Anda di halaman 1dari 8

TEKNOLOGI, MEKANISASI, DAN SARANA PRASARANA

PRODUKSI PANGAN

TANTANGAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PRODUKSI PERTNIAN UNTUK


MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN BERKELANJUTAN

Teknologi produksi pertanian sebagai know-how yang diadpsi masyarakat di bidang


pertanian, pada prinsipnya berkembang sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat,
khususnya tingkat kesadaran masyarakat petani menerapkan kaidah efisiensi, kualitas,
efektivitas. Oleh karena itu usaha pengembangan teknologi dalam pertanian yang meliputi
pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan perlu dilakukan dengan
mempertimbangkan kemampuan petani dalam menerima teknologi baru.

Pada saat ini, kedudukan teknologi pertanian di Indonesia belum cukup efektif, hal ini
tercermin dalam menurunnya kapasitas produksi daya saing pangan nasional. Sebagai upaya
meningkatka kapasitas produksi pemerintah melakukan impor bahan pangan dalam jumlah
besar.Kebijakan impor ini akan memperlemah daya saing pertanian nasional dalam jangka
panjang.

Ketidakmampuan teknologi produksi dala mewujudkan ketahanan pangan tersebut


disebabkan oleh ketidakselarasan antara teknologi yang dikembangkan dan kebutuhan atau
persoalan nyata yang dihadapi pengguna serta kurang dipertimbangkannya kapasitas adopsi
pengguna yang meliputi kemapuan teknis, manajerial, finansial, dan sosiokultural (Lakitan,
2009).

Pemecaham masalah pengembangan teknologi pertanian untuk meningkatkan


produksi pangan berkelanjutan memerlukan kerjasama dari berbagai pihak, khususnya
pemerintah, petani, peneliti, pengembang teknologi, dan industri teknologi pertanian.

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PRODUKSI PERTANIAN

Kelemahan Teknologi Produksi ‘Revolusi Hijau’

Perubahan teknologi produksi dari tipe tekologi pertanian subsistence dan rendah
masukan teknologi (low external inputs) ke tipe teknologi produksi pertanian monokultur
dengan varietas tanaman berproduksi tinggi merupakan konsep teknologi produksi era
‘revolusi hijau’. Perubahan paradigma teknologi produksi ini memerlukan paket dukungan
teknologi berupa irigasi, pupuk mineral, pestisida, dan benih produksi tinggi.

Peningkata pemakaian pupuk mineral dan pestisida kimia selama era revolusu hijau
telah memberikan dampak negatif dalam bentu pencemaran lingkungan, penurunan
keanekaragaman hayati, peningkatan resistensi hama, dan pengurangan daya dukung bagi
predator alam dan parasit (Pimentel, 2005). Dengan demikian, upaya pengembangan
teknologi produksi pertanian di masa depan perlu diarahkann pada kelestarian lingkungan
demi mendukung ketahanan pangan dan menjamin keberlanjutan pertanian di generasi
berikutnya.

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PRODUKSI PERTANIAN


BERKELANJUTAN

Pada saat ini, ara yang ditetapkan pakar pertanian dunia dalam menanggapi dampak
revolusi hijau adalah pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Dalam konsep ini,
diperlukan perubahan radikal terhadap praktik pertanian agat terjaga kelestarin dan
produktivitas pertaian. Dampak negatif pada keberlanjutan lingkungan pertanian akan
mengancam masa depan pertanian (Li Ching, 2008)

Dalam pertanian berkelanjutan, teknologi produksi harus mampu (i) memanfaatkan


semaksimal mungkin bahan dan jasa, (ii) meminimalkan pemakaian bahan masukan yang
tidak terbarukan, (iii) bertumpu pada pengetahuan petani dan meningkatkan kepercayaan diri,
(iv) mempromosikan dan melindungi modal sosial, (v) bergantung pada praktik lokal
teradaptasi untuk diinovasi, (vi) bersift multifungsi dan menunjang sarana umum.

Dalam praktiknya, teknologi produksi pertanian berkelanjutan dapat berupa (i)


pergiliran tanaman, (ii) pemberantasan hama terpadu, (iii) pengolahan tanah konservasi, (iv)
konservasi air, (v) penanaman tanaman sayuran dan penggunaan pupuk organik atau kompos
untuk meningkatkan kesuburan (Pretty, 2001).

