Anda di halaman 1dari 20

ANALISIS JURNAL

EFEKTIVITAS TERAPI INHALASI DASAR MINYAK KAYU PUTIH


PADA ANAK DENGAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT
(ISPA)

NAMA : TAUFIK ISMAIL MOHAMAD


NIM :

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering

terjadi pada anak, penyakit ini menyerang salah satu bagian atau lebih, dari

saluran napas mulai hidung sampai alveoli termasuk bagian-bagiannya (sinus,

rongga telinga tengah, pleura) (DEPKES. 2012). Insiden kejadian ISPA pada

kelompok umur balita terdapat 156 juta kasus ISPA baru di dunia per tahun dan

96,7% terjadi di negara berkembang. Kasus ISPA terbanyak terjadi di India (43

juta), China (21 juta) dan Pakistan (10 juta) serta Bangladesh, Indonesia dan

Nigeria masing-masing 6 juta kasus. Dari semua kasus ISPA yang terjadi di

masyarakat, 7-13% merupakan kasus berat dan memerlukan perawatan di rumah

sakit. Episode batuk-pilek pada Balita di Indonesia diperkirakan 2-3 kali per

tahun. ISPA merupakan salah satu penyebab utama (40%-60%) dan rumah sakit

(15%-30%) yang disebabkan oleh patogen (KEMENKES RI, 2012)

Patogen yang paling sering menyebabkan ISPA adalah virus atau infeksi

gabungan virus-bakteri. Cara penularan utama sebagian besar ISPA adalah

melalui droplet tetapi penularan melalui kontak (termasuk kontaminas itangan

yang diikuti oleh inokulasi yang tidak sengaja) dan aerosol pernapasan yang

infeksius dalam jarak dekat bisa juga terjadi untuk sebagian agen patogen.

Pengendalian ISPA di Indonesia dimulai pada tahun 1984 bersamaan dengan

dimulainya pengendalian ISPA di tingkat global oleh WHO (Zulfa, 2017).

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo,

ISPA menempati urutan pertama dengan jumlah balita penderita ISPA tercatat

1
pada bulan januari – oktober 2013 berjumlah 16.114 (Dinkes Prov. Gorontalo,

2013).

Masalah yang sering muncul pada penyakit ISPA ini adalah pola napas

tidak efektif, bersihan jalan napas tidak efektif, takut atau cemas, nyeri,

intoleransi aktivitas, resiko tinggi infeksi dan perubahan proses keluarga.

Intervensi non farmakologi yang dapat dilakukan untuk mempertahankan

kepatenan jalan napas dan anak bias bernapas spontan tanpa kesulitan dan

kebutuhan oksigen terpenuhi yaitu dengan terapi inhalasi minyak kayu putih.

Minyak kayu putih diproduksi dari daun tumbuhan Melaleuca leucadendra

dengan kandungan terbesarnya adalah eucalyptol (cineole). Hasil penelitian

tentang khasiat cineole menjelaskan bahwa cineole memberikan efek mukolitik

(mengencerkan dahak), bronchodilating (melegakan pernafasan), anti inflamasi

dan menurunkan rata-rata kasus paru obstruktif kronis dengan baik seperti pada

kasus pasien dengan asma dan rhinosinusitis (Zulfa, 2017). Pentingnya

penanganan terhadap penyakit ISPA, maka penulis akan membahas tentang

terapi inhalasi minyak kayu putih pada anak dengan infeksi saluran pernapasan.

1.2.Tujuan

Untuk mengetahui terapi inhalasi minyak kayu putih pada anak dengan

infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)

2
1.3.Manfaat

1.3.1 Manfaat Praktis

1.3.1.1 Bagi perawat

Untuk menambah ilmu pengetahuan perawat tentang terapi inhalasi

minyak kayu putih pada anak dengan infeksi saluran pernapasan

akut (ISPA).

1.3.1.2 Bagi penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)

Untuk meningkatkan pengetahuan penderita ISPA tentang terapi

inhalasi pada anak dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

1.3.1.3 Bagi institusi pendidikan

Sebagai bahan ajar untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa

tentang terapi inhalasi minyak kayu putih pada anak dengan infeksi

saluran pernapasan akut (ISPA).

1.3.2 ManfaatTeoritis

Hasil analisa jurnal ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara

teoritis yaitu dapat memberikan sumbangsi pemikiran bagi dunia

kesehatan khususnya bidang keperawatan dalam bidang keperawatan

holistik.

