Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Syariat Islam yang dikenal sebagai pedoman umat muslim dalam menjalankan
segala perintah Allah dan Rasulnya, menjauhi segala yang diharamkan serta dilarang,
juga mengamalkan apa yang telah diizinkan. Dalam aplikasinya, syariat mempunyai
keindahan-keindahan tersendiri dalam hukum Islam yang menjadikan syariat Islam ini
lebih mudah untuk dijalani dan memenuhi hajat manusian sehingga manusia itu bisa
mencapai kebahagiaan dan tidak diberatkan dalam kaifiyat pelaksanaannya. Dari segi
tujuan pokok dari hukum adalah menciptakan tatanan umat yang tertib dan seimbang.
Dengan itu diharapkan kepentingan dan seluruh akses manusia dapat terlindungi.
Dibalik hukum-hukum dan kewajiban dari syari’at yang telah ditetapkan oleh
Allah SWT kepada kita, terkadang rahasia-rahasia yang mendalam serta hikmah-hikmah
yang menakjubkan yang mencengangkan akal pikiran dan memuaskan bathin manusia.
Didalam syariat islam ini mempunyai mahsanah-mahsanah atau sering disebut sebagai
keindahan-keindahan yang menyebabkan hukum Islam menjadi hukum yang paling kaya.
Syari’at tuhan yang maha tinggi tidak hanya berupa seperangkat aturan yang menjadi
sarana untuk ubudiyah semata, yang kita hanya diwajibkan untuk menjalankan dengan
sebaik-baiknya sebagai hubungan yang vertikal kepada tuhan. Ia adalah sekumpulan dari
semua kebajikan yang angat banyak pintunya dan amat beragam jenisnya dalam
menunaikannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Mahsanah-mahsanah Syariat Islam?
2. Ada berapakah Mahsanah-mahsanah Syariat Islam?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami Mahsanah-mahsanah Syariat Islam.
2. Untuk mengetahui apa saja Mahsanah-mahsanah Syariat Islam.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Mahsanah-Mahsanah Syariat Islam


