Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS INTERNSIP

SEORANG ANAK 10 TAHUN DENGAN TONSILITIS KRONIK DAN


DEHIDRASI SEDANG

Diajukan untuk memenuhi tugas internsip

Oleh : Elvita Chandra Pranata

Pembimbing : dr. Puji Indarti

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TEMANGGUNG

2019
HALAMAN PENGESAHAN

Studi kasus yang berjudul “Seorang Anak 10 Tahun dengan Tonsilitis


Kronis dan Dehidrasi Sedang” telah disahkan dan disetujui pada :

Hari : Kamis

Tanggal : 28 Maret 2019

Disetujui Oleh :

Pembimbing

dr. Puji Indarti


DAFTAR HADIR LAPORAN KASUS
TANGGAL: 28 Maret 2019
No Nama TTD
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5

6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20

Mengetahui,
Pembimbing,

dr. Puji Indarti


BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu penyakit yang paling sering berulang pada bagian tenggorok

adalah tonsillitis kronis terutama pada usia muda. Penyakit ini terjadi disebabkan

peradangan pada tonsil oleh karena kegagalan atau ketidaksesuaian pemberian

antibiotik pada penderita Tonsilitis Akut. Ketidaktepatan terapi antibiotik pada

penderita Tonsilitis Akut akan merubah mikroflora pada tonsil, merubah struktur

pada kripte tonsil, dan adanya infeksi virus menjadi faktor predisposisi bahkan

faktor penyebab terjadinya Tonsilitis Kronis.1,2

Tonsilitis kronik pada anak mungkin disebabkan karena anak sering

menderita ISPA atau karena tonsilitis akut yang tidak diterapi adekuat atau

dibiarkan. Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT di 7 provinsi (Indonesia)

pada tahun 1994-1996, prevalensi tonsilitis kronik tertinggi setelah nasofaringitis

akut (4,6%) yaitu sebesar 3,8%.3

Secara klinis pada tonsilitis kronik didapatkan gejala berupa nyeri tenggorok

atau nyeri telan ringan, mulut berbau, badan lesu, sering mengantuk, nafsu makan

menurun, nyeri kepala dan badan terasa meriang. Pada tonsilitis kronik hipertrofi

dapat menyebabkan apnea obstruksi saat tidur; gejala yang umum pada anak

adalah mendengkur, sering mengantuk, gelisah, perhatian berkurang dan prestasi

belajar yang kurang baik.4


BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PENDERITA

Nama : An. F

Umur : 10 tahun

Agama : Islam

Alamat : Tepusen RT 2 RW 1 Kaloran, Temanggung

Pekerjaan : Belum bekerja

No. CM : 00180441

II. ANAMNESIS

Aloanamnesis dan autoanamnesis pada tanggal 11 Maret 2019 pukul 06.00 WIB

di IGD RSUD Temanggung.

Keluhan Utama :

Lemas

Perjalanan Penyakit Sekarang :

± 1 jam SMRS pasien merasa lemas lalu pasien dibawa orangtuanya ke IGD

RSUD Temanggung. ± 3 hari SMRS pasien tidak mau makan . Pasien masih mau

minum sedikit. BAK terakhir kali 3 jam SMRS. Pasien mengaku tidak mau

makan karena nyeri saat menelan. Sudah 1 minggu SMRS pasien merasakan nyeri

saat menelan. Keluhan dirasa terus menerus. Nyeri diperberat saat digunakan

untuk menelan makanan besar seperti nasi dan daging. Rasa mengganjal di
tenggorokan (+). Pasien masih bisa berbicara seperti biasa, tidak ada suara serak.

±3 hari SMRS pasien mendengkur saat tidur namun tidak sampai menyebabkan

terbangun karena sesak nafas atau tersedak. Pasien juga mengeluh demam tapi

hilang timbul. Bau mulut (+).

Sebelumnya pasien pernah merasakan nyeri telan dan batuk lebih dari 3 kali

dalam setahun. Setelah diberi obat oleh dokter membaik. Pasien tidak merasakan

keluhan di telinga maupun hidung.