3
BAB II
METODE DAN TINJAUAN TEORITIS
2.1 Metode Pencarian
Analisis jurnal dilakukan dengan mengumpulkan artikel hasil publikasi
ilmiah tahun 2014 – 2018 dengan penelusuran menggunakan data based
google scholar. Strategi pencarian literature penelitian yang relevan untuk
analisis jurnal dapat dilihat pada skema dibawah ini.

Identifikasi

Google Scholar Eucalyptus, n = 28.700


Eucalyptus of respiratory : 9.430
Infeksi saluran pernapasan akut, n = 8.400
Infeksi saluran pernapasan akut pada anak, n =
7.700

1. PDF
2. FULL TEXT
Screening 3. Bahasa Inggris 1. Google Scholar n=4
4. Bahasa Indonesia
5. Tahun 2014-2018

Minyak kayu putih sebagai


Kelayakan terapi non farmakologi pada
infeksi saluran pernapasan akut

Analisis Terapi inhalasi minyak


kayu putih pada
anakdenganISPA

4
2.2 Konsep Tentang Tinjauan Teoritis

2.2.1 Infeksi Saluran Pernapasan Akut

A. Definisi

Menurut Ega (2017) ISPA meliputi tiga unsur antara lain :

1. Infeksi

Infeksi merupakan masuknya kuman atau mikroorganisme kedalam

tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala

penyakit.

2. Saluran pernapasan

Saluran pernapasan merupakan organ mulai dari hidung hingga alveoli

beserta organ aksesorinya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.

3. Infeksi akut

Infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas hari ditentukan

untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang

digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

B. Epidemiologi

Infeksi saluran pernafasan bagian atas merupakan infeksi primer yang

angka kejadiannya cukup tinggi terutama episode batuk-pilek, setiap anak

diperkirakan akan mengalami 3-6 epsiode ISPA, terutama batuk-pilek setiap

tahunnya. ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien

di Puskesmas sekitar 40%-60% dan rumah sakit sekitar 15%-30% (DEPKES

RI, 2008)

5
Di dunia setiap tahun diperkirakan lebih dari 2 juta Balita meninggal

karena pneumonia dari 9 juta total kematian Balita. Bahkan karena besarnya

kematian pneumonia ini, pneumonia disebut sebagai pandemi yang

terlupakan atau the forgotten pandemic. Namun, tidak banyak perhatian

terhadap penyakit ini, sehingga pneumonia disebut juga pembunuh balita

yang terlupakan atau the forgotten killer of children (UNICEF WHO, 2006).

C. Etiologi

ISPA dapat disebabkan oleh virus dan bakteri. Infeksi bakterial merupakan

penyulit ISPA oleh karena virus, Penyulit bakterial umumnya disertai

peradangan parenkim. ISPA oleh virus merupakan penyebab terbesar dari

angka kejadian ISPA. Hingga kini telah dikenal lebih dari 100 jenis virus

penyebab ISPA. Infeksi virus memberikan gambaran klinik yang khas untuk

masing-masing jenis virus, sebaliknya beberapa jenis virus bersama-sama

pula memberikan gambaran klinik yang hampir sama (Cindi, 2017)

D. Tanda dan gejala

Menurut Utomo (2012) gejala ISPA dibagi menjadi tiga, yaitu :

1. Gejala ISPA ringan

Jika ditemukan satu atau lebih gejala-gejala seperti batuk, serak yaitu anak

bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misalnya pada waktu

berbicara atau menangis), pilek yaitu mengeluarkan lendir/ingus dari

hidung. Panas atau demam dengan suhu badan lebih dari 37oC atau jika

dahi diraba dengan tangan terasa panas.

6
2. Gejala ISPA sedang

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala-

gejala ISPA ringan disertai satu atau gejala-gejala seperti pernapasan

seperti pernapasan lebih dari 50x/menit pada anak yang berumur kurang

dari satu tahun atau lebih dari 40x/menit pada anak yang berumur satu

tahun atau lebih, suhu lebih dari 39oC (diukur dengan termometer).

Tenggorokkan berwarna merah, timbul bercak merah, telinga sakit, atau

mengeluarkan nanah dari lubang telinga, pernapasan berbunyi seperti

mengorok (mendengkur).