PENGUATAN TEKNOLOGI PRODUKSI UNTUK MENDUKUNG


KETAHANAN PANGAN BERKELANJUTAN

Masalah utama dalam ketersediaan pangan Indonesia adalah terbatasnya kapasitas


produksi dan daya saing pangan nasional. Hal ini disebabkan faktor teknis dan sosial
ekonomi. Faktor teknis ; (i) penyusutan area lahan tani, (ii) produktivitas pertanian rendah,
(iii) teknologi belum efektif, (iv) infrastruktur irigasi stagnan, (v) kegagalan produksi karena
faktor iklim. Faktor sosial ekonomi ;(i)penyedian sarana produksi belum terjamin, (ii)kendala
peningkatan efisiensi produksi karena laju penurunan luas kepemilikan lahan tani, (iii) belum
ada jaminan harga produk, (iv) tata niaga produk tidak memiak petani, (v) terbatasnya devisa
untuk impor sebagai alternatif akhir (Anonim, 2005).

MAKNA SISTEM PANGAN DAN KETAHANAN PANGAN

GECAFS (Gregory et al., 2005) mendefinisikan sistem pangan sebagai himpunan


interaksi dinamis dalam lingkungan manusia dan biofisik bumi yang menghasilkan kegiatan
produksi, pengolahan, distribusi, penyiapan, dan konsumsi pangan.

Komponen sistem pangan terdiri atas (i) ketersediaan pagan dengan unsur pendukung
produksi, distribusu, dan pertukaran, (ii) akses pangan dengan unsur pendukung
keterjangkauan finansial, alokasi, dan pilihan, (iii) kegunaan pangan dengan unsur
pendukung nilai nutrisi, sosial, dan keamanan pangan (ngram et al., 2005).
Tekanan terhadap sistem pangan berasal dari faktor ; (i) kemiskinan dan
keterbelakangan pendidikan, (ii)kenaikan harga pangan, (iii) keterbatasan lapangan kerja,
(iv)akses pasar buruk, (v)ketidakjelasan kepemilikan lahan, (vi) perubahan iklim (Scholes et
al., 2004).

TANTANGAN KELAMBATAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI


PRODUKSI

Teknologi produksi yang tidak efektif dikaitkan dngan faktor berikut ; pertama,
lambannya proses transisi dari teknologi produksi revolusi hijau ke teknologi pertanian
berkelanjutan.Ini disebabkan lemahny akebijkan yang mendukung pengembangan pertanian
ramah lingkungan. Al ini tercermin dai sulitnya memperoleh kesepakatan perumusan
teknologi alternatif untuk memperbaiki teknologi revolusi hijau (Sumarno, 2007). Kedua,
teknologi pertanian yang dikembangkan belum selaras dengan kebutuhan dan persoalan nyata
yang dihadapi pengguna (Lakitan, 2009). Ketiga, kenyataan sangat lambatnya proses inovasi
teknologi dalam transisi pertanian subsisten ke usaha tani komersial memang sejalan dengan
konsep sustainable pathways dalam induce innovation ayami dan Park (Handaka, 2004).

REORIENTASI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PRODUKSI RAMAH


LINGKUNGAN

Dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia, perlu dilakukan reorientasi


pengembangan teknologi produksi pertanian, ini penting mengingat penggunaan teknologi
produksi era revolusi hijau merusak lingkungan seperti pengolahan tanah intensif dan
pemakaian pupu dan pestisida yang terus berlangsung. Hal ini disebabkan alternatif yang
ramah lingkungan belum sepenuhnya tersedia.

Pengembangan teknologi produksi pertanian ramah lingkungan perlu


mempertimbangkan tantangan perubhan iklim masa ini. Di wilayah tropis perubahan iklim
dapat menghasilkan intensitas hujan lebih tinggi di antara periode kering yang makin panjang
serta berkurangnya variasi sumber daya air. Keadaan ini dapat memacu berkembangnya hama
penyakit pada tanaman, meningkatya erosi, dan penggurunan (Rosegrant et l., 2003).

Kemampuan adaptif teknologi menghadapi perubahan iklim perlu duperhatikan agar


petani dapat memanfaatkan teknologi baru dengan pengaturan muda untuk menyesuaikan
dengan perubahan ilim yang masih berlangsung.