Riwayat Penyakit Dahulu:

– Riwayat nyeri telan dan batuk 1 tahun yang lalu

– Riwayat alergi (-), asma (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :

– Riwayat keluarga dengan penyakit serupa (-)

– Riwayat alergi (-), asma (-)

Riwayat Sosial Ekonomi :

Pasien adalah anak tunggal. Ayah bekerja sebagai wiraswasta dan ibu tidak

bekerja. Pengobatan menggunakan BPJS . Kesan sosial ekonomi cukup.

PEMERIKSAAN FISIK

Tanggal 11 Maret 2019 pukul 06.00 WIB.

Status Generalis

Keadaan umum : tampak lemah


Kesadaran : Compos mentis

Tanda vital : TD : 100/60 Suhu : 37,3 C

Nadi : 108 x/menit RR : 30 x/menit

BB : 45 kg

Pemeriksaan fisik : Aktivitas : Normoaktif

Kooperativitas : Kooperatif

Status gizi : Normoweight

Kepala : Mesosefal

Thoraks : Jantung : Dalam batas normal

Paru : Dalam batas normal

Abdomen : Supel, Bunyi usus (+) Normal

Ekstremitas : Cap refill time >2/>2

Status Lokalis:

Telinga:

Bagian Telinga Telinga kanan Telinga kiri


Daerah Hiperemis (-), edema (-), Hiperemis (-), edema (-),
preaurikula fistula (-), fluktuasi (-) fistula (-), fluktuasi (-)
Normotia, nyeri tekan tragus Normotia, nyeri tekan tragus
Aurikula
(-), nyeri tarik aurikula (-) (-), nyeri tarik aurikula (-)
Hiperemis (-), edema (-), Hiperemis (-), edema (-),
Retroaurikula
fistula (-), fluktuasi (-) fistula (-), fluktuasi (-)
Hiperemis (-), edema (-), Hiperemis (-), edema (-),
Mastoid
nyeri tekan (-), nyeri ketok (-) nyeri tekan (-), nyeri ketok (-)
Serumen (-), edema (-),
CAE / MAE Serumen (-), edema (-),
hiperemis (-), discharge (-)
hiperemis (-), discharge (-)
Warna putih mengkilat, reflek Warna putih mengkilat, reflek
Membran
cahaya(+) arah jam 5, cahaya(+) arah jam 5,
timpani
perforasi (-), granulasi(-) perforasi (-), granulasi(-)

Hidung:

Gambar :

Pemeriksaan Hidung Hidung Kanan Hidung Kiri


Inspeksi : Bentuk (N), simetris, deformitas (-),warna
kulit sama dengan sekitar, alergic shinner (-), alergic
Hidung Luar
crease (-), alergic salute(-)
Palpasi : os nasal : krepitasi (-/-), nyeri tekan (-/-)
Sinus Nyeri tekan (-), nyeri ketok (-)
Rinoskopi Anterior
Discharge (-) (-)
Hiperemis (-),livid (-) Hiperemis (-),livid (-)
Mukosa

Edema (-), hipertrofi (-), Edema (-), hipertrofi (-),


Konka livid (-) livid (-)

Tumor Massa (-) Massa (-)


Septum nasi Deviasi(-),perdarahan (-) Deviasi(-), perdarahan (-)

Tenggorok:

Gambar :

Orofaring Keterangan
Palatum Simetris, hiperemis (-)
Arkus Faring Simetris, uvula ditengah,
Dinding faring
Hiperemis (-)
posterior
Ukuran T4, hiperemis (-), Ukuran T4, hiperemis (-),
permukaan tidak rata, permukaan tidak rata,
Tonsil
kripte melebar (+), detritus kripte melebar (+), detritus
(+), membran (-) (+), membran (-)
Peritonsil Hiperemis (-), edema (-), fluktuasi (-)

Kepala dan Leher :

Kepala : Mesosefal

Wajah : Simetris, deformitas (-)


Leher anterior : Pembesaran nnll (-/-)

Leher lateral : Pembesaran nnll (+/+)

Lain-lain : (-)

RINGKASAN

± 1 jam SMRS pasien merasa lemas lalu pasien dibawa orangtuanya ke IGD

RSUD Temanggung. ± 3 hari SMRS pasien tidak mau makan . Pasien masih

mau minum sedikit. Sudah 1 minggu SMRS pasien merasakan nyeri saat

menelan. Rasa mengganjal di tenggorokan (+). ±3 hari SMRS pasien

mendengkur saat tidur namun tidak sampai menyebabkan terbangun karena

sesak nafas atau tersedak. Pasien juga mengeluh demam tapi hilang timbul.