3. Gejala ISPA berat

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala

ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala seperti

bibir atau kulit membiru, lubang hidung kembang kempis (dengan cukup

lebar) pada waktu bernapas, anak tidak sadar atau kesadarannya menurun,

pernapasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah, sela iga

tertarik kedalam pada waktu bernapas, nadi cepat lebih dari 160 kali/menit

atau tak teraba, tenggorokan berwarna merah.

E. Pencegahan

Menurut Ega (2017) pencegahan ISPA dapat dilakukan dengan :

1. Menyediakan makanan bergizi sesuai preferensi anak dan kemampuan

untuk mengkonsumsi makanan untuk mendukung kekebalan tubuh alami

2. Pemberian imunisasi lengkap kepada anak

7
3. Keadaan fisik rumah yang baik seperti : ventilasi rumah dan kelembaban

yang memenuhi syarat

4. Menjaga kebersihan rumah, tubuh, makan dan lingkungan agar bebas

dari kuman penyakit

5. Menghindari pajanan asap rokok dan asap dapur

6. Mencegah kontak dengan penderita ISPA dan isolasi penderita ISPA

2.2.2 Minyak Kayu Putih


Minyak kayu putih diproduksi dari daun tumbuhan Melaleuca leucadendra

dengan kandungan terbesarnya adalah eucalyptol (cineole). Hasil penelitian

tentang khasiat cineole menjelaskan bahwa cineole memberikan efek mukolitik

(mengencerkan dahak), bronchodilating (melegakan pernafasan), anti inflamasi

dan menurunkan rata-rata kasus paru obstruktif kronis dengan baik seperti pada

kasus pasien dengan asma dan rhinosinusitis, efek penggunaan eucalyptus untuk

terapi bronchitis akut terukur dengan baik setelah penggunaan terapi selama

empat hari (Zulfa, 2017).

Penggunaan minyak kayu putih dapat dilakukan dengan cara inhalasi manual

yaitu dengan cara menundukkan kepala kurang lebih 15 cm diatas sebuah

sungkup kerucut yang dibawahnya terdapat baskom yang berisi air panas yang

sudah diberi 5 tetes minyak kayu putih guna memperkuat efeknya, lalu perlahan

hirup uapnya dengan hati-hati, kemudian dihirup secara lebih mendalam, ini dapat

dilakukan sampai air sudah tidak terasa panas atau uap dalam air sudah habis.

Inhalasi manual ini bermanfaat untuk mengencerkan dahak, melancarkan jalan

napas, dan juga untuk menghindarkan terjadinya peradangan di rongga samping

hidung (Alif, 2017).

8
2.3 Implikasi keperawatan

Penelitian ini merupakan salah satu bentuk intervensi keperawatan dengan

guna memperbaiki bersihan jalan nafas pada anak dengan infeksi saluran

pernapasan akut.

9
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil

Author Tahun Judul Metode Hasil Source

Zulfa 2017 Pemanfaatan Penelitian ini Hasil penelitian Jurnal


Auliyati Minyak Kayu menggunakan ini menunjukkan Kefarmasian
Agustina & Putih metode etnografi hasil alam Pulau Indonesia
Suharmiati (Melaleuca dengan teknik Buru dari olahan
leucadendra pengumpulan daun Melaleuca
Linn) data berupa leucadendra Linn
sebagai observasi berupa minyak
Alternatif partisipasi serta kayu putih
Pencegahan komunikasi berpotensi untuk
ISPA: Studi langsung digunakan
Etnografi di sebagai alternatif
Pulau Buru pencegahan
ISPA di Pulau
Buru dengan
metode inhalasi
Dary, 2018 Peran keluarga Metode Hasil penelitian Jurnal
Dhanang dalam penelitian yang terhadap Keperawatan
Puspita, penanganan digunakan dalam partisipan Muhammadiyah
Jolanda anak dengan penelitian ini mengenai peran
Fretty penyakit ISPA adalah kualitatif keluarga dalam
Luhukay di RSUD Piru dengan penanganan anak
pendekatan dengan penyakit
fenomenologi ISPA yaitu
group. menghirup uap
minyak kayu
putih yang
diteteskan ke
dalam air hangat
Nadjib BM, 2014 Liquid and Desain quasi Hasil penelitian American
Amine FM, vapour phase experiment ini menunjukkan Journal of
Abdelkrim antibacterial bahwa uap Infectious
K, Fairouz activity of minyak Disease
S, Maamar eucalyptus esensial dari
M. globulus Eucalyptus
essential oil globulus
susceptibility efektif sebagai
of selected antibakteri dan
respiratory layak
tract pathogens dipertimbangkan

