therapy


Abstract
Pityriasis versicolor is a common superficial fungal infection of the epidermal layer. It has a worldwide distribution, but it is
more common in tropical countries where high humidity and temperature. Pityriasis versicolor caused by Malassezia furfur
which are normal human saprophytes but in some conditions the fungus can convert from a yeast to a pathogenic form.
The diagnosis of pityriasis versicolor is based on clinical features, microscopic examination or fungal culture. Pityriasis
versicolor presents as macules, plaque, or papul with various volors, hypopigmentation, hyperpigmentation, even
erythematoses, with smooth squama on iy, surrounded by normal skin. On microscopic examanication, skin scales and
isolates from cultured yeasts were used as the specimen. Other tests that support the diagnosis of pityriasis versicolor are
examination using wood lamp and biochemical test, but these examinations does not confirm pityriasis versicolor diagnosis.
Treatment of pityriasis versicolor can used oral or topical drug. First-line therapy of pityriasis versicolor is topical antifungal,
including zink pyrothione, ketoconazole, and terbinafine. Oral antifungal is considered as second-line and only used in
severe disease. Oral terbinafine and oral ketoconazole are not effective in the therapy of pityriasis versicolor. Oral
antifungal such as itraconazole and fluconazole are more appropriate for pitiriasis versicolor therapy.

Keywords: diagnose, oral antifungal, topical antifungal, pityriasis versicolor.

Korespondensi : Annisa Shafira Pramono, Alamat Jl. Abdul Muis IX no 45, HP 081271549582, e-mail: firaasp@gmail.com

Pendahuluan keadaan malnutrisi. Malassezia menghasilkan


Pitiriasis versikolor atau dikenal dengan berbagai senyawa yang mengganggu
panu adalah infeksi jamur superfisial ditandai melanisasi kulit sehingga menyebabkan
dengan perubahan pigmen kulit akibat perubahan pigmentasi kulit.1,2
kolonisasi stratum korneum oleh ragi lipofilik Pitiriasis versikolor banyak dijumpai di
dari genus Malassezia, Malassezia furfur daerah tropis dikarenakan tingginya suhu dan
(dikenal juga sebagai Pityrosporum orbiculare, kelembaban lingkungan, diperkirakan 40-50%
Pityrosporum ovale, Malassezia ovalis). dari populasi di negara tropis terkena penyakit
Malassezia furfur merupakan flora normal ini. Penyakit ini dapat menyerang semua usia,
pada kulit yang dapat berubah menjadi bentuk namun paling banyak pada usia 16-20 tahun.3
patogen dalam kondisi tertentu, seperti Di Indonesia sendiri belum ada data mengenai
lingkungan dengan suhu dan kelembaban angka kejadian pitiriasis versikolor, namun di
tinggi, produksi kelenjar sebum dan keringat, Asia dan Australia pernah dilakukan
genetik, keadaan imunokompromais, dan percobaan secara umum pada tahun 2008 dan