Bau mulut (+). Sebelumnya pasien pernah merasakan nyeri telan dan batuk

lebih dari 3 kali dalam setahun. Dari pemeriksaan fisik didapatkan tonsil T4-

T4, kripte melebar (+/+), detritus (+/+), hiperemis (-/-). Pembesaran nnll leher

bagian lateral (+/+).

DIAGNOSIS SEMENTARA :

- Tonsilitis kronik dengan dehidrasi sedang

RENCANA PENGELOLAAN :

1. Terapi

- Infus asering rehidrasi 250 cc lanjut 15 tpm

- Konsul dr. Pramono, Sp THT-KL


 Injeksi Ceftriaxon 2 x 500 mg

 Injeksi dexametason 3 x 1 ampul

 Ro thorax AP

 Rencana operasi besok tanggal 12/3/2019

 Konsul anestesi

 Cek darah rutin, CT/BT, HbsAg, Anti HIV

2. Edukasi :

- Menjelaskan kepada pasien mengenai diagnosis dan rencana

penatalaksanaan penyakit yaitu operasi pengangkatan tonsil

- Mengedukasi pasien untuk menghindari makanan berminyak,

minuman dingin dan makanan pedas. Makanan yang bergizi untuk

meningkatkan daya tahan tubuh sehingga mempercepat proses

penyembuhan.

- Menganjurkan pasien untuk kontrol ke poli THT

3. Prognosis :

– Quo ad sanam – ad bonam

– Quo ad vitam – ad bonam

– Quo ad fungsionam – ad bonam


PROGRESS NOTE

Tanggal Diagnosis Terapi


12/3/2019 S : tidak lemas lagi, nyeri telan - pro tonsilektomi hari ini
minimal
- pre op : injeksi ceftriaxon 2 x
O :KU : cukup 500 mg dan injeksi dexa 3 x 1
08.00
ampul
Kesadaran : CM
TV: TD : 120/70 mmHg - Infus asering 15 tpm

Nadi : 69x /mnt


RR :24 x /mnt
Suhu :360C
A : Tonsilitis kronik
12/3/2019 S : post op. Pasien mengatakan - Infus asering 15 tpm
nyeri skala 7
- Inj. Ceftriaxone 2 x 500 mg
O :KU lemah
10.00 - inj. Dexa 3 x1 ampul
Kesadaran : CM
- inj. Kalnex 3x250 mg
TV: TD : 130/76 mmHg
- inj. Antrain 2x ½ ampul
Nadi : 87x /mnt
RR : 25x/menit
Sss Suhu : 36 C
AAA : Tonsilitis kronik
Laporan operasi

Nama ahli bedah : dr. Pramono, Sp. THT-KL


Nama dokter anestesi : dr. Uud Saputro, Sp. An

Diagnosis pre operatif : Tonsilitis kronik hipertrofi

Diagnosis post operatif : Tonsilitis kronik hipertrofi

Jaringan yang di eksisi/insisi : tonsil

Nama operasi : tonsilektomi

Laporan operasi :

1. Pada saat dilakukan operasi pasien terlentang di meja operasi dalam anestesi
umum.

2. Dilakukan tindakan asepsis dan antisepsis.

3. Dilakukan pemasangan mouth gag, tampak dinding faring posterior laserasi


mukosa.
4. Dilakukan insisi batas antara kapsul tonsil dengan pilar anterior tonsil kiri, lalu
tonsil dilepaskan dengan perlahan dengan menggunakan respa tumpul, tonsil yang
sudah terlepas kemudian dibuang, perdarahan diatasi dengan ligasi.
5. Hal yang sama dilakukan pada tonsil kanan, perdarahan juga diatasi dengan
ligasi.
6. Mouth gag dilepaskan perlahan.
7. Operasi selesai.
Hasil pemeriksaan laboratorium

