Anda di halaman 1dari 7

Tugas Mata Kuliah

Etika Profesi dan Tata Kelola Korporat

KISRUH LAPORAN KEUANGAN GARUDA INDONESIA


Oleh
FITRIYATI
Peraturan seringkali bisa disiasat, namun asas kepatutan dan etka janganlah dikhianat
- Najwa Shihab -
Kutipan di atas bisa menjadi gambaran atas kisruh Laporan Keuangan PT. Garuda
Indonesia (Persero) yang belakangan mencuat. Kasus ini berawal dari penolakan dua
komisaris Garuda Indonesia, Chairul Tanjung dan Dony Oskaria, untuk mendatangani laporan
keuangan tahun 2018. Keduanya menolak pencatatan transaksi kerja sama penyediaan
layanan konektivitas (wifi) dalam penerbangan dengan PT Mahata Aero Teknologi (Mahata)
dalam pos pendapatan. Pasalnya, belum ada pembayaran yang masuk dari Mahata hingga
akhir 2018. Hingga saat ini, polemik laporan keuangan PT. Garuda Indonesia (Persero) masih
terus bergulir. Berikut adalah kronologi terkuaknya skandal laporan keuangan PT. Garuda
Indonesia (Persero) :
1 April 2019
Sebagai perusahaan publik, PT. Garuda Indonesia (Persero) melaporkan kinerja keuangan
tahun buku 2018 kepada Bursa Efek Indonesia. Dalam laporan keuangannya, perusahaan
dengan kode saham GIAA berhasil meraup laba bersih sebesar US$809 ribu, berbanding
terbalik dengan kondisi 2017 yang merugi sebesar US$216,58 juta. Kinerja ini terbilang
cukup mengejutkan lantaran pada kuartal III 2018 perusahaan masih merugi sebesar
US$114,08 juta.
24 April 2019
Perseroan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta. Salah
satu mata agenda rapat adalah menyetujui laporan keuangan tahun buku 2018. Dalam rapat
itu, dua komisaris Garuda Indonesia, Chairul Tanjung dan Dony Oskaria selaku perwakilan
dari PT Trans Airways, menyampaikan keberatan mereka melalui surat keberatan dalam
RUPST. Chairal sempat meminta agar keberatan itu dibacakan dalam RUPST, tapi atas
keputusan pimpinan rapat permintaan itu tak dikabulkan. Hasil rapat pemegang saham pun
akhirnya menyetujui laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2018, dengan dua catatan
yaitu ada perbedaan pendapat. Trans Airways berpendapat angka transaksi dengan Mahata
sebesar US$239,94 juta terlalu signifikan, sehingga mempengaruhi neraca keuangan Garuda
Indonesia. Jika nominal dari kerja sama tersebut tidak dicantumkan sebagai pendapatan,
maka perusahaan sebenarnya masih merugi US$244,96 juta.
Dua komisaris berpendapat dampak dari pengakuan pendapatan itu menimbulkan
kerancuan dan menyesatkan. Pasalnya, keuangan Garuda Indonesia berubah dari yang
sebelumnya rugi menjadi untung. Selain itu, catatan tersebut membuat beban yang
ditanggung Garuda Indonesia menjadi lebih besar untuk membayar Pajak Penghasilan (PPh)
dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Padahal, beban itu seharusnya belum menjadi
kewajiban karena pembayaran dari kerja sama dengan Mahata belum masuk ke kantong
perusahaan.
25 April 2019
Pasar merespons kisruh laporan keuangan Garuda Indonesia. Sehari usai kabar penolakan
laporan keuangan oleh dua komisaris beredar, saham perusahaan dengan kode GIAA itu
merosot tajam 4,4%. Harga saham Garuda Indonesia anjlok ke level Rp478 per saham dari
sebelumnya Rp500 per saham. Saham perseroan terus melanjutkan pelemahan hingga ke
posisi Rp466 per saham.
Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan akan memanggil manajemen Garuda Indonesia
terkait timbulnya perbedaan opini antara pihak komisaris dengan manajemen terhadap
laporan keuangan tahun buku 2018. Selain manajemen perseroan, otoritas bursa juga akan
memanggil kantor akuntan publik (KAP) Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan Rekan
selaku auditor laporan keuangan perusahaan.
26 April 2019
Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan bakal memanggil manajemen
perseroan. Sebelum memanggil pihak manajemen, DPR akan membahas kasus tersebut
dalam rapat internal. Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Inas Nasrullah Zubir mengatakan
perseturuan antara komisaris Garuda Indonesia dengan manajemen akan dibahas dalam
rapat internal usai reses. Dalam rapat itu akan dipastikan terkait pemanggilan sejumlah
pihak yang berkaitan dengan pembuatan laporan keuangan maskapai pelat merah tersebut.
30 April 2019
BEI telah bertemu dengan manajemen Garuda Indonesia dan kantor akuntan publik (KAP)
Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan Rekan selaku auditor laporan keuangan perusahaan.
Sementara Menteri Keuangan mengaku telah meminta Sekretaris Jenderal Kementerian
Keuangan Hadiyanto untuk mempelajari kisruh terkait laporan keuangan BUMN tersebut.
(kronologi)