J Agromedicine | Volume 5 | Nomor 1 | Juni 2018 | 449


Annisa Shafira Pramono| Pitiriasis Versikolor: Diagnosis dan Terapi

didapatkan angka yang cukup tinggi karena mudah dimasuki jamur. Pada keadaan
mendukungnya iklim di daerah Asia.4 malnutrisi dan pada penderita dengan
Lesi khas pitiriasis versikolor dapat penekanan sistem imun akan memudahkan
berupa makula, plak, atau papul folikular pertumbuhan jamur oportunis. Faktor
dengan beragam warna, hipopigmentasi, terakhir, yaitu suhu dan kelembaban yang
hiperpigmentasi, sampai eritematosa, tinggi akan meningkatkan produksi kelenjar
berskuama halus di atasnya, dikelilingi kulit sebum dan keringat sehingga pertumbuhan
normal. Lokasinya dapat ditemukan di bagian M. furfur meningkat.3,4
dada, meluas ke lengan atas, leher, punggung, Malassezia dapat memetabolisme
dan tungkai atas atau bawah. Umumnya, berbagai asam lemak, seperti asam arakidonat
penderita merasakan gatal ringan saat atau asam vaksenik, dan asam azelaic yang
berkeringat.2,4 dilepaskan sebagai salah satu metabolitnya.
Berbagai macam pemeriksaan dapat Asam ini bekerja menghambat enzim dopa-
dilakukan untuk mendiagnosis pitiriasis tirosinase yang menghalangi perubahan
versikolor. Pemeriksaan yang dilakukan tirosin menjadi melanin dan hal ini
seperti kultur jamur dan pemeriksaan mengakibatkan munculnya makula
mikroskopis dengan spesimen kerokan kulit hipokromik. Sebuah fakta penting adalah
dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis bagian kulit di daerah hipokromik tidak
pitiriasis versikolor.5 menunjukkan infiltrasi inflamasi. Tidak seperti
Terapi infeksi jamur pitiriasis versikolor M. pachydermatis, M. sloofiae, dan M.
beragam, secara oral atau topikal. Terdapat sympodialis, agen penyebab pitiriasis
banyak obat anti jamur yang dapat dijadikan versikolor tidak menginduksi IL-1b, IL-6, IL-8,
pilihan dalam pengobatan pitiriasis versikolor, dan TNF-α. Meskipun lesi pitiriasis versikolor
contoh obat-obatan yang sering digunakan tidak meradang, namun keberadaan ragi
antara lain selenium sulfida, ketokonazol, dalam jumlah banyak dan metabolitnya
mikonazol, sulfur presipitatum, dan menyebabkan deskuamasi pada kulit. Sampai
3,6
sebagainya. saat ini belum ada penelitian mengenai
metabolit jamur yang berhubungan dengan
Isi deskuamasi ini. Produksi melanin dalam
Flora normal kulit yang berhubungan variasi pitiriasis versikolor hiperpigmentasi
dengan timbulnya pitiriasis versikolor adalah juga belum diketahui secara jelas
Pityrosporum orbiculare atau Pityrosporum mekanismenya. Studi histologis hanya
ovale. Keduanya dapat berubah menjadi menunjukan melanosom dengan diameter
patogen apabila terjadi perubahan pada yang lebih besar dari biasanya pada makula
lingkungan hidupnya. Pitiriasis versikolor hiperkromik.7
dapat terjadi jika keadaan antara host dan Diagnosis ditegakkan berdasarkan
flora jamur tak seimbang. Terdapat beberapa gambaran klinis, pemeriksaan mikroskopis dan
faktor yang berkontribusi dalam mengganggu kultur. Beberapa pemeriksaan penunjang lain
keseimbangan tersebut, yaitu faktor endogen juga dapat dilakukan untuk membantu
dan eksogen. Faktor endogen antara lain diagnosis seperti pemeriksaan dengan lampu
produksi kelenjar sebasea dan keringat, wood dan uji biokimia.5
genetik, malnutrisi, faktor immunologi dan Pada pemeriksaan kulit dapat
pemakaian obat-obatan, sedangkan faktor ditemukan makula dalam berbagai ukuran dan
eksogen adalah suhu dan kelembaban kulit. warna, ditutupi sisik halus dapat muncul
Peningkatan sekresi sebum oleh kelenjar dengan rasa gatal atau tanpa keluhan dan
sebasea akan mempengaruhi pertumbuhan hanya gangguan kosmetik saja. Makula yang
berlebih dan organisme yang bersifat lipofilik timbul dapat berupa hipopigmentasi,
ini. Insidensi terjadi pada saat kelenjar kecokelatan, keabuan, atau kehitam-hitaman
sebasea paling aktif yaitu masa pubertas dan dalam berbagai ukuran dan skuama halus di
dewasa awal. Pada orang dengan produksi atasnya. Lokasi lesi dapat terjadi dimana saja
keringat yang berlebih juga memiliki di permukaan kulit, lipat paha, ketiak, leher,
kecenderungan untuk terjadi pertumbuhan punggung, dada, lengan, wajah, dan tempat-
jamur ini, stratum korneum akan melunak tempat tak tertutup pakaian.5
pada keadaan basah dan lembab sehingga

