Anda di halaman 1dari 21

DINDING SEL

(TUMBUHAN DAN BAKTERI)

Makalah

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metabolisme Sel


Dosen Pengampu : Prof. Dr. Retno Sri Iswari, S.u.
Dr. Nugrahaningsih Wh, M.Kes.

Disusun Oleh:

Ayu Afridah (0402518032)

Aini Sa’adah (0402518045)

PENDIDIKAN IPA KONSENTRASI BIOLOGI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Sholawat serta
salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Rosulullah SAW, keluarga,
sahabat,dan para pengikutnya hingga sampai kepada kita selaku umatnya.
Atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat
pada waktunya dan tentunya mengandung manfaat bagi para mahasiswa khususnya
mahasiswa jurusan Pendidikan IPA Konsentrasi Biologi. Penulisan makalah ini di
buat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Metabolisme Sel” dan makalah
ini berisikan tentang“Dinding Sel ”.
Penulis ucapkan terima kasih kepada Dosen pengampu sebagai pengajar mata
kuliah Metabolisme Sel yakni Prof.Dr. Retno Sri Iswari, S.u. dan Dr. Nugrahaningsih
Wh, M.Kes. Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya mendukung untuk
kesempurnaan dikesempatan yang akan datang sangat diharapkan. Harapan penulis
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis dan
umumnya bagi para pembaca.

Semarang, Maret 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I: PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Penulisan 1

BAB II: PEMBAHASAN

A. Dinding Sel Tumbuhan 2


1. Fungsi Dinding Sel 2
2. Komponen Dinding Sel Tumbuhan 3
3. Dinding Sel Primer dan Dinding sel Sekunder 7
4. Pertumbuhan Dinding Sel 9
B. Dinding Sel Bakteri 10
1. Komponen Dinding Sel Bakteri 10
2. Struktur Dinding Sel Bakteri 12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 17

DAFTAR PUSTAKA 18

iii
ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Pendahuluan
Sel terdiri dari organel-organel sel yang masing-masing memiliki tugas khusus. Salah
satu organel sel yang memiliki tugas yang tak kalah penting tersebut adalah Dinding sel.
Dinding sel merupakan sebuah membran yang terbentuk pada bagian luar dari membran sel
yang berperan sangat penting dalam membentuk struktur sel yang kaku, memberi kekuatan
dan perlindungan kepada sel terhadap tekanan mekanik.
Dinding sel adalah struktur di luar membran plasma yang membatasi ruang bagi sel
untuk membesar. Dinding sel merupakan ciri khas yang dimiliki tumbuhan, bakteri, fungi
(jamur), dan alga, meskipun struktur penyusun dan kelengkapannya berbeda. Hewan dan
protista kebanyakan tidak memiliki dinding sel.
Berdasarkan penjelajasan diatas maka penulis tertarik untuk membahas tentang struktur,
komponen penyusun dari organel tersebut, fungsi, dan mekanisme kerja, khusunya pada
Dinding sel, maka makalah ini disusun dengan tujuan meningkatkan pemahanan mahasiswa
tentang Dinding Sel.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembahasan mengenai dinding sel ini adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana Fungsi Dinding Sel Tumbuhan?
2. Apa Saja Komponen Penyusun Dinding Sel Tumbuhan?
3. Bagaimana proses pertumbuhan dinding sel?
4. Bagaimana struktur dinding sel bakteri?
C. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini ditujukan untuk:
1. Memahami bagaimana fungsi dinding sel tumbuhan
2. Memahami Komponen Penyusun Dinding Sel Tumbuhan
3. Memahami proses pertumbuhan dinding sel
4. Memahami struktur dinding sel bakteri

