Anda di halaman 1dari 29

11

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep penyakit
1. Pengertian
Neoplasma atau tumor adalah pertumbuhan sel-sel baru yang

tidak terkontrol dan berlebihan akibat faktor terkendali pertumbuhan sel

normal yang tidak responsif. Tumor dapat dibedakan menjadi tumor jinak

dan tumor ganas atau kanker. Karakteristik dari tumor jinak pada

gambaran mikroskopik yaitu, berdiferensiasi baik, laju pertumbuhan

progresif dan lambat, massa berbatas tegas, tidak menginfiltrasi jaringan

normal disekitarnya dan tidak bermetastasis ke organ lain. Sedangkan

karakteristik dari tumor ganas atau kanker adalah anaplastik,

pertumbuhannnya progresif dan dapat menginfiltrasi ke jaringan sekitar.

Sel-sel kanker dapat bermetastasis ke bagian lain dari organ lain secara

hematogen maupun limfogen.


Fibroadenoma Mammae (FAM) merupakan benjolan jinak

payudara yang disebabkan oleh pertumbuhan berlebih pada salah satu

lobus payudara (Grace dan Borlay, 2006). FAM adalah suatu tumor jiank

yang merupakan pertumbuhan yang meliputi kelenjar dan stoma jaringan

ikat (Jitowiyono dan Kristiyanasari, 2012).


FAM adalah tumor jinak berkarakter tidak nyeri dan dapat

digerakkan, yang banyak ditemukan pada wanita yang berusia muda.

Insiden FAM bergerak naik terus sejak 30 tahun terakhir. Tumor ini jarang

sekali ditemukan pada wanita usia menopause (Kumar, 2007). FAM adalah

benjolan jinak yang disebabkan oleh pertumbuhan berlebihan pada salah


12

satu lobus payudara (Pierce, 2007). FAM merupakan neoplasma jinak

yang terutama pada wanita muda. FAM teraba sebagai benjolan bulat atau

berbenjol-benjol dan konsistensi kenyal. Tumor ini tidak melekat pada

jaringan sekitarnya dan amat mudah untuk digerakkan. Neoplasma jinak

ini biasanya ditemukan pada usia produktif (Sjamsuhidayat, 2010).


Penulis menyimpulkan bahwa FAM adalah tumor jinak

berkarakter tidak nyeri dan dapat digerakkan, banyak ditemukan pada

wanita yang berusia muda.


2. Anatomi dan fisiologi payudara
Gambar 1.1 Anatomi payudara

Payudara terletak pada hemithoraks kanan dan kiri. Batas

payudara yang tampak dari luar pada superior di iga II, inferior pada iga

VI, taut antar sternokostal bagian medial dan bagian lateral pada linea

aksilaris anterior (Tortora, 2009).

a. Struktur payudara
Struktur payudara terdiri dari parenkim epitel, lemak,

pembuluh darah, saraf, saluran getah bening, otot dan fasia. Parenkim

epitelial terdiri dari 15-20 lobus yang setiap lobus mempunyai duktus

lakiferus dan bermuara ke papilla mamma. Setiap lobus terdiri dari


13

lobulus-lobulus yang masing-masing terdiri dari 10-100 kelompok

asini. Lobulus ini merupakan struktur dasar dari glandula mammae.


Fungsi glandula mammae adalah sintesis, sekresi dan ejeksi

susu. Produksi susu dirangsang oleh hormone prolaktin serta

dipengaruhi oleh progesteron dan estrogen. Sedangkan untuk ejeksi

susu dirangsang oleh hormone oksitosin. Diantara lobules terdapat

jaringan ikat yaitu ligamentum Cooper sebagai penyangga untuk

payudara.
b. Suplai darah dan aliran cairan limfatik payudara
1) Cabang-cabang pembuluh darah ke payudara yaitu rami

perforantes arteri thoracica interna, arteri torakalis lateralis, arteri

mammaria interna, arteri mammaria eksterna, arteri subskapular,

arteri thoracoacromialis serta cabang arteri axillaris.


2) Tiga grup vena yang memperdarahi area yang memperdarahi area

payudara yaitu cabang perforantes vena mammaria interna, cabang

vena aksilaris, vena yang bermuara pada vena interkoastalis seperti

vena azygos.
3) Payudara bagian medial dipersarafi oleh cabang kutaneus anterior

dari nervus interkostalis 2-7. Payudara bagian superior dipersarafi

oleh nervus supraklavikula yang berasal dari cabang ke-3 dan ke-4

pleksus servikal. Papila mammae terutama dipersarafi oleh cabang

kutaneus lateral dari nervus interkostalis lain mempersarafi areola

dan mammae sisi lateral. Kulit didaerah payudara dipersarafi oleh

cabang pleksus servikalis dan nervus interkostalis. Jaringan

kelenjar payudara dipersarafi oleh saraf simpatik.