J Agromedicine | Volume 5 | Nomor 1 | Juni 2018 | 450


Annisa Shafira Pramono| Pitiriasis Versikolor: Diagnosis dan Terapi

Bahan yang digunakan untuk Terapi pitiriasis versikolor menggunakan


pemeriksaan mikroskopis adalah kerokan kulit agen antifungal dapat dilakukan secara topikal
dari pusat lesi. Kerokan kulit diratakan pada maupun sistemik. Pengobatan topikal yang
kaca preparat, pertama dilarutkan dengan efektif untuk pitiriasis versikolor meliputi krim,
kalium hidroksida 10-20% kemudian diwarnai losion, dan sampo yang diaplikasikan setiap
dengan pewarnaan biru metilen, tinta parker hari atau dua kali sehari dengan jangka waktu
atau biru laktofenol. Ciri khas dari bervariasi. Pengobatan topikal non-spesifik
pemeriksaan mikroskopik pitiriasis versikolor untuk pitiriasis versikolor tidak secara spesifik
adalah gambaran “spaghetti and meat balls”. menangani spesies Malassezia. Sebaliknya,
Sementara itu, morfologi koloni yang tumbuh obat-obatan ini secara fisik atau kimia
pada media kultur bervariasi tergantung pada mengangkat jaringan yang terinfeksi.
spesies Malassezia. Permukaannya bisa kusam Pengobatan non-spesifik yang terbukti efektif
atau berkilau, halus atau kasar, cembung atau dalam mengobati pitiriasis versikolor adalah
rata dengan tepi yang sedikit berlipat atau selenium sulfida (sediaan losion, krim atau
beralur. Teksturnya bisa gembur, kasar sampo), zink pirition, propilen glikol dan salep
ataupun keras. Warnanya pun bervariasi dari whitfield.9
krem hingga putih. Pemeriksaan mikroskopis Beberapa obat topikal yang bersifat
dari kultur jamur juga menunjukkan gambaran antifungi dan terbukti efektif dalam
yang bervariasi tergantung dari spesies mengobati pitiriasis versikolor seperti
Malassezia. Sel biasanya unipolar, bisa besar bifonazol, klotrimazol, dan mikonazol.
atau kecil, bulat atau silindris.8 Ketokonazol merupakan antifungal spektrum
Pemeriksaan lain yang dapat luas yang digunakan sebagai terapi mikosis
dilakukan untuk menunjang diagnosis pitiriasis superfisial dan sistemik. Ia bekerja
versikolor adalah pemeriksaan dengan lampu menghambat enzim lanosterol 14α-
wood dan uji biokimia. Pada pemeriksaan demethylase, lalu mengganggu biosintesis
menggunakan sinar wood tampak fluoresensi ergosterol untuk membatasi fungsi dan
kuning keemasan atau kuning cerah. pertumbuhan sel. Sediaan topikalnya berupa
Pemeriksaan dengan lampu wood tidak dapat krim, sampo, dan busa. Penggunaan krim atau
mengkonfirmasi diagnosis pitiriasis versikolor, busa setiap hari selama 14 hari telah terbukti
pemeriksaan ini hanya sebagai penunjang efektif dalam terapi pitiriasis versikolor.
dalam diagnosis. Cahaya wood diproduksi oleh Terbinafin merupakan salah satu derivat
lampu merkuri bertekanan tinggi yang alilamin, dengan menghambat squalene
memancarkan ultraviolet A. Cahaya ini akan epoxidase, ia menghalangi biosintesis sterol
diserap oleh melanin dan menghasilkan dan mengubah integritas membran sel jamur.
fluoresensi karakteristik dalam kondisi Krim terbinafin setara dengan ketokonazol
patologis. Pada pemeriksaan biokimia topikal dan krim bifonazol, dengan
biasanya dilakukan pada spesimen kultur dan penyembuhan lengkap berkisar 88% sampai
tidak dilakukan secara langsung pada kerokan 100%. Durasi rata-rata pengobatan sampai
kulit. Pada uji katalase menunjukan hasil penyembuhan mikologi dengan pemakaian
positif, ada produksi gelembung gas saat krim terbinafin 1% sehari secara signifikan
ditambahkan setets hidrogen peroksida pada lebih pendek daripada krim bifonazol dua kali
spesimen kultur. Pada pemeriksaan asimilasi, sehari. Pengobatan terbinafin maksimum 4
spesies Malassezia biasanya tumbuh pada minggu. 9,10
Tween 20, 40, 60 dan 80. Pemeriksaan Antijamur oral atau sistemik efektif
asimilasi glisin hanya positif pada Malassezia dalam mengobati berbagai infeksi, namun
furfur. 5,8 dapat menyebabkan efek samping yang serius.
Penggunaan antifungal oral untuk mengobati