Hasil Satuan Nilai normal

Leukosit 10,2 103/mm3 3.8 – 10.6

Eritrosit 4.96 106/mm3 4,4 – 5.90

Hemoglobin 14,3 g/dl 13.2 – 17,3

Hematokrit 40 % 40 – 52

Platelet 308 103/mm3 150 – 440

MCV 80,2 µm3 80 – 100

MCH 28,8 Pg 26 – 34

MCHC 35,9 g/dl 32 – 36

Hitung Jenis

Eosinofil 0,9 (L) % 2–4

Basofil 0,5 % 0–1

Netrofil 76 (H) % 32– 52

Limfosit 16,9 (L) % 30 – 60

Monosit 5.9 % 2–8

CT-BT

Masa pembekuan 6’30’’ menit 5-8


(CT)

Masa pendarahan 1’30’’ menit 1-3


(BT)

Imunologi

HBsAg Non reaktif Non reaktif

Anti HIV Non reaktif Non reaktif


BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Tonsil

3.1.1 Anatomi dan Fisiologi

Tonsila palatina adalah suatu jaringan limfoid berbentuk oval berukuran 2-

5cm yang terletak di fossa tonsilaris di kedua sudut lateral orofaring dan

merupakan salah satu bagian dari cincin Waldeyer. Struktur tonsila palatina lebih

padat dibandingkan jaringan limfoid lainnya. Pada sisi lateralnya terbungkus oleh

kapsul tipis dan pada sisi medialnya terdapat kira–kira 10-30 kripte seperti yang

terlihat saat pemeriksaan fisik. Kripte yang berjumlah banyak dan dalam ini

berfungsi sebagai tempat antigen dalam kaitannya dengan fungsi tonsil dalam

pertahanan tubuh. Vaskularisasi utama tonsil didapatkan dari arteri lingualis

dorsalis, arteri pharyngeal ascendens, arteri pharyngeal descendens, dan arteri

palatina ascendens cabang arteri fasialis. Tonsil merupakan barrier awal dan

organ MALT (Mucosa-Associated Lymphoid Tissue system) pertama pada tubuh

manusia. Tonsil mempunyai dua fungsi utama yaitu menangkap dan

mengumpulkan antigen (protein benda asing) yang masuk ke saluran makanan

maupun saluran pernafasan, serta sebagai organ produksi antibodi dan sensitisasi

sel limfosit T. Apabila patogen ini menembus lapisan epitel maka sel-sel imun

pada tonsil akan mentransport antigen ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis

immunoglobulin spesifik dan yang dilanjutkan dengan eliminasi antigen. Fase

utama atau puncak aktivitas pembentukan sistem imun berlangsung dari usia 3
tahun dan berlanjut hingga sekitar usia 6-10 tahun, pada usia ini hiperplasia tonsil

akan ditemukan dan bersifat fisiologis. Hal ini juga yang menjelaskan mengapa

insidensi tonsilitis maupun tonsilofaringitis banyak ditemukan pada anak usia

sekolah.5,6,7

Gambar 1. Anatomi tonsil

3.2 Tonsilitis Kronik

3.2.1 Definisi Tonsilitis Kronik

Tonsilitis kronis secara umum diartikan sebagai infeksi atau inflamasi

pada tonsila palatina yang menetap. Tonsilitis kronis disebabkan oleh serangan

ulangan dari tonsilitis akut yang mengakibatkan kerusakan yang permanen pada
tonsil. Organisme patogen dapat menetap untuk sementara waktu ataupun untuk

waktu yang lama dan mengakibatkan gejala-gejala akut kembali ketika daya tahan

tubuh penderita mengalami penurunan. Tonsilitis kronis adalah peradangan kronis

tonsil setelah serangan akut yang terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis.

Tonsilitis berulang terutama terjadi pada anak-anak dan diantara serangan tidak

jarang tonsil tampak sehat, tetapi tidak jarang keadaan tonsil diluar serangan

terlihat membesar disertai dengan hiperemi ringan yang mengenai pilar anterior

dan apabila tonsil ditekan keluar detritus.8

3.2.2 Etiologi dan Predisposisi

Etiologi penyakit ini dapat disebabkan oleh serangan ulangan dari

tonsilitis akut yang mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil atau

kerusakan ini dapat terjadi bila fase resolusi tidak sempurna. Pada pendería

tonsilitis kronis jenis kuman yang sering adalah Streptokokus beta hemolitikus

grup A (SBHGA). Selain itu terdapat Streptokokus pyogenes, Streptokokus grup

B, C, Adenovirus, Epstein Barr, bahkan virus Herpes.