Mahsanah berasal dari bahasa arab hasan yang berarti baik atau indah. Hukum Islam
mempunyai beberapa mahsanah (keindahan) yang menyebabkan hukum Islam menjadi hukum
yang paling kaya, dan dapat memenuhi hajad manusia serta menjamin ketenangan dan
kebahagiaan masyarakat.
Syariat Islam yang mulia ini telah diturunkan oleh Allah sesuai dengan fitrah manusia.
Tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang tidak dapat menjalankan syariat Islam.
Sedangkan keindahan itu apabila dipraktikkan bersama ajaran-ajaran Islam lain, niscaya akan
membentuk suatu umat yang ideal yang padanya terkumpul segala unsur kekuatan yang adil,
keteguhan dan kehidupan yang baik serta kemajuan yang utama.
Di antara bukti bahwa indahnya syariat Islam adalah bahwa tidak adanya bahaya dalam
syariat Islam dan Islam mengatur para pemeluknya untuk tidak menimbulkan bahaya pada orang
lain. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda yang
artinya, “Tidak ada bahaya (Dhororo) dalam syariat Islam dan tidak menimbulkan bahaya
(Dhirooro).” (HR. Ibnu Majah, Daruquthni, Malik dan Hakim, Shohih).
B. Mahsanah-Mahsanah Syariat Islam
Adapun keindahan-keindahan hukum islam sebagai berikut:
1. Hukum Keseimbangan
Dalam hukum Islam terdapat keseimbangan atau perimbangan dimana
keseimbangan itu dapat menggugah jiwa manusia untuk melaksanakan hukum itu.
Dalam Surat Ar-Rahman ayat 7-9 Allah SWT berfirman:
َ‫يزان‬ َ ‫س َما َء َرفَ َعهَا َو َو‬
َ ‫ض َع ا ْل ِم‬ َّ ‫َوال‬
‫ان‬
ِ ‫يز‬ َ ‫أ َ ََّّل ت َ ْطغَ ْوا ِفي ا ْل ِم‬
َ ‫س ِط َو ََّل ت ُْخس ُِروا ا ْل ِم‬
َ‫يزان‬ ْ ‫َوأَقِي ُموا ا ْل َو ْزنَ بِا ْل ِق‬
Artinya: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca itu
(keadilan), supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu, dan tegakkanlah
timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS. Ar-Rahman:
7-9).
Pada ayat tersebut, hukum keseimbangan tidak hanya berlaku pada hukum alam
(sunnatullah), tetapi juga terjadi pada hukum Islam. Adapun keseimbangan dalam hukum
Islam adalah sebagai berikut:
a. Keseimbangan dalam ahkamul khamsah (hukum yang lima). Rasulullah SAW
bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan harampun juga jelas.” (HR. Bukhari
dan Muslim dari Abdillah an-Nu’man).
b. Hukum keseimbangan dalam rukhshah dan azimah. Menurut Wahbah az-
Zuhaili, ditetapkan hukum rukhshah adalah sebagai keseimbangan atau
perbandingan dengan kaum azimah.
c. Hukum Islam tidak hanya memprioritaskan formalitas (syari’ah) tetapi juga
memprioritaskan subtansial (haqiqah). Ahmad al-Khamsyakhanuwi an-
Nakhsyabandi berkata “syari’ah itu apa yang diperintahkan dan hakekat itu
apa yang dipahami syari’ah terpilih menjadi satu dengan hakekat, dan hakekat
menjadi satu dengan syari’at.” Sedang Anas bin Malik berkata “Barang siapa
berfiqh tanpa tasawuf maka ia termasuk fasiq tetapi barang siapa bertasawuf
tanpa fiqh maka ia zindiq dan barang siapa memilih kedua-duanya dialah yang
dinamakan mutahaqqih (ahli hakekat).”
d. Tuntutan kewajiban dalam hukum Islam seimbang dengan tuntutan hak yang
diperoleh, sehingga Allah SWT tidak menyia-nyiakan semua amalan manusia.
Allah SWT berfirman:
QS. Al-Fatihah ayat 5
ُ ‫إ ِ ي َّ ا َك ن َ ع ْ ب ُ د ُ َو إ ِ ي َّ ا َك ن َ سْ ت َ ِع ي‬
‫ن‬
Artinya:“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada
Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Dan firman Allah SWT QS Az-Zalzalah: 7-8

﴾٨ ﴿ ُ‫َو َم ْن يَ ْع َم ْل ِمثْقَا َل ذَ َّر ٍة ش ًَّرا يَ َره‬ ﴾٧ ﴿ ُ‫فَ َم ْن يَ ْع َم ْل ِمثْقَا َل ذَ َّر ٍة َخي ًْرا يَ َره‬

Artinya:“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun,


niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.”
(QS. Az Zalzalah:7-8)

e. Tuntutan taklif seimbang dengan kemampuan mukallaf.


Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah: 286
ۚ ‫اخ ْذ َنا ِإ ْن نَسِينَا أ َ ْو أَ ْخ َطأْنَا‬ َ َ ‫علَ ْيهَا َما ا ْكت‬
ِ ‫س َبتْ ۗ َر َّبنَا ََّل ت ُ َؤ‬ َ ‫َو‬ ْ‫س َبت‬َ ‫س َعهَا ۚ َلهَا َما َك‬
ْ ‫سا ِإ ََّّل ُو‬ً ‫َّللاُ نَ ْف‬
َّ ‫ف‬ ُ ‫ََّل يُك َِل‬
ُ ‫الَّ ِذينَ ِم ْن قَ ْب ِلنَا ۚ َربَّ َنا َو ََّل تُح َِم ْلنَا َما ََّل َطاقَةَ لَنَا بِ ِه ۖ َواع‬
‫ْف‬ ‫علَى‬ َ ُ‫علَ ْينَا إِص ًْرا َك َما َح َم ْلتَه‬
َ ‫َربَّنَا َو ََّل تَحْ ِم ْل‬
َ‫علَى ا ْلقَ ْو ِم ا ْلكَافِ ِرين‬ ُ ‫ارح َْمنَا ۚ أَ ْنتَ َم ْو ََّلنَا فَا ْن‬
َ ‫ص ْرنَا‬ ْ ‫عنَّا َوا ْغ ِف ْر لَنَا َو‬
َ

-Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan


kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya
dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami
tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban
yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak
sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan
rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap
kaum yang kafir".
f. Kelapangan dalam kesempitan hukum Islam seimbang dengan kesempitan
dalam kelapangannya.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, syariat Islam merupakan
syariat yang paling sempurna, mulia dan merupakan petunjuk yang paling
komprehensif. Ia merupakan syariat Allah yang menjadi penutup terhadap
syariat-syariat langit sebelumnya. Oleh karena itu, syariat Islam bersifat abadi
sehingga Allah mewariskan bumi dan isinya. Syariat Islam akan berlaku terus
menerus, kuat dan kokoh sistemnya. Syariat Islam mampu memenuhi tuntutan
kehidupan manusia, baik secara personalindividual maupun kolektif sosial.
2. Hukum kausalitas (sebab akibat)
Setiap perbuatan manusia tidak lepas dari khitap taklifi, baik yang bernilai positif
maupun yang berniali negatif. Hukum kausalitas dalam hukum Islam bertujuan untuk
memberikan motivasi dan penghargaan bagi mukallaf yang melaksanakan taklif dan
memberikan peringtan bagi mukallaf yang melanggarnya. Allah SWT berfirman dalam
Quran Surat Fusshilat :46
(46( ‫الم ِل ْلعَبِي ِد‬ َ َ ‫س ِه َو َم ْن أ‬
ٍ ‫سا َء فَعَلَ ْيهَا َو َما َر ُّبكَ بِ َظ‬ ِ ‫َم ْن ع َِم َل صَا ِل ًحا فَ ِل َن ْف‬
Artinya: Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk
dirinya sendiri; dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri;
dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-(Nya).

‫ َو َم ْن يَ ْع َم ْل ِمثْقَا َل َذ َّر ٍة ش ًَّرا يَ َره‬, ‫فَ َم ْن يَ ْع َم ْل ِمثْقَا َل َذ َّر ٍة َخي ًْرا يَ َره‬
"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun. Dia akan melihat
balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun. Niscaya
dia akan melihat balasannya pula. (Q.S Al Zalzalah : 7-8)

Di antara kausalitas dalam hukum Islam adalah sebagai berikut:


a. Pelanggaran terhadap memelihara agama seperti murtad, maka dikenakan hukum
bunuh.
Hadits Nabi SAW yang artinya:
“Tidak halal darah seorang muslim kecuali disebabkan salah satu dari tiga ini, pezina
yang sudah pernah nikah, jiwa dengan jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya
yang menyendiri dari orang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).
b. Pelanggaran terhadap memelihara jiwa dikenakan hukum bunuh, yakni qishash.
c. Pelanggaran terhadap memelihara akal seperti minum khamr, narkoba, dan sejenisnya
dikenakan hukum cambuk.
Hadits Nabi SAW yang artinya:
“Nabi SAW didatangkan seorang laki-laki yang minum khamr maka ia dicambuk
dengan dua pelepah kurma sebanyak empat puluh kali.” (HR. Anas bin Malik).
d. Pelanggaran terhadap memelihara keluarga, seperti zina maka dikenakan hukum
cambuk atau rajam.
Firman Allah SWT Quran Surat An-Nuur: 2 yang berbunyi:
ِ َّ ‫َّللاِ ِإ ْن ُك ْنت ُ ْم ت ُؤْ ِمنُونَ ِب‬
‫اَّلل‬ ِ ‫اح ٍد ِم ْن ُه َما ِمائ َةَ َج ْل َد ٍة ۖ َو ََّل تَأ ْ ُخ ْذ ُك ْم ِب ِه َما َرأْفَةٌ ِفي د‬
َّ ‫ِين‬ ِ ‫الزا ِني فَاجْ ِلدُوا ُك َّل َو‬ َّ ‫الزا ِن َيةُ َو‬ َّ
َ‫عذَابَ ُه َما َطائِفَةٌ ِمنَ ا ْل ُمؤْ ِمنِين‬ ْ َ‫َوا ْليَ ْو ِم ْاْل ِخ ِر ۖ َو ْلي‬
َ ‫ش َه ْد‬
Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap
seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada
keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman
kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka
disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.
e. Pelanggaran terhadap memelihara kehormatan atau harta benda maka diberikan dosa
besar, seperti aplikasi harta riba.
f. Banyak tidaknya karunia Tuhan ditentukan oleh kreativitas manusia.
Allah SWT berfirman dalam Quran Surat An-Najm: 39-40 yang berbunyi:

َ ‫ان ِإ ََّّل َما‬


‫س َعى‬ ِ ‫س‬َ ‫ْل ْن‬ َ ‫َوأ َ ْن لَي‬
ِ ْ ‫ْس ِل‬

‫ف يُ َرى‬
َ ‫س ْو‬ َ َّ‫َوأَن‬
َ ُ‫س ْعيَه‬

Artinya: dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya (39) dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).
(40)

Karena itu Allah SWT tidak menyia-nyiakan amalan manusia, semakin banyak
amalan manusia semakin banyak pula penghargaan dari Allah SWT.

3. Hukum Proporsional (ADIL)


Maksud hukum proporsinal adalah meletakkan hukum sebagaimana hirarkinya
tanpa membolak-balikkannya. Hukum ini diterapkan pada hukum Islam karena pada
hukum Islam terdapat susunan kewajiban atau larangan menurut kepentingan,
kemashlahatan serta keadilan yang dituju. Seorang mukallaf dituntut untuk meletakkan
kepentingan hukum menurut kemashlahatan yang tertinggi atau menghilangkan
kerusakan yang terendah.
Sumber hukum Islam sesungguhnya bagaikan mata air yang tak pernah kering
bahkan memiliki deposit yang mampu menyirami setiap perkembangan hukum yang
memenuhi tuntutan keadilan dan kepentingan/mashlahat umat sepanjang masa yang
berbeda dan seputar tempat yang berlainan budaya. Semua kaum muslimin dapat
mengikuti perkembangan peradaban dan peningkatan kepentingan/kemashlahatan dan
mereka tidak menemui hambatan dalam mencari hukumnya, asal saja mereka
menemukan dan memanfaatkan cahaya yang menunjukkan hukumnya, cahaya yang
mampu menembus batas ruang dan waktu. Asal saja perkembangan dan peningkatan itu
memang sesuatu yang menerima cahaya.
Proporsional dalam hukum Islam adalah sebagai berikut:
a. Pada umumnya, kewajiban mencari nafkah kaum laki-laki lebih berat dari pada kaum
wanita. Sehingga hukum waris laki-laki mendapatkan dua persatu dari wanita. Laki-
laki mendapatkan hak waris melebihi bagian wanita karena laki-laki bekerja keras
dengan susah payah mencari rezeki guna menafkahi keluarganya dan orang-orang
yang wajib ia nafkahi.
Firman Allah SWT dalam Quran Surat An-Nisa’: 11 yang berbunyi:
ً‫اح َدة‬ ِ ‫ق اثْنَتَي ِْن َف َل ُهنَّ ثُلُثَا َما تَ َركَ ۖ َو ِإ ْن كَانَتْ َو‬ َ ِ‫َّللاُ فِي أ َ ْو ََّل ِد ُك ْم ۖ ِللذَّك َِر ِمثْ ُل ح َِظ ْاْل ُ ْنثَيَي ِْن ۚ فَ ِإ ْن كُنَّ ن‬
َ ‫سا ًء َف ْو‬ َّ ‫وصي ُك ُم‬
ِ ُ‫ي‬
‫ُس ِم َّما ت َ َركَ ِإ ْن كَانَ َلهُ َولَ ٌد ۚ َف ِإ ْن لَ ْم َيك ُْن لَهُ َولَ ٌد َو َو ِرثَهُ أَ َب َوا ُه َف ِِل ُ ِم ِه‬ ُ ‫سد‬ ِ ‫ْف ۚ َو ِْل َ َب َو ْي ِه ِلك ُِل َو‬
ُّ ‫اح ٍد ِم ْن ُه َما ال‬ ُ ‫النص‬ ِ ‫فَلَهَا‬
ُ ‫وصي بِهَا أ َ ْو َدي ٍْن ۗ آبَا ُؤ ُك ْم َوأ َ ْبنَا ُؤ ُك ْم ََّل تَد ُْرونَ أ َيُّ ُه ْم أ َ ْق َر‬
‫ب‬ ِ ُ‫ُس ۚ ِم ْن بَ ْع ِد َو ِصيَّ ٍة ي‬ ُّ ‫ث ۚ فَ ِإ ْن كَانَ لَهُ إِ ْخ َوةٌ فَ ِِل ُ ِم ِه ال‬
ُ ‫سد‬ ُ ُ‫الثُّل‬
َ َ‫َّللاَ كَان‬
‫ع ِلي ًما َح ِكي ًما‬ َّ َ‫لَ ُك ْم نَ ْف ًعا ۚ فَ ِريضَةً ِمن‬
َّ َّ‫َّللاِ ۗ إِن‬
Artinya: Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-
anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak
perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka
dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka
ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya
seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak;
jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya
(saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai
beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian
tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar
hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa
di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan
dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
b. Mengingat ibadah haji memerlukan banyak biaya serta sulit dilaksanakan dibanding
rukun Islam lainnya, maka kewajiban haji diperuntukkan bagi mukallaf yang
mempunyai syarat “Isthatho’a” (kemampuan) dan hanya sekali seumur hidup.
Allah SWT berfirman dalam Quran Surat Ali Imran: 97 yang berbunyi:
‫يال ۚ َو َم ْن َك َف َر‬
ً ‫س ِب‬ َ ‫ست َ َطا‬
َ ‫ع ِإلَ ْي ِه‬ ِ ‫اس ِح ُّج ا ْل َب ْي‬
ْ ‫ت َم ِن ا‬ ِ َّ‫علَى الن‬ ِ َ‫ِفي ِه آ َياتٌ َب ِينَاتٌ َمقَا ُم ِإب َْرا ِهي َم ۖ َو َم ْن َد َخلَهُ كَان‬
َ ِ‫آمنًا ۗ َو ِ ََّّلل‬
َ‫غنِ ٌّي ع َِن ا ْلعَالَ ِمين‬ َّ َّ‫فَ ِإن‬
َ َ‫َّللا‬
Artinya: Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim;
barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji
adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji),
maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta
alam.
c. Kebutuhan-kebutuhan yang dlaruriyah, hajjiyah maupun tahsiniyah harus diletakkan
sesuai dengan hirarkinya, demikian juga hirarki kebutuhan dlaruri harus ditempatkan
pada yang lebih penting, yang mendahulukan memelihara agama dari pada
memelihara jiwa, akal maupun kehormatan.
4. Hukum Prioritas.
Menyadari tabi’at manusia yang tidak menyukai beban yang membatasi
kemerdekaannya, maka Allah menurunkan syari’at Islam untuk memelihara dan
mengusahakan agar ketentuan yang dibebankan kepada manusia dapat dengan mudah
dilaksanakan serta dapat menghilangkan kesulitan dan kesempitan. Yang dimaksud
menghilangkan kesulitan dan kesempitan adalah menghilangkan hal-hal yang
menyulitkan masyarakat yang berlebih-lebihan, dan dapat menghabiskan daya manusia
dalam melaksanakannya.
Meskipun demikian tidaklah berarti bahwa syari’at Islam menghilangkan sama
sekali kesulitan yang mungkin dialami oleh manusia dalam kehidupannya. Hanya saja
diharapkan ketentuan yang terdapat pada syari’at Islam dapat mengurangi kesulitan bagi
manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT Quran Surat An Nisa’: 28 yang
berbunyi:
‫ض ِعيفًا‬ َ ‫اْل ْن‬
َ ُ‫سان‬ ِ ْ َ‫ع ْن ُك ْم ۚ َو ُخلِق‬ َ ‫َّللاُ أ َ ْن يُ َخ ِف‬
َ ‫ف‬ َّ ‫يُ ِري ُد‬
Artinya: Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat
lemah.
Selanjutnya adalah menyedikitkan beban (qillat al-taklif). Artinya Allah tidak
memperbanyak beban yang diberikan kepada para hamba-Nya, sehingga beban yang
berupa perintah dan larangan dapat dijalankan tanpa menimbulkan kesulitan.
Hal ini berdasarkan firman Allah SWT Quran Surat Al-Maidah: 101