10
. penggunaannya
dalam
pengobatan atau
pencegahan
pasien dengan
infeksi saluran
pernapasan di
rumah sakit.
Zulnely, 2015 Prospek Desain quasi Hasil penelitian Jurnal Pusat
Gusmailina, Eucaliptus experiment ini menunjukkan Litbang
Evi citriodora minyak atsiri Keteknikan
Kusmiati sebagai minyak eucalyptus bisa Kehutanan dan
atsiri potensial digunakan untuk Pengolahan
pengobatan Hasil Hutan
herbal
yang bermanfaat
untuk mengobati
rasa
sesak di dada
karena pilek atau
asma
dengan
diteteskan ke
dalam air hangat
dan uapnya
dihirup

3.2 Pembahasan
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan infeksi saluran pernapasan

yang meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian

bawah. Penyakit infeksi aku yang menyerang salah satu atau lebih bagian dari

saluran napas mulai dari hidung (saluran bagian atas) hingga jaringan di dalam

paru-paru (saluran bagian bawah). Penyebab dari ISPA terdiri dari bakteri, virus,

jamur, dan aspirasi. Bakteri meliputi diplococcus pneumonia, pneuomococcus,

streptococcus, stapilococcus aureus, hemophilus inlfluenza. Virus: influenza,

adenovirus, silomegavirus. Jamur: aspergilus sp, kandida albicanns, histoplasma.

11
Dan aspirasi: makanan, asap kendaraan bermotor, bbm (bahan bakar minyak),

minyak tanah, cairan amnion pada saat lahir, benda asing (biji-bijian). Salah satu

terapi non farmakologi yang dapat diberikan untuk mengobati ISPA pada anak

adalah dengan memberikan terapi inhalasi sederhana minyak kayu putih dengan

cara diteteskan pada air hangat lalu uapnya dihirup.

Ada beberapa penelitian yang mengatakan bahwa terapi inhalasi minyak kayu

putih sangat bermanfaat untuk anak yang mengalami infeksi saluran pernafasan

akut (ISPA), diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Zulfa (2017), Dary

(2018), Nadjib (2014), dan Zulnely (2015). Penelitian-penelitian tersebut

menggunakan metode yaitu minyak kayu putih diteteskan pada air hangat lalu

uapnya dihirup, namun masing-masing mempunyai takaran tetesan dan lama

pemberian yang berbeda-beda. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan

oleh Zulfa (2017), yang mengatakan inhalasi minyak kayu putih sangat

berpengaruh terhadap penurunan sesak nafas pada anak yang mengalami infeksi

saluran pernafasan akut (ISPA), dengan cara pemberian yaitu minyak kayu putih

diteteskan sebanyak 10 tetes kedalam air hangat kemudian pasien diminta untuk

menghirup selama 30 menit melalui sehelai kertas yang dibentuk menjadi kerucut.

Metode ini dianjurkan untuk dilakukan rutin selama seminggu pada malam hari

saat sebelum tidur. Hasil penelitian menunjukkan ada penurunan frekuensi nafas

sebelum dan sesudah dilakukan metode ini. Berbeda dengan penelitian yang

dilakukan oleh Dary (2018), dimana metode yang diterapkan yaitu dengan

memberikan tetesan minyak kayu putih sebanyak 20 tetes kedalam satu mangkuk

air hangat dan dihirupkan kepada anak yang mengalami ISPA. Hasilnya, beberapa

12
orang tua yang anaknya dijadikan sampel mengatakan bahwa anaknya sudah

mulai bisa bernafas dengan normal seiring dengan rutinnya pemberian terapi

inhalasi minyak kayu putih ini.