Penelitian Abdulrahman AS, Kholeif LA, dan Beltagy di Mesir tahun 2008

mendapatkan kuman patogen terbanyak di tonsil adalah Staphilokokus aureus,

Streptokokus beta hemolitikus grup A, E.coli dan Klebsiela. Dari hasil penelitian

Suyitno dan Sadeli kultur apusan tenggorok didapatkan bakteri gram positif

sebagai penyebab tersering Tonsilofaringitis Kronis yaitu Streptokokus alfa

kemudian diikuti Stafilokokus aureus, Streptokokus beta hemolitikus grup A,

Stafilokokus epidermidis dan kuman gram negatif berupa Enterobakter,

Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella dan E. coli.1


Selain itu, yang harus menjadi perhatian adalah faktor predisposisi

timbulnya tonsilitis kronis adalah rangsangan menahun dari rokok, beberapa jenis

makanan, hygine mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan

pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat.9

3.2.3 Diagnosis Banding

Diagnosis banding dari tonsillitis kronik adalah:9

1. Penyakit-penyakit yang disertai dengan pembentukan pseudomembran

yang menutupi tonsil (tonsillitis membranosa)

a Tonsillitis difteri

Disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Tidak semua

orang yang terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini

tergantung pada titer antitoksin dalam darah. Titer antitoksin sebesar

0,03 sat/cc darah dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas.

Gejalanya terbagi menjadi 3 golongan besar, umum, lokal dan gejala

akibat eksotoksin. Gejala umum sama seperti gejala infeksi lain, yaitu

demam subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi

lambat dan keluhan nyeri menelan. Gejala lokal yang tampak berupa

tonsi membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin

meluas dan membentuk pseudomembran yang melekat erat pada

dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Gejala akibat

eksotoksin dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh, misalnya

pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai dekompensasi kordis,


pada saraf cranial dapat menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan

otot pernafasan serta pada ginjal dapat menimbulkan albuminuria

b Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa)

Gejala yang timbul adalah demam tinggi (39˚C), nyeri di mulut, gigi

dan kepala, sakit tenggorok, badan lemah, gusi mudah berdarah dan

hipersalivasi. Pada pemeriksaan tampak membran putih keabuan di

tonsil, uvula, dinding faring, gusi dan prosesus alveolaris. Mukosa

mulut dan faring hiperemis. Mulut berbau (foetor ex ore) dan kelenjar

submandibula membesar.

c Mononucleosis infeksiosa

Terjadi tonsilofaringitis ulseromembranosa bilateral. Membran semu

yang menutup ulkus mudah diangkat tanpa timbul perdarahan, terdapat

pembesaran kelenjar limfe leher, ketiak dan region inguinal. Gambaran

darah khas yaitu terdapat leukosit mononucleosis dalam jumlah

besar. Tanda khas yang lain adalah kesanggupan serum pasien untuk

beraglutinasi terhadap sel darah merah domba (Reaksi Paul Bunnel).

2. Penyakit Kronik Faring Granulomatus

a Faringitis Tuberkulosa

Merupakan proses sekunder dari TBC paru. Keadaan umum pasien

buruk karena anoreksi dan odinofagi. Pasien mengeluh nyeri hebat di

tenggorok, nyeri di telinga (Otalgia) dan pembesaran kelenjar limfa

leher.
b Faringitis Luetika

Gambaran klinis tergantung dari stadium penyakit primer, sekunder

atau tersier. Pada penyakit ini dapat terjadi ulserasi superfisial yang

sembuh disertai pembentukan jaringan ikat. Sekuele dari gumma bisa

mengakibatkan perforasi palatum mole dan pilar tonsil.

c Lepra

Penyakit ini dapat menimbulkan nodul atau ulserasi pada faring

kemudian menyembuh dan disertai dengan kehilangan jaringan yang

luas dan timbulnya jaringan ikat.

d Aktinomikosis Faring

Terjadi akibat pembengkakan mukosa yang tidak luas, tidak nyeri bisa

mengalami ulserasi dan proses supuratif. Blastomikosis dapat

mengakibatkan ulserasi faring yang ireguler, superficial, dengan dasar

jaringan granulasi yang lunak.

Penyakit-penyakit diatas, keluhan umumnya berhubungan dengan nyeri

tenggorok dan kesulitan menelan. Diagnosa pasti berdasarkan pada pemeriksaan

serologi, hapusan jaringan atau kultur, X-ray dan biopsi.