1iv
BAB II
PEMBAHASAN
A. Dinding Sel Tumbuhan
Salah satu ciri yang membedakan antara sel hewan dan sel tumbuhan adalah
adanya dinding sel. Dinding Sel adalah struktur di luar membran plasma yang
membatasi ruang bagi sel untuk membesar.(Campbell,2008) Seperti dikemukakan
sebelumnya bahwa dinding sel terdiri atas dinding primer dan dinding sekunder,
diantara dinding primer dari suatu sel dengan dinding primer dari sel tetangganya,
terdapat lamella tengah. Lamella tengah merupakan perekat yang mengikat sel-sel
secara bersama-sama untuk membentuk jaringan dan oleh sebab itu dijumpai diantara
dinding sel-sel primer yang berdekatan.
1. Fungsi dinding sel
Dinding sel memiliki berbagai fungsi diantaranya:
a. Mempertahankan bentuk sel
b. Mendukung dan memberi kekuatan secara mekanik (memungkinkan tanaman
untuk tumbuh tinggi, dll).
c. Memberikan perlindungan pada membrane plasma dan isi sel.
d. Mengontrol laju dan arah pertumbuhan sel serta mengatur isi sel.
e. Bertanggung jawab pada struktur bentuk tumbuhan dan mengontrol
morfogenesis tanaman.
f. Memberi perlindungan fisik dari serangan serangga dan pathogen.
g. Sebagai produk ekonomis, dimana dinding sel sangat penting untuk
menghasilkan produk-produk seperti kertas, serat, serat kayu,sumber energi,
papan dan bahkan sebagai bahan dasar dalam produk makanan diet kita.
h. Pencegah terjadinya dehidrasi.
i. Kegiatan fisiologis dan biokimia pada dinding sel berperan untuk komunikasi
antar sel-sel.
j. Pada tumbuhan air dinding sel berguna untuk melindungi untuk melindungi
protoplas agar tidak lisis serta sebagai penguat. (Adnan. 2008)

2
v
2. Komponen Dinding Sel Tumbuhan
Komponen utama dinding sel tumbuhan adalah polisakarida yang terdiri atas
tiga tipe utama yaitu Selulosa, Hemiselulosa, Polisakarida pektat.

Gambar 1. Struktur Dinding Sel Tumbuhan


a. Selulosa
Selulosa adalah polimer glukosa yang berbentuk rantai linier dan dihubungkan
oleh ikatan β-1,4 glikosidik. Rantai selulosa terdiri dari satuan glukosa yang saling
berikatan melalui atom karbon pertama dan ke empat. Ikatan yang terjadi adalah
ikatan ß-1,4-glikosidik. Struktur yang linier menyebabkan selulosa bersifat kristalin
dan tidak mudah larut. Selulosa merupakan polisakarida struktural yang berfungsi
untuk memberikan perlindungan, bentuk, dan penyangga terhadap sel, dan jaringan.
Selulosa pada kayu kurang lebih 48% dari berat keringnya, sedangkan pada kapas
kurang lebih 98%. Satu molekul selulosa terdiri atas 8.000-15.000 unit glukosa.
Dalam satu mikrofibril, setiap rantai glukosa membentuk ikatan hidrogen dengan
rantai glukosa yang ada didekatnya sehingga secara struktural mikrofibril menjadi
lebih stabil. (Sumadi,2007)

Gambar 2. Struktur Molekul Selulosa

3vi
b.Hemiselulosa
Hemiselulosa merupakan merupakan heteropolisakarida yang mengandung
berbagai gula, terutama pentose. Hemiselulosa umumnya terdiri dari dua atau lebih
residu pentose yang berbeda. Komposisi polimer hemiselulosa sering mengandung
asam uronat sehingga mempunyai sifat asam. Fungsi hemiselulosa adalah sebagai
pelapis atau pembungkus mikrofibril selulosa, yang bertindak sebagai substansi
perekat. (Sumadi,2007) Hemiselulosa relatif lebih mudah dihidrolisis dengan asam
menjadi monomer yang mengandung glukosa, mannosa, galaktosa, xilosa dan
arabinosa. Hemiselulosa mengikat lembaran serat selulosa membentuk mikrofibril
yang meningkatkan stabilitas dinding sel. Hemiselulosa juga berikatan silang
dengan lignin membentuk jaringan kompleks dan memberikan struktur yang kuat
(Suparjo, 2000).