J Agromedicine | Volume 5 | Nomor 1 | Juni 2018 | 451


Annisa Shafira Pramono| Pitiriasis Versikolor: Diagnosis dan Terapi

pitiriasis versikolor dianggap sebagai mengganggu sintesis ergosterol pada sel


pengobatan lini kedua dan digunakan untuk jamur. Ia telah terbukti aktif secara in vitro
infeksi yang berat. Terbinafin oral tidak efektif terhadap dermatofit, spesies Candida, dan
dalam pengobatan pitiriasis bersikolor. spesies Malassezia. Sebuah studi yang
Terbinafin tidak diekskresikan dalam keringat melibatkan 19 pasien pitiriasis versikolor
dan mungkin tidak mencapai konsentrasi yang diterapi dengan pramikonazol 200 mg setiap
cukup pada stratum korneum untuk hari selama 3 hari dan pasien dipantau selama
menunjukkan aktivitas fungisidal terhadap 30 hari. Sepanjang penelitian, gejala klinis
spesies Malassezia. Ketokonazol dulu berkurang secara signifikan. Sepuluh hari
merupakan baku emas dalam pengobatan oral setelah pengobatan dimulai, 8 pasien KOH
pada infeksi jamur, sekarang tidak lagi negatif, pada hari ke-30 19 pasien KOH
disarankan untuk pengobatan mikosis negatif.12 Efek samping paling umum yang
superfisial, termasuk pitiriasis versikolor. Efek ditimbulkan pramikonazol adalah sakit kepala.
samping hepatotoksik yang berkaitan dengan Studi lain menunjukan efek samping yang
pemberian ketokonazol oral lebih besar umum dari pramikonazol adalah diare dan
risikonya dibandingkan dengan manfaat mual. Secara keseluruhan, pramikonazol
potensialnya.9 merupakan terapi yang menjanjikan untuk
Saat ini terapi oral pitiriasis versikolor pitiriasis versikolor namun tetap harus
meliputi itrakonazol, flukonazol, dan ditentukan efikasi klinisnya.13
pramikonazol. Itrakonazol, merupakan
turunan triazol, yang bekerja mengubah fungsi Ringkasan
sel jamur melalui penghambatan sintesis Pitiriasis versikolor atau yang lebih
ergosterol sitokrom P450. Itrakonazol dengan dikenal dengan sebutan panu adalah infeksi
jumlah total minimal 1000 mg selama jamur superfisial pada lapisan tanduk kulit
pengobatan diperlukan untuk menghasilkan yang disebabkan oleh Malassezia furfur atau
respon mikologi yang signifikan sehingga Pityrosporum orbiculare. Pitiriasis versikolor
mengobati pitiriasis versikolor secara efektif. dapat mengenai wajah, leher, badan, lengan,
Pengobatan sekali sehari selama 5 hari dengan ketiak, paha, dan lipat paha. Kelainannya
200 mg itrakonazol menunjukan efikasi tinggi berupa bercak-bercak hipopigmentasi atau
hingga setelah satu bulan pengobatan dan hiperpigmentasi disertai rasa gatal atau bisa
direkomendasikan untuk terapi pitiriasis saja asimptomatik.14,15
versikolor. Regimen standar untuk itrakonazol Terdapat faktor endogen dan eksogen
adalah 7 hari pengobatan. Itrakonazol dapat yang berkontribusi dalam timbulnya pitiriasis
diberikan sekali perbulan selama 6 bulan versikolor. Faktor endogen antara lain
sebagai profilaksis dengan dosis 200 mg dua produksi kelenjar sebasea dan keringat,
kali sehari. Flukonazol adalah antijamur genetik, malnutrisi, faktor imunologi, dan
turunan triazol, bekerja menghambat sintesis pemakaian obat-obatan, sedangkan faktor
ergosterol sitokrom P450 yang serupa dengan eksogen adalah suhu dan kelembaban kulit.3,4
itrakonazol dan ketokonazol . Studi Gambaran klinis pasien, pemeriksaan
menunjukkan bahwa flukonazol setara dengan mikroskopis dengan spesimen kerokan kulit
atau bahkan lebih efektif daripada dan kultur jamur digunakan untuk
ketokonazol orak dalam mengobati pitiriasis menegakkan diagnosis pitiriasis versikolor.
versikolor. Efikasi regimen mingguan Gambaran khas pitiriasis versikolor yang dapat
flukonazol adalah 150 mg atau 300 mg setiap dijumpai pada pemeriksaan mikroskopik
minggu dalam 4 minggu, atau 300 mg dua kali adalah gambaran “spaghetti and meat balls”.
seminggu selama 4 minggu. Empat minggu Sementara gambaran morfologi koloni pada
setelah pengobatan terakhir, penyembuhan media kultur tergantung pada spesies
mikologik untuk regimen 300 mg secara Malassezia. Pemeriksaan dengan lampu wood
signifikan lebih tinggi dari 150 mg flukonazol. dan uji biokimia juga dapat dilakukan untuk
Sehingga direkomendasikan 300 mg menunjang diagnosis pitiriasis versikolor.
flukonazol dua kali seminggu Fluoresensi lesi pitiriasis versikolor berwarna
direkomendasikan untuk terapi pitiriasis kuning terang atau kuning keemasan pada
versikolor.11 Pramikonazol juga merupakan sinar wood. Pada uji biokimia, katalase
turunan triazol, mekanisme kerjanya menunjukkan hasil positif dan pemeriksaan

