Anda di halaman 1dari 57

BAB I

PENDAHULUAN

Kloramfenikol merupakan kristal putih yang sukar larut dalam air (1 : 400) dan
rasanya sangat pahit. Kloramfenikol bekerja dengan menghambat sintesis protein
kuman. Obat ini terikat pada ribosom subunit 50s dan menghambat enzim peptidyl
transferase sehingga ikatan peptide tidak terbentuk pada proses sintesis protein.
Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi kloramfenikol
kadang bersifat bakteriosid terhadap kuman-kuman tertentu. (Farmakologi dan Terapi
UI 2007 hal 700)

Kloramfenikol dijadikan sediaan krim sebagai sediaan topikal. Antibiotik topikal


memegang peranan penting pada penggunaan khusus di bidang topikal. Antibiotik
topikal seringkali diresepkan dokter untuk pengobatan pada kulit. Selanjutnya dapat
digunakan untuk profilaksis setelah tindakan bedah minor, infeksi setelah operasi, dan
mempercepat penyembuhan luka. Penggunaan Kloramfenikol secara topikal dapat
menyebabkan hipersensitivitas, reaksinya termasuk ram diwajah, demam, dan
angiodema. (Martindale 36th ed, P.240-241).

1
BAB II
KLORAMFENIKOL
1.1 TINJAUAN BAHAN AKTIF
BAHAN AKTIF KETERANGAN
Kloramfenikol Base

 Nama Kimia: D-(−)-2,2-dichloro-N-(β-hydroxy-


α-(hydroxymethyl)-p-nitrophenylethyl)acetamie
 Rumus struktur: C11H12Cl2N2O5
 Berat molekul: 323,13
 Pemerian: Hablur halus beerbentuk jarum atau
lempengan memanjang; berwarna putih atau putih
keabuan, atau kekuningan, stabil pada pH larutan netral
atau larutan asam.
 Kelarutan: Larut 1:400 bagian air; mudah larut dalam
alkkohol dan aseton, etil asetat, dan propilen glikol.
 Titik leleh: 149-153ºC
 pH: 4.5-7.5 (25% suspense dalam air)
 Stabilitas: Penyimpanan pada wadah kedap udaradan
terlindung cahaya
 Macam sediaan:
 Kapsul (90.0 % - 120% kloramfenikol)
 Krim (90.0 % - 130% kloramfenikol)
 Larutan oral (90.0 % - 120% kloramfenikol)
 Salep mata
 Tetes telinga
Kloramfenikol Natrium
Suksinat  Nama Kimia: D-(−)-2,2-dichloro-N-(β-hydroxy-α-
(hydroxymethyl)-p-nitrophenylethyl) acetamide α-
(sodium succinate)
 Rumus struktur: C15H15Cl2N2NaO8
 Berat molekul: 445,2

2
 Kesetaraan: 1 mg kloramfenikol natrium suksinat setara
dengan 650 µg – 765 µg kloramfenikol
 Pemerian: Serbuk berwarna putih atau kekuningan
terang; bersifat higroskopis
 Kelarutan: Sangat larut air (kurang dari 1 : 1) dan etanol.
 Titik leleh:
 pH: antara 6.4 hingga 7.0; penetapan ph dengan
menggunakan larutan yang mengandung setara dengan
±250 mg kloramfenikol/ ml
 Stabilitas: Penyimpanan pada wadah kedap udara dan
terlindung cahaya.
 Macam sediaan:
Injeksi (90.0 % - 113% ) kloramfenikol natrium suksinat
setara dengan kloramfenikol

Kloramfenikol Palmitat  Nama Kimia: D-(−)-2,2-dichloro-N-(β-hydroxy-α-


(hydroxymethyl)-pnitrophenylethyl)acetamide α-
palmitate
 Rumus struktur: C27H42Cl2N2O6
 Berat molekul: 561,54
 Kesetaraan: 1 mg kloramfenikol palmitat setara dengan
555 µg – 595 µg kloramfenikol
 Pemerian:Serbuk Kristal, ringan, berwarna putih, atau
hamper putih, berasa sedikit manis; bau lemah.
 Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air; larut dalam
alcohol (sebagian); mudah larut dalam aseton; larut
dalam eter; sedikit larut dalam hesana.
 Titik leleh: (87-95)ºC
 pH:
 Stabilitas: Penyimpanan dalam wadah kedap udara dan
terlindung cahaya.
 Macam sediaan:
Suspensi oral (90.0 % - 120% kloramfenikol)

3
BAHAN AKTIF TERPILIH
Bahan aktif terpilih untuk formulasi sediaan semisolid kloramfenikol adalh kloramfenikol
base, karena:
1. Kloramfenikol base merupakan bentuk aktif dari kloramfenikol yang tidak memerlukan
mekanisme aktivasi tertentu untuk dapat menimbulkan efek farmakologi sehingga
sesuai untuk digunakan dalam formulasi sediaan semisolid topical.
2. Kloramfenikol base memiliki rentang pH 4.5 - 7.5 dan pH kulit berada pada rentang 4.2
- 5.6. Sehingga kloramfenikol base dapat diformulasikan untuk sediaan topical pada kulit
karena kemungkinan terjadinya ititasi kulit akibat perbedaan pH dapat diminimalkan

4
1.2 TINJAUAN FARMAKOLOGI KORAMFENIKOL
Kloramfenikol meerupakan senyawa stabil dan netral, larut dalam alcohol, sulit
larut dalam air. Aktivitas antibakteri teradi karena kloramfenikol bekerja dengan cara
menghambat sintesis protein mikroba. Berikatan secara reversible pada ribosom bakteri
subunit 50S sehingga menghambat kerja enzim peptidal transferase sehingga
mengakibatkan terjadinya pencegahan pembentukan ikatan peptide (Katzung, 2018) Pada
konsentrasi tinggi kloramfenikol dapat menghambat sintesis protein mitokondria.
Kloramfenikol merupakan antibiotic spectrum luas yang dapat melawan bakteri
aerob dan anaerob; gram positis dan gram negative. Sebagian bakteri gram positif
mengalami penghambatan pada konsentrasi 1 -10 mcg/ml, dan bakteri gram negative
pada konsentrasi 0.2 – 5 mcg/ml. Kloramfenikol dapat bekerja sebagai bakterisidal pada
H. influenzae, Niseria meningitides, dan beberapa strain bakteri lain (katzung, 2018).
Resistensi kloramfenikol terjadi akibat bakterei dapat membentuk plasmid-
encoded acethyltransferase yang menyebabkabkan obat mengalami inaktivasi dengan
cara mencegah terjadinya ikatan kloramfenikol dengan ribosom; selain itu, resistensi
dapat terjadi karena penurunan permeabilitas atau mutasi ribosom (Goodman and
Gilman).
Kloramfenikol digunakan secara topikal pada terpi infeksi mata karena memiliki
spectrum luas dan penetrasinya pada jaringan mata serta aqueous humor. Kloramfenikol
tidak efektif melawan infeksi klamidia.
Kloramfenikol menghambat sitokrom hepatic sehingga dapat memperpanjang
efek atau waktu paruh dari obat lain yang menjadi substrat sitokrom tersebut, seperti
Coumadin, phenytoin, chlorproramide, HIV protease inhibitor, rifabutin, dan tolbutamide.
Penggunaan kloramfenikol bersama phenobarbital atau rifampin yang bekerja
menginduksi sitokrom, dapat memperpendek waktu paruh kloramfenikol dan berakibat
pada kadar obat di bawah efek terapi (Goodman and Gilman).

5
BAB III
TINJAUAN BENTUK SEDIAAN
3.1 Pengertian
 Farmakope Indonesia Edisi III
Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi yang mengandung air tidak kurang dari 60%
dan dimaksudkan untuk pemakaian luar.
 Farmakope Indonesia Edisi IV
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut
atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
 Farmakope Indonesia Edisi V
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut
atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai.
 British Pharmacopeia
Krim diformulasikan untuk memperoleh sediaan yang dapat bercampur dengan secret kulit.
Krim harus dapat diaplikasikan pada kulit atau membrane mukosa untuk tujuan perlindungan,
terapi, atau tujuan profilaksis, dimana efek oklusif tidak diperlukan

3.2 Karakteristik Sediaan Krim Secara Umum


Berdasarkan Farmakope Indonesia Edisi III
1. Krim rusak jika terganggu sistem campurannya terutama disebabkan perubahan suhu dan
perubahan komposisi akibat penambahan salah satu fase secara berlebihan atau campuran
dua tipe krim jika zat pengemulsinya tidak bercampur satu sama lain.
2. Zat pengawet yang umum digunakan adalah metil paraben 0.12% - 0.18% atau propil
paraben 0.02% - 0.05%
3. Disimpan dalam wadah tertutup baik atau tube, di tempat sejuk.
4. Penandaan pada etiket harus tertera “Obat Luar”.