Sementara untuk penelitian yang dilakukan oleh Nadjib dkk (2014),

mengatakan bahwa terdapat perubahan yang signifikan pada sampel sebelum dan

sesudah diberikan metode terapi inhalasi ini. Cara pemberiannya yaitu minyak

atsiri atau minyak kayu putih diteteskan pada satu gelas air hangat dan kemudian

sampel diminta untuk menghirup uap dari minyak kayu putih tersebut. Hasil

menunjukkan ada perubahan pada sampel yang diberikan terapi yaitu mereka

mengatakan merasa lega saat bernafas dan sesak nafasnya juga berkurang setelah

rutin diberikan metode ini pada pagi dan malam hari selama 7 hari. Zulnely

(2015) juga mengatakan metode terapi inhalasi sederhana minyak kayu putih ini

sangat bermanfaat dalam mengurangi sesak nafas pada penderita infeksi saluran

pernafasan akut (ISPA). Metode yang dilakukan adalah dengan mencampurkan

seperempat botol kecil minyak kayu putih kedalam segelas air hangat dan sampel

diminta untuk menghirup uap air hangat tersebut. Metode ini rutin dilakukan

selama 2 kali sehari pada pagi dan sore hari selama 5 hari. Hasil menunjukkan

terdapat perbedaan frekuensi nafas yang signifikan sebelum dan sesudah

diberikan metode inhalasi tersebut.

Dari beberapa penjelasan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa

minyak kayu putih sangat bermanfaat bagi penurunan sesak nafas pada penderita

ISPA. Hal ini disebabkan karena minyak kayu putih yang diproduksi dari daun

tumbuhan Melaleuca leucadendra dengan kandungan terbesarnya adalah

13
eucalyptol (cineole) yang memberikan efek mukolitik (mengencerkan dahak),

bronchodilating (melegakan pernafasan), anti inflamasi dan menurunkan rata-rata

kasus paru obstruktif kronis dengan baik seperti pada kasus pasien dengan asma

dan rhinosinusitis. Selain itu, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa uap

minyak esensial dari Eucalyptus globulus efektif sebagai anti bakteri dan layak

dipertimbangkan penggunaannya dalam pengobatan atau pencegahan pasien

dengan infeksi saluran pernapasan di rumah sakit (Agustina, 2018).

14
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan

Dari beberapa penelitian diatas dapat di simpulkan bahwa metode yang paling

efektif dilihat dari jumlah tetesan, metode dan lama pemberian untuk diberikan

kepada pasien ISPA adalah penelitian yang dilakukan oleh Zulfa (2017), dimana

jumlah tetesan yang diberikan adalah yang paling sedikit dibandingkan beberapa

penelitian yang dibahas diatas yakni 10 tetes. Sementara untuk metode

pemberiannya adalah yang paling efektif dimana diberikan selama 30 menit

melalui sehelai kertas yang dibentuk menjadi kerucut sehingga uap air hangat

tidak terbuang begitu saja dan langsung masuk kedalam hidung pasien, serta lama

pemberian yang hanya diberikan setiap malam hari dalam seminggu. Meskipun

terdapat beberapa perbedaan dalam jumlah, lama dan waktu pemberian terapi

inhalasi, minyak kayu putih dapat digunakan sebagai upaya untuk memperbaiki

jalan nafas pada anak dengan ISPA, dimana minyak kayu putih diproduksi dari

daun tumbuhan Melaleuca leucadendra dengan kandungan terbesarnya adalah

eucalyptol (cineole) yang dapat digunakan untuk pengobatan herbal yang

bermanfaat untuk mengobati rasa sesak di dada karena ISPA.

4.2 Saran

4.2.1 Bagi Program Studi Ners

Diharapkan analisis jurnal ini dapat dijadikan tambahan teori dan bahan

bacaan tentang keperawatan anak

4.2.2 Bagi Perawat

Diharapkan analisis jurnal ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi

15
perawat dalam tindakan mandiri keperawatan yaitu terapi upaya membersihkan

jalan nafas pada anak dengan ISPA.

4.2.3 Bagi Rumah Sakit

Diharapkan analisis jurnal ini dapat menjadi masukan bagi Rumah Sakit

dalam penggunaan terapi komplementer khususnya terapi minyak kayu putih

dapat dipertimbangkan untuk menjadi salah satu tindakan keperawatan.