14

4) Kuadran medial mengalirkan limfenya melalui pembuluh-

pembuluh yang melewati ruang intercostal dan masuk ke dalam

nodi lymphoidei thorakalis interna (terletak di dalam rongga thorax

sepanjang arteri thoraica interna). Kuadran lateral glandula

mammae mengalirkan limfenya ke nodi lymphoidei axillaris

anterior atau kelompok pektoralis. Beberapa pembuluh limfe

mengikuti arteri intercostalis posterior, beberapa pembuluh

berhubungan dengan pembuluh limfe payudara sisi yang lain dan

dengan kelenjar didinding anterior abdomen.


c. Fisiologi
Payudara mengalami tiga kali perubahan. Perubahan pertama

pada payudara dari awal kelahiran hingga menopause. Saat pubertas,

terjadi perkembangan duktus dan sinus laktiferus yang dipengaruhi

oleh estrogen dan progesterone yang diproduksi oleh ovarium.


Perubahan kedua sesuai dengan siklus haid. Sekitar hari ke-8

haid, payudara membesar dan beberapa hari sebelum haid berikutnya

terjadi pembesaran maksimal. Beberapa hari menjelang haid, payudara

terasa nyeri dan menegang sehingga saat melakukan palpasi payudara

sulit dilakukan.
Perubahan terakhir terjadi pada masa kehamilan dan

menyusui. Saat masa kehamilan terjadi proliferasi epitel duktus lobus

dan duktus alveolus sehingga payudara membesar. Sel-sel pada

alveolus akan memproduksi air susu yang dialirkan kea sinus,

kemudian dikeluarkan melalui duktus ke putting susu yang dipicu oleh

oksitosin.
3. Klasifikasi
15

Menurut Jitiwiyono dan Kristiyanasari (2012) pembagian FAM

berdasarkan histologik yaitu :


a. Fibroadenoma pericanaliculare adalah kelenjar berbentuk bulat dan

benjolan dilapisi epitel selapis atau beberapa lapis


b. Fibroadenoma intracanaliculare adalah jaringan ikat yang mengalami

proliferasi lebih banyak sehinggga kelenjar berbentuk panjang-panjang

(tidak teratur) dengan lumen yang sempit atau menghilang, pada saat

menjelang haid sedikit dan saat menopause terjadi regresi.

4. Etiologi
Penyebab FAM ada beberapa macam, diantaranya adalah sebagai

berikut :
a. Faktor genetik karena kemungkinan untuk menderita tumor atau

kanker payudara memeberikan risiko sebesar 1,4 sampai dengan 13,6

atau risiko akan meningkat apabila pasien berusia muda saat

didiagnosis FAM (Brashers, 2007)


b. Faktor hormon dan faktor reproduksi yang terdiri dari menarche atau

menstruasi pertama pada usia relatif muda (kurang dari 12 tahun),

menopause pada usia relatif lebih tua (lebih dari 50 tahun), nulipara

atau belum pernah melahirkan, infertilitas, melahirkan anak pertama

pada usia relatif lebih tua (lebih dari 35 tahun), pemakaian kontrasepsi

oral dalam waktu lebih dari 7 tahun dan tidak menyusui (Rasjidi, 2009)
c. Faktor dari diet makanan yang tinggi lemak, makanan tinggi kalori dan

minuman beralkohol (Japaries, 2008)


d. Faktor usia yang biasanya terjadi pada usia muda yaitu 16 tahun

sampai dengan 32 tahun (Oemiati, 2011)


16

e. Faktor radiasi yaitu eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau

sesudah pubertas meningkat terjadinya risiko tumor payudara

(Nugroho, 2011).

Menurut Jitiwiyono dan Kristiyanasari (2012) penyebab dari

FAM antara lain sebagai berikut :


a. Peningkatan aktivitas estrogen yang absolute atau relatif
b. Genetik
Dari epidemiologi tampak bahwa kemungkinan untuk menderita FAM

dua kali sampai dengan tiga kali lebih besar pada wanita yang ibunya

atau saudara kandungnya menderita tummor payudara.


c. Faktor predisposisi
1) Usia kurang dari 30 tahun
2) Jenis kelamin perempuan
3) Geografi
4) Pekerjaan
5) Hereditas
6) Diet
7) Stress.
5. Patofisiologi
FAM merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan

pada masa reproduksi yang disebabkan oleh beberapa kemungkinan yaitu

akibat sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap estrogen

sehingga kelainan ini sering digolongkan dalam memmary dysplasia. FAM

biasanya ditemukan pada kuadran luar, merupakan lobus yang berbatas

jelas, mudah digerakkan dengan jaringan sekitarnya. Pada gambar

histologis menunjukkan stroma dengan proliferasifibroblast yang

mengelilingi kelenjar dan rongga kistik yang dilapisi epitel dengan bentuk

dan ukuran berbeda.