3.3 Persyaratan Sediaan Krim


1. Diameter fase terdispersi 0.1 - 100µm
2. Stabil secara fisika dan kimia
3. Fase dalam harus terdispersi homogen pada fase luar
4. Mempunyai konsistensi cukup
5. Mampu melekat pada permukaan kulit
6. Mudah digunakan dan dioleskan

3.4 Bentuk sediaan terpilih


Bentuk sediaan terpilih untuk sediaan topikal kloramfenikol adalah krim O/W, karena:

6
1. Krim O/W mudah tercucikan sehingga tidak ada efek lengket
2. Krim O/W pada pemakaiannya tidak menimbulkan bekas
3. Pelepasan obat (kloramfenikol) dalam sistem krim O/W dapat lebih cepat karena kloramfenikol
larut dalam propilen glikol yang merupaka fase air (fase luar).

7
BAB IV
KRIM KLORAMFENIKOL

4.1 Formula Baku


1. F.M.S ( Formularium Medicamentorum Selectum ) cetakan ketiga ( 1968), P.102
Chloramphenicol 0,300
Cera Lanette 1
Cetioli 0,600
Cetacei 0,050
Cera Alba 0,250
Nipagin 0,050
Talc. venet 0,900
Aq ad m.f 10
unguentum
S.ue

2. F.M.S ( Formularium Medicamentorum Selectum ) cetakan ketiga ( 1968), P.84


Washable ointment base I
R/ Cetylalc 6,4
Stearylalc 6,4
Natrium Laurylsulfat 1,5
Vaselin Album 14,3
Parafin Liquidum 21,4
Aq ad m.f 100
unguentum
S.ue

3. F.M.S ( Formularium Medicamentorum Selectum ) cetakan ketiga ( 1968), P.84


Unguentum hydrophylicum
R/ Natrium Lauryl 1
Sulfat
Propilenglikol 12
Stearylalc 25
Vaselin Alba 25
Nipagin 0,025
Nipasol 0,015

8
Aq ad m.f 100
unguentum
S.ue

4. Oktavia, M.D.dkk., Pengaruh Basis Krim Terhadap Penetrasi


Kloramfenikol Menggunakan Kulit Mencit. Fakultas Farmasi Universitas Andalas.
Formula Krim Kloramfenikol mengandung :
Kloramfenikol 2%
Basis ad 50 g
Formula Basis Krim :
Propilenglikol 5%
Asam Stearat 9%
Lanolin 2%
Parafin Likuid 5%
Setil Alkohol 1%
KOH 0,5%
Aquadest ad 100ml
 Cara Pembuatan Basis Krim

Fase Minyak dimasukkan ke dalam cawan penguap lalu dilebur pada suhu 70° C diatas tangas
air (masa 1). Fasa air dilarutkan dalam air panas (masa 2). Pada suhu yang sama masa 1 dan
masa 2 dicampurkan dalam lumpang panas (70° - 75° C) sambil digerus sampai terbentuk massa
krim yang homogen.

 Cara Pembuatan Krim Kloramfenikol

 Kloramfenikol sebanyak 1 g, digerus halus lalu ditambahkan dasar (basis krim) yang telah jadi
sedikit demi sedikit ad 50 g, digerus sampai homogen. Terakhir, dimasukkan ke dalam wadah
yang tertutup baik dan bermulut lebar kemudian disimpan ditempat yang sejuk.

9
Spesifikasi Sediaan
Bentuk Krim Dipilih bentuk sediaan krim o/w,
Sediaan Kloram dengan bahan aktif berada pada fase
fenikol luar (fase air), dengan pertimbangan
O/W pada krim o/w jika fase air menguap,
maka konsentrasi bahan aktif pada
fase air akan pekat & membentuk
lapisan film pada permukaan kulit. Hal
ini menjadikan obat lebih mudah
terpenetrasi dan terdifusi melewati
stratum corneum.

Kadar 2% Mengacu pada literatur (Farkol UI hal


703)

pH 5,5 ± - masuk dalam rentang pH bahan aktif


0,5 (4,5-7,5)
- tidak mengiritasi kulit, karena pH
menyesuaikan dengan pH kulit (4,5-
6,8)

Ukuran Droplet Untuk memudahkan penetrasi


Partikel 0.1-
100 μm
Reologi Pseudo Supaya krim dapat menyebar ketika
plastik diaplikasikan di kulit

Viskositas 4000- Persyaratan viskositas krim yang baik


40000
CPs
Warna Putih Sesuai dengan basis yang digunakan

Bau Tidak -
berbau
Daya Mudah Krim O/W mudah dicuci dengan air
Sebar Dan menye dan cepat merata pada kulit

10
Kemudaha bar dan
n mudah
Pencucian dicuci
Kemasan 20 g Berdasarkan sediaan yang banyak
Terkecil dipasaran.

11
Basis

NO NAMA BAHAN SIFAT FISIKA DAN KIMIA KETERANGAN


1 Petrolatum (Soft Pemerian : Kuning pucat hingga kuning, 10 – 30 % = emolien,
Parafin/Vaselin dapat/mudah ditembus cahaya, massa yang krim
flavum) lembut, tidak berbau, tidak berasa, tidak 4-25% = emulsi topikal
Sumber : HPE berfluoresensi ketika dilebur
Edisi 6 Hal 481 Kelarutan : Praktis tidak larut dalam Gliserin dan
air. Larut dalam minyak mineral
Titik Leleh : 38-60°C
HLB : 9
Inkompaktibilitas : Bahan yang Inert dan hanya
mempunyai sedikit inkompaktibilitas
2 Parafin Liquidum Pemerian : Cairan minyak kental, tidak 1-32% = emulsi topikal
(mineral oil) berwarna, praktis tidak berbau, terasa sangat 3-60% = Salep mata
Sumber : HPE dingin dan memiliki bau khas petrolatum saat 1-20% = topikal lotion
Edisi 6 Hal 445 dipanaskan 0,1-95% = salep topikal
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam Gliserin dan
air
Titik Didih : > 360°C
HLB : 10,5
Inkompaktibilitas : Oksidator Kuat
Viskositas : 110-230 mPaS
Stabilitas : Teroksidasi jika terpapar panas dan
cahaya, diatasi dengan penambahan antioksidan
BHA,BHT
3 Cera Alba (White Pemerian : Granul halus tembus cahaya, warna
wax) putih/sedikit kuning, tidak berasa, bau mirip
Sumber : HPE cera flava tapi kurang intens, dapat
Edisi 6 Hal 779 meningkatkan konsistensi krim dan
menstabilkan emulsi w/o
Kelarutan : Praktis tidak larut air, larut dalam
minyak lemak
Titik Leleh : 61 - 65°C
HLB : 10 – 16
BJ : 0,95 – 0,96 g/cm3
Bilangan Iodin : 8 - 11
Inkompaktibilitas : Oksidator
Stabilitas : Ketika dipanaskan diatas 150°C,
terjadi esterifikasi dengan menyebabkan
penurunan pH dan peningkatan titik leleh
4 Vaselin Album Pemerian : Bentuk setengah padat, warna 10-30% = emolien,krim
Sumber : HPE putih/putih pucat, tidak berbau dan tidak 4-25% = emulsi topikal
Edisi 6 Hal 484 berasa, tidak berfloresensi terhadap cahaya
Kelarutan : Praktis tidak larut air
Titik Leleh : 38 - 56°C
Bilangan Iodin : 6 - 13
Inkompaktibilitas : Oksidator
5 Asam Stearat Pemerian : Padat,putih/sedikit berwarna kuning, 1-20% = salep dan krim
Sumber : HPE agak mengkilap, padat kristalin/serbuk putih
Edisi 6 Hal 697 kekuningan, sedikit berbau dan terasa berlemak Keamanan : debu asam
Kelarutan : Praktis tidak larut air, larut dalam stearat dapat
Propilen Glikol mengiritasi mata,kulit
Titik Leleh : 69 - 70°C dan membran mukosa
Bilangan Iodin : ≤ 1,5

12
Inkompaktibilitas : Logam Hidroksida dan
mungkin beberapa basa, oksidator dan reduktor
Koefisien Partisi : Log (minyak : air) = 8,2
Basis Terpilih :