3.2.4 Patofisiologi

Patofisiologi tonsillitis yaitu kuman menginfiltrasi lapisan epitel, bila

epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial mengadakan reaksi. Terdapat

pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Proses ini

secara klinik tampak pada korpus tonsil yang berisi bercak kuning yang disebut
detritus. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas.

Suatu tonsillitis akut dengan bercak detritus disebut tonsillitis folikularis, bila

bercak detritus berdekatan menjadi satu membentuk alur maka terjadi tonsillitis

lakunaris. Bila bercak melebar, lebih besar lagi sehingga terbentuk membrane

semu (Pseudomembran), sedangkan pada tonsillitis kronik terjadi karena proses

radang berulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis. Sehingga pada

proses penyembuhan, jaringan limfoid diganti jaringan parut. Jaringan ini akan

mengkerut sehingga ruang antara kelompok melebar (kriptus) yang akan diisi oleh

detritus. Proses ini meluas sehingga menembus kapsul dan akhirnya timbul

perlengketan dengan jaringan sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai

dengan pembesaran kelenjar limfe submandibular.4

3.2.5 Penegakkan Diagnosis

1. Anamnesis

Penderita sering datang dengan keluhan rasa sakit pada tenggorok

yang terus menerus, sakit waktu menelan, nafas bau busuk, malaise, sakit

pada sendi, kadang-kadang ada demam dan nyeri pada leher. Pada anak,

tonsil yang hipertrofi dapat terjadi obstruksi saluran nafas atas yang dapat

menyebabkan hipoventilasi alveoli yang selanjutnya dapat terjadi

hiperkapnia dan dapat menyebabkan kor polmunale. Obstruksi yang berat

menyebabkan apnea waktu tidur, gejala yang paling umum adalah

mendengkur yang dapat diketahui dalam anamnesis.10


Gejala tonsillitis kronis dibagi menjadi: gejala lokal yang

bervariasi dari rasa tidak enak di tenggorok, sakit tenggorok, sulit

sampai sakit menelan, gejala sistemik berupa rasa tidak enak badan atau

malaise, nyeri kepala, demam subfebris, nyeri otot dan persendian serta

gejala klinis tonsil dengan debris di kriptenya (tonsillitis folikularis

kronis), udema atau hipertrofi tonsil (tonsillitis parenkimatosa kronis),

tonsil fibrotik dan kecil (tonsillitis fibrotic kronis), plika tonsilaris anterior

hiperemis dan pembengkakan kelenjar limfe regional.4

2. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan

yang tidak rata, kriptus membesar, dan kriptus berisi detritus. Gambaran

klinis lain yang sering adalah ketika tonsil yang kecil, biasanya membuat

lekukan, tepinya hiperemis dan sejumlah kecil sekret purulen.

Gambar 2. Ukuran tonsil10


Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan

mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak

permukaan medial kedua tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi

menjadi :

a. TO : Tonsil masuk di dalam fossa atau sudah diangkat

b. T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

c. T2 : 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

d. T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

e. T4 : > 75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

Tabel 1. Perbedaan tonsilitis10

Tonsilitis Akut Tonsilitis Kronis Tonsilitis Kronis


Eksaserbasi akut
Hiperemis dan Hiperemis dan edema Memebesar/ mengecil
edema tapi tidak hiperemis
Kripte tak melebar Kripte melebar Kripte melebar
Detritus (+ / -) Detritus (+) Detritus (+)
Perlengketan (-) Perlengketan (+) Perlengketan (+)
Antibiotika, Sembuhkan radangnya, Jika Bila mengganggu
analgetika, perlu lakukan tonsilektomi 2 lakukan
obat kumur – 6 minggu Tonsilektomi
setelah peradangan tenang
3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat

diagnosa tonsilitis adalah pemeriksaan laboratorium meliputi:4

a. Leukosit ↑

b. Hemoglobin ↓

c. Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas.

Dapat dilakukan kultur dan uji resistensi (sensitifitas) kuman dari

sediaan apus tonsil. Biakan swab sering menghasilkan beberapa macam

kuman dengan derajat keganasan yang rendah, seperti Streptokokus

hemolitikus, Streptokokus viridans, Stafilokokus, atau Pneumokokus.