Tanggapan berbagai pihak


Mencuatnya kasus Garuda Indonesia tersebut, memicu munculnya polemik dan
tanggapan dari berbagai pihak. Direktur Insttute for Development of Economics and Finance
(INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan sebagai badan usaha milik negara (BUMN) seharusnya
PT. Garuda Indonesia mengedepankan good corporate governance (GCG) serta bersikap
transparan. Tindakan manipulasi atau rekayasa dikhawatirkan dapat merusak citra
perusahaan. Enny menambahkan, seharusnya manajemen Garuda jujur dengan
mengatakan piutang tetap sebagai piutang dan jangan diakui sebagai pendapatan. Jika hal
itu dilakukan, Enny menyebutnya sebagai akal-akalan akuntansi.
Sementara itu mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli menyakini pasti ada hal-hal
tidak wajar yang dilakukan dalam pelaporan keuangan Garuda Indonesia dan hal inilah yang
perlu dicari siapa yang bertanggung jawab atas rekayasa laporan keuangan tersebut. Rizal
menyebut direksi terutama direktur keuangan harus bertanggung jawab.
Di sisi lain, Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia Fuad Rizal menegaskan bahwa
pengakuan piutang menjadi pendapatan dalam laporan keuangan perseroan tahun 2018
tidak melanggar Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 23 karena secara substansi pendapatan
dapat dibukukan sebelum kas diterima. PSAK 23 menyatakan, tiga kategori pengakuan
pendapatan, yaitu penjualan barang, penjualan jasa, dan pendapatan atas bunga, serta
royalti dan dividen. Seluruhnya menyatakan kriteria pengakuan pendapatan, yaitu
pendapatan dapat diukur secara andal, adanya manfaat ekonomis yang akan mengalir
kepada entitas, dan adanya transfer risiko. Pendapat Fuad Rizal didukung dengan adanya
hasil audit KAP Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan Rekan, yang dalam pendapat
auditornya menyatakan bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam seluruh
hal yang material (wajar tanpa pengecualian).
Ekonom Insttute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima
Yudhistira Adhinegara menyebut motif Garuda melakukan praktik ini politis. Hal ini berkaitan
dengan masifnya serangan kepada Kementerian BUMN karena banyak perusahaan BUMN
yang tidak mencatatkan performa positif.
Anggota Dewan Konsultatif Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia
(IAI) Cris Kuntandi menilai laporan manajemen Garuda yang mencatatkan transaksi 15 tahun
dalam 1 tahun buku akuntansi adalah pelaporan yang tidak wajar. Karena seharusnya nilai
transaksi selama 15 tahun dibagi rata setiap tahunnya selama durasi kerja sama yang
disepakati. Maka, harus ada perbandingan yang seimbang antara pendapatan (revenue)
dengan beban operasi (cost) pada masing-masing tahun. Menurut Cris, pencatatan transaksi
itu berpotensi menimbulkan masalah keuangan pada masa mendatang lantaran Garuda tak
lagi bisa mencatat uang masuk dari Mahata setiap tahunnya sebagai pendapatan dalam
laporan keuangan tahunan selama periode kerja sama. Dengan kata lain, pada tahun
berikutnya Garuda tak bisa mencatatkan pendapatan, yang ada hanya pengeluaran saja.
Risiko lainnya adalah mengganggu keuangan negara. Bila Garuda benar-benar mencatat
laba, maka pemerintah bisa mendapatkan dividen. Tapi, lantaran pendataan sumber laba itu
hanya berupa piutang, maka pemerintah tak dapat sepeser pun dana.
Kasus Garuda Indonesia dari Perspektif Konsep Good Coorporate Governance
Good corporate governance (GCG) secara definitif merupakan sistem yang mengatur
dan mengendalikan perusahaan yang menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua
stakeholder (Monks,2003). Ada dua hal yang ditekankan dalam konsep ini, pertama,
pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat
pada waktunya dan kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan
(disclosure) secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap semua informasi kinerja
perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder.
Ada empat komponen utama yang diperlukan dalam konsep good corporate
governance, (Kaen, 2003; Shaw, 2003) yaitu fairness, transparency, accountability, dan
responsibility. Keseluruhan komponen tersebut penting karena penerapan prinsip good
corporate governance secara konsisten terbukti dapat meningkatkan kualitas laporan
keuangan dan juga dapat menjadi penghambat aktivitas rekayasa kinerja yang
mengakibatkan laporan keuangan tidak menggambarkan nilai fundamental perusahaan.
Mengacu pada konsep tersebut, ada beberapa prinsip dasar good corporate
governance yang dilanggar dalam kasus laporan keuangan Garuda Indonesia yaitu:
1. Transparency (keterbukaan informasi), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses
pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan
relevan mengenai perusahaan.
Penyajian laporan keuangan Garuda Indonesia Tahun 2018, tidak menggambarkan
prinsip transparency (keterbukaan informasi), dimana laporan keuangan tahun 2018
telah mengakui adanya pendapatan dari PT Mahata Aero Teknologi (Mahata) meski
sebenarnya pendapatan tersebut belum diterima oleh Garuda Indonesia.
2. Responsibility (pertanggungjawaban), yaitu kesesuaian (kepatuhan) di dalam
pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan
perundangan yang berlaku.
Dalam laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2018, penyajian yang dilakukan oleh
pihak manajemen telah melanggar prinsip responsibilty dan bertentangan dengan
Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PASK). Pihak manajemen Garuda Indonesia
mencatatkan transaksi 15 tahun dalam 1 tahun buku akuntansi, seharusnya nilai
transaksi selama 15 tahun tersebut dibagi rata setiap tahunnya selama durasi kerja sama
yang disepakati
3. Independency (kemandirian), yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara
profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manajemen
yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundangan-undangan yang berlaku dan
prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
Penyajian laporan keuangan Garuda Indonesia yang mengakui piutang sebagai
pendapatan, disinyalir karena adanya tekanan besar terhadap BUMN yang beberapa
waktu terakhir selalu mengalami kerugian. Tekanan agar BUMN bisa memperbaiki
kinerja inilah yang kemudian diduga menjadi salah satu penyebab pihak manajemen
Garuda Indonesia membuat laporan yang overvalue dengan tujuan agar laporan
keuangan terlihat baik.
Di posisi ini, pihak manajemen telah kehilangan independency-nya (kemandirian) dalam
penyajian laporan keuangan, dimana laporan keuangan disajikan dengan adanya
tekanan yang menuntut agar kinerja perusahaan yang tergambar dalam laporan
keuangan terlihat baik.
4. Fairness (kesetaraan dan kewajaran), yaitu perlakuan yang adil dan setara di dalam
memenuhi hak - hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan
perundangan yang berlaku. Esensi dari corporate governance adalah peningkatan
kinerja perusahaan melalui supervisi atau pemantauan kinerja manajemen dan adanya
akuntabilitas manajemen terhadap pemangku kepentingan lainnya, berdasarkan
kerangka aturan dan peraturan yang berlaku.
Kesimpulan
Dalam kasus laporan keuangan Garuda Indonesia, ada indikasi pihak manajemen
telah melakukan window dressing, yaitu suatu praktik rekayasa dengan menggunakan trik
akuntansi untuk membuat neraca perusahaan dan laporan laba rugi tampak lebih baik
daripada yang sebenarnya. Hal ini terlihat dari adanya pengakuan aktiva/pendapatan yang
terlalu tinggi sehingga perusahaan tercatat mendapat laba yang lebih tinggi. Jika mengacu
pada prinsip – prinsip good corporate governanc,e maka ada beberapa prinsip yang
dilanggar oleh pihak manajemen Garuda Indonesia yakni prinsip transparency (keterbukaan
informasi), responsibility (pertanggungjawaban), independency (kemandirian), dan prinsip
fairness (kesetaraan dan kewajaran).
Referensi :