1. Vaselin Album
Alasan Pemilihan : Bahan mempunyai konsistensi yang baik jika digunakan sebagai basis
2. Asam Stearat
Alasan Pemilihan : Memiliki sifat yang dapat menurunkan konsistensi viskositas basis yang terlalu padat
sehingga pelepasan obat dari basis lebih mudah
3. Parafin Liquidum
Alasan Pemilihan : Bahan dapat memperbaiki konsistensi krim jika basis terlalu padat serta sering
digunakan dalam pembuatan krim emulsi tipe o/w

13
EMULGATOR

BAHAN KARAKTERISTIK
Cetyl Alcohol Pemerian:
Lilin, serpihan putih, granul, bau khas, dan tidak berasa.
Fungsi:
Coating agent, emulgator, stiffering agent.
Kelarutan:
Praktis tidak larut dalam air, dapat bercampur saat dilebur
dengan lemak dan parafin padat dan cair.
Inkompatibilitas:
Dengan oksidator kuat.
Titik Leleh: 49⁰C
HLB: 15
Viskositas: 7mPas (7 cp) (50⁰C)
Penggunaan :
Emolien: 2-5%
Emulgator: 2-5%
Cetostearyl Alcohol Pemerian:
Putih atau krim berwarna, serpihan, pelet atau granul, rasa manis
khas. Pada pemanasan dapat melebur hingga jernih, tidak
berwarna atau kuning pucat.
Fungsi:
emolien, emulgator, thickening agent.
Kelarutan:
Praktis tidak larut dalam air. Larut dalam minyak.
Inkompatibilitas:
Dengan oksidator kuat.
Titik Didih: 300-360⁰C
HLB: 15,5
Berat Jenis:
0,8 g/cm3 pada 20⁰C

14
Sodium Lauril Sulfate Pemerian:
(SLS) Kristal putih atau kuning pucat, serpihan, atau serbuk dengan
tekstur lembut, bersabun, rasa pahit dan sedikit berbau.
Fungsi:
Surfaktan anionik, detergen, emulgator, enhancer, lubrikan,
pembasah.
Kelarutan:
Mudah larut dalam air.
Inkompatibilitas:
Bereaksi dengan surfaktan kationik.
Titik Leleh: 204-207⁰C
HLB: 40
Berat Jenis:
1,07 g/cm3 pada 20⁰C

15
Penggunaan sebagai Emulgator: 0,5-2,5%
Span 80 Pemerian:
(Sorbitan mono-oleat) Cairan kental berwarna kuning, bau dan rasa khas.
Fungsi:
Dispersing agent, emulgator, surfaktan anionik, solubizing agent,
pembasah.
Kelarutan:
Larut atau terdispersi dalam minyak, tidak larut dalam air,
umumnya terdispersi.
HLB: 4,3
Berat Jenis: 1,01 g/cm3
Viskositas:
970-1080mPas (25⁰C)
Penggunaan:
Kombinasi: 1-10%
Emulgator: 1-15%
Tween 80 Pemerian:
(Polysorbate 80) Bau khas, rasa hangat, rasa agak pahit, pada suhu 25⁰Cberbentuk
larutan minyakberwarna kuning.
Kelarutan:
Larut dalam air, tidak larut dalam minyak mineral.
HLB: 15,0
Viskositas: 425 mPas
Penggunaan:
Kombinasi: 1-10%
Emulgator: 1-15%

Emulgator terpilih : Kombinasi antara SLS dan Cetostearil alkohol; Span 80 dan
Tween 80 Alasan :

- Kombinasi SLS dan Cetostearil alkohol dapat bekerja saling melengkapin sebagai

16
emulgator, karena SLS larut dalam air dan Cetostearil alkohol larut minyak. Serta
Cetostearil alkohol dapat menutupi kekurangan SLS yang bersifat mudah berbuih.

- Kombinasi Span 80 dan Tween 80 dapat meningkatkan efektifitas emulgator karena


Tween berada pada fase air dan Span 80 ada di fase minyak. Campuran keduanya
menghasilkan HLB yang hampir sama dengan HLB butuh fase minyak dalam
sediaan.

17
HUMEKTAN

NAMA BAHAN SIFAT FISIKA KIMIA


Polietilenglikol  Pemerian: cairan kental, tidak berwarna atau sedikit kekuningan,
(HPE 6th ed. Page rasa sedikit terbakar, bau khas lemah
 Kelarutan: larut dalam air, etanol, aseton; praktis tidak larut
dalam eter
 Pemakaian yang umum digunakan: 15%
Propilen glikol  Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
(HPE 6th ed. Page rasa agak manis, higroskopis
592)  Kelarutan : Dapat campur dengan air
 Stabilitas: Stabil pada tempat tertutup (suhu dingin), tidak
stabil pada suhu teroksidasi, stabil bila di campur dengan
gliserin, air.
 Inkompatibilitas: Reagen oksidator seperti KMnO4
 Penggunaan topikal:
Humektan : 15%
Pengawet : 13-30%
Solven atau kosolven: 5-80%
Giserin  Pemerian : Cairan kental, higroskpis, tidak berwarna, tidak
(HPE 6th ed. Page berbau, jernih, mempunyai rasa manis
283)  Kelarutan : larut dengan air dan etanol 95%; praktis tidak larut
dengan benzena, kloroform, minyak
 Penggunaan topikal:
Humektan ≤ 30%
Emollient ≤ 30%
Gel vehicle, aqueous 5-15%
Gel vehicle, non aqueous 50-80%

Humektan terpilih : Propilen glikol

18
Alasan pemilihan : karena PG kompatibel dengan bahan tambahan lain, serta
selain berfungsi sebagai humektan, PG juga berfungsi sebagai enhancer dan
pengawet. Sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan tambahan lain.

19
PENGAWET

Nama Bahan Sifat Fisika Kimia

Methyl Paraben  Pemerian : Kristal tidak berwarna / serbuk Kristal putih,


tidak berbau atau hampir tidak berbau, sedikit berasa
terbakat.
 Kelarutan : air (1:400), air 50𝑜 C (1:50), air 80𝑜 C (1:30),
etanol (1:2), etanol 95% (1:3), eter (1:10), gliserin (1:60).
 Stabilitas : stabil pada pH 3-6 dalam bentuk larutan (kurang
dari 10% terdekomposisi) selama 4 tahun pada suhu kamar,
pada pH 8 atau lebih akan cepat terhidrolisis.
 Inkompatibilitas : inkompatibel dengan bentonit,
magnesium trisiklat, talk, tragacanth, sodium alginate,
minyak essential, sorbitol, atropin. Bereaksi dengan
beberapa jenis gula dan gula alcohol.
 Konsentrasi sebagai pengawet topical 0,02-0,8%
 pH aktivitas : 4-8
 Density (true) : 1,352 𝑔⁄𝑐𝑚3
Propyl Paraben  Pemerian : Kristal, putih, tidak berbau, serbuk tidak berasa.
 Kelarutan : air (1:2500), air 15𝑜 C (1:4350), air 80𝑜 C
(1:225), etanol (1:1,1), etanol 50% (1:5,6), gliserin (1:250),
mudah larut dalam aseton dan eter.
 Stabilitas : stabil pada pH 3-6 dalam bentuk larutan (kurang
dari 10% terdekomposisi) selama 4 tahun pada suhu kamar,
pada pH 8 atau lebih akan cepat terhidrolisis.
 Inkompatibilitas : surfaktan non ionic (tereduksi),
magnesium aluminium trisiklat, besi oksida.
 Konsentrasi : 0,01-0,6%
 pH aktivitas : 4-8

20
Sodium Benzoat  Pemerian : granular / Kristal / serbuk higroskopis, putih,
tidak berbau, atau dengan rasa yang tidak enak, bau khas
benzoin dan rasa seperti salin.
 Kelarutan : air (1:1,8), air 100𝑜 C (1:1,4), etanol 95% pada
suhu 20𝑜 C (1:75), etanol 50% pada suhu 20𝑜 C (1:50).
 Inkompatibilitas : gelatin, garam merkuri, garam logam
berat, garam kalsium.
 pH aktivitas : 2-5
 Density : 1,497-1,527 𝑔⁄𝑐𝑚3 pada suhu 24𝑜 C.
 Konsentrasi : 0,1-0,5%
Propilenglikol  Pemerian : larutan jernih, tidak berwarna, kental, tidak
berbau, rasa manis seperti gliserin dan higroskopis.
 Kelarutan : 1:6 dalam eter, dapat campur dengan aseton,
kloroform, etanol 95%, gliserin dan air.
 Viskositas : 58,1 mPa.S pada suhu 20𝑜 C
 Rentang pemakaian : humektan (15%), kosolven/solven (5-
80%), preservative (15-30%)
 Keamanan : menimbulkan iritasi ringan ( tetapi lebih dari
iritasi yang ditimbulkan oleh gliserin ), menyebabkan iritasi
local jika digunakan pada membran mukosa / digunakan
pada kondisi lembab.
 Stabilitas: stabil dalam wada tertutup baik pada suhu tinggi
dan dalam keadaan terbuka dapat teroksidasi, stabil bila
dicampur dengan etanol 95%, gliserin atau air.
 Inkompatibilitas dengan potassium permanganate (
oksidator ).
 Disimpan dalam wadah yang tertutup baik, terlindung dari
cahaya, dan ditempat sejuk dan kering.