GRAND DESIGN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PRODUKSI


PERTANIAN

Grand design pengembangan merupakan gambaran menyeluruh dari strategi yang


diperlukan dalam membangun teknologi produksi untuk mendukung ketahanan pangan
berkelanjutan.

Grand design ini perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu (i) cakupan teknologi
produksi yang meliputi sumber daya lahan, sarana produksi biologis, sarana produksi sinteis,
alat mesin, dan kelestarian lingkungan, (ii) kemampuan teknologi meningkatkan produksi,
(iii) kemampuan teknologi mengurangi kerentanan sistem pangan terhadap perubahan iklim,
(iv) pengembangan teknologi memihak pengguna primer teknologi, (v) pengembangan
teknologi diwujudkan melalui kerja sama pemerintah, (vi) pengembangan teknologi bersifat
demand-driven, (vii) pengembangan teknologi produksi punya visi mewujudkan pertanian
berbasis iptek. (viii) memiliki tolak ukur keberhasilan pengembangan teknologi produksi.

MAKNA DAN LINGKUP MEKANISASI PERTANIAN

Pada umunya, mekanisasi pertanian dimaknai sebagai pengunaan alat dan esin untuk
berbagai kegitan dalam proses produksi pertanian. Teknologi mekanis diperlukan untuk
mendukung pekerjaan manusia di bidang pertanian agar beban kerja fisik jadi lebih ringan,
kapasitas kerja meningkat, dan kualitas kerja lebih baik.Teknologi ini berwujud peralatan dan
mesin yang digerakkan oleh motor yang bekerja sesuai rancangannya.

Dalam kaitannya dengan ketaanan pangan, mekanisasi akan dapat berperan jika
penerapan teknologinya mampu mendorong peningkatan produksi dengan biaya produksi
yang lebih rendahdaripada dengan tenaga manual.

PERAN MEKANISASI PERTAIAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI


PANGAN

Rendahnya adopsi teknologi mekanisasi umunya disebabkan oleh (i) akses teknologi
tidak memadai, (ii) kurangnya motivasi.

Tujuan dasa mekanisasi pertanian sebenarnya untuk meningkatkan efisiensi lahan dan
tenaga kerja, meningkatkan luas lahan yang dapat ditanami, menghemat energi, dan sumber
daya (benih, pupuk, air), meningkatkan efektivitas, produktivitas, dan kualitas hasil tani,
mengurangi beban petani, menjaga kelestarian lingkungan dan produksi pertanian yang
berkelanjutan, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani (Salokh et al., 1998).

Mekanisasi ertnian meningkatkan produktivitas melalui penglahan tanah yang baik,


mengurangi kehilangan hasil, serta meningkatkan ketepatan waktu dalam aktivitas pertanian.
Dalam kaitannya dengan peningkatan produksi pertanian, mekanisasi pertanian mempunyai
peran yang bersifat partisipatif (Handaka, 2005).

TANTANGAN MEKANISASI DALAM PENINGKATAN PRODUKSI DI


LAHAN SEMPIT

Peran partisipatif mekanisasi pertanian meningkatkan produksi di lahan sempit dapat


dilakukan melalui konsep bantuan jasa teknologi mekanis yang terjangkau secara finansial
oleh petani.

Pertanian lahan sempit pada umunya sangat intensif agar produksi per satuan luas
(yield) maksimal. Karena itu diperlukan sarana produksi dan cara budidaya yang tepat hingga
memerlukan biaya yang besar. Petani memiliki keterbatasan biaya hingga pertanian intensif
dilaksanakan dengan input teknologi yang tidak seimbang hingga berdampak negatif terhadap
produksi dan lingkungan. Teknologi mekanisasi berpeluang memperbaiki praktik ini melalui
cara pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen yang efisien. Jika
teknologi mekanis diterapkan disertai penggunaan yang terjamin kualitasnya, ini akan
berpeluan membantu menghasilkan yield yang setara atau lebih tinggi dengan keuntungan
lebih ramah lingkungan.

MEKANISASI PRTANIAN MASA DEPAN DAN KEBERLANJUTAN


KETAHANAN PANGAN

Persyaratan teknologi masa depan ialah (i) mengutamakan produktivitas, efisiensi,


dan mutu, (ii) kelestarian lingkungan, (iii) tersedia dalam rakitan operasi standar baku sebaga
sarana precision farming (Sumarno, 2007).