Gambar 3. Berbagai jenis molekul gula


c. Pektin
Pektin merupakan polisakarida penguat tekstur dalam sel tanaman yang terdapat
diantara selulosa dan hemiselulosa. Bersama-sama selulosa dan hemiselulosa
membentuk jaringan dan memperkuat dinding sel tanaman. adalah polisakarida
kompleks dan memiliki struktur yang sangat bervariasi. Senyawa senyawa pektin ini
juga merupakan perekat antara Kandungan metoksil pada rantai utama molekul
pektin bervariasi, tergantung pada sumber pektinnya. Kandungan metoksil pektin
mempengaruhi kelarutan pektin dalam air karena gugus metoksil ini dapat mencegah

vii
4
pengendapan dari rumus rantai poligalakturonat maka semakin banyak gugus
metoksil, pektin akan lebih mudah larut dalam air.(Prasetyowati.2009)
Satu ciri utama yang dimilikinya adalah adanya gugus asam yang disebabkan
oleh adanya residu asam glukoronat dan galaktoronat. Strukturnya sangat bercabang,
bersifat asam, mengandung gugusan karboksil, dan bermuatan negative pada pH
fisilogik. (Sumadi,2007)

Gambar 4. Struktur fungsional pektin


d.Protein Struktural
Dinding sel tumbuhan juga mengandung komponen-komponen non
polisakarida, yaitu berupa protein. Protein dapat diisolasi dari dinding primer. Protein
sangat kaya akan hidroksiprolin yaitu sekitar 25%. Diduga bahwa, fungsi dari protein
tersebut adalah dalam pengorganisasian dinding sel.
e. Lignin dan Kitin
Lignin adalah suatu polimer yang kompleks dengan berat molekul tinggi,
tersusun atas unit-unit fenilpropan. Meskipun tersusun atas karbon, hidrogen dan
oksigen, lignin bukanlah suatu karbohidrat dan bahkan tidak ada hubungan dengan
golongan senyawa tersebut, akan tetapi lignin pada dasarnya adalah suatu fenol.
Lignin sangat stabil dan sukar dipisahkan dan mempunyai bentuk yang bermacam-
macam, karenanya susunan lignin yang pasti di dalam kayu tetap tidak menentu
(Nofriadi,2009)

viii
5
Dalam dinding sel, lignin sangat erat hubungannya dengan selulosa dan
berfungsi untuk memberikan ketegaran pada sel, berpengaruh dalam memperkecil
perubahan dimensi sehubungan dengan perubahan kandungan air kayu dan lignin
dapat mempertinggi ketahanan kayu terhadap serangan, lignin bersifat hidrofobik
sehingga tahan terhadap air sehingga dinding sel tidak tembus air. (Coniwanti,2015)
Lignin biasanya mengisi dinding sekunder dan menyebabkan dinding menjadi
kaku. Lignin dapat dijumpai baik pada dinding primer maupun sekunder, sering
hidropobik, kaku dan tahan terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan.

Gambar 5. Struktur molekul lignin


Kitin adalah polimer linier yang tersusun oleh monomer β-1,4-N-asetil-D-
glukosamin(GlcNac) dan termasuk golongan polisakarida. Kitin memiliki kandungan
nitrogen sebesar 6,98% sehingga dapat digunakan sebagai agen pengkelat. Kitin pada
rantai polimer N-asetil- glukosamin memiliki ikatan hidrogen antara gugus NH dari
satu rantai dan gugus C=O dari rantai yang berdekatan sehingga membentuk
mikrofibril, memiliki struktur yang rigid dan tidak dapat larut dalam air. Kitin
biasanya sebagai penutup permukaan sel dan berfungsi agar permukaan sel resisten
terhadap dehidrasi dan bertindak sebagai pelindung pathogen adanya luka patogen.
(Sumadi,2007).