Penyebab munculnya beberapa FAM pada payudara belum

diketahui secara jelas dan pasti. Hubungan antara munculnya beberapa


17

FAM dengan penggunaan kontrasepsi oral belum dapat dilaporkan secara

pasti. Selain itu, adanya kemungkinan patogenesis yang berhubungan

dengan hipersensivitas jaringan payudara lokal dengan estrogen, faktor

makanan, faktor riwayat keluarga dan keturunan. Kemungkinan lain

bahwa tingkat fisiologi estrogen penderita tidak meningkat tetapi

sebaliknya jumlah reseptor estrogen meningkat. Peningkatan kepekaan

terhadap estrogen dapat menyebabkan hiperplasia kelenjar susu dan akan

berkembang menjadi karsinoma.


FAM sensitif terhadap perubahan hormon. FAM bervariasi selama

siklus menstruasi, kadang dapat terlihat menonjol dan dapat membesar

selama masa kehamilan dan menyusui. Akan tetapi tidak menggangggu

kemampuan seorang wanita untuk menyusui. Tumor ini biasanya bersifat

kenyal dan berbatas tegas dan tidak sulit untuk diraba. Apabila benjolan

didorong atau diraba akan tersa seperti bergerak-gerak. Biasanya FAM

tidak terasa sakit namun kadang kala menimbulkan rasa tidak nyaman

apabila disentuh (Jitowiyono dan Kristyanasari, 2012).


6. Pathway
(Terlampir)

7. Manifestasi klinis
Menurut Taufan (2011) tanda dan gejala dari FAM adalah sebagai

berikut:
a. Benjolan berdiameter 2-3 cm, namun dapat bertambah dengan ukuran

yang lebih besar ( giant fibroadenoma )


b. Benjolan kenyal, halus dan dapat digerakkan
c. Pemeriksaan mammagrafi menghasilkan gambar yang lebih jelas jinak

ataupun ganas dan memiliki batas yang jelas.


18

Menurut Jitowiyono dan Kristiyanasari (2012) manifestasi klinis

dari FAM antara lain :


a. Benjolan dapat digerakkan
b. Ada batas yang tegas pada benjolan
c. Benjolan dapat terjadi lebih dari dua atau multipel
d. Secara makroskopik : tumor bersimpai, berwarna putih ke abu-abuan,

pada penampang tampak jaringan ikat berwarna putih dan kenyal


e. Ada bagian yang menonjol ke permukaan
f. Ada penekanan pada jaringan sekitar
g. Pertumbuhan sel lambat
h. Benjolan dapat berdiameter 2-3 cm, namun bisa lebih bila diameter

mencapai 10-15 cm sebagai giant fibroadenoma


i. Mudah diangkat dengan lokal surgery.

8. Komplikasi
Tumor payudara yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat bisa

mengakibatkan terjdinya kanker payudara. Menurut Kementrian

Kesehatan RI (2015) stadium dari kanker payudara adalah sebagai berikut:


a. Stadium 0 adalah lobular carsinoma in situ, tidak ada metastasis

kelenjar getah bening regional dan tak ada metastasis jauh.


b. Stadium I adalah tumor 2cm atau kurang pada dimensi terbesar, tidak

ada metastasis kelenjar getah bening regional dan tak ada metastasis

jauh.
c. Stadium II A adalah tidak ada bukti tumor primer, metastsis pada

kelenjar getah bening aksila lateral yng masih dapat digerakkan dan

tak ada metastasis jauh.


d. Stadium II B adalah tumor lebih dari 2 cm tetapi tidak lebih dari 5 cm

pada dimensi terbesar, terjadi mikrometastasis pada kelenjar getah

bening regional > 0,2 mm < 2 mm dan tak ada metastasis jauh.
e. Stadium III A adalah tumor berukuran lebih dari 5 cm pada dimensi

terbesar, terjadi metastasis pada kelenjar getah bening aksila lateral,


19

atau kelenjar getah bening mamria interna yang terdeteksi secara klinis

dan tak ada metastasis jauh.


f. Stadium III B adalah tumor berukuran apapun dengan ekstensi

langsung ke dinding dada atau ulserasi kulit payudara, terjadi

metastasis pada kelejar getah bening mamaria interna yang terdeteksi

klinis dan tak ada metastasis jauh.


g. Stadium III C adalah ductural carsinoma in situ dan lobural carsinoma

insitu, terjadi metastasis pada kelenjar getah bening intraklavikula

tanpa keterlibatan kelenjar getah bening aksila atau pada kelejar getah

bening mamaria interna yang terdeteksi klinis dan tak ada metastasis

jauh.
h. Stadium IV adalah ductural carsinoma in situ dan lobural carsinoma

insitu, terjadi metastasis pada seluruh kelenjar getah bening regional

dan terjadi metastasis jauh.

