Anda di halaman 1dari 3

A.

Pengertian Riya
Dalam bahasa Arab, arriya’ (‫ )الرياء‬berasal dari kata kerja raâ ( ‫ )راءى‬yang bermakna
memperlihatkan. Riya’ merupakan memperlihatkan sekaligsu memperbagus suatu
amal ibadah dengan tujuan agar diperhatikan dan mendapat pujian dari orang lain.
Riya’ termasuk karena meniatkan ibadah selain kepada Allah SWT. Riya’ adalah
menampakkan amal ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain. Memperlihatkan
kepada orang lain bahwa dia sedang mengerjakan amal ibadah. Jadi orang riya’
melakukan amal ibadah bukan karena Allah, melainkan ingin mendapatkan sanjungan
dan pujian dari orang lain.

B. Dalil Tentang Riya


Riya’ ini merupakan penyakit hati yang bisa menimpa kita semua tatkala kita sedang
beribadah. Riya’ ini yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam,
karena riya’ termasuk syirik kecil. Dalam sebuah hadits disebutkan :

‫سو َل أَن لَبيد بن َمح ُمود َعن‬ َ ‫َاف َما أَخ َو‬
ُ ‫ َللا َر‬-‫وسلم عليه هللا صلى‬- ‫ف إن « قَا َل‬ ُ ‫الشركُ َعلَي ُك ُم أَخ‬
ِّ ‫األَصغ َُر‬

Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik kecil.”
(HR. Ahmad)
Rasulullah SAW bersabda yang artinya;

“Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya amalan


seseorang itu akan dibalas sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Adapun amal perbuatan yang diridhai Allah SWT ialah yang diniatkan kepada Allah
semata, dikerjakan dengan ikhlas sesuai dengan kemampuan, tidak pilih kasih, dan
merupakan rahmat bagi seluruh alam. Sementara ibadah yang tidak akan diterima oleh
Allah merupaka amal ibadah yang dikerjakan dengan niat bukan kepada Allah, tidak
ikhlas karena ingin mendapat imbalan (bisa berupa pujian atau penghargaan), serta
mengada-ada.

Allah SWT berfirman yang artinya;


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu
dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang
yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia.” (Q. S. Al-Baqarah : 264).

Bersamaan dengan sum’ah, riya’ merupakan perbuatan tercela dan masuk ke dalam
syirik kecil. Allah SWT berfirman yang artinya;

“Sesungguhnya orang-rang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas
tipuan mereka. Dan jika mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas,
mereka bermaksud riya’ (dengan shalat itu) dihadapan manusia, dan tidaklah mereka
dzkiri kepada Allah kecuali sedikit sekali.” (Q. S. An-Nisa’ : 142)

C. Dampak Sifat Riya


Masih banyak lagi bahaya perbuatan riya’ yang tentu saja sangat merugikan, yakni:
 Menghapus amalan yang dikerjakan
 Pada hari kiamat akan dipermalukan dihadapan seluruh makhluk
 Menjadikan amal ibadah yang baik menjadi batal, berubah buruk, dan berbuah
dosa
 Lebih berbahaya daripada fitnah
 Terhalang daripada taufik dan hidayah Allah SWT
 Menimbulkan kesempitan dalam hidup
 Menjadi penyebab jiwa yang tidak tenang dan gelisah
 Terjebak dalam sikap sombong yang hanya akan menyulitkan diri sendiri
 Menghilangkan keimanan
 Menimbulkan kesengsaraan

Akan mendapat siksa di akhiratsy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi


wasallam menjawab: “Ar Riya’.” Secara singkat penulis coba jelaskan bagaimana
caranya untuk menghindari riya’, namun sebelumnya kita perbaiki dahulu diri kita,
amal-amal yang kita kerjakan, apa sebenarnya tujuan kita beramal.

D. Cara Menghindari Sifat Riya


 Disini ada beberapa cara untuk menghindari riya :sebaiknya seluruh amal yang
kita kerjakan diniatkan hanya karena Allah semata.
 Biasakan diri beramal/beribadah tanpa diketahui orang lain atau merahasiakan
amal perbuatan, ingatkan bahwa hanya Allahlah yang mengetahui amal kita.
 Muhasabah diri, instropeksi diri, yaitu mengingat-ingat amal yang telah dilakukan
karena Allah atau karena manusia. Jika ingat ada amal yang dilakukan karena
riya’, segera bertaubat dan mengazamkan diri untuk menghindari riya’.
 Berusaha untuk melawan berbagai bisikan setan untuk berbuat riya’ pada saat
mengerjakan suatu ibadah. (Imam Ghozali)
 Menghilangkan sebab-sebab riya’, seperti kenikmatan terhadap pujian orang lain.
(Imam Ghozali)
 Selalu berdoa memohon kepada Allah agar hati lurus dan ikhlas dalam beribadah,
dan terhindar dari perbuatan riya.