6ix
Kitin

Konformasi Kitin
Β-kitin (rantai
α-kitin (rantai paralel)

Gambar 6. Struktur kimia dari kitin


f. Mikrofibril
Mikrofibril-mikrofibril saling berkelompok membentuk mikrofibril dengan
diameter ± 0,5 dan tampak dengan mikroskop cahaya (Thorpe, 1984). Di dalam
dinding sel, mikrofibril dilapisi oleh hemiselulosa yang selanjutnya dihubungkan
ke hemiselulosa lain oleh pektin dan polisakarida lain (Albert et al., 1983).

Gambar 7. Ikatan Antara Mikrofibril pada Dinding Sel (Albert et al., 1983)
3. Dinding primer dan Dinding sekunder
Pada dinding primer, struktur khasnya mikrofibril yang berbeda didalam
matriks. Berfungsi sebagai fleksibilitas dan eksistensi protoplas. Dinding primer
memiliki kandungan hemiselulosa yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan
selulosanya. Terbentuknya dinding primer setelah terjadinya pembentukan
lamella tengah.
Dinding sekunder ditandai dengan adanya struktur khas berupa mikrofibril
yang tersusun secara parallel dan rapih untuk setiap lapisannya, kaku, dan non
ekstensibel. Penyusun utama dinding sekunder terdiri atas selulosa. Dinding
sekunder didominasi oleh lignin dan hemiselulosa. Baik primer maupun

7x
sekunder keduanya berfungsi sebagai penguat. Dinding primer terdapat pada
jaringan yang masih muda saja atau jaringan pada titik tumbuh. Sedangkan
dinding sekunder telah terbentuk maka primer akan akan kehilangan
ekstensibilitasnya. (Sumadi,2007)

(a) (b)
Gambar 8. Dinding sel primer (a), Dinding sel sekunder (b)

Pada dinding primer, mikrofibril tersebar dalam suatu matriks, bersifat


lentur, dan memanjang bersama-sama dengan pemanjangan protoplasma, kadar
hemiselulosa tinggi, terdapat pektin pada dinding primer. Dinding primer
merupakan struktur yang pertama kali diletakkan pada lamella tengah. Pada
dinding sekunder, mikrofibrilnya tersusun sejajar, kaku dan tidak dapat
memanjang, kadar hemiselulosa relatif rendah dan selulosanya lebih banyak.
Dinding sekunder dibentuk setelah sel mencapai ukuran yang maksimum.

8xi
Lamella tengah adalah lapisan terluar dan pertama yang terbentuk selama
pembelahan sel. Lapisan ini kaya akan pektin.
Pada tabel 1, menunjukkan perbedaan dinding primer dengan dinding
sekunder.
Tabel 1. Perbedaan antara dinding primer dengan dinding sekunder.
Karakteristik Dinding Primer Dinding Sekunder
Fleksibilitas dan Tinggi Rendah
Ekstensibilitas
Ketebalan Dinamis Statis
Susunan Mikrofibril Acak Sejajar
Kadar Selulosa Rendah Tinggi
Kadar Hemiselulosa 50% 25%
Kadar Lipida 5-10% Sedikit/Tidak ada
Kadar Protein 5% Rendah
Pertumbuhan Multinet Aposisi

4. Pertumbuhan Dinding Sel


Pada pertumbuhan dinding sel, ada dua proses yang terlibat, yaitu
pembelahan sel dan pemanjangan sel. Pembelahan sel berlangsung pada jaringan
meristematis. Sel-sel anak yang dihasilkan pada jaringan meristematis
mempunyai ukuran yang lebih kecil dari pada sel-sel dewasa. Setelah sel anak
terbentuk, maka selanjutnya terjadi pemanjangan sel. Ada dua teori yang
berkenaan dengan pemanjangan dinding sel, yaitu teori multinet, dan teori
orientasi aktif.

a. Teori Multinet
Menurut teori multinet, mikrofibril diletakkan pada permukaan bagian
dalam dinding sel menurut arah melintang terhadap panjang sel. Pada waktu
dinding sel memanjang, mikrofibril-mikrofibril mengalami reorientasi ulang ke
arah sumbu longitudinal sel hingga mikrofibril sejajar dengan sumbu. Dengan
demikian orientasi mikrofibril menurut teori multinet berlangsung secara pasif
mengikuti perentangan dinding sel selama berlangsungnya pertumbuhan.