ۗ ‫ع ْنهَا‬ َّ ‫عفَا‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ‫سأَلُوا‬
َ ‫ع ْنهَا ِحينَ يُ َن َّز ُل ا ْلقُ ْرآنُ ت ُ ْب َد َل ُك ْم‬ ْ َ ‫سأَلُوا ع َْن أ‬
ُ َ ‫ش َيا َء ِإ ْن ت ُ ْب َد لَ ُك ْم ت‬
ْ َ ‫سؤْ ُك ْم َو ِإ ْن ت‬ ْ َ ‫َيا أ َ ُّيهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا ََّل ت‬
ٌ ُ‫غف‬
‫ور َح ِلي ٌم‬ َ ُ‫َّللا‬َّ ‫َو‬

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada


Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika
kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan
kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyantun.

Sejalan dengan prinsip dan asas hukum Islam, maka hukum Islam prioritas
ditetapkan untuk memelihara kelestarian eksistensi hukum Islam, sehingga dalam
keadaan apapun hukum Islam tetap dapat dilaksanakan oleh mukallaf. Hukum prioritas
sejalan dengan hukum rukhshoh, yakni suatu hukum yang memberikan prioritas
keringanan dalam melakukan taklif, walaupun amalan itu tidak sesuai dengan syarat
maupun rukunnya yang lazim bagi orang sehat. Untuk mewujudkan hukum prioritas,
maka dalam hukum Islam ditetapkan hukum wajib mukhoyyar, yaitu tuntutan
mengerjakan sesuatu yang diperbolehkan memilih. Misalnya kafarat sumpah
diperbolehkan memilih memerdekakan budak, atau memberi makan 10 orang miskin atau
pakaiannya, atau juga berpuasa selama 3 hari. (Muhammad Abu Zahrah, 1958: 33).
Hukum Islam memprioritaskan prinsip kemanusiaan dari pada status manusia. Misalnya
hukum perbudakan harus dihapus karena hal itu mengingkari martabat manusia sebagai
makhluk yang dilahirkan dalam keadaan merdeka. Cara untuk meningkatkan status budak
dalam Islam adalah memperbolehkan nikahnya sehingga ia menjadi merdeka.

Allah berfirman Quran Surat An-Nisa’: 24-25 yang berbunyi:


َ‫علَ ْي ُك ْم َوأ ُ ِح َّل لَ ُك ْم َما َو َرا َء ذَ ِل ُك ْم أ َ ْن تَ ْبتَغُوا ِبأ َ ْم َوا ِل ُك ْم ُمحْ ِصنِين‬
َ ِ‫َّللا‬
َّ ‫اب‬َ َ ‫اء ِإَّل َما َملَكَتْ أ َ ْي َمانُ ُك ْم ِكت‬ ِ ‫س‬ َ ِ‫صنَاتُ ِمنَ الن‬ َ ْ‫َوا ْل ُمح‬
‫ض ِة‬َ ‫ض ْيت ُ ْم ِب ِه ِم ْن َب ْع ِد ا ْل َف ِري‬ َ ‫ورهُنَّ فَ ِريضَةً َوَّل ُجنَا َح‬
َ ‫علَ ْي ُك ْم ِفي َما ت َ َرا‬ َ ‫ست َ ْمت َ ْعت ُ ْم ِب ِه ِم ْن ُهنَّ فَآت ُوهُنَّ أ ُ ُج‬
ْ ‫سا ِف ِحينَ فَ َما ا‬
َ ‫غي َْر ُم‬ َ
َ َ‫َّللاَ كَان‬
(٢٤( ‫ع ِلي ًما َح ِكي ًما‬ َّ َّ‫إِن‬