21
Ethanol 96%  Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, mudah mengalir,
( alcohol ) mudah menguap, bau khas.
 Kelarutan: dapat campur dengan kloroform, eter, gliserin
dan air.
 Inkompatibilitas : pada suasana asam, larutan etanol dapat
bereaksi dengan oksidator. Campuran dengan basa dapat
menggelapkan warnanya.
 Konsentrasi : 10% v/v sebagai antimikroba / pengawet.

 Bahan Terpilih : Propilenglikol


 Alasan : Karena propilenglikol selain digunakan sebagai pengawet, mempunyai fungsi
sebagai enhancer dan humektan, sehingga pemakaian eksipien untuk sediaan krim lebih
efisien.

22
Enhancer
No. Nama Bahan Keterangan
 Pemerian : bening, tidak berwarna, kental, praktis tidak berbau dengan rasa manis,
agak tajam menyerupai gliserin
 Kelarutan : larut dalam aseon, kloroform, etanol 95%, gliserin dan air. Larut 1:6
Propilen
dalam eter, tidak larut dalam mineral oil ringan atau fixed oil, tetapi akan
Glikol
melarutkan beberapa minyak esensial
 Titik Didih : 188°C
C3H8O2  Titik Leleh : -59°C
BM = 76,09  Berat Jenis : 1,038 g/cm3 pada 20°C
g/mol  Viskositas : 58,1 mPas (58,1 cP) pada 20°C
 Konsentrasi : sebagai humektan topikal 15%, solven/kosolven topikal 5-80%
 Stabilitas dan Penyimpanan : stabil pada tempat tertutup (suhu dingin), tidak stabil
pada suhu tinggi karena menyebabkan teroksidasi. Stabil bila dicampur dengan
HPE 5th
etanol 95%, gliserin, air. Simpan pada wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya,
p.624-626
dingin, tempat kering.
 Inkompatibilitas : Dengan pengoksidasi seperti potassium permanganat
 Safety : Minimal iritan pada penggunaan topikal
 Pemerian : bening, tidak berwarna, kental, larutan higrokopis, punya rasa manis
0,6x lebih manis dari sukrosa

Gliserin  Kelarutan : sedikit larut dalam aseton, praktis tidak larut dalam benzene, dan
kloroform, larut etanol 95%, larut 1:500 dalam eter, larut 1:11 dalam etil asetat,
larut methanol, larut air, praktis tidak larut dalam minyak
C3H8O3
 Titik Didih : 290°C
BM = 92,09
 Titik Leleh : 17,8°C
2. g/mol
 Berat Jenis : 1,2636 g/cm3 pada 20°C
 Viskositas : 1,143 mPas pada 20°C pada konsentrasi 5% w/w
 Konsentrasi : sebagai humektan < 30%, dan pengawet < 20
th
HPE 5  Stabilitas : Gliserin murni tidak mudah teroksidasi namun terdekomposisi pada
p.301-303 proses pemanasan
 Inkompatibilitas : pengoksidasi kuat (kromium fenoksida, potassium klorat,
potassium permanganat)

Asam Oleat  Pemerian : berwarna kuning sampai coklat pucat, liquid minyak dengan
3.
karakteristik seperti lard dengan bau dan rasa yang khas

23
 Kelarutan : campur dengan benzene, kloroform, etanol 95%, eter, heksan, fixed,
dan minyak menguap. Praktis tidak larut air
 Titik Didih : 286°C pada 13,3 kPa (100 mmHg), dekomposisi pada 80-100
 Titik Leleh : 13-14°C
 Berat Jenis : 0,895 g/cm3
 pH : 4,4 (saturated aqueous solution)
 Viskositas : 26 mPas pada 25°C
 Kegunaan : emulsifying agent, penetraasi kulit
 Stabilitas : Bila terpapar udara, asam oleat secara bertahap menyerap oksigen
sehingga warna menjadi gelap. Pada tekanan atmosfer terkondensasi pada suhu
80-100°C
 Inkompatibilitas : Aluminium, Kalsium, Asam perklorat, logam berat, oksidator

Enhancer yang terpilih adalah


Propilenglikol
Karena propilenglikol mempunyai berbagai macam fungsi selain sebagai enhancer juga sebagai
pengawet, humektan, sehingga efisien dalam penggunaan eksipien

24
25
PERHITUNGAN HLB
Bahan HLB

Span 80 4,3

Tween 80 15,5

Vaselin album 8

Paraffin liquidum 10,5

Asam stearat 16

 Formula 1 Span =
4,86
x 2 = 0,9 g
11,2
6,34
Fase minyak: Vaselin album = 20% Tween = x2 = 1,1 g
11,2

Paraffin liq = 5%  Formula 2


As. Stearat = 10%
= 35%
Fase minyak: Vaselin album = 20%

Penetapan HLB butuh Paraffin liq = 10%

Vaselin album :
20
x8 = 4,57 As. Stearat = 10%
35

Paraffin liq. :
5
x 10,5 = 1,5
= 40%
35
10 Penetapan HLB butuh
As. Stearat : x 16 = 4,57
35
20
+
Vaselin album : x8 = 4,57
40

10,64 10
Paraffin liq. : x 10,5 = 2,62
40
10
Span 4,3 4,86
As. Stearat : 40 x 16 = 4,00

+
10,64 11,19

Tween 15,5 6,34


Span 4,3 4,31

11,2
11,19
Jumlah emulgator yang dibutuhkan
10% x 20 g =2g Tween 15,5 6,89

26
11,4
11,2
Jumlah emulgator yang dibutuhkan Jumlah emulgator yang dibutuhkan
10% x 20 g =2g 10% x 20 g =2g
4,31 4,86
Span = 11,2 x 2 = 0,77 g ≈ 0,8 g Span = 11,2 x 2 = 0,8 g
6,89 6,34
Tween = 11,2 x 2 = 1,23 g ≈ 1,2 g Tween = 11,2 x 2 = 1,2 g

 Formula 3  Formula 4

Fase minyak: Vaselin album = 20% Jumlah emulgator yang dibutuhkan


Paraffin liq = 5% 16% x 20 g = 3,2 g
As. Stearat = 10% 1
SLS = 10 x 3,2 = 0,32 g
= 35% 9
Setostearil alkohol = 10 x 3,2 = 2,88 g
Penetapan HLB butuh
20
 Formula 5
Vaselin album : x8 = 4,57
35
5 Jumlah emulgator yang dibutuhkan
Paraffin liq. : x 10,5 = 1,5
35 14% x 20 g = 2,8 g
10
As. Stearat : 35 x 16 = 4,57 SLS
1
= 10 x 2,8 = 0,28 g
+ 9
Setostearil alkohol = 10 x 2,8 = 2,52 g
10,64
 Formula 6

Span 4,3 4,86 Jumlah emulgator yang dibutuhkan


12% x 20 g = 2,8 g
1
11,19 SLS = 10 x 2,4 = 0,24 g
9
Setostearil alkohol = 10 x 2,4 = 2,16 g
Tween 15,5 6,34

27
FORMULA 1

Fase Minyak
Vaselin album 4 gram
Paraffin liquidum 1 gram
Asam stearate 2 gram
Span 80 0,9 gram Tween 80 1,1 g
Air Bebas CO2 4 ml

Dilebur pada suhu 70°C sampai homogen Dipanaskan pada suhu 75°C
sampai homogen

Mencampur fase minyak ke dalam fase air


dalam mortir hangat

Aduk & gerus ad suhu kamar dan terbentuk


krim
Kloramfenikol 0,4 g + PG 3 g

Aduk ad larut dan homogen

Timbang Akhir

+ Air Bebas CO2 jika berat kurang dari 20 g

28
FORMULA 2

Fase Minyak Fase Air80 1,2 g


Tween
Vaselin Album 4 g
Parafin Liquidum 2 g Air Bebas CO2 3 ml
Asam Stearat 2 g
Span 80 0,8 g