Agar pertanian mekanisasi cepat berkembang di masa depan, perlu dilakukan ; (i)
membangun asosiasi petani, )ii) penetapan kebijakan perdagangan yang kondusif,
(iii)peningkatan kemampuan dan pengembangan, (iv) mendirikan lembaga keuangan
pertanian, (v) memberikan pendidikan ke petani, (vi) mendirikan fasilitas produksi dan
perbaikan, (vii) meningkatkan jasa penyewaan alsintan agar petani kecil mendapat manfaat
dari alsintan (Handaka et al., 2004).

SARANA DAN PRASARANA PRODUKSI UNTUK MENDUKUNG


KETAHANAN PANGAN

Produksi pertanian yang diperlukan untuk mendukung ketahanan pangan sangat


ditentukan keberhasilan proses budidaya di lahan. Produksi ini tergantung kualitas sarana
produksi (benih, pupuk, pestisida, dan alat) yang digunakan, kemampuan prasarana produksi
(laham, air, dan iklim) untuk mendukung proses budidaya, dan ketepatan metode budidaya
yang diterapkan.

SARANA BENIH, PUPUK, DAN PESTISIDA

Ketersediaan benih bersertifikat merupakan persyaratan untuk mendapat benih


unggul, tetapi nyatanya banyak beni bersertifikat yang kurang berkualitas akibat praktik
manipulasi yang dipicu terbatasnya persediaan benih bersertifikat.karena itu, perlu diperjelas
kemungkinan petani menangkar sendiri benih unggul dari varietas pertanaman varietas
unggul murbi. Menurut Sumarno (2007) ini dimungkinkan karena varietas tanaman pangan
tergolong menyerbuk sendiri bersifat homogen-homozigot, dapat ditanam berpuluh generasi
tanpa penurunan genetik, syaratnya petani harus bisa memilih benih sehat tanpa gejala
penyakit.

Dari segi kebutuhan pupuk, pemakaian pupuk kimia sintetik 250 kg/ha setara dengan
pengunaan pupuk organik 25 ton/ha, jumlah yang besar dari segi biaya dan tenaga kerja
(Husnain et al, 2005). Apabila tantangan teknologi sarana produksi pupuk ini tidak diatasi
pemakaian pupuk kimia akan terus berlangsung kearena potensi produktivitas tanaman,
dengan pupuk organik sebelum revolusi hijau sangat rendah, yaitu 2,5-3,2 kg/ha (Sumarno,
2007).
Sebagai negara tropis, potensi serangan haman dapat berlangsung sepanjang tahun
karena inang dan bahan makanan tersedia. Penerapan budidaya padi ecara monokultur
dengan varietas tunggal tanpa periode bero menjadikan tanaman padi sebagai inagng tanpa
pemutusan siklus. Teknologi pengendalian hama terpadu merupakan alternatif mengurangi
pestisida sintetik yang mencemari lingkungan.

SARANA ALAT MESIN PERTANIAN

Alat mesin pertanian diperlukan untuk membantu pelaksanaan proses produksi agar
tepat waktu, meringankan kerja, dan meningkatkan roduktivitas. Ketersediaan alat mesin
bergantung kebutuhan yang timbul sesuai dengan arah perkembangan mekanisasi peetanian
di ektor produksi pertanian panagn. Penyediaan sarana peralatan tanam, inovasi teknologi
berkelanjutan bersama dengan petani agar dapat diperoleh peralaan yang dapat diadopsi
petani.Penyediaan sarana mesin juga dapat meningkatkan ketertarikan generasi muda masuk
ke sektor pertanian dengan petimbangan kenyamanan kerja dan prestise yang lebih baik di
mata masyarakat.

PASARANA LAHAN, AIR IRIGASI, DAN IKLIM

Dalam mendukung ketahanan pangan, luas lahan potensial yang dapat dikembangkan
menjadi lahan pertanian perlu diperjelas datanya. Sistem pemasokan air air irigasi di lahan
tanaman pangan beririgasi perllu diperbaiki. Kemungkinan perluasan jaringan irigasi di lhan
kering perlu dapat perhatian karena air berpotensi meningkatkan jumlah pertanaman tiap
tahunnya. Ancaman perubhan iklim perl mendapat perhatian utama. Adaptasi cara buididaya
tanaman terhadp perubahan iklim perlu dikaji serus hingga petani tidak mengalami
kebingungan dalam menyikap perubahan iklim.