xii
9
Selama pemanjangan dinding sel, mikrofibril bergerak satu terhadap yang
lain. Pada gambar 8 ditunjukkan mekanisme pemanjangan dinding sel. Dalam
hal ini terdapat enzim-enzim yang memutuskan ikatan antara dua polisakarida
dinding sel (a) dan tetap melekat pada salah satu titik pemotongan, kemudian
polisakarida dapat bergeser dengan bebas (b) dan bererak hingga enzim
membentuk ikatan yang baru.

Gambar 9. Mekanisme Pertumbuhan multinet growth dan dinamis


b. Teori Orientasi Aktif
Menurut teori orientasi aktif, mengemukakan bahwa terbentuknya lapisan
mikrofibril yang sejajar pada dinding sel tumbuhan yang tidak tumbuh lagi
berlangsung secara siklosis, (mengalirnya bahan-bahan sitoplasma di dalam sel
tumbuhan) pada bagian dalam sel. Aliran siklosis ini orientasi mikrofibril pada
bagian luar sel. (Sumadi,2007)
B. Dinding Sel Bakteri
1. Komponen Dinding Sel Bakteri
Komponen dinding sel bakteri terdiri atas peptidoglikan, asam-asam
teichoat, dan asam teichuronat.
a. Peptidoglikan
Peptidoglikan, yaitu suatu polimer N-glikosamin terasilasi dengan
rantai peptida. Terdiri atas unit-unit N-asetilglukosamin dan N-

xiii
10
0
asetilmuramat secara bergantian. Peptidoglikan berfungsi, yaitu (i)
mencegah lisis sel di dalam media hipotonis, (ii) menyebabkan sel kaku
dan memberi bentuk kepada sel.

Gambar 10. Struktur N-Asetilglukosamin dan N-asetilmuramat (Thorpe, 1984)

b. Asam Teichoat
Asam teichoat adalah kelompok polimer poliofosfat, terdapat di dalam
dinding sel dan juga pada membran sitoplasma. Asam teichoat di dalam
dinding sel kurang lebih 20- 50% berat kering dinding sel. Asam teichoat
berperan untuk mengikat Mg dari lingkungan untuk digunakan dalam
reaksi- reaksi metabolisme sel.

Gambar 11. Struktur Asam teichoat (Thorpe, 1984)

xiv
11
0
c. Asam Teichuronat
Polimer lain dari karbohidrat yang dijumpai pada setiap bakteri adalah
asam teikuronat yang terikat secara kovalen pada peptidoglikan dan kedua
asam tersebut dapat dipisahkan dari peptidoglikan dengan carahidrolisis.
Asam Teichoat dan asam Teichuronat terikat secara kovalen ke peptidoglikan.

Gambar 12. Struktur Asam teichuronat (Thorpe, 1984)


2. Struktur Dinding Bakteri
Lapisan selubung sel yang terletak antara membrane sitoplasma dan
kapsul disebut dinding sel. Dinding sel berfungsi sebagai pelindung dan pemberi
bentuk bakteri. Dinding sel bakteri tersusun dari peptidoglikan, yaitu gabungan
protein dan polisakarida. Pada bagian paling luar sebuah sel bakteri dapat
dijumpai adanya kapsul atau lapisan lender, sebelah dalam kapsul dijumpai
dinding sel. Sebelah dalam dinding sel dijumpai membrane plasma.
chromosome
(nucleoid region)

pili

ribosomes
food granule
prokaryotic
flagellum

capsule or
slimelayer

cellwall
plasmid (DNA) plasma membrane
cytoplasm

Gambar 13. Struktur umum sel bakteri

xv
12
0
Secara umum dikenal dua kelompok bakteri yaitu bakteri gram positif dan
bakteri gram negative.

a. Dinding Sel Bakteri gram positif


Dinding bakteri gram positif mengandung asam teichoat, yaitu suatu
kelompok polimer poliofosfat. Kadang-kadang komponen tersebut
dijumpai baik pada dinding sel maupun pada membrane sel.