Dilebur pada suhu 70°C sampai homogen Dipanaskan pada suhu 75°C sampai
homogen

Mencampur fase minyak ke dalam fase air dalam


mortir hangat

Aduk & gerus ad suhu kamar dan terbentuk krim

Kloramfenikol 0,4 g + PG 3 g

Aduk ad larut dan homogen

Timbang Akhir

+ Air Bebas CO2 jika berat kurang dari 20 g

29
30
FORMULA 4

Fase minyak Fase air

Vaselin album 4 gram


Paraffin liquidum 1 gram Sodium lauryl sulfat 0.32 gram
Asam stearate 2 gram Aquadest bebas CO2
Cetostearyl alcohol 2.88 gram

Dilebur pada suhu 70ºC di atas


penangas air dalam cawan Dipanaskan hingga 75°C
porselen

Mencampur fase minyak ke dalam


fase air dalam mortar hangat

Aduk ad suhu kamar hingga


terbentuk fase krim

+ Kloramfenikol 0.4 gram + PG


3 gram

Aduk ad larut dan homogen

Timbang bobot
akhir

+ Air bebas CO2 jika berat kurang dari


20 gram
31
FORMULA 5

Fase minyak Fase air

Vaselin album 4 gram


Paraffin liquidum 2 gram Sodium lauryl sulfat 0.28 gram
Asam stearate 2 gram Aquadest bebas CO2
Cetostearyl alcohol 2.52 gram
JSJNJSJJS

Dilebur pada suhu 70ºC di


atas penangas air dalam
cawan porselen Dipanaskan hingga 75°C

Mencampur fase minyak ke


dalam fase air dalam mortar
hangat

Aduk ad suhu kamar hingga


terbentuk fase krim

+ Kloramfenikol 0.4 gram


+ PG 3 gram

Aduk ad larut dan


homogen

Timbang bobot
akhir

+ Air bebas CO2 jika berat


kurang dari 20 gram

32
FORMULA 6

Vaselin album 4 gram Sodium Lauryl Sulfat 0,24


Paraffin liquidum 1 gram gram
Asam stearate 2 gram Aqua bebas CO2
Cetostearyl alcohol 11,76 gram

Dipanaskan hingga 75°C


Dilebur pada suhu 70°C di
atas penangas air dalam
cawan porslen

Mencampur fase minyak ke


dalam fase air dalam mortar
hangat

Aduk ad suhu kamar hingga


terbentuk fase krim

Kloramfenikol 0,4 gram


Propilenglikol 3 gram

Aduk ad larut dan homogen

Timbang bobot akhir sediaan

+ Air bebas CO2 jika berat


kurang dari 20 gram

33
FORMULA 1 SCALE UP

NAMA BAHAN JUMLAH

Kloramfenikol 7 gram

Vaselin album 70 gram

Paraffin liquidum 17,5 gram

Asam sterat 35 gram

Span 80 15,75 gram

Tween 80 19,25 gram

Propilen glikol 52,5 gram

Aquades Ad 350 gram

34
FORMULA 1 SCALE UP

Vaselin album 70 gram Tween 80 19,25gram


Paraffin liquidum 17,5 gram Aqua bebas CO2 150,15 gram
Asam stearate 35 gram
Span 80 15,75 gram

Dipanaskan hingga 75°C


Dilebur pada suhu 70°C di
atas penangas air dalam
cawan porslen

Mencampur fase minyak ke


dalam fase air dalam mortar
hangat

Aduk ad suhu kamar hingga


terbentuk fase krim

Kloramfenikol 7 gram
Propilenglikol 52,5 gram

Aduk ad larut dan homogen

Timbang bobot akhir sediaan

35
RANCANGAN EVALUASI
1. ORGANOLEPTIS
Alat : Pengamatan visual dengan panca indera.
a. Konsistensi/ tekstur sediaan
b. Warna sediaan
c. Bau sediaan.

2. PENENTUAN pH
Prosedur :
a. Ditimbang 1 gram sediaan ditambah air bebas CO2 sampai volume 30 mL, aduk
ad.homogen ( cek fasa air).
b. Electrode dicuci dengan air sampai bersih lalu dikeringkan. Dilakukan kalibrasi dengan
larutan dapar standar pH tertentu (sekitar pH sediaan yang akan diukur dan spesifikasi
suhu disesuaikan).
c. Electrode dibersihkan, dibilas dengan air dan dikeringkan.
d. Ukur pH sediaan, dicatat angka yang terbaca.
e. Dilakukan koreksi terhadap pH (apabila ada perbedaan pH larutan standar pada
spesifikasi dengan tampilan pada alat).
f. Dilakukan replikasi sebanyak tiga kali.

INDIKATOR UNIVERSAL
- Oleskan krim pada indikator universal.
- Kemudian baca pH pada scale

3. PENENTUAN VISKOSITAS
Alat : Viskosimeter Bob and Cup
Prosedur :
a. Sediaan + 50 gram dimasukkan ke dalam wadah (cup).
b. Dipilih rotor yang sesuai dan dipasang pada alat.
c. Rotor dimasukkan perlahan, diusahakan tinggi sediaan mencapai leher rotor.

36
d. Alat dijalankan.
e. Dibaca angka yang ditunjukkan oleh jarum pada alat.
f. Dilakukan replikasi tiga kali

4. PENENTUAN DAYA SEBAR

Alat : Lempeng kaca berskala


Prosedur :
a. Ditimbang 1 gram zat.
b. Zat diletakkan diantara dua lempeng kaca berskala.
c. Bagian atas lempeng kaca diberi beban.
d. Dicatat diameter penyebaran.
e. Berat beban ditingkatkan secara teratur.
f. Dicatat diameter penyebaran setiap penambahan beban.(dengan waktu terrtentu secara
teratu
g. Penambahan berat beban dihentikan saat sediaan berhenti menyebar.
h. Gambar profil penyebarannya (kurva antara berat beban vs diameter lingkaran
penyebaran).
i. Dihitung harga slopenya (Harga slope menunjukkan besarnyakemampuan menyebar
suatu sediaan akibat penambahan suatu beban) kemampuan menyebar sediaan (daya
sebar).

5. UJI ASEPTABILITAS SEDIAAN


Prosedur :
a. Ditentukan kriteria aseptabilitas yang akan diuji.
b. Lakukan skoring angka pada masing-masing kriteria.
c. Gunakan subjek dengan kriteria tertentu.
d. Responden harus mengisi / menandatangani persyaratan menjadi subjek (Form Informed
Consent).
e. Jelaskan hal-hal yang harus dilakukan subjek supaya hasil tidak bias.

37
f. Dilakukan perhitungan data hasil uji untuk setiap kriteria, lakukan dengan skor masing-
masing.
g. Tampilkan data dalam bentuk gambar/grafik.
h. Keputusan diambil berdasarkan analisis statistik deskriptif.

6. UKURAN DROPLET
Alat : Mikroskop optic.
Prosedur :
a. Siapkan mikroskop.
b. Kalibrasi lensa okuler menggunakan objek berskala terstandard
c. Letakkan sampel di objek glass, beri pewarna sudan untuk sediaan tipe o/w dan pewarna
metilen blue untuk sediaan w/o, tutup dengan gelas kaca.
d. Amati dan catat ukuran droplet (fasa dalam) sebayak 300 data.
e. Hitung diameter panjang rata-rata

7. TIPE EMULSI
A. Dye Solubility Test
Sediaan diberi pewarna metilen blue, amati fasa luar dan fasa dalam di bawah mikroskop,
jika fase dalam berwarna biru dan fasa luar tidak maka sediaan tipe w/o
Sediaan diberi pewarna sudan III, amati fasa luar dan fasa dalam di bawah mikroskop,
jika fase dalam berwarna orange dan fasa luar tidak maka sediaan tipe o/w.

B. Drop Diluent Test


Encerkan sediaan dengan air bebas CO2. Bila sediaan terencerkan secara homogen, maka
tipe emulsi adalah tipe o/w, tetapi jika sediaan memisah, maka tipe emulsi adalah tipe
w/o.
C. Conductivity Test
Sediaan digunakan sebagai penghantar listrik yang dihubungkan dengan lampu, jika
lampu menyala maka tipe emulsi adalah tipe o/w, tetapi jika lampu tidak menyala maka
tipe w/o.