9. Pemeriksaan diagnostik

Menurut Jitowiyono dan Kristiyanasari (2012) pemeriksaan

diagnostik FAM adalah sebagai berikut :

a. Biopsi

Tindakan mengambil sedikit jaringan lunak untuk diteliti dibawah

mikroskop.

b. Pembedahan

Tindakan operasi pengambilan tumor dalam payudara.

c. Ultrasonografi (USG)
20

USG untuk membuktikan adanya massa kristik dan solid atau padat

yang mengarah pada keganasan.

d. Mammografi

Mammografi merupakan pemeriksaan sinar-x terhadap payudara,

untuk menenukan adanya kelainan sebelum adanya tumor dan adanya

keganasan.

e. MRI

MRI mammae dengan kontras memiliki sensitivitas tinggi dalam

diagnosis karsinoma mammae dalam stadium tinggi.

10. Pencegahan

a. Pencegahan dini

Menurut Setiati (2009) pencegahan dini pada FAM antara lain :

1) Perbanyak makan sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian seperti

tempe, tahu dan makanan yang banyak mengandung serat.

2) Hindari memiliki berat badan kelebihan atau kegemukan.

3) Kurangi makan gorengan, jeroanserta makanan yang banyak

mengandung protein dan lemak tinggi.

4) Hindari mengonsumsi makanan yang diolah dengan suhu tinggi,

seperti makanan cepet saji.

5) Konsumsi makanan yang diolah dengan cara direbus.

6) Hindari makanan dengan pemanis buatan, pewarna makanan atau

zat pengawet makanan yang berlebihan.

7) Hindari mengonsumsi alkohol.


21

8) Perbanyak olahraga secara teratur.

9) Menghindari penggunaan alat kontrasepsi hormonal pil dan suntik

KB.

b. Pencegahan sekunder

1) Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)

a) Didepan cermin, perhatikan payudara dengan teliti. Dalam

pemeriksaan inidianjurkan wanita yang bersangkutan tidak

berbusana atau berpakaian dengan posisi kedua lengan lurus.

b) Perhatikan ada atau tidak benjolan atau perubahan bentuk

payudara.

c) Amati dengan teliti seluruh bagian payudara.

d) Angkat kedua lengan lurus keatas dan ulagi pemeriksaan

seperti diatas.

e) Dengan kedua siku mengarah kesamping, tekanlah telapak

tangan yang satu dengan kuat-kuat pada yang lain. Cara ini

akan menegangkan pada otot dada dan perubahan seperti

cekungan atau benjolan akan tampak.

f) Pijat atau tekan pelan-pelan daerah disekitar kedua puting dan

perhatikan keluar cairan yang tidak normal atau tidak.

g) Berbaringlah dengan tangan kanan dibawah kepala.


22

h) Letakkan bantal kecil dibawah punggung kanan.

i) Rabalah seluruh permukaan payudara kanan menggunakan

tangan kiri dengan gerakkan memutar dan perhatikan jika ada

benjolan yang mencurigakan. Cara meraba adalah dengan 3

ujung jari tengah tangan kiri yang dirapatkan. Lakukan

gerakan memeutar dengan tekanan lembut tetapi mantap,

dimulai dari pinggir dengan arah jarum jam.

j) Lakukan hal yang sama seperti nomer a), teteapi dengan tanan

kiri dibawah kepala dan tangan kanan meraba payudara kiri.

k) Beri perhatian khusus pada bagian payudara kanan dan kiri

atas, karena dibagian itulah sering ditemukan tumor payudara.

2) Pemeriksaan klinik

Menurut Nugroho (2010) pemeriksaan klinis semua wanita diatas

20 tahun sebaiknya melakukan SADARI setiap bulan dan segera

periksakan ke dokter apabila ditemukan benjolan. Pemeriksaan

SADARI sangat penting dianjurkan kepada masyarakat karena

hampir 86% benjolan di payudara ditemukan oleh penderita itu

sendiri.

c. Pencegahan tersier

Menurut Nugroho (2010) pencegahan tersier pada FAM antara lain :

1) Pencegahan tersier biasanya diarahkan pada individu yang telah

positif menderita kanker payudara.


23

2) Pencegahan tersier ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup

penderita serta mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan

pengobatan.

11. Penatalaksanaan

Menurut Pudiastuti (2011) beberapa penatalaksanaan yang harus

dilakukan pada pasien dengan FAM adalah sebagai berikut :

a. Pembedahan

1) Pembedahan breast-conversering

a) Lumpectomy adalah pengangkatan tumor dan sejumlah kecil

jaringan normal sekitarnya

b) Eksisi luas atau mastektomi parsial adalah pengangkatan tumor

dan jaringan disekitarnya yang lebih banyak

c) Kuadrantektomi adalah pengangkatan seperempat bagian

mammae.