Gambar 14. Struktur Dinding Bakteri Gram Positif


Dinding sel bakteri gram positive lebih homogen. Tebal dinding
bervariasi antara10-80 nm, tergantung spesies bakterinya. Selain
peptidoglikan, juga terdapat poliskarida lain dan asam-asam teichoat.
Umumnya molekul asam teichoat terikat secara kovalen pada
peptidoglikan (Smith & Wood, 1992)
b. Dinding Sel Bakteri Gram Negatif
Dinding bakteri gram negatif mengandung peptidoglikan kurang lebih
1% dan memiliki struktur yang lebih kompleks, Membran sebelah luarnya
terdiri atas lipida amfifatik, lipopolisakarida, dan protein. Lipopolisakarida
adalah suatu kompleks lipida tempat melekatnya rantai polisakarida yang
panjang.

xvi
13
0
Gambar 15.Model Umum Dinding Sel Bakteri Gram Negatif (Thorpe, 1984)

Gambar 16. Model dinding sel bakteri gram negatif dalam bentuk 3 dimensi.(Smith & Wood, 1992)

Membran luar mengandung protein, terutama protein porin yang


berperan sebagai jalur pengangkutan dan sekaligus sebagai perintang bagi
molekul-molekul yang mampu melewati membrane sebelah luar.
Membran luar menutupi lapisan peptidoglikan melalui murein lipoprotein.
Karboksil terminal dari protein terikat secara kovalen pada peptidoglikan.
Residu asam lemak terikat secara kovalen pada asam amino terminal.
satu lapisan membrane luar terintregasi dengan membran dalam dan
terikat secara bersama-sama. Sitoplasma dan membrane luar mempunyai
daerah yang berhubungan yang dinamakan Bayer’s junction. Daerah
lapisan luar membran plasma berhubungan dengan lapisan dalam

xvii
14
0
membrane luar. Komponen-komponen protein dan lipipda disintesis pada
bagian dalam membran plasma dan ditranslokasi melalui Bayer’s.
Membran sebelah luar dari bakteri gram negatif memiliki beberapa
sifat-sifat biologis., yaitu mempunyai suatu muatan negative yang penting
dalam empertahankan keadaan uniseluler organisme serta sifat hidrofilik pada
permukaan yang memberi fungsi perindungan agar tidak termakan oleh
fagosit.
Pada bagian periplasma terdapat protein yang disebut protein
periplasma yang terdapat pada bagian sebelah luar membrane plasma. Salah
satu kelompok protein periplasma yang penting adalah hydrolase. Hidrolase
berfungsi:
1) Menguraikan molekul besar menjadi molekul yang lebih sederhana
sebelum memasuki sel melalui membrane plasma
2) Melindungi diri dengan cara menguraikan asam-asam nukleat yang
berasal dari bakteriofage
Kelompok protein periplasma yang lain ada yang berfungsi dalam
proses transportasi molukel-molekul tertentu, misalnya asam-asam amino dan
gula.
c. Perbedaan Dinding Sel Bakteri Gram Positif dan Gram Negatif

1) Bakteri Gram Positif :

a) Dinding sel mengandung peptidoglikan yang tebal serta diikuti pula


dengan adanya ikatan benang-benang teichoic acid dan teichoronic
acid, yang merupakan 50 % dari berat kering dinding sel dan 10% dari
berat kering keseluruhan sel.

b) Pada umumnya berbentuk bulat(coccus).

c) Pada pewarnaan Gram, bakteri jenis ini berikatan dengan zat warna
utama (primary Strain) yaitu Gentian Violet dan tidak luntur
(decolorized) bila dicelupkan ke dalam larutan alkohol.

d) Di bawah mikroskop tampak berwarnaungu.