38
8. UJI PELEPASAN
Alat : Sel difusi membrane selofan dan patel disolusi Erweka.
Prosedur :
a. Buat kurva baku bahan aktif
- Membuat larutan induk bahan aktif.
- Membuat larutan baku kerja dengan cara mengencerkan larutan baku induk.
- Ambil serapannya dengan spektrofotometer.
- Buat kurva yang menghhubungkan kadar dengan serapan lalu tentukan persamaan
regresinya.
b. Suhu percobaan 37± 0.5 oC dengan kecepatan pengadukan 100 rpm
c. Siapkan buffer fosfat pH 6,0 sebanyak 500 ml sebagai media reseptor volume sampling
5,0 ml.
d. Masukkan sejumlah tertentu sampel ke dalam sel difusi, lalu masukkan ke dalam media
disolusi, jalankan alat.
e. Lakukan sampling pada 0, 5, 10, 15, 30, 45, 60, 90, 120 menit dengan volume sampling 5
ml (sampling dilakukan di tempat yang sama).
f. Gantikan media disolusi yang terambil (5,0 ml) dengan media disolusi yang baru.
g. Sampel diamati dengan spektrofotometer dengan λmaks bahan aktif obat, akan diperoleh
absorbansi sampel.
h. Masukkan data absorbansi sampel ke dalam persamaan kurva baku sehingga diperoleh
kadar bahan obat (μg/ml)
i. Hitung jumlah bahan obat yang terlepas daalm media (μg) dan jumlah bahan obat yang
terlepas per satuan luas (μg/cm2)
j. Buat kurva jumlah kumulatif obat yang terlepas per satuan luas vs t
k. Tarik garis linier pada saat sudah tercapai steady state
l. Slope yang didapat adalah harga fluks (μg/cm2.menit)

9. UJI PENETRASI

Alat : Sel difusi modifikasi bilups dan patel, alat uji disolusi Erweka.
Prosedur :

39
a. Buat kurva baku bahan aktif dalam buffer fosfat pH 6.0
b. Siapkan membrane difusi yaitu membrane milipore 0,45 μm, sebelum digunakan
membrane diimpregnasi dalam IPM selama 1 jam lalu dikeringkan dengan cara diapitkan
di Antara dua kertas saring selama 24 jam, lalu ditimbang sampai berat konstan.
c. Siapkan buffer fosfat pH 6,0 sebanyak 500 ml sebagai media reseptor
d. Suhu percobaan 37± 0.5 oC dengan kecepatan pengadukan 100 rpm
e. Pasang membrane milipore, masukkan sampel ke dalam sel difusi lalu masukkan ke
dalam media disolusi.
f. Nyalakan alat uji.
g. Lakukan sampling pada 0, 5, 10, 15, 30, 45, 60, 90, 120 menit dengan volume sampling 5
ml (sampling dilakukan di tempat yang sama).
h. Gantikan media disolusi yang terambil (5,0 ml) dengan media disolusi yang baru.
i. Sampel diamati dengan spektrofotometer dengan λmaks bahan aktif obat, akan diperoleh
absorbansi sampel.
j. Masukkan data absorbansi sampel ke dalam persamaan kurva baku sehingga diperoleh
kadar bahan obat (μg/ml)
k. Buat kurva jumlah kumulatif obat yang terlepas per satuan luas vs √
l. Hitung fluks bahan aktif, permeabilitas membrane, dan lag time.

10. PENETAPAN KADAR ( USP 32, hal.209 )


Alat : HPLC
Prosedur :
b. Preparasi Larutan Standar
- Memindahkan 40 mg kloramfenikol standar. Menimbang secara akurat kemudian
memasukkan ke labu ukur 100,0 mL.
- Melarutkan (1) dengan methanol ad.tanda, lalu kocok.
- Memindahkan 10,0 mL (2) ke labu ukur 50,0 mL, dilarutkan dengan fase gerak
ad.tanda, kocok.
- Menyaring dengan kertas saring milipore 0,4 m, hasil penyaringan digunakan sebagai
standar.
c. Preparasi Larutan Uji

40
- Memindahkan sampel yang telah ditimbang secara akurat dan kuantitatif.
- Menambahkan ± 80 mL etanol, lalu sonifikasi 10 menit.
- Mendinginkan (2) sehingga mencapai temperature kamar.
- Menambahkan methanol pada (3) ad.tanda, homogenkan.
- Memindahkan 10,0 mL (4) ke dalam labu ukur 50,0 mL lalu tambah dengan fasa gerak
ad.tanda, homogenkan.
- Menyaring (6) dengan kertas saring milipore 0.5 μm. hasil penyaringan digunakan
sebagai larutan uji

11. UJI POTENSI ANTIBIOTIKA


a. Persiapan Media Uji
- Peptin P 6,0 g
- Digestipolikreatikasein 4,0 g
- Ekstrak ragi 5,0 g
- Glukosa P 1,0 g
- Agar P 15,0 g
- Air P 1000,0 mL
Larutkan ad 1 L, atur pH dengan NaOH atau HCl hingga sesudah sterilisasi uap
air, pH media disolusi dengan yang tertera (pH setelah sterilisasi 6,6 ± 1). b. Menyiapkan
larutan pembanding, digunakan pelarut awal alcohol ( 10 μg/mL).
b. Penyiapan Baku
- Melarutkan sejumlah baku pembanding kloramfenikol yang ditimbang seksama
(tidak perlu dikeringkan) dalam pelarut yang terkena pada penimbangan.
- Mengencerkan kadar hingga yang dikehendaki.
- Menyiapkan dalam lemari pendingin dan digunakan pada waktu yang
dikehendaki,
- Saat penetapan dibuat pengenceran dan larutan persediaan 5 atau lebih larutan
pengujian dengan kadar bertahap (gunakan pengenceran akhir yang dinyatakan
dan diurutkan dengan dosis yang ditentukan ).
c. Menyiapkan contoh

41
- Membuat larutan persediaan serta encerkan larutan uji dengan pengenceran akhir
yang sama dengan baku.
- Penetapan dengan 5 kadar baku, menentukan hanya 2 tingkat dosis.
d. Penyiapan Inokula
- Inokulasi bahan segar E.coli dan agar miring (biarkan kepermukaan 250 mL
media agar I dalam sebuah botol saux).
- Menyebarkan suspensi secara rata ke atas permukaan agar dengan berisi butiran
kasa steril di inkubasi suhu 32-35o C selama 24 jam.
- Pada akhir periode, dibuat suspensi persediaan dengan mengumpulkaan biakan
permukaan ke dalam 50 mL larutan NaCl P 0.9% steril.
- Mengencerkan sebagian suspense persediaan dengan volume air steril atau larutan
NaCl P 0.9% steril.
- Ukur transmitan pada 500 nm
- Atur perbandingan dengan transmitan 25% terhadap blanko (NaCl P 0.9% steril).

42
Hasil Evaluasi Sediaan
1. Organoleptis
a. Warna
Kriteria Skor (x) Responden (n) n.x

Sangat berwarna 1 0 0
Kuning 2 0 0
Cukup kuning 3 0 0
Sedikit kuning 4 0 0
Putih 5 20 100
Jumlah 100
b. Bau
Kriteria Skor (x) Responden (n) n.x
Tidak berbau 5 3 15
Sedikit berbau 4 11 44
Cukup berbau 3 3 9
Berbau agak kuat 2 3 6
Berbau kuat 1 0 0
Jumlah 74
c. Tekstur
Kriteria Skor (x) Responden (n) n.x
Sangat greasy 1 1 1
Greasy 2 6 12

Cukup greasy 3 7 21
Sedikit greasy 4 3 12
Tidak greasy 5 3 15
Jumlah 61

Kesimpulan:
a. Warna : putih, memenuhi spesifikasi

43
b. Bau : sedikit berbau, tidak memenuhi spesifikasi

c. Tekstur : cukup greasy, tidak memenuhi spesifikasi

2. pH Sediaan
pH spesifikasi : 5,5 ± 0,5
Alat : pH meter
pH sediaan :

Replikasi I II III Rata-rata


Ph 4.46 4.28 4.26 4.32

Kesimpulan: pH sediaan krim kloramfenikol 4.32 sehingga tidak memasuki spesifikasi

3. Daya Sebar
Berat Replikasi Rata-Rata Diameter
Beban Replikasi 1 Replikasi 2 Replikasi 3 (cm)
(gram) Diameter (cm) Diameter (cm) Diameter (cm)