2) Mastektomi

a) Mastektomi simplek adalah seluruh jaringan mammae diangkat

terapi otot dibawah mammae dibiarkan utuh dan disisakan kulit

yang cukup untuk menutup luka bekas operasi

b) Mastektomi radikal adalah pengangkatan seluruh mammae,

otot dada dan jaringan lainnya diangkat.


24

b. Kemoterapi dan obat penghambat hormon

Kemoterapi dan obat penghambat hormon seringkali diberikan segera

setelah pembedahan dan dilanjutkan selama beberapa bulan atau tahun.

Pengobatan ini menunda kembalinya kanker dan memperpanjang

angka harapan hidup penderita.

c. Terapi penyinaran

Kanker mammae bisa menyebar ke berbagai bagian tubuh. Nagian

tubuh yang paling sering diserang adalah paru-paru, hati, tulang,

kelenjar getah bening, otak dan kulit. Oleh karena itu, dilakukannya

terapi penyinaran untuk mencegah metastasis dari kanker mammae.

B. Konsep asuhan keperawatan

Asuhan keperawatan adalah proses atau rangkaian kegiatan praktik

keperawatan langsung pada pasien diberbagai tatanan pelayanan kesehatan

yang pelaksanaannya berdasarkan kaidah profesi keperawatan dan merupakan

inti praktik keperawatan (Ali, 2009).


Penerapan proses keperawatan dalam asuhan keperawatan untuk

pasien adalah salah satu wujud tanggungjawab dan tanggunggugat perawat

terhadap pasien. Pada akhirnya, penerapan proses asuhan keperawatan ini

akan meningkatkan kualitas layanan keperawatan pada pasien (Asmadi, 2008).


Proses keperawatan adalah salahn satu metode yang sistematis dan

ilmiah yang digunakan perawat untuk memenuhi kebutuhan pasien dalam

mencapai atau mempertahankan keadaan biologis, psikologis, sosial dan


25

spiritual yang optimal, melalui tahap pengkajian, identifikasi diagnose

keperawatan, penentuan rencana keperawata, pelaksanaan serta evaluasi

tindakan keperawatan (Suarli dan Bahtiar, 2009).

1. Pengkajian

Pengkajian keperawatan adalah tahap awal dari proses

keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam

pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan

mengidentifikasi status kesehatan pasien.

Pengkajian merupakan pemikiran dasar dari proses keperawatan

yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau untuk data tentang

pasien agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah,

kebutuhan kesehatan dan keperawatan pasien, baik fisik, mental, sosial

dan lingkungan (Darmawan, 2012).

Menurut Jitowiyono dan Kristiyanasari (2012), pada pasien post operasi

lumpektomi antara lain :

a. Fase anastesi

Setelah pasien dioperasi pasien dipinda ke ruang pemulihan disertai

dengan para ahli anastesi dan staf profesional lainnya.

b. Mempertahankan ventilasi pulmoner

Menghindari terjadi obstruksi pada periode anastesi pada saluran

pernapasan, diakibatkan oleh penyumbatan, lidah yang jatuh ke

belakang, tumpukan sekret, lendir yang terkumpul dalam faring


26

trakhea atau bronkhial, in dapat dicegah dengan posisi yang tepat

dengan posisi miring atau telungkup dengan kepala ditengadahkan bila

pasien tidak bisa batuk atau mengeluarkan dahak atau lendir, harus

dilakukan penghisapan dengan section.

c. Mempertahankan sirkulasi

Pada saat pasien sadar, pasien degan kriteria stabil diberikan posisi

tidur semi fowler untuk mengurangi keluarnya darah dari pembuluh

darah halus, lengan diangkat untuk meningkatkan sirkulasi dan

mencegah untuk terjadinya edema, gangguan rasa nyaman dan nyeri

akibat luka post operasi yang dijalani.

d. Masalah psikologis

Payudara adalah alat vital bagi seorang ibu dan wanita, kelainan atau

kehilangan akibat operasi payudara sangat terasa oleh pasien, haknya

seperti dirampas sebagai seorang wanita normal, terdapat rasa

kehilangan tentang berhubungan dengan suami dan hilangnya daya

tarik serta pengaruh terhadap anak apabila sedang menyusui. Pasien

biasanya mengalami gangguan pola tidur karena pasien merasakan

cemas.

e. Mobilisasi fisik

Pada pasien post operasi perlu adanya latihan-latihan untuk mencegah

atropi otot-otot kekakuan dan kontraktur sendi bahu, untuk mencegah

kelainan bentuk, maka latihan harus seimbang dan bersamaan.

Latihan awal bagi pasien post operasi adalah sebagai berikut :


27

1) Pada hari pembedahan, melenturkan dan meluaskan gerakan jari-

jari membalik-balikan lengan.