3.2.6 Penatalaksanaan

1. Medikamentosa

Pemberian antibiotika sesuai kultur bermanfaat pada penderita

Tonsilitis Kronis Cephaleksin ditambah metronidazole, klindamisin

(terutama jika disebabkan mononukleosis atau abses), amoksisilin

dengan asam klavulanat (jika bukan disebabkan mononukleosis).4

2. Nonmedikamentosa

Indikasi tonsilektomi menurut American Academy of

Otolaryngology–Head and Neck Surgery Clinical Indicators

Compendium tahun 1995 menetapkan:10

a. Serangan tonsillitis lebih dari 3 kali pertahun walaupun telah

mendapatkan terapi yang adekuat.


b. Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan

menyebabkan gangguan pertumbuhan orofacial.

c. Sumbatan jalan nafas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan

jalan nafas, sleep apneu, gangguan menelan, gangguan berbicara,

dan cor pulmonale.

d. Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil

yang tidak hilang dengan pengobatan.

e. Nafas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan.

f. Tonsillitis berulang yang disebabkan oleh bakteri grub A

streptokokus beta hemolitikus.

g. Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan.

h. Otitis media efusi atau otitis media supuratif.

Indikasi relatif:11

a. Penderita dengan infeksi tonsil yang kambuh 3 kali atau lebih dalam

setahun meskipun dengan terapi yang adekuat

b. Bau mulut atau bau nafas yang menetap yang menandakan tonsilitis

kronis tidak responsif terhadap terapi media

c. Tonsilitis kronis atau rekuren yang disebabkan kuman streptococus

yang resisten terhadap antibiotik betalaktamase

d. Pembesaran tonsil unilateral yang diperkirakan neoplasma

Kontra indikasi:11

a. Diskrasia darah kecuali di bawah pengawasan ahli hematologi


b. Usia di bawah 2 tahun bila tim anestesi dan ahli bedah fasilitasnya

tidak mempunyai pengalaman khusus terhadap bayi

c. Infeksi saluran nafas atas yang berulang

d. Perdarahan atau penderita dengan penyakit sistemik yang tidak

terkontrol.

e. Celah pada palatum

3.2.7 Preventif

Bakteri dan virus penyebab tonsilitis dapat dengan mudah menyebar

dari satu penderita ke orang lain. Resiko penularan dapat diturunkan

dengan mencegah terpapar dari penderita tonsilitis atau yang memiliki

keluhan sakit menelan. Gelas minuman dan perkakas rumah tangga untuk

makan tidak dipakai bersama dan sebaiknya dicuci dengan menggunakan

air panas yang bersabun sebelum digunakan kembali. Sikat gigi yang telah

lama sebaiknya diganti untuk mencegah infeksi berulang. Orang – orang

yang merupakan karier tonsilitis semestinya sering mencuci tangan mereka

untuk mencegah penyebaran infeksi pada orang lain.10

3.2.8 Prognosis

Tonsilitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan beristirahat dan

pengobatan suportif. Menangani gejala – gejala yang timbul dapat membuat

penderita tonsilitis lebih nyaman. Bila antibiotik diberikan untuk mengatasi

infeksi, antibiotika tersebut harus dikonsumsi sesuai arahan demi


penatalaksanaan yang lengkap, bahkan bila penderita telah mengalami

perbaikan dalam waktu yang singkat.10

Gejala – gejala yang tetap ada dapat menjadi indikasi bahwa penderita

mengalami infeksi saluran nafas lainnya, infeksi yang paling sering terjadi

yaitu infeksi pada telinga dan sinus. Pada kasus – kasus yang jarang, tonsilitis

dapat menjadi sumber dari infeksi serius seperti demam rematik atau

pneumonia.10

3.2.9 Komplikasi

Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum

ke daerah sekitar atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari

tonsil. Adapun berbagai komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai

berikut:8

1. Komplikasi sekitar tonsila

a. Peritonsilitis

Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus

dan abses.

b. Abses Peritonsilar (Quinsy)

Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi

berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus

kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi.


c. Abses Parafaringeal

Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah bening

atau pembuluh darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus

paranasal, adenoid, kelenjar limfe faringeal, os mastoid dan os petrosus.

d. Abses Retrofaring

Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi

pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih

berisi kelenjar limfe.

e. Kista Tonsil

Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan

fibrosa dan ini menimbulkan kista berupa tonjolan pada tonsil berwarna

putih dan berupa cekungan, biasanya kecil dan multipel.

f. Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil)

Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan

tonsil yang membentuk bahan keras seperti kapur.