J Agromedicine | Volume 5 | Nomor 1 | Juni 2018 | 452


Annisa Shafira Pramono| Pitiriasis Versikolor: Diagnosis dan Terapi

asimilasi glisin hanya positif pada Malassezia isolat Malassezia furfur. J O S Unsoed.
furfur.8 2011;5(2)
Terapi pitiriasis versikolor dapat 7. Luis J. Pathogenesis of dermatophytosis
dilakukan secara topikal dan sistemik. Terapi and tinea versicolor. J Clin Dermatol.
topikal yang digunakan adalah itrakonazol dan 2010;28(1):185-9.
flukonazol. Keuntungan terapi topikal adalah 8. Ibekwe P. Correlation of Malassezia
kerjanya yang cepat dan dapat ditoleransi species with clinical characteristics of
dengan baik oleh tubuh. Efek samping serius pityriasis versicolor [tesis]. Munich:
yang sedikit dan interaksi obat yang terbatas. Ludwig-Maximilians-Universitat; 2014.
Untuk pengelolaan pitiriasis versikolor dengan 9. Gupta AK, Foley KA. Antifungal treatment
antijamur oral, regimen yang didukung adalah for pityriasis versicolor. J Fungi. 2015;
200 mg itrakonazol setiap hari selama 5 atau 7 1(1): 13-29
hari, 300 mg flukonazol satu kali per minggu 10. Rigopoulos D, Gregoriou S,
selama 2 minggu, atau 200 mg pramikonazol Kontochristopoulos G, Ifantides A,
setiap hari selama 2 hari. Pada kasus dimana Katsambas A. Flutrimazole shampoo 1%
area tubuh yang terkena pitiriasis versikolor versus ketoconazole shampoo 2% in the
adalah luas maka lebih baik menggunakan treatment of pityriasis versicolor. A
antijamur oral. 9 randomised double-blind comparative
trial. Int J Dermatol. 2007; 50(3): 190-5.
Simpulan 11. Gupta AK, Lane D, Paquet M. Systematic
Diagnosis pitiriasis versikolor ditegakkan review of systemic treatments for tinea
berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan versicolor and evidence-based dosing
mikroskopis atau kultur jamur. Terapi regimen recommendations. J Cutan. Med.
Surg. 2014; 18(2): 79-90.
antifungal topikal yang dapat diberikan adalah
12. Faergemann J, Ausma J, Vandeplassche L,
ketokonazol dan terbinafin. Sementara terapi Borgers M. The efficacy of oral treatment
oral yang dapat diberikan adalah itrakonazol, with pramiconazole in pityriasis
flukonazol, pramikonazol. Penggunaan versicolor: a phase II a trial. Br J
antifungal oral pada pitiriasis versikolor Dermatol. 2007; 156(6): 1385-8.
dianggap sebagai pengobatan lini kedua atau 13. Fergemann J, Todd G, Pather S, Vawda
digunakan pada infeksi berat. ZFA, Gillies JD, Walford T, et al. Double-
blind, randomized, placebo-controlled,
Daftar Pustaka dose-finding study of oral pramiconazole
1. Mahmoud YAG, Metwally MA, Mubarak in the treatment of pityriasis versicolor. J.
HH, Zewawy NE. Treatment of tinea Am. Acad. Dermatol. 2009; 61(6): 971-6.
versicolor caused by Malassezia furfur 14. Nathalia S, Niode NJ, Pandaleke HEJ.
with dill seed extract: an experimental Profil pitiriasis versikolor di poliklinik kulit
study. J Pharm Pharmaceut Sci. dan kelamin RSUP Prof. Dr. R. D Kandou
2014;7(2):975-1491. Manado periode Januari-Desember 2012.
2. Han A, Calcara DA, Stoecker WV, Daly J, J eCL. 2015; 3(1):186-92.
Siegel DM, Shell A, et al. Evoked scale sign 15. Yosella T. Diagnosis and treatment of
of tinea versicolor. J Arch Dermatol. tinea cruris. J Majority. 2015; 4(2):122-8.
2009;145(9):1078.
3. Partogi D. Pityriasis versikolor dan
diagnosis bandingnya [tesis]. Medan:
Universitas Sumatera Utara; 2008.
4. Rai MK, Wankhade s. Tinea versicolor - an
epidemiology. J Microbial Biochem
Technol. 2009;1(1):51-6.
5. Siregar RS. Atlas berwarna saripati
penyakit kulit. Jakarta: EGC; 2005.
6. Setyarini PS, Krisnansari D. Perbandingan
efek antifungi ekstrak lengkuas (Alpinia
galanga Linn) dengan ketokonazol pada

J Agromedicine | Volume 5 | Nomor 1 | Juni 2018 | 453