2) Hari pertama setelah operasi harus udah dimulai fisioterapi pasif

dan fisioterapi aktif seperti :

a) Fisioterapi aktif adalah melatih gerakan-gerakan sendi bahu

reduksi, rotasi sendi bahu jika fisioterapi diterapkan sedini

mungkin maka tidak akan terjadi kontraktur bahu dikemudian

hari.

b) Pasien dapat menggosok gigi, menyisir rambut, pasien harus

mengetahui gerakan apa yang dilakukan dalam setiap latihan,

misalnya dapat mengangkat lengan keatas, kesamping dan

kedepan. Aktivitas ini dapat dilakukan secara berkelanjutan.

2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa asuhan keperawatan adalah pernyataan yang

menjelaskann atau masalah kesehatan aktual atau potensial serta

penyebabnya (Nursalam, 2007). Tahap perumusan diagnose keperawatan

ini adalah tahap pengambilan keputusan pada proses keperawatan yang

meliputi identifikasi masalah pasien dapat dihilangkan, dikurangi atau

dirubah masalahnya melalui tindakan keperawatan.

Menurut Nursalam (2007) kriteria proses perawat menganalisis

data pengkajiann untuk merumuskan diagnose keperawatan adalah sebagai

berikut :
28

a. Proses diagnose keperawatan terdiri dari analis, intrepetasi data,

identifikasi masalah pasien dan perumusan diagnose keperawatan

pasien.

b. Diagnosa keperawatan terdiri atas masalah, penyebab dan tanda gejala

atau terdiri dari masalah dan penyebab.

c. Bekerjasama dengan pasien dan petugas kesehatan lain dalam

memvalidasi diagnosis keperawatan.

d. Melakukan pengkajiann ulang dan merevisi diagnose keperawatan

berdasarkan data terbaru.

Menurut NANDA (2015) diagnosa keperawatan yang muncul

pada pasien dengan post operasi lumpektomi adalah sebagai berikut :

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik

b. Gangguan pola tidur berhubungan dengan halangan lingkungan

(lingkungan yang tidak dikenal)

c. Defisit perawatan diri : mandi berhubungan dengan kelemahan

d. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

e. Risiko perdarahan dengan faktor risiko trauma

f. Risiko infeksi dengan faktor risiko pertahanan tubuh primer tidak

adekuat.

g. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan.

h. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

3. Perencanaan Keperawatan
29

Perencanaan keperawatan atau intervensi keperawatan merupakan

tahap ketiga dari proses keperawatan dimana perawat menetapkan tujuan

dan kriteria hasil yang diharapkan bagi pasien dan rencana tindakan yang

akan dilakukan (Darmawan, 2012).

Penentujuan pada perencanaan dari proses keperawatan adalah

sebagai arah dalam membuat rencana tindaan dari masing-masing

diagnosa keperawatan. Kriteria hasil dilakukan untuk memberi petunjuk

bahwa tujuan telah tercapai dan digunakan dalam membuat pertimbangan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat kriteria hasil adalah

berfokus pada pasien, singkat, jelas untuk memeudahkan perawat dalam

mengidebtifikasi tujuan dan rencana tindakan dapat diobservasi dan

diukur, realistik, ditentukan oleh perawat dan pasien (Setiadi, 2012).

Penentuan tujuan menggunakan konsep SMART. Konsep SMART

yaitu S : Spesific, yang dimaksudkan adalah tujuan keperawatan harus

jelas; M : Measurable, yang dimaksudkan adalah dalam penentuan tujuan

keperawatan harus dapat diukur sesuai dengan keadaan pasien; A :

Achievable, yang dimaksudkan adalah tujuan keperawatan harus dapat

dicapai sesuai dengan kondisi pasien; R : Reasonable, yang dimaksudkan

adalah dalam menentukan tujuan keperawatan harus nyata dan dapat

dipertanggngjawabkan; T : Time, yang dimaksudkan adalah tujuan

keperawatan harus dapat dicapai dengan waktu yang sudah ditetapkan

sesuai kondisi pasien.


Saat melakukan penentuan intervensi berfokus pada empat pokok

penting dalam perencanaan yaitu ONEC yaitu observasi (observation),


30

tindakan keperawatan (nursing treatment), pendidikan kesehatan

(education) dan tindakan kolaborasi (collaboration). Penulisan instruksi

dalam perencanaan telah disesuaikan oleh penulis, misalnya apabila pasien

pasien memerlukan terapi obat maka ditulis kolaborasi, karena pemberian

obat merupakan kewenangan dari dokter dan perawat hanya sebagai

pengelola.