‫َّللاُ أَ ْعلَ ُم‬


َّ ‫ت َو‬ ِ ‫ت َف ِم ْن َما َم َلكَتْ أ َ ْي َمانُ ُك ْم ِم ْن َفت َ َياتِ ُك ُم ا ْل ُمؤْ ِم َنا‬
ِ ‫ت ا ْل ُمؤْ ِمنَا‬
ِ ‫صنَا‬ َ ْ‫ست َ ِط ْع ِم ْن ُك ْم َط ْوَّل أ َ ْن يَ ْن ِك َح ا ْل ُمح‬
ْ َ‫َو َم ْن لَ ْم ي‬
‫ت‬ ِ ‫ت َوَّل ُمتَّ ِخذَا‬ٍ ‫سا ِفحَا‬ َ ‫غي َْر ُم‬ َ ‫ت‬ ٍ ‫صنَا‬َ ْ‫وف ُمح‬ َ ‫ض فَا ْن ِك ُحوهُنَّ ِب ِإ ْذ ِن أ َ ْه ِل ِهنَّ َوآت ُوهُنَّ أ ُ ُج‬
ِ ‫ورهُنَّ ِبا ْل َم ْع ُر‬ ٍ ‫ض ُك ْم ِم ْن َب ْع‬
ُ ‫ِب ِإي َما ِن ُك ْم َب ْع‬
‫ِي ا ْلعَنَتَ ِم ْن ُك ْم َوأَ ْن‬
َ ‫ب ذَ ِلكَ ِل َم ْن َخش‬ ِ ‫ت ِمنَ ا ْلعَذَا‬ َ ْ‫علَى ا ْل ُمح‬
ِ ‫صنَا‬ َ ‫ْف َما‬ ُ ‫ش ٍة فَعَلَي ِْهنَّ نِص‬ ِ َ‫َان فَ ِإذَا أُحْ ِصنَّ فَ ِإ ْن أَت َ ْينَ بِف‬
َ ‫اح‬ ٍ ‫أ َ ْخد‬
َ ُ‫َّللا‬
ٌ ُ‫غف‬
(٢٥( ‫ور َر ِحي ٌم‬ َّ ‫صبِ ُروا َخي ٌْر لَ ُك ْم َو‬
ْ َ‫ت‬

Artinya: Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali
budak-budak perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah
atas kamu. Dan dihalalkan bagimu selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu jika
kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina. Maka karena
kenikmatan yang telah kamu dapatkan dari mereka, berikanlah maskawinnya kepada
mereka, sebagai suatu kewajiban. Tetapi tidak mengapa jika ternyata di antara kamu telah
saling merelakannya, setelah ditetapkan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi
Mahabijaksana(24) Dan barang siapa di antara kamu (orang merdeka) tidak mempunyai
biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang beriman, maka dihalalkan menikahi
perempuan yang beriman dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui
keimananmu. Sebagian dari kamu adalah dari sebagian yang lain, karena itu nikahilah
mereka dengan izin tuannya dan berilah mereka maskawin secara ma'ruf, karena mereka
adalah perempuan-perempuan yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula)
perempuan yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya. Apabila mereka telah
berumah tangga (bersuami), tetapi melakukan perbuatan keji (zina), maka hukuman bagi
mereka setengah dari hukuman perempuan-perempuan merdeka yang tidak bersuami.
(Kebolehan menikahi budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut terhadap kesulitan
menjaga diri (dari perbuatan zina). Tetapi jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu.
Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang(25).