0 5,8 6,2 6,1 6


5 5,9 6,5 6,5 6,3
10 6 6,8 6,8 6,5
15 6,2 7,1 6,9 6,7
20 6,6 7,2 7 6,9
25 6,7 7,3 7,1 7
30 6,7 7,3 7,1 7
50 6,8 7,4 7,2 7,1
75 6,8 7,4 7,2 7,1
Berat Penutup (gram) 298,82

Persamaan Regresi Y=0,0130x + 6,4009 R= 0,7921

44
Uji Daya Sebar
7,2

6,8

6,6

6,4

6,2

5,8
0 20 40 60 80

Kesimpulan : Dari hasil grafik diatas dapat dilihat harga slopenya 0.013, harga ini menunjukkan kapasitas penyebaran
sediaan. Semakin besar harga slopenya maka kemampuan menyebarnya juga semakin mudah. Dari hasil tersebut
diatas dapat dikatakan bahwa sediaan mudah menyebar sehingga pengolesan juga mudah

4. Viskositas
Spesifikasi yang diinginkan : 4000 – 40.000 cPas
Rotor yang digunakan : nomor 2
Krim Kloramfenikol Rata-rata
Replikasi I II III
Viskositas 60 dPas 60 dPas 50 dPas 56.667 dPas

Standar deviasi (SD) = 5,5


Kesimpulan : Viskositas sediaan 56.667 dPas (566.7 cPas) ± 5,5 dPas = 5000 centiPoise sehingga sediaan
memenuhi spesifikasi yang diinginkan.

5. Akseptabilitas
a. Kemudahan pengolesan
Kriteria Skor (x) Responden (n) n.x
Tidak bisa dioleskan 1 0 0
Kurang bisa dioleskan 2 0 0
Cukup bisa dioleskan 3 0 0
Bisa dioleskan 4 10 40

45
Sangat mudah dioleskan 5 10 50
Jumlah 90
b. Kelembutan
Kriteria Skor (x) Responden (n) n.x
Tidak lembut 1 0 0
Kurang lembut 2 0 0
Cukup lembut 3 0 0
Lembut 4 14 56
Sangat lembut 5 6 30
Jumlah 86

c. Kemudahan pencucian
Kriteria Skor (x) Responden (n) n.x
Tidak mudah dicuci 1 0 0
Kurang mudah dicuci 2 8 16
Cukup mudah dicuci 3 6 18
Mudah dicuci 4 4 16
Sangat mudah dicuci 5 2 10
Jumlah 60

Kesimpulan:
a. Kemudahan pengolesan : mudah dioleskan, masuk sepesifikasi

b. Kelembutan : lembut, masuk spesifikasi

c. Kemudahan pencucian : cukup mudah dicuci, tidak masuk spesifikasi

6. Penentuan tipe emulsi


a. Dry solubility test

46
 Pewarna yang digunakan : metylen blue
 Hasil : yaitu fase luar berwana biru dan fase dalam tidak berwarna yang
bermakna bahwa sediaan merupakan emulsi tipe O/W

b. Drop dillution test

 Sediaan diencerkan dengan air bebas CO2 dan sediaan dapat tercampur secara
homogeny. Maka sediaan tersebut merupakan tipe O/W. Dari hasil
menunjukkan larut

7. Penentuan ukuran droplet

Perbesaran lensa mikroskop untuk kalibrasi:


- Okuler : 10x
- Objective : 10x

Kalibrasi micrometer okuler:

10 skala okuler = 9,6 skala objectif


0,5 0,2 0,3 0,4 0,4 0.3 0.5 0,5 0,5 0,5 0,2 0,2 0,5 0,3 0,3

0,4 0,3 0,2 0,3 0,3 0,4 0,3 0,3 0,3 0,2 0,4 0,3 0,4 0,3 0,4

0,2 0,2 0,5 0,2 0,3 0,4 0,5 0,3 0,5 0,4 0,5 0,2 0,5 0,3 0,4

0,4 0,4 0,4 0,3 0,3 0,2 0,3 0,3 0,3 0,2 0,4 0,4 0,3 0,3 0,4

0,3 0,3 0,3 0,4 0,4 0,3 0,5 0,5 0,5 0,3 0,2 0,5 0,2 0,5 0,4

47
0,2 0,4 0,5 0,3 0,4 0,5 0,4 0,3 0,2 0,4 0,5 0,5 0,4 0,3 0,4

0,4 0,2 0,4 0,3 0,4 0,3 0,4 0,4 0,4 0,5 0,2 0,3 0,3 0,3 0,3

0,4 0,5 0,5 0,2 0,4 0,3 0,5 0,3 0,3 0,3 0,3 0,4 0,3 0,3 0,4

0,3 0,5 0,4 0,3 0,3 0,5 0,4 0,4 0,4 0,5 0,2 0,3 0,3 0,4 0,4

0,4 0,5 0,5 0,5 0,5 0,3 0,4 0,3 0,4 0,4 0,4 0,4 0,3 0,4 0,3

0,2 0,2 0,3 0,3 0,2 0,5 0,3 0,4 0,3 0,4 0,4 0,3 0,3 0,4 0,3

0,3 0,4 0,3 0,3 0,4 0,2 0,3 0,4 0,5 0,3 0,3 0,5 0,3 0,4 0,3

0,2 0,4 0,4 0,5 0,3 0,3 0,4 0,5 0,5 0,4 0,5 0,2 0,2 0,4 0,4

0,3 0,4 0,3 0,4 0,5 0,4 0,3 0,3 0,4 0,5 0,3 0,3 0,4 0,3 0,3

0,3 0,2 0,3 0,3 0,4 0,2 0,2 0,4 0,4 0,5 0,2 0,4 0,5 0,5 0,3

0,3 0,4 0,4 0,3 0,5 0,2 0,2 0,2 0,3 0,4 0,4 0,4 0,5 0,3 0,3

0,2 0,4 0,5 0,4 0,3 0,4 0,5 0,5 0,2 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3

0,4 0,5 0,5 0,5 0,4 0,2 0,4 0,3 0,4 0,3 0,4 0,2 0,4 0,5 0,5

0,3 0,5 0,3 0,4 0,4 0,4 0,3 0,4 0,5 0,5 0,4 0,5 0,4 0,4 0,4

0,2 0,4 0,5 0,4 0,5 0,5 0,2 0,5 0,3 0,5 0,2 0,4 0,5 0,4 0,5

48
1 skala okuler = 0,96 skala objectif

1 skala objektif = 0,01mm = 10 μm

1 skala okuler = 0,0096 mm = 9,6 μm

Skala Diameter Jumlah


0,2 0,2 x 9,6 x (10/10) = 1,92 45
0,3 0,3 x 9,6 x (10/10) = 2,88 91
0,4 0,4 x 9,6 x (10/10) = 3,84 98
0,5 0,5 x 9,6 x (10/10) = 4,80 66

Rentang = nilai max – nilai min


= 4,8 – 1,92 = 2,88

Jumlah kelas = 1 + 3,3 log n


= 1 + 3,3 log 300 = 9,17 dibulatkan ke atas 10 kelas
Interval kelas = rentang : jumlah kelas = 2,88 : 10 = 0,29
Jarak ukuran (d) Rata-rata Ʃ nd nd2 nd3 nd4
jarak partikel
ukuran (d)
1,92 – 2,21 2,06 45 92,7 140,96 393,38 810,37
2,21 – 2,50 2,36 0 0 0 0 0
2,50 – 2,79 2,64 0 0 0 0 0
2,79 – 3,08 2,94 91 267,54 706,57 2312,33 6798,78
3,08 – 3,37 3,22 0 0 0 0 0
3,37 – 3,66 3,52 0 0 0 0 0
3,66 – 3,95 3,80 98 372,40 1415,12 5377,46 20434,33
3,95 – 4,24 4,10 0 0 0 0 0
4,24 – 4,53 4,38 0 0 0 0 0
4,53 – 4,82 4,68 66 308,88 1445,56 6765,21 31661,20

49
Ʃ= 300 1041,52 3838,21 14848,56 59704,68

spesifikasi sediaan : ukuran partikel 0,1 – 100 µm


kesimpulan : memenuhi kriteria spesifikasi produk

PEMBAHASAN

Pada praktikum ini, dibuat sediaan semisolida, yaitu krim kloramfenikol. Tipe krim yang
terpilih adalah krim bertipe O/W, karena bahan aktif larut propilenglikol, yang berada pada fase
air (fase luar) sehingga jika air menguap maka bahan aktif akan terkonsentrasi dan membentuk
lapisan film pada permukaan kulit. Hal ini dapat memudahkan penetrasi obat. Selain itu, alasan
pemilihan krim tipe O/W adalah krim O/W dapat lebih mudah tercucikan air dibandingkan
dengan krim tipe W/O. Hal ini berkaitan dengan akseptabilitas sediaan, yang ditujukan untuk
obat jerawat.
Bahan aktif Kloramfenikol terdapat dua bentuk, yaitu dalam bentuk base dan bentuk
esternya. Pada formulasi kali ini, bahan aktif yang digunakan adalah Kloramfenikol base karena
sediaan yang akan diformulasi adalah sediaan topikal, sehingga bahan aktif Kloramfenikol base
dapat langsung bekerja. Jika yang digunakan adalah bentuk esternya, maka bahan aktif yang