xviii
15
0
2) Bakteri Gram Negatif :

a) Mengandung “sedikit sekali” ikatan peptidoglikan dan tidak terdapat


ikatan benang-benang teichoic acid dan teichoronicacid.

b) Pada umumnya berbentuk batang (basil), kecuali Bacillus anthrasis


dan Bacillus sereus.

c) Pada pewarnaan Gram, bakteri jenis ini tidak mampu berikatan


dengan zat warna utama yaitu Gentian Violet dan luntur bila
dicelupkan ke dalam larutan alkohol.
d) Di bawah mikroskop tampak berwarna merah, apabila diberi zat
warna safranin atau fusin.
Komponen-komponen dinding sel bakteri gram negatif (yang
terletak di luar lapisan peptidoglikan) :
a. Lipoprotein yang berfungsi untuk menstabilkan membrane luar dan
merekatkannya ke lapisan peptidoglikan.
b. Membran luar yaitu struktur berlapis ganda; lapisan sebelah dalamnya
memiliki komposisi yang serupa dengan membran sitoplasma,
sedangkan fosfolipid pada lapisan sebelah luar digantikan oleh molekul
lipopolisakarida.

xix
16
0
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa dinding sel sebagai
bagian terluar dari sel memiliki peran dan fungsinya. Dinding sel merupakan ciri khas
yang dimiliki tumbuhan, bakteri, fungi (jamur), dan alga, meskipun struktur penyusun
dan kelengkapannya berbeda. Hewan dan protista kebanyakan tidak memiliki dinding
sel.
Dinding sel tumbuhan memiliki komponen yaitu diantaranya selulosa,
hemiselulosa, pektin, lignin, kutin dan miofibril. Yang mana masing-masing
komponen mamiliki perannya masing-masing. Dinding sel tumbuhan terdiri dari tiga
lapisan yaitu lamella tengah, dindin primer dan sekunder, serta pertumbuhan dinding
sel, ada dua proses yang terlibat, yaitu pembelahan sel dan pemanjangan sel.
Pembelahan sel berlangsung pada jaringan meristematis.
Dinding sel pada bakteri berfungsi sebagai pelindung dan pemberi bentuk
bakteri. Dinding sel bakteri tersusun dari peptidoglikan, yaitu gabungan protein dan
polisakarida. Pada bagian paling luar sebuah sel bakteri dapat dijumpai adanya kapsul
atau lapisan lender, sebelah dalam kapsul dijumpai dinding sel. Sebelah dalam
dinding sel dijumpai membrane plasma. Komponen dinding sel bakteri gram positif
dan gram negatif

xx
17
0
DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2008. Dinding Sel. Available online at:


https://www.scribd.com/doc/20535810/DINDING-SEL-Adnan-UNM.
Universitas Negeri Makassar. (diakses 22 maret 2019)
Albert, B., D. Bray, J. Lewis, M. Raff, K. Roberts, and J. D. Watson. 1983. Molecular
Biology of The Cell. 3rd Edition. Garland Publishing. New York.
Campbell,dkk.2008.Biologi Jilid 1. Erlangga: Jakarta.
Coniwati,dkk.2015. Pengaruh Konsentrasi, Waktu Dan Temperatur Terhadap
Kandungan Lignin Pada Proses Pemutihan Bubur Kertas Bekas. Jurnal
Teknik Kimia No.3, Vol.21, Agustus 2015
Nofriadi,Edo. Keragaman Nilai Lignin Terlarut Asam (Acid Soluble Lignin) Dalam
Kayu Reaksi Pinus Merkusii Jungh Et De Vriese Dan Gnetum Gnemon Linn.
Fakultas Kehutanan ITB:Bogor.
Prasetyowati, dkk. 2009. Ekstraksi Pektin Dari Kulit Mangga. Jurnal Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, No. 4, Vol. 16, Desember 2009
Sumadi, Aditiya Marianti.2007. Biologi Sel.Graha Ilmu: Semarang.
Thorpe, N.O., (1984), Cell Biology, John Willey, New York.
Smith, and E J Wood.1992. Cell Biology.London.

xxi
18
0