2. Komplikasi Organ jauh

a. Demam rematik dan penyakit jantung rematik

b. Glomerulonefritis

c. Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis


d. Psoriasiseritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura

e. Artritis dan fibrositis


BAB IV

PEMBAHASAN

Seorang pasien berusia 10 tahun datang ke IGD RSUD Temanggung

dengan keluhan lemas. ± 3 hari SMRS pasien tidak mau makan . Pasien masih

mau minum sedikit. Sudah 1 minggu SMRS pasien merasakan nyeri saat menelan.

Rasa mengganjal di tenggorokan juga dirasakan. Pasien mendengkur saat tidur

namun tidak sampai menyebabkan terbangun karena sesak nafas atau tersedak.

Pasien juga mengeluh demam tapi hilang timbul dan bau mulut. Sebelumnya

pasien pernah merasakan nyeri telan dan batuk lebih dari 3 kali dalam setahun.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan kondisi umum pasien tampak lemah.

Dari pemeriksaan THT, tonsil T4-T4, kripte melebar yang ditutupi detritus.

Ditemukan pula pembesaran nnll leher bagian lateral.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan di

IGD RSUD, maka diagnosis kasus ini mengarah kepada tonsilitis kronik dengan

dehidrasi sedang. Tonsilitis kronis secara umum diartikan sebagai infeksi atau

inflamasi pada tonsila palatina yang menetap. Tonsilitis kronis disebabkan oleh

serangan ulangan dari tonsilitis akut yang mengakibatkan kerusakan yang

permanen pada tonsil. Organisme patogen dapat menetap untuk sementara waktu

ataupun untuk waktu yang lama dan mengakibatkan gejala-gejala akut kembali

ketika daya tahan tubuh penderita mengalami penurunan. Penatalaksanaan

pertama kasus ini adalah mengatasi status dehidrasi pasien dengan pemberian
rehidrasi cairan. Lalu dilakukan operasi pengangkatan tonsil setelah kondisi

pasien stabil.
BAB V

DAFTAR PUSTAKA

1. Dias EP, Rocha ML, Calvalbo MO, Amorim LM. Detection of Epstein-Barr Virus in

Recurrent Tonsilitis. Brazil Journal Otolaryngology. 2009 .75(1); p.30-4.

2. Kurien M, Sheelan S, Fine Needle Aspiration In Chronic Tonsillitis ; Realiable and

Valid Diagnostic Test Juornal of Laryngology and Otlogy. 2003 Vol 117,pp 973 –

975.

3. Suwento R. Epidemiologi Penyakit THT di 7 Propinsi. Kumpulan makalah dan

pedoman kesehatan telinga. Lokakarya THT Komunitas. PIT PERHATI-KL,

Palembang, 2001: 8-12.

4. Lipton AJ. Obstructive sleep apnea syndrome. 2002. E- medicine.

5. Rudolf P, Gerhard G, Heinrich I. Basic Otorhinolaryngology. Germany: Thieme,

2006.

6. Adam GL. Disease of the Nasopharynx and Oropharynx, in: Boeis Fundamentals of

Otolaryngology 6th ed. Philadelphia: W.B. Saunders Company, 1997.

7. Klaus S. Tonsilitis and Sore Throat in Children. GMS Curr Top Otorhinolaryngol

Head Neck Surg. 2014; 12(1):

8. Soepardi AE.dr, Iskandar N.Dr.Prof, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung

Tenggorok Kepala Leher, FKUI, Jakarta, 2001; 180-183

9. Dedya, et. Al. Tonsilitis Kronis Hipertrofi dan Obstructive Sleep Apnea (OSA) Pada

Anak. Bagian/Smf Ilmu Penyakit Tht Fk Unlam. 2009.


10. Nurjanna Z, 2011. Karakteristik Penderita Tonsilitis Kronis di RSUP H. Adam Malik

Medan tahun 2007-2010. USU Institutonal Repository.

11. Amarudin, Tolkha et Anton Christanto. 2005. Kajian Manfaat Tonsilektomi, Cermin

Dunia Kedokteran.