50
berbentuk ester ini memerlukan aktivasi oleh enzim terlebih dahulu, baru akan menjadi
Kloramfenikol base.
Kelompok kami memformulasikan 6 formula dengan beberapa komponen, yaitu bahan
aktif, basis minyak, basis air, emulgator, humektan, dan pengawet. Untuk membandingkan satu
formula dengan formula lain, kami menggunakan emulgator yang berbeda antara formula 1-3
dan formula 4-6. Pada formula 1-3, digunakan emulgator span 80 dan tween 80, sedangkan pada
formula 4-6 digunakan emulgator cetostearl alkohol dan sodium lauryl sulfate (SLS).
Pada formula 1 dan 3 dilakukan perbandingan persentase emulgator, sedangkan pada formula 2
dan 3 dilakukan perbandingan pada salah satu basis, yaitu parafin liquidum. Pada formula 4-6,
dilakukan perbandingan persentase emulgator.
Dari hasil optimasi, didapatkan hasil bahwa formula yang mendekati spesifikasi adalah formula I
dengan hasil berwarna putih, mudah dicuci, lembut dan pH mendekati pH spesifikasi sediaan.
Setelah didapatkan formula terpilih, selanjutnya dilakukan scale up. Formula yang ada dibuat 15
kalinya sehingga didapatkan 300 g. Pada scale up, fase air yang digunakan ditambah sesuai
jumah air yang hilang/menguap.
Setelah sediaan jadi, dilakukan proses evaluasi. Evaluasi ini bertujuan untuk menguji
kesesuaian sediaan dengan spesfikasi yang telah dirancang sebelumnya dan menguji stabilitas
serta ketahanan suatu sediaan. Evaluasi yang dilakukan : pemeriksaan organoleptis
akseptabilitas, pH, viskositas, uji daya sebar, pengukuran droplet, dan uji tipe emusi. Pada
evaluasi pH dilakukan 3 kali replikasi.
Evaluasi organoleptis dan aseptabilitas dilakukan pada 15 responden. Evaluasi organoleptis
meliputi pengamatan warna, bau, dan tekstur. Untuk uji aseptabilitas meliputi pengamatan
kemudahan pengolesan, kelembutan, sensasi yang ditimbulkan, dan kemudahan dicuci. Dari
hasil evaluasi yang dilakukan warna, tekstur, dan bau sediaan telah sesuai dengan spesifikasi
kecuali pada spesifikasi bau dimana terdapat sedikit bau pada sediaan, sehingga aspek bau tidak
memenuhi spesifikasi sediaan. Hal ini dapat disebabkan karena jumlah basis semisolida yang
digunakan yaitu vaselun digunakan pada presentase yang terlalu besar, maka dari itu timbul bau
seperti bau vaselin. Pada evaluasi aseptabilitas, aspek kemudahan pengolesan, kelembutan,
sensasi yang timbul, dan kemudahan dicuci sesuai dengan spesifikasi sediaan yang diinginkan.
Evaluasi pH yang dilakukan sebanyak tiga kali replikasi diperoleh hasil rata-rata
memiliki ph sediaan 4,3 dimana pH ini tidak memenuhi spesifikasi sediaan yaitu 5,5 +- 0,5. Hal

51
ini dapat disebabkan karena air bebas CO2 masih bersifat asam yaitu pada sekita 5. Sehingga
dapat menyebabkan pH sediaan menjadi turun dari pH semestinya. Begitu pula terjadi
kemungkinan kesalahan praktikan saat membuat air bebas CO2 tersebut pada mendidih atau
tidaknya air saat dipanaskan, sehingga dapat menyebabkan tidak seluruhnya CO2 yang
terkandung keluar secara menyeluruh.
Evaluasi uji daya sebar dilakukan dengan meletakan 1 gram sediaan di antara dua lapis
kaca yang kemudian diatas kaca tersebut diletakkan beban dari yang terkecil (tidak diberi beban
sama sekali) dan terus ditingkatkan hingga tidak ada perubahan diameter (tidak menyebar lagi).
Dari hasil evaluasi, sediaan menyebar dengan cepat, dan diameter tidak mengalami perubahan
saat diberi beban 75 gram dengan diameter rata-rata 7.1 cm. Evaluasi viskositas juga dilakukan
pada sediaan dimana viskositas sediaan berpengaruh pada efektifitas bahan aktif mampu lepas
dari basis dan mampu berpenetrasi ke kulit. Evaluasi viskositas dilakukan dengan menggunakan
alat Viskosimeter cup and bob dan diperoleh viskositas sebesar 566,6 dPas. Evaluasi ukuran
droplet juga dilakukan pada sediaan krim, karena pada krim juga menggunakan sistem emusi,
sehingga evaluasi ini diperlukan untuk mengukur diameter dari droplet yang akan berpengaruh
pada kestabilan sistem. Hasil dari evaluasi ini didapatkan diameter droplet dari sediaan yang kita
buat adalah sebesar ..... Selain pengukuran droplet, dibutuhkan evaluasi penentuan tipe emulsi,
hal ini bertujuan untuk melihat hasil krim yang sudah kami buat memiliki tipe yang sesuai
dengan spesifikasi yang sudah ditetapkan.
Evaluasi ini dibagi menjadi dua macam pengujian yaiitu dengan metode dye solubility
test dan drop dillution test. Dari kedua macam pengujian didapatkan hasil bahwa krim yang
terbentuk adalah krim O/W yang sesuai dengan spesifikasi sediaan yang telah ditetapkan.

52
KESIMPULAN
Kloramfenikol base dibuat sediaan krim bertipe o/w dengan tujuan agar bahan aktif
terkonsentrasi dan membentuk lapisan fim di permukaan kulit. Sehingga akan memudahkan
penetrasi obat ke dalam kulit.
Formula terpilih adalah formula 1 dengan hasil yang paling mendekati spesifikasi, yaitu
berwarna putih, mudah dicuci, lembut dan pH mendekati pH spesifikasi sediaan.
Hasil evaluasi:
a. Organoleptis
- Warna: putih, memenuhi spesifikasi
- Bau: sedikit bau, tidak memenuhi spesifikasi
- Tekstur: cukup greasy, tidak memenuhi spesifikasi

b. Akseptabilitas
- kemudahan pengolesan: mudah dioleskan, memenuhi spesifikasi
- kelembutan saat dioleskan: lembut, masuk spesifikasi
- kemudahan pencucian: cukup mudah dicuci, tidak masuk spesifikasi

c. Daya sebar
Sediaan mudah menyebar, sehingga pengolesan juga mudah.

d. Viskositas
Viskositas= 56,6 dPas memenuhi spesifikasi.

e. Penentuan tipe emulsi


Fase luar berwarna biru, dan fase dalam tidak berwarna yang bermakna bahwa sediaan
tipe o/w.
Sediaan dapat tercampur secara homogen saat diencerkan dengan air bebas CO2.
Sehingga, disimpulkan bahwa sediaan bertipe o/w.

f. Penentuan ukuran droplet


3,68 µm, memenuhi kriteria spesifikasi.

g. pH
pH sediaan krim kloramfenikol 4,32, tidak memenuhi spesifikasi.

53
54
55
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C. 2013. Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery System 10thEdition
British Pharmacopoeia 2009. London: The Stationery Office

British Pharmaceutical Codex 12th Edition


Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012.
Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta:


Departemen Kesehatan Republik Indonesia

Formularium der Nederlandse Apotekers

Husa’s Pharmaceutical Dispensing

ISFI. 1968. Formularium Medicamentorum Selectum. Surabaya: ISFI

Martindale The Complete Drug Reference 28th Edition

Rowe, R.C. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Edition. USA: Pharmaceutical
Press and American Pharmacists Association

Sweetman, C.S. 2009. Martindale The Complete Drug Reference 36th Edition. USA:
Pharmaceutical Press

56
57

Anda mungkin juga menyukai