 https://beritagar.id/artikel/berita/pencatatan-janggal-atas-laba-garuda-indonesia diakses
pada 10 Mei 2019;

 http://www.tribunnews.com/bisnis/2019/05/10/ikatan-akuntansi-indonesia-akan-bahas-
laporan-keuangan-garuda-yang-jadi-polemik diakses pada 10 Mei 2019;

 https://republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/pqrf62440/polemik-laporan-keuangan-
garuda-indonesia diakses pada 10 Mei 2019;

 https://www.watyutink.com/topik/viralnyuss/Sebut-Piutang-Sebagai-Pendapatan-Garuda-
Diduga-Lakukan-Manipulasi-Laporan-Keuangan diakses pada 10 Mei 2019;

 https://kastara.id/02/05/2019/piutang-jadi-pendapatan-garuda-diduga-manipulasi-laporan-
keuangan/ diakses pada 10 Mei 2019;

 https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190430174733-92-390927/kronologi-kisruh-
laporan-keuangan-garuda-indonesia diakses pada 10 Mei 2019;

 https://market.bisnis.com/read/20190507/192/919375/kisruh-lapkeu-garuda-indonesia-
giaa-begini-penjelasan-auditor-menurut-psak-23 diakses pada 10 Mei 2019;

 https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-4524853/diduga-manipulasi-laporan-keuangan-
citra-garuda-bisa-tercoreng diakses pada 10 Mei 2019;

 http://politiktoday.com/dugaan-manipulasi-keuangan-garuda-bpk-hingga-bei-menyelidiki/
diakses pada 10 Mei 2019;
 https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-4524789/garuda-diduga-manipulasi-laporan-
keuangan-bagaimana-pengawasan-rini diakses pada 10 Mei 2019;

 https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190507094548-92-392557/pembelaan-garuda-
indonesia-soal-kisruh-laporan-keuangan diakses pada 10 Mei 2019;

 https://www.proxsisgroup.com/articles/good-corporate-governance-gcg-dan-penerapannya-
di-indonesia-part/ diakses pada 10 Mei 2019;

 IAI Modul Chartered Accountant Etika Profesi dan Tata Kelola Korporat, Tahun 2015.