Menurut NOC dan NIC (2013) perencanaan pada pasien dengan

post operasi lumpektomi yaitu :

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik

1) Tujuan keperawatan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

diharapkan pasien dengan diagnosa keperawatan nyeri akut

berhubungan dengan agen cidera fisik dapat teratasi dengan kriteria

hasil :

Pain level

a) Pasien tidak melaporkan nyeri secara verbal

b) Ekspresi wajah pasien tidak menahan nyeri

c) Skala nyeri pasien berkurang

d) Tanda-tanda vital pasien dalam batas normal

TD : 120/80 mmHg

N : 60 -100 kali/menit

RR : 16 – 24 kali/menit

S : 35,5 – 36,5 oC
31

2) Intervensi keperawatan :

Pain management
a) Monitor nyeri pasien
b) Ukur tanda-tanda vital pasien
c) Ajarkan pasien melakukan teknik napas dalam
d) Kolaborasi dengan dokter pemberian obat analgetik
b. Gangguan pola tidur berhubungan dengan halangan lingkungan

(lingkungan yang tidak dikenal)

1) Tujuan keperawatan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

diharapkan pasien dengan diagnosa keperawatan gangguan pola

tidur berhubungan dengan halangan lingkungan (lingkungan yang

tidak dikenal) dapat teratasi dengan kriteria hasil :

Sleep extent and pattern

a) Pasien dapat tidur selama 6-8jam dalam 24 jam

b) Pasien tidak melaporkan secara verbal rasa kantuk yang

dirasakan

c) Pasien tidur nyenyak dan tidak sering terbangun pada malam

hari

d) Perasaan segar setelah bangun tidur.

2) Intervensi keperawatan

Sleep enhancement
a) Monitor pola tidur pasien
b) Tanyakan penyebab gangguan pola tidur pasien
32

c) Ajarkan pasien tanda-tanda tidur yang berkualitas


d) Kolaborasi dengan dokter pemberian obat tidur.

c. Defisit perawatan diri : mandi berhubungan dengan kelemahan

1) Tujuan keperawatan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

diharapkan pasien dengan diagnosa keperawatan defisit perawatan

diri : mandi berhubungan dengan kelemahan dapat teratasi dengan

kriteria hasil :

Self care : bathing

a) Pasien mandi 2 kali dalam sehari

b) Pasien wangi

c) Pasien tampak bersih

d) Pasien tampak rapi.

2) Intervensi keperawatan :

Self care assistance

a) Monitor tingkat kemandirian pasien

b) Bantu pasien mandi

c) Ajarkan pasien mandi 2 kali dalam sehari

d) Kolaborasi dengan keluarga pasien untuk motivasi pasien

mandi 2 kali dalam sehari .

d. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

1) Tujuan keperawatan :
33

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

diharapkan pasien dengan diagnosa keperawatan defisiensi

pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi dapat teratasi

dengan kriteria hasil :

Knowledge disease process

a) Pemahaman pasien tentang penyakit yang dideritanya

meningkat, dari tidak tahu menjadi tahu

b) Pasien memahami pengertian, tanda gejala dan cara

pencegahan dari penyakit

c) Pasien mengatakan paham akan penjelasan yang diberikan

d) Pasien dapat menyebutkan kembali tentang apa yang sudah

dijelaskan.

2) Intervensi keperawatan :

Teaching disease process

a) Monitor tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit

b) Berikan pendidikan kesehatan pasien tentang penyakit yang

dideritanya

c) Ajarkan pasien cara pencegahan dari penyakit

d) Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan informasi

mengenai proses perjalanan penyakit.

e. Risiko perdarahan dengan faktor risiko trauma

1) Tujuan keperawatan :
34

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

diharapkan pasien dengan diagnosa keperawatan risiko perdarahan

dengan faktor risikoo trauma dapat teratasi dengan kriteria hasil :

Blood lose severity

a) Tidak ada perdarahan yang terlihat

b) Hemoglobin dalam batas normal (12 – 16 mg/dl)

c) Tekanan darah dalam batas normal 120/80 mmHg

d) Tidak ada tanda-tanda syok.

2) Intervensi keperawatan :

Bleeding precautions

a) Monitor perdarahan pasien

b) Lakukan manual pressure (tekanan) pada area perdarahan

c) Ajarkan pasien untuk bed rest

d) Kolaborasi dengan dokter pemberian obat anti perdarahan

f. Risiko infeksi dengan faktor risiko pertahanan tubuh primer tidak

adekuat.

1) Tujuan keperawatan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

diharapkan pasien dengan diagnosa keperawatan risiko infeksi

dengan faktor risiko pertahanan tubuh primer tidak adekuat dapat

teratasi dengan kriteria hasil :

Risk control
35

a) Tidak ada tanda-tanda infeksi berupa kalor, rubor, dolor,

fungsio laesa pada luka pasien

b) Tidak ada pus pada luka

c) Luka kering

d) Terdapat tanda-tanda granulasi.

2) Intervensi keperawatan :

Wound care

a) Monitor luas, kedalaman dan keadaan luka

b) Lakukan perawatan luka

c) Ajarkan pasien tanda-tanda dari infeksi

d) Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat antibiotik.

g. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan.