POTENSI PERLUASAN AREA PERTANIAN PANGAN

Penyediaan lahan pertanian pangan saat ini mengalami masalah akibat pertambahan
pnduduk dan persaingan kepentigan penggunaan lahan. Ini memicu alih fungsi lahan
pertanian pangan untuk kepentingan nirpertnian dan penurunan kualitas lahan akibat
aksploitasi berlebih, akibatnya terjadi pengurangan kualitas lahan yang mengancam
ketahanan pangan nasional. Karena itu penambahan areal pertanian pangan dan pemeliharaan
kualitas lahan pertanian yang produktif mendesak untuk dilakukan (Suhartanto, 2009).

Peningkatan produksi pangan nasional yang lambat disebabkan oleh pengembangan


lahan pertanian pangan baru tidak mampu mengimbangi laju konversi lahan pertanian
produktif menjadi lahan nirpertanian. Jika tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan
produktivitas secara nyata dan membuka areal baru pertanian pangan, dapat dipastikan
produksi pangan dalam negeri tidak akan mampu mencukupi kebutuhan pangan nasional
(Hutapea et al., 2003).
STRATEGI PERLUASAN AREA PERTANIAN

Strategi perluasan tersebut meliputi ; (i) pemanfaatan lahan terlantar yang luasnya
mencapai 12,4 juta ha, (ii) pengendalian konversi ahan pertanian yang encapai 32000 ha per
tahun, (iii) perluasan sawah di luar jawa dengan persiapan matang, (iv) perluasan areal
pertanian lahan kering yang terbatas pada lahan tidur (alang-alang), (v) penataan keagrarian
untuk memberikan hak guna usaha tanah jangka panjang pada petani untuk menghindari
eksploitasi lahan secara berlebihan (Mulyani et al., 2006).

KESIMPULAN

1. Teknologi produksi pertanian Indonesia belum optimal karena lambatnya


inovasi teknologi dan belum terwujud kesepakatan teknologi alternatif
2. Reorientasi pengembangan teknologi produksi pada mata rantai proses
produksi perlu seger dilakukan untuk mengurangi kerusakan lingkungan
3. Pengembangan teknologi produksi di masa depan perlu didasari grand design
yang komprehensif dan berorientasi pengguna.
4. Perlu keberpihakan pemerintah mendorong pengembangan teknologi produksi
inovatif yang diperlukan unutk pertanian berkelanjutan
5. Mekanisasi pertanian puny aperan sentral dalam meningkatkan produksi
pertanian melalui potensi peningkatan efisiensi proses, kapasitas kerja,
ketepatan waktu, dan efektivitas pekerjaan.
6. Mekanisasi petanian yang diterapkan scara bersamaan dengan perluasan lahan
baru akan meningkatkan produksi untuk mendukung ketahanan pangan
berkelanjutan
7. Mekanisasi pertanian di lahan sempit merupakan mayoritas lahan petani kecil
yang bisa membantu meningkatkan produksi dengan dukungan pemerintah
8. Mekanisasi pertanian masa depan akan berperan dalam mendukung pangn
berkelanjutan hingga perlu dukungan kompetensi inovasi, perekayasaan, dan
pengembangan teknologi lewat kerja sama industri, pemerintah, petani.
9. Pengembangan teknologi srana produksi untuk mendukung ketahanan pangan
berkelanjutan masih menghadapi tantangan, terutama dalam pengadaan benih
berkualtas, pestisida hayati, dan pupuk organik efektif.
10. Masih perlu optimisasi fungsi prasarana produksi dalam bentuk ketersediaan
informasi tentang kesesuaiandan potensi lahan bagi proses produksi pertanian,
efisiensi dan efektivitas pasokan air dan kesiapan teknologi menghadapi
perubahan iklim global
11. Potensi perluasan lahan pangan masih cukup besar jhususnya lahan basah atau
sawah.
12. Perluasan lahan tani masih terbuka di lahan kering meskipun terbatas.
13. Perluasan lahan tani akan berkurang dampaknya teradap ketahanan pangan
jika laju alih fungsi lahan pertanian pangan menjadi lahan nirpertanian dan
degradasi lahan tidak dikendalikan secara maksimal.