16
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, Z. A., & Suharmiati. 2017. Pemanfaatan Minyak Kayu Putih
(Melaleuca Leucadendra Linn) Sebagai Alternatif Pencegahan ISPA :
Studi Etnografi di Pulau Buru. Jurnal Kefaramasian Indonesia.
Astuti, C. 2017. Hubungan Perilaku Keluarga dengan Kejadian ISPA Pada Balita
di Desa Cijati Kecamatan Cimanggu Cilacap. Fakultas Ilmu Kesehatan
UMP.
Banerjee R, Bellare JR. 2001. In vitro evaluation of surfactants witheucalyptus oil
for respiratory distress syndrome. Respir Physiol
Dary, Puspita, D., & Luhukay, J. F. (2018). Peran Keluarga Dalam Penanganan
Anak Dengan Penyakit ISPA di RSUD Piru. Jurnal Keperawatan.
Dornisch, K., R, U., Beuscher, N., and Elstner, E. F. 2000. Antioxidant properties
of essential oils. Possible explanations for their anti-inflammatory
effects. Arzneimittelforschung

Kementrian Kesehatan RI. 2012. Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan


Akut. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan. Jakarta

Nadjib,2014. Liquid And Vapour Phases Anti Bacterial Activity Of Eucalyptus


Globulus Essential Oil = Susceptibility Of Selected Respiratory Tract
Pathogens. American Journal Of Infectius Diseases.
Nurrohim, A. 2017. Upaya Memperbaiki Bersihan Jalan Nafas Pada Anak
Dengan ISPA. Jurnal Keperawatan.
Ramos R. F, W. B, I. T.,Airborne antituberculosis activity of Eucalyptus
citriodora essential oil. Journal of National Products. 2014
Sudanto, E. W. 2017. Hubungan Kebiasaan Merokok dan Kondisi Lingkungan
Rumah dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas II
Rakit II Kabupaten Banjarnegara. Fakultas Ilmu Kesehatan UMP
Whitman BW, Ghazizadeh H. 1994. Eucalyptus oil: therapeutic and toxic aspects
of pharmacology in humans and animals. J Paediatr Child Health

WHO. 2007. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut


(ISPA) yang Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan. Pedoman Interim WHO. Jenewa: WHO

Zulnely, Gusmailina, & Kusmiati, E. 2015. Prospek Eucaliptus Ctriodora Sebagai


Minyak Atsiri Potensial.Jurnal Kesehatan.

17
SOP (STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR)
TERAPI INHALASI SEDERHANA MINYAK KAYU PUTIH

Pemberian inhalasi uap dengan obat/tanpa obat. Inhalasi


sederhana yaitu memberikan obat dengan cara dihirup dalam
Pengertian bentuk uap ke dalam saluran pernafasan yang dilakukan dengan
bahan dan cara yang sederhana serta dapat dilakukan dalam
lingkungan keluarga.
Tujuan 1. Membantu mengencerkan dahak agar mudah keluar.
2. Melonggarkan jalan nafas.
Indikasi Terapi inhalasi sederahana ini diberikan kepada seluruh
penderita ISPA
1. Air hangat
2. Gelas yang berukuran 250 ml
Peralatan 3. Produk minyak kayu putih
4. Meja atau troli
5. Beberapa lembar handuk kecil
6. Vaselin atau gel
1. Tahap Pre Interaksi
a. Cuci tangan
b. Persiapan alat dan bahan
2. Tahap Orientasi
a. Beri salam sebagai pendekatan terapeutik.
b. Beri penjelasan tentang hal-hal dan tujuan tindakan yang
akan dilakukan serta informed consent.
c. Sampaikan kesiapan klien sebelum dilakukan tindakan.
d. Jaga privasi klien.
3. Tahap Kerja
a. Posisi klien dengan setengah duduk pada tempat tidur.
b. Tempatkan meja atau troli didepan pasien.
Prosedur kerja c. Bentuk beberapa handuk kecil menjadi seperti kerucut.
d. Letakkan gelas yang berisi air hangat yang sudah
diteteskan minyak kayu putih sebanyak 10-15 tetes di
meja/troli yang ada di depan pasien.
e. Beri vaselin atau gel pada hidung pasien sebelum
dilakukan tindakan untuk mencegah timbulnya iritasi.
f. Letakkan handuk yang sudah dibentuk menjadi kerucut
tadi keatas gelas, lubang yang lebih besar menghadap ke
gelas dan lubang yang kecil didekatkan ke hidung
pasien.
g. Meminta pasien untuk menghirup uap yang keluar dari
campuran air hangat dan minyak kayu putih tersebut
sampai uapnya habis atau air sudah terasa dingin.
h. Merapikan alat dan pasien

18
4. Tahap Terminasi
a. Melakukan evaluasi tindakan
b. Kontrak waktu yang akan datang
c. Mendokumentasi tindakan
d. Cuci tangan

19

Anda mungkin juga menyukai