1) Tujuan keperawatan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

diharapkan pasien dengan diagnosa keperawatan gangguan citra

tubuh berhubungan dengan pembedahan dapat teratasi dengan

kriteria hasil :

Body image

a) Body image positif

b) Pasien mampu mengidentifikasi kekuatan personal

c) Pasien mampu mendeskripsikan secara faktual perubahan

fungsi tubuh

d) Pasien mampu mempertahankan interaksi sosial.


36

2) Intervensi keperawatan :

Body image enhancement

a) Observasi respon pasien terhadap tubuhnya

b) Dorong pasien mengungkapkan perasaannya tentang tubuhnya

c) Ajarkan pasien menerima tubuhnya

d) Kolaborasi dengan keluarga untuk memeotivasi pasien

berinteraksi sosial.

h. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

1) Tujuan keperawatan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam

diharapkan pasien dengan diagnosa keperawatan ansietas

berhubungan dengan perubahan status kesehatan dapat teratasi

dengan kriteria hasil :

Anxiety control
a) Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala
cemas
b) Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik
untuk mengontol cemas
c) Vital sign dalam batas normal
TD 120/80 mmHg

Nadi 80x/ mnt

suhu tubuh 36,5 C

respirasi 24x/ mnt

d) Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat


aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.
37

2) Intervensi keperawatan :
Anxiety Reduction

a) Identifikasi tingkat kecemasan

b) Gunakan pendekatan yang menenangkan

c) Edukasi pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan,

persepsi

d) Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan obat mengurangi

kecemasan bila diperlukan

4. Pelaksanaan keperawatan

Implementasi keperawatan merupakan pengelolaan dan

perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap

perencanaan. Fokus dari implementasi keperawatan adalah

mempertahankan daya tahan tubuh, mencegah komplikasi, menemukan

perubahan sistem tubuh, memantapkan hubungan pasien dengan ligkungan

dan implementasi pesan dokter (Setiadi, 2012).

5. Evaluasi keperawatan

Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari proses

keperawatan sebagai keputusan dari efektifitas asuhan keperawatan antara

dasar tujuan keperawatan pasien yang telah ditetapkan dengan respon

perilaku pasien yang tampil.

Menurut Nursalam (2007) criteria proses perawat mengevaluasi

kemajuan pasien terhadap tindakan keperawatan dalam pencapaian tujuan

dan merevisi data dasar dan perencanaan meliputi :


38

a. Menyusun perencanaan evaluasi hasil dari intervensi secara

komprehensif, tepat waktu dan terus menerus.

b. Menggunakan data dasar dan respon pasien dalam mengukur

perkembangan kearah pencapaian tujuan.

c. Memvalidasi dan menganalisi data baru dengan teman sejawat.

d. Bekerjasama dengan pasien, keluarga untuk memodifikasi perencanaan

asuhan keperawatan.

e. Mendokumentasi hasil evaluasi dan memodifikasi perencanaan asuhan

keperawatan.

Macam-macam evaluasi antara lain :

a. Evaluasi proses (formatif)

Evaluasi yang dilakukan setelah selesai tindakan, berorientasi pada

etiologi. Dilakukan secara terus menerus sampai tujuan yang telah

ditentukan tercapai.

b. Evaluasi hasil (sumatif)

Evaluasi yang dilakukan setelah akhir tindakan keperawatan secara

paripurna. Berorientasi pada masalah keperawatan, menjelaskan

keberhasilan atau ketidakberhasilan, rekapitulasi dan kesimpulan status

kesehatan pasien sesuai dengan kerangka waktu yang ditetapkan.

C. Dokumentasi asuhan keperawatan

Dokumentasi asuhan keperawatan adalah upaya penyusunan

keterangan mengenai riwayat kesehatan pasien, keadaan kesehatan pasien saat


39

ini, perawatan yang diperlukan dan yang telah diberikan, tindakan teraupetik

dan diagnostik serta keteranagan tentang respon pasien terhadap tindakan

keperawatan yang telah diberkan dan tersusun dalam satu dokumen

(Nursalam, 2007).
Pentingnya dokumentasi terlihat dari tujuannya yaitu untuk

mendapatkan komunikasi timbal balik antara tim kesehatan secara efektif

sebagai lahan bukti untuk tanggungjawab dan tanggung gugat sebagai

informasi statistik untuk mengantisipasi dan merencanakan kebutuhan pasien

di masa yang akan datang. Pada kasus ini pendokumentasian telah

dilaksanakan sesuai dengan kronologis waktu dan kriteria dalam format

asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan,

perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan dan evalusi keperawatan

yang menggunakan metode SOAP.


Pendokumentasian model ini menggunakan model progress note yang

berisikan perkembangan dan kemajuan dari setiap diagnosa keperawatan yang

ditegakkan dan ditulis oleh semua tim kesehatan pada bangsal tersebut. Salah

satu acuan progress note yang dapat digunakan yaitu : S : Data subyektif, O :

Data obyektif, A : Analisa P : Planning.