Islam datang sebagai penyelamat budak dari musibah, bencana dan perlakuan
sewenang-wenang Allah SWT telah mewasiatkan kepada kaum muslimin untuk
memperlakukan budak dengan baik dan menyetarakan mereka dalam berbagai hak dan
kewajiban hukum.
Allah SWT berfirman Quran Surat An-Nisa’:36 yang berbunyi:

ِ ‫َار ذِي ا ْلقُ ْربَى َوا ْلج‬


‫َار‬ ِ ‫ين َوا ْلج‬ِ ‫سا ِك‬ َ ‫سانًا َوبِذِي ا ْل ُق ْربَى َوا ْليَتَا َمى َوا ْل َم‬ َ ْ‫ش ْيئًا ۖ َوبِا ْل َوا ِل َدي ِْن إِح‬
َ ‫َّللاَ َو ََّل تُش ِْركُوا بِ ِه‬
َّ ‫َوا ْعبُدُوا‬
ً ‫ب َم ْن كَانَ ُم ْختَ ًاَّل َف ُخ‬
‫ورا‬ َّ َّ‫س ِبي ِل َو َما َملَكَتْ أَ ْي َمانُ ُك ْم ۗ إِن‬
ُّ ‫َّللاَ ََّل يُ ِح‬ َّ ‫ب َواب ِْن ال‬ِ ‫ب ِبا ْل َج ْن‬
ِ ‫َّاح‬
ِ ‫ب َوالص‬ ِ ُ‫ا ْل ُجن‬

Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan


sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman
sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.

Demikian juga, hukum Islam memprioritaskan kafir dlimmah (orang kafir yang
dalam perlindungan orang atau aturan Islam) dari pada kafir-kafir yang lain. Di samping
kemerdekaan beragama mereka jamin, hukum Islam memberikan hak yang sama pada
mereka sebagai anggota warga negara pada umumnya. Hal itu terjadi karena kafir dlimi
telah membayar jizyah yang tidak memberatkan.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam Mahasinul Ahkam ( ‫ ) محاسن األحكام‬atau sering diartikan sebagai keistimewaan dari
Syari'at Islam. Ada tujuh (7) keadilan (Mukhlis, kuliah, 2001) yaitu :
1. Hukum keseimbangan
2. Hukum Kausalitas
3. Hukum Profesional
4. Hukum Prioritas
5. Hukum Rasionalitas
6. Hukum Ketergantungan
7. Hukum Emansipasi
Namun yang menjadi pembahasan dari makalah ini hanyalah 4 dari 7 pembagian
Mahsanah, yakni :
1. Hukum Keseimbangan ( ‫ )الميزان‬yaitu ‫الميزان بين الدنيا و اْلخرة‬
Disini bukan diartikan fifty-fifty, tetapi ketika seseorang berusaha membangun aspek-
aspekduniyawiyah maka aspek-aspek ukhrowiyah akan ikut didalamnya. Begitupun
sebaliknya (Dunia yang meng-ukhrowi dan ukhrowi yang mendunia). Contoh sholat yang
disunnahkan memakai sajadah, mukenah, surban dan sebagainya. Lalu memunculkan
pabrik-pabrik industri yang jadi lahan ekonomi (ibadah melahirkan aspek-aspek duniawi)
2. Hukum Kausalitas (sebab-akibat)
Contoh ada segolongan umat beragama (bukan Islam) yang menjadikan komplek
perumahan menjadi tempat ibadahnya, dan tanpa adanya izin (sebab) dan menjadikan
umat islam bereaksi (akibat)
3. Hukum Proporsionalitas diartikan meletakkan hukum sebagaimana hirarkinya tanpa
membolak-balikkannya. Hukum ini diterapkan pada hukum Islam karena pada hukum
Islam terdapat susunan kewajiban atau larangan menurut kepentingan, kemashlahatan
serta keadilan yang dituju
4. Hukum prioritas
Islam sangat menekankan prioritas, contoh ketika hujan ada ‫ حي على الصالة‬sehingga ‫صلوا‬
‫ في دياركم‬mana yang harus didahulukan dan mana yang harus diterapkan. Bagaimana
syariat Islam ada umat Islam itu sendiri.